Artikel

JUDUL RISET SEJAK 1987

Judul Riset yang ter-arsipkan sejak tahun 1987

Sejumlah Hasil Riset yang ter-arsipkan sejak tahun 1987

Riset

1 1987 Persepsi Dan Sikap Pembeli (sebagai asisten peneliti, di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia).
2 1988 Disonansi Kognitif Pada Mahasiswa Alumni Pesantren Terhadap Metode Pengajaran Di Perguruan Tinggi Umum (sebagai peneliti, di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia).
3 1991 Kiat Tepat & Siswa  Menembus UMPTN (sebagai peneliti di LPKK ADZKIA, Padang).
4 1993 Modifikasi Tes Minat Terhadap Pemilihan Jurusan di PTN  (sebagai peneliti di LPKK ADZKIA).
5 1994 Pola Hubungan Pasangan suami-istri Muda, (sebagai peneliti di Yayasan Al-Kahfi,  Padang).
6 1995 Malaysia:Suatu Studi Kasus di PORIM, mengenai :
– Perlaksanaan Sistem Kompensasi
– Perlaksanaan Analisa Jabatan
7 1996 Malaysia: Hubungan Personaliti Belia dengan Disiplin Ibu Bapa (sebagai peneliti dan pelajar)
8 1996 Malaysia: Perbezaan Personaliti Belia SMU Padang (sebagai peneliti dan pelajar)
9 1996 Malaysia: Kajian Kualitatif: Socially Sensitive Research To International Student in UPM (sebagai peneliti dan pelajar)
10 1998 Malaysia: Model Pengembangan Sumber Manusia di Industri. Suatu Kajian LiteraturKonsep Diri Pelajar Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
11 1998 Malaysia: Budaya Membaca di Kalangan Pelajar Sekolah Menengah Kajang (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
12 1998 Malaysia: Disiplin Ibu Bapa dan Hubungan Ibu Bapa dengan Anak (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
13 1998 Malaysia: Peranan Pendidikan Prasekolah Islam di TADIKA ABIM sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
14 1999 Malaysia: Pengukuran Psikologi dan Aplikasinya dalam Aktiviti Pembangunan Sumber Manusia
15 1999 Membangun Pengukuran Psikologi : Inteligensi, Minat dan Personaliti
16 1999 Aplikasi Pengukuran Psikologi di dalam Industri.
17 2000 Pembinaan dan Aplikasi Pengukuran Psikologi dalam Model Pembangunan Sumber Manusia bagi Sektor Industri di Indonesia.
18 2004 Mengkritisi Kebijakan Pemerintah tentang Subsidi kepada Rakyat, Jurnal Equilibrium STIE Ahmad Dahlan, ISSN 1693-0681, Volume 2, Nomor 1 Januari April 2004.
19 2005 Krisis BBM di antara Subsidi dan Dilema Anggaran, Jurnal Widya  Ekonomika, No. 2 Tahun VII Juli Desember 2005, Kopertis Wilayah III, Jakarta
20 2005 Mencari Kesesuaian Potensi Sumber Daya Manusia dalam Industri, Bussiness & Management Journal, Volume 002 No. 001, Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta, Mei 2005.
21 2005 Gambaran dan Hubungan antara Motivasi dengan Kepemimpinan di Kalangan Pegawai PT Semen Gresik, Bussiness & Management Journal, Volume 002 No. 002, Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta, November 2005.
22 2005 Diskursus Pengembangan Sumber Daya Manusia : Telaah Perspektif Psikologi Industri, Jurnal Equilibrium STIE Ahmad Dahlan, ISSN 1693-0681, Volume 3, Nomor 1 September-Desember 2005.
23 2006 Tenaga Kerja Efektif di Perusahaan, Jurnal Madani UMSU ISSN 5417 Terakreditasi SK 034/DIKTI KEP/2003 Vol. 7 No. 2 September 2006
24 2006 Hubungan Motivasi dengan Kepemimpinan, Keteraturan, Pengambilan Keputusan, Kerja Sama dan Kemandirian di Kalangan Pegawai Pemko Padang, Bussiness & Management Journal,Volume 003 No. 001, Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta, Mei 2006.

 

 

JUDUL PUBLIKASI SEJAK 1992

Judul Publikasi yang ter-arsipkan sejak tahun 1992

Sejumlah Publikasi yang ter-arsipkan sejak tahun 1992

Publikasi tentang Anak

25 1994 Irwan Prayitno, Masa Anak Mewarnai Masa Dewasa, YARSI, Bukit Tinggi, 22 Oktober 1994.
26 1994 Irwan Prayitno, Urgensi Pendidikan Masa Anak dan Pra Lahir dalam Mengantisipasi  Pendidikan Masa Berikutnya, S.M.F. Tarbiyah, IAIN Imam Bonjol, Padang, 12 November 1994.
27 1994 Irwan Prayitno, Kiat Sukses Mengakrabkan Anak dengan Islam, PT Indosat, Medan, 18 November 1994.

Publikasi Tentang Wanita

28 1992 Irwan Prayitno, Wanita Karir: Konflik dan Alternatif Pemecahannya, IBI dan Organisasi Wanita, Padang, 15 Desember 1992.
29 1994 Irwan Prayitno, Tentang Keputrian: Problematika, Pemecahan dan Pemfungsian,Wafi Coll, Padang, 6 Desember 1994.
30 1994 Irwan Prayitno, Revitalisasi Peranan Wanita S.M.F. MIPA Universitas Andalas,Padang, 27 Desember 1994.
31 1996 Irwan Prayitno, Problem Kehidupan Wanita Bekerja, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.

Publikasi tentang Pemuda dan Remaja

32 1992 Irwan Prayitno, Sebab Munculnya Gangguan Pada Diri Remaja dan Cara Mengatasinya , LPKK Adzkia, Padang, 25 Oktober 1992.
33 1993 Irwan Prayitno, Peranan dan Tanggung Jawab Mahasiswa, F.K.I Robbani, Universitas Andalas, 3 Februari 1993.
34 1993 Irwan Prayitno, Peranan Generasi Muda sebagai SDM dalam mengisi PJPTII,AKKES, DEPKES, Sumbar, 11 November 1993.
35 1993 Irwan Prayitno, Generasi Muda dan Kehidupan Berkeluarga, SMF Syariah, IAINImam Bonjol, Padang, 13 November 1993.
36 1993 Irwan Prayitno, Pengaruh Globalisasi Informasi Terhadap  Kehidupan Pemuda, IKIP Padang, 2 Desember 1993.
37 1994 Irwan Prayitno, Perang Intelektual di Tengah Kehidupan Kampus, IAIN Imam Bonjol Padang, 12  September 1994.
38 1994 Irwan Prayitno, Tantangan dan Tanggung Jawab Mahasiswa di Era Globalisasi, Fak.Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan, 19 November 1994.
39 2008 Irwan Prayitno, Refleksi Pembangunan Pemuda dan Olahraga di Indonesia, Diskusi Bappenas,  Jakarta, 30 Juni 2008.

Publikasi tentang Rumah Tangga

40 1992 Irwan Prayitno, Wanita Karir: Konflik dan Alternatif Pemecahannya, IBI dan Organisasi Wanita, Padang, 15 Desember 1992.
41 1993 Irwan Prayitno, Motif Berumahtangga dan Rumah Tangga Ideal, DPD KNPI, Sumatera  Barat, 16 Januari 1993.
42 1993 Irwan Prayitno, Generasi Muda dan Kehidupan Berkeluarga, SMF Syariah, IAINImam Bonjol, Padang, 13 November 1993.

Publikasi tentang Masyarakat

43 1992 Irwan Prayitno, Peranan Industri Makanan dan Perilaku Masyarakat dalam Memenuhi Gizi Keluarga, DEPKES, Padang, 25 November 1992.
44 1994 Irwan Prayitno, Sikap dan Usaha Peningkatan Kepedulian Masyarakat TerhadapPenyandang Cacat, YPAC, SUMBAR, 29 Januari 1994.

Publikasi tentang Training dan Psikologi

45 1994 Irwan Prayitno, Achievement Motivation Training, Darul Hikmah, Lampung, 5 Juni 1994.
46 1996 Irwan Prayitno, Program Latihan Pengembangan Sikap Positif di BRI, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
47 1996 Irwan Prayitno, Perbandingan Teori-Teori Perkembangan Kerjaya,  Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
48 1996 Irwan Prayitno, Penilaian Psikologi di Dalam Perkembangan Kerjaya, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
49 1996 Irwan Prayitno, Falsafah dan Konsep Pengujian dan Pengukuran dalam Bimbingan dan Kaunseling, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
50 1997 Irwan Prayitno, Kursus Kerjaya Bagi Pelajar-Pelajar Sekolah Menengah, Fakulti Pendidikan UPM, 1997.
51 1997 Irwan Prayitno, Profil Personaliti Belia SMU Padang, Fakulti Pendidikan UPM, 1997.
52 1997 Irwan Prayitno, Laporan Aktiviti Kaunselor di PT Semen Padang, Fakulti Pendidikan UPM, 1997.
53 2010 Irwan Prayitno, Peran Psikologi dalam Menjalankan Tugas DPR, Disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional dan Kongres XI Himpunan Psikologi Indonesia, Solo, 20 Maret 2010.

Publikasi tentang Pendidikan

54 1992 Irwan Prayitno, Strategi Menembus UMPTN,  LPKK Adzkia, Padang, 4 April 1992.
55 1993 Irwan Prayitno, Peran Guru BP di Tengah Era Kompetitif Pendidikan dan Era Globalisasi,  SKR-BKKBN, Sumbar, 12 Februari 1993.
56 1993 Irwan Prayitno, Kiat Menjatuhkan Pilihan yang Tepat di UMPTN LPKK Adzkia, Padang, 2 Juli 1993.
57 1993 Irwan Prayitno, Managemen TPA/MDA, BKPMI, Sumbar, 5 November 1993.
58 1994 Irwan Prayitno, Program Strategi Menembus UMPTN, LPKK Adzkia, Padang, 6 Agustus 1994.
59 1994 Irwan Prayitno, Urgensi Pendidikan Masa Anak dan Pra Lahir dalam Mengantisipasi  Pendidikan Masa Berikutnya, S.M.F. Tarbiyah, IAIN Imam Bonjol, Padang, 12 November 1994.
60 1994 Irwan Prayitno, Persiapan Dini Menghadapi Ujian, LPKK Adzkia, 7 Desember 1994.
61 1996 Irwan Prayitno, Prinsip dan Amal Pendidikan Pengembangan di dalam Sirah Nabawiyah, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
62 2003 Irwan Prayitno, Dialektika Pendidikan, Ekonomi dan Dakwah di Tengah Era Globalisasi, Seminar Nasional IAIN Imam Bonjol, Padang, 27 September 2003.
63 2004 Irwan Prayitno, Peran Lingkungan dalam Membangun SDM Unggul, Seminar Nasional, “Pendidikan Indonesia, Quo Vadis?”, Graha Sucofindo, Jakarta, 9 Maret 2004.
64 2004 Irwan Prayitno, Mencetak Sang Juara Sejak Usia Dini, Seminar Nasional Pendidikan, “Quo Vadis Pendidikan Indonesia?”, Jakarta, 22 Mei 2004.
65 2006 Irwan Prayitno, Idealisme Guru dan Pembangunan Peradaban Bangsa,Seminar Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia, Surabaya, 10 September 2006.
66 2006 Irwan Prayitno, Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Ciamis Melalui Pemberdayaan Potensi Masyarakat, Seminar Pendidikan Pemkab Ciamis, Ciamis, 13 September 2006.
67 2007 Irwan Prayitno, Pandangan Politik dan Harapan Parlemen terhadap RUU BHP, Seminar Nasional, Poros Pendidikan, Jakarta, 28 Februari 2007.
68 2007 Irwan Prayitno, Pesantren dalam Sistem Pendidikan Nasional, Seminar Pendidikan di Pesantren Al Urwatul Wutsqo, Indramayu, 27 Maret 2007.
69 2008 Irwan Prayitno, Putusan MK pada Pendidikan, Harian Republika, 26 Februari 2008.
70 2008 Irwan Prayitno,Komitmen untuk Pendidik Bangsa, Harian Media Indonesia, 19 Maret 2008.
71 2008 Irwan Prayitno, Menagih SPMB Gratis, Koran Sindo, 27 Maret 2008.
72 2008 Irwan Prayitno, Revitalisasi Pendidikan Pesantren, Harian Republika, 2 Mei 2008.
73 2008 Irwan Prayitno,Pendidikan dalam Perspektif Politik, Dies Natalis Universitas Tidar Magelang, 16 Mei 2008.
74 2008 Irwan Prayitno, Memerdekakan Politik Pendidikan, Media Indonesia, 14 Agustus 2008.
75 2008 Irwan Prayitno, Profesionalitas Guru di Era Global, Padang Ekspres, 28 November 2008.
76 2008 Irwan Prayitno, BHP untuk Komersialisasi Pendidikan? Republika, 21 Desember 2008.
77 2009 Irwan Prayitno, UU BHP: Menuju Pendidikan Nirlaba yang Profesional, www.fpks-dpr.or.id, 5 Januari 2009.

Publikasi tentang Politik

78 1999 Irwan Prayitno, Memberdayakan Anggota Legislatif: Mencegah Kemungkinan Korupsi, Desember 1999.
79 1999 Irwan Prayitno, DPR Lembaga Kontrol Bukan Oposisi, Republika, 3 Desember 1999.
80 1999 Irwan Prayitno, Isu Suap dan Korupsi Anggota DPR, Republika, 24 Desember 1999.
81 2000 Irwan Prayitno, Peranan LSM Sebagai Oposisi, Diskusi Panel Revitalisasi Istecs, Jakarta, 19 Februari 2000.
82 2000 Irwan Prayitno, Pemberdayaan Kader PK di Lembaga Legislatif, Nov. 2000.
83 2001 Irwan Prayitno, Peta Politik Nasional dan Keruntuhan Rejim Gus Dur, Makalah yang disampaikan dalam ceramah di depan Mahasiswa Melbourne, Australia, Januari 2001.
84 2001 Irwan Prayitno, Indonesia Today, Seminar Trends in Indonesia: Visions for Indonesia Future, ISEAS, Singapore, 4 Mei 2001.
85 2002 Irwan Prayitno, Catatan Perkembangan Ekonomi Orde Reformasi: Misteri Utang Indonesia dan IMF, Seminar Nasional Restropeksi Empat Tahun Usia Reformasi, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM, Yogyakarta, 27 April 2002.
86 2002 Irwan Prayitno, Trend Politik Ekonomi Mega, Seminar Nasional RestropeksiEmpat Tahun Usia Reformasi, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM, Yogyakarta.
87 2002 Irwan Prayitno, Peran Partai Politik Islam dalam Membangun Negara, Halal bi Halal Ikatan Alumni Yayasan Asrama Pelajar Islam, Masjid Sunan Giri YAPI Al Azhar Rawamangun (Kompleks Asrama Sunan Giri) Jakarta, 21 Desember 2002.
88 2003 Irwan Prayitno,Evaluasi Kebijakan Ekonomi 2002, Februari 2003.
89 2008 Irwan Prayitno,Pendidikan dalam Perspektif Politik, Dies Natalis Universitas Tidar Magelang, 16 Mei 2008.

Publikasi tentang Masalah Keislaman

90 1994 Irwan Prayitno, Pentingnya Managemen dalam Dakwah, Wafi Coll, Padang, 4 Desember 1994.
91 1995 Irwan Prayitno, Politik Zionis Terhadap Negara Berkembang, YPD Al-Madani,Padang, 2 Januari 1995.
92 1996 Irwan Prayitno, Jamaah Dakwah Islamiyah Sebagai Organisasi Pendidikan Pengembangan, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
93 1996 Irwan Prayitno, Akhlaq Da’i (pengembangan) pada diri Rasulullah SAW, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
94 1999 Irwan Prayitno, Kunci Mengatasi Krisis Bangsa, Khutbah Idul Adha 1420 H di Lapangan Parkir Kelapa Gading, Jakarta, 1999.
95 2001 Irwan Prayitno, Implementasi Fiqh Dakwah dalam Pergerakan Islam Masa Kini, Peluncuran dan Bedah Buku Nasional, Fiqh Dakwah, Jakarta, Oktober 2001, sebagai pembicara.
96 2001 Irwan Prayitno, Agenda Kepemimpinan Umat Islam dalam Era Reformasi, Studi Islam Eksekutif Badan Dakwah Islamiyah (BDI) Pertamina Balikpapan, Balikpapan, 2 Desember 2001.
97 2001 Irwan Prayitno, Membangkitkan Kesadaran Umat di Tengah Keprihatinan Mendalam Krisis Multidimensional, Khutbah ‘Idul Fitri 1 Syawal 1422 H/16 Desember Tahun 2001 di Lapangan Carrefour Cawang Jakarta Selatan.
98 2002 Irwan Prayitno, Urgensi dan Peran Teknologi Informasi dalam Pendidikan Islam, Seminar Nasional Musabaqoh Al-Qur’an Nasional Telkom 2002, Implementasi Ahlaq Qur’ani, Bukittinggi, 11 Maret 2002.
99 2002 Irwan Prayitno, Indonesia and the Future of Islam, Panel Dialogue, The Future of Indonesia’s Islam: The Quest for an Equilibrium, Institute of Defense and Strategic Studies, Singapura, 17 Juni 2002.
100 2002 Irwan Prayitno, Ramadhan dan Momentum Perbaikan Bangsa, Persiapan Ramadhan 1423 di KBRI Kualalumpur dan Konsulat Jenderal Johor Baru Malaysia, Oktober 2002.
101 2003 Irwan Prayitno, Dialektika Pendidikan, Ekonomi dan Dakwah di Tengah Era Globalisasi, Seminar Nasional IAIN Imam Bonjol, Padang, 27 September 2003.

Publikasi tentang Migas dan Pertambangan

102 2000 Irwan Prayitno, Subsidi, Penghematan Konsumsi dan Kenaikan Harga BBM, Kompas, 12 April 2000.
103 2000 Irwan Prayitno, Menghadapi Kenaikan Harga BBM. Republika, 16 September 2000.
104 2001 Irwan Prayitno, Masa Depan Industri Pertambangan dalam Era Otonomi Daerah, Diskusi Pertambangan Kongres Ikatan Alumni Tambang ITB 2001, Aula Barat ITB, Bandung, 29 Juni 2001.
105 2001 Irwan Prayitno, Legislative Role of the Indonesian House of Representatives in Indonesia’s Legal Reform – An Overview of the Energy Sector, Seminar Houston Energy Dialogue 2001, Bimasena dan Konsul Jenderal RI di Houston, Houston, USA, 24 September 2001.
106 2002 Irwan Prayitno, Sekilas Pandangan UU No. 22 Tahun 2001 terhadap Pengembangan Sumber Daya Manusia Nasional, Forum Komunikasi SDM XIV/2002 Pertamina Direktorat Manajemen Production Sharing (Pertamina Dit. MPS) – Kontraktor Production Sharing (KPS) dan Rapat Dewan Konsorsium Pendidikan Pertamina – KPS tahun 2002, Meningkatkan Kualitas Pengembangan SDM Nasional Menghadapi Industri Migas Dalam Era Globalisasi Serta UU Migas Yang Diperbaharui, Surabaya, 4 Juli 2002.
107 2002 Irwan Prayitno, Menelisik Benefit LNG Tangguh, Media Indonesia, 30 Oktober 2002.
108 2003 Irwan Prayitno, Penurunan Harga, Dapatkah Meredam Ketidakpuasan Masyarakat, Januari 2003.
109 2003 Irwan Prayitno, Kenaikan Harga dan Peran DPR, Republika, 16 Januari 2003.
110 2003 Irwan Prayitno, Penyelewengan Dana Kompensasi BBM, Republika, 11-12 Maret 2003.
111 2003 Irwan Prayitno, Prospek dan Tantangan Gas Bumi di Indonesia Pasca UU No.22 Tahun 2001, Artikel dalam buku Gas Energi Masa Depan, Diterbitkan Forum Wartawan Energi dan Sumber Daya Mineral, Juli 2003.

Publikasi tentang Listrik dan Energi

112 2000 Irwan Prayitno, Beban Rakyat di Balik Kontrak Listrik Swasta, Republika, 5 Januari 2000.
113 2000 Irwan Prayitno, Dilema Kenaikan Tarif Listrik, Republika., 19 Januari 2000
114 2000 Irwan Prayitno, Kenaikan Listrik dan BBM, Siapa yang Menjerit?, Tabloid Tekad No.17 /Tahun II 28 Februari – 5 Maret 2000.
115 2000 Irwan Prayitno, Pengelolaan Energi Nasional untuk Kemakmuran Rakyat Menuju Pasar Listrik Kompetisi, Seminar PLN PJB I, 28 September 2000.
116 2000 Irwan Prayitno, Dilema Pasar Listrik Kompetisi: Di Antara Realitas dan Tuntutan Global, Oktober 2000.
117 2003 Irwan Prayitno, Tuntutan Masyarakat terhadap Kenaikan TDL, Januari 2003.
118 2003 Irwan Prayitno, Kebijakan Legislatif terhadap Good Governance, Diskusi Interaktif I Good Governance Sektor Ketenagalistrikan, Bimasena, Jakarta, 27 Januari 2003.
119 2003 Irwan Prayitno, Obligasi PLN dan Dilema Masalah Pendanaan, April 2003.
120 2003 Irwan Prayitno, Panas Bumi, Alternatif Energi yang Harus Diseriuskan, Bisnis Indonesia, 17 April 2003.
121 2003 Irwan Prayitno, Urgensi Pemanfaatan Energi Terbarukan dalam Menghadapi Berkurangnya Energi Tak Terbarukan, Talk Show Forum Bisnis Ketenagalistrikan Indonesia ke IV, Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia, Jakarta, 25 September 2003.

Publikasi tentang Lingkungan Hidup

122 2000 Irwan Prayitno, Bagaimana Mengadopsi Ketentuan Protokol Keamanan Hayati dalam Peraturan/Perundang-undangan di Indonesia, Seminar Yayasan Kehati, Jakarta, 30 Agustus 2000.
123 2000 Irwan Prayitno, Kriteria Pengembangan Berkelanjutan dan Isu Prospek Karbon Credit di Indonesia, Oktober 2000.
124 2001 Irwan Prayitno, Tanggapan terhadap Pelaksanaan Propenas Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Rapat Kerja Teknis Renstra 2002 – 2004 Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pengendalian Dampak Lingkungan, Kantor Meneg LH, Jakarta, 5 Juni 2001.
125 2003 Irwan Prayitno, Pembangunan Pantai Utara Jakarta dan Dampaknya terhadap Lingkungan, Mei 2003.

Publikasi tentang Riset dan Teknologi

126 2001 Irwan Prayitno,Kasus Ajinomoto: Selamatkan Imtaq Umat, Januari 2001.
127 2002 Irwan Prayitno, Urgensi dan Peran Teknologi Informasi dalam Pendidikan Islam, Seminar Nasional Musabaqoh Al-Qur’an Nasional Telkom 2002, Implementasi Ahlaq Qur’ani, Bukittinggi, 11 Maret 2002.

 

 

BAB 1 INSPIRASI DI BIDANG POLITIK

1. Allah Itu Ada

  1. Allah Itu Ada

 

 

Pada bulan Rabi’ul Awal tahun 7 Hijriah, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan bersama pasukannya menuju daerah Najd dalam sebuah peperangan. Setelah dua hari perjalanan, beliau tiba dan beristirahat di Nakhl, tidak jauh dari Ghathafan. Kebanyakan anggota pasukan tersebut berjalan kaki sehingga banyak di antara mereka kakinya pecah-pecah  dan melepuh, ada juga yang kukunya terkelupas. Mereka membalut kaki-kaki mereka dengan kain-kain perca, karena itulah peperangan itu diberi nama Dzatur Riqa’ (yang ada tambalannya), dan tempat mereka singgah diberi nama yang sama, Dzatur Riqa’.

Saat itulah salah seorang musyrikin bernama Ghaurats bin Harits (Dutsur), berasal dari Bani Muharib (suku Badui), berniat untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Ia berhasil menyelinap di perkemahan kaum muslim, dan melihat Nabi sedang tertidur di bawah pohon, sedangkan pedang beliau tergantung di salah satu ranting pohon tersebut. Ghaurats mengambil pedang itu, lalu mengacungkan kepada beliau sambil menghardik, “Wahai Muhammad, tidakkah engkau takut kepadaku?” Nabi Muhammad SAW segera terbangun dan berkata dengan tenang, “Tidak!!”. “Siapakah yang akan menghalangiku untuk membunuhmu?” Tanya Ghaurats lagi. “Allah!!” Kata Nabi.

Mendengar  kata ‘Allah’ yang terlontar dari bibir Rasulullah SAW itu, tiba-tiba tubuhnya serasa lumpuh dan pedang itu terlepas dari tangannya, ia jatuh terduduk. Nabi segera mengambil pedang itu dan mengacungkannya kepada Ghaurats, dan balik bertanya, “Siapa yang bisa menghalangiku untuk membunuhmu?”

Dengan gugup dan wajah pucat, Dutsur berkata, “Tidak ada!! Jadilah engkau orang yang sebaik-baiknya menjatuhkan hukuman!!” ujarnya pasrah tak berdaya, siap menerima hukuman apapun yang akan dijatuhkan Nabi kepadanya.

Nabi Muhammad SAW tersenyum mendengar jawabannya itu, dan berkata, “Kalau begitu bersaksilah engkau bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah!!”. “Tidak,” kata Ghaurats masih membangkang, “Tetapi aku berjanji kepadamu untuk tidak memusuhimu, dan tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memusuhimu!!”

Memang tidak ada paksaan dalam memeluk Islam, hidayah adalah hak mutlak Allah, terserah Allah kepada siapa akan diberikan. Nabi tidak memaksa Ghaurats, beliau lalu memaafkan dan melepaskannya.

Ketika tiba kembali di antara kaumnya, Ghaurats berkata, “Aku baru saja kembali dari sebaik-baiknya orang di dunia ini!!” dan ia pun lalu memeluk agama Islam.

Teladan seperti contoh di atas telah sering diberikan Nabi. Kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan, fitnah tidak perlu dibalas fitnah, pengkhianatan tidak perlu dibalas dengan pengkhianatan. Karena dalam kenyataannya, hal itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah memperburuk suasana, memperkeruh keadaan dan memicu dendam tak berkesudahan. Apakah yang kita cari dan tujuan hidup di dunia ini, selain kebahagiaan? Bermanfaatkah harta yang banyak, pangkat dan jabatan yang tinggi, gelar selangit jika semua itu tidak membuat kita bahagia?

Firman Allah QS 28:77, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagia mu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dalam QS 17:7 Allah juga berfirman, jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS 17:7)

Dalam Al Quran dengan tegas Allah mengatakan orang yang berbuat jahat, kejahatan itu, seperti bumerang, akan berbalik kepada pelakunya. Orang yang berbuat keburukan akan mengotori perasaan dan hatinya sendiri. Ia selalu merasa tak tenang, merasa tak puas, tak nyaman, wajahnya suram dan penuh kedengkian. Ia selalu dihantui oleh perasaan dan perbuatannya sendiri.

Dalam QS 55:60 secara singkat Allah lebih menegaskan,  “tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” Dalam pepatah Minang dikatakan, jiko lai padi nan ditanam ndak mungkin ilalang nan tumbuah (jika padi yang ditanam, tidak mungkin ilalang yang tumbuh). Siapa yang menyebar angin, akan menuai badai, begitu bunyi istilah yang sempat populer beberapa waktu lalu.

Allah itu ada dan selalu bersama kita. Ia Maha Tahu dan Maha Bijaksana menilai dan membalas  semua amal dan perbuatan yang kita lakukan, perbuatan yang baik maupun yang buruk. Tak ada satupun peristiwa yang di luar kendali dan pengamatan Allah.

Semoga kita menjadi hamba yang dicintai Allah, dalam ridho Allah serta bisa menikmati kebahagian dunia dalam arti sesungguhnya dan memperoleh pula kebahagiaan di akhirat kelak. Amiin. (Maret 2013)

2. Sabar

Sabar

Berkali-kali saya didesak untuk melakukan  “serangan balasan” atas berbagai black campaign maupun fitnah yang ditujukan kepada saya. Desakan itu datang dari berbagai kalangan, baik perguruan tinggi, swasta, politisi, wartawan, birokrat maupun dari masyarakat umum. “Ayo Pak, jangan diam saja dan sabar terus, sabar itu ada batasnya,” ujar mereka geram.

Berkali-kali mereka mendesak, namun berkali-kali pula saya menjelaskan dengan jawaban yang sama. Jangan balas kejahatan dengan kejahatan dan kesabaran adalah kekuatan, kesabaran adalah kemenangan, kesabaran adalah strategi, kesabaran adalah solusi dari berbagai masalah.

Hampir semua yang semula memberikan pendapat tersebut mengernyitkan kening, tidak paham dan tidak setuju dengan pendapat saya. Pendapat dan argumen saya dianggap aneh dan tidak masuk akal. Menurut mereka, di zaman keNabian dulu, hal itu bisa dilakukan oleh para Nabi. Bahkan banyak dicontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW membalas kejahatan dengan kebaikan. Apakah di zaman seperti saat ini, metode itu masih berlaku dan masih mangkus?

Saya mencontohkan dua orang sedang menunggu bis untuk melakukan sebuah perjalanan yang sangat penting dan waktunya sangat mendesak. Ternyata bis yang ditunggu-tunggu terlambat datang. Orang pertama tetap menunggu dengan sabar dan tenang. Karena  cukup lama menunggu, ia lalu membaca buku dan membolak balik catatan bahan rapat yang akan mereka hadiri.

Sebaliknya orang kedua langsung emosi, tidak terima dengan keadaan tersebut. Ia mengumpat dan menggerutu tak henti-henti karena kesal. Ketika mobil datang, sopirnya langsung ia damprat sambil terus mengomel. Akibatnya, ketika mengikuti rapat ia tidak konsentrasi karena amarah dan rasa kesal masih bersarang di dadanya, sementara sopir yang kena semprot tentulah merasa dendam dan sakit hati.

Beruntunglah orang pertama, meski terlambat hadir untuk rapat, tapi ia bisa hadir rapat dengan kepala dingin, materi rapat ia kuasai dengan baik dan tak ada orang yang tersakiti. Sedangkan orang kedua, terlambat hadir rapat, tak bisa konsentrasi karena hatinya tidak tenang, masih ada lagi tambahan orang dendam dan sakit hati kepadanya. Bukankah ini berarti kesabaran adalah sebuah strategi dan kesabaran adalah kemenangan?

Awalnya sikap dan logika seperti di atas susah dimengerti  dan susah diyakini sebagai sebuah strategi yang ampuh untuk mencapai sebuah kemenangan. Namun seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya mereka yang semula membantah argumen saya mulai paham dan percaya. Satu persatu Allah mulai memperlihatkan kekuasaanNya, satu persatu mulai terlihat nyata, perbuatan zalim itu tidak mempan seperti yang mereka rencanakan, bahkan malah berbalik arah menyerang pencetusnya.

Kian hari pelaku black campaign justru makin buruk reputasinya, masyarakat makin tahu keburukan mereka, masyarakat dan semua orang makin tahu siapa saja aktor dan sutradara di belakang semua itu. Semua makin terang dan makin nyata tampak di depan mata. Apakah saya harus membalas dan balik menyerang dan memfitnah serta berbuat kejahatan serupa? Tentu saja tidak, itu bukan sebuah strategi yang baik dan itu bukanlah sebuah jalan yang jitu untuk memperoleh kemenangan.

Saya tetap yakin bahwa kesabaran itu tidak ada batasnya, karena kesabaran itu adalah kemenangan, kesabaran itu adalah strategi, kesabaran itu adalah solusi.   Allah dalam surat Al Baqarah ayat 153 berfirman; Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  Untuk menegaskan pentingnya sabar dan jaminan Allah terhadap orang yang sabar, kata “Allah beserta (bersama) orang yang sabar” diulang-ulang dalam sejumlah ayat.

Dalam surat Ali Imran ayat 146 Allah berfirman; Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang (berjuang) bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Artinya dalam Al Quran ditegaskan bahwa orang yang sabar bukanlah orang yang lemah dan bukan pula orang yang gampang menyerah.

Jika dilindungi seorang bodyguard dan selalu bersama kita ke mana-mana saja kita pergi,  sudah merasa aman, apalagi dilindungi Allah yang selalu bersama kita? Apakah masih ada kekuatan dan perlindungan yang melebihi kekuatan dan perlindungan Allah? (Maret 2013)

3. Hikmah Memaafkan

  1. Hikmah Memaafkan

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah hendak membunuh Nabi Muhammad SAW. Segala sesuatu telah ia persiapkan secara matang, sebilah pedang tajam sudah disandangnya, dan ia pun masuk ke kota suci Madinah tempat Rasulullah bermukim.

Dengan semangat meluap-luap ia mendatangi majelis Rasulullah, untuk melaksanakan niatnya. Umar bin Khattab yang melihat gelagat buruk itu,  langsung menghadang Tsumamah. Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”

Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”. Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung meringkusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya, kemudian ia dibawa ke masjid.

Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah. Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik yang terlihat kelelahan dan ketakutan. Kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.

Para sahabat Rasul tentu saja kaget dengan pertanyaan Rasulullah. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang Anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!”

Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”. Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah.

Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illallah (Tiada ilah selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.”

Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!” Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada illah selain Allah dan Muhammad Rasul Allah.”

Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhaan Allah Robbil Alamin.”

Pada suatu kesempatan, Tsumamah berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, ”tiada seorang pun di muka bumi yang lebih ku cintai selain muhammad rasulullah”

***

Dulu, Umar Bin Khatab terkenal sebagai seorang jahiliyah yang kejam, ia tega membunuh anaknya sendiri. Bahkan ia pun pernah ingin membunuh Nabi.

Namun dengan arif dan bijaksana, Nabi melupakan semua masa lalu yang kelabu itu, lalu memaafkan semua kesalahan Umar. Sikap Nabi tersebut menimbulkan simpati yang mendalam bagi Umar. Dari sikap memusuhi, Umar berbalik menjadi bersimpati. Umar lalu menjadi pengikut Nabi, menjadi panglima perang dan menjadi khalifah yang terkenal bijaksana setelah Nabi wafat.

Khalid bin Walid sebelumnya juga terkenal bengis dan merupakan musuh utama Nabi dan para sahabat. Ia telah membunuh 70 orang sahabat-sahabat terbaik Nabi dalam peperangan.

Namun Nabi berhasil menaklukkan Khalid, tidak dengan kekerasan, tetapi dengan sikap bijaksana dan memaafkan semua kesalahan Khalid. Ia pun lalu berbalik menjadi pengikut Nabi dan tercatat sebagai panglima perang terbaik dan gagah berani sepanjang sejarah Islam.

Memang tidak selamanya kekerasan bisa diselesaikan dengan kekerasan, keburukan dibalas dengan keburukan, perbuatan jahat dibalas dengan kejahatan pula. Hal itu sering tidak menyelesaikan masalah, sebaliknya justru menimbulkan dendam dan sakit hati berkepanjangan. (Agustus 2012)

4. Takut

Takut

Semua manusia tentu pernah mengalami rasa takut. Alasannya bisa 1001 macam. Seorang pemuda atau pemudi takut tidak mendapatkan jodoh yang cocok untuknya.  Setelah menikah, takut tidak bisa mendapatkan keturunan. Setelah melahirkan, takut anaknya tidak tumbuh  normal dan sehat serta mendapat pendidikan yang baik. Setelah menyelesaikan  pendidikan, takut tidak mendapat pekerjaan. Begitu seterusnya, takut ini… takut itu… beraneka macam alasan dan latar belakangnya.

Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Karena itu pada prinsipnya rasa takut adalah wajar dan sangat manusiawi. Jika berada di tempat ketinggian, wajar jika manusia merasa takut akan terjatuh. Jika memegang benda tajam, wajar jika seseorang takut akan terluka. Seorang pedagang takut jika suatu saat usahanya merugi, karena itu ia menjalankan usahanya dengan serius dan hati-hati.  Seorang pejabat takut jika amanah yang diberikan kepadanya tidak bisa ia jalankan dengan baik dan tidak bisa dipertanggung jawabkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Karena itu ia bekerja dengan serius dan ekstra hati-hati.

Rasa takut bisa berimplikasi positif, namun bisa juga diterjemahkan secara negatif. Rasa takut membuat seseorang bersikap hati-hati, melakukan sesuatu dengan serius dan bersungguh-sungguh agar ia bisa terhindar dari resiko atau ancaman yang ia takutkan.  Namun ada orang menanggapi rasa takut secara negatif dan berlebihan. Sehingga rasa takut menjadi hantu dalam dirinya dan membuat ia terdorong untuk melakukan kesalahan.

Seorang ibu yang takut secara berlebihan terhadap kesalamatan anaknya melakukan perlindungan secara berlebihan (over protection) terhadap anaknya. Seorang pejabat yang takut akan kehilangan jabatannya berusaha mempertahankan jabatannya dengan jilat sana-jilat sini, atau memfitnah dan menekan orang lain agar jabatan tersebut terus bisa ia kuasai. Seorang pedagang berlaku curang agar ia terhindar dari resiko rugi.

Lebih parah lagi, ada yang meminta bantuan dukun agar jabatannya tetap langgeng. Seorang pedagang meminta jimat penglaris agar dagangannya tetap laku dan ia terhindar dari resiko kerugian.

Ada juga yang meminta bantuan pawang hujan, karena takut saat ia melakukan hajatan turun hujan lebat dan hajatan yang dilaksanakan tidak sukses. Saya sendiri dulu  juga pernah ditawarkan bantuan oleh “orang pintar”, agar bisa memenangkan Pilkada.

Tentu saja tindakan itu tidak benar dan bisa digolongkan sebagai perbuatan syirik.  Jika ingin meminta tolong kenapa tidak meminta tolong langsung kepada Allah? Mengapa harus meminta bantuan orang lain, jimat atau jin, bahkan setan yang berarti mempersekutukan Tuhan. Bukanlah Allah lebih berkuasa dari makhluk apapun? Kenapa kita tidak percaya akan kebesaran dan kekuasaanNya? Kenapa kita tidak minta tolong dan mengadu hanya kepadaNya?

Dalam suatu sidang paripurna di DPRD Sumbar, salah seorang anggota DPRD dari Fraksi PPP menyampaikan bahwa ia salut dengan sikap saya yang selalu tenang dan tidak terpengaruh dengan rumor yang berkembang belakangan ini. Banyak yang menyatakan isu tersebut adalah sebuah bola salju yang sedang menggelinding dan sangat berbahaya, sebagian lainnya menyebutnya sebagai kiamat besar. Namun saya tak bergeming dan tetap tegar. Isu tersebut kemudian terbukti bahwa tidak benar dan masalah itu bisa diselesaikan dengan baik. Setelah itu beliau mengatakan saya pantas dijadikan guru politik dan sebagai inspirator.

Padahal rahasianya mudah dan sederhana saja. Rahasia pertama adalah bekerja keras, bersungguh-sungguh dan bertindak sesuai dengan aturan, rahasia kedua adalah serahkan dan kembalikan kepada Allah hal-hal yang di luar kemampuan kita. Biarkan Allah memutuskan apa yang terbaik untuk kita, jangan ikut campur urusan yang merupakan wewenang Allah.

Rahasia ketiga adalah syukuri apapun ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk kita, manis atau segetir apapun ketetapan itu. Jika tiga prinsip di atas diamalkan, insya Allah tidak akan ada lagi rasa takut dan cemas berlebihan yang selalu menghantui kita. Tak ada rasa was-was yang membuat tidur kita tidak nyenyak dan makan tidak enak.  Karena itu saya bisa tetap tenang, sabar dan tetap melakukan kegiatan rutin sehari-hari seperti biasa.

Bukankah tidak perlu hidup yang indah ini kita rusak dengan hal-hal sepele yang tidak berguna? Takut boleh dan wajar-wajar saja. Namun ketakutan yang berlebihan, sekali lagi menjadi hantu dalam diri kita sendiri. Kalau kita sudah melakukan hal-hal yang benar, kenapa harus takut? Selain itu ada Allah tetap mengadu.

Mari kita hanya berserah diri dan hanya meminta tolong kepadaNya, semoga kita selalu menjadi orang-orang yang berada di jalan kebenaran dan diberikan petunjuk olehNya untuk selalu berada di jalan yang benar, tanpa rasa takut yang berlebihan dan selalu tenang menjalani hidup ini. Amin. (November 2013)

6. Amanah dan Profesional

Amanah dan Profesional

Salah satu perang besar dan paling bersejarah di zaman Nabi Muhammad SAW adalah perang Uhud. Pada perang  Uhud, Nabi Muhammad SAW menurunkan 700 orang pasukan,  sedangkan kaum musyrikin menurunkan 3000 orang pasukan. Dari segi jumlah pasukan, peperangan ini memang tak seimbang. Kaum muslimin saat itu masih terbatas jumlahnya.

Namun sebagai antisipasi, Nabi menempatkan 50 orang pemanah di atas bukit Uhud. Mereka bertugas melindungi pasukan kaum muslimin dari jarak jauh, sekaligus menahan serangan dari arah belakang (pintu masuk) medan pertempuran. Nabi lalu menunjuk Abdullah bin Zubair sebagai komandan pasukan berpanah ini. Beliau juga berpesan, apapun yang terjadi pasukan berpanah tidak boleh meninggalkan lokasi tersebut, kecuali jika mendapat aba-aba dari Nabi.

Singkat cerita, kedua pasukan telah berada di medan laga. Kaum musyrikin Quraisy pun bersiap untuk menyerang. Mereka datang dengan kekuatan 3.000 personil, seratus orang di antaranya adalah pasukan berkuda. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid yang ketika itu belum masuk Islam. Sedangkan di sebelah kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl yang juga belum masuk Islam pada saat itu.

Namun karena kaum muslimin berperang dengan alasan jihad dan strategi perang yang telah disusun oleh Nabi, kemenangan pada awalnya menjadi milik kaum muslimin. Perlahan tapi pasti pasukan musyrikin mulai kewalahan. Akhirnya mereka melarikan diri meninggalkan gelanggang pertempuran, termasuk meninggalkan harta dan barang-barang berharga milik mereka.

Melihat kejadian ini, pasukan berpanah dari pihak kaum muslimin, yang berada di atas bukit Uhud,  lupa dengan tugas yang diamanahkan Rasulullah. Lalu mereka berebutan turun bukit meninggalkan markas mereka. Mereka tergoda oleh harta yang ditinggalkan kaum musyrikin yang tunggang langgang melarikan diri.

Mereka berebut ingin mendapatkan harta rampasan perang yang ditinggalkan kaum musyrikin. Komandan pasukan berpanah Abdullah bin Zubair  berusaha mengingatkan mereka: “Apakah kamu lupa pesan Rasulullah?” ujarnya. Namun perintah Abdullah bin Zubair tak mereka hiraukan. Mata mereka telah silau oleh godaan harta.

Kaum musyrikin melihat peluang ini, bergerak cepat dan mengambil posisi yang ditinggalkan pasukan berpanah kaum muslimin. Kondisi semula menjadi terbalik,  kaum musyrikin berhasil mengepung barisan kaum muslimin. Beberapa orang sahabat Nabi yang masih bertahan di bukit Uhud berusaha bertahan dan melawan. Namun karena jumlah mereka hanya beberapa orang saja, perlawanan mereka bisa dipatahkan , merekapun gugur satu per satu.

Para shahabat dan pasukan kaum muslimin kocar-kacir. Kaum musyrikin terus merangsek maju mendekati posisi Rasulullah. Mereka berhasil memecahkan helm besi milik Nabi dan melukai kepala beliau. Bahkan beberapa kali beliau terperosok ke dalam lubang yang digali oleh Abu Amir Fasiq dan melempari beliau dengan batu-batuan. Nabi mengalami luka-luka dan cedera yang cukup parah, gigi seri Nabi juga patah dalam peristiwa itu, hampir saja beliau wafat di sana .

Peristiwa ini merupakan sebuah pelajaran dan penggalaman yang sangat pahit bagi umat Islam. Kata kunci dalam peristiwa itu adalah tidak amanah dan tidak profesional. Pasukan berpanah tidak amanah, karena mereka melalaikan amanah diberikan Nabi untuk tidak meninggalkan posisinya. Mereka juga tidak perofesional karena  tidak bekerja secara baik sesuai dengan profesinya dan mudah terpengaruh oleh godaan. Godaan dalam peristiwa ini adalah harta.

Dalam Al Quran dikatakan, Allah sengaja menguji umat Islam dalam peristiwa itu. Seperti firman Allah dalam Surat Ali Amran: 152, Allah menguji manusia dengan hal-hal yang disukainya dan mereka berpaling dari Rasulnya saat diuji. Dalam ayat tersebut Allah juga menegaskan bahwa sebagian manusia memikirkan kehidupan di akhirat kelak, namun sebagian manusia lainnya, hanya memikirkan dunia.

Kesukaan yang kuat menggoda manusia itu diantaranya adalah harta, belakangan ditambah lagi dengan wanita dan tahta. Masalah klasik itu sama sejak ribuan tahun lalu hingga sekarang. Karena penyebabnya sama, seharusnya dengan mudah kita bisa mengatasinya.  Harta, jabatan dan wanita (istri) adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, jaga dan jalankan dengan baik sehingga semua itu menjadi nikmat dan rahmat, bukan sebuah laknat yang akan menyengsarakan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Namun godaan selalu dengan mudah  memperdaya  manusia yang lemah imannya.

Tak peduli apapun jabatan atau pekerjaan seseorang, berlakulah amanah dan profesional. Jika ia seorang pejabat, berlakulah amanah dan pofesional sebagai seorang pejabat, agar sukses dalam melaksanakan pekerjaan dan bermanfaat bagi ummat. Jika hal itu dilakukan, insya Allah ia akan diberikan amanah yang lebih besar lagi, tidak perlu kasak-kusuk dan melakukan cara-cara yang tidak benar.

Begitu juga jika ia seorang sopir, jalankan pekerjaan itu secara profesional dan amanah.  Bisa kita bayangkan jika seorang sopir bis umum misalnya,  jika tidak menjalankan amanah dan profesional. Ia mabuk dan ugal-ugal membawa bis atau mengantuk  di jalan yang padat lalu lintas, tentu nyawa dan kerugiaan harta benda yang menjadi taruhannya akibat kecelakaan yang berpeluang besar terjadi.

Nabi juga berpesan agar suatu pekerjaan atau jabatan diberikan kepada ahlinya. “Berikanlah suatu pekerjaan kepada ahlinya, bila suatu pekerjaan diberikan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Maksudnya berikan jabatan atau pekerjaan itu kepada orang yang bersikap amanah dan mampu bekerja secara profesional.

Banyak contoh yang telah terjadi, akibat lalai, kesalahan kecil yang dianggap sepele dapat menimbulkan dampak yang besar bahkan dahsyat. Sopir yang mengantuk akibat malam sebelumnya begadang menonton pertandingan sepakbola misalnya, bisa menimbulkan kecelakaan beruntun yang menyebabkan  kehilangan puluhan nyawa. Atau bisa juga menimbulkan masalah nasional, keguncangan sebuah negara, jika ia seorang sopir presiden.

Atau kesalahan seorang staf mendisposisi surat misalnya, bisa berdampak dicopotnya seorang pejabat dan lalu merebak menjadi isu regional dan berkembang lagi menjadi isu nasional. Penyebabnya hanya masalah sepele, lalai dan tidak profesional.

Di lingkungan Pemprov Sumbar saya sudah berkali-kali mengingatkan agar kepala SKPD (satuan kerja perangkat daerah) berhati-hati dan tidak melakukan kesalahan, sekecil apapun. Peringatan itu dilanjutkan lagi dengan surat edaran. Berikutnya saya mengumumkan akan memberikan sangsi kepala SKPD yang melakukan maksimal 10 kali kesalahan kecil (terutama dalan adminitrasi surat-menyurat). Tentu saja tak ada ampun bagi yang melakukan besar dan fatal, sangsi menjadi keputusan tetap setelah diproses melalui Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat).

Alhamdulillah hal ini telah menimbulkan dampak yang positif, kepala SKPD menjadi ekstra hati-hati dan berupaya bekerja lebih profesional. Semoga proses itu terus  berjalan dan dipatuhi,  jajaran pemerintah Provinsi Sumatera Barat bisa menjalankan amanah dan bekerja secara profesional, mampu meniadakan kesalahan dan kelalaian sekecil apapun serta mampu memberikan pelayan yang maksimal untuk kejayaan dan kemajuan Sumatera Barat  di masa depan. Amin. (Maret 2013)

7. Politik Adu Domba

Politik Adu Domba

Politik adu domba telah terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Bangsa penjajah saat itu menamakannya sebagai devide et impera. Ini adalah sebuah strategi yang digunakan oleh pemerintah penjajahan Belanda untuk kepentingan politik, militer dan ekonomi. Politik adu domba digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh penjajahan Belanda di Indonesia.

Secara prinsip, praktek politik adu domba adalah memecah belah dengan saling membenturkan (mengadu domba) kelompok besar yang dianggap memiliki pengaruh dan kekuatan. Tujuannya adalah agar kekuatan tersebut terpecah belah menjadi kelompok-kelompok kecil yang tak berdaya. Dengan demikian kelompok-kelompok kecil tersebut dengan mudah dilumpuhkan dan dikuasai.

Unsur-unsur yang digunakan dalam praktek politik jenis ini adalah; 1. menciptakan atau mendorong perpecahan dalam masyarakat untuk mencegah terbentuknya sebuah aliansi yang memiliki kekuatan besar dan berpengaruh, 2. memunculkan banyak tokoh baru (tokoh boneka?) yang saling bersaing dan saling melemahkan, 3. mendorong ketidak percayaan dan permusuhan antar masyarakat, 4. mendorong konsumerisme yang pada akhirnya memicu timbulnya KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).

Di negara asalnya Belanda, politik devide et impera sudah lama tak digunakan lagi. Belanda saat ini saat menjunjung tinggi hak azazi manusia (HAM). Namun justru di Indonesia politik itu nampaknya masih membekas dalam dan masih saja digunakan. Apalagi setelah era reformasi yang oleh banyak pihak dinilai salah kaprah. Legislatif seperti berlawanan dengan eksekutif, partai A saling melemahkan partai B, begitu sebaliknya dan seterusnya. Padahal justru seharusnya saling bekerjasama dan saling memperkuat dan melengkapi.

Siapa saja bisa dijadikan domba aduan, dari warga masyarakat biasa sampai warga kelas atas bisa jadi objek sasaran. Sesama pedagang bisa dipicu perpecahan, gara-gara masalah kecil bisa berkembang menjadi konflik yang besar. Perbedaan agama, suku dan sebagainya bisa memunculkan percikan api konflik yang bila diberi bensin segera berkobar menjadi konflik besar. Kita sudah banyak melihat buktinya terjadi sehari-hari. Media massa seperti bertepuk tangan dan seolah-olah ikut memberi semangat melihat kejadian ini. Inikah yang dimaksud dengan reformasi dan demokrasi?

Dalam politik adu domba, konflik sengaja diciptakan. Perpecahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah terwujudnya aliansi yang bisa menentang penjajah (imperialisme), entah itu kekuasaan di pemerintahan, di partai, kelompok di masyarakat, dan sebagainya. Pihak-pihak atau orang-orang yang bersedia bekerja sama dengan kekuasaan, dibantu atau dipromosikan, mereka yang tidak bersedia bekerjasama, segera disingkirkan.

Ketidakpercayaan terhadap pimpinan atau suatu kelompok sengaja diciptakan agar pemimpin atau kelompok tersebut tidak tumbuh besar dan solid. Adakalanya tidak hanya ketidakpercayaan, bahkan permusuhan pun sengaja disemai. Teknik yang digunakan adalah agitasi, propaganda, desas-desus, bahkan fitnah. Praktik seperti itu tumbuh subur saat ini.

Di zaman penjajahan Belanda, mereka menggandeng beberapa pribumi untuk menjadi karyawan mereka, diberi kehidupan yang layak, tapi sadar atau tidak, mereka dikondisikan untuk mengkhianati bangsanya sendiri. Raja di satu kerajaan diadu domba dengan raja lain yang pada akhirnya menimbulkan peperangan dan perpecahan. Alhasil saat itu tidak muncul sebuah kerajaan yang besar dan kuat.

Di tengah masyarakat kita dewasa ini, di tengah era informasi yang sangat liberal, praktik adu domba itu menjadi tontonan sehari-hari. Kita secara vulgar disuguhi berita-berita tentang perseteruan antar kelompok untuk memperebutkan kekuasaan, saling tuding, saling caci-maki, saling sikut dengan intrik-intrik politik yang sangat kasar dan kejam. Penggiringan isu, disadari atau tidak, dilakukan sedemikian rupa untuk saling menghancurkan.

Di era merdeka dan modern seperti saat ini, tentu kita tidak ingin dijadikan domba aduan oleh siapapun dan pihak manapun. Imperalisme maupun neo imperalisme, tidak boleh lagi menjadi raja di negeri yang kita cintai ini, apalagi di Sumatera Barat negeri asal penggagas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Password untuk mengatasi masalah ini sama dengan yang kita gunakan saat mengusir penjajah Belanda dulu, yaitu persatuan dan kesatuan. Mari bersatu menghimpun kekuatan bersama, jangan mau dininabobokan dan lalu diadu domba. Indonesia adalah negara besar dan memiliki potensi yang besar. Dengan kesatuan dan persatuan, insya Allah kita capai kejayaan bersama dalam waktu singkat. Amiin. (Februari 2013)

 

8. Kabar Burung

. Kabar Burung

Menurut kamus bahasa Indonesia kata kabar burung setara dengan kata kabar angin atau berita selentingan, isu, gosip atau berita bohong. Kabar burung adalah informasi  yang belum jelas benar atau salahnya. Tak jarang kabar burung juga bisa berupa fitnah. Kabar burung dan informasi yang benar batas pemisahnya hanya setipis kulit ari.

Bagi yang pernah menyembelih ternak, saat membersihkan isi dalam rongga dadanya tentu pernah melihat sebuah kantong berwarna hijau. Kantong itu menempel  erat dan seperti menyatu dengan jantung, hati dan paru-paru. Kantong berwarna hijau lumut itu dinamakan kantong empedu.

Kantong itu terbuat dari selembar selaput tipis saja. Namun selama selaput itu tidak terganggu dan tidak bocor meski letaknya berdekatan, kita bisa menikmati lezatnya dendeng paru, kalio hati atau sate jantung. Tapi jika kantung empedu tersobek, cairannya terserak kemana-mana, maka hewan ternak yang disembelih jadi tak berguna. Dagingnya akan berubah jadi pahit dan tidak enak akibat terkena cairan empedu yang pahitnya bukan kepalang.

Cairan empedu yang pahit dengan daging yang lezat hanya dibatasi sebuah selaput tipis. Selama pembatasnya masih utuh, meski satu sama lain saling berdekatan dan seperti menyatu, dan kita tidak merusak pembatasnya, selamanya tak kan ada masalah. Namun jika pembatasnya dirusak dan setetes saja cairan empedu menempel di daging, maka daging yang enak berubah total menjadi tak enak. Kondisi ini hampir sama dengan yang digambarkan oleh pepatah “ gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”.

Batas pemisah kabar burung dan berita yang benar/sahih juga begitu, bedanya tipis sekali, setipis kulit ari. Sering keduanya tercampur aduk sehingga kita sulit membedakan mana yang benar atau mana yang hanya sekedar kabar burung, desas desus bahkan fitnah.  Dulu kita sulit mendapatkan informasi karena terbatasnya media komunikasi. Kini informasi datang melanda begitu deras, nyaris 24 jam sehari dari berbagai penjuru. Informasi bisa datang melalui media televisi, radio, media cetak, sms bahkan sosial media yang bisa wadahnya digenggam kemanapun kita pergi.

Jika dulu kita berusaha mencari informasi, maka saat ini tugas kita adalah menyaring informasi. Informasi apapun yang kita inginkan, nyaris tanpa batas, bisa kita peroleh dalam hitungan detik melalui search engine di internet. Sungguh luar biasa. Tinggal kita memilih dan memilah, informasi mana yang akan diambil dan dianggap bermanfaat.

Karena gelombang informasi yang luar biasa itu, para ahli menamakan abad ini sebagai era revolusi informasi. Mereka yang bernyali bisnis memanfaatkan peluang bisnis yang timbul akibat fenomena revolusi informasi, begitu juga ilmuwan, artis, politikus atau siapa saja yang bisa memanfaatkannya.

Namun sayangnya berita yang benar dan kabar burung seperti empedu dan daging tadi, keduanya seperti tercampur aduk, sulit membedakan satu sama lain. Informasi yang benar dan baik tercampur aduk dengan informasi yang tidak benar dan tidak baik.

Lebih parah lagi ada orang yang mengambil kesempatan memanfaatkan peluang revolusi informasi secara tidak baik dan salah. Maka muncullah berbagai macam bentuk penipuan melalui internet maupun telepon genggam. Ada juga yang memanfaatkan revolusi informasi untuk kepentingan politik baik secara benar maupun tidak benar. Ada juga yang secara sadar maupun tidak sadar menyebarkan kabar burung bahkan fitnah melalui sarana media yang sedang booming. Akibatnya kadang-kala menimbulkan dampak yang fatal.

Sekali lagi, tugas kita adalah menyaring mana informasi yang benar dan mana yang tidak benar. Silahkan pilih mana informasi yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Jangan pula ikut terpancing untuk ikut jadi penyebar atau komentator informasi yang kita sendiri belum tahu pasti duduk masalahnya dan juga tidak tahu persis benar atau salahnya.

Seperti firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 6; , “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Dalam QS: Al-Israa’ ayat 36 Allah juga berfirman; Dan janganlah Kami mengikuti  sesuatu yang  kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Maret 2013)

9. Memaafkan Meningkatkan Kinerja

Memaafkan Meningkatkan Kinerja

 

Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita pernah melakukan kesalahan. Tak ada manusia yang tak pernah berbuat kesalahan, tak ada manusia yang sempurna. Khilaf dan berbuat kesalahan adalah fitrah manusia.  Tak ada manusia yang luput dari khilaf dan berbuat kesalahan dalam kehidupannya.

Dalam keluarga, suami pasti pernah berbuat kesalahan terhadap istrinya, sebaliknya istri juga pernah berbuat salah kepada suami. Begitu juga anak tentu pernah melakukan kesalahan terhadap orang tua mereka dan sebaliknya orang tua juga pernah melakukan kesalahan terhadap anak, baik disengaja maupun yang tidak disengaja.

Namun kesalahan kecil, kadang-kadang tak disengaja bisa berdampak besar. Rumah tangga bisa hancur berantakan gara-gara suami tersinggung oleh perkataan istri yang mungkin tidak ia sengaja. Di media massa sering kita dengar terjadi perkelahian antar kampung atau suku secara besar-besaran. Pada hal pemicunya cuma masalah kecil dan sepele. Pernah terjadi peristiwa tragis yang berujung pembunuhan hanya gara-gara tersinggung oleh ucapan kata.

Di sinilah letak keagungan agama Islam. Dalam Islam kita diperintahkan untuk meminta maaf dan saling memaafkan, terutama pada Hari Raya Idul Fitri. Suami diperintahkan minta maaf kepada istri, begitu juga sebaliknya. Anak juga berkewajiban minta maaf kepada orang tua mereka dan sebaliknya. Selanjutnya bermaaf-maafan dengan seluruh keluarga, tetangga dan karib-kerabat. Semua persoalan sepele tadi bisa diselesaikan dengan meminta maaf dan memaafkan.

Dalam lingkungan kerja, saling memaafkan sangat ampuh untuk meningkatkan kinerja suatu satuan kerja/tim. Dalam lingkungan kerja, kesalahan, khilaf, salah paham, beda pendapat, sangat jamak terjadi.  Dalam suasana sibuk, kelelahan,                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               sering muncul salah dan khilaf. Yang melakukan kesalahan sering tidak menyadari kesalahan yang ia lakukan, tapi yang terkena dampaknya merasa sakit hati dan kadang kala dendam berkepanjangan. Karena sakit hati dan dendam, komunikasi berjalan mandeg, kinerja menjadi anjlok.

Di sinilah letak keampuhan sikap saling memaafkan. Dendam dan sakit hati ibarat virus dalam komputer. Jika komputer terkena virus, maka virus tersebut akan menyebar dan akan mengganggu sistem kerja komputer. Jika tidak pernah dibersihkan, sementara virus yang masuk terus bertambah dan bertambah, suatu saat komputer tersebut akan mogok bekerja (hang).

Demikian juga manusia, sakit hati dan dendam akan menjadi “virus” dalam hati. Makin lama makin banyak dan menumpuk. Dalam lingkungan kerja hal ini membuat prestasi kerja menurun, komunikasi tersendat. Secara pribadi, dendam dan sakit hati membebani pikiran bahkan bisa berbuntut menjadi stress.

Allah SWT. telah menyediakan obat penawar dari penyakit ini, yaitu saling minta maaf dan memaafkan. Ibarat virus dalam komputer tadi, minta maaf dan memaafkan adalah seperti mendelete (menghapus) virus dalam komputer. Hapus semua dendam dan sakit hati dalam hati dan pikiran kita, agar ia tidak menjadi beban yang terus bertambah dan menumpuk dari tahun ke tahun.

Suksesnya suatu kesatuan kerja/tim tergantung pada kekompakan dan soliditas tim tersebut. Tim yang solid dan kompak akan menghasilkan prestasi kerja yang baik. Agar tim kompak dan solid kuncinya adalah menjaga agar hubungan antar anggota tim tetap harmonis, tidak ada ganjalan, dendam maupun sakit hati dengan saling minta maaf dan memaafkan.

QS; Ali Imran: 134 mengatakan , salah satu ciri orang masuk surga adalah setiap malam sebelum tidur ia memaafkan orang lain.  Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan jika ada perselisihan di antara kamu maka selesaikanlah segera, paling lama dalam waktu tiga hari.  Dalam QS; 49 ayat 110 juga dikatakan, maka damaikanlah segera antara saudaramu yang berselisih.

Mari jadikan, ucapan mohon maaf lahir dan bathin tak sekedar  ucapan seremonial  dan rutinitas tahunan di saat Idul Fitri. Jadikan Idul Fitri dan halal bil halal menjadi sebuah momen untuk benar-benar saling memaafkan dan minta maaf atas kesalahan yang kita lakukan selama setahun yang telah berlalu.  Mari kita hapus semua “virus” sakit hati yang membebani pikiran kita, kita mulai lembaran kehidupan baru yang bersih, tanpa dendam dan sakit hati, lebih optimis dan lebih baik. (Agustus 2012)

 

10. Menghapus Virus di Pikiran

Banyak yang bertanya, kok saya kelihatan santai saja, seperti tanpa beban. Padahal beban kerja luar biasanya banyaknya. Masalah yang muncul hampir tak berhenti dari menit ke menit, datang silih berganti.  Masalah pekerjaan, masalah kampung, masalah organisasi, masalah keluarga, masalah terus, seperti tak habis-habis terus berdatangan yang harus dihadapi sejak fajar mulai menyingsing hingga larut tengah malam menjelang mata terlelap.

Jawabannya sederhana saja, yaitu pemaaf dan ikhlas. Jika ada masalah, diselesaikan dengan baik sampai tuntas secepatnya, jangan ditunda-tunda. Jika ada yang berbuat salah, segera maafkan dan jika berbuat salah segera minta maaf. Jika ada yang berbuat jahat terhadap kita, jangan balas dengan kejahatan. Karena jika hal itu kita lakukan, maka sama saja jahatnya kita dengan mereka. Biarlah Allah yang menunjukkan jalan yang terbaik.

Tentu akan timbul pentanyaan, bagaimana jika ada di antara masalah yang dihadapi tersebut tidak bisa diselesaikan dan menemui jalan buntu? Jawabannya, serahkan masalah tersebut kepada Allah SWT. Jika telah diupayakan dengan kerja keras dan segala upaya, namun masalah itu tetap tak ada jalan keluar, maka hanya Allah tempat kita mengadu.  Insya Allah, Allah akan menunjukkan jalan keluar yang terbaik.

Pada umumnya manusia memiliki tiga kelemahan yang merupakan sifat dasar manusia, yaitu khilaf, doif (lemah) dan nafsu. Ketiga sifat ini membuat manusia sering berbuat kesalahan.  Namun kadangkala kesalahan kecil, tanpa disadari bisa berdampak besar. Di lingkungan kerja, kesalahan bisa menyebabkan kekesalan yang pada akhirnya menyebabkan suasana tidak nyaman dan prestasi kerja menjadi menurun.

Siapapun  manusia di dunia ini, sehebat apapun dia, pasti pernah berbuat kesalahan.  Tak ada manusia yang sempurna.  Karena itu wajar manusia melakukan kesalahan. Tugas kita adalah memberi maaf dan meminta maaf.  Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadisnya mengatakan ciri-ciri orang masuk syurga adalah memaafkan kesalahan orang lain setiap malam menjelang tidur.

Jika semua persoalan telah diselesaikan dengan baik, bekerja dengan ikhlas dan semua kesalahan telah dimaafkan dan telah meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan, maka tak ada alasan masih banyak masalah yang membebani pikiran kita. Hidup terasa nyaman, beban pikiran terasa ringan, kita bisa bekerja dan berpikir dengan tenang. Benar apa yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, orang yang memaafkan kesalahan orang lain, akan memperoleh syurga.

Dalam kenyataannya,  tidak hanya syurga di akhirat kelak yang bisa kita peroleh tetapi, tetapi juga syurga di dunia. Mereka yang bersikap pemaaf dan bekerja dengan ikhlas mendapatkan ketentraman hidup di dunia. Makan enak, tidur nyenyak, tak ada dendam dan sakit hati,  tak ada beban pikiran menumpuk di kepala. Itulah syurga di dunia.

Kesalahan, baik disengaja maupun tidak disegaja bisa menimbulkan amarah, dendam dan sakit hati. Amarah, dendam dan sakit hati jika disimpan akan menjadi beban dalam pikiran. Makin lama makin banyak dan terus bertumpuk-tumpuk. Seperti virus dalam komputer,virus tersebut terus bertambah banyak dan bertambah. Akibatnya suatu saat kumputer tersebut error, tak mampu lagi berkerja.  Pada manusia hal yang hampir sama juga terjadi. Jika beban pikiran terus menumpuk, maka suatu saat bisa menimbulkan stress.

Untuk mengatasi hal tersebut, pada komputer diatasi dengan antivirus. Antivirus akan mendelete (menghapus) virus-virus yang mengganggu sistem kerja komputer. Pada manusia antivirusnya adalah memaafkan.  Memaafkan akan menghapus (mendelete) semua beban pikiran berupa amarah, dendam dan sakit hati.

Allah dalam QS; Ali Imran:133 berfirman,  Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. QS Ali Imran:134, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (September 2012)

11. Puasa Mencegah Korupsi

Puasa Mencegah Korupsi

Sungguh miris menyimak berita utama yang menghiasi berbagai media massa belakangan ini. Lebih dari seratus kepala daerah dan mantan kepala daerah (Gubernur, Walikota dan Bupati) tersandung kasus korupsi. Kita juga dikagetkan oleh sejumlah kasus korupsi besar di lembaga pajak. Nama Gayus Tambunan menjadi nama yang populer di seantero nusantara sebagai koruptor pajak yang spektakuler.

Lembaga politik juga  tak luput dari isu korupsi.  Sejumlah tokoh politik juga tercemar namanya karena diduga terlibat kasus korupsi. Korupsi telah menjadi penyakit akut, mewabah dan merajalela di mana-mana.

Seseorang dikatakan korupsi jika hak yang dia ambil melebihi dari hak yang seharusnya dia terima. Sedangkan korupsi timbul akibat keinginan (wants) seseorang jauh melebihi kebutuhannya (needs).

Kenapa seseorang terlibat korupsi, kenapa seseorang mengumbar hasrat keinginannya (wants) melebihi dari kebutuhannya? Jawabannya adalah karena mereka tak mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya. Gaya hidup yang berlebihan membuat orang tergoda untuk dengan cara apapun.

Jika demikian masalahnya, maka puasa (shaum) bisa dijadikan salah satu terapi pencegahan dini kasus korupsi. Misi utama puasa adalah mengendalikan hawa nafsu. Puasa mengajarkan umat Islam untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Godaan hawa nafsu memang merupakan godaan paling berat bagi manusia. Gaya hidup yang makin metropolis dan serba instan membuat manusia sering tergoda. Kebutuhan dan kemampuan mereka hanya untuk membeli mobil kijang, tetapi keinginan mereka adalah mobil merek Hummer. Karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu, mereka lalu menghalalkan segala cara. Maka terjadilah korupsi.

Seperti diungkapkan Nabi Muhammad SAW banyak perang besar yang telah dilalui beliau bersama para sahabat, termasuk perang badar. Tapi sebenarnya perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu.

Puasa adalah salah satu wadah latihan untuk perang melawan hawa nafsu. Saat puasa kita dilatih untuk mengekang hawa nafsu, untuk tidak makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa dari imsak sampai waktu buka. Selain itu kita juga dianjurkan melakukan amal ibadah seperti shalat malam, tadarus, berzakat, dll. Untuk memperkokoh benteng keimanan.

Jika ibadah puasa dilakukan dengan baik dan benar insya Allah mampu mencegah kita dari tindakan korupsi.

Selamat melaksanakan ibadah puasa dan memasuki bulan Ramadhan 1433H, bulan penuh rahmat dan berkah.  Mohon maaf atas segala khilaf dan salah, semoga kita dapat melaksanakan ibadah puasa dengan baik dan kembali fitrah di bulan Syawal mendatang.  Mari kita jadikan bulan Ramadhan untuk introspeksi diri, serta bertekad untuk menjadi lebih baik di masa datang. (Juli 2013)

12. Puasa Kunci Kemajuan Bangsa

Puasa Kunci Kemajuan Bangsa

Apa yang menyebabkan sebuah negara menjelma menjadi sebuah negara maju, makmur  dan sejahtera? Negara-negara Eropa, misalnya. Semua serba ada di sana, income per capita (pendapatan rata-rata) penduduknya terpaut jauh dengan negara lain. Atau ambilah contoh negara di Asia seperti Jepang, Korea, atau Singapura, misalnya. Apakah karena sumberdaya alam negara mereka melimpah ruah yang membuat mereka sejahtera? Ternyata tidak.

Jepang misalnya, tidak satupun bahan tambang yang mereka miliki. Minyak, aspal, besi, semen dan seterusnya, semua mereka impor dari negara lain. Begitu juga Korea, sebuah negara kecil yang juga tidak memiliki kekayaan alam yang bisa diandalkan. Yang terjadi adalah konflik dan perang saudara berkepanjangan. Singapura apalagi, jangankan bahan tambang dan kekayaan alam, air, pasir dan hampir semua kebutuhan penduduknya didatangkan dari negara lain.

Lalu apa yang membuat mereka sukses dan sejahtera? Berdasarkan pengamatan dan tak terbantahkan,  yang membuat mereka berbeda adalah prilaku dan sikap mental mereka. Mereka pekerja keras dan sangat disiplin. Karena sumbedaya alam yang mereka miliki terbatas, maka mereka hemat dan penuh perhitungan. Berbagai inovasi terus digali agar pemanfaatan sumberdaya alam lebih efisien, lebih baik dan lebih baik lagi.  Kebersihan dan lingkungan dijaga agar masyarakatnya tidak mudah sakit dan selalu produktif. Sakit dalam kacamata mereka adalah pemborosan yang bisa dicegah sejak dini.

Islam telah lama mengajarkan sikap dan prilaku-prilaku teladan seperti yang dilakukan masyarakat di negara maju tersebut. Puasa misalnya, terutama puasa di bulan Ramadhan, merupakan sebuah isyarat bahwa manusia disuruh berhemat, mengendalikan hawa nafsu dan tidak menghambur-hamburkan sumberdaya alam secara berlebihan. Fakta yang cukup menyedihkan adalah kita terpaksa mengimpor gula, terigu, cabe, beras bahkan daging sapi dan berbagai kebutuhan pokok lainnya dari negara lain. Saya tulis “terpaksa” karena impor tersebut kita lakukan sebagai pilihan terburuk sebagai sebuah pemborosan devisa. Padahal sumberdaya alam kita tersedia berlimpah.

Lalu kalau kita lihat kenapa produk-produk Jepang bisa merajai pasaran, terutama elektronik dan kendaraan bermotor? Jawabannya adalah mereka memberikan kejujuran. Kejujuran akan berimplikasi kepada kepercayaan (trust). Kejujuran yang mereka tawarkan di sini adalah produk Jepang adalah yang terbaik, persis seperti apa yang mereka janjikan. Tidak ada kebohongan dan tipu daya di sana. Akibatnya timbullah kepercayaan (trust) terhadap produk-produk Jepang, terutama elektronik dan kendaraan bermotor, di seluruh dunia. Akibatnya Jepang menjelma menjadi negara kaya raya. Apapun bisa mereka beli.

Begitu juga barang-barang yang keluar dari Singapura, meski barang-barang tersebut bukan diproduksi di Singapura, tapi Singapura menambahkannya dengan jaminan trust, baik berupa kualitas,  ketersediaan barang, proses penjualan dan pasca penjualannya. Maka orang dari manca negara pun berduyun-duyun berbelanja ke Singapura, termasuk Indonesia.

Padahal Nabi Muhammad SAW telah sejak ribuan tahun lalu mengajarkan dan mengamanahkan kepada umat Islam aspek kejujuran dalam berniaga. Katakan barang tersebut baik jika barang dagangan itu memang baik dan katakan terus terang jika barang tersebut memiliki kelemahan jika memang memiliki kelemahan atau cacat. Dilarang pula mengurangi timbangan.

Puasa selama sebulan penuh melatih dan mengingatkan kembali agar umat Islam memiliki nilai-nilai yang dimiliki dan menjadi syarat pokok masyarakat sebuah negara maju tersebut. Bahkan lebih lengkap dari itu. Mereka di negara maju saat ini merasa timpang dan ada yang kurang, meski mereka kaya raya. Kekurangannya adalah mereka lemah dalam praktek ibadah dan hubungan dengan Tuhan.  Hubungan secara horizontal baik (hambluminannas), tapi tidak baik dalam hubungan vertikal dengan Tuhan (hambluminallah).

Dalam puasa selama bulan Ramadhan semua nilai-nilai itu lengkap diajarkan dan umat Islam disuruh melatihnya selama sebulan penuh. Tinggal kita mengamalkan dan mengahayatinya secara benar. Jika semua amalan selama bulan puasa itu dilakukan bangsa Indonesia secara benar dan terus diperbaiki dan disempurnakan dari tahun ke tahun, saya yakin bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju dan makmur. Malah lebih lebih baik dari bangsa lain, maju dan makmur di dunia, namun juga maju, makmur dan sejahtera di akhirat. Amiin. (Juli 2013)

13. Pemimpin Berkarakter

Pemimpin Berkarakter

 

Pesta demokrasi Pilkada yang gegap gempita kadangkala berakhir dengan kekecewaan. Pemimpin yang dipilih rakyat dengan susah payah ternyata tak seperti yang mereka bayangkan dan inginkan. Ternyata pemimpin yang dipilih tak seperti yang mereka kira, apa yang dijanjikan sang pemimpin saat kampanye tak pernah jadi kenyataan.

Masyarakat telah salah pilih? Kenapa salah pilih?

Menilai kualitas seseorang memang bukan perkara gampang, apalagi untuk menilai seseorang yang akan dipilih jadi pemimpin. Slogan atau foto rancak yang dipajang di berbagai pelosok untuk sosialisasi sang calon pemimpin tak cukup untuk memutuskan apakah ia cocok jadi pemimpin. Begitu juga visi dan misi yang ditawarkan juga tak ada jaminan akan jadi kenyataan.

Slogan bisa dibuat dengan sejuta kata yang manis-manis dan indah. Visi dan misi juga bisa dibuat berisi sejuta janji dan mimpi-mimpi.

Seperti sepasang calon pengantin yang dalam masa perkenalan (pacaran?). Calon yang akan dipilih akan selalu berusaha menampilkan yang baik-baik dan indah-indah. Tapi setelah beberapa lama berkeluarga baru diketahui watak asli masing-masing. Tentu saja masing-masing akan kecewa jika sifat jelek pasangan pilihannya baru diketahui belakangan.

Jika hal yang sama terjadi saat memilih pemimpin, tentu saja membuat masyarakat pemilih kecewa, sakit hati, lalu cuek atau memilih menjadi pengikut golongan putih (golput). Lalu apa yang harus dilakukan?

Pemimpin yang baik memang tak cukup dinilai dari slogan yang ia buat atau visi dan misi yang ia tawarkan. Pemimpin yang baik bisa dinilai dari sifat asli mereka. Sifat asli mereka bisa diketahui dari karakter mereka.

Karakter seseorang dengan mudah bisa diamati. Apakah dia seorang penyabar, tidak pendendam, jujur, ulet, rendah hati dan berbagai sifat dasar lainnya.

Dalam Islam seorang pemimpin (ra’i) harus memiliki sifat ri’ayah (peduli) terhadap rakyat (ra’iyyat). Pemimpin dalam Islam adalah pelayan, sedangkan rakyat adalah orang yang harus dilayani. Bukan sebaliknya, apalagi kalau pemimpin dikonotasikan sebagai penguasa.

Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan sikap dan karakter beliau sebagai pemimpin. Nabi telah mencontoh bagaimana sistem demokrasi ditegakkan saat meletakkan Hajarul Aswad. Keputusan diambil setelah melakukan musyawarah. Kemudian Nabi mengambil sorban beliau untuk mengangkat Hajarul Aswad, masing-masing utusan kaum ikut dilibatkan dengan ikut memegang setiap sudut sorban. Setelah itu barulah Hajarul Aswad ditempatkan bersama-sama. Semua pihak merasa puas, semua pihak merasa dihargai dan diberi peran.

Nabi juga memperlihatkan karakter bahwa beliau rendah hati saat melakukan shalat. Beliau selalu melakukan shalat berjamaah dengan masyarakat. Beliau tak pernah menuntut bahwa beliau harus diistimewakan.

Nabi juga memperlihatkan bahwa beliau sangat cinta dan peduli kepada rakyatnya, tak peduli mereka dari golongan manapun, Nasrani maupun Yahudi. Sehabis shalat berjamaah Nabi membuka kesempatan bagi siapa saja untuk berdiskudi. Nabi selalu siap mendengarkan keluh-kesah masyarakat.

Teladan Nabi juga dilanjutkan oleh Kalifah Umar bin Khatab. Beliau menangis ketika mengetahui ada rakyatnya yang tidak makan dan kelaparan. Ia lalu mengambil dan memanggul sendiri sekarung gandum yang ada di rumahnya, lalu memberikan gandum tersebut kepada rakyatnya yang kelaparan. Karena itu pemimpin menjadi orang yang dicintai oleh rakyatnya, bukan orang yang ditakuti.

Pemimpin diusulkan oleh rakyat, rakyat yang menilai apakah ia layak untuk dipilih sebagai pemimpin, bukan karena dia sendiri yang menonjolkan diri. Di zaman Nabi ada tokoh yang mencalonkan dirinya sendiri untuk jadi pemimpin. Nabi lalu langsung mengatakan agar orang tersebut tidak dipilih.

Motivasi jadi pemimpin adalah mengharapkan ridha Allah dan mengabdi untuk kepentingan umat, bukan untuk berkuasa. Karena itu ia menerima dengan ikhlas siapapun yang dipilih rakyat. Allah yang memutuskan apa yang terbaik bagi kita semua. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai oleh masyarakatnya, bukan pemimpin yang ditakuti.

Kesimpulannya, jika memilih seorang pemimpin telitilah apakah ia memiliki karakter terpuji seperti diatas. Apakah selama perjalanan karirnya ia memperlihatkan sikap dan teladan seperti yang dicontohkan pemimpin besar Nabi Muhammad SAW. Seseorang bisa dinilai dari track record dan perjalanan pengalaman dan karirnya selama ini.

Jika sifat-sifat itu telah ia miliki, insya Allah ia akan menjadi pemimpin yang baik dan amanah. Masyarakat yang baik, dipimpin oleh pemimpin yang baik pula, insya Allah akan menjadi negeri yang aman, damai, sejahtera dan bermartabat. Negeri yang toyyibatun warabun ghofur. Amin. Selamat melaksanakan Pilkada 2010. (Juli 2011)

14. Golput dan Calon Pemimpin

Golput dan Calon Pemimpin

Pagi hari Rabu (5/3/2014), persis di hari pelaksanaan pemungutan suara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kota Padang, diam-diam menggunakan kendaraan pribadi dan menyetir sendiri, saya berkeliling kota Padang. Saya mengamati aktifitas masyarakat kota Padang pagi itu, terutama aktifitas pemilihan langsung Wali Kota Padang.

Ada dua kesan yang menonjol dari pengamatan saya. Pertama, Pilkada dilaksanakan secara sangat sederhana dan lebih hemat biaya. Teras-teras rumah penduduk, warung-warung yang tidak buka pagi hari atau berbagai tempat kosong dipakai sebagai tempat pelaksanaan Pilkada. Peralatan yang digunakan juga terlihat sangat sederhana, dengan konsep efisiensi dan penghematan.

Kesan kedua adalah, rata-rata TPS (Tempat Pemungutan Suara) masih terlihat sepi. Sekitar pukul 08.30 WIB, di salah satu TPS saya sempat mampir. Menurut petugas setempat dari 285 warga yang terdaftar sebagai pemilih, baru 35 orang yang telah melaksanakan hak pilihnya. Padahal berdasarkan undangan, TPS telah dibuka sejak jam 07.00. Hal serupa juga terjadi di TPS-TPS lain yang secara diam-diam saya kunjungi hingga pukul 09.30, terkesan sepi dan tak terlihat antusias warga.

Ternyata kekuatiran itu memang jadi kenyataan. Berdasarkan perhitungan akhir, dari 560.289 orang warga kota Padang, hanya 53,77 persen saja warga ibukota Sumatera Barat ini  yang melaksanakan hak pilihnya. Sisanya, hampir separuh warga kota tidak melaksanakan hak pilihnya alias golput (golongan  putih).

Kenapa? Alasannya bisa bermacam-macam. Bisa jadi karena Pilkada sudah beberapa kali terundur, bisa jadi pula masyarakat lebih berkosentrasi untuk Pemilu Legislatif yang juga akan segera digelar tanggal 9 April mendatang dan banyak alasan lainnya.

Tidak ikut memilih alias golput walaupun  merupakan keinginan masing-masing individu, tetapi sebagai warga negara yang baik, kita dilarang golput. Dalam sebuah sistem demokrasi, tentu saja golput bukanlah pilihan yang terbaik. Makin banyak masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya, tentu makin tak tersalurkan aspirasi (keinginan) masyarakat akan sosok pemimpin yang diinginkannya.

Ada juga yang beralasan calon pemimpin yang ditawarkan tidak sesuai dengan keinginan mereka dan mereka beralasan, berdasarkan pengalaman selama ini, memilih atau tidak sama saja, tidak akan membawa perubahan yang berarti.

Mengenai calon pemimpin, tentu saja tidak bisa sesuai dengan keinginan masing-masing individu, karena ada proses dan mekanisme yang harus dilalui. Namun memang perlu juga diingatkan dan masyarakat juga perlu mengawal sehingga calon pemimpin yang diapungkan namanya memang calon yang berkualitas dan aspiratif.

Memilih pemimpin memang tidak mudah, menjadi pemimpin jauh lebih sulit lagi. Seorang pemimpin haruslah amanah dan akan diminta pertanggungjawabannya dunia dan akhirat. Karena itu di zaman Nabi Muhammad SAW, seorang pemimpin dicalonkan oleh masyarakat. Masyarakatlah yang menilai, berdasarkan sikap, karakter dan prilakunya sehari-hari apakah ia sudah layak jadi pemimpin. Bukan dia sendiri yang menganggap dirinya mampu, punya uang banyak untuk kampanye, lalu maju mencalonkan diri. Lebih buruk lagi dia mencalonkan diri karena ambisi pribadi.

Karena itu partai-partai harus jeli mendengar aspirasi masyarakat untuk menentukan sosok tokoh mana yang diinginkan masyarakat untuk dijadikan calon pemimpin. Sebaliknya masyarakat juga harus menahan diri dan bersikap tegas. Memilih seorang calon pemimpin bukan karena besar atau kecilnya oleh-oleh yang mereka bawa (berupa baju kaos, sumbangan dalam bentuk materi atau uang). Hal ini sering menjadi dilema, calon yang berkualitas tersisihkan karena mereka tak punya uang untuk memberi “oleh-oleh”. Jadi pilihlah mereka karena kualitas dan kapasitasnya.

Pemilu legislatif sudah dekat, tak sampai sebulan lagi. Mari ikut peduli dan berpartisipasi. Teliti dan pelajari kualitas dan dedikasi masing-masing calon dan pilihlah mereka karena alasan kualitas dan integritasnya, bukan karena besar atau kecilnya “oleh-oleh” yang diberikan.

Ikut memilih secara benar berarti kita ikut menentukan masa depan kita secara benar pula untuk masa datang. Tidak ikut memilih, berarti kita membiarkan siapa saja yang akan memimpin, malah akan membuka peluang lebih besar tokoh-tokoh yang tidak kita inginkan terpilih sebagai pemimpin. Selamat melaksanakan pemilu, selamat berdemokrasi. (Maret 2014)

 

15. Mari Membangun Kota Padang

Mari Membangun Kota Padang
Pilkada Kota Padang merupakan Pemilu dengan rute panjang dan marathon. Prosesnya berlangsung hampir setahun. Bermula dari persiapan sejak pertengahan tahun 2013, setelah beberapa kali terundur, dilanjutkan dengan tahap pencoblosan pada bulan Oktober 2013. Lalu karena tidak diperoleh pemenang dengan jumlah perolehan suara 30 persen plus 1, proses pemilihan dilanjutkan lagi dengan Pilkada Putaran II pada bulan Maret 2014.
Ternyata prosesnya belum selesai sampai di situ, meski pasangan Mahem (Mahyeldi- Emzalmi) berhasil memenangkan prolehan suara terbanyak. Proses masih berlanjut lagi melalui sidang di Mahkamah Konstitusi (MK). Proses Pilkada Kota Padang berpindah sejenak ke Jakarta. Benar-benar sebuah perjalanan panjang dan melelahkan.
Kini, Walikota dan Wakil walikota Padang sudah terpilih dan telah selesai pula dilantik. Kita mengucapkan terimakasih tentunya kepada semua pihak, baik unsur KPU beserta perangkatnya, masyarakat umumnya, baik yang berperan aktif sebagai tim pemenangan dan pendukung masing-masing kandidat, maupun yang berperan pasif sebagai pemilih. Ucapan terima kasih dan penghargaan tentunya juga kita sampaikan kepada aparat keamanan yang telah bekerja keras menciptakan kondisi yang kondusif sehingga Pilkada kota Padang berlangsung lancar dan aman.
Selama perjalanan panjang pemilukada tersebut tentu wajar timbul beda pendapat di sana-sini, masing-masing kandidat berupaya keras meyakinkan pemilihnya bahwa calon mereka lah yang terbaik. Ada kelompok-kelompok masyarakat atau tokoh masyarakat yang mendukung satu kandidat dan berupaya mengalahkan kandidat lainnya dan sebaliknya. Masing-masing kelompok seperti berlomba-lomba untuk jadi pemenang.
Dalam keadaan demikian tentu tak jarang terjadi gesekan-gesekan atau friksi-friksi. Entah siapa yang memulai dan entah siapa yang menebarnya tak jarang muncul fitnah, hasutan atau kampanye hitam (black campaign). Tak jarang suasana panas pun tercipta, bagi yang tidak sabar bisa terpancing dan terbawa emosi.
Tapi syukurlah hal itu tidak terjadi dalam Pilkada Kota Padang, semua berlangsung aman dan damai. Jika muncul riak-riak kecil ke permukaan, itu merupakan dinamika sebuah Pemilu, dan bisa diselesaikan dengan baik dan cepat. Ini pertanda masyarakat kita makin dewasa dalam berpolitik. Demokrasi memang menuntut kita untuk berbeda pendapat, tapi bukan untuk berpecah-belah, apalagi sampai berlarut-larut dan melakukan tindakan anarkis. Kita patut acungkan jempol untuk masyarakat Sumatera Barat dalam hal ini, mampu berdemokrasi secara dewasa. Hal ini terlihat dari berkali-kali Pilkada atau Pileg dilaksanakan selalu berjalan lancar dan aman.
Kita semua tentu mendambakan Kota Padang menjadi kota yang bersih, nyaman, tertib, indah, asri dan kegiatan ekonominya berkembang dengan baik. Kota Padang adalah ibukota dan etalase Provinsi Sumatera Barat. Pepatah Inggris mengatakan, “ikan itu busuk mulai dari kepalanya.” Jika kota Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat semrawut dan tidak nyaman, pastilah orang menilai semua kota di Sumatera Barat sama seperti itu.
Walikota dan Wakil Walikota terpilih (Mahyeldi dan Emzalmi/Mahem) tentu harus bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Banyak masalah-masalah krusial yang perlu diselesaikan segera. Terobosan-terobosan baru harus dibuat agar terjadi percepatan pembangunan. Masyarakat tentu juga menanti diwujudkannya 10 program unggulan yang dulu dijanjikan saat kampanye. Karena itu diperlukan SDM PNS yang cakap dan berkualitas. Tentunya setiap melakukan promosi dan mutasi PNS agar tetap mempertimbangkan faktor kompetensi dan integritas.
Kepada Walikota Padang terdahulu kita mengucapkan terimakasih atas pembangunan dan prestasi-prestasi yang telah diperoleh. Wako dan Wawako yang baru berkewajiban melanjutkan program-program yang baik yang telah dimulai Walikota sebelumnya serta menyempurnakan jika ada program lama yang dianggap masih belum maksimal.
Kini Pilkada Kota Padang telah usai, saatnya untuk bekerja dan berbenah. Mari kita lupakan perbedaan pendapat yang pernah terjadi, mari kita hilangkan sekat-sekat kelompok, partai, kampung atau apapun namanya. Meski Walikota/Wakilwalikota terpilih hanya didukung oleh 2 partai politik dan hanya dipilih oleh 31 persen penduduk kota Padang, tapi kini mereka adalah 100 persen milik warga kota Padang. Mereka berkewajiban memenuhi aspirasi dan tuntutan warga kota Padang, tanpa kecuali dan tanpa diskriminasi.
Mari kita saling berjabat tangan dan merapatkan barisan, bersatu-padu untuk membangun Kota Padang seperti yang telah lama kita idam-idamkan bersama. Insya Allah cita-cita kita bersama bisa diwujudkan dengan kebersamaan pula. (Mei 2014)

16. Mari Memilih Presiden

Mari Memilih Presiden

Momen tanggal 9 Juli 2014 merupakan saat yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia dan masa depan bangsa ini. Berdasarkan data KPU sekitar 181 juta lebih penduduk Indonesia, yang telah memiliki hak pilih, pada hari tersebut akan melaksanakan haknya untuk memilih presiden yang akan memimpin Indonesia 5 tahun mendatang.

Sejumlah masyarakat bersikap skeptis dan menganggap peristiwa ini tidak penting. “Sia se nan jadi presiden, ndak ado pengaruhnyo ka awak doh. Awak juo ndak ka dipiliah jadi menteri kalau ikuik mamiliah,” ujar mereka memberi alasan. (Siapa saja yang akan jadi presiden tidak akan ada pengaruhnya kepada kita. Toh kita juga tidak akan dipilih jadi menteri).

Tentu saja pendapat dan alasan tersebut tidak tepat dan tidak benar.  Suara masyarakat melalui pemilu (pilpres) akan sangat menentukan siapa yang akan menjadi presiden dan memimpin negara ini 5 tahun mendatang. Dengan sistem pemilihan langsung (Pilsung) yang kita anut saat ini, masyarakatlah yang menentukan siapa yang akan jadi presiden. Berbeda dengan sistem pemilu 2 periode sebelumnya, presiden dipilih oleh DPR/MPR.

Presiden terpilih tahun inilah yang akan menentukan kebijakan apa yang akan diambil dan program-program apa yang akan dilaksanakannya selama 5 tahun mendatang. Kebijakan yang diambil dan program yang akan dibuat, tentu akan bersentuhan langsung kepada masyarakat. Sedangkan tentang siapa yang akan dipilih menjadi menteri, tentu ada persyaratan dan mekanisme tertentu yang harus dilalui.

Jadi sangat tidak bijaksana jika bersikap golput (golongan putih). Silahkan tentukan pilihan sesuai keinginan dan aspirasi masing-masing. Pilihan boleh berbeda, namun jangan sampai perbedaan pilihan itu menyebabkan rusaknya hubungan silaturahim di antara kita. Pilhan boleh beda, ukhuwah harus tetap dijaga.

Begitu juga setelah presiden terpilih nantinya, siapa pun presiden yang terpilih harus kita hormati, meski yang menang bukan capres pilihan kita. Menang atau kalah tak jadi masalah, masing-masing pihak harus siap menang, dan harus siap kalah. Siapapun yang menang, itulah presiden kita, itulah aspirasi masyarakat kita.

Lalu siapa presiden yang akan dipilih, apa pertimbangannya?

Dalam Islam minimal ada 4 syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin. Ciri seorang pemimpin yang baik dalam Islam adalah: 1. Shiddiq, 2. Amanah, 3. Fathonah  dan 4. Tabligh.

(1). Yang dimaksud dengan shiddiq, adalah kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak dalam melaksanakan tugas. Pemimpin yang shidiq adalah pemimpin selalu melakukan hal-hal yang benar seperti apa adanya. Mengatakan apa adanya yang sebenarnya terjadi, mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Lawan shiddiq adalah bohong atau suka berbohong.

(2). Amanah, yaitu kepercayaan (bisa dipercaya) yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah SWT. Pemimpin yang amanah selalu menepati janji-janjinya. Lawan amanah adalah khianat.

(3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal. Pemimpin yang cerdas terlihat dari pikiran-pikiran yang disampaikannya, serta tindakannya yang tegas, arif dan bijaksana. Potensi ini melahirkan kemampuan yang tepat menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul dan kebijakan yang akan dibuat dan diputuskan. Lawan fathonah adalah bodoh.

(4). Tabligh, yaitu jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).

Masyarakat disilahkan memilih satu di antara dua calon presiden yang telah disyahkan KPU dan telah lolos seleksi dan memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan. Mari kita teliti calon-calon tersebut berdasarkan pedoman kriteria yang telah menjadi acuan dalam memilih pemimpin sejak zaman Nabi Muhammad SAW yang telah terbukti keampuhannya itu.

Jika masih ragu, berdoalah dan lakukan shalat istiqarah menjelang pemilihan. Semoga kita menemukan pilihan yang tepat dan Allah juga memberikan petunjuknya, agar kita dapatkan pemimpin yang terbaik  yang mampu membawa kebaikan bagi 250 juta rakyat Indonesia dan membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik. Amin. (Juli 2014)

17. Otonomi Daerah

Otonomi Daerah

 

Sistem otonomi daerah (desentralisasi) pada dasarnya telah mulai diberlakukan di Indonesia sejak zaman kemerdekaan.  Hal itu terlihat dengan adanya pembagian wilayah ke dalam kategori provinsi dan kewedanaan.  Lalu pada zaman pemerintahan berikutnya  dibagi lagi atas kewedanaan, kecamatan dan desa atau lurah atau nagari.

Tuntutan untuk melaksanakan otonomi daerah makin menguat setelah tahun 1966. Semua itu ditujukan untuk mengoptimalkan pembangunan di masing-masing daerah serta mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Otoda juga ditujukan agar terwujud pembagian wewenang yang proporsional antara pusat dan daerah, sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan daerah.

Menurut literatur Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Selanjutnya yang dimaksud dengan Daerah Otonom/Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam bahasa Yunani, otonomi  berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga otonomi dapat dikatakan sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri  atau kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah.

Sejumlah peraturan dan undang-undang telah dibuat dan diundangkan untuk mengatur pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, mulai dari Undang-undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah hingga yang terbaru, Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Namun pelaksanaannya di lapangan tidaklah mudah. Kondisi masing-masing daerah yang berbeda, baik kondisi sumberdaya alam, budaya dan sumberdaya manusia yang berbeda menyebabkan pemahaman dan pola pelaksanaan otonomi daerah yang beragam pula. Begitu juga penafsiran yang berbeda dari unsur-unsur pimpinan daerah masing-masing. Aturan main pelaksanaan otonomi daerah terus dibenahi dan diperbarui agar bisa mengakomodir kebutuhan dan mengantisisipasi masalah-masalah yang terjadi di daerah

Pada acara peringatan Hari Otonomi Daerah ke XVIII tanggal 25 Desember 2014 lalu di Istana Negara Jakarta bersama Presiden dan Gubernur se Indonesia juga diingatkan bahwa pelaksanaan otonomi daerah perlu terus ditingkatkan dan diperbaiki. Tema yang diangkat adalah: “Dengan Semangat Otonomi Daerah Kita Sukseskan Pelaksanaan Pemilu Tahun 2014 Dalam Upaya Memperkuat Tata Kelola Pemerintahan Daerah” .

Di Sumatera Barat, kami telah berusaha melaksanakan pola otonomi daerah semaksimal mungkin. Sejumlah perizinan yang dulu kewenangannya berada di provinsi telah didelegasikan ke Kabupaten dan Kota, bahkan ke tingkat kecamatan. Begitu juga sejumlah kewenangan yang selama ini berada pada Gubernur, untuk efisiensi dan percepatan pelayanan kepada masyarakat, telah didelegasikan kepada kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).

Menyangkut izin-izin di pertambangan, kehutanan, perindag, pertanian, peternakan dan sejenisnya cukup sampai kepala SKPD/Kepala Dinas atau melalui pelayanan satu pintu.  Sebanyak 97 bentuk izin, pengurusannya telah didelegasikan kepada kepala SKPD.  Begitu juga di daerah, melalui PATEN (Pelayanan Terpadu Kecamatan), cukup sampai tingkat Camat. Aturannya telah ditetapkan melalui Pergub, SK Gubernur atau Surat Edaran. Semua itu dilakukan dalam rangka mempercepat pelayanan dan mengoptimalkan otonomi daerah.

Begitu juga dengan pengangkatan dan mutasi pejabat. Kewenangan pengangkatan, pemberhentian pejabat serta mutasi, diserahkan kepada kepala daerah masing-masing, sesuai dengan semangat otonomi daerah. Selama ini hanya pengangkatan pejabat eselon 2 saja yang dilaporkan ke Gubernur dan Gubernur tidak pernah turut campur menentukan si A atau si B yang akan dipilih. Begitu juga kepala sekolah, sepenuhnya wewenang Bupati atau Walikota, karena semua sekolah berada di bawah wewenang Bupati dan Walikota, bukan Gubernur.

Banyak dampak positif yang saya lihat sebagai dampak kebijakan ini. Pendelegasian wewenang menyebabkan penjabat yang diberikan wewenang beserta stafnya lebih bersemangat dan bergairah bekerja. Pegawai-pegawai terlihat sibuk, tak banyak waktu terbuang percuma. Di sisi lain tentu kita berharap pelayanan yang lebih baik, cepat dan tepat sasaran, bisa diperoleh masyarakat. Semoga! (Mei 2014)

18. Partai Boleh Beda, Ukhuwah Tetap Dijaga

Partai Boleh Beda, Ukhuwah Tetap Dijaga

 

Helat besar lima tahun sekali kembali digelar serentak di seluruh pelosok Indonesia. Hajatan berbingkai pelaksanaan demokrasi itu bertajuk Pemilu (Pemilihan Umum ) Legislatif tahun 2014. Tahun ini puncak pesta demokrasi itu akan dilaksanakan besok, 9 April 2014, yaitu dengan melakukan pemungutan suara di ratusan ribu tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut Kemendagri jumlah pemilih tahun ini meningkat dari 172 juta jiwa pada tahun 2009, menjadi 185 juta jiwa. Mereka tersebar di sekitar 7.000 kecamatan, dan akan melaksanakan hak pilihnya di 516.142 TPS di berbagai pelosok negara tercinta. Di Sumatera Barat sendiri penduduk yang memiliki hak pilih berjumlah sekitar 3,65 juta jiwa dan akan ditampung suaranya di 13.405 unit TPS. Sungguh sebuah pesta yang luar biasa besarnya.

Sejak dini sebanyak 15 partai peserta Pemililu telah mengambil ancang-ancang agar partainya mendapat tempat di hati masyarakat. Berbagai program disusun dan ditawarkan untuk menarik simpati. Berbagai metode dan cara juga diupayakan agar partai dan calon anggota legislatif yang telah mereka seleksi bisa terpilih.

Biasanya di sinilah titik kritis itu terjadi. Masing-masing partai saling bersaing dan berlomba agar partainya menjadi pemenang. Begitu juga para caleg, masing-masing mengerahkan segala daya dan upaya agar bisa terpilih dan meyakinkan masyarakat bahwa ialah yang terbaik.

Terkadang saking bersemangatnya berkampanye, entah disengaja atau tidak, masing-masing partai atau caleg bercerita melebihi kondisi sebenarnya. Lebay, istilah anak muda sekarang. Terkadang, mungkin juga tanpa disengaja, masing-masing saling menjelekkan, membukakan aib saingannya bahkan menfitnah. Prilaku ini dikenal dengan black campaign.  Meski semua orang tahu prilaku ini sangat tidak terpuji dan berdampak sangat merugikan kedua belah pihak, namun faktanya selalu saja sering terjadi di berbagai daerah. Sungguh sangat disayangkan, terjadinya persaingan yang tidak sehat.

Dengan suasana demokrasi yang terjadi saat ini kondisi tersebut bisa memicu friksi-friksi dalam masyarakat. Dalam suasana demokrasi saat ini, jamak terjadi dalam masyarakat kita, di satu desa/nagari masyarakatnya mendukung beberapa partai atau caleg yang berbeda. Bahkan sering kita temukan dalam satu keluarga pun menjagokan partai atau caleg yang berbeda, sesuai dengan argumen masing-masing.

Konon karena berbeda partai, kelompok A berselisih dengan kelompok B, misalnya. Akibatnya mereka saling tidak bertegur sapa, padahal mereka satu nagari, satu suku bahkan memiliki pertalian darah. Lebih lucu lagi ada suami-istri yang berselisih paham karena berbeda partai dan mempertahankan prinsip masing-masing. Lebih celaka lagi jika friksi-friksi itu dibumbui dengan fitnah dan hasutan, bukan tidak mungkin berkembang menjadi tindakan-tindakan anarkis. Siapa yang rugi?

Sistem demokrasi, termasuk Pemilu dikembangkan dan diterapkan di negara kita tentu bukan untuk memecah belah dan mengadu domba masyarakat. Tujuan sebenarnya adalah untuk menyalurkan aspirasi masyarakat serta memilih tokoh-tokoh terbaik dan layak diberi amanah  untuk mewakili masyarakat dalam sistem pemerintahan, dalam hal ini legislatif.

Karena itu berbeda-beda partai, berbeda-beda pikiran dan konsep, itu wajar-wajar saja dalam rangka mencari tokoh terbaik. Seperti pepatah Minang; “Basilang kayu di tunggu di situ api mako ka iduik”. Maksudnya dengan beraneka ragamnya ide dan pendapat, dari sanalah bisa diperoleh kesimpulan yang terbaik.

Silahkan memilih partai dan caleg yang menurut kita bisa memegang amanah dan aspirasi masyarakat, sesuai dengan penilaian masing-masing. Teliti reputasi partainya, teliti juga rekam jejak calegnya. Jika sudah, dengan membaca bismillah (bagi yang beragama Islam) silahkan pilih mereka di TPS masing-masing. Mari kita laksanakan Pemilu secara damai, tidak perlu bertikai dan terpecah belah. Partai boleh berbeda-beda, tapi ukhuwah (persaudaraan) perlu tetap dijaga. (April 2014)

19. Politik dan Uang

Politik dan Uang

 

Aktifis dan juga anggota Tim Pemenangan Pemilu sebuah Partai Politik dalam suatu acara evaluasi pelaksanaan Pileg (Pemilu Legislatif) tahun 2014 dengan nada kecewa menceritakan pengalamannya dalam penggalangan masyarakat.

“Sudah tiga tahun masyarakat suatu kompleks kami bina dan kami dampingi,” ujarnya.  Berbagai kebutuhan mereka telah difasilitasi. Keluhan mereka didengar dan dicarikan jalan keluarnya, berbagai metode pencerahan juga sudah dibeberkan untuk memberi motivasi.  Mereka sudah seperti keluarga sendiri. “Rasanya tak ada alasan lagi bagi mereka untuk tidak memilih kita dan partai kita saat pelaksanaan Pileg,” ujarnya.

Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan.  Setelah penghitungan suara, ternyata hasilnya jauh meleset. Masyarakat di komplek tersebut seperti telah sepakat, justru beramai-ramai beralih memilih partai lain. Konon penyebabnya adalah aksi “serangan fajar.” Ibarat kata pepatah; “Hilang paneh satahun dek hujan sadarok”. (Kemarau selama setahun, sirna gara-gara hujan sejenak). Upaya pembinaan yang dilakukan selama 3 tahun sirna begitu saja oleh aksi semalam.

Selidik punya selidik, konon di komplek itu sudah terjadi gerakan “serangan fajar”. Semua tutup mulut, tak ada bukti fisik yang terlihat, bersih seolah-olah tak terjadi apa-apa. Tapi, itulah kenyataan yang ditemukan saat perhitungan suara, pemenangnya adalah partai lain yang selama ini tak pernah muncul di sana. Perjuangan kami selama 3 tahun menjadi sia-sia. Hanya bisik-bisik dari mulut ke mulut yang bisa menjawab penyebab peristiwa luar biasa itu.

Nyatanya hal serupa juga terjadi di berbagai tempat dan di berbagai pelosok negeri. Kita bisa lihat beritanya muncul di berbagai media. Di beberapa tempat masyarakat menuntut agar dilakukan Pemilu ulang, sebagian lainnya terpaksa diam karena tidak menemukan bukti fisik yang bisa dijadikan bukti perkara. Sebagian lainnya terpaksa mengurut dada dan mengikhlaskan apapun yang terjadi. Tuhan pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi dan Beliau akan membalasnya dengan hukuman yang setimpal.

Namun ada juga tim lain yang menyatakan dan menemukan fakta bahwa uang bukanlah segalanya. Di daerah yang ia dampingi masyarakat tersebut tetap pada komitmennya. Pembinaan dan pendampingan yang dilakukan selama bertahun-tahun tak berujung sia-sia. Mereka memang menjadi sahabat, mereka memang menjadi saudara, sehati, seiya sekata. Mereka cendrung tak menayakan apa yang bisa mereka peroleh, tapi menanyakan apa yang bisa kita lakukan dan kerjakan bersama. Apa yang bisa dilakukan bersama untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Uang sepertinya adalah prioritas urutan nomor sekian.

Pada kenyataannya di lapangan, pemilu dan uang memang tak bisa dipisahkan. Untuk melakukan sosialisasi, butuh uang. Untuk beli gula dan kopi atau beli nasi bungkus saat sosialisasi juga butuh uang. Mencetak kartu nama, banner, spanduk atau baliho, dan berbagai atribut kampanye pasti juga butuh uang. Membantu perbaikan mesjid, sekolah, jalan atau saluran air dan lain-lain, juga pasti butuh uang. Tak jarang masyarakat minta ini, minta itu sebagai prasyarat sosialisasi. Apalagi jika ditambah pula dengan memasang iklan di media massa. Siap menjadi caleg, artinya harus siap pula dengan dana pendukung. Semua butuh modal, besar atau kecilnya tergantung pola mana yang akan dipakai.

Dalam kondisi wajar-wajar saja, tentu tak jadi masalah. Namun jika menggunakan metode serangan fajar atau membeli suara, tentu ini merupakan tindakan yang salah dan melanggar aturan. Begitu juga dengan cara-cara lain seperti penggelembungan suara, manipulasi suara dan sebagainya yang menghalalkan segala cara. Akibatnya dana yang dibutuhkan tentu menjadi makin membengkak dan niatnya pasti sudah tidak benar lagi.

Segala sesuatu yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar, tentu hasilnya akan baik dan benar pula. Namun jika sesuatu dilakukan dengan cara-cara yang salah, pastilah hasilnya juga salah dan tidak membawa kebaikan. Sesuatu yang dilakukan dengan cara-cara haram, apapun alasannya, pastilah hasilnya haram juga. Seseorang terpilih menjadi anggota legislatif atau kepala daerah (bupati/walikota) dengan cara-cara yang salah tentu tidak akan membawa berkah bagi dirinya, maupun bagi masyarakat sekitarnya.

Umumnya masyarakat kita jika ditanya pemimpin seperti apakah yang mereka inginkan, pastilah mereka menjawab pemimpin yang diinginkan adalah pemimpin yang jujur, amanah, berakhlak mulia, tidak korupsi, peduli kepada masyarakat, kreatif, inovatif dan seterusnya.

Apakah tidak aneh, jika kita berharap kebaikan, tetapi dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik dan benar? Apakah tindakan kita sudah betul, menerima hanya secuil uang dengan menggadaikan masa depan 5 tahun mendatang atau bahkan bisa jadi berdampak sepanjang masa? Apakah dengan cara-cara seperti itu kita bisa mendapatkan pemimpin yang jujur, amanah, peduli dan sebagainya? Cara-cara yang baik yang baik akan menghasilkan kebaikan, cara yang haram akan menghasilkan yang haram pula, jauh dari berkah.

Pemilu sebagai bagian dari perangkat demokrasi bertujuan untuk mengalang aspirasi dan peran serta masyarakat untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang nantinya bertugas dan bertanggung jawab memikirkan dan membawa dan memikirkan masa depan bangsa agar lebih maju, lebih baik, lebih sejahtera dan bermartabat.

Seharusnya kita semua peduli dengan hal itu, malah harus ikut bertanggung jawab memastikan bahwa pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang dipilih benar-benar yang terbaik, amanah, peduli, pekerja keras dan berakhlak mulia. Jika kita menginginkan masa depan dan kehidupan yang lebih baik seharusnya cara-cara yang tidak terpuji tersebut tidak terulang lagi.

Semoga apa yang telah berlalu menjadi pelajaran bagi kita bersama untuk dievaluasi dan diperbaiki di masa datang dan semoga Tuhan melindungi kita semua. Amin. (April 2014)

20. Stress

Stress

Peristiwa mengejutkan dan tak disangka-sangka terjadi Rabu, tanggal 22 Januari 2014 lalu, sekitar pukul 14.00 Wib. Seorang lelaki muda dengan postur tubuh sedikit tambun memasuki Kantor Gubernur Provinsi Sumatera Barat. Di tangannya terhunus sebilah pisau. Menurutnya ia akan membunuh dan menguliti kepala Gubernur. Lingkungan Kantor Gubernur pun gempar seketika.

Peristiwa itu memang tak disangka-sangka. Awalnya tak ada yang mencurigakan dari lelaki berkaCamata minus dan berpenampilan terdidik ini. Penampilannya malah cendrung parlente, mengendarai mobil jenis toyota rush berwarna hitam. Belasan petugas Satpol PP (pamong praja) yang bertugas di kantor Gubernur saat itu pun terkecoh dan tidak mengetahui kehadirannya.

Pengawalan di kantor Gubernur dan di rumah dinas Gubernur memang sengaja saya buat minimalis dan minim protokoler. Maksudnya adalah supaya saya bisa dekat dengan masyarakat dan tidak ada gap (jurang pemisah) yang jauh antara Gubernur dan masyarakat. Di setiap kesempatan hal serupa juga saya lakukan, minim protokoler, berbaur dengan masyarakat.

Tak berhasil menemukan Gubernur untuk melaksanakan niatnya, pria ini langsung pergi dan menghilang. Ia menghilang sebelum petugas keamanan dari Satpol PP yang bertugas saat itu berhasil meringkusnya.

Belakang baru diketahui bahwa pria ini mengalami stress. Ia adalah tamatan jurusan geologi Istitut Teknologi Bandung (ITB). Menurut dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (UNP), pria yang baru enam bulan berada di Sumbar ini adalah kandidat dosen pada fakultas teknik di universitas ttersebut, dan telah lulus seleksi kemampuan akademik. Belakangan baru diketahui bahwa pria yang tergolong cerdas ini mengalami gangguan psikologis (stress).

Stress dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang (Robbins, 2001).  Stress bisa juga diartikan sebagai  suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik dan psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Ringkasnya stress disebabkan oleh adanya penghalang/tekanan bagi seseorang untuk mencapai apa yang ia inginkan.

Ada banyak penyebab timbulnya stress. Masalah ekonomi, misalnya. Bahkan masalah ekonomi dicatat sebagai penyebab stress utama dalam masyarakat kita. Lingkungan yang tidak nyaman, kesulitan memperoleh pendidikan, birokrasi yang berbelit-belit, merupakan sejumlah pemicu stress pada masyarakat. Banyak faktor  lainnya yang membuat masyarakat tidak nyaman dan stress.

Pemerintah secara umum, atau pemimpin secara spesifik yang diamanahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkewajiban memperkecil penyebab stress dalam masyarakat. Caranya adalah dengan memfasilitasi dan membantu masyarakat untuk meningkatkan ekonominya, meningkatkan pelayanan dan mempermudah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang mendasar seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

Jika semua itu berjalan lancar, tidak serba susah dan sulit, tentu masyarakat akan merasa nyaman dan tenang. Juga tentunya tingkat stress dalam masyarakat akan berkurang. Masyarakat bisa menjalankan aktifitas ekonominya dengan tenang dan nyaman, di bidang pendidikan mereka bisa memperoleh pendidikan yang baik dan berkualitas sedangkan  di lingkungan kerja, fasilitas umum dan pemukiman mereka terasa nyaman dan menyenangkan.

Dalam rapat-rapat dengan berbagai unsur pemerintah saya selalu mengingatkan bahwa tugas dan tanggung jawab pemerintah serta pemimpin sesuai amanat undang-undang adalah mensejahterakan masyarakat. Pemerintah dan pemimpin dianggap gagal dan tidak amanah jika tidak berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah ada untuk melayani masyarakat agar bisa mencapai sejahtera. Karena itu program pemerintah mengarah kepada upaya-upaya mensejahterakan masyarakat. Terlepasnya masyarakat dari masalah-masalah ekonomi tentu akan mengurangi tekanan dan beban hidup mereka yang sekaligus akan mengurangi kemungkinan mereka mengalami stress.

Mari kita berjabat tangan, bahu membahu, bersama-sama menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. Jangan menambah ketegangan masyarakat dengan menambah-nambah isu yang tidak benar. Jangan ikut menyebarkan informasi atau isu, baik dari mulut ke mulut, melalui sms atau jejaring sosial dan sebagainya jika belum benar-benar yakin kebenaran informasi tersebut.

Tahun ini merupakan tahun yang berat, negara kita akan menghadapi tiga tantangan yang berat, yaitu masalah ekonomi, cuaca yang ekstrim dan tahun politik. Mari kita hadapi tantangan tersebut secara arif dan bijaksana. Semoga kita dapat mengatasi tantangan ini dengan baik dan keluar sebagai pemenangnya (the champion), bukan sebagai kelompok yang kalah dan babak belur (the looser) akibat stress. Amin. (Februari 2014)

 

 

BAB 2  INSPIRASI DI BIDANG EKONOMI

21. Gerakan Pensejahteraan Petani

Gerakan Pensejahteraan Petani
Apakah pemerataan ekonomi bisa dilaksanakan dan ekonomi masyarakat bisa ditingkatkan? Pertanyaan itu sering mencuat ke permukaan. Bisakah ekonomi masyarakat Sumatera Barat meningkat beberapa tahun mendatang?

Pemerataan ekonomi bukan masalah gampang, melaksanakan ekonomi kerakyatan dan berkeadilan tak semudah mengucapkannya. Tapi di Sumatera Barat konsep tersebut tak sekedar slogan, tetapi telah dilaksanakan secara ril di lapangan dan ditetapkan secara rutin dalam Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Pekerjaan membangun Sumatera Barat cukup menantang. Kendala menggulirkan pembangunan di Sumatera Barat periode lima tahun ke depan (2010 – 2015) berawal dari kondisi yang sangat memprihatinkan pasca gempa 30 September 2009. Sumatera Barat saat itu baru saja dilanda gempa dahsyat berkekuatan 7,9 skala richter. Kota Padang, ibukota Sumatera Barat nyaris lumpuh total.  Hampir semua bangunan kantor pemerintah hancur dan rata dengan tanah, begitu juga sentra-sentra kegiatan ekonomi, sekolah, rumah ibadah dan rumah penduduk juga ikut porak-poranda. Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, serta Kabupaten Pasaman Barat mengalami kerusakan terparah akibat gempa.

Kendala lain adalah, Sumatera Barat bukanlah daerah kaya minyak seperti provinsi lain maupun kaya bahan tambang seperti batubara, emas dan sebagainya. Industri juga tak bertumbuh pesat di sini. Sekitar 60 persen penduduk Sumatera Barat mengandalkan mata pencaharian mereka di sektor pertanian, perikanan dan perdagangan (UMKM).

Lalu dengan segala keterbatasan yang ada, apa yang bisa dilakukan untuk membangun Sumatera Barat ?

Pekerjaan pertama yang harus dilakukan di awal periode tersebut adalah membangun kembali puing-puing yang tersisa akibat gempa. Alhamdulillah berkat keseriusan pemerintah pusat dan juga kerja keras pemerintah daerah bersama masyarakat, serta bantuan dari pihak ketiga, masalah ini bisa teratasi. Bangunan yang sebelumnya roboh dan datar dengan tanah kembali dibangun dan berdiri kokoh. Bangunan yang lama telah berganti dengan yang baru.

Masyarakat Sumatera Barat tak boleh putus asa, bencana bisa terjadi kapan saja dan  dimana saja, namun yang paling penting adalah bagaimana mengantisipasi dan menghindari resiko bencana tersebut. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Spirit masyarakat digenjot sehingga tidak larut dalam kesedihan, Sumbar harus bangkit. Kini, kurang dari tiga tahun setelah gempa, Sumatera Barat telah pulih kembali, baik secara fisik maupun mental. Dalam hal ini Sumbar mendapat apresiasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  sebagai daerah terbaik dalam penanggulangan bencana dan sejumlah pakar gempa asal Jepang juga mengacungkan jempol karena dalam waktu yang relatif singkat, Sumbar kembali normal pasca bencana gempa.

Upaya selanjutnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sesuai dengan visi pemerintah daerah (Pemda) tahun 2010 – 2015 yaitu : “mewujudkan masyarakat madani, sejahtera dan bermartabat.” Karena sekitar 60 persen masyarakat berada di sektor pertanian, perikanan dan UMKM, maka fokus pembangunan akan diarahkan ke kelompok mayoritas masyarakat tersebut.

Untuk mewujudkan cita-cita itu maka Pemda Sumbar melakukan percepatan pembangunan dengan membentuk enam tim gerakan terpadu, yaitu:

  1. Tim Gerakan Terpadu Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP) diketuai oleh Kadis Pertanian Tanaman Pangan.
  2. Tim Gerakan Terpadu Pengembangan Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Perdagangan diketuai oleh Kadis Koperindag.
  3. Tim Gerakan Terpadu Pemberdayaan Fakir Miskin diketuai oleh Ka. Badan Pemberdayaan Masyarakat.
  4. Tim Gerakan Terpadu Pelestarian dan Aplikasi Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) diketuai Ka. Biro Binsos.
  5. Tim gerakan Terpadu Pengembangan SDM. diketuai oleh Ka. Disdikpora.
  • Tim Gerakan Terpadu Reformasi Birokrasi, diketuai oleh Ka. Biro Organisasi
  • Tim Gerakan Terpadu Pensejahteraan Masyarakat Pesisir dan Nelayan diketuai oleh Kadis Kelautan dan Perikanan

 

Gerakan Pesejahteraan Petani (GPP) memiliki dampak yang cukup besar, karena sekitar 50 persen penduduk Sumatera Barat bekerja di sektor pertanian. Program GPP dilaksanakan atas sinergi Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Peternakan dan Dinas Kehutanan.

Latar belakang pelaksanaan GPP adalah bahwa luas lahan pertanian milik masyarakat rata-rata hanya 0,3 hektar per KK dan rata-rata jam kerja petani adalah 3 jam per hari. Berdasarkan hasil analisa, jam kerja petani tersebut bisa ditingkatkan dan lahan pertanian milik petani yang terbatas bisa dioptimalkan dengan intensifikasi dan diversifikasi usaha (mix farming). Petani yang dulu hanya bertani padi sawah difasilitasi untuk melakukan pertanian campuran dengan tambahan kolam ikan, ternak itik, ayam, kambing atau sapi. Sedangkan lahan atau pekarangan yang kosong ditanami kakao, kelapa atau tanaman lain.

Dengan usaha mix farming lahan pertanian yang terbatas bisa dimanfaatkan lebih optimal dan jam kerja petani juga meningkat. Jika hal ini dikerjakan dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh, pasti akan membuahkan hasil dan pendapatan petani akan meningkat. Jika pendapatan petani, yang merupakan mayoritas penduduk Sumatera Barat meningkat, otomatis akan terjadi sinergi pertubuhan di sektor lain, seperti perdagangan, industri dan sebagainya juga akan meningkat.

Untuk tahun pertama, program GPP dilaksanakan di 64 desa/nagari, masing-masing 2 nagari di setiap kabupaten/kota. Tahun berikutnya jumlah nagari/desa yang dilibatkan dilipat gandakan dan seterusnya sehingga semua nagari/wilayah telah terjangkau oleh program.

Karena anggaran daerah yang terbatas, maka program GPP diselaraskan dengan program-program nasional. Program Satu Petani Satu Sapi yang merupakan bagian dari program GPP misalnya, diselaraskan dengan program nasional Program Swasembada Daging Sapi (PSDS). Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS),  Program nasional KUR, KKPE dan sejenisnya juga menjadi motor program tersebut. Yang tak kalah pentingnya adalah peran perantau, BUMN dan Perusahaan Swasta, juga ikut menjadi pendukung dana program ini.

Agar terus termonitor perkembangannya, program GPP dievaluasi setiap bulan, dipimpin langsung oleh gubernur. Sedangkan rapat koordinadasi dengan bupati dan walikota dilakukan setiap dua bulan sekali. Gubernur juga rajin berkunjung langsung ke desa/nagari lokasi program GPP. Kepada masyarakat terus diberikan motivasi agar tak membiarkan sejengkal pun tanah mereka terlantar. Juga terus diberikan semangat bahwa kunci sukses adalah bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Nasib suatu kaum tak kan berubah jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya.

Karena baru berjalan setahun, memang belum bisa dievaluasi program yang bertujuan meningkat ekonomi masyarakat dan bercita-cita menciptakan pertumbuhan berkeadilan ini apakah berhasil atau tidak. Namun yang terlihat nyata di lapangan adalah adanya semangat baru masyarakat untuk berubah dan memperbaiki dirinya. Suatu desa yang diberi bantuan satu kolam ikan, karena melihat contoh yang baik, secara swadaya membangun 6 kolam baru.  Begitu juga komoditi lain, dimulai oleh pemerintah sebagai stimulan lalu tumbuh dan berkembang secara swadaya.

Tentu, apa yang dilakukan di Sumatera Barat bukan program besar dan bisa langsung menyelesaikan semua persoalan. Namun saya rasa menyelesaikan persoalan besar juga bisa dimulai dari upaya-upaya kecil, asal dilakukan dengan serius, kerja keras dan terus menerus. Tetesan air jika diteteskan secara terus menerus kepada sebuah batu, niscaya suatu saat air tadi akan mampu menembus batu tersebut. Begitu juga upaya menyelesaikan masalah masyarakat, meski dimulai dari yang kecil, jika ditekuni secara serius, tentu akan membuahkan hasil.

Ada banyak teori, rencana atau konsep dan strategi perberdayaan ekonomi masyarakat yang sangat bagus dan canggih yang digagas oleh para pakar. Namun menurut saya strategi dan konsep pemberdayaan terbaik adalah konsep yang diterapkan di lapangan dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh. (Mei 2012)

22. Usahawan Minang

Usahawan Minang

Usahawan Minang terkenal ulet dan tangguh. Mereka juga terkenal sebagai pengusaha perintis. Nyaris tak ada pelosok negara ini tidak ditempati oleh pengusaha asal Minang (Sumatera Barat), dari kota sampai ke pelosok-pelosok daerah, dari Sabang sampai Merauke. Bahkan di manca negara sekalipun, tak susah untuk menemukan pengusaha Minang. Jumlahnya ada ribuan, bahkan mungkin sudah mencapai angka jutaan.  Jumlah perantau Minang nyaris setara dengan jumlah penduduk yang berdomisili di kampung asalnya.

Umumnya merekalah yang menyemarakkan kampung masing-masing dengan acara pulang basamo di saat Idul Fitri.  Di kampung tak segan-segan mereka merogoh kocek dalam-dalam untuk membantu anak kemenakan dan masyarakat kampungnya. Secara sukarela mereka menyingsingkan lengan membangun masjid, mushalla, jalan, jembatan, sekolah dan berbagai prasarana lainnya. Puluhan juta bahkan sampai miliaran rupiah disumbangkan untuk kemajuan kampung masing-masing.

Tentu saja sumbangan dan bantuan tersebut sangat besar artinya bagi kemajuan daerah masing-masing dan Sumatera Barat umumnya.  Kepada mereka patut kita acungkan jempol  dan menyampaikan ucapan terimakasih sedalam-dalamnya. Sumbangan dan kepedulian mereka sungguh tak terhingga nilainya.

Untuk menghargai semua itu, saya memberikan apresiasi. Di Sulit Air, saya bersama Bupati Solok hadir langsung pada acara Mubes Yayasan Sulit Air Sepakat (SAS) di Nagari Sulit Air Sabtu (10/8) lalu. Padahal saat itu baru hari ke 3 lebaran, masih suasana libur lebaran, macet dimana-mana, perjalanan ke Sulit Air juga cukup melelahkan dan banyak tantangan.

Besoknya Minggu, masih dalam suasana libur dan lebaran,  di Nagari Lolo-Surian, perbatasan Kabupaten Solok dan Solok Selatan, kami bersama Mendagri Gamawan Fauzi, Wamendiknas Musliar Kasim, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya, ikut hadir pada peresmian masjid dan madrasah di sana. Sekali lagi, masjid dan madrasah megah yang bernilai milyaran rupiah itu adalah sumbangan perantau Minang setempat yang dimotori oleh pengusaha Minang rantau Azmin Aulia.

Dari dulu hingga kini, etnis Minang memang terkenal sebagai wirausahawan, atau pedagang secara umum. Karena itu potensi ini harus terus dipupuk dan dikembangkan. Dampaknya terlihat jelas bahwa wirausaha Minang mampu membuka lapangan kerja baru, menggerakkan pertumbuhan ekonomi di tempat ia berdomisili serta berkontribusi bagi pembangunan di kampung halaman.

Yang jadi fikiran saya adalah dari jutaan wirausahawan Minang tersebut, kenapa tak banyak yang muncul menjadi pengusaha besar? Memang ada yang muncul jadi pengusaha kelas kakap atau bahkan konglomerat, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Makin banyak pengusaha besar yang muncul, khususnya putra-putri Minang, tentu makin besar kontribusinya bagi pembangunan daerah juga secara nasional tentunya.

Menurut saya masalahnya terletak pada sistem dan manajemen  usaha yang digunakan. Salah satu manajemen yang diterapkan adalah manjemen keluarga. Pada sebuah rumah makan Minang misalnya, yang bertindak sebagai kasir adalah istri atau anak pemilik rumah makan. Kepala juru masak adalah sepupu atau masih saudara pemilik rumah makan. Dan seterusnya yang masih berhubungan keluarga dengan pemilik rumah makan.

Di satu sisi sistem ini memang memiliki keunggulan. Karena masih berhubungan keluarga, tim kerja merupakan tim yang solid dan kompak. Namun di sisi lain sistem ini memiliki kelemahan, usaha tidak bisa dikembangkan lebih besar karena terbatas jumlah SDM yang masih berhubungan kekerabatan. Kelemahan lain, jika pemilik usaha meninggal dunia misalnya, usaha tersebut juga ikut tenggelam dan hilang. Ada banyak contoh nyata yang bisa kita lihat, usaha yang semula berjaya, dalam waktu singkat menghilang akibat pemilik (tokoh sentral) usaha tersebut meninggal dunia atau tak mampu lagi menjalankan usahanya karena lanjut usia.

Kalau kita lihat perkembangan saat ini sejumlah pengusaha baik di tingkat nasional maupun manca negara telah melakukan modifikasi terhadap model-model dan pola manajemen usaha. Mereka telah merumuskan sistem dan pola-pola baru sehingga usaha mereka bisa dikembangkan nyaris tanpa batas dan menembus batas-batas wilayah dan negara. Mereka tak butuh tokoh sentral, karena tanpa kehadiran tokoh  sentral pun usaha tersebut tetap jalan. SDM yang digunakan juga tidak harus berhubungan keluarga dengan pemilik.

Bagaimana dengan pengusaha Minang ? Kaki lima atau rumah makan bisa jadi merupakan langkah awal dan pembentukan diri untuk memulai memasuki dunia usaha, namun setelah itu harus segera ditemukan model-model atau jalan usaha lain yang lebih mapan.  Pengusaha Minang terkenal sebagai pengusaha perintis, saya yakin dan berharap para pengusaha kita segera memaknai situasi yang terus berubah dan menemukan formula manajemen baru untuk mengantasipasi kondisi dan situasi yang terus berubah tersebut.

Semoga pengusaha Minang terus eksis dan ke depan banyak bermunculan pengusaha-pengusaha Minang baru yang  terdepan, besar, tangguh namun tetap peduli dengan kampung halaman. Amin. (Agustus 2014)

23. Merantau dan Pulang Kampung

Merantau dan Pulang Kampung

Merantau dan pulang kampung merupakan tradisi yang sudah melekat erat dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat (Minang). Merantau dan pulang kampung seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Seperti kata pepatah: “Karatau madang di hulu bangungo babuah balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.”

Tradisi merantau seperti sudah menjadi patron dalam siklus kehidupan masyarakat Minangkabau. Pada tahap awal, lelaki Minang umumnya diberi pendidikan dasar formal (setara dengan tingkat sekolah dasar sampai S1), tak lupa ditambahkan pendidikan non formal berupa pengetahuan agama dan bekal ilmu bela diri (pandai silek jo mangaji).

Seiring dengan usai  mendapat bekal dasar tersebut, pemuda Minang tadi biasanya sudah mulai beranjak dewasa. Maka saatnya ia menyempurnakan “ilmunya”, sekaligus menjalani proses pematangan diri tahap selanjutnya, yaitu dengan “merantau.”

Pada masa merantau inilah seorang lelaki Minang diuji ketangguhannya. Apakah ia akan muncul menjadi pemenang (winner) atau terdepak menjadi pecundang (looser). Namun disinilah letak keistimewaan masyarakat etnik Minangkabau. Di rantau mereka merupakan pekerja yang ulet dan tangguh. Jika merintis karir di sektor perdagangan, mereka muncul sebagai pedagang yang ulet dan sukses. Jika terjun ke dunia politik dan berbagai profesi, mereka menjelma menjadi politikus dan profesional yang tangguh dan berada di deretan papan atas.

Tentu saja tak mudah menjadi pemenang di medan perantauan tersebut. Berbagai tantangan, ujian dan cobaan harus mereka lalui. Sakit, pedih,  pilu, suka dan duka pasti mereka alami dan menjadi bumbu kehidupan sehari-hari di perantauan.  Namun kenyataannya banyak masyarakat Minang yang berhasil mengatasi semua cobaan dan ujian berat tersebut. Mereka lalu keluar sebagai pemenang (winner), mereka berhasil menjadi kelompok orang-orang sukses. Kisah suka dan duka yang selama ini mengiringi mereka justru menjadi bumbu pemanis untuk dikenang.

Bab berikutnya yang terjadi, setelah mereka sukses di rantau adalah seperti kata pepatah: “satinggi-tinggi tabang bangau, akhirnyo babaliak ka kubangan juo”.  Meski terpaut jarak dan rentang waktu yang panjang , namun hati, fikiran dan perasaan  orang Minang tetap dekat dengan kampung halamannya serta sanak kerabat dan keluarganya di kampung.

Maka  biasanya, momen Idul Fitri digunakan sebagai saat yang tepat bagi perantau Minang untuk melepaskan kerinduannya kepada kampung halaman, saudara dan karib-kerabatnya. Momen ini dipakai untuk melaksanakan prosesi pulang kampung, baik secara perorangan maupun dengan cara pulang basamo.

Dari tahun ke tahun hingga saat ini prosesi pulang kampung  terus berlangsung dan terlihat jelas di depan mata. Perantau Malalo, Perantau Sulit Aia, Perantau Silungkang, Perantau Kinari dan berbagai daerah lainnya yang terlalu panjang untuk diuraikan satu per satu, berlomba-lomba menggelar prosesi pulang basamo. Acara silaturahim tersebut berlangsung hangat dan meriah.

Tentu saja mereka pulang kampung tidak dengan tangan kosong. Mereka selalu membawa oleh-oleh untuk ditinggalkan dan dikenang di kampung. Ada yang meninggalkan kenangan berupa dana untuk memperbaiki rumah mereka di kampung yang sudah mulai menua, patungan membantu biaya sekolah kemenakan di kampung atau perantau pulang basamo berpatungan untuk memperbaiki masjid, sekolah atau jalan lingkungan di kampung mereka.

Tak jarang pula oleh-oleh itu berupa kerjasama bisnis seperti perantau membawa saudaranya untuk ikut bekerja di tempat usaha mereka. Atau perantau berinvestasi dengan membelikan kambing, sapi atau sawah untuk saudara dan kerabatnya. Investasi ini kelihatannya memang kecil dan tak berarti, tapi jika setiap nagari perantaunya membeli 10 ekor sapi, maka akan ada investasi lima ratus ekor sapi, jika dilakukan di 50 nagari saja.  Jika seekor sapi bernilai Rp 10 juta, maka akan ada investasi baru senilai Rp 5 miliar.  Investasi jenis ini menjadi istimewa dan tepat sasaran karena langsung diterima oleh masyarakat dan jika masyarakat setempat mengelolanya dengan serius, akan berdampak langsung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Disadari atau tidak, tradisi merantau dan pulang kampung (mudik) merupakan sebuah kekayaan sosial (social capital) yang memiliki kekuatan  luar biasa. Terbatasnya sumberdaya dan lapangan kerja yang ada di kampung bisa diatasi dengan tradisi merantau. Sedangkan terbatasnya dana APBD dan APBN untuk membangun daerah dan meningkatkan ekonomi masyarakat selama ini telah terbukti bisa dilengkapi oleh perantau.

Kita tentu menerima  dengan tangan terbuka kontribusi dari perantau dimanapun mereka berada dan dalam bentuk apapun mereka ingin berinvestasi. Mari kita bahu membahu dan mengerahkan semua potensi untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat menuju hari esok yang lebih baik. Sekecil apapun kontribusi yang  kita lakukan, sedikit demi sedikit tentu lama-lama akan menjadi bukit dan menjadi amal di sisi Allah SWT. (Agustus 2012)

24. Baitul Maal Solusi Ekonomi Kerakyatan

Baitul Maal Solusi Ekonomi Kerakyatan

 

Aktifitas ekonomi sejalan dengan kegiatan keagamaan. Masuknya Islam di Indonesia sejalan dengan jalur perniagaan. Di Sumatera Barat, setiap pembangunan pasar selalu diiringi dengan pembangunan masjid sejak dulu. Sejalan dengan perkembangan ekonomi di pasar yang baru dibangun, berkembang pula kegiatan keagamaan di masjid.

Lalu di masjid tidak hanya masalah agama yang dibahas, tapi juga masalah perniagaan dan usaha. Masjid tidak hanya menjadi sentral pengembangan agama, tapi juga pusat pemikiran ekonomi umat. Sampai saat ini hampir di semua pasar di Sumatera Barat terdapat minimal sebuah masjid. Hanya saja belum termanfaatkan sebagai sentra kegiatan ekonomi secara optimal.

Kegiatan perdagangan di setiap pasar menarik untuk diamati dan berpeluang besar dikembangkan sebagai media untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Beberapa hari lalu saya berkunjung ke pasar nagari Cupak di Kabupaten Solok. Pasar Cupak hanya berlangsung setiap hari Sabtu, sekali sepekan.

Pasar Cupak dibangun oleh anak nagari masyarakat Cupak. Dulunya mulai dari kecil, kini pasar Cupak telah mampu menampung 500 pedagang. Jika setiap pedagang rata-rata mampu melakukan jual beli sebanyak Rp 500.000 per tiap kali hari pasar, maka di pasar ini terjadi transaksi sebesar Rp 250.000.000 sehari. Ini baru salah satu contoh pasar di desa di Sumatera Barat.

Di pasar Muaro Paneh misalnya, jumlah transaksi jauh lebih banyak. Jika rata-rata setiap minggu di pasar ini terjadi transaksi 2000 ekor sapi dengan harga rata-rata Rp 6 juta per ekor, maka jumlah transaksi hari itu adalah Rp 1,2 milyar. Jumlah itu masih ditambah dengan transaksi pasar kebutuhan harian Muaro Paneh, sekitar Rp 500 juta per hari pasar. Bisa kita bayangkan total jumlah transaksi yang terjadi di pasar yang ada di nagari-nagari Sumatera Barat yang puluhan bahkan ratusan jumlahnya. Bisa diperkirakan pula jumlah pedagang atau masyarakat yang mendapatkan manfaat ekonomis dari kegiatan ini.

Dalam kacamata ekonomi, kegiatan ini adalah sebuah wadah bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonominya. Dalam kacamata communty development dan pengembangan sumberdaya manusia, kegiatan ini adalah ajang untuk melatih kewirausahaan dan kemampuan enterpreneur masyarakat. Sejarah telah membuktikan bahwa banyak pengusaha-pengusaha besar merintis karirnya dari usaha kecil-kecilan. Masyarakat Sumatera Barat sudah lama terkenal sebagai pedagang dan pengusaha yang handal dan ulet.

Dari wawancara singkat dengan sejumlah pedagang dapat disimpulkan, ada dua masalah penting yang mereka hadapi saat ini. Pertama adalah lesunya daya beli masyarakat, kedua adalah kekurangan modal untuk memulai atau mengembangkan usaha.

Lesunya daya beli memang tergantung pada keadaan ekonomi masyarakat secara keseluruhan, termasuk akibat gempa bumi. Memang butuh waktu untuk memulihkan kondisi tersebut. Tapi waktu yang panjang untuk memulihkan ekonomi tersebut bisa diperpendek dengan kemauan dan kerja keras kita untuk memulihkannya.

Tentang masalah kekurangan modal mengingatkan kita pada apa yang dilakukan Prof. M Yunus di Bangladesh. Di negara yang tergolong termiskin di dunia ini hal serupa juga terjadi. Kemiskinan, pengangguran bahkan kelaparan terjadi dimana-mana. M Yunus lalu berfikir untuk menciptakan lapangan kerja untuk mereka, agar mereka tak lagi menganggur, miskin atau kelaparan.

Untuk mewujudkan imipian itu lalu didirikan Grameen Bank (Bank Desa/Nagari). Kepada penduduk miskin tersebut diberi pinjaman modal dan dilatih agar bisa melakukan kegiatan usaha. Mereka yang berminat membuat anyaman bambu diberi pelatihan dan modal untuk memulai usaha anyaman bambu. Yang berminat berusaha tani juga diberi pengetahuan pertani beserta modal untuk bertani.

Uniknya untuk bisa memperoleh pinjaman itu tidak memiliki persyaratan yang rumit, juga tidak menggunakan agunan. Jaminannya adalah rekomendasi dari pemuka masyarakat dan jaminan dari anggota kelompok dan petugas Grameen Bank supaya usaha yang dijalankan tidak gagal.

Ternyata apa yang dilakukan Yunus berhasil. Upaya Grameen Bank ternyata mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat serta menggerakkan ekonomi masyarakat. Kegiatan ini berhasil mengangkat harkat ribuan masyarakat miskin. Metode yang dikembangkan Yunus telah dikembangkan pula di sejumlah negara miskin lainnya. Atas terobosan yang dilakukan Yunus ini ia diberi anugerah hadiah Nobel.

Terobosan sejenis juga berpeluang dilaksanakan di nagari-nagari di Sumatera Barat. Seperti telah diungkap di awal tulisan ini, umumnya tumbuhnya pasar-pasar di Sumatera Barat seiring dengan tumbuhnya masjid yang berdekatan dengan pasar-pasar tersebut. Tak jarang disamping tempat beribadah, masjid juga berfungsi sebagai sentra pemikiran dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Sebenarnya konsep M Yunus bukan hal baru dalam Islam. Dalam Islam telah lama dikenal istilah Baitul Maal, lembaga keuangan yang berbasis masyarakat dan agama. Tinggal keseriusan kita sehingga konsep tersebut tidak hanya sekedar teori, tetapi sesuatu yang kongkrit yang mampu mengangkat harkat dan mensejahterakan masyarakat. (November 2013)

25. Koperasi

Koperasi

Tahun ini adalah tahun  bersejarah bagi koperasi. Lembaga dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah menetapkan tahun 2012 sebagai tahun koperasi se dunia, Presiden RI pada hari koperasi ke 64 tahun 2011 lalu juga  telah menetapkan tahun 2012 sebagai tahun “Kebangkitan Koperasi”.

Kenapa koperasi, apakah koperasi di Indonesia bisa bangkit kembali?

Gerakan koperasi digagas oleh Robert Owen (1771–1858), ia menerapkannya pada usaha pemintalan kapas di New Landmark, Skotlandia. Gerakan koperasi ini kemudian dikembangkan oleh William King (1786–1865) dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris pada 1 Mei 1828. King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi.  Koperasi  kemudian berkembang di negara-negara lain. Di Jerman, berikutnya juga didirikan lembaga serupa.

Di Indonesia Koperasi diperkenalkan oleh Raden Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1896. Beliau mendirikan koperasi kredit dengan tujuan membantu rakyat yang terjerat hutang pada rentenir. Koperasi tersebut lalu berkembang pesat dan kemudian dikembangkan lagi oleh Boedi Oetomo .

Belanda yang khawatir koperasi akan dijadikan tempat pusat perlawanan, mengeluarkan UU no. 431 yang  mempersulit gerak koperasi. Akibatnya gerak langkah koperasi waktu itu menjadi terbatas dan terkekang, lalu meredup.

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi (kumiyai). Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun  kemudian diselewengkan, fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan sebagai pihak penguasa.

Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari bersejarah tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.

Di pentas dunia, koperasi dianggap berjasa karena  koperasi menyediakan lebih dari 100 juta pekerjaan di seluruh dunia.  Di Argentina, koperasi menyediakan tenaga kerja langsung untuk lebih dari 233.000 individu.  Di Kanada, koperasi kredit (Koperasi Simpan Pinjam) dan serikat pekerja mempekerjakan 155.000 orang.  Di Kolombia, gerakan koperasi menyediakan 111.951 lowongan pekerjaan langsung dan dan lowongan pekerjaan tambahan untuk sekitar 500.450 penduduk.  Di Prancis, 21.000 koperasi menyediakan lebih dari 4 juta lowongan pekerjaan. Begitu juga di Jerman, Italia, Kenya, Slovakia dan banyak negara lainnya di dunia, koperasi terbukti menyerap ribuan tenaga kerja.
Tentu, karena dampaknya yang luar biasa inilah, yaitu menyokong perekonomian dunia  yang menyebabkan  PBB memberikan perhatian khusus terhadap koperasi dan menjadikan tahun 2012 sebagai Hari Koperasi  se Dunia.

Koperasi memang mempunyai ciri yang khas, yaitu merupakan wadah berhimpun pengusaha kecil. Di manapun  di permukaan bumi ini, justru pengusaha kecillah yang terbanyak jumlahnya, termasuk Indonesia. Jumlah pengusaha besar hanya dalam persentase kecil sekali . Karena itu koperasi merupakan wadah tempat berhimpun yang sangat cocok sekali.

Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera Barat. Tipikal masyarakat  Sumatera Barat adalah pengusaha,  didominasi oleh pengusaha kecil dan menengah (UMKM).  Tak banyak masyarakat Sumatera Barat yang beprofesi sebagai buruh, mereka cendrung memilih menjadi pengusaha, meskipun dimulai dengan usaha kaki lima.

Karena itu koperasi sangat  cocok dikembangkan di Sumatera Barat. Tokoh Proklamator dan Bapak Koperasi Indonesia Bung Hatta sangat yakin bahwa koperasi bisa dijadikan soko guru dan tulang punggung ekonomi Indonesia.  Berbagai negara di dunia telah membuktikan bahwa koperasi merupakan  wadah ekonomi yang ampuh untuk mengatasi masalah ekonomi, tenaga kerja dan kemiskinan.

Di Jepang sendiri, sampai hari ini koperasi (kumiyai) merupakan instrumen penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakatnya. Kumiyai di Jepang menangani semua sektor dari hulu sampai hilir. Di sektor pertanian misalnya, kumiyai menyediakan bibit tanaman, pengolahan hasil, transportasi, pemasaran (supermarket) sampai menyediakan bank secara profesional.

Terinspirasi oleh kenyataan tersebut, pemerintah Sumatera Barat ingin menggerakkan kembali lembaga koperasi. Untuk itu sejak tahun lalu Dinas Koperasi, Perdagangan dan Industri (Koperindag) telah diperbarui. Dinas Koperasi dipisah tersendiri, khusus berkonsentrasi untuk urusan pengembangan koperasi di Sumatera Barat. Sejumlah program telah dirancang dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.  Kekeliruan-kekeliruan dan pengalaman pahit di masa lalu diambil sebagai pelajaran agar tidak terjadi lagi di masa datang.

Alhamdulillah, meski dalam tahap permulaan, upaya itu mulai menampakkan hasil. Pemerintah pusat melalui Menteri Koperasi dan UKM memberikan apresiasi terhadap upaya tersebut. Insya Allah  pada  hari ini, tanggal 12 Juli 2012, pada peringatan Hari Koperasi Nasional di Palangkaraya Presiden RI akan memberikan penghargaan Satyalencana Koperasi kepada pemerintah Sumatera Barat.

Semoga moment ini merupakan awal dari keberhasilan gerakan koperasi di Sumatera Barat. Hal tersebut tentu tak boleh berhenti sampai di situ. Kerja keras dan keseriusan kita semua, terutama  praktisi UMKM, dibutuhkan agar koperasi benar-benar tumbuh dengan baik dan mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat Sumatera Barat. Kesalahan di masa lalu harus dijadikan pelajaran dan tidak perlu diulang lagi. (Juli 2012)

26. Hijrah dan Perubahan

Hijrah dan Perubahan

Peristiwa hijrah merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Atas perintah Allah, Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah (pindah) dari Mekah ke Yasrib (kini Madinah). Nabi bersama Abu Bakar dan sejumlah sahabat meninggalkan kampung halamannya Mekah, untuk pindah dan bermukim di Madinah.

Alasannya, kota Mekah saat itu tak lagi kondusif. Upaya Nabi mengembangkan Islam mendapat tantangan kuat dari masyarakat setempat. Islam berkembang lambat di Mekah saat itu. Bahkan Nabi Muhammad SAW terancam akan dibunuh, kediaman beliau dikepung oleh sejumlah algojo dengan pedang terhunus, siap menghabisi nyawa beliau.

Namun beliau berhasil lolos dari peristiwa maut tersebut bersama Abu Bakar, dengan perlindungan Allah, beliau berhasil lolos lalu bersembunyi beberapa malam di Goa Tsur. Setelah aman, beliau melanjutkan perjalanan ke Yasrib dan bermukim di sana bersama sejumlah sahabat yang telah dulu sampai di sana. Peristiwa  itu terjadi tanggal 16 Juli 632 M, sekitar 1380 tahun lalu (berdasarkan kalender masehi) atau 1434 tahun lalu berdasarkan kalender Islam.

Di Madinah, kesedihan Nabi meninggalkan kampung halaman dan tanah kelahiran yang beliau cintai, terobati. Di Madinah beliau disambut meriah oleh masyarakat setempat. Karena kerjasama yang baik semua pihak, kota Madinah berkembang pesat di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Madinah lalu bisa hidup sejahtera, rukun dan damai yang hingga sekarang dikenal dengan sebutan masyarakat madani.

Salah satu hikmah yang terkandung dari peristiwa itu adalah: melakukan perubahan. Nabi melakukan perubahan, dari kehidupan beliau sebelumnya di Mekah ke kehidupan baru di Madinah. Nabi meninggalkan masyarakat kota Mekah yang saat itu sulit berubah ke masyarakat Madinah yang dengan cepat berubah dan bersedia menerima perubahan.

Karena itu momentum hijrah dicatat sebagai tonggak sejarah yang sangat penting dalam sejarah Islam. Islam mengalami kemajuan yang pesat setelah peristiwa hijrah Nabi, banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi saat itu.

Perubahan, itulah kata kuncinya. Ungkapan bahwa “tidak ada yang abadi di atas dunia, kecuali perubahan,” telah lama dikenal dan telah terbukti kebenarannya. Dunia selalu mengalami perubahan. Jika bulan ini musim mangga, mungkin bulan depan musim durian, rambutan dan seterusnya. Jika tahun lalu mode potongan rambut yang disukai model cepak, mungkin tahun depan lain lagi, tahun depan berganti lagi dan seterusnya. Musim dan zaman terus berubah.

Karena perubahan itu selalu terjadi, maka manusia juga harus berubah agar ia tidak tertinggal atau tergilas oleh perubahan.  Dulu tak banyak orang mempersoalkan penampilan sebuah rumah makan. Asal bisa makan enak dan perut kenyang, kontstruksi atau bentuk sebuah rumah makan tak dipersoalkan.

Kini tak lagi begitu, penampilan dan kenyamanan sebuah rumah makan menjadi penting saat ini. Rumah makan dengan penampilan mentereng, full AC, lantai keramik mengkilap, kadang dilengkapi fasilitas Wi Fi, menjadi tuntutan pasar saat ini. Mereka yang tak siap dengan perubahan ini akan tertinggal. Tak cukup sampai di situ, inovasi harus terus dilakukan agar tetap eksis.

Dalam pelaksanaan pemerintahan di Sumatera Barat juga demikian. Masyarakat Sumatera Barat harus selalu melakukan perubahan dengan cepat. Sejumlah program dan fasilitas telah disiapkan agar kehidupan dan kesejahteraan masyarakat bisa meningkat. Namun sejumlah daerah yang tidak merespon dan tidak memperlihatkan niat ingin berubah, maka mereka kami tinggalkan, program dipindahkan ke daerah lain yang lebih serius dan memang ingin berubah dan menjadi lebih baik.

Mari kita jadikan tahun baru hijriyah tahun ini sebagai momentum untuk berubah. Mereka yang sebelumnya suka melakukan korupsi berubah menjadi tak lagi korupsi, mereka yang sebelumnya malas berubah menjadi rajin, yang sebelumnya suka berbuat curang, berubah menjadi jujur. Banyak perubahan lainnya yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik. Jika hal itu kita lakukan, insya Allah tak butuh waktu lama, kita segera menjadi masyarakat Madani, seperti yang kita cita-citakan. (November 2013)

27. Satu Petani Satu Sapi

Satu Petani Satu Sapi

           

Jika ada kemauan, selalu ada jalan. Kata-kata bijak itu telah lama kita kenal dan  terbukti kebenarannya.

Namun ketika ide program Satu Petani Satu Sapi digulirkan, banyak sekali yang menanggapinya dengan pesimis. Banyak yang menanggapi bahwa program ini takkan berhasil, karena banyak program serupa telah dikucurkan namun selalu berakhir dengan kegagalan. Ada juga yang berkomentar, berbagai program peternakan telah diunjukkan pemerintah, mulai dari puyuh, ayam, itik, kambing  sampai sapi. Cuma program ternak gajah yang belum diberikan. Hasilnya, tetap saja nol besar !

Sejenak saya jadi ragu, apakah benar tak ada jalan lagi untuk sebuah kemauan, meskipun itu adalah sebuah niat baik dan dilakukan dengan sungguh-sungguh? Apakah kata-kata bijak “dimana ada kemauan selalu ada jalan” sudah kadaluarsa dan tak berlaku lagi?

Untunglah meski sangat banyak yang menanggapi secara pesimis, tapi masih ada sejumlah kecil orang menanggapi secara positif. Bersama sejumlah orang yang masih bersikap optimis tersebut, gagasan Program Satu Petani Satu Sapi disusun sehingga menjadi program yang kongkrit.

Alhamdulillah, Minggu (19/12), Program Satu Petani Satu Sapi secara resmi mulai diluncurkan di Kota Payakumbuh. Kota galamai ini dipilih sebagai tempat peluncuran perdana program tersebut karena walikota Payakumbuh merupakan orang pertama yang merespon positif ide tersebut. Pada lokasi dan saat yang sama juga diresmikan rumah potong hewan (RPH) termodern dan Pasar Ternak dengan fasiltitas terbaik dan terlengkap di Sumatera.

Ternyata ide kecil tersebut mendapat apresiasi dari Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian RI drh. Prabowo Respatiyo MM. PhD. yang sengaja hadir pada acara peluncuran program tersebut. Dengan bersemangat dirjen mengatakan ide program tersebut sangat luar biasa, orsinil dan satu-satunya di Indonesia.

Beliau sangat yakin program tersebut akan bermanfaat bagi masyarakat karena memiliki empat unsur yaitu profitable, simple, advertable dan duplicable. Profitable berarti menguntungkan, simple dalam arti program tersebut sederhana dan mudah dilaksanakan, duplicable dalam arti bisa diduplikasi sehingga bisa ditiru untuk diterapkan di tempat lain.

Dirjen mengatakan program tersebut tidak hanya akan menambah penghasilan petani, tetapi juga akan menjadi amal ibadah bagi petugas pelaksana program tersebut. Beliau berjanji akan mendukung dan membantu agar program tersebut terus berlanjut.

Ide program satu petani satu sapi muncul dari kenyataan bahwa 60,7 persen penduduk Sumatera Barat adalah petani. Namun sayangnya rata-rata pendapatan mereka per tahun masih rendah dan belum sejahtera. Penyebabnya adalah rata-rata petani kita hanya memiliki lahan 0,3 hektar lahan per KK.  Fakta ini menyebabkan jam kerja petani tidak optimal dan sudah tentu pendapatan yang diperoleh tidak juga maksimal.

Padahal kearifan tradisional masyarakat Minang telah lama menganut konsep padi masak jaguang maupiah, taranak bakambang biak, ikan mambangkik pulo. Dalam konsep modern yang belakangan kian populer konsep tersebut dikenal dengan istilah integrated farming (pertanian terpadu).

Dalam konsep pertanian terpadu, petani tidak hanya memiliki satu jenis usaha seperti sawah saja misalnya, tetapi juga dikombinasikan dengan ternak sapi, ikan atau kebun. Dengan demikian diperoleh nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Ternak sapi dipilih sebagai titik masuk program percepatan pensejahteraan petani karena setiap tahun negara kita selalu kekurangan daging sapi. Setiap tahun 182.000 ekor sapi (30 persen) dari kebutuhan daging negara kita diimpor dari Australia. Sumatera Barat memiliki tingkat konsumsi daging per kapita tertinggi di negara ini. Kebutuhan daging sapi di Sumbar cukup besar dan belum terpenuhi oleh produksi sapi Sumbar saat ini.

Populasi sapi Sumatera Barat saat ini hanya sekitar 500.000 ekor, dipelihara oleh sekitar 128.000 KK petani. Padahal petani Sumatera Barat berjumlah sekitar 1.200.000 KK. Jika saja setiap KK petani tersebut memelihara 1 ekor sapi, maka akan terjadi penambahan populasi sebanyak 2 kali lipat  jumlah sebelumnya. Ini berarti sejumlah masalah bisa teratasi sekaligus, yaitu meningkatkan pendapatan petani, mendukung program swasembada daging serta mendapatkan pupuk organik dari limbah peternakan.

Daya dukung lahan dan pakan tak perlu diragukan. Berdasarkan penelitian, daya dukung lahan dan pakan Sumatera Barat, cukup untuk menampung 3 juta ekor sapi. Dana juga tersedia, dana APBN tersedia cukup banyak dalam bentuk Program Swasembada Daging Sapi (PSDS), bank, pihak swasta dan perantau juga telah menawarkan diri untuk jadi investor.

Sejumlah pejabat SKPD dan DPRD juga masyarakat tak sabar lagi agar program ini segera digulirkan, meski dana APBD dan APBN tahun 2011 belum dicairkan. Mereka merogoh kantong masing-masing dan Program Satu Petani Satu Sapi pun mulai digulirkan. Dimulai dari kota Payakumbuh dan secara bertahap akan terus dikembangkan ke daerah lain melalui kelompok-kelompok tani. Program Satu Petani Satu Sapi akan menggelinding seperti bola salju, makin membesar dan terus membesar. Jika ada kemauan, pasti ada jalan.

Untuk tahap awal rencananya setiap kabupaten dan kota, program akan dilaksanakan di dua kelompok atau nagari. Petani yang akan ikut dalam program satu petani satu sapi harus tergabung dalam kelompok tani. Kelompok yang tepilih akan difasilitasi melalui lembaga keuangan mikro setempat.

Bagi kelompok atau daerah yang menunjukkan prestasi dan bekerja secara serius akan diberikan reward (penghargaan), sebaliknya yang tidak serius tentu akan diberikan sanksi.  (Januari 2011)

28. Janjang Koto Gadang

Janjang Koto Gadang

               

Menurut sejarah Nagari Koto Gadang Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam mulai didirikan pada akhir abad 17. Sekelompok kaum dari Pariangan Padang Panjang datang ke daerah ini membuka lahan baru untuk pemukiman, ladang dan sawah. Sebuah daerah yang dulu bernama Bukit Kepanasan dipilih sebagai lokasi baru itu. Karena daerah ini cepat berkembang, lalu daerah baru itu diberi nama Koto Gadang.

Nagari Koto Gadang termasuk pionir dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1856 di daerah ini telah berdiri Sekolah Desa dengan masa belajar 3 tahun. Pemerintah Penjajahan Belanda sejak dini telah menandai bahwa pelajar-pelajar dari Agam, adalah murid-murid yang rajin, ulet dan cerdas, terutama dari daerah Koto Gadang. Lalu didirikan sebuah badan tersendiri yang dinamakan studiefonds (dana pelajar). Yayasan ini didirikan untuk mengumpulkan dana dari warga kampung guna mengirim anak-anaknya melanjutkan studi ke Jawa, bahkan ke negeri Belanda.

Semangat belajar anak muda Koto Gadang yang tinggi serta dukungan kuat dari masyarakatnya,  tebukti membuahkan hasil. Menurut suatu laporan, pada tahun 1915, sebanyak 165 lelaki dari Koto Gadang telah bekerja sebagai pegawai pemerintahan Belanda. Hampir separuh (79 orang) bekerja di luar wilayah Minangkabau. Sebanyak 72 orang di antaranya lancar berbahasa Belanda. Ini merupakan suatu bukti bahwa mereka memperoleh pendidikan yang baik. Hingga kini masih banyak ditemukan masyarakat setempat, terutama generasi tua, yang fasih berbahasa Belanda.

Pada tahun 1926 lulusan sekolah kedokteran Stovia Jakarta asal Minang berjumlah 32 orang, kebanyakan mereka adalah warga Koto Gadang. Enam belas tahun kemudian, tahun 1942 terjadi lonjakan yang luar biasa, sebanyak 40 orang warga Koto Gadang lulus sekolah kedokteran Stovia.

Penelitian Mochtar Naim tahun 1967 menunjukkan, dari  2.666 orang penduduk  Koto Gadang, 467 orang atau 17,5% di antaranya adalah lulusan Universitas. Di antaranya 168 orang menjadi dokter, 100 orang jadi insinyur, 160 orang jadi sarjana hukum, dan sekitar  10 orang doktorandus ekonomi dan bidang-bidang ilmu kemasyarakatan lainnya. Berikutnya pada tahun 1970, sebanyak 58 orang lagi lulus universitas. Dengan prestasi 525 orang lulusan universitas (belum termasuk yang bergelar sarjana muda), Koto Gadang yang memiliki penduduk kurang dari 3.000 jiwa, mencatat rekor tak terkalahkan oleh nagari/desa mana saja, sebagai desa memiliki sarjana terbanyak bahkan di negara maju sekali pun saat itu.

Tak heran jika sejumlah tokoh nasional berasal dari Koto Gadang, sebut saja Agus Salim, Sutan Sjahril, Syahrir, Ed Zoelferdi dan banyak tokoh nasional/internasional lainnya. Hingga saat ini sudah lebih dari 30 orang putra/putri Koto Gadang yang menyandang titel profesor, diantaranya adalah Prof. Emil Salim,  Prof Dr. Nuzirwan Acang, Prof Fadil Oenzil, dll. Serta tak kurang sepuluh orang putra Koto Gadang juga telah menyandang pangkat jendral/perwira tinggi.

Sabtu tanggal 26 Januari lalu, Nagari Koto Gadang kembali mencatat sejarah. Menkominfo Ir. Tifatul Sembiring meresmikan pemakaian Janjang Koto Gadang. Janjang (tangga) sepanjang satu kilometer ini terinspirasi oleh Tembok Raksasa Cina yang terkenal sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Karena itu gaya arsitektur janjang ini agak mirip dengan Tembok Raksasa (great wall) Cina. Janjang Koto Gadang menghubungkan nagari Koto Gadang menuju Ngarai Sianok,  rute yang memiliki sejarah panjang sejak zaman penjajahan dulu.

Objek ini menambahkan lagi sebuah ikon bagi pariwisata di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Agam. Di sisi lain momentum ini memperlihatkan sebuah kepedulian dan kekompakan warga Sumatera Barat, baik yang berada di kampung halaman, maupun yang berada di perantauan.  Bangunan ini merupakan hasil kerjasama masyarakat Minang yang ada di kampung dan di rantau.

Saya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Menkominfo Ir. H. Tifatul Sembiring, kelahiran Bukittinggi 28 September 1961, dari ayah suku Karo Sumatera Utara dan Ibu suku Koto Agam Sumatera Barat yang telah memprakarsai dibangunnya bangunan yang sangat berharga ini. Penghargaan juga disampaikan kepada Ir. Azwar Anas yang memberi ide bangunan ini.

Kepedulian terhadap kampung halaman juga diperlihatkan oleh kehadiran Prof. Dr. Meutia Hatta, anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan mantan Menteri Urusan Peranan Wanita, ketua DPD RI Irman Gusman,  Afrizal, Alirman Sori, Anggota DPR RI Refrizal, Taslim anggota/wakil DPRD Sumbar, bupati dan walikota, Brigjen Boy Rafli Amar dan banyak tokoh lainnya yang turut hadir, tetap bertahan pada acara tersebut, meski Koto Gadang malam itu guyur hujan deras.

Kita yakin, Janjang Koto Gadang akan berdampak positif terhadap Sumatera Barat pada umumnya dan Agam secara khusus. Janjang Koto Gadang juga akan memberikan multiplier efek terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Yang lebih penting lagi, kepedulian dan kekompakan warga Minang akan menghasilkan kejayaan Sumatera Barat di masa datang dan mampu menjemput kembali kejayaan Minang Kabau di masa lalu. (Januari 2013)

29. Tahun Baru

Tahun Baru

Waktu cepat berlalu. Rasanya belum terlalu lama kita berada di tahun 2012, kini kita segera menutup lembaran tahun 2012,  lalu memasuki tahun 2013. Seperti kata peribahasa; orang-orang yang lalai akan tergilas oleh waktu.

Yang sangat menyolok, hampir semua bank melakukan tutup buku, tidak melayani transaksi untuk sementara sampai awal tahun. Begitu juga sejumlah perusahaan-perusahaan dan sejumlah instansi. Tutup buku, merupakan langkah penting bagi sebuah perusahaan, terutama perbankan.  Saat itu mereka menghitung semua transaksi yang  dilakukan selama setahun, baik transaksi berupa uang masuk, maupun transaksi uang keluar. Dengan demikian bisa diketahui kinerja sebuah bank/perusahaan apakah mereka berhasil memperoleh keuntungan, atau malah merugi.

Dari hasil evaluasi ini bisa disimpulkan apa yang harus dilakukan tahun berikutnya. Jika perusahaan merugi, maka bisa diambil beberapa tindakan apakah perusahaan tersebut harus dibubarkan, atau masih bisa dipertahankan dengan sejumlah perbaikan. Jika perusahaan beruntung, tentu bisa dilakukan upaya-upaya di tahun berikutnya agar keuntungan yang diperoleh lebih besar lagi, serta mengembangkan dan memperbanyak kegiatan-kegiatan yang mendatangkan keuntungan.

Jika diamati, kegiatan akhir tahun yang dilakukan perusahaan-perusahaan profesional ini sangat menarik dan juga bisa dilakukan secara pribadi atau di masing-masing rumah tangga. Secara pribadi kita bisa melakukan “tutup buku” di setiap akhir tahun. Sediakan waktu sehari atau dua hari untuk melakukan evaluasi pribadi. Apakah selama setahun yang telah berlalu kita telah melakukan hal-hal  yang baik dan bermanfaat atau sebaliknya. Silahkan hitung juga manakah yang lebih banyak, melakukan hal-hal yang bermanfaat atau hal-hal yang menimbulkan mudarat.

Evaluasi pribadi bisa dilakukan seperti  yang dilakukan perbankan atau perusahaan profesional, sejauh mana keuntungan yang diperoleh tahun lalu? Seberapa banyak kita telah melakukan hal-hal  positif dan bermanfaat, mana yang lebih banyak dibandingkan dengan hal-hal yang menimbulkan mudarat? Jika anda seorang karyawan silahkan dievaluasi apakah anda telah melakukan pekerjaan dengan baik dan berprestasi? Jika  anda seorang kepala rumah tangga, apakah anda telah melaksanakan kewajiban terhadap istri dan anak-anak anda dengan baik? Jika ia seorang pejabat, apakah ia telah menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya dengan baik? Dan seterusnya sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing

Lalu lakukan evaluasi, lakukan perubahan dan perbaikan agar hal-hal bermanfaat bisa kita lakukan lebih optimal di tahun depan. Tentu jika evaluasi kita lakukan secara rutin, lalu melakukan perbaikan atas segala kesalahan dan kelemahan di tahun lalu maka tentu, kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya, lalu menjadi lebih baik lagi di tahun berikutnya dan seterusnya.

Waktu terus terus berlalu, dan cepat berlalu tanpa terasa. Seperti firman Allah dalam surat Al Ashr; “Demi masa. Sesungguhnya  manusia itu benar-benar dalam kerugian.”  Maksudnya orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang benar-benar merugi. Kita semua tentu faham dan bahkan telah merasakan kebenaran firman Allah tersebut. Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran ayat itu dari zaman dulu kala, hingga saat ini.

Sebuah koran terbitan Jakarta melaporkan diperkirakan ada puluhan triliun rupiah uang yang beredar saat ini, uang tersebut disediakan khusus oleh masyarakat untuk menyambut tahun baru.  Hal itu tidak mengherankan, karena jika rata-rata Rp 10.000 saja setiap  orang di Indonesia mengeluarkan uang ekstra untuk tahun baru, maka total jumlahnya mencapai  Rp 2,45 triliun, dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia di akhir 2012 berjumlah 245 juta jiwa. .

Mensyukuri rahmat yang telah kita peroleh selama tahun 2012 tentu boleh-boleh saja.  Namun tentu tidak dengan cara berpesta pora dan pemborosan disaat negara kita berada dalam masa-masa sulit seperti saat ini, serta  menyia-nyiakan waktu yang sangat bermanfaat. Mari melakukan evaluasi agar kita bisa menjadi lebih baik serta hidup bahagia, dunia dan akhirat. (Desember 2012)

30. Teknologi Tepat Guna

Teknologi Tepat Guna

 

TTG (Teknologi Tepat Guna) sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sumatera Barat sejak dulu. Buktinya terlihat nyata dan masih mampu bertahan hingga sekarang. Di daerah sekitar Batang Sinamar misalnya, banyak kita temukan kincir air yang berfungsi untuk menaikkan air sungai ke tempat yang lebih tinggi. Teknologi ini telah banyak membantu masyarakat mengubah lahan-lahan yang kering-kerontang menjadi lahan yang subur. Air tersebut selain digunakan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian, juga digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari.

Masyarakat di berbagai pelosok Sumatera Barat sejak dulu juga telah menggunakan teknologi kincir air untuk menumbuk padi. Sampai hari ini teknologi tersebut masih digunakan dan menjadi alternatif bagi mahal dan sulitnya BBM. Di daerah Lawang misalnya, juga telah lama digunakan teknologi sederhana menggunakan tenaga kerbau untuk mengilang tebu. Lalu air tebu ini diolah menjadi gula tebu.

Entah siapa penemunya untuk pertama kali, namun hingga hari ini teknologi sederhana tersebut di sejumlah tempat masih dimanfaatkan dan masih dirasakan manfaatnya. Berdasarkan definisinya Teknologi Tepat Guna adalah sebuah alat/teknologi sederhana yang diciptakan atau ditemukan oleh masyarakat secara swadaya, membutuhkan biaya yang relatif murah untuk membuatnya namun sangat bermanfaat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Dengan demikian sangat jelas bahwa kincir air atau kincir penggilingan padi adalah sebuah Teknologi Tepat Guna (TTG) dan termasuk yang tertua di Indonesia.

Disadari atau tidak, penemuan Teknologi Tepat Guna terus bermunculan di dunia, termasuk di negara kita. Untuk mempermudah dan memperlancar pekerjaannya, masyarakat berusaha berkreasi menciptakan alat dan berbagai teknologi sederhana. Meski pada awalnya hanyalah sebuah alat yang sederhana, namun sesuai dengan tingkat manfaatnya, tentu alat ini makin populer di masyarakat dan terus dikembangkan.

Misalkan saja pesawat udara. Dulunya pesawat udara hanyalah sebuah alat sederhana yang diciptakan Wright bersaudara yang bermimpi menjadi manusia pertama yang bisa terbang seperti burung. Namun kini, penemuan Wright tersebut terus berkembang menjadi berbagai teknologi penerbangan. Mulai dari pesawat penumpang yang tak terpisahkan lagi dari kehidupan manusia sampai pesawat ulang-alik ke ruang angkasa.

Begitu juga pesawat telepon yang ditemukan pertama kali oleh Graham Bell. Dulu telepon hasil penemuan Graham Bell hanyalah sebuah alat sederhana agar manusia bisa berkomunikasi dengan manusia lain meski mereka dipisahkan oleh jarak yang jauh. Kini, telepon telah berkembang pesat dan bermutasi menjadi smart phone seperti yang kita saksikan dan kita gunakan saat ini. Telepon kini telah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari.

Listrik dan bola lampu ketika ditemukan Alfa Edison hanyalah sebuah alat sederhana yang mampu menghasilkan energi dan cahaya. Kini tentu kita tak bisa dipisahkan lagi dari listrik dan lampu. Begitu juga komputer, dulu hanyalah sebuah alat sederhana yang berfungsi untuk menghitung (berasal dari kata compute = menghitung). Kini perkembangan komputer sungguh luar biasa.

Kemarin, Kamis (26/09/2013) , merupakan hari bersejarah bagi perkembangan Teknologi Tepat Guna di Indonesia, khususnya Sumatera Barat.  Menko Kesra Agung Laksono,Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, dan Menristek Gusti Muhammad Hatta atas nama Presiden RI meresmikan acara Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ke XV di komplek Stadion Agus Salim Padang.

Acara yang berlangsung selama 5 hari di Kawasan Stadion Agus Salim ini diikuti oleh utusan dari semua provinsi di Indonesia ini. Masing-masing daerah akan memamerkan berbagai hasil temuan teknologi tepat guna dan inovasi masing-masing. Ada banyak temuan-temuan baru yang mereka peragakan dan bisa dilihat langsung kehandalannya.

Kita berharap semoga temuan tersebut juga mampu menjadi cikal-bakal teknologi yang bermanfaat besar di masa datang. Acara ini terbuka untuk umum. Bagi masyarakat Sumbar, terutama pelajar, mahasiswa , kalangan perguruan tinggi serta msyarakat umum semoga iven ini memberi inspirasi bagi masyarakat atau para ilmuwan daerah ini untuk menemukan ide-ide kreatif untuk melakukan penemuan-penemuan baru. Amin. (November 2013)

31. Restoran Minang di Amerika

Restoran Minang di Amerika

 

Gaya hidup manusia yang makin sibuk, selalu berpacu dengan waktu, menyebabkan restoran cepat saji (fast food) tumbuh menjamur dimana-mana. Restoran cepat saji seperti Kentucky Fried Chicken (KFC), Mc Donal, Dunkin Donats dan sejumlah nama restoran lainnya tumbuh menjamur di berbagai negara di seluruh pelosok dunia. Fast food telah menjadi gaya hidup warga dunia.

Di belakangnya ada satu jenis restoran yang juga bisa tumbuh dan diterima di berbagai daerah, yaitu Restoran Minang yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Makan Padang. Di Indonesia, boleh disebut bahwa Restoran Minang telah menjadi tuan rumah di belahan manapun di negeri ini. Di berbagai negara, restoran Minang juga mulai terlihat muncul.

Dilihat dari cara penyajiannya, Restoran Minang bisa digolongkan ke dalam restoran fast food. Di Rumah Makan Minang, pengunjung bisa langsung menikmati makanan yang diinginkan dalam waktu singkat. Siap saji, cepat dan lezat, tentunya. Faktor ini merupakan salah satu alasan kenapa restoran Minang bisa diterima dimana-mana, termasuk di manca negara.

Tentu, faktor inilah yang membuat Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Pati Djalal menggagas dan mengajak pengusaha Minang untuk mendirikan Restoran Minang di negara pusat perekonomian dunia tersebut. Memang sejumlah restoran Minang telah berdiri di sejumlah kota di AS. Namun menurut putra Minang ini, restoran Minang yang ada masih untuk kalangan menengah ke bawah, masih dibutuhkan dan terbuka peluang untuk mendirikan restotan Minang untuk kalangan  menengah ke atas.

Berdasarkan pengalaman, menurut Dino, kalangan menengah dan atas Amerika Serikat juga sangat menyukai cita rasa masakan Minang yang spesifik. Saat berkunjung ke Indonesia, umumnya mereka memilih menu masakan Minang untuk dinikmati.  Para ekspatriat (warga Amerika yang bekerja di Indonesia) juga sudah terbiasa dengan suguhan masakan Minang.

Memang diperlukan sejumlah modifikasi tentunya, agar restoran Minang bisa diterima oleh kalangan atas Amerika bahkan di negara-negara maju manapun nantinya. Pertama adalah masalah standar kebersihan, baik cara pengolahan makanan, maupun kebersihan restoran. Kedua adalah masalah cara penyajian.

Cara penyajian yang perlu dimodifikasi adalah cara penyajian gulai (lauk-pauk) dan sayuran. Konsumen kalangan atas menginginkan, gulai, lauk-pauk atau sayur-mayur yang sudah dihidangkan tidak ditarik lagi, kemudian dihidangkan lagi ke pengunjung lain. Dalam pandangan kita orang Minang, hal ini tidak menjadi masalah dan merupakan hal biasa. Namun dalam kacamata masyarakat di negara-negara maju hal ini tidak sesuai dengan estetika dan dianggap tidak higienis. Jika memang cocok, berapapun harga yang harus dibayar, tak masalah bagi mereka.

Namun nampaknya untuk mengubah kebiasaan ini bukanlah masalah yang berat. Di sejumlah kota di Pulau Jawa, beberapa rumah makan Minang telah memodifikasi cara penyajian tersebut. Di rumah makan Minang tersebut, pengunjung memilih sendiri/memesan dulu menu yang mereka inginkan, baru dihidangkan. Dengan demikian, tidak ada makanan yang disajikan bolak-balik.

Restoran KFC yang sekarang berdiri megah di seluruh belahan dunia dulunya juga begitu. KFC didirikan oleh seorang lelaki dari keluarga miskin bernama Harland D Sanders, kelahiran tahun 1890. Awalnya, sekitar tahun 1930 ia hanya berjualan ayam goreng seperti biasa. Semua kesulitan, pengalaman pahit ia jalani dengan sabar. Namun dengan tekad baja, kemauan dan kerja keras ia menemukan ide untuk mengubah cara memasak ayam, penampilan restoran serta manejemen restorannya. Ia melakukan modifikasi, ia melakukan pembaruan dari kebiasaan yang ada.

Kini, meski Sanders tak ada lagi, restoran KFC telah mendunia dan dan tak pernah sepi pengunjung dimana-mana. Tak terhitung berapa keuntungan yang berhasil dikantongi waralaba KFC di seluruh dunia. Juga bisa dibayangkan berapa jumlah tenaga kerja yang bisa diserap dan multiply effect yang ditimbulkan oleh kehadiran KFC.

Restoran Minang, jika ditemukan formulasi dan manajemennya yang tepat, bukan tak mungkin mengikuti sejarah perjalanan KFC, dari Ranah Minang merambah Dunia. Siapa berminat? (November 2013)

32. Puasa vs Laju Inflasi

Puasa vs Laju Inflasi

 

Kita tentu sedih dan sedikit tersentak dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok serta kebutuhan sehari-hari pasca kenaikan harga Bahan Bakar minyak (BBM).  Harga barang-barang tersebut  sontak meningkat tajam. Hal serupa sebenarnya selalu terjadi setiap tahun di saat menjelang memasuki bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Namun tahun ini porsinya lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya karena bersamaan dengan peristiwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Beban tersebut tentu makin dirasakan masyarakat karena juga bersamaan dengan datangnya tahun ajaran baru. Para orang tua harus mengeluarkan biaya ekstra untuk biaya anak masuk sekolah atau kuliah, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Para orang tua juga harus menyisihkan sejumlah uang untuk beli buku, peralatan dan seragam sekolah.

Fenomena anomali tersebut memang selalu terjadi setiap tahun selama bulan Ramadhan (puasa). Di saat Allah menganjurkan kita untuk berpuasa, di saat kita hanya diperbolehkan makan dan minum di malam hari, justru pengeluaran keluarga di bulan puasa malah meningkat. Kaum ibu makin mengeluh karena uang belanja sehari-hari tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan  sehari-hari selama bulan Ramadhan.

Apa yang terjadi? Berdasarkan pengamatan lapangan, memang biasa terjadi penurunan jumlah penjualan beras selama bulan Ramadhan, karena umumnya masyarakat berpuasa. Namun terjadi kenaikan untuk membeli bahan makanan lain. Anggaran lauk pauk justru meningkat, anggaran untuk membeli pabukoan yang di hari-hari biasa tidak ada, di bulan puasa justru tinggi secara signifikan.

Maka makin pusinglah para ibu-ibu mengatur uang belanja dapurnya. Di sisi lain, otomatis berlaku hukum ekonomi. Jika permintaan meningkat, sementara persediaan barang terbatas, maka harga otomatis juga akan meningkat. Kondisi ini seperti bak kata pepatah: sudah jatuh ditimpa tangga. Harga barang-barang naik mengikuti kenaikan harga BBM, ditambah lagi dengan meningkatnya permintaan konsumen menyambut bulan puasa. Maka laju inflasi makin meninggi.

Lalu apa solusinya? Solusi yang termudah yang bisa kita lakukan saat ini adalah kembali ke konsep dasar puasa. Puasa kunci dasarnya adalah mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan sikap dan prilaku serta meningkatkan ibadah. Dengan mengendalikan hawa nafsu, terutama makan dan minum, insya Allah kita bisa mengendalikan membengkaknya kebutuhan belanja di bulan puasa dan pada akhirnya mampu menekan gejolak harga pasar dan pada akhirnya mampu menekan laju inflasi.

Fenomena bulan puasa yang terjadi selama ini sebaiknya perlu dikoreksi, puasa tidak lagi sekedar mengurangi konsumsi beras, namun meningkatkan konsumsi bahan makanan lain yang harga jualnya justru jauh lebih tinggi. Kita bisa memilih bahan makanan yang lebih murah, namun tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi terutama energi yang dibutuhkan.

Kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki dan banyak serta mewahnya makanan yang kita makan. Banyak orang yang kaya raya dan hartanya berlimpah tapi mereka tidak bahagia. Banyak juga orang yang menderita berbagai penyakit karena makan makanan serba mewah dan berlebihan. Di situlah letak pentingnya pengendalian diri, memperbanyak ibadah (selama bulan puasa) yang membuat jiwa selalu merasa tenang dan tentram.  Itulah hikmah berpuasa.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah akan menunjukkan berbagai jalan (subula) bagi orang-orang yang sabar dan bertaqwa.  (Juli 2013)

33. Terobosan Pemko Solok

Terobosan Pemko Solok

 

Terobosan yang dilakukan pemerintah Kota Solok di bawah kepemimpinan Irzal Ilyas patut diapresiasi dan diacungkan jempol. Untuk menarik minat masyarakat untuk berusaha dan berinvestasi pihak pemko menggratiskan pengurusan sejumlah izin di daerah ini.

Pengurusan izin yang digratiskan tersebut merupakan izin yang paling banyak dibutuhkan masyarakat, terutama pengusaha. Diantaranya adalah Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Industri (TDI) dan Tanda Daftar Gudang (TDG), (lihat Harian Padang Ekspres, Senin, 9 April 2012 hal 15).

Selama ini memang masalah perizinan inilah yang sering menjadi sandungan yang menyebabkan pengusaha, baik internasional, nasional maupun lokal Sumatera Barat, batal melakukan investasi. “Kami sering dipersulit dan dipimpong dalam mengurus izin,” ujar calon investor. Ujung-ujungnya harus mengeluarkan uang cukup besar hanya untuk mendapat izin-izin tersebut. Merasa dirugikan dan diperlakukan tidak wajar, mereka mengalihkan investasi ke daerah lain.

Coba bayangkan, untuk mengurus izin-izin saja, mereka sudah harus mengeluarkan biaya yang cukup besar dan prosedurnya berbelit-belit. Belum lagi biaya operasional dan biaya tenaga kerja yang tinggi di Sumatera Barat. Keruwetan itu masih ditambah lagi dengan masalah lahan (tanah ulayat) yang tak kunjung selesai. Akhirnya di level nasional maupun internasional, Sumbar dianggap sebagai provinsi yang kurang layak untuk investasi

Calon investor tentu rugi karena tidak bisa memanfaatkan peluang investasi yang ada di Sumatera Barat. Namun yang lebih rugi lagi adalah masyarakat Sumatera Barat dan pemerintah Sumatera Barat secara kelembagaan. Pemerintah kehilangan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sedangkan masyarakat kehilangan sumber mata pencarian dan lapangan kerja. Bagi masyarakat lokal yang ingin membuka usaha, pintu untuk memperbaiki kehidupan ekonominya menjadi tertutup karena dipersulit

Agar ekonomi suatu daerah tumbuh dengan baik, jawabannya adalah investasi. Lihat saja tetangga kita Provinsi Riau, ekonomi daerah ini tumbuh secara fantastis. Meski Riau kaya minyak, tanpa masuk investasi baru, baik dari nasional maupun internasional, potensi yang berlimpah itu hanya akan terkubur di perut bumi dan tak kan berarti apa-apa.

Lalu bagaimana dengan Sumbar? Tentu kita sadar bahwa Sumbar tidak punya emas hitam yang berlimpah di perut buminya seperti Riau. Sumbar terlanjur dianggap daerah yang payah karena selalu bermasalah dengan lahan. Masih ada lagi, sulit mencari tenaga kerja di Sumbar dan mahal. Lalu apa yang bisa kita banggakan? Apa yang bisa kita tawarkan agar investor berpaling ke Sumbar dan menanamkan modalnya di sini.

Ada banyak hal yang harus kita perbaiki. Caranya, mulai dibenahi satu per satu sederet masalah yang membuat investor membuang muka tadi. Apa yang dilakukan Pemko Solok adalah awal yang tepat yang patut dicontoh daerah lain. Jika ada yang selama ini mempersulit investor, apalagi membebani mereka dengan biaya yang tidak logis, jelas ini merupakan tindakan yang keliru. Mari kita berubah, mari kita memperbaiki niat.

Mendagri bahkan telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah untuk pengurusan izin ini, yaitu PP no 19 tahun 2008. Dalam pasal 15 ayat 1 ditegaskan bahwa camat melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh walikota/bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah yang meliputi aspek: a. perizinan, b. rekomendasi, c. koordinasi, d.pembinaan, e. pengawasan, dst.

Artinya, izin-izin yang selama ini dirasakan sangat ruwet, bisa diselesaikan dan disederhanakan, cukup sampai tingkat camat. Kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit? (November 2013)

34. Koperasi Kagawa

Koperasi Kagawa

 

Sebuah mobil pick up mini, secara pelan namun pasti,  memasuki sebuah gedung.  Di bagian belakang, di bak truk tersebut terlihat sebuah kantong besar terisi penuh.

Dengan sebuah katrol, kantong besar itu diangkat dari bak truk, isinya lalu ditumpahkan ke sebuah lubang menganga di lantai gedung. Ternyata isi kantong tersebut adalah padi yang baru saja siap di panen. Padi tersebut disetor petani Kagawa ke koperasi untuk selanjutnya diolah dan disimpan.

Berikutnya sejumlah mobil sejenis juga melakukan hal yang sama.  Kantong besar yang ada di bak belakang mobil diangkat melalui sebuah katrol, otomatis di layar monitor terlihat total berat padi tersebut. Padi tersebut kembali ditumpahkan untuk selanjutnya masuk ke dalam mesin prosesing padi raksana milik koperasi Hounan Kagawa. Begitu selanjutnya. Dalam pembukuannya, petugas akan mencatat nama pemilik padi dan jumlah padi yang disetor.

Begitulah mekanisme penanganan pascapanen yang diterapkan di koperasi Hounan Kagawa, sebuah provinsi di wilayah barat Jepang. Jika panen padi sudah datang, sebuah mesin yang populer dengan sebutan combine di kirim le lahan sawah yang siap panen. Mesin ini bisa langsung mengarit padi dan merontok padi sekaligus. Mesin itu juga bertugas mencincang jerami padi sekaligus, lalu menebarnya secara merata di sawah. Sebuah mesin dengan hanya 1 orang operator ini bisa mengerjakan sekitar 5 hektar sawah per hari. Secara manual pekerjaan ini butuh 50 orang pekerja.

Padi yang sudah bersih inilah yang di salin ke kantong besar di bak truk mini tadi. Padi ini lalu disetor oleh petani ke gudang koperasi.

Tak sia-sia petani setempat menyetor hasil pertanian mereka ke koperasi. Di koperasi semua dikerjakan secara profesional, baik secara administratif, maupun teknologi.  Padi tadi sebelum disimpan dikeringkan dengan mesin pengering besar milik koperasi. Jadi takkan terlihat ada petani menjemur padi di tikar di pinggir jalan atau di lantai tembok di depan penggilingan padi seperti yang biasa kita lihat.

Tak sembarangan, kadar air, kelembapan dan suhu padi tersebut selalu dikontrol secara teliti. Operator penyimpanan padi bisa mengetahui semua itu melalui panel-panel kontrol yang terdapat di ruang kontrol. Lima silo raksasa milik Koperasi Hounan Kagawa mampu menampung 250 ton padi.

Sebagian padi tersebut lalu diseleksi dan dikemas untuk dijadikan bibit. Sebagian lainnya dijadikan beras dalam kemasan khusus  untuk disuplai ke sejumlah supermarket milik Hounan Kagawa atau restoran yang tergabung dalam grup Hounan.

Jadi, tak heran jika beras Jepang enak rasanya, konon paling enak di dunia. Penanganan padi secara serius telah dilakukan petani sejak dari pembibitan. Bibit yang ditanam adalah benar-benar bibit yang bermutu, telah teruji kualitas dan produktifitasnya.  Penanganan pascapanen juga dilakukan secara baik, terkontrol cara pengolahan dan penyimpanannya.

Peran koperasi di sini sangat menonjol. Koperasi di sini dimenej dengan baik dan profesional, berperan dalam usaha tani mulai dari hulu sampai hilir. Sebelum turun ke sawah, koperasi sudah menyiapkan kompos, pupuk dan bibit. Mesin-mesin pertanian juga lengkap tersedia, ini merupakan unit usaha jasa koperasi.

Setelah panen, koperasi juga menampung produk petani, baik berupa padi, sayur, buah, bunga, buah-buahan sampai telur, susu dan daging. Petani tak perlu pusing memikirkan masalah transpotasi, karena koperasi memiliki unit usaha transportasi. Ada ratusan tronton khusus berpendingin milik koperasi yang siap mengangkut dan mendistribusikan produk petani kemana saja.

Para peternak juga tak perlu kuatir untuk mengolah produknya. Ada rumah potong hewan, pegolahan susu, atau pengepakan telur milik grup koperasi. Produk mereka bisa disalurkan ke lembaga ini, diproses, dikemas, lalu didistribusikan.

Kekurangan modal? Jangan kuatir, koperasi juga memiliki lembaga keuangan, unit usaha simpan pinjam. Anggota koperasi bisa meminjam uang di sini dengan bunga yang sangat rendah. Di sejumlah tempat strategis di Kagawa telihat sejumlah ATM milik koperasi JA Kagawa. Hal ini tentu saja memperlihatkan bonafiditas mereka.

Karena bunga pinjaman di Jepang rendah, pihak koperasi sedang melirik negara lain untuk meminjamkan uang mereka. Tentu saja dengan bunga yang lebih tinggi dibanding yang berlaku di Jepang, namun masih lebih rendah dibanding yang berlaku di negara setempat.

Tak hanya itu, koperasi juga menjalankan fungsi sosial. Perkawinan, kelahiran anak, sakit sampai kematian, jika ia termasuk anggota koperasi, semua diurus oleh koperasi. Urusan A sampai Z semua diurus oleh koperasi.

Menurut sejarah Jepang, koperasi (kumiai) di Jepang pertama kali lahir pada tahun 1897. Tapi baru pada tahun 1920 an gerakan koperasi nampak menonjol dan membesar. Pada tahun 1921 koperasi Nada dan Koperasi Kobe didirikan dan dipimpin oleh Toyohiko Kagawa, pada tahun 1961 tergabung dalam koperasi Kobe.

Ada tujuh prinsip koperasi yang diterapkan Toyohiko Kagawa, yaitu 1. pembagian keuntungan yang saling menguntungkan, 2. perekonomian yang manusiawi, 3. pembagian modal, 4. pembatasan eksploitasi, 5. desentralisasi kekuasaan, 6. kenetralan politik dan 7. menekankan segi pendidikan.

Didukung oleh disiplin, semangat kerja keras,  koperasi di Jepang terus berkembang. Dengan koperasi, unit usaha raksasa dan strategis bukan milik pribadi atau sekelompok kecil orang, tapi milik bersama, dinikmati secara bersama pula.

Uniknya meski koperasi berkembang pesat, di Jepang tak ada Departemen Koperasi atau Dinas Koperasi. Sebagai penghargaan atas jasanya, Toyohiko Kagawa dikenang sebagai Bapak Gerakan Koperasi Jepang. (Oktober 2010)

35. Pentingnya Investasi

Pentingnya Investasi

 

Ketika acara Penganugerahan Regional Champion untuk Penanaman Modal, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyampaikan tentang pertumbuhan ekonomi yang dapat mengurangi kemiskinan, pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan. Beliau menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai melalui : 1. Konsumsi, 2. APBN dan APBD, 3. Selisih nilai ekspor dan impor, dan 4. Investasi.

Selama ini tingkat konsumsi yang berasal dari rumah tangga cukup tinggi sehingga turut menyumbang pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh membaiknya perekonomian, inflasi yang stabil, hingga daya beli masyarakat meningkat.

Adapun dana APBN dan APBD, penetapannya melalui mekanisme yang cukup panjang antara pihak eksekutif dengan legislatif.  Besarannya pun sudah dipatok, jika ditingkatkan tidak bisa berubah drastis. Namun alokasinya yang tepat akan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkualitas, yaitu mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Sementara selisih ekspor dengan impor, perlu kerja keras untuk mencapai selisih positif.

Banyak faktor yang mempengaruhi selisih ekspor dengan impor ini. Komoditi yang dieksporpun selama ini berasal  dari sumberdaya alam dan hasil pertanian/perkebunan. Untuk ekspor hasil pertanian/perkebunan, beberapa komoditi membutuhkan waktu dari sejak ditanam sampai bisa dipanen untuk diekspor.

Sementara investasi, sangat tergantung kepada daerah tempat investasi akan ditawarkan.  Investasi ini nilainya bisa diciptakan oleh Pemda, bisa tinggi atau rendah. Tergantung keseriusan Pemda untuk menciptakannya. Berbeda dengan konsumsi, APBN/APBD dan selisih ekspor dengan impor.

Sedikitnya ada 4 faktor yang berpengaruh dalam menarik investasi, yaitu : 1. Keamanan, 2. Kemudahan urusan, 3. Peraturan yang konsisten dan memudahkan, serta 4. Infrastruktur. Yang dimaksud dengan keamanan adalah masalah ketertiban sosial yang mendukung dan menjamin berjalannya investasi dengan aman. Sementara yang dimaksud dengan kemudahan urusan adalah tidak mempersulit investor dan memberikan kemudahan agar urusannya lancar sehingga ekonomi daerah bisa bergerak lebih baik setelah investasi masuk. Sedangkan yang dimaksud dengan peraturan yang konsisten adalah mendukung peraturan yang sudah ada di pusat, sekaligus mempermudah pelaksanaan aturan tersebut. Bukan sebaliknya, investor dibuat pusing dengan adanya peraturan pusat dan perturan daerah yang bertolak belakang. Sementara infrastruktur, termasuk jalan tetap mengacu kepada peraturan pusat.Tentunya masih dibutuhkan dana untuk menambah/memperbaiki infrastruktur di Sumbar dalam rangka menarik investor.

Investasi menjadi celah bagi Pemda untuk memaksimalkan pengelolaaan potensi ekonomi di daerahnya. Investasi akan berperan menunjang pertumbuhan ekonomi di daerah. Untuk meningkatkan investasi maka dibutuhkan beberapa hal, di antaranya promosi, data yang lengkap, aksi jemput bola kepada investor potensial baik di dalam dan luar negeri, dan pemberian kemudahan.

Untuk hai itu, maka peran Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di tingkat pusat dan daerah menjadi penting untuk mengatur dan mengkoordinasikan masalah investasi ini, serta memberikan pelayanan yang baik kepada investor. BKPM berperan penting memotivasi Pemda untuk menarik investasi. Daerah yang mampu berinovasi dan berprestasi akan mendapat penghargaan, salah satu yang diganjar penghargaan adalah PTSP (pelayanan terpadu satu pintu).

Untuk menyambut investasi maka daerah perlu membenahi organisasi, manajemen, pendataan dan informasi, menyiapkan kemudahan, melakukan sinergi provinsi dengan kabupaten/kota., dan juga mensiasati masalah krusial seperti tanah ulayat. Diperlukan terobosan agar keberadaan tanah ulayat tidak menjadi beban untuk menarik investasi.

Investasi menjadi penting bagi Pemda. Ini karena alokasi dari APBN dan APBD memiliki keterbatasan. Pemda dapat memanfaatkan investasi sebagai instrumen untuk mensejahterakan rakyat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jika terjadi masalah di lapangan, Insya Allah bisa dicarikan solusinya jika dilakukan dengan kesungguhan. Sebagai contoh, kasus tanah ulayat.

Investor Belanda yang masuk ke Sumbar mengajak pemilik tanah ulayat bekerjasama menggarap tanah mereka. Masyarakat pemilik tanah diajak menanam teh. Mereka disediakan bibit dan pupuk dan hasilnya akan dibeli oleh investor Belanda.  Dengan demikian terjadi simbiosis mutualisme (hubungan saling menguntungkan) dan biaya sosial pun bisa diperkecil bahkan tidak dikeluarkan oleh investor. Sistem sewa, bagi hasil, plasma inti adalah sebagian dari cara menyelesaikan masalah investor dengan pemilih tanah.

Sementara itu, karakter investasi di Sumbar memang tidak bisa seperti di pulau Jawa yang bisa dengan sistem padat karya dengan merekrut pekerja informal (buruh).  Ini bisa dilihat dari tidak adanya industri besar di Sumbar yang penuh dengan pekerja informal. Investasi di Sumbar diarahlan untuk sektor pertambangan, migas dan panas bumi. Adapun perkebunan diarahkan kepada perkebunan rakyat atau plasma. Sementara industri diarahkan kepada industri rumah tangga (home industry).

Dengan demikian, seluruh sektor yang menyumbang pertumbuhan ekonomi harus dimaksimalkan, yaitu konsumsi, APBN/APBD, selisih ekspor dengan impor dan investasi. Investasi menjadi tantangan karena sebenarnya ia tergantung Pemda untuk menciptakannya. Dan peluang menciptakan investasi ini nilainya bisa jauh melampaui nilai APBN/APBD provinsi. Diharapkan semakin besar nilai investasi maka akan semakin besar pula manfaat yang bisa dirasakan rakyat baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

36. Rendang Mendunia

Rendang Mendunia

 

Tiba-tiba saja rendang Padang menjadi makanan paling lezat di dunia. Hal ini dinyatakan dalam polling CNNgo.com. CNN sendiri adalah sebuah stasiun televisi yang berbasis di Amerika Serikat.

Sementara CNNgo.com adalah bagian dari CNN yang mengeksplorasi berbagai keunikan di dunia. Sebelumnya, kita mungkin tidak menyangka bahwa rendang Padang bakal menjadi makanan terlezat meskipun kelezatannya sudah diketahui sejak lama. Di balik itu, tentu ada hal yang melatarbelakanginya.

Di mancanegara, ternyata rendang Padang sudah tersebar kepopulerannya di berbagai belahan dunia. Misalnya saja di Belanda dan Eropa. Mereka yang mempopulerkan Rendang Padang di antaranya adalah para koki, termasuk ahli masak yang sudah dikenal di Indonesia yaitu William Wongso.

William Wongso termasuk orang yang giat mempromosikan rendang Padang baik disajikan bagi warga asing maupun ketika mengisi berbagai seminar, bahkan dirinya ketika melatih para koki dan juru masak luar negeri juga memperkenalkan rendang Padang sebagai makanan yang harus dicoba.

Kepada penulis William Wongso menceritakan bahwa baru-baru ini di Belanda, ia melatih koki restoran. Dia juga menceritakan bahwa dalam berbagai acara pertemuan kenegaraan, rendang Padang merupakan salah satu makanan yang tersaji untuk para tamu. Maka tak heran rendang Padang menjadi terkenal. Bahkan kabarnya banyak yang tergila-gila, makan batambuah-tambuah dek randang.

Demikian juga para koki yang dilatih itu, mereka makan batambuah dan bahkan makan rendang Padang tanpa nasi. Sementara tamu dalam suatu acara kenegaraan rela antre di kounter Rendang Padang meskipun ada kounter lain yang menyediakan menu lain.
Maskapai Garuda Indonesia juga termasuk yang giat mempromosikan rendang Padang, baik melalui pameran travel internasional maupun menjadi menu penumpangnya baik rute domestik maupun rute internasional. Ini merupakan bentuk promosi dan juga penghargaan kepada rendang Padang sebagai makanan yang bisa diterima oleh lidah berbagai macam orang.

Peristiwa ini (penobatan sebagai makanan terlezat di dunia) tentu saja bisa terjadi dan akan terjaga terus bila yang memasak Rendang Padang menjaga kualitas dan sesuai dengan tradisi turun temurun orang Minang.

Semoga polling CNNgo.com tersebut menjadi peluang bagi orang Minang untuk mengembangkan bisnis kuliner dengan tetap menjaga kualitas dan juga packaging yang menarik dan berkualitas.

Penamaan rendang Padang oleh para ahli kuliner dan juga masyarakat Indonesia yang sudah meluas ini semoga juga bisa diterima oleh masyarakat Minang sebagai bagian dari menjaga orisinalitas dan juga promosi pariwisata Sumbar. Dan sudah saatnya melakukan pembenahan bagi pelaku bisnis rendang sehingga makanan terlezat ini di tingkat wilayah dan nasional juga bisa bersaing dengan makanan luar negeri semisal fried chicken, pizza, masakan Jepang dan makanan luar negeri lainnya.

Menurut Hermawan Kertajaya sebuah produk itu akan selalu digemari dan dicari bila mampu melakukan positioning, differentiation dan branding. Dengan inilah insya Allah Rendang Padang mampu mendunia. Setidaknya ini bisa dilihat di Belanda yang telah menjual Rendang Padang buatan orang Indonesia. (September 2011)

37. Sekali Lagi Tentang Rendang

Sekali Lagi Tentang Rendang

 

Sekali tentang rendang, warisan ibunda kita. Salam hormat untuk beliau yang telah memberi kita masakan terlezat dan diakui dunia. Dari dapur para ibu kita itulah, Sumatera Barat mengguncang dunia. Luar biasa.

Adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat Minang karena Rendang Padang dijadikan sebagai makanan terlezat di dunia versi CNNgo.com. Harian Singgalang kemudian menurunkan liputan berseri soal rendang tersebut. Ini sebuah apresiasi atas kekayaan kuliner Ranah Minang. Tentu kebanggaan dan apresiasi tersebut harus ditindaklanjuti dalam bentuk berbagai kebijakan dan program agar kebanggaan tersebut tetap terasa bagi masyarakat Minang di seluruh dunia.

Rendang Padang merupakan warisan tradisi kuliner di Sumbar walaupun masing-masing daerah memiliki sentuhan serta cita rasa tersendiri jika diamati secara detil. Rendang Padang sudah menjadi makanan orang Indonesia sehingga tidak hanya orang Minang saja yang bisa membuatnya tapi juga orang di Malaysia atau Singapura.

Dengan nama Rendang yang telah dinilai sebagai makanan terlezat tentu kita selaku “produsen” mengharapkan tidak akan mengecewakan konsumen penikmat Rendang Padang.

Karena itu kami mengimbau kepada masyarakat yang membuat Rendang Padang untuk dijual ke publik melalui restoran/rumah makan di seluruh Indonesia dan dunia maupun dijual melalui catering dan juga yang dijual untuk kepentingan umum lainnya.

Seyogyanya mereka betul-betul komitmen dan konsisten dalam membuat Rendang Padang sehingga rasanya tidak mengecewakan konsumen sesuai harapan peserta polling dan pengunjung CNNgo.com, pemirsa CNN dan juga masyarakat dunia.

Sebagai contoh, memasak Rendang Padang memakan waktu lebih kurang 4 jam, lalu sebagian orang ingin praktis dan cepat maka dimasaklah dengan tidak mengikuti kaidah waktu dan ketentuan yang sudah ada. Akibatnya rasanya kurang enak dan bentuknya kurang bagus.

Rendang Padang menjadi terkenal di dunia karena memang kelezatan santan kelapa yang dimasak dari mulai warnanya putih kemudian berubah kuning kemudian coklat hingga kehitaman sehingga menimbulkan aroma yang lezat tiada bandingnya.
Rasa dan aroma inilah yang merupakan khas Rendang Padang.

Penulis menyebut Rendang Padang untuk membedakan dengan rendang yang lain, termasuk yang dari Malaysia. Penyebutan ini telah lazim di Indonesia. Untuk skala dunia penyebutan ini juga bermakna sebagai benteng kekayaan kuliner Indonesia. Rendang Padang inilah yang diakui pemirsa CNN sebagai makanan terlezat di dunia meskipun tertulis hanya “Rendang dari Indonesia.” Para ahli kuliner juga menyebut Rendang Padang sebagai cara untuk menjaga orisinalitasnya.

Rendang Padang juga bisa disebut sebagai makanan khas Indonesia karena Rendang Padang sudah dikenal oleh seluruh rakyat Indonesia. Sekaligus merupakan produk asli dari Indonesia yaitu Sumatra Barat. Tidak ada orang Indonesia yang tidak kenal dengan Rendang Padang, selain karena adanya restoran/rumah makan padang di berbagai wilayah yang menyebabkan kepopulerannya juga karena sudah dibuat oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Kami melihat peluang besar, khususnya bagi masyarakat Minang, untuk membuka peluang usaha dan juga masyarakat dunia.

Ini perlu dijadikan momentum besar agar Rendang Padang bisa menjadi produk industri besar yang siap diekspor karena mampu bertahan sekian bulan dibanding makanan negara lain di dunia. (Oktober 2011)

38. BUM Nagari

BUM Nagari

 

Ketika membaca judul tulisan Sutan Zaili Asril di Padang Ekspres edisi 2 Oktober 2011, Badan Usaha Milik Nagari, yang terlintas dalam pikiran penulis adalah bayangan sebuah nagari yang maju, terutama perekonomiannya. Mengapa demikian? Karena Badan Usaha Milik Nagari (selanjutnya disingkat BUM Nagari) tidak semudah yang dibayangkan untuk mendirikannya. Dibutuhkan sumber daya manusia profesional dan modal yang cukup.
Namun, setelah membaca tulisan beliau secara utuh, barulah diketahui maksud sebenarnya. Bahwa kemungkinan sulitnya BUM Nagari terealisasi ternyata justru menjadi sebuah hal yang mudah dan realistis, bahkan sangat dibutuhkan keberadaannya. Beliau secara pas menilai karakter orang Minang, jenis usaha orang Minang dan sekaligus kekurangan yang dimiliki pengusaha Minang.

Beliau mengenal betul karakter orang Minang yang tidak mudah menjadi bawahan, bahkan cenderung untuk menjadi pemimpin. Maka, menjadikan pengusaha Minang tetap sebagai pemimpin dalam usahanya akan mengoptimalkan usaha yang dijalankannya. BUM Nagari tidak menjadikan pengusaha Minang sebagai bawahan, akan tetapi sebagai mitra. Dengan demikian, BUM Nagari ini secara administrasi tidak memiliki karyawan (bawahan), namun faktanya memiliki karyawan (para pemimpin), yaitu pengusaha Minang itu sendiri. Dengan demikian, BUM Nagari mengapresiasi pengusaha Minang sebagai pemimpin di tempat usahanya sendiri.

Beliau pun tepat menilai usaha pengusaha Minang yang bergerak di sektor usaha mikro kecil menengah. Usaha mikro kecil menengah mayoritas digeluti oleh masyarakat Minang. Berbagai sektor usaha mikro kecil menengah seperti kripik balado, kripik jangek, nasi kapau, sala lauak, kripik teri, pandai besi, bordir, pandai emas, tekstil, anyaman, kerajinan dan lain-lain merupakan ciri khas yang ada di masing-masing nagari. Semua kegiatan tersebut tepat dilakukan dalam bentuk usaha mikro kecil menengah. Pengusaha Minang agak sulit bergerak di usaha besar, karena sulit memenuhi syarat permodalan, sumber daya manusia dan mekanisasi.

Beliau juga tepat menilai pengusaha Minang dalam hal kemampuan manajerial. Kurangnya kemampuan dalam hal manajemen perusahaan yaitu manajemen sumber daya manusia, keuangan dan pemasaran menyebabkan usaha yang dipegang pengusaha Minang tidak berkembang. BUM Nagari hadir untuk membantu mengatasi kekurangan tersebut melalui pelatihan, pembinaan dan pengarahan.

BUM Nagari dapat berperan menjadi fasilitator terhadap berbagai usaha yang dijalankan masyarakat nagari dan bisa mengisi kekosongan atau ketidakmampuan usaha masyarakat nagari dalam mengembangkan usahanya. Misalnya, BUM Nagari dapat membeli bahan baku dalam jumlah besar dengan harga murah dan didistribusikan kepada masyarakat mitranya, sehingga mampu menekan biaya input agar masyarakat mendapatkan keuntungan optimal. Dengan cara ini, BUM Nagari dapat membeli bahan baku yang murah dan berkualitas bagi mitranya. BUM Nagari juga dapat mengumpulkan pengusaha di nagari untuk dibina mengelola usaha, sehingga usaha mereka efektif dan efisien dan mampu menghasilkan keuntungan.

BUM Nagari juga memiliki kemampuan memasarkan produk mitranya ke berbagai tempat yang prospektif baik di luar nagari atau di luar negeri dengan membuat gerai atau toko baik fisik maupun di dunia maya. Dengan demikian, produk mitra berhasil dipasarkan dengan baik dan mendapat respons yang bagus dari konsumen yang ditunjukkan dengan meningkatnya omzet penjualan. Masyarakat nagari akan tumbuh produktifitasnya dengan dibantu BUM Nagari.

BUM Nagari pun dapat mencarikan modal atau memediasi mitranya untuk mendapatkan modal dari lembaga keuangan (bank), misalnya KUR, KUPS, KKPE, dan KPNRP. Tentunya sesuai dengan aturan yang ada. Bantuan modal via BMT (baitul mal wat tamwil) juga bisa didapatkan karena BUM Nagari dapat menjadi pemberi rekomendasi dan jaminan terhadap pinjaman mitra untuk dapat dipercaya oleh lembaga keuangan yang akan menyalurkan modal. BUM Nagari tentunya mengetahui dengan pasti kelayakan dan karakter mitranya yang akan mengajukan bantuan.

Dengan demikian, maka hendaknya BUM Nagari menjadi sebuah kebutuhan walaupun mengawalinya tidak harus dalam bentuk PT atau perusahaan, akan tetapi bisa berbentuk koperasi, BMT, LKMA dan organisasi yang sudah ada di nagari tersebut, seperti organisasi masjid.

Perlu proses pembelajaran untuk mengawali munculnya BUM Nagari ini dengan memulai dari hal kecil terlebih dahulu, sehingga akan membentuk jiwa profesional yang lebih matang. Untuk itu, wali nagari dan bamus nagari harus mulai merintis dan melakukan inisiatif untuk mengawali kemunculan BUM Nagari agar dapat memenuhi dan mengatasi kekurangan pengusaha di nagari.

Betul yang ditulis beliau, BUM Nagari tidak perlu pabrik dan karyawan, tapi bisa menghasilkan untung. Nagari akan maju, dan rakyatnya bisa sejahtera. Insya Allah hal ini akan menjadi kenyataan apabila semua pihak mendukung. (Oktober 2011)

39. Anggaran untuk Kesejahteraan Rakyat

Anggaran untuk Kesejahteraan Rakyat

                                                                                           

Tujuan adanya peme­rinta­han adalah untuk men­sejah­terakan rakyatnya. Ini ter­tuang baik dalam UUD Ne­gara Republik Indonesia tahun 1945 maupun undang-undang turunannya, bahkan merupakan semangat dari para pejuang kemerdekaan untuk mensejahterakan rak­yat ketika suatu saat kemerdekaan telah diraih.  Namun setelah 66 tahun usia kemerdekaan, harapan itu belum bisa maksimal dilaksanakan.

Untuk itu perlu usaha dan strategi yang tepat oleh pemerintah untuk mensejahterakan rakyat­nya. Jika merujuk kepada APBD provinsi/kabu­paten/kota, tampak jelas bahwa anggaran untuk mensejahterakan rakyat memiliki keterba­tasan. Bahkan APBD kabupaten/kota ada yang lebih dari 60 persen hingga 75 persen dialoka­sikan untuk pegawai dan bukan untuk kesejah­teraan rakyat.

Namun demikian APBD provinsi masih memiliki ruang yang besar untuk pense­jahteraan rakyat. Meskipun demikian, tetap masih terbatas karena penduduk Sumbar sekitar hampir 10 persen atau 400 ribu orang yang masih miskin. Tentu diperlukan program-program yang efektif dengan anggaran terbatas agar mampu mensejahterakan rakyat.

Oleh karena itu anggaran yang tidak efektif, mubazir, berbagai program yang tidak tepat sasaran dan juga anggaran infrastruktur yang tidak berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi sebaiknya ditiadakan.

Program pensejahteraan rakyat menjadi fokus yang langsung menge­na pada masyarakat miskin, petani, nelayan, pedagang dan pengusaha UMKM. Oleh karenanya, program yang langsung mensejahterakan tersebut perlu dipikirkan bagi daerah dengan kemampuan yang dimilikinya.

Dengan demikian, muncullah program gerakan pensejahteraan petani, gerakan pensejahteraan nelayan, gerakan peningkatan kese­jahteraan usaha mikro dan menengah dan beberapa program lain seperti Satu Petani Satu Sapi.

Program-program ini membutuh­kan anggaran yang cukup besar. Namun karena dana terbatas maka dialokasikan secara bertahap setiap tahun. Target yang diambil selektif dengan referensi dari nagari dan kabupaten sehingga program pense­jahteraan rakyat mendapatkan penerimaan yang tepat dan berhasil.

Agar tidak mengulang kegagalan di tingkat nasional dan daerah, untuk penyaluran bantuan ke masyarakat diperlukan pemilihan penerima program secara selektif dan profe­sional serta terlepas dari berbagai kepentingan termasuk politik, keluarga dan kelompok. Kedekatan kepentingan tersebut akan membe­narkan bahwa pemilihan penerima tidak tepat dan akan gagal.

Memang program pesenjahteraan rakyat ini tidak mungkin dapat dilihat hasilnya dalam satu-dua tahun ke depan, akan tetapi hasilnya bisa dilihat beberapa tahun ke depan. Program pensejahteraan rakyat bukan program pembangunan infra­struktur seperti jalan, irigasi yang bisa dilihat wujudnya dalam satu-dua tahun.

Dengan anggaran yang terbatas, maka pemerintah dituntut berpikir kreatif dan mencari sumber anggaran dari APBN, investor dan orang rantau. Dengan pendekatan kreatif ini maka anggaran pensejahteraan rakyat dapat mencakup masyarakat yang lebih luas sehingga target penerima program lebih banyak.

Untuk itu, agar berhasil, diper­lukan partisipasi rakyat, bupati, walikota, kepada dinas, wali nagari, masyarakat dan orang rantau. Kami melihat program pensejahteraan rakyat merupakan prioritas, mampu dilaksanakan, serta tepat langsung mengarah kepada rakyat miskin. Alhamdulillah, berdasarkan kajian Bank Indonesia Sumbar berhasil mengentaskan kemiskinan. (September 2011)

40. Pertumbuhan Berkeadilan

Pertumbuhan Berkeadilan

 

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang telah umum digunakan untuk melihat kondisi ekonomi suatu wilayah. Semakin tinggi angka pertumbuhan (hingga batas tertentu) dipandang sebagai prestasi. Semakin tinggi investasi akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Demikian pendapat yang berkembang selama ini.

Dari segi pemerataan, dibutuhkan pertumbuhan ekonomi berkeadilan, yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Pertumbuhan ekonomi tinggi belum tentu terjadi pemerataan kesejahteraan.

Investasi tinggi yang menyumbang pertumbuhan ekonomi mungkin bisa saja memunculkan pemilik modal yang semakin kaya dan buruh yang hanya hidup sedikit di atas garis kemiskinan. Buruh tidak bisa mensejahterakan diri dan keluarganya dengan baik. Kue hasil pertumbuhan menjadi tidak terdistribusi merata.

Untuk itu, pendekatan yang diambil untuk terwujudnya pertumbuhan berkeadilan adalah memberdayakan masyarakat agar hidup mereka bisa lebih sejahtera.
Pemberdayaan ini dilakukan dengan memberikan bantuan modal berupa KUR, KUPS dan lainnya kepada masyarakat. Para perantau bisa juga memberikan bantuan modal bagi saudara mereka di kampungnya. Atau para investor memberikan bantuan modal kepada industri rumah tangga.

Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah jumlahnya 99 persen dari pelaku usaha di Indonesia. Mereka membutuhkan bantuan modal yang layak untuk usahanya.
Bukan pinjaman dari rentenir yang sering mencekik leher karena dikenakan bunga tinggi. Meskipun pelaku UMKM mampu membayar pinjaman dan bunga kepada rentenir, tapi keun-tungan mereka tergerus.

Bantuan KUR bunganya hanya sekitar 1 persen per bulan. Jauh lebih ringan dari rentenir. Hasil usaha pun bisa lebih banyak dirasakan manfaatnya baik untuk ditabung, diinvestasikan kembali atau untuk lainnya.

Dari hasil pengamatan penulis, para pelaku UMKM ini mengembalikan pinjaman mereka tepat waktu. Meskipun di mata bank mereka tidak layak, namun dengan bantuan dari KUR dan cara mereka mengembalikan pinjaman, sesungguhnya merekalah yang layak dapat pinjaman dari bank.

Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan, para pelaku UMKM ini pengembalian pinjamannya lancar dan tidak macet. Informasi dari Bank Nagari, jumlah kredit macet untuk debitur KUR ini hanya 0,8 persen.

Para pelaku UMKM yang mendapat bantuan dari pemerintah terbukti lebih berdaya tingkat ekonominya. Banyak dari mereka yang sebenarnya sudah memenuhi syarat pinjaman bank, namun mengalami kebuntuan.

Sudah saatnya pihak bank melakukan jemput bola untuk mendatangi para pelaku UMKM ini yang sudah terbukti mampu mengembalikan pinjaman, kredit macetnya rendah, dan memiliki rekam jejak sebagai pelaku UMKM bertahun-tahun. Insya Allah bank akan beruntung mendapatkan nasabah seperti ini.

Memberdayakan masyarakat dengan memberikan bantuan langsung kepada mereka adalah jalan menuju tercapainya pertumbuhan ekonomi berkeadilan. Karena mereka mendapatkan bantuan dan merasakan langsung hasil dari usaha mereka.

Daya beli masyarakatpun akan meningkat dan sektor riil akan bergerak. Pertumbuhan ekonomi berkeadilan bisa saja angkanya tidak tinggi, namun boleh jadi dari segi pemerataan masyarakat banyak mendapat manfaatnya langsung sehingga mampu menggerakkan perekonomian. (Oktober 2012)

 

BAB 3  INSPIRASI DI BIDANG PENDIDIKAN

41. Generasi Emas Indonesia

Generasi Emas Indonesia

Pernahkah anda menonton pertandingan sepakbola? Sebagian besar masyarakat dunia adalah penggemar sepakbola, termasuk Indonesia. Pekan ini layar televisi disemarakkan oleh kompetisi sepakbola Euro 2012. Sepakbola menjadi tema yang ramai dibicarakan.

Permainan sepakbola biasanya memiliki komponen-komponen sebagai berikut : pemain, wasit, pelatih, penonton dan aturan permainan.

Dinamika kehidupan di dunia bisa diumpamakan seperti sebuah permainan sepakbola. Ada komponen pemain, yaitu aktor atau pelaku dalam kehidupan ini. Peran wasit dalam tatanan kehidupan diperankan oleh aparat penegak hukum. Ia berfungsi mengawasi dan mengontrol dinamika dalam masyarakat sehingga berjalan baik.  Aturan permainan (role play) dalam kehidupan sehari-hari bisa diumpamakan sebagai hukum, undang-undang  serta aturan-aturan lainnya. Sedangkan komponen penonton bisa diumpamakan sebagai masyarakat umum yang dominan berfungsi sebagai penilai, evaluator  terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam pertandingan atau permainan tadi.

Pemain sepakbola yang mampu menampilkan prestasi yang baik dan karakter yang baik, biasanya akan mendapat tempat di hati penonton, bahkan jadi idola. Ia dipuja dan dielu-elukan di setiap pertandingan. Rezki tentu segera akan mengikutinya. Nilai kontraknya menjadi meningkat, tawaran pertandingan atau tampil sebagai bintang iklan datang bertubi-tubi.

Kenapa muncul pemain/aktor yang baik, kenapa pula ada pemain yang tidak baik? Kenapa di Indonesia muncul tokoh seperti Bung Hatta atau di India seperti Mahatma Gandhi? Atau sebaliknya kenapa muncul tokoh-tokoh jahat yang melakukan pembunuhan, pencurian, perkosaan, korupsi dan berbagai kasus lainnya?

Jika kita kembali kepada sepakbola tadi, seorang bintang sepakbola lahir karena ia dilatih secara profesional, baik fisik maupun mental, ia dilatih untuk terbiasa. Talenta yang dimiliki seseorang membuat ia cepat mencuat menjadi bintang. Namun hal sebaliknya akan terjadi jika ia tidak berlatih dengan dan tidak memiliki mentalitas/karakter yang baik.

Dulu para ahli berpendapat bahwa IQ (intelligence quotient) atau kecerdasan seseorang, adalah penentu utama kesuksesan seseorang dalam kehidupan. Namun kemudian terbukti bahwa banyak orang yang memiliki kecerdasan tinggi, namun tidak sukses dalam hidup atau karir.

Belakangan diakui bahwa justru EQ (emotional quotient ) atau SQ (spritual quotient) yang lebih menentukan keberhasilan seseorang. Para ahli sepakat bahwa keberhasilan seseorang sebanyak 80% dipengaruhi EQ/SQ,  hanya 20% saja dipengaruhi oleh IQ.

Fakta inilah yang menyebabkan pendidikan karakter sangat penting. Seperti pada sepakbola tadi, pada pendidikan karakter, siswa dilatih (dibiasakan)  melaksanakan ibadah. Mereka dilatih untuk melakukan shalat, puasa,  berbuat baik/membantu orang lain sehingga meningkat kualitas spiritual mereka.  Pendidikan tidak berhenti sampai pada proses kognitif, tapi juga harus terpadu dengan afektif dan psikomotorik. Seperti pada sepakbola, pelatih cuma sedikit mengajarkan teori bagaimana menendang bola agar bisa menghasilkan goal. Selebihnya, para pemain bola melakukan praktek, sehingga mereka bisa tampil prima saat pertandingan, tidak hanya menguasai teori, tetapi juga terlatih dan terbiasa bermain bola dengan baik.

Begitu pula proses pembentukan karakter dalam dunia pendidikan, perlu latihan dan pembiasaan. Agar seseorang bisa menjadi muslim yang baik, tak cukup sekedar menghafal rukun iman dan rukun Islam, tapi harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, harus dibiasakan. Pembiasaan jamak dipakai dalam ilmu psikologi, biasanya  dikenal dengan istilah conditioning.

Pendidikan karakter juga menjadi topik utama dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini yang bertema “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia.” Dalam acara tersebut Wakil Presiden Boediono mengatakan: “Mendidik bukan sekedar mengembangkan kemampuan nalar anak didik kita, tetapi sangat penting juga membangun karakternya. Pendidikan tidak hanya menyangkut membangun kemampuan otak, tapi juga menumbuhkan kemampuan hati mereka.”

Maka, lanjut Wapres, tepat rasanya untuk mempertanyakan sejauh ini apa yang telah kita lakukan pada anak-anak didik. Sudahkah kita melaksanakan pendidikan bagi anak-anak didik kita yang seimbang antara mendidik otak dan mendidik hati? Sudahkah kita menyediakan waktu dan tenaga yang cukup untuk mengajarkan kepada mereka untuk mengasihi manusia lain? Apabila tujuan kita adalah menyiapkan anak-anak didik kita agar menjadi warga negara dan bahkan pemimpin yang baik, sudahkah kita memberikan alokasi waktu dan tenaga kita untuk membangkitkan kecintaan mereka kepada tanah air?

Di Sumatera Barat, pendidikan karakter telah lama dimulai. Pendidikan adalah salah satu visi dan misi utama Pemerintah Sumatera Barat. Tanggal 13 Juni lalu, saat peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sumatera Barat mendapat penghargaan sebagai pelaksanaan penyaluran Biaya Operasional Sekolah (BOS) tercepat di Indonesia yang diserahkan oleh Wakil Presiden Boediono. Ini sebagai bukti keseriusan komitmen kita terhadap pendidikan.

Ini bukan berarti kita puas dan berhenti sampai di sini. Pekerjaan ini harus dilanjutkan, Sumatera Barat harus menjadi penghasil Generasi Emas Terbaik di Indonesia. Cita-cita itu bukanlah mimpi, sejarah membuktikan dan diakui bahwa Sumatera Barat dari dulu memang terkenal sebagai gudang Generasi Emas Indonesia. Insya Allah. (Juni 2013)

42. Sekolah dan Akhlak Mulia

Sekolah dan Akhlak Mulia

Banyak masyarakat mengeluh dan kuatir telah terjadi krisis moral, terutama pada generasi muda kita saat ini. Angka kemiskinan dan pengangguran terus meningkat. Kriminalitas dan kasus amoral ramai mencuat ke permukaan dalam taraf yang sangat mengkuatirkan. Ada apa, apa yang salah?

Salah satu faktor penting yang membentuk karakter manusia adalah pendidikan, baik formal di sekolah maupun informal di rumah dan lingkungan mereka. Seorang lulusan SLTA berarti telah melewati masa pendidikan di sekolah formal minimal selama 12 tahun. Tamatan Perguruan Tinggi (S1) telah melewati masa pendidikan formal sekitar 17 tahun. Apakah pendidikan selama 17 tahun tersebut bisa dikatakan berhasil?

Secara sederhana, ada dua kata kunci keberhasilan sebuah pendidikan, yaitu mampu menghasilkan lulusan yang cerdas dan berakhlak mulia. Kedua kata kunci tersebut harus selaras dan seimbang. Banyak lulusan pendidikan kita yang cerdas tapi tidak beraklak mulia. Maka lalu muncullah kasus korupsi, penipuan, penyalahgunaan wewenang, perkosaan dan berbagai kasus kriminalitas.

Ada juga kelompok yang memiliki akhlak mulia, tapi tidak cerdas. Akibatnya mereka tidak mampu bersaing di lapangan pekerjaan dan memanfaatkan peluang. Mereka lalu jadi penganggur, miskin dan tak punya masa depan. Kondisi ini pada akhirnya juga berujung pada kasus kriminalitas dan moral.

Agar sekolah mampu menghasilkan lulusan yang cerdas, maka guru harus melakukan proses belajar dan mengajar secara serius. Mutu dan fasilitas pendukung sekolah harus ditingkatkan sehingga proses belajar mengajar bisa dilakukan secara optimal. Pemerintah telah berupaya meningkatkan fasilitas pendidikan melalui sejumlah program dan juga berbagai upaya untuk meningkatkan mutu guru. Kesejahteraan guru juga telah ditingkatkan.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan di atas, insya Allah sekolah-sekolah akan mampu menghasilkan siswa-siswa yang cerdas. Sumbar sangat potensial sebagai penghasil siswa cerdas dan berprestasi di kancah nasional, tak perlu diragukan lagi.

Lalu bagaimana dengan aspek akhlak mulia? Aspek ini memang perlu perlakuan khusus. Karakter akhlak mulia tidak bisa dibangun dengan hanya metode kognitif (hafalan). Siswa bisa saja sangat hafal rukun Islam, tapi belum tentu ia bisa mengamalkannya, belum tentu ia telah melaksanakan shalat, puasa, dll.

Karakter akhlak mulia hanya bisa dibentuk melalui metode afektif dan psikomotorik. Pengetahuan yang diberikan tidak hanya sekedar hafalan, tetapi juga dengan praktek dan upaya perubahan sikap serta tingkah laku.

Selain itu yang paling penting adalah guru harus mampu menjadi model (contoh dan teladan) bagi siswa. Bagaimana mungkin siswa diajar disiplin jika guru sendiri tidak disiplin? Bagaimana mungkin guru mengajarkan kebersihan jika guru sendiri membuang sampah sembarangan? Akhlak mulia lebih mudah ditularkan melalui model (contoh teladan).

Sekolah unggul adalah salah satu solusi untuk mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Di sekolah unggul siswa yang memang  memiliki kecerdasan menonjol difasilitasi secara khusus sehingga kelebihan yang mereka miliki bisa diaktualisasikan secara optimal. Karena menggunakan metode boarding school/full day school, misi membangun karakter akhlak mulia juga bisa diwujudkan.

Idealnya minimal setiap kabupaten dan kota di Sumatera Barat memiliki satu sekolah unggulan. Keberhasilan sekolah unggulan sudah dibuktikan oleh SMA 1 Padang Panjang, mereka tidak hanya cerdas dengan menorehkan sejumlah prestasi, tapi juga berakhlak mulia yang terlihat dari sikap dan tingkah laku mereka. Dengan demikian diharapkan potensi generasi muda Sumatera Barat bisa teraktualisasikan, baik kecerdasan mereka, maupun akhlaknya. (Desember 2010)

43. Reformasi Pendidikan

Reformasi Pendidikan

Ternyata tak hanya birokrasi yang perlu direformasi, pendidikan juga butuh direformasi.

Banyak fakta membuktikan bahwa out put lembaga pendidikan kita cendrung menghasilkan lulusan yang hanya mahir menghafal, tetapi tidak mampu membentuk sikap mental dan prilaku peserta didik serta tidak menguasai skill (keahlian) yang seharusnya mereka miliki.  Akibatnya lulusan lembaga pendidikan tersebut kalah bersaing merebut kesempatan kerja, lalu menjadi pengangguran terdidik. Secara bercanda mereka dijuluki “glanter” (gelandangan terdidik).

Juga banyak lulusan lembaga pendidikan bahkan lulusan perguruan tinggi yang bekerja tidak pada tempatnya atau pada tempat yang layak. Banyak kasus kita temukan lulusan perguruan tinggi yang bekerja sebagai tukang ojek atau supir angkot, penjual sayur, buruh kasar dan berbagai jenis pekerjaan lainnya.

Fenomena bursa kerja di Jepang misalnya, juga bisa dijadikan salah satu bukti sederhana. Setiap tahun Jepang butuh sekitar 30.000 tenaga kerja. Mereka didatangkan dari berbagai negara di Asia seperti China, Filipina, Korea, termasuk Indonesia.

Dari peluang kerja di atas hanya 0,5 persen saja yang berasal dari Indonesia. Kuota terbanyak, sekitar 80 persen besasal dari China, lalu menyusul Filipina. Kesempatan kerja terbanyak diperoleh oleh China, alasannya etos kerja dan sikap mental bangsa China jauh lebih baik.  Etos kerja dan disiplin tersebut bisa dibentuk melalui pendidikan berkarakter.

Imbalan yang diperoleh dengan bekerja di Jepang cukup menarik.  Untuk lulusan SLTA dan lolos seleksi, mereka bisa memperoleh penghasilan 10 kali lipat dibandingkan penghasilan di dalam negeri untuk pekerjaan yang sama. Tentu saja pekerjaan ini jauh lebih nyaman dibandingkan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Kebijakan Menteri Pendidikan RI Muhammad Nuh mencanangkan Pendidikan Berkarakter sebagai program nasional saat peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei lalu sungguh sangat tepat.

Pendidikan berkarakter adalah pola pendidikan yang tidak hanya mengajarkan aspek afektif (hafalan), tetapi juga mengajarkan aspek kognitif (perubahan sikap dan tingkah laku) peserta didik. Contohnya, murid tidak hanya diajarkan menghafalkan rukun Islam, tetapi juga dibimbing untuk memahami rukun Islam dan mempraktekkan rukun Islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Meski Pendidikan Berkarakter baru dicanangkan secara nasional awal bulan lalu, namun metoda Pendidikan Berkarakter telah lama diaplikasikan di Sumatera Barat. Lembaga Pendidikan Adzkia, misalnya,  telah menerapkan metoda ini sejak tahun 1988. SMAN 1 Padang Panjang, MAN Ar Risalah Padang dan sejumlah sekolah lainnya baik swasta maupun negeri di Sumatera Barat juga telah melakukan hal yang sama.

Alhamdulillah hasil (out put) dari sekolah tersebut sangat memuaskan. Lulusan sekolah tersebut terlihat menonjol dengan ciri khas yaitu generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Mereka diterima di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, maupun di luar negeri. Namun mereka juga memperlihatkan sikap dan tingkah laku yang terpuji, disiplin, etos kerja tinggi serta berakhlak mulia. Tidak bisa dipungkiri, hal ini pula yang membuat sekolah-sekolah tersebut menjadi sekolah favorit, selalu kebanjiran peminat.

Berdasarkan pengalaman, syarat mutlak yang harus dimiliki sekolah berkarakter adalah guru-guru yang juga berkarakter, disiplin, cerdas dan berakhlak mulia. Bisa diakatakan mustahil guru bisa mengajarkan akhlak mulia kepada anak didiknya jika guru sendiri tidak berakhlak mulia. Juga tidak mungkin guru mendidik muridnya untuk taat shalat lima waktu jika guru tdak shalat.

Syarat selanjutnya alah melaksanakan sistem  full day school atau boarding school. Pada full day school adalah siswa belajar dari pagi sampai sore. Pagi hari mereka belajar sesuai standar kurikulum nasional, sore hari mereka belajar tambahan seperti materi agama, akhlak, disiplin dan sebagainya. Sistem boarding school lebih intensif lagi, siswa menginap di asrama, pendidikan formal maupun informal bisa dilakukan selama 24 jam.

Sesuai program nasional, Metode Pendidikan Berkarakter akan diterapkan secara bertahap di semua daerah di Sumatera Barat.  Keterlibatan guru, murid dan orang tua murid, serta dukungan Pemda setempat sangat menentukan keberhasilan  program ini. InsyaAllah program ini akan membawa perubahan dan kebaikan bagi generasi kita di masa datang. Mari kita bangun masa depan bangsa ini melalui pendidikan berkarakter mulai dari sekarang. (Mei 2011)

44. RSBI

RSBI

Rudi (bukan nama sebenarnya) adalah seorang siswa SMU. Bakat dan kecerdasannya sudah lama terlihat menonjol. Soal-soal matematika yang dianggap super sulit oleh siswa lain, dengan enteng bisa ia selesaikan. Begitu juga soal-soal pada mata pelajaran lain seperti fisika dan kimia. Bahkan, meski baru duduk di bangku kelas 1, pelajaran kelas 3 bisa ia urai dengan baik.

Karena prestasinya yang menonjol, Rudi lalu mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri di sebuah negara maju dan berkembang. Karena metode pendidikan di tempat baru, dimana ia menimba ilmu cukup baik, dan fasilitas yang tersedia juga serba lengkap, di sana ia makin memperlihatkan prestasinya. Di sana Rudi berhasil melakukan inovasi dan temuan-temuan baru yang mengejutkan dan sangat bermanfaat. Alhasil negara pemberi beasiswa menawarkan agar Rudi bekerja di sana dan menjadi warga negara daerah tersebut.

Kisah seperti di atas cukup sering ditemukan,  banyak putra/putri  Indonesia berbakat menyelesaikan studinya di luar negeri, berprestasi di sana, bekerja di sana, lalu menjadi warga negara setempat, atau memperoleh izin menetap (permanent residence) di sana, mereka tidak kembali lagi ke tanah air. Mereka menjadi aset negara tersebut, menciptakan inovasi dan penemuan-penemuan baru di sana.

Di berbagai pelosok Indonesia banyak sekali putra/putri cerdas dan berbakat yang bisa diibaratkan permata  terpendam yang belum diasah. Mereka cerdas, memiliki bakat, namun tidak memperoleh wadah agar potensi mereka tersebut teraktualisasi secara optimal.

Awalnya, karena latar belakang itulah gagasan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) diapungkan. Siswa/pelajar yang memiliki bakat dan kecerdasan lebih dibanding rata-rata, diberikan perlakuan khusus sehingga potensi mereka bisa dikembangkan secara optimal. Mereka ditempatkan dalam satu kelas khusus dan mendapat beban pelajaran yang berlebih dibanding kelas biasa. Tentu saja pelajar/siswa dengan kemampuan rata-rata, akan kewalahan jika hal yang sama juga dilakukan pada mereka.

Lalu dalam pelaksanaannya timbul  beberapa friksi yang menimbulkan protes masyarakat. Di beberapa tempat RSBI digugat menarik pungutan terlalu besar sehingga tidak membuka kesempatan bagi warga miskin namun juga cerdas dan berbakat untuk juga menimba ilmu di sekolah RSBI. Namun tidak semua RSBI melakukan hal serupa, banyak RSBI, termasuk yang berada di Sumatera Barat yang tidak melakukan pungutan macam-macam dan berlebihan sehingga tetap bisa diakses oleh masyarakat kurang mampu.

Selain itu RSBI dianggap melunturkan rasa nasionalisme karena mengajarkan bahasa Inggris dan menggunakan bahasa negeri pangeran Charles tersebut sebagai bahasa pengantar.   Penggunaan istilah internasional pada SBI/RSBI dikuatirkan dapat melahirkan out put pendidikan nasional yang lepas dari akar budaya dan jiwa bangsa Indonesia.

Karena alasan tersebut sejumlah masyakat melakukan judicial review pada tanggal 28 Desembes 2011. Lalu pada tanggal 8 Januari 2013 Mahkamah Konstitusi  mengabulkan permohonan para penggugat tersebut, lalu mencabut pasal 50 ayat 3 Undang-undang no 20 tahun 2003, yang bunyinya “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya  satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”

Dengan demikian SBI/RSBI berakhir sudah Kita tentu sangat menyayangkan jika niat baik untuk mengangkat potensi anak bangsa ini buyar begitu saja dan kita kehilangan wadah untuk menggembleng generasi  pilihan berbakat yang sangat dibutuhkan bangsa ini di masa datang. Seperti kata pepatah gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, gara-gara perbuatan segelintir oknum, buyar harapan seluruh bangsa.

Bagaimanapun, kita menghargai  keputusan Mahkamah Konstitusi, namun kita berharap masih ada wadah lain yang bisa mengakomodir putra/putri Indonesia yang cerdas dan berbakat.  Tentu kita juga berharap wadah tersebut dikelola dengan baik dan tidak terulang lagi ekses-ekses yang membuat masyarakat  murka dan kembali melakukan gugatan.

Tentu saja itu tidak berarti sekolah reguler tidak mendapat perhatian. Sekolah reguler tetap mendapat perhatian yang sama dari pemerintah, karena bukan tidak mungkin dari sekolah reguler juga muncul kader-kader bangsa  yang potensial dan cerdas yang karena sesuatu hal potensi mereka terlambat muncul ke permukaan. (Januari 2013)

45. Siswa Berkarakter

Siswa Berkarakter

Suatu hari, seorang guru agama di sebuah sekolah melaksanakan tugasnya dengan penuh dedikasi dan semangat yang cukup tinggi.

“Siswaku sekalian, hari ini kita akan membahas  dan mempelajari rukun Islam,” ujarnya mengawali pelajaran. Lalu beliau menerangkan apa yang dimaksud dengan rukun Islam, apa-apa saja rukun Islam, dan seterusnya. Usai menerangkan, sang guru bertanya pada siswanya.

“Anak-anak apakah kalian mengerti apa yang diterangkan tadi?” tanya guru usai memaparkan materi pelajaran.  Sejumlah murid terlihat diam sambil menganguk-angguk. Tetapi  sebagian lagi mengacungkan tangan sambil berujar, “Belum buk, kami belum mengerti,” ujar mereka. Lalu guru menerangkan sekali lagi, lebih pelan dan lebih rinci.

Setelah menerangkan beberapa kali dan sejumlah tanya jawab dilakukan, sang guru agama tadi bertanya lagi. “Anak-anak, apakah sekarang kalian sudah mengerti?” Kali ini nampaknya para siswa tersebut telah cukup paham. “Sudah buuuk….,” ujar mereka hampir serempak.

Sang guru tersenyum mendengar jawaban mereka. Ia puas karena siswanya telah memahami apa yang ia ajarkan.  “Baiklah anak-anak, minggu depan kita ujian,” ujarnya.

Seminggu kemudian, saat ujian dilaksanakan ternyata berlangsung lancar, nampaknya para siswa memang mengerti yang diterangkan guru tentang rukun Islam. Tentu saja sebelumnya  mereka telah berusaha keras menghafal  materi yang telah diajarkan sebelumnya.

Guru  pun telihat puas saat memeriksa hasil ujian para siswa, nilai mereka kebanyakan memperoleh angka 9 dan 10. “Alhamdulillah, saya telah selesai melaksanakan tugas mengajar, sesuai dengan kurikulum,” ujar sang guru dalam hati.

***

Tetapi, benarkah ia telah tuntas mengajarkan pendidikan agama kepada siswanya? Nilai ujian  siswa memang sangat memuaskan, rata-rata memperoleh nilai 9 dan 10. Tetapi apakah siswa telah melaksanakan shalat sesuai dengan yang dianjurkan rukun Islam. Apakah mereka melaksanakan kewajiban berpuasa?   Kenyataannya cukup banyak kita temui siswa yang sekedar hafal rukun Islam, tapi tak pernah mengamalkannya.

Dalam kasus ini proses belajar-mengajar hanya sebatas proses kognitif, sedangkan proses afektif dan psikomotorik sering  terlupakan, atau tak sempat dikawal oleh guru.  Akibatnya siswa hanya sekedar hafal mata pelajaran, tetapi  tidak diikuti oleh perubahan sikap dan tingkah laku serta perbuatan. Mereka  tak shalat atau puasa meski tahu bahwa shalat dan puasa wajib hukumnya bagi umat Islam.

Berdasarkan pengalaman praktek mengelola lembaga pendidikan, kata kunci dari persoalan ini adalah pembiasaan. Siswa merasa enteng melakukan shalat dan puasa karena dilatih dan terbiasa  melakukan shalat dan puasa.  Siswa terbiasa hidup bersih dan beretika karena dididik untuk terbiasa menjaga kebersihan  dan beretika dalam kehidupan sehari-hari.  Pengetahuan agama maupun etika,  tak kan bisa mengubah tingkah laku seseorang  jika hanya bersifat hafalan (kognitif).

Hal inilah yang ingin diwujudkan dalam pendidikan berkarakter. Secara ringkas tujuan pendidikan berkarakter adalah menghasilkan “Siswa Cerdas dan Berakhlak Mulia.” Akhlak mulia bukan sekedar hafalan, tetapi sebuah karakter. Pembiasaan adalah salah satu metode untuk membangun karater anak didik.

Karena itu dalam pelaksanaan pendidikan berkarakter biasanya  dilakukan pola full day school atau boarding school. Pada pola boarding school, siswa belajar sampai sore.  Pagi hari mereka belajar sesuai dengan kurikulum  biasa, sore mereka belajar pengetahuan dan praktek agama.  Shalat Zuhur dan Asyar dilakukan langsung secara berjamaah di sekolah.  Dengan sistem boarding school (siswa tinggal di asrama) lebih banyak lagi waktu yang bisa manfaatkan untuk  melatih kebiasaan yang posisif. Kebiasaan hidup bersih dan beretika dan anjuran agama lainnya dapat  dilatih dan dibiasakan di asrama.

Dalam budaya minang telah lama dikenal petitih sebagai berikut: ketek ta anja-anja, gadang tabao-bao, lah gaek tarubah tidak. Maksudnya sikap dan karakter seseorang terbentuk dari kebiasaannya sejak kecil.  Setelah ia dewasa, kebiasaan itu sulit untuk mengubahnya. Jika seseorang sejak kecil sudah terbiasa bicara kasar, sampai tua ia akan tetap demikian dan sulit mengbahnya. Begitu juga jika seseorang telah terbiasa shalat sejak kecil, maka sampai tua ia akan terbiasa.

Di Sumatera Barat yang menganut falsafah adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah perpaduan materi kurikulum pendidikan umum dan pendidikan agama Islam merupakn pasangan yang sangat cocok. Namun tentu juga cocok dengan agama lain sesuai kepercayaan yang dianut peserta didik.

Pendidikan berkarakter bukan sekedar teori, tetapi telah lama dipraktekkan di sejumlah sekolah di Sumatera Barat.  Di ITB misalnya, ada puluhan siswa asal Sumbar, yang diterima dan melakukan studi di sana. Ternyata tak hanya itu, mereka mendominasi sebagai aktifitis masjid Salman ITB. Begitu juga di UI, mereka mencuat sebagai aktifis masjid kampus UI. Mereka adalah lulusan sekolah yang menganut pola pendidikan berkarakter di Sumatera Barat. InsyaAllah mereka adalah asset SDM Sumatera Barat masa depan. (Juni 2011)

46. Adzkia dan Pendidikan Berkarakter

Adzkia dan Pendidikan Berkarakter

Sejarah telah banyak membuktikan, bahwa cita-cita besar bisa dimulai dari hal-hal kecil. Kami pun dulu tak pernah bermimpi bisa membangun Yayasan Adzkia seperti yang ada saat ini. Adzkia bermula dari sebuah kursus bimbingan belajar kecil di sebuah lokal kontrakan di Komplek PGAI Jati  Padang .

Saat itu tahun 1988, saya sendiri waktu itu baru saja menyelesaikan studi di fakultas psikologi Universitas Indonesia. Dari segi finansial, boleh dikatakan kami tak punya apa-apa. Namun bersama sejumlah kawan, bermodalkan tekad untuk maju, kami mendirikan Kursus Bimbingan Belajar (Bimbel) yang kami beri nama Adzkia.  Uang yang ada di kantong kami kumpulkan, ternyata hanya cukup untuk mencetak 1 rim brosur.  Dengan modal sebanyak itulah Adzkia kami mulai.

Awalnya tak banyak yang melirik pada bimbel yang kami adakan, saingan yang ada saat itu cukup banyak. Namun kami tetap melangkah.  Di tahun-tahun awal, penghasilan yang kami peroleh hanya cukup untuk menutup biaya kontrakan tempat kursus dan biaya operasional. Namun berkat kegigihan dan kerja keras kami,  peminat bimbel Adzkia makin banyak dan terus bertambah.  Selain karena rajin berpromosi, sistem belajar dan mengajar kami kembangkan secara serius sehingga alumnus Adzkia terkenal  banyak dan sukses diterima di berbagai perguruan tinggi favorit.

Alhamdulillah, kerja keras tersebut membuahkan hasil. Kursus bimbel Adzkia mendapat tempat di hati masyarakat, jumlah peminatnya terus bertambah dan bertambah.  Lokasi tempat kursus pun dilakukan di beberapa tempat, karena lokasi yang lama tidak mampu lagi menampung peminat yang terus bertambah. Jumlah peserta bimbel Adzkia mencpai puncak dengan jumlah murid  3000 orang. Sebuah prestasi yang sulit ditandingi hingga saat ini.

Kami yakin bahwa perubahan adalah hukum alam yang abadi. Dengan niat untuk berdakwah dan mensyiarkan Agama Islam, kami mulai mendirikan Play Group Adzkia pada tahun 1992. Pendidikan agama harus dimulai sejak dini. Saat itulah mulai terpikir konsep pendidikan berkarakter. Untuk menjawab tantangan ke depan, murid tidak cukup hanya memiliki ilmu, tapi juga harus memiliki karakter. Konsep inilah yang kemudian membedakan Adzkia dengan lembaga pendidikan lain.

Karena itu di Adzkia dikembangkan metoda-metoda dan materi-materi  pembelajaran khusus yang bertujuan untuk membangun karakter anak didik. Di Adzkia diajarkan hafalan ayat Al Qu’ran,  shalat, tata-tertib serta akhlak. Adzkia menerapkan sistem full day  school. Adzkia pula yang pertama kali mengajarkan anak didik wanitanya memakai jilbab. Ilmu psikologi yang saya timba di bangku kuliah, saya manfaatkan untuk membangun karakter anak didik Adzkia.

Pada awalnya konsep pendidikan dan terlihat berbeda dari biasanya ini mendapat tanggapan pro dan kontra dari masyarakat. Tapi setelah mereka melihat bahwa lulusan Adzkia memang berbeda akhlak, budi pekerti dan karakternya, mereka tidak mempersoalkan lagi perbedaan konsep pendidikan tadi.

Seperti fenomena yang terjadi pada bimbel, Play Group Adzkia juga mendapat tempat di hati masyarakat. Jumlah peserta Play Group/TK Adzkia juga mendapat tempat di hati masyarakat. Jumlah peserta  Play Group/TK  terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun. Lokasi tempat pendidikan Play Group/TK juga harus ditambah di beberapa tempat, karena fasilitas yang ada tak mampu lagi menampung peminat yang terus bertambah.

Sekali lagi, Alhamdulillah Adzkia terus mengembangkan sayap sesuai dengan tuntutan kebutuhan, termasuk keinginan masyarakat. Kini, bermula dari bimbel, Adzkia telah memiliki Play Group/TK, Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi. Pendidikan berkarakter yang ditanamkan  di Yayasan Adzkia memang tampak hasilnya dan membekas pada anak didik alumni Adzkia. Mereka tidak hanya unggul dalam mutu pelajaran, tapi juga berakhlak yang tercermin dalam sikap mereka sehari-hari.

Sampai saat ini Adzkia masih dipercaya masyarakat, tak peduli dari golongan mana pun mereka berasal. Juga tidak pernah dipermasalahkan dari partai manapun keluarga orang tua mereka berasal. Apakah keluarga mereka berasal dari Partai Golkar, Demokrat, PDIP, PAN atau PPP, semua ada di sini dan tidak ada perlakuan berbeda terhadap mereka. Hal inilah yang membuat Adzkia tetap diminati masyarakat , dari latar belakang apapun mereka, hingga saat ini. Kepedulian Adzkia adalah menyampaikan konsep pendidikan berkarakter, agar diperoleh alumni yang cerdas dan berakhlak mulia. Alhamdulillah sejak Adzkia lahir hingga saat ini tidak ada yang menggugat bahwa Adzkia mengarahkan peserta didiknya ke partai tertentu. Karena memang hal itu tidak pernah dilakukan.

Adzkia yang saya sebagai pendirinya, tidak ada upaya mempengaruhi murid Adzkia ke parpol tertentu, tetapi Adzkia mengarahkan muridnya agar berakhlak, hafal Qur’an, ibadah rajin, dll. Pendidikan harus objektif dan terpadu. Pendidikan karakter adalah suatu keniscayaan bagi dunia pendidikan. Pendekatan kognitif saja tidak cukup, tapi juga harus berdasarkan pengamalan dan kesadaran. Adzkia sudah memulainya semenjak awal tahun 90 an. Keberhasilan pendidikan karakter juga ditentukan oleh karakter gurunya. Tidak mungkin tercapai sebuah pendidikan karakter yang gurunya menghasut murid, menfitnah dan menjelek-jelekkan sesama.

Pendidikan karakter bukanlah hal baru, begitu banyak sekolah/madrasah yang telah mengamalkannya , termasuk pesantren.  Pendekatan pendidikan karakter di sekolah/madrasah/pesantren tersebut memiliki metode yang sama yaitu membiasakan murid dengan karakter baik, membiasakan murid melaksanakan ibadah bahkan dicatat ibadahnya dan ditargetkan agar semuanya terbiasa dan menjadi budaya bagi siswa. Metode ini bukan milik kelompok tertentu, tetapi milik kita semua. Apalagi metode pembiasaan ini bukanlah milik parpol tertentu.

Semoga pendidikan karakter di Sumbar tersebar di seluruh sekolah/madrasah dan guru senantiasa berupaya meningkatkan dirinya  untuk berkarakter baik selain tuntutan kita terhadap anak-anak murid agar berkarakter baik pula. Wallahu’alam. (Mei 2012)

47. UN, Mahalnya Harga Sebuah Kejujuran

UN, Mahalnya Harga Sebuah Kejujuran

 

Pelaksanaan UN (Ujian Nasional) adalah sebuah hajatan besar yang super mahal. Di tahap awal panitia UN bekerja keras untuk menyiapkan soal ujian. Tentu tak sembarangan soal itu dibuat, harus diperhatikan agar soal-soal tersebut tak sama dengan soal tahun-tahun sebelumnya. Soal juga dibuat lima versi, agar peserta ujian tak bisa mencontek satu sama lain.

Tak hanya sampai di situ, mulai dari pencetakan soal sampai dibagikan ke peserta ujian, dilakukan upaya ekstra pengamanan agar soal tidak bocor, terjaga keamanan dan kerahasiaannya. Tak tanggung-tanggung, soal tersebut dikawal langsung oleh petugas keamanan. Untuk memperlancar distribusi soal, sekaligus menjaga kemanannya, sehari sebelum pelaksanaan ujian soal-soal tersebut diinapkan di kantor Polsek lokasi ujian terdekat.Di sejumlah daerah yang tidak memiliki Mapolsek, soal ujian diinapkan di Markas Angkatan Laut, TNI AD atau kantor petugas keamanan lainnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa pelaksanaan UN membutuhkan biaya sangat besar dan mahal. Tahun ini dibutuhkan biaya sebesar Rp 600 miliar untuk pelaksanaan UN. Dana tersebut cukup untuk membangun 300 buah sekolah baru tahan gempa. Atau dana tersebut cukup untuk membeli 400 buah mobil mewah sekelas Alphard.

Namun apa yang terjadi? Di satu sisi pemerintah berusaha sekuat tenaga agar UN terlaksana dengan baik, jujur, tanpa kecurangan. Di sisi lain, ada pihak-pihak yang juga berusaha sekuat tenaga, dengan segala cara agar bisa membobol  kerahasiaan soal ujian.  Soal tersebut, konon dapat mereka bocorkan, lalu jawaban dikirimkan ke peserta ujian melalui SMS, BB, email dan berbagai cara lainnya. Dalam hitungan detik, informasi tersebut bisa menyebar ke suluruh Indonesia.

Jika hal ini memang benar terjadi, betapa naifnya. Kerja keras yang dilakukan panitia serta aparat keamanan menjadi sia-sia. Dana ratusan miliar yang dikeluarkan tak ada artinya, pekerjaan besar yang dilakukan dengan susah payah menjadi tak bermakna. Ujian berlangsung secara tak jujur. Sebegitu mahalkah yang harus kita korbankan untuk mendapatkan sebuah kejujuran?

Karena itu menurut saya, lulus UN 100 persen bukan ukuran mutlak bahwa sekolah tersebut telah berhasil menyelenggarakan proses pendidikan. Jumlah lulusan suatu sekolah yang diterima di berbagai perguruan tinggi favorit, lebih cocok untuk dijadikan indikator keberhasilan sebuah sekolah.

Kejadian tahun lalu bisa dijadikan pelajaran, ada sekolah yang nilai UN nya sangat baik, seratus persen siswa lulus UN. Namun ternyata tidak satupun siswa lulusan sekolah tersebut diterima di perguruan tinggi. Ada apa? Tentu hal ini merupakan pukulan yang memalukan bagi sekolah tersebut.

Kejujuran siswa dalam UN dalam waktu dekat bisa diketahui. Kini sudah ada software yang mampu menganalisa apakah jawaban ujian siswa merupakan hasil mencontek atau dari bocoran kunci jawaban.  Kecurangan peserta ujian akan segera bisa dideteksi.

Karena itu, yang perlu dihargai adalah kerja keras siswa dan guru meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa menghadapi UN dan proses yang dilakukan untuk itu. Terbukti sekolah-sekolah yang proses belajar dan mengajarnya dilakukan dengan benar, mampu menyelesaikan soal-soal UN dengan baik pula, tanpa harus berbuat curang.

Mari berlomba-lomba meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa agar mampu mengikuti dan lulus UN secara benar dan jujur. Bukan berlomba-lomba sekuat tenaga dan pikiran untuk membocorkan soal UN. Lebih fatal lagi jika kecurangan itu dilakukan oleh guru yang seharusnya bertugas mendidik siswa dengan baik.

Kita berharap hal itu tidak terjadi lagi, tugas dan tanggung jawab menyiapkan generasi penerus yang akan menjadi pemimpim di masa depan. Tidak cukup hanya sekedar bisa lulus UN, tapi harus cerdas, jujur dan bermoral baik. (April 2012)

48. Ujian Nasional

Ujian Nasional

Hati Toni menjadi galau dan kacau. Betapa tidak, segala persiapan telah ia lakukan dengan baik. Sehabis shalat magrib dan usai shalat subuh, buku-buku cetak maupun berbagai catatan mata pelajaran seperti ia lahap tak bersisa. Semua pelajaran yang ia pelajari dan yang ada dalam buku-buku seolah-olah telah ia salin semua ke dalam kepala. Ia mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk menghadapi ujinan nasional (UN).

Tapi apa yang terjadi? Ternyata yang  ia tunggu-tunggu ingkar janji. Ujian nasional yang ia tunggu-tunggu ternyata tak sesuai dengan waktu yang direncanakan semula. Waktu pelaksanaan ujian diundur. Di sebagian daerah UN tetap dilaksanakan sesuai waktu yang direncanakan semula, meski masih terdapat masalah dan kekurangan di sana-sini, sementara di 11 provinsi lainnya diundur.

Bagaimana mungkin? Peristiwa seperti ini baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah pelaksanaan ujian nasional. Sungguh tak masuk akal. Toni jadi uring-uringan, kesal, serta ingin marah-marah melampiaskan semua kekesalannya. Hampir saja ia patah semangat.

Peristiwa ini memang sangat di luar dugaan. Pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tentu tidak menginginkan peristiwa itu terjadi. Paling tidak tentu mereka tidak ingin dipermalukan oleh peristiwa tersebut. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan tentu telah berusaha keras sebelumnya agar UN berjalan tepat waktu, sukses dan lancar. Namun itulah kenyataan yang terjadi. Karena berbagai hal, UN yang ditunggu-tunggu dan dipersiapkan sedemikian rupa terkendala pelaksanaannya.

Tak jelas  dimana letak kesalahannya. Tak perlu mencari kambing hitam agar masalah ini tak berlarut-larut. Yang paling penting adalah solusinya dan antisipasi masalah ini cepat ditemukan. Pihak Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pun telah meminta maaf atas kejadian ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah meminta keterangan dari Mendikbud dan Presiden telah memberikan pengarahan untuk mengantisipasi masalah ini

Peristiwa ini tentu tak boleh terulang lagi. Kejadian  ini merupakan sebuah pelajaran yang sangat mahal. Peristiwa ini menjadi pelajaran di masa datang, untuk dikaji dimana kekurangan sisi lemahnya,  agar tidak terulang lagi di masa datang.

Marah, kesal, caci maki, saling tuding tentu tak menyelesaikan masalah. Bagi pelajar, hadapi ujian ini dengan kepala dingin dan hati tenang. Jika diundur, manfaatkan peluang ini sebagai tambahan kesempatan untuk belajar. Jika dihadapi dengan kesal dan hati gelisah sudah pasti hasil ujian yang diperoleh tidak maksimal.

Demikian juga para orang tua, kita paham, biasanya orang tua lebih kuatir dan gelisah lagi dibanding anaknya yang ikut ujian.  Jangan menambah kegusaran anak dengan memperlihatkan kegelisahan orang tua. Sebaliknya orang tua yang harus mendorong anak supaya tenang dan sabar, jangan sebaliknya.

Tak ada masalah yang tanpa jalan keluar, ndak ado  kusuik nan indak salasai, begitu kata pepatah. Jika dihadapi dengan tenang dan kepala dingin, Insya Allah semua persoalan bisa diselesaikan dengan baik. Di balik ujian dan cobaan selalu ada hikmah dan pelajaran dariNya. Semoga kita Tuhan selalu melindungi kita dan selalu menunjukkan jalan terbaik bagi kita semua. Amiin. (April 2013)

49. Krisis Pemimpin

Krisis Pemimpin

Ratusan siswa dan mahasiswa kota Padang tertegun sesaat mendengar  jawaban spontan Wakil Presiden RI  Prof. DR. Budiono saat acara silaturahmi dengan beliau di gedung serbaguna SMA 1 Padang. Beliau mengisahkan kehidupannya masa kecilnya menjawab pertanyaan salah seorang siswa.

“Saya dulu sekolah di SD Muhammadiyah, sebuah sekolah sederhana, sekolah dasar satu-satunya yang ada di kota kecil Blitar, Jawa Timur saat itu”. Kondisi sekolah tersebut sagat bertolak belakang dengan keadaan sekolah saat ini, dindingnya terbuat dari bambu dan berlantai tanah. “Kami ke sekolah saat itu tidak memakai sepatu, karena sepatu saat itu masih merupakan barang langka dan mahal,” imbuh Wapres.

Namun kondisi tersebut tak menghalangi beliau untuk maju. Kelahiran Blitar, 23 Februari 1943 yang suka mandi di kali dan gembala kambing ini berhasil meraih Gelar Bachelor of Economics dari Universitas Western Australia, lalu gelar Master of Economics  dari Universitas Monash Australia dan  mendapatkan gelar S3 (PhD) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pensylvania, AS.

Perjalanan karir  “anak desa” ini juga cukup menonjol, yaitu  guru besar fakultas ekonomi UGM,  Gubernur Bank Indonesia, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas serta  Menteri Keuangan. Saat ini beliau menjabat Wakil Presiden RI.

Karena itu menurut Wapres pemimpin itu bisa lahir dan muncul dari mana saja dan dari golongan manapun. Sumatera Barat menurutnya sejak dulu terkenal sebagai penghasil intelektual dan cendikiawan, baik berkaliber nasional maupun internasional seperti Bung Hatta, Syahril, Hamka Agus Salim, Natsir dan sederet nama lainnya.

Kini menurut Wapres mulai langka muncul pemimpin-pemimpin yang berkualitas ke permukaan. Bisa dikatakan, kita mengalami krisis pemimpin, tidak hanya di Sumatera Barat, di daerah-daerah lain pun tak banyak muncul pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan fenomenal seperti dulu. Padahal Indonesia butuh banyak pemimpin yang diharapkan mampu membawa bangsa ini menuju kejayaan.

Menurut Wapres ada 4 syarat untuk jadi pemimpin: 1. Memiliki pengetahuan dan keterampilan, 2. Memiliki karakter, 3. Sikap mencintai Tanah Air (nasionalisme) dan 4. Bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan.

Syarat 1, yaitu memiliki pengetahuan dan ketrampilan, jelas mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Memiliki karakter berhubungan dengan kualitas sikap mental seorang pemimpin. Rasa nasionalisme penting bagi seorang pemimpin, karena semangat inilah yang akan menimbulkan rasa cinta terhadap tanah air dan ketulusan untuk membangun bangsa dan negara. Sedangkan sikap bersungguh-sungguh juga sangat penting karena pekerjaan apapun yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh, pasti hasilnya akan baik.

Saat bersamaan Wapres menantang para siswa dan mahasiswa Sumatera Barat untuk tampil sebagai pemimpin beberapa tahun ke depan. “Kami-kami ini segera akan lengser dimakan usia, giliran kalian-kalian lah yang harus tampil sebagai pemimpin yang baik berikutnya.” Ujar Wapres.

Sejarah telah membuktikan bahwa Sumatera Barat adalah daerah penghasil pemimpin dan tokoh-tokoh nasional. Jika kita serius dan bersungguh-sungguh, bukankah sejarah itu bisa terulang kembali? Dengan fasilitas minim, sekolah sederhana, bertelanjang kaki ke sekolah bisa melahirkan Wakil Presiden. Dengan fasilitas yang lengkap, sekolah mentereng,  bukankah seharusnya bisa melahirkan lebih dari Wakil Presiden?

Sumatera Barat harus menjawab kerisauan Wapres akan terjadinya krisis pemimpin di negara ini. Pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh terbaik harus terlahir lagi dari bumi Ranah Minang ini. (Juni 2013)

50. Aktifis Kampus

Aktifis Kampus                                 

Meski belum ada penelitian ilmiah yang menerangkan, namun kenyataan lapangan telah banyak membuktikan, yaitu mereka yang semasa kuliah adalah aktifis kampus menjadi pemimpin atau orang sukses disaat mereka  berada di dunia kerja.

Lihat saja  pejabat-pejabat di tingkat pusat maupun daerah, umumnya mereka mempunyai latar belakang dulunya adalah aktifis kampus. Mereka aktif di berbagai kegiatan kampus, baik saat di bangku SLTP, SLTA maupun semasa kuliah. Begitu juga sejumlah pengusaha sukses di tingkat nasional atau regional, kebanyakan mereka memiliki latar belakang aktifis kampus.

Banyak contoh teman yang semasa kuliah atau bahkan semasa SMA yang dulunya aktif dan rajin berorganisasi, saat ini menjadi orang sukses, baik sebagai pengusaha atau pejabat. Begitu juga sejumlah pejabat atau rekan-rekan di DPR dulu, kalau ditinjau latar belakang mereka, ternyata umumnya mereka adalah aktifis kampus.

Sebaliknya sejumlah teman yang semasa sekolah atau kuliah dulu yang tidak aktif bahkan tidak peduli dengan kegiatan-kegiatan organisasi (aktifitas ekstra kampus), tidak terlalu sukses dalam berkarir. Jika mereka menjadi pegawai atau karyawan, mereka hanya pegawai atau karyawan biasa saja. Karir mereka umumnya  mentok sampai di sana, meskipun dulu mereka sering mendapat prediket juara kelas atau bahkan juara umum.

Lalu, kenapa para aktifis tersebut berhasil jadi pemenang dalam persaingan meniti karir?  Yang pasti ada tiga hal yang mereka miliki sebagai modal untuk meniti karir.  Pertama karena terbiasa berdiskusi, berceramah, dan sejenisnya. Hal ini menyebabkan mereka menjadi terbiasa berbicara, campin menyampaikan gagasan di depan umum. Kedua, mereka memiliki kemampuan mengorganisir tim kerja atau memenej pekerjaan. Kemampuan ini ternyata tak semua orang memilikinya. Kemampuan tersebut ternyata lumayan bisa diandalkan sebagai modal untuk meniti karir.

Ketiga, karena di organisasi tak ada gaji, mereka bekerja secara ikhlas, tanpa pamrih. Bagi mereka, imbalan adalah soal kedua, yang penting kerja yang dilakukan banyak manfaatnya bagi orang lain atau kepentingan bersama. Imbalan akan datang menyusul. Bahkan kadangkala mereka berpikiran kepuasan batin adalah imbalan yang tak ternilai harganya. Mereka tak bertanya dulu apa yang bisa mereka peroleh, tapi bertanya apa yang bisa mereka lakukan dan berikan untuk orang lain.

Faktor ketiga inilah yang membuat mereka memiliki karakter sebagai pekerja yang ulet, pantang menyerah dan selalu mengejar pretasi terlebih dahulu. Mereka yakin, imbalan adalah  urusan belakangan. Man jadda wa jada,  siapa yang mau bersungguh-sungguh pasti berhasil. Allah adalah pembuka pintu rezki yang maha kaya, Allah yang menjamin rezki mereka.

Ketiga faktor itulah yang membuat mereka menjadi orang sukses. Mereka memiliki etos kerja tinggi serta selalu memperlihatkan prestasi kerja yang cemerlang.  Karena terbiasa berorganisasi, mereka juga mudah bergaul, cepat akrab dengan banyak orang Tentu saja ia disenangi bahkan dihargai di masyarakat

Tidak hanya itu, karena ia berbuat secara ikhlas, maka tentu saja Allah juga senang dengan mereka.  Allah lalu membukakan pintu rezeki  bagi mereka. Seperti janji Allah, Allah akan membukakan pintu rezeki dan memudahkan jalan  bagi mereka. Jadi, tak heran kalau di kemudian hari mereka menjadi orang sukses.

Tapi bukan pula berarti akif di berbagai organisasi menjadi alasan bagi mahasiswa atau pelajar untuk mendapat nilai rendah. Tetap aktif di berbagai kegiatan kampus, namun prestasi akademik tetap cemerlang, tentu itu adalah pilihan terbaik.

Organisasi seperti Osis, Senat, BEM, Pramuka, HMI dan berbagai organisasi lainnya telah terbukti mampu menghasilkan kader-kader yang siap jadi pemimpin  dan sukses dalam perjalanan karir mereka. Kini ada ribuan atau mungkin lebih, organisasi sosial dan keagamaan yang menunggu orang-orang kreatif dan ikhlas untuk mengabdi dan berprestasi, siap menampung  mereka yang ingin mempersiapkan diri untuk jadi orang sukses.

Selamat berjuang dan bekerja para aktifis. Bangsa dan negara ini menunggu kreatifitas dan uluran tangan anda. (Mei 2011)

51. Kuliah di Amerika

Kuliah di Amerika

 

Siapa yang tak kenal  Harvard, Stanford, Cornell, Berkeley University atau Massachusetts Institute of Technology (MIT)?  Itu adalah nama-nama perguruan tinggi yang hampir selalu menempati posisi 10 perguruan tinggi terbaik di dunia. Tokoh-tokoh penting dunia seperti  presiden AS Obama, Clinton dan sejumlah tokoh legendaris dunia lainnya ‘dilahirkan’ dari universitas ini.

Berbagai penemuan dan teknologi baru yang menggemparkan dunia juga berasal dari perguruan tinggi yang umumnya didirikan di abad 18 ini. Sistem pendidikan dan berbagai sarana pendukung yang tersedia  membuat universitas-universitas tersebut mampu menghasilkan lulusan  berkelas dunia.

Kita boleh bangga memiliki perguruan tinggi terbaik di negeri ini seperti  Institut  Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) atau Institut Pertanian Bogor (IPB). Perguruan tinggi ini juga terkenal telah melahirkan tokoh-tokoh berkaliber nasional di Indonesia. Namun dalam kacamata Internasional, perguruan tinggi tersebut belum termasuk rangking 200 terbaik di dunia. Universitas Indonesia berada pada dan berada di ranking 236 dunia (World Universities Ranking 2011) atau ranking 50 di Asia (Asian Ranking Universities 2011)

Perguruan tinggi Jepang, China dan Korea menempati ranking lebih baik. Ranking perguruan tinggi kita juga masih kalah dibandingkan perguruan tinggi India, Singapore, juga negeri jiran kita Malaysia.

Jika ingin menjadi lebih baik dan ingin menempatkan putra-putri negeri  ini di kancah dunia, tentu menimba ilmu di perguruan tinggi terbaik dunia tersebut adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh. Melihat fakta yang ada, putra-putra Indonesia ternyata tak kalah cerdas dibanding bangsa-bangsa lain. Sejumlah mahasiswa kita telah berada di sana. Di perguruan tinggi terbaik dunia tersebut mereka juga bisa menyelesaikan kuliahnya secara baik dan kemudian mulai meniti karir yang baik pula. Bukan mustahil mereka akan tampil sebagai tokoh dunia suatu saat nanti. Tamatan perguruan tinggi terkemuka di AS, juga telah mengisi jabatan penting di Indonesia.

Lalu, bisakah putra-putri kita kuliah di perguruan tinggi kelas dunia tersebut? Apakah itu hanya sebuah mimpi di siang bolong?

Jawabannya adalah bisa !! Putra-putri kita bisa kuliah dan menimba ilmu di sana, dan itu bukan mimpi atau isapan jempol belaka. Siapa saja bisa kuliah di sana.  Syaratnya adalah mampu berbahasa Inggris sesuai standar TOEFL minimal yang ditentukan dan lulus seleksi.

Lalu bagaimana biaya kuliah dan biaya hidup di sana?

Tak perlu khawatir, ada cukup banyak beasiswa yang tersedia seperti beasiswa Full Bright, Ford Foundation, USA Aid, dll. Bahkan juga ada beasiswa khusus untuk Indonesia. Presiden Obama ketika berkunjung ke Indonesia telah meminta secara khusus agar beasiswa Indonesia ini jumlahnya dijadikan dua kali lipat dari sebelumnya.

Lalu bagaimana agar semua itu bisa menjadi konkret?

Pemerintah daerah (Pemda) bisa membantu membuat peluang itu menjadi kenyataan. Langkah awal adalah menyeleksi lulusan SLTA terbaik dan berpotensi untuk menyelesaikan kuliah di negeri Paman Sam tersebut. Tentu saja mereka harus memiliki kemampuan dasar bahasa Inggris yang baik dan prestasi akademik yang baik pula. Untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki, mereka diikutkan kursus TOEFL. Kelengkapan persyaratan teknis dan administratif lainnya juga dibantu oleh Pemda bekerjasama dengan kedutaan AS di Jakarta.

Bagi keluarga yang tidak mampu, namun lolos seleksi, biaya-biaya tersebut bisa disubsidi oleh Pemda. Ini sebuah peluang yang sangat baik, dengan biaya yang tidak terlalu besar, putra-putri Sumatera Barat bisa kuliah di perguruan tinggi terbaik di dunia.

Cara kedua adalah dengan menjalin kerjasama atau sejenis universitas kembar antara perguruan tinggi di Sumatera Barat dengan perguruan tinggi ternama tersebut. Dengan demikian bisa saling bertukar program atau mahasiswa. Juga bisa dengan program sister school  yang segera akan diawali dengan sebuah SMA di wilayah Texas.

Dari dulu orang Minang sudah terkenal sebagai tokoh yang disegani di tingkat nasional, maupun internasional. Kita harus menjemput lagi kejayaan itu. Sesuai dengan tantangan global yang makin ketat, bekal yang lebih baik harus dipersiapkan agar mampu berkiprah lagi di kancah internasional. Mari bersama-sama kita siapkan generasi muda kita untuk “go international.” (Juli 2013)

52. Penggemblengan Diri

Penggemblengan Diri

Banyak dari kita mungkin sudah melewati bulan Ramadhan berkali-kali. Namun mungkin pernah terlintas di pikiran kita, apakah yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini adalah penggemblengan diri atau sebagai penutup kewajiban?, terutama bagi kita yang sudah dewasa.

Bulan Ramadhan pada hakikatnya adalah waktu untuk menggembleng diri, bukan lagi latihan. Kenapa? Karena Allah yang menilai langsung dan membalasnya. Di samping itu, amaliyah yang dilakukan lebih banyak dari bulan di luar Ramadhan. Ini merujuk kepada perilaku dan aktivitas Rasulullah SAW ketika beribadah di bulan Ramadhan.

Jika kita merasakan bahwa amaliyah di bulan Ramadhan tidak dimaksimalkan, maka kita mungkin terjebak ke dalam seremonial saja. Sahur, berbuka, dan kemudian sholat tarawih. Kemudian meninggalkan Ramadhan tanpa bekas. Rasulullah SAW berkata, “Berapa banyak orang yang puasa, bagian (yang dipetik) dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)” (HR Ibnu Majah).

Di bulan Ramadhan, Rasulullah menggembleng para sahabat yang sedang puasa untuk menghadapi pasukan Qurays di perang Badar. Dengan izin Allah SWT, mereka memperoleh kemenangan. Rasulullah juga menggembleng sahabat dengan berpuasa di waktu panas sangat terik.

Abu Darda berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadhan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah”. (Muttafaq alaih).

Adapun Umar bin Khatab ketika hendak meninggal berwasiat kepada anaknya, Abdullah agar melakukan puasa di saat panas sangat terik di musim panas, karena ia merupakan ciri keimanan. Demikian pula dengan para wanita shalihat. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata: “Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya”.

Rasulullah SAW juga meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadhan. “Dari Ibnu Abbas RA. Berkata: Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al Quran. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus.” (Shahih Al Bukhari).

Maka dari itu, jika kita tidak menggembleng diri kita di bulan Ramadhan ini, maka apa yang kita impikan dan inginkan belum tentu mampu terwujud di bulan berikutnya. Jadilah kita sebagai orang yang hanya sekedar menahan haus dan lapar saja. Diri kita tidak mengalami kenaikan derajat di sisi Allah, dan mungkin juga manusia. Padahal, ganjaran yang akan didapatkan jika menggembleng diri sungguh luar biasa, setidaknya seperti bunyi hadits berikut ini.

“Puasa dan Al Quran akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, “Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.” Al Quran berkata, Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya (HR Ahmad). (Juli 2012)

53. Ramadhan dan Ketenangan Hati

Ramadhan dan Ketenangan Hati

 

Kita tentu sering melihat seseorang yang raut mukanya selalu keruh, bahkan nyaris kusut. Ia selalu terlihat seperti tertekan beban yang berat dipikirannya. Jiwanya selalu gelisah gundah gulana, selalu merasa tak puas dan selalu kekurangan.

Pada hal pangkat dan status sosialnya sudah berada pada level tertinggi. Harta kekayaan yang dimilikinya berlimpah ruah, tak banyak orang yang bisa menandingi. Tetapi tetap saja ia belum merasa puas, hidupnya selalu merasa gundah, hatinya galau, tidur tak nyenyak, makan tak enak.

Jika sudah demikian tentu kekayaan berlimpah, pangkat atau jabatan yang tinggi tidak bisa ia nikmati. Setiap hari ia terpaksa tersenyum di depan orang lain untuk menyatakan bahwa dirinya senang dan bahagia, tetapi jauh di lubuk hatinya ia merintih betapa bathinnya tersiksa setiap hari. Segenggam obat terpaksa ia telan setiap hari agar ia bisa tidur dan beban pikirannya berkurang, berbagai terapi terpaksa ia jalani untuk mengatasi berbagai penyakit yang ia derita.

Tentu sangat menyedihkan dan nestapa sekali kehidupan orang seperti diuraikan di atas. Sepanjang hari ia tertekan oleh beban berat, setiap hari ia bersandiwara menyembunyikan penderitaan hidupnya.

Kenapa hal itu terjadi? Besar kemungkinan harta yang dimilikinya tidak diperoleh dengan jalan yang benar, begitu juga pangkat dan jabatan yang didapat juga tidak diperoleh dengan jalan yang baik dan benar.

Hawa nafsu memang sering membuat manusia lupa diri dan tergoda. Hawa nafsu yang tak terkendali membuat manusia lupa diri dan menghalalkan segala cara untuk mengejar harta dan tahta. Mereka lupa bahwa harta dan tahta bisa membuat manusia bahagia, tapi juga membuat manusia hancur, hina dan menderita. Semua itu terjadi karena mereka tak mampu mengendalikan diri dan hawa nafsu.

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk berlatih mengendalikan diri, berlatih mengendalikan hawa nafsu. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW; perang yang paling besar bukanlah perang badar, tetapi perang melawan hawa nafsu dan mengendalikan diri sendiri. Karena itu kita perlu persiapan dan bekal yang sangat banyak untuk menghadap perang yang paling besar itu, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Islam tidak melarang umatnya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, tetapi kumpulkanlah harta yang halal dan toyyib. Kekayaan yang diperoleh secara tidak halal selamanya tidak mungkin akan membawa berkah dan kebahagiaan. Air yang jernih dan bening tidak mungkin akan tetap jernih dan bening  jika dicampurkan dengan air keruh.

Selain berlatih mengendalikan hawa nafsu, di bulan puasa, umat Islam umat Islam dianjurkan melaksanakan berbagai ibadah. Di antaranya adalah bersedekah, shalat malam dan bertadarus dan membayar zakat. Amalan itu mendapat imbalan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Namun selain itu yang tak kalah penting, semua amalan itu membuat hidup manusia menjadi tenang, nyaman hidup di dunia, selamat di akhirat nanti. Dengan demikian tak ada lagi hati yang selalu gelisah, gundah dan pikiran tak tentram.

Selamat menunaikan ibadah puasa 1433 H, mari kita isi bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan berbagai amalan-amalan yang membawa kita ke kehidupan yang nyaman, aman, selamat dunia dan akhirat.

Mohon maaf jika ada kesalahan dan khilaf, baik yang disengaja maupun yang tidak sengaja. Mari kita sama berdoa semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk melaksanakan puasa tahun ini sampai selesai. Semoga kita kembali fitrah, bahagia di dunia dan akhirat nanti. (Juli 2012)

54. Ujian dan Pengorbanan

Ujian dan Pengorbanan

 

Sudah lama Nabi Ibrahim AS mendambakan seorang anak. Barulah menjelang usia senja istri Nabi Ibrahim, Hajar terlihat mengandung dan menjanjikan keturunan. Maka Nabi Ibrahim makin sayang kepada Hajar.

Kemudian Hajar melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu dan diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim makin sayang kepada Hajar dan anaknya Ismail. Namun Allah menguji mereka. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Hajar ke suatu tempat yang jauh, yang Nabi Ibrahim sendiri tidak mengenal tempat itu.

Dari Palestina dengan mengendarai onta, Nabi Ibrahim membawa  Hajar dan Ismail ke arah yang dia sendiri tidak tahu tujuannya. Namun ia yakin ada Allah akan membimbingnya. Setelah selama berminggu-minggu berjalan sampailah Nabi Ibrahim di sebuah daerah yang bernama Mekah. Saat itu daerah tersebut tidak berpenghuni. Di mana-mana hanya terlihat gurun pasir dan gunung-gunung batu, tak ada tanaman untuk dimakan juga tak ada air untuk diminum. Nampaknya di sinilah  Hajar dan Ismail diperintahkan untuk ditinggalkan.

Nabi Ibrahim tentu saja sangat sedih, namun beliau berkata kepada  Hajar:  ”Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan dialah yang akan melindungi kamu dan menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun di atas kamu untuk selamanya. Insya-Allah”

Setelah ditinggal Ibrahim, keadaan  Hajar dan Ismail sangat mengenaskan. Segera saja  Hajar kelaparan dan dahaga di gurun tandus tersebut. Akibat kelaparan, air susunya juga tak lagi menetes untuk menyusui Ismail. Ismail menangis terus-menerus menyayat hati. Kelaparan, kecemasan ditambah tangisan Ismail karena tak ada lagi air susu yang akan ia minum, membuat  Hajar menjadik panik. Ia berlarian kesana-kemari untuk mencari sesuap makanan atau seteguk air pengobat lapar dan dahaga.

Lalu  Hajar pergi ke Bukit Safa, ia berharap bisa mendapatkan sesuatu yang bisa menolongnya, namun hanya batu dan pasir yang ditemuinya di sana. Dari Bukit Safa itu ia melihat bayangan air yang mengalir di atas Bukit Marwah, kemudian ia berlari lagi ke bukit Marwah, namun setelah sampai di sana yang dikiranya air, ternyata hanya bayangan fatamorgana belaka.

Diriwayatkan dalam keadaan yang tidak berdaya dan hampir putus asa, setelah 7 kali bolak balik antara Safa dan Marwah, datanglah malaikat jibril dan bertanya: “Siapakah sebenarnya engkau ini?” Kemudian  Hajar menjawab : “Aku adalah hamba sahaya Ibrahim”. Jibril bertanya lagi :” Kepada siapa engkau dititipkan di sini?”,  hajar menjawab : “Hanya kepada Allah.”

Lalu malaikat jibril berkata lagi : “Jika demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat yang Maha pemurah dan maha Pengasih, yang akan melindungimu, mencukupkan keperluan hidupmu dan tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya”

Lalu  Hajar diajak  ke suatu tempat dimana Malaikat Jibril menginjakkan telapak kakinya kuat kuat di atas tanah. Atas izin Allah keluarlah dari bekas telapak kaki itu air yang begitu jernih. Mata air itu kemudian dinamakan mata air zam-zam yang tak pernah kering hingga saat ini. Keberadaan ini pula yang membuat kota Mekah makin lama makin tumbuh dan berkembang luar biasa hingga saat ini.

Ketika Nabi Ismail AS mencapai usia remaja, Nabi Ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya tersebut.  Lama Nabi termenung menafsirkan mimpi itu. Sungguh amat berat ujian yang harus dihadapinya.  Namun sesuai dengan firman Allah: “Allah lebih mengetahui dimana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalah-Nya”. Lalu Nabi Ibrahim menuju ke Mekah untuk menemui dan menyampaikan hal tersebut kepada putranya Ismail.

Seperti firman Allah dalam QS 2: 124,  Dan (ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ”Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ”(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Tanpa ragu-ragu dan berpikir panjang Nabi Ismail pun menjawab perkataan ayahnya : “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu.”  Kemudian dipeluknya Nabi Ismail AS dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata : “Bahagialah aku mempunyai seorang putra yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua yang ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah”

Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Nabi Ismail AS, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia. Awalnya terjadi perang bathin di hati beliau, antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Namun akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan di leher Nabi Ismail AS dan penyembelihan pun dilakukan.

Akan tetapi, parang tajam itu ternyata menjadi tumpul di leher Nabi Ismail AS.  “Wahai ayahku, rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telungkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku”.  Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya walau  Ismail telah ditelungkupkan lehernya dipotong dari belakang.

Dalam keadaan bingung dan sedih, datanglah wahyu Allah : “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan qibas”.

Kemudian sebagai ganti nyawa Nabi Ismail AS, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyembelih seekor domba yang telah tersedia di sampingnya. Inilah asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada setiap hari raya Idhul Adha di seluruh dunia.

Dari kisah di atas bisa kita lihat betapa sebuah ujian, sebuah perjuangan, sebuah pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas selalu berujung dengan sesuatu yang indah, manis bahkan luar biasa. Mungkin  Hajar tidak pernah membayangkan kota Mekah yang dulu tak berpenghuni dan dimana ia dulu berurai air mata demi seteguk air, akan berkembang pesat menjadi kota modern seperti saat ini.

Di Idul Adha tahun ini mari kita renungkan kembali dan jadikan teladan kisah keluarga Nabi Ibrahim AS yang penuh ujian, perjuangan dan pengorbanan.  Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan daya juang, kesabaran menghadapi ujian dari Allah serta keihklasan untuk berkorban demi kemajuan bersama, dan tentu juga untuk diri dan keluarga kita sendiri. Semoga kita menjadi umat yang bertakwa. (Oktober 2013)

55. Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

 

Dulu aksi kriminalitas umumnya dilakukan oleh preman (biasanya dilengkapi dengan tatoo). Mereka umumnya adalah kalangan tidak terdidik, putus sekolah atau pengangguran. Jika terjadi pencurian, perampokan, perkosaan dan sebagainya, kelompok inilah yang biasanya menjadi pelaku utama.

Belakangan peta kriminalitas itu bergeser, pelakunya tak lagi kalangan preman, tapi mereka kaum terdidik. Motif kriminalitas yang dilakukan juga makin canggih, membobol bank, penipuan pajak, korupsi  dan lain-lain. Jika maling atau rampok sasaran kejahatannya hanya sampai beberapa puluh juta rupiah, kriminal jenis ini sasarannya puluhan milyar sampai triliunan rupiah. Sungguh luar biasa. Kejahatan jenis ini populer dengan sebutan  kejahatan kerah putih.

Begitu juga kasus kriminalitas lain dan gangguan keamanan. Jika dulu yang jadi biang tawuran antar kampung adalah preman, maka kini yang jadi biang tawuran adalah pelajar atau mahasiswa. Sedangkan kasus asusila, perkosaan yang menjadi aktor pelakunya adalah pelajar, mahasiswa atau justru orang yang dianggap tokoh masyarakat.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah tentu karena kualitas moral dan keimanan mereka yang lemah.  Hal ini terjadi umum di semua pelosok negeri ini. Kenapa kualitas moral dan keimanan bangsa ini lemah, tentu kita harus mengevaluasi kembali proses pendidikan yang membentuk karakter mereka.

Tentu kita merasakan bahwa proses pendidikan kita, disengaja atau tidak, telah tergiring lebih mengutamakan proses  kognitif  terhadap bahan pelajar. Lebih celaka lagi karena sekedar untuk mengejar nilai dan bisa lulus ujian, proses belajar yang dilakukan siswa hanya sekedar menghafal. Sejumlah pelajar memplesetkan sistem SKS sebagai sistem kebut semalam. Artinya mereka menghafal semalam saja pelajaran yang akan diuji besok. Setelah ujian mereka lupa lagi apa materi pelajaran yang sudah dipelajari.

Proses pendidikan yang terpadu, yaitu memberikan pengetahuan serta perubahan perilaku kepada peserta didik. Dengan demikian mereka tidak hanya memiliki pengetahuan, tapi juga memiliki karakter yang baik.

Secara nasional pentingnya pendidikan karakter telah disepakati dan disadari.  Konsensus tersebut diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.”

Dari bunyi pasal tersebut terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter.

Di Sumatera Barat pendidikan karakter telah dilakukan di sejumlah sekolah, di antaranya SMA 1 Padang Panjang, Yayasan Pendidikan Adzkia, Pesantren Ar Risalah, sejumlah SDIT dan berbagai pesantren lainnya di daerah ini.

Kata kunci kurikulum yang dilaksanakan adalah keterpaduan antara kognitif, afektif dan psikomotirik. Siswa tidak hanya dilatih untuk sekedar menghafal, tapi mempraktekkan dan membiasakan siswanya untuk melakukan syariat Islam seperti shalat, puasa, berbuat baik, jujur, disiplin, memahami adat dan budaya, memiliki nasionalisme dan seterusnya.

Alhamdulillah banyak pihak yang memuji bahwa kurikulum yang diterapkan memang mampu membentuk karakter lulusan sekolah tersebut. Di lapangan memang terbukti, lulusan sekolah tersebut seperti Adzkia, berbeda dengan sekolah lain umumnya. Masyarakat dari berbagai kalangan, kelompok bahkan berbagai partai politik, mengamanahkan putra-putri mereka untuk dididik di sekolah tersebut.

Alhamdulillah selama ini tidak ada komplain dari pihak manapun bahwa di dalamnya ada kepentingan politik. Karena memang tidak ada kepentingan politik di sana, dan memang tidak akan bisa dicampur adukkan. Membiasakan siswa melakukan ibadah bukan muatan politik, tapi semata untuk membina karakter siswa agar mereka sukses dunia dan akhirat. Insya Allah membangun karakter bangsa bisa dilakukan dari sini dan dimulai dari sekarang! (Mei 2012)

56. Menata Masa Depan

Menata Masa Depan

Dalam sebuah acara pelatihan motivasi bagi siswa SLTA semester terakhir di kota Payakumbuh baru-baru ini saya bertanya. Siapa yang ingin jadi orang sukses? Ternyata tak banyak yang berani mengacungkan tangan. Setelah saya mengulangi lagi pertanyataan yang sama, barulah satu per satu dengan ragu-ragu ada yang berani mengacungkan tangan.

Begitu juga ketika saya ajukan pertanyaan,”Siapa yang ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia?” Mereka melirik kiri-kanan. Setelah melihat banyak kawan-kawannya mengacungkan tangan, barulah mereka ramai-ramai ikut mengacungkan tangan bersemangat.

Sejumlah fakta dan hasil penelitian membuktikan mereka yang berhasil merumuskan cita-citanya, apalagi telah merancang masa depannya sejak dini, umumnya berhasil pula dalam karirnya. Jika seseorang bercita-cita sejak dini menjadi dokter, apalagi diikuti dengan kerja keras untuk mencapainya, umumnya mereka akan berhasil. Begitu juga dengan cita-cita di bidang profesi lainnya.

Jika kita punya tujuan (cita-cita) ingin ke Bukittinggi misalnya, maka tujuan kita sudah jelas, tinggal memilih bagaimana caranya untuk sampai ke Bukittinggi. Tapi jika kita tidak punya tujuan yang hendak dicapai, tidak tentu arah, tentu sulit untuk mencapainya.

Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya suka sekali menulis nama saya sebagai Prof. Dr. Irwan Prayitno. Sejak SMA saya sangat mendambakan memperoleh gelar profesor. Tentu saja saya tak sekedar berkhayal tanpa usaha. Saya belajar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai impian tersebut dan berhasil merebut gelar juara umum di SMA dan lalu diterima melanjutkan pendidikan di Universitas  Indonesia.

Alhamdulillah, mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan. Selanjutnya saya berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral bidang SDM di Malaysia dan berhak menyandang gelar Profesor setelah memenuhi sejumlah persyaratan yang dibutuhkan.

Tidak ada sebuah kesuksesan yang bisa diperoleh tanpa disengaja.  Tak ada orang sukses yang diperoleh secara cuma-cuma (gratis), tanpa dirancang dengan baik dan diperjuangkan secara serius. Jika ia seorang dokter yang sukses dan berprestasi, maka keberhasilan itu sudah ia perjuangkan sejak duduk di bangku SMA sehingga ia lolos ke fakultas kedokteran, lalu kuliah dengan serius dan kerja keras, merintis karir sebagai dokter. Jika prestasinya menonjol, barulah ia menjelma menjadi dokter yang sukses. Kisah sukses sebagai profesional di bidang lain apapun, juga karir di bidang apapun juga demikian.

Masa depan seseorang ditentukan sejak dini, makin cepat ia merancang masa depannya, makin baik dan makin besar peluangnya untuk menjadi orang sukses. Kesuksesan seseorang dalam karirnya tergantung pada kesungguhan dan kerja keras yang ia lakukan. Masa pendidikan SLTA, lebih baik lagi pada tingkat SLTP, adalah masa-masa penentuan sikap dan saat merancang masa depan.

Man jadda wa jada, begitu pepatah Arab mengatakan. Siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil. Tidak perlu malu bercita-cita setinggi langit, tidak ada yang tidak mungkin bisa diperloleh jika dilakukan dengan bersunguh-sungguh. Kunci terakhir sesudah bekerja keras tentu saja yang paling penting adalah berdoa. Ikhtiar dan doa adalah pasangan yang tak bisa dipisahkan.

Selamat mengikuti Ujian Nasional (UN) anak-anakku yang duduk di bangku kelas 3 SLTA.  Bekerja keras dan bersungguh-sungguhlah untuk mencapai hasil yang terbaik. Rancanglah masa depan kalian dari sekarang, jangan ragu dan malu untuk bercita-cita setinggi-tingginya. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang sukses, dunia dan akhirat. Amin. (Maret 2014)

57. Persiapkan Diri dari SLTP

Persiapkan Diri dari SLTP

Mengadakan reuni, bertemu dengan kawan-kawan lama yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa, tentu memberikan kesan tersendiri. Apalagi kawan-kawan tersebut termasuk teman dekat sama SMP atau SMA dulunya. Masa SMP atau SMA adalah masa remaja, banyak yang berpendapat masa-masa tersebut merupakan masa paling  indah dan berkesan sepanjang hidup.

Beberapa kali saya sempat mengikuti  reuni tempat saya dulu menimba ilmu, yaitu SMP 1 dan SMA 3 Padang.  Bagi saya, tentu juga bagi teman-teman lainnya, merupakan sebuah surprise bertemu kawan-kawan lama yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. Canda tawa pun segera bergemuruh memenuhi gedung pertemuan, ramai seperti pasar saja layaknya. Masing-masing saling berbagi cerita, baik pengalaman selama puluhan tahun tidak bertemu, maupun cerita tentang  masa lalu.

Lebih berkesan lagi saat bertemu dengan guru-guru yang dulu mengajar kami berbagai mata pelajaran, baik matematika, bahasa Inggris, IPA dan lainnya. Kami juga punya kisah tersendiri dengan masing-masing guru yang juga menarik untuk dijadikan bahan cerita dengan teman-teman lama. Guru-guru juga tampak bahagia dan haru bertemu dengan kami. Tentu beliau juga punya kesan tersendiri pula tentang kami. Di antara kami ada yang baik dan banyak juga yang usil dan agak bandel.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian dan menjadi catatan yang terlintas pikiran saya, yaitu saat kedatangan mereka tadi. Sebagian ada yang datang menggunakan angkot, sebagian ada juga yang datang menggunakan ojek atau jalan kaki. Namun sebagian lagi datang menggunakan kendaraan pribadi seperti kijang dan sejenisnya. Tapi ada juga yang diantar oleh sopir, menggunakan mobil yang lebih bagus sejenis camry dan lainnya.

Tentu saja bukan maksud saya untuk membeda-bedakan status sosial mereka, tetapi saya langsung teringat dan terhubung dengan latar belakang mereka. Oh… itu kan si Anu yang dulu sering juara kelas atau pernah juara umum. Ia dulu memang terkenal rajin dan ulet. Setelah tamat SMA dia diterima di ITB, lalu bekerja di perusahaan  yang cukup bonafid. Tak heran sekarang hidupnya terlihat mapan.

Atau sebaliknya, oh… itu kan si Anu, yang nakal, dan suka bolos. Ia terkenal malas, nilai rapornya hancur berantakan, ia terkenal langganan jadi juru kunci di kelas. Jangankan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi favorit, untuk bisa lulus SMA pun sangat sulit baginya. Jika sudah begitu, tentu sulit pula baginya untuk menata masa depan yang lebih baik dan wajar pula kehidupannya tak sebaik contoh alumnus di atas.

Peluang kerja  atau peluang untuk berkarir, memang semakin hari semakin sulit dan ketat. Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan makin sulit dan persaingan makin ketat. Begitu juga untuk mengembangkan karir, kualitas individu sangat menentukan agar bisa lolos dan berkembang. Boleh dikatakan seperti lolos dari lubang jarum.

Lihat saja fenomena yang terjadi saat penerimaan CPNS di Sumatera Barat tahun lalu. Para pelamar yang mendaftar ada puluhan ribu orang, namun yang dibutuhkan dan diterima hanya beberapa ratus orang saja. Begitu juga saat penerimaan pegawai di PT Semen Padang, jumlah pelamar juga puluhan ribu orang, namun yang dibutuhkan dan diterima hanya seper sepuluh ribunya saja.

Lalu bagaimana agar bisa lolos dalam persaingan yang ketat itu? Kuncinya adalah mempersiapkan diri sejak dini, sejak dari bangku sekolah, terutama SLTP dan SLTA . Jika basis sesesorang kuat saat duduk di bangku  SLTP dan SLTA, maka ia akan lolos untuk masuk perguruan tinggi favorit yang diinginkannya.  Jika lulus dari perguruan tinggi tersebut, apalagi jika prestasinya juga baik, maka tidak lagi ia yang mencari pekerjaan, sebaliknya pekerjaan yang mencarinya.

Karena itu saya berpesan kepada anak-anakku yang sedang duduk di bangku SLTP dan SLTA dan sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional (UN), persiapkan diri kalian untuk masa depan yang lebih baik dari sekarang. Masa remaja memang merupakan masa pancaroba yang penuh godaan, tantangan dan ujian.

Namun kita harus melalui semua itu agar jadi pemenang (the winner), bukan pecundang (the looser) di masa datang.  Strategi untuk memasuki lapangan kerja bukan dimulai saat menulis lamaran kerja, tapi dimulai saat kalian duduk di bangku SLTP dan SLTA. Tentu saja kewajiban orang tua adalah membimbing mereka dan memberi motivasi  agar mereka selalu di jalan yang benar (on the track). Selamat berjuang, semoga sukses. (April 2014)

58. Teaching With Love

Teaching With Love

                               

Saat masih duduk di bangku sekolah adalah masa indah yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Persahabatan yang terjalin indah dengan banyak teman, kompak, akrab, penuh canda tawa, melakukan kegiatan kesenian, olahraga dan berbagai kegiatan lainnya, memperkaya pengalaman bathin. Tentu saja yang paling berkesan adalah proses belajar mengajar dan guru-guru yang tulus ikhlas mendidik kami. Pengalaman itu terus membekas dan menjadi bekal yang sangat berharga untuk merintis masa depan.

Dulu, sekitar tahun 70-80 an, kami sangat merasakan betapa guru-guru saat itu mengajar dengan tulus dan sepenuh hati. Memang terkadang mereka terkesan galak,  pemarah dan tegas, tapi kami paham maksudnya, benar-benar agar murid-murid serius belajar, agar pelajaran yang diajarkan betul-betul terpatri di otak peserta didik.

Hingga kini, setelah 40 tahun berlalu, bekal ilmu yang diberikan guru-guru kami tersebut masih berbekas dalam hati dan pikiran, menjadi bekal yang tak ternilai dalam meniti karir sepanjang hidup. Hingga kini, kami selalu rindu untuk bisa berkumpul dengan guru-guru yang umumnya telah tua dan pensiun. Kami sangat menghormati mereka, betul-betul seperti orang tua sendiri. Beberapa di antaranya telah dipanggil menghadap Sang Khalik, doa selalu kami kirimkan untuk beliau.

Mungkin itulah yang dimaksud Prof. DR. Theodoro Llydon C Bautista dengan istilah “Teaching With Love”. Tema itu dibahas profesor dari University of Philipine ini atas prakarsa STKIP Adzkia di aula BI pekan lalu.

Lebih lanjut menurut profesor muda yang baru berusia 40 tahun ini, murid yang dididik dengan rasa cinta dan kasih sayang (Teaching With Love) juga akan memberikan cinta dan kasih sayang kepada lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Saat terjadi bencana besar gempa dan tsunami di Jepang tahun lalu ada belasan ribu warga yang meninggal, ratusan ribu warga menggungsi dan kehilangan tempat tinggal. Suasana waktu itu sungguh-sungguh kacau dan tak bisa dicerna oleh pikiran yang waras.

Namun untunglah ada sekitar 300.000 relawan dari berbagai perguruan tinggi di Jepang terjun langsung ke lokasi bencana. Mereka dengan sukarela ikut membantu dan dengan cinta dan kasih sayang merawat dan menangani para korban yang umumnya lansia dan anak-anak. Musibah itu akhirnya bisa diatasi dengan baik tanpa banyak masalah.  Cinta dan kasih sayang itu telah ditumbuhkan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.

Bautista juga mencontohkan beberapa pemukiman kumuh, daerah-daerah bronx dan miskin di Filipina berhasil ditata menjadi pemukiman asri dan nyaman. Semua itu berhasil dilakukan dengan kerjasama, kepedulian dan kasih sayang sesama manusia.

Kini, banyak orang tua murid yang mengeluhkan tak banyak lagi guru yang mengajar dengan cinta, kasih sayang dan ketulusan (Teaching With Love) seperti dulu. Guru seolah-olah mengajar hanya sekedar menjalan tugas. Siswa sering terlantar karena guru sangat sibuk, menyelesaikan kuliahnya, mengurus akreditasi, mengurus BOS, sampai mengurus pembangunan fisik sekolah dan urusan-urusan lain yang di luar kewajiban mereka.

Ada kekhawatiran fenomena inilah yang merupakan salah satu penyebab seringnya timbul tawuran bahkan yang sangat tragis, yaitu adanya pelajar yang sampai membunuh pelajar lain. Subhanallah…

Apakah apa yang dikeluhkan masyarakat itu benar terjadi? Guru tak lagi Teaching With Love seperti dulu?  Tentu perlu dievaluasi lagi. Jika memang terjadi, tentu harus segera diperbaiki. Tentu kita ingin mencegah dan memperbaiki agar hal-hal yang lebih buruk tidak terjadi lagi, sebelum terlanjur. Kita semua tentu tidak ingin kehilangan generasi masa depan (lost generation), itu disebabkan karena kesalahan dan dosa kita. Mari berubah dan lakukan yang terbaik. Tanggung jawab itu berada di pundak kita bersama. (November 2012)

 

 

BAB 4  INSPIRASI DI BIDANG AGAMA

59. Masjid

Masjid

Sebuah pertanyaan menarik dan menggelitik pikiran saya dilontarkan oleh mantan Wakil Presiden RI HM. Yusuf Kalla saat melantik Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatera Barat di Auditorium Gubernuran tahun 2012 lalu. Pertanyaannya  adalah kenapa mall ramai setiap hari, sementara masjid sepi, atau kalau ramai paling di waktu-waktu tertentu saja?

Jawabannya sederhana saja, mall menawarkan jasa one stop service, satu tempat menawarkan berbagai fungsi dan kebutuhan. Survei membuktikan bahwa hanya 20 persen saja pengunjung mall datang khusus untuk belanja. Selebihnya mereka datang untuk kepentingan lain, seperti bertemu seseorang/relasi , makan dan ngopi atau sekedar rekreasi dan cuci mata (window shoping). Suasana mall juga diciptakan sedemikian rupa sehingga nyaman, menyenangkan dan bersih, sehingga pengunjungnya ramai, betah di sana dan akhirnya belanja juga.

Idealnya masjid juga memakai konsep demikian, tidak hanya untuk satu kebutuhan saja, tapi juga multi fungsi (one stop service) dan juga perlu diciptakan suasana  senyaman mungkin.  Jika di tempat lain, orang melakukan perjanjian atau perundingan bisnis di mall, seharusnya hal serupa juga bisa dilakukan di masjid. Jika selama ini masyarakat melakukan seminar dan diskusi di hotel, bukan tidak mungkin juga bisa dilakukan di masjid. Begitu juga dengan acara lain, seperti pernikahan, syukuran dan sebagainya,  bisa dilakukan di masjid. Masjid tidak hanya berfungsi tunggal sebagai tempat shalat, tetapi juga untuk kemaslahatan umat.

Di sejumlah tempat fungsi-fungsi tersebut telah diterapkan, sebagian kecil penduduk telah menjadikan masjid sebagai tempat acara pernikahan sehingga nuansa keagamaannya lebih terasa. Di sejumlah tempat, masjid juga telah dilengkapi dengan pustaka, tempat berdiskusi, bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat. Di sejumlah tempat, selain memiliki TPA dan MDA, masjid juga memiliki tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dengan demikian anak terbiasa dengan suasana masjid sejak usia dini.

Namun fungsi-fungsi tersebut belum optimal, masih dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat saja. Kegiatan ini masih bisa ditingkatkan lagi, sebagai salah satu cara memakmurkan masjid.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tentu saja fasilitas masjid perlu dilengkapi, manajemen masjid juga perlu dibenahi. Kebersihan juga menjadi hal yang sangat penting, karena dalam Islam sendiri jelas-jelas diajarkan bahwa kebersihan adalah sebagan dari iman. Tentu saja masalah kebersihan bukan tanggung jawab pengurus masjid saja, tetapi tanggung jawab bersama.

Satu hal lagi yang penting diperhatikan menurut Pak Yusuf Kalla (JK) adalah masjid bisa memberikan dampak ekonomis terhadap lingkungan sekitarnya. Masjid bisa menjadi makmur, bersih dan lengkap fasilitasnya karena didukung oleh masyarakat sekitarnya yang mempunyai kehidupan ekonomi yang cukup kuat pula. Masjid jika memiliki lembaga keuangan yang baik, tentu bisa membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitarnya. Pak JK telah mengajak sejumlah Bank Syariah untuk mendirikan kantornya di masjid. Sejumlah bank menyatakan setuju dan InsyaAllah dalam waktu dekat sejumlah Bank Syariah akan berkantor di masjid.

Saya sepakat dengan pendapat Pak JK, fungsi masjid memang harus dikembangkan dan dimaksimalkan. Apa yang dimaksud dengan Islamic Center harus bisa diwujudkan. Masjid harus dijadikan pusat kegiatan umat Islam, baik untuk kegiatan keagaman, sosial kemasyarakatan maupun kegiatan ekonomi. Saya sendiri sudah lama berniat dan mengumumkan akan juga berkantor di Masjid Raya Sumbar. Pendekatan keagamaan, baik dalam pemerintahan, kebudayaan maupun ekonomi kemasyarakatan adalah pilihan terbaik yang telah terbukti keampuhannya.

Mari kita makmurkan masjid kita dan kita benahi manajemennya, kedekatan masyarakat  dengan masjid (surau) telah menjadi jati diri masyarakat Minangkabau sejak dulu. (November 2012)

60. Mencintai Masjid

Mencintai Masjid

 

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mendorong umat Islam untuk lebih giat beribadah. Masjid kembali ramai setelah sebelas bulan sebelumnya tidak seramai di bulan Ramadhan. Karena lebih sering ramai di bulan Ramadhan, maka sering kali terjadi kegaduhan oleh anak kecil maupun remaja. Mereka gaduh mungkin karena senang dan nyaman di masjid.

Namun bagi orang tua maupun orang dewasa, kegaduhan di masjid bisa mengurangi ketenangan beribadah. Untuk itu, perlu ada pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak dan remaja agar mereka bisa tertib dan menjaga ketenangan beribadah.

Kegaduhan anak-anak dan remaja jika dilihat lagi bukanlah hal negatif, bahkan bisa dijadikan hal positif. Anak-anak dan remaja memang seharusnya sudah mengenal dan berinteraksi dengan masjid. Semakin mereka kenal dengan masjid, maka seharusnya mereka akan tenang dan khusyuk dalam beribadah, bukan membuat gaduh.

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (1)Pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabbnya, (3) Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul dan berpisah karena Allah pula, (5) Seorang lelaki yang diajak zina oleh wanita yang kaya dan cantik tapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta (7) Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (Shohih Bukhari, Hadits no 620).

Berdasarkan hadits di atas, maka seharusnya remaja dan pemuda mencintai masjid karena balasannya yang luar biasa di akhirat nanti. Jangan sampai mereka mencintai masjid ketika sudah tua. Maka di sini peran orang tua juga penting untuk mendorong anak-anaknya mencintai masjid. Perlu inovasi dan kebijakan tertentu dari orang tua dan pengurus masjid agar menjadikan remaja dan anak-anak mencintai masjid.

Peran orang tua juga cukup besar. Ini sesuai dengan hadits Nabi tentang peran orang tua terhadap anaknya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanyalah yang menjadikan dia seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” Kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Hukum-hukum) ciptaan Allah tidak dapat diubah. Itulah agama yang benar. Tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS Ar Rum [30]:30) (HR Bukhari).

Semoga momentum Ramadhan ini, sebagai orang tua kita bisa menjadikan anak-anak kita sebagai pribadi yang mencintai masjid, dan bagi pemuda dan remaja bisa termotivasi untuk senantiasa mencintai masjid dalam arti yang luas. (Juli 2012)

61. MTQ

MTQ

Usai shalat subuh, jarum jam di tangan saya menunjukkan pukul 05.15. Kota Padang masih gelap dan sepi, namun cuaca nampaknya sangat bersahabat, tak ada mendung menggantung di langit, angin bertiup pelan, sepoi-sepoi.

Kami bersama  ketua DPRD Sumbar Ir. Yultekhnil, MM langsung meluncur menuju dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bungus, membelah kegelapan menjelang fajar. Di dermaga TPI ternyata sudah menunggu Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet, Kakanwil Kemenag Ismail Usman, Kabiro Binsos Jefrinal Arifin, Kabiro Humas Irwan serta sejumlah tamu lainnya.

Dua kapal motor sudah disiapkan, yaitu KM Rimata dan KM TV One (sumbangan dari donatur TV One). Tanpa banyak komentar lagi, kami segera angkat sauh menuju Muara Siberut, Kabupaten Mentawai, sekitar 100 mil dari pulau Sumatera.

Lebih dari 3 jam kami di kapal, perjalanan yang cukup melelahkan. Waktu tiga jam lebih tersebut saya manfaatkan untuk berdiskusi dengan bupati Mentawai tentang berbagai masalah di kabupaten lepas pantai barat Sumatera itu. Banyak hal yang bisa kami bahas dan kami simpulkan. Saat merapat di dermaga Muara Saibi ternyata Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit dan Bupati Tanah Datar M Shadiq Pasadigue telah duluan sampai di sana, mereka datang dengan kapal khusus milik Dinas Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan.

Hari itu memang merupakan hari istimewa bagi kabupaten seluas 6.011,35 km2, berpenduduk 68.097 jiwa ini. Senin, 3 Desember 2012 merupakan hari pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-4 Kabupaten Mentawai, yang kali ini dipusatkan di Muara Siberut, Ibu Kecamatan Siberut Selatan.  Karena itu, meski harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, saya sendiri, Ketua DPRD Sumbar, Bupati dan Kakanwil Kemenag, serta sejumlah pejabat lainnya hadir langsung pada acara tersebut.

Yang patut diapresiasi dalam peristiwa ini adalah tingginya toleransi beragama masyarakat Mentawai. Mayoritas penduduk Mentawai beragama Katolik dan Bupati Mentawai juga bukan seorang muslim, namun MTQ di Mentawai bisa terlaksana dengan baik. Hal ini tentu saja akibat terbangunnya toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang baik.

Ketentraman umat beragama bisa tercabik-cabik akibat hasutan pihak ketiga. Ambon misalnya, perpecahan bahkan pertumpahan darah yang memilukan terjadi di sana akibat hasutan pihak ketiga. Hal ini terjadi akibat lemahnya kekompakan umat beragama sehingga bisa dimasuki dan diadu domba oleh pihak ketiga.

Saat pelaksanaan MTQ nasional tahun lalu di Ambon, kerukunan umat beragama itu kembali dijalin. MTQ Nasional di Ambon berjalan sukses dan aman, persatuan antar umat beragama kembali digalang, bahkan sejumlah lagu yang ditampilkan saat acara pembukaan dibawakan oleh paduan suara gereja. Sungguh indah sebuah kebersamaan.

Semua agama bertujuan baik dan mengajarkan hal-hal yang baik kepada semua pemeluknya. Tidak satupun agama yang mengajarkan pemeluknya untuk berbuat kejahatan. Karena itu tidak ada alasan yang menyebabkan terjadinya perpecahan antar umat beragama. Di zaman Nabi Muhammad SAW, zaman kejayaan Islam adalah saat terbangunnya masyarakat Madani di Madinah. Masyarakat madani ditandai dengan terjadinya kerukunan dan toleransi yang tinggi antar umat beragama.

Peristiwa MTQ menjadi penting karena MTQ memotivasi masyarakat, khususnya umat Islam, untuk terbiasa dan dekat dengan Al Quran. Setelah terbiasa membaca Al Quran diharapkan mereka berangsur-angsur memahami isi Al Quran. Pada akhirnya setelah mereka paham dengan isi Al Quran, mereka lalu mengamalkan ajaran yang terkandung dalam Al Quran tersebut. Jadi, MTQ tidak selesai hanya sebatas lomba.

Tentu saja sangat aneh dan tidak masuk akal jika ada satu kontingen yang kasak-kusuk, menghalalkan segala cara agar bisa menjadi juara MTQ.  Berita seperti ini sudah sering terdengar terjadi di daerah lain. Nauzubillah bin zalik !!! Kita tentu tidak menginginkan hal memalukan itu juga terjadi di Sumatera Barat.

Alhamdulillah pembukaan MTQ Mentawai berjalan lancar, usai shalat Zuhur yang dijamak dengan Ashar kami bertolak kembali ke Padang. Menjelang magrib kami merapat di dermaga TPI Bungus. Dalam perjalanan pulang suara azan terdengar berkumandang, saya berbuka puasa di mobil dengan air putih. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah semoga perjalan kami hari ini bermanfaat bagi masyarakat Mentawai, Sumbar pada umumnya dan menjadi ibadah bagi kami semua. Amin.” (Desember 2012)

62. Bulan Al Quran

Bulan Al Quran

 

Bulan Ramadhan disebut juga sebagai Syahrul Quran, bulan turunnya Al Quran. Rasulullah SAW ketika di bulan Ramadhan melakukan tadarus Al Quran bersama Jibril. “Adalah Jibril menemui Rasulullah tiap malam dalam bulan Ramadhan dan bertadarus Al Quran” (HR Bukhori).

Al Quran juga menjelaskan tentang Syahrul Qur’an ini. “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS Al Baqarah: 185).

Sebagai petunjuk bagi manusia, maka Al Quran bisa menjadi rujukan bagi umat manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya. Mungkin kita pernah mengetahui atau membaca di media beberapa waktu lalu, mantan perdana menteri Inggris Tony Blair mengakui bahwa ia tiap hari membaca Al Quran. Ia membaca Al Quran bukan dalam kapasitas sebagai muslim, tetapi untuk memahami berbagai hal yang terjadi di dunia dan juga karena Al Quran sangat instruktif, serta dalam rangka tugas barunya sebagai utusan Timur Tengah bagi PBB, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Rusia.

Sebagai umat Islam, kita perlu mencontoh kebiasaan Tony Blair ini dikaitkan dengan tanggung jawab kita sebagai muslim. Sebagai muslim yang menjadikan Al Quran sebagai petunjuk hidup, agak aneh kalau tidak mengetahui isi Al Quran. Saat ini sudah banyak terjemahan Al Quran dengan berbagai bahasa. Ketidaktahuan kita tentang isi Al Quran ini akan menyebabkan sulitnya menyampaikan ajaran Islam yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan universal.

Di bulan Ramadhan ini, dengan balasan yang berlipat ganda, motivasi membaca Al Quran seharusnya sudah menjadi orientasi umat Islam. Kedekatan kita kepada Al Quran juga merupakan salah satu sebab turunnya pertolongan Allah SWT kepada kita. “Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).

Perlu kita sadari bahwa kewajiban membaca Al Quran itu bukanlah berada pada para ustadz, kiyai, ulama, dai, mahasiswa sekolah agama atau guru/dosen sekolah agama, akan tetapi merupakan kewajiban untuk seluruh umat Islam. Apa artinya beriman kepada Al Quran tetapi tidak pernah membacanya dan tidak mengetahui isinya.

Sebagai umat Islam yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, maka kebiasaan tadarus Al Quran Rasulullah SAW di bulan Ramadhan seharusnya memotivasi kita untuk mengamalkan sunnah tersebut. Membaca Al Quran justru membuat kita semakin modern, semakin maju. Dan membaca artinya/tafsirnya membuat hidup kita lebih terarah. Bukankah Rasulullah SAW dan sahabat telah membuktikan hal tersebut? ”Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW dan sahabat adalah orang-orang yang senantiasa membaca Al Quran setiap hari. Imam Abu Hanifah, di bulan Ramadhan mampu mengkhatamkan Al Quran 90 kali. Sementara Imam Syafi’i 60 kali. Di bulan Ramadhan, kita diperbolehkan untuk khatam Al Quran sebanyak mungkin. Sementara di luar Ramadhan, Rasulullah SAW membatasi mengkhatamkan Al Quran paling cepat 3 hari (10 kali dalam sebulan). Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu membaca, mempelajari, mentaati dan mengajarkan Al Quran. (Agustus 2011)

63. 7 Amalan di Bulan Ramadhan

7 Amalan di Bulan Ramadhan

 

Bulan Ramadhan sering juga disebut bulan penghulu dari sekalian bulan. Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa, karena Allah berjanji akan membersihkan dosa manusia yang benar-benar ingin bertaubat.

Karena itu Nabi Muhammad SAW selalu menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan suka cita, sebaliknya beliau menangis ketika Ramadhan cepat berlalu. Rugi jika bulan Ramadhan tidak dimanfaatkan sebaik mungkin, karena semua amal di bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan lain.

Ada 7 amalan penting yang bisa dilakukan selama bulan Ramadhan agar manusia kembali fitrah di akhir Ramadhan nanti, yaitu;

  1. Membaca Al Quran. Bulan Ramadhan adalah bulan Al Quran sesuai dengan sunnah Nabi SAW, Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan di antara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan Al Quran di hadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus.”

Haditst tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus Al Quran, dan mengadakan ijtima`/berkumpul dalam majlis Al Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar Al Quran bisa dilakukan di di hadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal Al Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca Al Quran di malam hari.

  1. Menahan hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Yaitu dengan mengurangi makan ketika berbuka serta tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah haditst dikatakan “Tidak ada perkara yang lebih buruk dari pada memenuhi isi perut dengan makanan secara berlebihan”. Ruh puasa terletak pada memperlemah syahwat, mengurangi keinginan dan mengekang nafsu.
  2. Berdoa ketika berbuka puasa. Abu Hurairah RA berkata: bersabda Rasulullah SAW: Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak doanya, mereka itu adalah: orang puasa yang berdoa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil dan doa orang yang teraniaya”.
  3. Qiyamullail (Tahajjud ). Sholat Tarawih hukumnya sunat menurut kesepakatan para ulama juga disunatkan untuk mengkhatamkan al-Qur’an selama shalat tarawih. Hadits-hadits yang menerangkan tentang qiyamullail adalah: Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa menghidupkan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan mendapatkan ridho Allah SWT semata, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau”.
  4. Berlomba-lomba dalam bersedekah. Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi: “Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim).
  5. Iktikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan. Iktikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan merupakan penyempurna ibadah puasa. Ini karena Iktikaf artinya mengkonsentrasikan diri menghadap Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya. Hingga kecintaannya semata hanya kepada Allah, mengalahkan kecintaannya kepada selain Allah
  6. Menjauhi Larangan Agama: Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang mukmin adalah menjaga lisan dalam keadaan berpuasa sebagaimana yang dipesankan Rasulullah s.a.w: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan ghibah maka tiada artinya di sisi Allah baginya berpuasa dari makan dan minum” (HR: Bukhari). Berkata Ibnu Battal: Bukan berarti kemudian ia meninggalkan puasa, tapi ini merupakan peringatan agar meninggalkan perkataan dusta dan ghibah. (Juli 2011)

64. Agar Puasa Lebih Bermakna

Agar Puasa Lebih Bermakna

Dalam ajaran Islam telah sering dijelaskan bahwa puasa merupakan pilar agama Islam yang sarat dengan muatan-muatan hikmah. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu, banyak menguak hikmah dan muatan filosofis yang terkandung dalam ibadah yang satu ini. Ada yang meninjaunya dari perspektif kesehatan, manajemen, psikologi, ekonomi, sosiologi, etika sosial, dsb.

Dengan analisis itu, puasa disimpulkan dapat membuat orang menjadi sehat, baik jasmani maupun rohani, puasa dapat meningkatkan kedisiplinan, membentuk insan yang jujur, berkepribadian luhur, mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, dapat melahirkan pencerahan etika dan perilaku positif. Tidak cuma itu, puasa dapat meningkatkan etos kerja dan produktifitas, bahkan dapat mewujudkan pencerahan spiritual dan intelektual.

Namun, apakah hikmah puasa yang berlimpah itu tercapai di akhir Ramadhan nanti, sehingga puasa mempunyai dampak terhadap pencerahan perilaku, pembangunan manusia yang sehat fisik dan mental, jujur, berdisiplin, mempunyai kepekaan sosial, etos kerja tinggi, produktif, dan sebagainya?.

Anehnya, masih banyak orang yang berpuasa, kesehatannya justru semakin menurun. Pasca Ramadhan ia selalu ke rumah sakit karena gangguan kesehatan. Kejujuran tetap dikesampingkan, kolusi dan korupsi masih dipraktekkan, etos kerja melempem, produktifitas menurun, semangat mengamalkan ajaran agama menjadi luntur, pencerahan spritual dan intelektual menjadi gelap, jiwa kepekaan sosial menjadi pekak, bekerja tetap tidak disiplin, kurang menghargai waktu, dsb.

Jika demikian, benarlah apa yang pernah dituturkan oleh Nabi kita, “Betapa banyak orang puasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat di malam hari, tetapi tidak mendapat apapun kecuali sekedar mengantuk akibat bangun malam” (HR. Ad-Darimi).

Memang,  Islam selalu unggul dalam ajaran yang kaya hikmah atau makna filosofis. Namun sangat disayangkan, selalu saja terjadi kesenjangan antara muatan hikmat yang holistik itu dengan praktek yang ditemui di lapangan. Misalnya, Islam adalah agama yang sangat intens mengajarkan kebersihan, namun masih banyak ummat Islam yang akrab dengan lingkungan kotor. Islam adalah agama yang sangat menekankan kedisiplinan, tetapi ummat Islam lah yang banyak melanggar disiplin dan membuang-buang waktu. Islam adalah agama yang syarat mengajarkan urgensi membaca dan menuntut ilmu, tetapi ternyata ummat Islam lah yang malas membaca dan belajar, sehingga terbelenggu dalam bingkai keterbelakangan dan kebodohan. Islam mengajarkan etos kerja secara mengesankan, tetapi umat islam lah yang masih banyak bermalas-malasan. Puasa dalam Islam mengandung segudang hikmah, namun realitas selalu berbeda dengan tujuan hikmah tersebut.

Inilah kesenjangan-kesenjangan antar ideal (das sein) dan faktual (das solen). Upaya pelacakan faktor-faktor terjadinya kesenjangan itu disebut dengan evaluasi, yaitu penilaian kembali ibadah puasa yang telah dilaksanakan. Evaluasi maupun introspeksi, merupakan keniscayaan dilakukan, demi perbaikan dan peningkatan kualitas ibadah di masa depan dan pada gilirannya merefleksikan implikasi positif secara vertikal dan horizontal.

Selamat menunaikan ibadah puasa, mari kita melakukan introspeksi (muhasabah), semoga puasa dan segala amal ibadah kita tahun ini menjadi lebih bermakna dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin. (Juli 2011)

65. Bulan Pembentukan Karakter

Bulan Pembentukan Karakter

Pernahkah kita memperhatikan tingkah laku hewan ternak? Ayam, misalnya. Hanya butuh waktu beberapa hari saja melatihnya. Maka ia segera tahu dimana kandang yang harus dia tuju, dan  segera setiap sore tanpa diperintah lagi dia akan pulang dan masuk ke kandangnya. Mereka juga tahu dimana tempat makannya. Mereka juga tahu memilih makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh  mereka dan menghindari makanan yang akan mencelakakan mereka.

Banyak contoh-contoh hewan yang memperlihatkan kepatuhannya dengan memberikan latihan pembiasaan terhadap mereka. Burung beo misalnya, setelah dilatih, ia segera bisa mengucapkan salam kepada setiap ada tamu yang datang. Beo juga senang dan tak lupa mengucapkan kata selamat pagi kepada tuannya saat memberinya makan setiap pagi.

Kucing juga demikian, ia tidak akan buang kotoran sembarangan setelah dilatih, dan selalu menimbun kotorannya dengan tanah. Hal itu selalu ia lakukan dengan teratur. Begitu juga anjing, kuda, burung merpati, gajah, ikan lumba-lumba dan banyak lagi contoh hewan lain yang bisa dilatih dengan cara pembiasaan dan kebiasaan itu selalu melekat dalam diri mereka dan takkan pernah mereka lupakan selamanya.

Mungkin itu pula yang diinginkan Allah kepada manusia di bulan Ramadhan.  Puasa melatih dan membiasakan manusia menahan lapar dan dahaga di siang hari selama sebulan penuh. Seharusnya kebiasaan itu bisa melatih manusia agar tidak makan dan minum secara berlebihan, melatih manusia untuk mengendalikan nafsu makannya secara berlebihan. Kita tahu bahwa makan berlebihan dan tidak terkendali akan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, asam urat, jantung koroner dan lain-lainnya.

Puasa juga melatih manusia untuk menjaga sikap dan perbuatan dan perkataan mereka  agar melakukan hal-hal yang baik. Sikap dan perbuatan yang baik tentu memberikan nilai tambah yang baik bagi orang lain. Menjaga ucapan dan perkataan yang baik tentu saja menyenangkan bagi orang lain tidak menimbulkan saki hati dan merugikan orang lain. Sebaliknya sikap tersebut menimbulkan simpati kepada mereka pelakunya. Subhanallah, sungguh mulia agama Islam. Allah sebagai Khaliq Maha Tahu dengan apa yang terbaik untuk umatnya.

Kesimpulannya, jika dalam bulan Ramadhan, selama sebulan penuh kita benar-benar berlatih untuk mengendalikan makan-minum, hawa nafsu, maka di akhir Ramadhan dan seterusnya seharusnya sudah terlihat hasil dan perubahannya. Jika selama sebulan penuh kita berlatih untuk melakukan shalat, termasuk shalat malam (qiyamulail), seharusnya di akhir Ramadhan seharusnya ada perubahan dan perbaikan. Bulan selanjutnya seharusnya ada perubahan, kita seharusnya sudah terbiasa melakukan shalat wajib, shalat sunat serta shalat malam.  Jika hewan bisa dilatih dan dibiasakan seharusnya manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan dilengkapi dengan akal dan pikiran bisa melakukannya secara lebih baik.

Jika selama bulan Ramadhan kita melatih sikap dan perkataan yang baik secara serius dan sungguh-sungguh, maka setelah berlatih sebulan penuh seharusnya sikap tersebut terus tertanam dalam diri kita dan mejadi perilkaku sehari-hari. Selanjutnya jika terus dibina dan terus diperbaiki maka ia akan menjadi karakter kita seumur hidup.

Jika semua perubahan dan perbaikan itu tidak kita peroleh dan tidak kita upayakan selama bulan Ramdhan, maka benar apa yang dikhawatirkan Nabi Muhammadi SAW akan jadi kenyataan :  “tidak ada yang dapat mereka peroleh setelah selama bulan penuh berpuasa kecuali sekedar merasakan haus dan lapar”. Sungguh sayang dan rugi jika kesempatan “berlatih” sekali setahun tersebut tidak kita manfaatkan sebaik mungkin.  Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi tersebut. Amin. (November 2013)

66. Bulan Pembinaan SDM

Bulan Pembinaan SDM

 

Ramadhan merupakan bulan pembinaaan SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas. Saat ini menilai SDM berkualitas umumnya dilihat dari jejak rekam profesionalitas seseorang yang berwujud kerja fisik dan pemikiran semata. Padahal, jika melihat sejarah keNabian, SDM berkualitas dilahirkan dari orang-orang yang mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.

Apakah sunnah Rasulullah SAW tersebut? Di antaranya adalah sholat wajib berjamaah, sholat dhuha, sholat tahajud, puasa sunnah (dan juga yang wajib), membaca dan menghafal Al Quran, i’tikaf, dan bersedekah. Di bulan Ramadhan, amalan-amalan sunnah tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT. Maka para sahabat pun berusaha untuk melipatgandakan amalan tersebut, seperti khatam Quran berkali-kali dalam bulan Ramadhan serta melipatgandakan sedekah mereka.

Kesuksesan pelaksanaan Ramadhan ini tidak akan serta merta berdiri sendiri, akan tetapi ada pengiringnya. Seseorang akan bisa sukses di bulan Ramadhan jika ia melaksanakan berbagai amalan jauh sebelum Ramadhan sehingga sudah mengalami pembiasaan. Seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunnah dan senantiasa membaca Al Quran dengan rutin, maka di bulan Ramadhan ia akan lebih mendapatkan hasil yang maksimal.

Rasulullah SAW sendiri ketika menjelang Ramadhan meningkatkan amalan puasanya. “Sesungguhnya A’isyah berkata: “Tidak ada bulan yang Rasulullah SAW banyak melakukan puasa sunnah selain Sya’ban, sungguh beliau telah melakukan seluruh puasa sunnah di bulan Sya’ban” (HR Bukhari). Adapun sebab Rasulullah SAW memperbanyak amalan puasanya adalah, “Itulah bulan yang dilalaikan manusia yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan yang padanya amal perbuatan diangkat kepada Rabbul-’Aalamiin. Dan aku senang seandainya amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa”  (HR An-Nasa’i).

Sementara di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW meningkatkan pula amalannya. Bahkan tadarus Al Quran pun ditemani oleh malaikat Jibril. Dari Ibnu Abbas ra. Berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al Quran. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus”. (Shahih Al Bukhari).

Para sahabat selalu berusaha mengikuti amalan dan sunnah Rasulullah SAW tersebut karena mereka meyakini hal itu merupakan hal terbaik yang harus dilaksanakan. Hasilnya, kita bisa melihat bahwa sahabat yang dibina oleh Rasulullah SAW kelak menjadi orang-orang yang amanah dalam jabatannya, peduli dengan ummat dan senantiasa mengajak kebaikan dan berdakwah hingga ke berbagai tempat. Padahal sebelumnya, para sahabat itu ketika di masa jahiliyahnya banyak bergelimang dosa dan  tidak memiliki kecakapan.

Di bulan Ramadhan, Rasulullah juga membina fisik para sahabatnya karena banyak peperangan dilakukan di bulan Ramadhan. Dan dengan izin Allah, peperangan yang dilakukan di bulan Ramadhan selalu beraih kemenangan. Ini juga akibat usaha mereka untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT baik dalam menjaga rohani dan jasmani serta pikiran.

Kita yang hidup saat ini pun bisa mencontoh pembinaan SDM yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Insya Allah, kita bisa menjadi SDM yang berkualitas dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW tersebut tanpa mengurangi kepiawaian kita di suatu bidang, bahkan justru meningkatkan kepiawaian kita. Ramadhan adalah tempat untuk meningkatkan amalan. Namun di luar Ramadhan, amalan tersebut harus senantiasa dilakukan agar terjaga konsistensinya. Inilah yang juga kita bisa lihat di dalam diri Rasulullah SAW dan para sahabat. (Agustus 2011)

67. Puasa dan Takwa

Puasa dan Takwa

Kita mungkin pernah melakukan sebuah perjalanan. Baik itu perjalanan yang memakan waktu pendek, maupun perjalanan yang membutuhkan waktu panjang, di dalam atau ke luar negeri. Tentu saja yang paling penting dalam melakukan perjalanan tersebut adalah persiapan. Makin jauh dan makin lama perjalanan yang akan dilakukan,  makin banyak persiapan yang perlu dilakukan, makin banyak bekal yang harus dibawa. Sukses atau tidaknya perjalanan tersebut tergantung dari kematangan persiapan yang dilakukan.

Sebenarnya perjalanan paling panjang dalam kehidupan manusia adalah perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia pada hakikatnya hanyalah persiapan untuk perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi adalah di kampung akhirat kelak.  Seperti firman Allah dalam QS. Al Ankabut: 64; “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Karena itu jangan terlena dengan kesenangan di dunia, sebaliknya lakukanlah persiapan sebaik mungkin dan persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk hidup di akhirat kelak. Banyak orang berjuang mati-matian, tak peduli siang dan malam, untuk mengejar kehidupan dunia,  namun mereka lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Takwa adalah bekal terbaik untuk perjalanan ke kampung akhirat. Seperti firman Allah dalam QS. 2:197; “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada Ku hai orang-orang yang berakal”.

Secara sederhana mereka yang mematuhi semua perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW dan menghentikan semua larangan beliau disebut sebagai orang yang bertakwa (muttaqin).  Dalam Al Quran dan hadits Allah dan Nabi Muhammad SAW telah menuntun manusia tentang apa yang boleh dan harus mereka lakukan (perintah) dan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan (larangan).

Proses untuk menjadi muttaqin kita lakukan dan kita latih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai ibadah dan kebaikan. Puncak latihan tersebut adalah pada bulan Ramadhan. Allah memberikan keistimewaan selama bulan Ramadhan dan memberikan imbalan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan disebut juga sebagai penghulu sekalian bulan. Al Quran diturunkan pada bulan ini, dan cuma pada bulan Ramadhan adanya malam Lailatul Qadar.

Dalam  QS. Al Baqarah: 183 Allah berfirman;  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kamu bertakwa.”  Di sini jelas ditegaskan bahwa tujuan bulan Ramadhan yang utama adalah menggembleng manusia agar menjadi umat yang bertakwa. Maka dalam waktu selama sebulan tersebut kita dilatih beribadah, yaitu melakukan perintah dan menghentikan larangan Allah dan Nabi Muhammad SAW, agar menjadi umat yang bertakwa.

Takwa juga merupakan solusi dalam kehidupan di dunia. Seperti firman Allah dalam QS. 65: 2 dan 3; “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”.

Pada ayat 4 dan 5 surat yang sama Allah menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Tingkat keberhasilan seseorang  menjalankan puasa selama bulan Ramadhan bisa diukur dari tingkat ketakwaan seseorang atau sejauh mana terjadi perubahan ketakwaan seseorang sebelum  dan sesudah berpuasa selama bulan Ramadhan.

Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan tahun ini untuk meningkatkan ketakwaan kita sebagai bekal perjalanan ke kampung akhirat kelak. Agar puasa tidak menjadi sia-sia, harus terlihat meningkatnya ketakwaan seseorang sebelum dan setelah berpuasa sebulan penuh. Semoga kita menjadi orang yang bertakwa,  bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat kelak. Amin. (Juli 2013)

68. Puasa dan Kejujuran

Puasa dan Kejujuran

 

         Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidakjujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.

Nabi Muhammad SAW pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, di akhir zaman, manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram (HR Muslim).
Era reformasi telah berlangsung lebih sepuluh tahun, namun praktek kolusi, korupsi dan suap menyuap masih saja ramai terdengar. Untuk mengatasi dan mengurangi segala kebiasaan destruktif tersebut, puasa dan bulan Ramadhan merupakan merupakan ibadah dan momen yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah.

Berbeda dengan sifat ibadah yang lain, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah SWT.
Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT. Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran. Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.

Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat diselesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan

Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain. Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Mari kita jadikan ibadah puasa dan bulan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk melatih kejujuran bersama. Selamat menunaikan ibadah puasa. (Juli 2011)

69. Puasa Menyehatkan Mental

Puasa Menyehatkan Mental

Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam, juga umat sebelumnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah: 183). Di balik kewajiban, terdapat berbagai hikmah yang besar bagi mereka yang berpuasa, di antaranya adalah untuk menyehatkan mental dan mengendalikan hawa nafsu.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al Jaatsiyah: 23)

Allah SWT telah meminta kita mengambil pelajaran dari orang-orang yang sudah mencapai tingkat mempertuhankan hawa nafsunya. Dan kita ketahui, bahwa akhir dari hal tersebut adalah kerusakan dan kehancuran di muka bumi.

Puasa melatih kita menahan hawa nafsu, baik makan, minum dan juga hubungan suami istri di siang hari. Upaya melatih menahan makan, minum dan berhubungan tersebut adalah dalam rangka menyehatkan mental. Di samping itu menahan emosi juga merupakan bagian dari ajaran puasa yang sangat berguna menyehatkan mental.

Dengan mengendalikan emosi, lapar, dan haus, maka tubuh kita akan disehatkan sehingga menyebabkan munculnya ketenangan dan juga kebahagiaan. Sementara memperturutkan hawa nafsu akan memunculkan kesengsaraan. Ini karena puasa merupakan bagian dari zikir kepada Allah SWT. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS Ar Ra’d: 28).

Sebagai contoh kecil, setiap hari kita diperlihatkan dengan perilaku pengendara yang memperturutkan hawa nafsunya serta tidak bisa mengendalikan emosi. Mereka ingin cepat, tak mau mengalah meskipun seharusnya berhenti sebentar, sehingga terjadilah kecelakaan. Ini adalah gambaran ketidaktenangan jiwa. Akibatnya, tidak hanya mereka yang akan resah, akan tetapi orang lain akan merasakan dampaknya.

Jika perintah agama dalam berpuasa dijalankan dengan benar dan menjadi kebiasaan, maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya. Dari segi kejiwaan, ia akan memperkuat rohani. Kemudian dari segi perilaku, ia akan memperbaiki akhlak pelakunya. Dari segi perbuatan, ia akan memperkuat amalan-amalan para pelakunya. Dan dari segi fisik, ia akan memperkuat tubuh karena ilmu kedokteran telah membuktikan banyaknya manfaat yang didapat dari berpuasa dan juga mengendalikan emosi.

Allah SWT menyatakan bahwa puasa akan lebih baik bagi kita jika kita mengetahuinya. “…dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Puasa dan upaya mengendalikan hawa nafsu serta menahan emosi selain menyehatkan mental kita, juga memberi ketenangan di lingkungan. Sebagai masyarakat agamis, kita meyakini bahwa banyaknya maksiat yang merupakan upaya memperturutkan hawa nafsu akan menimbulkan keresahan di masyarakat. Sehingga masyarakat akan memberantas kemaksiatan yang terjadi di tempat mereka. Masyarakat ingin lingkungannya tenang agar mental mereka dan keluarganya sehat. Momentum puasa merupakan saat yang tepat untuk menyehatkan mental kita jika dilakukan dengan benar sesuai ajaran agama. Selamat menunaikan ibadah puasa, 1433H. (Juli 2012)

70. Meninggalkan Ramadhan

Meninggalkan Ramadhan

Ada doa yang sudah menjadi kebiasaaan umum bagi umat Islam ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Allahumma bariklana fii rajaban wa sya’ban wa ballighnaa Ramadhan yang artinya “Ya Allah berikanlah berkah kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.” Doa ini menggambarkan bagaimana harap dan rindu kaum muslimin terhadap Ramadhan sehingga berharap diberikan hidup dan merasakan Ramadhan.

Semangat menyambut Ramadhan oleh Rasulullah SAW digambarkan dalam perintah kepada umat Islam untuk mengisi bulan Rajab dan Sya’ban untuk persiapan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dan sahabat sangat gembira ketika memasuki bulan Ramadhan dan sedih ketika meninggalkan Ramadhan.

Ketika di sepuluh hari terakhir Rasulullah melakukan iktikaf di masjid yang merupakan kegiatan ibadah yang berisi zikir dan ibadah lainnya. I’tikaf hanya dilakukan di masjid dan pelakunya tidak melaksanakan kegiatan lain di luar i’tikaf kecuali ada keperluan mendesak.

Kegiatan iktikaf ini ingin menggambarkan bahwa Rasulullah SAW dan sahabat ingin meraih pahala di bulan Ramadhan sehingga tidak ingin Ramadhan berlalu begitu saja dan karenanya i’tikaf ini dipenuhi dengan ibadah. Dan kita sudah mengetahuinya tentang ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah SWT, terutama di malam kemuliaan atau lailatul qadar.

Maka, ketika Ramadhan mencapai hari terakhir, para sahabat menangis dan sedih, mereka tidak tahu apakah masih bisa menjumpai Ramadhan di tahun berikutnya. Dan di waktu berikutnya, ketika bulan Rajab hendak masuk, muncullah doa agar diberikan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta disampaikan kepada bulan Ramadhan.

Sementara itu, yang terjadi pada hari ini berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Ketika memasuki Ramadhan, justru bawaan menjadi susah. Mesti bangun sahur. Harga bahan makanan membumbung tinggi, padahal ingin makan dan minum enak. Namun ada juga yang bersenang-senang dengan Ramadhan ini, mereka sudah menjadwalkan acara berbuka dengan makanan dan minuman yang lezat dan menyenangkan. Momen Ramadhan hanya dijadikan pengalihan waktu makan dan sedikit nuansa pesta.

Di samping itu, ada yang di bulan Ramadhan justru menyiapkan untuk menyambut lebaran. Bulan Ramadhan tidak terperhatikan sama sekali, yang dipersiapkan justru untuk menyambut lebaran yang cuma satu hari, sementara waktu 30 hari yang disediakan Allah SWT dengan banyak manfaat tidak dihiraukan.

Selain itu, ada juga yang melakukan kegiatan begadang, untuk menunggu sahur. Kegiatan yang dilakukan tidak terkait dengan ibadah yang dilakukan untuk mengisi Ramadhan, lebih terfokus kepada kesenangan semata. Dan, ada juga ketika Ramadhan sudah mencapai penghujung, justru bergembira karena sudah lepas beban selama satu bulan.

Berbagai fenomena di atas bukanlah sesuatu yang dilarang, akan tetapi kegiatan tersebut secara siginfikan bisa mengurangi bahkan menghilangkan keberkahan Ramadhan. Jika menunggu sahur dengan menonton acara lawak di televisi, maka hilanglah acara shalat malam, padahal momen shalat malam di bulan Ramadhan sangat bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan ini diberikan balasan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik balasan dan mampu meraih kemuliaan malam lailatul qadar yang selalu dikejar oleh para pencinta Ramadhan. “Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS Al Qadr: 2-3).

Semoga bulan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan yang penuh berkah dan  magfirah bagi kita semua. Jika waktu sebulan penuh yang telah berlalu kita manfaatkan dan kita isi dengan ibadah secara bersungguh-sungguh, seperti janji Allah, kita akan kembali fitrah, seperti kain putih yang belum ternoda dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allahuakbar…. Allahuakbar walillah ilhamd….Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, minal aidhin walfaidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2011)

71. Merayakan Kemenangan

Merayakan Kemenangan

Idul Fitri merupakan hari kemenangan yang patut disyukuri. Kemenangan itu adalah kemenangan  bagi mereka yang berhasil melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan baik serta berhasil melakukan ibadah-ibadah lain yang disunatkan melaksanakannya selama bulan Ramadhan.

Shaum (puasa) dalam arti bahasa adalah menahan dari sesuatu. Menurut Qadhi Al-Baidhawi seperti dikutip Rasyid Ridha, shaum adalah menahan diri dari dorongan nafsu. Sedangkan menurut syara, shaum adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri dari terbit fajar hingga matahari terbenam, untuk mencari keridhaan Allah (ihtisaban) dan mempersiapkan jiwa untuk meraih ketakwaan dengan menanamkan akhlak muraqabatullah (pengawasan Allah) dan mendidik jiwa dalam mengekang dorongan syahwat sehingga mampu meninggalkan semua hal yang haram (Tafsir Al-Manar, vol.2/114-115).

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS;al-Baqarah:183)

Kata kunci ibadah puasa adalah menahan hawa hafsu. Seperti pernah diungkapkan Nabi Muhammad SAW;  Meski perang badar merupakan perang terbesar dalam sejarah Islam, namun masih ada lagi perang yang lebih besar dan lebih dahsyat, yaitu perang melawan hawa nafsu. Maka mereka yang menang dan adalah mereka yang berhasil mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu. Sudahkah kita termasuk yang meraih kemenangan dan berhasil kembali fitrah?

Selain itu, dalam perspektif Islam, kebangkitan umat tidak melulu selalu dikaitkan dengan kesuksesan jihad fisik dan capaian pembangunan fisik serta sumber daya umat baik alam maupun manusianya. Karena itu  setiap tahun, Allah sediakan Ramadhan sebagai madrasah bagi kaum beriman untuk memusatkan dirinya mengisi ulang (recharge) keimanan dan takwa sebagai sarana pembangunan karakter yang menjadi pusat kendali arah bagi pembangunan fisik dan sumber daya manusia muslim.

Dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan umat muslim harus benar-benar fokus ke arah pencapaian tujuan ibadah tersebut yaitu “agar kamu bertakwa”. Kita tak boleh hanya berhenti sebatas menjaga aturan-aturan lahiriah puasa berupa larangan makan, minum dan berhubungan suami-istri dari pagi hingga sore hari. Namun, kita harus berupaya maksimal mewujudkan tujuan-tujuan disyariatkannya (maqasid syariah) ibadah puasa tersebut yang disimpulkan dalam kalimat “la’allakum tattaqun”.

Karena itu jika ada orang yang melaksanakan puasa di siang hari, namun melampiaskan hawa nafsunya di saat berbuka, maka sikap itu tentu tidak sesuai dengan makna puasa, yaitu melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu. Begitu juga mereka yang telah melaksanakan puasa  sebulan penuh, lalu berpesta pora dan pamer kemewahan saat Idul Fitri. Hikmah yang  mereka peroleh hanya sekedar lapar dan dahaga.

Karena itu Nabi dan para sahabat selalu bersedih saat berpisah  dengan Ramadhan dan mereka berdoa agar diberikan lagi kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.  Bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk melatih dan memperbaiki kualitas diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan juga merupakan kesempatan memperoleh ampunan dan pahala yang berlipat ganda.

Selamat merayakan Idul Fitri 1432 H,  moga kita termasuk orang-orang yang menang, kembali fitrah dan berhasil meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Jika tahun ini belum berhasil, insya Allah tahun-tahun berikutnya kita perbaiki dan kita tingkatkan lagi. Allahu Akbar … Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walilla Ilhamd… (Agustus 2012)

72. Indahnya Saling Memaafkan

Indahnya Saling Memaafkan

 

Siapa yang berani mengaku bahwa dirinya tak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan? Pasti tak ada satupun. Jika ada yang berani mengaku bahwa tidak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan, pasti ia keliru. Salah dan khilaf adalah sifat alamiah dasar manusia, tak ada manusia yang luput dari khilaf dan berbuat kesalahan.

Atasan bisa saja melakukan kesalahan terhadap bawahannya atau sebaliknya. Yang tua suatu saat juga bisa melakukan kesalahan terhadap yang muda. Ayah terhadap anak, suami terhadap istri atau sebaliknya, semua berpeluang melakukan kesalahan. Kesalahan itu bisa jadi disengaja, maupun tidak disengaja.  Peristiwa itu bisa menimbulkan kesalahpahaman, kesal, sakit hati bahkan dendam.

Dendam dan sakit hati seperti yang sering saya sampaikan, bisa menghantui pikiran atau menjadi virus dalam pikiran. Makin lama makin banyak menumpuk bahkan berkembang biak di pikiran. Akhirnya seperti sebuah komputer yang terserang virus, suatu saat komputer tersebut hang (mogok bekerja), diam, tak dapat berbuat apa-apa. Pada manusia jika pikirannya hang, ia dikatakan mengalami gangguan jiwa.

Karena itu jika seseorang melakukan kesalahan terhadap kita, cepat-cepat maafkan dia, jangan simpan di pikiran, apalagi dalam bentuk dendam dan sakit hati. Sebaliknya jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, maka segeralah meminta maaf. Seperti firman Allah dan QS. An-Nur: 22, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Banyak orang mengatakan meminta maaf adalah pekerjaan yang paling mudah namun paling berat untuk dilakukan. Jika hal itu terjadi pada kita, maka Idul Fitri lah momennya. Idul Fitri merupakan kesempatan yang paling tepat untuk minta maaf dan saling memaafkan. Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meminta maaf atas semua kesalahannya dan saling memaafkan di saat Idul Fitri.

Karena itu mari kita manfaatkan hari yang fitri ini untuk meminta maaf dan saling memaafkan atas semua salah dan khilaf yang kita lakukan, maupun yang dilakukan orang lain terhadap kita. Mari lupakan kesalahan-kesalahan di masa lalu, kita mulai hari baru dengan janji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu dan berbuat yang lebih baik dan lebih hati-hati di masa datang.

Memaafkan terlebih dahulu adalah sikap terbaik. Sesungguhnya balasan bagi orang yang memaafkan dengan ikhlas adalah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman yg artinya “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syuuraa: 40)

Mari saling bermaaf-maafan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Minal Aidhin wal faidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2012)

73. 5 Koreksi Selama Berpuasa

5 Koreksi Selama Berpuasa

 

Kita bersyukur kehadiran bulan Ramadhan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera Barat pada khususnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu terlihat peningkatan aktifitas masyarakat dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Mesjid dan mushalla penuh sesak oleh jamaah, tak kalah pasar dan pusat-pusat perbelanjaan ramai diserbu  pembeli.

Disadari atau tidak, ada 5 kesalahan yang kita lakukan selama melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kesalahan tersebut dilakukan banyak orang dan anehnya kesalahan itu dianggap sebagai kebiasaan dan kesalahan yang wajar-wajar saja. Padahal kesalahan tersebut menyangkut hal yang prinsip dan cukup fatal. Kesalahan-kesalahan yang perlu di koreksi itu adalah;

  1. Makan berlebihan. Karena berpuasa seharian di siang hari, sering kita seperti orang balas dendam di saat berbuka puasa.  Bahkan kadang kala seperti orang kerasukan setan, makan cepat-cepat dan seperti ingin memakan semua makanan yang ada sekaligus. Akibatnya, sehabis  makan sangat kekenyangan, bahkan untuk berdiri pun sudah susah, perut terasa sakit dan tidak nyaman akibat kekenyangan.

Memang lumrah terjadi, di saat perut kosong semua makanan terlihat enak dan menggoda. Akibatnya keinginan untuk membeli menjadi sangat besar. Semua ingin dibeli dan semua ingin dimakan. Padahal ternyata makanan tersebut tidak seenak yang kita bayangkan di saat perut lapar. Seringkali makanan yang kita beli tersebut tidak termakan, mubazir dan bersisa saat berbuka puasa.

Bukankah puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama menahan haus dan lapar? Kesalahan seperti ini banyak terjadi dan masih banyak terjadi hingga saat ini.

  1. Berkurangnya intensitas kerja. Di saat berpuasa kita sering mengalami pengurangan semangat kerja. Bahkan ada yang betul-betul kehilangan semangat kerja, loyo, sehingga lebih banyak tidur sepanjang hari. Pada hal Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa banyak peperangan di zaman Nabi dilakukan saat bulan Ramadhan. Aktifitas Nabi dan para sahabat tidak berkurang di bulan Ramadhan.

Puasa seharusnya tidak menghalangi aktifitas pekerjaan. Bagi yang tidak terbiasa puasa, memang terasa berat. Namun bagi yang sudah terbiasa puasa, puasa tak terasa berat dan bukanlah penghalang untuk melakukan aktifitas kerja. Karena itu kita dianjurkan untuk melakukan berbagai puasa sunat sebagai latihan dan persiapan menjelang Ramadhan. Dengan demikian puasa di bulan Ramadhan tidak terasa berat dan tidak membuat semangat kerja menjadi hilang.

  1. Nafsu belanja meningkat. Fenomena ini juga sangat terlihat menonjol di bulan Ramadhan. Seperti diuraikan di atas, dalam kedaan perut kosong (berpuasa), kita cenderung belanja makanan secara berlebihan, semua kelihatan serba enak dan ingin dibeli.

Fenomena lainnya yang membuat nafsu belanja meningkat adalah kita ingin tampil serba baru dan wah. Perabotan rumah diganti dengan yang serba baru, rumah direnovasi agar tampil beda, kendaraan baru diupayakan, apalagi pakaian dan makanan, dicari yang serba enak dan mahal. Jika hal ini dilakukan dengan niat untuk memuliakan Ramadhan dan sesuai dengan kemampuan kita, tentu tidak jadi masalah. Namun jika dilakukan dengan niat untuk pamer (ria), sekedar jaga gengsi, tentu saja hal ini tidak benar dan perlu dikoreksi. Banyak peristiwa kriminalitas seperti pencurian, perampokan terjadi di bulan Ramadhan, terutama menjelang lebaran. Lucunya, alasan mereka adalah memenuhi  kebutuhan (pamer?) di hari lebaran.

  1. Kurang membaca Al Quran. Pada bulan Ramadhan kita dianjurkan memperbanyak membaca Quran. Karena itu bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan Syahrul Quran. Al Quran sendiri diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan. Kita sering beranggapan bahwa aktifitas bulan Ramadhan selesai dengan berpuasa di siang hari. Padahal mengisi Ramadhan dengan membaca Al Quran (tadarus), termasuk qiyamullail (shalat malam) juga sangat penting dan besar nilainya.
  2. Lalai di 10 hari terakhir. Kesalahan lainnya yang juga perlu dikoreksi adalah kebiasaan kita yang disibukkan dengan menyiapkan kue, pakaian, mengecat rumah, dll di 10 hari terakhir Ramadhan. Akibatnya mesjid umumnya sepi di 10 hari terakhir, kegiatan ibadah di mesjid seperti terbaikan. Pada hal Allah mengatakan malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, itu diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan. Bukankah kita rugi besar jika peristiwa itu terlewatkan begitu saja dengan alasan sibuk menyiapkan kue lebaran?

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melakukan 5 kesalahan utama di bulan Ramadhan tersebut. Jika iya, semoga tahun depan kita masih bertemu dengan bulan Ramadhan lagi tahun depan dan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut.  Amin. (Agustus 2013)

74. Haji dan Kemampuan Finansial

Haji dan Kemampuan Finansial
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang pelaksanaannya mensyaratkan kemampuan. Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).

Syarat jika mampu menghendaki adanya kemampuan fisik dan keuangan. Mengapa harus memiliki kemampuan fisik? Karena ibadah haji adalah ibadah fisik. Tawaf, sa’i, jumroh, shalat di masjid dan wukuf, semuanya membutuhkan kebugaran fisik agar bisa berjalan lancar dan tertib.

Namun di samping kemampuan fisik, dibutuhkan kemampuan keuangan (finansial) untuk keperluan transportasi, penginapan, dan akomodasi selama menunaikan ibadah haji. Maka jika secara fisik sudah mampu, masalah keuangan juga harus dipenuhi.

Ketika berada bersama jamaah haji asal Sumbar beberapa waktu lalu, penulis banyak berbincang dengan para jamaah. Mereka berasal dari beragam latar belakang pekerjaan dan profesi. Tentunya, mereka sudah memiliki kemampuan keuangan sehingga menunaikan ibadah haji. Di antara jemaah itu, ada yang bisa menunaikan ibadah haji setelah mengumpulkan uang dalam waktu yang cukup lama. Mereka umumnya adalah para pekerja dengan beragam profesi yang menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit.

Ada juga jamaah haji yang tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunaikan ibadah haji. Yang termasuk kategori ini adalah para pengusaha. Namun ternyata ada juga para petani. Setelah berbicara lebih jauh, para petani ini rupanya tidak hanya mengolah sawah. Mereka juga melakukan pekerjaan lainnya seperti beternak ikan, menanam cokelat, kelapa sawit, berkebun dengan memanfaatkan lahan mereka serta ada juga yang memelihara sapi.

Ternyata, para petani yang sumber pendapatannya tidak dari satu tempat saja terlihat lebih sejahtera sehingga untuk menunaikan ibadah haji mereka bisa lebih cepat mengumpulkan dana. Penulispun tidak menemukan petani yang hanya bersawah saja untuk kelompok jamaah yang dalam waktu tidak terlalu lama bisa menunaikan ibadah haji.

Dengan melakukan bebeberapa usaha sekaligus, sumber pendapatan petani tersebut mampu menaikkan tingkat kesejahteraannya dengan lebih cepat dibanding hanya dengan bersawah saja. Hal ini juga menjelaskan, bagi para petani yang memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji, maka sebaiknya memiliki beberapa usaha agar sumber pendapatan mereka lebih dari satu sehingga bisa mempercepat naiknya tingkat kesejahteraan mereka.

Kenaikan tingkat kesejahteraan petani ini mempercepat usaha mereka dalam mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini merupakan jawaban bagi para petani yang menginginkan menunaikan ibadah haji. Dengan mengikuti jejak para petani yang memiliki lebih dari satu usaha, insya Allah keinginan menunaikan ibadah haji akan lebih cepat terwujud.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Ar Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Kita doakan, semoga para petani yang ingin menunaikan ibadah haji dimampukan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik kemampuan.  (Desember 2011)

75. Haji dan Persatuan

Haji dan Persatuan

Ibadah haji mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan berbagai perbedaan. Ada yang berkulit hitam, sawo matang, putih, kuning dan lain-lain. Demikian pula dengan rambut dan fisik (berbadan besar, sedang maupun kecil). Allah SWT ciptakan mereka agar saling kenal.

Dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT befirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Perbedaan suku, bangsa, bahasa, budaya, lingkungan dan lainnya akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam menjalankan ajaran Islam. Adanya perbedaan di antara umat Islam itu merupakan keniscayaan. Sehingga ketika terjadi pertikaian karena adanya perbedaan ini maka kita sandarkan kepada aturan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Ketika menunaikan ibadah haji, penulis melihat beragam gerakan yang berbeda dari berbagai latar belakang jamaah ketika menunaikan sholat. Setelah takbir, tangan mereka ada yang bersedekap dan ada juga yang dibiarkan ke bawah.

Cara bersedekap pun beragam. Ada yang di dada, di perut, di pinggang maupun sedikit turun dari perut. Bersedekap di perut pun beragam. Ada yang kedua telapak tangannya di tengah, ada yang di pinggang sebelah kiri dan juga di sebelah kanan.

Demikian pula dengan gerakan-gerakan lain dalam pelaksanaan rukun dan wajib haji. Penulis melihat bahwasanya berbagai perbedaan itu masih berada pada tataran yang bukan prinsip. Perbedaan tersebut tidak perlu dipertajam, bahkan semestinya saling menghargai.

Ibadah haji telah mengajarkan dengan cepat kepada umat Islam yang menunaikannya bahwa perbedaan itu merupakan sebuah hal yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Dengan berbagai perbedaan tersebut, umat Islam diminta untuk mencari kesamaan dan menghargai perbedaan di antara mereka. Ibadah haji seolah ingin memberitahukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu, menghargai perbedaan dan jangan berpecah belah. Kemuliaan hanya bisa diperoleh dengan persatuan yang dibingkai dengan iman dan takwa. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 disebutkan bahwa yang paling mulia di antara kaum muslimin adalah yang paling takwa.

Di samping itu, ibadah haji juga mengajarkan bahwa Islam sudah disempurnakan sebagai agama bagi umat Nabi Muhammad SAW yaitu ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah sewaktu wukuf di Arafah. Di antaranya beliau membacakan surat Al Maidah ayat 3 yaitu, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”

Maka, haji bisa disebut sebagai puncak pelaksanaan rukun Islam yang mengajarkan persatuan karena jamaah haji akan menemui dan berinteraksi dengan manusia yang memiliki perbedaan. Di samping itu, puncak haji, wukuf di Arafah yang dihadiri oleh manusia yang berbeda suku bangsa adalah untuk mengingat akan khutbah Nabi Muhammad SAW tentang kesempurnaan Islam.

Umat Islam dengan beragam suku bangsa yang melakukan wukuf diajak untuk mensyukuri ajaran Islam yang sempurna. Ini merupakan pelajaran dari Allah SWT agar umat Islam bersatu ketika mendapati diri mereka ternyata terdiri dari beragam suku bangsa yang ada di dunia. Maka, bagi kita yang sudah melaksanakan ibadah haji, ajaklah umat Islam untuk bersatu dengan tetap menghargai perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya, itu adalah salah satu pesan yang tersirat sewaktu menunaikan ibadah haji. (Desember 2011)

76. Agar Hidup Bisa Nyaman

Agar Hidup Bisa Nyaman

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal  yang membuat kita merasa tidak nyaman. Di perkotaan misalnya, kian hari lalu-lintas makin padat. Akibatnya  kemacetan terjadi di banyak tempat. Dulu, perjalanan Padang – Bukittinggi bisa di tempuh dalam waktu 2 jam, kini memakan waktu 3 bahkan sampai 5 jam.  Tidak hanya itu, angka kecelakaan lalu lintas juga meningkat.

Di musim hujan seperti saat ini kita segera menjadi was-was dan cemas. Curah hujan yang deras dan berdurasi panjang, biasanya akan diikuti dengan berbagai bencana. Bisa jadi berupa banjir, galodo, atau  longsor seperti yang terjadi di Lembah Anai baru-baru ini atau sejumlah kejadian lainnya di masa lalu.

Wilayah Sumatera Barat memang memiliki karakteristik yang unik. Daerah ini terdiri dari banyak gunung, bukit-bukit, lembah, sungai, dan laut. Sumbar juga memiliki lahan-lahan, daerah pertanian yang subur. Hal ini menyebabkan Sumatera Barat memiliki pemandangan alam dan panorama yang indah. Banyak orang terpesona dengan panorama alam  Sumatera Barat dan menjuluki daerah ini sebagai jannah (surga).

Namun dibalik keindahan panorama alam tersebut tersimpan potensi ancaman. Topografi wilayah Sumatera Barat yang terbentuk oleh gunung, bukit dan lembah tersebut memiliki kemiringan sedang hingga sangat ekstrim.  Karena itu wilayah Sumatera Barat harus ditangani secara khusus dan ekstra hati-hati agar potensi alam yang berlimpah yang seharusnya memberi manfaat kepada masyarakatnya, tidak berbalik menimbulkan mudarat kepada masyarakat.

Bentang alam wilayah Sumatera Barat yang berbukit-bukit, subur dan memiliki banyak sungai membuat masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan pertanian. Masyarakat membuat sawah berjenjang-jenjang mengikuti topografi lahan dan bentang alam. Hal ini membuat makin indahnya pemandangan, sekaligus efisiensi biaya. Dengan pola ini petani tidak perlu memompa air dari dalam tanah untuk menyiram tanaman, atau menyiram tanaman menggunakan mesin-mesin pompa air atau helikopter seperti yang dilakukan di negara lain. Cukup menggunakan grafitasi, mengikuti aliran air, biarkan alam yang menyiramnya secara gratis.

Namun jika tidak berhati-hati dan ditata secara baik, potensi yang berlimpah tersebut bisa berubah menjadi bencana.  Hal ini telah pernah kita alami dan telah terjadi di beberapa tempat.  Galodo, banjir, longsor, telah pernah sama-sama kita rasakan. Kondisi cuaca yang ekstrim saat ini membuat kita makin waspada dan ekstra hati hati.

Potensi alam dan sumberdaya manusia memang sering seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dia bisa membuat manusia menjadi senang dan sejahtera, namun jika tidak pandai mengelola dan memanfaatkannya  justru berubah menjadi bencana.

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat misalnya bisa membuat masyarakat lebih nyaman, bisa beli motor, mobil, membuat villa atau membuka usaha baru. Namun karena terlalu banyak mobil, jalan menjadi macet, menimbulkan kecelakaan  yang pada akhirnya menyebabkan ketidak nyamanan. Pembukaan dan penggunaan lahan yang tidak benar justru bisa menimbulkan bencana. Begitu juga ekploitasi sumber daya alam secara tidak benar dapat menimbulkan kehancuran sumberdaya alam.

Karena itu Pemerintah Provinsi Sumatera Barat  bersama DPRD dan  masyarakat telah  menyusun Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2013 tentang rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat tahun  2012 – 2032.  Dalam peraturan setebal 179 halaman ini telah diatur tatacara penggunaan ruang dan wilayah propinsi Sumatera Barat serta sumber daya alamnya.  Penggunaan ruang dan wilayah di Sumatera Barat yang benar dan baik bisa mengacu pada peraturan tersebut.

Tentu saja  sebanyak apapun aturan dibuat dan sebaik apapun aturan tersebut, tak kan ada gunanya jika masyarakat bersama aparat pemerintah tidak melaksanakannya. Mari kita tata lingkungan kita secara baik, kita manfaatkan potensi alam kita secara bijaksana agar kita bisa hidup nyaman dan alam kita yang elok dan kaya tetap terjaga kelestariannya  sampai ke anak cucu kita kelak. (Desember 2013)

77. Jodoh

Jodoh

 

Air mata saya nyaris menetes saat Goval, ST berhasil mengucapkan lafaz ijab kabul pada acara pernikahannya dengan Febrianti, AMD di Lubuk Kilangan pekan lalu. Puluhan sanak- keluarga dan undangan yang hadir saat itu juga demikian, mata mereka terlihat berkaca-kaca. Kata-kata terakhir yang diucapkan Goval langsung disambut dengan ucapan “sah..!” oleh hadirin dan ditimpali dengan tepuk tangan dalam suasana gembira bercampur haru.

 

Pernikahan pasangan ini memang sangat istimewa. Mempelai pria, Goval, ST,  lulusan Fakultas Teknik Unand adalah tuna rungu dan tuna wicara, begitu juga pengantin wanita Febrianti, AMD, lulusan jurusan Tata Busana Universitas Negeri Padang (UNP). Mereka sama-sama tuna rungu dan tuna wicara. Saya menghadiri acara tersebut sebagai saksi.

Awalnya tak ada yang terlihat istimewa. Mempelai pria nampak normal bahkan bisa dikategorikan tampan, berkulit putih dan kalem. Begitu juga mempelai wanita, terlihat cantik dan anggun. Keduanya dibalut pakaian putih-putih plus beberapa pernik asesoris. Meski simpel, namun terlihat pas dan serasi sekali dengan wajah dan postur tubuh mereka. Konon busana keduanya Febrianti sendiri yang merancang dan menjahitnya. Tak percuma ia menekuni jurusan tata busana dan memperoleh indeks prestasi komulatif (IPK) 3,5 di UNP.

Meski hanya terdiri dari beberapa penggal kalimat, namun sangat sulit bagi Goval untuk melafazkan kata-kata ijab kabul yang sakral di hari yang bersejarah tersebut. Dengan bersusah payah ia mencoba mengeja kata-kata tersebut. Meski terdengar sengau dan tidak jelas, tidak seperti orang normal berbicara, namun ucapan Goval bisa dipahami. Saksi dan hadirin lalu memvonis ucapan Goval dengan kata “sah!.” Alhamdulillah, akhirnya selesailah prosesi pernikahan yang istimewa tersebut.

Goval dan Febrianti sudah saling mengenal sejak duduk di bangku Sekolah Luar Biasa (SLB).  Namun  keduanya terpisah setelah memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK). Namun sejak awal keduanya telah menunjukkan prestasi di sekolah masing-masing, meski mereka memiliki keterbatasan, yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Mereka juga memperlihatkan kemauan dan semangat juang serta keseriusan yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan.

Berhasil menyelesaikan studi mereka di tingkat SLTA dengan nilai memuaskan, Goval melanjutkan studi di Fakultas Teknik Unand, sedangkan Febrianti melanjutkan studi di Jurusan Tata Busana UNP. Kerja keras dan kegigihan mereka kembali berbuah manis. Pendidikan di tingkat perguruan tinggi pun akhirnya bisa mereka selesaikan, Goval berhak menyandang gelar ST dan Febrianti berhak menyandang gelar AMD.

Mungkin itulah yang dinamakan jodoh. Goval dan Febrianti menemukan jodoh yang serasi dan terbaik untuk mereka, yang lelaki tampan, wanitanya cantik. Mereka sama-sama pintar dan pekerja keras, sekaligus mereka sama-sama memiliki kelemahan dan kekurangan. Subhanallah, hanya Allah yang tahu hikmah dan rahasia di balik peristiwa ini.

Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing. Seseorang biasanya memiliki jodoh yang serasi untuknya. Seorang pangeran biasanya berjodoh dengan seorang putri , bangsawan berjodoh dengan bangsawan, pegawai dengan pegawai, pemulung dengan pemulung, pengemis dengan pengemis dan seterusnya. Tapi suatu saat bisa juga terjadi diluar pakem (kebiasaan) di atas. Kiita tidak tahu skrenario dan hikmah apa yang sedang dijalankan Tuhan di balik peristiwa itu.

Namun yang pasti tentu kita harus meneliti terlebih dulu calon istri atau suami, apakah dia memang cocok untuk kita dan apakah ia memang jodoh yang cocok untuk kita. Jika sudah diputuskan, maka terimalah dia apa adanya. Di luar sana memang banyak lelaki yang tampan atau wanita yang cantik, tetapi jika bukan jodoh kita, apa mau dikata? Tidak ada manusia yang sempurna, masing-masing punya kelemahan dan kekurangan, masing-masing juga memiliki kelebihan dan keistimewaan. Jika sudah menjadi suami dan istri kita, maka terima dan pahami kekurangan dan kelemahannya tersebut, hargai semua kelebihan yang ia miliki.

Saat dinikahi mungkin dia cantik, langsing dan terlihat segar. Namun setelah beberapa tahun menikah dan punya anak, istri mulai terlihat tak cantik lagi. Tubuhnya mulai tambun, wajahnya mulai keriput dan kurang menarik. Bagaimanapun ia tetap istri kita, pilihan dan jodoh kita yang harus kita terima apa adanya. Mungkin dia tak pandai berdandan misalnya, tetapi ia pintar memasak, pandai mengurus rumah tangga. Hargai kelebihannya tersebut, maklumi dan terima apa adanya semua kelemahannya.

Jika kita selalu bersyukur, saling menghargai dalam rumah tangga, insya Allah akan tercipta keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Pengamalan Goval dan Febrianti juga membuktikan, jika mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh, insya Allah semua yang diinginkan bisa tercapai dan sukses, meski memiliki keterbatasan sekalipun.  Allah akan memberikan jodoh yang terbaik bagi orang yang terbaik pula. Insya Allah. (Februari 2014)

78. Mengubah Mindset Berpuasa

Mengubah Mindset Berpuasa

 

Kita tentu pernah mendengar dialog sebagai berikut :  “Kenapa telat masuk kantor Pak, Buk?”. Jawabannya: “Maklum Pak, ini kan bulan puasa.”

Hal seperti ini lumrah dan sering kita dengar. Telat masuk kantor,  telat ke sekolah, kesiangan dan berbagai aktifitas tertunda dengan alasan bulan puasa atau sedang berpuasa. Puasa dijadikan alasan (kambing hitam?) untuk menutup dan melegalkan berbagai kesalahan.

Puasa seolah-olah menjadi sebuah alasan yang legal yang bisa diterima semua orang atas semua  tindakan kontra produktif yang kita lakukan. Tindakan-tindakan itu di antaranya adalah, 1. Terlambat masuk kerja atau terlambat ke sekolah bagi pelajar dan mahasiswa, 2. Tidur berlebihan, sehingga sebagian besar waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi berkurang, 3.  Tak bertenaga alias loyo, sehingga terkesan cenderung bermalas-malasan. Semua kondisi itu dilegalkan dengan alasan sedang berpuasa.

Namun kalau kita lihat kisah perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat beliau, tidak ada alasan bahwa puasa membuat aktifitas  beliau menjadi terhambat. Juga tidak ada keterangan bahwa waktu di bulan puasa digunakan untuk bersantai-santai. Keterangan yang ada adalah bahwa pada bulan Ramadhan Nabi dan para sahabat memperbanyak kegiatan ibadah, tadarus, shalat malam dan iktikaf. Kegiatan rutin sehari-hari berjalan seperti biasa.

Malah banyak peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah terjadi di bulan Ramadhan. Perang Badar misalnya,   perang pertama di zaman Rasulullah ini terjadi pada hari Jumat tanggal 2 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang ini melibatkan tentara Islam sebanyak 313 orang berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin Makkah yang bersenjata lengkap. Namun, dengan izin Tuhan, perang ini berhasil dimenangkan oleh laskar Islam. Padahal saat itu Nabi beserta seluruh pasukan sedang berpuasa. Bisa kita bayangkan betapa beratnya perjuangan Nabi saat itu, dalam keadaan berpuasa, berperang di gurun pasir yang tandus di bawah terik matahari.

Banyak peristiwa peristiwa-peristiwa  bersejarah lainnya yang kadangkala sulit diterima akal, justru terjadi di bulan Ramadhan. Khalid Bin Walid menaklukkan kota Mekah dan menghancurkan patung Al Uzza yang saat itu dipuja sebagai Tuhan oleh masyarakat Jahiliah terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 H.  Islam masuk ke Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 H, begitu juga masuknya Islam ke Spanyol, Andalusia, Portugal dan Mongol, semua terjadi di Bulan Ramadhan. Al Quran juga diturunkan di bulan Ramadhan.

Lalu kenapa kita merasa lemas dan loyo di saat berpuasa di bulan Ramadhan? Jawabannya, kita tidak berusaha mengubah mind set. Rasa lapar itu berasal dari pikiran kita, dari kebiasaan kita, terbiasa makan setiap pagi dan siang. Padahal kalau ditinjau dari aspek kesehatan, masih tetap tersedia energi dalam tubuh kita untuk melakukan aktifitas sehari-hari, meski sedang berpuasa. Energi yang berasal dari makan (berbuka) malam bisa digunakan untuk melakukan aktifitas dari pagi sampai siang. Sedangkan energi yang berasal dari makan sahur bisa digunakan untuk beraktifitas dari siang hingga menjelang berbuka. Sudah banyak analisa ahli kesehatan menyatakan dan menemukan fakta, bahwa berpuasa itu adalah baik untuk kesehatan.

Aspek pikiran  bisa juga dibuktikan, jika kita asyik melakukan pekerjaan atau melakukan sesuatu di saat berpuasa siang hari, tanpa kita sadari, sore hari telah terlewati, tanpa merasa lapar dan lelah. Ini adalah bukti bahwa rasa lapar dan lelah itu berasal dari pikiran, jika pikiran bisa dialihkan dan puasa dilakukan karena ikhlas, maka rasa lelah, lapar dan loyo tidak akan muncul. Biasanya setelah melewati hari ke-10 Ramadhan, puasa tidak terasa berat lagi, kita sudah menjadi terbiasa. Apalagi bagi mereka yang terbiasa puasa Senin dan Kamis di bulan-bulan selain Ramadhan, lelah dan lapar saat berpuasa makin tak terasa.

Niat dan keikhlasan juga penting dalam berpuasa. Ada yang berpuasa karena anak-anak, istri dan keluarga di rumah semua berpuasa, ia terpaksa ikut berpuasa karena malu ketahuan tidak puasa. Juga ada yang terpaksa berpuasa karena toh sulit mencari tempat makan siang, karena selama bulan puasa, warung makan tutup semua.  Bagi mereka yang termasuk kelompok ini tentu berpuasa sangat sangat menyiksa baginya dan membuat ia sangat lelah, letih dan loyo.

Karena itu mari kita ubah mind set dalam melaksanakan puasa tahun ini serta perbaiki niat dan keikhlasan berpuasa. Bulan puasa bukanlah alasan untuk mengurangi aktifitas, malah merupakan bulan rahmat dimana doa dan upaya kita diberkati oleh Allah. Bukankah Allah berjanji akan membukakan pintu berkahnya seluas-luasnya di bulan Ramadhan? Bukankah rahmat kemerdekaan Indonesia tanggal  17 Agustus 1945 juga diberikan disaat bulan Ramadhan?

Jadi tidak ada alasan bermalas-malasan, memperbanyak tidur, lelah dan loyo  karena berpuasa di bulan Ramadhan. Sekolah, bekerja, berusaha, mengurus rumah tangga, jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, semuanya akan menjadi ibadah, diberkati dan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah selama bulan Ramadhan.  Tentu akan sangat rugi kita jika kesempatan itu disia-siakan.

Selamat menunaikan ibadah puasa tahun 1435 H, semoga kita semua bisa memanfaatkan momen puasa tahun ini sebaik-baiknya, kembali fitrah serta mendapat limpahan berkah yang sebesar-besarnya dari Allah SWT. Amin. (Juni 2014)

79. Puasa Kunci Mencapai Sukses

Puasa Kunci Mencapai Sukses

Jika kita ajukan pertanyaan, “ Siapa yang ingin jadi orang sukses dan bahagia?” Tentulah semua orang akan mengacungkan tangan. Menjadi orang sukses, hidup bahagia, rukun dan damai tentulah merupakan keinginan dan cita-cita semua umat manusia. Siapa yang tak ingin sukses dan bahagia? Jika ada yang tidak ingin sukses dan bahagia, mungkin ada kelainan dalam diri orang tersebut.

Namun dalam kenyataannya tak banyak orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya. Banyak orang hidup dalam kondisi biasa-biasa saja, tak banyak kemajuan yang dicapai dari waktu ke waktu. Meski sudah panjang perjalanan hidupnya dan sudah banyak umur yang sudah dihabiskan, hidupnya tetap tak berubah dari tahun ke tahun. Kata-kata bahagia pun sangat jauh dari kehidupannya.

Segala cara dan upaya telah dilakukan untuk menggapai sukses. Kerja keras membanting tulang, tak kenal lelah siang dan malam pun telah dilakukan, namun tetap saja sukses itu  tak mampu mereka capai, begitu juga bahagia. Apalagi bagi mereka yang tak sudi bekerja keras dan berupaya dengan sungguh-sungguh, tentu sukses dan bahagia itu makin jauh darinya.

Namun ada juga sejumlah orang yang semua urusan dan pekerjaan bisa ia selesaikan dengan baik. Setiap kali ia menemukan hambatan dan jalan buntu, tiba-tiba saja muncul jalan keluar dan solusi dari persoalan yang sedang ia hadapi. Karirnya melejit dengan cepat, ia pun menjelma menjadi orang sukses. Selanjutnya karena sukses itu ia syukuri dan amanah ia jalankan sesuai perintah Allah, hidup bahagia, rukun dan damai pun menjadi miliknya. Allah juga telah menyiapkan surga baginya untuk kehidupan di akhirat kelak. Subhanallah…

Hal seperti ini sudah merupakan sunnatullah. Pepatah Arab mengatakan man jad da wa jada, siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil. Dalam surat Ath Thaalaq ayat 2 Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” Selanjutnya dalam pada ayat 4 surat yang sama Allah lebih menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

Jadi bisa kita simpulkan bahwa hanya orang yang bekerja dengan bersungguh-sungguh yang bisa berhasil. Orang yang bersungguh-sungguh dan bertakwa akan menjadi orang sukses karena diberikan Allah berbabagi jalan keluar dari masalahnya serta kemudahan dalam semua urusannya, seperti janji Allah dalam surat Ath Thalaaq.

Bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk menggembleng ummat menjadi orang-orang yang bertakwa. Seperti firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Jadi, jika ingin menjadi orang bertakwa, maka bulan Ramadhan lah momen yang paling tepat untuk melatihnya.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bisa kita ambil kesimpulan, jika ingin menjadi orang sukses maka ada dua kata kuncinya, yaitu bekerja dengan bersungguh-sungguh dan bertakwa. Untuk menjadi orang yang bertakwa, salan satu jalannya adalah dengan menjalankan ibadah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Mudah bukan?

Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun 1435 H. Mari kita bulatkan tekad agar di akhir Ramadhan ini keluar sebagai pemenang, menjadi orang-orang yang bertakwa (muttaqin) dan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Insya Allah kita akan menjadi orang-orang yang sukses, sejahtera, bahagia dunia dan akhirat. Amin. (Juli 2014)

80. Rasul Sebagai Model

Rasul Sebagai Model

 

Setiap orang punya idola atau tokoh panutan masing-masing. Ada orang yang memilih Bung Hatta sebagai tokoh idolanya, ada pula yang menjadikan Michael Jackson sebagai tokoh idolanya. Ada beragam latar belakang profesi tokoh yang dijadikan idola. Bisa jadi ia seorang artis, tokoh politik atau olahragawan, seperti pesepakbola, petinju, dan lain-lain.

Biasanya jika seseorang yang mengidolakan seorang tokoh, maka ia akan berusaha meniru gaya dan tingkah laku tokoh tersebut. Seseorang yang mengidolakan Michael Jackson akan meniru gaya tokoh tersebut. Baik cara ia berpakaian, cara ia bernyanyi dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Begitu juga jika mereka yang mengidolakan Messi atau Ronaldo, misalnya, akan meniru gaya dan tingkah laku Messi atau Ronaldo.

Kebiasaan memiliki tokoh idola adalah lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang memilih tokoh idola, karena tokoh tersebut sesuai dengan karakternya atau sesuai dengan harapan dan cita-citanya. Seseorang yang bercita-cita jadi penyanyi akan mengidolakan penyanyi sebagai tokoh pujaanya. Begitu juga yang bercita-cita menjadi atlet, tokoh politik, negarawan, dan seterusnya. Akan memiliki tokoh idola sesuai fantasi masing-masing.

Dalam lingkungan keluarga biasanya yang jadi contoh dan panutan terdekat adalah ayah atau ibu. Dalam keluarga, anak-anak biasanya akan mencontoh kebiasaan atau prilaku ayah dan ibunya. Jika ayah dan ibunya pemarah dan suka berkata kasar, maka anak-anaknya cenderung juga bersikap demikian. Sebaliknya jika kedua orang tua mereka bersikap baik, lembut tutur bahasanya, rajin ke masjid, maka anak-anak mereka juga cenderung bersikap demikian. Tokoh terdekat selanjutnya yang menjadi panutan adalah, kakak, paman atau bibi serta guru di sekolah. Tergantung dengan siapa mereka lebih banyak dan intens berinteraksi.

Tokoh-tokoh tersebut biasanya diistilahkan sebagai model. Model adalah contoh atau panutan yang biasanya akan diikuti dan ditiru. Jika kita ingin membuat baju misalnya, maka kita butuh model, contoh atau patron sebagai acuan untuk mempermudah membuat baju tersebut. Jika sudah didapat model yang sesuai, maka tinggal meniru dan mengikuti model tersebut.

Allah SWT paham betul dengan kebiasaan manusia tersebut. Karena itu Allah menurunkan Nabi dan Rasul untuk dijadikan contoh, panutan atau model bagi manusia. Banyak sekali sikap dan prilaku Nabi yang bisa dijadikan contoh bagi manusia. Mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW banyak sekali contoh dan pelajaran yang bisa kita petik.

Khusus Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dan terlengkap yang paling tepat untuk dijadikan contoh. Dalam Al Quran surat 33 ayat 21 dijelaskan ; “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang bagimu bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), contoh paling tepat bagi manusia. Kehidupan beliau sehari-hari, baik dalam keluarga, dalam bermasyarakat maupun sebagai pemimpin, semuanya merupakan contoh yang terbaik bagi manusia. Muhammad adalah model terbaik yang pernah ada. Beliau disegani baik oleh kawan maupun lawan, apalagi dalam keluarga sendiri.

Tentu saja menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai model jauh lebih baik dibandingkan menjadikan Michael Jackson atau tokoh lainnya. Karena biasanya, meski banyak sisi baik dari para tokoh tersebut, namun juga tak kurang banyaknya sisi buruk dan sisi gelap dari para tokoh tersebut. Silahkan tunjuk saja tokoh-tokoh yang pernah kita idolakan, pasti banyak juga sisi gelapnya, disamping sisi baiknya.

Karena itu mari kita jadikan momentum maulid Nabi Muhammad SAW sebagai peringatan untuk kembali mempelajari dan mendalami kembali sifat-sifat dan karakter beliau untuk dijadikan contoh dan model untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal itu kita lakukan, Insya Allah kita akan selamat dan nyaman hidup di dunia hingga di akhirat kelak. Amin. (Januari 2014)

81. Haji dan Kemampuan Fisik

Haji dan Kemampuan Fisik

 

Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).

Bunyi hadits di atas, yaitu tentang pelaksanaan ibadah haji menerangkan pentingnya memiliki kemampuan. Ibadah haji ditekankan kepada orang yang mampu. Salah satu kemampuan tersebut adalah kemampuan keuangan. Menunaikan ibadah haji membutuhkan sejumlah dana yang mesti dipenuhi oleh calon jamaah haji untuk transportasi, penginapan, akomodasi, kesehatan dan lainnya.

Namun selain kemampuan keuangan, yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan fisik. Iklim di Arab Saudi berbeda dengan Indonesia, maka kekuatan fisik menjadi faktor yang mendukung kekhusyukan dan kelancaran ibadah haji.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah bersengaja melakukan perjalanan dengan sengaja (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397). Dengan demikian, ketika kita menyengaja untuk ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka kondisi fisik harus disiapkan juga.

Dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah haji, maka beberapa area tempat melakukan rukun dan wajib haji menjadi sangat padat oleh para jamaah. Misalnya, tawaf. Pengalaman pribadi penulis, untuk menyelesaikan tawaf membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam dengan kondisi penuh sesak dengan jamaah yang melaksanakannya. Bisa dibayangkan, berjalan selama 5 jam dengan normal saja bisa membuat letih. Apalagi tawaf selama 5 jam dalam keadaan berdesakan dengan jamaah lain. Padahal dalam kondisi normal, tawaf bisa dilakukan dalam waktu kurang lebih 30 menit.

Demikian juga dengan sai dan jumroh yang membutuhkan kekuatan fisik. Sai tujuh kali sepanjang 5-6 km membutuhkan kemampuan fisik. Sementara ketika jumroh, semua jamaah fokus ke satu tempat. Dan sudah barang tentu akan berdesak-desakan. Tempat melempar jumroh sebelum dibuat bertingkat kerap dilanda musibah yaitu banyaknya jamaah yang meninggal karena terinjak. Ini akibat kondisi yang berdesak-desakan dan fisik jamaah pun kurang kuat menghadapi kondisi demikian.

Demikian pula halnya dengan shalat di masjid dan wukuf di Arafah. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146). Menunaikan shalat di masjid tersebut juga membutuhkan fisik yang baik. Sementara Wukuf di Padang Arafah di siang hari merupakan inti ibadah haji. Di panas terik antara waktu dzuhur dengan ashar, jamaah melakukan wukuf.

Melihat hal yang demikian, maka ibadah haji pada dasarnya adalah ibadah fisik. Oleh karena itu kemampuan berhaji selain masalah keuangan juga masalah fisik. Maka tidak heran jika Allah SWT menyukai hambaNya yang kuat fisiknya agar bisa melakukan ibadah dengan baik dan benar.

Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.” (HR. Muslim).

Semoga para jamaah haji asal Sumbar mendapatkan keberkahan dalam menunaikan ibadah haji beberapa waktu yang lalu. Dan bagi yang ingin berhaji, sebaiknya menyiapkan kemampuan fisik agar mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji dengan khusyuk dan tertib. (November 2011)

82. Gempa, Isyarat untuk Bertakwa

Gempa, Isyarat untuk Bertakwa

 

Tak terasa dua tahun sudah telah berlalu. Masyarakat Sumatera Barat dan semua stakeholders bersama-sama bekerja keras, mengerahkan segala daya dan upaya untuk membangun kembali puing-puing pasca gempa 30 September 2009. Triliunan dana dikucurkan untuk membangun kembali rumah masyarakat, rumah ibadah, sekolah, jalan dan berbagai fasilitas umum lainnya. Ribuan pekerja, juga pakar dikerahkan untuk membangun kembali Ranah Minang yang porak-poranda akibat gempa.

Namun, durasi selama dua tahun itu ternyata belum cukup. Dana triliunan rupiah yang digelontorkan ternyata juga belum memadai. Ribuan pekerja, tukang bahkan para pakar yang dikerahkan untuk membangun, terasa bergerak lamban. Kita sepertinya sudah tak sabar menunggu itu semua. Padahal, mereka sudah mengerahkan semua kemampuan dan tenaga, bahkan bekerja lembur siang-malam.

Mungkin di sinilah Allah SWT ingin memperlihatkan kekuasaannya dan menguji kita semua. Durasi gempa berkekuatan 7,9 skala Richter dan telah meluluhlantakkan Padang, Pariaman dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat, itu tak sampai dalam hitungan menit. Dalam sekejap mata, rrrrr…. gedung-gedung bertingkat yang terlihat megah dan kokoh, ambruk ke tanah. Ribuan rumah penduduk berbagai fasilitas umum, ikut ambruk dan rata dengan tanah. Tak hanya itu, ribuan nyawa juga jadi korban.

Secara ilmiah, gempa merupakan sebuah fenomena alam. Gempa terjadi akibat pergeseran lempeng bumi. Kawasan Sumatera Barat memang merupakan daerah rawan gempa, karena daerah ini terletak di patahan semangka antara dua lempengan bumi. Meski bisa dipahami secara ilmiah, namun kapan terjadi gempa, di mana terjadi gempa, seberapa besar kekuatannya, masih merupakan teka-teki tak terpecahkan hingga saat ini. Jepang yang memiliki teknologi dan pakar paling handal sekali pun tak mampu mengurainya.

Namun, dalam Al Quran cukup banyak ayat yang menerangkan peristiwa gempa/bencana. Dalam ayat tersebut diterangkan Allah menurunkan bencana untuk menghukum umat yang durhaka, munafik dan gemar berbuat maksiat, seperti firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 78, 91 dan 155, surat Al Haj ayat 1, dan surat Al Ankabut ayat 37. Apakah gempa/bencana di Sumbar hanya sekadar peristiwa alam atau peringatan Allah atas sikap dan perbuatan kita yang melampaui batas? Hanya kita dan Allah yang tahu jawabannya.

Namun di sisi lain, terlepas dari semua itu, semua peristiwa tersebut adalah musibah. Kematian adalah musibah. Kehilangan harta benda, kegagalan, juga musibah. Kita harus sabar dan ikhlas menghadapinya, karena di balik musibah ada hikmah dan kabar gembira. Dalam surat Al Baqarah ayat 156, yaitu orang-orang yang bila ditimpa musibah ia mengucapkan innalillahi wainnailaihirojiun.

Gempa tahun 2009 lalu merupakan pelajaran sangat penting dan mahal bagi kita. Meski peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam, namun kita tak boleh berputus asa. Secara global ada dua hal yang perlu dipersiapkan berdasarkan pengalaman tersebut. Pertama, mengevaluasi ketakwaan kita kepada Allah, sehingga gempa yang terjadi bukan karena kemurkaan Allah, tetapi hanya sebatas fenomena alam belaka. Kedua, adalah melakukan antisipasi kesiapsiagaan bencana.

Antisipasi tersebut bisa dilakukan secara horizontal, yaitu dengan menjauh dari daerah pantai untuk menghindari tsunami, serta memperkokoh konstruksi bangunan. Antisipasi vertikal bisa dilakukan dengan mendirikan shelter.

Insya Allah, jika kedua antisipasi itu dilakukan, baik secara agamis maupun secara ilmiah, niscaya kita bisa bekerja dan beribadah dengan tenang. Di balik duka mendalam yang ditimbulkan gempa 2009, juga ada harapan baru yang muncul di baliknya. Pasca gempa, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat justru melonjak di atas angka rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Di saat ekonomi nasional maupun global dalam keadaan kritis, Sumatera Barat justru mendapat kucuran dana pembangunan sangat besar. Memang masih ada masalah yang tersisa dan perlu diselesaikan. Namun, mari kita syukuri rahmat yang telah kita terima jumlahnya jauh lebih banyak daripada masalah yang tersisa. Allah berjanji akan melipat gandakan rahmatnya bagi manusia yang pandai mensyukuri nikmat. (Oktober 2011)

83. Memaknai Idul Fitri

Memaknai Idul Fitri

 

Banyak orang, beragam pula cara mereka memaknai hari raya Idul Fitri. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai ajang untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Hari itu digunakan untuk mengencangkan tali silaturrahmi, saling memaafkan, membangun suasana baru dalam keluarga serta kaum kerabat dan lingkungan sosial.

Sebagian muslim lainnya beranggapan Idul Fitri perlu disambut gembira karena telah mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan, mengoptimalkan dan mengisi Ramadhan dengan beragam ibadah dengan penuh keikhlasan. Maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, hari yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para Nabi dan orang-orang shaleh. Mereka berharap ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal yang telah dilakukan.

Apakah puasa dan segala ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT, sehingga patut dirayakan? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti disinyalir Nabi Muhamad SAW? Menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil menjalankan ibadah puasa. Indikator tersebut adalah; ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat, ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan, ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana.

Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya?

Itulah rahasia kenapa Selamat Hari Raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal Aidin wal Faizin (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Namun yang pasti Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang sikap dan perbuatan kita selama ini.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri sebagai ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah SWT, momen mengasah kepekaan sosial. Islam tidak menginginkan ada pemandangan paradoks, betapa di saat kita berbahagia dan bergembira, apalagi berpesta pora, sementara saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar atau tersiksa dalam keadaan nestapa.

Sungguh Maha Besar dan Maha Pengasih Allah Swt. Allahu akbar… Allahu akbar walillah ilhamd. Selamat merayakan Hari Raya idul Fitri 1432H. Minal ‘Aidin wal Faizin. Hanya Allah yang maha Sempurna, tak ada manusia yang terlepas dari khilaf dan salah, mohon maaf lahir dan bathin. (September 2011)

84. Bulan Prestasi

Bulan Prestasi

 

KITA bersyukur, salah satu anugerah dari Allah SWT kepada bangsa Indonesia adalah Kemerdekaan RI yang diproklamasikan 9 Ramadhan atau 17 Agustus. Bulan yang sangat istimewa kedudukannya dan juga berlimpah ampunan, rahmat dan berkah dari Allah SWT.

Di saat menahan haus dan lapar, para pendiri bangsa ini justru menorehkan prestasi emas mereka. Di saat sepuluh hari pertama Ramadhan yang merupakan penuh Rahmat Allah SWT, kemerdekaan Republika Indonesia diproklamasikan.

Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa banyak prestasi yang ditorehkan di bulan Ramadhan. Yang cukup fenomenal dalam sejarah keNabian adalah terjadinya perang Badar Kubro pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Pada malam menjelang perang keesokan hari, Rasulullah SAW lebih banyak mendirikan shalat.

Dan ketika peperangan kian berkobar, Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini.”
Maka turunlah ayat: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal: 9). Pertempuran antara 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy ini, dimenangkan kaum muslimin dengan izin Allah SWT.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin melakukan mobilisasi ke Mekah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy. Mereka memasuki Mekah dengan aman. Kaum kafir Quraisy yang mengetahui bahwa setiap penaklukan terjadi pembantaian justru semakin terpesona oleh akhlak Rasulullah SAW karena pasukan Islam tersebut tidak melakukan apa yang mereka bayangkan. Hingga akhirnya banyak penduduk Mekah yang masuk Islam.

Penaklukan kota Mekah ini jika ditarik ke belakang berawal dari pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kafir Quraisy. Dan pada awalnya perjanjian Hudaibiyah ini terlihat menguntungkan kaum kafir Quraisy, sampai Umar bin Khaththab ra pun mempertanyakan kepada Rasulullah SAW tentang disetujuinya perjanjian Hudaibiyah oleh Rasulullah SAW. Setelah turun wahyu Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS Al Fath: 1). Maka umat Islam menjadi tenang. Dan setelah terjadinya pelanggaran, maka bergeraklah pasukan Muslim ke Mekah hingga akhirnya beroleh kemenangan tanpa pertumpahan darah.

Prestasi lain yang juga tercatat sejarah adalah pada Ramadhan 92 Hijriah, Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia (Spanyol) yang diawali dengan membakar hampir semua kapal yang membawa pasukannya. Tindakan ini menyebabkan tegaknya Islam selama lebih kurang tujuh abad di Andalusia.

Sementara itu, pada Ramadhan 658 Hijriah, Muzaffar Quthz berhasil memimpin kaum muslimin memperoleh kemenangan dari pasukan Tar Tar yang terkenal ganas dan juga tangguh setelah sebelumnya tidak dibayangkan kemenangan melawan pasukan ini.

Dengan melihat sederetan prestasi tersebut, maka bulan Ramadhan bukanlah bulan yang menjadikan umat Islam bermalas-malasan. Justru sebaliknya, bulan yang seharusnya penuh dengan prestasi karena pertolongan Allah sangat dekat dibanding bulan yang lain. Maka merugilah orang yang bermalas-malasan atau bahkan yang menjadikan tidur sebagai ibadah favorit.

Jika tidak mampu berprestasi untuk masyarakat, maka minimal kita bisa menorehkan prestasi untuk diri sendiri dan juga keluarga. Jika di bulan lain kita jarang sholat ke masjid, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan kunjungan ke masjid. Jika di bulan lain kita jarang membaca Al Quran, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan intensitas membaca Al Quran dan kemudian membiasakannya setelah Ramadhan. (Agustus 2011)

85. Syahrul Jihad

Syahrul Jihad

 

Setiap ibadah yang baik harus mengikuti cara, dan juga mencontoh Rasulullah SAW. Oleh karena itu puasa di bulan Ramadhan juga harus mengikuti apa yang telah diperintahkan dan dilakukan Rasulullah SAW.

Rasulullah adalah orang yang senantiasa meningkatkan kesungguhan dalam beramal dan beribadah, termasuk dalam melakukan peperangan. Kita bisa membayangkan kondisi berperang di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa di tengah terik matahari.

Pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah menjalani perang Badar Kubro. Pertempuran yang tidak imbang dari segi jumlah, 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy. Dengan izin Allah SWT kaum muslimin meraih kemenangan.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin mendatangi kota Mekkah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy.

Rasulullah SAW semasa hidupnya menjalani sekitar delapan kali Ramadhan. Rasulullah bahkan menjalani puasa di musim panas yang sangat terik.
Abu Darda berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah”. (Muttafaq alaih).

Para sahabat pun banyak yang mencontoh puasa Rasulullah SAW. Umar bin Khattab ra saat menjelang kematiannya berpesan kepada puteranya, Abdullah. “Hendaknya engkau mewujudkan sifat-sifat keimanan.” Lalu beliau menyebutkan yang paling pertama, “Berpuasa saat panas sangat terik di musim panas.”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata: “Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya”.

Ini adalah contoh bagaimana orang-orang terdahulu bersungguh-sungguh atau berjihad dalam melaksanakan amal ibadah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Jihad dalam arti bahasa adalah bersungguh-sungguh dan dalam arti khusus adalah perang. Ramadhan adalah syahrul jihad, umat Islam diminta bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam beramal. Jika hari ini kita lihat orang yang berpuasa bermalas-malasan atau ada PNS yang memotong jam kerja (masuk lambat pulang cepat), jelas tidak mencontoh Rasulullah SAW.

Bersungguh-sungguh puasa tidak akan menyebabkan kematian karena tidak ada dalam sejarah orang mati karena berpuasa. Demikian pula dengan kemalasan yang hanya merupakan dorongan psikologis semata. Betapa banyak orang menjalankan puasa semisal Senin dan Kamis di luar Ramadhan tapi mampu mengimbangi kerja orang yang tidak berpuasa.

Jika kita melakukan pemanasan menjelang Ramadhan, yaitu melaksanakan puasa di bulan Rajab dan Syakban, maka akan semakin ringan dan bersungguh-sungguh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Secara kesehatan, orang yang tidak makan setelah sahur masih memiliki energi untuk beraktivitas hingga Maghrib. Untuk itu, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan karena Ramadhan adalah bulan kesungguhan (syahrul jihad) bukan bulan kemalasan. Bagaimana mungkin mencapai derajat takwa jika yang dilakoni adalah kemalasan, bukan kesungguhan. (Agustus 2011)

 

86. Hidup Bagaikan Cermin

Hidup Bagaikan Cermin

 

Hidup itu bagaikan cermin. Jika anda tersenyum, maka cermin akan tersenyum pada anda. Sebalikya jika anda marah dan melotot, maka cermin juga akan marah dan melotot pada anda.

Begitu pula lah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita memperlihatkan wajah kecut dan cemberut kepada orang lain, maka orang tersebut akan membalasnya pula dengan wajah kecut dan cemberut. Jika kita memperlihatkan wajah yang menyenangkan, ramah dan bersahabat, maka orang akan membalasnya dengan wajah ramah dan bersahabat pula.

Buruk atau baik yang kita lakukan pasti akan dibalas pula dengan kebaikan atau keburukan. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, keburukan akan dibalas dengan keburukan pula. Seperti kata pepatah Minang, kalau lai padi nan ditanam, ndak mungkin lalang nan ka tumbuah.  Atau ada juga ada ungkapan yang mengatakan: Siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Artinya, siapa yang berbuat kebaikan pasti akan memperoleh balasan berupa kebaikan dan siapa yang berbuat keburukan akan menerima balasan berupa keburukan.

Realita kehidupan ini dengan mudah dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga saja misalnya, anak-anak yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur pasti akan mendapat mendapat apresiasi yang baik pula dari para orang tua mereka. Ia menjadi anak kesayangan, umumnya apa yang dia minta, jarang yang tidak dikabulkan. Ia mendapat perlakukan istimewa.

Begitu juga fakta yang terjadi di dunia kerja. Pegawai atau karyawan yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur dan kreatif akan mendapat apresiasi yang baik pula dari rekan kerja atau  pimpinannya. Ia akan mendapat perlakuan khusus, seperti cermin, semua orang akan memberikan perlakukan yang baik pula padanya. Bukan hal mustahil jika ia diberi kenaikan pangkat atau jabatan yang baik.

Ini adalah salah satu contoh bukti nyata dalam organisasi Pemda Sumbar. Pegawai yang bersikap baik, rajin dan jujur, kemanapun ia akan dipindahkan semua orang dengan senang hati bersedia menerimanya. Sementara di lain pihak, pimpinannya berusaha mempertahankan agar pegawai tersebut tidak dipindahkan. Ondeh Pak, jan dipindahkan lo nyo lai, inyo paguno dek kami mah,  (jangan pindahkan dia Pak, kami butuh dia), begitu pimpinan tempat ia bekerja berusaha mempertahankan.

Sebaliknya pegawai yang bermental jelek, malas, licik, tak akan mendapat tempat dan apresiasi yang baik. Ia selalu ditolak dimana-mana. Jan dipindahkan lo nyo kamari Pak, mambana kami, (mohon jangan dipindahkan dia ke sini Pak), begitu komentar pimpinan atau pegawai lain saat ia dimutasikan ke suatu tempat.

Di hadapan Allah, dalil serupa juga berlaku. Allah akan memperlakukan umat yang baik, dengan balasan yang baik pula. Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan, keburukan dengan keburukan pula, itu janji Allah. Seperti juga yang berlaku pada sesama manusia, manusia yang bermental dan berprilaku baik juga akan mendapat keistimewaan. Segala permintaannya sulit bagi Allah untuk menolaknya. Segala doa dan harapannya diijabah oleh Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan magfirah dan wa rahmah, bulan dimana terbuka peluang bagi manusia untuk menghapus semua dosa-dosanya, jika ia bersungguh-sungguh. Bulan ini juga merupakan bulan dimana kebaikan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Memperbanyak shalat sunat, shalat malam, membaca Al Quran adalah beberapa ibadah-ibadah yang bisa dilakukan untuk mendekat diri pada Allah. Bersedekah, berbuat baik dan menolong orang lain adalah beberapa contoh perilaku yang orang lain bersimpati pada kita dan juga mendapat pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Segala kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dibalas Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Mari jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, sekaligus memperbaiki masa depan kita, dunia dan akhirat. (Agustus 2011)

87. Menghindari Konsumerisme

Menghindari Konsumerisme

 

Setiap tahun, angka inflasi yang tinggi justru terjadi di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Harga beras naik, harga sembako naik. Kenaikan harga secara teori akibat terjadinya permintaan yang melebihi persediaan. Namun boleh jadi pada bulan Ramadhan ini kenaikan harga tersebut terjadi akibat permintaan yang didorong oleh aspek psikologis konsumen dibanding permintaan riil mereka.

Menjelang momen-momen tertentu, sebenarnya pemerintah telah menyiapkan stok bahan makanan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk di bulan Ramadhan. Karena permintaan didorong aspek psikologis, maka hal ini dimanfaatkan penjual atau produsen untuk menaikkan harga.

Jika kita melihat konsepnya, pola makan di bulan Ramadhan justru berkurang dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari (berbuka dan sahur). Bahkan ajaran sebenarnya, di bulan Ramadhan umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Yang dimaksud mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu ini tidak terbatas sejak subuh hingga maghrib, tapi sejak maghrib hingga subuh pun umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu.

Di kala siang, menahan haus dan lapar, dan di kala malam mengendalikan diri untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makan dan minum serta mengendalikan emosi diri. Jika pola makan saja sudah turun dari tiga kali menjadi dua kali, maka seharusnya kebutuhan akan makanan juga berkurang. Namun ternyata yang terjadi sebaliknya.

Kerap muncul perasaan ingin membeli makanan dan minuman yang lezat dan enak untuk berbuka puasa karena sanggup menghabiskan. Namun ternyata ketika waktu berbuka tiba, tidak semua yang dibeli itu bisa dimakan. Bahkan muncul makanan dan minuman sisa yang terbuang percuma. Maka terjadilah kemubaziran. Jikapun semua yang dibeli dihabiskan, maka dampak setelah itu muncul kemalasan untuk beribadah karena sudah kekenyangan.

Secara kesehatan makan terlampau kenyang membuat perut bekerja ekstra keras karena 12 jam sebelumnya dalam keadaan kosong. Alih-alih menimbulkan kesehatan, puasa seperti ini justru bisa mendatangkan penyakit.

Sementara kemubaziran itu sendiri merupakan hal yang tercela dalam ajaran Islam. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al Isra: 27). Di samping munculnya kemubaziran, di bulan Ramadhan yang seharusnya umat Islam meningkatkan amal ibadah justru harus menaklukkan diri sendiri ketika kekenyangan demi kekenyangan menemani mereka setiap berbuka yang menyebabkan munculnya kemalasan untuk beribadah. Maka benarlah apa yang disampaikan Rasulullah SAW, “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar” (HR Bukhari-Muslim).

Kemubaziran adalah dorongan psikologis dimana keinginan lebih dominan dari kebutuhan. Kemubaziran merupakan implementasi kegagalan mengendalikan hawa nafsu yang seharusnya dilakukan di bulan Ramadhan ini. “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa,” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Imam Ghazali pernah mengatakan, jika seseorang mengalami kekenyangan maka ia akan menganggap orang di seluruh dunia juga mengalami kekenyangan. Hal seperti ini juga akan mengurangi makna puasa. Seharusnya puasa membuat kita bisa merasakan kehidupan saudara-saudara kita yang masih dalam kondisi kekurangan sehingga konsumsi yang kita lakukan tidak menimbulkan kemubaziran dan bahkan bisa menyisihkan uang kita untuk disedekahkan kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. (Agustus 2011)

88. Ramadhan dan Somalia

  1. Bulan Pembentukan Karakter

Pernahkah kita memperhatikan tingkah laku hewan ternak? Ayam, misalnya. Hanya butuh waktu beberapa hari saja melatihnya. Maka ia segera tahu dimana kandang yang harus dia tuju, dan  segera setiap sore tanpa diperintah lagi dia akan pulang dan masuk ke kandangnya. Mereka juga tahu dimana tempat makannya. Mereka juga tahu memilih makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh  mereka dan menghindari makanan yang akan mencelakakan mereka.

Banyak contoh-contoh hewan yang memperlihatkan kepatuhannya dengan memberikan latihan pembiasaan terhadap mereka. Burung beo misalnya, setelah dilatih, ia segera bisa mengucapkan salam kepada setiap ada tamu yang datang. Beo juga senang dan tak lupa mengucapkan kata selamat pagi kepada tuannya saat memberinya makan setiap pagi.

Kucing juga demikian, ia tidak akan buang kotoran sembarangan setelah dilatih, dan selalu menimbun kotorannya dengan tanah. Hal itu selalu ia lakukan dengan teratur. Begitu juga anjing, kuda, burung merpati, gajah, ikan lumba-lumba dan banyak lagi contoh hewan lain yang bisa dilatih dengan cara pembiasaan dan kebiasaan itu selalu melekat dalam diri mereka dan takkan pernah mereka lupakan selamanya.

Mungkin itu pula yang diinginkan Allah kepada manusia di bulan Ramadhan.  Puasa melatih dan membiasakan manusia menahan lapar dan dahaga di siang hari selama sebulan penuh. Seharusnya kebiasaan itu bisa melatih manusia agar tidak makan dan minum secara berlebihan, melatih manusia untuk mengendalikan nafsu makannya secara berlebihan. Kita tahu bahwa makan berlebihan dan tidak terkendali akan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, asam urat, jantung koroner dan lain-lainnya.

Puasa juga melatih manusia untuk menjaga sikap dan perbuatan dan perkataan mereka  agar melakukan hal-hal yang baik. Sikap dan perbuatan yang baik tentu memberikan nilai tambah yang baik bagi orang lain. Menjaga ucapan dan perkataan yang baik tentu saja menyenangkan bagi orang lain tidak menimbulkan saki hati dan merugikan orang lain. Sebaliknya sikap tersebut menimbulkan simpati kepada mereka pelakunya. Subhanallah, sungguh mulia agama Islam. Allah sebagai Khaliq Maha Tahu dengan apa yang terbaik untuk umatnya.

Kesimpulannya, jika dalam bulan Ramadhan, selama sebulan penuh kita benar-benar berlatih untuk mengendalikan makan-minum, hawa nafsu, maka di akhir Ramadhan dan seterusnya seharusnya sudah terlihat hasil dan perubahannya. Jika selama sebulan penuh kita berlatih untuk melakukan shalat, termasuk shalat malam (qiyamulail), seharusnya di akhir Ramadhan seharusnya ada perubahan dan perbaikan. Bulan selanjutnya seharusnya ada perubahan, kita seharusnya sudah terbiasa melakukan shalat wajib, shalat sunat serta shalat malam.  Jika hewan bisa dilatih dan dibiasakan seharusnya manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan dilengkapi dengan akal dan pikiran bisa melakukannya secara lebih baik.

Jika selama bulan Ramadhan kita melatih sikap dan perkataan yang baik secara serius dan sungguh-sungguh, maka setelah berlatih sebulan penuh seharusnya sikap tersebut terus tertanam dalam diri kita dan mejadi perilkaku sehari-hari. Selanjutnya jika terus dibina dan terus diperbaiki maka ia akan menjadi karakter kita seumur hidup.

Jika semua perubahan dan perbaikan itu tidak kita peroleh dan tidak kita upayakan selama bulan Ramdhan, maka benar apa yang dikhawatirkan Nabi Muhammadi SAW akan jadi kenyataan :  “tidak ada yang dapat mereka peroleh setelah selama bulan penuh berpuasa kecuali sekedar merasakan haus dan lapar”. Sungguh sayang dan rugi jika kesempatan “berlatih” sekali setahun tersebut tidak kita manfaatkan sebaik mungkin.  Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi tersebut. Amin. (November 2013)

 

  1. Bulan Pembinaan SDM

 

Ramadhan merupakan bulan pembinaaan SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas. Saat ini menilai SDM berkualitas umumnya dilihat dari jejak rekam profesionalitas seseorang yang berwujud kerja fisik dan pemikiran semata. Padahal, jika melihat sejarah keNabian, SDM berkualitas dilahirkan dari orang-orang yang mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.

Apakah sunnah Rasulullah SAW tersebut? Di antaranya adalah sholat wajib berjamaah, sholat dhuha, sholat tahajud, puasa sunnah (dan juga yang wajib), membaca dan menghafal Al Quran, i’tikaf, dan bersedekah. Di bulan Ramadhan, amalan-amalan sunnah tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT. Maka para sahabat pun berusaha untuk melipatgandakan amalan tersebut, seperti khatam Quran berkali-kali dalam bulan Ramadhan serta melipatgandakan sedekah mereka.

Kesuksesan pelaksanaan Ramadhan ini tidak akan serta merta berdiri sendiri, akan tetapi ada pengiringnya. Seseorang akan bisa sukses di bulan Ramadhan jika ia melaksanakan berbagai amalan jauh sebelum Ramadhan sehingga sudah mengalami pembiasaan. Seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunnah dan senantiasa membaca Al Quran dengan rutin, maka di bulan Ramadhan ia akan lebih mendapatkan hasil yang maksimal.

Rasulullah SAW sendiri ketika menjelang Ramadhan meningkatkan amalan puasanya. “Sesungguhnya A’isyah berkata: “Tidak ada bulan yang Rasulullah SAW banyak melakukan puasa sunnah selain Sya’ban, sungguh beliau telah melakukan seluruh puasa sunnah di bulan Sya’ban” (HR Bukhari). Adapun sebab Rasulullah SAW memperbanyak amalan puasanya adalah, “Itulah bulan yang dilalaikan manusia yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan yang padanya amal perbuatan diangkat kepada Rabbul-’Aalamiin. Dan aku senang seandainya amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa”  (HR An-Nasa’i).

Sementara di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW meningkatkan pula amalannya. Bahkan tadarus Al Quran pun ditemani oleh malaikat Jibril. Dari Ibnu Abbas ra. Berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al Quran. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus”. (Shahih Al Bukhari).

Para sahabat selalu berusaha mengikuti amalan dan sunnah Rasulullah SAW tersebut karena mereka meyakini hal itu merupakan hal terbaik yang harus dilaksanakan. Hasilnya, kita bisa melihat bahwa sahabat yang dibina oleh Rasulullah SAW kelak menjadi orang-orang yang amanah dalam jabatannya, peduli dengan ummat dan senantiasa mengajak kebaikan dan berdakwah hingga ke berbagai tempat. Padahal sebelumnya, para sahabat itu ketika di masa jahiliyahnya banyak bergelimang dosa dan  tidak memiliki kecakapan.

Di bulan Ramadhan, Rasulullah juga membina fisik para sahabatnya karena banyak peperangan dilakukan di bulan Ramadhan. Dan dengan izin Allah, peperangan yang dilakukan di bulan Ramadhan selalu beraih kemenangan. Ini juga akibat usaha mereka untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT baik dalam menjaga rohani dan jasmani serta pikiran.

Kita yang hidup saat ini pun bisa mencontoh pembinaan SDM yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Insya Allah, kita bisa menjadi SDM yang berkualitas dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW tersebut tanpa mengurangi kepiawaian kita di suatu bidang, bahkan justru meningkatkan kepiawaian kita. Ramadhan adalah tempat untuk meningkatkan amalan. Namun di luar Ramadhan, amalan tersebut harus senantiasa dilakukan agar terjaga konsistensinya. Inilah yang juga kita bisa lihat di dalam diri Rasulullah SAW dan para sahabat. (Agustus 2011)

 

  1. Puasa dan Takwa

Kita mungkin pernah melakukan sebuah perjalanan. Baik itu perjalanan yang memakan waktu pendek, maupun perjalanan yang membutuhkan waktu panjang, di dalam atau ke luar negeri. Tentu saja yang paling penting dalam melakukan perjalanan tersebut adalah persiapan. Makin jauh dan makin lama perjalanan yang akan dilakukan,  makin banyak persiapan yang perlu dilakukan, makin banyak bekal yang harus dibawa. Sukses atau tidaknya perjalanan tersebut tergantung dari kematangan persiapan yang dilakukan.

Sebenarnya perjalanan paling panjang dalam kehidupan manusia adalah perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia pada hakikatnya hanyalah persiapan untuk perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi adalah di kampung akhirat kelak.  Seperti firman Allah dalam QS. Al Ankabut: 64; “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Karena itu jangan terlena dengan kesenangan di dunia, sebaliknya lakukanlah persiapan sebaik mungkin dan persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk hidup di akhirat kelak. Banyak orang berjuang mati-matian, tak peduli siang dan malam, untuk mengejar kehidupan dunia,  namun mereka lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Takwa adalah bekal terbaik untuk perjalanan ke kampung akhirat. Seperti firman Allah dalam QS. 2:197; “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada Ku hai orang-orang yang berakal”.

Secara sederhana mereka yang mematuhi semua perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW dan menghentikan semua larangan beliau disebut sebagai orang yang bertakwa (muttaqin).  Dalam Al Quran dan hadits Allah dan Nabi Muhammad SAW telah menuntun manusia tentang apa yang boleh dan harus mereka lakukan (perintah) dan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan (larangan).

Proses untuk menjadi muttaqin kita lakukan dan kita latih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai ibadah dan kebaikan. Puncak latihan tersebut adalah pada bulan Ramadhan. Allah memberikan keistimewaan selama bulan Ramadhan dan memberikan imbalan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan disebut juga sebagai penghulu sekalian bulan. Al Quran diturunkan pada bulan ini, dan cuma pada bulan Ramadhan adanya malam Lailatul Qadar.

Dalam  QS. Al Baqarah: 183 Allah berfirman;  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kamu bertakwa.”  Di sini jelas ditegaskan bahwa tujuan bulan Ramadhan yang utama adalah menggembleng manusia agar menjadi umat yang bertakwa. Maka dalam waktu selama sebulan tersebut kita dilatih beribadah, yaitu melakukan perintah dan menghentikan larangan Allah dan Nabi Muhammad SAW, agar menjadi umat yang bertakwa.

Takwa juga merupakan solusi dalam kehidupan di dunia. Seperti firman Allah dalam QS. 65: 2 dan 3; “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”.

Pada ayat 4 dan 5 surat yang sama Allah menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Tingkat keberhasilan seseorang  menjalankan puasa selama bulan Ramadhan bisa diukur dari tingkat ketakwaan seseorang atau sejauh mana terjadi perubahan ketakwaan seseorang sebelum  dan sesudah berpuasa selama bulan Ramadhan.

Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan tahun ini untuk meningkatkan ketakwaan kita sebagai bekal perjalanan ke kampung akhirat kelak. Agar puasa tidak menjadi sia-sia, harus terlihat meningkatnya ketakwaan seseorang sebelum dan setelah berpuasa sebulan penuh. Semoga kita menjadi orang yang bertakwa,  bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat kelak. Amin. (Juli 2013)

 

68. Puasa dan Kejujuran

 

         Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidakjujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.

Nabi Muhammad SAW pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, di akhir zaman, manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram (HR Muslim).
Era reformasi telah berlangsung lebih sepuluh tahun, namun praktek kolusi, korupsi dan suap menyuap masih saja ramai terdengar. Untuk mengatasi dan mengurangi segala kebiasaan destruktif tersebut, puasa dan bulan Ramadhan merupakan merupakan ibadah dan momen yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah.

Berbeda dengan sifat ibadah yang lain, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah SWT.
Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT. Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran. Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.

Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat diselesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan

Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain. Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Mari kita jadikan ibadah puasa dan bulan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk melatih kejujuran bersama. Selamat menunaikan ibadah puasa. (Juli 2011)
69. Puasa Menyehatkan Mental

Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam, juga umat sebelumnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah: 183). Di balik kewajiban, terdapat berbagai hikmah yang besar bagi mereka yang berpuasa, di antaranya adalah untuk menyehatkan mental dan mengendalikan hawa nafsu.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al Jaatsiyah: 23)

Allah SWT telah meminta kita mengambil pelajaran dari orang-orang yang sudah mencapai tingkat mempertuhankan hawa nafsunya. Dan kita ketahui, bahwa akhir dari hal tersebut adalah kerusakan dan kehancuran di muka bumi.

Puasa melatih kita menahan hawa nafsu, baik makan, minum dan juga hubungan suami istri di siang hari. Upaya melatih menahan makan, minum dan berhubungan tersebut adalah dalam rangka menyehatkan mental. Di samping itu menahan emosi juga merupakan bagian dari ajaran puasa yang sangat berguna menyehatkan mental.

Dengan mengendalikan emosi, lapar, dan haus, maka tubuh kita akan disehatkan sehingga menyebabkan munculnya ketenangan dan juga kebahagiaan. Sementara memperturutkan hawa nafsu akan memunculkan kesengsaraan. Ini karena puasa merupakan bagian dari zikir kepada Allah SWT. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS Ar Ra’d: 28).

Sebagai contoh kecil, setiap hari kita diperlihatkan dengan perilaku pengendara yang memperturutkan hawa nafsunya serta tidak bisa mengendalikan emosi. Mereka ingin cepat, tak mau mengalah meskipun seharusnya berhenti sebentar, sehingga terjadilah kecelakaan. Ini adalah gambaran ketidaktenangan jiwa. Akibatnya, tidak hanya mereka yang akan resah, akan tetapi orang lain akan merasakan dampaknya.

Jika perintah agama dalam berpuasa dijalankan dengan benar dan menjadi kebiasaan, maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya. Dari segi kejiwaan, ia akan memperkuat rohani. Kemudian dari segi perilaku, ia akan memperbaiki akhlak pelakunya. Dari segi perbuatan, ia akan memperkuat amalan-amalan para pelakunya. Dan dari segi fisik, ia akan memperkuat tubuh karena ilmu kedokteran telah membuktikan banyaknya manfaat yang didapat dari berpuasa dan juga mengendalikan emosi.

Allah SWT menyatakan bahwa puasa akan lebih baik bagi kita jika kita mengetahuinya. “…dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Puasa dan upaya mengendalikan hawa nafsu serta menahan emosi selain menyehatkan mental kita, juga memberi ketenangan di lingkungan. Sebagai masyarakat agamis, kita meyakini bahwa banyaknya maksiat yang merupakan upaya memperturutkan hawa nafsu akan menimbulkan keresahan di masyarakat. Sehingga masyarakat akan memberantas kemaksiatan yang terjadi di tempat mereka. Masyarakat ingin lingkungannya tenang agar mental mereka dan keluarganya sehat. Momentum puasa merupakan saat yang tepat untuk menyehatkan mental kita jika dilakukan dengan benar sesuai ajaran agama. Selamat menunaikan ibadah puasa, 1433H. (Juli 2012)

 

70. Meninggalkan Ramadhan

Ada doa yang sudah menjadi kebiasaaan umum bagi umat Islam ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Allahumma bariklana fii rajaban wa sya’ban wa ballighnaa Ramadhan yang artinya “Ya Allah berikanlah berkah kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.” Doa ini menggambarkan bagaimana harap dan rindu kaum muslimin terhadap Ramadhan sehingga berharap diberikan hidup dan merasakan Ramadhan.

Semangat menyambut Ramadhan oleh Rasulullah SAW digambarkan dalam perintah kepada umat Islam untuk mengisi bulan Rajab dan Sya’ban untuk persiapan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dan sahabat sangat gembira ketika memasuki bulan Ramadhan dan sedih ketika meninggalkan Ramadhan.

Ketika di sepuluh hari terakhir Rasulullah melakukan iktikaf di masjid yang merupakan kegiatan ibadah yang berisi zikir dan ibadah lainnya. I’tikaf hanya dilakukan di masjid dan pelakunya tidak melaksanakan kegiatan lain di luar i’tikaf kecuali ada keperluan mendesak.

Kegiatan iktikaf ini ingin menggambarkan bahwa Rasulullah SAW dan sahabat ingin meraih pahala di bulan Ramadhan sehingga tidak ingin Ramadhan berlalu begitu saja dan karenanya i’tikaf ini dipenuhi dengan ibadah. Dan kita sudah mengetahuinya tentang ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah SWT, terutama di malam kemuliaan atau lailatul qadar.

Maka, ketika Ramadhan mencapai hari terakhir, para sahabat menangis dan sedih, mereka tidak tahu apakah masih bisa menjumpai Ramadhan di tahun berikutnya. Dan di waktu berikutnya, ketika bulan Rajab hendak masuk, muncullah doa agar diberikan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta disampaikan kepada bulan Ramadhan.

Sementara itu, yang terjadi pada hari ini berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Ketika memasuki Ramadhan, justru bawaan menjadi susah. Mesti bangun sahur. Harga bahan makanan membumbung tinggi, padahal ingin makan dan minum enak. Namun ada juga yang bersenang-senang dengan Ramadhan ini, mereka sudah menjadwalkan acara berbuka dengan makanan dan minuman yang lezat dan menyenangkan. Momen Ramadhan hanya dijadikan pengalihan waktu makan dan sedikit nuansa pesta.

Di samping itu, ada yang di bulan Ramadhan justru menyiapkan untuk menyambut lebaran. Bulan Ramadhan tidak terperhatikan sama sekali, yang dipersiapkan justru untuk menyambut lebaran yang cuma satu hari, sementara waktu 30 hari yang disediakan Allah SWT dengan banyak manfaat tidak dihiraukan.

Selain itu, ada juga yang melakukan kegiatan begadang, untuk menunggu sahur. Kegiatan yang dilakukan tidak terkait dengan ibadah yang dilakukan untuk mengisi Ramadhan, lebih terfokus kepada kesenangan semata. Dan, ada juga ketika Ramadhan sudah mencapai penghujung, justru bergembira karena sudah lepas beban selama satu bulan.

Berbagai fenomena di atas bukanlah sesuatu yang dilarang, akan tetapi kegiatan tersebut secara siginfikan bisa mengurangi bahkan menghilangkan keberkahan Ramadhan. Jika menunggu sahur dengan menonton acara lawak di televisi, maka hilanglah acara shalat malam, padahal momen shalat malam di bulan Ramadhan sangat bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan ini diberikan balasan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik balasan dan mampu meraih kemuliaan malam lailatul qadar yang selalu dikejar oleh para pencinta Ramadhan. “Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS Al Qadr: 2-3).

Semoga bulan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan yang penuh berkah dan  magfirah bagi kita semua. Jika waktu sebulan penuh yang telah berlalu kita manfaatkan dan kita isi dengan ibadah secara bersungguh-sungguh, seperti janji Allah, kita akan kembali fitrah, seperti kain putih yang belum ternoda dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allahuakbar…. Allahuakbar walillah ilhamd….Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, minal aidhin walfaidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2011)

 

71. Merayakan Kemenangan

Idul Fitri merupakan hari kemenangan yang patut disyukuri. Kemenangan itu adalah kemenangan  bagi mereka yang berhasil melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan baik serta berhasil melakukan ibadah-ibadah lain yang disunatkan melaksanakannya selama bulan Ramadhan.

Shaum (puasa) dalam arti bahasa adalah menahan dari sesuatu. Menurut Qadhi Al-Baidhawi seperti dikutip Rasyid Ridha, shaum adalah menahan diri dari dorongan nafsu. Sedangkan menurut syara, shaum adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri dari terbit fajar hingga matahari terbenam, untuk mencari keridhaan Allah (ihtisaban) dan mempersiapkan jiwa untuk meraih ketakwaan dengan menanamkan akhlak muraqabatullah (pengawasan Allah) dan mendidik jiwa dalam mengekang dorongan syahwat sehingga mampu meninggalkan semua hal yang haram (Tafsir Al-Manar, vol.2/114-115).

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS;al-Baqarah:183)

Kata kunci ibadah puasa adalah menahan hawa hafsu. Seperti pernah diungkapkan Nabi Muhammad SAW;  Meski perang badar merupakan perang terbesar dalam sejarah Islam, namun masih ada lagi perang yang lebih besar dan lebih dahsyat, yaitu perang melawan hawa nafsu. Maka mereka yang menang dan adalah mereka yang berhasil mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu. Sudahkah kita termasuk yang meraih kemenangan dan berhasil kembali fitrah?

Selain itu, dalam perspektif Islam, kebangkitan umat tidak melulu selalu dikaitkan dengan kesuksesan jihad fisik dan capaian pembangunan fisik serta sumber daya umat baik alam maupun manusianya. Karena itu  setiap tahun, Allah sediakan Ramadhan sebagai madrasah bagi kaum beriman untuk memusatkan dirinya mengisi ulang (recharge) keimanan dan takwa sebagai sarana pembangunan karakter yang menjadi pusat kendali arah bagi pembangunan fisik dan sumber daya manusia muslim.

Dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan umat muslim harus benar-benar fokus ke arah pencapaian tujuan ibadah tersebut yaitu “agar kamu bertakwa”. Kita tak boleh hanya berhenti sebatas menjaga aturan-aturan lahiriah puasa berupa larangan makan, minum dan berhubungan suami-istri dari pagi hingga sore hari. Namun, kita harus berupaya maksimal mewujudkan tujuan-tujuan disyariatkannya (maqasid syariah) ibadah puasa tersebut yang disimpulkan dalam kalimat “la’allakum tattaqun”.

Karena itu jika ada orang yang melaksanakan puasa di siang hari, namun melampiaskan hawa nafsunya di saat berbuka, maka sikap itu tentu tidak sesuai dengan makna puasa, yaitu melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu. Begitu juga mereka yang telah melaksanakan puasa  sebulan penuh, lalu berpesta pora dan pamer kemewahan saat Idul Fitri. Hikmah yang  mereka peroleh hanya sekedar lapar dan dahaga.

Karena itu Nabi dan para sahabat selalu bersedih saat berpisah  dengan Ramadhan dan mereka berdoa agar diberikan lagi kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.  Bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk melatih dan memperbaiki kualitas diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan juga merupakan kesempatan memperoleh ampunan dan pahala yang berlipat ganda.

Selamat merayakan Idul Fitri 1432 H,  moga kita termasuk orang-orang yang menang, kembali fitrah dan berhasil meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Jika tahun ini belum berhasil, insya Allah tahun-tahun berikutnya kita perbaiki dan kita tingkatkan lagi. Allahu Akbar … Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walilla Ilhamd… (Agustus 2012)

 

72. Indahnya Saling Memaafkan

 

Siapa yang berani mengaku bahwa dirinya tak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan? Pasti tak ada satupun. Jika ada yang berani mengaku bahwa tidak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan, pasti ia keliru. Salah dan khilaf adalah sifat alamiah dasar manusia, tak ada manusia yang luput dari khilaf dan berbuat kesalahan.

Atasan bisa saja melakukan kesalahan terhadap bawahannya atau sebaliknya. Yang tua suatu saat juga bisa melakukan kesalahan terhadap yang muda. Ayah terhadap anak, suami terhadap istri atau sebaliknya, semua berpeluang melakukan kesalahan. Kesalahan itu bisa jadi disengaja, maupun tidak disengaja.  Peristiwa itu bisa menimbulkan kesalahpahaman, kesal, sakit hati bahkan dendam.

Dendam dan sakit hati seperti yang sering saya sampaikan, bisa menghantui pikiran atau menjadi virus dalam pikiran. Makin lama makin banyak menumpuk bahkan berkembang biak di pikiran. Akhirnya seperti sebuah komputer yang terserang virus, suatu saat komputer tersebut hang (mogok bekerja), diam, tak dapat berbuat apa-apa. Pada manusia jika pikirannya hang, ia dikatakan mengalami gangguan jiwa.

Karena itu jika seseorang melakukan kesalahan terhadap kita, cepat-cepat maafkan dia, jangan simpan di pikiran, apalagi dalam bentuk dendam dan sakit hati. Sebaliknya jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, maka segeralah meminta maaf. Seperti firman Allah dan QS. An-Nur: 22, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Banyak orang mengatakan meminta maaf adalah pekerjaan yang paling mudah namun paling berat untuk dilakukan. Jika hal itu terjadi pada kita, maka Idul Fitri lah momennya. Idul Fitri merupakan kesempatan yang paling tepat untuk minta maaf dan saling memaafkan. Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meminta maaf atas semua kesalahannya dan saling memaafkan di saat Idul Fitri.

Karena itu mari kita manfaatkan hari yang fitri ini untuk meminta maaf dan saling memaafkan atas semua salah dan khilaf yang kita lakukan, maupun yang dilakukan orang lain terhadap kita. Mari lupakan kesalahan-kesalahan di masa lalu, kita mulai hari baru dengan janji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu dan berbuat yang lebih baik dan lebih hati-hati di masa datang.

Memaafkan terlebih dahulu adalah sikap terbaik. Sesungguhnya balasan bagi orang yang memaafkan dengan ikhlas adalah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman yg artinya “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syuuraa: 40)

Mari saling bermaaf-maafan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Minal Aidhin wal faidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2012)

 

73. 5 Koreksi Selama Berpuasa

 

Kita bersyukur kehadiran bulan Ramadhan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera Barat pada khususnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu terlihat peningkatan aktifitas masyarakat dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Mesjid dan mushalla penuh sesak oleh jamaah, tak kalah pasar dan pusat-pusat perbelanjaan ramai diserbu  pembeli.

Disadari atau tidak, ada 5 kesalahan yang kita lakukan selama melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kesalahan tersebut dilakukan banyak orang dan anehnya kesalahan itu dianggap sebagai kebiasaan dan kesalahan yang wajar-wajar saja. Padahal kesalahan tersebut menyangkut hal yang prinsip dan cukup fatal. Kesalahan-kesalahan yang perlu di koreksi itu adalah;

1.            Makan berlebihan.  Karena berpuasa seharian di siang hari, sering kita seperti orang balas dendam di saat berbuka puasa.  Bahkan kadang kala seperti orang kerasukan setan, makan cepat-cepat dan seperti ingin memakan semua makanan yang ada sekaligus. Akibatnya, sehabis  makan sangat kekenyangan, bahkan untuk berdiri pun sudah susah, perut terasa sakit dan tidak nyaman akibat kekenyangan.

Memang lumrah terjadi, di saat perut kosong semua makanan terlihat enak dan menggoda. Akibatnya keinginan untuk membeli menjadi sangat besar. Semua ingin dibeli dan semua ingin dimakan. Padahal ternyata makanan tersebut tidak seenak yang kita bayangkan di saat perut lapar. Seringkali makanan yang kita beli tersebut tidak termakan, mubazir dan bersisa saat berbuka puasa.

Bukankah puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama menahan haus dan lapar? Kesalahan seperti ini banyak terjadi dan masih banyak terjadi hingga saat ini.

2.            Berkurangnya intensitas kerja. Di saat berpuasa kita sering mengalami  pengurangan semangat kerja. Bahkan ada yang betul-betul kehilangan semangat kerja, loyo, sehingga lebih banyak tidur sepanjang hari. Pada hal Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa banyak peperangan di zaman Nabi dilakukan saat bulan Ramadhan. Aktifitas Nabi dan para sahabat tidak berkurang di bulan Ramadhan.

Puasa seharusnya tidak menghalangi aktifitas pekerjaan. Bagi yang tidak terbiasa puasa, memang terasa berat. Namun bagi yang sudah terbiasa puasa, puasa tak terasa berat dan bukanlah penghalang untuk melakukan aktifitas kerja. Karena itu kita dianjurkan untuk melakukan berbagai puasa sunat sebagai latihan dan persiapan menjelang Ramadhan. Dengan demikian puasa di bulan Ramadhan tidak terasa berat dan tidak membuat semangat kerja menjadi hilang.

3.            Nafsu belanja meningkat. Fenomena ini juga sangat terlihat menonjol di bulan Ramadhan. Seperti diuraikan di atas, dalam kedaan perut kosong (berpuasa), kita cenderung belanja makanan secara berlebihan, semua kelihatan serba enak dan ingin dibeli.

Fenomena lainnya yang membuat nafsu belanja meningkat adalah kita ingin tampil serba baru dan wah. Perabotan rumah diganti dengan yang serba baru, rumah direnovasi agar tampil beda, kendaraan baru diupayakan, apalagi pakaian dan makanan, dicari yang serba enak dan mahal. Jika hal ini dilakukan dengan niat untuk memuliakan Ramadhan dan sesuai dengan kemampuan kita, tentu tidak jadi masalah. Namun jika dilakukan dengan niat untuk pamer (ria), sekedar jaga gengsi, tentu saja hal ini tidak benar dan perlu dikoreksi. Banyak peristiwa kriminalitas seperti pencurian, perampokan terjadi di bulan Ramadhan, terutama menjelang lebaran. Lucunya, alasan mereka adalah memenuhi  kebutuhan (pamer?) di hari lebaran.

4.            Kurang membaca Al Quran. Pada bulan Ramadhan kita dianjurkan memperbanyak membaca Quran. Karena itu bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan Syahrul Quran. Al Quran sendiri diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan. Kita sering beranggapan bahwa aktifitas bulan Ramadhan selesai dengan berpuasa di siang hari. Padahal mengisi Ramadhan dengan membaca Al Quran (tadarus), termasuk qiyamullail (shalat malam) juga sangat penting dan besar nilainya.

5.            Lalai di 10 hari terakhir. Kesalahan lainnya yang juga perlu dikoreksi adalah kebiasaan kita yang disibukkan dengan menyiapkan kue, pakaian, mengecat rumah, dll di 10 hari terakhir Ramadhan. Akibatnya mesjid umumnya sepi di 10 hari terakhir, kegiatan ibadah di mesjid seperti terbaikan. Pada hal Allah mengatakan malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, itu diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan. Bukankah kita rugi besar jika peristiwa itu terlewatkan begitu saja dengan alasan sibuk menyiapkan kue lebaran?

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melakukan 5 kesalahan utama di bulan Ramadhan tersebut. Jika iya, semoga tahun depan kita masih bertemu dengan bulan Ramadhan lagi tahun depan dan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut.  Amin. (Agustus 2013)

 

 

74. Haji dan Kemampuan Finansial
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang pelaksanaannya mensyaratkan kemampuan. Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).

Syarat jika mampu menghendaki adanya kemampuan fisik dan keuangan. Mengapa harus memiliki kemampuan fisik? Karena ibadah haji adalah ibadah fisik. Tawaf, sa’i, jumroh, shalat di masjid dan wukuf, semuanya membutuhkan kebugaran fisik agar bisa berjalan lancar dan tertib.

Namun di samping kemampuan fisik, dibutuhkan kemampuan keuangan (finansial) untuk keperluan transportasi, penginapan, dan akomodasi selama menunaikan ibadah haji. Maka jika secara fisik sudah mampu, masalah keuangan juga harus dipenuhi.

Ketika berada bersama jamaah haji asal Sumbar beberapa waktu lalu, penulis banyak berbincang dengan para jamaah. Mereka berasal dari beragam latar belakang pekerjaan dan profesi. Tentunya, mereka sudah memiliki kemampuan keuangan sehingga menunaikan ibadah haji. Di antara jemaah itu, ada yang bisa menunaikan ibadah haji setelah mengumpulkan uang dalam waktu yang cukup lama. Mereka umumnya adalah para pekerja dengan beragam profesi yang menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit.

Ada juga jamaah haji yang tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunaikan ibadah haji. Yang termasuk kategori ini adalah para pengusaha. Namun ternyata ada juga para petani. Setelah berbicara lebih jauh, para petani ini rupanya tidak hanya mengolah sawah. Mereka juga melakukan pekerjaan lainnya seperti beternak ikan, menanam cokelat, kelapa sawit, berkebun dengan memanfaatkan lahan mereka serta ada juga yang memelihara sapi.

Ternyata, para petani yang sumber pendapatannya tidak dari satu tempat saja terlihat lebih sejahtera sehingga untuk menunaikan ibadah haji mereka bisa lebih cepat mengumpulkan dana. Penulispun tidak menemukan petani yang hanya bersawah saja untuk kelompok jamaah yang dalam waktu tidak terlalu lama bisa menunaikan ibadah haji.

Dengan melakukan bebeberapa usaha sekaligus, sumber pendapatan petani tersebut mampu menaikkan tingkat kesejahteraannya dengan lebih cepat dibanding hanya dengan bersawah saja. Hal ini juga menjelaskan, bagi para petani yang memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji, maka sebaiknya memiliki beberapa usaha agar sumber pendapatan mereka lebih dari satu sehingga bisa mempercepat naiknya tingkat kesejahteraan mereka.

Kenaikan tingkat kesejahteraan petani ini mempercepat usaha mereka dalam mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini merupakan jawaban bagi para petani yang menginginkan menunaikan ibadah haji. Dengan mengikuti jejak para petani yang memiliki lebih dari satu usaha, insya Allah keinginan menunaikan ibadah haji akan lebih cepat terwujud.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Ar Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Kita doakan, semoga para petani yang ingin menunaikan ibadah haji dimampukan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik kemampuan.  (Desember 2011)

 

75. Haji dan Persatuan

Ibadah haji mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan berbagai perbedaan. Ada yang berkulit hitam, sawo matang, putih, kuning dan lain-lain. Demikian pula dengan rambut dan fisik (berbadan besar, sedang maupun kecil). Allah SWT ciptakan mereka agar saling kenal.

Dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT befirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Perbedaan suku, bangsa, bahasa, budaya, lingkungan dan lainnya akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam menjalankan ajaran Islam. Adanya perbedaan di antara umat Islam itu merupakan keniscayaan. Sehingga ketika terjadi pertikaian karena adanya perbedaan ini maka kita sandarkan kepada aturan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Ketika menunaikan ibadah haji, penulis melihat beragam gerakan yang berbeda dari berbagai latar belakang jamaah ketika menunaikan sholat. Setelah takbir, tangan mereka ada yang bersedekap dan ada juga yang dibiarkan ke bawah.

Cara bersedekap pun beragam. Ada yang di dada, di perut, di pinggang maupun sedikit turun dari perut. Bersedekap di perut pun beragam. Ada yang kedua telapak tangannya di tengah, ada yang di pinggang sebelah kiri dan juga di sebelah kanan.

Demikian pula dengan gerakan-gerakan lain dalam pelaksanaan rukun dan wajib haji. Penulis melihat bahwasanya berbagai perbedaan itu masih berada pada tataran yang bukan prinsip. Perbedaan tersebut tidak perlu dipertajam, bahkan semestinya saling menghargai.

Ibadah haji telah mengajarkan dengan cepat kepada umat Islam yang menunaikannya bahwa perbedaan itu merupakan sebuah hal yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Dengan berbagai perbedaan tersebut, umat Islam diminta untuk mencari kesamaan dan menghargai perbedaan di antara mereka. Ibadah haji seolah ingin memberitahukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu, menghargai perbedaan dan jangan berpecah belah. Kemuliaan hanya bisa diperoleh dengan persatuan yang dibingkai dengan iman dan takwa. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 disebutkan bahwa yang paling mulia di antara kaum muslimin adalah yang paling takwa.

Di samping itu, ibadah haji juga mengajarkan bahwa Islam sudah disempurnakan sebagai agama bagi umat Nabi Muhammad SAW yaitu ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah sewaktu wukuf di Arafah. Di antaranya beliau membacakan surat Al Maidah ayat 3 yaitu, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”

Maka, haji bisa disebut sebagai puncak pelaksanaan rukun Islam yang mengajarkan persatuan karena jamaah haji akan menemui dan berinteraksi dengan manusia yang memiliki perbedaan. Di samping itu, puncak haji, wukuf di Arafah yang dihadiri oleh manusia yang berbeda suku bangsa adalah untuk mengingat akan khutbah Nabi Muhammad SAW tentang kesempurnaan Islam.

Umat Islam dengan beragam suku bangsa yang melakukan wukuf diajak untuk mensyukuri ajaran Islam yang sempurna. Ini merupakan pelajaran dari Allah SWT agar umat Islam bersatu ketika mendapati diri mereka ternyata terdiri dari beragam suku bangsa yang ada di dunia. Maka, bagi kita yang sudah melaksanakan ibadah haji, ajaklah umat Islam untuk bersatu dengan tetap menghargai perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya, itu adalah salah satu pesan yang tersirat sewaktu menunaikan ibadah haji. (Desember 2011)

 

 

76. Agar Hidup Bisa Nyaman

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal  yang membuat kita merasa tidak nyaman. Di perkotaan misalnya, kian hari lalu-lintas makin padat. Akibatnya  kemacetan terjadi di banyak tempat. Dulu, perjalanan Padang – Bukittinggi bisa di tempuh dalam waktu 2 jam, kini memakan waktu 3 bahkan sampai 5 jam.  Tidak hanya itu, angka kecelakaan lalu lintas juga meningkat.

Di musim hujan seperti saat ini kita segera menjadi was-was dan cemas. Curah hujan yang deras dan berdurasi panjang, biasanya akan diikuti dengan berbagai bencana. Bisa jadi berupa banjir, galodo, atau  longsor seperti yang terjadi di Lembah Anai baru-baru ini atau sejumlah kejadian lainnya di masa lalu.

Wilayah Sumatera Barat memang memiliki karakteristik yang unik. Daerah ini terdiri dari banyak gunung, bukit-bukit, lembah, sungai, dan laut. Sumbar juga memiliki lahan-lahan, daerah pertanian yang subur. Hal ini menyebabkan Sumatera Barat memiliki pemandangan alam dan panorama yang indah. Banyak orang terpesona dengan panorama alam  Sumatera Barat dan menjuluki daerah ini sebagai jannah (surga).

Namun dibalik keindahan panorama alam tersebut tersimpan potensi ancaman. Topografi wilayah Sumatera Barat yang terbentuk oleh gunung, bukit dan lembah tersebut memiliki kemiringan sedang hingga sangat ekstrim.  Karena itu wilayah Sumatera Barat harus ditangani secara khusus dan ekstra hati-hati agar potensi alam yang berlimpah yang seharusnya memberi manfaat kepada masyarakatnya, tidak berbalik menimbulkan mudarat kepada masyarakat.

Bentang alam wilayah Sumatera Barat yang berbukit-bukit, subur dan memiliki banyak sungai membuat masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan pertanian. Masyarakat membuat sawah berjenjang-jenjang mengikuti topografi lahan dan bentang alam. Hal ini membuat makin indahnya pemandangan, sekaligus efisiensi biaya. Dengan pola ini petani tidak perlu memompa air dari dalam tanah untuk menyiram tanaman, atau menyiram tanaman menggunakan mesin-mesin pompa air atau helikopter seperti yang dilakukan di negara lain. Cukup menggunakan grafitasi, mengikuti aliran air, biarkan alam yang menyiramnya secara gratis.

Namun jika tidak berhati-hati dan ditata secara baik, potensi yang berlimpah tersebut bisa berubah menjadi bencana.  Hal ini telah pernah kita alami dan telah terjadi di beberapa tempat.  Galodo, banjir, longsor, telah pernah sama-sama kita rasakan. Kondisi cuaca yang ekstrim saat ini membuat kita makin waspada dan ekstra hati hati.

Potensi alam dan sumberdaya manusia memang sering seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dia bisa membuat manusia menjadi senang dan sejahtera, namun jika tidak pandai mengelola dan memanfaatkannya  justru berubah menjadi bencana.

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat misalnya bisa membuat masyarakat lebih nyaman, bisa beli motor, mobil, membuat villa atau membuka usaha baru. Namun karena terlalu banyak mobil, jalan menjadi macet, menimbulkan kecelakaan  yang pada akhirnya menyebabkan ketidak nyamanan. Pembukaan dan penggunaan lahan yang tidak benar justru bisa menimbulkan bencana. Begitu juga ekploitasi sumber daya alam secara tidak benar dapat menimbulkan kehancuran sumberdaya alam.

Karena itu Pemerintah Provinsi Sumatera Barat  bersama DPRD dan  masyarakat telah  menyusun Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2013 tentang rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat tahun  2012 – 2032.  Dalam peraturan setebal 179 halaman ini telah diatur tatacara penggunaan ruang dan wilayah propinsi Sumatera Barat serta sumber daya alamnya.  Penggunaan ruang dan wilayah di Sumatera Barat yang benar dan baik bisa mengacu pada peraturan tersebut.

Tentu saja  sebanyak apapun aturan dibuat dan sebaik apapun aturan tersebut, tak kan ada gunanya jika masyarakat bersama aparat pemerintah tidak melaksanakannya. Mari kita tata lingkungan kita secara baik, kita manfaatkan potensi alam kita secara bijaksana agar kita bisa hidup nyaman dan alam kita yang elok dan kaya tetap terjaga kelestariannya  sampai ke anak cucu kita kelak. (Desember 2013)

 

77. Jodoh

 

Air mata saya nyaris menetes saat Goval, ST berhasil mengucapkan lafaz ijab kabul pada acara pernikahannya dengan Febrianti, AMD di Lubuk Kilangan pekan lalu. Puluhan sanak- keluarga dan undangan yang hadir saat itu juga demikian, mata mereka terlihat berkaca-kaca. Kata-kata terakhir yang diucapkan Goval langsung disambut dengan ucapan “sah..!” oleh hadirin dan ditimpali dengan tepuk tangan dalam suasana gembira bercampur haru.

 

Pernikahan pasangan ini memang sangat istimewa. Mempelai pria, Goval, ST,  lulusan Fakultas Teknik Unand adalah tuna rungu dan tuna wicara, begitu juga pengantin wanita Febrianti, AMD, lulusan jurusan Tata Busana Universitas Negeri Padang (UNP). Mereka sama-sama tuna rungu dan tuna wicara. Saya menghadiri acara tersebut sebagai saksi.

Awalnya tak ada yang terlihat istimewa. Mempelai pria nampak normal bahkan bisa dikategorikan tampan, berkulit putih dan kalem. Begitu juga mempelai wanita, terlihat cantik dan anggun. Keduanya dibalut pakaian putih-putih plus beberapa pernik asesoris. Meski simpel, namun terlihat pas dan serasi sekali dengan wajah dan postur tubuh mereka. Konon busana keduanya Febrianti sendiri yang merancang dan menjahitnya. Tak percuma ia menekuni jurusan tata busana dan memperoleh indeks prestasi komulatif (IPK) 3,5 di UNP.

Meski hanya terdiri dari beberapa penggal kalimat, namun sangat sulit bagi Goval untuk melafazkan kata-kata ijab kabul yang sakral di hari yang bersejarah tersebut. Dengan bersusah payah ia mencoba mengeja kata-kata tersebut. Meski terdengar sengau dan tidak jelas, tidak seperti orang normal berbicara, namun ucapan Goval bisa dipahami. Saksi dan hadirin lalu memvonis ucapan Goval dengan kata “sah!.” Alhamdulillah, akhirnya selesailah prosesi pernikahan yang istimewa tersebut.

Goval dan Febrianti sudah saling mengenal sejak duduk di bangku Sekolah Luar Biasa (SLB).  Namun  keduanya terpisah setelah memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK). Namun sejak awal keduanya telah menunjukkan prestasi di sekolah masing-masing, meski mereka memiliki keterbatasan, yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Mereka juga memperlihatkan kemauan dan semangat juang serta keseriusan yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan.

Berhasil menyelesaikan studi mereka di tingkat SLTA dengan nilai memuaskan, Goval melanjutkan studi di Fakultas Teknik Unand, sedangkan Febrianti melanjutkan studi di Jurusan Tata Busana UNP. Kerja keras dan kegigihan mereka kembali berbuah manis. Pendidikan di tingkat perguruan tinggi pun akhirnya bisa mereka selesaikan, Goval berhak menyandang gelar ST dan Febrianti berhak menyandang gelar AMD.

Mungkin itulah yang dinamakan jodoh. Goval dan Febrianti menemukan jodoh yang serasi dan terbaik untuk mereka, yang lelaki tampan, wanitanya cantik. Mereka sama-sama pintar dan pekerja keras, sekaligus mereka sama-sama memiliki kelemahan dan kekurangan. Subhanallah, hanya Allah yang tahu hikmah dan rahasia di balik peristiwa ini.

Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing. Seseorang biasanya memiliki jodoh yang serasi untuknya. Seorang pangeran biasanya berjodoh dengan seorang putri , bangsawan berjodoh dengan bangsawan, pegawai dengan pegawai, pemulung dengan pemulung, pengemis dengan pengemis dan seterusnya. Tapi suatu saat bisa juga terjadi diluar pakem (kebiasaan) di atas. Kiita tidak tahu skrenario dan hikmah apa yang sedang dijalankan Tuhan di balik peristiwa itu.

Namun yang pasti tentu kita harus meneliti terlebih dulu calon istri atau suami, apakah dia memang cocok untuk kita dan apakah ia memang jodoh yang cocok untuk kita. Jika sudah diputuskan, maka terimalah dia apa adanya. Di luar sana memang banyak lelaki yang tampan atau wanita yang cantik, tetapi jika bukan jodoh kita, apa mau dikata? Tidak ada manusia yang sempurna, masing-masing punya kelemahan dan kekurangan, masing-masing juga memiliki kelebihan dan keistimewaan. Jika sudah menjadi suami dan istri kita, maka terima dan pahami kekurangan dan kelemahannya tersebut, hargai semua kelebihan yang ia miliki.

Saat dinikahi mungkin dia cantik, langsing dan terlihat segar. Namun setelah beberapa tahun menikah dan punya anak, istri mulai terlihat tak cantik lagi. Tubuhnya mulai tambun, wajahnya mulai keriput dan kurang menarik. Bagaimanapun ia tetap istri kita, pilihan dan jodoh kita yang harus kita terima apa adanya. Mungkin dia tak pandai berdandan misalnya, tetapi ia pintar memasak, pandai mengurus rumah tangga. Hargai kelebihannya tersebut, maklumi dan terima apa adanya semua kelemahannya.

Jika kita selalu bersyukur, saling menghargai dalam rumah tangga, insya Allah akan tercipta keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Pengamalan Goval dan Febrianti juga membuktikan, jika mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh, insya Allah semua yang diinginkan bisa tercapai dan sukses, meski memiliki keterbatasan sekalipun.  Allah akan memberikan jodoh yang terbaik bagi orang yang terbaik pula. Insya Allah. (Februari 2014)

 

 

78. Mengubah Mindset Berpuasa

 

Kita tentu pernah mendengar dialog sebagai berikut :  “Kenapa telat masuk kantor Pak, Buk?”. Jawabannya: “Maklum Pak, ini kan bulan puasa.”

Hal seperti ini lumrah dan sering kita dengar. Telat masuk kantor,  telat ke sekolah, kesiangan dan berbagai aktifitas tertunda dengan alasan bulan puasa atau sedang berpuasa. Puasa dijadikan alasan (kambing hitam?) untuk menutup dan melegalkan berbagai kesalahan.

Puasa seolah-olah menjadi sebuah alasan yang legal yang bisa diterima semua orang atas semua  tindakan kontra produktif yang kita lakukan. Tindakan-tindakan itu di antaranya adalah, 1. Terlambat masuk kerja atau terlambat ke sekolah bagi pelajar dan mahasiswa, 2. Tidur berlebihan, sehingga sebagian besar waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi berkurang, 3.  Tak bertenaga alias loyo, sehingga terkesan cenderung bermalas-malasan. Semua kondisi itu dilegalkan dengan alasan sedang berpuasa.

Namun kalau kita lihat kisah perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat beliau, tidak ada alasan bahwa puasa membuat aktifitas  beliau menjadi terhambat. Juga tidak ada keterangan bahwa waktu di bulan puasa digunakan untuk bersantai-santai. Keterangan yang ada adalah bahwa pada bulan Ramadhan Nabi dan para sahabat memperbanyak kegiatan ibadah, tadarus, shalat malam dan iktikaf. Kegiatan rutin sehari-hari berjalan seperti biasa.

Malah banyak peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah terjadi di bulan Ramadhan. Perang Badar misalnya,   perang pertama di zaman Rasulullah ini terjadi pada hari Jumat tanggal 2 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang ini melibatkan tentara Islam sebanyak 313 orang berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin Makkah yang bersenjata lengkap. Namun, dengan izin Tuhan, perang ini berhasil dimenangkan oleh laskar Islam. Padahal saat itu Nabi beserta seluruh pasukan sedang berpuasa. Bisa kita bayangkan betapa beratnya perjuangan Nabi saat itu, dalam keadaan berpuasa, berperang di gurun pasir yang tandus di bawah terik matahari.

Banyak peristiwa peristiwa-peristiwa  bersejarah lainnya yang kadangkala sulit diterima akal, justru terjadi di bulan Ramadhan. Khalid Bin Walid menaklukkan kota Mekah dan menghancurkan patung Al Uzza yang saat itu dipuja sebagai Tuhan oleh masyarakat Jahiliah terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 H.  Islam masuk ke Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 H, begitu juga masuknya Islam ke Spanyol, Andalusia, Portugal dan Mongol, semua terjadi di Bulan Ramadhan. Al Quran juga diturunkan di bulan Ramadhan.

Lalu kenapa kita merasa lemas dan loyo di saat berpuasa di bulan Ramadhan? Jawabannya, kita tidak berusaha mengubah mind set. Rasa lapar itu berasal dari pikiran kita, dari kebiasaan kita, terbiasa makan setiap pagi dan siang. Padahal kalau ditinjau dari aspek kesehatan, masih tetap tersedia energi dalam tubuh kita untuk melakukan aktifitas sehari-hari, meski sedang berpuasa. Energi yang berasal dari makan (berbuka) malam bisa digunakan untuk melakukan aktifitas dari pagi sampai siang. Sedangkan energi yang berasal dari makan sahur bisa digunakan untuk beraktifitas dari siang hingga menjelang berbuka. Sudah banyak analisa ahli kesehatan menyatakan dan menemukan fakta, bahwa berpuasa itu adalah baik untuk kesehatan.

Aspek pikiran  bisa juga dibuktikan, jika kita asyik melakukan pekerjaan atau melakukan sesuatu di saat berpuasa siang hari, tanpa kita sadari, sore hari telah terlewati, tanpa merasa lapar dan lelah. Ini adalah bukti bahwa rasa lapar dan lelah itu berasal dari pikiran, jika pikiran bisa dialihkan dan puasa dilakukan karena ikhlas, maka rasa lelah, lapar dan loyo tidak akan muncul. Biasanya setelah melewati hari ke-10 Ramadhan, puasa tidak terasa berat lagi, kita sudah menjadi terbiasa. Apalagi bagi mereka yang terbiasa puasa Senin dan Kamis di bulan-bulan selain Ramadhan, lelah dan lapar saat berpuasa makin tak terasa.

Niat dan keikhlasan juga penting dalam berpuasa. Ada yang berpuasa karena anak-anak, istri dan keluarga di rumah semua berpuasa, ia terpaksa ikut berpuasa karena malu ketahuan tidak puasa. Juga ada yang terpaksa berpuasa karena toh sulit mencari tempat makan siang, karena selama bulan puasa, warung makan tutup semua.  Bagi mereka yang termasuk kelompok ini tentu berpuasa sangat sangat menyiksa baginya dan membuat ia sangat lelah, letih dan loyo.

Karena itu mari kita ubah mind set dalam melaksanakan puasa tahun ini serta perbaiki niat dan keikhlasan berpuasa. Bulan puasa bukanlah alasan untuk mengurangi aktifitas, malah merupakan bulan rahmat dimana doa dan upaya kita diberkati oleh Allah. Bukankah Allah berjanji akan membukakan pintu berkahnya seluas-luasnya di bulan Ramadhan? Bukankah rahmat kemerdekaan Indonesia tanggal  17 Agustus 1945 juga diberikan disaat bulan Ramadhan?

Jadi tidak ada alasan bermalas-malasan, memperbanyak tidur, lelah dan loyo  karena berpuasa di bulan Ramadhan. Sekolah, bekerja, berusaha, mengurus rumah tangga, jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, semuanya akan menjadi ibadah, diberkati dan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah selama bulan Ramadhan.  Tentu akan sangat rugi kita jika kesempatan itu disia-siakan.

Selamat menunaikan ibadah puasa tahun 1435 H, semoga kita semua bisa memanfaatkan momen puasa tahun ini sebaik-baiknya, kembali fitrah serta mendapat limpahan berkah yang sebesar-besarnya dari Allah SWT. Amin. (Juni 2014)

 

79. Puasa Kunci Mencapai Sukses

Jika kita ajukan pertanyaan, “ Siapa yang ingin jadi orang sukses dan bahagia?” Tentulah semua orang akan mengacungkan tangan. Menjadi orang sukses, hidup bahagia, rukun dan damai tentulah merupakan keinginan dan cita-cita semua umat manusia. Siapa yang tak ingin sukses dan bahagia? Jika ada yang tidak ingin sukses dan bahagia, mungkin ada kelainan dalam diri orang tersebut.

Namun dalam kenyataannya tak banyak orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya. Banyak orang hidup dalam kondisi biasa-biasa saja, tak banyak kemajuan yang dicapai dari waktu ke waktu. Meski sudah panjang perjalanan hidupnya dan sudah banyak umur yang sudah dihabiskan, hidupnya tetap tak berubah dari tahun ke tahun. Kata-kata bahagia pun sangat jauh dari kehidupannya.

Segala cara dan upaya telah dilakukan untuk menggapai sukses. Kerja keras membanting tulang, tak kenal lelah siang dan malam pun telah dilakukan, namun tetap saja sukses itu  tak mampu mereka capai, begitu juga bahagia. Apalagi bagi mereka yang tak sudi bekerja keras dan berupaya dengan sungguh-sungguh, tentu sukses dan bahagia itu makin jauh darinya.

Namun ada juga sejumlah orang yang semua urusan dan pekerjaan bisa ia selesaikan dengan baik. Setiap kali ia menemukan hambatan dan jalan buntu, tiba-tiba saja muncul jalan keluar dan solusi dari persoalan yang sedang ia hadapi. Karirnya melejit dengan cepat, ia pun menjelma menjadi orang sukses. Selanjutnya karena sukses itu ia syukuri dan amanah ia jalankan sesuai perintah Allah, hidup bahagia, rukun dan damai pun menjadi miliknya. Allah juga telah menyiapkan surga baginya untuk kehidupan di akhirat kelak. Subhanallah…

Hal seperti ini sudah merupakan sunnatullah. Pepatah Arab mengatakan man jad da wa jada, siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil. Dalam surat Ath Thaalaq ayat 2 Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” Selanjutnya dalam pada ayat 4 surat yang sama Allah lebih menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

Jadi bisa kita simpulkan bahwa hanya orang yang bekerja dengan bersungguh-sungguh yang bisa berhasil. Orang yang bersungguh-sungguh dan bertakwa akan menjadi orang sukses karena diberikan Allah berbabagi jalan keluar dari masalahnya serta kemudahan dalam semua urusannya, seperti janji Allah dalam surat Ath Thalaaq.

Bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk menggembleng ummat menjadi orang-orang yang bertakwa. Seperti firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Jadi, jika ingin menjadi orang bertakwa, maka bulan Ramadhan lah momen yang paling tepat untuk melatihnya.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bisa kita ambil kesimpulan, jika ingin menjadi orang sukses maka ada dua kata kuncinya, yaitu bekerja dengan bersungguh-sungguh dan bertakwa. Untuk menjadi orang yang bertakwa, salan satu jalannya adalah dengan menjalankan ibadah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Mudah bukan?

Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun 1435 H. Mari kita bulatkan tekad agar di akhir Ramadhan ini keluar sebagai pemenang, menjadi orang-orang yang bertakwa (muttaqin) dan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Insya Allah kita akan menjadi orang-orang yang sukses, sejahtera, bahagia dunia dan akhirat. Amin. (Juli 2014)

 

 

80. Rasul Sebagai Model

 

Setiap orang punya idola atau tokoh panutan masing-masing. Ada orang yang memilih Bung Hatta sebagai tokoh idolanya, ada pula yang menjadikan Michael Jackson sebagai tokoh idolanya. Ada beragam latar belakang profesi tokoh yang dijadikan idola. Bisa jadi ia seorang artis, tokoh politik atau olahragawan, seperti pesepakbola, petinju, dan lain-lain.

Biasanya jika seseorang yang mengidolakan seorang tokoh, maka ia akan berusaha meniru gaya dan tingkah laku tokoh tersebut. Seseorang yang mengidolakan Michael Jackson akan meniru gaya tokoh tersebut. Baik cara ia berpakaian, cara ia bernyanyi dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Begitu juga jika mereka yang mengidolakan Messi atau Ronaldo, misalnya, akan meniru gaya dan tingkah laku Messi atau Ronaldo.

Kebiasaan memiliki tokoh idola adalah lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang memilih tokoh idola, karena tokoh tersebut sesuai dengan karakternya atau sesuai dengan harapan dan cita-citanya. Seseorang yang bercita-cita jadi penyanyi akan mengidolakan penyanyi sebagai tokoh pujaanya. Begitu juga yang bercita-cita menjadi atlet, tokoh politik, negarawan, dan seterusnya. Akan memiliki tokoh idola sesuai fantasi masing-masing.

Dalam lingkungan keluarga biasanya yang jadi contoh dan panutan terdekat adalah ayah atau ibu. Dalam keluarga, anak-anak biasanya akan mencontoh kebiasaan atau prilaku ayah dan ibunya. Jika ayah dan ibunya pemarah dan suka berkata kasar, maka anak-anaknya cenderung juga bersikap demikian. Sebaliknya jika kedua orang tua mereka bersikap baik, lembut tutur bahasanya, rajin ke masjid, maka anak-anak mereka juga cenderung bersikap demikian. Tokoh terdekat selanjutnya yang menjadi panutan adalah, kakak, paman atau bibi serta guru di sekolah. Tergantung dengan siapa mereka lebih banyak dan intens berinteraksi.

Tokoh-tokoh tersebut biasanya diistilahkan sebagai model. Model adalah contoh atau panutan yang biasanya akan diikuti dan ditiru. Jika kita ingin membuat baju misalnya, maka kita butuh model, contoh atau patron sebagai acuan untuk mempermudah membuat baju tersebut. Jika sudah didapat model yang sesuai, maka tinggal meniru dan mengikuti model tersebut.

Allah SWT paham betul dengan kebiasaan manusia tersebut. Karena itu Allah menurunkan Nabi dan Rasul untuk dijadikan contoh, panutan atau model bagi manusia. Banyak sekali sikap dan prilaku Nabi yang bisa dijadikan contoh bagi manusia. Mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW banyak sekali contoh dan pelajaran yang bisa kita petik.

Khusus Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dan terlengkap yang paling tepat untuk dijadikan contoh. Dalam Al Quran surat 33 ayat 21 dijelaskan ; “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang bagimu bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), contoh paling tepat bagi manusia. Kehidupan beliau sehari-hari, baik dalam keluarga, dalam bermasyarakat maupun sebagai pemimpin, semuanya merupakan contoh yang terbaik bagi manusia. Muhammad adalah model terbaik yang pernah ada. Beliau disegani baik oleh kawan maupun lawan, apalagi dalam keluarga sendiri.

Tentu saja menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai model jauh lebih baik dibandingkan menjadikan Michael Jackson atau tokoh lainnya. Karena biasanya, meski banyak sisi baik dari para tokoh tersebut, namun juga tak kurang banyaknya sisi buruk dan sisi gelap dari para tokoh tersebut. Silahkan tunjuk saja tokoh-tokoh yang pernah kita idolakan, pasti banyak juga sisi gelapnya, disamping sisi baiknya.

Karena itu mari kita jadikan momentum maulid Nabi Muhammad SAW sebagai peringatan untuk kembali mempelajari dan mendalami kembali sifat-sifat dan karakter beliau untuk dijadikan contoh dan model untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal itu kita lakukan, Insya Allah kita akan selamat dan nyaman hidup di dunia hingga di akhirat kelak. Amin. (Januari 2014)

 

 

81. Haji dan Kemampuan Fisik

 

Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).

Bunyi hadits di atas, yaitu tentang pelaksanaan ibadah haji menerangkan pentingnya memiliki kemampuan. Ibadah haji ditekankan kepada orang yang mampu. Salah satu kemampuan tersebut adalah kemampuan keuangan. Menunaikan ibadah haji membutuhkan sejumlah dana yang mesti dipenuhi oleh calon jamaah haji untuk transportasi, penginapan, akomodasi, kesehatan dan lainnya.

Namun selain kemampuan keuangan, yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan fisik. Iklim di Arab Saudi berbeda dengan Indonesia, maka kekuatan fisik menjadi faktor yang mendukung kekhusyukan dan kelancaran ibadah haji.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah bersengaja melakukan perjalanan dengan sengaja (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397). Dengan demikian, ketika kita menyengaja untuk ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka kondisi fisik harus disiapkan juga.

Dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah haji, maka beberapa area tempat melakukan rukun dan wajib haji menjadi sangat padat oleh para jamaah. Misalnya, tawaf. Pengalaman pribadi penulis, untuk menyelesaikan tawaf membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam dengan kondisi penuh sesak dengan jamaah yang melaksanakannya. Bisa dibayangkan, berjalan selama 5 jam dengan normal saja bisa membuat letih. Apalagi tawaf selama 5 jam dalam keadaan berdesakan dengan jamaah lain. Padahal dalam kondisi normal, tawaf bisa dilakukan dalam waktu kurang lebih 30 menit.

Demikian juga dengan sai dan jumroh yang membutuhkan kekuatan fisik. Sai tujuh kali sepanjang 5-6 km membutuhkan kemampuan fisik. Sementara ketika jumroh, semua jamaah fokus ke satu tempat. Dan sudah barang tentu akan berdesak-desakan. Tempat melempar jumroh sebelum dibuat bertingkat kerap dilanda musibah yaitu banyaknya jamaah yang meninggal karena terinjak. Ini akibat kondisi yang berdesak-desakan dan fisik jamaah pun kurang kuat menghadapi kondisi demikian.

Demikian pula halnya dengan shalat di masjid dan wukuf di Arafah. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146). Menunaikan shalat di masjid tersebut juga membutuhkan fisik yang baik. Sementara Wukuf di Padang Arafah di siang hari merupakan inti ibadah haji. Di panas terik antara waktu dzuhur dengan ashar, jamaah melakukan wukuf.

Melihat hal yang demikian, maka ibadah haji pada dasarnya adalah ibadah fisik. Oleh karena itu kemampuan berhaji selain masalah keuangan juga masalah fisik. Maka tidak heran jika Allah SWT menyukai hambaNya yang kuat fisiknya agar bisa melakukan ibadah dengan baik dan benar.

Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.” (HR. Muslim).

Semoga para jamaah haji asal Sumbar mendapatkan keberkahan dalam menunaikan ibadah haji beberapa waktu yang lalu. Dan bagi yang ingin berhaji, sebaiknya menyiapkan kemampuan fisik agar mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji dengan khusyuk dan tertib. (November 2011)

 

82. Gempa, Isyarat untuk Bertakwa

 

Tak terasa dua tahun sudah telah berlalu. Masyarakat Sumatera Barat dan semua stakeholders bersama-sama bekerja keras, mengerahkan segala daya dan upaya untuk membangun kembali puing-puing pasca gempa 30 September 2009. Triliunan dana dikucurkan untuk membangun kembali rumah masyarakat, rumah ibadah, sekolah, jalan dan berbagai fasilitas umum lainnya. Ribuan pekerja, juga pakar dikerahkan untuk membangun kembali Ranah Minang yang porak-poranda akibat gempa.

Namun, durasi selama dua tahun itu ternyata belum cukup. Dana triliunan rupiah yang digelontorkan ternyata juga belum memadai. Ribuan pekerja, tukang bahkan para pakar yang dikerahkan untuk membangun, terasa bergerak lamban. Kita sepertinya sudah tak sabar menunggu itu semua. Padahal, mereka sudah mengerahkan semua kemampuan dan tenaga, bahkan bekerja lembur siang-malam.

Mungkin di sinilah Allah SWT ingin memperlihatkan kekuasaannya dan menguji kita semua. Durasi gempa berkekuatan 7,9 skala Richter dan telah meluluhlantakkan Padang, Pariaman dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat, itu tak sampai dalam hitungan menit. Dalam sekejap mata, rrrrr…. gedung-gedung bertingkat yang terlihat megah dan kokoh, ambruk ke tanah. Ribuan rumah penduduk berbagai fasilitas umum, ikut ambruk dan rata dengan tanah. Tak hanya itu, ribuan nyawa juga jadi korban.

Secara ilmiah, gempa merupakan sebuah fenomena alam. Gempa terjadi akibat pergeseran lempeng bumi. Kawasan Sumatera Barat memang merupakan daerah rawan gempa, karena daerah ini terletak di patahan semangka antara dua lempengan bumi. Meski bisa dipahami secara ilmiah, namun kapan terjadi gempa, di mana terjadi gempa, seberapa besar kekuatannya, masih merupakan teka-teki tak terpecahkan hingga saat ini. Jepang yang memiliki teknologi dan pakar paling handal sekali pun tak mampu mengurainya.

Namun, dalam Al Quran cukup banyak ayat yang menerangkan peristiwa gempa/bencana. Dalam ayat tersebut diterangkan Allah menurunkan bencana untuk menghukum umat yang durhaka, munafik dan gemar berbuat maksiat, seperti firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 78, 91 dan 155, surat Al Haj ayat 1, dan surat Al Ankabut ayat 37. Apakah gempa/bencana di Sumbar hanya sekadar peristiwa alam atau peringatan Allah atas sikap dan perbuatan kita yang melampaui batas? Hanya kita dan Allah yang tahu jawabannya.

Namun di sisi lain, terlepas dari semua itu, semua peristiwa tersebut adalah musibah. Kematian adalah musibah. Kehilangan harta benda, kegagalan, juga musibah. Kita harus sabar dan ikhlas menghadapinya, karena di balik musibah ada hikmah dan kabar gembira. Dalam surat Al Baqarah ayat 156, yaitu orang-orang yang bila ditimpa musibah ia mengucapkan innalillahi wainnailaihirojiun.

Gempa tahun 2009 lalu merupakan pelajaran sangat penting dan mahal bagi kita. Meski peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam, namun kita tak boleh berputus asa. Secara global ada dua hal yang perlu dipersiapkan berdasarkan pengalaman tersebut. Pertama, mengevaluasi ketakwaan kita kepada Allah, sehingga gempa yang terjadi bukan karena kemurkaan Allah, tetapi hanya sebatas fenomena alam belaka. Kedua, adalah melakukan antisipasi kesiapsiagaan bencana.

Antisipasi tersebut bisa dilakukan secara horizontal, yaitu dengan menjauh dari daerah pantai untuk menghindari tsunami, serta memperkokoh konstruksi bangunan. Antisipasi vertikal bisa dilakukan dengan mendirikan shelter.

Insya Allah, jika kedua antisipasi itu dilakukan, baik secara agamis maupun secara ilmiah, niscaya kita bisa bekerja dan beribadah dengan tenang. Di balik duka mendalam yang ditimbulkan gempa 2009, juga ada harapan baru yang muncul di baliknya. Pasca gempa, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat justru melonjak di atas angka rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Di saat ekonomi nasional maupun global dalam keadaan kritis, Sumatera Barat justru mendapat kucuran dana pembangunan sangat besar. Memang masih ada masalah yang tersisa dan perlu diselesaikan. Namun, mari kita syukuri rahmat yang telah kita terima jumlahnya jauh lebih banyak daripada masalah yang tersisa. Allah berjanji akan melipat gandakan rahmatnya bagi manusia yang pandai mensyukuri nikmat. (Oktober 2011)

 

83. Memaknai Idul Fitri

 

Banyak orang, beragam pula cara mereka memaknai hari raya Idul Fitri. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai ajang untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Hari itu digunakan untuk mengencangkan tali silaturrahmi, saling memaafkan, membangun suasana baru dalam keluarga serta kaum kerabat dan lingkungan sosial.

Sebagian muslim lainnya beranggapan Idul Fitri perlu disambut gembira karena telah mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan, mengoptimalkan dan mengisi Ramadhan dengan beragam ibadah dengan penuh keikhlasan. Maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, hari yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para Nabi dan orang-orang shaleh. Mereka berharap ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal yang telah dilakukan.

Apakah puasa dan segala ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT, sehingga patut dirayakan? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti disinyalir Nabi Muhamad SAW? Menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil menjalankan ibadah puasa. Indikator tersebut adalah; ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat, ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan, ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana.

Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya?

Itulah rahasia kenapa Selamat Hari Raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal Aidin wal Faizin (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Namun yang pasti Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang sikap dan perbuatan kita selama ini.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri sebagai ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah SWT, momen mengasah kepekaan sosial. Islam tidak menginginkan ada pemandangan paradoks, betapa di saat kita berbahagia dan bergembira, apalagi berpesta pora, sementara saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar atau tersiksa dalam keadaan nestapa.

Sungguh Maha Besar dan Maha Pengasih Allah Swt. Allahu akbar… Allahu akbar walillah ilhamd. Selamat merayakan Hari Raya idul Fitri 1432H. Minal ‘Aidin wal Faizin. Hanya Allah yang maha Sempurna, tak ada manusia yang terlepas dari khilaf dan salah, mohon maaf lahir dan bathin. (September 2011)

 

84. Bulan Prestasi

 

KITA bersyukur, salah satu anugerah dari Allah SWT kepada bangsa Indonesia adalah Kemerdekaan RI yang diproklamasikan 9 Ramadhan atau 17 Agustus. Bulan yang sangat istimewa kedudukannya dan juga berlimpah ampunan, rahmat dan berkah dari Allah SWT.

Di saat menahan haus dan lapar, para pendiri bangsa ini justru menorehkan prestasi emas mereka. Di saat sepuluh hari pertama Ramadhan yang merupakan penuh Rahmat Allah SWT, kemerdekaan Republika Indonesia diproklamasikan.

Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa banyak prestasi yang ditorehkan di bulan Ramadhan. Yang cukup fenomenal dalam sejarah keNabian adalah terjadinya perang Badar Kubro pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Pada malam menjelang perang keesokan hari, Rasulullah SAW lebih banyak mendirikan shalat.

Dan ketika peperangan kian berkobar, Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini.”
Maka turunlah ayat: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal: 9). Pertempuran antara 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy ini, dimenangkan kaum muslimin dengan izin Allah SWT.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin melakukan mobilisasi ke Mekah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy. Mereka memasuki Mekah dengan aman. Kaum kafir Quraisy yang mengetahui bahwa setiap penaklukan terjadi pembantaian justru semakin terpesona oleh akhlak Rasulullah SAW karena pasukan Islam tersebut tidak melakukan apa yang mereka bayangkan. Hingga akhirnya banyak penduduk Mekah yang masuk Islam.

Penaklukan kota Mekah ini jika ditarik ke belakang berawal dari pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kafir Quraisy. Dan pada awalnya perjanjian Hudaibiyah ini terlihat menguntungkan kaum kafir Quraisy, sampai Umar bin Khaththab ra pun mempertanyakan kepada Rasulullah SAW tentang disetujuinya perjanjian Hudaibiyah oleh Rasulullah SAW. Setelah turun wahyu Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS Al Fath: 1). Maka umat Islam menjadi tenang. Dan setelah terjadinya pelanggaran, maka bergeraklah pasukan Muslim ke Mekah hingga akhirnya beroleh kemenangan tanpa pertumpahan darah.

Prestasi lain yang juga tercatat sejarah adalah pada Ramadhan 92 Hijriah, Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia (Spanyol) yang diawali dengan membakar hampir semua kapal yang membawa pasukannya. Tindakan ini menyebabkan tegaknya Islam selama lebih kurang tujuh abad di Andalusia.

Sementara itu, pada Ramadhan 658 Hijriah, Muzaffar Quthz berhasil memimpin kaum muslimin memperoleh kemenangan dari pasukan Tar Tar yang terkenal ganas dan juga tangguh setelah sebelumnya tidak dibayangkan kemenangan melawan pasukan ini.

Dengan melihat sederetan prestasi tersebut, maka bulan Ramadhan bukanlah bulan yang menjadikan umat Islam bermalas-malasan. Justru sebaliknya, bulan yang seharusnya penuh dengan prestasi karena pertolongan Allah sangat dekat dibanding bulan yang lain. Maka merugilah orang yang bermalas-malasan atau bahkan yang menjadikan tidur sebagai ibadah favorit.

Jika tidak mampu berprestasi untuk masyarakat, maka minimal kita bisa menorehkan prestasi untuk diri sendiri dan juga keluarga. Jika di bulan lain kita jarang sholat ke masjid, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan kunjungan ke masjid. Jika di bulan lain kita jarang membaca Al Quran, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan intensitas membaca Al Quran dan kemudian membiasakannya setelah Ramadhan. (Agustus 2011)

85. Syahrul Jihad

 

Setiap ibadah yang baik harus mengikuti cara, dan juga mencontoh Rasulullah SAW. Oleh karena itu puasa di bulan Ramadhan juga harus mengikuti apa yang telah diperintahkan dan dilakukan Rasulullah SAW.

Rasulullah adalah orang yang senantiasa meningkatkan kesungguhan dalam beramal dan beribadah, termasuk dalam melakukan peperangan. Kita bisa membayangkan kondisi berperang di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa di tengah terik matahari.

Pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah menjalani perang Badar Kubro. Pertempuran yang tidak imbang dari segi jumlah, 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy. Dengan izin Allah SWT kaum muslimin meraih kemenangan.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin mendatangi kota Mekkah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy.

Rasulullah SAW semasa hidupnya menjalani sekitar delapan kali Ramadhan. Rasulullah bahkan menjalani puasa di musim panas yang sangat terik.
Abu Darda berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah”. (Muttafaq alaih).

Para sahabat pun banyak yang mencontoh puasa Rasulullah SAW. Umar bin Khattab ra saat menjelang kematiannya berpesan kepada puteranya, Abdullah. “Hendaknya engkau mewujudkan sifat-sifat keimanan.” Lalu beliau menyebutkan yang paling pertama, “Berpuasa saat panas sangat terik di musim panas.”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata: “Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya”.

Ini adalah contoh bagaimana orang-orang terdahulu bersungguh-sungguh atau berjihad dalam melaksanakan amal ibadah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Jihad dalam arti bahasa adalah bersungguh-sungguh dan dalam arti khusus adalah perang. Ramadhan adalah syahrul jihad, umat Islam diminta bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam beramal. Jika hari ini kita lihat orang yang berpuasa bermalas-malasan atau ada PNS yang memotong jam kerja (masuk lambat pulang cepat), jelas tidak mencontoh Rasulullah SAW.

Bersungguh-sungguh puasa tidak akan menyebabkan kematian karena tidak ada dalam sejarah orang mati karena berpuasa. Demikian pula dengan kemalasan yang hanya merupakan dorongan psikologis semata. Betapa banyak orang menjalankan puasa semisal Senin dan Kamis di luar Ramadhan tapi mampu mengimbangi kerja orang yang tidak berpuasa.

Jika kita melakukan pemanasan menjelang Ramadhan, yaitu melaksanakan puasa di bulan Rajab dan Syakban, maka akan semakin ringan dan bersungguh-sungguh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Secara kesehatan, orang yang tidak makan setelah sahur masih memiliki energi untuk beraktivitas hingga Maghrib. Untuk itu, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan karena Ramadhan adalah bulan kesungguhan (syahrul jihad) bukan bulan kemalasan. Bagaimana mungkin mencapai derajat takwa jika yang dilakoni adalah kemalasan, bukan kesungguhan. (Agustus 2011)

 

86. Hidup Bagaikan Cermin

 

Hidup itu bagaikan cermin. Jika anda tersenyum, maka cermin akan tersenyum pada anda. Sebalikya jika anda marah dan melotot, maka cermin juga akan marah dan melotot pada anda.

Begitu pula lah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita memperlihatkan wajah kecut dan cemberut kepada orang lain, maka orang tersebut akan membalasnya pula dengan wajah kecut dan cemberut. Jika kita memperlihatkan wajah yang menyenangkan, ramah dan bersahabat, maka orang akan membalasnya dengan wajah ramah dan bersahabat pula.

Buruk atau baik yang kita lakukan pasti akan dibalas pula dengan kebaikan atau keburukan. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, keburukan akan dibalas dengan keburukan pula. Seperti kata pepatah Minang, kalau lai padi nan ditanam, ndak mungkin lalang nan ka tumbuah.  Atau ada juga ada ungkapan yang mengatakan: Siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Artinya, siapa yang berbuat kebaikan pasti akan memperoleh balasan berupa kebaikan dan siapa yang berbuat keburukan akan menerima balasan berupa keburukan.

Realita kehidupan ini dengan mudah dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga saja misalnya, anak-anak yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur pasti akan mendapat mendapat apresiasi yang baik pula dari para orang tua mereka. Ia menjadi anak kesayangan, umumnya apa yang dia minta, jarang yang tidak dikabulkan. Ia mendapat perlakukan istimewa.

Begitu juga fakta yang terjadi di dunia kerja. Pegawai atau karyawan yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur dan kreatif akan mendapat apresiasi yang baik pula dari rekan kerja atau  pimpinannya. Ia akan mendapat perlakuan khusus, seperti cermin, semua orang akan memberikan perlakukan yang baik pula padanya. Bukan hal mustahil jika ia diberi kenaikan pangkat atau jabatan yang baik.

Ini adalah salah satu contoh bukti nyata dalam organisasi Pemda Sumbar. Pegawai yang bersikap baik, rajin dan jujur, kemanapun ia akan dipindahkan semua orang dengan senang hati bersedia menerimanya. Sementara di lain pihak, pimpinannya berusaha mempertahankan agar pegawai tersebut tidak dipindahkan. Ondeh Pak, jan dipindahkan lo nyo lai, inyo paguno dek kami mah,  (jangan pindahkan dia Pak, kami butuh dia), begitu pimpinan tempat ia bekerja berusaha mempertahankan.

Sebaliknya pegawai yang bermental jelek, malas, licik, tak akan mendapat tempat dan apresiasi yang baik. Ia selalu ditolak dimana-mana. Jan dipindahkan lo nyo kamari Pak, mambana kami, (mohon jangan dipindahkan dia ke sini Pak), begitu komentar pimpinan atau pegawai lain saat ia dimutasikan ke suatu tempat.

Di hadapan Allah, dalil serupa juga berlaku. Allah akan memperlakukan umat yang baik, dengan balasan yang baik pula. Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan, keburukan dengan keburukan pula, itu janji Allah. Seperti juga yang berlaku pada sesama manusia, manusia yang bermental dan berprilaku baik juga akan mendapat keistimewaan. Segala permintaannya sulit bagi Allah untuk menolaknya. Segala doa dan harapannya diijabah oleh Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan magfirah dan wa rahmah, bulan dimana terbuka peluang bagi manusia untuk menghapus semua dosa-dosanya, jika ia bersungguh-sungguh. Bulan ini juga merupakan bulan dimana kebaikan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Memperbanyak shalat sunat, shalat malam, membaca Al Quran adalah beberapa ibadah-ibadah yang bisa dilakukan untuk mendekat diri pada Allah. Bersedekah, berbuat baik dan menolong orang lain adalah beberapa contoh perilaku yang orang lain bersimpati pada kita dan juga mendapat pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Segala kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dibalas Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Mari jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, sekaligus memperbaiki masa depan kita, dunia dan akhirat. (Agustus 2011)

 

87. Menghindari Konsumerisme

 

Setiap tahun, angka inflasi yang tinggi justru terjadi di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Harga beras naik, harga sembako naik. Kenaikan harga secara teori akibat terjadinya permintaan yang melebihi persediaan. Namun boleh jadi pada bulan Ramadhan ini kenaikan harga tersebut terjadi akibat permintaan yang didorong oleh aspek psikologis konsumen dibanding permintaan riil mereka.

Menjelang momen-momen tertentu, sebenarnya pemerintah telah menyiapkan stok bahan makanan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk di bulan Ramadhan. Karena permintaan didorong aspek psikologis, maka hal ini dimanfaatkan penjual atau produsen untuk menaikkan harga.

Jika kita melihat konsepnya, pola makan di bulan Ramadhan justru berkurang dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari (berbuka dan sahur). Bahkan ajaran sebenarnya, di bulan Ramadhan umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Yang dimaksud mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu ini tidak terbatas sejak subuh hingga maghrib, tapi sejak maghrib hingga subuh pun umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu.

Di kala siang, menahan haus dan lapar, dan di kala malam mengendalikan diri untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makan dan minum serta mengendalikan emosi diri. Jika pola makan saja sudah turun dari tiga kali menjadi dua kali, maka seharusnya kebutuhan akan makanan juga berkurang. Namun ternyata yang terjadi sebaliknya.

Kerap muncul perasaan ingin membeli makanan dan minuman yang lezat dan enak untuk berbuka puasa karena sanggup menghabiskan. Namun ternyata ketika waktu berbuka tiba, tidak semua yang dibeli itu bisa dimakan. Bahkan muncul makanan dan minuman sisa yang terbuang percuma. Maka terjadilah kemubaziran. Jikapun semua yang dibeli dihabiskan, maka dampak setelah itu muncul kemalasan untuk beribadah karena sudah kekenyangan.

Secara kesehatan makan terlampau kenyang membuat perut bekerja ekstra keras karena 12 jam sebelumnya dalam keadaan kosong. Alih-alih menimbulkan kesehatan, puasa seperti ini justru bisa mendatangkan penyakit.

Sementara kemubaziran itu sendiri merupakan hal yang tercela dalam ajaran Islam. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al Isra: 27). Di samping munculnya kemubaziran, di bulan Ramadhan yang seharusnya umat Islam meningkatkan amal ibadah justru harus menaklukkan diri sendiri ketika kekenyangan demi kekenyangan menemani mereka setiap berbuka yang menyebabkan munculnya kemalasan untuk beribadah. Maka benarlah apa yang disampaikan Rasulullah SAW, “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar” (HR Bukhari-Muslim).

Kemubaziran adalah dorongan psikologis dimana keinginan lebih dominan dari kebutuhan. Kemubaziran merupakan implementasi kegagalan mengendalikan hawa nafsu yang seharusnya dilakukan di bulan Ramadhan ini. “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa,” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Imam Ghazali pernah mengatakan, jika seseorang mengalami kekenyangan maka ia akan menganggap orang di seluruh dunia juga mengalami kekenyangan. Hal seperti ini juga akan mengurangi makna puasa. Seharusnya puasa membuat kita bisa merasakan kehidupan saudara-saudara kita yang masih dalam kondisi kekurangan sehingga konsumsi yang kita lakukan tidak menimbulkan kemubaziran dan bahkan bisa menyisihkan uang kita untuk disedekahkan kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. (Agustus 2011)

88. Ramadhan dan Somalia

Di bulan Ramadhan ini, di saat umat Islam Indonesia relatif mampu mencukupi kebutuhan pangan mereka, di belahan dunia lain, Somalia, rakyatnya menghadapi kelaparan terburuk. Somalia mengalami kekeringan panjang akibat perubahan iklim. Umat Islam Somalia memasuki Ramadhan dengan kondisi kelaparan. Menurut data PBB 3,7 juta penduduk Somalia terancam kelaparan. Selain itu hampir 50 anak tewas setiap harinya akibat kelaparan.

Data lain menyebutkan, sedikitnya 300.000 anak-anak mengalami kelaparan. Salah satu hal yang terburuk yang disaksikan oleh media adalah ada ibu yang membiarkan bayinya di jalanan karena mereka memilih menolong anak yang kemungkinan hidupnya lebih besar. Di samping itu, penyakit infeksi saluran pernapasan merajalela. Air sulit didapat, dan banyak pengungsi yang tidak tinggal di tenda.

Sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan dan sangat menyedihkan. Ini juga merupakan bentuk pembinaan Allah SWT kepada kita yang hidup dengan kondisi lebih baik, agar bisa mensyukuri nikmatNya yang melimpah. Selama ini mungkin kita kurang bersyukur atau kurang berempati kepada orang-orang yang kondisinya lebih susah. Meskipun kita bisa empati dengan perasaan, belum tentu dengan pola makan kita. Apakah selama ini makanan yang terhidang selalu kita habiskan atau sebaliknya sering banyak tersisa?

Jika kita melihat pola konsumsi masyarakat dunia saat ini, termasuk Indonesia, masih terlihat banyak makanan yang terbuang. Sepertiga makanan yang diproduksi di dunia atau sekitar 1,3 miliar ton terbuang percuma menurut organisasi pangan dan pertanian PBB (FAO). Dalam momentum Ramadhan kali ini sudah saatnya kita bercermin dengan pola makan kita.

Satu hal yang jelas, umat Islam di Somalia tidak bisa khusyuk menjalani Ramadhan tahun ini. Untuk shalat dan bersuci mereka kesulitan air. Untuk berbuka dan sahur, mereka tidak memiliki apapun yang bisa dimakan dan minum. Bahkan untuk mendapatkan makan, mereka baru bisa mendapatkan hingga seminggu sekali.

Kita yang relatif diberi kecukupan makan dan minum dibanding umat Islam Somalia sudah seharusnya lebih fokus menjalankan amal ibadah Ramadhan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim: 7).
Tentunya kita tak ingin menjadi hamba yang tidak mensyukuri nikmat Allah sehingga mengingkari nikmatNya. Peristiwa di Somalia mudah-mudahan bisa menjadi alat instropeksi kita dalam melakukan aktivitas konsumsi dan juga menjadikan hati kita untuk murah bersedekah kepada mereka yang membutuhkan.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al Hujurat:13).

Semoga kita menjadi insan yang bertakwa dengan mengenal saudara kita di belahan dunia lain dan bisa membantu kesulitan mereka, baik dengan doa maupun materi. (Agustus 2011)

 

BAB 5  INSPIRASI DI BIDANG SOSIAL

89. Aktualisasi SDM Minang

Aktualisasi SDM Minang

 

Umumnya tak banyak warga etnis Minang yang sukses sebagai pekerja. Jika ada proyek-proyek konstruksi besar misalnya,  umumnya para pekerjanya didatangkan dari Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur. Begitu juga di pabrik-pabrik besar, warga etnis Minang tak banyak bekerja di sana, warga etnis jawa lebih dominan. Masyarakat etnis Jawa terkenal lebih tekun, ulet dan pekerja keras.

Namun sebagai pedagang atau pengusaha, masyarakat etnis Minang sudah terkenal kepiawaiannya sejak dulu. Di berbagai pelosok tanah air hampir bisa dipastikan, pelopor dalam dunia usaha dan perdagangan di sana adalah masyarakat etnis Minang. Sebut saja di Tanah Abang, Blok M, sejumlah pusat perdagangan lainnya Jakarta bahkan sampai Papua, sektor dunia usaha dan perdagangan didominasi oleh etnis Minang.

Dalam dunia usaha dan perdagangan warga etnis Minang terkenal ulet, gigih, pantang menyerah. Keberadaan mereka menonjol di berbagai pelosok dunia usaha dan perdagangan di tanah air. Kegigihan dan kepeloporan mereka menjadi inspirasi bagi warga lain di tanah air dalam berbisnis.

Di kampung halaman masing-masing, para pedagang dan pengusaha tersebut menjadi pahlawan. Tak sedikit sumbangan dan kontribusi mereka untuk membangun kampung halaman masing-masing. Mereka malu jika tak berhasil di rantau, mereka malu jika tak berkontribusi untuk membangun kampung halamannya.

Kenyataan ini adalah sebuah potensi yang sangat luar biasa untuk dicermati, terus diasah dan diaktualisasikan. Di saat masalah kemiskinan, pengangguran dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus melorot, potensi SDM (sumberdaya manusia) Minang yang luar biasa ini perlu segera diaktualisasikan lagi serta mendapat apresiasi masyarakat dan pemerintah daerah.

Apresiasi dan aktualisasi potensi SDM Minang bisa dimulai dari berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal sebagai tempat kaderisasi SDM. Tahap selanjutnya apresiasi dan dukungan bisa dilakukan terhadap lembaga-lembaga usaha yang telah mulai tumbuh.

Sebenarnya telah banyak lembaga-lembaga pendidikan tempat memproses dan mengaktualkan potensi SDM Minang yang telah terbukti keunggulannya selama ini. Lembaga pendidikan formal mulai dari TK sampai perguruan tinggi, bisa menjadi ajang penggemblengan SDM Minang yang unggul. Hanya saja selama ini belum disadari secara spesifik sebagai ajang pembentukan SDM Minang yang sesuai dengan tuntutan perkembangan kondisi dan masalah yang ada saat ini.

Umumnya lembaga pendidikan yang ada menetapkan tujuan masih dalam tatanan pendidikan umum. Masyarakatpun umumnya berapresiasi demikian, mereka umumnya memasuki jenjang pendidikan agar bisa menjadi karyawan atau pegawai di suatu perusahaan atau instansi pemerintah. Masih langka ada masyarakat yang secara sadar memasuki jenjang pendidikan agar nantinya mampu mandiri atau menjadi pengusaha. Akibatnya mereka yang terjun di dunia usaha cuma karena tak sengaja, bukan dipersiapkan sedini mungkin.

Dulu di saat negara kita masih dalam kondisi sedang mempersiapkan dan melengkapi sistem pemerintahannya memang banyak dibutuhkan tenaga untuk menempati berbagai posisi di instansi pemerintah. Karyawan, guru, tenaga medis dan sebagainya dibutuhkan saat itu.  Tidak heran kalau orientasi pendidikan memang ditujukan untuk mempersiapkan orang-orang yang akan menempati posisi tersebut.

Beberapa tahun belakangan kondisi itu telah berubah. Posisi sebagai karyawan dan pegawai telah tercukupi, sementara angkatan kerja kita meningkat pesat dan tenaga kerja terdidik yang tersedia jauh melebihi kebutuhan. Lalu terjadilah fenomena yang menyolok di depan mata. Formasi penerimaan pegawai yang cuma tersedia beberapa ratus orang diperebutkan oleh puluhan ribu orang

Bererapa tahun kemudian di lembaga pendidikan juga terlihat fenomena baru. Jurusan dan Fakultas di perguruan tinggi yang dianggap tak lagi sesuai dengan kebutuhan mulai sepi karena kekurangan mahasiswa. Sekolah-sekolah kejuruan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan kerja mulai diminati.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa lembaga pendidikan yang ada seharusnya secara sadar ditujukan untuk mempersiapkan dan mengaktualisasikan SDM Minang yang spesifik. Dengan demikian profesi pedagang dan pengusaha masyarakat etnis Minang tak lagi dilakoni bukan karena tak sengaja, tetapi memang karena pilihan dan dipersiapkan sejak dini. Dijalani karena tak sengaja pun, banyak di antara mereka yang sukses, apalagi kalau dipersiapkan secara baik sejak dini.

Lembaga-lembaga kursus keterampilan, baik milik pemerintah maupun swasta juga bisa dimanfaatkan sebagai media aktualisai SDM Minang yang spesifik. Jika selama ini out put dari lembaga ini tak terlalu terlihat prestasinya, mungkin perlu dievaluasi lagi dan dibenahi kelemahan-kelemahan yang ada dan dikelola secara serius.

Pemerintah daerah sebagai lembaga publik dan pelayan masyarakat tentu sangat penting perannya dalam hal ini. Dukungan perbankan tentu juga sangat besar artinya. SDM yang produktif akan menumbuhkan kegiatan usaha baru, baik dalam bentuk usaha mikro, kecil maupun menengah. Pertumbuhan ini akan mengeliminir keluhan banyaknya pengangguran, kemiskinan atau laju pertumbuhan ekonomi yang bergerak mundur.

Masyarakat seharusnya juga sudah mengubah imej mereka terhadap pengusaha mikro sekalipun. Masih banyak masyarakat yang menganggap menjadi karyawan atau pegawai lebih tinggi derajatnya. Sedangkan pedagang atau malah petani dianggap sebagai profesi yang kurang bergengsi.

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang Ibu-ibu mengendarai sepeda membawa sejumlah bungkusan di Lubuk Sikaping Pasaman Timur.  Ternyata ibu tersebut berjualan gulai ikan dan sejumlah masakan lainnya. Menurut si Ibu usaha itu dijalaninya dengan modal Rp 500.000, biasanya sore hari ia membawa pulang uang Rp 700.000. Ini berarti ia memperoleh keuntungan bersih Rp 200.000 per hari atau Rp 6.000.000 per bulan.

Usaha si Ibu tersebut bisa lebih ditingkatkan dengan memberikan tambahan pelatihan keterampilan jika dibutuhkan, serta tambahan modal. Beliau adalah salah satu cikal bakal pengusaha dari ribuan cikal bakal pengusaha yang sekarang mungkin masih terpendam di berbagai pelosok Sumatera Barat. Tentu saja beliau lebih terhormat dibanding seorang sarjana yang tidak melakukan apa-apa dan cuma menunggu lowongan kerja dibuka dari tahun ke tahun. (Maret 2012)

90. Bekerja Tapi Menganggur

Bekerja Tapi Menganggur

 

Judul di atas terdengar aneh dan kurang masuk akal. Namun dalam kenyataannya hal itu sering terjadi dan ditemukan di banyak tempat.

Contohnya, seorang staf di suatu unit kerja. Secara administrasi ia tercatat secara resmi sebagai pegawai, ia bekerja di sana. Ia pun memperoleh gaji, tunjangan dan fasilitas lainnya layaknya seorang pegawai. Tapi coba lihat, apa yang sehari-hari ia lakukan?

Setiap hari ia datang ke kantor, tandatangan absen, lalu baca koran. Kegiatan berlanjut dengan ngobrol sana sini dengan teman kerja, lalu beranjak ke warung. Di warung obrolannya makin seru, makin banyak topik yang dibicarakan.   Menjelang siang dia menyelonong pergi dengan alasan menjemput anak sekolah. Kalau sudah begitu jangan ditanya lagi kapan dia kembali ke kantor.

Orang seperti inilah yang bisa kita sebut dengan istilah “bekerja tapi menganggur”. Ia berstatus resmi sebagai pegawai, tapi ia tidak bekerja alias menganggur.  Kenapa hal itu terjadi, kenapa ia menganggur?

Fenomenanya secara umum nyaris sama. Hal itu terjadi karena orang tersebut tidak punya kemampuan untuk bekerja. Disuruh membuat surat ia tidak bisa. Disuruh membuat konsep, ia tak mampu. Disuruh ini-itu tak ada yang bisa diselesaikannya dengan baik. Akhirnya atasan di tempat ia bekerja bosan, ia tidak lagi memberikan tugas,karena toh akhirnya tak ada yang bisa dikerjakan si pegawai tadi. Maka, jadilah ia pekerja yang menganggur. Bekerja tapi menganggur.

Hal seperti ini banyak terjadi dimana-mana. Baik di lembaga pemerintah maupun di lembaga swasta. Banyak ditemukan orang-orang yang diangkat jadi pegawai, digaji, namun tidak berdaya guna.

Penyebabnya hampir bisa dipastikan, yaitu salah dalam melakukan seleksi penerimaan pegawai atau dipaksakan agar dia diterima di suatu unit kerja. Ia diterima karena titipan si anu, si ini, si itu, misalnya. Padahal ia tidak memenuhi syarat dan tidak mempunyai kemampuan, namun terpaksa diterima. Atau, salah dalam seleksi penerimaan pegawai.

Lalu terjadilah hal seperti di atas tadi. “Lah dicubo manyuruah macam-macam karajo, ndak ado nyo nan bisa. Akhirnyo ndak diagiahnyo karajo lai Pak,” begitu alasan atasan yang bersangkutan menerangkan kenapa ia dibiarkan menganggur tanpa pekerjaan.  “Panek awak,” imbuhnya.

Bukan tak ada upaya agar ia bisa berubah, berbagai pembinaan telah dilakukan. Ia sudah dikirim untuk mengikuti berbagai latihan di diklat, juga sudah dikirim pelatihan dan studi banding ke provinsi lain, namun hasilnya tetap nihil.

Orang seperti ini akan menjadi beban dan menjadi sumber masalah sepanjang masa. Oleh karena itu di lingkungan pemerintah provinsi Sumatera Barat menyediakan fasilitas pensiun muda/dini untuk mereka, karena sudah terlanjur diangkat jadi pegawai.

Untuk pegawai yang belum diangkat, pemrov Sumbar melakukan test CPNS secara sangat serius. Tidak ada toleransi bagi saudara, anak, kemenakan, atau titipan si ini atau si itu. Kalau memang hasil tes menyatakan tidak memenuhi syarat, maka ia tidak akan lulus. Mungkin banyak yang kecewa, namun keputusan ia harus diterapkan secara tegas.

Begitu juga bagi PNS yang akan mendapat promosi atau jabatan tertentu. Ia harus lulus seleksi fit dan proper test serta ujian pemetaan potensi. Selain itu persyaratan administrasi dan mengikuti jenjang karir sesuai aturan yang berlakujuga harus diikuti.

Untuk jabatan eselon III dan IV, banyak ditentukan oleh pejabat eselon II (kepala SKPD), karena ia yang paling tahu kondisi dan kemampuan staf di bawahnya. Jika ia memilih staf yang tidak tepat, maka ia sendiri yang akan kewalahan karena pekerjaan dan prestasi kerja satuan kerja kurang, karena staf dan pejabat di bawahnya tidak mampu bekerja sesuai dengan bidangnya.

Jadi, jika ada penerimaan pegawai atau promosi jabatan, tidak perlu kasak-kusuk. Semua dilakukan sesuai prosedur dan mekanisme jenjang karir berjalan secara alamiah dan wajar.

Bagi mereka yang diberi amanah sebagai pejabat eselon II, III atau IV juga jangan cepat puas dulu, karena ada penilaian kinerja bagi anda. Jika dalam waktu 6 bulan tidak menunjukkan prestasi kerja, jangan menyesal jika digantikan oleh yang lain.

Jika seleksi pegawai sudah dilakukan secara baik dan pejabat/pimpinan unit dan satuan kerja yang diangkat adalah orang yang tepat, insya Allah kerja dapat dilakukan secara optimal, PNS sebagai pelayan masyarakat bisa melayani masyarakat secara maksimal. Tidak ada lagi istilah karyawan yang menganggur, tidak ada lagi pejabat yang tidak paham dengan pekerjaan yang harus dia kerjakan.

Jika hal ini bisa tercapai, pegawai bekerja secara profesional, masyarakat bekerja bersungguh-sungguh bekerja sesuai dengan profesinya masing-masing, insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama, masyarakat Sumatera Barat akan menjadi masyarakat madani, adil dan bermartabat. Amin YRA. (Maret 2013)

91. Bisakah Kita Amanah ?

Bisakah Kita Amanah ?

 

Dalam suatu majlis seorang pemuda Badui bertanya pada Rasul : “Ya Rasul, kapan kiamat itu datang?”.  Kemudian Rasul bersabda : “Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat.” Orang itu lalu bertanya lagi: “Bagaimana hilangnya amanah itu?” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (Hadits riwayat Buchari dan Muslim)

Ada dua poin penting yang terkandung dalam kisah di atas, pertama pemimpin haruslah amanah, kedua pemimpin haruslah orang tepat, sesuai keahlian dan kemampuannya. Jika hal itu tidak dipenuhi, maka kehancuran (kiamat) akan terjadi. Hal itu pula yang selalu merisaukan Nabi.

Umar Bin Khatab saat diangkat menjadi khalifah, pahlawan perang yang terkenal gagah perkasa ini selalu mengevaluasi diri setelah shalat malam. Beliau menangis mohon ampun dan petunjuk Allah SWT agar ia mampu bersikap adil dan amanah dalam menjalankan tugas sebagai khalifah.

Suatu kali apa yang ia khawatirkan itu terjadi juga, beliau mendapat informasi bahwa beliau telah berlaku tidak adil,  ada satu keluarga rakyat beliau yang kelaparan. Umar langsung mendatangi keluarga itu dan setelah yakin kebenaran informasi itu beliau langsung memanggul sendiri sekarung gandum untuk diserahkan ke keluarga tersebut.

Umar sangat terkejut dengan kejadian itu, air matanya berurai. Ia sadar bahwa kepemimpinannya harus ia pertanggung jawabkan di dunia, juga akhirat.

Dari teladan yang dicontohkan Nabi dan Khalifah Umar di atas terlihat jelas betapa beratnya tanggung jawab seorang pemimpin. Pikiran ini ingin saya bagikan kepada hampir semua kepala SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar yang hadir saat pelantikan Kepala Dinas Tarkim Praswil Sumbar pekan lalu.

Nasihat itu tidak hanya ingin saya bagikan kepada seluruh SKPD, tapi juga terutama saya sendiri.  Saya juga sangat menyadari beratnya tanggung jawab itu, kerongkongan saya tercekat sesaat, suara saya menjadi pelan, nyaris hilang. Saya juga takut berbuat salah seperti apa yang ditakutkan Umar. Subhanallah….

Saya kemudian melanjutkan, bercermin dari pengalaman Umar dan sabda Nabi seharusnya kita justru takut jika ditunjuk jadi pejabat/pemimpin. Tidak hanya pertanggung jawaban dunia dan akhirat yang diminta, tapi juga pengorbanan. Pengorbanan waktu, perhatian terhadap keluarga dan lain-lain.

Anehnya justru banyak orang yang meminta-minta untuk diangkat jadi pejabat. Berbagai cara dilakukan, termasuk cara-cara yang tidak etis sebagai bangsa yang beradat.

Sayangnya peristiwa ini diterjemahkan dengan cara berbeda dan dengan informasi yang tidak tepat oleh sejumlah pihak. Saya dinilai cengeng, seolah-olah frustasi dan menyesal, karena kehilangan waktu untuk keluarga dan seterusnya.

Sedikitpun itu bukan tipe saya, sangat bertolak belakang. Kami berkeluarga mulai dari nol, bahkan minus malah.  Lalu kami berjuang sedikit-demi sedikit dengan kemampuan sendiri untuk menghidupi keluarga, tak ada fasilitas. Kami sekeluarga juga punya cara tersendiri dan sudah terbiasa mengatur waktu. Meski waktu terbatas namun intensitas keakraban tetap terjaga. Itu telah kami jalani selama puluhan tahun.

Saya bersedia mendatangi berbagai pelosok daerah di Sumbar, termasuk Mentawai, esoknya bekerja lagi seperti biasa tanpa menyerah dan berkata letih. Saya juga menghindari atribut yang membuat kita terkesan sombong karena saya sadar itu adalah bagian dari amanah. Dari dulu saya pantang menyerah, sederhana adalah keseharian saya.

Lebih parah lagi, saya dikatakan menyesal karena terpilih jadi Gubernur. Wajar saja seorang tokoh masyarakat yang ditanya wartawan emosi ketika hal itu ditanyakan kepadanya. Tapi semua itu tidak benar, kata-kata itu tak pernah terucap dari mulut saya. Ratusan orang yang hadir saat itu bisa menjadi saksi.

Kembali kepada sabda Nabi di atas, kita memang harus teliti memilih pemimpin dan jika telah dipilih menjadi pemimpin bersikaplah amanah dan bekerjalah bersungguh-sungguh. Jika tidak, yakinlah apa yang dikatakan Nabi akan terjadi, yaitu kiamat (kehancuran). Buktinya sudah kita lihat di berbagai, baik di dalam maupun luar negri.

Saya yakin, dengan kekuatan bersama kita mampu membangun Ranah Minang ini menjadi lebih baik. Mari kita katakan yang benar itu benar, jangan sampai kita terpecah belah, saling menyalahkan hanya akan menghabiskan energi kita untuk membangun. (Juli 2011)

92. Mari Kita Bersatu

Mari Kita Bersatu

 

“Dunia ko lah tabaliak,”  begitu ungkapan banyak masyarakat mengomentari situasi peradaban manusia saat ini. Yang benar bisa dianggap salah, yang salah bisa dianggap benar. Kebenaran seolah-olah tak berarti, dikalahkan  oleh alasan kepentingan.

Seseorang yang melakukan kebenaran bisa dianggap salah karena mengganggu kepentingan kelompok tertentu. Dengan menggunakan rekayasa informasi, orang tersebut bisa dijadikan musuh bersama, atau dibunuh karakternya yang dikenal dengan istilah character assasination.

Akibatnya, kebatilan merajalela, kebenaran terpuruk entah kemana. Sekuen selanjutnya, maksiat, korupsi, kriminalitas, kebodohan dan kemiskinan kian merajalela. Korupsi, perkosaan, perampokan, kenakalan remaja menjadi berita sehari-hari yang memekakkan telinga dan membuat hati miris.

Siapa yang peduli dengan masalah ini? Siapa yang mau tampil menjadi pahlawan menumpas segala persoalan tersebut? Tak ada yang berani, takut dianggap pahlawan kesiangan. Lagipula masing-masing orang sudah disibukkan dengan masalah dan urusan masing-masing.

Sebenarnya di sanalah fungsi pemimpin. Ialah yang harus bertugas membereskan semua masalah itu. Menyelesaikan masalah yang rumit, yang memekakkan telinga dan membuat hati miris yang tak seorang pun mampu, mau  atau peduli dengan masalah itu.

Sadar dengan beratnya tanggung jawab itu, saat ditugaskan menjadi calon gubernur oleh Partai Keadilan Sejahtera tahun lalu, saya langsung menolak. Saya sadar betul beratnya tanggung jawab yang harus saya pikul. Amanah itu harus saya pertanggung jawabkan dunia dan akhirat. Perdebatan itu berlangsung cukup lama.

Namun dengan sejumlah argumen yang diberikan kawan-kawan dan petinggi partai, dukungan masyarakat yang antusias dan ditutup dengan shalat istikharah, dengan mengucapkan bismillah, tawaran itu akhirnya saya terima.

Setelah bertugas sebagai gubernur, tantangan dan beban berat yang saya perkirakan semula memang jadi kenyataan bahkan jauh berlipat ganda. Tapi insyaAllah saya siap,  tantangan bagi saya justru menjadi energi yang luar biasa. Saya juga yakin masih banyak orang yang peduli dan ingin membangun Sumatera Barat menjadi lebih baik. Masih banyak orang yang menginginkan nama Ranah Minang dan tokoh-tokoh Minang kembali harum dan mencuat ke permukaan.

Lalu ketika acara pelantikan kepala SKPD pekan lalu sangat teringat lagi masalah amanah dan tanggung jawab itu. Aneh juga melihat sejumlah oknum yang kasak-kusuk dengan berbagai cara agar diberi jabatan tertentu. Ada juga yang mengerahkan massa untuk meminta jabatan. Namun banyak juga yang tenang-tenang saja,  tapi tetap terlihat intelektual dan pretasi kerja mereka.

Karena itu, pada kesempatan tersebut saya mengingatkan bahwa jabatan adalah tugas berat yang harus dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat. Jabatan membuat kita kehilangan privasi, waktu dan berbagai pengorbanan lainnya. Jadi jabatan bukan diminta, tapi diamanahkan. Justru aneh kalau ada  orang yang meminta-minta jabatan.

Khalifah Umar Bin Khatab, pahlawan perang paling berani di zaman Nabi, menangis tersedu-sedu dalam shalat malamnya sampai subuh, karena beratnya tugas memimpin yang harus dipertanggung jawabkannya di hadapan Allah Swt. Umar juga menangis dan merasa berdosa ketika ia tahu ada rakyatnya kelaparan.

InsyaAllah saya juga siap mengorbankan waktu keluarga, karena kami sekeluarga sudah terbiasa berjuang hidup sejak masih kuliah dulu. Kami mulai hidup dari nol, tak ada fasilitas. Saya tak gentar ke Mentawai dan menginap di sana disaat Tsunami dan badai masih menjadi hantu menakutkan. Saya juga tak menyerah mendatangi pelosok-pelosok kampung di Sumbar, di saat staf dan SKPD tak sanggup lagi mengikuti perjalanan.

Yang saya takutkan adalah seperti yang ditakutkan Nabi Muhammad dan Khalifah Umar, yaitu pertanggung jawaban di hadapan allah SWT. Hal itulah yang membuat hati saya pilu.

Namun saya yakin, jika kita melakukan yang terbaik, pasti hasilnya baik pula. Kalau padi yang ditanaman, apalagi kalau dirawat dengan baik, tak mungkin ia akan menjadi ilalang.

Mari kita bersama membangun Sumatera Barat dengan saling bahu membahu. Saling menuding dan saling menyalahkan hanya akan membuat energi terbuang percuma.  Katakan yang benar itu benar, jangan memutar balikkan fakta. Jangan mengadu domba, mari kita bersatu menjadikan Sumatera Barat Provinsi terdepan. (November 2013)

93. Optimisme Meneg BUMN

Optimisme Meneg BUMN

 

Indonesia, menurut Meneg BUMN Dahlan Iskan, segera menjadi negara maju dan modern, seperti yang didambakan hampir oleh seluruh warga negara Indonesia, dalam tempo yang tak terlalu lama.

Hal itu bukan mimpi, tetapi sebuah fakta yang segera akan menjadi kenyataan. Sejumlah data telah mengindikasikan bahwa peristiwa itu akan terjadi. Tahun lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari pertumbuhan ekonomi Belanda, negara yang dulu menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Dua tahun mendatang, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan telah melebihi pertumbuhan ekonomi negara Spanyol.

Jangan sebut lagi bahwa Malaysia merupakan penghasil kelapa sawit dan karet terbesar, karena posisi itu telah diambil oleh Indonesia. Kini, lebih 50 persen produk kebutuhan masyarakat Asia Tenggara dipasok dari Indonesia. Semen asal Indonesia, segera akan diberi nama Semen Indonesia merupakan semen terbaik di Asia Tenggara. Maskapai penerbangan Garuda merupakan yang terbaik di Asia Tenggara. Dari dulu hingga kini Indonesia masih merupakan sebuah negara besar dan kaya.

Bukti lain bahwa Indonesia segera akan menjadi negara maju dan modern adalah bertumbuhnya kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas secara menakjubkan. Supermarket tumbuh menjamur di mana-mana, omset penjualan kendaraan bermotor, rumah,  apartemen mewah, dan maskapai penerbangan, terus melonjak drastis. Ini merupakan tanda bahwa kelompok masyarakat  dengan tingkat pendapatan menengah ke atas terus bertumbuh, Indonesia selangkah lagi menjadi negara maju dan modern.

Hal ini menurut Menteri Dahlan Iskan tidak terosialisasi secara baik di masyarakat. Informasi yang berkembang di masyarakat justru informasi negatif sehingga jika dikatakan bahwa maskapai Garuda adalah yang terbaik di Asia Tenggara maka mereka balik bertanya, “Apa iya?’ dengan nada pesimis.  Gelombang pesimis ini menjadi kendala besar untuk terus maju.

Perjalanan tumbuh menjadi negara maju dan modern, menurut meneg BUMN,  memang selain menimbulkan dampak positif juga selalu diiringi oleh dampak negatif. Dampak negatif dari peristiwa itu yang harus diwaspadai adalah middle ecomonic trap (perangkap ekonomi kelas menengah).  Misalnya, karena terjadi kenaikan pembelian kendaraan bermotor secara drastis, maka terjadi kemacetan dimana-mana. Ingin serba cepat dan serba instan telah menjadi gaya hidup mereka, dan sejumlah masalah lainnya.
Karena itu, agar Indonesia terus tumbuh dan mengalami percepatan menuju negara maju, semua kendala itu harus diminimalisir atau dihilangkan sama sekali. Efisiensi di berbagai sektor harus dilakukan agar tidak terjadi pemoborosan dan biaya tinggi dan kita bisa bersaing secara ekonomi dengan negara lain. Jika  pemborosan terjadi akibat kepadatan lalulintas dan sistem tranportasi tidak benar, maka hal itu harus segera dibenahi. Baik dengan memperlebar jalan, menciptakan sistem transportasi massal yang nyaman, juga termasuk meningkatkan disiplin pengendara bermotor bahkan pembatasan jumlah kendaraan, jika memang dirasa perlu.

Jika inefisiensi terjadi akibat hambatan birokrasi, maka birokrasi harus segera direformasi, sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan.  Jika selama ini kapal dari daerah lain tidak mau sandar di Teluk Bayur akibat hambatan birokrasi, misalnya, maka hal itu menurut menteri harus segera diperbaiki dan boleh lagi terjadi. Namun jika kendalanya terletak pada terbatasnya sarana dan  prasarana yang tersedia, ditargetkan dua tahun mendatang menurut beliau hambatan itu harus ditiadakan dan hal itu tidak boleh terjadi lagi.

Harus kita akui, bahwa Sumatera Barat juga mengalami hal yang sama. Kelompok menengah ke atas tumbuh secara signifikan, disadari atau tidak, daerah ini segera akan menjadi daerah maju dan modern. Kita tentu semua menginginkan menjadi daerah yang maju dan modern, menuju masyarakat yang sejahtera, adil dan bermartabat.

Saya juga sepakat dengan Pak Dahlan Iskan bahwa, jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh pasti kita mampu mengatasi segala masalah yang muncul tersebut. Semangat dan optimisme yang beliau perlihatkan, diiringi dengan kerja keras, kita juga pasti bisa. Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. (November 2013)

94. Pers dan Pembangunan Daerah

Pers dan Pembangunan Daerah

 

Siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia.  Teori yang digagas Alvin Toffler itu hingga kini nampaknya masih mangkus. Karena itu informasi menjadi materi yang sangat penting.  Dampaknya terlihat jelas, semua media penyampai infomasi berkembang dengan pesat. Media cetak terus tumbuh dan berkembang, stasiun televisi juga makin banyak, internet ada di mana-mana, telepon genggam dan pc tablet terus bermunculan dengan aneka merek dan model.

Media massa sebagai produk pers, baik cetak maupun elektronik, (ditambah lagi dengan media massa dan media sosial di dunia maya),  adalah media informasi yang penting dan berfungsi strategis. Perkembangan media massa suatu daerah, merupakan cerminan dari kondisi umum daerah tersebut.  Dulu tak semua provinsi memiliki media massa. Provinsi yang belum memiliki media massa merupakan cerminan bahwa daerah tersebut termasuk tertinggal dalam berbagai hal, baik secara ekonomi, maupun intelektual. Kini hampir semua provinsi memiliki media massa, kualitas media massa suatu daerah biasanya mencerminkan kondisi dan karakter masyarakat daerah setempat. Pers dan masyarakat suatu daerah memiliki hubungan timbal balik dan saling pengaruh mempengaruhi.

Di Sumatera Barat, kita sadari, media massa  sangat penting perannya dalam percepatan pembangunan daerah ini. Selain sebagai sumber informasi, mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat, fungsi penting dan strategis media massa di Sumatera Barat menurut saya adalah menggalang partisipasi masyarakat. Aspek ini menjadi penting karena kunci sukses pembangunan adalah partisipasi masyarakat.

Banyak proyek pembangunan seperti pembangunan jalan,  sekolah, rumah sakit dan berbagai fasilitas umum menjadi terbengkalai atau bahkan gagal dibangun gara-gara  minimnya partisipasi masyarakat.  Pembangunan itu misalnya terkendala oleh masalah pembebasan lahan.  Akibatnya  proyek tersebut  tertunda-tunda atau bahkan gagal dilaksanakan dan dana  yang telah dianggarkan  untuk itu terpaksa dikembalikan ke kas negara.

Namun ada juga yang terjadi sebaliknya,  proyek-proyek yang dilakukan melalui program PNPM misalnya. Karena besarnya partisipasi masyarakat,  meski dana yang disediakan hanya Rp 10 juta misalnya, namun bisa menyelesaikan  proyek pembangunan senilai  Rp 30 juta. Di Padang Pariaman misalnya, masyarakat setempat membangun jalan dengan bergotong royong dan swadaya.

Masih banyak lagi contoh partisipasi masyarakat yang tak terhitung nilainya. Dalam membangun masjid atau mushalla misalnya.  Umumnya mushalla dan masjid di Sumatera Barat dibangun dengan gotong royong dan swadaya masyarakat. Begitu juga sejumlah jalan lingkungan, jalan desa atau saluran irigasi, kebanyakan dibangun dengan swadaya masyarakat.

Partisipasi masyarakat itu bisa digalang melalui media massa. Informasi yang disampaikan melalui media massa membuat masyarakat tahu apa rencana pembangunan yang akan dilakukan, apa manfaat pembangunan tersebut, selanjutnya paham apa peran yang bisa mereka ambil, baik yang ada di Sumbar maupun yang di rantau. Kunci munculnya partisipasi masyarakat adalah mengetahui informasi yang benar, akurat, serta munculnya kepercayaan (truth).  Hal itu bisa terbangun setelah mendapat informasi dari media massa.

Karena menyangkut aspek akurasi  dan kepercayaan, tentu saja pengelola media massa (pers) harus bekerja secara profesional serta selalu mendahulukan akurasi  sebuah informasi, tidak tercampur antara fakta dengan opini, apalagi keinginan pribadi.  Pers boleh saja berfungsi sebagai kontrol dan mengkritik pemerintah dalam menjalankan pembangunan, namun tentu dengan mengemukakan fakta dan data yang akurat.

Akurasi sebuah berita adalah kunci kepercayaan masyarakat.  Kepercayaan masyarakat terhadap sebuah media massa adalah taruhan apakah media massa tersebut berhasil merebut hati pelanggan serta berumur panjang.

Saya yakin pers Sumatera Barat sepakat untuk menggalang kekuatan bersama memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat. Karena meningkatnya kesejahteraan masyarakat akan menaikkan daya beli masyarakat (termasuk daya beli terhadap media massa)  dan pada akhirnya akan menimbukan efek berganda menggerakkan roda ekonomi Sumatera Barat secara keseluruhan.

Selamat berulang Tahun Padang Ekspres, maju terus, semoga selalu menjadi media yang profesional, terpercaya, dicintai dan tetap berkomitmen kuat untuk bersama-sama memajukan Sumatera Barat. Amin. (Januari 2013)

95. Membangun dengan Pajak

Membangun dengan Pajak

 

Mungkin tak banyak orang yang suka diajak bicara soal pajak, apalagi jika ditagih kewajibannya untuk membayar pajak. Alasannya bisa bermacam-macam. Bisa karena menganggap dirinya masih belum layak membayar pajak karena masih memiliki banyak hutang, belum paham manfaat pajak sampai karena kecewa akibat pajak diselewenangkan oleh mafia pajak seperti kasus  Gayus Tambunan yang menghebohkan itu.

Namun disadari atau tidak, selama ini pajak telah menjadi nafas yang menggerakkan dan menghidupi pembangunan negara kita.  Jalan-jalan raya mulus berlapis hot mix telah dibangun dari kota sampai pelosok-pelosok desa.  Semua itu dibangun dengan dana yang diperoleh dari pajak. Jalan-jalan mulus itu bisa kita nikmati secara gratis. Bisa dibayangkan jika jalan tidak ada, atau jalan jelek dan berlubang di sana sini.

Demikian juga dengan berbagai fasilitas umum lainnya, pendidikan misalnya. Di perguruan tinggi negeri, mahasiswa cukup membayar uang kuliah Rp 1 juta per bulan atau Rp 6 juta  per semester. Pada hal seharusnya Rp 3 juta per bulan atau Rp 18 juta per semester. Selisih biaya itu disubsidi melalui dana yang diperoleh dari pajak. Begitu juga di tingkat SD, SLTP hingga SLTA.

Banyak fasilitas umum lain diselenggarakan oleh pemerintah dan dibiayai dari pendapatan pajak, misalnya kesehatan, listrik, BBM, transportasi, irigasi dan lain-lain yang pelaksanaannya dilakukan oleh pemerintah. Dana untuk menyediakan sarana dan prasarana umum tersebut diperoleh dari pajak.

Pajak dari perspektif ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya dari sektor privat kepada sektor publik.   Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH, pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin, dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.  Sedangkan menurut Sommerfeld Ray M., dkk. pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan pemerintahan.

Di satu sisi kita mungkin tercengang melihat betapa pesatnya pembangunan di negara-negara berkembang. Jepang misalnya, bisa membangun jalan layang beribu-ribu kilometer, seolah-olah mereka memiliki dana tak terhingga untuk membangun. Begitu juga sejumlah negara lain, pengangguran pun bisa mereka beri santunan sehingga dapat hidup layak.  Seolah-olah apapun bisa mereka lakukan agar masyarakatnya bisa hidup tentram dan nyaman.

Namun jika kita lihat tingkat pendapatan masyarakatnya dan tarif pajak yang belaku di sana, maka kita akan termanggut manggut melihat kenyataan yang terjadi. Jepang misalnya, memiliki rasio pajak penghasilan sebesar 50 persen, dengan penghasilan rata-rata per kapita pada tahun 2010 sebesar US$ 52.200 per tahun (sekitar Rp 468.800.000). Belanda menggunakan ratio pajak penghasilan 52 persen dengan rata-rata pendapatan pada tahun 2010  sebesar US$ 57.000 (Rp 513.000.000) dengan asumsi 1 US$ = Rp 9.000.

Menurut catatan BPS selama 2011, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia mencapai Rp30,8 juta per tahun atau sekitar US$3.542,9. Sedangkan ratio pajak penghasilan yang digunakan di Indonesia saat ini adalah 10 persen. Bisa dibayangkan betapa tidak sebandingnya pemasukan pajak antara negara berkembang tersebut dengan negara kita, seperti bumi dan langit. Pendapatan rata-rata masyarakat di negara-negara maju tersebut sekitar 14 sampai 15 kali lipat pendapatan masyarakat kita. Sedangkan pajak yang mereka bayarkan kepada negara 5 kali lipat dari jumlah pajak yang kita bayarkan. Jadi tidak aneh kalau mereka bisa membangun demikian pesat.

Karena itu ada 3 jalan yang harus kita lakukan agar pembangunan di Indonesia agar bisa melejit pesat seperti negara-negara tersebut.  Pertama; tingkatkan kesejahteraan masyarakat (tingkatkan pendapatan per kapita), kedua; efektifkan pengunaan pajak dan hindarkan kebocoran akibat penyimpangan pajak, ketiga; tingkatkan kesadaran membayar pajak.  Ketiga komponen ini akan saling terkait dan saling bersinergi untuk mencapai masyarakat yang sejahtera dan bermartabat seperti yang kita impikan bersama. (Novenber 2013)

96. Keramahan Orang Timur Ala Jepang

Keramahan Orang Timur Ala Jepang

 

Ada sesuatu yang terasa tergurat dalam dada, terasa sangat membekas, setelah bertolak meninggalkan Jepang. Oh… iya, itu dia, keramahan dan rasa persahabatan yang mereka unjukkan. Bertemu dengan Gubernur Kagawa, Wakil Gubernur, Sekda, Ketua Parlemen, pengusaha maupun petani  setempat, tak seperti bertemu orang yang baru dikenal, tapi seperti bertemu teman lama yang bertahun-tahun tak berjumpa.

Kemanapun kami berkunjung, mereka selalu menyambut hangat kedatangan kami. Mereka menanggapi dan menjawab semua pernyataan kami dengan penuh perhatian dan serius. Ramah, bersahabat dan bersahaja. Kadang kita merasa malu sendiri, mereka sangat menghargai kita, pada hal kita tertinggal sekitar 50 tahun di banding mereka, terutama di bidang ekonomi dan teknologi.

Ketika bertamu ke kantor Gubernur Kagawa, terlihat sekali mereka sangat serius menyambut kedatangan kami. Mulai di tempat parkir, kami sudah disambut petugas, ditentukan tempat parkir kendaraan, diantar dan dipandu sejumlah petugas hingga sampai di ruang pertemuan Gubernur Kagawa. Di sana sejumlah pajabat sudah menunggu dan tempat duduk masing-masing juga sudah diatur dan ditentukan. Sepasang bendera mungil, hinomaru dan merah putih terpajang di atas meja. Benar-benar membuat kita merasa tersanjung.

Malam pertama di Kagawa, kami diundang makan malam di restoran milik pengusaha setempat. Restoran ini cukup terkenal di Jepang, ia memiliki belasan restoran serupa di Jepang. Menu yang ingin disuguhkan adalah yakiniku, makanan khas Jepang. Yakiniku memang merupakan menu andalan rumah makan ini dan paling banyak digemari.

Yakiniku terdiri dari irisan daging kecil-kecil dan tipis seperti dendeng. Daging ini merupakan daging khusus dari sapi jenis wagio (wagyu). Daging ini diberi bumbu khusus, lalu dibakar sebentar (sekitar 2 menit), lalu dimakan bersama bumbu saos. Rasanya, bukan main enak dan empuk, berbeda dengan daging biasa. Tak terasa, seporsi daging seberat sekitar seperempat kilo itu habis  sekali santap.

Mungkin itulah sebabnya kenapa daging sapi wagio/wagyu, sapi asli Jepang ini berbeda dengan daging sapi lainnya.  Di pasar lelang kami melihat sendiri jika jenis sapi lain laku terjual sekitar Rp 100.000 per kilogram, maka sapi wagio lalu terjual sekitar Rp 800.000 sampai Rp 1 juta per kilogram.

Awalnya kami juga tak percaya dengan nilai transaksi yang terjadi di pasar lelang. Berkali-kali kami bertanya, apakah benar harga sapi yang baru terjual benar-benar sekitar Rp 100 juta per ekor? Berkali-kali pula ketua lelang setempat membenarkan sambil tersenyum.

Jadi tak perlu berat sapi mencapai 2 ton per ekor agar bisa terjual Rp 100 juta per ekor. Yang kami temui di pasar lelang saat itu beratnya sekitar 600 sampai 700 kilogram saja. Tapi begitu sapi itu muncul, langsung diserbu oleh peserta lelang, dengan harga sekitar Rp 100 juta per ekor. Jika memang tampak berkualitas, mereka tak ragu memasang harga. Harga beras juga begitu, beras berkualitas harganya bisa tiga sampai empat kali lipat beras biasa. Di Jepang saat ini memang tak lagi bicara kuantitas, tapi kualitas. Mereka berani bayar mahal jika memang berkualitas.

Sayangnya saya lupa nama pengusaha restoran tersebut karena ia memberi kartu nama dengan tulisan kanji. Tapi saya masih ingat keramahan dan kelezatan masakan restorannya. Ia berjanji akan segera berkunjung ke Sumatera Barat, bukan tak mungkin berinvestasi di Sumbar.

Esoknya Ketua DPRD Kagawa juga tak mau kalah, ia juga mengundang makan malam di restoran miliknya. Ia juga memiliki belasan restoran di Kagawa. “Saya akan sajikan makanan yang khusus saya sendiri membuat resepnya,” ujarnya.

Sang ketua DPRD ternyata tak sekedar omong kosong, di restoran miliknya kami disuguhi berbagai macam masakan, dan ternyata memang enak. Ia sedikit agak kecewa ketika kami menolak dengan halus minuman beralkohol yang disajikan. Namun ia tampak gembira dan bersemangat ketika kami makan dengan bersemangat ketika hidangan lain disajikan.

Nampaknya beliau sangat berpengaruh dan disegani di Kagawa. Namun meskipun sudah berusia lanjut, gayanya energik dan eksentrik. Beberapa kali ia berusaha membuat lelucon dalam bahasa Inggris terpatah-patah bercampur bahasa Jepang . Kami pun berusaha menimpali guyonannya dengan bahasa Inggris dan Bahasa Jepang seadanya. Suasanapun jadi hangat, seperti sahabat yang lama tak berjumpa.

Setiap malam kami diundang untuk makan malam, baik oleh ketua koperasi dan sejumlah pengusaha lainnya secara bergantian. Yang pasti, susana yang terbangun selalu hangat, dan bersahabat.

Hendri, staf KBRI Jepang di Kyoto yang ikut menemani sejumlah perjalanan, berkali-kali mengatakan bahwa kunjungan ini sangat luar biasa. Belum pernah ia mengikuti acara kunjungan yang lengkap seperi ini dan langsung ke objek persoalan. “Sungguh ini luar biasa Pak,” ujarnya terkesan. (Okober 2010)

97. Seto Ohashi, Sebuah Mimpi yang Jadi Kenyataan

Seto Ohashi, Sebuah Mimpi yang Jadi Kenyataan

 

Sama seperti Indonesia, Jepang adalah Negara Kepuluauan. Jepang terdiri dari lebih 3000 buah pulau, besar dan kecil.  Empat pulau terbesar dan utama di Jepang adalah Hokkaido, Honshu (pulau terluas), Shikoku, dan Kyushu. Sekitar 97 persen penduduk Jepang bermukim di empat pulau ini.

Dipisahkan oleh laut yang membentang membuat wilayah Jepang terasa makin sempit dan terisolir satu sama lain.  Dulu, perjalanan dari pulau Honshu ke Shikoku hanya bisa dilakukan menggunakan kapal laut. Perjalanan dengan kapal dirasakan tidak efektif dan memakan waktu lama.

Namun masyarakat Jepang tak menyerah begitu saja. Mereka tak mau menyerah pada keadaan. Mereka bermimpi untuk membangun jembatan antara Honshu dan Shikoku meskipun jarak yang terbentang puluhan kilometer dan pekerjaan itu seperti mustahil bisa dilakukan.  Adalah  Jinnojo  Okobu, seorang wakil masyarakat,  yang memprovokasi mimpi itu sejak tahun 1889.

Baru pada tahun 1950 ide pembuatan jembatan ini dibahas di tingkat nasional. Kejadian tragis yang terjadi pada tahun 1955 makin membuat keinginan masyarakat Jepang untuk membangun Jembatan itu makin kuat. Saat itu terjadi tabrakan antara dua kapal ferri yang menghubungkan Honshu dan Shikoku. Kedua kapal itu tenggelam, ratusan orang hilang, banyak anak-anak  yang jadi korban dalam pristiwa itu.

Membangun jembatan antara Honshu da Shikoku memang bukan perkara gampang, karena jembatan yang akan dibangun harus menyeberangi laut.  Setelah melakukan studi yang cukup panjang, baru pada tahun 1972 hasil akhir riset disetujui.  Bulan September 1973 Menteri Konstruksi dan Menteri Transportasi Jepang mengeluarkan master plan pembangunan jembatan tersebut. Tak tanggung-tanggung, direncanakan ada tiga jalur penghubung antara Honshu dan Shikoku.

Tiga rute jalur penghubung darat itu adalah Rute Timur, Rute Tengah dan Rute Barat. Rute Timur menghubungkan Kobe-Awaji-Naruto Ekspressway. Jalur ini berjarak tempuh 89 kilometer. Jembatan dan jalan raya ini selesai total pada taun 1998.

Rute tengah menghubungkan Seto – Chuo Ekspressway dan JR Seto Ohasi Line. Rote ini berjarak tempuh 39 kilometer, denngan lebar jembatan 35 meter, memiliki enam jalur kendaraan sekaligus, tiga di kiri, tiga di kanan. Lebih istimewa jembatan ini juga memiliki dua jalur kereta api di bagian bawah badan jalan. Rute ini memiliki enam jembatan panjang bersambungan, rangkaian jembatan inilah yang dinamakan Seto Ohashi. Rute ini dibuka pada tahun 1988.

Rute Timur Menghubungkan Nishi – Seto Expressway. Rute ini memiliki 9 rangkaian jembatan, selesai total pada tahun 1999.

Dengan selesainya ketiga jembatan ini, maka pulau Honshu dan Shikoku bisa dengan transportasi darat melalui tiga jalur, termasuk satu jalur kereta api dua arah. Ketiga jembatan ini membuat perjalanan antar pulau bisa ditempuh kapan saja, dengan nyaman dan waktu tempuh tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Hal ini membuat pergerakan ekonomi masyarakat makin pesat.

Teknologi yang digunakan dan rancang bangun yang digunakan memang sangat cemerlang.  Jembatan Seto Ohashi misalnya, jembatan ini ditopang oleh beberapa buah menara setinggi lebih 100 meter. Kaki menara terpancang kokoh di dasar laut. Badan jembatan digantung pada kabel-kabel yang direntang di atas menara.

Total kabel yang digunakan sebagai penyangga Seto Ohashi panjangnya mencapai 300.000 klometer, setara dengan 7,5 kali lingkaran bumi. Jembatan dirancang tahan sampai 200 tahun. Karena Jepang merupakan daerah rawan gempa, maka jebatan ini juga dirancang tahan gempa. Buktinya ketika terjadi gempa tahun 1995 di Kobe, jembatan ini tak bergeming.

Terlepas dari semua tekonologi   yang digunakan, yang paling menarik dari fenenomena ini adalah semangat dan keinginan yang kuat masyarakat dan pemerintah Jepang untuk berubah dan membangun, tak mau menyerah dengan keadaan. Meski pada awalnya pekerjaan itu mustahil bisa terjadi, namun jika dikerjakan serius dan sungguh-sungguh ternyata bisa terwujud.  (Oktober 2010)

98. Tak Ada Sampah di Takamatsu

Tak Ada Sampah di Takamatsu

 

Mungkin ini sebuah keajaiban, tak ada selembar sampah pun tercecer di seantero Kota Takamatsu, ibukota provinsi Kagawa Jepang. Nyaris tak bisa dipercaya. Padahal di sini, hampir semua barang dikemas dengan plastik atau kertas, atau kombinasi keduanya, kertas dan plastik.

Sebut saja sayur, buah-buahan, daging, berbagai kue dan makanan semua dikemas dengan plastik atau kertas, diberi merek, didisain semenarik mungkin dan dihiasi dengan berbagai warna-warni menarik.

Tapi ajaibnya, ya.. itu tadi, tak selembarpun ada sampah tercecer. Seluruh kota bersih, sampai ke pelosok-pelosok sekalipun, benar-benar bebas sampah. Pemerintah kota atau pemerintah provinsi nampaknya tak perlu lagi menggelar lomba kebersihan antar kelurahan agar masyarakat sadar akan kebersihan. Pemerintah pusat juga tak perlu menggelar lomba Adipura agar masing-masing kota menjaga kebersihan lingkungan mereka.

Di pelosok kampung apalagi, tak bakal ditemukan sampah di sana, semua sama bersihnya dari kampung sampai pusat kota. Tak ada puntung rokok tercecer di jalan, juga tak ada plastik atau kantong kresek yang berserakan seperti pemandangan umum di daerah kita.

Provinsi Kagawa terletak di Jepang Barat, merupakan provinsi terkecil, dengan luas wilayah 1.862 kilometer persegi dan jumlah penduduk 1.012.400 jiwa. Takamatsu adalah ibukota provinsi Kagawa berpenduduk 418.196 jiwa, hampir sama dengan jumlah penduduk kota Padang sekitar 5 tahun lalu.

Produk domestik bruto Kagawa adalah 3.660 triliun yen per tahun, sedangkan pendapatan per kapita penduduk adalah 2.616.000 yen per tahun. Nilai tukar yen saat ini adalah Rp 105 per yen. Ini berarti rata-rata pendapatan penduduk Kagawa adalah Rp 274.680.000 per tahun atau sekitar Rp 22.890.000 per bulan. Jadi tak heran jika tak ada gubug reot atau orang miskin di Kagawa.

Takamatsu memang bukan termasuk 10 kota megapolitan di Jepang. Tapi fasilitas sarana dan prasarana yang ada di sini serba lengkap dan luar biasa,  Jakarta pun, masih tertinggal cukup jauh. Di pusat perkotaan Takamatsu bertebaran gedung-gedung bertingkat, jalan layang  (fly over) berkualitas prima terpapar sepanjang ribuan kilometer menguhubungkan antar daerah di Kagawa.

Pemerintah Kagawa seperti tak pernah berpikir lagi apakah uang di kas mereka untuk membangun cukup tersedia atau tidak. Coba saja bandingkan dengan Kota Padang yang hanya mampu membangun fly over sepanjang 250 meter butuh waktu selama 6 tahun. Berapa puluh tahun waktu yang dibutuhkan untuk membangun ribuan kilometer jalan jalan dan fly over seperti yang ada di Kagawa?

Tak hanya itu, sungguh kita berdecak kagum melihat jembatan Seto Ohashi sepanjang 13 kilometer yang menghubungkan pulau Honshu dan Shikoku. Susah menghitung berapa angka uang rupiah (jika dikonversi ke rupiah) dana yang dibutuhkan untuk membangun jembatan tersebut. Tak hanya memiliki 6 jalur kendaraan, di bawah badan jalan jembatan Seto Ohasi juga terdapat jalur kereta api. Saat ini tak ada tandingan Seto Ohasi di dunia.

Meski topografi daerah Kagawa hampir mirip dengan Sumatera Barat berbukit dan lembah, namun tak akan ditemukan tanjakan atau tikungan tajam di jalan utama antar kota. Jika ada lembah, di sana dibangun jalan layang, jika ada bukit merintangi jalan, maka di sana dibangun terowongan. Jangan ditanya berapa dana yang mereka habiskan. Namun hasilnya perjalanan jauh pun bisa dilakukan dengan nyaman, juga tak ada jalan jelek dan berlobang. Di provinsi Kagawa saja ada puluhan terowongan.

Meski kepadatan penduduk Kagawa jauh lebih tinggi, namun di  Ibukota Takamatsu sekalipun tak pernah dikenal istilah macet. Yang terlihat menonjol adalah disiplin yang membuat Kagawa bebas macet. Penduduk Kagawa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah atau di tempat mereka bekerja. Meski rata-rata mereka memiliki mobil, namun mereka mengutamakan menggunakan angkutan umum. Tak ada anak yang ke sekolah diantar mobil orang tuanya, mereka ke sekolah menggunakan sepeda.

Berbeda dengan di pusat kota di pinggiran kota mulai terlihat pemandangan lahan pertanian, sawah, lahan sayuran dan buah-buahan terawat secara baik dan tertata rapi di sela-sela gedung bertingkat dan rumah penduduk (bukan gubug). Meski jalan layang juga berseliweran dan sejumlah gedung bertingkat bertebaran, namun kegiatan pertanian tetap eksis. Sekitar 30 persen kebutuhan pangan masyarakat Jepang berasal dari Kagawa.

Petani, koperasi dan dinas pertanian/peternakan setempat saling bahu membahu untuk meningkatkan pendapatan petani. Bibit padi, sayuran dan buah-buahan terus diteliti sehingga mampu memberikan hasil yang terbaik, maksimal dan berkualitas prima. Petani juga bekerja keras merawat tanaman mereka sehingga mencapai hasil puncak. Sedangkan koperasi mengatur distribusi dan pemasaran produk mereka. Alhasil, keuntungan yang mereka peroleh mencapai titik optimal, harga jual produk pertanian juga terjamin dan selalu menguntungkan.

Meski termasuk daerah modern, udara di Kagawa juga terasa sejuk dan segar, hampir sama kesegaran udara lembah anai atau ladang padi. Tak ada tercium bau asap kendaraan yang menyengat seperti kota-kota di negara kita. Di sini emisi buangan kendaraan dijaga dengan ketat. Agaknya itulah yang membuat udara di Kagawa terasa lebih segar, polusi udara akibat kendaraan bermotor ditekan seminim mungkin.

Di Kagawa juga tak ditemukan saluran air kumuh berbau busuk buangan rumah tangga atau pabrik. Saluran buangan limbah rumah tangga dibangun di bawah tanah, semua rumah di Kagawa terhubung ke saluran ini, sehingga tak kan tercium bau got busuk di pinggir jalan. Limbah ini lalu diproses, setelah jernih baru dibuang ke laut.

Limbah pabrik juga begitu, malah diperlakukan lebih ketat. Sebelum dibuang limbah tersebut harus diolah, setelah bersih baru boleh disalurkan ke laut. Itulah kesan paling mendalam di Kagawa, tak ada sampah, tak ada got busuk, juga tak ada jalan berlobang, berliku dan mendaki.

Realitanya kita memang tertinggal jauh, tapi jika ada semangat dan kemauan yang kuat tentu semua itu bisa diatasi. Seperti Jepang mengejar ketinggalannya dulu. Mereka mengejarnya dengan disiplin dan kerja keras.

Disiplin dan kebersihan, dan kerja keras telah diajarkan Islam sejak ratusan tahun lalu. Nabi Muhammad SAW dalam hadistnya mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Banyak ayat-ayat dalam Al Quran yang memerintahkan umat untuk bekerja bersungguh-sungguh, tidak membuang-buang waktu.  Jika masyarakat Jepang yang mengamalkan hadits tersebut, jangan heran kalau merekalah yang memperoleh manfaatnya. Jika kita yang mengamalkan tentu kita bisa mendapat manfaatnya. (Oktober 2010)

99. MDGs

MDGs

 

Teknologi terus berkembang pesat di abad millenium, ekonomi dunia juga telah bertumbuh baik. Namun semua itu belum merata menyentuh seluruh penduduk dunia.  Berdasarkan data tahun 2008, sebanyak  22,4% penduduk dunia, yaitu 1,29 milyar penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan. Rata-rata pendapatan mereka kurang dari 1,25 dolar  (kurang Rp11.000) per hari.

Kondisi ini akan berimplikasi kepada masalah lainnya, yaitu kondisi kesehatan yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah, masalah kesetaraan gender, penyakit menular dan berbagai masalah krusial lain yang umum terjadi berbagai pelosok dunia.

Karena itu bulan September tahun 2000 lalu sebanyak 189 anggota PBB menetapkan 8 tujuan pembangunan millenium (millenium development goals/MDGs).  Delapan tujuan pembangunan itu ditargetkan bisa  tercapai tahun 2015. Tujuan pembangunan millenium itu adalah : 1.  Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan (menurunkan angka kemiskinan), 2. Mencapai Pendidikan untuk Semua (setiap penduduk minimal mendapatkan pendidikan dasar), 3. Mendorong Kesetaraan Jender dan Pemberdayaan Perempuan, 4. Menurunkan Angka Kematian Anak (target tahun 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun), 5.Meningkatkan Kesehatan Ibu (mengurangi minimal dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan), 6.Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya, 7. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup dan 8. Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan.

Masalah yang sama juga merupakan masalah yang krusial di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat. Berdasarkan catatan BPS penduduk miskin di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36% dari total penduduk Indonesia).  Menurut data statistik Jumlah penduduk miskin Sumatera Barat pada Maret 2009 adalah sebanyak 429.250 jiwa, sedangkan acuan yang digunakan adalah pendapatan rata-rata Rp.217.649per kapita per bulan (setara dengan di bawah 1 USD per hari).

Karena itu program MDGs yang merupakan komitmen dunia untuk memperbaiki kualitas hidup ummat manusia tersebut perlu kita sambut dan kita laksanakan dengan baik.  Dalam kacamata internasional, delapan tujuan pembangunan millenium tersebut merupakan hak hazasi manusia, sedangkan dalam kacamata pembangunan Sumatera Barat, hal tersebut senada dan sejalan dengan visi pembangunan Sumatera Barat 2010 -2015, yaitu Menuju Masyarakat Madani, Sejahtera dan Bermartabat.

Lalu bagaimana agar program yang bertujuan mulia itu bisa tercapai?

Pemerintah sebagai pihak yang telah berkomitmen untuk menjalankan program tersebut tentu berkewajiban memfasilitasi dan memberikan stimulus kepada masyarakat agar tujuan (goals) dari program MDGs bisa tercapai. Sedangkan masyarakat berkewajiban berusaha, bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.  Seperti hadits Nabi, nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kaum itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya.

Di Sumatera Barat yang terkenal menganut filosofi Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, sangat besar peluang program MDGs yang ditargetkan tahun 2015 terlaksana itu bisa tercapai. Dalam konsep adat, tigo tali sapilin, yaitu alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tentu tidak akan membiarkan kaum kerabatnya tenggelam dalam kemiskinan, kebodohan dan kesengsaraan. Perantau, tokoh dan pemuka masyakat Minang tentu tak akan tega melihat orang kampung dan kaum kerabatnya sengsara.

Sedangkan dalam konsep syarak (agama), umat Islam adalah bersaudara. Kewajiban umat Islam untuk membantu saudaranya yang miskin, terkebelakang, apalagi yang sedang mengalami musibah (sakit). Semua itu senada dan seirama dengan cita-cita program MDGs.

Mari kita jadikan kemiskinan, kebodohan dan penyakit sebagai musuh bersama. Jadikan momentum MDGs sebagai momen untuk memperbaiki kualitas hidup, saling membantu dan peduli dengan masyarakat dan lingkungan sekeliling kita. (Mei 2012)

100. Listrik

Listrik

 

Hati bu Rina pagi ini sedih dan kecewa. Betapa tidak, tengah asyik menyeterika baju sekolah putri satu-satunya Santi, tiba-tiba listrik di rumahnya padam.  Baru baju Santi sebelah kiri saja yang selesai diseterika, bagian kanan baju itu kusut masai tak karuan. Padahal pagi ini Santi akan mengikuti upacara bendera, ia terpilih sebagai pembaca Teks Pembukaan UUD 1945. Apa komentar peserta upacara melihat pakaian Santi yang kusut sebelah? Mau digosok dengan seterika bara tempurung seperti dulu, sudah tak ada lagi ditemukan setrika seperti itu di zaman kini.

Pak Tino di pasar raya juga mengalami nasib serupa. Tengah asyik memangkas rambut pelanggan dengan mesin pangkas kesayangannya, tiba-tiba listrik padam. Baru bagian sebelah kanan saja rambut pelanggan selesai ia pangkas. Pak Tino tak dapat berbuat apa-apa dan kecewa, ingin beralih ke mesin potong rambut manual seperti dulu, sudah lama tak lagi tersedia.

Listrik saat ini memang sudah menjadi kebutuhan vital, kita sangat tergantung pada ketersediaan listrik. Mulai dari kebutuhan rumah tangga seperti memasak nasi, mencuci, penerangan, hand phone  sampai  kebutuhan usaha besar dan kecil, apalagi industri, semua membutuhkan dan tergantung pada ketersediaan listrik. Itulah sebabnya ketika terjadi pemadaman listrik, hampir sebagian besar kegiatan masyarakat terganggu. Wajar jika masyarakat sangat kecewa.

Menurut  General Manager (GM) PT PLN Wilayah Sumbar Warsito Adi pemadaman listrik yang sering terjadi belakangan ini adalah akibat rusaknya sejumlah pembangkit listrik di Sumatera Barat, baik akibat dalam perbaikan dan perawatan rutin, maupun akibat kurangnya debit air di sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berkebetulan waktu kejadiannya bersamaan.

PLTU Ombilin yang selama ini menjadi pemasok listrik terbesar, pembangkitnya mengalami kerusakan sejak beberapa bulan terakhir. Kapasitas terpasang PLTU Ombilin yang semula 2×100 MW, kemampuan produksi saat ini cuma 1 x 80 MW, bahkan terkadang nol sama sekali. Karena memang sudah jadwalnya untuk diperbaiki, pembangkit yang masih bisa berproduksi 1 x 80 MW ini pun juga dinonaktifkan  total, dalam rangka perbaikan total pada seluruh pembangkit PTLU Ombilin.

Tiga PLTA andalan yang menjadi tulang punggung pembangkit listrik Sumatera Barat yaitu PLTA Batang Agam, PLTA Maninjau dan PLTA Singkarak belakangan ini tak mampu berproduksi optimal. Hal ini disebabkan oleh musim kemarau yang cukup ekstrim dan di luar prediksi semula. Kurangnya debit air akibat musim kemarau pada akhirnya menyebabkan menurunnya produksi listrik di masing-masing pembangkit listrik tenaga air tersebut.  Padahal jika semua semua pembangkit itu berproduksi optimal, maka terjadi surplus listrik di Sumatera Barat. Namun akibat kemarau yang menyebabkan berkurangnya elevasi permukaan air danau Singkarak, Maninjau dan Batang Agam,  bersamaan pula dengan terjadinya kerusakan di PLTU Ombilin. Maka tak dapat dielakkan lagi, terjadi defisit listrik yang cukup besar di Sumatera Barat.

Masalah serupa tidak hanya dialami oleh Sumatera Barat. Semua provinsi di Sumatera mengalami hal serupa. Jika kita bicara secara global, maka ada dua krisis yang akan melanda dunia dalam waktu dekat bahkan telah mulai dirasakan keberadaannya, yaitu krisis pangan dan krisis energi. Krisis energi dirasakan akibat kebutuhan manusia akan energi yang terus meningkat, sementara sumber energi, terutama yang bersumber dari fosil (BBM dan batubara) makin menipis jumlahnya. Maka saat ini masyarakat dunia ramai-ramai melakukan percobaan dan penelitian untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan (non fosil) atau disebut juga dengan energi hijau.

Pemerintah Sumatera Barat tidak tinggal diam. Sejak dini kita juga sudah mencari sumber-sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat yang terus meningkat, namun juga ramah lingkungan. Sejak dua tahun lalu sudah dijalin kerjasama dengan Pemerintah Jerman untuk mengembangkan energi alternatif tersebut. Selain air yang sudah umum digunakan, tenaga matahari, angin, dan sampah (bio gas) juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik. Dengan memanfaatkan sumber-sumber tersebut sejumlah desa di Jerman misalnya, telah menjadi desa mandiri energi. SKPD terkait, sejumlah praktisi dan tokoh masyarakat Sumatera Barat sudah dikirim dan difasilitasi untuk belajar mengembangkan energi tersebut. Suatu saat, dengan dukungan masyarakat, di Sumbar diharapkan juga muncul desa-desa mandiri energi.

Selain itu Sumatera Barat merupakan provinsi pertama di luar Jawa yang telah membangun pembangkit listrik geothermal. Namun tentu saja membangunnya tidak dengan simsalabim, langsung jadi. Pekerjaan raksasa yang membutuhkan dana triliunan rupiah itu sedang berjalan, kini pekerjaannya sudah mencapai sekitar 60 persen. Pembangkit listrik tenaga panas bumi yang berlokasi di Kabupaten Solok Selatan ini direncanakan selesai tahun 2015 dengan kapasitas 400 MW s/d 600 MW. Satu pembangkit listrik yang ramah lingkungan ini saja idealnya sudah dapat memenuhi kebutuhan total Sumatera Barat yang hanya berjumlah sekitar 400 MW. Alternatif lain, meski tertunda cukup lama PLTU Teluk Sirih yang berlokasi di Bungus Insya Allah akan mulai beroperasi beberapa bulan ke depan.

Untuk segera mengatasi masalah ini maka kepada pihak PLN wilayah Sumbar, Pemprov meminta supaya : 1. Mempercepat upaya perbaikan mesin pembangkit yang rusak, 2. Membuat hujan buatan di lokasi-lokasi sekitar PLTA, 3. Memanfaatkan PLTD yang ada sebagai antisipasi, 4. Memanfaatkan pembangkit listrik yang ada di BUMN seperti PT Semen Padang, misalnya,  5. Mempercepat beroperasinya PLTU teluk Sirih, 5. Meningkatkan efisiensi listrik, 6. PLN bekerja lebih serius dan bersunggguh-sungguh.

Atas semua  ketidaknyamanan ini, kami atas nama Pemerintah Sumatera Barat dan semua pihak yang terkait meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat Sumatera Barat. Kami mohon masyarakat bersabar dan memberi dukungan agar masalah ini bisa segera kita atasi bersama secepatnya. (September 2013)

101. Pegawai Negeri Sipil

Pegawai Negeri Sipil

 

Banyak orang berpendapat bahwa profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan lagi profesi yang menarik. Alasannya,  gaji PNS (sesuai standar gaji secara nasional) relatif kecil dibandingkan penghasilan seorang pengusaha. Pengembangan karir di PNS lambat dan tantangan pekerjaan juga relatif kecil karena pekerjaan PNS cenderung rutin sepanjang tahun. Apalagi belakangan ini untuk jadi gubernur, bupati, walikota,  atau menteri, tidak harus meniti karir dari PNS seperti dulu.  Untuk jadi politisi, anggota DPRD atau DPR juga tidak harus dari PNS.

Namun faktanya ternyata banyak juga masyarakat kita yang masih memilih dan mengidamkan PNS sebagai profesi mereka. Buktinya berita pengumuman penerimaan CPNS (calon PNS) merupakan berita yang selalu dicari-cari dan ditunggu-tunggu. Setiap ada lowongan CPNS dibuka, belasan ribu atau bahkan puluhan ribu orang pelamar mendaftar. Padahal jumlah yang diterima cuma sebagian kecil saja.

Akibatnya persaingan untuk mendapatkan posisi  PNS semakin ketat. Untuk lolos diterima jadi CPNS seperti lolos dari lubang jarum. Berbagai upaya pun dilakukan, baik berupa upaya posisitif maupun upaya negatif.  Upaya positif dilakukan dengan mempersiapkan diri secara baik. Mulai dari menekuni kuliah sehingga memperoleh indeks prestasi yang tinggi, sesuai dengan syarat minimal calon PNS. Bisa juga dengan melakukan persiapan yang baik untuk mengikuti ujian CPNS, baik dengan mempelajari soal-soal ujian dan menggali informasi yang berhubungan dengan ujian.

Cara-cara negatif banyak juga yang berusaha menempuhnya. Misalnya kasak-kusuk mencari calo yang konon katanya bisa membantu agar bisa lulus CPNS, atau mencari “orang kuat” yang juga bisa menolong/membacking seseorang agar bisa diterima jadi CPNS. Sejumlah uang pelicin atau materi dalam berbagai bentuk mereka siapkan demi melaksanakan hajat untuk bisa menjadi PNS.

Dalam masa kepemimpinan kami sebagai Gubernur Sumatera Barat, tidak ada istilah calo atau uang pelicin. Semua tes dilakukan secara baik dan benar, test dilakukan mengunakan metode terbaru dan terbaik yang telah terbukti kehandalannya. Juga tidak ada istilah koneksi atau famili. Kalau memang tidak lulus dan tidak memenuhi syarat, siapapun dia, adik kandung sekalipun, tidak bisa menjadi CPNS.

Yang menarik, ada catatan oleh hampir semua kepala SKPD yang telah menerima dan mempekerjakan CPNS baru hasil test dan seleksi tersebut. “Iyo pueh dan sanang kami mamakai mereka, Pak,” ujar sejumlah kepala SKPD. Menurut kepala-kepala SKPD, CPNS-CPNS baru tersebut nyaris tak ada cacatnya, sikap, kinerja dan kualitas intelektual mereka benar-benar bisa diandalkan.

Dalam perjalanan waktu dan pekerjaan sehari-hari, CPNS/PNS yang berkualitas dengan yang tidak berkualitas juga akan terlihat berbeda nyata. Mereka yang berkualitas akan segera nampak kinerja dan prestasinya sedangkan yang tidak juga akan terlihat. Yang tidak berkualitas lebih banyak berleha-leha dan berusaha membuang-buang waktu, mereka akan tersisih dengan sendirinya.  Ada atau tidak mereka di kantor, sama saja.

Bukankah dengan memaksakan diri, apalagi dengan cara-cara yang tidak benar untuk menjadi PNS hanya akan membuang-buang waktu, kesempatan dan uang saja? Negara pun jadi sia-sia menggaji orang yang tidak berguna seumur hidup, bahkan sampai pensiun? Halalkah uang yang mereka terima dan mereka berikan kepada anak istrinya?

Karena itu menurut saya tidak adanya gunanya memaksakan diri menjadi PNS dengan berbagai cara, apalagi menggunakan uang pelicin dan cara-cara yang tidak terhormat lainnya. Lulus jadi CPNS, lalu jadi pecundang, karir tak pernah beranjak naik, jadi mentimun bungkuk istilahnya, untuk apa? Lapangan kerja lain masih terbuka luas.

Mari kita jaga bersama agar seleksi CPNS tahun ini berjalan baik dan benar, tanpa calo, tanpa uang pelicin, juga tanpa beking-membeking. Tentu saja menjadi kewajiban dan tanggung jawab bupati/walikota di daerah masing-masing mengawalnya. Insya Allah jika seleksi dilakukan dengan baik dan benar, akan dipeloreh PNS yang baik dan benar pula. Pada akhirnya mereka nantinya akan menjadi aparat negara yang baik dan mampu menyelesaikan masalah-masalah negara dan mengayomi masyarakat dengan baik pula. (November 2013)

Pegawai Negeri Sipil

 

Banyak orang berpendapat bahwa profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan lagi profesi yang menarik. Alasannya,  gaji PNS (sesuai standar gaji secara nasional) relatif kecil dibandingkan penghasilan seorang pengusaha. Pengembangan karir di PNS lambat dan tantangan pekerjaan juga relatif kecil karena pekerjaan PNS cenderung rutin sepanjang tahun. Apalagi belakangan ini untuk jadi gubernur, bupati, walikota,  atau menteri, tidak harus meniti karir dari PNS seperti dulu.  Untuk jadi politisi, anggota DPRD atau DPR juga tidak harus dari PNS.

Namun faktanya ternyata banyak juga masyarakat kita yang masih memilih dan mengidamkan PNS sebagai profesi mereka. Buktinya berita pengumuman penerimaan CPNS (calon PNS) merupakan berita yang selalu dicari-cari dan ditunggu-tunggu. Setiap ada lowongan CPNS dibuka, belasan ribu atau bahkan puluhan ribu orang pelamar mendaftar. Padahal jumlah yang diterima cuma sebagian kecil saja.

Akibatnya persaingan untuk mendapatkan posisi  PNS semakin ketat. Untuk lolos diterima jadi CPNS seperti lolos dari lubang jarum. Berbagai upaya pun dilakukan, baik berupa upaya posisitif maupun upaya negatif.  Upaya positif dilakukan dengan mempersiapkan diri secara baik. Mulai dari menekuni kuliah sehingga memperoleh indeks prestasi yang tinggi, sesuai dengan syarat minimal calon PNS. Bisa juga dengan melakukan persiapan yang baik untuk mengikuti ujian CPNS, baik dengan mempelajari soal-soal ujian dan menggali informasi yang berhubungan dengan ujian.

Cara-cara negatif banyak juga yang berusaha menempuhnya. Misalnya kasak-kusuk mencari calo yang konon katanya bisa membantu agar bisa lulus CPNS, atau mencari “orang kuat” yang juga bisa menolong/membacking seseorang agar bisa diterima jadi CPNS. Sejumlah uang pelicin atau materi dalam berbagai bentuk mereka siapkan demi melaksanakan hajat untuk bisa menjadi PNS.

Dalam masa kepemimpinan kami sebagai Gubernur Sumatera Barat, tidak ada istilah calo atau uang pelicin. Semua tes dilakukan secara baik dan benar, test dilakukan mengunakan metode terbaru dan terbaik yang telah terbukti kehandalannya. Juga tidak ada istilah koneksi atau famili. Kalau memang tidak lulus dan tidak memenuhi syarat, siapapun dia, adik kandung sekalipun, tidak bisa menjadi CPNS.

Yang menarik, ada catatan oleh hampir semua kepala SKPD yang telah menerima dan mempekerjakan CPNS baru hasil test dan seleksi tersebut. “Iyo pueh dan sanang kami mamakai mereka, Pak,” ujar sejumlah kepala SKPD. Menurut kepala-kepala SKPD, CPNS-CPNS baru tersebut nyaris tak ada cacatnya, sikap, kinerja dan kualitas intelektual mereka benar-benar bisa diandalkan.

Dalam perjalanan waktu dan pekerjaan sehari-hari, CPNS/PNS yang berkualitas dengan yang tidak berkualitas juga akan terlihat berbeda nyata. Mereka yang berkualitas akan segera nampak kinerja dan prestasinya sedangkan yang tidak juga akan terlihat. Yang tidak berkualitas lebih banyak berleha-leha dan berusaha membuang-buang waktu, mereka akan tersisih dengan sendirinya.  Ada atau tidak mereka di kantor, sama saja.

Bukankah dengan memaksakan diri, apalagi dengan cara-cara yang tidak benar untuk menjadi PNS hanya akan membuang-buang waktu, kesempatan dan uang saja? Negara pun jadi sia-sia menggaji orang yang tidak berguna seumur hidup, bahkan sampai pensiun? Halalkah uang yang mereka terima dan mereka berikan kepada anak istrinya?

Karena itu menurut saya tidak adanya gunanya memaksakan diri menjadi PNS dengan berbagai cara, apalagi menggunakan uang pelicin dan cara-cara yang tidak terhormat lainnya. Lulus jadi CPNS, lalu jadi pecundang, karir tak pernah beranjak naik, jadi mentimun bungkuk istilahnya, untuk apa? Lapangan kerja lain masih terbuka luas.

Mari kita jaga bersama agar seleksi CPNS tahun ini berjalan baik dan benar, tanpa calo, tanpa uang pelicin, juga tanpa beking-membeking. Tentu saja menjadi kewajiban dan tanggung jawab bupati/walikota di daerah masing-masing mengawalnya. Insya Allah jika seleksi dilakukan dengan baik dan benar, akan dipeloreh PNS yang baik dan benar pula. Pada akhirnya mereka nantinya akan menjadi aparat negara yang baik dan mampu menyelesaikan masalah-masalah negara dan mengayomi masyarakat dengan baik pula. (November 2013)

102. Amran Nur dan Sawahlunto

Amran Nur dan Sawahlunto

 

Pertengahan tahun 2000, direktur PT. Bukit Asam (BA) mendatangi saya dengan wajah murung. Ia menyampaikan berita sedih, yaitu  PT. BA UPO (Unit Produksi Ombilin) terpaksa ditutup. PT. BA UPO terus menerus merugi. Biaya operasional kegiatan pertambangan ini terlalu mahal, jauh lebih tinggi dibanding penghasilan yang diperoleh.

Sebagai ketua komisi VIII DPR RI yang salah satu bidang tugasnya adalah energi dan sumberdaya mineral saat itu, saya cukup kaget dan terpukul dengan berita itu. Betapa tidak, Kota Sawah Lunto adalah kota yang denyut kehidupan ekonominya berasal dari tambang batubara Ombilin (PT. UPO). Tak kurang 55.000 jiwa penduduk Kota Sawahlunto baik secara langsung maupun tak langsung menggantungkan kehidupan ekonomi mereka pada kegiatan tambang “emas hitam” ini. Jika sumber ekonomi mereka itu dicabut, bagaimana mereka bisa mencari nafkah untuk bertahan hidup?

Kami lalu membahas masalah ini secara serius dengan stake holders terkait. Kami coba mencari solusi agar PT BA UPO tidak ditutup dan sekitar 55.000 jiwa masyarakat di daerah itu tetap memperoleh sumber mata pencarian.

Namun hasilnya nihil, tak ada pilihan lain, PT. BA UPO tetap harus ditutup. Alternatif yang ada cuma satu, PT. BA UPO ditutup secara bertahap, agar tidak terjadi kepanikan masyarakat Sawahlunto secara keseluruhan. Secara bertahap kegiatan PT. BA UPO dikurangi, dan secara bertahap dilakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) terhadap karyawan PT. BA UPO.

Saya ngeri membayangkan apa yang akan terjadi di Sawahlunto di kemudian hari. Ribuan karyawan di PHK dan kehilangan pekerjaan. Daerah-daerah kering dan tandus terhampar dimana-mana, bekas kegiatan tambang. Kawah-kawah raksasa juga menganga di sejumlah tempat, juga bekas aktfitas tambang. Lahan tersebut menjadi lahan mati, tak bisa lagi digunakan untuk bertani. Sudah terbayang di kepala,  bahwa Sawahlunto akan menjadi kota mati atau kota hantu yang ditinggal pergi oleh penduduknya.

Pada saat genting sepeti itulah Ir. Amran Nur “dipinang” oleh DPRD setempat untuk menjadi walikota.  Putra asli Talawi Sawahlunto lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berkarir di sektor swasta di Jakarta dan lama tak pulang ke kampung ini juga tersentak melihat kondisi Sawahlunto saat itu. Sawahlunto yang dulu mengalami kejayaan sejah zaman pemerintahan Belanda (1888), kini segera akan menjelma menjadi kota hantu.

Singkat cerita Ir. Amran Noer bersedia menjadi walikota Sawahlunto dan bertekad ingin berbakti untuk kampung halamannya tersebut, meski pada awalnya ditentang oleh pihak keluarganya sendiri. Ia resmi dilantik menjadi Walikota Sawahlunto tahun 2003.

Apa yang dikuatirkan itu, ternyata memang terjadi. Ribuan masyarakat mulai meninggalkan daerah ini, pindah ke daerah lain untuk memperbaiki  ekonomi mereka, mencari penghidupan baru. Penduduk Sawahlunto menurut data statistik berjumlah sekitar 55.000 jiwa pada tahun 1995, menyusut drastis menjadi sekitar 50.000 jiwa pada tahun 2000 dan terus menyusut di tahun-tahun berikutnya.

Karena itu Walikota Amran Nur memberi motivasi kepada masyarakat agar tidak putus asa dan tidak meninggalkan Sawahlunto. Boleh saja  usaha tambang batubara tak lagi menghasilan uang, tapi bekas tambang batubara masih bisa menghasilkan uang. Caranya adalah dengan menjadikan bekas tambang yang penuh sejarah beserta semua komponen yang menyertainya itu menjadi objek wisata.

Lubang tambang Suro lalu dipoles dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas sehingga menarik untuk dikunjungi wisatawan. Begitu juga stasiun kereta api dimodifikasi menjadi museum kereta api terbaik kedua di Indonesia setelah Ambarawa. Bangunan-bangunan unik peninggalan Belanda yang  berumur lebih dari seratus tahun direnovasi sehingga menarik bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Bagi masyarakat yang lingkungannya berpotensi sebagai objek wisata, pemda memberikan stimulan berupa dana untuk memperbaiki lingkungan mereka tersebut secara mandiri. Sedangkan investor yang ingin menanamkan modal di daerah ini baik di bidang perdagangan, perhotelan dan pariwisata, diberikan berbagai kemudahan sebesar-besarnya.

Bagi masyarakat yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan diberikan bantuan stimulan berupa bibit coklat, pupuk atau bibit ternak.  Untuk memperlancar aktifitas pertanian juga dibangun jalan-jalan ke lokasi tani yang diberi nama jalan 10 menit. Petani diberikan julukan pengusaha tani, untuk meningkatkan semangat dan rasa percaya diri mereka.

Kawah yang menganga dijadikan danau buatan, lalu dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata. Sebagian lahan gersang itu juga disulap menjadi arena olehraga dan pacuan kuda.  Alhasil Sawahlunto telah memiliki sejumlah objek rekreasi yang terkenal dan menyedot ribuan pengunjung. Sebut saja Water Boom Muaro Kalaban, atau Kawasan Wisata Kandis yang dikunjungi oleh puluhan ribu sampai ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.

Kekuatiran Sawahlunto menjadi kota hantu hilang sudah. Kini kehidupan ekonomi di kota berdiri sejak tahun 1888 itu  kembali bergairah, baik di bidang pariwisata, perdagangan, maupun pertanian. Jumlah penduduk Sawahlunto yang sebelumnya sempat menurun drastis akibat eksodus, kembali  normal dan cendrung terus meningkat. Kemajuan juga dirasakan di bidang kesehatan, pendidikan, agama dan budaya.

Inovasi dan terobosan yang dilakukan Walikota Sawahlunto  beserta perangkat daerah setempat tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, baik swasta maupun pemerintah. Atas prestasinya, majalah TEMPO bulan Desember 2012 memberikan penghargaan kepada  Ir. Amran Nur sebagai 7 Walikota Pilihan di Indonesia (Bukan Walikota Biasa). Ia juga mendapat sejumlah penghargaan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kemiskinan dan pengangguran di Sawahlunto terendah dibandingkan kota/kab lain se Sumatera Barat.

Untuk memacu percepatan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kita memang butuh pimpinan daerah (bupati dan walikota) yang campin, inovatif dan penuh dedikasi  seperti Amran Nur. Melihat semangat dan fenomena yang ada, saya yakin umumnya bupati/walikota yang  memimpin  kota/kabupaten di Sumatera Barat saat ini adalah orang-orang pilihan, yang juga memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Buktinya, prestasi mereka telah banyak bermunculan ke permukaan. Masing-masing kota dan kabupaten berlomba-lomba menunjukkan prestasi. Kita berharap dan yakin prestasi itu terus berlanjut.

Bagi kota dan kabupaten yang segera akan melakukan pemilihan walikota/bupati. Sebaiknya  pilihlah pemimpin yang memang memiliki kemampuan untuk memimpin dan berinovasi. Seperti hadits Nabi, apabila jabatan disia-siakan dan suatu jabatan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah kehancuran.  Pemimpin yang baik akan membawa kemaslahatan bagi umatnya, sebaliknya pemimpinan yang tidak baik akan membawa kehancuran. (Juli 2012)

103. Tahun Baru

Tahun Baru

 

Waktu cepat berlalu. Rasanya belum terlalu lama kita berada di tahun 2012, kini kita segera menutup lembaran tahun 2012,  lalu memasuki tahun 2013. Seperti kata peribahasa; orang-orang yang lalai akan tergilas oleh waktu.

Yang sangat menyolok, hampir semua bank melakukan tutup buku, tidak melayani transaksi untuk sementara sampai awal tahun. Begitu juga sejumlah perusahaan-perusahaan dan sejumlah instansi. Tutup buku, merupakan langkah penting bagi sebuah perusahaan, terutama perbankan.  Saat itu mereka menghitung semua transaksi yang  dilakukan selama setahun, baik transaksi berupa uang masuk, maupun transaksi uang keluar. Dengan demikian bisa diketahui kinerja sebuah bank/perusahaan apakah mereka berhasil memperoleh keuntungan, atau malah merugi.

Dari hasil evaluasi ini bisa disimpulkan apa yang harus dilakukan tahun berikutnya. Jika perusahaan merugi, maka bisa diambil beberapa tindakan apakah perusahaan tersebut harus dibubarkan, atau masih bisa dipertahankan dengan sejumlah perbaikan. Jika perusahaan beruntung, tentu bisa dilakukan upaya-upaya di tahun berikutnya agar keuntungan yang diperoleh lebih besar lagi, serta mengembangkan dan memperbanyak kegiatan-kegiatan yang mendatangkan keuntungan.

Jika diamati, kegiatan akhir tahun yang dilakukan perusahaan-perusahaan profesional ini sangat menarik dan juga bisa dilakukan secara pribadi atau di masing-masing rumah tangga. Secara pribadi kita bisa melakukan tutup buku di setiap akhir tahun. Sediakan waktu sehari atau dua hari untuk melakukan evaluasi pribadi. Apakah selama setahun yang telah berlalu kita telah melakukan hal-hal  yang baik dan bermanfaat atau sebaliknya. Silahkan hitung juga manakah yang lebih banyak, melakukan hal-hal yang bermanfaat atau hal-hal yang menimbulkan mudarat.

Evaluasi pribadi bisa dilakukan seperti  yang dilakukan perbankan atau perusahaan profesional, sejauh mana keuntungan yang diperoleh tahun lalu? Seberapa banyak kita telah melakukan hal-hal  positif dan bermanfaat, mana yang lebih banyak dibandingkan dengan hal-hal yang menimbulkan mudarat? Jika anda seorang karyawan, silahkan dievaluasi apakah anda telah melakukan pekerjaannya dengan baik dan berprestasi? Jika  anda seorang kepala rumah tangga, apakah anda telah melaksanakan kewajibannya terhadap istri dan anak-anak anda dengan baik? Jika ia seorang pejabat, apakah ia telah menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya dengan baik? Dan seterusnya sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing

Lalu lakukan evaluasi, lakukan perubahan dan perbaikan agar hal-hal bermanfaat bisa kita lakukan lebih optimal di tahun depan. Tentu jika evaluasi kita lakukan secara rutin, lalu melakukan perbaikan atas segala kesalahan dan kelemahan di tahun lalu maka tentu, kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya, lalu menjadi lebih baik lagi di tahun berikutnya dan seterusnya.

Waktu terus terus berlalu, dan cepat berlalu tanpa terasa. Seperti firman Allah dalm surat Al Ashr; “Demi masa. Sesungguhnya  manusia itu benar-benar dalam kerugian.”  Maksudnya orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang benar-benar merugi. Kita semua tentu paham dan bahkan telah merasakan kebenaran firman Allah tersebut. Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran ayat itu dari zaman dulu kala, hingga saat ini.

Sebuah koran terbitan Jakarta melaporkan diperkirakan ada puluhan triliun rupiah uang yang beredar saat ini, uang tersebut disediakan khusus oleh masyarakat untuk menyambut tahun baru.  Hal itu tidak mengherankan, karena jika rata-rata Rp 10.000 saja setiap  orang di Indonesia mengeluarkan uang ekstra untuk tahun baru, maka total jumlahnya mencapai  Rp 2,45 triliun, dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia di akhir 2012 berjumlah 245 juta jiwa. .

Mensyukuri rahmat yang telah kita peroleh selama tahun 2012 tentu boleh-boleh saja.  Namun tentu tidak dengan cara berpesta pora dan pemborosan di saat negara kita berada dalam masa-masa sulit seperti saat ini, serta  menyia-nyiakan waktu yang sangat bermanfaat. Mari melakukan evaluasi agar kita bisa menjadi lebih baik serta hidup bahagia, dunia dan akhirat. (Desember 2012)

104. Yunnan

Yunnan

Baru-baru ini saya didatangi oleh reporter dan crew CCTV (China Central Television). Mereka ingin wawancara tentang adat dan budaya masyarakat Sumatera Barat (masyarakat Minang).  Salah satu topik yang sangat menarik bagi mereka adalah pola kekerabatan matrilineal (keturunan berdasarkan garis ibu) yang dianut oleh masyarakat Minang.

CCTV adalah salah satu stasiun TV terbesar di China. Selain memiliki stasiun pemancar yang cukup luas dan memiliki cukup banyak penggemar di China, perusahaan broadcasting ini juga memiliki saluran TV kabel. CCTV banyak membuat liputan profil keunikan berbagai suku bangsa dan traveling (liputan perjalanan) ke berbagai belahan dunia.

Lalu kenapa pola matrilineal menarik bagi mereka? Tak banyak suku bangsa di dunia yang menganut pola kekerabatan matrilineal, di antara sekian yang langka dan unik itu adalah Suku Minang. Umumnya etnik masyarakat di Indonesia menganut pola patrilineal (garis keturunan berdasarkan bapak), khusus etnik Minang menganut pola matrilineal (garis keturunan berdasarkan ibu).

Namun ternyata di China, persisnya di provinsi Yunnan terdapat kelompok masyarakat  yang juga menganut pola kekerabatan matrinial yang langka di dunia tersebut. Etnik tersebut memang termasuk etnik minoritas dan unik di Yunnan. Mereka juga memiliki arsitektur atap bangunan yang berbeda dengan bangunan lainnya di China. Konstruksi atap rumah mereka cendrung berbentuk melengkung-lengkung, juga dilengkapi dengan seni ukiran, berbeda dengan konstruksi atap rumah lainnya di China yang umumnya membentuk  garis lurus. Konstruksi ini agak mirip dengan konstruksi rumah gadang di Minang.

Selain itu menurut reporter CCTV tersebut, di Yunnan juga terdapat sebuat danau yang diberi nama Danau Minanga. Di sana juga terdapat masakan khas yang mirip rendang, meski  rasanya sedikit berbeda. Pola migrasi (merantau) dan kecendrungan masyarakat Minang yang suka berdagang juga makin membuat reporter CCTV tersebut masih bersemangat untuk menggali teka-teki yang tersembunyi. Dari manakah asal-usul masyarakat Minang sesungguhnya? Apakah ada hubungan antara Minang dan Yunnan?

Menurut para ahli berdasarkan sejumlah bukti fosil, di zaman prasejarah (sekitar 1 juta tahun lalu) telah hidup nenek moyang bangsa Indonesia yaitu Homo erectus di berbagai pelosok pulau di Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Sesuai perjalanan waktu spesies ini berevolusi menjadi Homo sapiens (manusia modern). Menurut teori ini, spesies  inilah yang berkembang biak di Indonesia, dan berinteraksi dengan berbagai suku bangsa  yang datang ke Indonesia.

Prof. Muhammad Yamin berpendapat serupa, menurutnya itulah asal mula nenek moyang etnik Minangkabau. Maksudnya suku Minang asli berasal dari daerah Sumatera Barat sendiri, bukan dari daerah lain.

Namun sekelompok ahli lain berpendapat suku Minang berasal dari etnik Detro Malay (melayu muda) yang berimigrasi dari daratan Asia, China Selatan. Kelompok inilah yang kemudian berkembang di Malaysia, Filipina, dan sejumlah negara lain menjadi kelompok rumpun Melayu. Namun etnik Minang berbeda dan agak unik karena menganut pola matrilineal. Namun ada juga para ahli yang berpendapat etnik Detro Malay berimigrasi dari Taiwan.

Zaman dan waktu memang terus berputar dan berubah. Masuknya bangsa Arab dan India untuk tujuan berdagang membuat terjadi interaksi antara penduduk asli Indonesia dengan pendatang. Begitu juga dengan masuknya invasi bangsa Portugis, Inggris, Belanda dan sebagainya juga berpengaruh terhadap bangsa Indonesia, termasuk etnik Minang.  Karena itu tidak heran jika wajah orang Minang, ada yang putih seperti orang China, cendrung gelap seperti orang Arab atau India atau berwajah bule seperti orang Eropa.

Dari mana sesungguhnya asal-usul suku Minang dan bagaimana sejarah kehadiran dan perkembangannya, memang banyak pendapat para ahli dengan alasan dan bukti sejarah yang dikemukakan masing-masing. Hal ini selalu menarik untuk bahan diskusi.  Namun yang pasti semua khasanah itu menjadi kekayaan,  kekuatan serta pelajaran untuk kemajuan di masa datang.

Dalam surat Al Hujurat ayat 13 Allah berfirman : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.( April 2013)

105. Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan

 

Menyimak fenomena yang terjadi saat ini, nampaknya Perang Dunia tak lagi merupakan ancaman  paling utama di abad ini, maupun abad mendatang. Di abad sebelumnya, perang dunia memang merupakan ancaman paling menakutkan. Negara-negara maju berlomba-lomba  membuat senjata canggih pemusnah massal agar bisa menjadi negara super power penguasa dunia.

Negara-negara maju seperti unjuk gigi memiliki senjata nuklir yang sekali pencet tombol bisa menghancurkan sebuah pulau dan membunuh jutaan orang. Senjata itu mereka namakan  ICBM (intercontinental balastic missile), peluru kendali antar benua. Senjata kimia dan biologis pun ikut diriset dan dikembangkan agar bisa menjadi senjata pembunuh massal yang ampuh.  Blok Barat ingin memusnahkan blok Timur, demikian juga sebaliknya. Negara-negara non blok juga tak mau ketinggalan.

Namun kini topik tersebut seperti terlupakan, perang dingin antara Timur dan Barat telah mencair. Perlombaan senjata tak lagi menjadi topik utama. Topik beralih menjadi masalah ketersediaan pangan dunia. Ancaman terbesar penduduk dunia saat ini adalah ketersediaan pangan bagi penduduk dunia yang telah mencapai  5 miliar jiwa lebih. Penduduk dunia terus bertambah, sedangkan lahan pertanian terus berkurang. Apalagi perubahan iklim global yang ekstrim, ikut menyebabkan menurunnya kuantitas maupun kualitas produksi  pangan.

Ketersediaan pangan menjadi masalah krusial di negara manapun di dunia, masalah pangan telah dianggap menjadi masalah keamanan . Di Indonesia dikenal dengan istilah ketahanan pangan, di tingkat internasional gencar dibahas masalah food security. Gangguan terhadap ketersediaan pangan memang telah terbukti berdampak terhadap keamanan, ekonomi  bahkan politik suatu negara. Contohnya di negara kita, kurangnya pasokan kedelai saja misalnya, bisa menjadi topik hangat yang dibahas sampai ke tingkat nasional.

Menurut cacatan organisasi pangan dan pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa  (PBB), FAO (Food and Agriculture Organisation), hingga hari ini masih terdapat 826,6 juta penduduk dunia yang masih bertarung dengan kelaparan. Ini berarti, saat ini saja, hampir seperlima penduduk dunia masih dalam keadaan rawan pangan dan kelaparan. Jumlah ini diperkirakan terus akan bertambah secara pesat seiring dengan perjalanan waktu. Karena itu perlu dilakukan uapaya serius untuk mengatasi masalah tersebut.

Peduli dengan kenyataan ini, Organisasi Pangan dan Pertanian- Perserikatan Bangsa Bangsa (FAO – UN) menggagas untuk melaksanakan peringatan Hari Pangan Sedunia. Ide tersebut muncul pada konferensi  umum ke 20 FAO bulan November 1979. Lalu sejak tahun 1981 dilakukan peringatan Hari Pangan Sedunia dan hari lahir FAO tanggal 16 Oktober (1945) dipakai sebagai tanggal diperingatinya Hari Pangan Sedunia (HPS). Kini, HPS diperingati secara bersamaan di lebih dari 150 negara di dunia yang memiliki kepedulian yang sama.

Lalu apa yang harus kita lakukan, terutama di Sumatera Barat? Secara sederhana ada tiga langkah yang perlu dilakukan. Langkah tersebut adalah, serius mengembangkan usaha pertanian dan peternakan, terutama penghasil pangan. Kedua adalah penghematan dan efisiensi pangan. Langkah ke tiga adalah diversifikasi pangan.

Ke tiga langkah tersebut juga telah diprogram dan didukung oleh pemerintah secara nasional, tinggal keseriusan kita melaksanakan.  Tentu kita berharap program tersebut berjalan sukses di Sumatera Barat agar kebutuhan pangan bisa tercukupi, agar tidak ada kelaparan karena kekurangan pangan di ranah tercinta ini. Bahkan kita berharap Sumbar bisa berbuat lebih baik lagi, sebagai salah satu lumbung pangan di Indonesia.

Mari kita jadikan peringatan HPS di Sumatera Barat tahun ini sebagai momentum untuk menjadi lumbung pangan terbaik di Indonesia. Langkah tersebut selain berdampak positif terhadap keamanan dan kenyamanan kehidupan masyarakat Sumatera Barat, tentu saja juga berdampak meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat. Insya Allah jika kita serius, pasti kita bisa. (November 2013)

106. Keteladanan dari Pak Pandoe

Keteladanan dari Pak Pandoe

 

Mata H. Zuraida, istri mendiang H. Marthias D Pandoe terlihat masih merah ketika saya datang takziah ke rumah duka di Jalan Karet kawasan Purus Padang. Ia terharu dan matanya terlihat berkaca-kaca menyambut kedatangan kami, Minggu (11/05/2014) siang. “Barusan mantan Gubernur Sumbar Ir. Azwar Anas dan Drs. Hasan Basri Durin menelpon menyampaikan ucapan belasungkawa,” ujarnya.

Alm. H. Marthias Dusky Pandoe atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Pandoe memang terkenal dekat dan akrab dengan pimpinan-pimpinan daerah dan tokoh-tokoh Sumatera Barat. Beliau banyak memberi masukan dan nasehat-nasehat. Termasuk mencarikan solusi untuk sejumlah masalah yang dihadapi Sumatera Barat. Karena itu beliau sangat dekat dengan kepala-kepala daerah dan tokoh-tokoh Sumatera Barat.

“Bapak wataknya memang keras,” ujar Ny.Zuraida. Karena itu saat menelpon tadi, beliau mohon  Pak Azwar Anas, Pak Hasan Basri Durin atau siapapun yang pernah berkomunikasi dengan beliau berkenan memaafkan jika ada kata-kata almarhum yang tidak berkenan atau menyinggung perasaan.

Sebagian besar hidup Pak Pandoe dijalaninya dengan profesi sebagai wartawan. Beliau telah menjalani profesi wartawan di berbagai media di Jakarta dan terakhir, hampir tiga puluh tahun, berkarir sebagai wartawan Kompas, sejak tahun 1970 hingga pensiun tahun 1998. Karena itu tidak heran jika watak beliau keras dan kritis.

Namun uniknya, meski terkenal keras dan kristis dan suka blak-blakan, beliau tidak mengajak bermusuhan atau cendrung tidak bermusuhan dengan siapapun. Beliau malah selalu menjalin silaturahmi, memperbanyak persahabatan serta membangun jaringan. Karena itu beliau memiliki banyak teman dan jaringan, baik di daerah maupun di pusat.

Sifat-sifat beliau yang lain yang bisa diteladani adalah pekerja keras dan pantang menyerah.  Meski tak memiliki pendidikan tinggi dan juga tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik, namun mampu dan sukses berkarir di bidang jurnalistik. Lelaki yang lahir di LawangMaturAgam10 Mei 1930 ini menggali ilmu jurnalistik secara otodidak dan selalu haus membaca berbagai buku. Di penghujung usianya ia masih tetap rajin membaca dan menulis dan bahkan menerbitkan beberapa buah buku.

Keistimewaan Pak Pandoe lainnya menurut saya adalah panjang umur. Beliau meninggal dunia persis sehari menjelang ulang tahunnya ke 84. Usia 84 tahun adalah sebuah rahmat Tuhan yang luar biasa. Saat ini sangat jarang kita temukan masyarakat kita yang berumur panjang seperti beliau, malah sebaliknya sering kita terkaget-kaget karena banyak sekali masyarakat kita yang meninggal dunia di usia yang relatif muda.

Dalam memimpin keluarga pun beliau terbilang sukses. Perkawinan beliau langgeng sampai akhir hayatnya, melewati ulang tahun emas perkawinan. Putra-putri beliau tergolong sukses meniti karir, sesuai minat masing-masing.  Rata-rata mereka berhasil mencapai puncak karirnya. Putri kedua beliau Eva Pandoe berhasil menyandang gelar dokter spesialis paru-paru dan bekerja di RS. Pelni di Jakarta. Yudha Pandu bekerja sebagai konsultan Hukum di Jakarta dan Ferad Pandoe menjabat kepala cabang Astra Auto 2000 di Batam. Sedangkan Zola Pandoe dan Andre Pandoe berkarir sebagai pengusaha yang cukup sukses.

Setelah pensiun beliau tak mau berpangku tangan dan menyerah kepada keadaan, beliau tetap menulis dan membaca. Beliau juga mengisi kebutuhan rohaninya dengan memperbanyak aktifitas di mesjid. Oleh masyarakat di sekitar Jalan Karet beliau diangkat menjadi Ketua Pengurus Masjid Al Hidayah yang tak jauh dari kediamannya. Menurut beliau kebiasaan membaca dan menulis itulah yang membuat beliau tidak pikun dan ingatannya tetap tajam. Sedangkan kegiatan di masjid membuat beliau tetap bersemangat meski umur terus beranjak tua.

Banyak sisi baik dan kisah sukses Pak Pandu yang bisa menjadi teladan bagi kita yang ditinggalkan.  Selain menjadi teladan bagi kita yang ditinggalkan, semoga semua kebaikan itu menjadi amal ibadah dan bekal bagi beliau di akhirat kelak. Pak Pandu telah membuktikan integritas dirinya sebagai wartawan yang sukses, kehidupan diri dan keluarganya yang berkah, bermanfaat dan berdaya guna. Selamat jalan Pak Pandu, semoga hari Jum’at dan keteladanan yang anda tunjukkan menjadi pertanda bahwa anda kembali kepangkuanNya dalam keadaan husnul  khotimah. Amin YRA. (Mei 2014)

107. Pahlawan

Pahlawan

 

Dulu, di zaman sebelum Indonesia merdeka tak pernah terbayang kehidupan seperti saat ini. Pemandangan umum yang terlihat saat itu adalah wajah-wajah tirus, kurus, dengan pakaian kasar dan kumal. Tubuh kerempeng dan perut agak membuncit karena kekurangan gizi, adalah pemandangan umum yang jamak terlihat di mana-mana. Beras, makanan dan pakaian sulit didapat.

Jangankan bepergian dengan pesawat udara , sepeda pun menjadi barang langka yang dimiliki masyarakat kala itu. Bisa dihitung dengan jari jumlah masyarakat yang memiliki sepeda, apalagi sepeda motor atau mobil. Jalan antar kota dan kabupaten nyaris tak ada, jika ada itupun baru  berupa jalan tanah rintisan Belanda dengan lubang besar menganga seperti kawah gunung merapi dimana-mana.

Kini kita telah merdeka dan zaman sudah berubah. Jenis makanan atau pakaian apapun yang kita butuhkan, tersedia dan bisa diperoleh di banyak tempat. Jika ingin berpergian, tak perlu kuatir, antar kabupaten dan kota telah terhubung dengan jalan raya mulus beraspal hot mix. Bus umum juga tersedia setiap saat, bahkan bus umum dengan air conditioner (AC)  pun juga banyak tersedia.

Dulu, sebelum Indonesia  merdeka, perjalanan ke Jakarta hampir tak mungkin bisa dilakukan oleh masyarakat umum. Kini perjalanan ke mana saja bisa dilakukan dengan mudah dan masyarakat umum lumrah melakukannya, baik melalui darat, laut dan udara. Kini, banyak masyarakat kita yang pagi berangkat ke Jakarta, lalu belanja barang dagangan di Tanah Abang, sore balik lagi ke Padang. Bahkan perjalanan ke luar negeri pun bisa dilakukan dengan mudah, melalui penerbangan langsung (direct flight) yang juga sudah tersedia. Bandara selalu penuh sesak oleh masyarakat dari berbagai lapisan yang ingin bepergian. Alhamdulillah, sungguh luar biasa perubahan yang terjadi.

Pasca  tahun 1945 kita telah berada di alam kemerdekaan, di sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Masih ada negara di belahan bumi lain sana yang masih berjuang  mati-matian untuk bisa merebut kemerdekaan dan masih banyak masyarakat di belahan bumi lain yang masih berjuang agar tak mati sia-sia karena kemiskinan dan kelaparan.

Tentu rasa terimakasih dan hormat yang sedalam-dalamnya kita sampaikan kepada mereka yang telah rela berjuang dengan mengorbankan harta, benda bahkan nyawa sekalipun  agar Indonesia bisa merdeka, terlepas dari belenggu penjajahan, seperti saat ini.  Mereka adalah pahlawan yang jasanya akan selalu dikenang sepanjang masa dan pahala terus mengalir baginya tiada henti.  Rasa syukur kita persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa  yang merestui semua perjuangan dan doa masyarakat Indonesia untuk merdeka.

Jika dibandingkan dengan sejumlah negara yang tertinggal dan terbelakang, Indonesia saat ini memang sudah lebih baik. Namun jika dibandingkan negara-negara yang lebih maju, negara kita masih tertinggal jauh.  Sebagai manusia, tentu kita ingin lebih baik dan terus lebih baik. Indonesia masih perlu berbenah diri. Masih banyak masalah yang harus dibenahi dan diselesaikan. Kita masih sangat membutuhkan pahlawan dan pejuang.

Tentu saja konteks pejuang dan pahlawan zaman pra kemerdekaan dan masa kini berbeda meski pada prinsipnya sama. Pahlawan masa kini secara sederhana mungkin  bisa didefinisikan sebagai orang yang melakukan sesuatu kebaikan (berjasa) untuk kepentingan orang lain/orang banyak secara ikhlas. Sedangkan pejuang masa kini secara sederhana bisa didefinisikan sebagai orang yang melakukan inovasi/perubahan yang bermanfaat untuk orang banyak/ masyarakat luas.

Karena itu guru yang mengajar secara tulus dan ikhlas sehingga bermanfaat bagi masyarakat  banyak, ia sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Orang yang melakukan inovasi/perubahan melawan korupsi bisa dikatakan sebagai pejuang perlawanan terhadap korupsi. Orang yang melakukan inovasi menemukan listrik di suatu daerah terpencil yang belum memiliki listrik diagungkan oleh masyarakat setempat sebagai pejuang pembangunan. Bagi mereka ridho dari Tuhan lebih dari sekedar tanda jasa. Banyak hal lain yang bisa dijadikan contoh.

Kini, banyak hasil penelitian lembaga internasional yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki prospek masa depan yang cerah. Negara-negara maju di dunia saat ini  banyak menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang negatif, di Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.  Kini  Indonesia menempati peringkat 10 besar pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia, saat ini terdapat 50 juta keluarga  penduduk kelas ekononomi menengah di Indonesia dan dalam waktu yang tidak terlalu lama diperkirakan jumlahnya akan menjadi 150 juta keluarga. Indonesia menuju negara maju tinggal selangkah lagi.

Agaknya di sinilah letak perjuangan yang harus kita lakukan. Jika dulu di zaman perjuangan kemerdekaan ada semboyan merdeka atau mati, maka kini pilihannya adalah menjadi negara maju atau tertinggal? Menjadi pemenang atau pecundang. Kita butuh banyak pahlawan dan pejuang untuk melakukan langkah penting yang tinggal selangkah lagi. Apakah kita termasuk dalam barisan pahlawan dan pejuang masa depan itu? Ayo kita lakukan, jangan berpangku tangan, mari turut serta menjadi pahlawan-pejuang dan pembuat sejarah! (Agustus 2014)

108. S t r o k e

S t r o k e                         

Ia seorang tokoh yang sangat disegani di daerahnya. Ia seorang mantan walinagari yang sarat dengan prestasi.  Berkali-kali pemilihan walinagari, selalu saja dia yang terpiih dan mendapat amanah. Lebih dari separuh umurnya ia dedikasikan sebagai walinagari di sebuah nagari yang dulunya sangat tertinggal.

Jumat pagi, pertengahan bulan lalu saya mendapat kabar bahwa Pak Wali, begitu ia biasa dipanggil, telah dipanggil ke pangkuan Allah SWT. Ia meninggal dunia setelah mengalami koma dan dirawat secara intensif selama 27 hari di Rumah Sakit khusus stroke Bukittinggi.  Ia memang sebelumnya telah mengalami gejala stroke dan lalu mencapai puncaknya hari itu.

Padahal sehari sebelumnya kami juga berkunjung ke RS M Djamil Padang, membezuk suami seorang teman yang juga terkena penyakit stroke.  Dulunya ia adalah seorang wiraswasta yang sukses. Dari hasil usahanya ia bisa hidup dengan dengan layak dan nyaman. Namun sejak mengalami stroke beberapa tahun lalu, ekonomi keluarganya lumpuh, sepanjang hari ia hanya bisa berbaring tak berdaya  di tempat tidur.

Entah hanya kebetulan, atau memang sebuah fenomena, sore itu sebuah sms berisi berita mengejutkan masuk melalui hand phone. Isinya memberitahu bahwa seorang teman lagi,  juga masuk rumah sakit karena mengalami stroke! Ada apa dengan stroke?

Menurut catatan Dinas Kesehatan, jumlah kasus penyakit stroke memang cukup menyolok di Sumatera Barat. Beberapa tahun belakangan jumlah penderita stroke di Sumbar meningkat 4 kali lipat dari sebelumnya. Penyakit ini muncul akibat gaya hidup dan pola makan masyarakat yang tidak sehat.

Penyakit stroke adalah gangguan fungsi otak akibat aliran darah ke otak mengalami gangguan/berkurang. Akibatnya, nutrisi dan oksigen yang dbutuhkan otak tidak terpenuhi dengan baik. Stroke bisa disebabkan oleh adanya sumbatan di pembuluh darah, atau akibat adanya pembuluh darah yang pecah.

Pola makan, ternyata masalah inilah penyebab utama masalah tersebut, terutama di Sumatera Barat. Pola makan masyarakat Sumatera Barat yang banyak mengandung lemak menyebabkan sejumlah penyakit yang tergolong kelompok penyakit degeneratif tersebut cenderung banyak ditemukan.

Kelompok penyakit degeneratif lain yang banyak terjadi dan menjadi penyebab kematian terbanyak di Sumatera Barat diantaranya adalah stroke, diabetes melitus, dan jantung koroner.

Penyakit degeneratif adalah penyakit yang muncul seiring dengan pertambahan usia karena menurunnya fungsi-fungsi tubuh. Di saat memasuki usia lanjut (usia di atas 50 tahun), umumnya terjadi penurunan fungsi-fungsi tubuh manusia. Tubuh tak mampu lagi menetralisir atau memanfaatkan lemak atau gula yang masuk ke dalam tubuh sebagaimana mestinya. Akibatnya lemak atau gula tersebut tidak termanfaatkan, menumpuk dalam tubuh, lalu menjadi racun dan pemicu timbulnya sejumlah penyakit.

Lebih parah lagi, umumnya masyarakat mencapai kehidupan yang mapan pada usia tersebut (usia di atas 50 tahun). Karena ekonominya mulai mapan, ia bisa membeli apa saja yang ia inginkan, termasuk membeli makanan yang serba enak. Namun tanpa disadari jumlah yang ia makan telah melebihi kebutuhan dan kemampuan tubuhnya mengolah dan memanfaatkan makanan tersebut. Akibatnya, muncullah berbagai penyakit degeneratif tadi.

Meski baru sekarang sangat dirasakan dampaknya, namun sejak lebih dari 1400 tahun lalu Nabi Muhammad SAW  telah mengingatkan agar manusia mengendalikan pola makannya. Nabi mengingatkan agar Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.

Dalam konsep bernegara, pola makan juga menimbulkan masalah besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 jiwa, ketersedian pangan menjadi masalah besar, terutama ketersediaan beras yang berfungsi sebagai makanan pokok. Pemerintah bersama masyarakat petani harus pontang panting bekerja keras agar kebutuhan beras nasional bisa terpenuhi.

Sangat besar dana yang terkuras untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Pemerintah memberikan subsidi dan meluncurkan berbagai program agar produksi beras terus meningkat. Selain itu setiap tahun harus diimpor sekitar 136.000 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat. Tentu sangat miris jika kerja keras petani dan dana besar yang dihabiskan itu justru bukan untuk membuat masyarakat bisa hidup sehat dan produktif, tapi malah membuat mereka sengsara akibat  sakit stroke, diabetes, jantung dan sebagainya.

Karena itu mari kita kontrol pola makan kita agar devisa negara yang yang selama ini tersedot untuk memenuhi kebutuhan pangan bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih produktif. Secara pribadi, tentu saja hidup sehat dan mencegah sakit adalah pilihan terbaik.

Caranya cukup mudah, mengatur pola makan baik jenis makanan yang dimakan maupun jumlahnya, berolahraga, mengikuti anjuran Nabi atau berpuasa. Berpuasa Senin Kamis, berpuasa Nabi Daud, atau berpuasa sesuai anjuran agama masing-masing, adalah pilihan terbaik, karena selain bermanfaat untuk kesehatan juga sebagai ibadah. (Agustus 2014)

109. Peran Penghulu

Peran Penghulu

 

Sewaktu menghadiri acara malewakan/batagak gadang kaum suku panyalai kepada Dedy Edwar, SE, MM, Datuak Panduko Rajo di Padang Pariaman 16 Oktober 2011 lalu, ketua umum pucuk pimpinan LKAAM Sumbar, Drs. M. Sayuti Dt. Rajo Penghulu, MPd menyampaikan bahwa penghulu adalah andiko dari sebuah kaum. Andiko adalah raja bagi kemenakannya. Sebagai rajo pangulu fungsinya menjadi kepala pemerintahan dalam kaumnya. Penghulu berperan sebagai pemimpin bagi sukunya, sekaligus sebagai hakim, dan juga pendamai di dalam kaumnya.

Lebih lanjut ketua LKAAM Sumbar menyatakan bahwa seorang penghulu juga menjadi jaksa, dan menjadi pembela dalam setiap perkara yang dihadapi kaumnya. Seorang penghulu wajib mengurus segala yang berhubungan dengan kepentingan kesejahteraan dan keselamatan anak kemenakannya.

Penulis berpikir, jika saja faktanya seperti yang disampaikan ketua LKAAM Sumbar tersebut, maka berbagai persoalan yang ada di masyarakat Sumbar insya Allah bisa diselesaikan dengan baik. Peran penghulu menjadi sangat vital dan strategis. Penghulu yang mampu berperan maksimal bagi kaumnya akan mengurangi peran polisi dan aparat hukum, bahkan kepala daerah sekalipun. Penghulu adalah mamak bagi kemenakannya.

Mayoritas rakyat Sumbar bisa dipastikan memiliki mamak. Maka berbagai persoalan yang terjadi seharusnya bisa dituntaskan oleh mamak tersebut. Namun demikian, ada berbagai faktor yang mempengaruhi masalah seperti ini, di antaranya arus informasi global yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Anak kemenakan, beberapa di antaranya, sudah tidak mengakui keberadaan mamak, di antaranya karena mamaknya hanya berpendidikan rendah dibanding kemenakan atau kapasitas mamak yang tidak bisa mengimbangi posisinya sebagai penghulu.

Ada anak kemenakan yang berpikir untuk maju dan sukses di era modernisasi adalah dengan meninggalkan adat dan budaya. Namun hal ini jelas tidak benar. Karena ketika ia meninggalkan adat dan budayanya maka ia akan kehilangan identitas dirinya. Dan ia pun tidak bisa menempatkan dirinya ketika tidak jelas identitas dirinya. Oleh karena itu peran adat dan budaya diperlukan untuk menjelaskan identitas diri anak kemenakan.

Penghulu memiliki peran yang mulia yaitu memimpin di atas garis kebenaran. Di samping itu ia juga bertugas menjaga anak kemenakannya agar dalam kehidupan tidak melenceng dari ajaran agama dan adat. Penghulu juga bertugas menjaga harta pusaka atau ulayat. Peran dan tugas penghulu ini jika dijalankan dengan amanah akan menciptakan suasana yang membawa keadilan dan kesejahteraan bagi kaumnya.

Pemerintah membantu menguatkan peran penghulu ini di antaranya berupa penguatan kelembagaan KAN (kerapatan adat nagari) dan juga penguatan kualitas personal melalui pelatihan dan pembinaan. Di samping itu, pemberian pelajaran adat dan budaya di sekolah-sekolah sangat membantu anak kemenakan memahami adat dan budaya mereka. Dengan demikian akan muncul pemahaman dari anak dan kemenakan tentang adat dan budaya mereka.

Jika penghulu sudah memiliki kapasitas dan kapabilitas, dan anak kemenakan sudah memahami adat dan budaya, maka kepemimpinan penghulu terhadap anak dan kemenakannya akan berjalan efektif. Dan ini sangat membantu tercapainya masyarakat yang sejahtera baik lahir maupun batin.

Penulis meyakini bahwa baik anak kemenakan maupun penghulu menginginkan terciptanya kehidupan yang harmonis dan Islami di lingkungan mereka. Jauh dari perpecahan maupun keburukan lainnya. Ketidakharmonisan dan perpecahan justru membuat kualitas hidup kurang bagus dan merugikan semua pihak.

Oleh karena itu, semakin sadar penghulu dan mampu mengemban tugas dan tanggung jawabnya dengan baik maka akan semakin tercipta kehidupan yang harmoni di Sumbar. Demikian pula, semakin sadar anak kemenakan akan adat dan budaya yang melekat pada dirinya, maka ia akan memiliki jatidiri dan identitas diri sebagai orang Minang. (Oktober 2011)

 

BAB 6  INSPIRASI DI BIDANG OLAHRAGA

110. Sport Tourism

Sport Tourism

Menarik istilah yang digunakan Ibu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, saat membuka secara resmi Tour de Singkarak 2012, Senin (4/6) lalu. Beliau mengatakan tema utama Tour de Singkarak tahun ini adalah sport tourism.

Sport tourism jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia setara dengan kata wisata olahraga. Kira-kira sport tourism pengertiannya adalah kegiatan wisata yang dipadukan dengan kegiatan olahraga, atau berolahraga sambil berwisata atau sebaliknya.

Para ahli membagi sport tourism menjadi dua kategori, yaitu beriwisata sambil menonton pertandingan olahraga dan berwisata sambil mengikuti iven-iven olahraga.

Iven Tour de Singkarak tentu sangat cocok sekali dengan istilah sport tourism. Dengan iven Tour de Singkarak kita harapkan datang berkunjung dengan dua kategori wisatawan sekaligus. Yaitu mereka yang berwisata sambil mengikuti iven balap sepeda dan mereka yang datang berwisata sambil menonton balap sepeda Tour de Singkarak.

Meski Tour de Singkarak (TdS) baru berusia 4 tahun (Tour de France sudah berusia 99 tahun), namun gezah TdS sudah mulai dirasakan. Tahun ini iven TdS diikuti oleh 17 negara selain Indonesia. Ini berarti berita TdS, wajah Sumatera Barat, berikut destinasi wisata daerah ini telah menghiasi media cetak dan elektronik di 17 negara tersebut. Ini adalah sebuah promosi yang luar biasa bagi Sumatera Barat.

Otomatis, iven ini telah berhasil mendatangkan wisatawan ke Sumatera Barat, baik berupa atlet balap sepeda berserta timnya, maupun penonton dan suporter dari masing-masing tim. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan itu diharapkan terus terjadi dan berlipat ganda di tahun berikutnya.

Dari aspek olahraga (sport), juga terjadi peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya tidak satu pun atlet Indonesia yang mampu menempati urutan juara 1, 2 maupun 3. Namun tahun ini beberapa atlet Indonesia telah bermunculan menjadi juara di beberapa etape yang telah dilaksanakan.

Nampaknya atlet-atlet balap sepeda Indonesia tidak ingin membiarkan medali dan hadiah yang disediakan di iven TdS diboyong semua ke luar negeri. Mereka nampaknya telah mempersiapkan diri, berlatih dengan baik dan hasilnya, mereka pun bisa tampil menjadi juara.

Khusus untuk Sumatera Barat, mulai tahun ini sudah ada peserta asal Sumatera Barat yang ikut berlaga di ajang TdS melalui Tuah Sakato Cycling Team. Sebagai pendatang baru tentu kita paham kondisi mereka. Namun kehadiran pembalap Sumbar di ajang bergengsi sekelas TdS sudah merupakan sebuah upaya yang patut dihargai. Jika mereka tekun berlatih dan belajar dari pengalaman selama berlomba di ajang TdS, insya Allah suatu saat mereka juga akan tampil menjadi juara dan jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Selain itu, TdS juga telah memicu Gerakan Kembali Bersepeda di Sumatera Barat mulai menggeliat. Puluhan klub bersepeda mulai bermunculan di Sumatera Barat, baik berupa klub yang menekuni balap sepeda, fun bike maupun mountain bike.  Jumlah mereka terus bertambah dan bertambah. Seiring dengan itu, berbagai iven perlombaan bersepeda juga telah digelar di berbagai kabupaten dan kota. Berbagai lomba ini mendapat sambutan baik dari masyarakat, setiap lomba selalu kebanjiran peserta.

Rasanya, pilihan melaksanakan iven bersepeda di Sumatera Barat sudah sangat tepat. Seperti diungkapkan Ibu Menteri Mari Elka Pangestu, bersepeda bisa dijadikan ajang sport tourism, sambil berolahraga bisa berwisata. Tidak hanya itu, bersepeda juga bisa menghemat bahan bakar minyak yang makin mahal dan makin langka serta mengurangi  kemacetan lalulintas.

Selamat bersepeda! (November 2013)

111. Catatan TdS 2011

Catatan TdS 2011              

Helat besar berkaliber internasional yang  melibatkan 17 negara, Tour de Singkarak, usai sudah. Tak percuma tim utusan negara Timur Tengah Iran jauh-jauh datang ke Sumatera Barat. Kecepatan, ketahanan dan kekuatan fisik para atlet asal negara jazirah Arab ini  mendominasi perolehan medali di setiap etape. Pembalap Iran berhak menyandang  gelar juara umum TdS 2011 dan sejumlah gelar juara lainnya.

Ini untuk yang ketiga kalinya Iran menjadi juara umum. Sejak awal pelaksanaan TDS tahun 2009, 2010 dan terakhir 2011, Iran selalu juara umum.  Sebelumnya Gader Mizbani asal Tabriz Petrochemical Cycling Team, menjadi juara umum TdS 2009 dan 2010. Karena mengalami cedera Gader Mizbani absen di TdS 2011, ia digantikan  Amir Zargari. Amir Zargari dari tim Azad University,  tak menyiakan-nyiakan kesempatan ini, ia menyabet gelar juara umum TdS tahun ini.

Sayangnya pembalap asal Sumatera Barat, tuan rumah TdS, belum mencuat ke permukaan. Termasuk untuk kategori pembalap Indonesia atau peraih Red dan White Jersey. Juara umum untuk kategori ini diraih Agung Alisyahbana (Prima Utama) disusul Hari Fitrianto (Prima Utama) dan peringkat ketiga, oleh Tonton Susanto (Prima Utama).

Semoga tahun depan muncul nama juara dari Sumatera Barat. Hal itu bukan tak mungkin, di arena balap sepeda nama atlet Sumbar pernah mencuat ke tingkat internasional. Malah nama Sumbar mencuat melalui pembalap wanita, yaitu Nurhayati.

TDS 2011 diliput oleh 60 media, baik cetak maupun elektronik. Mereka berasal dari dalam negeri maupun mancanegara. Alhamdulillah hal ini membuat nama Sumatera Barat terangkat ke permukaan. Di berbagai media cetak dan elektronik, baik dalam maupun luar negeri berita TdS mendapat prioritas. Sesuai target, kegiatan TdS terekspos secara luas, termasuk keindahan alam Sumatera Barat. Kita berharap dampak ekspose ini segera menjadi nyata, peluang ekonomi Sumatera Barat menjadi terbuka.

Namun sebaliknya perlu dipersiapkan untuk menyambut peluang yang mulai terbuka. Dari pengamatan kasat mata jelas terlihat bahwa kita masih kekurangan fasilitas penginapan untuk menampung atlet, tim official, wartawan atau wisatawan yang ikut datang meramaikan iven TDS. Sejumlah kota batal dijadikan tempat finish atau atau start TDS karena minim fasilitas penginapan.

Bagi pengelola hotel hal ini merupakan tantangan untuk melengkapi fasilitas hotel mereka dan memperbaiki kualitas pelayanan hotel. Bagi masyarakat, hal ini juga bisa merupakan sebuah peluang untuk menyediakan home stay. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di daerah kita banyak rumah tak berpenghuni karena ditinggal merantau oleh pemiliknya. Rumah-rumah tak berpenghuni Ini berpeluang ditata dan dilengkapi fasilitasnya sehingga layak jadi home stay. Kenapa tidak?

Hal lain yang terasa kurang adalah souvenir. Di sejumlah ujung etape, sejumlah pembalap dan pengunjung tampak berputar-putar, melongok ke sana-sini. Ternyata mereka mencari souvenir khas daerah setempat yang akan mereka bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Padahal banyak sekali souvenir dan oleh-oleh khas Sumatera Barat yang bisa dipajang di ujung etape/tempat peristirahatan. Baik berupa kuliner, maupun berupa kerajinan tangan khas Sumatera Barat. Namun hal itu masih belum terlihat terkelola secara baik. Bagitu juga acara kesenian dan budaya daerah, bisa disinkronkan dengan acara TDS.

Hal lain yang mendapat perhatian adalah masalah kemacetan dan gangguan lalulintas. Hal ini memang tak bisa dihindari. Seperti kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, masalah ini adalah sedikit pengorbanan dari masyarakat untuk kebaikan di masa datang.

Untuk masa datang masalah kemacetan bisa diatasi dengan mengatur jalur-jalur alternatif, sehingga meski perjalanan agak terganggu, tetapi masyarakat masih punya pilihan alternatif untu menghindari kemacetan. Cara kedua adalah mensosialisakan rencana jalur dan waktu pelaksanaan TDS di daerah masing-masing daerah sehingga masyarakat bisa mengatur dan merencanakan waktu perjalanan mereka agar terhindar dari kemacetan.

Secara umum banyak pihak menilai TdS 2011 berlangsung sukses. Terimakasih atas dukungan semua lapisan masyarakat, jajaran Polda dan TNI, Dinas terkait dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya iven ini. Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, masih ada kelemahan di sana-sini. Mohon maaf atas semua itu, mari sama-sama kita perbaiki agar TdS yang akan berlangsung bulan Juni 2012 berlansung lebih baik, lebih meriah lagi dan makin banyak dampaknya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semoga! (November 2013)

112. Merah-Putih Untuk TdS

Merah-Putih Untuk TdS

Apa yang dilakukan masyarakat sepanjang rute Tour de Singkarak (TdS) etape Bukittinggi – Harau (50 Kota), sekilas terlihat sederhana. Namun nilainya sangat luar biasa.

Sepanjang  jalan Bukitinggi – Harau, di kiri-kanan jalan, masyarakat berbaris rapi menyambut dan menyaksikan lomba balap sepeda Tour de Singkarak (TdS). Dengan senyum dan wajah antusias mereka menyambut kedatangan ratusan atlet balap sepeda dari 17 negara tersebut. Mereka juga memberikan semangat dengan bertepuk tangan serta melambai-lambaikan bendera kecil  berwarna merah-putih.

Sekilas, aksi dan sambutan masyarakat itu terlihat sederhana saja, namun dampaknya luar biasa. Kita tentu sering melihat berbagai pertandingan sepakbola atau pertandingan olahraga lainnya. Telah banyak terbukti bahwa dukungan penonton/suporter itu menentukan kerhasilan pertandingan. Begitu juga dalam pementasan kesenian, sambutan penonton ikut menentukan keberhasilan pertunjukan.

Apapun bentuknya, sesederhana apapun wujudnya, inilah sebuah partisipasi dari masyarakat yang patut dihargai dan diacungkan jempol.  Apapun yang akan dilakukan untuk memajukan daerah ini butuh dukungan dan partisipasi masyarakat, termasuk iven Tour de Singkarak.  Makin banyak dan makin besar partisipasi masyarakat, bisa dipastikan makin meriah dan makin sukses sebuah iven.

TdS memang sangat butuh dukungan dan partisipasi masyarakat. TdS adalah helat untuk mempromosikan Sumatera Barat ke segala penjuru dunia. Melalui TdS ingin ditunjukkan kepada dunia bahwa Sumatera Barat adalah daerah yang indah, memiliki panorama alam  tropis yang elok, tak ada tandingnya di belahan bumi manapun. Kuliner Minang juga merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Melalui TdS juga ingin diinformasikan bahwa Minang Kabau memiliki budaya yang tinggi, masyarakatnya ramah, berbudi bahasa tinggi dan santun.

Pada saat yang sama tentu juga ingin ditunjukkan kepada dunia, bahwa Sumatera Barat memiliki pemerintah yang bersih dan profesional. Juga ingin dibuktikan bahwa Sumatera Barat memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Keberhasilan pelaksanaan TdS adalah bukti dari semua itu. Kepuasan para peserta lomba, kesan positif, kontingen serta tamu lainnya yang datang adalah parameter bahwa Sumbar memiliki SDM yang berkualitas dan berbudaya tinggi.

Lalu, apa manfaatnya bagi masyarakat? Seperti diungkapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada acara pembukaan TdS,  “TdS bisa dikatakan berhasil jika telah berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”  Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, itulah muara pelaksanaan TdS.

Melalui TdS diharapkan, Sumatera Barat dengan segala potensi dan keunikannya dikenal dan dikenang oleh masyarakat dunia. Iven ini, tentu saja didukung oleh partiisipasi, antusiasme dan keramahan masyarakat, diharapkan mampu membangun imej dunia bahwa Sumbar adalah daerah yang cocok untuk dikunjungi, juga berinvestasi.

Meski di sana-sini masih terlihat sejumlah kelemahan, namun kita bertekad kelemahan itu akan terus diperbaiki dan dibenahi.  Ke depan pelaksanaan TdS harus lebih baik dan lebih baik lagi. Jika tahun ini TdS dibuka oleh Menbudpar, tahun depan kita persiapan lebih baik sehingga bisa dibuka oleh Presiden RI. Jika tahun ini diikuti oleh 17 negara, tahun depan mestinya diikuti oleh lebih banyak negara.

Jika pelaksanaan TdS makin baik dan kesan yang diberikan  kepada masyarakat dunia makin baik,  InsyaAllah peluang masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan makin meningkat.  Jika kunjungan  wisatawan , baik domestik maupun mancanegara ke Sumatera Barat dalam rangka TdS meningkat, tentu peluang ekonomi masyarakat Sumatera Barat meningkat pula.  Apalagi jika diikuti pula oleh adanya investasi.

Selamat mengikuti acara TdS, mari kita tunjukkan bahwa kita bisa berbuat lebih baik. Terimakasih atas partisipasi semua  masyarakat serta semua pihak. (November 2013)

113. TdS Makin Semarak

TdS Makin Semarak

Iven bergengsi bertaraf Internasional dengan tajuk Tour de Singkarak (TdS) kembali digelar di Bumi Sumatera Barat. Tahun ini merupakan kali ke lima even yang menyedot perhatian dunia itu digelar di ranah nan rancak Sumatera Barat. Sejumlah jurnalis menggambarkannya sebagai sebuah “Lomba Balap Sepeda di Surga Khatulistiwa”.

Memang di situlah letak keistimewaan Sumatera Barat. Keindahan alam Sumatera Barat membentang luas hampir di semua pelosok, mulai dari dataran tinggi sampai lembah, ngarai dan pantai. Mata seakan-akan tak pernah puas memandang dan mengagumi rahmat dan karunia  Tuhan yang luar biasa itu. Semua keindahan itu seakan-akan membuat mata tak pernah puas memandang dan menikmati keindahannya. Para photografer sekan-akan tak pernah kekurangan bahan untuk mengangkatnya menjadi ribuan karya foto yang spektakuler.

Lima tahun waktu berjalan, ajang Tour de Singkarak membuat Sumatera Barat makin dikenal dan disayang. Seperti kata pepatah :”Tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang.” Kini, setelah 5 tahun TdS berjalan, Sumatera Barat makin dikenal dan dicintai. Jika tahun lalu TdS diikuti oleh 16 negara, tahun ini diikuti oleh 27 negara.  Kita yakin jumlah tersebut terus bertambah dan bertambah dari tahun ke tahun.

Antusiasme masyarakat menyaksikan TdS juga meningkat luar biasa. Saat pembukaan Sabtu (1/6/2013) malam yang dihadiri Wamen  Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar di pelataran Jam Gadang kota Bukittinggi, masyarakat tumpah ruah memadati pelataran kawasan bersejarah di kota wisata itu. Diperkirakan jumlah masyarakat yang menyaksikan pembukaan TdS tahun ini, sekitar dua kali lipat tahun sebelumnya.  Ditambah dengan dentuman semarak cahaya kembang api  serta kehadiran group band kondang Purwacaraka Big Band membuat suasana Kota Bukittinggi saat itu makin meriah dan semarak.

Saat start yang ditunggu-tunggu juga tak kalah berkesan. Sejak pagi para pembalap yang mayoritas merupakan pembalap asing tampak antusias, seolah-olah tak sabar menunggu bendera start diangkat oleh Ibu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Masyarakat datang lebih banyak lagi memadati pelataran Jam Gadang menunggu detik-detik dimulainya lomba yang selain menyuguhkan keindahan alam juga menawarkan hadiah milyaran rupiah ini.

Seperti yang diharapkan, meningkatnya kedatangan pengunjung ke kota Bukittinggi diharapkan akan mendongkrak geliat ekonomi di kota sentral wisata Sumatera Barat itu. Secara kasat mata, apa yang diharapkan itu memang jadi kenyataan.  Boleh dikatakan, semua hotel  di Bukittinggi penuh, meski umumnya telah memanfaatkan extra bed. Pusat-pusat kuliner dan souvenir juga terlihat bergairah karena diserbu para pembeli. Hal itu tentu akan mendongkrak ekonomi masyarakat dan membuka peluang usaha bagi kita.

Masyarakat luas bahkan dunia telah tahu dan kenal Sumatera Barat, kita tentu ingin mereka cinta dan rajin berkunjung ke Sumatera Barat, agar peluang ekonomi itu makin terbuka.  Karena itu tugas kita adalah memberikan yang terbaik dan memberikan kesan yang baik kepada mereka. Jika kita menawarkan jasa kuliner, berikanlah kuliner yang terbaik. Begitu juga jika kita menawarkan souvenir, berikanlah souvenir terbaik dan berkualitas. Jangan kecewakan mereka, buktikan bahwa masyarakat Minang adalah masyarakat yang berbudaya tinggi,  jangan buat mereka kapok untuk datang  lagi, jangan berikan kesan yang jelek yang membuat mereka memberikan penilaian negatif tentang Sumatera Barat.

Mari kita bersama-sama menyukseskan Tour de Singkarak, mari kita saling bahu membahu untuk membuka peluang perbaikan ekonomi yang lebih baik bagi ranah yang indah dan kita cintai ini. (Juni 2013)

114. Setelah TdS Usai

Setelah TdS Usai

Iven internasional bertajuk Tour de Singkarak (TdS)  IV tahun ini, selesai digelar.  Fakta membuktikan bahwa masyarakat Sumatera Barat mampu menjadi tuan rumah alek gadang tersebut untuk ke empat kali. Acara yang menjadi sorotan masyarakat internasional tersebut berlangsung dengan sangat baik dan terus makin membaik dari tahun ke tahun.

Jika TdS pertama tahun 2009 diikuti oleh 14 negara yang menurunkan 150 pembalap, maka TdS tahun ini diikuti oleh 20 negara yang menurunkan 250 pembalap.  Jarak yang ditempuh juga makin bertambah panjang, jika tahun 2009 sepanjang 218 kilometer, tahun ini total jarak yang ditempuh pembalap adalah 856 kilometer. Kabupaten dan kota yang dilewati sebanyak 4 kabupaten dan kota pada tahun 2009, tahun ini menjadi  14 kabupaten dan kota. Durasi waktu lomba meningkat dari  5 hari pada tahun 2009 menjadi  7 hari pada tahun ini. Dan tentu saja jumlah hadiah yang disediakan juga meningkat dari Rp 700 juta tahun 2009 meningkat menjadi Rp 1 milyar pada tahun 2012.

Juga merupakan sebuah perhargaan bagi kita semua dan menandakan sebuah perhatian serius dari Pemerintah Pusat,  iven ini dibuka langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan ditutup oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng.

Tentu saja keberhasilan yang dicapai dalam tempo yang relatif singkat ini merupakan hasil kerja keras dari berbagai pihak terutama panitia dari jajaran Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Panitia Nasional maupun Internasional dari berbagai negara, media cetak maupun elektronik baik daerah, nasional maupun internasional, pemerintah kabupaten dan kota serta masyarakat Sumatera Barat.

Kita gembira dan bersyukur, sejauh ini semua berjalan lancar dan bisa dikatakan sukses. Namun timbul pertanyaan apa setelah ini, apa tindak lanjut dari TdS? Setelah Sumatera Barat dikenal dunia, keindahan alam Sumatera Barat yang eksotik mulai dikenal dunia dan berhasil menarik wisatawan, bagaimana sikap kita? Apa yang harus kita persiapkan?

Jika ditanya untuk apa TdS diadakan, menurut saya jawaban utamanya cuma satu : meningkatkan ekonomi masyarakat. Setelah TdS sukses dilaksanakan, setelah wisatawan datang berkunjung ke Sumatera Barat, sesuai dengan tujuan penyelenggaraan TdS, maka misi selanjutnya adalah bagaimana kunjungan wisatawan tersebut berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat.

Kita semua sudah tahu dan dunia pun telah mengakui bahwa Sumatera Barat memiliki potensi alam yang luar biasa. Sumatera Barat punya budaya dan seni yang spesifik, kita juga punya kekayaan kuliner yang diakui kelezatannya dimana-mana.

Peluang itu makin terbuka, karena Sumatera Barat bisa dijadikan tujuan wisata alternatif karena bagaimanapun, wisatawan selalu mencari sesuatu yang baru dan menarik untuk dikunjungi. Wisatawan pasti akan merasa monoton jika hanya mengunjungi lokasi wisata yang sama dari tahun ke tahun seperti Bali, Jogya, Malaysia atau Singapura. Bagaimanapun jika cuma itu ke itu saja pasti jenuh, harus ada destinasi alternatif.

Tujuan wisata alternatif itu adalah Sumatera Barat, daerah ini sangat potensial. Kota Bukittinggi atau Sawahlunto telah membuktikan bahwa pariwisata telah mampu membuat ekonomi daerah ini berdenyut. Efek berganda dari pertumbuhan wisata telah membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara nyata. Itulah keistimewaan industri pariwisata dibandingkan industri lain, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi berdampak langsung terhadap masyarakat secara luas.

Dengan demikian berarti tugas selanjutnya, adalah mempersiapkan Sumatera Barat menjadi tempat wisata yang layak. Kebersihan, keindahan dan kenyamanan menjadi kata-kata kunci agar wisatawan berkunjung dan betah membelanjakan uangnya di Sumatera Barat. Namun hampir di semua objek wisata kita bertebaran sampah di mana-mana. Kondisi ini harus segera diubah, kebiasaan membuang sampah  di sembarang tempat harus segera dihapus.

Saya menyaksikan sendiri, peserta atau panitia TdS dari negara lain selalu memasukkan dan menyimpan sampah mereka dalam kantong-kantong untuk kemudian dibuang di tempat sampah. Tapi justru masyarakat kita membuang sampah sembarangan dimana saja mereka suka. Tentu saja kebiasaan ini harus segera kita ubah. Banyak wisatawan yang memilih tinggal di rumah penduduk (home stay), bukan hotel berbintang asal rumah tersebut bersih dan nyaman. Hal ini tentu akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat.

Satu lagi yang perlu kita ubah adalah sikap melayani wisatawan. Kalau ditanya kenapa wisatawan memilih Bali, Jogyakarta atau Bandung, jawabannya adalah keramahan masyarakat setempat, sikap profesional mereka melayani wisatawan.  Di  bandara di daerah tersebut tidak akan kita temui pengemudi taksi rebut-rebutan penumpang, apalagi sambil menarik-narik tas mereka.  Premanisme di objek wisata juga paling banyak dikeluhkan wisatawan sehingga mereka kapok berkunjung ke daerah tersebut.

Usai TdS juga diharapkan berdampak terhadap animo masyarakat masyarakat Sumbar untuk berolahraga sepeda, bahkan diharapkan ke depan akan uncul pembalap sepeda yang bakal menjuarai Tour de Singkarak, sekaligus menjadi pembalap nasional.

Terakhir, tentu saja infrastuktur pendukung harus terus ditingkatkan. Biasanya jika peluang bisnis terbuka, kondisi dan masyarakat setempat mendukung, otomatis investor akan turun turun menanamkan modal untuk menyiapkan fasilitas. Pemerintah kota dan kabupaten tentu juga akan menfasilitasi agar semua itu bisa terwujud, tinggal menunggu komitmen kita bersama. (Juni 2012)

115. Kembali Bersepeda

Kembali Bersepeda

Saya tercenung ketika ketua koperasi Hounan Kagawa Jepang Ootsuka Masaihiro menyampaikan kesannya tentang Sumbar setelah ia berkunjung ke daerah ini untuk pertama kalinya.

“Di sini  terlalu banyak sepeda motor dan mobil,” ujarnya  spontan. Nampaknya ia memberikan kesan terhadap kendaraan bermotor yang ramai lalu-lalang berdesak-desakan memadati jalan-jalan di seantero Sumatera Barat. Jalan-jalan selalu padat, bahkan macet di sejumlah tempat.  “Hal ini perlu diperhitungkan lagi, apakah merupakan sebuah pemborosan,” ujarnya.

“Tapi tahu ndak anda, hampir semua kendaraan itu adalah buatan Jepang, kan meguntungkan bagi negara anda,” ujar saya sambil berseloroh. Tawanya langung tersembur ketika hal itu disampaikan. “Di satu sisi memang meguntungkan Jepang, tapi kasihan juga jika merugikan masyarakat Sumatera Barat,” imbuhnya

Jika  dicermati memang terlihat perbedaan menyolok antara Sumatera Barat dan Provinsi Kagawa, Jepang Barat, tempat koperasi Hounan Kagawa berada. Di Provinsi Kagawa , meski kepadatan penduduknya hampir dua kali lipat penduduk Sumatera Barat tapi tak terlihat antrian panjang kendaraan di jalanan. Lalu-lintas berjalan lancar bahkan jalanan terlihat lengang.

Setelah diamati, ada dua kata kunci yang membuat hal itu bisa terjadi, yaitu, berhemat dan disiplin. Masyarakat Kagawa, juga masyarakat Jepang umumnya, berhemat dalam melakukan perjalanan dan penggunaan kendaraan.

Bisa dipastikan setiap keluarga di Jepang memiliki minimal satu mobil. Tapi tak sembarangan dan tidak setiap saat mobil itu mereka gunakan. Umumnya hanya sekali seminggu saja atau untuk keperluan yang sangat mendesak saja mobil itu mereka pergunakan. Untuk perjalanan ke kantor, tempat kerja atau  sekolah, mereka menggunakan angkutan umum atau sepeda.

Di Jepang tak ada anak ke sekolah diantar jemput oleh orang tuanya.  Mereka dilatih mandiri, berangkat dan pulang sekolah  secara mandiri menggunakan sepeda.  Kakak kelas mereka bertugas membantu sampai mereka bisa mandiri. Begitu juga di kantor-kantor dan perusahaan. Halaman parkir dipenuhi oleh sepeda, hampir cuma dalam hitungan jari saja mobil terlihat parkir di halaman kantor, perusahaan maupun sekolah.

Di saat jam kerja  berlangsung nyaris tak terlihat lagi kendaraan lalu-lalang di jalanan, mereka seperti tenggelam dalam pekerjaan dan aktifitas masing-masing.  Mereka disiplin dalam berlalu lintas, juga disiplin dalam bekerja.  Tidak heran jika mereka bisa memetik buah upaya berhemat dan disiplin itu, yaitu nyaman di jalanan, bisa bekerja dengan tenang dan mendapat hasil optimal. Jepang telah menjelma menjadi negara kaya dan maju.

Tanpa sadar kita ikut menyumbang untuk  pembangunan negeri Jepang yang megah itu, melalui jutaan kendaraan bermotor atau produk elektronik lainnya yang kita beli kepada mereka.  Kita atau mereka kah yang lebih kaya?

Di Jepang pengguna sepeda sangat dihargai, bahkan dianggap pahlawan. Mereka dianggap  pahlawan karena telah berjasa terhadap negara.  Pengguna sepeda berjasa kepada negara karena berkontribusi dalam mengurangi  kepadatan lalu lintas. Pengguna sepeda juga  juga berjasa kepada negara karena  dapat mengurangi penggunaan BBM (bahan bakar minyak) yang makin mahal dan langka. Tak hanya itu, pengguna sepeda juga telah berjasa dalam upaya mengurangi pencemaran lingkungan.

Pada tahap awal, jika upaya kembali bersepeda ini dilakukan oleh satu orang  saja, tentu belum berarti apa-apa. Namun jika gerakan ini dilakukan secara massal, oleh ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan orang, tentu gerakan ini akan menimbulkan dampak yang dahsyat! Suatu saat kita tak perlu lagi beteriak-teriak karena alasan BBM langka.

Di Sumatera Barat, gerakan kembali bersepeda adalah pilihan yang  paling cocok, baik untuki kesehatan, maupun terhadap upaya penyelamatan lingkungan.  Catatan kesehatan telah lama membuktikan bahwa masyarakat Sumate Barat sangat rentan terhadap penyakit stroke, hipertensi, diabetes, asam urat, jantung koroner dan sejenisnya. Solusi terbaik dan paling aman adalah bersepeda.

Gerakan bersepeda bisa dimulai dari siswa, pelajar, atau karyawan yang jarak tempuh perjalanannya tidak terlalu jauh.  Jika  hal ini bisa dilaksanakan, maka ini sebuah perubahan yang luar biasa, karena ada  ratusan ribu bahkan jutaan siswa, pelajar dan karyawan di Sumatera Barat yang bisa ikut berkontribusi.

Mari kita jadikan momen Tour de Singkarak dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang  jatuh pada tanggal 6 Juni ini sebagai titik balik untuk Kembali Bersepeda. Selamat Bersepeda! (Juni 2011)

116. Porprov XII

Porprov XII

Jalan raya sekitar gelanggang olahraga Singa Harau Kabupaten 50 Kota nyaris macet total. Jejeran mobil dan sepeda motor sepanjang belasan kilometer seolah tak sabar ingin menembus kemacetan tersebut.  Sasaran utama yang ingin dituju adalah gelanggang olahraga Singa Harau. Hari itu adalah saat dimulainya pagelaran helat besar Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) XII Sumatera Barat.

Kami ikut terjebak dalam kemacetan itu. Meski  sudah dipandu oleh kendaraan fore rider di barisan depan, namun kendaraan rombongan, termasuk Bupati 50 Kota Alis Marajo, Walikota Payakumbuh Reza Pahlevi dan rombongan lainnya dari unsur Forkopimda, masih terperangkap macet. Kendaraan bergerak lambat, seperti beringsut.

Tak heran jika kawasan Sarilamak – Tanjung Pati tersebut menjadi sesak. Sebanyak 9000 atlet, official dan keluarga atlet, dari seantero Sumatera Barat berkumpul di sana untuk adu prestasi di 30 cabang olahraga (cabor). Tak kurang 585 medali emas, perak dan perunggu diperebutkan dalam iven provinsi sekali dua tahun ini. Masyarakat Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh juga  seperti tumpah ikut meramaikan suasana.

Sport (olahraga) berasal dari bahasa Latin disportare atau deportare,  artinya menyenangkan, menghibur,  bergembira, sekaligus memelihara kesehatan jasmaniah. Dapat dikatakan bahwa sport ialah aktifitas manusia untuk menghibur diri sambil memelihara kesehatan jasmaniah. Dengan kata lain, olahraga adalah kegiatan yang menyenangkan, bergembira, menghibur sambil meningkatkan kesehatan jasmaniah.

Banyak bukti sejarah menunjukkan bahwa kegiatan olahraga telah dilakukan manusia sejak 30.000 tahun lalu. Bukti zaman prasejarah tersebut berupa lukisan yang ditemukan di goa-goa batu yang menggambarkan atifitas olahraga yang dilakukan nenek moyang manusia tempo dulu. Olahraga yang digambarkan di antaranya renang dan memanah.

Di Cina olahraga telah dilakukan masyarakat setempat sejak 4000 tahun sebelum masehi. Olahraga yang terkenal di Cina saat itu adalah senam. Karena itu hingga kini olahraga senam, pertunjukan akrobatik, masih didominasi oleh Cina. Berikutnya, cabang olahraga makin banyak berkembang di  jaman Kerajaan Yunani Kuno. Diantaranya gulat, lari, tinju, lempar lembing, lempar cakram, dan balap kereta kuda. Dari sini pulalah lahirnya cikal bakal iven olahraga dunia Olympiade, berasal dari nama sebuah gunung di Yunani, yaitu Gunung Olympus.

Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW, juga menganjurkan umat Islam untuk berolahraga. Nabi menganjurkan ummat Islam untuk berolahraga berkuda, memanah dan berenang, karena olahraga itulah yang cocok saat itu. Olahraga dirasakan penting karena bermafaat untuk mempertahankan kesehatan jasmani, sedangkan kesehatan jasmani penting untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Olahraga penting bagi umat Islam, sejauh tidak menyalahi syariat Islam.

Tentu saja iven olahraga seperti Porprov di Sumatera Barat menjadi penting dan mendapat  perhatian besar dari masyarakat.  Seperti diuraikan di atas tadi, iven olahraga selalu menyedot perhatian karena memiliki unsur menghibur serta menciptakan suasana gembira. Sedangkan bagi atlet, kegiatan olahraga penting untuk meningkatkan kesehatan jasmani, sekaligus menjadi ajang untuk mengukir prestasi.

Atlet-atlet yang terseleksi mulai dari tingkat kelurahan, nagari lalu kecamatan, kabupaten, lalu berkompetisi di tingkat provinsi.  Juara di tingkat provinsi selanjut akan berkompetisi di tingkat nasional dan selanjutnya internasional bahkan tingkat dunia, jika mereka mampu.

Dalam pembinaan prestasi atlet inilah diminta keseriusan semua pihak, baik atlet, pelatih, official maupun pembina. Kaderisasi atlet, melahirkan juara, bukan perkara yang bisa selesai semalam atau dua malam. Melahirkan juara sejati butuh pembinaan sejak dini, mungkin butuh waktu yang cukup panjang. Namun hal itu takkan terasa jika dilakukan secara rutin dan terus menerus.

Catatan penting Porprov XII adalah munculnya komitmen sejumlah daerah bahwa; tak masalah tak juara, asal atlet yang diturunkan  asli produk daerah sendiri. Apa yang mereka lakukan sudah benar dan tepat sekali.  Seperti kata pribahasa, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Kita yakin, jika masing-masing daerah membina atletnya dengan serius dan sungguh-sungguh, pastilah mereka akan menjadi juara sejati yang nantinya tidak hanya menjadi juara porprov, tetapi juga juara nasional bahkan internasional, bukan juara dadakan atau sesaat.

Siapa yang tak akan senang dan bangga jika putra daerahnya menjadi juara nasional bahkan internasional? Yosita Hapsari, peraih 3 medali emas pada PON XVIII di Riau baru-baru ini adalah salah satu contoh. Ia memperoleh bonus lebih dari setengah miliar rupiah, ia juga mendapat beasiswa kuliah di Amerika Serikat dan sejumlah fasilitas lainnya. Siapa menyusul berikutnya…?. (Desember 2012)

117. Semangat Srikandi

Semangat Srikandi

 

Wajah mereka menunjukkan kelelahan yang amat sangat.  Kulit muka mereka terlihat menghitam dan melepuh akibat terbakar terik matahari. Namun tak ada kata mengeluh yang keluar dari mulut mereka.  Di balik semua keletihan itu tersimpan rasa bangga, haru  dan bahagia.

Mereka adalah 21 srikandi yang baru saja menaklukkan perjalanan panjang berjarak 1400 kilometer dengan bersepeda. Perjalanan bersepeda mereka mulai dari kota Banda Aceh, membelah Provinsi  Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat dan finish di Kota Padang. Perjalanan itu mereka tempuh dalam rentang waktu tiga minggu, mulai tanggal 5 April dari Banda Aceh dan finish tanggal 20 April lalu di Padang.

Ketua komunitas Bike to Work Toto Sugiarto, organisasi yang mengkoordinir kegiatan tersebut, sampai meneteskan air mata dan nyaris tak mampu mengeluarkan kata-kata karena haru saat menyampaikan sambutan. Semua yang hadir saat acara upacara penyambutan 21 “srikandi abad 21” di gubernuran sore itu juga ikut terharu.

Betapa tidak, iven ini merupakan kali ke-3 srikandi-srikandi Indonesia memberikan inspirasi dan semangat kepada wanita Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Kartini mereka ingin membuktikan bahwa wanita Indonesia bukan wanita yang lemah. Dalam rangka memperingati Hari Kartini mereka melakukan perjalanan jarak jauh bersepeda yang membutuhkan nyali yang kuat dan fisik yang tangguh.

Tahun sebelumnya mereka bersepeda menempuh perjalanan Jakarta – Bandung. Tahun berikutnya lagi mereka mengunjungi kota kelahiran Kartini, Jepara dan tahun ini menempuh jarah terjauh yaitu dari kota kelahiran Cut  Nyak Dhien dan Cut Muthia Banda Aceh menuju kota Padang, kota kelahiran tokoh inspirator wanita Rasuna Said, Siti Manggopoh, dll. Tahun ini merupakan jarak tempuh terjauh yang mereka lalui, yaitu 1400 km.

Tentu banyak halangan, rintangan serta suka duka yang mereka alami selama melakukan perjalanan. Namun terbukti bahwa semua itu tidak menjadi halangan untuk menyelesaikan perjalanan panjang itu. Mereka berhasil dan mereka memberikan inspirasi bagi semua bahwa wanita Indonesia adalah wanita yang tangguh, memiliki daya juang yang tinggi dan semangat baja. Kekuatan fisik saja tak cukup untuk bisa menyelesaikan misi tersebut. Karena umur peserta berkisar antara 20 sampai 40 tahun. Justru semangat dan mental yang kuat merupakan modal utama agar berhasil.

Selain menggelorakan kembali semangat Kartini, mereka juga membawa misi pelestarian lingkungan. Dengan menggalang gerakan bersepeda ke tempat bekerja (bike to work) berarti kita berupaya untuk menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi pencemaran udara yang terjadi akibat pembakaran bahan bakar minyak (BBM) oleh kendaraan bermotor. Di Jepang, negara produsen kendaraan bermotor terbesar di dunia, justru telah menggunakan sepeda sebagai kendaraan pilihan utama dan terbaik. Sepeda mendominasi lokasi parkir berbagai perkantoran dan sekolah. Di beberapa kota yang mereka singgahi, mereka juga melakukan penanaman pohon yang nantinya akan berfungsi sebagai paru-paru dunia.

Prestasi yang diukir 21 Srikandi ini membuktikan bahwa wanita Indonesia juga bisa berbuat sesuatu yang luar biasa. Jika semangat tersebut dipakai oleh para wanita untuk membangun  keluarganya, lalu membangun lingkungan, seterusnya daerahnya, lalu negaranya tentu ini merupakan sebuah kekuatan nyata yang luar biasa.

Mari terus kita gelorakan semangat Kartini dan para pahlawan wanita Indonesia yang telah mengukir sejarah bangsa ini dengan tinta emas. Dengan semangat dan daya juangnya yang luar biasa, wanita Indonesia pasti bisa ikut membangun bangsa dan negara ini menjadi lebih baik. Selamat memperingati Hari Kartini. (April 2013)

 

118. Indra Syafri

Indra Syafri

Nama Indra Syafri, pelatih sepakbola Timnas U19, tentu sudah tak asing lagi. Namanya mencuat setelah anak asuhnya Timnas U19, mengalahkan Vietnam di final Kejuaraan Piala AFF (Asean Football Federation) U19 dan menjadi juara grup setelah mengalahkan Korea Selatan di kualifikasi piala AFC (Asian Football Confederation) U19. Dua kemenangan itu  mengukuhkan nama Indonesia sebagai juara dan raja sepakbola di Asia Tenggara, setelah 22 tahun prestasi sepak bola Indonesia seperti terkubur ke dasar bumi. Nama Indra Syafri dan Tim U19 dielu-elukan dan disambut meriah di mana-mana. Ia dijuluki pahlawan yang telah mengharumkan nama bangsa melalui cabang olahraga paling bergengsi, sepakbola.

Panjang cerita lika-liku, suka-duka perjalanan putra Nagari Lubuk Nyiur-Batang Kapas- Pesisir Selatan ini untuk menuju prestasi puncak seperti saat ini. Mulai dari kisah sedih jadi pelatih tanpa honor, sampai mencari bibit pemain ke berbagai pelosok tanah air.  Namun pengorbanan dan perjuangannya itu berbuah manis. In, begitu ia biasa dipanggil, berhasil mengantarkan Tim Garuda Muda U19 menjadi yang terbaik di Asean, juara AFF 2013. Perjuangan Garuda Muda U 19 tinggal selangkah lagi, “Jika Allah mengizinkan, insya Allah kita akan mewakili Asia di piala Dunia 2018,” ujar Indra.

Indra tentu saja tidak sekedar omong besar, persiapan untuk itu telah ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Hasil analis statistik berbagai paramater teknis sepakbola menujukkan bahwa Tim U19 memang yang terbaik di Asia. Personil U19 adalah orang-orang terpilih dan terseleksi dengan ketat, minus KKN. VO2 maks personil U 19 di atas rata-rata. Rata-rata VO2 maks kita adalah 50, sedangkan VO2 maks tim U19 rata-rata 60 sampai 70. Rata-rata HB mereka juga terpilih, semua  di atas 14. Begitu juga passing tim U19 di atas 600 sampai 700, padahal tim lain seperti Korea dan Vietnam cuma 400. Begitu juga indeks kesalahan mereka, jauh lebih rendah. Karena itu menurut mantan pemain PSP dan pemilik sertifikat pelatih internasional ini, jika semua berjalan normal, TIM U19 layak menjadi wakil Asia di Piala Dunia.

Ada yang menarik ketika Indra Syafri menghadiri jamuan makan malam di auditorium gubernuran pekan lalu. “Selain aspek teknis ada satu hal lagi yang membuat saya yakin dengan apa yang saya lakukan,” ujar Indra Syafri sambil mengeluarkan dompetnya. Dari dompet tersebut ia keluarkan selembar kertas lusuh berwarna kekuningan akibat dimakan usia, beberapa bagian malah sudah sobek. Di dalamnya tertulis dua petikan ayat Al Quran yaitu QS 17: 80 dan 81. “Ini adalah pemberian Bapak Azwar Anas dan saya simpan sejak tahun 1985,” ujar Indra. Sesepuh PSP dan PSSI ini memang banyak memberikan dorongan agar Indra Syafri terus maju.

Terjemahan ayat tersebut adalah; “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS17:80). Dan katakanlah: ”Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”.  Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS17:81). Dua ayat inilah menurut Indra Syafri yang membuat ia berani melakukan apapun yang ia anggap benar, meski banyak yang menentang dan ia yakin bahwa kebatilan itu pasti kalah dan lenyap.

Apa yang dilakukan Indra Syafri memang sesuai dengan ayat tersebut. Ia membangun Tim U19 dengan cara yang benar. Ia pilih personil tim U19 dengan benar, ia tentang mentah-mentah cara pemilihan anggota tim dengan cara KKN. Ia cari sampai pelosok-pelosok negeri bibit pemain sepakbola yang benar-benar unggul. Sungguh riskan dari 240 juta penduduk Indonesia yang mayoritas pecinta sepakbola tidak ditemukan 11 orang pemain bola berbakat.  Bibit unggul dan berbakat itu lalu ia didik dengan cara dan pola latihan yang terbaik dan terbaru.

Dan yang paling penting di samping aspek teknis menurut Indra Syafri adalah aspek mentalitas pemain. Tanpa kompromi mereka yang pakai tatoo, pakai anting atau rambut gondrong langsung dikeluarkan dari tim. Di Papua sebetulnya menurut Indra ada banyak bibit pemain sepakbola. Tapi begitu  ia lihat di rumahnya banyak bekas botol minuman beralkohol, calon tersebut langsung dibatalkan.

Nampaknya itulah hikmah dari dua ayat yang dijadikan pedoman oleh Indra Syafri. Karena ia masuk dengan cara yang benar (shidqi), maka ia keluar (memperoleh hasil) yang benar pula dan kebathilan selalu akan kalah dan lenyap oleh kebenaran.

Selamat buat Indra Syafri dan Tim U19 serta tim pendukungnya. Teruslah melangkah di jalan kebenaran, kemenangan pasti akan berada dalam  genggaman kita. Pujian memang perlu untuk memberi dorongan semangat untuk terus maju. Namun berhati-hatilah, karena tak jarang orang  larut, hanyut dan terpuruk akibat pujian dan sanjungan.  Semoga terus berjaya dan muncul Indra Syafri-Indra Syafri serta Evan Dimas-Evan Dimas lainnya di berbagai pelosok Indonesia. Indra Syafri beserta tim U19 membuktikan bahwa kita bisa berprestasi, bahwa kita adalah bangsa yang besar dan terhormat. (Oktober 2013)

 

119. Uncle

Uncle

Awalnya ndak saya pedulikan, namun kemudian pikiran saya agak terusik ketika di forum-forum pertemuan pemuda internasional, aktivis organisasi pemuda Indonesia dipanggil dengan sebutan uncle (om).

Memang begitulah biasanya mereka memanggil kontingen Indonesia di setiap ada acara pertemuan pemuda internasional: uncle. Kontingen pemuda Indonesia terkenal dengan julukan uncle. Kenapa?

Menurut mereka, aktifis pemuda Indonesia memang lebih tepat disebut dengan uncle/om, karena usia mereka memang terpaut jauh. Rata-rata usia aktifis pemuda dari negara lain sekitar 16 sampai 22 tahun, sedangkan usia aktifis pemuda Indonesia berkisar antara 30 sampai 40 tahun, bahkan lebih. Karena itu mereka memanggilnya dengan sebutan om (uncle).

Organisasi pemuda, dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai youth organisation seharusnya memang ditujukan untuk mereka yang tegolong muda usianya (youth). Di korea misalnya, definisi pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai 22 tahun, di Amerika atau Eropa definisi pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai 24 tahun.

Jika dilihat dari fungsinya, organisasi pemuda memang merupakan wadah untuk aktualisasi diri bagi kelompok generasi muda yang dalam masa usia transisi. Mereka adalah kelompok yang telah melewati usia remaja, dalam peralihan menuju dewasa. Kelompok ini mempunyai karaktetistik khusus, yaitu penuh semangat dan idealisme. Jika diibaratkan dengan matahari, mereka adalah sinar matahari pada jam 12 siang, terang benderang dengan kekuatan penuh.

Dalam Islam seseorang dikatakan dewasa (aqil baligh) setelah ia mengalami haid bagi wanita dan mimpi basah bagi laki-laki. Usia mereka sekitar 12 sampai 14 tahun. Artinya pada usia ini mereka telah matang secara biologis. Seharusnya jika mendapat pendidikan yang baik, formal maupun non formal’ digembleng dengan baik, serta didukung oleh lingkungan yang baik, ia juga sudah matang secara psikis. Jika mereka diberi kesempatan untuk memimpin dan mengukir prestasi, maka mereka pun akan menunjukkan prestasinya.

Karena itu dalam sejarah, pemuda tercatat sebagai tokoh pembawa perubahan, tokoh reformasi, tokoh pembaharu, dan sebagainya. Sejarah di Indonesia juga membuktikan bahwa pemuda berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, yaitu terkenal dengan sejarah “Sumpah Pemuda.”

Di zaman Nabi Muhammad SAW banyak pemuda yang masih dalam usia belia telah diberi amanah yang besar oleh Nabi. Usamah Bin Tzaid misalnya, telah diberi tugas sebagai panglima perang pada usia 19 tahun. Nabi Muhammad sendiri telah menjadi saudagar sedari umur belasan tahun dan diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun.

Di Amerika Serikat pun hal serupa juga dilakukan. John F Kennedy diangkat menjadi presiden AS pada usia 43 tahun, Bill Clinton diangkat menjadi presiden saat berusia 47 tahun, Bush diangkat menjadi presiden saat berusia 55 tahun, Obama saat berusia 48 tahun. Di Indonesia Presiden Soekarno diangkat menjadi presiden  saat berusia 44 tahun, Presiden Soeharto diangkat pada usia 46 tahun. Di Oklahoma AS ada walikota terpilih yang baru berusia 19 tahun. Ia masih berstatus mahasiswa. Namun prestasi dan perjalanan karir, masyarakat setempat sepakat menyatakan bahwa ia layak jadi walikota.

Generasi muda Indonesia bukan tidak mungkin melakukan hal serupa, melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas di usia muda, pemimpin yang cerdas, energik dan kreatif. Untuk bisa menjadi pemimpin, mereka harus dididik, dibina dan diberi wadah untuk berkiprah saat masih berusia belasan atau 20 an tahun. Wadah itu di antaranya organisasi kepemudaan, organisasi kemahasiswaaan, organisasi sosial dan sebagainya. Jika mereka telah digembleng pada usia muda di berbagai organisasi tersebut, insya Allah mereka siap menjadi pemimpin dan tokoh saat berusia 30 atau 40 tahun.

Namun kekhawatiran itulah yang kini terjadi, kita mengalami kelangkaan pemimpin muda yang berkualitas yang nantinya akan membawa bangsa ini ke masa depan yang lebih baik, baik di daerah maupun di tingkat nasional. Sulit menemukan wajah-wajah baru, generasi baru, yang berprestasi dan berpotensi menjadi pemimpin di masa depan. Ada apa? (Juli 2012)

120. Belajar dari Kemenangan Jerman

Belajar dari Kemenangan Jerman

Banyak yang meramalkan bahwa Brazil akan menjadi juara dunia pertandingan sepakbola paling bergengsi sejagad World Cup 2014 yang baru saja usai. Menjadi raja sepakbola dunia memang bukan hal baru bagi Brazil. Negara yang  terkenal memiliki hutan belantara yang luas ini telah 5 kali menjadi  kampiun sepakbola dunia,  yaitu tahun 1958, 1962, 1970, 1994, dan tahun 2002.

Tentu juga bukan tanpa rencana dan harapan, dalam situasi ekonomi yang serba sulit tahun ini, Brazil bersikukuh untuk menjadi tuan rumah World Cup 2014. Mereka telah mempersiapkan sejumlah stadion rancak untuk menyelenggarakan pesta olahraga yang dipelototi oleh ratusan juta pasang mata di dunia tersebut. Puluhan hotel, tempat rekreasi, dan berbagai fasilitas lainnya juga telah dipercantik untuk menyambut tamu dunia yang akan berkunjung ke Brazil.  Tim tangguh tentu juga tak lupa dipersiapkan dan diasah kemampuannya guna menghadapi tim-tim sepakbola kelas dunia yang akan bertandang ke Brazil.

Brazil memang berhasil melaju ke babak semi final. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Di babak semi final tim Brazil dipermalukan oleh Jerman dengan skor telak 1 – 7. Di menit-menit awal babak pertama, Jerman berhasil mendikte permainan Brazil. Gol-gol beruntun dalam waktu relatif singkat disarangkan oleh tim squad Jerman. Dalam tempo 30 menit Jerman berhasil menyarangkan 5 gol ke gawang Brazil. Konon serangan Brazil menjadi tumpul setelah kehilangan goal getter handalnya Neymar akibat cidera, sementara itu pertahanan Brazil di barisan belakang juga rapuh setelah kehilangan back andalannyaThiago Silva. Brazil menjadi bulan-bulanan  dan skor tersebut bertahan hingga akhir babak pertama.

Babak kedua bukannya memperkecil kekalahan, malah tim der panzer berhasil menambah dua gol. Kemenangan telak berada di tangan Jerman, meskipun berhasil membukukan satu gol balasan (7 – 1).  Pendukung Brazil hanya terlongo melihat kenyataan yang di luar dugaan itu. Wajah mereka terlihat kuyu usai pertandingan, sebagian malah menangis terisak-isak. Jerman membuktikan keperkasaannya tanpa ampun, Brazil gagal maju ke babak final.

Di babak Final telah menunggu lawan tanding Jerman, yaitu Argentina. Argentina juga bukanlah lawan yang enteng, tim samba Argentina telah dua kali membawa pulang trophy emas piala dunia, yaitu tahun 1978 dan 1986. Argentina juga menjadi juara runner up piala dunia di tahun 1930 dan 1990. Apalagi di kubu Argentina saat ini bercokol pemain bintang dunia Lionel Messi.

Stadion Maracana Rio Jenairo Brazil, Minggu 14 Juli 2014, menjadi saksi duel dua raksasa sepakbola dunia Jerman dan Argentina.  Ketua tim saling menampilkan kemampuan terbaiknya. Pertandingan di babak kedua berakhir tanpa berbuah gol. Barulah di babak kedua di sessi perpanjangan waktu  gawang Argentina bergetar dibobol Jerman. Mario Goetze yang baru beberapa menit memasuki lapangan menggantikan Klose berhasil memecahkan kebuntuan serangan Jerman. Skor berubah menjadi 1 – 0, gol  spektakuler itu disambut dengan sorak-sorai meriah pendukung Jerman. Skor tak berubah sampai akhir pertandingan.

Gol semata wayang yang dipersembahkan anak asuh pelatih Joachim Loew ini sekaligus mengantarkan Jerman menjadi juara dunia World Cup 2014. Peristiwa ini merupakan sejarah pertama kalinya tim sepakbola Eropa mengalahkan tim sepakbola Amerika Latin di Amerika Latin. Debut tersebut juga tercatat sebagai ke empat kalinya Jerman menjadi juara dunia sepakbola, yaitu tahun 1954, 1974, 1990 dan 2014.

Lalu kenapa Jerman yang menjadi juara, bukan tim lain yang memiliki bintang-bintang top seperti Messi, Ronaldo atau Neymar yang jadi juara?

Di situlah keunggulan Jerman, Joachim Loew tahu betul bahwa sepakbola bukanlah pekerjaan individual, tetapi kerja tim. Jerman tidak mengandalkan individual, di tim Jerman tidak ada ketergantungan pada satu sosok bintang, tetapi mengandalkan kerjasama tim.

Di berbagai kesempatan, personal pemain Jerman tidak diinapkan di hotel yang secara individual memiliki kamar masing-masing, tetapi ditempatkan di bungalow yang memiliki ruang bersama untuk berkumpul dan berdiskusi. Dan banyak metode lain yang dilakukan untuk membangun kekompakan tim.

Nampaknya di situlah kunci kemenangan Jerman, kerjasama tim, bukan individual. Dalam manajemen, pola ini juga digunakan. Tim atau organisasi yang baik adalah tim yang mampu membangun team work. Banyak kita lihat sebuah organisasi, lembaga atau perusahaan, bubar atau berantakan disaat mereka kelihangan tokoh kunci. Hal itu juga terjadi pada  Argentina, di saat Messi tak bisa bermain optimal atau Brazil di saat Neymar tidak tampil di lapangan, permainan mereka menjadi tumpul. Namun tidak bagi sebuah tim atau organisasi yang mengandalkan team work. Ia tidak tergantung pada seseorang dan tidak terpengaruh atas keberadaan  tokoh kunci (bintang lapangan).  Meski sang bintang absen, namun team work tetap bekerja baik. (Juli 2014)

121. Juara Sejati

Juara Sejati

Ia  lahir di Brockton, Masachusett Amerika Serikat tanggal 1 September 1923 dengan nama Rocco Francis Marchegian. Lelaki ini  adalah anak dari pasangan imigran asal Italia Pierino Marchegiano dan Pasqualina Picciuto. Sejak kecil masyarakat sekitar memanggilnya dengan panggilan Rocco.

            Rocco terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang pekerja biasa di sebuah pabrik sepatu. Saat usianya menginjak 18 tahun Rocco dinyatakan terkena penyakit pneumonia (paru-paru) yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Ia kemudian drop-out saat duduk di bangku SMA.

Gagal di bangku sekolah, Rocco kemudian bekerja di perusahaan truk angkutan barang Brockton Ice and Coal Company sebagai kuli angkut. Bersamaan dengan itu ia juga bekerja sebagai penggali parit dan pembuat sepatu.

Tahun 1943 ia menjalani wajib militer dan ditempatkan di Swansea, Wales. Tugas militernya sebenarnya sudah selesai pada Maret 1946 seusai Perang Dunia kedua. Namun sambil menunggu akhir masa tugasnya sebagai tentara, ia ikut pertandingan tinju amatir antar tentara. Beberapa kali ia menang, namun perjalanan karirnya di jalur tinju amatir tak begitu mulus.

Rocco sadar bahwa segala seseatu tidak boleh dilakukan separuh hati. Ia kemudian bertekad bahwa tinju adalah jalan hidupnya dan harus ditekuni secara serius. Ia pun mulai berlatih secara total, bahkan kadang hampir seperti gila. Ia beralih ke jalur tinju kelas berat profesional.  Ia juga mengubah namanya menjadi “Rocky Marciano”. Lebih populer, ia dipanggil Rocky.

Sambil terus meningkatkan intensitas berlatih. ia lalu memulai karier sebagai petinju  profesional pada tahun 1947, saat berusia 24 tahun. Perjuangan dan kerja keras Rocky ternyata tak sia-sia. Ia memenangkan 16 pertandingan pertamanya dengan menang knock out. Gebrakan terbesarnya di arena tinju terjadi pada tanggal 12 Juli 1951 saat bertemu juara dunia kelas berat dunia legendaris Joe Louis, sekaligus petinju idolanya sejak kecil. Marciano berhasil menundukkan Joe Louis dengan menang KO di ronde ke-8.

Setahun berikutnya ia merebut gelar juara dunia dengan mengalahkan Jersey Joe Walcott juga dengan dalam sebuah pertarungan sengit dan mendebarkan. Namun akhirnya Rocky  berhasil menghentikan perlawanan Walcott dengan menang KO di ronde ke 13, meski Walcott sempat menjatuhkan Marciano pada ronde pertama.

Disiplin, kerja keras, berlatih dan terus berlatih bagi Rocky merupakan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar. Motto itulah yang membuat prestasi demi prestasi berikutnya berhasil direnggutnya. Marciano memperoleh penghargaan Fighter of the Year dari Ring Magazine 3 kali berturut-turut. Hanya Muhammad Ali yang memenangkan penghargaan itu berkali-kali.  Ia mencatat statistik 49 menang sepanjang karirnya di tinju profesional, 43 kali dimenangkan dengan KO, tanpa terkalahkan, maupun seri.

Rocky Marciano (Rocco Francis Marchegian) tampil sebagai juara sejati dan menjadi legenda sepanjang masa. Kisah perjalanan hidupnya diangkat menjadi film yang sangat inspiratif dan box office dengan judul “Rocky” (seri  I sampai V), serta “Rocky Balboa”. Film yang dibintangi Sylvester “Rambo” Stallone ini juga meraih 3 penghargaan Oscar.

***

Awalnya ia tak tahu kalau dirinya punya bakat dalam olahraga renang. Namun ketika duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, Yosita didukung oleh kedua orang tuanya Yusuf Sudaryanto dan Nita Damiana mencoba untuk belajar berenang.

Hasilnya cukup mengagetkan. Yosita ternyata punya bakat terpendam, ia dengan cepat menguasai renang. Hanya berlatih selama tiga hari, kemampuan gadis cilik bernama lengkap Patricia Yosita Hapsari ini mampu menyamai kemampuan renang kawan-kawannya yang telah berlatih selama beberapa bulan.

Yosita, kelahiran Jakarta 30 Juli 1993, putri sulung dari tiga bersaudara ini terus mengasah bakatnya dengan terus meningkatkan intensitas latihan. Saat melanjutkan sekolah SMP di Padang ia bergabung dengan Club Renang Ambacang. Latihan terus dilakukan secara intensif.

Usai gempa 30 September 2009 Yosita pindah ke Jakarta dan berkesempatan ikut berlatih di pelatnas renang. Bulan Oktober 2009 ia mulai menjajal kemampuannya dengan mengikuti Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan di Jakarta.  Di kejuaran ini Yosita langsung meraup 9 medali emas.

Berikutnya tahun 2010 Yosita meraih 2 medali emas di Kejuaran Renang Kelompok Umur, tahun 2011 ia juga memperoleh medali emas di nomor 200 meter gaya bebas. Tahun 2012 pada PON XVIII Yosita menyabet 3 medali emas sekaligus. Yosita juga memecahkan rekor PON di nomor 50 meter gaya bebas atas nama Nancy Suryaatmadja yang diciptakan tahun 2008 lalu. Ia mencatat waktu 26.87 detik sementara rekor lama 27.03 detik

Kesimpulannya, untuk menjadi juara sejati, dari belahan bumi manapun ia berasal kata kuncinya adalah harus melalui proses. Butuh latihan serius, disiplin dan kerja keras. Tak ada jalan lain, agar prestasi Sumbar bisa terdongkrak pada PON mendatang, kata kuncinya berproses (mempersiapkan diri) sejak dini, latihan, disiplin dan kerja keras. Saya yakin, atlet Sumbar pasti bisa menjadi juara sejati, dan mari kita lakukan persiapan itu mulai dari sekarang. (Desember 2012)

 

BAB 7  INSPIRASI DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

122. Tahun 2013

Tahun 2013

Climate change (perubahan cuaca) yang beberapa tahun belakangan menjadi bahan perdebatan sengit para ahli telah menjadi kenyataan. Cuaca ekstrim terjadi di berbagai belahan dunia, musim panas menjadi sangat panas, musim dingin menjadi sangat dingin. Begitu juga musim hujan dan musim kemarau terjadi secara ekstrim. Cuaca menjadi kacau tak menentu, tak lagi bisa diprediksi.

Cuaca ekstrim dan tak menentu telah menimbulkan bencana di berbagai negara  seperti banjir, kekeringan, longsor maupun badai, tak peduli di benua Amerika, Eropa atau Asia.  Tak hanya itu, bencana juga muncul berupa gempa bumi , baik tektonik maupun vulkanik serta tsunami yang menelan korban ribuan jiwa manusia dan kerugian harta benda yang tak terhitung jumlahnya.

Mungkin karena kejadian-kejadian beruntun dan mencekam inilah yang membuat manusia berpikir bahwa dunia akan kolaps, dan berlanjut dengan kiamat.  Ditambah lagi dengan ramalan suku Indian Maya yang menduga bahwa kiamat terjadi pada tahun 2012 (tahun lalu). Mungkin karena mereka berpikir dunia telah berakhir pada tahun 2012, suku Maya hanya melakukan perhitungan kalender sampai tanun 2012.

Tahun 2012 bagi sebagian orang, merupakan tahun yang mencekam dan mendebarkan. Yang sangat fenomenal, gejala alam ini telah menyebabkan tercetusnya sebuah film layar lebar yang menyita perhatian hampir seluruh penduduk dunia dengan tajuk 2012. Film ini menceritakan tentang peristiwa kiamat, yaitu periswa kehancuran bumi dan berakhirnya kehidupan di bumi,  yang terjadi pada tahun 2012.

Film ini menggambarkan bagaimana letusan gunung berapi dan pergeseren lempengan bumi telah mencabik-cabik dan memporak-porandakan planet bumi. Planet-planet dan bintang-bintang di langit kehilangan keseimbangan, kacau balau, lalu saling bertabrakan. Gelombang laut setinggi ratusan meter menyapu daratan beserta bangunan  dan apa saja yang menghalanginya hingga rata dengan tanah. Mungkin itulah yang disebut kiamat.

Meski tidak sedahsyat yang digambarkan dalam film 2012, namun bencana serupa memang telah terjadi di dunia nyata. Gempa di Meksiko, gempa dan tsunami di Jepang, Gempa dan Tsunami di Aceh serta gempa dan tsunami yang terjadi di Sumatera Barat sendiri, telah nyata di depan mata. Dalam hitungan menit bumi berguncang, gedung-gedung beton yang berdiri kokoh, ambruk beserpihan ke tanah, ribuan nyawa hilang seketika. Subhanallah…

Namun apakah kiamat memang terjadi pada tahun 2012 seperti yang diramalkan banyak orang? Ternyata tidak. Kini kita malah telah memasuki tahun 2013. Kiamat adalah rahasia Allah, meski telah banyak dan berulang kali manusia berusaha meramalkannya, namun tak satupun yang terbukti. Tak satupun manusia bisa meramalkan kapan kiamat itu terjadi.

Hal serupa juga terjadi dengan prediksi para ahli bahwa gempa dan tsunami besar akan melanda Sumatera Barat tahun 2011 lalu, menyusul gempa dahsyat tahun 2009. Ramalan itu juga tidak terbukti. Kita bersyukur peristiwa itu tidak terjadi hingga hari ini dan berdoa serta  bermohon kepada Allah semoga peristiwa itu tidak pernah terjadi. Malah nyatanya gempa dan tsunami justru terjadi di Ibaraki Jepang bulan Maret tahun 2011, tanpa diduga.

Belajar dari pengalaman dan kenyataan tersebut kita harus yakin bahwa tidak satu pun manusia yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi esok hari dan juga tidak bisa mengetahui apakah besok ia akan masih hidup dan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kita bersyukur bahwa masyarakat Sumatera Barat adalah masyarakat yang ulet dan tidak cepat putus asa. Meski Sumatera Barat porak poranda akibat gempa tahun 2009, dan sejumlah ramalan buruk lainnya akan menimpa, namun masyarakat daerah ini ini tidak putus asa, justru segera bangkit dan berbenah. Terbukti pada awal tahun 2013 ini kondisi Sumatera Barat telah kembali pulih, gedung-gedung baru yang lebih kokoh dan megah bermunculan, bahkan ekonomi  justru tumbuh lebih baik dari sebelumnya.

Bisa kita bayangkan jika masyarakat Sumatera Barat pasca gempa 2009 putus asa, lalu hanya menunggu nasib, mungkin kota-kota di Sumatera Barat hanya tinggal puing dan menjadi kota mati hingga kini. Padahal waktu terus berjalan, banyak hal yang bisa kita lakukan. Tindakan yang benar adalah seperti seperti  seperti riwayat berikut; bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan mati besok pagi.

Begitu juga dalam menghadapi tahun 2013. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, peluang rahmat dan bencana yang akan kita hadapi sama besarnya. Namun keberhasilan menjalani kehidupan tergantung dari ikhtiar yang diiringi dengan doa yang kita lakukan.  Jangan berpangku tangan, mari berikhtiar dan berdoa. (Januari 2013)

123. Menuju Provinsi Energi Hijau

Menuju Provinsi Energi Hijau

Suka atau tidak, krisis Bahan Bakar Minyak  (BBM) pasti akan melanda dunia. Sesuai dengan laju pertambahan penduduk dan tuntutan teknologi , jumlah penggunaan BBM juga terus melaju secepat kilat. Baik BBM yang digunakan untuk pembangkit listrik, industri, transportasi maupun BBM yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

Padahal BBM adalah materi yang tidak terbarukan (unrenewable). Maksudnya, BBM adalah energi yang akan habis, bukan energi yang terus menerus ada (renewable). BBM ditambang dari bumi, diperkirakan dalam waktu yang tidak terlalu lama cadangan/deposit BBM dalam bumi akan habis, tak bisa diproduksi lagi. Berbeda dengan tumbuhan, padi misalnya. Padi setelah dipanen bisa ditanaman lagi dan dipanen lagi, begitu seterusnya. Namun BBM tidak demikian, jika cadangan BBM di perut bumi habis, tak bisa diperbarui lagi.

Karena itu BBM kian hari kian langka, sementara kebutuhan makin meningkat. Akibatnya harga BBM terus melambung dari waktu ke waktu, sesuai dengan kaidah ekonomi. Jika permintaan meningkat, sedangkan persediaan barang terbatas, maka harga akan meningkat.

Negara kita mengalami dilema yang cukup rumit menghadapi masalah ini. Kebutuhan BBM kita juga terus meningkat  luar biasa. Isu BBM menjadi sangat sensitif. Rencana kenaikan BBM menimbulkan gelombang protes dan demonstrasi di seluruh pelosok negeri. Karena itu negara mengalokasi anggaran yang cukup besar untuk mengatasi masalah ini. Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2012 subsidi bahan bakar minyak (BBM) adalah sebesar Rp137 triliun dan subsidi listrik sebesar Rp64,9 triliun. Jumlah dana yang cukup fantastis, yang jika bisa dialihkan dapat digunakan untuk melakukan pembangunan, membangun berbagai infrastruktur.

Protes, turun ke jalan, caci-maki, atau bakar-bakaran telah terbukti bukanlah sebuah solusi. Aksi ini malah memperkeruh suasana dan menimbulkan efek yang lebih buruk, gangguan keamanan, bahkan  situasi politik dan ekonomi pun ikut terganggu. Kita harus mencari alternatif lain yang lebih bijaksana, elegan dan berdampak nyata mengatasi masalah tersebut.

Energi hijau adalah salah satu solusi bijak untuk keluar dari masalah ini. Energi hijau adalah energi yang tidak berdampak buruk terhadap lingkungan dan terbarukan (bisa diproduksi terus menerus).  Jika BBM suatu saat akan habis dan tidak bisa diproduksi lagi, maka energi hijau tak pernah habis, bisa diproduksi secara terus menerus (renewable).

Dulu, energi nuklir disebut-sebut sebagai sumber energi alternatif yang sangat potensial sebagai pengganti BBM. Energi nuklir, meski memiliki resiko pencemaran radiasi nuklir dianggap potensial karena mampu menghasilkan daya listrik yang sangat besar. Namun setelah terjadi kebocoran reaktor nuklir di Fukuyama akibat gempa dan tsunami dan peristiwa Chernobyl dan berbagai peristiwa lainnya, pembicaraan tentang energi nuklir nampaknya mulai meredup. Pasca peristiwa gempa dan tsunami Maret tahun lalu, Perdana Menteri Jepang memutuskan untuk tak lagi memakai pembangkit listrik tenaga nuklir.

Ada beberapa sumber energi hijau yang saat ini diyakini sangat berpotensi sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan. Karena ramah lingkungan, energi tersebut dijuluki energi hijau (green energy).  Energi hijau menjadi topik penting saat ini di berbagai negara maju dan gencar dikembangkan di sejumlah negara, terutama negara Eropa.

Energi hijau tersebut di antaranya adalah Tenaga Air, Angin, Gelombang Laut, Tenaga Matahari, Geothermal , Bio Diesel dan Bio Massa.  Tenaga air sangat potensil digunakan untuk menggerakkan generator pembangkit listrik. Listrik tersebut bisa disimpan dalam baterai sehingga juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Begitu juga gelombang laut, tenaga angin, cahaya matahari bisa diubah menjadi listrik sehingga kebutuhan BBM atau batubara yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik bisa dikurangi.

Geothermal juga merupakan sumber energi hijau yang sangat potensial yang disediakan oleh alam. Geothermal (panas bumi), juga bisa dimanfaatkan untuk membangkit tenaga listrik dan teknologi pemanfaatan geothermal di Eropa sudah berkembang baik dan siap digunakan.

Teknologi biodiesel adalah teknologi yang mampu mengubah produk tumbuhan menjadi bahan bakar sebagai pengganti BBM. Buah jarak, misalnya, bisa diolah menjadi minyak sebagai pengganti bahan bakar. Begitu juga singkong, tebu, nira bisa diolah menjadi etanol yang bisa berfungsi sebagai bahan bakar mesin atau kendaraan bermotor.

Bio massa seperti kotoran sapi atau sampah juga bisa diolah menjadi sumber energi.  Akibat proses fermentasi, biomassa akan menghasilkan gas metan, gas ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Begitu juga gelombang laut, bisa diubah menjadi energi listrik.

Sumatera Barat memiliki semua potensi tersebut.  Ada empat negara yang memiliki potensi geothermal terbesar di dunia, salah satunya adalah Indonesia. Sumatera Barat adalah pemilik potensi  geothermal terbesar di Indonesia.  Sumatera Barat juga memiliki potensi sumberdaya air terbesar di Indonesia. Selain PLTA yang sudah ada, masih berpotensi dibangun PLTA lain dan puluhan mikro hidro pembangkit listrik tenaga air. Begitu juga sumber energi hijau lainnya, Sumbar punya potensi itu semua.  Yang belum cukup kita punya adalah ilmu, teknologi dan dana untuk mengolahnya.

Dalam kondisi demikian, tentu solusinya adalah belajar ke daerah lain yang memiliki ilmu, teknologi dan juga melakukan lobby agar mereka bersedia berinvestasi di Sumatera Barat. Bavaria Jerman saat ini sedang melaksanakan seminar tentang energi terbarukan. Sebanyak 19 orang utusan Sumbar dikirim untuk belajar di sana, begitu juga di London Inggris sedang dilaksanakan beberapa pertemuan dengan pengusaha yang berminat mengembangkan energi terbarukan di Sumbar.

Dengan demikian potensi yang ada, tidak hanya terkubur sebagai  potensi yang tidak termanfaatkan. Jika potensi yang luar biasa itu bisa diolah dan dimanfaatkan tentu masalah krisis BBM yang krusial tadi tak jadi masalah lagi. Tidak hanya itu, jika semua potensi itu tergarap optimal, Sumbar bisa menjual listrik ke provinsi tetangga bahkan ke pulau Jawa yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kita bulatkan niat untuk menjadi Provinsi Energi Hijau pertama di Indonesia. Insya Allah, jika dilakukan dengan serius dan bekerja keras tentu Allah akan mengabulkan, dan mimpi itu akan menjadi kenyataan. (November 2013)

 

124. Banjir

Banjir

 

Jakarta, Ibukota Repubik Indonesia,  dikepung banjir.  Nyaris seluruh wilayah kota Jakarta tertutup genangan air. Aktifitas kota Jakarta lumpuh,  hiruk pikuk kota metropolitan itu terhenti sejenak. Arus transportasi terputus, kegiatan ekonomi  mandeg, ribuan rumah terendam, puluhan ribu kendaraan tenggelam atau mengambang di air seperti mobil-mobilan yang hanyut di sungai.

Kerugian diduga mencapai belasan trilyun rupiah. Tak cuma harta, banjir juga menelan 20 korban jiwa. Ini merupakan banjir terbesar sepanjang sejarah kota Jakarta.  Apakah  kejadian tersebut hanya sampai di situ atau akan terulang lagi? Dalam rentang waktu yang cukup panjang atau dalam waktu dekat? Wallahualam.  Namun peristiwa ini cukup mengkuatirkan, sehingga wacana untuk memindahkan  ibukota negara mencuat ke permukaan.

Ancaman bahwa sejumlah kota-kota di dunia yang terletak di pinggir pantai akan tenggelam telah lama diprediksi.  Peristiwa ini terjadi akibat pemanasan global dan kenaikan suhu bumi. Kenaikan suhu bumi menyebabkan sebagian es di kutub utara dan selatan mencair, hal ini lalu menyebabkan naiknya permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut ini menyebabkan kota-kota yang terletak berdekatan dengan pantai, terutama yang hanya memiliki ketinggian  yang tak terlalu berbeda jauh dengan permukaan air laut. Permukaan laut berangsur-angsur naik ke daratan, hal ini bisa terlihat dengan makin dekatnya bibir pantai dengan daratan.

Di Jakarta kondisi ini makin diperparah dengan  tingginya curah hujan yang mengguyur kota Jakarta dan masih ditambah lagi dengan kiriman air dari daerah Bogor dan sekitarnya.  Akibatnya Jakarta dikepung air dari berbagai penjuru dan terjadilah banjir yang luar biasa tersebut.

Kenapa terjadi pemanasan bumi yang menyebabkan naiknya perimukaan air laut? Peristiwa ini berawal dari rusaknya lapisan ozon yang terdapat di lapisan atmosfir bumi. Secara alamiah ozon berfungsi melindungi bumi dari sinar ultraviolet yang berlebihan. Ozon berfungsi sebagai filter.  Tuhan Maha Mencipta, tanpa ozon tak kan ada makhluk hidup yang mampu bertahan hidup di bumi. Bumi akan berubah menjadi kering kerontang.

Namun akibat sejumlah gas pencemar (polutan)  yang dihasilkan akibat aktifitas manusia, lapisan ozon menjadi terganggu.  Di antara gas pencemar tersebut adalah karbon monoksika (CO) yang dihasilkan oleh aktiftas pembakaran kendaraan bermotor, mesin di pabrik-pabrik dan sejumlah gas lainnya seperti chlor flouro carbon (CFC). Gas polutan ini akan bersenyawa dengan ozon membentuk senyawa lain, sehingga lapisan ozon yang sebelumnya berfungsi melindungi bumi tidak lagi berfungsi seperti semula.  Menurut penelitian para ahli, telah terdapat lubang besar pada lapisan ozon di atmosfir bumi, makin lama makin besar. Hal inilah yang menjadi  penyebab utama pemanasan bumi.

Gas, partikel-partikel halus yang mengambang  di udara serta zat-zat polutan lainnya yang bertumpuk di lapisan atmosfir, selain merusak ozon,  juga menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Kumpulan polutan ini juga menumpuk di atmosfir, membentuk lapisan tersendiri. Efeknya mirip seperti kita berada dalam rumah kaca atau dalam mobil yang semua kaca jendelanya ditutup lalu dijemur di terik matahari. Cahaya matahari masuk ke dalam rumah kaca/mobil, panas matahari terkurung di sana, tidak bisa keluar. Akibatnya suhu dalam rumah kaca tersebut naik secara berlebihan. Inilah yang disebut dengan istilah “efek rumah kaca”, proses pemanasan bumi juga terjadi seperti itu. Semua peristiwa inilah yang pada akhirnya menyebabkan perubahan iklim (climate change).

Perbedaan suhu dan perbedaan tekanan udara menimbulkan pergerakan udara (angin).  Atmosfir bumi memiliki perbedaan  suhu yang cukup tinggi, yaitu antara daerah kutub dan daerah khatulistiwa. Dalam keadaan normal mekanisme pergerakan udara tersebut memiliki pola-pola tertentu dan rutin terjadi sepanjang tahun. Pola rutin inilah yang menyebabkan kita tahu kapan terjadi musim panas, musim hujan, musim salju dan seterusnya.

Namun akibat pemanasan global, mekanisme alamiah tadi tak lagi seperti semula, menjadi kacau.  Arus angin tak lagi mengikuti pola semula. Akibat terjadi pola pemanasan bumi dan atmosfir yang kacau balau, arus angin juga menjadi kacau dan pola iklim juga menjadi berubah sehingga tak bisa lagi diramalkan. Musim hujan berganti dengan musim kemarau, daerah yang biasanya sering hujan berubah kering, atau terjadi musim yang ekstrim. Kemarau menjadi sangat panjang atau sebaliknya hujan terjadi secara luar biasa. Inilah yang disebut dengan climate change (perubahan iklim).

Untuk kasus Jakarta, seperti juga kota-kota  lain di Indonesia, tidak hanya perubahan iklim yang menyebabkan bencana. Kerusakan hutan juga menyebabkan air tidak diserap ke dalam tanah, tapi menggenangi kota. Sistem drainase yang tidak seimbang lagi menyebabkan air tidak tersalurkan dengan cepat ke sungai dan akhirnya ke laut. Ditambah lagi dengan kebiasan masyarakat membuang sampah ke sungai yang menyebabkan sungai tersumbat. Jika permukaan laut terus meninggi, nyaris sama tinggi dengan daratan, kemana lagi air tersebut akan dibuang?

Kejadian di Jakarta merupakan peringatan dan pelajaran yang sangat mahal bagi kita. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa semua bencana dan kerusakan di muka bumi adalah akibat ulah dan perbuatan manusia. Seperti firman Allah  QS 4: 79, Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (November 2013)

125. Kewaspadaan Bencana

Kewaspadaan Bencana

Bahwa gempa dan tsunami ada serta bisa terjadi, kita semua sudah tahu, sudah melihat dan bahkan sebagian dari kita mungkin sudah merasakan.  Namun yang pasti, tak seorang pun yang tahu kapan, di mana dan berapa kekuatan gempa dan tsunami yang akan terjadi. Bahkan Jepang, negara berteknologi paling maju, paling berpengalaman, paling siaga terhadap gempa dan tsunami sekalipun, ternyata tak berdaya ketika bencana itu datang.

Jangan ditanya peralatan canggih apa yang tak dimiliki Jepang untuk memprediksi  gempa, mereka semua punya. Para pakar juga demikian, mereka punya ahli paling jago sedunia tentang gempa dan tsunami. Soal dana, apalagi, Jepang memiliki dana yang tidak terbatas untuk menyelamatkan daerah dan masyarakatnya dari bencana gempa dan tsunami.

Namun apa yang terjadi? Peristiwa gempa dan tsunami 11 Maret 2011 lalu meluluh lantakkan  satu provinsi di Jepang. Ribuan orang meninggal dunia, ribuan rumah dan bangunan hancur tak berbentuk, tak terhitung kerugian yang ditimbulkan. Ternyata teknologi yang canggih, para pakar yang mumpuni serta dana berlimpah yang disediakan untuk mengantisipasi gempa dan tsunami tak ada artinya dibandingkan kekuatan alam.

Bagaimana dengan Indonesia atau Sumatera Barat, khususnya? Apakah kita punya teknologi secanggih Jepang, punya pakar yang sepiawai mereka dan punya dana sebanyak yang mereka punya? Tentu jawabnya belum. Kita belum punya teknologi secanggih yang mereka miliki, belum punya cukup pakar seperti mereka, apalagi punya cukup dana. Di Indonesia hanya pulau Kalimantan saja yang diduga tidak berpotensi terjadi gempa dan tsunami. Selebihnya dari Sabang sampai Merauke, berpeluang terjadi bencana yang sama. Cukupkah dana kita?

Jika semua hal di atas tidak kita miliki, harus dicari kekuatan lain, potensi lain yang kita miliki yang bisa diandalkan untuk mengatasi, minimal mengurangi resiko bencana. Prosedur evakuasi/penyelamatan harus dibenahi kembali.

Secara umum jalan evakuasi tersumbat karena masyarakat menggunakan jalan secara serabutan. Sejumlah masyarakat berusaha secepat mungkin ke satu arah untuk mencapai tempat yang tinggi. Sementara masyarakat lain menuju arah berlawanan untuk menjemput anak/istri mereka ke rumah atau sekolah.  Arus lalu lintas yang bertabrakan ini tentu saja menimbulkan kemacetan dan kepanikan yang dahsyat. Sebaiknya ketika terjadi gempa berpotensi tsunami, kita segera mencari tempat tinggi di sekitar kita berada, bisa gedung bertingkat, masjid bertingkat atau rumah bertingkat.

Seharusnya jika gempa terjadi suami tidak perlu memikirkan istri, karena istri sudah tahu tempat yang harus ia tuju jika terjadi gempa/tsunami. Begitu juga anak. Orang tua tak perlu khawatir keadaan anaknya karena anak didampingi guru mereka, sudah punya protap sendiri untuk menyelamatkan diri. Yang paling penting kita juga harus tahu jalur apa yang harus ditempuh untuk menyelamatkan diri agar tidak terjebak macet.

Prosedur  dan protap seperti ini dan metode-metode lainnya sudah lama disosialisasikan ke masyarakat. Mungkin belum banyak yang terlibat atau peduli. Hal ini perlu disosialisasi ulang lagi.

Fasilitas penyelamatan seperti shelter, jalan evakuasi, dan fasilitas lainnya pasca gempa, tentu perlu diadakan. Namun jika semua itu dibebankan kepada pemerintah saja atau dibebankan ke masyarakat saja, tentu tidaklah masuk akal. Kita harus bersama, bahu membahu melakukan antisipasi, baik sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana maupun pasca bencana.

Untuk itulah surat peringatan yang dikirimkan Mendagri ke daerah-daerah/provinsi rawan bencana. Surat tersebut diteruskan ke 7 walikota/bupati di Sumbar. Maksudnya supaya pemerintah setempat bersama masyarakat mengevalusi lagi hal apa saja yang perlu dibenahi dalam rangka mengantisipasi jika terjadi gempa dan tsunami. Atau fasilitas apa yang perlu diadakan untukmengantsipasi bencana. Semua kekurangan itu harus dibenahi, agar kita lebih siap ketika terjadi bencana. Bukan pula untuk menkut nakuti.

Satu hal lagi yang tidak dimiliki jepang adalah Allah. Seperti fiman Allah dalam Al Quran, tidak ada satupun peristiwa di bumi ini yang terjadi tanpa izin Allah. Jika akal kita belum mampu mencerna peristiwa yang terjadi, maka kita serahkan kepada Allah. Seperti yang tertulis dalam surat Al Fatihah, jika tak ada lagi tempat untuk mengadu dan minta tolong, maka mengadu dan minta tolonglah kepada Allah. Semoga semua ujian itu tidak memperlemah iman kita, tapi justru memperkuat.  Insya Allah. (Mei 2012)

126. Indonesia Bersih

Indonesia Bersih

Sebelum tahun 1970 kondisi  Singapura tak jauh berbeda dengan keadaan Indonesia saat ini. Sampah bertebaran di mana-mana, sungai-sungai kotor, bau karena dicemari beraneka jenis sampah. Keruwetan terlihat jelas di kota pulau bekas jajahan Inggris yang didiami penduduk beragam etnis tersebut.

Jepang dulu juga demikian, sungai-sungai, pantai dan pelabuhan terlihat jorok dan bau, penuh sampah. Bahkan berbagai limbah industri, termasuk bahan buangan berbahaya (B3) seenaknya digelontorkan  ke perairan umum menambah parah pencemaran lingkungan.

Suasana tak nyaman tentu saja jelas terasa. Tidak hanya itu, pencemaran lingkungan ternyata juga berdampak terhadap kesehatan manusia. Akibat pencemaran, di Jepang muncul penyakit aneh yang dinamakan itai-itai. Penyakit ini menyebabkan kelumpuhan sistem syaraf manusia yang menyebabkan ia merasa sakit sepanjang hari. Karena itu penderita sepanjang hari mengeluh “itai… itai…” (bahasa Jepang = sakit). Lalu penyakit itu dinamakan ita-itai.

Selanjutnya diketahui bahwa penyakit itai-itai disebabkan oleh  pencemaran logam mercuri pada air dan lingkungan. Logam ini masuk melalui air dan makanan ke dalam tubuh manusia, lalu menumpuk (terdeposit) dalam jaringan syaraf manusia. Kejadian inilah yang menyebabkan munculnya penyakit itai-itai yang menimbulkan gangguan sistem syaraf, kelumpuhan, cacat pada bayi, bahkan kematian.

Terpicu oleh kejadian tersebut, pemerintah dan masyarakat Jepang melakukan perubahan. Pemerintah mengeluarkan peraturan ketat untuk mencegah pencemaran lingkungan. Sanksi tegas diberikan bagi pelaku pencemar lingkungan. Perusahaan-perusahaan dan industri harus membuat  instalasi pengolahan limbah , agar air buangannya tidak mencemari lingkungan. Sedangkan masyarakat sebagai individu menegakkan disiplin agar tidak menjadi kontributor pencemar lingkungan.

Singapura juga melakukan hal serupa, sejumlah program dibuat untuk menanggulangi pencemaran lingkungan, termasuk sampah-sampah yang bertebaran yang merusak pemandangan dan mencemari lingkungan. Aturan dan sanksi diperketat, disiplin ditegakkan secara tegas, masyarakat mematuhinya dan ikut berkontribusi sebagai penjaga kebersihan, bukan lagi sebagai pencemar.

Hasilnya sekarang bisa kita lihat. Singapura menjelma menjadi negara kecil yang maju, bersih, tertib dan nyaman. Siapapun ingin berkunjung, berwisata atau melakukan investasi di Singapura.  Jepang apalagi, meski terkenal sebagai negara industri, namun kota-kota di Jepang selalu bersih, rapi dan nyaman. Kualitas kesehatan masyarakat menjadi tinggi tinggi. Karena sehat, rata-rata penduduknya berumur panjang.

Dari contoh dan pengalaman di atas bisa kita simpulkan bahwa kota yang semrawut, kotor dan kacau balau, bisa diubah menjadi kota yang indah, nyaman dan sehat. Kuncinya adalah tekad dan kemauan serius masyarakatnya untuk berubah dan memperbaikinya  menjadi baik. Aturan dan sanksi lalu dibuat pemerintah sebagai kontrol. Namun yang lebih penting tentu saja kemauan masyarakatnya untuk berubah.

Di kota Padang yang jumlah penduduknya lebih dari 600.000 jiwa bagaimana mungkin masalah sampah dan kebersihan bisa diselesaikan hanya oleh sekitar 50 orang petugas kebersihan? Tentu saja justru peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dan lebih dominan.

Menjaga kebersihan dan menciptakan lingkungan yang nyaman bisa dimulai dari hal-hal kecil. Masing-masing keluarga menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan di rumah masing-masing. Sekolah-sekolah juga menciptakan kenyamanan dan kebersihan di lingkungannya masing-masing. Sedangkan setiap kantor juga menjaga kebersihan, menciptakan kenyaman dan keindahan di lingkungan masing-masing. Mushalla dan mesjid bersama jamaahnya juga menjaga kebersihan dan kenyamanan di lingkungan masing-masing.

Insya Allah jika hal itu dilakukan, tanpa terasa kita telah memperbaiki kualitas lingkungan kita serta kwalitas hidup kita. Jika hal itu dilakukan di semua kota di Indonesia dan seluruh Indonesia, kita yakin negara yang kita yang indah ini menjadi negara yang bersih dan nyaman. Kesejahteraan akan datang menyusul. (November 2013)

127. Cintai Lingkungan Kita

Cintai Lingkungan Kita

Tentu kita masih ingat lagu berjudul “Kolam Susu” yang diciptakan grup band Koes Plus tahun 1970an.  Lagu itu mengisahkan betapa subur dan indahnya Indonesia. Alamnya kaya, indah, bersahabat, memberikan kenyamanan dan ketentraman kepada rakyatnya.

Memang demikianlah kenyataan yang terjadi di Indonesia saat itu. Sungai-sungai  mengalir lancar di seluruh pelosok negeri, seperti nadi yang mengalirkan denyut kehidupan bagi penduduk sekitarnya. Anak-anak bersenda gurau dan tertawa riang sambil bermain dan mandi di sungai berair sejuk dan jernih.

Seperti yang dikatakan dalam syair lagu di atas, laut yang membentang di sepanjang wilayah Indonesia adalah lautan yang indah dan mempesona, keelokan itu digambarkan Koes Plus sebagai kolam susu, bukan lautan. Ikan dan udang tersedia berlimpah di sana. Ikan dan udang datang menghampirimu. Tongkat dan kayu pun, jika ditancapkan ke tanah bisa tumbuh subur menjadi tanaman.

Tapi apa yang terjadi sekarang? Lautan kolam susu telah berubah menjadi lautan sampah.  Terutama di kota-kota besar, umumnya sepanjang pantai dan lautnya terhampar pemandangan memilukan, sampah beraneka ragam berjejal dimana-mana, bau busuk menyengat hidung.  Sungai tak lagi mengalirkan air jernih, tapi telah berganti dengan sampai, air jorok dan berbau busuk.

Ikan datang menghampiri? Jangan diharap lagi bisa tersua. Setelah berjuang antara hidup dan mati menghadang ombak dan gelombang ganas sekali pun, belum tentu nelayan kita bisa membawa ikan pulang yang cukup untuk bekal hidup anak dan istri mereka.

Dulu tak ada badai dan topan yang datang menghampiri. Kini badai dan topan seperti sudah menjadi agenda rutin sehari-hari. Fenomena baru yang terjadi saat ini, di kala matahari sedang bersinar cerah, tiba-tiba berubah kelam. Badai dan topan tiba-tiba datang menerjang, disertai hujan deras seperti ditumpahkan dengan amarah dari lagit. Lalu bencana longsor, banjir, galodo datang melanda seperti menghantui.

Petani juga makin mengeluh, mereka makin dihimpit kemiskinan. Lahan yang mereka tanam makin tak subur, keras dan bantat. Sedangkan luas tanah yang mereka jadikan sawah dan ladang juga makin sempit karena telah ditimbun untuk dijadikan rumah dan berbagai bangunan.

Memang itulah kenyataan yang kita hadapi hari ini. Apa yang ditangisi dan dikhawatirkan para ilmuwan dan pemerhati lingkungan beberapa dekade lalu telah menjadi kenyataan di depan mata. Perubahan iklim (climate change)  yang dulu tak banyak orang yang mempercayainya, telah menjadi kenyataan hari ini. Dulu di negara kita jarang, bahkan hampir tak ada topan dan badai, kini telah menjadi agenda rutin hampir setiap hari. Dulu musim hujan dan musim panas terjadi seimbang sepanjang tahun, kini menjadi tak menentu.

Kini, musim kemarau terjadi berkepanjangan sehingga terjadi kekeringan ekstrim di berbagai wilayah yang disusul dengan musibah kebakaran, kabut asap, gagal panen dan kelaparan (kekurangan pangan). Sebaliknya musim hujan juga menjadi ekstrim dan luar biasa. Banjir, longsor, galodo adalah derita selanjutnya yang harus ditanggung bersama.

Kini tentu kita telah mengalami sendiri bahwa bencana akibat kerusakan lingkungan tak lagi sekedar wacana, tetapi telah berada dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita bersyukur kepedulian masyarakat Sumatera Barat terhadap upaya pelestarian Lingkungan Hidup mulai tumbuh. Tahun lalu Sumatera Barat hanya mendapat tiga penghargaan di bidang lingkungan hidup tingkat nasional. Namun hanya dengan sedikit memberikan semangat dan motivasi, masyarakat bersama aparat pemerintah bergerak cepat. Tak tanggung-tanggung tahun ini Sumatera Barat memperoleh 28 penghargaan Lingkungan Hidup tingkat nasional.

Yang lebih menarik, penghargaan itu terbanyak diperoleh oleh sekolah-sekolah. Ini berarti pengetahuan tentang lingkungan hidup dengan cepat terserap oleh anak didik dan insya Allah akan mengubah  pemahaman, kesadaran dan prilaku mereka terhadap lingkungan hidup. Perubahan itu diharapkan juga segera menular kepada seluruh masyarakat.

Lingkungan hidup adalah keniscayaan bagi manusia, bahkan merupakan hak yang harus dipenuhi oleh setiap manusia. Lingkungan menjadi isu dunia di samping isu HAM dan demokrasi. Bagaikan makan, minum, tidur adalah hak manusia yang tidak perlu diatur karena sudah pasti kita akan penuhi begitu juga dengan lingkungan hidup. Semoga rakyat Sumbar dengan berbagai upaya dari pemerintah akan menjadikan lingkungan hidup yang baik dan menyatu dalam dirinya.

Mari kita mengubah perilaku kita untuk peduli dan mencintai lingkungan kita dan bersama-sama bahu membahu menjaga dan memelihara rahmat Allah tersebut  untuk kemaslahatan kita bersama.    (Juni 2012)

128. Perubahan Iklim

Perubahan Iklim

Kita tentu merasakan perubahan iklim yang terjadi belakangan ini. Suatu ketika suhu udara terasa menyengat dan panas sekali. Namun secara tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat dan angin bertiup kencang disertai badai. Rentang waktu yang biasanya kita kenal sebagai musim hujan, berubah menjadi panas dan kering kerontang. Sebaliknya rentang waktu yang biasanya musim kemarau berubah menjadi musim hujan berkepanjangan dan ekstrim.

Secara tiba-tiba turun hujan lebat seperti dicurahkan dari langit dan terkadang tak putus-putus dari pagi hingga pagi lagi. Akibatnya terjadi banjir dan longsor di sejumlah tempat. Juga tak ayal lagi wilayah Sumatera Barat yang banyak perbukitan mengalami longsor tergerus air.  Daerah-daerah di dataran rendah, terutama di pinggir pantai segera tergenang banjir. Termasuk penyebab meninggalnya anggota Mapala Unand akibat terseret arus sungai yang datang tiba-tiba.

Sebaliknya pada suatu rentang waktu yang tak terduga dan berbeda dari biasanya terjadi kemarau ekstrim yang cukup panjang. Saat itu matahari bersinar sangat terik seperti marah, suhu udara panas luar biasa tanpa hujan setetespun. Akibat lama tak turun hujan, banyak sawah-sawah milik penduduk gagal panen dan terlantar karena kekeringan. Tak hanya itu, listrikpun enggan menyala karena minus air yang akan menggerakkan turbin PLTA. Padahal PLTA merupakan andalan pembangkit tenaga listrik di Sumatera Barat.

Perubahan Iklim (climate change) memang telah menjadi nyata dan telah diakui oleh para ahli klimatologi di belahan bumi manapun. Kita sebagai masyarakat awam pun bisa merasakan dan bisa melihat sendiri buktinya. Perubahan iklim telah menjadi perhatian dunia, perubahan iklim telah menjadi masalah global penduduk bumi, tak peduli di benua manapun mereka bermukim dan dari bangsa dan ras manapun mereka berasal.

Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di Indonesia misalnya, juga dirasakan dampaknya oleh negara tetangga Singapura, Malaysia bahkan Thailand. Pencemaran udara akibat pembakaran bahan bakar fosil (BBM) oleh pabrik-pabrik serta kendaraan bermotor juga telah merusak lapisan ozon di atmosfir bumi yang akan mengakibatkan pemanasan suhu bumi secara global  yang dikenal dengan istilah global warming. Penyebab pemanasan global utama adalah terjadinya efek rumah kaca (green house effect) yang terjadi di lapisan atmosfir. Pada akhirnya kerusakan-kerusakan dan perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim (climate change).

Bulan lalu Duta Besar Swiss untuk Indonesia Heinz Walker-Nederkoorn  beserta sejumlah pakar meteorolog dunia berkunjung langsung ke stasiun Global Atmosphere Watch (GAW), stasiun pengamatan atmosfir global Bukit Kototabang. Stasiun yang didirikan lembaga Organisasi Meteorologi Dunia (World Meterology Organisation) terletak di Nagari Bukik Kototabang Kecamatan Palupuh Kabupaten Agam, sekitar 17 kilometer dari kota Bukittinggi.

Di kalangan pakar meteorologi dunia nama GAW Bukit Kototabang cukup terkenal.  Di dunia hanya ada dua stasiun GAW saja yang secara representatif terletak persis di garis khatulistiwa, yaitu di Mount Kenya dan Bukit Kototabang.  Namun Bukit Kotatabang lebih istrimewa karena terletak di daerah ketinggian berhawa sejuk dan bersih serta dikelilingi hutan tropis yang masih alami.  Secara umum Sumatera Barat juga relatif dekat dengan Samudra Hindia sehingga menarik untuk kajian meteorologi. Meski sama-sama terletak di garis khatulistiwa, namun Mount Kenya terletak di kawasan gurun pasir.

Kembali ke topik perubahan iklim para pakar dari sekitar 80 negara, telah mendirikan sekitar 30 stasiun GAW di berbagai negara untuk mengamati dan menganalisa perubahan iklim, pemanasan global, pencemaran udara dan aspek-aspek lainnya. Dengan demikian antisipasi dan solusi dari persoalan tersebut bisa ditemukan secara akurat.

Secara praktis tugas kita untuk mengatasi perubahan iklim, pemanasan global, pencemaran alam sebenarnya sederhana saja. Pertama adalah mencegah pencemaran terhadap udara, air maupun tanah. Kedua hindari merusak ekosistem lingkungan seperti menebang pohon, membunuh hewan yang nantinya akan merusak keseimbangan ekosistem.

Seperti firman Allah dalam QS 7:56; Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Niscaya manusia yang melakukan kerusakan di muka bumi, akan mendapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya tersebut. Lingkungan yang baik, asri dan seimbang akan membawa kemaslahatan dan kenyamanan bagi manusia di muka bumi. (November 2013)

129. Musibah di Bulan Ramadhan

Musibah di Bulan Ramadhan

Saat-saat bahagia menunggu beduk tanda berbuka puasa bagi sebagian warga kota Padang, berubah menjadi tangis dan derita. Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dari arah hulu sungai, dalam waktu singkat air bah datang melanda menerjang dan memporak-porandakan apa saja yang dilaluinya.

Suara pekik memilukan terdengar di sana-sini, namun suara itu tak mampu menghentikan gelombang air yang menerjang seperti amarah. Pohon-pohon tumbang atau tercerabut dari akarnya, sejumlah rumah porak-poranda,  sejumlah sarana irigasi jebol, mobil, penduduk hanyut terseret derasnya arus, tak ada yang mampu mencegah.

Meski hanya berlangsung sekitar 30 menit, tapi peristiwa itu telah membawa dampak yang luar biasa. Rumah atau bangunan lain yang telah dibangun masyarakat dengan susah payah hancur berantakan dalam waktu sekejap.

Ya Allah, ujian apa lagi yang Engkau berikan kepada kami?  Jika sebelumnya warga kota Padang berusaha menghindar dari musibah gempa dan tsunami dengan jalan eksodus dari daerah pinggir pantai ke daerah ketinggian, namun belum sempurna  eksodus itu dilakukan, kini justru di daerah ketinggian yang diduga merupakan daerah aman tersebut justru terjadi musibah. Masih belum cukupkah Allah memberikan ujian kepada kita? Hanya Allah yang Maha Tahu.

Sebagai orang yang beriman kita yakin bahwa semua ujian dan cobaan berasal dari Allah. Allah Maha Tahu tentang apa yang Ia lakukan dan dibalik sebuah ujian ada ada hikmah yang terkandung di dalamnya.

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS; Attaghaabun : 11)

Karena itu, kita sebagai orang yang beriman tak boleh panik jika mendapat cobaan. Semua yang kita miliki adalah titipan Allah, Allah berhak mengambilnya kapan saja Beliau menginginkan. Seperti firman Allah dalam  surat Al Baqarah ayat 156: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Namun tentu kita tak boleh menyerah begitu saja, tetap perlu ada upaya (ikhtiar) untuk mengatasi atau mengantisipasi persoalan yang ada. Dari kunjungan ke berbagai lokasi saya melihat sejumlah masyarakat dengan ikhlas menerima cobaan itu. Tanpa banyak komentar mereka membersihkan dan merapikan lagi rumah yang porak-poranda atau membersihkan genangan lumpur yang menggenang di dalam rumah serta halaman mereka.  Tak sedikit pula masyarakat yang tanpa komando turun bergotong-royong membersihkan lingkungan sekitar mereka bersama. Alhamdulillah.

Kami sebagai pemerintah tentu tak boleh berpangku tangan. Saya bersama sejumlah kepala SKPD, Walikota Padang beserta staf serta unsur pemerintah lainnya, kemarin malam sampai menjelang subuh masih mondar-mandir ke berbagai lokasi bencana untuk mengidentifikasi kondisi masyarakat serta memberikan bantuan sementara.

Pemerintah pusat juga tak tinggal diam, kemarin pagi Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) telah mengirim utusannya untuk menginventarisir

masalah yang terjadi serta mempersiapkan bantuan untuk korban bencana. Insya Allah hari ini kepala BNPB  Yang Dipertuan Rajo Maulana Paga Alam DR. Syamsul Maarif, MSi akan datang langsung ke Padang untuk melihat kondisi bencana, serta tentu saja melaporkan kepada presiden untuk memperoleh bantuan.

Insya Allah jika kita ikhlas, tidak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Allah menjanjikan, jika kita ikhlas dan bersunguh-sungguh rezeki akan datang dari arah yang tak diduga-duga.  Mari kita dengan sungguh-sungguh  berdoa mohon petunjuk dari Allah SWT dan mohon ampun atas dosa-dosa yang kita lakukan. Semoga kita semua terhindar dari bencana dan Sumatera Barat menjadi negeri aman damai dan sejahtera, terhindar dari bencana.  Moga doa kita di bulan Ramadhan yang berkah ini dikabulkanNya. Amin YRA. (Juli 2012)

130. Mengantisipasi Bencana

Mengantisipasi Bencana

 

Ia masih terbaring lemah di ruang ICU (Intensif Care Unit) rumah sakit M Djamil, setelah beberapa hari sebelumnya  mengalami koma. Di tangan kirinya masih terpasang selang infus, sedangkan tangan kanannya hampir seluruhnya tertutup pembalut dan perban, bekas operasi.

Air mata saya nyaris menetes ketika Sugianto (31) bertanya., “ Pak, dima anak jo istri ambo, kok mereka ndak datang kamari?”  Tentu saja saya sangat terharu dengan pertanyaan itu, sekaligus tak mampu menjawabnya.  Istri tercinta Anto, begitu ia biasa dipanggil, Julianti (26) telah meninggal dunia saat terjadi musibah longsor di Jorong Data Kampung Dadok Nagari Sungai Batang Agam Minggu subuh (27/1) lalu. Begitu juga putri mereka Afri Yeni yang masih berumur  8 tahun, ikut jadi korban dalam peristiwa itu.

Harapan Anto untuk bertemu istri dan putrinya hanyalah harapan yang sia-sia. Putra Anto Muhammad Rian Pratama selamat karena malam itu ia menginap di rumah neneknya. Tim dokter sengaja belum memberitahukan kondisi tersebut kepada Anto, karena kondisinya masih lemah, ia sendiri masih belum bisa mengingat peristiwa apa yang menimpanya dan kenapa ia bisa berada di rumah sakit. Dalam keadaan koma tertimpa material longsoran, Anto dilarikan dari Sungai Batang ke RSU M Djamil Padang.

Bencana memang selalu meninggalkan duka yang mendalam dan sering datang hanya sekejap mata. Bencana yang menimpa jorong  yang terletak di lerang bukit di pinggir Danau Maninjau Kabupaten Agam ini menghancurkan 12 unit rumah penduduk dan menelan korban 20 jiwa.  Dalam waktu yang hampir bersamaan juga terjadi bencana galodo di Pesisir Selatan dan banjir di Dharmasraya.

Sumatera Barat memang kerap dijuluki “etalase bencana”, karena berbagai macam bencana alam bisa terjadi di sini bahkan kerap terjadi. Sebut saja banjir, longsor, galodo, gempa  bahkan tsunami telah terjadi dan masih terus berpeluang terjadi di Sumatera Barat. Di satu sisi Sumatera Barat memiliki alam yang subur  dan panorama alam yang indah mempesona.

Gunung-gunung dan perbukitan yang menjadi bagian wilayah Sumatera Barat menjadikan daerah ini memiliki panorama yang indah dan dialiri oleh sungai-sungai yang jernih dan lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang subur. Namun di balik semua peluang dan keindahan itu juga tersimpan sebuah ancaman. Semua keindahan dan alam yang subur itu jika tidak dikelola dengan baik justru menimbulkan bencana seperti banjir, longsor  atau galodo.

Wilayah Sumatera Barat yang persis terletak pada patahan semangka belahan bumi, menyimpan potensi bencana gempa tektonik yang juga bisa bermuara pada terjadinya tsunami. Gunung-gunung berapi yang masih aktif di samping mendatangkan kesuburan, air yang jernih dan panorama yang indah, sebaliknya  juga bisa menimbulkan bencana letusan gunung berapi atau galodo. Itulah sunnatullah, bak dua sisi mata uang, di balik peluang selalu ada ancaman.

Lalu bagaimana kita menyikapi?   Secara umum, bencana alam bisa dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu: 1. Bencana yang bisa dikendalikan dan dicegah dan 2. Bencana yang tidak bisa dicegah dan dikendalikan.

Banjir, longsor  dan galodo adalah bencana yang bisa dicegah dan dikendalikan. Banjir bisa dicegah dengan menjaga  agar daerah tangkapan air dan daerah penyangga (biasanya berupa perbukitan) suatu kota/desa tidak dirusak, ditanami dengan tanaman tua, pepohonan yang kokoh agar air hujan  diserap ke dalam tanah dengan baik sehingga tidak terjadi banjir dan longsor.  Selain itu tentu perlu dibuat saluran air dan drainase yang baik, tidak tersumbat sampah, untuk mengantisipasi jika curah hujan terlalu tinggi.

Sedangkan untuk mengantisipasi galodo dan banjir bandang perlu dilakukan  pembersihan dan pengamatan ke hulu-hulu sungai. Galodo terjadi karena terbentuknya embung atau telaga di daerah ketinggian. Suatu saat ketika curah hujan terjadi sangat ekstrim,  embung dan telaga ini tak mampu lagi menahan debit air, lalu meletus dalam bentuk galogo/banjir bandang. Pemprov telah meminta pemerintah masing-masing kota dan kabupaten untuk melakukan pengamatan ke hulu-hulu sungai, plus difasilitasi dengan dana untuk kegiatan tersebut. Jika hal ini telah dilakukan dengan baik, tentu galodo tidak akan terjadi lagi.

Begitu juga dengan bencana longsor. Jika suatu kampung terletak di daerah ketinggian dan di lereng bukit, maka di daerah tersebut harus didominasi dengan tanaman keras/pepohonan untuk menahan longsor. Atau cara lain, jangan membangun rumah di daerah tersebut, cari tempat lain yang lebih aman. Daerah tersebut hanya dijadikan sebagai ladang, bukan tempat untuk menetap/bermukim.

Sedangkan untuk mengantisipasi bencana yang tidak bisa dikendalikan seperti gempa misalnya, adalah dengan membangun rumah yang kokoh dan tahan gempa atau menjauhi lokasi yang menjadi sumber bencana. Untuk mengantisipasi bencana tsunami perlu dibangun shelter-shelter atau jalan-jalan khusus untuk evakuasi jika tsunami terjadi.

Tuhan menciptakan alam begitu sempurna dan dalam keadaan seimbang, perilaku manusialah yang menyebabkan keseimbangan itu terganggu.  Kita tak ingin kisah duka seperti Anto dan belasan keluarga lainnya yang kehilangan anak, istri atau suami mereka akibat bencana alam terjadi lagi.

Kita berikan penghargaan kepada Pemerintah Kabupaten Agam yang telah bekerja keras dan sangat serius dalam menangani  musibah longsor di Nagari Sungai Batang ini. Kita juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua relawan yang terjun langsung ke lapangan, baik dari unsur TNI, POLRI, PMI maupun semua lapisan masyarakat yang telah ikut membantu.

Kita juga tentu tak ingin galodo yang memporak-poranda negeri ini terjadi lagi. Cukup sudah kesedihan dan linangan air mata yang tertumpah akibat bencana tersebut. Hal itu tidak boleh terjadi lagi, peristiwa itu harus segera kita antisipasi bersama-sama dengan sekuat tenaga dan upaya. (November 2013)

131. Kabut Asap

Kabut Asap

Saat ini dan beberapa tahun belakangan kita diresahkan oleh munculnya fenomena kabut asap. Dunia tampak suram karena matahari seperti enggan bersinar. Cahaya mahari tertutup oleh gelapnya kabut asap. Sejumlah penerbangan terpaksa tertunda, penderita ISPA (infeksi saluran pernafasan atas) meningkat jumlahnya dan banyak kerugian lain yang belum sempat dirinci.

Istilah kabut asap pertamakali diperkenalkan oleh Dr Henry Antoine Des Voeux di London pada tahun 1905. Kata kabut asap berasal dari kata smoke (asap) dan fog (kabut) atau di Inggris disingkat dengan istilah smog dan di Indonesia dikenal dengan istilah kabut asap atau ada juga yang menamakannya asbut (asap kabut).

Secara sederhana bisa didefinisikan kabut adalah kumpulan uap air yang mengambang di udara, senyawa kabut didominasi oleh uap air. Pagi hari kabut sering ditemukan berupa embun pagi dan jika terakumulasi di udara akan berubah menjadi hujan. Sedangkan asap adalah suatu senyawa yang terdiri dari berbagai jenis gas, kadangkala juga mengandung zat padat dan polutan (zat pencemar). Asap biasanya merupakan hasil pembakaran, baik berupa pembakaran bahan-bahan organik, maupun pembakaran bahan bakar fosil (BBM dan batubara). Kabut asap tentulah gabungan keduanya bersenyawa, berwarna lebih gelap, mengambang di udara dan sulit terurai..

Kabut asap di London waktu itu ternyata disebabkan oleh asap hasil pembakaran batubara. Kebanyakan pembangkit listrik dan pabrik-pabrik di London waktu itu menggunakan sumber energi batubara. Ditambah lagi, kebanyakan rumah penduduk juga menggunakan pemanas yang energinya bersumber dari batubara. Akibatnya di musim-musim tertentu muncullah kabut asap menyungkup kota London dan membuat kota itu terkesan kumuh dan suram.

Di Los Angeles dilaporkan kabut asap pernah terjadi lebih awal. Sumber asap kabut tersebut berasal dari buangan gas hasil pembakaran berbagai industri dan gas buangan hasil aktifitas manusia di kota yang padat penduduknya tersebut. Ontario-Kanada, Beijing-China, Mexico City, Taheran-Iran dan sejumlah kota-kota besar lainnya di dunia juga pernah mengalami hal serupa. Penyebabnya adalah sisa hasil pembakaran kendaraan bermotor yang tidak terkendali, gas buangan industri dan aktifitas pembakaran lainnya.

Lalu, London melakukan perbaikan dengan mengurangi penggunaan bahan bakar batubara, baik di industri maupun rumah-rumah, negara-negara lain juga mengikutinya. Asap buangan kendaraan-kendaraan bermotor diperbaiki sehingga asap dan polutan yang dihasilkan menjadi sangat rendah. Begitu juga industri-industri ditertibkan sehingga pencemaran yang dihasilkan berada di bawah ambang batas.

Bagaimana dengan kasus kabut asap di Indonesia? Hingga saat ini memang belum ada deskripsi yang jelas atau juga belum ada hasil penelitian yang pasti, termasuk penyebabnya. Yang terlihat menonjol memang adalah dampak kebakaran hutan yang menimbulkan asap cukup tebal. Baik yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar, petani maupun akibat gejala alam di musim kemarau.

Membuka lahan atau peladangan baru dengan sistem tebang dan bakar memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita dari dulu, termasuk di hampir seluruh Sumatera. Di Sumatera Selatan dan Jambi sangat terkenal sistem peladangan 3T (tebas, tunu/bakar, tanam). Jadi pola peladangan yang jamak digunakan adalah menebas hutan, lalu membakarnya (tunu) dan lalu menanam tanaman di bekas lahan yang sudah terbakar. Hal serupa juga terjadi di Riau. Di daerah yang memiliki lahan gambut, kebakaran ini makin parah dan sulit dipadamkan

Dulu mungkin alam masih bisa menentralisir kabut asap yang timbul. Apalagi jumlah petani yang membakar hutan jumlahnya sedikit. Sekarang, jumlah petani yang membuka lahan makin banyak, juga ditambah dengan kegiatan membakar lainnya (membakar jerami dan sisa-sisa limbah pertanian misalnya), ditambah lagi dengan perusahaan besar juga ikut melakukan hal yang sama, maka tentu saja alam tak mampu lagi menerima dan menetralisirnya.

Karena itu untuk crash program, aksi inilah yang perlu dilakukan segera. Titik-titik api yang berpeluang menjadi sumber kebakaran besar perlu diatasi dan dipadamkan segera. Selain itu masyarakat juga diminta untuk menahan diri agar tidak melakukan pembakaran yang akan menambah potensi munculnya kabut asap.

Untuk jangka panjang kita perlu lebih mendisiplinkan lagi buangan sisa pembakaran kendaraan bermotor yang jumlahnya terus meningkat tajam. Melihat jumlah kendaraan yang jumlahnya sangat luar biasa, kita tak tahu, manakah yang lebih berpotensi sebagai penyebab kabut asap, kendaraan bermotor ataukah kebakaran hutan?

Yang pasti, jika negara-negara lain bisa mengatasi fenomena kabut asap, tentu hal yang sama juga bisa kita lakukan, kuncinya tentu dilakukan dengan serius dan bersungguh-sungguh. Selain itu juga harus dilakukan oleh semua pihak secara bersama-sama, tidak ada yang boleh berpangku tangan. Mari kita singsingkan lengan dan perbaiki lingkungan kita bersama-sama dan bulatkan tekad, agar tahun depan kabut asap tidak terjadi lagi. (Maret 2014)

132. Megathrust

Megathrust

Sejak seminggu belakangan terjadi eskalasi kesibukan di Sumatera Barat, khususnya kota Padang. Mobil-mobil SAR (Search and Rescue), BNPB/BPBD (Badan Pengendalian Bencana Nasional/Daerah) tampak sibuk berlalu-lalang. Sejumlah helikopter dan dua pesawat herkules juga telah bersiap-siaga di Bandara Tabing. Kemarin (Kamis, 20/03/2014), Menko Kesra Agung Laksono, hadir langsung memimpin acara gelar pasukan penanggulangan bencana di Lanud Tabing.

Ribuan orang dilibatkan dalam acara yang dipimpin langsung oleh kepala BNPB Syamsul Maarif ini. Sebanyak 18 negara ikut dalam kegiatan yang bertajuk Mentawai Megathrust Direx 2014. Wakil Presiden Boediono juga akan hadir langsung dalam acara besar ini.

Sejumlah tokoh dan masyarakat setengah kuatir dan curiga bertanya kepada saya. Apakah ini berarti Megathrust Earthquake (gempa dahsyat diikuti tsunami) itu benar-benar segera akan terjadi? Apakah peristiwa itu akan terjadi dalam beberapa hari ini atau dalam minggu ini? Kenapa persiapannya serius sekali?

Berkali-kali saya menjawab dan menegaskan, bahwa tak seorangpun yang tahu kapan peristiwa itu terjadi. Juga tak seorangpun yang tahu dimana peristiwa itu terjadi dan berapa kekuatan gempa dan tsunami tersebut.

Para ahli cuma bisa memprediksi atau meramalkan akan terjadi gempa dan perkiraan dimana gempa tersebut berpotensi terjadi. Namun tak seorangpun bisa memastikan kapan dan dimana peristiwa itu terjadi. Dulu banyak ahli meramalkan megathrust akan terjadi di Mentawai pasca gempa 8,9 skala richter yang meluluh lantakkan Sumatera Barat tahun 2009.

Namun Alhamdulillah peristiwa tersebut tidak terjadi di Sumatera Barat, tsunami dan gempa dahsyat justru terjadi di Jepang pada bulan Maret tahun 2011. Kita turut sedih dan prihatin dengan musibah yang melanda negara yang terkenal maju teknologinya tersebut. Mereka sangat peduli dan banyak membantu saat terjadi gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Barat.

Dalam sambutannya saat gelar pasukan kemaren, Menko Kesra mengatakan, latihan ini diadakan belajar dari pengalaman  yang kita petik saat terjadi gempa dan tsunami tahun 2004 di Aceh. Saat itu 200.000 penduduk menjadi korban meninggal dunia dan sungguh tak ternilai kerugian harta benda yang terjadi. Maka karena itu, latihan ini dilakukan untuk memperkecil resiko kerugian harta dan nyawa, jika peristiwa itu terjadi.

Latihan ini sudah dipersiapkan dan direncanakan jauh hari sebelumnya. Hanya saja karena berbagai hal dan kendala, baru tahun ini bisa terlaksana. Latihan ini melibatkan berbagai stake holder, seperti TNI, Polisi, Kesehatan, SAR, BNPB, PU,PMI, Tagana, Komunikasi dan lainnya, sehingga satu sama lainnya saling bersinergi. Dalam latihan peran masing-masing unsur tersebut diujicoba dan dikoordinasikan, agar jika terjadi peristiwa sebenarnya, masing-masing unsur bisa menjalankan tugas dan perannya masing-masing dan terkoordinasi secara baik.

Semua ikhtiar itu tentu perlu dan malah wajib kita lakukan. Namun setelah semua upaya dan ikhtiar dilakukan semaksimal mungkin, tahap berikutnya yang perlu kita lakukan adalah berdoa. Seperti firman  Allah: “Berdoalah kamu, niscaya Tuhan akan mengabulkannya.” Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Allah akan pindahkan suatu bencana ke tempat lain, jika ummat di daerah tersebut bertaqwa dan berdoa.”

Mari kita berdoa bersama semoga bencana tersebut tidak terjadi di ranah tercinta ini serta melakukan antisipasi dan persiapan sebaik mungkin, sebelum bencana itu terjadi. (Maret 2014)

133. Menata Ruang dan Wilayah

Menata Ruang dan Wilayah

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal  yang membuat kita merasa tidak nyaman. Di perkotaan misalnya, kian hari lalulintas makin padat. Akibatnya  kemacetan terjadi di banyak tempat. Dulu perjalanan Padang – Bukittinggi bisa di tempuh dalam waktu 2 jam, kini memakan waktu 3 bahkan sampai 5 jam.  Tidak hanya itu, angka kecelakaan lalu lintas juga meningkat.

Di musim hujan seperti saat ini kita segera menjadi was-was dan cemas. Curah hujan yang deras dan berdurasi panjang, biasanya akan diikuti dengan berbagai bencana. Bisa jadi berupa banjir, galodo, atau  longsor seperti yang terjadi di Lembah Anai baru-baru ini.

Wilayah Sumatera Barat memang memiliki karakteristik yang unik. Daerah ini terdiri dari banyak gunung, bukit-bukit dan lembah dan sungai, laut  dan memiliki lahan yang subur. Hal ini menyebabkan Sumatera Barat memiliki pemandangan alam dan panorama yang indah. Banyak orang terpesona dengan panorama alam  Sumatera Barat dan menjuluki daerah ini sebagai jannah (surga).

Namun di balik keindahan panorama alam tersebut tersimpan potensi ancaman. Topografi wilayah Sumatera Barat yang terbentuk oleh gunung, bukit dan lembah tersebut memiliki kemiringan sedang hingga sangat ekstrim.  Karena itu wilayah Sumatera Barat harus ditangani secara khusus dan ekstra hati-hati agar potensi alam yang berlimpah yang seharusnya memberi manfaat kepada masyarakatnya, justru berbalik menimbulkan mudarat kepada masyarakat.

Bentang alam wilayah Sumatera Barat yang berbukit-bukit, subur dan memiliki banyak sungai membuat masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan pertanian. Masyarakat membuat sawah berjenjang-jenjang mengikuti topografi lahan dan bentang alam. Hal ini makin membuat indahnya pemandangan, sekaligus efisiensi biaya. Dengan pola ini petani tidak perlu memompa air dari dalam tanah untuk menyiram tanaman, atau menyiram tanaman menggunakan helikopter seperti yang dilakukan di negara lain. Cukup menggunakan grafitasi, mengikuti aliran air. Biarkan alam yang menyiramnya secara gratis.

Namun jika tidak berhati-hati dan ditata secara baik, potensi yang berlimpah tersebut bisa berubah menjadi bencana.  Hal ini telah pernah kita alami dan telah terjadi di beberapa tempat.  Galodo, banjir, longsor, telah pernah sama-sama kita rasakan. Kondisi cuaca yang ekstrim saat ini mebuat kita makin waspada dan ekstra hati hati.

Potensi alam dan sumberdaya manusia memang sering seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dia bisa membuat manusia menjadi senang dan sejahtera, namun jika tidak pandai memangelola dan memanfaatkannya  juastru berubah menjadi bencana.

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat misalnya bisa membuat masyarakat lebih nyaman, bisa beli motor, mobil, membuat villa atau membuka usaha baru. Namun karena terlalu banyak mobil, jalan menjadi macet, menimbulkan kecelakaan  yang pada akhirnya menyebabkan ketidak nyamanan. Pembukaan dan penggunaan lahan yang tidak benar justru bisa menimbulkan bencana. Begitu juga ekploitasi sumber daya alam secara tidak benar dapat menimbulkan kehancuran sumberdaya alam.

Karena itu Pemerintah Provinsi Sumatera Barat  bersama DPRD dan  masyarakat telah  menyusun Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2013 tentang rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat tahun  2012 – 2032.  Dalam peraturan setebal 179 halaman ini telah diatur tatacara penggunaan ruang dan wilayah propinsi Sumatera Barat serta sumber daya alamnya.

Tentu saja  sebanyak apapun aturan dibuat dan sebaik apapun aturan tersebut, tak kan ada gunanya jika masyarakat dan aparat pemerintah tidak melaksanakannya. Mari kita tata lingkungan kita secara baik, kita manfaatkan potensi alam kita secara bijaksana agar kita bisa hidup nyaman dan alam kita yang elok dan kaya tetap terjaga kelestariannya  sampai ke anak cucu kita kelak. (Desember 2013)

134. Energi Selaras Alam

Energi Selaras Alam

Kita tentu bisa merasakan atau membayangkan  jika di suatu wilayah tiba-tiba listrik padam total. Banyak pekerjaan tak bisa dilakukan karena komputer tak menyala. Komunikasi terputus karena telepon/handphone tak berfungsi. Ibu-ibu mengeluh karena makanan rusak akibat lemari pendingin juga tak berfungsi. Air tak mengalir, lampu lalu lintas tak menyala , kendaraan bermotor pun bisa mogok berjalan karena pompa bensin juga tidak berfungsi tanpa listrik.

Panjang sekali daftar hal-hal penting yang tak berfungsi akibat listrik tak tersedia. Kehidupan di zaman modern seperti saat ini memang sangat tergantung pada listrik. Manusia butuh energi untuk menggerakkan kehidupannya di hampir semua lini.

Saat ini kita beruntung masih punya alternatif, jika pasokan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara) terhenti, masyarakat menggantinya dengan genset, pembangkit listrik mini, sekedar untuk memenuhi kebutuhan listrik keluarga untuk sementara. Maka, jika listrik PLN tak menyala, jumlah penjualan genset langsung meningkat tajam, diiringi dengan meningkatnya jumlah pemakaian bahan bakar minyak (BBM).

Tapi, pernahkan kita berpikir dan membayangkan jika suatu saat, listrik benar-benar padam total, tak ada genset yang bisa digunakan karena bahan bakar minyak tidak tersedia lagi?  BBM merupakan sumber energi yang tidak terbarukan, suatu saat BBM akan musnah di muka bumi.  Jika listrik tak menyala, bahan bakar tak tersedia, apa yang akan terjadi?

Syukurlah ada para ahli dan pemikir yang berkreasi menciptakan teknologi yang mampu menghasilkan listrik tanpa menggunakan BBM. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA), misalnya, telah lama ditemukan. Sumber energi ini  telah lama populer dan terbukti ramah lingkungan, menghasilkan daya listrik yang cukup besar dan tanpa butuh BBM setetespun.

Namun keterbatasannya, tidak semua daerah memiliki sumber air yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Kebutuhan akan listrik terus bertambah dan bertambah, sehingga perlu dicari sumber pembangkit energi lain yang ramah lingkungan, tidak membutuhkan BBM dan bisa terbarukan.

Ternyata Allah memang Maha Benar dengan segala firmanNya. “Bumi dan langit beserta isinya diciptakan untuk orang yang berpikir.” Di perut bumi tersedia energi yang luar biasa besar potensinya berupa panas bumi (geo thermal). Di langit terpapar energi berupa cahaya matahari (solar power) dan energi angin yang sungguh tak terkira jumlahnya. Di permukaan bumi juga terdapat aneka ragam tumbuhan yang bisa menghasilkan bahan bakar (bio diesel) pengganti bahan bakar minyak (BBM). Sedangkan di laut tersedia potensi gelombang yang juga dimanfaatkan sebagai pembangkit energi (listrik). Manusia disuruh memikirkan bagaimana cara memanfaatkan energi yang masih tersimpan tersebut.

Semua sumber energi tersebut yang saat ini masih belum termanfaatkan secara optimal disebut sebagai sumber energi masa depan, sumber energi  yang selaras dengan alam. Kita bersyukur karena Sumatera Barat memiliki semua potensi energi masa depan tersebut, malah bisa disebut lebih unggul. Indonesia tercatat memiliki potensi geothermal terbesar di dunia, sekitar 40 persen potensi itu berada di Sumatera Barat. Saat ini potensi geothermal Sumatera Barat itu sudah pada tahap ekplorasi dan akan menyala dan siap pakai berupa listrik tak lama lagi. Pekerjaaan pembangkit listrik geothermal sedang berlangsung di Muara Labuh Solok Selatan. Insya Allah akan menyusul di daerah lain yang juga memiliki potensi serupa.

Topografi wilayah Sumatera Barat yang sangat variatif, memiliki banyak bukit dan gunung, juga membuat daerah ini memiliki potensi  air yang sangat besar untuk dijadikan pembangkit listrik. Sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkapasitas besar telah berhasil dibangun dan masih berpotensi untuk bisa dibangun lagi. Sedang potensi pembangkit listrik tenaga air mini (PLTAM/PLTMH)  bisa ditemukan tersebar di berbagai daerah di Sumatera Barat, menunggu untuk dimanfaatkan. Energi surya, energi angin, gelombang laut juga tersedia berlimpah sepanjang hari dan sepanjang tahun di Sumatera Barat juga menunggu untuk segera dimanfaatkan.

Melihat kondisi yang berkembang saat ini, masyarakat Sumatera Barat tentu sepakat untuk menggunakan konsep pemanfaatan energi selaras alam. Memanfaatkan energi yang tersimpan di alam, tanpa merusak alam. Animo masyarakat Sumbar untuk menggunakan konsep ini telah terlihat dan dihargai oleh Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral dengan memberikan penghargaan “Energi Prabawa”.

Meski belum sempurna, namun ini sebuah awal yang baik untuk langkah berikutnya. Jika semua berjalan lancar, dengan dukungan masyarakat dan semua pihak, tak lama lagi Sumatera Barat akan menjadi lumbung energi selaras alam. Jika saat ini Riau menjadi daerah kaya dan karena surplus energi berupa BBM, bukan tak mungkin suatu saat nanti roda itu berputar, Sumatera Barat justru yang menjual energi ke Riau, berupa energi selaras alam yang ramah lingkungan.  Artinya, bukan tak mungkin, kesejahteraan itu pada gilirannya menjadi milik masyarakat Sumatera Barat. Amiin. (Agustus 2014)

 

BAB 8 ARTIKEL 2016 – 2018

135. 2015-08-12 [Padek] Karakter dan Model Investasi Sumbar

  

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bahwa masyarakat Sumatera Barat perlu sejahtera, itu sudah pasti. Karena itu pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat harus meningkat, pendapatan masyarakat harus terus bertambah.

Lalu strategi manakah yang akan dipakai untuk mendongkrak (leverage) pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumatera Barat yang pada akhirnya mampu mensejahterakan masyarakat?

Untuk memilih pola mana yang akan digunakan, perlu mempertimbangkan dulu budaya, karakter wilayah Sumatera Barat serta karakter masyarakatnya. Hal ini penting dipertimbangkan agar upaya pengembangan ekonomi yang dilakukan tepat sasaran, mengena dan berkelanjutan (sustainable).

Sebut saja sejumlah perusahan besar seperti Sumatex Subur, Asia Biscuit, Rimba Sunkyong, Polyguna Nusantara dan lain-lain, tak lama beroperasi di Sumbar, lalu mati. Hanya PT. Semen Padang, satu-satunya perusahaan skala besar yang mampu bertahan di Sumbar hingga kini. Hingga saat ini, telah 10 kali pergantian Gubernur di Sumbar, sepanjang masa tersebut belum ada investasi besar yang sukses dan bertahan di Sumatera Barat, kecuali PT. Semen Padang yang didirikan sejak zaman Belanda tahun 1910.

Selama ini investasi di bidang industri besar memang tidak nampak menyolok di Sumbar, namun investasi di bidang lain dari tahun ke tahun semenjak 2010 hingga kini terus meningkat misalnya untuk bidang pariwisata (seperti perhotelan, restoran), home industri, UMKM, energi panas bumi dan lain-lain.
Kita tentu tidak ingin hal serupa terus terjadi. Untuk apa bersusah payah menarik investor ke Sumatera Barat, jika hanya jalan sebentar, lalu kolaps dan mati. Untuk itu akar persoalannya harus dicari agar didapat solusi yang tepat dan ditemukan model investasi dan pola pengembangan ekonomi yang cocok untuk Sumatera Barat.

Secara sederhana ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan jika melakukan investasi atau pengembangan ekonomi di Sumatera Barat. Pertama adalah faktor budaya kedua faktor wilayahnya dan ke tiga adalah faktor karakter masyarakatnya. Budaya masyarakat Sumatera Barat sangat spesifik, sangat religius, terkenal dengan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Produk industri yang bertentangan dengan agama/budaya pasti ditolak, begitu pula investor yang tidak memperhatikan budaya dan kearifan lokal juga tidak diterima masyarakat. Kenyataan lapangan sangat jauh berbeda dengan teori-teori yang ada dalam texbooks.

Dari aspek wilayah, Sumatera Barat didominasi oleh pergunungan dengan kemiringan rata-rata di atas 45 persen. Karena itu lebih dari 60 persen wilayah Sumatera Barat adalah Hutan Lindung yang jika salah dalam pengelolaannya justru akan menimbulkan bencana bagi masyarakatnya. Sumbar secara wilayah terletak jauh dari pasar dan raw material industri sehingga kurang efisien, biaya transportasi menjadi tinggi.

Ditinjau dari karakter masyarakat, masyarakat Sumatera Barat terkenal sebagai etnik yang egaliter. Mereka lebih suka bekerja mandiri dibandingkan sebagai buruh. Etnik Minang memiliki energi positif, tidak cepat puas dan selalu ingin lebih maju dan lebih baik. Mereka terkenal sebagai pedagang yang ulet dan sungguh-sungguh . Mereka juga lebih suka menjadi raja kecil di perusahaan kecil daripada menjadi buruh di perusahaan besar.

Karena itu banyak masyarakat Minang lebih memilih menjadi pengusaha UMKM dibandingkan menjadi buruh pabrik atau buruh bangunan. Data menunjukkan 84 persen pengusaha di Sumbar adalah usaha mikro dan 14 persen sebagai pengusaha skala kecil.
Hal ini juga bisa dilihat dari peluang-peluang kerja yang tersedia di Sumatera Barat setiap tahunnya. Setiap tahun sektor konstruksi dan bangunan membutuhkan ribuan tenaga kerja, namun peluang kerja yang terbuka ini umumnya tidak dilirik oleh masyarakat Sumatera Barat sendiri. Peluang kerja ini justru sebagian besar diisi oleh pekerja dari Jawa dan sekitarnya. Begitu juga pekerjaan sebagai buruh tani/perkebunan, pelayan rumah makan, misalnya, juga lebih banyak diisi oleh warga asal luar Sumatera Barat.

Padahal di Sumatera Barat sendiri masih banyak penduduk yang dalam usia kerja masih belum mendapatkan pekerjaan. Mereka umumnya berpendidikan tinggi dan menunda bekerja hingga menemukan pekerjaan yang sesuai dengan apa mereka inginkan.
Data dari Disnaker menyebutkan tidak ada tenaga kerja dari Sumatera Barat yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (TKW) dan tidak ada yang dikirim ke luar negeri sebagai pekerja sektor non formal. Sekitar 1400 pekerja asal Sumbar yang setiap tahunnya bekerja di luar negeri bekerja di sektor formal.

Uniknya di Sumatera Barat kemiskinan tidak berkorelasi dengan jumlah pengangguran, sebagaimana di provinsi lain. Kemiskinan di Sumatera Barat jauh di bawah rata-rata nasional, namun pengangguran di Sumatera Barat lebih tinggi, 0,1 persen di atas rata-rata nasional. Hal ini menggambarkan bahwa Masyarakat Sumatera Barat lebih selektif memilih tempat mereka bekerja dan jumlah pendapatan yang akan mereka terima.

Di sisi pemilik usaha, mereka cendrung memilih pekerja asal luar Sumatera Barat (terutama Jawa) dengan alasan pekerja asal Jawa tidak memilih-milih jenis pekerjaan, siap bekerja kasar di lapangan, tidak harus bekerja di kantoran dan upah lebih rendah. Hal ini bukan mitos, tetapi merupakan fakta yang telah terjadi sejak lama hingga sekarang.

Dari diskusi dengan sejumlah pengusaha dan ekonom, menurut mereka karakter masyarakat itulah yang membuat beberapa perusahaan dengan pola padat karya tidak bertahan lama di Sumatera Barat. Berbeda dengan di Jawa, perusahaan-perusahaan padat karya seperti pabrik sepatu, pabrik rokok, pabrik tekstil, dan sejenisnya bisa jalan dan bertahan lama.
Namun itu bukan berarti investasi tidak bisa dilakukan dan industri tidak bisa dibangun di Sumatera Barat. Nyatanya PT Semen Padang bisa bertahan, Rumah Makan Padang, indsutri kecil dan home industri juga terus tumbuh menjamur dimana-mana.

Ternyata industri yang cocok untuk orang Minang adalah industri yang menggunakan teknologi tinggi, butuh skil untuk bekerja di sana, bukan sebagai pekerja kasar seperti buruh pabrik, buruh bangunan dan sejenisnya. Mereka juga lebih menyukai usaha/pekerjaan yang bersifat mandiri.

Sedangkan untuk pertanyaan kenapa usaha Rumah Makan Minang juga bisa bertahan, jawabannya adalah sistem yang digunakan adalah sistem kerjasama, bukan pola buruh dan majikan. Umumnya sistem kerja di bidang pertanian juga dengan pola kerjasama dengan sistem bagi hasil seduaan atau sepertigaan. Di sini juga tidak berlaku pola hubungan kerja buruh dan majikan. Industri rumahan seperti sepatu, songket, bordiran, sulaman, konveksi, pengolahan hasil pertanian/perkebunan, makanan, juga dilakukan dengan sistem kerjasama.

Kenyataan ini bukanlah sebuah kelemahan yang harus kita nafikan. Menurut saya ini adalah sebuah energi positif etnis Minang yang selalu ingin lebih baik, lebih maju, tidak cepat puas dan ingin mandiri. Energi ini harus disalurkan pada tempatnya secara proporsional. Energi ini pula yang menyebabkan banyak warga etnis Minang menjadi orang-orang sukses dan menjadi tokoh di pentas nasional.

Karena itu tidak perlu dipaksakan untuk memasukkan investasi ke Sumatera Barat jika memang tidak sesuai dengan karakter dan keinginan masyarakat daerah ini, jika tidak ingin kegagalan-kegagalan seperti sebelumnya terulang lagi. Bahkan investasi yang investornya non muslim atau non pribumi juga menjadi persoalan prokontra di Sumbar. Selain itu investasi yang berpotensi merusak harga pasar pun bisa menimbulkan persoalan. Investasi seperti ini dikuatirkan akan mematikan pengusaha lokal mikro dan kecil.

Memilih investasi dan investor yang tepat memang sangat penting. Model pengembangan UMKM dan industri rumahan (home industri) nampaknya adalah di antara bentuk usaha yang cocok dikembangkan sebagai langkah awal pengembangan usaha di Sumatera Barat.

Jepang sendiri sebagai negara industri raksasa mengandalkan home industri untuk mendukung industrinya. Pabrik mobil, misalnya, hanya komponen-komponen utama yang butuh teknologi tinggi saja yang diproduksi di pabrik induk, sedangkan komponen-komponen lain diproduksi oleh industri rumah tangga. Begitu juga barang-barang elektronik, pembuatannya tidak hanya di satu pabrik terpusat, tetapi dibagi-bagi menjadi beberapa komponen terpisah, bahkan komponen-komponen tersebut juga ada yang diproduksi di negara lain. Belakangan tidak hanya Jepang, negara-negara maju lainnya di Eropa juga melakukan hal serupa.

Banyak bukti menunjukkan bahwa pengusaha-pengusaha besar memulai karirnya dari UMKM. UMKM terbukti bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang, UMKM juga cocok dengan sifat egaliter etnis Minang yang lebih suka menjadi raja kecil di perusahaan kecil, dibanding menjadi buruh di perusahaan besar. Namun suatu saat, seperti yang telah banyak terjadi, tentu ia juga ingin naik kelas dan tidak tertutup peluang bagi mereka untuk menjadi raja besar di perusahaan besar.

Model yang cocok untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Sumatera Barat adalah dengan metode pemberdayaan, bukan dengan membangun industri padat karya seperti di daerah lain. Tugas pemerintah adalah memberikan stimulan, pembinaan, pelatihan, membantu modal, sehingga bermunculan usaha-usaha kecil dan mikro lalu memfasilitasi dan membina usaha tersebut sehingga tumbuh dan berkembang menjadi usaha-usaha besar dan mapan. Pola seperti ini memang butuh waktu, butuh dukungan banyak pihak (multi stake holders), termasuk perguruan tinggi. Pola pendekatan seperi ini memang tidak langsung terlihat perkembangan dalam waktu singkat. Namun strategi ini lebih tepat dan dampaknya bertahan lama. Pola pemberdayaan cocok untuk Sumatera Barat karena masyarakat Sumatera Barat memiliki potensi dan kemampuan dasar yang bisa dikembangkan.

Jika kita benar-benar memperhatikan aspek budaya, kondisi wilayah dan karakter masyarakat Sumatera Barat yang spesifik seperti yang dibahas di atas, in-sya Allah, model investasi dan pola pengembangan ekonomi akan berjalan dengan baik dan bertahan lama. Model ini telah diterapkan pada enam Program Gerakan Pembangunan yang telah dilaksanakan di Sumatera Barat sejak tahun 2011. Hasilnya memang tidak langsung dan cepat terlihat seperti membalikkan telapak tangan. Namun program ini langsung menyentuh masyarakat di akar rumput, langsung mencapai titik-titik sumber permasalahan. ***

Padang Ekspres, 12 Agustus 2015

 

136. 2015-09-04 [Padek] Aksi Sejuta Lidi

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Ide yang dilontarkan Ibnu dan kawan-kawan, alumni  SMA 3 Padang tahun 2015 sebenarnya sederhana saja. Anak muda ini dan kawan-kawan ingin memberikan sesuatu sebagai tanda cintanya untuk Kota Padang. Ibnu dan kawan-kawan ingin membebaskan Pantai Muaro Sungai Lasak-Purus Kota Padang dan sekitarnya dari sampah yang merusak pemandangan.

Lalu sejumlah kawan-kawan alumni SMA 3 Padang ia kumpulkan, sejumlah pihak ia hubungi untuk bisa ikut mebantu. Agar kegiatan pembersihan pantai itu menjadi menarik dan tidak membosankan, di tempat dan saat yang sama juga diadakan pentas seni dan sejumlah lomba. Acara itu lalu diberi judul Pentas Sejuta Aksi, Aksi Sejuta Lidi, Kreasi Sejuta Aksi.

Pada awalnya saya agak miris melihat pemandangan di lokasi acara tersebut. Dimana-mana sampah berserakan, saya jadi bertanya,  apakah ini tempat wisata ataukah tempat pembuangan sampah? Padahal lokasi tersebut adalah salah satu destinasi wisata andalan Kota Padang. Sungguh seperti siang dan malam jika dibandingkan dengan destinasi wisata di daerah lain, apalagi jika dibandingkan  dengan objek wisata di negara lain seperti Malaysia, Singapura, atau Jepang.

Usai melantunkan beberapa buah lagu untuk memberi semangat, tanpa banyak komentar lagi, kami langsung memungut sampah-sampah yang bertebaran, lalu memasukkannya ke dalam tong sampah bantuan dari PT. Coca-cola. Sebagian kawan lainnya bertugas menyapu dengan sapu lidi yang juga sudah disediakan.

Melihat sejumlah kawan dan saya sendiri sudah turun tangan memungut sampah, yang lain juga tak tinggal diam, termasuk karyawan PT. Coca-cola, BNI  dan sponsor lainnya. Warga sekitar Muaro Lasak pun tak mau ketinggalan ikut berpartisipasi memungut sampah.

Ternyata dengan bergotong-royong tak butuh waktu lama untuk menyingkirkan sampah- sampah yang merusak keindahan panorama pantai tersebut. Hanya sekitar 1 jam bergotong-royong, lokasi yang sebelumnya penuh sampah berubah menjadi bersih dan membuat suasana berubah menjadi nyaman. Sampah yang sebelumnya berserakan telah dikumpulkan dan selusin tong sampah besar yang disediakan telah terisi penuh.

Melihat hasil kerja gotong royong massal yang cukup baik tersebut saya jadi berandai-andai. Andai saja masing-masing sekolah, perguruan tinggi yang ada Kota Padang yang ribuan jumlah murid, mahasiswa dan almamaternya turun bergotong royong membersihkan tempat-tempat umum yang ada di Kota Padang, pastilah dalam waktu singkat tempat-tempat tersebut bersih seketika. Kantor-kantor, instansi juga memiliki karyawan ratusan atau ribuan orang jumlahnya juga bisa ikut berpartisipasi.

Alangkah indahnya jika hal itu terwujud. Suatu saat Kota Padang, bahkan semua kota dan daerah di Sumatera Barat bersih, rapi dan indah sampai ke pelosok-pelosok sekalipun. Ditambah lagi dengan masyarakatnya ramah, rukun, bersahabat dan taat beribadah. Jika sudah demikian, tidak hanya investor yang datang mengantar rezeki, Tuhan pun lebih lagi ikut mencurahkan rezkinya.

Bercermin ke negara lain yang lebih maju dan daerahnya terkenal bersih, peran pemerintah untuk mengelola kebersihan kota memang sangat penting. Pemerintah perlu menyediakan sarana dan pra sarana kebersihan serta regulasi berupa aturan maupun
ajakan agar masyarakat ikut berpartisipasi menjaga kebersihan.

Namun pengalaman membuktikan bahwa justru  peran masyarakat jauh lebih penting. Kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, jauh lebih besar dampaknya dibandingkan dengan memperbanyak petugas kebersihan.  Bisa kita bayangkan jumlah total penduduk kota Padang lebih dari 800.000 jiwa, sementara petugas kebersihan hanya puluhan orang saja. Tentu saja jumlah ini sangat tidak seimbang.

Karena itu di negara-negara maju justru kesadarannya masyarakatnya yang lebih berperan, jumlah petugas kebersihan malah lebih sedikit.  Di Singapura atau di Jepang misalnya, kita tidak menemukan selembar sampahpun berserakan. Karena memang tidak ada satu orangpun  masyarakat di sana yang membuang sampah sembarangan. Sampah bekas kemasan makanan masing-masing atau sisa makanan selalu mereka buang di tempat sampah, atau mereka simpan sementara dalam tas masing-masing  sampai menemukan tempat sampah.

Saya yakin, jika hal serupa juga kita lakukan, kita juga bisa memiliki kota dan daerah yang bersih, tak kalah dengan kota terbersih di dunia lainnya. Islam telah mengajarkan bahwa kebersihan itu penting malah dikatakan bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman.

Gerakan kebersihan juga seperti lidi, jika hanya sebatang lidi saja yang diandalkan untuk menggerakkan kebersihan, tak kan banyak  berarti. Tetapi jika dilakukan dengan banyak lidi bersama-sama membentuk sapu lidi, sapu lidi diperbanyak lagi menjadi jutaan sapu lidi, Insya negeri ini akan menjadi bersih dan nyaman.***

Padang Ekspres, 4 September 2015

 

137. 2015-09-10 [Singgalang] Kekerasan Seksual Pada Wanita dan Anak

KEKERASAN SEKSUAL PADA WANITA DAN ANAK

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Kita tentu masih ingat peristiwa heboh yang terjadi sekitar bulan April tahun lalu. Dunia pendidikan gempar akibat terungkapnya kasus pelecehan seksual terhadap sejumlah murid  di Jakarta International School (JIS) Jakarta. Diduga kasus ini sudah lama terjadi dan telah merenggut banyak korban, namun baru saat itu muncul ke permukaan.

Berikutnya pada bulan November di tahun yang sama kita juga dikagetkan oleh peristiwa pembunuhan atas sekretaris  Presiden Direktur sebuah perusahaan telekomunikasi terkenal di Indonesia. Wanita berparas cantik itu diduga dibekab lalu ditenggelamkan dalam bak mandi hingga menghembuskan nafas terakhir.

Bulan  Juni lalu kita juga dikagetkan oleh kasus pembunuhan Angeline. Bocah malang berwajah polos yang masih berusia 8 tahun juga menjadi korban kekerasan. Sebelum dibunuh menurut pemeriksaan polisi ia juga mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Setelah dibunuh ia  dikubur di bawah kandang ayam.

Dari waktu ke waktu berbagai peristiwa kriminal terus terjadi silih berganti seperti tak habis-habisnya. Peristiwa krimiminal dan kekerasan yang membuat kita bergidik tersebut ramai menghiasi berita-berita utama media massa.  Nyaris setiap hari ada saja peristiwa perkosaan, kekerasan, perampokan, penculikan, pembunuhan yang terjadi. Namun yang perlu digaris bawahi, umumnya yang menjadi korban peristiwa kriminal, kekerasan atau pelecehan seksual tersebut bisa dipastikan adalah perempuan dan anak-anak.

Hal serupa juga terjadi di  Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Sumbar dan cendrung terus meningkat jumlahnya. Tahun 2012 kekerasan terhadap perempuan berjumlah 225 kasus, namun tahun berikutnya meningkat menjadi 322 kasus. Kasus kekerasan terhadap anak juga meningkat dari 300 kasus pada tahun 2012 menjadi 327 kasus pada tahun 2013.

Perempuan dan anak-anak memang  sering menjadi sasaran kejahatan dan kekerasan, penyebabnya adalah, anak-anak dan perempuan merupakan kelompok yang lemah. Dari zaman Nabi Adam dulu hingga kini perempuan selalu menjadi sasaran kejahatan. Bahkan di zaman jahiliyah perempuan tidak ada harganya sama sekali, dan banyak bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup sesaat setelah dilahirkan.

Perempuan dan anak-anak sering menjadi korban kejahatan karena mereka memang ditakdirkan memiliki kondisi fisik yang lemah. Karena itulah mereka sering menjadi korban kejahatan. Karena fisiknya lemah dan selalu menjadi korban, agar kejadian tersebut terus berlarut-larut, maka mereka perlu dilindungi.

Negara telah mengamanatkan untuk melindungi korban dan saksi tersebut melalui Undang-undang No 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Berdasarkan Undang-undang tersebut maka dibentuklah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Pada hari Rabu tanggal 2 September lalu bertempat di Hotel Grand  Inna Muara Padang, LPSK mengadakan Focus Group Discussion dengan judul Penanganan Korban Tindak pidana Kekerasan Seks Pada Perempuan dan Anak. Kebetulan saya diminta menjadi keynote speaker pada acara tersebut.

Masalah ini perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, baik dari pihak keluaega sendiri, unsur penegak hukum, unsur pendidik dan semua lapisan masyarakat. Menurut saya ada 4 langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah Kekerasan Seks Pada Perempuan dan Anak tersebut, yaitu promote, preventif, protektif dan kuratif. Promote dalam arti memberikan pengetahuan terhadap perempuan dan anak tentang kekerasan seksual, preventif dalam arti mencegah agar tidak terjadinya kekerasan seksual. Protektif dalam dalam arti melindungi mereka dari kemungkinan terjadinya tidakan kekerasan seksual dan kuratif dalam arti merawat dan mengobati mereka yang menjadi korban kekerasan seksual, baik fisik maupun mental.

Namun pilihan terbaik  tentu adalah mencegah jangan sampai peristiwa tersebut terjadi, multistake holders harus bekerja keras dan saling bersinergi agar kejadian buruk itu tidak terjadi lagi. Lindungi keluarga kita, wanita dan anak-anak kita jangan sampai menjadi korban peristiwa mengerikan itu lagi.  ***

Singgalang, 10 September 2015

 

138. 2015-11-02 [Padek] Sumpah Pemersatu Bangsa

SUMPAH PEMERSATU BANGSA

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Fakta sejarah membuktikan bahwa Bangsa Belanda berhasil menjajah Indonesia selama 350 tahun (tiga setengah abad). Rentang waktu tersebut bukanlah masa yang pendek, malah terlalu lama. Strategi utama yang dilancarkan Belanda sehingga mereka bisa terus bercokol Indonesia terkenal dengan nama politik devide et impera.

Dalam bahasa Indonesia strategi politik devide et impera diterjemahkan sebagai politik adu domba atau politik pecah belah. Politik devide et impera pada dasarnya adalah mencegah terbentuknya suatu kelompok besar atau kekuatan besar yang solid (kompak). Jika terbangun kelompok yang besar, kuat dan solid di bumi Indonesia saat itu, tentulah dengan mudah penjajah Belanda bisa diusir dari bumi Indonesia.

Politik adu domba saat itu dilaksanakan dengan mengadu domba sejumlah kerajaan-kerajaan kecil yang banyak terdapat di Indonesia. Di Sumatera kala itu terdapat sejumlah kerajaan, di Jawa juga tumbuh sejumlah kerajaan. Begitu juga di Kalimantan, Sulawesi, Papua dan daerah lainnya. Raja yang satu diadu domba dengan raja lainnya, kelompok yang satu juga dibenturkan dengan kelompok lainnya. Demikian juga tokoh-tokoh yang dianggap berpengaruh saat itu tak ketinggalan jadi sasaran adu domba.

Strategi politik ini ternyata berhasil. Sepanjang 350 tahun Kolonial Belanda berkuasa memang tidak terjadi pemberontakan yang berarti. Letupan-letupan kecil yang muncul ke permukaan segera dapat diredakan, bangsa Indonesia yang di adu domba tidak berdaya, sibuk berbenturan dengan sesama bangsa sendiri.

Belakangan baru bangsa Indonesia menyadari kekeliruan mereka. Di sejumlah daerah kemudian muncul gerakan-gerakan yang lebih terkoordinir yang bersifat kedaerahan. Gerakan ini terutama diorganisir oleh pemuda dan pelajar Indonesia yang jumlah mulai banyak saat itu.

Puncak gerakan itu terjadi pada tahun 1928 yaitu saat dilaksanakannya Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober di Batavia. Semua organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. sepakat untuk bersatu-padu menghimpun kekuatan bersama untuk mengusir penjajah. Mereka sepakat untuk tidak mau lagi menjadi bulan-bulanan oleh politik adu domba Belanda.

Ketua panitia kongres saat itu Sugondo Djojopuspito didukung oleh tokoh lainnya sepakat untuk mengikrarkan Soempah Pemoeda (Sumpah Pemuda). Ikrar itu adalah sumpah untuk bersatu padu, menyatakan bahwa semua bangsa Indonesia adalah satu kesatuan, memiliki tanah tumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yaitu Indonesia.

Naskah Sumpah Pemuda disiapkan oleh sekretaris panitia yang juga putra Sumatera Barat Mr. Muhammad Yamin. Saat itu pula lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan WR Soepratman pertama kali dikumandangkan. Sejak saat itu semangat bersatu bangsa Indonesia mulai bergelora, mereka tak mau lagi dipecah belah oleh politik devide et Impera.

Melalui momen Sumpah Pemuda tahun ini kita berharap semangat persatuan dan kesatuan yang telah membara sejak tahun 1928 itu dan telah terbukti mampu mempersatukan kekuatan Bangsa Indonesia kembali berkobar. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku dan berbagai agama memang berpeluang untuk dipecah belah lagi dengan politik devide et impera. Perbedaan agama, perbedaan daerah, perbedaan suku, tanpa kita sadari memang sering dijadikan alat untuk mengadu domba. Belakangan perbedaan pilihan, perbedaan orientasi politik juga bisa dimanfaatkan pihak lain untuk memecah belah.

Mari kita nyalakan lagi semangat kesatuan dan persatuan yang dulu telah berhasil mempersatukan Indonesia serta mengenyahkan penjajah dari Bumi Indonesia tercinta ini. Meski kita berbeda pulau, etnis, agama, pilihan dan orientasi politik mari kita bersumpah dalam hati masing-masing bahwa kita adalah satu, kita semua bersaudara, berbangsa, bertanah air satu dan berbahasa satu: Indonesia. ***

Padang Ekspres, 2 November 2015

 

139. 2015-11-03 [Singgalang] Ayo Pemuda

AYO PEMUDA

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pemuda merupakan potensi yang luar biasa untuk membangun sebuah negara. Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno mengungkapkannnya dalam kata-kata bijak yang fenomenal dan masih populer hingga kini: “Berikan saya 1000 orang tua akan saya cabut Gunung Semeru sampai ke akar-akarnya. Berikan saya 10 pemuda, niscaya akan saya guncangkan dunia.”

Melalui ungkapan ini Bung Karno jelas ingin menggambarkan betapa penting dan luar biasanya potensi kekuatan dan semangat pemuda. Bersama 1000 orang tua ia mampu mencabut Gunung Semeru, tapi hanya 10 orang pemuda ia yakin mampu mengguncang dunia.

Tentu saja kata-kata Bung Karno tersebut bukan sekedar omongan kosong, sejarah telah membuktikan kebenarannya. Bung Karno bersama sejumlah tokoh pemuda Indonesia telah melakukan upaya pergerakan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai organisasi kepemudaan sejak berusia 26 tahun. Lalu beliau diangkat menjadi Presiden di saat berumur 44 tahun. Demikian juga dengan Bung Hatta. Beliau diangkat menjadi Wakil Presiden di saat berusia 43 tahun. Demikian juga tokoh-tokoh pelopor Sumpah Pemuda tahun 1928, rata-rata saat itu berusia di bawah 30 tahun.

Pada tahun 1965, di saat berusia 29 tahun, BJ Habibie mengguncang dunia dengan meraih gelar doktor di bidang aeronautika di Jerman. Putra Pare-pare Sulawesi Selatan ini meraih gelar doktor di Jerman dengan prediket summa cumlaude (nilai rata-rata 10). Tahun 1967 ia menemukan rumus yang di dinamai “Faktor Habibie” karena bisa menghitung keretakan atau crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Penemuan rumus yang menggemparkan dunia ini dan masih dimanfaatkan sampai sekarang, membuat ia di juluki sebagai “Mr. Crack”. Semua prestasi itu beliau ukir saat berusia belia.

Jika kita tanya siapakah gerbong penggerak utama peristiwa bersejarah reformasi tahun 1998? Maka jawabannya pastilah pemuda. Ini berarti yang berperan besar dalam memutar balikkan sejarah Indonesia dari era penjajahan ke era kemerdekaan adalah pemuda dan yang memutar balikkan sejarah Indonesia dari era orde baru ke era reformasi juga pemuda.

Dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW mensyiarkan agama Islam, peran pemuda juga menjadi andalan. Tentu saja Nabi membutuhkan pemuda-pemuda tangguh yang memiliki fisik yang kuat dan semangat juang yang tinggi, terutama saat terjun di medan perang.

Para ahli sepakat berpendapat, jika ingin melihat masa depan suatu bangsa dan negara, maka lihatlah kualitas generasi mudanya. Jika suatu negara memiliki banyak generasi muda (pemuda) yang baik, ulet dan berfikiran maju, maka niscaya negara tersebut segera menjelma menjadi negara maju. Sebaliknya jika negara tersebut memiliki banyak generasi muda bermental bobrok, loyo dan pemalas, maka tunggulah kehancuran.

Bagaimana dengan Sumatera Barat? Daerah ini sejak dulu terkenal sebagai penghasil tokoh-tokoh nasional dan pejuang kemerdekaan. Sebut saja sederet nama seperti M. Yamin, Agus Salim, Natsir, Hamka, M. Hatta dan banyak lainnya. Masyarakat Minang (Sumatera Barat) dari dulu hingga kini terkenal memiliki energi positif selalu ingin maju dan lebih maju. Selalu ingin lebih baik dan lebih baik lagi.

Umumnya warga Sumatera Barat sangat menyadari pentingnya arti pendidikan, pendidikan dianggap prioritas nomor satu bagi anak-anak mereka karena persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak kian hari kian sulit. Karena itu tidak heran jika berbagai lembaga pendidikan cukup berkembang baik di Sumatera Barat dan jumlah lulusan SLTA yang diterima di berbagai Perguruan Tinggi Negeri juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

Jika semangat dan energi positif itu terus dinyalakan dan dipelihara, saya yakin generasi muda Sumatera Barat akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan yang luar biasa untuk membangun Sumatera Barat menjadi daerah yang sejahtera dan bermartabat. Saya yakin betul dengan kekuatan dan potensi yang dimiliki pemuda (generasi muda pada umumnya). Karena itu saya selalu berusaha dengan berbagai cara untuk bisa dekat dengan mereka, menjalin komunikasi yang baik dengan mereka guna menangkap aspirasi mereka.

Wahai pemuda mari kita persiapkan diri untuk meraih masa depan yang lebih baik. Mari kita himpun semua potensi kalian yang luar biasa itu, mari saling bahu membahu untuk membangun dan mempersiapkan masa depan Sumatera Barat yang lebih. Mari kita sinsingkan lengan untuk membangun Sumatera Barat yang lebih sejahtera, sukses di dunia, juga sukses di akhirat. ***

Singgalang, 3 November 2015

 

140. 2015-11-20 [Singgalang] Bencana, Ikhtiar dan Doa

BENCANA, IKHTIAR DAN DOA

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bencana kabut asap baru saja berlalu. Tak terhitung jumlah kerugian yang ditimbulkannya. Ribuan orang terifeksi penyakit saluran pernafasan atas (ISPA), terutama anak-anak. Belasan orang meninggal dunia terpapar racun yang terbawa kabut asap.

Kabut asap juga melumpuhkan ekonomi, sejumlah penerbangan terpaksa ditunda bahkan dibatalkan. Beberapa bandara di Sumatera terpaksa ditutup untuk sementara akibat asap pekat yang menutup jarak pandang yang pada akhirnya bisa membahayakan lalu-lintas penerbangan. Berbagai transaksi dan aktifitas ekonomi tak bisa terlaksana, yang menyebabkan pelaku ekonomi merugi.

Berapa kerugian yang ditimbulkan terhadap bidang pertanian? Jumlah ini lebih sulit lagi untuk diperhitungkan dan diprediksi (un predictable). Selama berbulan-bulan matahari tak muncul di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama Sumatera, padahal matahari sangat penting dalam proses fotosintesa pada tanaman.  Tanpa proses fotosintesa yang baik, pastilah tanaman (baik padi, buah-buahan, sayuran dan sebagainya) juga tidak mampu berproduksi dengan baik. Jumlah produksi berbagai produk pertanian tersebut pastilah jauh menurun.

Tak  mudah memadamkan api yang terlanjur berkobar melahap  jutaan hektar hutan dan lahan gambut Indonesia yang menjadi penyebab utama terjadinya kabut asap. Sejumlah pesawat khusus yang dilengkapi alat pemadam api dikerahkan, sejumlah pesawat sejenis dari negara sahabat juga ikut membantu memadamkan api melalui udara. Pasukan pemadam kebakaran dan sejumlah relawan juga dikerahkan melalui jalur darat.

Masyarakat umum dan pemuka agama juga tak tinggal diam, mereka menggelar  shalat istisqa, memohon agar Tuhan menurunkan hujan untuk memadamkan api yang terus berkobar seolah-olah tak bergeming dipadamkan dengan berbagai alat modern dan paling canggih sekalipun. Kebakaran yang terjadi sudah terlalu luas dan api sudah terlanjur membesar. Kebakaran yang  terjadi sudah di luar kemampuan manusia untuk mengatasinya.

Alhamdulillah ternyata Tuhan memang maha pengasih. Hujansegera turun mengguyur Bumi Nusantara, api  yang tengah berkobar berangsur mati hingga tak ada lagi. Kabut asap secara perlahan berangsur sirna, langit kembali terlihat biru dan matahari kembali bersinar terang.

Namun bencana yang terjadi nampaknya tak berhenti sampai di situ. Hujan yang sebelumnya sangat diharapkan kedatangannya menjadi pahlaman pembasmi kabut asap dan penjinak api yang tak terkalahkan, ternyata juga bisa menjelma menjadi bencana. Di sejumlah tempat yang biasanya memang terkenal sebagai daerah rawan banjir, rahmat hujan berubah menjadi bencana. Di sejumlah daerah terjadi bencana banjir dan longsor. Bencana kembali menelan korban harta, benda bahkan  nyawa.

Salahkah alam? Tidak adilkan Tuhan kepada manusia sehingga berbagai bencana ditimpakan kepada manusia seperti tak habis-habisnya?

Alam diciptakan Tuhan dalam keadaan seimbang dan sempurna, memiliki ekosistem yang teratur dan seimbang. Manusialah yang menimbulkan kerusakan terhadap alam yang pada akhir menimbulkan bencana terhadap mereka sendiri. Hal itu telah disebutkan dalam Al Quran sejak belasan abad lalu.

Tindakan merusak alam seperti meludah ke langit, pada akhirnya akan berlalik lagi dan akan mengotori pelakunya sendiri. Membabat dan membakar hutan, membuang sampah, mencemari lingkungan (tanah, air dan udara) dengan zat-zat kimia dampak buruknya akan diterima kembali oleh manusia sendiri.

Untuk itu sejak dini mari kita berusaha, berikhtiar untuk menjaga kelestarian, keteraturan alam yang telah diciptakan Tuhan ini sebaik mungkin. Jangan membuang sampah, mencemari lingkungan dan merusak lingkungan yang mengganggu keseimbangan alam. Hanya bumi satu-satunya planet tempat manusia bisa hidup dengan nyaman, dilengkapi segala kebutuhannya. Tempat tinggal manusia selanjutnya selain bumi adalah akhirat.

Jika kita sudah berusaha bersungguh-sungguh menyelamatkan alam, mengantisipasi kemungkinan bencana yang akan terjadi, tentu resiko terkena dampak bencana tersebut bisa diperkecil. Namun disaat  bencana yang terjadi di luar perhitungan dan kendali manusia, tidak jalan lain, kita berserah diri pada Tuhan. Saat itulah doa menjadi alat perlindungan paling ampuh. Allah berfiman, “Berdoalah kamu, niscaya akan Aku kabulkan.”  Mari kita berikhtiar dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar negeri kita terhindar dari segala bencana. Aamiin. ***

Singgalang, 20 November 2015

 

141. 2015-12-21 [Singgalang] Petahana Bertumbangan

PETAHANA BERTUMBANGAN

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sebuah hal yang cukup menarik terjadi pada pilkada serentak tahun 2015 di Sumatera Barat, banyak calon petahana yang bertumbangan. Padahal jika melihat kondisi di luar Sumbar¸ seperti di Jawa, calon petahana adalah calon kuat untuk kembali menang. Seperti yang terjadi di Kota Surabaya, Kabupaten Karawang, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Gresik.

Calon petahana sudah memiliki modal selama 5 tahun untuk memenangkan pilkada, karena telah melakukan sosalisasi, kunjungan kerja hingga ke pelosok, mengunjungi masyarakat, eksekusi program-program pembangunan yang pro rakyat, serta berbagai kegiatan lainnya selama masa kepemimpinannya. Sehingga masyarakat bisa diambil hatinya untuk memilih mereka kembali.

Popularitas (keterkenalan) dan akseptabilitas (penerimaan) untuk meraih suara di pilkada seharusnya sudah dimiliki oleh para calon petahana karena sudah bekerja memimpin wilayahnya. Namun ternyata ini tetap belum menjadi jaminan bagi calon petahana untuk memenangkan pilkada berikutnya. Hasil hitung cepat (quick count) maupun hasil penetapan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat memperlihatkan hal tersebut. Petahana bertumbangan juga terjadi pada pilkada 2010.

Beberapa calon petahana yang bertumbangan itu di antaranya calon di Kabupaten Dharmasraya, Kota Bukittinggi, Kota Solok, Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman, dan Kabupaten 50 Kota. Banyaknya petahana yang bertumbangan ini bisa dimaknai adanya keinginan masyarakat di Sumbar untuk mendapatkan kepuasan yang lebih baik dari sebelumnya dari calon-calon yang ada. Jika masyarakat menganggap pemimpin sebelumnya belum bisa memberikan kepuasan maka akan dipilih calon baru yang dianggap bisa memberikan kepuasan lebih baik.

Meskipun calon petahana memiliki prestasi yang bagus selama masa kepemimpinannya, belum menjadi jaminan akan dipilih kembali oleh masyarakat. Masyarakat belum bisa diyakinkan dengan pencapaian dan prestasi yang sudah didapat. Mereka akan mencari pemimpin baru yang dianggap bisa lebih baik lagi, meskipun belum memberi bukti, namun di mata masyarakat bisa melakukan berbagai perubahan yang lebih baik.

Masyarakat Sumbar memang memiliki keinginan untuk lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Selalu merasa belum puas dengan kondisi yang ada. Indeks kebahagiaan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik beberapa waktu lalu memperkuat hal ini. Masyarakat Sumbar memiliki energi positif untuk mendapatkan kepuasan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Inilah yang juga menjelaskan adanya budaya merantau masyarakat Sumbar selama ini. Dengan merantau, harapan akan kehidupan yang lebih baik lagi memiliki peluang yang besar.

Dengan adanya contoh kasus seperti ini, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk memenangkan hati masyarakat Sumbar tidaklah mudah. Masyarakat memiliki penilaian tersendiri. Masing-masing punya cara tersendiri dalam menilai pemimpin dan calon pemimpin mereka. Dan bagi masyarakat Sumbar, yang akan dipilih adalah yang mampu memberikan kepuasan lebih baik bagi mereka.

Dengan kata lain, masyarakat Sumbar adalah masyarakat yang cerdas. Memilih dengan menggunakan energi positif yang ada pada diri mereka. Informasi yang datang dan berseliweran disaring dan dipilah, sehingga mereka punya cara sendiri dalam menilai.

Hal ini bisa menjadi motivasi bagi para pemimpin dan calon pemimpin, bahwa dengan bersungguh-sungguh bekerja, melayani masyarakat, memperbaiki kondisi masyarakat, memiliki komunikasi yang baik, insya Allah nama mereka akan tersimpan di dalam pikiran masyarakat.

Pemimpin di Sumbar berbeda dengan di wilayah lain. Ia hanya ditinggikan seranting, didahulukan selangkah, maka masyarakatpun bisa menilai dengan jelas dan tak mempan diberi informasi keliru. Dengan budaya lisan (maota) yang berkembang sejak dulu, masyarakat bisa memilah dan mendapatkan informasi tentang pemimpinnya, dan kemudian memilih berdasarkan penilaian yang ada. ***

Singgalang, 21 Desember 2015

 

142. 2015-12-30 [Padek] Politik Uang

POLITIK UANG

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Politik uang (money politic) ternyata juga terjadi pada pilkada 2015. Setidaknya di wilayah Sumatera Barat. Ini bisa dilihat dari informasi yang beredar, baik di masyarakat, media maupun di kalangan pengamat politik yang kerap mengkritisi jalannya pilkada. Masih ada yang mencoba melakukannya dan kemudian diketahui masyarakat. Lalu masyarakat sendiri yang melaporkan bahwa mereka telah mendapat suatu pemberian dengan ajakan memilih pasangan calon tertentu.

Sebagian dari mereka merasa risih dengan pemberian tersebut, karena ternyata mereka sudah memiliki pilihan sendiri dan masih sulit mengubah pilihan hanya karena faktor pemberian sesuatu. Sehingga kerisauan mereka ini diceritakan kepada pihak lain. Masyarakat ternyata memiliki hati nurani dalam menentukan pilihannya. Semakin mendapat iming-iming maka mereka akan semakin bertanya-tanya, dan merasa terkungkung. Padahal sehari-hari mereka terbiasa merdeka untuk melakukan aktivitas, termasuk menentukan siapa yang akan jadi pilihannya di pilkada.

Dalam pilkada 2015 ini, sudah ada aturan yang menyebutkan tentang barang-barang yang bisa disiapkan oleh pasangan calon untuk diberikan kepada masyarakat. Misalnya mug (gelas), payung, pulpen, kaos, dan kalender yang memuat logo atau foto pasangan calon. Jika barang yang dibagi kepada masyarakat di luar ketentuan yang diatur, seperti magic jar dan beras, apalagi uang disertai ajakan untuk memilih calon tertentu maka sudah jelas melanggar aturan.

Di beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di mana daerah tersebut terjadi pembagian barang tertentu pun ternyata hasil penghitungan tidak menunjukkan hubungan positif antara pemberian barang dan pemilihan calon tertentu. Barang yang dibagikan diterima, tapi tidak menjamin untuk memilih sesuai permintaan pemberi barang. Dan juga tidak terjadi kemenangan di daerah tersebut bagi pelaku money politic.

Selain itu, memang ada juga yang berhasil dipengaruhi oleh politik uang ini. Namun karakter pemilih yang demikian bukan mencerminkan realita mayoritas. Mereka ini adalah orang yang kehidupannya sangat sederhana. Ketika menerima bantuan maka akan melakukan balas jasa. Pendidikannya pun masih tergolong rendah, tamatan SD dan SMP. Dan kurang terbuka dalam menerima informasi. Sehingga menyebabkan mudah dipengaruhi. Namun kelompok ini sangat kecil dan tidak signifikan.

Mereka kebanyakan tinggal di daerah pinggiran, jauh dari pusat kota, bahkan ada yang terpencil. Pergaulan dengan masyarakat maupun dunia luar masih tertutup, ditambah dengan tingkat pendidikan yang rendah dan kondisi ekonomi yang kurang baik.

Politik uang bisa dijelaskan seperti dalam UU No. 3 Tahun 1999 pasal 73 ayat 3, “Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu juga dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu.”

Hasil penelitian lembaga survei memang menunjukkan bahwa masyarakat di Sumbar tidak bisa dipengaruhi dengan politik uang. Jika pun ada yang menerima, maka penerimaan tidak berhubungan langsung dengan pilihan kepada calon tertentu.  Secara umum masyarakat masih memiliki hati nurani ketika memilih calon kepada daerah. Iming-iming pemberian berupa barang atau uang justru memunculkan penolakan oleh masyarakat. Sebagian masyarakat telah memiliki pilihan sebelum hari-H pemilihan, sehingga pemberian uang atau barang tidak berpengaruh.

Penolakan politik uang oleh masyarakat ini patut dicermati oleh setiap orang yang ingin berlaga pada pemilu maupun pilkada di Sumbar. Masyarakat lebih menginginkan kompetisi yang sehat di antara pasangan calon dan mendapatkan kepuasan yang lebih baik dengan memilih calonnya. Politik uang hanya menjadi belenggu yang mengikat masyarakat, padahal sehari-hari masyarakat terbiasa bebas untuk menentukan pilihannya dalam berbagai hal. ***

Padang Ekspres, 30 Desember 2015

 

143. 2016-01-05 [Singgalang] Independensi Pemilih

INDEPENDENSI PEMILIH

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Tahun 2013 lalu, pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Kota Padang diwarnai ramainya calon. Ada 10 pasang calon yang siap untuk dipilih oleh warga Kota Padang. Sesuai aturan yang berlaku saat itu, pemilukada bisa berjalan dua tahap. Pada tahap kedua, tinggal dua pasang calon yang akan dipilih, yaitu Desri Ayunda–James Hellyward dan Mahyeldi–Emzalmi.

Persaingan ketat, kemenangan yang diraih pun memiliki selisih suara yang tidak banyak pada tahap kedua. Pasangan Mahyeldi-Emzalmi memperoleh 148.864 suara. Sedangkan pasangan Desri-James memperoleh 147.166 suara. Selisih 1.698 suara. Pada putaran pertama pasangan Mahyeldi-Emzalmi meraih 92.218 suara, dan pasangan Desri-James 59.845 suara. Pasangan Mahyeldi-Emzalmi didukung oleh PKS dan PPP. Dan pasangan Desri-James didukung banyak partai pada putaran kedua.

Tidak cukup itu saja, para tokoh masyarakat Sumbar, terutama tingkat nasional juga ikut mendukung pasangan Desri–James. Para sesepuh ditampilkan secara jelas mendukung pasangan ini. Harapannya, dukungan para tokoh ini akan meningkatkan pengaruhnya kepada masyarakat pemilih untuk ikut memilih pasangan Desri-James.

Selain itu, belasan pucuk pimpinan yang ada di Kota dan Kabupaten di Sumbar pun ikut memberikan dukungan secara terbuka kepada pasangan Desri-James. Namun ternyata, setelah seluruh dukungan diberikan oleh para tokoh dan pucuk pimpinan, yang muncul sebagai pemenang adalah pasangan Mahyeldi-Emzalmi.

Pada pemilukada Sumbar 2015, pola serupa juga dilakukan oleh pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim-Fauzi Bahar (MK-Fauzi). Tokoh-tokoh masyarakat Minang diperlihatkan tampil memberi dukungan kepada pasangan MK-Fauzi. Berbeda dengan pemilukada Kota Padang, pada pemilukada Sumbar, sejak awal hanya ada dua pasang calon yang tampil berhadapan langsung (head to head). Maka dukungan tokoh-tokoh masyarakat ini sudah dimulai sejak awal proses pemilukada, dan waktu untuk bersosialisasi pun cukup lama.

Hasil penghitungan oleh KPUD Sumbar (19/12/2015) memperlihatkan, yang meraih suara terbanyak adalah pasangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit (IP-NA) yang meraih 1.175.858 suara, dan pasangan Muslim Kasim-Fauzi Bahar (MK-Fauzi) 830.131 suara. Mengapa dukungan dari tokoh masyarakat, niniak mamak, tokoh adat, pucuk pemerintahan tidak berpengaruh di pemilukada yang ada di Sumbar? Jika melihat hasil penelitian lembaga survei setidaknya dari Lembaga Survei Median dan LSI Denny JA, pemilih di Sumbar memiliki independensi tinggi. Tidak bisa dipengaruhi oleh orang lain, seperti tokoh masyarakat, niniak mamak, tokoh adat, pucuk pemerintahan (kepala daerah) dan lainnya.

Budaya yang ada di masyarakat Sumbar adalah budaya egaliter, bebas untuk memilih dan mengkritisi pemimpin sesuai dengan kondisi dirinya tanpa bisa dipengaruhi orang lain. Pemimpin hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Ini berbeda dengan budaya patron-klien yang umumnya terjadi di daerah lain, seperti di pulau Jawa. Tokoh masyarakat, tokoh adat, pemimpin formal (elit) bisa mempengaruhi masyarakat untuk memilih calon yang didukung oleh para elit.

Patron adalah pihak yang memiliki kekuasaan, pengaruh, status dan wewenang. Klien adalah pihak yang diperintah atau disuruh, atau bisa diartikan sebagai bawahan. Budaya patron-klien adalah hubungan dua pihak yang tidak sederajat dimana posisi klien lebih rendah dan kedudukan patron lebih tinggi.

Budaya yang demikian dikuatkan oleh teori Patron-Klien James Scott yang menyatakan, “Sekelompok figur informal yang berkuasa (patron) dan memiliki posisi memberikan rasa aman, pengaruh atau keduanya. Sebagai imbalan, pengikutnya (klien) memberikan loyalitas dan bantuan pribadi kepada patronnya dalam kondisi apapun, baik patronnya dalam keadaan benar ataupun salah.”

Indepedensi pemilih di Sumbar sudah sepantasnya mendapatkan apresiasi dari para pemimpin yang ada di Sumbar dengan upaya kerja keras, sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyat. Pemilih yang memiliki independensi adalah pemilih yang berintegritas, tidak dapat terbujuk rayuan uang maupun mampu dipengaruhi elit atau tokoh (masyarakat, adat, lokal/nasional). Maka para pemimpin pun harus bisa menangkap sinyal ini untuk membangun wilayahnya dengan baik. Sedangkan tokoh masyarakat, tokoh adat, niniak mamak dan lainnya sudah seharusnya mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat, bukan informasi yang keliru apalagi menyesatkan. Walaupun masyarakat Sumbar memiliki independensi yang tinggi tetapi tetap masih memiliki primordialisme. ***

 

Singgalang, 5 Januari 2015

 

144. 2016-01-12 [Padek] Pilkada Badunsanak

PILKADA BADUNSANAK

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Di sebuah lapau beberapa bulan lalu, beberapa orang tengah asik memperbincangkan pemilihan kepada daerah (pilkada) serentak. Mereka terbagi ke dalam beberapa kubu sesuai calon yang didukungnya. Masing-masing asik memuji calon pilihannya dengan data dan informasi yang mereka punya. Sebelum musim pilkada, mereka pun sering terlibat pembicaraan berbagai isu yang tengah berkembang. Namun perbincangan itu hanya selesai setelah mereka keluar lapau. Tidak dibawa pulang ke rumah maupun masuk ke dalam perasaan yang dalam.

Di tempat lain, di sebuah keluarga, dalam pembicaraan yang akrab antara orang tua dan anak-anaknya yang sudah kuliah membahas calon-calon yang tampil di pilkada 2015. Orang tua (ayah PNS, dan ibu rumah tangga) membicarakan kelebihan yang dimiliki oleh calon yang akan dipilihnya. Sementara sang anak pun juga menyampaikan kelebihan yang dimiliki oleh calon yang akan dipilihnya. Pembicaraan tentang para calon kepala daerah itu tidak lebih dari sedang hangatnya momentum pilkada serentak tahun 2015. Sudut pandang seorang ayah yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, seorang ibu rumah tangga, maupun anak-anaknya yang mahasiswa tentu berbeda. Namun beda pandangan dan pilihan ini tidak menimbulkan perpecahan dalam keluarga.

Setiap orang yang telah punya hak pilih, memiliki dinamika tersendiri dalam mengikuti momentum pilkada. Pilihan yang sudah ada dalam hati dan pikiran mereka adalah hasil interaksi dengan lingkungannya dan penyerapan informasi dari berbagai sumber. Selain pemilu kepala daerah, pemilu anggota legislatif dan pemilu presiden juga bagian dari dinamika politik kehidupan masyarakat yang sudah berjalan bertahun tahun.

Pilkada badunsanak dalam praktek di masyarakat, selama ini sudah berjalan baik. Bahkan mungkin bisa disebut sangat baik. Masyarakat tetap bisa hidup berdampingan, beriringan, saling silaturahim meski punya pilihan yang berbeda. Ketika pilkada selesai, maka kehidupan normal pun berjalan kembali. Perbedaan yang ada sebelumnya sudah selesai. Tidak dibawa berlarut-larut. Selain hal ini tidak produktif, juga bukan merupakan watak kebanyakan masyarakat yang mengedepankan harmoni dalam kehidupannya. Seperti disampaikan dalam pepatah Minang, “Biduak lalu, kiambang batauik”. Namun kadang, yang masih memanas-manasi atau memiliki ambisi tertentu justru berasal dari tim sukses atau elit.

Pemilihan kepala daerah memiliki landasan hukum yaitu UU No. 8 Tahun 2015 yang merupakan pengganti dari UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota. Sedangkan pilkada “badunsanak” adalah semangat untuk tidak melakukan perbuatan yang menyakiti orang atau kelompok yang berbeda pilihan.

Bagi kontestan pilkada sendiri, dengan selesai penghitungan suara oleh KPUD maka selesai pula pertarungan memperebutkan suara rakyat. Memang dalam Undang-Undang dibenarkan untuk mengajukan keberatan jika ada pasangan calon yang merasa dirugikan secara nyata. Mahkamah Konstitusi (MK) akan menyidangkan gugatan pilkada yang berkaitan dengan selisih suara. Oleh karenanya MK hadir setelah penetapan hasil suara oleh KPUD. Pemenangpun sudah diketahui dari hasil suara rakyat tersebut. Menurut UU, MK hanya melayani selisih suara yang mungkin bisa ‘dikejar’ oleh yang kalah sehingga ada aturan ambang batas. Tapi bukan mencederai pilihan rakyat yang mayoritas dengan selisih suara yang menganga besar. Sehingga terkesan tidak siap kalah.

Adapun gugatan di luar sengketa selisih suara setelah penetapan hasil oleh KPU sudah tidak relevan lagi. Undang-Undang telah memberikan waktu untuk menggugat sesuai dengan tahapannya, dan tempat untuk menggugat hal tersebut ada di Bawaslu/Panwaslu. Apalagi urusan pidana umum, tidak mungkin dibawa ke MK karena tempatnya di Gakkumdu.

Gugatan apapun dalam pilkada bisa saja melukai Pilkada Badunsanak apalagi gugatan yang tidak taat azas dan tidak etis.

Kini, sudah saatnya meningkatkan lagi kualitas persaudaraan, semangat kekeluargaan, dan bersatu untuk menghadapi hari depan. Kompetisi sudah selesai. Rakyat yang memilih sudah tahu kemana pimpinan yang dikehendakinya. Yang kita utamakan adalah persatuan, sebagai bekal untuk bersama-sama mengisi pembangunan di Sumbar. Masyarakat sudah memberi contoh yang baik dalam menjalankan pilkada badunsanak. Sudah seharusnya para elit maupun tim sukses juga kembali bersama masyarakat untuk bersama-sama mengisi pembangunan di Sumbar sesuai dengan porsi masing-masing.

Allah berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat:10). Semoga kita semua mendapat rahmat dari Allah SWT. Aamiin. ***

 

Padang Ekspres, 12 Januari 2015

 

145. 2016-01-18 [Singgalang] Jangan Balas Fitnah dengan Fitnah

JANGAN BALAS FITNAH DENGAN FITNAH

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Kita tentu sudah tahu, bahkan mungkin sudah pernah merasakan bahwa fitnah itu sangat fatal akibatnya. Gara-gara fitnah dunia bisa terbalik, yang baik bisa dianggap buruk, yang benar bisa dianggap salah, yang hitam bisa menjadi putih.

Yang dimaksud fitnah (arti umum) di sini adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang dan sejenisnya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Fitnah juga bisa didefinisikan sebagai komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang.

Suatu ketika di zaman pemerintahan khalifah Usman bin Affan, masyarakat Mesir dan Irak (saat itu berada di bawah pemerintahan Islam) terkena fitnah dan akhirnya terprovokasi untuk menyampaikan ketidak puasannya terhadap kepemimpinan Usman. Sejumlah utusan dari Mesir dan Irak lalu mendatangi khalifah Usman di Madinah dan menyampaikan keluhannya. Usman lalu menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Keterangan Usman masuk akal dan dipahami oleh utusan tersebut, mereka puas lalu pulang kembali ke daerah masing-masing dengan hati lega.

Namun dalam perjalanan pulang tersebut mereka bertemu dengan seorang pengendara onta yang sedang tergesa-gesa dengan gerak-gerik mencurigakan. Rombongan lalu mencegat si pengendara onta, lalu menginterogasinya.

Ia mengaku sebagai utusan amirul mukminin Usman Bin Affan yang membawa sepucuk surat untuk disampaikan kepada Amir Mesir. Surat tersebut berisi perintah agar Amir Mesir menyalib, membunuh, dan memotong-motong tangan orang-orang Mesir yang baru saja kembali menghadap khalifah Usman di Madinah. Surat itu seperti asli, karena memakai atribut dan cap khalifah Usman.

Tentu saja hal ini kembali membakar kemarahan dan kebencian sejumlah masyarakat Mesir dan Irak yang imannya lemah dan mudah terprovokasi. Mereka tidak percaya bahwa surat itu palsu walaupun Usman bersumpah bahwa surat itu bukan berasal darinya. Kelompok pembenci Usman lalu meminta Usman untuk meletakkan jabatan bahkan mengancam akan membunuh Usman.

Menanggapi para pemberontak tersebut, khalifah Usman menyatakan siap mengundurkan diri dan melepaskan jabatannya. Namun para sahabat melarang dan mencegahnya. Lalu terjadilah peristiwa malam kelabu itu. Kota Madinah dikepung oleh kaum bughat. Dua orang pemberontak berhasil menyelinap memasuki rumah khalifah melalui rumah tetangganya. Khalifah Usman terbunuh malam itu, tangannya dipenggal.

Sungguh tragis peristiwa itu. Tangan dan jari Usman dipenggal, padahal tangan dan jari-jari itulah yang selalu setia menemani Nabi Muhammad SAW menuliskan setiap wahyu yang diterima Nabi. Ia adalah seorang tokoh kaya raya namun rendah hati, pemalu dan dermawan.

Tanpa fikir panjang beliau mengeluarkan pundi-pundi emasnya untuk membiayai 30.000 tentara yang diturunkan saat terjadi Perang Tabuk, lengkap dengan onta dan perlengkapannya. Beliau pula yang membeli sumur Ar-Rumah, sumber air utama kota Madinah dengan uang pribadinya dengan harga mahal untuk kemudian diserahkan bagi kepentingan umum.

Itulah bahaya fitnah, gara-gara fitnah dan provokasi, orang sebaik Usman bin Affan menjadi korban pembunuhan. Mungkin karena itulah Allah, sedari dini memperingatkan besarnya bahaya fitnah.

Nabi SAW mengatakan dosa besar yaitu syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh orang dan berkata bohong/fitnah.

Dalam QS 85: 10 Allah S.W.T. berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang sangat pedih”.

Menyimak ayat-ayat di atas dan memperhatikan realita banyaknya dampak buruk yang disebabkan oleh fitnah, tentulah sangat merugi dan sangat rendah derajat orang-orang yang melakukan fitnah, begitu juga mereka yang membalas fitnah dengan fitnah.

Karena itu jangan balas fitnah dengan fitnah. Biarlah Allah yang membalas dan menghukumnya. Tiada satupun yang terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan Allah dan hukum Allah adalah yang maha adil.

Mulailah segala sesuatu itu dengan cara-cara yang baik, maka ia akan berakhir dengan cara-cara dan hasil yang baik pula. Jika sesuatu dilakukan dengan cara yang salah dan tidak baik, pastilah ujungnya dan hasilnya tidak baik pula.

Pilkada adalah sebuah metode untuk mendapatkan pemimpin yang baik, sesuai dengan aspirasi rakyat yang diharapkan mampu membawa kebaikan bagi daerah ini di masa datang. Mari kita sikapi hasil Pilkada dengan cara-cara yang baik. Hindari fitnah, hindari perpecahan, hindari cara-cara kotor, terlarang dan melanggar aturan. Jika kita lakukan dengan cara yang baik, insya Allah Sumatera Barat menuju kebaikan di masa depan. Amin YRA. ***

 

Singgalang, 18 Januari 2016

 

146. 2016-01-22 [Padek] Kemenangan Rakyat

KEMENANGAN RAKYAT

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Tak lama setelah hasil penghitungan final oleh KPUD yang ada di Sumbar, dinamika masyarakat dalam menanggapi hasil akhir tersebut beragam. Di lapau, kampus, kantor, pasar, dan berbagai tempat kegiatan masyarakat terlibat dalam pembicaraan seputar hasil akhir penghitungan suara pilkada serentak 2015. Tidak hanya di dunia nyata, perbincangan seputar hasil penghitungan suara pilkada 2015 juga terjadi di dunia maya. Bagi pendukung pihak yang kalah suara, dukungan untuk menindaklanjuti ke Mahkamah Konstitusi (MK) cukup kuat disuarakan. Terutama bagi yang selisih suara calon yang didukungnya tidak terpaut jauh.

Namun demikian, ada yang berpendapat bahwa dengan hasil suara yang diperoleh tidak perlu dibawa ke MK karena secara kasat mata sudah terlihat tidak memenuhi syarat, seperti selisih suara yang jauh. Di samping itu, proses pemilihan berjalan tertib, lancar dan aman yang mencerminkan rakyat menyuarakan pilihannya dengan baik. Sehingga tidak cukup alasan untuk mengajukan ke MK. Meskipun demikian, ada juga yang berpendapat perlu dibawa ke MK untuk memperoleh keadilan.

Memperkarakan hasil perolehan suara ke MK dibenarkan secara hukum. Namun sebelum dibawa ke MK sebenarnya bisa dilihat proses yang terjadi sejak di Tempat Pemungutan Suara (TPS) hingga penghitungan akhir oleh KPUD. Untuk pilkada Sumbar, sekitar 11.000 saksi sudah menandatangani berita acara di TPS dan di form C1. Ini artinya, suara yang ada adalah sah, dan itu merupakan cerminan pilihan rakyat. Pemenangnya pun sudah ada, yang dipilih oleh mayoritas rakyat. Kalaupun ada pemilihan ulang, jumlahnya tidak lebih dari 10 TPS, seperti yang terjadi di Padang salah satunya.

Ketika KPUD Provinsi ingin mengesahkan hasil perhitungan suara untuk tingkat Sumbar, setiap KPUD dan Panwaslu kabupaten/kota ditanya terlebih dahulu apakah di wilayahnya ada sengketa suara, dan semua menjawab tidak ada. Maka KPUD Provinsi melakukan ketok palu sebagai tanda pengesahan hasil penghitungan suara. Rakyat sebagai subjek dalam pilkada serentak 2015 pun secara tidak langsung memberi dukungan. Tidak terlihat adanya kerusuhan yang massif sebagai bentuk kekecewaan. Mereka sudah memilih pemimpinnya.

Adanya gugatan terhadap hasil pemungutan suara rakyat ini di satu sisi memiliki alasan untuk mencari keadilan. Namun di sisi lain, yang nampak adalah gugatan terhadap rakyat yang telah memilih. Untuk mencari keadilan, maka penegak hukum berkewajiban memprosesnya dengan baik. Namun untuk menggugat para pemilih, tentu tidak mungkin. Karena siapa pun mereka, dengan beragam profesi, agama, pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan lainnya, tetap hanya memiliki 1 suara. Jika 1 suara saja dihargai sebagai bagian dari proses demokrasi, maka 1 juta lebih suara sangat layak mendapat apresiasi yang proporsional dalam proses demokrasi ini.

Dalam konteks pilkada Sumbar, gugatan yang pernah dilayangkan ke Bawaslu dan DKPP, alhamdulillah dinyatakan tidak ada pelanggaran. Demikian pula gugatan di PTTUN Medan, yang telah ditolak. Keadilan terhadap suara rakyat, tentunya akan sangat kuat. Maka yang akan muncul dari proses hukum yang adil adalah menangnya kebenaran yang sejalan dengan pilihan mayoritas rakyat.

Pilkada pada hakekatnya adalah bentuk partisipasi rakyat di berbagai waktu dan tempat sehingga menjadi semacam pesta rakyat. Ada yang menjadi petugas TPS, saksi, tim sukses, dan juga massa pendukung dan lainnya. Pesta rakyat ini sudah berjalan lancar yang menunjukkan kedewasaan rakyat dan juga kepada siapa pilihan mayoritas rakyat untuk memimpin mereka. Pesta yang berjalan baik ini menunjukkan kemenangan rakyat dalam berdemokrasi. Hasil kerja keras rakyat ini dalam berdemokrasi layak mendapat apresiasi dan penghormatan.

Tugas bagi pemimpin terpilih dari pesta rakyat ini adalah, menyadari bahwa mereka lahir dari pilihan rakyat. Maka rakyat mengharapkan pemimpinnya bisa meningkatkan kualitas kehidupan mereka, baik dari sisi pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, infrastruktur, pertanian, perikanan, perkebunan, UMKM, koperasi, pariwisata, perdagangan, kesenian, agama, adat, sosial budaya, dan lainnya. Untuk itu, pemimpin terpilih tidak boleh sombong dan jangan melupakan rakyat yang telah mengantarnya menjadi pemimpin.

Pemimpin yang terpilih wajib memenuhi kebutuhan rakyat, menjalankan amanah dengan bertanggung jawab serta senantiasa ikhlas dalam bekerja. Semoga kemenangan rakyat ini bisa menjadi inspirasi yang baik bagi pemimpin terpilih untuk senantiasa bekerja keras dan sungguh-sungguh membawa rakyatnya kepada kehidupan yang lebih baik. ***

Padang Ekspres, 22 Januari 2016

 

147. 2016-01-25 [Singgalang] Bersama Membangun

BERSAMA MEMBANGUN

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, pada hari Jumat, 22 Januari 2016 dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi (MK) telah menetapkan perolehan suara untuk pasangan terpilih (Irwan Prayitno dan Nasrul Abit) 1.175.858 suara, dan suara untuk pemohon (Muslim Kasim dan Fauzi Bahar 830.131 suara) dengan selisih 345.727 suara. MK menyatakan benar dan tetap berlaku Keputusan KPU Provinsi Sumbar No. 106 Tahun 2015 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Tahun 2015 tanggal 19 Desember 2015.

Di samping itu MK mengabulkan eksepsi termohon (KPU Sumbar) dan eksepsi pihak terkait (IP-NA), serta permohonan pemohon (MK-FB) tidak dapat diterima. Hasil ini tertuang dalam Putusan Nomor 26/PHP.GUB-XIV/2016. Kemudian KPUD Sumbar menindaklanjuti keputusan MK pada tanggal 23 Desember memutuskan pemenang pilkada Sumbar 2015. Ini tertuang dalam Berita Acara KPUD Sumbar No. 3/BA/I/2016 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Periode 2016-2021 pada Pemilihan Tahun 2015, yang ditandatangani oleh 5 Komisioner KPUD Sumbar pada tanggal 23 Januari 2016.

MK adalah tempat terakhir untuk mengadili sengketa pilkada. Maka jika putusan MK sudah keluar, bersifat final dan mengikat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota pada pasal 157 ayat 9 menyatakan bahwa putusan MK bersifat final dan mengikat. Dan di ayat 10 dinyatakan bahwa KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota wajib menindaklanjuti putusan MK.

Putusan MK ini memberi kepastian bagi pemenang pilkada untuk segera bersiap membangun wilayahnya sesuai amanah yang didapat dari rakyat. Perlu kesadaran yang tinggi dari semua pihak bahwa kemenangan yang didapat sesungguhnya amanah, maka amanah harus diperlakukan sesuai tempatnya.

Amanah dari rakyat Sumbar adalah agar pemimpin terpilih mampu menjaga integritasnya serta melaksanakan visi dan misi yang telah disampaikan ketika mencalonkan diri di arena pilkada. Pemimpin terpilih bukan lagi calon yang dipilih oleh pendukungnya. Pemimpin terpilih adalah pemimpin seluruh rakyat. Ia juga bukan pemimpin untuk tim suksesnya, karena ia harus mengutamakan kepentingan rakyat dan tetap amanah.

Untuk itu, pemimpin terpilih harus bersikap adil, tidak diskriminatif, serta mampu mengayomi seluruh pihak. Pihak yang menang harus mampu merangkul pihak yang kalah dan pihak yang kalah harus mendukung pihak yang menang dengan potensi yang dimilikinya. Hal ini dalam rangka kemajuan pembangunan yang tujuan akhirnya adalah meningkatnya kesejahteraan rakyat.

Jangan sampai setelah keluar keputusan MK yang bersifat final ini, masih terjadi cekcok antar pendukung maupun elit sehingga meluas, yang menyebabkan kemunduran. Seharusnya setelah keluar putusan MK, yang terbaik dilakukan oleh calon terpilih adalah segera mempersiapkan rencana, kebijakan, program untuk melaksanakan visi dan misi. Dan bagi calon yang kalah ikut mendukung pembangunan yang akan dijalankan oleh calon terpilih.

Bagi niniak mamak, kaum adat, tokoh masyarakat, PNS dan lainnya, setelah keluar putusan MK ini, sudah seharusnya kembali menjalankan peran masing-masing setelah sebelumnya ada yang menjadi pendukung calon tertentu. Dan secara positif ikut mensukseskan pembangunan sesuai porsinya, agar kesejahteraan rakyat secara keseluruhan bisa segera dicapai.

Demikian pula ormas-ormas dan parpol-parpol yang selama ini terbagi dalam beberapa kubu pendukung calon-calon yang ada, sudah saatnya kita bersatu untuk memajukan negeri ini. Begitu pula masyarakat yang berada di rantau maupun ranah, mari kita bersatu agar hasil pembangunan bisa segera dirasakan oleh rakyat. Pembangunan mesti dilakukan secara bersama-sama, sesuai porsinya. Kebersamaan akan mendatangkan keberkahan, meningkatkan persatuan, meningkatkan akselerasi kebaikan, dan manfaatnya kembali kepada rakyat.

Kita mesti berpikir kolektif bahwa setiap peran kita sesungguhnya memberi kontribusi positif kepada pembangunan yang ada dan berujung kepada kebahagiaan rakyat banyak. Mari saling mendoakan untuk kebaikan Sumbar. Semoga dengan kebersamaan kita, Allah turunkan keberkahan di negeri ini. Hanya kepada Allah sajalah kita bergantung. ***

 

Singgalang, 25 Januari 2016

 

148. 2016-02-02 [Padek] Primordialisme untuk Membangun

PRIMORDIALISME UNTUK MEMBANGUN

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Menjelang pertandingan final piala Sudirman antara Semen Padang FC dan Mitra Kukar tanggal 24 Januari 2016 lalu, hiruk pikuk pendukung klub kesayangan urang awak ini begitu luar biasa, baik di offline (dunia nyata) maupun online (dunia maya). Di dunia maya, banyak beredar gambar-gambar pelatih Semen Padang, Nil Maizar yang berbicara dengan pelatih Mitra Kukar, Jafri Sastra tentang “perang” antara kedua pelatih berdarah Minang ini. Di dunia nyata, diberitakan Wali Kota Padang ikut membantu memfasilitasi pendukung Semen Padang FC berupa bus untuk suporter ke Jakarta.

Bisa dikatakan, berbagai pihak yang ada di Sumbar bersatu mendukung kemenangan Semen Padang FC. Tidak hanya mereka yang ada di Sumbar, masyarakat Minang yang di rantau hingga luar negeri pun antusias memberi dukungan kepada Semen Padang FC. Para pedagang Minang yang ada di Jakarta dikabarkan cepat menutup tokonya supaya dapat memberi dukungan langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

Pada saat pertandingan berjalan di Stadion Utama GBK, pendukung Semen Padang FC dengan semangat memberikan dukungan, sekaligus mampu menjaga ketertiban. Ini terbukti hingga selesai pertandingan. Dukungan di luar stadion juga datang dari berbagai lapisan masyarakat. Tanpa sekat politik, sosial, ekonomi, seluruhnya bersatu memberikan dukungan kepada Semen Padang FC, seolah tiada konflik, padahal ajang pilkada serentak baru saja dilewati. Hingga pertandingan usai, esoknya sudah bermunculan beberapa video kreatif yang membicarakan hasil pertandingan. Di situ nampak ada kebanggaan orang Minang akan klub sepakbola mereka. Tidak hanya ketika mendukung, tetapi juga ketika ikut merasakan hal yang dirasakan oleh pemain dan pelatih saat menelan kekalahan. Dukungan dan empati banyak mengalir. Aura primordialisme di sini terlihat menguat.

Primordialisme menurut wikipedia adalah pandangan yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, seperti tradisi, adat istiadat, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia primordialisme diartikan sebagai perasaan kesukuan yang berlebihan.

Primordialisme dalam realitas kehidupan masyarakat bisa dilihat dari survey yang dilaksanakan menjelang pilkada serentak. Calon kepala daerah yang berasal dari daerah A akan didukung sebagian besar masyarakat dari daerah A, calon kepala daerah yang berasal dari daerah C didukung oleh sebagian besar masyarakat daerah C.

Primordialisme seperti ini dan juga dalam dunia olah raga tidak bisa dipandang negatif, karena terjadi di banyak daerah, di mana jika mampu dimanfaatkan sebaik mungkin potensi ini maka justru akan memacu akselerasi pembangunan sebuah daerah.

Contoh nyata yang berasal dari masyarakat Minang sendiri. Begitu banyak dana dari perantau yang dikirim ke kampung halamannya untuk membiayai pembangunan masjid, jalan, sekolah, pasar, air bersih dan fasilitas umum lainnya, selain membangun rumah gadangnya atau kemenakannya. Begitu pula mereka yang sudah berhasil di ranah, serta tokoh-tokoh masyarakat, antusias membangun kampungnya.

Mereka dengan kesadaran sendiri dan antusiasme memiliki kebanggaan bisa membangun kampung halamannya sebagai bukti kecintaan kepada kampung kelahiran. Namun untuk hal ini ada batasan tertentu, perantau dari daerah A biasanya hanya akan membangun daerah A saja. Perantau daerah A belum tentu mau diminta membangun daerah B, meskipun sama-sama masih di Sumbar. Demikian pula orang-orang di ranah yang sudah berhasil, hanya berkeinginan membangun kampung mereka saja. Maka jika dibentuk sebuah lembaga yang mewadahi perantau seluruh daerah untuk membantu membangun Sumbar, kemungkinan sulit berhasil, karena kecenderungan dari perantau sendiri dan juga masyarakat di Sumbar, hanya terfokus kepada kampungnya saja atau sekitar kampungnya.

Untuk itu, potensi primordialisme yang positif di masyarakat ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan memberi dukungan potensi tersebut sesuai dengan kecenderungan yang ada, tidak bisa disatukan untuk seluruh daerah dalam satu wadah atau dilembagakan. Masing-masing perantau daerah diberikan dukungan untuk membangun daerahnya.

Semakin banyak daerah-daerah pelosok dengan jalannya yang bagus serta bangunan masjid megah dan fasilitas umum lainnya yang tersedia, adalah bukti betapa hebatnya potensi primordialisme masyarakat ikut berkontribusi membangun Sumbar.

Begitu banyak potensi yang bisa dibangkitkan untuk membangun Sumbar, di antaranya potensi primordialisme yang bisa diarahkan kepada hal positif. Masih banyak lagi potensi yang ada di Sumbar bisa dimanfaatkan untuk membangun Sumbar. Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang mesti diperhatikan, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Hal yang menurut pengertian bahasa negatif, jika dimanfaatkan potensi kebaikannya, ternyata banyak memberikan manfaat yang luar biasa. ***

 

Padang Ekspres, 2 Februari 2016

149. 2016-02-10 [Singgalang] Tangan Dingin Mahyeldi

TANGAN DINGIN MAHYELDI

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Ada perubahan yang cukup drastis di Pantai Padang dalam setahun terakhir. Pantai yang tadinya terlihat tidak terawat, kurang terjaga kebersihannya, penuh tenda ceper, perlahan-lahan berubah menjadi semakin cantik. Sebelumnya, kondisi pantai sudah menjadi pembicaraan orang karena dinilai berbagai pihak sudah tidak nyaman dan aman.

Momentum perubahan itu diawali dari iven Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Menteri Luar Negeri negara-negara Indian Ocean Rim Association (IORA) yang diselenggarakan di Padang. Pantai Padang dibersihkan, dipercantik dan diberi beberapa asesoris IORA seperti logo IORA dan penunjuk arah negara-negara peserta IORA. Hasilnya, tempat itu kini menjadi salah satu titik wisata yang sering dipakai untuk foto dan selfie oleh pengunjung pantai.

Keluhan masalah parkir dan keamanan oleh pengunjung yang menjadi viral di media sosial juga mendapat respon dari Pemko Padang. Netizen memberi apresiasi atas respon cepat Pemko Padang ini.

Para pedagang yang bangunannya berada di pinggir pantai atas komunikasi yang baik dengan Wali Kota Padang Mahyeldi dan dengan kesadaran membongkar bangunannya. Tanpa aksi kekerasan maupun paksaan, Pantai Padang menjadi semakin bersih dan indah dipandang.

Demikian pula tenda ceper yang sudah lama menjadi “pembicaraan panas” di masyarakat Sumbar, juga perantau, dan bahkan dunia maya. Perlahan-lahan sudah semakin berkurang keberadaannya.

Meskipun masih banyak keluhan maupun masalah yang perlu dibenahi, langkah yang sudah dilakukan Pemko Padang di bawah kepemimpinan Mahyeldi perlu mendapat apresiasi. Perubahan besar yang diidamkan masyarakat sudah bisa dirasakan jika kita berkunjung ke Pantai Padang. Beberapa tokoh masyarakat pun secara terbuka menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Padang terkait pembenahan Pantai Padang ini, baik melalui media cetak maupun media sosial.

Pemprov Sumbar pun turut berpartisipasi dalam rangka mempercantik Pantai Padang dengan menambah ruas jalur jalan yang ada di Pantai Padang. Sebelumnya Pemprov Sumbar sudah membangun jalan di Pantai Padang dan juga jembatan Purus sehingga di beberapa tempat terlihat ruas jalan yang lebih lebar sehingga menjadi 4 lajur untuk 2 arah, dan di tempat lain masih ada ruas jalan yang masih dua lajur untuk dua arah. Insya Allah ke depannya sinergi antara Pemko Padang dengan Pemprov Sumbar dalam menata dan membangun Pantai Padang akan semakin dirasakan oleh masyarakat.

Menurut Wikipedia, kota Padang adalah kota terbesar yang ada di pantai Barat Sumatera dan pintu gerbang barat Indonesia dari Samudra Hindia. Dengan Perda No. 21 Tahun 2012, kawasan Pantai Padang termasuk 10 kawasan bebas sampah yang dilindungi. Pantai Padang terbentang dari daerah Purus hingga muara Batang Arau.

Selain Pantai Padang, Pasar Raya Padang juga menjadi perhatian serius Mahyeldi. Kondisi pasar raya yang tadinya sangat semrawut dan padat oleh pedagang, perlahan-lahan mampu diselesaikan satu persatu. Kendaraan roda empat yang tadinya sulit untuk lewat, kini sudah bisa kembali melewati Pasar Raya Padang. Di samping itu, kebersihan di Pasar Raya Padang juga semakin baik. Dan kabarnya, rencana untuk pembangunan Pasar Raya Padang juga sudah dianggarkan.

Selain di Pasar Raya Padang, Mahyeldi juga terlihat membenahi Pasar Lubuk Buaya yang menjadi langganan kemacetan. Setelah dilakukan pembenahan, arus lalu lintas di pasar Lubuk Buaya semakin lancar, dan pedagang bersedia ditempatkan di atas, sehingga parkir kendaraan bisa diletakkan di bawah, tidak lagi di luar pasar. Mahyeldi langsung turun dan berkomunikasi dengan para pedagang, dan pedagang pun bersedia untuk menempati lokasi yang sudah ditetapkan. Kabarnya, setelah pasar Lubuk Buaya selesai dibenahi, akan dilanjutkan membenahi pasar Bandar Buat.

Mahyeldi juga berperan dalam pembebasan lahan untuk perluasan jalan By Pass Padang menjadi 6 lajur. Dan dalam hal pelayanan publik, Kota Padang menjadi yang terbaik dibanding kabupaten/kota lain di Sumbar.

Tangan dingin Mahyeldi juga didukung oleh Wakil Wali Kota Emzalmi, dan dukungan dari jajaran PNS Kota Padang. Ketulusan Mahyeldi yang tidak ada menekan maupun “meminta setoran” kepada bawahannya ini merupakan modal yang fundamental dalam membangun Kota Padang. Demikian pula ketika berkomunikasi kepada masyarakat, Mahyeldi terbukti tidak “meminta setoran” apapun. Hal seperti inilah yang menjadikan masyarakat menaruh kepercayaan kepada Mahyeldi.

Semoga ke depannya Kota Padang mampu lebih berbenah diri, karena orang akan melihat Sumbar dari kondisi yang ada di Kota Padang. Peran serta masyarakat dalam membangun dan menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan Kota Padang sangat penting untuk membantu Pemko Padang maupun Pemprov Sumbar menjalankan pembangunan yang bertujuan mensejahterakan masyarakat. ***

 

Singgalang, 10 Februari 2016

 

150. 2016-02-16 [Padek] Hujan dan Banjir

HUJAN DAN BANJIR

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Hujan deras dengan intensitas tinggi diiringi angin kencang tanggal 5-8 Februari 2016 lalu yang terjadi di berbagai wilayah di Sumbar telah memicu banjir bandang, banjir dan juga longsor. Sedikitnya 200 rumah dan 100 hektare sawah terendam air, dan terjadi pemadaman listrik. Wilayah yang terparah berada di Kab. 50 Kota, Solok Selatan dan Pasaman.

Banjir dan longsor juga menyebabkan terputusnya jalan dan jembatan di beberapa wilayah sehingga arus kendaraan dan orang terhambat dan di beberapa tempat ada penduduk yang terkurung akibat ketiadaan akses.

Banyaknya infrastruktur yang rusak selain rumah dan sawah penduduk, diakibatkan banjir bandang yang datang mendadak dengan kecepatan tinggi. Di Sumbar, orang juga menyebutnya “lidah air”.

Berbeda dengan banjir yang biasa terjadi di Jakarta atau kota lainnya tidak menyebabkan kerusakan infrastruktur maupun bangunan penduduk yang parah.

Munculnya banjir bandang diawali dengan hujan deras yang terus menerus di daerah hulu sungai. Selain itu, bendungan alami di hulu sungai yang terbentuk dari batu-batuan gunung, tanah dan pohon-pohon kayu sudah tak kuat lagi menampung air yang ada sehingga bobol dan muncul lidah air. Demikian pula longsor yang disebabkan hujan deras terus menerus. Wilayah Sumbar yang penuh dengan bukit, gunung dan sering terjadi gempa menyebabkan kondisi tanah di beberapa wilayah cenderung labil dan mudah longsor.

Jika kita melihat ke belakang sejenak, sebelum terjadinya bencana, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan siaran pers. Disebutkan bahwa puncak musim hujan terjadi pada akhir Januari dan Februari 2016. Kemudian diprediksi potensi kemunculan La Nina yang dapat berdampak pada meningkatnya curah hujan, terutama di selatan Khatulistiwa. BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi peningkatan curah hujan yang dapat disertai angin kencang yang berpotensi mengakibatkan terjadinya banjir, tanah longsor, dan banjir bandang.

Berdasarkan siaran pers BMKG ini, maka dampak dari munculnya bencana banjir (terutama banjir bandang) dan longsor bisa diminimalisir, terutama korban jiwa. Berbeda dengan gempa dan tsunami yang tidak bisa diduga kapan munculnya sehingga sulit untuk memprediksi dampaknya. Terkait antisipasi bencana, sebelumnya sudah ada surat edaran dari Gubernur Sumbar yang meminta para Bupati dan Wali Kota untuk melakukan sosialisasi kepada penduduk untuk menjauhi bukit, gunung dan sungai yang berpotensi terjadi longsor dan banjir. Dan juga untuk melakukan pemeriksaan dan pembersihan secara periodik di hulu sungai guna mencegah terjadinya banjir bandang.

Pemerintah daerah bisa melakukan hal-hal yang dianggap perlu untuk mencegah korban jika terjadi bencana banjir bandang dan longsor. Di antaranya melarang rumah penduduk berada di bukit maupun gunung yang berpotensi longsor, melarang rumah penduduk berada di pinggir sungai, mencegah terjadinya penebangan liar, mencegah illegal loging, dan membersihkan hulu sungai dari batu dan kayu yang menumpuk akibat gempa maupun fenomena alam lainnya sehingga membentuk bendungan alami yang bisa membahayakan jika bobol.

Untuk ke depannya, tentu kita berharap ada antisipasi terhadap sungai-sungai yang diprediksi akan memunculkan banjir bandang. Sehingga tidak ada lagi korban jiwa dan kerusakan infrastruktur maupun bangunan milik penduduk bisa diminimalkan.

Musibah banjir bandang dan longsor yang terjadi lalu sungguh sangat memprihatinkan. Selaku Gubernur Sumbar saya turut menyampaikan duka cita kepada para korban, terutama korban yang meninggal akibat longsor. Semoga kita semua dikuatkan oleh Allah SWT dalam menghadapi bencana ini dan bagi pihak terkait juga bisa memikirkan berbagai antisipasi terhadap bencana yang masih bisa diprediksi kedatangannya.

Datangnya musibah ini mari kita hadapi dengan sabar. Semoga Allah membalas kesabaran dan ikhtiar kita dengan hal yang lebih baik lagi untuk kehidupan kita ke depannya. Dan marilah kita senantiasa menjaga lingkungan hidup kita dengan mentaati aturan-aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah demi untuk keselamatan bersama.

Secara umum patut kita syukuri lingkungan hidup di Sumbar masih baik. Namun dengan banyaknya gunung, bukit dan sungai menghendaki kewaspadaan yang cukup tinggi jika cuaca ekstrim terjadi. ***

Padang Ekspres, 16 Februari 2016

 

151. 2016-02-24 [Singgalang] Minang dan Jokowi

MINANG DAN JOKOWI

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Tiba-tiba saja etnis Minang menjadi perbincangan skala nasional ketika sebuah lembaga survei (Burhanudin Muchtadi) menyampaikan siaran pers kepuasan orang Indonesia terhadap kinerja Presiden Joko Widodo atau biasa dipanggil Jokowi. Dalam siaran pers tersebut dinyatakan, tingkat kepuasan warga dari etnis Minang terhadap kinerja Jokowi adalah yang terendah dibanding warga dari etnis lain yang ada di Indonesia. Hal ini menjadi perbincangan hangat para netizen. Persepsi positif dan negatif bermunculan dan menjadi bahasan diskusi yang menarik.

Warga dari etnis Minang yang puas terhadap kepemimpinan Jokowi adalah sebesar 36,1% dan yang kurang puas sebesar 63,9%. Survei ini dilakukan tanggal 18-29 Januari 2016 oleh Indikator Politik Indonesia. Angka ini langsung mengingatkan kita kepada hasil pemilu presiden tahun 2014 di Sumbar di mana pasangan Jokowi-JK memperoleh suara 23,1% dan pasangan Prabowo-Hatta memperoleh 76,9% yang merupakan prosentase tertinggi di Indonesia.

Angka yang tak jauh beda antara kepuasan terhadap kinerja Jokowi dengan hasil perolehan suara pilpres 2014 ini mungkin memiliki korelasi atau relevansi yang layak didiskusikan oleh para pakar dan akademisi. Baik dari segi sosial, politik, budaya, maupun dari pelaku survei sendiri.

Jika melihat rekam jejak kepemimpinan Jokowi, maka baru ketika menjadi Presiden RI orang Minang merasakan kepemimpinan Jokowi. Sementara ketika menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta bisa dibilang bahwa orang Minang (khususnya warga Sumbar) belum merasakan kepemimpinan Jokowi. Oleh karena itu, ketidakpuasan orang Minang ini perlu penjabaran lebih detil. Apakah ketidakpuasan ini berarti Jokowi melakukan diskriminasi terhadap orang Minang? Mengapa etnis lain tingkat kepuasannya tinggi? Mengapa hanya etnis Minang yang tingkat kekurangpuasannya tinggi?

Jika hasil survey menyebut bahwa orang Indonesia puas dengan kinerja Jokowi, maka seharusnya ini merata di seluruh wilayah, dan tidak ada ketimpangan yang besar untuk satu wilayah. Demikian juga ketika berbicara masalah kepemimpinan, tidak ada diskriminasi yang dilakukan Jokowi selaku presiden kepada masyarakat Sumbar.

Salah satu hal yang bisa menjawab pertanyaan tadi adalah budaya yang ada pada orang Minang ketika melihat pemimpin yang biasa disingkat 3T. T pertama adalah ‘takah’, yaitu performance, postur tubuh yang bagus, rupawan, gagah, penampilan yang menarik dan nampak berwibawa. Orang Minang akan melihat apakah seseorang memiliki ke’takah’an yang memadai yang diperlihatkan dari sikap, perilaku, tampilan, cara bicaranya di depan publik atau cara menyampaikan pikiran melalui lisan dan tulisan, serta bagaimana gaya memimpinnya. Bagaimana bahasa tubuhnya dalam berkomunikasi di depan publik.

T kedua adalah ‘tageh’, yaitu tegas, berani, kuat, kokoh, berpendirian dan muda. Orang Minang akan melihat apakah seorang pemimpin itu mampu menjadi tumpuan harapan rakyatnya. T ketiga adalah ‘tokoh’. Orang Minang akan menilai apakah seorang pemimpin layak untuk menjadi tokoh bagi mereka, mampu memberikan keteladanan, layak didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Ketokohannya juga diakui dalam skala yang lebih luas lagi. Keilmuannya juga sudah terbukti dan diakui, baik ilmu agama, adat, dan akademik.

Sementara Jokowi sendiri tampil di publik dengan gaya “apa adanya” dan “dari sononya” dengan wajah yang “ndeso” serta cara bicara “rakyat kebanyakan” yang ternyata digemari oleh masyarakat Indonesia sehingga dalam pemilihan presiden 2014 lalu meraih suara terbanyak. Namun jika melihat 3T tadi, penampilan Jokowi rupanya kurang “matching” dengan budaya yang ada pada orang Minang. Sehingga mayoritas rakyat Sumbar cenderung memilih Prabowo. Figur Prabowo dianggap lebih sesuai dengan selera orang Minang. Begitu juga pada pilpres 2 kali sebelumnya, SBY menang telak di Sumbar. Kecenderungan ini pun terjadi pada Pilkada dan Pemilu.

Sedangkan jika melihat dari segi penerimaan, orang Minang sudah menerima Jokowi sebagai Presiden RI. Ini dibuktikan dengan kondisi di Sumbar yang aman dan tertib. Tidak ada demo besar-besaran menentang pemerintah misalnya. Bahkan dari sisi pemerintahan, seluruh pemerintahan kota dan kabupaten serta provinsi ikut mensukseskan program pemerintah pusat.

Selaku Gubernur Sumbar yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah, saya juga bisa memastikan bahwa loyalitas masyarakat maupun pemerintah daerah di Sumbar kepada pemerintah pusat tetap terjaga hingga kini. Ini bisa dibuktikan dengan tidak adanya organisasi atau kelompok separatis pengacau keamanan. Bahkan Sumbar adalah salah satu daerah teraman di Indonesia. Animo masyarakat Sumbar yang antusias terhadap pembangunan yang bertujuan kesejahteraan rakyat adalah realita yang ada di satu sisi.

Maka bisa disimpulkan, masyarakat Minang memiliki sikap realistis, rasional, dan logis di satu sisi, dan punya selera tersendiri (budaya) di sisi lain. Dan keduanya itu ternyata bisa berjalan masing-masing tanpa saling menjatuhkan. ***

Singgalang, 24 Februari 2016

 

152. 2016-03-01 [Padek] Kepala Daerah, Kuasa Allah

KEPALA DAERAH, KUASA ALLAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Selaku Gubernur Sumbar, pada 17 Februari 2016 lalu saya melantik 12 orang Bupati dan Wali Kota serta Wakil Bupati dan Wakil Wali Kota yang terpilih pada pilkada serentak 2015, yang bertempat di Auditorium Gubernuran, Padang. Para kepala daerah ini ternyata memiliki latar belakang beragam.

Seperti yang saya sampaikan dalam sambutan acara pelantikan, jika diibaratkan pemain olah raga, 12 orang kepala daerah ini bisa dibagi ke dalam 4 kategori. Yaitu ‘pemain lama’,  ‘pemain baru’, ‘pemain cadangan’, dan ‘pemain basket’.

Kategori ‘pemain lama’ adalah kepala daerah pada periode 2010-2015 yang kembali maju dan terpilih kembali atau petahana (incumbent). Mereka adalah Yuswir Arifin (Sijunjung), Indra Catri (Agam), dan Ali Mukhni (Padang Pariaman). Di Sumbar sendiri, banyak calon petahana bertumbangan pada pilkada 2015 yaitu di Dharmasraya, Bukittinggi, Kota Solok, Kabupaten Solok, Pesisir Selatan,  Pasaman, dan 50 Kota. Masyarakat punya cara sendiri dalam menilai pemimpinnya sehingga para petahana yang juga punya segudang prestasi pun ternyata ada yang tumbang.

Sedangkan kategori ‘pemain baru’ adalah mereka yang baru pertama kali menjabat kepala daerah. Ada yang berlatar pengusaha seperti M. Ramlan Nurmatias (Bukittinggi) dan Sutan Riska (Dharmasraya). Sutan Riska bisa dibilang beruntung. Baru pertama kali maju dan langsung terpilih. Sedangkan Ramlan sudah pernah mengikuti ajang pilkada sebelumnya namun kurang beruntung, dan baru sekarang terpilih. Serta ada pula yang berlatar polisi seperti Hendra Joni (Pesisir Selatan). Para pemimpin baru ini menjadi harapan baru masyarakat di wilayahnya. Karena jika tidak mampu memenuhi harapan masyarakat, pada pilkada berikutnya masyarakat besar kemungkinan akan memilih pemimpin baru. Hal ini bisa dikatakan sudah menjadi tradisi atau budaya masyarakat Sumbar yang selalu ingin lebih puas dalam mencari dan memilih pemimpin.

Sementara kategori ‘pemain cadangan’ adalah kepala daerah terpilih yang pernah menjadi wakil kepada daerah dan memiliki pengalaman di pemerintahan. Ada yang berlatar politisi seperti Irdinansyah Tarmizi (Tanah Datar). Dan ada pula yang berlatar pegawai negeri sipil (PNS) seperti Irfendi Arbi (50 Kota) dan Zul Elfian (Kota Solok).

Dan kategori ‘pemain basket’ adalah mereka yang pernah menjadi kepala daerah dan sempat tidak menjabat lagi dan kemudian maju kembali pada tahun 2015 dan menang. Mereka ini adalah Syahiran (Pasaman Barat), Gusmal (Kab. Solok), dan Yusuf Lubis (Pasaman).

Sebab-sebab kemenangan 12 kepala daerah ini juga beragam. Indra Catri hanya didukung sedikit partai namun bisa menang. Indra Catri sudah menjadi kepada daerah periode 2010-2015, ikut pilkada 2015 dan terpilih kembali. Sutan Riska dan Hendra Joni memiliki modal kuat dan mendapat dukungan banyak tokoh. Ali Mukhni didukung sedikit tokoh. Irfendi, sedikit modal dan kurang beruntung di pilkada sebelumnya dan menang di periode berikutnya. Ramlan sudah pernah ikut pilkada, dan baru terpilih sekarang. Syahiran, Gusmal dan Yusuf Lubis adalah kepala daerah yang kembali ikut pilkada untuk periode kedua namun belum menang, lalu ikut kembali dan mendapat kemenangan. Latar belakang pendidikan kepala daerah ini juga beragam, yaitu teknik, hukum, ekonomi, pendidikan, pertanian, ilmu pemerintahan, dan agama.

Selain itu, sebab-sebab kekalahan pun beragam. Ada yang baru ikut pilkada namun belum terpilih. Ada yang sudah menjadi kepala daerah periode 2010-2015, ikut pikada 2015 dan tidak terpilih lagi. Ada yang sudah menjadi wakil kepala daerah di periode 2010-2015, ikut pilkada 2015 dan belum terpilih. Ada pula yang modalnya kuat ikut pilkada 2015 namun belum terpilih.

Beragamnya sebab-sebab kemenangan dan kekalahan ini menyadarkan kita bahwa semuanya itu adalah kuasa Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Ali Imran 26-27)

Namun demikian, kemenangan itu sendiri juga diperoleh karena adanya sunatullah dalam berjuang yaitu memaksimalkan usaha dan cara untuk meraih kemenangan, serta diiringi dengan doa sehingga akhirnya pilihan rakyat terbanyak jatuh kepadanya. Ada yang menang karena faktor kepribadian, program yang diajukan, kompetensi dan lainnya. Namun setiap kemenangan pada akhirnya Allah SWT juga yang menentukan.

Oleh karena itu, ketetapan dari Allah SWT ini mari kita terima sehingga kita bisa menatap ke depan dengan lebih baik lagi. Tidak perlu melakukan penolakan melalui aksi-aksi kontraproduktif dan melanggar aturan serta mengganggu ketertiban karena akan merugikan diri sendiri dan masyarakat. Kuasa Allah SWT adalah hal yang tak dapat ditolak oleh siapapun. Siapa yang menjadi kepala daerah sudah Allah tetapkan di lauhul mahfudz. Insya Allah akan ada hikmah yang bisa diambil dari bebagai sebab kemenangan dan kekalahan ini. Dan alhamdulillah, mayoritas rakyat sudah bersikap dewasa dan bisa menerima hasil pilkada 2015 lalu. Yang utama adalah, mari kita bersatu dalam membangun Sumbar agar kesejahteraan yang kita inginkan bersama bisa lebih cepat terwujud.

Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, kaum muslimin dan masyarakat. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di manapun mereka berada. Aamiin Ya Rabbal Aalaamiin. ***

Padang Ekspres, 1 Maret 2016

 

153. 2016-03-08 [Singgalang] Kehidupan Ekonomi Masyarakat Sumbar

KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT SUMBAR

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Ketika memberikan sambutan di hadapan peserta acara pertemuan tahunan pelaku industri jasa keuangan 2016 di Hotel Pangeran, Padang, 24 Februari 2016 lalu, saya menyampaikan pentingnya lembaga keuangan mendukung ekonomi masyarakat Sumbar yang mayoritas bergerak di bidang usaha mikro (84%) kecil (14%) dan menengah (0,8%) (UMKM). Hal ini karena karakter masyarakat Minang punya kekhasan tersendiri dibanding masyarakat wilayah lain.

Karakter yang dimaksud di antaranya adalah mandiri, independen dan usaha secara kemitraan (seperti bagi hasil). Dengan karakter masyarakat yang seperti ini, maka struktur lapangan pekerjaan yang digeluti oleh mayoritas masyarakat Sumbar pun bisa dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis bulan Mei 2015.

Berdasarkan data BPS, struktur lapangan pekerjaan di Sumbar yang terbesar adalah sektor pertanian (39%), diikuti sektor perdagangan (23,38%), jasa kemasyarakatan (16,33%) dan industri pengolahan (7,60%).

Di sektor pertanian Sumbar, kebanyakan bukan buruh tani. Yang banyak muncul di masyarakat adalah kemitraan dengan menerapkan sistem bagi hasil, seperti ‘sapaduoan’ atau ‘sapatigoan’. Begitu juga di bidang peternakan. Sedangkan di sektor perdagangan,  ada kenaikan jumlah orang yang bekerja sebanyak 82 ribu orang dan di sektor industri pengolahan ada kenaikan jumlah orang yang bekerja sebanyak 20 ribu orang dalam setahun terakhir. Pertambahan ini menunjukkan kecocokan lapangan pekerjaan dengan karakter masyarakat Minang yang cenderung independen dan mandiri dalam bekerja serta memiliki “jam kerja produktif” masing-masing yang tidak seragam.

Industri pengolahan yang ada di Sumbar didominasi oleh industri skala kecil atau rumahan (home industry). Hanya ada satu industri pengolahan skala besar yaitu Semen Padang yang sudah sejak lama berdiri dibangun oleh Belanda pada tahun 1910. Belanda membangun Semen Padang karena sumber bahan mentahnya ada di Padang, dan dikirim ke Belanda melalui Pelabuhan Teluk Bayur yang terletak di pantai barat sumatera.

Sektor jasa kemasyarakatan juga termasuk yang tertinggi dalam struktur lapangan pekerjaan di Sumbar, di antaranya keuangan, hotel, restoran, dan agen perjalanan. Pascagempa 2009, hotel di Sumbar terus bertambah, hingga tahun 2014 tercatat penambahan lebih 2000 kamar. Dan ke depannya diramalkan akan terus bertambah karena dunia pariwisata Sumbar berpotensi untuk mengalami peningkatan dan juga bersentuhan langsung dengan pelaku UMKM, misalnya transportasi, kuliner, penginapan, ekonomi kreatif, dan sektor terkait lainnya yang memiliki efek multiplier cukup bagus.

Kehidupan ekonomi di Sumbar sulit ditopang oleh industri besar karena letak geografis Sumbar sendiri yang berada di pantai barat sumatera yang bukan merupakan jalur utama perdagangan nasional, apalagi internasional. Selain itu bahan mentah untuk industri besar pun akan didatangkan dari luar Sumbar yang akan menyebabkan kenaikan harga sehingga sulit bersaing. Sementara jika industri besar ada, maka tujuan pemasarannya pun akan keluar Sumbar karena jumlah penduduk Sumbar sedikit, dan ini akan menaikkan harga jual sehingga daya saing berkurang. Belum lagi dengan karakter masyarakat yang tidak cocok menjadi buruh industri karena akan terkungkung dengan “jam kerja yang diatur” yang tidak sesuai dengan karakater masyarakat Minang. Jikapun ada yang bersedia bekerja sesuai dengan jam kerja, biasanya merupakan hasil pilihan yang selektif, misalnya menjadi pegawai negeri sipil atau pegawai perusahaan yang sudah memiliki reputasi yang pendapatannya di atas upah minimum regional (UMR). Maka tidak heran jika angka kemiskinan di Sumbar terus menurun dan jauh di bawah angka kemiskinan nasional namun angka pengangguran walaupun turun setiap tahun tapi masih di atas angka nasional (0,1 % di atas nasional), salah satu sebabnya adalah sikap yang selektif dalam memilih pekerjaan. Dan sejauh ini belum ditemukan penduduk Sumbar yang menjadi tenaga kerja ‘unskilled’ seperti pembantu rumah tangga (TKW) di dalam maupun luar negeri. Tenaga kerja yang ada lebih didominasi oleh mereka yang memiliki ‘skill’.

Dengan melihat kondisi yang ada tersebut, maka kehidupan ekonomi masyarakat Sumbar mengarah kepada ekonomi kerakyatan yang membutuhkan peran lembaga keuangan untuk membantu, memberdayakan dan juga meningkatkan kapasitas usaha masyarakat.

Ekonomi rakyat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ekonomi yang mengacu kepada peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Dan selama ini Pemprov Sumbar sudah menelurkan berbagai kebijakan dan program pembangunan yang betujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Baik dengan memperjuangkan dari APBN, APBD maupun bantuan dari perantau.

Namun demikian, selaku Gubernur Sumbar saya tetap terus mengajak para pelaku industri keuangan di Sumbar, untuk memberikan bantuannya kepada masyarakat Sumbar yang banyak bergelut di bidang usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tersebut.

Mereka ini layak dibantu karena selama ini untuk mendapat tambahan modal masih banyak yang memakai jalur rentenir yang bunganya tinggi. Jika bunga tinggi saja sanggup dibayar, maka bunga yang berasal dari bank tentu bisa dibayar. Apalagi kredit usaha rakyat (KUR) yang bunganya hanya 9%. Di samping itu selama ini mereka memang sudah melakukan usaha tersebut cukup lama (usaha yang feasible) sehingga syarat dari lamanya usaha yang biasa diminta bank pun bisa dipenuhi. Dan juga sudah terbukti bahwa tingkat kredit macet dari pelaku UMKM ini kecil sehingga layak untuk dibantu.

Antusias masyarakat untuk mendapat bantuan bisa dilihat dari penyaluran KUR di Sumbar yang termasuk tertinggi di Indonesia jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Pada bulan Juli 2013 penyalurannya mencapai Rp3,6 triliun dan alhamdulillah pada Desember 2014 naik menjadi Rp5 triliun. Kenaikan ini membuktikan bahwa pelaku UMKM di Sumbar selain jumlahnya bertambah, juga membutuhkan bantuan dana.

Kehidupan ekonomi masyarakat Sumbar adalah ekonomi kerakyatan. Oleh karena itu setiap kebijakan dan program ekonomi pemerintah selalu diupayakan dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk bisa berkembang dan sejahtera. ***

Singgalang, 8 Maret 2016

 

154. 2016-03-17 [Padek] Basamo Mangko Manjadi

BASAMO MANGKO MANJADI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 5 Maret 2016 lalu, saya melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Tanah Datar. Salah satu agenda saya di sana adalah, bersama Ketua DPRD Sumbar, Bupati dan Wakil Bupati Tanah Datar meresmikan sebuah jembatan yang bernama Jembatan Rajo Mantari yang berlokasi di Jorong Koto Panjang Nagari Tigo Jangko Kecamatan Lintau Buo. Yang menurut saya unik dan patut diapresiasi dan juga bisa ditiru adalah, adanya dukungan masyarakat setempat dan rantau terhadap pembebasan dan pembiayaan tanah serta dukungan sosial lainnya.

Panjang jembatan tersebut 60 meter. Dibangun dengan anggaran multiyears pemerintah kabupaten selama 2011-2015. Anggarannya sebesar Rp13,5 miliar. Sementara pembebasan tanah memakan biaya Rp250 juta yang merupakan hasil usaha masyarakat dan perantau. Saya dan peserta yang hadir sempat makan bajamba setelah selesai acara peresmian jembatan, bertempat di kantor Kerapatan Adat Nagari yang ternyata biaya pembangunannya berasal dari masyarakat dan perantau.

Dalam sambutan peresmian jembatan, Ketua Kerapatan Adat Nagari Tigo Jangko menyatakan bahwa jembatan yang ada selama ini adalah jembatan gantung. Dengan adanya jembatan baru diharapkan perekonomian masyarakat akan meningkat. Dan pemberian nama jembatan tersebut sudah merupakan hasil kesepakatan pembicaraan para niniak mamak, alim ulama dan cadiak pandai.

Saya melihat dan merasakan, ada nuansa kebersamaan yang kental antara pemerintah daerah kabupaten, masyarakat dan perantau (basamo) dalam membangun daerahnya sehingga bisa terwujud (manjadi) sebuah jembatan yang pengaruhnya cukup besar bagi perekonomian masyarakat setempat. Kebersamaan memang sering menghasilkan berbagai solusi bagi permasalahan hidup. Bahkan masalah sulit sekalipun bisa dicari solusinya ketika dihadapi secara bersama.

Di berbagai tempat di Sumbar, banyak contoh hasil kebersamaan antara masyarakat, perantau dan pemda. Di Nagari Sungaipuar, saya juga pernah meresmikan bangunan asrama putri yang pembangunannya dilakukan secara bersama oleh masyarakat dan perantau. Demikian juga di Nagari Koto Gadang Agam, berkat kebersamaan masyarakat dan perantau berhasil diwujudkan jalan lintas yang lebih bagus yang juga menjadi destinasi wisata yaitu ‘Great Wall of Koto Gadang’ atau Janjang Koto Gadang.  Selain itu, rumah gadang yang bagus, masjid-masjid dan mushola-mushola megah yang banyak tersebar di pelosok Sumbar juga salah satu bukti adanya kebersamaan masyarakat dengan perantau dalam membangun kampungnya. Dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu persatu di sini.

Besarnya antusiasme perantau untuk membangun kampung halaman adalah salah satu karakter masyarakat Minang yang selain cinta juga tak lupa kampung halaman. ‘Satinggi-tinggi tabang bangau, baliaknyo ka kubangan juo’. Begitu bunyi pepatah Minang. Ini juga bisa dilihat ketika momen Hari Raya Idul Fitri, berbondong-bondong para perantau memenuhi serta mengunjungi kampung halaman mereka sehingga kemacetan terjadi di berbagai tempat di Sumbar.

Namun demikian, tanpa kebersamaan, hal yang sudah direncanakan belum tentu bisa dilakukan. Rencana yang disiapkan masyarakat tanpa dukungan perantau mungkin akan terkendala masalah pendanaan. Sebaliknya rencana perantau tanpa melibatkan masyarakat lokal mungkin bangunan yang sudah didirikan tidak terpakai.

Selain itu, ada fenomena lain yang juga perlu disikapi secara bijak. Bahwa masyarakat dan perantau punya kecenderungan untuk membangun kampung halamannya saja. Jarang didapati ada masyarakat atau perantau yang bersedia membantu pembangunan di luar kampungnya. Apalagi diarahkan untuk menyumbang ke tempat tertentu. Maka, yang perlu diapresiasi adalah antusiasme perantau dan masyarakat membangun kampung halamannya. Pemerintah tinggal memfasilitasi serta mendukung rencana-rencana pembangunan yang akan dilakukan oleh mereka.

Dalam Al Quran Allah SWT berfirman, “Bekerjasamalah kamu dalam hal kebaikan dan takwa, dan jangan sekali-kali bekerjasama dalam hal dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maidah:2). Saya optimis, dengan antusias masyarakat, perantau, dan juga pemerintah, kebersamaan akan menjadi salah satu kunci sukses pembangunan di Sumbar. Seperti diungkapkan dalam pepatah Minang, ‘Basamo Mangko Manjadi’. ***

Padang Ekspres, 17 Maret 2016

 

155. 2016-03-22 [Singgalang] Literasi Media

LITERASI MEDIA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan komentar ‘nyeleneh’ seorang artis di sebuah acara televisi tentang penyebutan lambang yang ada di dasar negara dan informasi seputar Proklamasi Kemerdekaan RI. Muncul pro dan kontra terhadap komentar yang dianggap tak pantas yang diucapkan oleh ‘public figure’ tersebut. Bagi yang pro menganggap hal itu bisa dimaafkan. Sedangkan bagi yang kontra menganggap, ucapan artis tersebut bisa ditiru oleh para penonton acara tersebut, terutama anak-anak dan remaja yang masih butuh pendampingan dalam menonton tayangan televisi. Selain itu, mempermainkan lambang negara adalah tindakan yang bertentangan dengan hukum.

Peristiwa ini mengingatkan saya pada tanggal 10 Maret 2016 lalu. Saya diundang untuk membuka sekaligus memberi sambutan di acara Seminar Literasi Media yang diselenggarakan oleh Komisi Penyiaran Informasi (KPI) Pusat yang dihadiri Ketua dan Komisioner KPI Pusat serta peserta dari kalangan pendidik. Poin penting sambutan saya di acara ini adalah pentingnya masyarakat (khususnya orang tua) melindungi anak-anak dan remaja dari dampak negatif konten media, terutama televisi dan radio. Dan KPI agar mengawasi dengan ketat acara televisi dan radio agar tidak berdampak negatif kepada anak-anak dan remaja.

Jika merujuk kepada Wikipedia, literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media, agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) bagaimana media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.

Berdasarkan pengertian ini, maka kita sebagai orang tua dituntut untuk memiliki peran besar mengatur dan mengawasi anak-anak dan remaja ketika mengakses tayangan media, terutama televisi.

Seorang psikolog, Albert Bandura melalui teori pembelajaran sosialnya menyatakan bahwa sebagian besar orang belajar melalui pengamatan dan mengingat tingkah laku orang lain. Lingkungan sekitarnya akan memberikan peneguhan dan ia akan melakukan pembelajaran peniruan. Bandura menyatakan bahwa proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model adalah tindakan belajar (Nuramin Saleh, 2012).

Demikian pula dengan anak-anak yang perilakunya berasal dari model yang mereka lihat. Bagi anak-anak, apa yang mereka katakan dan perbuat, merupakan cerminan dari model yang mereka lihat dalam lingkungan pergaulan mereka. Jika di lingkungannya ada model yang rajin berkata kasar dan kotor maka anak akan ikut berkata kasar dan kotor. Jika model yang dilihat anak adalah orang yang rajin berbohong, maka anak akan ikut berbohong. Apalagi jika model tersebut memperagakan aksi pukul-memukul yang kurang pantas dilihat anak-anak, maka bisa dibayangkan jika anak-anak meniru aksi pukul-memukul itu kepada saudara atau kawannya tanpa tahu baik atau buruk. Dan lingkungan maupun model yang mudah ditiru oleh anak-anak adalah tayangan media, seperti televisi.

Sedangkan bagi remaja, meniru model yang mereka lihat adalah bagian dari mencari identitas diri. Remaja akan meniru perilaku yang dipertontonkan para aktris, aktor, artis, selebriti maupun idolanya. Adegan romantis, percintaan, perkelahian maupun celaan dan ejekan yang dipertontonkan di media akan ditiru sebagai bagian mencari identitas diri. Sementara  bagi orang dewasa, informasi yang diserap melalui media akan mempengaruhi pola pikir dan tindakannya sehari-hari, yang banyak juga memicu perilaku negatif.

Menonton televisi bagi anak dan remaja banyak dilakukan di rumah. Untuk itu orang tua harus melakukan tindakan tegas kepada anak-anak dengan melarang menonton tayangan yang tidak baik. Biarkan anak menangis. Mereka belum mencapai masa akil baligh sehingga belum tahu baik dan buruk (abstrak), serta belum bisa diberi pemahaman. Di sini orang tua juga bisa melakukan puasa menonton televisi sehingga bisa ditiru oleh anaknya. Jika mengikuti teori perkembangan kognitif Jean Piaget, pada usia 11-15 tahun seseorang baru bisa berpikir abstrak dan lebih logis.

Sementara bagi remaja yang sudah masuk akil baligh, orang tua sudah bisa memberikan pemahaman mana yang bisa dan tidak bisa ditonton. Orang tua perlu mendampingi anaknya yang remaja ketika menonton televisi.

Tayangan media sebenarnya banyak yang bermanfaat, baik dalam penyebaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, keagamaan, nasionalisme dan hal-hal lain yang positif. Namun sayangnya hingga saat ini masih banyak keluhan dari penonton televisi, terutama orang dewasa yang sudah memahami dampak negatif konten media. Sudah banyak acara dengan rating tinggi dikeluhkan oleh para orang tua maupun praktisi dan pakar. Ketika kepentingan bisnis terlalu dominan pada sebuah media yang diperlihatkan dengan rating, maka tanggung jawab sosialnya kepada publik dirasa kurang. Untuk itu, media perlu menyadari bahwa tayangan negatif berdampak kepada perkembangan generasi muda.

Selaku Gubernur Sumbar, saya mengharapkan KPI Pusat dan KPI Daerah  melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap tayangan televisi sehingga bisa meminimalisir dampak negatif yang merusak anak-anak dan remaja. Selain itu, saya juga mengharapkan partisipasi para pendidik terkait literasi media ini untuk menyampaikan kepada murid-muridnya. Dan kepada para orang tua sebagai pemegang otoritas di rumah tangga agar memperhatikan tontonan anak-anaknya di rumah. Insya Allah, jika para orang tua mampu mengontrol kondisi rumah, anak-anak dan remaja akan selamat dari dampak negatif media. ***

Singgalang, 22 Maret 2016

156. 2016-03-29 [Padek] Menatap Pariwisata Sumbar

MENATAP PARIWISATA SUMBAR

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Di depan stake holder pariwisata, baik pengelola hotel, pengelola kuliner, pemilik biro perjalanan, pramuwisata, dan pengelola jasa transportasi yang hadir di Musyawarah Daerah V Asita (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies) Sumbar 10 Maret 2016 lalu, saya menjelaskan bahwa penanganan pariwisata di Sumbar di masa kepemimpinan saya selaku Gubernur Sumbar periode 2016-2021 menjadi bagian dari visi-misi yang dituangkan dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) dan menjadi sebuah gerakan terpadu pengembangan pariwisata.

Yang dimaksud gerakan di sini adalah dilaksanakan secara berkelanjutan, tanpa henti, menjadi kepedulian bagi pemerintah, dan dipikirkan terus menerus. Sedangkan yang dimaksud terpadu adalah pelaksananya tidak hanya dinas pariwisata, tetapi dinas-dinas lain juga ikut mendukung dan mensukseskan sesuai dengan bidangnya, termasuk juga kabupaten/kota dan seluruh stake holder pariwisata.

Motivasi utama gerakan terpadu pengembangan pariwisata ini adalah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti kita ketahui, potensi pariwisata di Sumbar cukup besar. Adat dan budaya, kuliner, dan keindahan alam adalah karunia yang seharusnya bisa dimaksimalkan yang kemudian dituangkan dalam kebijakan pengembangan pariwisata dan memiliki manfaat bagi banyak orang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Allah SWT dalam Al Quran berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu…” (QS. Ibrahim: 14). Dalam rangka mensyukuri nikmat Allah kepada kita yang dikaruniai kekayaan adat dan budaya, keragaman kuliner, dan keindahan alam, maka gerakan terpadu pengembangan pariwisata adalah salah satu cara yang bisa dilakukan.

Lalu pertanyaannya, dari mana memulainya? Di sini kita tidak mesti memikirkan apakah ayam atau telur dahulu. Jika yang ada ayam, maka pelihara dengan baik agar ia bisa menghasilkan telur. Dan jika yang ada telur, dirawat dengan baik hingga ia menetas. Intinya, lakukan mana yang bisa, sambil dilakukan pengawasan maupun evaluasi serta koordinasi.

Kita bisa mulai dari berbagai hal yang sudah banyak dibicarakan orang, kemudian langsung dicari solusinya. Pertama, karakter yang kurang melayani, maka kita upayakan memberikan pelatihan kepada pelaku pariwisata. Kedua, masalah area wisata yang kotor, maka harus segera kita bersihkan. Ketiga, ketiadaan rest area, maka kita ajak bersama pihak kabupaten/kota untuk menyediakannya. Keempat, ketidaknyamanan akibat perilaku juru parkir dan pelaku pemalakan, segera kita turunkan Satpol PP dan juga dibantu aparat untuk menanganinya. Kelima, kurangnya sarana transportasi ke tempat wisata, maka kita ajak investor masuk atau menghubungi penyedia transportasi yang sudah ada untuk masuk ke tempat tersebut. Keenam, infrastruktur yang tidak menunjang, pemerintah segera memperbaiki agar lancar. Intinya, kita mulai dengan semua masalah yang ada di depan mata, lalu diselesaikan bersama. Di sini tidak hanya pemerintah yang aktif, tapi juga masyarakat dan swasta bisa ikut terlibat.

Saya mengambil contoh beberapa tokoh rantau yang sudah mengawali untuk mengembangkan pariwisata Sumbar. Andrinof Chaniago, mengajak pihak swasta pengelola kapal wisata untuk melayani rute Padang ke Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan. Fahmi Idris dan rekan membantu perbaikan rumah masyarakat untuk menjadi homestay agar bisa dijadikan penginapan. Dony Oskaria (Komisaris Garuda) bersama Forum Minang Maimbau akan membuat festival kuliner berskala nasional di Payakumbuh, insya Allah akhir tahun 2016 ini.

Saya sendiri, selama ini sudah banyak mendapatkan masukan dari berbagai unsur masyarakat agar mengembangkan pariwisata di Sumbar, baik dari berbagai pertemuan tatap muka (offline, dunia nyata) maupun dari media sosial (online, dunia maya). Berbagai masukan dan kritikan konstruktif yang selama ini saya terima dari berbagai sumber tersebut menjadi masukan yang berharga untuk pengembangan pariwisata Sumbar ke depannya.

Poin penting yang diharapkan dari gerakan terpadu pengembangan pariwisata ini adalah munculnya efek multiplier kepada masyarakat secara luas sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan sekaligus mengurangi angka kemiskinan. Semakin bertumbuh pariwisata maka efeknya kepada biro perjalanan, jasa transportasi, usaha kuliner, tenaga kerja kepariwisataan, ekonomi kreatif, penginapan yang semuanya dikelola oleh masyarakat ini bisa positif dan signifikan. Untuk itu perlu kebersamaan dan juga mengubah pola pikir masyarakat agar pariwisata ini milik bersama sehingga ada pemikiran kolektif untuk bersama-sama mengembangkan, memiliki, dan menjaganya.

Semoga antusiasme seluruh elemen masyarakat terhadap pengembangan pariwisata di Sumbar ini bisa mengarah kepada jalur yang baik sehingga tidak memunculkan euforia yang bisa kontraproduktif. Insya Allah dengan semangat kebersamaan, hal-hal yang sulit ditemui di jalan bisa didapatkan solusinya untuk kebaikan bersama. ***

Padang Ekspres, 29 Maret 2016

157. 2016-04-06 [Singgalang] Muliakan Anak

MULIAKAN ANAK

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 15 Maret 2016 lalu, saya menyampaikan sambutan di acara Workshop dan Advokasi Kota Layak Anak, di Komplek Universitas Negeri Padang (UNP), Air Tawar, Padang. Kota Layak Anak ini merupakan tindak lanjut dari komitmen dunia terhadap anak yaitu World Fit for Children yang diadopsi oleh Pemerintah Indonesia. Dan sejak tahun 2006 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengembangkan kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak. Tujuannya adalah untuk membangun sebuah sistem pembangunan anak yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan dalam dimensi kabupaten/kota dengan mensinergikan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha sehingga pemenuhan hak-hak anak di Indonesia dapat lebih dipastikan.

Pada tahun 2015, 6 Kota di Sumbar telah mendapat penilaian dan penghargaan Kota Layak Anak, baik Tingkat  Pratama maupun Tingkat Madya. Keenam kota tersebut adalah Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Sawahlunto. Ada 31 indikator yang dinilai bagi kota/kabupaten  untuk memenuhi kriteria layak anak. Indikator ini disarikan dari hak-hak anak yang ada di dalam UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990.

Di luar itu semua, poin penting sebuah kota dinyatakan layak anak adalah masyarakatnya yang layak anak. Yaitu masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap hak-hak anak. Dan unsur terkecil dari masyarakat adalah keluarga yaitu orangtua. Maka keluarga layak anak akan menciptakan masyarakat layak anak dan selanjutnya terwujudlah kota/kabupaten layak anak. Sementara dari sisi pemerintah, membantu mewujudkan kota/kabupaten layak anak dengan menyediakan infrastruktur maupun sarana/prasarana serta kebijakan terkait.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Akrimuu aulaadakum wa ahsinuu adabahum” yang artinya, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaiki adab-adab mereka.” (HR. Ibnu Majah).  Betapa Islam memperhatikan soal anak ini hingga yang diminta adalah memuliakan anak. Selama ini kita lebih sering mendengar tentang memuliakan orangtua. Namun ternyata anak pun harus dimuliakan.

Mengapa anak perlu dimuliakan? Karena mereka adalah makhluk yang lemah. Anak lemah secara fisik. Anak juga masih lemah intelektualitasnya karena belum bisa berpikir matang. Anak juga belum memiliki kematangan mental. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah kuat secara fisik, memiliki intelektualitas dalam berpikir dan kuat secara mental. Memuliakan anak lebih dari sekedar melindunginya ataupun mencegah terhadap bahaya yang akan timbul. Memuliakan anak adalah memenuhi hak-haknya dan mengaktualisasikan potensi dirinya.

Anak memang perlu mendapat perlindungan dari kekerasan karena mereka dalam posisi lemah. Sudah sering diberitakan banyaknya anak-anak yang mengalami kekerasan baik oleh orangtua atau kerabat, dan juga lingkungannya. Tidak sedikit anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain terpaksa harus bekerja membantu orangtuanya. Di samping itu, begitu mudahnya orangtua maupun orang dewasa memarahi anak, memperdayai anak dan memperlakukan anak semena-mena. Oleh karena itu, memuliakan anak lebih dari sekedar melindunginya atau mencegah dari kejahatan yang akan menimpanya, yaitu memenuhi haknya dan mengaktualisasikan potensinya.

Hak anak di antaranya adalah, bermain, memiliki waktu luang, tidur dan istirahat yang cukup, belajar (akses pendidikan), hidup sehat (akses kesehatan). Di samping itu mengaktualisasikan potensi anak adalah dengan menyalurkan bakatnya, mengembangkan minatnya serta mangasah kompetensinya. Dengan memuliakan anak, insya Allah mereka akan tumbuh kembang dengan baik dan meraih kesuksesan dalam hidupnya. Dan dampak dari memuliakan anak ini insya Allah akan kembali kepada orangtuanya.

Orangtua yang memuliakan anaknya, insya Allah anak-anak mereka kelak akan memuliakan orangtuanya. Baik ketika orangtuanya masih hidup di dunia maupun setelah orangtuanya meninggal. Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang soleh” (HR. Muslim no. 1631).

Semoga kita sebagai orangtua dan juga orang dewasa bisa menunaikan tugas yang mulia ini kepada anak, yaitu memuliakan anak. ***

Singgalang, 6 April 2016

 

158. 2016-04-12 [Padek] Ulama dan Umara

ULAMA DAN UMARA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Ketika memberikan sambutan di acara Muzakarah Ulama se-Sumbar yang diadakan di Padang Panjang, 11 Maret 2016 lalu, saya mengapresiasi kegiatan MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sumbar ini dan mengharapkan dukungan MUI (ulama) kepada pemerintah (umara) dalam menjalankan pembangunan di Sumbar untuk tercapainya masyarakat Sumbar yang madani dan sejahtera. Utamanya dalam hal yang bersentuhan langsung dengan permasalahan masyarakat yang perlu dicarikan solusinya, di antaranya seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, penyakit sosial, mentalitas masyarakat, narkoba, HIV-AIDS, LGBT dan lainnya.

Ulama dan umara dalam budaya Minangkabau adalah dua peran yang tidak bisa dipisahkan. Falsafah ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ yang mencerminkan masyarakat religius membutuhkan peran ulama dan umara yang saling mendukung dan melengkapi dalam pembangunan untuk kesejahteraan rakyat.

Umara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemimpin pemerintahan. Sedangkan ulama adalah orang yang ahli dalam pengetahuan agama Islam. Pengertian seperti ini yang juga ada di pikiran banyak orang, sehingga umara diidentikkan kepada urusan dunia dan ulama identik dengan urusan akhirat.

Inilah pengaruh paham sekulerisme yang memisahkan masalah dunia dan akhirat. Menurut Wikipedia, sekulerisme adalah paham yang menyatakan bahwa institusi terpisah dari agama atau kepercayaan, dan di dalam politik agama dan pemerintahan dipisahkan. Dalam konsep Islam, ulama itu mestinya juga bisa menjadi umara, dan umara juga memiliki kapasitas ulama.

Menyatunya peran umara dan ulama bisa dilihat di masa Khulafaur Rasyidin dan juga beberapa kekhalifahan setelah itu.  Pemilihan pemimpin dilihat dari kapasitasnya justru dengan menggabungkan kapasitas umara dan ulamanya. Ibnu Khaldun dalam Muqadimahnya bahkan menjelaskan imam sholat pada masa Khulafaur Rasyidin dipegang langsung oleh khalifah.

Dalam realita sistem bernegara di Indonesia saat ini, umara muncul dari proses politik. Pemilihan umara dilakukan sesuai undang-undang yang berlaku melalui mekanisme politik di mana salah satu unsur pentingnya adalah partai politik yang mengusung calon. Maka dilaksanakanlah pemilihan presiden, gubernur, dan bupati/wali kota. Sedangkan ulama muncul dari proses belajar hingga ke jenjang keilmuan tertentu. Maka peran dan posisi umara dan ulama menjadi terpisah sehingga masalah-masalah di masyarakat yang seharusnya bisa diselesaikan malah berlarut-larut dan muncul berbagai budaya yang merusak hingga sulit diatasi.

Umara yang lahir dari proses pemilu (politik) tidak otomatis memiliki kapabilitas ulama atau terpilih karena memiliki kapabilitas ulama. Bahkan sebagian besar umara dari proses politik ini (pemilu) bukan dari kalangan ulama. Sementara ulama yang ada (disimbolkan dengan MUI) melakukan pemilihan internal sendiri sehingga muncul Ketua MUI. Meskipun demikian, ulama tidak harus tergabung di dalam MUI.

Jika berbicara ideal, maka sesuai konsep Islam umara itu adalah ulama. Namun kondisi saat ini, konsep ideal itu tidak terwujud. Umara ada di satu sisi, ulama ada di sisi lain. Sementara tuntutan untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat menghendaki umara dan ulama sebagai sebuah kesatuan.

Masalah maraknya narkoba, penularan HIV-AIDS, LGBT, kriminalitas, kemiskinan, pengangguran, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, dan lainnya, insya Allah akan lebih efektif jika umara dan ulama bersatu menyelesaikan permasalahannya. Dan tidak hanya itu, akan tetapi bersatunya umara dan ulama juga dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tugas umara dan ulama adalah mengarahkan masyarakat agar kehidupan mereka lebih baik lagi, baik kehidupan jasmani maupun rohani. Allah SWT berfirman, “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf: 96).

Insya Allah, dengan kompetensi yang dimiliki umara dan ulama, bersatu dalam menyelesaikan permasalahan di masyarakat, satu persatu permasalahan riil di masyarakat bisa diselesaikan dan kesejahteraan perlahan-lahan akan semakin meningkat. ***

Padang Ekspres, 12 April 2016

 

159. 2016-04-19 [Singgalang] Bela Negara

BELA NEGARA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Ketika memberi sambutan dalam pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Bela Negara (GBN) Sumbar, saya mengharapkan agar GBN mampu membangkitkan semangat dan nasionalisme bangsa dan negara, dan membimbing para generasi muda menjadi generasi yang menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bela negara adalah konsep yang universal, seluruh negara di dunia mempraktekannya dengan cara masing-masing. Bagi negara-negara yang masih dijajah secara fisik oleh negara lain hingga saat ini seperti Palestina yang dijajah oleh Israel, bela negara adalah kebutuhan untuk menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Ini juga sejalan dengan konstitusi negara kita.

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republika Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak seluruh bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Kemerdekaan adalah nilai universal bagi setiap bangsa dan negara untuk memenuhi hak asasinya. Karena dengan kemerdekaanlah sebuah bangsa dan negara bisa membangun dan mensejahterakan rakyatnya. Sebaliknya ketika dijajah, sebuah bangsa dan negara mengalami berbagai siksaan seperti perbudakan, kekerasan terhadap wanita dan anak-anak, pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai kejahatan lainnya.

Dalam Wikipedia, pengertian bela negara adalah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok, atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut. Secara fisik, dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang mengancam keberadaan negara tersebut. Sedangkan secara non fisik, dapat diartikan upaya berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara.

Konsep bela negara mengalami perbedaan wujud dari masa ke masa. Ketika masa penjajahan, bela negara diwujudkan dengan perang fisik mengangkat senjata. Ketika sudah merdeka, bela negara diwujudkan dengan membangun bagi pemerintah dan dengan mengaktualisasikan diri bagi masyarakat.

Pemerintah beserta aparaturnya melakukan pembangunan di berbagai bidang dengan tujuan mensejahterakan masyarakat. Menjadikan masyarakat sejahtera adalah wujud bela negara oleh pemerintah karena akan meningkatkan ketahanan nasional.

Demikian pula masyarakat atau individu yang mengaktualisaikan dirinya dengan bersungguh-sungguh dalam belajar, bekerja, berumahtangga, maupun bermasyarakat. Bagi pelajar, wujud bela negara adalah belajar sungguh-sungguh, patuh kepada orangtua serta hormat kepada orang yang lebih tua, menjauhi seks bebas, narkoba, HIV-AIDS, budaya merusak, dan penyakit sosial lainnya.

Bagi mereka yang sudah bekerja atau berwirausaha, wujud bela negara adalah bekerja sungguh-sungguh guna menghidupi diri dan keluarganya, mengarahkan keluarganya kepada hal-hal positif sesuai tuntunan agama, juga adat dan budaya. Pengusaha pun ikut membantu pemerintah mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Dan dalam bermasyarakat, ikut aktif gotong royong dan berpartisipasi dalam pembangunan. Para individu ini mewujudkan bela negara dengan berpegang pada adat dan budaya serta ajaran agama sehingga tercipta masyarakat yang kuat dan bersatu serta beradab.

Jika kita melihat kisah perjuangan para pahlawan dari Minangkabau seperti Mohamad Natsir, Buya Hamka, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta dan lainnya, pengaruh adat dan budaya Minangkabau serta ajaran Islam mewarnai perjalanan hidup mereka dalam perjuangan baik sebelum kemerdekaan maupun sesudah kemerdekaan.

Kita bisa melihat negara-negara yang sudah maju dan makmur untuk mengambil berbagai hal positif terkait dengan pelaksanaan bela negara sesuai dengan bidang masing-masing. Di samping itu, kita juga bisa melihat negara-negara yang belum maju, belum makmur, untuk mengambil pelajaran dari keadaan mereka agar termotivasi untuk mewujudkan bela negara sebaik mungkin sesuai bidang kehidupan kita.

Dengan melihat kondisi di berbagai negara kita juga bisa mengenal bagaimana mewujudkan bela negara yang baik sesuai dengan kondisi kehidupan kita. Allah SWT berfirman, “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat:13).

Ayat tersebut juga mengajak kita selain untuk mengenal manusia dengan beragam bangsa dan suku juga meningkatkan takwa. Peningkatan ketakwaan juga merupakan bagian dari bela negara itu sendiri seperti bisa kita lihat di masa sebelum merdeka, para syuhada yang telah berjuang mengorbankan dirinya untuk bangsa dan negara adalah wujud bela negara sekaligus wujud ketakwaan. Maka di saat kondisi sudah merdeka, meningkatkan ketakwaan juga merupakan wujud bela negara.

Semoga kita di bidang masing-masing bisa mewujudkan bela negara ini sekaligus menguatkan ketakwaan serta tetap menjaga identitas adat dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan seperti pernah dicontohkan oleh para pendahulu yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara. ***

Singgalang, 19 April 2016

 

160. 2016-04-26 [Padek] Stop Perceraian

STOP PERCERAIAN

Oleh:   IrwanPrayitno
Gubernur Sumbar

Beberapa waktu lalu sempat ramai dibicarakan orang tentang perceraian yang menjadi pemicu utama gangguan kejiwaan. Rumah tangga atau keluarga yang seharusnya menjadi ladang kebahagiaan ternyata berubah menjadi sumber ketidakbahagiaan yang menimbulkan keresahan bagi sebagian orang.

Terkait masalah serius ini, salah satu lembaga yang memiliki peran besar menjaga keutuhan rumah tangga adalah Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4). Dan pada hari Sabtu, 16 April 2016 lalu saya membuka Musyawarah Wilayah BP4 ini serta menyampaikan apresiasi kepada BP4 yang berperan besar dalam mengagalkan terjadinya perceraian dan juga membantu menyelesaikan konflik rumah tangga sehingga bisa membuat pasangan yang sempat berkonflik bisa kembali hidup harmonis.

Jika melihat data yang ada, angka perceraian di Sumbar termasuk tinggi. Bahkan angkanya di atas 10 persen dari peristiwa nikah, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang tidak sampai 10 persen. Dari 43.813 peristiwa nikah di Sumbar pada tahun 2014, ada 6.325 kasus perceraian atau sekitar 14,4 persen. Menurut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Salman K. Memed, faktor penyebab perceraian 40 persen lebih disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau rendah pendidikan dan pengetahuan, 32 persen disebabkan ketidakharmonisan, dan 23,8 persen karena masalah ekonomi (Padang Ekspres, 28 Januari 2016).

Dengan melihat data tadi, munculnya perceraian bisa dikatakan karena tidak adanya kesepahaman antara suami dan istri. Ketidaksepahaman ini kemudian berujung konflik yang kemudian terjadi perceraian. Ketidaksepahaman yang tidak berujung konflik mengarah kepada ketidakharmonisan, yang bisa tetap berjalan namun tidak bahagia atau rumah tangga tidak berjalan baik, atau pada suatu saat ketidakharmonisan itu juga menyebabkan perceraian.

Ketidaksepahaman yang dialami oleh pasangan suami istri ini, bagi yang berusaha mencari jalan keluar melalui BP4 alhamdulillah bisa dicarikan solusinya sehingga bisa dimunculkan kesepahaman antara suami dan istri. Maka pasangan yang seperti ini tidak jadi bercerai, mulai membangun keharmonisan dan berusaha menjauhkan diri dari konflik. Dengan fakta yang demikian, fungsi BP4 sangat positif dalam menjaga keutuhan keluarga.

Sementara itu di sisi lain, setiap pasangan suami istri sudah seharusnya meningkatkan pemahaman terhadap peranan masing-masing dan juga pemahaman terhadap pasangan masing-masing, guna mencegah terjadinya konflik rumah tangga. Al Quran dan terutama Hadits begitu banyak menyebut bagaimana peranan suami dan istri dalam berumah tangga. Bahkan ayat-ayat dan hadits tentang rumah tangga ini banyak terdapat dalam buku-buku yang membahas tentang rumah tangga. Tidak sulit untuk mencari buku-buku tentang rumah tangga ini, karena penulis buku tentang ini cukup banyak sehingga berbagai judul buku tentang rumah tangga pun mudah diperoleh.

Ketika suami dan istri semakin banyak paham tentang peranan masing-masing dalam rumah tangga dan keluarga dan juga mampu memahami karakter, prilaku, kepribadian, pemikiran dan perasaan pasangannya, maka konflik bisa dihindari atau diminimalisir. Sehingga perceraian pun bisa dihindari. Kepahaman seperti ini menekankan pentingnya berpikir.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya. Dan dijadikannya  di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar Rum:21).

Di ayat ini Allah SWT menyebut ‘kaum yang berpikir’ untuk urusan rumah tangga. Oleh karena itu, bagi suami istri dan kaum remaja yang kelak akan berumah tangga perlu meningkatkan pemahaman terhadap peran suami dan istri dalam rumah tangga agar terhindar dari konflik maupun perceraian. Allah mengajak kita berpikir, semakin jernih pikirian kita maka insya Allah akan semakin memahami bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga.

Suami perlu memahami latar belakang istrinya yang beda dengan dirinya. Demikian juga istri. Jika suami dari keluarga militer dan istri dari keluarga sipil, keduanya harus bisa saling memahami agar tidak terjadi benturan atau konflik karena karakter keduanya pasti beda. Suami dari keluarga yang hidup di kota, istri dari keluarga yang hidup di desa, maka perlu saling memahami karena karakternya pasti berbeda. Suami dari suku Jawa dan istri dari suku Minang, keduanya perlu saling pengertian karena banyak perbedaan yang harus dipahami satu sama lain. Suami istri pada awalnya saling mengenal (taaruf) kemudian berlanjut dengan saling memahami (tafahum), saling tolong menolong (taawun) dan saling menanggung (takaful).

Ayat 21 dari surat Ar Rum di atas juga menjelaskan bahwa Allah SWT takdirkan berpasangan (azwajan) seorang laki dengan perempuan untuk menjadi suami dan istri. Dengan takdir (ketetapan) ini mesti dipahami pula bahwa suami harus menerima lebih dan kurangnya istri. Demikian pula istri yang harus menerima lebih dan kurangnya suami. Setiap pasangan suami istri kelak akan mengetahui bahwa tidak ada lelaki yang sempurna atau wanita yang sempurna karena pasti punya kekurangan. Yang jadi keharusan justru saling memahami akan kondisi suami atau istrinya. Jika suami atau istri belum bisa memahami hal semacam ini maka di sinilah peran penasehat perkawinan (BP4) mengedukasi pasangan suami istri dan mungkin juga mereka yang akan menjadi suami istri seperti pelajar dan mahasiswa.

Rasulullah SAW menyebut ‘baitii jannatii’ yang mencerminkan bahwa kebahagiaan itu adanya di keluarga (rumah) yang dimulai sejak ijab kabul hingga ajal menjemput. Oleh karena itu, marilah kita ciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah (baitii jannatii) dengan meningkatkan pemahaman kita kepada pasangan dan dalam berumah tangga. Dan bagi yang belum berumah tangga, bisa dengan mudah mencari buku-buku panduan berumah tangga. Dan semoga ke depannya BP4 bisa semakin menanamkan kepahaman kepada pasangan suami istri maupun mereka yang belum menikah sehingga angka perceraian bisa semakin diperkecil. ***

Padang Ekspres, 26 April 2016

 

161. 2016-05-04 [Singgalang] Satpol PP Humanis

SATPOL PP HUMANIS

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 26 April 2016 lalu, di acara peringatan HUT Satpol PP ke-66 dan Satlinmas ke-54 di Payakumbuh, saya memberikan penghargaan kepada Pemko Padang, terutama jajaran Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) yang telah melakukan pekerjaan penegakan peraturan daerah (Perda) dan penertiban tanpa disertai kekerasan, terutama di kawasan pantai Padang yang kini sudah berubah.

Selama ini di mata sebagian masyarakat, Satpol PP identik dengan pembongkaran bangunan-bangunan liar, pengusiran dan penggusuran pedagang kecil, sehingga kesan yang didapat masyarakat bahwa keberadaan Satpol PP ini sebagai musuh masyarakat. Padahal, Satpol PP bertindak dengan berlandaskan aturan (seperti peraturan daerah) yang mana di satu sisi untuk menciptakan ketertiban yang merupakan hak masyarakat luas namun dengan terpaksa melakukan penertiban kepada masyarakat yang melanggar aturan tersebut. Dan tidak semuanya dilakukan dengan pemaksaan atau kekerasan. Misalnya saja penertiban kawasan Pantai Padang, di mana usaha melalui dialog dan tanpa kekerasan ini berhasil dan masyarakat luas mendapat manfaatnya. Demikian juga dengan pembebasan lahan pada proyek-proyek di Kabupaten Padang Pariaman dan Jalan By Pass Padang.

Pemerintah, khususnya Menteri Dalam Negeri telah menekankan bagaimana Satpol PP dan Linmas ini seharusnya bekerja ketika menjalankan tugasnya. Ada empat poin yang harus melekat pada diri Satpol PP ketika bertugas, yaitu Humanis, Dedikasi, Disiplin, dan Tegas.

Satpol PP ketika berinteraksi dengan masyarakat tentunya perlu mengedepankan rasa kemanusiaan (humanis) ketika melakukan pekerjaannya. Perlu menunjukkan sikap ramah dengan salam, senyum dan sapa kepada masyarakat.

Di samping itu Satpol PP sudah seharusnya bekerja secara totalitas (dedikasi) membaktikan dirinya kepada negara. Sementara itu, kedisplinan juga merupakan syarat mutlak seorang Satpol PP. Sebelum mendisiplinkan orang lain, maka ia harus mendisiplinkan dirinya terlebih dahulu. Dan ketegasan yang perlu dimiliki oleh Pol PP adalah yang berdasarkan ketentuan undang-undang dan aturan yang ada sehingga perlu kehati-hatian juga untuk bertindak agar tidak menimbulkan dampak buruk di kemudian hari.

Namun  demikian, dimungkinkan juga bagi Satpol PP membantu kelancaran kegiatan masyarakat yang terkait dengan keamanan dan ketertiban. Misalnya, membantu kelancaran, ketertiban dan keamanan para pembeli dan pedagang di Pasar Koto Baru arah ke Bukittinggi (Kab. Tanah Datar) untuk lebih tertib dan disiplin ketika naik-turun barang ke mobil sehingga kemacetan yang sudah menjadi momok setiap hari senin akan bisa dikurangi. Atau ketika momen hari raya, Satpol PP membantu pengamanan parkir di Bukittinggi mengantisipasi tarif parkir yang sangat mahal. Sudah saatnya Satpol PP tampil dengan menekankan kehumanisannya.

Demikian pula halnya dengan penanganan dan keberadaan Satpol PP di lokasi wisata. Saat ini Pemprov Sumbar sedang giat membenahi pariwisata yang tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran Satpol PP di lokasi wisata adalah dalam rangka membantu kenyamanan dan keamanan wisatawan yang datang serta menciptakan ketertiban. Di mana dampak dari hal ini pengunjung merasakan adanya kenyamanan dan keamanan sehingga makin banyak wisatawan yang datang dan masyarakat yang berdagang dengan tertib pun akan mendapatkan dampak positifnya berupa banyaknya pembeli.

Selaku Gubernur Sumbar, selain tugas yang sudah dijalankan selama ini saya juga mengarahkan Satpol PP untuk bertugas di tempat-tempat wisata. Membantu pengunjung lokasi wisata untuk memberikan rasa aman dan nyaman, terutama dari gangguan tukang palak atau preman yang mencoba memeras pengunjung. Satpol PP harus membantu para wisatawan ini dari berbagai gangguan seperti permintaan tarif parkir di luar kewajaran, premanisme dan gangguan lainnya. Dengan tampil humanis, Satpol PP insya Allah akan semakin dekat di hati masyarakat tanpa mengurangi ketegasan yang harus diambil ketika melakukan penertiban yang sudah jelas kesalahannya.

Dan bagi masyarakat yang berwisata ternyata masih merasakan adanya gangguan seperti tarif parkir di luar kewajaran, pemalakan, premanisme serta tarif makan dan minum di rumah makan di luar kewajaran, Pemprov. Sumbar menyediakan Hotline Pengaduan di nomor 0823-8742-8181 yang bisa dihubungi dengan menelpon, kirim pesan singkat (SMS, short message service) atau Whats App (WA). Mudah-mudahan dengan nomor pengaduan ini pariwisata Sumbar semakin baik dan juga keberadaan Satpol PP yang humanis di tempat wisata bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung dan juga lingkungan sekitar kawasan wisata. Peran aktif semua pihak dalam memajukan pariwisata Sumbar insya Allah akan membawa kebaikan untuk Ranah Minang yang kita cintai ini. ***

Singgalang, 4 Mei 2016

 

162. 2016-05-11 [Padek] Silaturahim Sepanjang Hayat

SILATURAHIM SEPANJANG HAYAT

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Beberapa waktu sebelum ini, dan menjadi salah satu agenda yang hampir menjadi rutinitas, saya sering diundang oleh berbagai komunitas yang berasal dari alumni berbagai sekolah. Baik alumni SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan juga ada alumni SD. Terakhir, saya memenuhi undangan alumni SMP Negeri 1 Padang. Kali ini saya datang sebagai sesama alumni SMP Negeri 1 Padang (25/3/2016) dengan agenda pembicaraan silaturahim akbar alumni SMPN 1 Padang.

Tak jauh waktunya setelah itu saya juga kedatangan tamu dari alumni SMA Negeri 3 Padang, dan sebagai sesama alumni SMA Negeri 3 Padang merencanakan silaturahim akbar juga. Kemudian, dalam waktu yang tak jauh pula, alumni SMP Negeri 2 Padang yang diketuai Bapak Hendra Irwan Rahim, yang juga Ketua DPRD Sumbar dan juga beberapa tokoh yang juga alumni SMP Negeri 2 Padang seperti Bapak Sukri Bei dan Jayadisman (Kepala BKD Sumbar), datang mengundang saya untuk memberikan sambutan di acara silaturahim alumni SMP Negeri 2 Padang tanggal 8 Mei 2016 lalu.

Jika melihat contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa sebagai manusia ternyata kita tidak bisa lepas dari silaturahim. Dan silaturahim itu berlaku sepanjang hayat. Ini dibuktikan dengan pertemuan atau silaturahim dengan teman-teman SMA, SMP, bahkan SD yang sudah berlalu puluhan tahun ternyata tetap hangat, dirindukan, dan tidak membosankan. Bahkan untuk menumpahkan kekangenan masa lalu dengan teman-teman sekolah dibuatlah grup alumni melalui aplikasi WhatsApp atau Telegram untuk tetap bisa menjalin silaturahim di dunia maya.

Pertemuan tersebut justru menambah keceriaan, tertawa lepas dan gembira bersama. Seluruh beban pekerjaan, beban pikiran, persoalan pribadi dan keluarga dan lainnya seolah-olah hilang dengan bertemunya para kawan lama ini. Kebahagiaan baru seolah-olah telah lahir di dalam diri mereka.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (HR. Bukhari Muslim). Betapa nikmat bersilaturahim ini sungguh luar biasa, bisa memperpanjang usia dan menambah rezeki.

Dalam acara silaturahim alumni sekolah, tak jarang banyak yang datang dari jauh menggunakan transportasi udara maupun darat untuk bertemu kawan lama. Meskipun hanya beberapa jam, namun ada kepuasan yang tak bisa diganti dengan hal lain. Uang jutaan rupiah yang dihabiskan untuk mendatangi acara tersebut, pengorbanan waktu dan tenaga seolah tiada artinya dibanding ketika bertemu dan bersilaturahim dengan kawan lama.

Dengan silaturahim, kita bisa bertemu kawan-kawan yang insya Allah akan menambah rezeki kita, tidak hanya berupa materi saja, tetapi juga non materi seperti kesehatan, ketenangan, persaudaraan dan lainnya. Saling bantu dan mendoakan di antara kawan insya Allah akan meningkatkan rezeki kita. Tumbuhnya rasa solidaritas di antara teman atau alumni, adalah salah satu dampak dari pertemanan yang terjalin dengan baik. Hubungan kesetiakawanan hingga hubungan bisnis yang saling bantu bisa terjadi di sini.

Sebagai salah satu contoh bentuk kesetiakawanan tersebut adalah beberapa waktu lalu ketika ada sebuah acara alumni sekolah di sebuah hotel yang dikomentari oleh seseorang dengan intonasi negatif dan disampaikan di media sosial tanpa mendalami apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa dikomandoi, serentak para alumni yang lain turun untuk membela adik-adiknya dan menyelamatkan nama sekolah yang mungkin belum pernah dikenalnya namun ada rasa solidaritas di situ. Oknum pelakunya kemudian meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya.

Selain komunitas alumni sekolah, saya juga mendapati jalinan silaturahim itu juga berjalan di komunitas lain di antaranya seperti komunitas pencinta olahraga motor, pencinta burung, penggemar musik dan klub sepeda. Silaturahim mereka bisa terjalin dikarenakan adanya kesamaan hobi. Saling berbagi  ilmu dan pengalaman di antara komunitas hobi ini saya dapati sebagai bentuk silaturahim yang membawa rezeki bagi anggotanya.

Allah SWT berpesan agar sebagai manusia kita diminta memperbaiki hubungan silaturahim sebagai salah satu bentuk ketakwaan, “Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu” (QS. Al Anfal: 1).

Allah SWT juga menyatakan bahwa sesama mukmin itu bersaudara, dan mendamaikan saudara sebagai bentuk menyambung tali silaturahim insya Allah akan mendapat rahmaNya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujurat:10).

Selain itu, karena nikmat dari Allah SWT sajalah silaturahim bisa terus terjaga, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran:103)

Manfaat dari silaturahim sungguh luar biasa, oleh karena itu dalam pergaulan kita sebaiknya tidak menyakiti orang lain, mempersulit orang lain, tidak dendam, iri, dengki, hasad, sombong, riya’ sehingga silaturahim rusak, rezeki tersumbat, hidup pun sulit. Sebaliknya, menjadi orang yang berpikiran positif, membuka diri, akan mempererat silaturahim, dan menambah rezeki. Semoga dengan menjaga tali silaturahim, Allah SWT senantiasa memberikan RahmatNya kepada kita. Aamiin. ***

Padang Ekspres, 11 Mei 2016

 

163. 2016-05-11 [Singgalang] Lagi, Indeks Kebahagiaan

LAGI, INDEKS KEBAHAGIAAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Ternyata indeks kebahagiaan kembali menjadi perbincangan hangat, setidaknya di kalangan ‘orang ekonomi’, melalui grup Whats App dan media sosial. Indeks kebahagiaan warga Sumbar Tahun 2014 yang disebut-sebut berada di urutan ketiga terbawah se Indonesia menjadi latar belakang munculnya kembali perbincangan tentang indeks kebahagiaan.

Masih teringat pula, tahun lalu Prof. Ahmad Syafii Maarif menulis di Kolom Resonansi Republika edisi 18 Agustus 2015, “dari sisi tingkat kesejahteraan masyarakat, Sumbar terjun bebas pada angka tiga dari bawah setelah Papua dan NTB.” Mungkin yang dimaksud Prof. Syafii dalam tulisan itu adalah indeks kebahagiaan yang bersifat subyektif (standar yang tidak sama) dan kualitatif. Karena jika melihat data kuantitatif, kondisi Sumbar jauh berbeda.

Misalnya angka kemiskinan, per September 2015 persentase jumlah penduduk miskin Sumbar 6,71%. Ada di urutan ke-11 terbaik/terendah dari 34 provinsi. Sedangkan Gini Ratio (tingkat ketimpangan pendapatan) Sumbar Tahun 2015 sebesar 0,39, ada di urutan ke-9 terbaik/terendah dari 34 provinsi. Demikian juga dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar atas dasar harga berlaku yang menerangkan besarnya kue ekonomi/kekayaan dari seluruh komponen di Sumbar, menunjukkan kenaikan dalam tiga tahun terakhir 2013-2015 (Rp146,90 triliun, Rp164,90 triliun, Rp178,81 triliun). PDRB Sumbar berada di urutan ke-13 terbaik dari 33 provinsi. Demikian juga dengan pertumbuhan ekonomi Sumbar, tiga tahun terakhir berada di atas angka nasional. Sedangkan jumlah penyandang buta aksara di tahun 2014 di urutan 8 terkecil nasional. Adapun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumbar berada di peringkat 9 nasional (2012-2014) dan angkanya terus meningkat. IPM dibentuk oleh tiga komponen yaitu indeks kesehatan, indeks pendidikan dan indeks pengeluaran riil perkapita.

Namun demikian, adanya data kuantitatif dengan indikator obyektif seperti yang disampaikan di atas tidak menyurutkan pihak-pihak tertentu di grup diskusi WA tadi menyebutkan bahwa kesejahteraan, pendapatan, kemiskinan, pendidikan dan lainnya di Sumbar berada di urutan tiga terbawah. Bahkan menyebut sumbernya berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Jika membaca lagi Indeks Kebahagiaan Sumbar tahun 2014 yang dirilis oleh BPS pada tahun 2015, yang dilakukan BPS sudah benar. Termasuk penjelasan yang mengawali rilis BPS, bahwa survei indeks kebahagiaan menggunakan indikator subyektif (standar yang tidak sama) dan data kualitatif yang dihasilkan berdasarkan persepsi masyarakat untuk melengkapi indikator obyektif (standar yang sama) yang menghasilkan data kuantitatif. Hanya saja memahaminya tentu perlu membaca dengan tenang sehingga mengerti apa yang dimaksud.

Hal penting yang saya terima langsung informasinya dari Kepala BPS Sumbar Bapak Dodi Herlando beserta tim lengkap yang bertemu di Gubernuran pada 9 Mei 2016 lalu, indeks kebahagiaan ini tidak pernah dan tidak bisa diranking antar provinsi se Indonesia karena mengukur kepuasan dari masing-masing orang di tiap provinsi di mana standarnya tidak sama (subyektif) di setiap provinsi dan menghasilkan persepsi kepuasan terhadap topik yang ditanyakan. Pihak BPS pun tidak melakukan perankingan terhadap indeks kebahagiaan ini. Dan komponen indeks kebahagiaan yang digunakan adalah kepuasan hidup dan emosi positif.

Jadi, kalau mau ditegaskan, sebenarnya lebih tepat disebut indeks kepuasan dibanding indeks kebahagiaan. Kepala BPS Sumbar menyebutkan bahwa BPS mengadopsi pengukuran indeks kebahagiaan yang dilakukan di dunia internasional di mana kepuasan sebagai proksi dari kebahagiaan. Maka di Indonesia pun disebut sebagai indeks kebahagiaan. Dan indeks kebahagiaan tahun 2014 adalah yang pertama kali untuk level provinsi dan berfungsi sebagai pelengkap data kuantitatif yang sudah ada. Dan survei indeks kebahagiaan ini pun baru sekali dilaksanakan karena sifatnya sebagai pelengkap dan bukan data utama.

Menurut Kepala Bidang Sosial BPS Sumbar, Bapak Satriono, survei indeks kebahagiaan yang menggambarkan kepuasan dilakukan dengan mengisi Skala Likert. Skala Likert ini sudah lazim digunakan untuk mengukur pendapat, sikap atau kepuasan terhadap hal yang ditanyakan. Untuk survei indeks kebahagiaan ini skala yang digunakan dimulai dari angka 1 hingga 10. Di mana angka 1 mencerminkan ‘sangat tidak puas’, dan angka 10 mencerminkan ‘sangat puas’.

Di daftar pertanyaan survei pengukuran tingkat kebahagiaan, setiap aspek ada beberapa pertanyaan terkait tentang aspek yang dimaksud, dan pertanyaan dari masing-masing aspek diakhiri dengan pertanyaan sebagai berikut: 1. seberapa puas dengan kesehatan? 2. seberapa puas dengan pendidikan? 3. seberapa puas dengan pekerjaan? 4. seberapa puas dengan pendapatan rumah tangga? 5. seberapa puas dengan keadaan lingkungan? 6. seberapa puas dengan keamanan? 7. seberapa puas dengan keharmonisan keluarga? 8. seberapa puas dengan hubungan sosial di lingkungan sekitar tempat tinggal? 9. seberapa puas dengan ketersediaan waktu luang? 10. seberapa puas dengan rumah dan fasilitas rumah?

Jika bicara kepuasan, standar kepuasan orang Minang memang tinggi. Hal ini telah dibuktikan di dua pilkada serentak tahun 2010 dan 2015. Banyak calon kepala daerah petahana bertumbangan. Padahal yang saya tahu, mereka telah banyak menorehkan prestasi ketika menjabat sebagai kepala daerah. Namun, karena masyarakat merasa kurang puas, maka mereka mencari pemimpin baru yang diharapkan bisa memuaskan pemilih. Selain itu, orang Minang dalam mengkritik pun sangat keras, kadang jatuh kepada cemooh (cime’eh), dengan tujuan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Orang berprestasi pun jarang diapresiasi karena dianggap masih ada yang kurang memuaskan. Pemimpin pun hanya didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Oleh karena dalam menilai orang lain pun dengan standar tinggi, maka dalam menilai dirinya sendiri pun orang Minang merasa belum puas dengan apa yang sudah ia capai. Maka muncullah budaya merantau sebagai upaya untuk mendapatkan hasil atau kepuasan yang lebih baik lagi. Banyak orang Minang yang merantau kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh nasional. Karakter orang Minang yang ingin selalu lebih maju, selalu menang dan tak ingin kalah serta tak cepat puas diperlihatkan dengan ungkapan, “taimpik ingin di ateh, takuruang ingin di lua.”

Demikian pula dengan kepuasan dalam pendapatan, pendidikan, pekerjaan dan aspek lain yang disurvei dalam indeks kebahagiaan. Misalnya aspek pendidikan, orang yang sudah tamat S2 dan S3 kepuasannya cukup tinggi. Sedangkan orang yang tidak/belum pernah sekolah kepuasannya rendah. Dalam aspek pendapatan, orang yang pendapatan perbulannya Rp7,2 juta ke atas kepuasannya cukup tinggi. Dan orang yang pendapatan perbulannya Rp1,8 juta ke bawah kepuasannya rendah.

Orang Minang memang antusias terhadap pendidikan dan tidak cepat puas. Banyak orangtua yang ingin anaknya menamatkan pendidikan sarjana (S1). Namun jika sudah S1, si anak ternyata masih belum puas dan ingin melanjutkan ke jenjang S2. Ini bisa dilihat dari jumlah perguruan tinggi (negeri dan swasta) yang ada di Kopertis X (Sumbar, Riau, Jambi, Kepulauan Riau), ternyata jumlah terbanyak ada di Sumbar. Dan dibuktikan pula dengan angka partisipasi kasar untuk usia 19-24 tahun pada 2013 di Sumbar sebesar 33,82. Lebih tinggi dari angka nasional sebesar 23,06. Selain itu, keinginan untuk mendapatkan kehidupan/pendapatan lebih baik ditunjukkan dengan berwirausaha maupun merantau.

Aspek pendidikan dalam indeks kebahagiaan hanya menerangkan kepuasan orang atas pendidikan yang ia dapat (subyektif dan kualitatif), bukan rata-rata lama sekolah penduduk yang menggambarkan kesejahteraan masyarakat (obyektif, kuantitatif). Sementara aspek pendapatan dalam indeks kebahagiaan hanya menerangkan kepuasan seseorang terhadap pendapatan yang ia peroleh (subyektif, kualitatif), bukan PDRB Sumbar maupun PDRB Perkapita Sumbar yang menggambarkan kesejahteraan masyarakat. Padahal PDRB perkapita Sumbar tiga tahun terakhir 2013-2015 meningkat (Rp28,99 juta, Rp32,13 juta, Rp34,41 juta). Di sini bisa dilihat bahwa indeks kebahagiaan yang subyektif  dan kualitatif menerangkan kepuasan terhadap pendapatan yang diperoleh individu, sedangkan data obyektif dan kuantitatif tentang PDRB perkapita menerangkan meningkatnya kesejahteraan penduduk Sumbar.

Kepala Bidang Sosial BPS Sumbar menyebutkan kepada saya bahwa masyarakat Sumbar seharusnya bersyukur dan bangga karena memiliki standar kepuasan yang tinggi sehingga terpacu untuk mendapatkan hal yang lebih baik/tinggi lagi di masa depan.

Dengan melihat indeks kebahagiaan dan data kuantitatif tentang kemiskinan, pendidikan, pendapatan dan kesejahteraan lainnya serta karakter masyarakat, selaku Gubernur saya mengajak para Bupati dan Wali Kota di Sumbar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara bersama-sama, memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, serta mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Dan juga melakukan pemberdayaan masyarakat di mana mayoritas bekerja sebagai petani. Di samping   itu potensi wisata yang ada di tiap-tiap daerah bisa ditingkatkan lagi  pengelolaannya sehingga pada akhirnya ini semua bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumbar. ***

Singgalang, 17 Mei 2016

 

164. 2016-06-01 [Padek] Pers Publik

PERS PUBLIK

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Tanggal 5 April 2016 lalu, di Auditorium Gubernuran saya memberikan sambutan di acara musyawarah cabang Serikat Perusahaan Pers. Salah satu poin yang saya sampaikan adalah pers sebagai media publik dalam pemberitaan harus benar dan obyektif. Sedangkan kepada pemilik perusahaan pers, agar tidak melakukan intervensi yang menyebabkan berita menjadi bias kepentingan sehingga publik mendapat berita yang tidak benar dan tidak obyektif.

Pers dan perusahaan pers memang memiliki perbedaan. Pers menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Sedangkan perusahaan pers menurut undang-undang yang sama adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.  Sedangkan organisasi pers terdiri dari organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.

Undang-Undang Pers sudah mengatur bagaimana pers melaksanakan tugasnya, dan juga bagaimana masyarakat mengawasi dan mengkritisi pers. Dalam pasal 2 UU No. 40 Tahun 1999 disebutkan bahwa  kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum. Dalam pasal 5 ayat 1 disebutkan pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.

Pada pasal 6 poin C disebutkan bahwa pers nasional melaksanakan peranannya mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar.

Pada pasal 17 ayat 1 disebutkan bahwa masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan. Dan pada ayat 2 disebutkan bahwa kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: a. memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers; b. menyampaikan usulan dan saran kepada Dewan Pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.

Undang-Undang Pers telah mengatur bagaimana pers seharusnya dijalankan, bahkan menyebut norma agama, rasa kesusilaan, dan praduga tak bersalah untuk membuat berita dan opini. Maka mau tak mau pers harus bekerja secara profesional untuk menghasilkan berita yang benar dan obyektif.

Adanya intervensi dari pemilik perusahaan pers pada akhirnya akan menyebabkan kerugian. Ini bisa dilihat dari beberapa media yang pemiliknya melakukan intervensi yang cenderung kebablasan karena ambisi tertentu, baik media elektronik maupun cetak. Masyarakat dan pihak-pihak yang peduli dengan pemberitaan pers pun sudah banyak melakukan kritik, baik melalui saluran resmi maupun melalui saluran tidak resmi seperti media sosial. Bahkan kritikan tersebut juga dilakukan dengan tidak membeli (media cetak), tidak mengunjungi situs online (media online), maupun tidak menonton (media elektronik). Menurut beberapa praktisi media, hal ini bisa berdampak kepada menurunnya jumlah pembaca, pengunjung maupun penonton.

Mengapa kritik kian gencar dari masyarakat? Karena pemberitaan pers menyebar ke seluruh penjuru tanah air, memasuki ruang-ruang pribadi di setiap keluarga, baik melalui media elektronik dan cetak. Isi yang tidak benar, tidak obyektif, dan sarat kepentingan, dan juga yang bertentangan dengan norma agama dan kesusilaan akan memberi pengaruh kepada masyarakat yang ‘menikmatinya’ dalam ruang-ruang pribadi. Meningkatnya jumlah kelas menengah dan kaum terdidik turut menambah ramainya kritik kepada pemberitaan dan opini pers yang tidak benar, tidak obyektif, sarat kepentingan, dan juga bertentangan dengan norma agama dan kesusilaan.

Pengelolaan pers yang profesional di era reformasi dan keterbukaan sudah menjadi tuntutan. Sebagian masyarakat yang akrab dengan internet maupun media sosial menjadi pengkritik keras pers yang dipandang tidak profesional dan bahkan sarat kepentingan tertentu ini. Masyarakat memang harus berperan aktif agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar dan obyektif terjamin.

Jasa pers dalam mencerdaskan masyarakat juga harus diapresiasi sebesar-besarnya karena berbagai lapisan masyarakat bisa mendapatkan informasi, menambah pengetahuan dan juga keterampilan, menyambung silaturahim, meningkatkan persatuan dan nasionalisme, serta manfaat positif lainnya. Oleh karena itu, juga sudah sepantasnya publik makin tercerdaskan oleh keberadaan pers ini sehingga energi positif yang disalurkan mampu memberi pengaruh seluas-luasnya. Dan insya Allah, pada akhirnya kebaikan tersebut akan kembali kepada pers tersebut. *

Padang Ekspres, 1 Juni 2016

165. 2016-06-01 [Singgalang] Wisata Sejarah

WISATA SEJARAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 18 Mei 2016 lalu, saya melakukan kunjungan kerja di Kabupaten 50 Kota. Ada beberapa agenda yang sudah disiapkan. Seperti menanam padi di lahan baru dan memberikan bantuan kepada petani, serta mengunjungi situs cagar budaya menhir di Jorong Koto Tinggi, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan.

Situs ini merupakan peninggalan zaman batu besar atau Megalithikum (1000 tahun sebelum Masehi) yang merupakan peninggalan manusia purba zaman prasejarah. Ada yang menyebut bahwa nenek moyang orang Minang berasal dari sini karena banyaknya benda-benda peninggalan mereka yang masih bisa dilihat hingga sekarang.

Pada zaman batu besar ini batu-batuan itu berubah fungsi di antaranya menjadi tempat pemujaan kepada ‘arwah nenek moyang’ maupun kegiatan sejenis, seperti tempat penyembelihan kepala kerbau sebagai persembahan untuk arwah di depan batu tersebut.

Ada yang menyebutkan bahwa bentuk rumah adat Minangkabau ini merupakan bentuk tanduk kerbau yang masih berkaitan dengan tradisi penyembelihan kepala kerbau di masa prasejarah. Tentu untuk membuktikannya perlu studi yang mendalam.

Mempelajari sejarah melalui benda-benda peninggalan di masa lalu, bahkan masa prasejarah, yang terhampar di alam, bagi sebagian orang bisa sangat menyenangkan dan tidak merasakan waktu berjalan. Dari banyaknya wisatawan yang datang, akan selalu ada wisatawan yang bermaksud serius mempelajari sejarah suatu tempat atau sesuai dengan ilmu yang ia miliki.

Sebagai contoh, saya pernah satu pesawat dengan wisatawan mancanegara yang datang dari pulau Jawa menuju Sumatera dengan maksud melakukan ecotourism yang dalam hal ini di maksudkan sebagai wisata geologi. Mereka ingin mengetahui bagaimana peristiwa terjadinya Ngarai Sianok dan Lembah Harau yang membuat bumi menjadi ‘terbelah’, serta Danau Singkarak dan Danau Maninjau yang diketahui terdapat kandungan sulfur di bawahnya dan diduga terdapat bekas gunung merapi di danau tersebut.

Sumatera Barat sebenarnya banyak memiliki peninggalan sejarah dari berbagai ideologi atau agama dan kepercayaan. Dari Animisme, Islam, Budha, Hindu dan Kristen, masih bisa dilihat benda-benda peninggalan tersebut. Oleh karena itu, berbagai peninggalan atau warisan sejarah ini sudah seharusnya dirawat dan dijauhkan dari pengrusakan maupun kerusakan. Masyarakat, instansi terkait, dan pemerintah setempat, sesuai wewenangnya perlu melakukan perawatan benda-benda maupun bukti sejarah, karena memiliki nilai jual untuk pengembangan wisata sejarah selain nilai edukasi dan nilai sejarahnya itu sendiri.

Pola pikir juga perlu diubah agar berbagai warisan sejarah itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat setempat melalui pemeliharaan dan perlindungan dari kerusakan. Semakin  tua usia warisan tersebut maka akan semakin tinggi nilai sejarahnya sehingga perlu dijaga sebaik-baiknya.

Wisata sejarah adalah juga bagian dari pengembangan pariwisata di Sumbar. Karena disadari tujuan wisatawan datang ke Sumbar sangat beragam. Wisata sejarah sesungguhnya memiliki potensi besar yang bisa dikembangkan. Para tokoh nasional yang telah dikenal luas perannya seperti Mohammad Hatta, Buya Hamka, Mohamad Natsir, M. Yamin dan banyak lagi yang lainnya, warisan peninggalan mereka yang masih ada, terutama di Sumbar, adalah salah satu potensi wisata sejarah yang bisa dikembangkan, baik untuk kesejahteraan masyarakat maupun untuk pelestarian nilai sejarah itu sendiri.

Selain itu, berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah di Sumbar seperti Nagari Pariangan dan Istano Basa Pagaruyung di Kab. Tanah Datar, ratusan rumah gadang di Solok Selatan, benteng-benteng, bangunan-bangunan warisan Belanda, adalah destinasi wisata sejarah yang tak kalah menarik dan sudah banyak dikunjungi wisatawan.

Pihak swasta, pemuda, masyarakat, bisa terlibat dalam menjaga, memelihara berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah ini sekaligus menjadi kegiatan yang mendatangkan profit. Tentunya dengan tidak melanggar aturan yang berlaku. Salah satu contoh adalah Rumah Puisi Taufiq Ismail yang berlokasi di Nagari Aie Angek Kab. Tanah Datar, berdekatan dengan Rumah Budaya Fadli Zon yang berisi koleksi sejarah terkait Minangkabau.

Saya juga mengapresiasi anak-anak muda yang peduli dengan wisata di Sumbar ini, dengan kreativitas mereka turut memajukan wisata Sumbar melalui saluran media sosial, media online, komunitas, dan beragam bentuk dan kegiatan lainnya. Semoga dengan bersama-sama memajukan wisata Sumbar ini, dampak baiknya berupa kesejahteraan bisa kembali kepada masyarakat Sumbar. ***

Singgalang, 1 Juni 2016

166. 2016-06-06 [PosMetro] Marhaban Ya Ramadhan

MARHABAN YA RAMADHAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah. Inilah yang patut kita ucapkan ketika mengawali puasa Ramadhan tahun ini. Mungkin masih ada dalam ingatan kita kisah orang-orang saleh maupun Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya ketika mengakhiri Ramadhan. Rasa ingin berjumpa kembali diwarnai kekhawatiran apakah usia yang ada masih bisa menikmati Ramadhan berikutnya.

Pada akhir Ramadhan, mereka yang sejak awal menikmati dan khusyuk dalam beribadah merasa masih kurang waktu yang disediakan Allah SWT. Betapa tidak, balasan langsung dari Allah SWT, baik rahmat, ampunan dan dibebaskan dari api neraka serta keberkahan adalah hal yang tidak ternilai. Harta yang paling bagus pun kelak akan kita tinggalkan. Hanya catatan amal yang akan menemani kita setelah meninggal kelak.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.” (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (HR. Muslim No. 1151)

Dengan ganjaran dari Allah langsung sudah saatnya kita memperbaiki dan meningkatkan amal ibadah Ramadhan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai manusia, tentu banyak keinginan kita yang belum terpenuhi. Dan salah satu cara untuk mendapatkan keinginan kita tersebut adalah semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan Ramadhan ini dengan melaksanakan berbagai amalan.

Apa saja amalan tersebut? Di antaranya adalah berinfak dan bersedekah, membaca Al Quran, shalat taraweh dan shalat malam, shalat dhuha, meningkatkan kualitas shalat wajib. Selain itu kita juga diminta menahan haus dan lapar, menahan dari berbicara yang menyebabkan dosa, menahan dari perilaku yang buruk.

Dalam hal hubungan dengan sesama manusia, Rasulullah SAW dalam khotbahnya menyambut Ramadhan berpesan agar umat Islam memuliakan orangtuanya, menyambung silaturahim, mengasihi anak yatim, bersedekah kepada fakir miskin.
Kita patut bersyukur bahwa di negeri kita, menjalankan ibadah Ramadhan dalam suasana dan kondisi aman. Di belahan dunia lain seperti Timur Tengah dan Afrika masih banyak saudara kita umat Islam yang menjalani ibadah Ramadhan dalam suasana kelaparan, kondisi yang tidak aman, dan penderitaan lainnya yang mungkin kita tidak ketahui karena keterbatasan informasi.

Tak lupa, kita juga turut peduli dengan saudara kita yang berada di tanah air di berbagai belahan bumi. Kita panjatkan doa terbaik untuk mereka semua, semoga Allah SWT memberikan pertolonganNya dan kasih sayangNya kepada mereka dan juga kepada kita.

Puasa adalah menahan diri, sehingga seharusnya tidak terjadi inflasi. Semoga Ramadhan kali ini, kita semua mampu mengikuti dengan baik, termasuk dalam mengendalikan konsumsi. Dan semoga kita semua mampu meraih takwa seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al Baqarah: 183, “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Marhaban ya Ramadhan. ***

Posmetro Padang, 6 Juni 2016

 

167. 2016-06-06 [Singgalang] Puasa dan Inflasi

PUASA DAN INFLASI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Apa lagi bagi umat Islam di Indonesia. Suasana Ramadhan begitu terasa. Berbeda dengan suasana Ramadhan di negara-negara yang jumlah umat Islamnya sedikit atau minoritas.

Di televisi, iklan-iklan bernuansa Ramadhan sudah mulai menyapa masyarakat menjelang datangnya bulan Ramadhan. Minuman dan makanan yang segar untuk berbuka yang disajikan dalam iklan televisi dikemas sedemikian rupa sehingga tak sabar rasanya untuk segera berpuasa. Memang demikianlah iklan, mampu memberikan imajinasi nikmatnya berbuka dengan makanan dan minuman yang ditawarkan dalam iklan tersebut.

Sebagai bulan yang istimewa, Allah SWT pun langsung menilai dan membalas amalan para hambaNya yang melakukan ibadah-ibadah yang sudah dicontohkan maupun disabdakan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya. Sebagai hambaNya yang menyimpan berbagai keinginan, tentunya momen Ramadhan ini sangat bagus untuk melaksanakan amalan-amalan terbaik.

Bagi yang ingin mendapatkan jodoh terbaik, bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk memanjatkan doa dengan penuh khusyuk. Demikian pula bagi yang ingin mendapatkan kelulusan yang baik di tahun depan dan diterima di perguruan tinggi negeri yang diidamkan. Perbanyaklah berdoa sekaligus beramal di bulan Ramadhan.

Jika saja, semakin banyak yang serius dan konsentrasi beramal di bulan Ramadhan, maka insya Allah kita akan merasakan kenikmatan yang tidak ada di bulan lain. Semakin serius, konsentrasi dan fokus menjalankan amal ibadah di bulan Ramadhan, maka insya Allah kita akan menjalani ibadah berbuka puasa dan sahur seperti layaknya rutinitas sehari-hari. Bahkan pengeluaran untuk konsumsi bisa dikurangi.

Namun apa yang terjadi? Seperti biasa di bulan Ramadhan, harga-harga barang cenderung naik karena meningkatnya konsumsi yang ditandai naiknya permintaan dengan cepat, sementara persediaan tidak bisa mengimbangi naiknya permintaan. Padahal kalau tidak ada lonjakan permintaan, persediaan masih cukup. Badan Pusat Statistik bahkan sudah menginformasikan bahwa tidak kurang satu persen kontribusi inflasi terjadi pada bulan Ramadhan. Sedangkan di bulan lain tidak sampai satu persen.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa suasana berbuka puasa dengan ditemani minuman dan makanan yang membangkitkan selera adalah karunia dan kenikmatan tersendiri yang hanya terjadi di bulan Ramadhan. Namun ketika ternyata yang terjadi adalah berlebih-lebihan dalam makan dan minum hingga akhirnya muncul  kemalasan akibat konsumsi berlebih dan kemubaziran juga bukan sesuatu yang diharapkan terjadi di bulan Ramadhan.

Setelah Subuh hingga Maghrib, kita mampu menahan. Namun antara Maghrib dan Subuh ternyata kebalikannya. Padahal, setelah berbuka pun tidak dicontohkan oleh Nabi untuk berlebih-lebihan, apalagi kemubaziran. Yang dicontohkan justru ibadah di malam hari hingga menjelang subuh, seperti shalat tarawih, witir, membaca Al Quran, dan shalat tahajud.

Sudah saatnya kita menikmati Ramadhan ini dengan memperbanyak amal ibadah. Tidak melakukan konsumsi yang berlebihan, namun justru meningkatkan infak dan sedekah. Kenaikan harga barang seperti beras yang menyebabkan meningkatnya inflasi sebenarnya juga menyebabkan saudara-saudara kita yang kurang beruntung makin sulit untuk sekedar makan dan minum untuk keluarganya. Bahkan yang masih beruntung pun juga banyak mengalami kesulitan menghadapi kenaikan harga barang. Ramadhan meminta kita untuk berempati dan menahan diri.

Kita juga mengetahui bahwa saat ini kejahatan seperti kasus-kasus pemerkosaan atau pencabulan makin membuat bulu kuduk kita berdiri. Dengan masuknya Ramadhan, kita harapkan tidak ada kejahatan yang seperti itu lagi. Orang-orang yang potensi melakukan kejahatan seperti itu, mudah-mudahan dengan menjalankan puasa bisa melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik lagi.

Doa-doa kita yang khusyuk semoga bisa menjadi sebab turunnya Rahmat Allah SWT di negeri ini. Dijauhkan dari berbagai marabahaya dan tindak kejahatan yang membuat kita ngeri. Dan dengan melatih diri untuk menahan dan mengendalikan konsumsi, semoga bisa berpengaruh terhadap menurunnya angka inflasi.

Mari kita sambut Ramadhan dengan gembira dan bersahabat. Semoga puasa yang kita jalani dan amal ibadah yang kita laksanakan mampu menjadikan kita sebagai pribadi yang bertakwa. ***

Singgalang, 6 Juni 2016

 

168. 2016-06-15 [Singgalang] Nikmatnya Bulan Ramadhan

NIKMATNYA BULAN RAMADHAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Secara kasat mata, nikmatnya bulan Ramadhan sudah bisa dijelaskan sebelum datangnya, melalui iklan televisi. Minuman sirup yang berwarna-warni menggugah selera, sangat nikmat diminum ketika berbuka puasa. Apalagi jika dilakukan bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Saat waktu berbuka adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh orang yang berpuasa. Dan menurut seorang praktisi branding, kontribusi penjualan sirup di bulan Ramadhan mencapai 90 persen dibanding bulan lainnya. Sebuah bentuk kenikmatan bagi produsen dan penjual sirup tentunya.

Apalagi yang bisa dilihat secara kasat mata tentang nikmatnya bulan Ramadhan secara umum? Salah satunya adalah acara buka puasa bersama. Selain menambah ikatan silaturahim, orang yang menyiapkan hidangan buka puasa untuk orang lain mendapat pahala.  Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memberi makan orang berbuka puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Mengapa berbuka puasa itu penuh kenikmatan? Karena Rasululullah SAW sendiri yang mengatakannya. Rasulullah SAW bersabda, “Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan, berbahagia pada saat dia berbuka, berbahagia dengan puasanya itu dan pada saat ia berjumpa Rabb-nya.” (Muttafaq Alaihi). Maka, sudah sepantasnya kita meyakini apa yang disampaikan Rasulullah SAW, baik yang bisa diterima oleh akal karena langsung bisa dirasakan maupun yang masih sulit dicerna oleh akal.

Masih banyak hal lain di bulan Ramadhan ini yang kita belum rasakan langsung dampak atau kenikmatannya tapi mesti diyakini terlebih dahulu. Karena yang mengatakannya adalah Allah SWT dan Rasulullah SAW. Namun karena kurang atau tidak bisa langsung dirasakan, memang bagi sebagian orang sulit untuk melaksanakannya. Misalnya saja tentang balasan dari Allah langsung terhadap amalan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Motivasi untuk meningkatkan amalan dan meningkatkan kualitas amalan perlu diperkuat sehingga bisa melebihi  motivasi untuk berbuka puasa ditemani makanan dan minuman enak.

Mengapa demikian? Karena dalam kehidupan, begitu banyak hal yang ingin kita raih. Seperti sukses dalam karir, sukses dalam membesarkan dan mendidik anak, sukses dalam ujian sekolah, sukses dalam berdagang, dan berbagai keinginan lainnya. Insya Allah, keinginan dan kesuksesan yang ingin kita capai itu bisa diraih dengan mencicipi kenikmatan membaca Al Quran, shalat malam, iktikaf, shalat Dhuha, dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan melebihi kenikmatan berbuka puasa. Karena di bulan Ramadhan ini Allah sudah permudah hambaNya untuk beramal. Bahkan kenikmatan terbesar yaitu dibebaskan dari neraka pun Allah sediakan di bulan Ramadhan ini. Semoga kita bisa meraihnya. ***

Singgalang, 15 Juni 2016

 

169. 2016-06-21 [Metro Andalas] Ramadhan Membentuk Karakter

RAMADHAN MEMBENTUK KARAKTER

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Lapar mengajarkanmu rendah hati selalu. Demikian sebuah lirik lagu yang menceritakan jawaban seorang ayah kepada anaknya perihal manfaat menahan lapar saat puasa. Lagu ini dipopulerkan oleh grup Bimbo, dan selalu muncul di saat Ramadhan.

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin sebagian kita tidak pernah menahan lapar, karena mampu untuk mencukupi kebutuhan. Namun jika tiba-tiba Allah menghendaki kita sulit memenuhi kebutuhan hingga harus hidup menahan lapar, kita akan bertemu dengan keadaan sebenarnya. Nasib berubah seperti ini pasti tidak dikehendaki. Namun bukan tidak mungkin.

Dalam kehidupan, orang yang mengalami perubahan nasib seperti itu di antaranya dialami oleh orang-orang sombong. Ketika berpunya, sehat, kuat, kesombongannya luar biasa. Seakan-akan akan seperti itu selamanya. Semua orang adalah kecil dalam pandangannya. Empati pun tak ada. Namun pada suatu titik, tiba-tiba ia jatuh. Barulah ia sadar bahwa kesombongannya tak berguna.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman: 18).

Berpuasa dengan menahan haus dan lapar adalah salah satu bagian dari membentuk karakter positif. Bagi yang hidupnya berkecukupan, dengan berpuasa bisa merasakan  kehidupan orang-orang yang menahan lapar sehari-hari sehingga ia bisa lebih bersyukur lagi dan menundukkan dirinya di hadapan Allah SWT. Sehingga muncul sikap rendah hati kepada sesama manusia.

Allah SWT mewajibkan orang-orang yang beriman berpuasa dengan tujuan menjadi orang yang bertakwa. Pengertian takwa adalah menjalankan perintah Allah SWT dengan mengharap rahmatNya dan meninggalkan maksiat karena takut siksaNya.

Pencapaian takwa bagi seorang muslim ditandai dengan munculnya karakter positif pada dirinya, di antaranya setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Seperti dicontohkan Rasulullah SAW, puasa di bulan Ramadhan akan membentuk karakter peduli sesama. Rasulullah SAW adalah orang yang gemar bersedekah, dan di bulan Ramadhan sedekah yang dilakukan Rasulullah SAW lebih hebat lagi dibanding bulan lain. Masjid, mushola, dan lembaga amil zakat biasanya di bulan Ramadhan mengalami kenaikan infak dan sedekah dibanding bulan lain. Ini sebagai pertanda banyak orang yang berinfak dan sedekah di bulan ini dibanding bulan lainnya sekaligus memperlihatkan kepedulian sesama yang masih ada.

Puasa di bulan Ramadhan, umat Islam dengan rela menahan haus, lapar dan hawa nafsu lainnya sejak subuh hingga maghrib. Tidak ada satupun yang memaksa, namun dilaksanakan dengan ikhlas. Mereka tidak membantah ketika harus menahan sejak subuh hingga maghrib. Tidak ada todongan senjata atau hukuman fisik yang dipaksakan. Ini juga salah satu bentuk karakter yang muncul ketika menjalani ibadah puasa, yaitu karakter taat. Ketaatan kepada perintah Allah SWT akan mendatangkan kebaikan bagi yang melaksanakannya.

Bagi yang mencoba melanggar dengan membatalkan puasa di siang hari namun mengaku puasa kepada orang lain, ia akan dihadapkan kepada penilaian Allah SWT. Bisa dipastikan hati nuraninya akan mengaku bersalah ketika mengaku puasa kepada orang lain padahal baru saja ia makan dan minum di siang hari. Maka puasa juga membentuk karakter jujur pada diri seorang muslim.

Masih banyak lagi karakter positif yang dibentuk melalui puasa dan ibadah di bulan Ramadhan. Menjalaninya dengan sepenuh hati disertai keimanan dan kecintaan kepada Allah SWT insya Allah akan memberikan dampak positif di kemudian hari. Segala sesuatu kebaikan tak akan luput dari catatanNya. Allah SWT berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS Al Zalzalah:7). Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan derajat ketakwaan di bulan Ramadhan ini. ***

Metro Andalas, 21 Juni 2016

 

170. 2016-06-29 [Singgalang] Ramadhan Bulan Al Quran

RAMADHAN BULAN AL QURAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran. Sudah lazim di kalangan umat Islam memperingati turunnya Al Quran ini dengan mengadakan Peringatan Nuzulul Quran, dari level kelurahan hingga pemimpin negara. Peringatan Nuzulul Quran diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan. Sedangkan bagi yang ingin meraih malam lailatul qadar disebut jatuh pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Ini seperti disampaikan oleh Aisyah r.a, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan dia bersabda: “Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kali pada usia 40 tahun. Waktu itu Rasulullah SAW sedang berada di gua Hira yang terletak di atas Jabal Nur. Wahyu yang pertama kali diterima oleh Rasulullah SAW adalah Surat Al Alaq ayat 1-5 yang artinya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Saat ini, justru kebiasaan membaca di kalangan umat Islam melemah. Padahal salah satu jendela untuk mendapatkan hikmah atau ilmu pengetahuan adalah dengan membaca. Jika kita arahkan sedikit makna dari perintah membaca di wahyu pertama tersebut, maka ada pesan untuk membaca kalimat Allah yang tertulis yaitu Al Quran dan kalimat Allah yang terhampar yaitu penciptaan alam semesta.

Membaca Al Quran adalah salah satu sunnah Nabi. Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabat dan kaum muslimin bagaimana cara membaca Al Quran, yaitu membaca dengan tartil. Maksudnya adalah membaca Al Quran semaksimal mungkin dengan memperjelas bacaannya. Rasulullah juga berhenti membaca di setiap akhir ayat. Di samping itu, Rasulullah SAW senang mendengarkan bacaan Al Quran dari para sahabatnya.

Setiap bulan Ramadhan, Rasulullah SAW dibimbing Jibril dalam memahami Al Quran. Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah mengatakan, “Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al Quran kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan Ramadhan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al Quran kepada beliau sebanyak dua kali (untuk mengokohkan dan memantapkannya)” (HR. Bukhari no. 4614).

Menurut penjelasan Ibnu Atsir rahimahullah atas hadits di atas bahwa Rasulullah dalam bulan Ramadhan mempelajari semua ayat Al Quran yang turun. Ini artinya, Rasulullah SAW tidak hanya membaca Al Quran saja, akan tetapi juga mempelajari Al Quran melalui Jibril.

Para ulama salaf ketika Ramadhan memperbanyak membaca Al Quran. Di antara mereka ada yang khatam setiap tiga malam. Selain itu, mereka pun banyak yang menangis dikarenakan memahami ayat-ayat yang mereka baca. Bahkan ada yang pingsan setelah membaca sebuah ayat karena mengerti akan maknanya, terutama ayat-ayat mengenai Hari Kiamat.

Bagi kita yang mungkin belum bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan ulama salaf, tidak perlu berkecil hati. Karena membaca Al Quran saja pun pahalanya sudah berlipat.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469).

Semoga di bulan turunnya Al Quran ini kita bisa menyempatkan waktu untuk memperbanyak membaca Al Quran. Karena begitu banyak manfaat yang insya Allah akan didapat oleh orang yang membacanya. Apalagi jika disertai merenungi arti dari ayat Al Quran tersebut sehingga timbul karakter positif pada diri kita. Seperti semakin takut berbuat kejahatan kepada manusia atau semakin meningkatkan amal ibadah dan memperbaiki perilaku yang keliru. ***

Singgalang, 29 Juni 2016

 

171. 2016-07-04 [PosMetro] Zakat Fitrah dan Kegembiraan Lebaran

ZAKAT FITRAH DAN KEGEMBIRAAN LEBARAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Setelah melaksanakan shalat Id, Rasulullah SAW berjalan pulang dan menjumpai seorang anak perempuan yang tengah menangis. Rambutnya acak-acakan, alas kakinya usang, dan pakaiannya lusuh. Rasulullah bertanya gerangan apa yang membuat anak itu sedih, sementara di sekelilingnya anak-anak bergembira menyambut Hari Raya Idul Fitri. Maka anak itu menjawab bahwa ia sudah tidak punya lagi ayah untuk bersama bergembira di Hari Raya Idul Fitri. Pada Idul Fitri sebelumnya ayahnya sempat memberikan hadiah di hari raya. Namun ayahnya syahid ketika berperang bersama Rasulullah SAW sehingga ia menjadi yatim.

Maka Rasulullah SAW pun menggembirakan hati anak tersebut dengan menyebut bahwa sang anak kini memiliki orang tua yaitu Rasulullah SAW dan Aisyah r.a serta kakak yang bernama Fatimah r.a. Betapa gembira hati sang anak mendengarkan perkataan Rasulullah SAW tersebut.

Hari Raya Idul Fitri atau sering disebut dengan ‘Lebaran’ adalah momen menyatakan kegembiraan bagi kaum muslimin setelah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Dalam syariat Islam, bagi orang yang melaksanakan puasa maka wajib untuk membayar zakat fitrah. Zakat fitrah juga berlaku kepada anggota keluarga, yaitu suami, istri, dan anak-anak dan orang yang menjadi tanggungan. Semuanya wajib dibayarkan zakatnya. Membayar zakat fitrah dilaksanakan pada bulan Ramadhan hingga sebelum pelaksanaan Shalat Id.

Mengenai kewajiban berzakat ini, Allah SWT dalam Surat At Taubah ayat 60 berfirman yang artinya, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Zakat tidak hanya berupa zakat harta (maal), tetapi ada juga zakat fitrah. Kriteria atau syarat dan ketentuannya pun berbeda.

Zakat harta diwajibkan bagi orang yang memiliki jumlah pendapatan tertentu untuk kurun waktu tertentu. Sedang zakat fitrah diwajibkan bagi orang yang mampu menafkahi dirinya dan keluarganya di hari raya dan pada malamnya. Maka di sini orang yang belum wajib zakat harta namun mampu menafkahi diri dan keluarganya juga wajib membayar zakat fitrah.   

Dari Jabir r.a Rasulullah SAW bersabda: “Mulailah dari dirimu. Maka nafkahilah dirimu. Apabila ada kelebihan, maka peruntukkanlah bagi keluargamu. Apabila masih ada sisa kelebihan (setelah memberikan nafkah) terhadap keluargamu, maka peruntukkanlah bagi kerabat dekatmu.”  (HR. Bukhari Muslim).

Dalam wikipedia, zakat fitrah ialah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu lelaki dan perempuan muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Kata ‘Fitrah’ yang ada merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan sehingga dengan mengeluarkan zakat ini manusia dengan izin Allah akan kembali fitrah.

Zakat fitrah tidak hanya diwajibkan bagi orang yang mampu. Tapi juga bagi hamba sahaya, dan yang membayarkan adalah majikannya. Dari Ibnu Umar ra: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadan kepada setiap orang muslim, laki laki atau perempuan, merdeka atau hamba sahaya (budak), yaitu satu sha’ kurma atau gandum.” (HR Bukhari Muslim)

Salah satu kegunaan zakat fitrah adalah untuk membersihkan diri. “Dari Ibnu Abbas r.a: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai satu pembersihan bagi orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan kotor, dan sebagai makanan untuk orang miskin.” (HR Abu Daud dengan isnad baik)

Zakat fitrah bisa dibayarkan dalam bentuk makanan pokok maupun uang. Pembayaran dalam bentuk uang lebih memudahkan bagi yang menerima untuk membelanjakan kebutuhannya di hari raya, baik berupa makanan maupun baju yang layak pakai. Dan juga bisa membayar hutang jika ia memiliki hutang.

Zakat fitrah adalah salah satu cara dalam ajaran Islam untuk memberikan kegembiraan bagi para fakir miskin di Hari Raya Idul Fitri. Dan tentunya, tidak hanya zakat fitrah saja yang bisa menggembirakan para fakir miskin di hari raya, namun juga infak dan sedekah yang jumlahnya jauh bisa berlipat dibanding besaran jumlah zakat fitrah.

Islam telah memberikan ajaran kepada umatnya untuk selalu membangun kepedulian sosial kepada sesama. Semoga di Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah ini, kita yang mampu bisa ikut menggembirakan para fakir miskin, terutama yang berada di sekitar lingkungan kita, baik keluarga, kerabat maupun tetangga. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 Hijriyah. Taqobbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ***

Posmetro Padang, 4 Juli 2016

172. 2016-07-11 [Singgalang] Idul Fitri dan Silaturahmi

IDUL FITRI DAN SILATURAHMI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, pada momen Hari Raya Idul Fitri (atau biasa disebut Lebaran) kali ini saya masih bisa luangkan waktu untuk silaturahmi sambil mengajak anak-anak, menantu dan cucu mengunjungi keluarga almarhum ibu saya di Kuranji Padang, keluarga ayah saya di Simabur Tanah Datar, keluarga ibu mertua di Lubuk Kilangan Padang, dan keluarga almarhum ayah mertua di Salido Painan. Open house selaku Gubernur tak lupa saya lakukan di rumah Lubuk Kilangan dan Auditorium Gubernuran.

Lebaran memang salah satu waktu yang baik untuk bersilaturahmi. Tidak hanya baik tapi juga sungguh indah dipandang mata dan menyejukkan hati. Apalagi sebelumnya kita melaksanakan puasa sebulan penuh dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Hati yang fitrah menyebabkan silaturahmi menjadi semakin indah.

Di berbagai tempat, nampak terlihat banyak orang saling mengunjungi. Tidak hanya sesama saudara, tetapi juga kepada handai tolan dan sesama rekan. Ketika saling bertemu tak lupa mengucapkan mohon maaf lahir batin. Begitulah aktifitas kita dan kaum muslimin lainnya di bulan Syawal ini yang sudah berlangsung lama. Menjadi budaya yang mengokohkan persatuan dan kesatuan kita sebagai umat dan bangsa.

Bentuk silaturahmi pun makin beragam. Ada yang saling mengunjungi, ada pula yang pulang ke kampung halaman, sedangkan bagi pejabat publik melakukan open house. Masih di bulan Syawal, bentuk silaturahmi dilakukan  melalui kegiatan halal bihalal maupun reuni. Sementara itu di dunia maya dan media sosial bentuk silaturahmi dilakukan dengan mengucapkan selamat hari raya dan mohon maaf lahir batin melalui pesan pendek (SMS, short message service), WhatsApp, Instagram, Line, dan lain-lain dengan berbagai kreatifitas.

Kegembiraan bersilaturahmi di waktu Lebaran memang berbeda dengan waktu lainnya. Kebahagiaan berkumpul bersama keluarga tercinta jauh lebih indah. Bahkan bagi yang pulang kampung dengan menggunakan pesawat, kendaraan pribadi maupun angkutan lainnya, kenikmatan berkumpul setelah perjalanan jauhpun bisa menghilangkan kepenatan dalam perjalanan.

Saling menemui, saling berkunjung, mengadakan halal bihalal, saling maaf memaafkan adalah bentuk-bentuk silaturahmi yang sudah dilakukan oleh umat Islam selama ini karena ia merupakan perintah agama. Disamping itu juga sudah menjadi budaya yang dilaksanakan turun temurun.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Hujurat 10 yang artinya, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mau dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturahmi” (HR. Bukhari).

Ayat Quran dan hadits di atas memberitahukan kepada kita bahwa silaturahmi itu membawa kebaikan bagi diri kita. Sehingga ini bisa memotivasi kita untuk tetap menjalin dan menjaga silaturahmi. Tentu silaturahmi yang dimaksud tidak hanya di saat lebaran tapi juga setiap saat dan di setiap tempat serta kepada setiap orang. Sehingga janji Allah SWT akan mendapatkan rahmat, dan janji Rasulullah SAW akan dipanjangkan umur dan dilapangkan rezeki, akan menjadi kenyataan bagi diri kita.

Seperti disabdakan dalam hadits, dengan silaturahmi akan panjang umur. Ketika saling bertemu, akan saling memaafkan. Sehingga beban pikiran dan beban perasaan semakin berkurang bahkan hilang. Sebagai manusia yang memiliki kelemahan pasti ada yang salah dan bisa memunculkan konflik. Konflik kemudian memunculkan beban pikiran dan perasaan sehingga bisa menimbulkan penyakit. Stres, depresi, pusing, hipertensi, bahkan stroke bisa terjadi karena terpeliharanya konflik dan putusnya tali silaturahmi. Setidaknya konflik akan membuat segalanya menjadi tidak enak. Makan, tidur, bekerja juga menjadi tidak enak.

Selain itu silaturahmi bisa jadi media katarsis, seperti curhat kepada teman yang akhirnya bisa mengurangi beban perasaan dan pikiran. Seperti anjuran agama, di mana kita diperintahkan menjaga silaturahmi serta saling memaafkan maka konflik akan hilang, beban pikiran dan perasaan juga ikut hilang, dan insya Allah penyakit pun jadi hilang serta insya Allah akan panjang umur.

Silaturahmi pun bisa menambah rezeki. Banyak bertemu orang, banyak memiliki kenalan dan terjaganya silaturahmi akan ada saling tolong menolong dalam hal apapun termasuk saling mendoakan. Apalagi profesi pedagang, pengusaha dan politisi, silaturahmi bisa menambah rezeki. Setidaknya rezeki karena banyak teman, maka tolong menolong antara sesama akan terjadi. Banyak teman, insya Allah memudahkan datangnya rezeki. Begitulah sabda Rasulullah SAW.

Silaturahmi dan persaudaraan akan mendapat rahmatNya. Begitu janji Allah SWT, dan ini pasti. Rahmat berupa kasih sayang dan kebaikan-kebaikan dari Allah SWT. Masya Allah. Kebaikan akan banyak kita terima dari Allah dengan silaturahim ini. Rahmat bertambah umur, bertambah rezeki bahkan peningkatan karir bagi ASN (aparatur sipil negara), atau mudahnya mendapat jabatan bagi kaum profesional.

Kita hidup bertetangga, dengan silaturahmi akan mendatangkan rahmat, di mana para tetangga membantu kita. Kita berteman di sekolah, rahmat pun banyak berdatangan, seperti ada kawan yang membantu buat tugas, dan saling membantu kegiatan-kegiatan di sekolah. Begitu juga berteman di kantor dan di organisasi serta di mana saja kita berada, pastilah rahmat akan mendatangi kita.

Mari kita di saat Lebaran dan di bulan Syawal ini untuk saling jaga silaturahmi dan saling memaafkan. Segeralah ishlah atau perbaiki segala konflik dan persoalan antar sesama, sekiranya masih ada. Insya Allah rahmat atau kebaikan Allah SWT akan mewarnai kehidupan kita. Hidup kita dilindungi Allah SWT, dibantu Allah SWT dan ketentraman hidup serta kebahagiaan akan kita rasakan. Bahkan hidup pun akan sukses tidak hanya di dunia tapi juga sukses di akhirat. Amin..***

Singgalang, 11 Juli 2016

 

173. 2016-07-20 [Padek] Kita Mau, Insya Allah Bisa

KITA MAU, INSYA ALLAH BISA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, kini kita berada di bulan Syawal. Suasana silaturahmi, saling memaafkan, ukhuwah, reuni, pertemuan keluarga, halal bihalal sangat kental sekali di bulan Syawal. Semangat baru untuk kehidupan lebih baik sangat terasa setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan lalu hampir 24 jam waktu kita diisi dengan berbagai amal ibadah yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Kita tentu masih ingat, ketika keesokan hari sudah masuk 1 Ramadhan maka di malam hari sudah datang ke masjid untuk melaksanakan shalat isya berjamaah dan kemudian mendengarkan ceramah dilanjutkan dengan shalat taraweh berjamaah.

Setelah usai shalat taraweh, dilanjutkan dengan membaca Al Quran, kemudian tidur dengan waktu yang lebih sedikit dari biasanya. Karena harus bersiap untuk bangun melaksanakan sahur.

Sebelum sahur, masih ada waktu untuk mengerjakan shalat tahajud. Setelah sahur, pergi ke masjid melaksanakan shalat subuh berjamaah. Usai shalat subuh maka bersiap untuk aktivitas harian. Kemudian menjelang matahari semakin meninggi melaksanakan shalat dhuha.

Aktivitas di pagi hingga sore hari dilakukan seperti biasa, padahal saat itu sedang dalam kondisi puasa menahan haus dan lapar. Iktikaf di masjid pun bisa diikuti saat 10 hari terakhir Ramadhan. Berbagai aktivitas amal ibadah tersebut rutin kita laksanakan setiap bulan Ramadhan dari tahun ke tahun.

Banyak kebaikan (amal ibadah) yang dilakukan di bulan Ramadhan yang semestinya bisa dikerjakan kembali di luar bulan Ramadhan. Namun tidak dilakukan. Padahal sudah tidak menahan lapar dan haus lagi serta situasinya lebih mendukung.

Sebagai satu contoh, di bulan Ramadhan terasa ringan berpuasa satu bulan penuh. Ketika masuk bulan Syawal, puasa sunnah 6 hari terasa berat. Bahkan untuk puasa sunnah Senin-Kamis pun terasa berat. Mengapa puasa sebulan penuh bisa, tapi puasa beberapa hari tidak bisa?

Demikian pula ketika puasa sebulan penuh mampu bangun pagi untuk shalat subuh. Tapi di luar bulan Ramadhan shalat subuh sering kesiangan. Mengapa ketika Ramadhan bisa dikerjakan tapi di luar Ramadhan tidak bisa dikerjakan?

Shalat taraweh di malam hari bisa dikerjakan selama sebulan penuh. Mengapa ketika di luar Ramadhan shalat witir satu rakaat pun tidak bisa dikerjakan? Membaca Al Quran bisa khatam 30 juz dalam sebulan, bahkan ada yang bisa 2 hingga 3 kali khatam di bulan Ramadhan atau setidaknya di bulan ramadhan biasa membaca Al Quran. Mengapa ketika di luar Ramadhan lama sekali mengkhatamkannya bahkan sudah tidak lagi membacanya?

Ternyata banyak kebaikan yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan tapi tidak dilakukan di luar Ramadhan. Sehingga tidak berlanjut dan seolah-olah khusus untuk bulan Ramadhan saja. Padahal sesungguhnya kita butuh mengerjakan kembali kebaikan itu agar rahmat Allah SWT tetap kita peroleh. Untuk mengerjakan berbagai kebaikan itu landasannya adalah kemauan. Banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan, tapi tidak mau dikerjakan. Maka jika dilandasi kemauan, segala perbuatan baik itu insya Allah akan bisa dikerjakan.

Membaca Al Quran, puasa sunnah, shalat malam, shalat dhuha, shalat berjamaah, dan amalan lainnya insya Allah akan melindungi kita, menenangkan diri kita, mensejahterakan kita, menyehatkan kita, memudahkan urusan hidup kita, meningkatkan kesuksesan hidup kita, dan berbagai kebaikan lainnya yang Allah SWT sediakan untuk hamba-hambaNya.

Semoga di bulan Syawal ini dan juga bulan berikutnya kita bisa memotivasi kembali diri kita untuk memiliki kemauan melakukan berbagai kebaikan yang sudah dilaksanakan di bulan Ramadhan. ***

Padang Ekspres, 20 Juli 2016

 

174. 2016-07-26 [Singgalang] Kembali ke Fitrah

KEMBALI KE FITRAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Kita patut bersyukur telah melewati ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri. Kedua peristiwa ini menjadikan jiwa kita kembali terbentuk sesuai fitrah. Kembali ke fitrah, demikian kita sering mendengarnya. Allah SWT memang menjadikan manusia memiliki fitrah. Ini difirmankan Allah SWT dalam Al Quran surat Ar Ruum ayat 30 yang artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Islam adalah agama fitrah, yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Ajaran Islam banyak memberikan arahan kepada manusia bagaimana hidup sesuai fitrah tersebut. Ramadhan adalah salah satu ruang bagi umat Islam kembali ke fitrah mereka. Sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa dan mengerjakan berbagai amal ibadah, pada bulan berikutnya tanggal 1 Syawal umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Momen kembali ke fitrah dirayakan dengan penuh sukacita dan kebahagiaan.

Jiwa kita yang seharusnya sesuai fitrah sering makin tumpul karena dalam kegiatan sehari-hari menjauh dari fitrah sebagai manusia. Ini terjadi baik tanpa sadar maupun sadar. Rutinitas yang padat, banyaknya pekerjaan, sering menjauhkan kita dari fitrah kemanusiaan kita. Sehingga dalam pergaulan sehari-hari untuk memenuhi keinginan ataupun target, yang dikedepankan adalah berbuat curang, menipu, berbohong, menyerobot, memalsukan, memfitnah, menjelekkan orang lain, dan perbuatan buruk lainnya.

Allah SWT menempa hambaNya di bulan Ramadhan untuk kembali menjadi manusia yang fitrah. Puasa menahan haus, lapar dan hawa nafsu dari subuh hingga maghrib selama sebulan penuh dalam dunia kesehatan dianggap mampu menyehatkan tubuh dan menghindarkan datangnya penyakit serta sekaligus mengeluarkan racun di tubuh. Demikian pula halnya dengan kondisi jiwa, puasa diikuti dengan amal ibadah yang dilaksanakan dengan ikhlas mampu membentuk kembali jiwa manusia yang fitrah sesuai dengan kodrat penciptaan. Dengan fitrah yang utuh ini maka dicapailah derajat ketakwaan seorang hamba.

Fitrah pada manusia berarti memiliki sifat dan perilaku mulia yang Allah SWT jadikan kepada semua manusia tanpa kecuali. Maka manusia yang mampu menjaga fitrahnya akan muncul dari dalam dirinya kecerdasan (fathanah), berperilaku jujur (siddiq), tanggung jawab, amanah, disiplin, sunguh-sungguh, kerja keras, dan perilaku serta sifat baik lainnya.

Berbagai perilaku dan sifat baik itu sangat cocok dengan diri kita, sesuai dengan kebutuhan jiwa, dan mampu memenuhi keinginan jiwa, serta sesuai dengan kodrat penciptaan manusia. Jika perilaku itu dijalankan maka ia akan memberikan ketenangan, kenyamanan, dan juga menimbulkan kesuksesan dalam hidup. Baik sukses dalam berkeluarga, bekerja, berorganisasi, bermasyarakat, juga bernegara. Sukses sebagai pegawai, pelajar, ibu rumah tangga, wirausahawan, guru, dosen, mahasiswa, dan lainnya. Tidak hanya sukses hidup di dunia, tetapi juga di akhirat.

Bagaimana agar kondisi kita tetap dalam koridor fitrah manusia yang diberikan Allah SWT? Di antaranya adalah dengan menjaga pelaksanaan rutinitas amal ibadah yang sudah dilakukan di bulan Ramadhan untuk bisa dilaksanakan di luar Ramadhan. Karena tanpa menjaga kuantitas dan kualitas ibadah, diri kita akan mudah keluar dari fitrah yang sudah diberikan Allah SWT. Puasa dan amal ibadah yang sudah dikerjakan di bulan Ramadhan telah terbukti mengembalikan kita kepada fitrah. Maka meninggalkannya akan menyebabkan kita menjauh dari fitrah tersebut.

Tidak hanya itu, pengaruhnya juga kepada anak-anak yang kita besarkan bisa keluar dari fitrah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orangtuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita kembali ke kodrat penciptaan kita, sebagai manusia yang fitrah. Karena itu merupakan kebutuhan kita hidup di dunia dan juga bekal di akhirat. Semoga kita bisa melaksanakannya. ***

Singgalang, 26 Juli 2016

 

175. 2016-08-02 [Padek] Tour de Singkarak 2016

TOUR DE SINGKARAK 2016

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 25 Juli 2016 lalu saya menghadiri peluncuran Tour de Singkarak (TdS) tahun 2016 yang dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta. Saya memberi apresiasi kepada Menteri Arief yang antusias berbicara tentang pariwisata Sumbar. Bahkan di satu waktu beliau lengkap menyampaikan data pendapatan penduduk di sekitar sebuah kawasan wisata yang sudah mengalami kenaikan berkat adanya kawasan wisata tersebut yang makin ramai dikunjungi wisatawan. Ini membuktikan bahwa sektor pariwisata terbukti meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, apresiasi saya berikan kepada Kementerian Pariwisata RI, Pemerintahan Kota/Kabupaten, Aparat TNI dan Polri, Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI), dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan persepedaan yang telah menunjukkan kesiapannya berpartisipasi mensukseskan TdS 2016 ini yang merupakan kali ke delapan. Saya juga memberikan apresiasi kepada masyarakat Sumbar yang selama ini tertib dalam menonton TdS dan juga rekan-rekan media yang sudah melakukan liputan TdS.

Di tengah kemeriahan dan optimisme persiapan TdS 2016 ini, tetap ada yang bertanya apakah TdS berpengaruh terhadap pariwisata Sumbar. Untuk menjawab hal ini, maka beberapa informasi berikut bisa menjelaskannya.

Setelah tujuh kali digelar TdS, ternyata sudah bermunculan destinasi wisata baru yang makin dikenal masyarakat lebih luas lagi. Tidak lagi Danau Singkarak semata. Beberapa di antaranya, Pantai Carocok, Pantai Gandoriah, Pantai Padang, Lembah Harau, Kelok 9, Pantai Tiram, Istana Pagaruyuang, dan masih ada lagi yang lainnya. Di samping itu juga ada Masjid Raya Sumbar, Tugu Perdamaian dan Tugu IORA yang sudah dijadikan tempat berfoto bagi para wisatawan.

Destinasi wisata ini makin dikenal masyarakat karena Start dan Finish setiap etape berada di destinasi wisata. Dengan diliput media dalam dan luar negeri seperti Euro Sport, menjadikan berbagai destinasi wisata tersebut makin dikenal masyarakat dalam penyajian yang berbeda, yaitu iven balap sepeda. Bahkan tumpukan kliping pemberitaan TdS setiap kali diadakan yang dikumpulkan oleh Kementerian Pariwisata RI tingginya mencapai 1 meter. Ini menunjukkan massifnya pemberitaan TdS oleh banyak media.

Selain itu, lebih 1.000 kilometer jalan yang diperbaiki setiap tahun untuk jalur balap sepeda menyebabkan semakin lancarnya arus orang, barang dan jasa. Sehingga turut memudahkan wisatawan mengunjungi berbagai destinasi wisata yang ada di Sumbar.

TdS juga merupakan iven balap sepeda dengan jumlah penonton terbanyak peringkat ke-5 di dunia berdasarkan data Amouri Sport Organization (ASO) dan Union Cycliste Internationale (UCI). Dan diakui UCI sebagai iven dengan “very high level security.” Ini artinya, masyarakat mendukung dan menikmati iven TdS ini, karena juga sebagai hiburan bagi mereka.

Selain itu, dengan sudah berlangsungnya TdS selama 7 kali, semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa iven ini bermanfaat pula untuk meningkatkan pendapatan mereka. Masyarakat bisa menjual oleh-oleh, souvenir, ragam kuliner maupun menyediakan penginapan di sekitar kawasan wisata, baik selama berlangsungnya TdS maupun di luar TdS.

Hotel dan penginapan lainnya setiap kali penyelenggaraan TdS ini umumnya penuh. Bahkan di beberapa tempat yang masuk di etape tertentu tidak tersedia hotel dan penginapan yang cukup sehingga rombongan yang ingin menginap akhirnya kembali ke Padang. Pertambahan hotel dan homestay di Sumbar sebenarnya cukup signifikan. Tahun 2010 jumlahnya 263 unit, kemudian meningkat menjadi 388 unit pada 2015. Atau dari jumlah kamar, ada tambahan hampir 3.000 kamar baru.

Komitmen dan konsistensi penyelenggaraan TdS di satu sisi memperlihatkan adanya iklim yang kondusif bagi pariwisata dan juga investasi. Karena dari situ bisa dilihat adanya keamanan yang baik sehingga pembangunan dan investasi bisa berjalan. Selain itu TdS juga menjadi sebab munculnya iven serupa di Indonesia seperti Tour de Ijen (Banyuwangi) dan Tour de Flores yang juga berkonsep “sport tourism.” Ini artinya pemerintah daerah lain melihat bahwa iven olah raga seperti balap sepeda bisa menjadi ajang promosi efektif destinasi wisata yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

TdS merupakan ajang promosi pariwisata dan budaya Sumbar kepada publik di Indonesia dan luar negeri. Meskipun pernah diselenggarakan pada masa sulit seperti masa pemulihan akibat gempa 2009, TdS sekaligus memperlihatkan kebangkitan kembali sekaligus eksistensi pariwisata Sumbar. Dari 4 kota/kabupaten yang berpartisipasi pada awalnya, kini hampir seluruh kota/kabupaten berpartisipasi. Semoga dengan kebersamaan yang makin kokoh ini, pariwisata Sumbar semakin baik ke depannya, yang berujung kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. ***

Padang Ekspres, 2 Agustus 2016

176. 2016-08-09 [Singgalang] Gerakan Aisyiyah Cinta Anak

GERAKAN AISYIYAH CINTA ANAK

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 31 Juli 2016 lalu saya berkesempatan memberikan sambutan di acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Aisyiyah Sumbar yang diadakan di Auditorium Gubernuran Padang. Saya memberikan apresiasi kepada Pengurus Aisyiyah yang mengagas Gerakan Aisyiyah Cinta Anak yang merupakan program Aisyiyah secara nasional. Gerakan cinta anak ini juga selaras dengan program pemerintah  yang peduli terhadap anak.

Mencintai anak insya Allah akan berdampak kepada mencintai keluarga sehingga muncul ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga ini akan berdampak positif kepada ketahanan masyarakat, bangsa dan negara. Terutama dalam menyiapkan dan membentuk generasi masa depan dan dalam menghadapi arus informasi yang masuk secara bebas hingga ke dalam rumah-rumah keluarga Indonesia.

Saya berharap gerakan cinta anak yang digagas oleh Aisyiyah ini akan menyebar kepada banyak masyarakat terutama para orangtua sehingga mereka semakin menyadari pentingnya mencintai anak-anak mereka sepenuh hati.

Pemerintah memang memiliki tanggung jawab terhadap hak-hak anak sesuai yang digariskan oleh Undang-Undang seperti pendidikan dasar yang dianggarkan oleh APBN. Selain itu, lintas kementerian juga memiliki program-program yang memberi perhatian kepada anak-anak seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pemerintah Provinsi juga turut berpartisipasi mengikuti program yang sudah digariskan pemerintah pusat tersebut.

Lembaga-lembaga pendidikan pun, terutama pendidikan dasar dan pendidikan anak usia dini, baik intansi pemerintah dan swasta, telah menjalankan program-program mereka dalam rangka mencintai anak.

Namun, seberapapun perhatian kepada anak dari pemerintah maupun swasta, orangtua tetap menjadi faktor penentu. Kebijakan dan program pemerintah serta pejabat terkait akan berganti-ganti, maka orangtualah yang menjadi kunci utama keberhasilan dalam memberikan perhatian kepada anak. Orangtua tidak bisa mengandalkan pihak ketiga dalam mengurus anak mereka.

Ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini dengan jelas memberitahukan bahwa orangtualah yang bertanggung jawab penuh terhadap anaknya. Maka orangtua yang baik, akan mencintai anaknya.

Selain itu, Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat At Tahrim ayat 6 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” Maka sudah sepantasnyalah orangtua memperhatikan keluarga mereka agar tidak terjerumus ke neraka. Oleh sebab itu, orangtua bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya, terutama anak-anaknya agar tidak menjerumuskan mereka kepada kehidupan yang salah. Karena anak akan menjadi pemimpin bangsa di berbagai level, sehingga ketika orangtua salah dalam membesarkan anak akan berpengaruh kepada diri orangtua  sendiri dan juga masyarakat. Apalagi jika orangtua lebih mempercayakan pengasuhan anak mereka kepada pihak ketiga dibanding diri mereka sendiri.

Orangtua yang mencintai anaknya insya Allah akan mendapatkan kebaikan dari perhatian mereka kepada anaknya. Anak mereka akan tumbuh lebih baik karena mendapatkan kasih sayang yang berlimpah sehingga meraih kesuksesan dalam hidupnya. Bahkan setelah orangtua meninggal dunia, kesalehan anak-anaknya akan menjadi pahala yang terus mengalir.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh” (HR. Muslim no. 1631).

Pemerintah memang tidak bisa berdiri sendiri dalam menjalankan program-programnya. Peran berbagai komponen masyarakat, termasuk ormas sangat membantu pemerintah dalam mewujudkan program tersebut. Karena ormas memiliki anggota hingga ke akar rumput (grass root) sehingga pengaruhnya bisa lebih meluas.

Semoga dengan gerakan cinta anak yang digagas Aisyiyah ini, semakin banyak masyarakat yang termotivasi untuk peduli dengan anak-anak mereka sehingga makin banyak anak yang berkesempatan meraih sukses di masa depan akibat kecintaan orangtua kepada mereka. ***

Singgalang, 9 Agustus 2016

 

177. 2016-08-16 [Padek] Memaknai Kembali Kemerdekaan

MEMAKNAI KEMBALI KEMERDEKAAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 17 Agustus 2016 kali ini kita memperingati Kemerdekaan RI yang ke-71. Proklamasi Kemerdekaan yang ditandatangani oleh Soekarno-Hatta mengatasnamakan Bangsa Indonesia ini adalah deklarasi pembebasan Bangsa Indonesia terhadap penjajahan yang telah berlangsung ratusan tahun.

Dalam kurun waktu rentang ratusan tahun yang amat panjang tersebut, perlawanan terhadap penjajah muncul dengan berbagai bentuk. Dari perlawanan fisik yang menggunakan senjata sederhana hingga perlawanan dari kaum terdidik.

Penjajahan secara fisik yang amat menyakitkan, dilawan oleh rakyat dengan menggunakan senjata tradisional maupun rampasan dari penjajah. Betapa tidak imbangnya sebuah bambu runcing dan senjata tradisional lainnya menghadapi senjata modern dan kendaraan tempur para penjajah. Namun dengan semangat yang sangat tinggi, pantang menyerah, berterusan melawan, akhirnya bangsa ini meraih kemerdekaannya dengan izin Allah SWT, seperti yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Memaknai kemerdekaan bisa diartikan dua hal. Pertama adalah memaknai perjuangan untuk mencapai kemerdekaan dengan melawan penjajah. Kedua adalah memaknai perjuangan untuk mengisi kemerdekaan. Keduanya seharusnya memiliki karakter yang sama dalam bentuk masing-masing, yaitu semangat tinggi, pantang menyerah, dan berterusan menjaga sikap positif tersebut.

Seorang pelajar, jika ia memiliki semangat tinggi, pantang menyerah, dan mampu menjaga secara berterusan sikap positifnya ini, maka sebenarnya ia telah berjuang mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.

Kita bisa melihat negara-negara maju yang telah merdeka terlebih dahulu, anak bangsanya secara kolektif memiliki semangat tinggi, pantang menyerah dan secara berterusan mampu menjaga sikap demikian, sehingga negaranya maju, berdaya saing tinggi, modern, dan makmur.

Sayangnya, masih banyak dari kita di sini yang justru mengikuti budaya luar yang bersifat konsumtif dan mengedepankan kesenangan. Bukan budaya luar yang mengajarkan semangat tinggi, pantang menyerah, dan berterusan menjaga sikap positif tadi. Sehingga kemerdekaan yang sudah berulang tahun ke-71 ini belum dimanfaatkan oleh para anak bangsa untuk mengejar ketertinggalan dengan negara lain.

Jika kita mampu merasakan betapa tersiksanya dijajah secara fisik, maka dengan kondisi kemerdekaan yang ada ini seharusnya memotivasi kita berjuang lebih keras lagi. Perjuangan yang dimaksud adalah mengaktualisasikan potensi yang ada pada diri kita secara maksimal. Para pelajar, mahasiswa, seniman, budayawan, profesional, birokrat, pejabat, olahragawan, petani, nelayan, pedagang, pengusaha, politisi, dan lainnya yang mengaktualisasikan potensinya, pada dasarnya mereka berjuang mengisi kemerdekaan.

Memaknai kembali kemerdekaan dengan mengaktualisasikan potensi, tetap dalam koridor hukum, atau sesuai aturan yang berlaku. Bukan bebas melakukan semaunya. Karena jika dilakukan bebas semaunya justru akan berdampak negatif bagi orang lain.

Semoga peran tiap kita dalam mengisi kemerdekaan ini bisa mengimbangi mereka yang dulu melawan para penjajah, yang memiliki semangat tinggi, pantang menyerah, dan berterusan. Sehingga hal ini akan berdampak positif kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Insya Allah hal demikian bisa mempercepat bangsa ini mencapai tujuannya seperti yang digariskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim:7). Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu bersyukur atas nikmat kemerdekaan ini. ***

Padang Ekspres, 16 Agustus 2016

 

178. 2016-08-23 [Singgalang] Minang Pride

MINANG PRIDE

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan pemberhentian dengan hormat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. Pemberhentian itu diawali dengan isu di media sosial yang kemudian berkembang menjadi berita mengenai kewarganegaraan menteri yang bersangkutan. Terlepas dari pro-kontra masalah aturan tersebut, tiba-tiba rasa kesukuan orang Minang bangkit dan berusaha memberi dukungan kepada Arcandra.

Mereka melihat sosok Arcandra ini memiliki keistimewaan, seperti kepintarannya, kepakarannya, ketawadhuannya, dan juga kecintaannya kepada negerinya sendiri sehingga rela meninggalkan Amerika menuju Indonesia. Arcandra juga memiliki paten terkait bidang migas, dan sudah diakui reputasinya di Amerika.  Arcandra dianggap sebagai sosok individu Minang yang patut dibanggakan. Dia pun tahu agama (ustadz) dan sangat ‘medok’ minangnya.

Momen ini seperti menyadarkan kita bahwasanya selama ini banyak orang Minang yang memiliki reputasi bagus seperti mutiara yang masih terbungkus dan berada di dasar lautan. Namun mutiara ini seperti tertutup rapi tanpa ada yang mau membukanya agar diketahui banyak orang.

Jika kita kembali menengok sejarah ke belakang, dari 163 pahlawan nasional yang sudah ditetapkan pemerintah sejak tahun 1959, sekitar sepuluh persennya berasal dari Minang. Padahal persentase etnis Minang secara nasional hanya sekitar dua persen. Demikian pula orang Minang yang menjadi menteri (eksekutif) dan politisi (legislatif), kiprah mereka sudah diakui secara nasional maupun internasional. Orang Minang banyak yang sukses di berbagai profesi seperti sastrawan, budayawan, wartawan, akademisi, ustadz atau ulama, guru atau dosen, pedagang, pengusaha, politisi, diplomat, birokrat, dan profesi lainnya. Ini menandakan bahwa sejak dulu pun sudah banyak orang Minang yang menjadi mutiara bagi negeri ini, dengan memperlihatkan reputasi yang cemerlang.

Dan kinipun banyak anak muda Minang yang menunjukkan kecemerlangannya. Mereka tersebar di berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, ekonomi,  komunikasi, pariwisata, politik, hukum, sastra, budaya dan lainnya. Saya memberi apresiasi kepada para anak muda yang berusaha kembali menghidupkan kebanggaan sebagai orang Minang dengan sebutan Minang Pride atau tagar #minangpride.

Melalui media sosial (online) dan juga kopi darat (offline), para anak muda ini mencoba kembali menggugah kebanggaan sebagai orang Minang yang memang memiliki kompetensi mumpuni. Tidak hanya sekedar slogan semata, tetapi mereka banyak yang sudah eksis di bidang masing-masing.

Salah satu sebab kemunculan Minang Pride ini adalah, dalam melihat sesama orang Minang seolah-olah tiada yang bisa diharapkan dari orang Minang. Persepsi negatif secara berterusan dimunculkan untuk hal yang sebenarnya memiliki sisi positif. Aura negatif lebih dominan dibanding memunculkan energi positif.

Selama ini orang Minang diidentikan dengan tukang cemooh, padahal bagi sebagian orang yang dilakukan mereka adalah kritik yang konstruktif. Yang kadang-kadang memang keras. Namun itu sebenarnya bagian dari karakter yang ada di profesi mereka seperti penulis, dosen, ulama, sastrawan, budayawan, dan lainnya.

Demikian pula ketika ada yang menyebut orang Minang itu pelit. Namun bagi sebagian orang, mereka sangat berhitung dan hemat karena karakter yang ada pada profesi mereka seperti pedagang, pengusaha, dan lainnya.

Persepsi negatif lainnya adalah anggapan oleh sebagian orang bahwa orang Minang ini banyak bicara (tukang ota). Padahal dalam sisi positif, kemampuan bicara orang Minang sejak dulu bisa diandalkan dalam hal diplomasi, negosiasi, komunikasi, dan lainnya.

Orang Minang juga dianggap tidak bisa bekerjasama dalam persepsi negatif. Padahal karakter orang Minang yang dimaksud dalam sisi positif adalah independen. Oleh karena karakter independen inilah maka hal tersebut yang menjadi kekuatannya sehingga bisa maksimal berimprovisasi.

Demikian pula ketika ada orang Minang yang memiliki kecerdasan, kepintaran dan juga kecerdikan. Persepsi negatif yang dimunculkan menjadi seolah-olah orang Minang ini licik (galia). Tidak ada bagusnya sama sekali.

Upaya mendiskreditkan sesama orang Minang ini sudah saatnya dihentikan. Mari kita dukung berbagai potensi yang ada pada diri orang Minang ini agar muncul kepercayaan diri untuk berkiprah mengaktualisasikan potensinya. Anak-anak muda Minang sudah saatnya dimotivasi agar mereka memiliki kepercayaan diri. Persepsi negatif yang mendiskreditkan diri sendiri sudah harus dibuang jauh-jauh.

Minang Pride adalah media yang tepat bagi para anak muda Minang untuk memunculkan kepercayaan diri bahwa mereka bisa sukses dan mampu mencapai sukses seperti halnya selama ini yang sudah ditunjukkan oleh orang-orang sebelumnya. Dan dari #minangpride bergerak menjadi #minangbisa. Jika orang lain bisa, maka kitapun insya Allah pasti bisa.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’d: 11).

Maka, jika kita ingin sukses, harus diri kita sendiri yang mengubahnya. Segala persepsi negatif harus dihilangkan jauh-jauh agar muncul kepercayaan diri yang kuat. Semoga dengan kebersamaan, kita bisa memunculkan energi positif secara berterusan dan menghilangkan persepsi negatif yang selama ini muncul. ***

Singgalang, 23 Agustus 2016

 

179. 2016-08-31 [Padek] Nurani Anti Korupsi

NURANI ANTI KORUPSI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 24 Agustus 2016 lalu di Auditorium Gubernuran Padang saya berkesempatan memberikan sambutan dalam acara Koordinasi dan Supervisi Pencegahan Korupsi, Diseminasi Praktik Terbaik Tata Kelola Pemerintahan Daerah Berbasis Elektronik. Narasumber dalam acara tersebut di antaranya Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata, Badan Pengawasan Kebijakan dan Pembangunan (BPKP), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Gubernur Jawa Barat.

Selain itu, pada tanggal 29 Agustus 2016 di Padang saya juga turut hadir di acara Pelatihan Bersama Peningkatan Kapasitas Aparat Penegak Hukum dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi. Hadir di sini Kapolri, Ketua KPK, Ketua PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), Jampidsus (Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus), BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan Kepala BPKP Pusat.

Saya memberikan apresiasi kepada KPK yang berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan, di mana selama ini pemberitaan yang diterima masyarakat lebih banyak membicarakan kegiatan penindakan. Dengan adanya forum ini, kita bisa berbagi informasi dan juga berdiskusi bagaimana melakukan praktek terbaik dalam pemerintahan agar tidak melanggar aturan yang ada yang kemudian berdampak kepada masalah hukum.

Di samping itu, dengan forum yang seperti ini, lembaga seperti KPK bisa mengetahui dan mendengarkan langsung dari pemerintah daerah terkait adanya benturan peraturan yang menyebabkan pemerintah daerah di satu sisi gamang menjalankan program pembangunan dengan anggaran yang sudah disediakan hanya karena persoalan administrasi yang kadang rumit dan tidak sinkron sehingga menimbulkan kebingungan.

Hal lain yang juga didapat dari forum ini adalah pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam melaksanakan jalannya pembangunan terkait masalah integritas dan manajemen internal.

Oleh karena jabatan adalah amanah, maka pemangku amanah ini memang sudah seharusnya memiliki integritas. Amanah ini sesungguhnya sangat berat. Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia” (QS. Al Ahzab: 72).

Masih terkait dengan amanah, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan?‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu” (HR. Bukhari No. 6015).

Jika kita menelaah Firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah tersebut, maka bagi manusia yang masih memiliki hati nurani, ia akan berhati-hati memikul amanah tersebut. Tidak mungkin ia menyelewengkan amanah yang berat tersebut dengan melanggar integritas dirinya. Apalagi sampai melakukan korupsi. Karena pada dasarnya hati nurani manusia diciptakan Allah SWT dalam keadaan fitrah. Dan fitrah manusia adalah tidak melakukan (menolak) korupsi. Tidak hanya bagi muslim saja, tetapi ini berlaku universal. Kita bisa lihat, umat lain di negara-negara maju yang sudah menyadari sejak lama bahwa korupsi akan menghancurkan negara dan bangsa.

Masyarakat di manapun, menghendaki pemerintahnya bisa memberikan layanan terbaik untuk mereka. Untuk memberikan layanan terbaik adalah tidak adanya korupsi. Maka, sangat wajar bila masyarakat sangat mengutuk korupsi karena berpengaruh terhadap layanan publik yang dihasilkan.

UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mewajibkan Kepala Daerah untuk menyelenggarakan pelayanan publik dan perizinan dalam rangka mempercepat terwujudnya kesejahteraan mayarakat. Di mana di sini disertakan juga pemberdayaan dan peran serta masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan tersebut.

Demikian pula dengan Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 yang mengatur arah kebijakan dan strategi peningkatan pelayanan publik. Di Sumbar sendiri telah diwujudkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang merupakan salah satu program pemerintah, dan sejauh ini berjalan cukup baik.

Mengakhiri tulisan ini,  saya juga ingin menyampaikan. Dalam hal rutinitas sehari-hari yang banyak menandatangani surat-surat, termasuk surat-surat penting, selaku manusia para pejabat bisa saja khilaf tidak mencerna kembali isi surat dengan baik. Meskipun pada waktu menandatangani surat, berbagai pertimbangan dan pemikiran sudah dikerjakan. Hal ini menyebabkan pada suatu saat bisa memicu persoalan hukum.

Maka, selaku manusia kita juga pantas berdoa kepada Allah SWT agar persoalan hukum tidak mengenai diri kita hanya karena kekhilafan tersebut. Saya turut mendoakan kepada seluruh pemangku amanah, agar terhindar dari masalah hukum di kemudian hari. Insya Allah dengan menjaga integritas dan berpegang pada hati nurani, Allah SWT akan melindungi kita. Aamiin. ***

Padang Ekspres, 31 Agustus 2016

 

180. 2016-09-08 [Singgalang] Bukik Cambai

BUKIK CAMBAI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 28 Agustus 2016 lalu, saya selaku Gubernur Sumbar bersama Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Solok meresmikan Destinasi Wisata Unggulan Bukik Cambai yang berada di Kabupaten Solok. Daya tarik yang luar biasa di Bukik Cambai ini adalah kita bisa menyaksikan empat danau dan empat gunung yang ada di Sumatera Barat (Sumbar).

Empat danau yang dimaksud adalah Danau Talang, Danau Diateh, Danau Dibawah, dan Danau Singkarak. Sedang empat gunung yang dimaksud adalah Gunung Talang, Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Kerinci. Mungkin destinasi seperti ini satu-satunya yang ada di Indonesia.

Dan sudah sepantasnya kita mensyukuri nikmat Allah SWT yang indah ini dengan menjadikannya tempat wisata yang mampu menarik wisatawan datang ke sini sekaligus memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dan pemasukan kepada pemerintah daerah. Dan insya Allah destinasi wisata ini perlahan-lahan jika digarap serius bisa menjadi destinasi wisata pegunungan kelas dunia. Posisi Bukik Cambai sendiri kurang lebih berada di ketinggian 1400-1600 meter di atas permukaan laut. Dengan hawa yang sejuk, akan menjadi pelengkap destinasi wisata yang ada di Sumbar seperti Mandeh yang merupakan destinasi wisata laut/bahari.

Kunjungan saya ke puncak Bukik Cambai kali ini menggunakan motor trail bersama Tim Trabas Sumbar 1 dan Komunitas Alpatrac. Saya bersama rombongan juga melakukan survei jalan tembus dengan menyusuri jalan tanah dari Alahan Panjang Kab. Solok menuju Pasar Baru, Kec. Bayang Kab. Pesisir Selatan. Selain itu saya dan rombongan juga mengunjungi Danau Diateh, Danau Dibawah dan Danau Talang.

Jalan ke Bukik Cambai memang masih seadanya, saya dan rombongan menaiki bukit dengan motor trail. Belum tersedia jalan yang memadai bagi wisatawan. Ke depannya, infrastruktur jalan akan dibenahi dengan menggunakan anggaran pemkab, pemprov dan juga kita harapkan pemerintah pusat mau turut serta berpartisipasi karena mengingat keindahannya yang hanya ada di Sumbar.

Saya memberikan apresiasi dan dukungan kepada daerah-daerah yang memberikan perhatian kepada daerahnya untuk membangun dan mengembangkan pariwisata. Saya juga mengapresiasi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Solok yang sangat antusias mengembangkan pariwisata di Kabupaten Solok. Saya pun turut semangat memberi dukungan atas kerja keras ini dan ke depannya insya Allah akan ada program bantuan dari provinsi untuk mengembangkan destinasi wisata di Kabupaten Solok ini.

Pada periode kedua saya menjabat Gubernur Sumbar, pariwisata saya jadikan sebagai gerakan terpadu yang terus menerus dipikirkan, direncanakan dan dieksekusi program-programnya, melalui lintas SKPD bersama-sama sesuai bidangnya mendukung pariwisata ini. Termasuk juga pemerintah kota dan kabupaten.

Mengutip pernyataan Menteri Pariwisata Arief Yahya di republika.co.id (1/9/16), pariwisata adalah penyumbang PDB (Produk Domestik Bruto), devisa dan lapangan kerja yang paling mudah, murah dan cepat. PDB Indonesia menyumbang 10 persen PDB nasional dengan nilai nominal tertinggi di ASEAN. Sektor pariwisata menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan. Dalam hal penciptaan lapangan kerja, dalam lima tahun sektor pariwisata tumbuh 30 persen. Dan devisa pariwisata sebesar 1 juta dolar AS menghasilkan PDB 1,7 juta dolar AS.

Senada dengan Menteri Arief, saya juga meyakini bahwa pariwisata mampu menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan. Ini karena kegiatan ekonomi kerakyatan bergerak. Home stay/penginapan, rumah makan, travel, guide, souvenir, oleh-oleh, penjualan makanan dan minuman, semuanya mendapatkan imbas dari datangnya wisatawan. Uang berputar dan ekonomi bergerak. Semakin banyak wisatawan datang, maka akan semakin banyak uang berputar dan menggerakkan ekonomi.

Jika melihat kondisi geografis Sumbar, alamnya banyak yang sudah menjadi destinasi wisata dan saya prediksi akan ada lagi destinasi baru yang muncul ke depannya. Sedangkan dari sisi demografis, karakter umum masyarakat kurang suka bekerja sebagai buruh yang terikat waktu, maka pariwisata sangat cocok menjadi sektor yang mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Pengembangan destinasi wisata, insya Allah akan menarik kesejahteraan masyarakat lebih baik lagi.

Salah satu destinasi wisata baru yang kini sedang dikembangkan adalah Mandeh. Saat ini sedang dalam tahap proses pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya, juga termasuk homestay atau penginapan. Dengan kondisi yang masih minim dukungan infrastruktur, ternyata sudah banyak wisatawan yang mendatangi Mandeh. Keindahan alamnya yang tersebar melalui media elektronik maupun media sosial dan juga promosi yang sudah dijalankan, telah mendorong wisatawan datang mengunjungi Mandeh.

Saya berharap Bukik Cambai kelak akan bisa seperti Mandeh. Dengan dimulainya pencanangan sekaligus promosi Bukik Cambai, pembangunan infrastruktur dan sarana pendukung lainnya semoga bisa segera dipercepat. Semoga ke depannya, pemerintah dan masyarakat mampu menjaga dan merawat destinasi wisata yang sudah banyak dikenal orang ini. Karena dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, efek multiplier sektor pariwisata insya Allah akan terasa dan mensejahterakan banyak orang. Semoga ikhtiar kita bersama ini mendapat ridho Allah SWT. Aamiin.***

Singgalang, 8 September 2016

 

181. 2016-09-16 [Singgalang] Kurban dan Kepedulian

KURBAN DAN KEPEDULIAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Ibu Sri pemulung di Padang mengumpulkan rupiah demi rupiah. Warga Kurao Pagang ini menyerahkan uang Rp 2 juta kepada petugas. Ia berkurban. Cerita itu sampai ke telinga saya. Lalu kisah Nenek Sahati (67) akhirnya bisa berkurban seekor kambing seharga Rp2 juta setelah menabung selama tujuh tahun. Nenek Sahati adalah pemulung yang tinggal di Kota Sukabumi Jawa Barat. Setiap hari ia berusaha menyisihkan uang yang ia peroleh guna memenuhi keinginannya untuk berkurban. Sedapatnya, ia sisihkan hasil memulung untuk berkurban. Kadang 5000 rupiah, kadang 6.000 rupiah.

Di tempat lain, Surabaya, nenek Rasma (61) setelah menabung lebih dari setahun berhasil mengumpulkan Rp2 juta untuk berkurban. Nenek Rasma juga seorang pemulung. Dan di Pasuruan, seorang tukang becak bernama Bambang (51) berkurban satu ekor sapi dengan menyerahkan sapi yang ia beli kepada pihak Masjid Al Ikhlas, Purworejo, Pasuruan. Demikian pula nenek Yati (60) di Tebet Jakarta, pemulung yang sehari-hari tinggal di gubuk triplek kecil di tempat sampah, berkurban dua ekor kambing dan menyerahkannya kepada pihak Masjid Al Ittihad Tebet Jakarta.

Kisah-kisah kaum dhuafa yang berkurban ini pernah mewarnai media elektronik, media online dan cetak beberapa waktu lalu. Masyarakat, pemerhati masalah sosial, media, hingga pihak pemerintah memberikan pujian kepada mereka yang sebenarnya pihak yang layak dibantu namun justru memperlihatkan kepedulian sosial yang tinggi.

Bagi kita yang Allah SWT berikan rezeki lebih dibanding kaum dhuafa yang berkurban tersebut, mungkin bertanya. Mengapa mereka bisa, sedangkan kita kadang agak sulit berkurban seolah-olah sudah tidak ada lagi dana untuk itu. Kaum dhuafa tersebut memang tidak memiliki kewajiban berzakat, bahkan mungkin masuk ke dalam golongan penerima zakat. Namun mereka mampu menginfakkan rezeki yang mereka peroleh untuk dialokasikan kepada kurban. Ini seperti yang difirmankan Allah SWT dalan surat Al Baqarah ayat 3, wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun, yang artinya, “dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Berkurban memang berbeda dengan berzakat. Orang yang berzakat ada batasan atau nasab terhadap harta atau pendapatannya. Baru ia bisa berzakat. Atau dengan kata lain seseorang yang berzakat karena ia sudah dianggap cukup. Sedangkan berkurban tidak harus ketika kondisi cukup. Dalam keadaan sulit pun bisa berkurban, seperti diperlihatkan oleh kisah kaum dhuafa tadi.

Berzakat adalah kewajiban, dan jumlahnya sudah ditakar. Pada masa Khalifah Abu Bakar Siddiq r.a orang yang tidak membayar zakat pernah diperangi. Berbeda dengan berkurban yang merupakan hasil dari kemauan hati, dananya dikeluarkan dari rezeki yang diperoleh. Meskipun seseorang belum wajib zakat, namun karena berasal dari kemauan di hati, maka disisihkanlah dananya dari rezeki yang diperoleh.

Berkurban adalah menunjukkan kepedulian kepada sesama. Pemulung dan tukang becak yang berkurban, mereka telah memberikan keteladanan luar biasa kepada kita. Mungkin sabda Rasulullah SAW patut kita renungkan. Dari Abu Hurairah r.a Nabi SAW berkata, “Barangsiapa memiliki kelapangan dan tidak mau berkurban, maka janganlah sekali-sekali mendekati tempat sholat kami” (HR. Ahmad).

Selain sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, berkurban juga memberikan banyak manfaat bagi yang melakukannya. Dari Aisyah r.a, Nabi SAW berkata, “Tidak ada amalan yang paling dicintai oleh Allah pada Hari Raya Kurban yang dikerjakan oleh anak Adam kecuali berkurban, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah, maka berbahagialah kamu dengan berkurban” (HR. Tirmizi, Shohih).

Dari Zaid bin Arqam berkata: “Saya bertanya wahai Rasulullah, untuk apakah hewan kurban ini? Rasulullah menjawab: ia merupakan sunnah Nabi Ibrahim sebelum kamu. Apakah yang kami dapatkan ya Rasulullah? Rasul menjawab setiap helai bulu kurban banyak membawa kebaikan”  (HR. Ahmad).

Berkurban memang bukan kewajiban layaknya zakat. Namun di situlah keindahannya. Justru banyak orang yang berkurban padahal ia belum wajib berzakat dan masih kekurangan. Mereka berkurban karena telah terbentuk karakter kepedulian pada diri mereka. Berkurban tidak perlu menunggu kaya atau cukup. Karena berkurban adalah membentuk karakter. Seperti halnya Nabi Ibrahim a.s yang merelakan anaknya Nabi Ismail a.s, mungkin  seperti itu pulalah kita merelakan harta yang ada di kita untuk berkurban membantu saudara-saudara kita yang masih sulit untuk menikmati protein hewani dalam kehidupan kesehariannya.

Semoga bagi yang berkurban tahun ini, Allah SWT berikan ganjaran terbaik. Dan bagi yang belum berkurban, semoga di tahun berikutnya bisa berkurban. Sesuatu yang baik dalam ajaran Islam, insya Allah sangat banyak manfaatnya dalam kehidupan kita. Berkurban adalah salah satunya. Wallahua’lam. ***

Singgalang, 16 September 2016

182. 2016-09-20 [Padek] Lustrum Unand

LUSTRUM UNAND

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 17 Agustus 2016 lalu, Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia merilis daftar perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Alhamdulillah, Universitas Andalas (Unand) berada di urutan ke-11. Untuk Sumatera, Unand berada di posisi pertama, sedangkan untuk luar Jawa Unand ada di posisi kedua. Informasi ini seakan menjadi salah satu kado yang membahagiakan Unand menjelang ulang tahunnya ke-60 tanggal 13 September 2016 lalu. Dan tentunya juga bagi masyarakat Sumbar.

Bagi masyarakat Sumbar sendiri, Unand adalah kebanggaan mereka. Unand berprestasi, merekapun turut merasakan menjadi bagian dari prestasi tersebut, meskipun belum tentu kuliah atau menjadi bagian langsung dari Unand. Dan tidak itu saja, Unand juga menjadi bagian dari dan identik dengan Sumbar. Unand baik, maka Sumbar pun baik. Unand terpuruk, maka Sumbar pun ikut terpuruk. Dan sebagai wilayah yang disebut sebagai ‘industri otak’, Unand dan juga perguruan tinggi lainnya turut berkontribusi dalam aktivitas pembangunan manusia di Sumbar.

Pada acara Lustrum Unand ke-12 dan Dies Natalis Unand ke-60 yang diadakan tanggal 13 September 2016 lalu, saya berkesempatan hadir dan memberikan sambutan. Pada usianya yang ke-60, Unand sudah memiliki banyak pencapaian. Jika merujuk kepada Wikipedia, pada tahun 2009 Majalah Tempo menempatkan Unand di peringkat 14 kapasitas alumni yang diserap dunia usaha. Tahun 2011 Unand di urutan ke-26 dalam 100 perguruan tinggi terbaik di ASEAN yang dinobatkan Webometrics. Dan masih banyak lagi pencapaian yang sudah diraih Unand.

Pada Lustrum kali ini, Unand juga memberikan anugerah doktor honoris causa kepada Wakil Presiden (Wapres) RI Bapak Jusuf Kalla (JK). Kunjungan Wapres JK ke Sumbar ini merupakan kali pertama sejak saya menjabat Gubernur periode kedua. Harapan saya, semoga kunjungan ini akan disusul dengan kunjungan berikutnya dalam rangka memberikan dukungan bagi pembangunan di Sumbar.

Penganugerahan doktor honoris causa di Unand merupakan perolehan Wapres JK  yang ke-8. Salah satu latar belakangnya adalah, JK dianggap berjasa di bidang hukum pemerintahan daerah, yaitu penyelenggaraan hubungan pusat-daerah, terutama pola pengelolaan pemerintah Aceh. Dan ini jika saya tidak salah catat, adalah doktor honoris causa pertama Wapres JK di bidang hukum dan pemerintahan daerah.

Di luar konteks penganugerahan doktor honoris causa, JK sewaktu menjadi penasehat tunggal Dewan Penyantun Unand juga berperan besar sehingga Unand bisa mendapat pembangunan rumah sakit yang berlokasi di Limau Manih dari posisi 12 menjadi 3. Mudah-mudahan dengan kerjasama yang baik dari Unand dengan berbagai pihak, akan mempercepat berbagai kemajuan dan pencapaian di Unand.

Untuk itu, Unand juga mesti proaktif dan mengambil inisiatif, bermitra dengan pemerintah untuk saling mensukseskan berbagai program pembangunan yang ada di Sumbar dan juga Unand sendiri.

Selain itu, di usia ke-60 dengan jumlah mahasiswa dan alumni yang sudah cukup banyak, kekuatan jaringan seharusnya sudah terbentuk dengan baik. Sudah banyak alumni Unand yang meraih kesuksesan di berbagai bidang. Saya juga mengucapkan selamat atas terpilihnya secara aklamasi Ketua Ikatan Alumni Unand periode 2016-2020, yang juga menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Bapak Asman Abnur. Dengan momentum Lustrum ke-12 di usia ke-60, semoga Alumni Unand mampu memberdayakan potensi jaringan alumni untuk bersama-sama membangun menuju kejayaan bangsa, terkhusus bagi Unand sendiri, dan juga bagi Sumbar.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip Al Quran surat Ar Ra’d ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Insya Allah Unand akan lebih maju lagi ke depannya jika dari civitas akademikanya senantiasa kompak bergerak untuk memajukan Unand. Termasuk para alumninya. Berbagai pencapaian maupun prestasi yang sudah diraih, semoga bisa tetap dipertahankan dan ditingkatkan lagi ke depannya. Selamat merayakan Lustrum ke-12. ***

Padang Ekspres, 20 September 2016

 

183. 2016-09-30 [Singgalang] PON XIX Jawa Barat

PON XIX JAWA BARAT

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) berada di urutan 11 dari 34 provinsi peserta Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX yang berlangsung di Jawa Barat 17-29 September 2016. Ini merupakan sebuah prestasi, terutama jika dilihat dari 14 medali emas yang diperoleh, 13 medali didapat dari beberapa cabang olahraga yang tidak diperoleh pada PON XVIII di Riau. Pada PON XIX Sumbar meraih 14 emas, 10 perak, dan 20 perunggu.

Selaku Gubernur Sumbar, saya mengucapkan terima kasih dan menyampaikan apresiasi kepada para atlet, official, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumbar beserta jajarannya, aparatur terkait, masyarakat, dan pemangku kepentingan yang telah memberikan dukungannya, baik moril maupun materil. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang terbaik. Aamiin.

Meskipun posisi Sumbar sama dengan PON XVIII yaitu urutan 11, namun dari segi jumlah medali emas, mengalami peningkatan. Dari 12 emas (PON XVIII) menjadi 14 emas (PON XIX). Di samping itu, pada PON XVIII, 11 medali emas di antaranya disumbang dari cabor renang (3 emas dari atlet bernama Yosi yang kemudian pindah mewakili Jatim),  2 emas tinju (yang atletnya tidak lolos Pra PON XIX) dan 1 emas disumbang oleh Iwan Samurai (cabor binaraga) yang juga mendapatkan medali emas pada PON XIX.

Pada PON XIX ini, untuk Sumatera, posisi Sumbar ada di nomor 3. Nomor 1 Riau, dan nomor 2 Sumatera Utara.

Salah satu persoalan yang sering mengemuka dalam setiap pelaksanaan PON adalah adanya upaya membajak atlet untuk pindah provinsi sehingga pada PON berikutnya atlet tersebut sudah mewakili provinsi yang membajaknya. Peristiwa ini seharusnya tidak terjadi jika setiap provinsi menghargai kerja keras yang telah dilakukan oleh pihak lain dalam membina para atletnya. Apalagi jika pembinaan tersebut dilakukan sejak dini dan kemudian provinsi lain tinggal memetik hasilnya.

Saya mengapresiasi atlet-atlet Sumbar yang memilih mengharumkan nama Sumbar dalam ajang PON. Semoga loyalitas seperti ini bisa menjadi teladan bagi kita, dan juga bagi para pemangku kepentingan bisa mencari jalan keluar yang baik dengan menyiapkan “reward” bagi mereka. Pemerintah provinsi pun selama ini juga telah berupaya agar para atlet yang berprestasi dan membanggakan nama Sumbar di pentas nasional mendapatkan “reward” yang baik.

Selain itu, ke depannya pihak-pihak terkait seperti KONI, pemprov, pemkab/kota perlu duduk bersama untuk membicarakan upaya-upaya untuk meningkatkan mutu atlet olahraga, misalnya dengan menyediakan fasilitas yang memadai. Karena dengan fasilitas yang memadai, pembinaan dan peningkatan kualitas atlet bisa diperoleh. Belajar dari provinsi yang pernah menjadi juara umum PON seperti Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI, fasilitas yang tersedia untuk pembinaan atlet memang cukup memadai.

Ketersediaan sarana yang memadai ini juga akan berdampak kepada meningkatnya animo masyarakat berolahraga sehingga masyarakat makin sehat dan olahraga menjadi bagian dari gaya hidup positif. Efek multipliernya, kesadaran masyarakat berolahraga meningkat dan tingkat kesehatan masyarakat juga semakin lebih baik. Produktivitas pun juga akan mengalami peningkatan.

Masyarakat yang sadar dan gemar olahraga, maka akan banyak muncul bibit-bibit unggul sejak muda. Di sini peran orangtua penting untuk mengarahkan bakat anaknya terhadap suatu bidang olahraga yang diminatinya. Juara tidak muncul tiba-tiba. Ia datang dari proses yang panjang. Dan jika sejak usia dini sudah diketahui bakatnya di bidang olahraga, maka orangtua berperan untuk membantu pembinaan anaknya sehingga proses yang dimulai sejak dini akan mendapatkan hasil yang baik.

PON XIX yang baru saja usai, semoga banyak pelajaran yang bisa diambil untuk menghadapi PON XX.  Untuk itu, pembinaan atlet tetap harus jalan. Bahkan harus lebih fokus, agar pada PON XX bisa menampilkan prestasi terbaik. Insya Allah keseriusan, kesungguhan, komitmen yang kuat, dan fokus, akan menghasilkan yang terbaik bagi kemajuan dunia olahraga Sumbar. ***

Singgalang, 30 September 2016

 

184. 2016-10-06 [Padek] Juara dan Sebuah Proses

JUARA DAN SEBUAH PROSES

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 23 September 2016 lalu saya menerima atlet binaraga Sumbar yang meraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat, Iwan Samurai di Gubernuran Padang. Emas pertama kontingen Sumbar di PON XIX dipersembahkan oleh Iwan Samurai. Saya mengucapkan selamat dan menyampaikan apresiasi kepada Iwan yang telah mengharumkan nama Sumbar di pentas nasional. Terlebih lagi, Iwan tetap memilih bertahan bekiprah atas nama Sumbar meskipun ada tawaran kepada dirinya untuk pindah daerah dengan iming-iming bayaran yang lebih besar.

Pada PON XVIII 2012 lalu Iwan meraih medali emas binaraga pada kelas 70 kg. Dan pada PON XIX 2016 Iwan berkompetisi di kelas 75 kg dan meraih medali emas. Pada PON 2012 Iwan diprediksi tidak meraih emas, namun karena semangatnya yang tak mudah menyerah akhirnya ia meraih medali emas. Pada bulan Ramadhan 2012 Iwan bersama pelatihnya menjalani latihan di malam hari hingga jam 3.00 dinihari. Di saat orang tidur, Iwan justru berlatih. Latihan dengan disiplin tinggi yang dijalani Iwan selama sekitar satu bulan ini membuahkan hasil. Ia meraih medali emas binaraga kelas 70 kg di PON 2012.

Dan pada PON XIX 2016, Iwan tetap berlatih keras. Ia hanya akan menyelesaikan latihan jika sudah letih. Selama belum letih, ia tetap terus berlatih. Ia akan mengikuti kelas 75 kg. Di kelas ini ia menyadari ada lawan beratnya yang sudah dikenal luas, Syafrizaldi, yang memenangi medali emas di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pra PON. Sedangkan Iwan memperoleh perunggu. Iwan sengaja mengikuti kelas yang lebih tinggi di PON XIX 2016 (75kg) dibanding PON XVIII 2012 (70kg). Dan akhirnya ia memperoleh medali emas. Saingan terberatnya, Syafrizaldi merupakan legenda kelas 75 kg dan juga dikenal sebagai “raja kelas 75 kg” dengan 7 kali medali emas PON dan juga peraih emas WBPF World Championship 2015 di Thailand.

Iwan memang berlatih keras hingga ia bisa menjadi juara. Setiap hari ia harus makan 30 butir telur, daging minimal 1 kg, nasi merah. Makan makanan yang direbus serta tidak makan makanan bersantan dan gorengan. Ini ia lakukan intesif selama enam bulan sebelum bertanding. Dan 1 bulan sebelum bertanding ia tidak minum air kecuali apel dan anggur. Sauna dan berjemur juga ia lakukan setiap hari agar air tubuh keluar. Latihan fisik dan nge-gym ia lakukan dari pagi hingga sore. Iwan Samurai menjalani latihan ketat, disiplin, sehingga ia berhasil mendapatkan emas. Proses menjadi juara ia lewati dengan baik.

Sementara itu Yaspi Boby, pelari yang juga turut mengharumkan nama Sumbar meraih medali emas 100 m dan 200 m pada PON XIX. Boby, begitu ia sering disapa, oleh sebuah media online disebut sebagai Usain Bolt Indonesia. Usain Bolt adalah pemegang rekor dunia lari 100 m dan 200 m. Dan Boby oleh sebuah media online lainnya dinobatkan sebagai manusia tercepat di Indonesia.

Juara yang diraih Boby tidak datang tiba-tiba. Ada proses yang harus dilaluinya sehingga ia bisa menjadi juara. Di antaranya adalah, semenjak kecil Boby harus jalan minimal 5 km karena jarak rumah dengan sekolahnya adalah 2,5 km. Kondisi rumahnya pun di atas bukit. Dengan kondisi demikian, kaki dan fisik Boby sudah terlatih setiap hari.  Pada waktu kuliah di Univesitas Negeri Padang (UNP) Boby mulai menekuni lari jarak pendek. Dan pada PON XIX Boby melakukan persiapan selama 3 tahun dengan latihan minimal 4-5 jam sehari pada pagi dan sore. Boby sangat disiplin. Makan dan istirahat pun diatur sedemikian rupa.

Setiap atlet memiliki peluang untuk berproses menjadi juara. Juara memang tidak datang tiba-tiba. Ia harus mengikuti proses yang ada. Kedisiplinan, keseriusan, kesungguhan, ketaatan, percaya diri, dan berbagai karakter positif lainnya adalah syarat agar proses yang dilalui bisa mencapai keberhasilan yaitu menjadi juara.

Bagi atlet yang belum berhasil meraih medali, semoga bisa melakukan evaluasi bersama pelatih dan official agar ke depannya bisa lebih mematangkan persiapan. Evaluasi juga penting dilakukan oleh atlet yang telah meraih medali. Karena tantangan ke depan akan semakin berat.

Saya juga mengapresiasi raihan medali dari cabang eksebisi pada PON XIX yaitu Barongsai (1 emas, 2 perak, 1 perunggu), Muaythai (1 perak, 1 perunggu), Soft Tenis (1 perak, 1 perunggu), Basket 3×3 (1 perak), dan Yong Moo Do (1 perunggu).

Saya turut mendoakan agar pada PON XX atlet Sumbar meraih prestasi yang lebih baik dari yang sudah didapat dengan tetap menjaga kekompakan, solidaritas dan soliditas, kesungguhan, disiplin, dan kepercayaan diri yang makin kokoh. ***

Padang Ekspres, 6 Oktober 2016

 

185. 2016-10-11 [Singgalang] Piala Wahana Tata Nugraha Wiratama

PIALA WAHANA TATA NUGRAHA WIRATAMA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kembali mendapat piala Wahana Tata Nugraha Wiratama yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.  Piala ini diberikan dimana salah satu pertimbangannya adalah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Jalan dan Angkutan Jalan, pasal 208.

Dalam pasal 208 UU No. 22 Tahun 2009 membicarakan tentang budaya keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. Ayat (1) berbunyi, “Pembina lalu lintas dan angkutan jalan bertanggung jawab membangun dan mewujudkan budaya keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.” Sedangkan ayat (2)  butir c berbunyi, “Upaya membangun dan mewujudkan budaya keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui  pemberian penghargaan terhadap tindakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.”

Pada waktu kali pertama Sumbar menerima Piala Wahana Tata Nugraha ini pada tahun 2013, saya mengamati respon masyarakat. Wajar bila ada yang bertanya apakah dengan cara berlalu lintas masyarakat yang tidak tertib Sumbar layak mendapat penghargaan. Kenyataan di lapangan, memang masih ada pengguna jalan yang tidak tertib berlalu lintas, hingga saat ini. Namun banyak pula pengguna jalan yang lebih memilih tertib berlalu lintas. Karena masih banyak yang menyadari bahwa tertib berlalu lintas akan berdampak positif kepada diri sendiri, terutama masalah keselamatan diri.

Tertib berlalu lintas jelas akan berdampak positif kepada pengguna jalan itu sendiri karena berarti ikut menyelamatkan nyawa pengguna jalan lain. Berbicara masalah tertib lalu lintas, saya pernah mengalami langsung ketika mengantar anak saya yang akan ikut masa orientasi di Universitas Indonesia kampus Salemba beberapa tahun lalu. Jam 4.00 dinihari di sebuah perempatan di saat lampu merah, saya berhentikan mobil saya karena lampu berwarna merah. Tak lama datang dari arah yang sama dengan saya sebuah angkutan umum melaju kencang tak menghiraukan lampu merah.

Tiba-tiba dari arah lain yang sedang dalam kondisi lampu hijau datang pula mobil dengan kecepatan kencang. Akhirnya angkutan umum itu jatuh terguling setelah bertabrakan dengan mobil dari arah lain. Kejadian tersebut sangat cepat sekali dan terjadi di hadapan saya. Mungkin sopir angkutan umum itu beranggapan bahwa pada jam 4.00 pagi tidak banyak kendaraan yang lewat sehingga mudah saja untuk menerobos lampu merah. Namun ternyata dugaannya keliru. Di samping itu ia telah mengambil hak pengguna jalan lain yang sudah mendapat lampu hijau sebagai tanda untuk melintas di persimpangan.

Pengalaman saya yang lain adalah ketika diundang oleh mahasiswa Indonesia di Amsterdam. Waktu itu saya masih menjadi Anggota DPR RI. Tempat acaranya berada di sebuah apartemen dekat perempatan jalan sehingga saya bisa melihat langsung kendaraan yang lalu lalang di situ. Ketika tengah malam dan kondisi sangat sepi, kendaraan yang lewat tetap berhenti ketika lampu merah menyala. Dan kemudian jalan kembali ketika lampu berwarna hijau.

Dari kedua kisah di atas bisa dilihat bahwa mentaati aturan lalu lintas harus dilaksanakan selama 24 jam. Tidak hanya di saat jam sibuk, tetapi juga jam sepi. Tidak hanya berdampak kepada keselamatan diri, tetapi juga orang lain.

Untuk menunjang kenyamanan pengguna jalan dalam berlalu lintas, Pemprov Sumbar telah berusaha semaksimal mungkin. Di antaranya berupa peningkatan dan pemeliharaan kualitas jalan negara dan jalan provinsi. Alhamdulillah, dalam hal ini kondisi di Sumbar melampaui target nasional.

Di samping itu, Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) terkait juga telah berupaya dalam hal membantu kenyamanan pengguna jalan. Di antaranya adalah pembangunan fasilitas keselamatan lalu lintas seperti pemasangan rambu, guardrail, deliniator, marka jalan, traffic light, warning light, cermin tikungan, dan paku marka.

Anggaran untuk infrastruktur jalan pun dari tahun ke tahun alhamdulillah mengalami peningkatan. Semoga dengan kualitas infrastruktur jalan yang makin baik, pembangunan fasilitas keselamatan lalu lintas yang kian bertambah, pengguna jalan selain mendapatkan kenyamanan juga semakin tertib dalam berlalu lintas.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. Al Isra:7). Jika kita tertib berlalu lintas dan mematuhi aturan yang ada, diri kita insya Allah akan selamat, dan orang lain pun akan terhindar dari bahaya. Sebaliknya jika kita tidak tertib berlalu lintas, ngebut, main serobot, melanggar aturan maka maut akan mengancam di depan mata. Dan nyawa orang lain pun ikut terancam.

Mengakhiri tulisan ini, saya turut mengapresiasi berbagai kota dan kabupaten di Sumbar yang mendapat penghargaan sejenis tahun ini yaitu, Solok Selatan, Payakumbuh, Kab. Solok, Kota Solok, Sijunjung, Sawahlunto, Padang Panjang, Tanah Datar, Painan, Pariaman, Agam, Pasaman Barat, Pasaman, Padang, dan Bukittinggi. Semoga dengan penghargaan yang diberikan oleh pemerintah pusat kita termotivasi untuk lebih baik lagi melayani masyarakat. Dan kepada masyarakat pengguna jalan, semoga dengan kenyamanan infrastruktur jalan dan fasilitas keamanan lalu lintas, bisa semakin tertib di jalan dan mematuhi aturan yang berlaku. ***

Singgalang, 11 Oktober 2016

 

186. 2016-10-19 [Padek] Nasi Padang dan Wisata Halal

NASI PADANG DAN WISATA HALAL

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Sebuah lagu dengan syair yang cukup unik tiba-tiba menjadi viral di media sosial pada bulan Oktober 2016 ini. Bahkan lagu ini masuk ke dalam “most viral track on Spotify” di urutan pertama menurut pencipta dan pembawa lagunya. Dan akunya lagi, di Youtube videonya sudah mencapai 1,2 juta tayang. Nasi Padang, begitulah judul lagu tersebut. Audun, begitu ia menyebut dirinya dalam lagu tersebut, ternyata jatuh hati dengan Nasi Padang. Pria yang bernama lengkap Audun Kvitland Røstad ini bisa dikatakan sangat mengagumi keindahan Indonesia dan kulinernya, di antaranya apa yang ia sebut Nasi Padang.

Audun berasal dari Norwegia. Ia menciptakan lagu yang fenomenal, yang menceritakan bagaimana nikmatnya kuliner asal Sumatera Barat (Sumbar) yang ia sebut sebagai Nasi Padang. Saking uniknya, ia menulis syair dalam lagunya, jika saja Nasi Padang itu seorang wanita maka akan ia jadikan istri.

Audun adalah satu di antara jutaan orang di Indonesia dan dunia yang sudah merasakan nikmatnya kuliner khas Sumatera Barat. Alhamdulillah, kenikmatan kuliner Sumatera Barat ini beberapa waktu lalu mendapat apresiasi sebagai Destinasi Kuliner Halal Terbaik yang diberikan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia pada 7 Oktober 2016 lalu.

Tidak salah kalau Sumbar mendapat penghargaan ini, karena sebenarnya kuliner halal tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang ada di Sumbar. Falsafah hidup masyarakat Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah gambaran bagaimana masyarakat mempedomani ajaran Islam dalam kehidupannya. Termasuk bagaimana menghasilkan masakan yang halal tentunya, sekaligus lezat. Seperti ungkapan, mato condong ka nan rancak, salero condong ka nan lamak (mata cenderung melihat yang indah, selera cenderung ingin yang enak). Fitrah manusia adalah menyukai keindahan pemandangan dan kelezatan makanan.

Selain penghargaan destinasi kuliner, Sumbar pun mendapat penghargaan sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Alam Sumbar yang luar biasa indah, dengan hutan yang masih terjaga, terdapat pantai, pulau, gunung, bukit, air terjun, lembah yang luar biasa indah. Selain itu, dengan kearifan lokal masyarakatnya yang memiliki falsafah ABS SBK ini, maka bisa dikatakan sangat pas menjadi destinasi wisata halal. Karena salah satu komponen yang harus ada dalam destinasi wisata halal ini adalah keberadaan tempat shalat yang memadai.

Harus diakui juga, meskipun di Sumbar ini sangat mudah menemukan masjid atau mushola untuk beribadah bagi wisatawan, namun keberadaan masjid atau mushola di lokasi wisata perlu diperbaiki sehingga mampu memberikan kenyamanan kepada wisatawan dalam beribadah.

Demikian pula dalam hal penyediaan kamar mandi umum atau toilet umum di lokasi wisata. Perlu perbaikan dan peningkatan kualitas agar wisatawan nyaman dan bisa berlama-lama di lokasi wisata. Dan tak lupa juga adalah pemeliharaan kawasan wisata agar selalu bersih sehingga memberikan kesan baik dan sesuai dengan ajaran Islam.

Keluhan mengenai toilet, tempat shalat dan kebersihan lokasi wisata ini sudah sering saya terima dari masyarakat. Untuk itu ke depannya, berkaitan dengan dimasukannya pariwisata ini dalam salah satu prioritas pembangunan di Sumbar, saya akan mengajak seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait dan Pemerintah Kab/Kota serta pemangku kepentingan pariwisata lainnya untuk bersama-sama satu persatu membenahi masalah ini.

Saya yakin jika kita lakukan bersama-sama dan terus menerus, insya Allah masalah-masalah tersebut akan dapat diselesaikan satu persatu. Dan di luar masalah di atas, masalah-masalah lain yang perlu segera diberikan solusinya dalam rangka wisata halal ini juga harus diperhatikan. Misalnya saja ketersediaan rest area di berbagai kota/kabupaten bagi wisatawan yang menggunakan jalur darat.

Saya pun berharap masyarakat, terutama yang bersentuhan langsung dengan kawasan wisata dan mencari nafkah dari situ untuk meningkatkan kualitas pelayanannya serta mampu memperbaiki sikap dan perilaku yang membuat wisatawan semakin nyaman dan merasakan suasana yang sesuai ajaran Islam. Sudah banyak dibuktikan bahwa pariwisata ini mampu menaikkan taraf hidup masyarakat. Maka dengan memberikan kenyamanan melalui keramahan dari masyarakat, insya Allah para wisatawan ini akan kembali lagi dan mengajak keluarga, saudara atau temannya berkunjung ke lokasi tersebut.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengajak seluruh masyarakat Sumbar baik di ranah maupun rantau, dan juga masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungannya kepada Sumbar yang mewakili Indonesia, yang akan berlaga di Abu Dhabi. Sumbar dinominasikan sebagai World’s Best Halal Destination dan World’s Best Halal Cullinary Destination. Website terkait bisa mengunjungi www.itwabudhabi.com/halal-tourism. Harapan kita tentunya, Sumbar bisa mendapatkannya. Dan ujungnya membawa kebaikan kepada masyarakat Sumbar secara luas. ***

Padang Ekspres, 19 Oktober 2016

 

187. 2016-10-25 [Singgalang] Semangat Atlet Perpanas

SEMANGAT ATLET PERPANAS

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 11 Oktober 2016 lalu di Gubernuran saya melepas keberangkatan Kontingen Sumatera Barat (Sumbar) yang akan berlaga di Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XV di Kota Bandung, Jawa Barat. Peparnas ini sama halnya dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diselenggarakan empat tahun sekali. Namun Peparnas diperuntukkan bagi para penyandang disabilitas. Penyebutan “disabilitas” ini sejalan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Jika di tingkat nasional ada Peparnas, maka di tingkat provinsi telah diselenggarakan Pekan Paralympic Daerah (Peparda).

Dan kontingen Sumbar ini merupakan para atlet terbaik di Peparda. Mereka berjumlah 44 orang, termasuk official. Mereka mengikuti 8 dari 13 cabang olahraga yang dipertandingkan. Dengan adanya seleksi bagi atlet Peparnas menandakan bahwa penyandang disabilitas pun memiliki hak dan semangat untuk berkompetisi dan berprestasi, di mana salah satu bidangnya adalah olahraga.  Dengan keterbatasan yang ada pada tubuh mereka, ternyata hak dan semangat untuk berprestasi terlihat kuat ada pada diri mereka. Seperti layaknya atlet PON yang juga memiliki semangat berprestasi.

Atlet Peparnas yang mewakili Sumbar ini di antaranya ada yang berkursi roda dan juga tuna netra. Namun semangat mereka bisa dikatakan sama dengan manusia lainnya, bahkan mungkin lebih bersemangat. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, namun berusaha berjuang mengharumkan dan membela nama Sumbar di pentas nasional. Ini patut diapresiasi. Bahkan juga menjadi bahan renungan.

Penyandang disabilitas sudah tidak masanya lagi direndahkan potensinya. Karena mereka justru yang mengajarkan bagaimana bersemangat menjalani kehidupan dengan kondisi yang ada yang merupakan takdir Allah SWT. Sebaliknya, banyak manusia justru mengharapkan belas kasihan orang lain, padahal dirinya malas belajar, malas bekerja, tidak bersemangat, dan tidak mau bersyukur dengan kesempurnaan fisik yang sudah diberikan oleh Allah SWT.

Jika penyandang disabilitas berusaha dan tidak ingin menjadi beban orang lain karena kekurangan yang dimilikinya, maka sebaliknya banyak manusia jutsru tidak malu lagi membebani orang lain bahkan terus menjadi beban orang lain.

Andaikan orang mampu mensyukuri kondisi mereka dibanding penyandang disabilitas, maka Allah SWT pun akan memberikan nikmatNya. Dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 7 Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.

Dengan kondisi fisik yang normal, seharusnya seseorang bisa lebih produktif di bidang masing-masing. Baik produktif dalam urusan dunia, dan juga produktif dalam urusan akhirat. Orang yang bersyukur, ia tidak akan menyiakan-nyiakan kesempurnaan fisik yang dimilikinya, bahkan selalu bersyukur jika ia bandingkan dengan orang lain yang kurang seberuntung dia. Ketidakbersyukuran seseorang dengan kondisi fisiknya yang normal seringkali memicu kesombongan diri. Sehingga kondisi fisik yang prima menjadi landasan untuk berperilaku arogan, merasa diri hebat, menipu dan membohongi orang lain, menakut-nakuti orang lain, dan perilaku negatif lainnya yang jauh dari implementasi bersyukur itu sendiri.

Semangat untuk maju, sukses, dan menang yang saya lihat pada atlet Peparnas Sumbar ketika melepas mereka apabila dimiliki oleh orang yang berfisik sempurna pastinya akan membawa kebaikan bagi orang banyak dan juga dirinya sendiri. Dan itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh orang-orang yang berfisik sempurna dan memiliki semangat dan motivasi tinggi meraih prestasi, meskipun tidak sedikit juga yang berperilaku sebaliknya. Betapa banyak orang-orang yang karena tidak mensyukuri fisik yang sempurna justru menjadi pelaku kekerasan di berbagai tempat, dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam keluarga, kekerasan di sekolah, hingga skala yang lebih besar. Ini bisa kita baca dan saksikan melalui media cetak maupun elektronik.

Bayangkan jika para pelaku kekerasan itu semua menjadi orang-orang baik, yang mampu mensyukuri nikmat Allah SWT. Betapa  istri dan anak-anak yang akan meningkat kebahagiaannya, betapa banyak pelajar dan orang banyak mendapat kebaikan dari mereka. Betapa banyak masyarakat menjadi aman dan tenteram hidupnya karena hal positif tersebut.

Semoga dengan karunia dari Allah SWT berupa fisik sempurna, menjadikan kita senantiasa bersyukur dan banyak berbuat baik serta berprestasi di bidang masing-masing. Dan bagi yang Allah SWT takdirkan memiliki fisik yang kurang sempurna, semoga senantiasa berpikiran positif. Akal kita kadang tidak mampu memikirkan ada apa di balik takdir yang diberikan kepada setiap manusia. Dengan selalu berbaik sangka kepada Allah SWT dan memiliki semangat maju, insya Allah kondisi fisik yang ada tidak menjadi penghalang. Karena ternyata sudah banyak dibuktikan bahwa kesuksesan sudah banyak diraih oleh para penyandang disabilitas ini. ***

Singgalang, 25 Oktober 2016

188. 2016-11-03 [Padek] Operasi Pemberantasan Pungli

OPERASI PEMBERANTASAN PUNGLI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Dalam suatu rangkaian kegiatan kerja di Padang, Presiden Joko Widodo di tengah perjalanan tiba-tiba mendadak meminta mobil yang ditumpanginya bergerak menuju ke Rumah Sakit M. Jamil. Saya yang menemani Presiden di dalam mobil pun terkejut, karena Presiden melakukan kunjungan ke tempat yang tidak ada di susunan acara protokoler kepresidenan.

Ketika tiba di RS M Jamil, Presiden Joko Widodo langsung mendatangi pasien rawat inap dan menanyakan pelayanan kesehatan pasien. Pasien yang dikunjungi Presiden rupanya sudah menggunakan kartu jaminan kesehatan, tetapi dengan berbagai jenis. Ada yang memakai BPJS, Jamkesda dan juga Kartu Indonesia Sehat. Masalah yang terjadi seputar pengiriman Kartu Indonesia Sehat di Sumbar langsung direspon Presiden dengan menghubungi langsung Kementerian Kesehatan.

Dari menemani Presiden mengunjungi pasien di RS M Jamil, saya makin bisa merasakan bahwa Presiden Joko Widodo sangat serius memperhatikan masalah pelayanan publik. Dan ini berlanjut ketika saya bersama gubernur se Indonesia menghadiri Rakor bersama Presiden di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2016 lalu. Salah satu hal yang dibahas adalah mengenai pemberantasan pungli (pungutan liar) di sektor pelayanan publik.

Saya mengapresiasi kebijakan Presiden Joko Widodo yang serius memerangi pungli di sektor pelayanan publik. Bahkan Presiden menekankan pungli 10.000 rupiah pun akan tetap menjadi urusannya. Karena memang jika dilihat, pungli itu bukan pada besar kecilnya nilai uang yang dipungli, tetapi karena kebiasaan pungli adalah karakter/sifat tidak baik dan juga karena kerusakan yang disebabkannya.

Pungli menyebabkan terjadinya ketidakadilan. Orang yang membayar akan didahulukan dibanding orang yang tidak membayar. Orang yang syaratnya lengkap tidak dilayani cepat, sedangkan orang yang syaratnya tidak lengkap tapi membayar bisa segera diurus. Orang miskin pun akan semakin sulit kehidupannya dengan adanya pungli. Uang senilai 5.000 atau 10.000 rupiah untuk membayar pungli bisa jadi sama nilainya dengan ongkos anak ke sekolah atau membeli kebutuhan makan harian yang sangat berharga. Dan bagi sebagian orang, mendapatkan 10.000 rupiah sehari bukanlah hal yang mudah.

Pungli juga menyebabkan sistem tidak berjalan baik sehingga efeknya merusak kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Dan masyarakat pun juga menjadi rusak mentalnya. Akibat pungli, korban akan bercerita dari mulut ke mulut sehingga akhirnya muncul informasi di masyarakat bahwa untuk mengurus “urusan A” harus mengeluarkan uang sejumlah tertentu kepada petugas.

Pungli telah menyebabkan hilangnya rasa kemanusiaan. Oknum pelaku pungli bahkan bisa tega tidak melayani orang yang tidak memberikan pungli sehingga berakibat fatal bagi orang yang tidak membayar pungli. Dari berbagai informasi di surat kabar kita bisa membaca banyak masyarakat yang mengalami penderitaan akibat harus membayar pungli, terutama masyarakat yang hidupnya pas-pasan.

Pungli juga membentuk karakter oknum yang melayani mayarakat menjadi kian buruk. Karakter penipu, pembohong, pemeras muncul dalam diri para oknum yang melakukan pungli. Hingga akhirnya tempat-tempat pelayanan publik menjadi rusak akibat oknum oknum yang berkarakter demikian.

Sejak awal saya menjabat Gubernur di periode pertama, masalah pungli sudah menjadi perhatian saya. Laporan dan aduan yang masuk dengan validitas yang baik saya pelajari dan dibantu dengan tim yang ada untuk mendapatkan second opinion. Sayangnya ternyata tidak semua laporan dan aduan yang masuk tersebut menjadi kewenangan pemerintah provinsi sehingga saya hanya sebatas bisa meneruskan informasi tersebut. Namun untuk aduan atau laporan yang menjadi wewenang pemerintah provinsi langsung ditindaklanjuti. Dari sanksi ringan hingga berat termasuk menonjobkan pelaku, telah saya lakukan. Namun tidak saya umumkan ke publik karena saya tetap harus menjaga perasaan pribadi dan keluarga yang bersangkutan.

Dan dengan adanya penekanan langsung dari Presiden, pemberantasan pungli ini seperti mendapatkan angin segar dan energi baru untuk bisa lebih baik lagi dilaksanakan di daerah. Apalagi sekarang pihak kepolisian pun turun ikut melakukan pemberantasan pungli. Hal ini sangat membantu sekali sehingga cakupannya bisa lebih luas lagi.

Pembangunan di daerah tidak saja dalam artian fisik, namun memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat tanpa pungli juga merupakan bagian dari pembangunan tersebut. Jika masyarakat senang dengan pelayanan yang baik dan tanpa pungli, insya Allah ini akan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin meningkat, dan pemerintah pun semakin percaya diri menjalankan roda pemerintahan. Semoga hal yang demikian bisa kita wujudkan bersama-sama.

Menutup tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan kembali komitmen Pemprov Sumbar dalam hal pelayanan publik. Alhamdulillah pada tahun 2014 berbagai unit SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar telah mendapatkan sertifikat penghargaan Pelayanan Publik sesuai UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dari Ombudsman RI yang mengapresiasi pelayanan publik yang dilakukan oleh segenap jajaran Pemprov Sumbar. Hampir 40 sertifikat diberikan ke berbagai unit di jajaran Pemprov Sumbar. Untuk itu saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran SKPD atas pencapaian ini. Semoga dengan kondisi yang demikian, masyarakat senantiasa mendapatkan pelayanan terbaik. Dan pungli bisa dinihilkan. ***

Padang Ekspres, 3 November 2016

 

189. 2016-11-14 [Singgalang] Olahraga Itu Penting

OLAHRAGA ITU PENTING

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, di sela kesibukan saya sebagai Gubernur, rutinitas olahraga tetap masih bisa saya jalankan. Bermain bulu tangkis dan latihan karate rutin saya lakukan untuk menjaga agar badan ini tetap sehat. Saya juga bersyukur bahwa beberapa waktu lalu bisa mengikuti ujian karate sabuk hitam Dan VI, dan dinyatakan lulus. Ini memang konsekuensi dari latihan rutin, akan ada masa untuk ‘naik kelas’. Namun bagi saya, yang terpenting adalah menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup positif. Karena pada saat ini di tengah perkembangan kemajuan teknologi dan gaya hidup instan, justru semakin banyak orang yang mudah sakit, bahkan di usia muda banyak yang meninggal dunia. Salah satu penyebabnya jika dirunut adalah tidak menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup positif.

Sebagian anak muda jaman sekarang, banyak  yang hidup di tengah berbagai kemudahan dan juga kemapanan. Gaya hidup serba instan pun dipilih karena dianggap nyaman. Ditemani gadget bisa duduk berjam-jam. Untuk makan dan minum mereka tinggal membeli makanan cepat saji yang siap disantap. Kemudahan seperti ini menyebabkan mereka melupakan olahraga. Sehingga banyak orang muda yang tiba-tiba diserang penyakit, dari yang ringan hingga berbahaya.

Untuk itu, saya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidupnya. Silakan pilih mana olahraga yang diminati. Karena pada dasarnya olahraga merupakan bahasa universal, tidak menjadi bagian dari ideologi. Seperti karate atau bulutangkis yang saya rutin lakukan, tidak terkait dengan ideologi. Meskipun karate berasal dari Cina atau Jepang, dan bulutangkis berasal dari Yunani dan Mesir, bukan berarti saya menyetujui ideologi yang ada di bangsa tersebut. Karena olahraga tersebut sebatas saya gemari saja sejak kecil.

Demikian pula dengan sepeda dan trabas yang juga kadang saya lakukan sesekali. Sepeda berasal dari Prancis dan trabas (motocross) berasal dari Inggris. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan ideologi di negara asalnya. Sama halnya dengan sepak bola yang sudah menjadi olahraga rakyat, ternyata jika ditelisik berasal dari Cina. Saya yakin masyarakat penggemar sepak bola meminati olahraga ini karena kegemaran atau pilihan, bukan ideologi atau karena budaya.

Kesukaan orang terhadap suatu hal memang bagian dari fitrah manusia. Saya pun termasuk di dalamnya. Ketika ada yang bertanya mengapa saya tidak memilih bela diri yang berasal dari dalam negeri seperti silat, jawabannya karena memang sejak kecil saya menyukai karate. Namun bukan berarti saya abai terhadap olahraga silat. Ketika PON 2016 di Jawa Barat lalu saya langsung turun menyemangati para atlet silat Sumbar selama dua hari dalam final silat. Alhamdulillah atlet silat Sumbar berhasil menyumbangkan 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Dan dalam pertemuan berbagai aliran Silat Minang dan Pencak Sunda di Padang Panjang pada bulan November 2014 lalu saya pun menyempatkan hadir guna memberi dukungan moril kepada peserta. Begitu juga hadir di Padepokan tempat Ketua Umum PB IPSI, bapak Prabowo beberapa waktu lalu. Bahkan sering hadir pada acara silat di beberapa Sasaran di Kuranji. Dalam sebuah tulisan saya di surat kabar terkait acara silat tersebut, saya mengapresiasi kepala daerah dan sekolah yang menjadikan silat sebagai kegiatan ekstrakurikuler di wilayah dan sekolahnya, apalagi jika mampu mewajibkannya.

Kembali kepada pembicaraan tentang pentingnya olahraga, yang merupakan pemenuhan hak badan. Selama ini banyak yang melupakan hak badan tersebut seperti halnya makan dan minum yang juga merupakan hak badan yang mesti dipenuhi.

Olahraga semestinya dilakukan tidak hanya untuk prestasi saja. Tetapi jauh lebih penting olahraga untuk kesehatan, baik jiwa maupun raga. Olahraga adalah cara mudah menjaga kesehatan. Karena kesehatan akan terasa mahal ketika seseorang mengalami sakit. Dengan olahraga, tubuh senantiasa dijaga untuk selalu sehat. Dan dengan olahraga rutin, banyak manfaat positif bagi yang melakukannya. Badan sehat, jiwa sehat, dan pikiran pun sehat. Ini adalah manfaat yang bisa dirasakan dari berolahraga rutin.

Sebaliknya, jika kita malas berolaharaga meskipun merasa sehat, maka suatu saat daya tahan tubuh akan lemah dan mudah diserang penyakit. Penyakit yang disebabkan oleh virus umumnya disebabkan daya tahan tubuh yang melemah. Dan daya tahan tubuh yang melemah disebabkan karena kurang atau jarang olahraga rutin.

Jangan tunggu sampai datangnya sakit, baru sadar pentingnya olaharaga. Tapi tetaplah berolahraga rutin, sehingga tubuh tetap sehat dan aktivitas pun bisa berjalan baik. Banyak hal yang bisa dilakukan ketika badan sehat. Namun sebaliknya, banyak kerugian yang dialami ketika badan sakit. ***

Singgalang,  14 November 2016

 

190. 2016-11-17 [Padek] Menghidupkan Pantai

MENGHIDUPKAN PANTAI
Oleh: Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 5 November 2016 lalu saya menghadiri pembukaan Grasstrack Open Tournament yang diadakan di Pantai Padang. Hadir dalam kesempatan tersebut Bapak Raseno Arya selaku Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata RI, Wali Kota Padang dan Ketua Umum Klub Blaster.
Tema acara tersebut adalah, “Blaster Grasstrek Tournament Open Pesona Pantai Padang”. Dari temanya sudah terlihat bahwa Klub Blaster yang bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kota Padang ingin mengundang peminat grasstrack dan juga wisatawan menikmati olahraga grasstrack dan pesona Pantai Padang.
Saya mengapresiasi ide ini, menggabungkan tontonan motor dan pemandangan pantai yang indah. Pantai menjadi hidup, wisatawan semakin banyak yang datang. Wisatawan tidak hanya mengambil spot foto selfie di beberapa tempat seperti Monumen Perdamaian dan Tugu IORA, tetapi juga menikmati tontonan aktual seperti Grasstrek ini.
Kegiatan Grasstrek ini ditonton banyak orang, terutama anak muda. Saya melihat anak-anak muda butuh tempat penyaluran hobi mereka. Mereka ingin mengaktualisasikan potensi mereka. Mereka butuh tempat untuk menyalurkan hobi mereka. Jika arena yang ada di Pantai Padang masih berupa sirkuit sementara, ke depannya saya berharap akan ada sirkuit permanen yang disediakan oleh Pemerintah Kota Padang.
Hobi balap motor anak muda seringkali menggunakan jalan raya yang merupakan sarana publik, sehingga mengganggu pemakai jalan lainnya dan juga membahayakan diri sendiri. Dengan adanya tempat balap motor, sudah ada tempat yang lebih pas bagi anak muda untuk menyalurkan hobinya. Tidak itu saja, kegiatan balap motor ini bisa menjadi tontonan bagi masyarakat sehingga memberikan manfaat yang positif bagi banyak orang.
Selain itu, saya melihat anak muda yang ada di Kota Padang juga membutuhkan tempat untuk mengaktualisasikan potensi dan bakat mereka. Pantai Padang sudah banyak memberikan ruang bagi anak muda ini mengaktualisasikan potensi dan bakat mereka. Berbagai kegiatan banyak diselenggarakan di sini. Namun nampaknya butuh media permanen yang bisa memfasilitasi aktualisasi potensi dan bakat anak muda tersebut.
Misalkan saja, butuh semacam panggung permanen untuk memfasilitasi anak-anak muda untuk tampil. Baik di bidang musik (baik musik tradisional ataupun kontemporer), bidang seni seperti randai, rabab, saluang, tari. Juga bisa untuk tarik suara, dan berbagai bakat lainnya yang membutuhkan media panggung untuk memberikan ruang bagi mereka unjuk kebolehan dan berlatih.
Dengan adanya panggung ini, selain membantu dan memberikan anak muda tempat beraktualisasi juga memberikan hiburan kepada pengunjung pantai. Jika selama ini pantai lebih banyak dinikmati untuk foto selfie ataupun menikmati suasana pantai, maka dengan adanya panggung, masyarakat bisa menikmati tontonan dari berbagai komunitas yang unjuk kemampuan di sana. Dari pagi hingga malam, pantai hidup dengan kegiatan komunitas yang tampil unjuk kemampuan. Ada yang unjuk kemampuan musik band, tarik suara, tari tradisional dan modern, teater, puisi, dan lainnya.
Jika pantai hidup dari pagi hingga malam, semakin banyak wisatawan yang datang, dan semakin banyak transaksi jual beli di sana. Jika pagi dan siang pantai dihidupkan dengan atraksi panggung seni tari dan musik modern, maka malamnya dihibur dengan seni tradisional seperti randai dan rabab.
Selama ini Pantai Padang lebih banyak dikunjungi pada saat pagi hingga sore hari. Malam hari sudah kurang ramai dikunjungi, bahkan cenderung sepi. Dengan adanya media yang bisa untuk mengaktualisasikan potensi dan bakat, bukan tidak mungkin Pantai Padang akan tetap ramai pada malam hari. Kampus-kampus dan sekolah yang mempelajari secara khusus seni, budaya, teater, tari dan lainnya pun bisa memanfaatkan ini sebagai ladang unjuk kebolehan para mahasiswa dan pelajarnya.
Selama ini kawasan Pantai Padang sudah banyak digunakan untuk berbagai iven launching dan promosi, iven nasional dan internasional, senam pagi, rekreasi keluarga dan lainnya. Saya yakin bahwa ke depannya Pantai Padang akan bisa lebih hidup lagi jika semakin banyak fasilitas yang disediakan pemerintah untuk warganya. Bukan tidak mungkin iven olahraga triathlon yang menggabungkan renang, lari dan sepeda suatu saat diadakan di Pantai Padang. ***
Padang Ekspres, 17 November 2016

191. 2016-11-22 [Singgalang] Investasi, Sebuah Keniscayaan

INVESTASI, SEBUAH KENISCAYAAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 11 November 2016 lalu saya menyampaikan presentasi prospek investasi dan pariwisata Sumatera Barat dalam  acara Indonesia Business Summit sekaligus hadir di Indonesia Fair yang diadakan di Perth, Australia. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Luar Negeri RI, Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) RI, dan Kementerian Pariwisata RI. Para investor yang menghadiri acara ini adalah mereka yang sudah melakukan investasi, belum sama sekali dan juga sedang akan melakukan investasi di Indonesia, khususnya Sumatera Barat. Acara ini berlangsung hingga 14 November 2016. Kepala daerah dari beberapa provinsi dan kota/kabupaten di Indonesia juga turut hadir di acara ini.

Jemput bola mendatangi investor mengajak berinvestasi di daerah adalah sebuah keniscayaan saat ini. Di tengah keterbatasan anggaran, baik APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) maupun APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara), mengundang investor masuk adalah salah satu hal yang bisa dilakukan dalam rangka menjalankan program pembangunan.

Anggaran Pemerintah yang sudah ada secara umum sudah dipakai untuk hal-hal yang wajib dan prioritas dengan persentase tertentu yang disyaratkan oleh Undang-Undang maupun dari pemerintah pusat. Misalnya anggaran pendidikan minimal sebesar 20 persen, anggaran kesehatan minimal 10 persen, dan anggaran infrastruktur (jalan, jembatan, irigasi dll) yang harus di atas 23 persen. Sedangkan gaji pegawai sudah di atas 20 persen, bahkan ada pula yang mencapai 40 persen.

Dengan mengkalkulasi persentase anggaran tersebut, masih banyak sektor dan dinas yang belum mendapatkan dana yang cukup untuk membangun, yaitu di luar sektor pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Misalnya pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, koperasi dan UMKM, pemberdayaan perempuan, perpustakaan dan kearsipan, olahraga, pariwisata dan lainnya. Persentase untuk sektor-sektor ini umumnya di bawah 5 persen, bahkan ada yang di bawah 1 persen.

Mengandalkan sumber dana pembangunan dari daerah sendiri seperti PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang mayoritas disumbang oleh PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) belumlah memadai. Demikian pula peran sektor swasta, seperti para perantau yang fokus kepada kampung halamannya. Peran perantau dalam membangun kampung halamannya selama ini sangat saya apresiasi. Namun tetap masih banyak dibutuhkan dana untuk membiayai program-program pembangunan di banyak sektor seperti yang disebut di atas.

Dengan demikian bisa dilihat bahwa investasi menjadi alternatif yang bisa diandalkan untuk membantu berjalannya program pembangunan yang ujungnya adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Namun yang mesti dipahami oleh masyarakat, investasi yang masuk ke Sumbar adalah investasi yang cocok dengan kondisi Sumbar. Baik kondisi geografis, demografis, juga adat, budaya dan agama.

Saya pun turut memperhatikan aspirasi masyarakat yang berkembang dalam menyikapi masuknya investasi ke Sumbar. Memang tidak semua investasi bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, khususnya bila dirasa menyinggung suasana keagamaan, maupun adat dan budaya. Namun hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang mayoritas. Karena kenyataannya banyak investasi yang masuk dan bisa diterima oleh masyarakat.

Investasi yang cocok dengan kondisi geografis Sumbar adalah investasi sektor energi, yaitu panas bumi dan mikrohidro (energi kelistrikan). Demikian pula investasi di sektor pariwisata, di mana keberadaan pantai, gunung, ngarai, bukit, air terjun dan keindahan alam lainnya bisa ditingkatkan nilai tambahnya dengan pembangunan resort, hotel, kereta gantung, dan lainnya. Sehingga keberadaan sebuah kawasan wisata bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi wisatawan karena adanya berbagai sarana, prasarana dan fasilitas yang memuaskan.

Demikian pula dengan kondisi demografis, adat, budaya dan agama. Investasi yang masuk tidak mungkin investasi padat karya, namun bisa bermitra dengan masyarakat untuk beberapa sektor seperti energi, kelistrikan, kelautan dan pariwisata. Apalagi jika membangun pabrik dengan mendatangkan bahan baku dari luar pulau, tentu tidak akan berhasil karena harga yang dikeluarkan tidak bisa bersaing. Dan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan agamanya serta adat  budaya juga harus menjadi perhatian investor.

Berbagai kemudahan dan jaminan sudah diberikan kepada para investor untuk berinvestasi di Sumbar, dan alhamdulillah target investasi tahun 2016 sebesar Rp 3,8 triliun ini sudah terlampaui. Hingga kuartal ketiga nilainya sudah mencapai Rp 4,03 trilun. Selaku Gubernur saya mengajak masyarakat untuk mendukung masuknya investasi ke Sumbar. Insya Allah dengan dukungan dari masyarakat, pemerintah kota/kabupaten, kenyamanan dan keamanan berinvestasi akan memberikan dampak positif kepada masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung. ***

Singgalang, 22 November 2016

 

192. 2016-12-06 [Singgalang] Ketahanan Pangan Suatu Keniscayaan

KETAHANAN PANGAN SUATU KENISCAYAAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 30 November 2016 siang bertempat di Istana Negara, saya selaku Gubernur Sumbar beserta Gubernur Aceh dan Jawa Tengah menerima Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara, kategori Pembina Ketahanan Pangan dari Presiden RI Bpk. Joko Widodo. Pemberian penghargaan ini disampaikan oleh Bpk Amran Sulaiman (Menteri Pertanian) telah melewati proses pengusulan dan penilaian secara berjenjang dengan memperhatikan keunggulan dan dampak dari kegiatan yang dilakukan terhadap peningkatan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya.

Selain itu disampaikan oleh Menteri Pertanian bahwa penghargaan untuk kategori Pembina Ketahanan Pangan diberikan kepada Gubernur, Bupati/Wali Kota, Kepala Desa/Lurah yang berhasil menggerakkan perangkat daerah dan masyarakat dalam mengurangi kemiskinan, kerawanan pangan, gizi buruk, dan meningkatkan produksi pangan serta mempercepat diversifikasi pangan dalam mewujudkan kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan pangan.

Indikator lainnya adalah kemampuan mengelola ketersediaan pangan, distribusi pangan, keamanan pangan. Selain itu, mengendalikan inflasi, memperkuat kelompok ekonomi kecil dan menengah, dan menarik investor berinvestasi. Alhamdulillah penghargaan ini adalah yang ketiga kalinya bagi Sumbar. Tahun 2013 dan 2014 adalah yang pertama dan kedua kali.

Tentunya penghargaan ini dengan berbagai indikator tersebut adalah hasil kerja keras seluruh komponen yang ada di Sumbar. Yaitu jajaran SKPD terkait,  pemkab/kota, masyarakat, serta para pemangku kepentingan lainnya. Dan juga tidak lupa saya menyampaikan apresiasi kepada DPRD Sumbar yang juga telah mendukung anggaran bidang pertanian ini sehingga kita di Sumbar mampu mewujudkan ketahanan pangan dan juga menjaga kedaulatan pangan.

Alhamdulillah, program-program yang sudah ditelurkan dalam APBD untuk sektor pertanian, setiap tahunnya berdasarkan data statistik memperlihatkan kenaikan rata-rata 5 persen, terutama produksi padi. Sehingga dengan kenaikan produksi tersebut Sumbar telah menjadi salah satu lumbung padi nasional yang berhasil melakukan swasembada.

Berbagai program yang telah dilakukan di bidang pertanian tersebut terdiri dari intensifikasi dan ekstensifikasi. Untuk program intensifikasi yang sudah dilakukan di antaranya adalah meningkatkan kualitas produksi beras. Sebagai contoh, padi non organik diubah menjadi padi organik. Harganya pun lebih mahal padi organik. Selain itu, kuantitas panen juga ditingkatkan. Jika 1 hektar sawah menghasilkan 5 ton maka bisa ditingkatkan menjadi 7 hingga bahkan 10 ton. Di samping itu juga dilakukan peningkatan kualitas padi dengan menghindari pestisida berbahan kimia, pupuk kimia, diganti menggunakan yang organik.

Sedangkan untuk program ekstensifikasi dilakukan dengan mencetak sawah baru, dan menambah irigasi sehingga indeks penanamannya bisa lebih dua kali dalam setahun karena tidak lagi mengandalkan hujan (tadah hujan). Kemudian juga menambah sawah baru dari rawa-rawa, ladang-ladang semak belukar. Dan juga menerapkan teknik-teknik menanam seperti pola jajar legowo. Dan di luar itu masih ada lagi program-program lainnya.

Di samping itu, mewujudkan ketahanan pangan juga dilakukan dengan diversifikasi pangan. Di antaranya menciptakan variasi makanan agar tidak terlalu bergantung kepada nasi (beras). Makanan selain nasi yang dimaksud adalah jagung, ubi, ketela, dan lainnya.

Kedaulatan dan ketahanan pangan adalah mutlak kita lakukan. Karena merupakan hajat hidup utama masyarakat. Kita pernah mengalami masa kekurangan pangan di awal negara ini baru merdeka sehingga terjadi penjarahan oleh masyarakat dan stabilitas terganggu. Peristiwa Arab Spring pun yang terjadi beberapa tahun lalu juga tak lepas dari masalah kekurangan pangan. Belajar dari sejarah demikian, maka kita harus bekerjasama bahu-membahu mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan.

Alhamdulillah, dengan ketersediaan pangan yang mencukupi bagi masyarakat, banyak hal lain yang bisa kita lakukan dengan tenang sehingga bisa meningkatkan produktivitas seluas-luasnya. Karena bisa dibayangkan jika urusan pangan kita sudah terganggu, akan menyebabkan urusan kita yang lain juga ikut terganggu. Untuk itu, saya mengajak seluruh komponen yang ada di Sumbar untuk tetap terus menjaga kebersamaan ini sehingga wilayah kita bisa terpenuhi kebutuhan pangannya. Dan juga, semoga kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas karunia ini. ***

Singgalang, 6 Desember 2016

 

193. 2016-12-16 [Padek] Festival Ekonomi dan Budaya Serumpun

FESTIVAL EKONOMI DAN BUDAYA SERUMPUN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 3-5 Desember 2016 lalu di Padang diselenggarakan Festival Ekonomi dan Budaya Antarbangsa. Acara ini mempertemukan dua bangsa serumpun yaitu Indonesia dan Malaysia. Penggagas acara ini adalah Malindo Business Cultural Center (MBCC) Asia. Dari pihak penyelenggara, mereka membawa 200 orang pengusaha/investor dan 35 produk yang dipamerkan di ajang festival tersebut.

MBCC Asia ini menargetkan peluang transaksi sebesar lebih kurang 10 miliar dolar AS. Hal ini didasari masih rendahnya transaksi perdagangan antar kedua negara. Pada tahun 2015 transaksi yang terjadi baru sebesar 19 miliar dolar AS. Sedangkan target untuk tahun 2016 adalah 30 miliar dolar AS.

Kegiatan ini sangat positif. Pengusaha dan investor yang datang dari Malaysia diberikan informasi tentang potensi yang ada di berbagai daerah. Peluang kerjasama banyak tercipta. Pelaku usaha di daerah (Indonesia) pun bisa memanfaatkan kedatangan rombongan dari Malaysia ini untuk memperkenalkan produk mereka. Beberapa kisah keberhasilan dari kerjasama bangsa serumpun ini sudah mulai bermunculan satu persatu. Pertanda adanya manfaat positif dari kegiatan ini.

Tidak dipungkiri bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang dipatok oleh pemerintah pusat pada tahun 2016 di kisaran angka 5 persen, pemerintah daerah diharuskan aktif mencari sumber-sumber pendanaan pembangunan di daerahnya. Dan salah satu sumber yang nampak itu adalah investasi.

Sumbar membutuhkan investasi agar pembangunan bisa lebih ditingkatkan, di mana tujuan akhirnya adalah terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Para investor dan pengusaha yang berasal dari Malaysia ini yang tak lain masih serumpun, sesungguhnya bisa lebih mudah beradaptasi dan memahami investasi di bidang mana saja yang cocok untuk dijalani.

Selain karena faktor budaya, umumnya juga karena faktor seagama, sehingga lebih mudah untuk melakukan komunikasi dan penjajakan investasi maupun perdagangan. Karena sudah mengetahui rambu-rambu di masyarakat terkait masalah agama dan hubungannya dengan investasi dan perdagangan. Namun bukan berarti jika ada yang berbeda agama akan lebih susah, tetap masih lebih mudah karena adanya kesamaan budaya sehingga komunikasi dua arah tetap bisa berjalan baik.

Kendala budaya dan agama sesungguhnya sudah bisa diatasi dengan adanya investor dan pengusaha dari Malaysia ini. Sehingga akan lebih memudahkan penjajakan antara dua pihak yaitu Malaysia dan Indonesia. Jika pihak Malaysia menjajaki peluang investasi di Sumbar dan Indonesia, maka pihak Sumbar menjajaki peluang perdagangan yang bisa dipasarkan di Malaysia. Kerjasama saling menguntungkan ini insya Allah akan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Sumbar.

Di sisi lain, kerjasama serumpun ini juga turut mempererat rasa persaudaraan antar dua negara. Tidak dipungkiri beberapa waktu lalu sempat terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan rakyat dua negara ini mengutarakan saling ketidaksukaanya di media sosial. Hal ini memang dilatarbelakangi informasi yang masih sedikit tentang Malaysia.

Bagi kita orang Minang, sedikit banyaknya sudah mengetahui bahwa sebagian dari nenek moyang warga Malaysia saat ini berasal dari ranah Minang. Sehingga banyak wisatawan dari Malaysia yang berkunjung ke Sumatera Barat karena kecintaan mereka terhadap asal usul nenek moyang mereka.

Maka tidak heran jika ada orang Malaysia yang menganggap rendang adalah masakan asli mereka, karena nenek moyangnya yang orang Minang mampu membuat rendang. Bahkan penggunaan kata “surau” sebagai tempat shalat bisa dilihat di berbagai tempat pelayanan publik di Malaysia.

Kembali kepada kegiatan MBCC Asia, saya memberikan apresiasi atas iven yang diselenggarakan MBCC Asia di Padang. Semoga iven seperti ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para kepala daerah di Sumbar dan juga oleh para pelaku usaha di Sumbar. Kerjasama yang baik dengan bangsa serumpun ini saya harapkan juga akan semakin menguatkan hubungan ekonomi dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia. Di tengah kondisi ekonomi global yang penuh dinamika, kerjasama bangsa serumpun ini sangat memberikan manfaat positif, terutama kepada kedua bangsa dan juga kepada negara-negara ASEAN.

Festival yang juga mempertunjukkan seni dan budaya serumpun ini juga semoga menjadi jembatan kebudayaan antarbangsa untuk saling memahami satu sama lain. Kegiatan yang merupakan kali ketiga ini semoga semakin berdampak positif terhadap kedua pihak. Jalinan silaturahmi antar kedua pihak semoga semakin kokoh. Sehingga tidak hanya urusan bisnis yang saling menguntungkan, tali persaudaraan pun bisa makin dikuatkan dengan adanya festival ini. Seperti yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, persaudaraan (silaturahmi) insya Allah akan membuka pintu rezeki. ***

Padang Ekspres, 16 Desember 2016

194. 2016-12-22 [Singgalang] Rendang untuk Aceh

RENDANG UNTUK ACEH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Gempa bumi kembali terjadi di bumi Aceh, tepatnya di Kabupaten Pidie Jaya. Pada 7 Desember 2016 sekitar jam 5 pagi, warga dikagetkan dengan gempa yang berkekuatan cukup besar yaitu 6,5 skala Richter. Gempa ini dirasakan juga di wilayah lain seperti Pidie dan Bireuen. Rumah-rumah dan bangunan serta infrastruktur banyak yang rusak. Sedikitnya 101 orang meninggal dunia.  Masyarakat di sana diliputi trauma. Seluruh bangsa Indonesia berduka.

Semenjak peristiwa Tsunami di Aceh tahun 2006 lalu yang diawali gempa bumi, terjadinya gempa bumi menjadi perhatian serius oleh berbagai pihak. Baik pemerintah, peneliti, tim penanggulangan bencana, dan juga masyarakat. Masyarakat Sumbar juga tentu masih ingat gempa bumi yang terjadi pada tahun 2007 dan 2009 yang meluluhlantakkan bangunan-bangunan dan infrastruktur di Sumbar.

Demikian pula ketika terjadi gempa setelah tahun 2009, dari yang getarannya kuat hingga gempa yang meliuk-liuk dengan waktu cukup lama. Kita yang tinggal di Sumbar sudah pernah merasakannya. Tidak hanya di Sumatera, di pulau Jawa pun beberapa kali terjadi gempa, termasuk di Jogja yang menimbulkan kerusakan cukup parah.

Peristiwa gempa bumi yang terjadi di suatu daerah memang bisa menjadikan daerah tersebut kurang diminati untuk berinvestasi, berusaha, destinasi wisata, dan lainnya. Terlebih jika instansi terkait sudah menyatakan zona merah yang rawan terjadi gempa. Namun demikian, sebagai manusia yang meyakini bahwa di setiap kejadian ada hikmah yang bisa diambil, maka kita perlu bersikap positif atas ketentuan yang sudah Allah SWT takdirkan.

Gempa bumi yang terjadi sesungguhnya merupakan kehendak Allah SWT. Berbagai musibah dan bencana lain pun seperti banjir, gunung meletus, adalah sebagian dari tanda kekuasaan Allah SWT. Manusia diminta untuk mengambil hikmah dari berbagai peristiwa tersebut. Kesedihan yang muncul memang merupakan fitrah manusia. Namun tentunya ada hal positif yang kelak kita tahu belakangan setelah datangnya kehendak Allah SWT tersebut.

Misalnya saja, setelah tsunami Aceh hal yang tidak pernah disangka sama sekali adalah bersatunya seluruh elemen masyarakat Aceh. Di mana sebelumnya, berbagai perundingan dan upaya damai antara pemerintah dengan pihak-pihak tertentu di Aceh selalu mengalami kegagalan dan jalan buntu. Setelah Tsunami ternyata kedamaian di Aceh terwujud, tidak ada lagi pemberontakan, Aceh masuk ke dalam NKRI sepenuhnya. Inilah hikmah yang bisa kita ambil dari sebuah peristiwa yang kadang di mata manusia sungguh sangat menyedihkan, namun ternyata Allah SWT punya kehendak lain yang bisa jadi sangat bermanfaat untuk kehidupan kita selanjutnya.

Demikian pula gempa Sumbar tahun 2009. Setelah gempa, ekonomi Sumbar kembali bangkit dengan tampilan yang jauh lebih baik. Pertumbuhan ekonomi, pertambahan infrastruktur, bertambahnya jumlah penerbangan pesawat ke padang, munculnya gedung-gedung baru baik sekolah, instansi pemerintahan, tempat ibadah, bertambahnya hotel, adalah sebagian dari tanda-tanda positif yang bisa dijadikan sebagai salah satu hikmah terjadinya gempa Sumbar. Dan juga sangat mungkin bahwa masyarakat Sumbar semakin baik lagi memahami agamanya.

Musibah gempa juga menjadi penyatu solidaritas masyarakat di Indonesia. Satu ton rendang yang merupakan bantuan dari masyarakat Sumbar untuk Aceh adalah wujud kepedulian dan rasa persaudaraan antarsesama anak bangsa. Aksi kepedulian ini adalah salah satu hikmah yang bisa diambil setelah terjadinya gempa di Aceh. Bantuan dari berbagai daerah lainnya juga datang berbondong-bondong dengan sukarela. Setiap terjadi bencana di tanah air, ternyata tindakan kebaikan jauh meningkat dengan banyaknya bantuan yang datang.

Dalam surat Al Baqarah ayat 155 Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Dari arti ayat tersebut, ternyata Allah SWT memberikan cobaan agar manusia bersabar, dan setelah itu akan datang kabar gembira yang tidak pernah diketahui oleh manusia perihalnya. Termasuk juga di dalamnya adalah datangnya gempa yang silih berganti di tanah air. Kita sebagai manusia diminta bersabar menghadapinya. Karena bagi orang yang sabar akan ada kabar gembira bagi mereka.

Menutup tulisan ini, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa membangun dan memelihara kepedulian sesama. Terlebih kepada saudara-saudara kita yang ditimpa bencana dan musibah. Baik di dalam negeri dan juga luar negeri. Semoga kepedulian kita mendapat balasan terbaik dari Allah SWT. Aamiin. ***

Singgalang, 22 Desember 2016

195. 2017-01-04 [Singgalang] Tahun Baru Semangat Baru

TAHUN BARU SEMANGAT BARU

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, kita sudah berada di tahun 2017. Waktu begitu cepat berlalu. Jika kita melihat ayat-ayat Al Quran, Allah SWT sering menjadikan waktu sebagai sumpahNya, “Demi masa” (QS. Al Ashr: 1), “Demi waktu Dhuha” (QS. Ad Dhuha:1), dan masih banyak lagi jika kita telusuri ayat-ayat Al Quran. Ayat-ayat seperti ini mengajak manusia untuk lebih menyadari pentingya masalah waktu.

Awal tahun adalah saat yang tepat untuk mempersiapkan diri mengarungi waktu yang terus berjalan. Selain itu, juga saat yang tepat untuk mengevaluasi apa saja yang sudah dilakukan setahun belakangan. Hal apa saja yang perlu diperbaiki, dijauhi, ditinggalkan, ditingkatkan, dan lainnya.

Dalam shalat wajib 5 waktu, setelah shalat kita disunahkan membaca istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT atas perilaku kita yang punya potensi salah. Dan memang sebagai manusia kita pasti berbuat kesalahan, baik sengaja maupun tidak disengaja. Dengan selalu mengucap istighfar, insya Allah kita akan merasakan energi positif yang luar biasa, karena merupakan sunnah Rasulullah SAW. Kita tahu bahwa ada kekuatan yang lebih hebat dari diri kita yang mengatur hidup kita, yaitu Allah SWT. Sehingga kita akan merasakan bahwa di atas langit ada langit, kita bukanlah pribadi paling hebat, masih ada yang lebih hebat dari kita tapi justru perilakunya lebih mulia.

“Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan berikan untuknya solusi setiap menemui masalah, dan jalan keluar untuk setiap kali menemui kesempitan, dan Allah akan memberikannya rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga.”(Hadits sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (hadits no. 1297), Ibn Majah (hadits no. 3809) dan al-Hakim. Al-Hakim berkata: Hadits ini sanadnya sahih.)

Oleh karena itu, penting sekali bagi kita merenungi apa saja yang sudah kita lakukan. Adakah kesalahan yang kita perbuat berakibat fatal bagi orang lain dan juga diri sendiri? Jika ada, maka marilah ber-istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT.

Umar bin Khaththab r.a berkata, “Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal”.

“Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti dia berada di bawah gunung, dia takut apabila gunung tersebut menimpanya, dan seorang fasiq melihat dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di atas hidungnya, maka dia singkirkan seperti ini, yaitu diusir dengan telapak tangannya.” (HR. Bukhari).

Dengan selalu menghisab (koreksi) diri, insya Allah kita akan jauh dari sifat sombong, tinggi hati, merasa paling benar. Dan sebaliknya membuat kita untuk rendah hati, memiliki motivasi diri yang lebih kuat, meyakini mampu mencapai kesuksesan, dan optimis akan datangnya pertolongan Allah SWT.

Menatap masa depan dengan kerendahan hati, dikuatkan dengan usaha yang sungguh-sungguh, disertai tawakal kepada Allah SWT, insya Allah akan menjadikan hidup kita lebih semangat.

Setelah melakukan instropeksi diri dengan menghisab/koreksi diri, maka kita berhak menyambut tahun baru dengan semangat baru. Semangat untuk berbuat lebih baik lagi, beribadah lebih giat lagi, bermasyarakat lebih luas lagi, menolong orang lebih banyak lagi, bekerja lebih giat lagi, dan sebagainya. Semoga bertambahnya tahun dalam hidup kita juga membuat kita bertambah dewasa dan bertambah dekat dengan Sang Pemilik Hidup, Allah SWT agar hidup kita makin terarah sehingga hidup menjadi optimis dan kuat menerima karunia, rezeki, maupun ujian dan cobaan. ***

Singgalang, 4 Januari 2017

 

196. 2017-01-04 [Padek] Yang Siap Yang Menang

YANG SIAP YANG MENANG

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 14 Desember 2016 lalu pertandingan putaran final piala AFF (Asean Football Federation) yang diselenggarakan di Jakarta antara Indonesia dengan Thailand dimenangkan oleh Indonesia dengan skor 2-1 untuk Indonesia. Pendukung Indonesia yang sangat antusias memberikan dukungan kepada tim kesayangannya ini sangat membantu spirit para pemain tim Indonesia. Waktu itu saya turut mengadakan nonton bareng (nobar) dengan beberapa sahabat saya dan juga staf di rumah dinas untuk meramaikan dukungan kepada tim Indonesia.

Pada putaran final yang diselenggarakan di Thailand, kali ini saya ikut nobar di pantai Muaro Lasak. Kali ini suasananya lebih tegang, karena tim Indonesia bermain di kandang tim Thailand. Dan setelah mengikuti jalannya pertandingan, skor akhir 2-0 untuk Thailand atau skor agregat 3-2 untuk kemenangan Thailand.

Dengan hasil yang sudah dicapai tersebut, kita perlu memberikan apresiasi kepada tim Indonesia yang sudah berlaga di partai final. Tim Indonesia tercatat sudah beberapa kali menjadi calon juara piala AFF dengan berlaga di final. Namun kemenangan belum diraih. Tentu bisa dicari sebabnya, mengapa untuk piala AFF kali ini tim Indonesia belum bisa mendapatkannya.

Hal yang mungkin menjadi sebab utama adalah minimnya waktu persiapan tim Indonesia yang hanya sekitar 6 bulan. Dan dalam 6 bulan itu juga ada kendala seperti membentuk formula pemain yang tepat. Jika dibandingkan dengan tim Thailand, mereka sudah mempersiapkan jauh lebih lama dibanding Indonesia, kurang lebih sekitar enam tahunan. Bahkan Thailand menerjunkan pasukan terbaiknya di piala AFF 2016 ini. Di samping itu tim Thailand juga memiliki pengalaman bertanding di kancah yang lebih luas lagi, bertarung dengan berbagai tim tangguh di berbagai iven internasional.

Kita bisa mengatakan bahwa pihak yang lebih siap biasanya adalah pihak yang memenangkan pertandingan. Dan ini berlaku untuk seluruh cabang olahraga. Oleh sebab itu, persiapan untuk menang harus dilakukan sejak dini. Salah satu contoh yang bisa dilihat di Sumbar adalah “manusia tercepat di Indonesia” yang juga atlet PON Sumbar 2016, Yaspi Boby. Boby sejak kecil sudah melatih dirinya dengan jalan kaki dari rumah ke sekolah sepanjang 5 kilometer untuk pergi dan pulang. Dan rumahnya pun terletak di atas bukit.

Terkait dengan ungkapan “yang siap yang menang”, beberapa waktu lalu di Gubernuran saya melepas beberapa pemain sepakbola yang masih belia untuk mengikuti pertandingan di Yogyakarta. Mereka adalah hasil seleksi dari seluruh wilayah di Sumbar dan merupakan pemain belia potensial. Mereka tergabung di Forum Sekolah Sepak Bola Indonesia (FSSBI) Sumbar. Info terakhir yang saya dapatkan, mereka lolos ke 16 besar dan satu-satunya dari Sumatera yang lolos. Ini patut diapresiasi. Harapan saya, mereka memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menjadi pemain bola handal kelak.  Jika saat ini usia mereka sekitar 12 tahun, maka dengan persiapan yang cukup dan bertanding di berbagai kejuaraan kelak pada usia 18 tahun mereka sudah semakin matang dan berkualitas.

Sementara itu, selaku Ketua Umum Inkanas Sumbar saya juga berusaha menyiapkan atlet karateka sejak belia. Tiga orang dari Pengurus Pusat Inkanas pada akhir tahun 2016 saya minta datang ke untuk melakukan pencarian bakat muda di beberapa kota di Sumbar. Mereka, para bibit muda ini akan dilatih dan dibina serta dipersiapkan untuk menjadi atlet karate Inkanas yang potensial.

Saya yakin bahwa untuk menghasilkan atlet karateka yang berkualitas nasional maupun  internasional perlu persiapan sejak dini. Selain itu, para atlet yang sudah tidak belia lagi juga tetap harus sering mengikuti kejuaraan sehingga bisa lebih diasah lagi kemampuannya di lapangan. Dengan jam terbang yang memadai, insya Allah akan dihasilkan atlet-atlet yang potensial.

Kesuksesan akan diraih oleh orang-orang yang memiliki persiapan. Baik kesuksesan di dunia maupun di akhirat. Ini adalah sunatullah atau ketetapan Allah SWT dalam kehidupan manusia. Semakin lama persiapannya, maka insya Allah semakin baik. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga menyampaikan pentingnya persiapan, yaitu persiapan menghadapi kematian.

Seorang lelaki dari kalangan Anshar bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah, Tabrani, dan Al Haitsamy).

Jika mempersiapkan kematian saja merupakan bagian dari kecerdasan, maka tentunya dalam kehidupan pun setiap kita harus memiliki persiapan agar tercapai tujuan yang diinginkan. Sehingga insya Allah kita bisa meraih kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Semoga masing-masing kita memiliki persiapan yang cukup untuk kesuksesan hidup di dunia dan juga di akhirat. Aamiin. ***

Padang Ekspres, 4 Januari 2016

197. 2017-01-11 [Singgalang] Jabatan, Amanah Allah

JABATAN, AMANAH ALLAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Akhir Desember 2016 lalu, pemerintahan daerah di Indonesia, termasuk di Sumbar diramaikan dengan pelantikan pejabat eselon 2, 3 dan 4 baru sebagai akibat adanya aturan baru tentang pembentukan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Pelantikan pejabat OPD baru adalah amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah No. 18  Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Peraturan Daerah (Perda) No. 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, dan Peraturan Gubernur (Pergub) Sumbar No. 68 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat dan juga Pergub tentang Dinas Daerah, Badan Daerah dan Inspektorat Daerah

Dengan OPD baru ini maka muncul konsekuensi yaitu adanya pengurangan sejumlah jabatan eselon 2 dibanding dengan kondisi sebelumnya.  Demikian pula untuk eselon 3, sedikitnya berkurang 56 orang. Serta untuk eselon 4, sedikitnya berkurang 106 orang. Belum lagi jika dimasukkan mereka yang berasal dari luar lingkungan Pemprov Sumbar yang melamar jabatan eselon 2 maupun memiliki potensi untuk masuk ke eselon 3 dan 4. Bisa juga terjadi promosi sehingga menambah deret pejabat yang nonjob.

Dengan kondisi yang demikian, maka banyak pejabat sebelumnya yang tidak lagi menjabat karena OPD baru ini. Saya bisa memahami berbagai rasa yang berkecamuk pada diri mereka, baik yang masih tetap menjabat, tidak lagi menjabat, maupun baru menjabat. Namun inilah sebuah konsekuensi dari aturan baru yang ada. Semoga peristiwa ini bisa dipahami sebagai sebuah ketentuan Allah SWT terhadap karir kerja kita. Dalam kehidupan manusia, kita tidak bisa melawan ketentuan Allah SWT.

Perubahan posisi jabatan pun bisa berubah cepat dengan berbagai pertimbangan. Sebagai contoh, ada tiba-tiba nama yang dihapus menjelang pelantikan padahal sudah tertulis namanya di Surat Keputusan (SK). Ada pula yang tidak ada namanya di SK tiba-tiba masuk ke dalam nama calon pejabat yang akan dilantik. Dinamika seperti ini sesungguhnya merupakan ketentuan Allah SWT. Apalagi jika kita menganggap jabatan itu adalah amanah Allah SWT.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26).

Oleh karena itu, syukuri dan jalani dengan baik amanah jabatan bagi yang sudah dilantik, dan terima dengan ikhlas bagi yang tidak lagi menjabat. Karena sesungguhya boleh jadi ada kebaikan yang tidak kita ketahui saat ini, kelak Allah SWT akan tunjukkan melalui hikmahNya.

Jabatan adalah amanah dari Allah. Namun demikian, dalam proses memberikan amanah kepada seseorang, telah dilakukan mekanisme profesional berupa seleksi seperti penilaian kompetensi, kecukupan jenjang kepangkatan, profesionalitas, kapabilitas dan kapasitas. Mekanisme seperti ini dalam rangka mengikuti sunnatullah bahwa hasil terbaik diperoleh dari pemilihan dengan proses yang baik pula. Karena jika tidak mengikuti sunatullah, amanah itu akan menjadi sia-sia.

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat (kehancuran).” Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakan menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah hari kiamat (kehancuran).” (HR. Bukhari).

Hadits ini senada dengan Firman Allah SWT dalam surat Al Ahzab ayat 72 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Oleh karena itu ada dua sisi yang harus dilihat dalam memandang amanah (jabatan) ini. Pertama, bahwa jabatan adalah amanah dari Allah SWT yang kelak dipertanggung jawabkan baik di dunia dan akhirat. Kedua, jabatan adalah amanah yang harus ditunaikan dengan benar dan penuh tanggung jawab karena sudah melewati proses seleksi guna mendapatkan hasil terbaik sehingga diharapkan mampu memberikan kebaikan kepada masyarakat banyak.

Mengakhiri tulisan ini, sebagai manusia kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Namun kita harus optimis menjalani kehidupan karena di balik duka ada suka, di balik sedih ada senang, yang artinya hidup itu memiliki dinamika. Demikian pula jabatan. Mungkin hari ini seseorang diberikan jabatan, namun bulan depan atau tahun depan jabatan itu mungkin lepas. Atau hari ini seseorang tidak memiliki jabatan, namun beberapa bulan kemudian atau mungkin beberapa tahun kemudian di diberikan jabatan. Oleh karena itu, tidak perlu sombong ketika menjabat dan tidak perlu sedih ketika tidak menjabat. Sebaliknya, laksanakan amanah jabatan sebaik-baiknya agar ketika Allah SWT kehendaki jabatan itu lepas, maka kita sudah melaksanakan yang terbaik. Jalani hidup dengan ikhlas agar Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik bagi kehidupan kita. ***

Singgalang, 11 Januari 2017

 

198. 2017-01-18 [Padek] Bencana Banjir

BENCANA BANJIR

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 9 Januari 2016 lalu, saya bersama Pak Nasrul Abit (Wakil Gubernur) mengunjungi daerah yang terkena bencana banjir bandang. Kami membagi daerah kunjungan, saya ke Kab. Solok dan Pak Nasrul Abit ke Kab. Agam. Daerah yang saya kunjungi di Kab. Solok di antaranya adalah Nagari Surian, Nagari Lolo, dan Nagari Air Dingin. Saya juga membawa para Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait dalam rangka melihat langsung lokasi bencana dan langsung bisa diambil keputusan di OPD terkait penanganannya.

Terkait bencana yang terjadi di daerah tersebut, tanggap darurat yang telah dilakukan adalah melakukan evakuasi penduduk dengan diungsikan ke tempat aman serta diberikan bantuan kebutuhan sehari-hari. Sementara untuk infrastruktur, bagi jembatan yang rusak dilakukan perencanaan kegiatan pembangunan jembatan darurat, baik dengan besi maupun bahan seperti bambu. Bersamaan dengan itu, status darurat yang dinyatakan oleh pemerintah daerah setempat bisa menjadi pijakan bagi datangnya bantuan dari pusat maupun provinsi. Setelah tanggap darurat, maka akan dilakukan rehab-rekon. Rehab rekon ini membutuhkan data yang detil terkait apa saja yang dibutuhkan serta survei teknis sehingga infrastruktur yang rusak bisa dibangun kembali dengan lebih baik dan bersifat permanen.

Penanggulangan banjir perlu dilakukan secara serius karena merupakan bencana yang terjadi setiap tahun. Banjir kali ini yang menimbulkan bencana bagi masyarakat disebabkan adanya curah hujan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan volume air di sungai meningkat. Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah memberi peringatan bahwa curah hujan dengan volume yang cukup tinggi akan terus terjadi sejak Oktober 2016 hingga Februari 2017.

Terkait terjadinya banjir bandang, sejak seminggu sebelum terjadi bencana banjir, hujan tak henti-hentinya turun setiap hari sehingga menyebabkan permukaan sungai meninggi. Hal ini menimbulkan kerusakan berupa banjir, longsor dan lainnya. Peristiwa demikian terjadi berketerusan di Sumbar karena topografi Sumbar dengan alamnya yang terdiri dari pegunungan, bukit, hutan, jurang, berhadapan dengan samudera, berlokasi di ring of fire sehingga berbagai bencana akan terus terjadi di sini. Oleh karena itu, kita perlu memikirkan berbagai cara penanggulangannya.

Banjir bandang yang memunculkan lidah air adalah bahaya yang masih bisa ditanggulangi.  Penanggulangan yang bisa dilakukan adalah membersihkan hulu sungai dari tumpukan kayu-kayu dan batu-batu yang membentuk bendungan alami. Bendungan alami ini di saat hujan terus menerus kelak akan bobol sehingga menimbulkan lidah air dan terjadilah banjir bandang. Berbeda dengan banjir yang terjadi akibat luapan air sungai. Pada awalnya air akan melebar karena luapan, namun surut kembali. Bahaya yang ditimbulkan adalah terendamnya daerah sekitar sungai, baik bangunan rumah, sekolah, jalan, maupun sawah. Banjir seperti ini antisipasinya adalah tidak membuat bangunan di dekat sungai.

Jika pemerintah daerah terkait rutin melakukan pembersihan di hulu sungai, dan rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya membangun di sekitar sungai, insya Allah masyarakat akan terhindar dari bencana banjir. Pemerintah daerah bisa mengajak serta pihak yang berkompeten dalam hal ini, seperti pecinta alam maupun dari TNI/Polri. Di samping itu, pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan masyarakat juga bisa melakukan pemeriksaan ketika curah hujan mulai meninggi sehingga bisa mencegah terjadinya banjir bandang.

Untuk itu, saya tak bosan-bosannya memberitahukan kepada para kepala daerah kabupaten/kota dan intansi terkait untuk melakukan berbagai antisipasi menghadapi datangnya bencana yang akan timbul, terutama bencana yang masih bisa dihindari. Banjir bukanlah gempa atau tsunami yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya. Banjir bisa diprediksi terjadi ketika curah hujan terjadi sangat lebat, tanpa henti berhari-hari.

Selain usaha dari pemerintah, peran masyarakat juga sangat membantu mencegah dampak banjir. Masyarakat bisa membentuk komunitas peduli banjir sehingga bisa terbentuk jejaring komunitas yang lebih luas. Wali nagari juga perlu aktif menghimbau warganya agar lebih sensitif melihat tanda-tanda alam, yaitu jika hujan terjadi terus menerus harus melakukan antisipasi yang diperlukan.

Di samping itu sosialisasi tentang banjir ini melalui media seperti radio juga perlu digencarkan. Jika selama ini sosialisasi tentang gempa dan tsunami sudah cukup rutin dilakukan di radio, maka sosialisasi banjir pun perlu dilakukan, karena intensitasnya terjadi hampir setiap tahun.

Ungkapan “Alam takambang jadi guru” mengajak kita berpikir bagaimana alam mengajari kita untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada kehidupan kita. Allah berfirman dalam surat Ar Ra’d ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Sebagai manusia, kita diminta memaksimalkan kekuatan kita untuk memikirkan cara mengatasi berbagai masalah yang terjadi, termasuk menanggulangi banjir. Karena tanpa aksi yang nyata, bencana banjir itu akan terus terjadi. Semoga kita semua bersama-sama bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik dengan mencari berbagai solusi dan melakukan berbagai antisipasi menanggulangi banjir. ***

Padang Ekspres, 18 Januari 2017

 

199. 2017-01-25 [Padek] Spirit Bersama Membangun Daerah

SPIRIT BERSAMA MEMBANGUN DAERAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 25 Januari 2017 ini Padang Ekspres (Padek) genap berusia 18 tahun. Sebuah waktu yang cukup panjang dan penuh dengan sejarah dan dinamika bagi segenap jajaran kru Padek. Dan tentu juga bagi para pembacanya yaitu masyarakat Sumatera Barat khususnya, dan Indonesia umumnya. Tak terkecuali juga bagi para stake holders terkait, di antaranya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang telah bekerjasama dengan Padek selama ini. Saya turut mengucapkan selamat merayakan ulang tahun ke-18. Semoga Padek semakin lebih baik menampilkan jurnalisme yang profesional, konstruktif, kredibel, dan bertanggung jawab sehingga turut berpartisipasi aktif, terutama dalam hal mencerdaskan masyarakat.

Peran Padek dan juga media lainnya di Sumbar harus diakui sangat membantu Pemprov Sumbar dalam menginformasikan capaian-capaian pembangunan yang sudah, sedang dan akan dilaksanakan. Baik pembangunan fisik maupun non fisik. Tanpa adanya media, sulit bagi Pemprov untuk menyebarluaskan berbagai capaian pembangunan tersebut kepada masyarakat. Tanpa media, informasi pembangunan tidak diketahui masyarakat. Sehingga masyarakat menjadi apatis. Namun dengan berita-berita yang banyak beredar di media, menyebabkan masyarakat turut bepartisipasi aktif menyukseskan pembangunan di Sumbar.

Saya masih ingat ketika awal menjadi Gubernur di periode pertama, kerja keras membangun kembali Sumbar dibantu peran media, termasuk Padek. Dalam hal penyaluran bantuan rehab rekon rumah-rumah penduduk, infrastruktur, sekolah, rumah ibadah, kantor pemerintah, dengan peran media yang konstruktif dan informatif menjadikan masyarakat mengetahui informasinya sehingga andil masyarakat dalam rehab rekon Sumbar turut mempercepat pemulihan tersebut.

Berbagai pemikiran saya selaku Gubernur yang merupakan bentuk penyampaian kepada publik berupa informasi pembangunan, klarifikasi, maupun penjelasan sebuah kebijaksanaan, difasilitasi oleh beberapa media, di antaranya oleh Padek dengan dimuat di Teras Utama.  Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Media juga turut menjaga nilai-nilai budaya, adat, dan agama yang ada di Sumbar. Berbagai berita tentang penyakit masyarakat yang terjadi di Sumbar adalah bagian dari penyebaran informasi kepada masyarakat agar lebih meningkatkan kontrol sosial yang ada di lingkungan mereka. Tanpa adanya berita demikian, sulit bagi masyarakat untuk mengetahui apa yang terjadi di wilayah mereka.

Selain itu, dengan wilayah yang potensi bencananya berbagai macam, Padek dan media di Sumbar telah berperan aktif membantu masyarakat menyampaikan informasi seputar antisipasi bencana sehingga lambat laun dengan informasi yang semakin banyak ini masyarakat semakin mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang terjadi. Sehingga hal ini semakin memudahkan pemerintah untuk menelurkan program penanggulangan bencana dan kebijakan terkait.

Berbagai hasil-hasil pembangunan fisik dan non fisik yang secara khusus ditampilkan di halaman Padek turut berperan memberikan informasi yang sejujurnya kepada masyarakat seperti infrastruktur, sumberdaya air, pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kelautan, pemberdayaan perempuan, kesehatan, pendidikan, sosial keagamaan, kerjasama rantau, seni dan budaya, dan bidang lainnya. Sehingga tanggapan positif dari masyarakat ini turut menyemangati kami untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Di samping, kami juga menerima masukan dan kritikan konstruktif dari masyarakat.

Selain itu, kritikan konstruktif yang disampaikan Padek juga turut membantu kami untuk mengoreksi dan memperbaiki berbagai hal yang dianggap kurang baik atau tidak pada tempatnya. Hal ini juga selaras dengan bunyi pasal 3 UU No. 40 Tahun 199 tentang Pers, “Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial”.

Dengan adanya kegiatan sertifikasi wartawan yang diadakan oleh instansi berwenang, semoga semakin meningkatkan kualitas dan profesionalisme Padek dan juga wartawan lainnya di Sumbar. Karena tidak dipungkiri, masih ada saja satu-dua oknum wartawan atau media yang menyalahi aturan yang ada dalam UU Pers, sehingga menyebarkan berita yang destruktif dan berbau fitnah. Dalam pasal 5 ayat 1 UU Pers disebutkan, “Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah”.

Mengakhiri tulisan ini, saya turut mendoakan Padek ke depannya semakin berjaya dan mampu beradaptasi di tengah iklim yang cepat berubah. Untuk itu dituntut manajemen perusahaan yang profesional dan juga jurnalisme yang sesuai dengan semangat UU Pers. Pemprov Sumbar siap bekerja sama dengan Padek untuk bersama-sama membangun Sumbar dalam rangka mewujudkan masyarakat Sumbar yang madani dan sejahtera.

Padang Ekspres, 25 Januari 2017

 

200. 2017-01-31 [Singgalang] Kunjungan Kerja ke Norwegia

KUNJUNGAN KERJA KE NORWEGIA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 11 Januari 2017 lalu saya bersama rombongan bertolak dari Padang menuju Jakarta untuk selanjutnya ke Norwegia. Kunjungan kerja saya ke Norwegia ini dalam rangka memenuhi undangan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Norwegia Bpk. Yuwono A. Putranto. Undangan yang dimaksud di antaranya adalah sebuah promosi terpadu travel fair Reisetivmessen di Oslo tanggal 13-15 Januari 2017 dan promosi mandiri di Wisma Duta pada 16 Januari 2017. Selain itu juga disebutkan adanya peluang investasi dan peluang kerjasama dengan Norwegia.

Travel fair ini dipenuhi 350 anjungan yang memamerkan destinasi wisata dari 120 negara. Anjungan Indonesia menempati area seluas 30 meter persegi dan terletak di jalan utama yang terletak dekat dengan panggung utama, tema utamanya adalah pariwisata, kuliner dan kesenian dari Provinsi Sumbar. Tak kurang dari 40.000 pengunjung yang berasal dari dunia usaha, media dan publik di Norwegia, juga negara-negara Nordik hadir di acara ini.

Dengan tema utama Provinsi Sumbar dan sesuai permintaan Dubes RI untuk Norwegia, kami juga mengirimkan tim kuliner dan tim tari ke Norwegia. Dan di antara peserta pameran, Indonesia mendapat peran paling besar dalam eksposisi promosi di panggung utama. Tidak kurang dari 6 sesi penampilan tarian (9 jenis tarian dan monolog/musik) dan juga diikuti promosi food testing untuk 7 jenis masakan dari Sumbar. Bumbu rendang dan ayam dari Sumbar yang diimpor oleh sebuah perusahaan Norwegia dikabarkan beredar di Norwegia pada akhir Januari 2017.

Penampilan tarian dari Sumbar tersebut ternyata membuat cemburu beberapa negara seperti Malaysia dan Thailand yang tidak menampilkan keseniannya. Selain pertunjukan tarian, kami juga melakukan promosi kuliner berupa pemberian makanan gratis, di antaranya rendang, dendeng dan ayam goreng. Makanan ini habis dinikmati oleh pengunjung yang datang. Ada pengunjung yang datang hingga 4 kali karena sangat suka dengan makanan yang kami tawarkan. Audun Kvitland yang populer dengan lagu Nasi Padang juga hadir bersama kami, selain menyanyikan lagu Nasi Padang juga membantu memandu pengunjung.

Tim kuliner bekerja keras, sejak jam 5 pagi hingga jam 11 malam mereka memasak menyiapkan makanan, padahal waktu subuh di sana sekitar jam 7.30 pagi dan waktu maghrib sekitar jam 3 sore. Demikian pula tim tari yang tampil 2 kali dalam sehari. Peragaan alat musik talempong juga turut menarik perhatian pengunjung yang datang. Bahkan di portal online setempat, promo wisata, kuliner dan budaya Sumbar sempat menjadi trending topic no. 2, dan juga radio dan TV Norwegia.

Di samping promosi pariwisata yang terdiri dari tim kuliner dan tim tari, kami juga ada tim investasi. Beberapa kegiatan tim tersebut di antaranya, rapat dengan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia. Selama ini Norwegia sdh memberikan bantuan untuk Sumbar sejak tahun 2013 untuk tata kelola hutan. Lalu kami juga bertemu Vice President SN Power (BUMN Norwegia) terkait peluang investasi kelistrikan hidro power.

Kemudian kami bertemu dengan Kjersti Gravningen, membicarakan teknologi dan hasil riset untuk meningkatkan produktivitas ikan.  Kami juga mengadakan teleconference dengan Institute Marine Research, lembaga riset kelautan di bawah pemerintah Norwegia. Lima proposal kami masukan via Kementerian Luar Negeri RI ke Kedubes RI di Norwegia. Kami juga mengadakan sharing dengan Aqua Optima, berdiskusi mengatasi kematian ikan dan budidaya ikan kerapu dan kakap putih. Pembahasan vaksin terhadap bakteri dan virus pada ikan kami lakukan dengan Pharmaq, Zoetis Group.

Selain itu, kunjungan kami ke Wakil Menteri Pendidikan dan Riset Norwegia, membicarakan pendidikan karakter dan pendidikan vokasional bidang kelautan dan perikanan. Penjajakan kerjasama juga kami bicarakan dengan Aker Solutions dalam hal mengubah limbah industri dan karbon menjadi bernilai ekonomi bagi Sumbar. Kami juga bertemu dengan Direktur Norwegian Agency for Development Ooperation (NORAD), membahas proposal proteksi hutan, lingkungan hidup, carbon captured storage dan perikanan.

Upaya kami bersama rombongan dalam promosi pariwisata dan kuliner Sumbar dan juga mencari investor untuk berbagai sektor, kerjasama dengan LSM, Swasta dan BUMN Norwegia, tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya menyadari bahwa untuk membangun Sumbar dengan dana sendiri (APBN dan APBD) tidaklah cukup, perlu dana dari pihak ketiga (investor) untuk membiayai program-program pembangunan di berbagai bidang. Demikian pula untuk membangun Sumbar tidaklah bisa dengan orang yang ada di Sumbar, harus melibatkan orang luar yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan.

Demikian pula dengan pariwisata. Kita harus jemput bola ke luar memperkenalkan potensi pariwisata yang ada agar orang mau berkunjung ke tempat kita. Jika negara-negara yang sudah lebih maju tetap melakukan promosi pariwisata, maka tentunya Sumbar dan juga Indonesia harus melakukan upaya serupa guna menarik wisatawan datang kemari.

Semoga dengan ikhtiar ini, pembangunan di Sumbar bisa semakin pesat dan berdampak kepada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Dan berbagai kerjasama dan investasi yang sudah ada di Sumbar kita harapkan bisa tetap bertahan, meningkat dan memberikan multiplier effect bagi perekonomian Sumbar. ***

Singgalang, 31 Januari 2017

 

201. 2017-02-07 [Padek] Cabai dan Inflasi

CABAI DAN INFLASI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 24 Januari 2017 lalu saya mengikuti High Level Meeting, rapat Tim Pemantauan dan Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumbar di Kantor BI Perwakilan Sumbar. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala BI Perwakilan Sumbar, Pemkab/Ko se-Sumbar, dan dinas terkait. Salah satu bahasan yang cukup hangat adalah kenaikan harga cabai. Kota Padang menduduki posisi keempat inflasi tertinggi secara nasional dan kedua di Sumatera.

Dari data BPS Sumbar dapat dilihat bahwa cabai adalah komoditi yang menyumbang inflasi cukup signifikan. Menurut data BPS, untuk inflasi bulan November 2016 di Padang sebesar 1,13%, cabai dan beras menyumbang angka terbesar. Cabai menyumbang 0,90% dan beras 0,15%.

Sedangkan jika melihat angka inflasi Sumbar tahun 2016 sebesar 4,89% (yoy), cabai merah dan beras menyumbang inflasi sebesar 44% dan 7%. Inflasi di Sumbar tahun 2016 lebih tinggi dari nasional yaitu 4,89% (yoy) dibanding 3,02% (yoy). Penyebab dominannya adalah gangguan produksi akibat cuaca dan kenaikan tarif angkutan udara pada saat perayaan hari besar keagamaan.

Dari sisi kebutuhan, cabai adalah termasuk yang permintaannya tinggi di Sumbar. Karena memang orang Minang menjadikan cabai sebagai komponen utama dalam menu wajib makanan sehari-hari mereka. Sehingga makan tanpa ada komponen cabai di menu rasanya ada yang tertinggal.

Upaya mengendalikan cabai dengan mengandalkan pasokan dari petani tidak bisa dilakukan seperti halnya memasok beras. Jika untuk beras, berbagai cara bisa dilakukan pemerintah untuk menanganinya. Di antaranya meningkatkan peran penyuluh, pembuatan sawah baru, pemberian benih dan pupuk, mekanisasi alat pertanian, dan perbaikan irigasi. Dan ini sudah terbukti mampu meningkatkan produksi beras. Dan tidak hanya beras, beberapa komoditas seperti bawang merah juga bisa dilakukan pendekatan semacam ini.

Sedangkan cabai, petani tidak bisa didesak menanam cabai untuk menyiapkan pasokan. Karena selain butuh kondisi cuaca tertentu, perawatannya juga rumit. Jika terjadi hujan lebat atau ketika musim hujan, cabai sulit tumbuh. Cabai akan busuk atau tidak berbuah, sehingga terjadi kegagalan panen.

Sedangkan ketika menanam cabai di musim  kemarau, bisa tumbuh lebih baik, namun terjadi panen serentak di berbagai tempat. Sehingga harga cabai pun turun, sesuai hukum permintaan. Yaitu jika barang sedikit tapi permintaan banyak, maka harga semakin mahal. Jika barang banyak dan permintaan tetap atau makin sedikit, maka harga semakin murah. Dengan kondisi seperti ini, Sumbar memenuhi kebutuhan cabai dari daerah lain seperti Rejang Lebong (Bengkulu) dan Jawa Tengah.

Cabai yang dihasilkan petani di Sumbar sebenarnya ada, yaitu cabai kualitas premium, dan harganya tinggi, namun lebih banyak dijual ke luar Sumbar. Sedangkan cabai yang biasa atau non premium, didatangkan dari luar Sumbar.

Secara umum, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan karakter petani di Sumbar yang cenderung pragmatis dalam menanam, maka sulit mendapatkan pasokan cabai dengan jumlah besar dari petani di Sumbar. Pemerintah melihat situasi dan kondisi yang demikian, kemudian mencari solusi yang bisa dilakukan. Karena pendekatan yang sudah dilakukan selama ini ternyata dipandang belum berhasil.

Salah satu pendekatan baru itu di antaranya adalah dengan menggerakkan masyarakat untuk menanam cabai. Benihnya dalam bentuk polybag yang sudah berisi  pupuk dan tanah yang sudah disediakan pemerintah, dan dibagikan secara gratis. Sehingga diharapkan masyarakat meletakkan sedikitnya 20 buah polybag di pekarangan rumah mereka.

Masyarakat tidak perlu merawat secara khusus karena di polybag tersebut sudah tersedia pupuknya. Jika kondisi kemarau, maka hanya perlu disiram. Dan jika kondisi hujan, tidak perlu lagi disiram. Cukup praktis. Dengan gerakan semacam ini, masyarakat diharapkan tidak perlu membeli cabai, cukup memetik dari pekarangan rumah mereka.

Pembagian bibit cabai dengan polybag beberapa waktu lalu dilakukan kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) bekerjasama dengan PKK Prov. Sumbar yaitu sebanyak 150.000 bibit cabai untuk masyarakat. Dengan pembagian ini, setidaknya puluhan ribu masyarakat akan bisa menikmati sendiri cabai di rumah mereka. Selain kepada masyarakat, direncanakan pula pembagian bibit cabai kepada pelajar SMA di Sumbar.

Ini baru dari satu pihak yang memberi bibit cabai, insya Allah akan ada lagi pemberian melalui dana APBN,  APBD Provinsi, dan juga keterlibatan swasta dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility).

Mudah-mudahan dengan adanya gerakan menanam cabai ini bisa membantu masyarakat memenuhi kebutuhan cabai di rumah tangga mereka. Selain itu, dengan adanya gerakan menanam cabai diharapkan harga cabai di pasaran kembali stabil sehingga inflasi pun berkurang. Insya Allah jika kita bersama-sama mendukung gerakan menanam cabai ini, akan menghilangkan cabai sebagai momok inflasi yang terjadi selama ini.***

Padang Ekspres, 7 Februari 2017

 

202. 2017-02-14 [Singgalang] Tekad Pemprov Membangun Pembinaan Umat Melalui Ulama

TEKAD PEMPROV MEMBANGUN PEMBINAAN UMAT MELALUI ULAMA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Saya tidak menduga bahwa berita tutupnya Kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sumbar karena masalah anggaran sudah membuat heboh dan menimbulkan keributan serta menjadi bahan pembicaraan masyarakat banyak. Bahkan kehebohannya sudah sampai hingga ke pelosok negeri dan juga mancanegara. Di media sosial, bahkan sudah menjadi pembahasan pro kontra yang cukup hangat. Ada yang bertanya kepada Gubernur dan ada juga yang menyalahkan Gubernur/Pemprov melalui media sosial tersebut.

Saya mohon maaf jika tidak sempat untuk menjawab dan membalas satu persatu berbagai pertanyaan tersebut. Karena kesibukan saya di dunia nyata (offline), sehingga tidak bisa sering membuka ponsel untuk mengunjungi dunia maya (online). Selama ini saya menggunakan ponsel lebih difokuskan untuk komunikasi dengan  para pejabat organisasi perangkat daerah (OPD) yang menyangkut pekerjaan, juga untuk setoran bacaan Al Quran harian serta berbagai informasi dengan keluarga melalui aplikasi Whats App. Sehingga, jika ada pesan-pesan masuk dari media sosial, staf saya yang kadang menyampaikan.

Jawaban yang sudah disampaikan secara umum melalui akun facebook saya dan juga klarifikasi secara resmi dari OPD Pemprov, semuanya berkisar tentang aturan yang berlaku. Tidak adanya  anggaran untuk MUI, bukan karena ‘mau atau tidak mau’ membantu MUI atau ormas lainnya, tetapi ini adalah masalah aturan perundang-undangan yang mengatur tentang hibah kepada ormas.

Semenjak saya menjabat Gubernur di tahun 2010, dana untuk MUI Sumbar sudah dianggarkan melalui APBD yang sudah disetujui oleh DPRD Provinsi Sumbar. Dana untuk MUI Sumbar di tahun 2010, 2011, dan 2012 dianggarkan di APBD Provinsi. Tetapi karena ada Permendagri No. 32 Tahun 2011 dan Permendagri No. 39 Tahun 2012 yang di antara isinya adalah melarang hibah kepada ormas setiap tahun, maka di tahun 2013, MUI Sumbar tidak mendapat hibah. Tetapi Pemprov Sumbar tetap menganggarkan beberapa kegiatan MUI Sumbar melalui Biro Binsos (Bina Sosial) Pemprov. Bantuan kepada MUI Sumbar yang disalurkan melalui kegiatan di OPD, sesuai dengan aturan yang ada, mesti dianggarkan dan dikelola oleh OPD (Pemerintah) yang bersangkutan, bukan oleh Ormas.

Di tahun berikutnya (2014), MUI Sumbar dibolehkan mendapat hibah setelah tahun 2013 tidak mendapat hibah. Gubernur dan DPRD Provinsi menganggarkan di APBD 2014 sebesar Rp700 juta. Namun sekitar setengah dari uang tersebut dikembalikan ke kas daerah disebabkan tidak terlaksananya program oleh MUI Sumbar pada tahun berjalan. Tahun 2015, MUI tidak mendapat hibah, karena tahun 2014 sudah dapat dan tidak bisa setiap tahun. Semestinya pada tahun 2016, MUI kembali mendapat hibah. Tapi kenyataannya tidak ada. Untuk hal ini, saya tidak tahu persis apa yang terjadi, karena saya sudah tidak lagi menjabat Gubernur sejak 15 Agustus 2015 sampai 12 Februari 2016. Namun jika dilihat kemungkinan sebabnya bisa beberapa hal, karena aturan melarang atau tidak ada usulan kegiatan dari MUI Sumbar sendiri, atau juga masalah lainnya.

Di tahun 2017, berbeda dengan tahun sebelumnya, karena rujukan aturan hibah juga harus mempedomani UU No. 23 Tahun 2014 pasal 298, yang mengatur hibah/bansos dapat  diberikan setelah terpenuhinya urusan wajib dan urusan pilihan. Ternyata APBD Prov Sumbar tahun 2017 tidak memenuhi urusan wajib dimaksud. Sehingga melalui  Keputusan Mentri Dalam Negeri Nomor: 903-10297 Tahun 2016 tentang Evaluasi Rancangan Perda Prov Sumbar tentang APBD 2017, Pemprov Sumbar, dilarang memberikan hibah/bansos. Pelarangan pemberian hibah ini ditujukan kepada semua lembaga dan ormas. Anggaran yang telah disediakan untuk hibah tersebut disarankan agar dialihkan untuk belanja infrastruktur/belanja modal.

Melihat hal yang demikian, kami di pemerintahan akan selalu patuh dan taat dengan aturan yang berlaku. Selain aturan hibah, juga ada Surat Edaran Mendagri dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang mengingatkan Kepala Daerah untuk mendistribusikan hibah secara baik dan sesuai aturan. Sudah banyak Kepala Daerah dan masyarakat terjerat hukum terkait dana hibah/bansos ini. Bahkan salah seorang mantan Ketua MUI Sumbar pernah dihukum dan masuk penjara karena masalah hibah dari Pemprov kepada MUI Sumbar.

Sikap kehati-hatian ini tidak berarti kami menolak membantu MUI Sumbar atau tidak suka kepada Ulama. Ulama adalah manusia yang dilebihkan derajatnya oleh Allah SWT karena ilmunya. MUI Sumbar adalah lembaga milik umat Islam yang jelas kontribusinya kepada umat dan Islam. Hal ini tak bisa diperdebatkan. Ketiadaan anggaran  untuk MUI Sumbar,  tidak ada kaitannya dengan mendukung atau tidak mendukung MUI Sumbar, tetapi semata karena aturan. Bukan berarti Gubernur harus berani cari terobosan, karena dalam pemerintahan sudah ada aturan main. Juga bukan berarti Gubernur hanya main aman atau Gubernur kurang kreatif. Kita harus ikut aturan dalam mendistribusikan uang rakyat. Untuk itu saya mengajak kepada pihak non pemerintah (masyarakat) untuk turut berpartisipasi membantu MUI Sumbar tanpa terikat dengan aturan-aturan yang ada.

Aturan dan perundangan yang mengatur tentang hibah ini berlaku di seluruh Indonesia. Masing-masing daerah punya kemampuan keuangan yang berbeda. Kami tidak tahu persis jika di daerah lain bisa memberikan dana hibah kepada MUI, mungkin mereka dibolehkan oleh Mendagri (bagi Provinsi), karena telah memenuhi syarat. Tapi yang jelas untuk APBD Prov Sumbar 2017, Mendagri melarang memberikan hibah, karena dananya tidak cukup untuk alokasi pembangunan infrastruktur dan tidak memenuhi aturan yang ada.

Kami sebagai orang pemerintah, melihat seluruh aturan dan perundangan tentang hibah, sebagai upaya menertibkan dan mengatur secara baik tentang hibah agar kepentingan rakyat secara umum terperhatikan. Disinyalir, jika ada hibah tanpa aturan, akan ada oknum yang bisa menyelewengkan dananya sehingga akhirnya merugikan rakyat.

Kami melihat hikmah yang besar atas peristiwa ini. Begitu banyak masyarakat yang peduli dengan MUI Sumbar sehingga banyak yang tergerak untuk memberikan bantuan. Kami secara pribadi maupun atas nama pemerintah mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang tinggi atas simpati, perhatian dan dukungan masyarakat semua. MUI Sumbar milik kita bersama, tidak harus selalu pemerintah yang mendanai. Karena begitu banyak potensi umat yang bisa digalang untuk membantu MUI Sumbar. Para ulama di MUI Sumbar pastilah punya jamaah yang bisa memberi bantuan untuk membantu urusan dakwah para ulama seperti membangun masjid atau pesantren. Tentu juga mereka akan bisa membantu bila diarahkan untuk kebutuhan organisasi MUI.

Pemerintah memiliki banyak kendala karena aturan. Pemerintah tidak bisa meminta kepada perusahaan misalnya, membantu MUI Sumbar, walaupun melalui CSR (corporate social responsibility) nya. Karena CSR juga ada aturannya dan merupakan kewenangan perusahaan, bukan merupakan otoritas Gubernur. Meminta perusahaan membantu pun bisa dianggap gratifikasi. Apalagi jika diminta pemerintah untuk ‘mencari cari’, akan semakin melanggar aturan.

Insya Allah kami dari Pemerintah Daerah siap selalu dan tetap akan mendukung MUI Sumbar dan seluruh ormas yang mendukung kepentingan rakyat. Untuk kepentingan rakyat, Pemerintah bersedia untuk terlibat. Di dalam RPJMD Prov Sumbar, juga di Visi dan Misi No 1, sudah tertulis menjadikan agama sebagai program utama pemerintah Provinsi.  Begitu juga dengan program destinasi wisata dan kuliner halal. Ini menjadi komitmen kami di Pemprov tanpa ada keraguan sedikitpun. Dan selama ini saya pun sudah dikenal masyarakat sebagai dai dan aktifis dakwah.

Dengan keterbatasan dana yang ada pun, sejak tahun lalu kami telah pinjamkan MUI Sumbar sebuah mobil Toyota Inova untuk operasional. Namun minggu lalu dikembalikan ke Pemprov dengan alasan tidak ada dana operasional. Sekali lagi, pemerintah tetap mengikuti aturan, bahwa kami tidak bisa menyediakan dana operasional untuk mobil tersebut.

Sebetulnya kami bisa memberikan bantuan kepada MUI Sumbar berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 151 Tahun 2014, pada pasal 4 ayat (2) itu.  Sesuai Perpres tersebut, kegiatan lembaga atau ormas bisa diakomodir oleh kegiatan dinas atau OPD terkait, asalkan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Tapi anggaran tersebut, berada di SKPD/OPD, bukan berupa hibah tapi dalam bentuk kegiatan. Tidak bisa untuk gaji pegawai, biaya listrik dan air.

Mungkin yang dibutuhkan oleh MUI Sumbar adalah gaji pegawai di Sekretariat MUI Sumbar. Sedangkan kantor MUI  Sumbar sudah bertempat di Masjid Agung Nurul Iman. Masjid ini merupakan milik Pemerintah, yang dikelola oleh Pemko Padang. Rasanya tidak ada bayaran untuk sewa dan juga listrik atau air. Tapi membayar uang kontribusi Rp1 juta setiap bulan kepada pihak masjid seperti halnya lembaga lain yang berkantor di sana.

Alhamdulillah, seluruh pegawai kami yang ada di pemprov telah menyetorkan zakatnya ke Baznas Provinsi yang jumlah totalnya saat ini sudah milyaran rupiah. Kami bisa meminta Baznas Provinsi untuk membantu MUI Sumbar. Bahkan kami juga telah menawarkan dana Baznas kepada MUI Sumbar. Tapi kabarnya Komite Fatwa MUI Sumbar belum sepakat menerima zakat untuk asnaf fi sabillillah. Baru dalam waktu dekat ini, direncanakan pada 18 Februari 2017 di Padang Panjang,  MUI Sumbar akan membahas dan memutuskan menerima atau tidak bantuan zakat dari Baznas Prov untuk MUI Sumbar. Bila MUI Sumbar dan ormas masih berkenan ingin mendapatkan bantuan hibah dari pemerintah provinsi, dipersilahkan hingga akhir Februari 2017 ini untuk mengajukan proposal ke Biro Bintal Kesra Pemprov, walaupun keputusan boleh tidaknya penggunaan anggaran, tetap menunggu dari evaluasi Kemendagri.

Demikian tanggapan saya terkait masalah anggaran MUI Sumbar. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada seluruh elemen masyarakat yang telah membantu MUI Sumbar. Dan saya pun mohon maaf apabila harapan masyarakat belum bisa dipenuhi. Semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaan masyarakat tentang hibah dan sekaligus mohon maaf tidak bisa menjawab satu persatu berbagai pertanyaan masyarakat. Semoga Allah SWT selalu meridhoi usaha kita. Aamiin.

Wassalam
Irwan Prayitno

Singgalang, 14 Februari 2017

 

203. 2017-02-17 [Padek] Pasca kebakaran Pasar Senen

PASCA KEBAKARAN PASAR SENEN

Oleh :  Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Beberapa waktu lalu, tepatnya 19 Januari 2017 sekitar jam 4.20 pagi terjadi kebakaran besar di Pasar Senen, Jakarta, sehingga menghanguskan sekitar 500 kios tempat usaha para pedagang di sana.  Tidak kurang 56 armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan lokasi kebakaran yang berada di Blok I dan III. Kerugian yang ditimbulkan cukup besar.

Setiap terjadi kebakaran, memang selalu menyisakan kesedihan bagi yang terkena, dan juga keluarga mereka. Tidak hanya di Jakarta, tetapi kebakaran di berbagai pasar di berbagai daerah pun selalu menimbulkan kesedihan.

Pedagang Pasar Senen, kebanyakan berasal dari etnis Minang, dengan jumlah tidak kurang dari 1.661 pedagang yang merupakan orang Minang. Dan yang menjadi korban kebakaran kemarin ini juga banyak orang Minang. Di satu sisi, lokasi kejadian berada di Jakarta, namun di sisi lain korbannya adalah para perantau Minang. Tidak kurang dari 600 orang Minang yang merasakan dampak kebakaran tersebut.

Berangkat dari kenyataan ini, maka kami di Pemprov, Gubernur dan Wakil Gubernur serta  bersama para kepala organisasi perangkat daerah dan jajarannya tergerak untuk membantu meringankan beban para pedagang ini yang tengah mengalami musibah kebakaran. Alhamdulillah terkumpul kurang lebih 150 juta rupiah. Dan ditambah dana dari Baznas Provinsi sebesar 150 juta rupiah. Sehingga totalnya menjadi 300 juta rupiah.

Dana bantuan kepedulian tersebut dibawa oleh Wakil Gubernur Sumbar, Bapak Nasrul Abit, dan diserahkan langsung kepada pedagang yang menjadi korban kebakaran pada 1 Februari 2017. Jika melihat jumlahnya memang tidak seberapa. Namun ini merupakan bentuk kepedulian kami di ranah kepada saudaranya di rantau yang tengah mendapat musibah.  Semoga sedikit tanda kepedulian ini bisa menggerakkan juga kepedulian sanak saudara lain, baik yang ada di ranah dan di rantau.

Selama ini saudara-saudara kami di rantau yang berada di berbagai wilayah dan negara sudah berkontribusi besar kepada pembangunan di kampungnya, yang berarti juga ikut membangun Sumbar. Jalan-jalan, masjid, sekolah, balai pertemuan dan sarana-prasarana lainnya banyak dibangun di Sumbar dengan dana yang berasal dari saudara-saudara di rantau. Maka tak salah pula kiranya kami pun di ranah ketika mendengar musibah yang menimpa saudara kami di rantau mencoba ikut peduli akan kesulitan mereka.

Dana yang kami berikan sebagai bantuan kepedulian memang tidaklah besar. Namun semoga kepedulian kami ini mampu memberikan semangat kepada mereka yang tertimpa musibah. Kami juga turut mendoakan agar Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik atas kejadian ini, dan semoga  saudara kami bisa bersabar dan kuat dalam menghadapi musibah ini.

Sebagai makhluk sosial, kita memang saling membutuhkan. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, ia akan membutuhkan pertolongan orang lain. Maka, ketika ada saudara kami yang tertimpa musibah, kami coba meringankan beban mereka, peduli dengan kesulitan yang mereka alami. Hal ini juga sesuai dengan ajaran Islam yang menyerukan saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan juga merupakan fitrah manusia untuk saling menolong dan berbagi antar sesama.

Selain itu kami meyakini bahwa Pemda DKI segera merealisasikan janjinya untuk memperhatikan nasib para pedagang korban kebakaran di Pasar Senen yang merupakan pasar tertua di Jakarta, yang waktu itu disampaikan oleh Bpk Sumarsono selaku Plt Gubernur DKI. Dan jika ada rencana terkait pasar seperti peremajaan atau perbaikan semoga bisa dibicarakan bersama-sama dengan pedagang sehingga tidak terjadi penggusuran atau kerugian bagi pedagang.

Semoga dengan saling bantu dan peduli, kita bisa bersama-sama melangkah membangun masyarakat yang madani dan sejahtera. ***

Padang Ekspres, 17 Februari 2017

 

204. 2017-02-23 [Singgalang] Pengukuhan Nasrul Abit sebagai Datuk

PENGUKUHAN NASRUL ABIT SEBAGAI DATUK

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 11 Februari 2017 lalu saya menghadiri undangan pengukuhan gelar datuk untuk Bpk Nasrul Abit (Wakil Gubernur Sumbar) di Aie Haji, Pesisir Selatan. Gelar yang diberikan kepada beliau adalah Datuak Malintang Panai. Saya turut bergembira dan menyampaikan apresiasi kepada beliau atas penganugerahan gelar tersebut.

Selaku Gubernur, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat, khususnya para ninik mamak, karena semenjak saya menjabat Gubernur di periode pertama dan kemudian periode kedua, sudah banyak undangan pengukuhan datuk yang saya datangi. Masyarakat begitu antusias dan semangat menyelanggarakan acara pengukuhan gelar datuk tersebut.

Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena acara pengukuhan datuk ini juga merupakan bagian dari pelestarian adat dan budaya Minang di satu sisi. Dan di sisi lain, acara pengukuhan datuk juga merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan selaku putra Minang. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi berbagai kegiatan pengukuhan gelar datuk yang tetap terpelihara hingga saat ini. Dan semoga kegiatan demikian akan tetap terus dilakukan oleh masyarakat.

Gelar datuk tidak semata-mata gelar, karena gelar datuk justru sebuah bentuk kepercayaan sebuah kaum kepada seseorang yang dihormati dan dianggap mampu memberikan teladan dan juga memecahkan masalah yang dihadapi kaum tersebut.  Sehingga jika fungsi datuk ini bisa dilaksanakan secara maksimal oleh mereka yang mendapatkannya, maka akan berkuranglah tugas aparat yang menjaga ketertiban masyarakat, seperti polisi, dan juga fungsi lainnya.

Datuk juga bertugas melindungi kaumnya dari masuknya budaya negatif yang akan menjauhkan mereka dari identitas adat budaya dan agama. Datuk juga bertugas agar kaumnya hidup sejahtera dengan memotivasi dan juga mencari solusi.

Tugas seorang datuk memang sungguh banyak dan juga berat. Oleh karena itu, jika seluruh datuk yang ada mampu secara maksimal melaksanakan tugasnya, maka kondisi masyarakat akan semakin baik kualitasnya. Kriminalitas, pengangguran, tawuran, penyakit masyarakat, insya Allah akan semakin mudah ditekan jika setiap datuk mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan pemerintah pun akan semakin terbantu sehingga bisa mempercepat proses pembangunan daerah.

Maka seorang datuk harus pula menjaga integritasnya agar mampu berdiri di tengah dan berlaku adil. Sehingga bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat dukungan dari kaumnya.

Terkhusus untuk Bpk Nasrul Abit, pengukuhan gelar kepadanya ini menurut saya suatu hal yang istimewa. Karena sebetulnya sudah lama sekali beliau diminta untuk menjadi datuk tetapi beliau tidak penuhi permintaan itu. Namun setelah tidak ada lagi orang yang bisa diangkat menjadi datuk di kaumnya, maka Bpk Nasrul Abit memenuhi permintaan tersebut.

Sebelum memenuhi permintaan pengangkatan datuk tersebut, Bpk Nasrul Abit juga bertanya kepada saya dan meminta pendapat saya. Maka saya memberikan pendapat bahwa sebaiknya beliau menerima permintaan kaumnya ini. Saya menyampaikan pandangan demikian karena sejauh yang saya amati, beliau adalah sosok yang memang sudah patut menjadi datuk.

Rekam jejak beliau selama ini di pemerintahan dan juga cara berkomunikasi dengan masyarakat, menurut saya sudah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi datuk.

Bpk Nasrul Abit dalam pandangan saya, bukanlah tipe orang yang menjadikan gelar datuk sebagai pemanjang nama saja. Tetapi lebih dari itu, beliau akan menjadikan nama datuk yang disandangnya sebagai sebuah amanah untuk memberikan kebaikan kepada masyarakat di kaumnya.

Semoga dengan pengalaman hidup yang sudah dialami oleh Bpk Nasrul Abit selama ini, terutama pengalaman di pemerintahan, insya Allah beliau akan mampu menjadi datuk yang baik di mata kaumnya. Aamiin. ***

Singgalang, 23 Februari 2017

 

205. 2017-03-03 [Padek] Gerakan Sumbar Membaca

GERAKAN SUMBAR MEMBACA

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 24 Februari 2017 lalu saya menghadiri acara Minang Book Fair yang bertempat di Masjid Raya Sumbar. Acara ini juga turut dihadiri oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI M. Syarif Bando, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Rozanti Rosalina, Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, mantan Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal dan Musliar Kasim, Bupati/Wali Kota di Sumbar, Rektor PTN dan PTS di Sumbar, kepala OPD Prov. Sumbar, perantau, Ketua Umum Yagemi (Yayasan Gemar Membaca Indonesia) Firdaus Umar serta para stakeholders terkait.

Pada acara ini saya selaku Gubernur Sumbar mendapat penghargaan dari Perpustakaan Nasional RI dan Ikapi yaitu Piagam Literasi, diberikan kepada saya atas sumbangsih terhadap pengembangan literasi di Sumbar. Saya ucapkan terima kasih atas penghargaan ini. Semoga bisa semakin memotivasi saya ke depannya untuk mengajak masyarakat di Sumbar giat dan gemar membaca sehingga mempercepat kemajuan daerah.

Acara Minang Book Fair ini merupakan kegiatan positif yang bisa menarik minat masyarakat untuk giat membaca. Saya melihat antusiasme pengunjung yang datang ke acara tersebut. Acara ini juga memberikan peluang para penerbit buku untuk memperluas penjualan produk mereka. Semoga acara Minang Book Fair ini bisa dilaksanakan secara rutin sebagai salah satu wadah para pecinta buku, masyarakat dan juga penerbit, toko buku, distributor, penulis dan stakeholders untuk bertemu sehingga terjadi aktivitas yang saling menguntungkan.

Acara Minang Book Fair juga didukung oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Sumbar yang merupakan wujud dukungan pemerintah terhadap kegiatan yang bisa menggalakkan orang mencintai buku dan semakin gemar membaca. Saya berharap acara ini sukses terselenggara sehingga bisa memotivasi segenap masyarakat dan juga pemerintah untuk terus menggalakkan cinta buku dan gemar membaca. Dengan berbagai acara yang digelar seperti bedah buku dan talk show serta tabligh akbar membuat acara ini semakin menarik untuk dikunjungi.

Pada acara Minang Book Fair ini juga dicanangkan deklarasi Gerakan Sumbar Membaca di mana Gubernur mengajak Bupati dan Wali Kota juga Wali Nagari, Lurah dan Kepala Desa untuk menggerakkan masyarakat untuk gemar membaca dengan membelikan buku dari anggaran yang tersedia. Misalnya dari alokasi dana desa, dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kota, Kabupaten, Provinsi maupun dari perusahaan berupa CSR (Corporate Social Responsibility) serta APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) maupun bantuan dari perantau.

Mekanismenya, di setiap nagari, lurah atau desa akan disediakan buku di tempat yang bisa diakses oleh publik seperti perpustakaan masjid,  kantor wali nagari, atau tempat lainnya yang bisa diakses oleh publik. Targetnya, setiap orang yang ada di masing-masingnya keluarga yang sudah cukup umur bisa membaca dua buah buku dalam satu bulan, sehingga dalam satu tahun bisa membaca 24 buah buku.

Gerakan Sumbar Membaca membutuhkan dukungan dari seluruh pihak dan lapisan masyarakat. Karena jika hanya mengandalkan Pemprov Sumbar saja, memiliki keterbatasan jangkauan dan kemampuan. Tapi jika gerakan ini didukung oleh pemda di kabupaten/kota, stakeholders pendidikan, segenap lapisan masyarakat, pihak swasta, perantau, maka insya Allah gerakan ini akan membuahkan hasil.

Insya Allah, jika gerakan membaca ini bisa berjalan dengan baik, maka akan mempercepat kemajuan yang bakal diraih. Kemajuan yang dimaksud adalah hasil dari intensitas masyarakat membaca buku. Data dan fakta menunjukkan bahwa sebuah wilayah yang penduduknya gemar membaca dan banyak membaca buku maka wilayah tersebut mengalami kemajuan pesat.

Maka, selain kepada masyarakat melalui keluarga, Pemprov Sumbar juga akan berupaya memasukkan gerakan membaca ini kepada pelajar SMA dengan menugaskan Dinas Pendidikan Provinsi. Para pelajar akan ditugaskan membaca buku sebanyak dua buah dalam sebulan dan membuat intisari, ringkasan, atau sinopsis. Dan ini akan menjadi syarat untuk keluarnya nilai di rapor.

Memang ada kesan ini “dipaksa”. Namun ini sesungguhnya sebuah motivasi atau pembelajaran agar mereka semakin giat dan banyak membaca. Di samping itu, perpustakaan daerah dan sekolah pun akan diusahakan untuk diperbanyak jumlah bukunya guna mendukung gerakan membaca ini.

Jika kita membaca lagi sejarah, kita tentu tidak lupa dengan para tokoh dan pahlawan yang berasal dari ranah Minang, yang semuanya bisa dikatakan memiliki budaya membaca yang sangat baik sehingga mampu menjadi ulama terkenal, politisi handal, diplomat, intelektual, pujangga kenamaan, wartawan yang disegani, penulis terkenal dan profesi lain yang dimulai dengan budaya membaca yang baik. Maha Benar Allah yang menjadikan wahyu pertama berupa perintah untuk membaca yang terdapat dalam surat Al Alaq ayat 1.

Semoga Gerakan Sumbar Membaca yang ditujukan khususnya kepada masyarakat dan pelajar ini didukung oleh semua pihak sehingga bisa mempercepat kemajuan masyarakat di Sumbar. Dan dampak positifnya pun insya Allah akan kembali kepada masyarakat. ***

Padang Ekspres 3 Maret 2017

 

206. 2017-03-09 [Singgalang] Sepak Bola Sebagai Pemersatu

Sepak Bola Sebagai Pemersatu

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 2 Maret 2017 lalu saya turut memberikan dukungan kepada Semen Padang FC yang bertanding melawan Arema FC di GOR H. Agus Salim, Padang. Turut hadir pula pada kesempatan itu Kapolda Sumbar, jajaran Forkompimda, Dirut PT Semen Padang, Dirut Bank Nagari, Bupati Padang Pariaman, Anggota DPR RI dan juga dari kalangan partai politik.

Alhamdulillah pada pertandingan tersebut Semen Padang FC berhasil meraih kemenangan yang diperoleh melalui tendangan penalti. Pencapaian 8 besar yang disusul ke 4 besar di Piala Presiden sesungguhnya sebuah kebanggaan bagi masyarakat Sumbar. Saya mengapresiasi pencapaian ini.

Dan pada pertandingan tandang Semen Padang FC di kandang Arema pada 5 Maret 2017 lalu, Semen Padang mampu terlebih dahulu mencetak skor 2-0, meskipun pada skor akhir menjadi 2-5. Kepada pelatih utama Nil Maizar beserta jajaran official saya sampaikan apresiasi atas pencapaian yang sudah didapat Semen Padang FC. Insya Allah banyak hal yang bisa dijadikan hikmah dari peristiwa yang sudah dialami.

Saat ini, sepak bola adalah salah satu media yang mampu membangkitkan semangat masyarakat. Semen Padang FC yang membawa nama Sumbar mendapat dukungan penuh masyarakat Sumbar maupun perantau. Segala perbedaan apa pun yang ada di masyarakat mampu dihilangkan ketika memberikan dukungan kepada tim kebanggaan daerah mereka.

Sepak bola juga bisa menjadi wadah pemersatu dan memelihara semangat kebersamaan. Para tokoh politik yang memiliki perbedaan pendapat, kepentingan, dan pandangan, bisa bersatu untuk memberikan dukungan kepada tim sepak bola yang mereka dukung. Perbedaan yang kerap ada mampu ditiadakan demi untuk mendukung tim kesayangan. Ini dibuktikan dengan kehadiran pada tanggal 2 Maret di GOR Agus Salim, beberapa orang dari partai politik yang bersama-sama turut memberikan dukungan kepada Semen Padang FC. Di antara mereka yang hadir adalah H. Wen dari Nasdem, Refrizal dari PKS, Andre Rosiade dari Gerindra, Ali Mukhni dari PAN, dan lainnya.

Sepak bola mengajarkan sportifitas, kerja sama, kerja keras, sehingga memberikan aura positif kepada para pendukung timnya masing-masing. Dan aura positif ini sepertinya mampu masuk ke dalam sanubari masyarakat pendukungnya. Maka tak heran bila dalam memberi dukungan kepada tim kesayangan, kebersamaan dan persatuan mampu ditonjolkan.

Hal semacam ini sesungguhnya juga turut membantu jalannya pembangunan daerah. Oleh karena itu, pada periode pertama saya menjabat Gubernur telah dilakukan persiapan pembangunan stadion utama yang berlokasi di Kab. Padang Pariaman. Mudah-mudahan pada periode kedua saya menjabat Gubernur stadion utama tersebut bisa diselesaikan pembangunannya.

Adanya stadion yang representatif ini sebagai upaya pemerintah memfasilitasi pembangunan di bidang keolahragaan. Olah raga yang mengajarkan sportifitas seperti sepak bola mampu menjadi wadah pemersatu masyarakat. Dan dengan stadion yang memenuhi syarat, insya Allah akan membantu dunia persepakbolaan di Sumbar untuk  lebih maju lagi dan masyarakat pun bisa terpenuhi kebutuhannya akan stadion yang baik.

Menang atau kalah yang diterima oleh Semen Padang FC, saya yakin tetap mendapat dukungan dari masyarakat Sumbar. Apalagi sudah bisa masuk ke empat besar Piala Presiden yang merupakan prestasi tersendiri dan baru pertama kali. Persatuan dan kebersamaan masyarakat dalam mendukung tim kesayangannya ini adalah bagian penting untuk membangun kehidupan yang bermartabat dan harmonis di Sumbar.

Semoga dengan persatuan dan kebersamaan, kita juga bisa merasakan kebangkitan kembali persepakbolaan di Sumbar. Tidak bisa dipungkiri bahwa prestasi yang sudah diperoleh Semen Padang FC juga turut menjadikan masyarakat Sumbar bangga karena turut mengharumkan nama Sumbar di pentas nasional.  Mari kita doakan yang terbaik untuk sepak bola Sumbar. ***

Singgalang, 9 Maret 2017

 

207. 2017-03-16 [Padek] Pemanfaatan Lahan Pertanian

Pemanfaatan Lahan Pertanian

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 13 Maret 2017 lalu saya menghadiri acara rakor para penyuluh pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas komoditas pertanian di Hotel Kyriad Bumiminang, Padang. Rakor ini juga dalam rangka mendukung program pemerintah pusat untuk mencapai target swasembada pangan dengan melakukan upaya khusus (upsus) yang dimotori oleh Kementerian Pertanian. Hal ini sudah menjadi perhatian khusus pemerintah pusat, provinsi dan juga kota/kabupaten se Indonesia. Dan juga sudah masuk dalam RPJM Nasional dan Daerah tentang ketahanan pangan. Serta tertuang dalam Nawacita (Pemerintah Pusat) serta visi misi dan program prioritas (Sumbar).

Swasembada pangan dan ketahanan pangan dilakukan karena merupakan kepentingan rakyat banyak agar tidak terjadi kekurangan pangan. Oleh karena itu, program ketahanan pangan ini perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah provinsi, kota/kabupaten, perbankan, masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya. Untuk itu, hal yang sangat penting sekali adalah tersedianya lahan pertanian yang memadai.

Lahan yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian di satu sisi sesungguhnya masih cukup banyak. Namun tidak sedikit yang belum digunakan secara maksimal.  Hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Penyebabnya juga beragam, seperti belum masuknya jalur irigasi, pemilik lahan tinggal di luar provinsi (perantau), atau ketiadaan modal untuk menggarap. Selain itu, ada pula lahan yang baru saja panen namun setelah itu cukup lama dibiarkan.

Dengan melihat berbagai sebab tersebut dan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, pemerintah menyediakan peluang bagi mereka yang ingin menggarap lahan pertanian. Di antaranya ada KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk sektor pertanian, dan bantuan dari Kementerian Pertanian untuk mempercepat proses penanaman seperti penggunaan traktor. Juga program cetak sawah, bantuan benih, pupuk, penyuluh dan irihasi. Selain itu pemerintah pusat juga telah menggandeng TNI (Tentara Nasional Indonesia) untuk membantu terlaksananya pemanfaatan lahan pertanian sekiranya lahan yang ada dengan berbagai sebab tidak digarap sehingga kurang produktif.

Dalam pelaksanaannya, petani dan pemilik lahan bisa bekerjasama dengan berbagai pihak. Jika pemilik lahan tidak mengerjakan sendiri lahannya, maka bisa meminta bantuan atau bekerja sama dengan pihak lain yang memiliki kemampuan, misalnya kepada TNI yang selama ini sudah banyak berperan dalam mensukseskan program pemerintah. Pemilik lahan akan mendapat bagian dari hasil pengolahan lahannya. Berapa nilai besarannya, tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Pemerintah memang berkepentingan terhadap pemanfaatan lahan-lahan kosong dalam rangka ketahanan pangan. Berbagai cara sudah banyak dilakukan. Bahkan termasuk melakukan cetak sawah baru.  Dengan pertambahan jumlah penduduk, lahan pertanian turut mengalami pengurangan. Karena sebagian lahan tersebut digunakan untuk pembangunan pemukiman penduduk. Sebagian lagi digunakan untuk kepentingan umum seperti pembangunan jalan dan jembatan. Belum lagi lahan pertanian yang tidak terpakai secara maksimal.

Untuk itu, antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah ini dengan menawarkan pengelolaan lahan pertanian bertujuan menjaga ketersediaan pangan masyarakat dan bagi pemilik lahan bisa mendapatkan keuntungan dari pengelolaan lahannya. Beras tersedia berarti tidak terjadi inflasi dan tidak perlu impor. Petani diuntungkan, rakyat pun untung.

Kondisi alam Indonesia yang dikaruniai tanah yang subur sudah sepantasnya disyukuri dengan memaksimalkan pemanfaatannya. Rasanya kita kurang bersyukur jika alam yang subur ini tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Di saat negara lain kesulitan lahan untuk menanam tanaman pangan mereka, maka di Indonesia justru lahan yang ada melimpah dan subur. Bahkan syair lagu Koes Plus pun menyebut “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” untuk menggambarkan suburnya alam Indonesia. Untuk itu, jangan sampai Allah menghukum kita dengan kekurangan pangan padahal lahan yang bisa dimanfaatkan masih banyak untuk menyediakan kebutuhan pangan.

Oleh karena itu, semoga kesadaran akan pentingnya ketersediaan pangan dalam rangka ketahanan pangan ini dimiliki oleh seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian. Sehingga kita bisa bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan dengan memaksimalkan pemanfaatan lahan pertanian. Dan bagi masyarakat pemilik lahan, diharapkan bisa memaksimalkan lahan mereka dengan berbagai cara. ***

Padang Ekspres, 16 Maret 2017

 

208. 2017-03-23 [Singgalang] BI, Inflasi, dan Pangan

BI, Inflasi dan Pangan

Oleh :  Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 17 Maret 2017 lalu saya menghadiri  acara panen cabai di Payakumbuh. Saya agak terkejut  melihat sosok yang sehari-hari mengurusi masalah moneter juga turut hadir yaitu  Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan  Sumbar Bpk. Puji Atmoko. Di samping itu juga hadir jajaran Pemko Payakumbuh seperti Wali Kota Payakumbuh Bpk. Riza Falepi beserta staf, Pimpinan DPRD Payakumbuh  dan Forkompimda Payakumbuh.

Kehadiran Kepala Perwakilan BI bagi saya cukup menarik. Karena selama ini biasanya BI terkonsentrasi dalam urusan moneter yang lebih cenderung kepada sektor keuangan, seperti pengendalian inflasi. Sementara urusan sektor riil baru digawangi oleh pihak eksekutif yaitu jajaran pemerintah, dari pusat hingga daerah.

BI ternyata kini juga turut berperan aktif di sektor riil, di antaranya dengan memberdayakan sumberdaya manusia (SDM) petani dengan anggaran yang dimiliki BI. Salah satu yang bisa dilihat adalah seperti di Payakumbuh. Di sini telah dilakukan pembinaan beberapa kelompok tani untuk menghasilkan panen hortikultura yang berkualitas dengan jumlah yang memuaskan pula.

Kelompok tani ini difasilitasi oleh BI termasuk  melakukan studi banding ke Garut untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih baik lagi, seperti pengetahuan tentang benih yang bagus dan cara tanam yang baik. Selain di Payakumbuh, BI juga melakukan pembinaan kepada petani bawang di Sungai Nanam Kab. Solok dan juga merambah ke sektor peternakan di Kinali dan Padang Panjang. Apa yang dilakukan BI ini juga turut didukung oleh Dinas Pertanian Provinsi dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kementerian Pertanian.

BI bersama Dinas Pertanian dan BPTP bersama-sama membina petani di Payakumbuh untuk menghasilkan produk hortikultura berkualitas dan hasil panen yang memuaskan seperti cabai, timun dan bawang. Alhamdulillah, saya lihat dukungan BI ini memunculkan dampak positif bagi petani.

BI kini telah aktif berperan dalam mendukung ketahanan pangan. Hal yang tak kalah pentingnya dengan pengendalian inflasi. Selama ini dalam TPID (Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah), BI selalu berada di depan berusaha bersama-sama mengendalikan inflasi.

Masuknya BI ke sektor riil yang strategis yaitu ketahanan pangan juga langsung masuk ke jantung permasalahan, yaitu SDM petani. Masalah SDM petani ini juga sudah sering saya sampaikan di berbagai forum dan acara terkait. Penting disadari bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan petani tidak melulu dikaitkan dengan persoalan lahan, irigasi, benih, pupuk dan pascapanen. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah pola pikir atau mind set dari petani itu sendiri.

Para petani melakukan kerja mereka selama ini umumnya mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh orangtua mereka atau para pendahulunya. Karena hanya secara turun temurun maka hasil yang  diperoleh tidak maksimal untuk saat sekarang, meskipun pada waktu lampau mungkin dengan pengetahuan pada masa itu sudah bisa mendapatkan hasil yang baik. Hal ini lantaran belum diterimanya dengan baik berbagai teknologi pertanian yang sudah dihasilkan oleh lembaga terkait.

Jika pada masa lampau dengan pengetahuan yang ada bisa didapat 4 ton padi per hektar misalnya, maka pengetahuan yang turun ke petani saat ini tanpa diikuti dengan teknologi pertanian baru, hasilnya pun tetap 4 ton. Padahal sangat mungkin hari ini satu hektar bisa menghasilkan 8 ton padi.

BI mencoba melakukan perubahan pola pikir petani dengan memberikan pengetahuan yang terbaru agar dapat menghasilkan panen yang berkualitas dan juga berlimpah. Sehingga jika orangtuanya memberikan pengetahuan untuk panen 4 ton, maka dengan cara terbaik (best practice) bisa menghasilkan 8 hingga 10 ton.

BI juga mengadakan sekolah lapangan yang dibantu oleh para penyuluh untuk mengubah pola pikir petani menjadi lebih maju dalam hal cara menaman, memilih benih dan lainnya.

Sulitnya mengubah pola pikir petani karena mereka masih sulit menerima hal seperti berikut, bahwa ilmu pengetahuan dan hasil kajian menyimpulkan bahwa padi tanam sebatang bisa lebih banyak menghasilkan dibanding padi tanam serumpun. Mereka berpikir serumpun saja banyak apalagi sebatang. Padahal justru dengan hanya sebatang itu memberikan ruang gerak bagi padi untuk bertumbuh lebih pesat dibanding serumpun.

Demikian pula mengajak menjarakkan tanam padi 20-25 cm (jajar legowo) yang hasilnya bisa lebih banyak, masih dianggap kurang menguntungkan dibanding menanam dengan jarak 10 cm. Dalam pikiran petani, jika jarak 20 cm bisa mendapatkan hasil kurang (karena jadi sedikit benih yang ditanam) apalagi dibandingkan 10 cm. Padahal salah satu hasil kajian menunjukkan bahwa dengan jarak yang lebih lebar sinar matahari bisa menyinari padi lebih baik lagi. Tentu banyak cara pikir petani lainnya yang juga perlu diperbaiki.

Saya mengapresiasi langkah BI ini yang langsung masuk ke jantung masalah pertanian yaitu SDM petani. Mudah-mudahan langkah BI ini untuk mengubah pola pikir petani bisa berjalan baik sehingga petani bisa mengubah pola pikir mereka dan menerima berbagai hasil kajian baru yang sudah didapat melalui berbagai penelitian dan pengamatan para ahli pertanian.

Insya Allah, upaya BI ini akan memberikan dampak signifikan kepada ketahanan pangan, dan dalam jangka panjang juga berdampak kepada stabilitas inflasi yang lebih terkendali. *⁠**

Singgalang, 23 Maret 2017

 

209. 2017-03-29 [Padek] OJK dan Pangan

OJK dan Pangan

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 24 Maret 2017 bertempat di Lembah Harau Kab. 50 Kota, saya menghadiri acara yang digagas oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Pusat yang dinamai “Aksi Pangan”, singkatan dari Akselerasi, Sinergi, Inklusi Pangan. Acara ini rencananya dihadiri oleh Presiden RI Bpk Joko Widodo. Namun karena beliau berhalangan maka diwakili oleh Menteri Koordinator Perekonomian Bpk. Darmin Nasution.

Acara ini juga turut dihadiri oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Bpk. Muliaman D.  Hadad, Anggota Dewan Komisioner OJK Ibu Nurhaida, Anggota DPR RI Bpk. Refrizal, Bupati 50 Kota Bpk. Irfendi Arbi, pejabat Kementerian Pertanian, Perdagangan, dan Agraria, dan para pimpinan lembaga keuangan (bank dan asuransi) di bawah naungan OJK.

Saya memberikan apresiasi kepada OJK yang turut mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan agar ketersediaan pangan bisa tetap dijaga, terutama 11 komoditas utama pangan. Ketahanan pangan ini juga bagian dari Nawa Cita atau program prioritas Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla yang masuk dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Nasional. Dan masuk pula di dalam RPJM Sumbar.

Ketahanan pangan adalah hal yang sangat penting. Untuk itu kepedulian OJK insya Allah akan memberikan kontribusi positif kepada petani sehingga turut menjaga ketersediaan pangan. Seperti kita ketahui bersama, selama ini petani umumnya di posisi marginal atau sulit mendapatkan akses ke perbankan untuk permodalan mereka. Padahal mereka sangat membutuhkan peningkatan modal dan alat-alat pertanian yang bisa meningkatkan produktivitas mereka sehingga bisa meningkatkan hasil panen dan sekaligus meningkatkan pendapatan. Dengan masuknya perbankan ke sektor pertanian maka secara perlahan dan bertahap akan mengubah kehidupan petani lebih baik lagi.

Selain masalah permodalan, masuknya OJK ke sektor pertanian juga dalam rangka memberikan penjaminan kepada petani. Petani yang tidak memiliki jaminan ketika mengajukan pembiayaan akan dibantu. Memang di satu sisi sudah ada KUR (kredit usaha rakyat)  khusus pertanian yang tidak memerlukan jaminan untuk nilai tertentu. Namun OJK pun akan memberikan bantuan penjaminan jika petani mengajukan tidak melalui KUR atau pinjaman yang cukup besar.

Tidak cukup sampai di situ saja, OJK pun akan membantu petani dari hulu hingga ke hilir. Di hulu, petani akan dibantu masalah pengembangan diri (capacity building), penyiapan lahan, pemilihan benih, mekanisasi pertanian dan lainnya sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan hasil panen pun turut meningkat. Dan di hilir petani dibantu dengan dipertemukan pengusaha atau pihak yang akan membeli hasil pertanian. Petani dibantu pemasaran dan penjualan produknya sehingga makin terjamin pendapatannya. Sehingga mampu mengembalikan pinjaman mereka ke bank dan semakin meningkatkan daya aksesnya ke bank.

Sesuai dengan nama programnya, akselerasi, maka OJK memang menginginkan terjadinya akselerasi kehidupan para petani sehingga produktivitaspun turut mengalami akselerasi. Sinergi, OJK ingin perbankan, pemerintah, petani dan pengusaha melakukan sinergi agar petani semakin meningkat kesejahteraannya dan juga berkontribusi signifikan kepada ketahanan pangan. Inklusi, OJK ingin petani juga bagian dari inlusi keuangan yang tidak saja menabung tetapi juga mendapatkan pembiayaan dan menjadikan bank bagian tak terpisahkan dalam kehidupannya.

Dengan program Aksi Pangan tersebut, maka secara perlahan dan bertahap OJK telah berperan dalam peningkatan kesejahteraan petani, sekaligus peningkatan ketahanan pangan. OJK melalui Aksi Pangan telah memberikan sistem terpadu kepada petani sehingga petani bisa mendapatkan hasil dan kehidupan yang lebih baik lagi. Pembinaan, pendidikan, dan pendampingan kepada petani yang digagas oleh OJK juga memperlihatkan bahwa petani tidak dilepas begitu saja karena OJK memiliki target yang jelas. Untuk menjalankan program Aksi Pangan ini, OJK akan menggaet seluruh pemangku kepentingan agar program ini sukses.

Saya mengharapkan agar para petani semaksimal mungkin memanfaatkan peluang ini. Karena ini merupakan peluang yang sangat baik bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, meningkatkan kapasitas mereka, meningkatkan akses permodalan mereka, dan juga bekerja sama  atau sinergi dengan pihak-pihak yang bisa memberikan kebaikan bagi petani.

Semoga dukungan yang baik dari OJK ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat yang ujungnya adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Tak lupa, berbagai peluang meningkatkan pendapatan ini juga harus disyukuri, karena semakin disyukuri insya Allah akan bertambah lagi yang didapat.

Padang Ekspres, 29 Maret 2017

210. 2017-04-05 [Singgalang] Save Maninjau

Save Maninjau

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 22 Maret 2017 lalu saya menghadiri peringatan Hari Air se Dunia ke-25 di kawasan Muko-Muko Danau Maninjau Kab. Agam. Acara ini turut dihadiri oleh Bupati dan Wabup Agam dan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, tim Revitalisasi Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, dan pemangku kepentingan terkait.

Tema Hari Air Dunia kali ini adalah “Air dan Air Limbah”. Tema ini sangat erat hubungannya dengan kondisi danau Maninjau saat ini. Danau Maninjau adalah salah satu sumber air di Sumbar. Dan kegunaannya pun beragam. Orang sudah mengenal Danau Maninjau sebagai salah satu destinasi pariwisata di Sumbar dilengkapi dengan kelok 44 yang sudah digunakan untuk acara berskala dunia yaitu Tour De Singkarak.

Namun Danau Maninjau juga merupakan sumber untuk pembangkit listrik tenaga air. Dan bagi warga sekitar Danau Maninjau, mereka selama ini mendapatkan air untuk irigasi dan air bersih dari situ. Dan yang kini menjadi perhatian utama adalah banyaknya keramba jala apung (KJA) di Danau Maninjau dengan jumlah yang tak terkendali. Hal ini menyebabkan Danau Maninjau mengalami pengendapan, di antaranya pengendapan racun dari keberadaan KJA tersebut.

Ketersediaan air bersih pun menjadi terkendala akibat munculnya racun yang berbahaya di Danau Maninjau ini. Air bersih dibutuhkan oleh makhluk hidup, baik manusia, tumbuhan dan hewan. Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, hidup manusia akan terganggu. Untuk itu, bersama-sama kita harus menjaga ketersediaan air bersih ini.

Danau Maninjau adalah salah satu sumber air bersih. Namun justru ada yang kekurangan air bersih di sekitar danau, baik untuk minum maupun mengairi sawah. Danau Maninjau tidak lagi bisa menjadi sumber air bersih karena tingginya kandungan limbah di sana. Sehingga menyebabkan kematian ikan di sana, termasuk makhluk hidup lainnya yang ada di danau.

Permasalahan Danau Maninjau perlu pengkajian lebih dalam lagi untuk menyelamatkan keberadaannya. Yang saat ini cukup memprihatinkan adalah keberadaan keramba jala apung yang tidak terkendali. Di mana akibat dari kondisi tak terkendali ini menyebabkan kematian ikan. Belum lagi banyaknya makanan ikan yang kemudian juga menjadi penyebab kematian ikan dan tercemarnya air danau.

Untuk itu memang diperlukan zonasi yang jelas untuk menjadikan Danau Maninjau sehingga tetap mampu menjadi sumber air bersih untuk warga sekitarnya. Dan warga yang mencari nafkah dari Danau Maninjau tetap bisa berjalan.

Menyangkut masalah limbah dan racun yang muncul di Danau Maninjau memang perlu pengkajian yang lebih dalam lagi karena penyebabnya secara kasat mata bisa dilihat, namun tetap harus ada penjelasan ilmiah yang obyektif untuk hal ini. Sehingga keputusan yang nanti diambil sudah merupakan keputusan yang tepat dan adil untuk semua pihak yang berkepentingan.

Ada 7 program strategis yang sedang dijalankan terkait Danau Maninjau ini yaitu: pengelolaan ekosistem danau, pemanfaatan sumber daya air danau, mengembangkan sistem monitoring evaluasi dan informasi, langkah-langkah baik dari  informasi yang diperoleh, pengembangan kapasitas kelembagaan dan koordinasi, peningkatan peran masyarakat dalam bentuk pencegahan (preventif) atau penyelesaian masalah (solutif), dan pendanaan yang berkelanjutan.

Gerakan Save Maninjau dalam rangka menyelamatkan Danau Maninjau perlu didukung oleh kita bersama. Karena sesungguhnya gerakan ini juga mengajak diri kita memperhatikan dan untuk lebih peduli terhadap ketersediaan air bersih. Dan disamping itu kita juga harus peduli terhadap air limbah. Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubah apa yang ada pada dirinya. ***

 

Singgalang, 5 April 2017

 

211. 2017-04-11 [Padek] Polda Sumbar Naik Tipe

Polda Sumbar Naik Tipe

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

 

Pada 3 April 2017 lalu saya menghadiri acara peresmian penaikan status Polda Sumbar dari tipe B menjadi tipe A. Acara ini langsung dihadiri oleh Kapolri Bapak Tito Karnavian dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Bapak Asman Abnur. Bersamaan dengan penaikan status Polda di NTT dan Maluku. Acara di NTT dihadiri Wakapolri dan Maluku dihadiri Irwasum.

Kenaikan tipe ini berpengaruh signifikan bagi jajaran internal Polda Sumbar. Dengan naiknya tipe, maka bertambah pula jumlah personel di jajaran Polda Sumbar. Di samping itu, pemimpin tertinggi (Kapolda) yang tadinya jenderal bintang satu berubah menjadi bintang dua. Dan Wakapolda menjadi bintang satu.

Dengan kenaikan tipe ini, maka semakin banyak tenaga kepolisian yang menjalankan perannya di masyarakat sesuai tugasnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Sumbar yang merupakan wilayah yang terdiri dari pegunungan, bukit, lembah, dataran tinggi dan rendah, selama ini sudah dikenal dengan munculnya berbagai bencana yang muncul akibat kondisi alam tersebut, seperti banjir, longsor, gempa, tsunami, gunung merapi dan lainnya.

Maka dengan bertambahnya personel kepolisian di Sumbar ini, akan memberikan dukungan yang lebih besar lagi dalam melakukan upaya-upaya penyelamatan korban dan masyarakat terhadap berbagai bencana yang terjadi di Sumbar. Bahkan jika terjadi bencana di beberapa wilayah, peran personel kepolisian yang lebih banyak terjun membantu akan bisa semakin dirasakan. Di samping itu, dengan jabatan jenderal bintang dua, Kapolda akan semakin mudah untuk melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan tindakan penyelamatan.

Selain membantu upaya penyelamatan terhadap korban bencana, peran polisi dalam memerangi peredaran narkoba di Sumbar akan semakin besar dengan kenaikan tipe ini. Dan tentu saja, penanggulangan kejahatan di wilayah Sumbar pun akan semakin meningkat dengan kenaikan tipe ini.

Dengan kenaikan tipe ini juga akan turut mendukung terciptanya keamanan yang lebih kondusif bagi masyarakat. Semakin masyarakat merasakan keamanan, maka produktivitas dan kebahagiaan pun akan mengalami peningkatan. Dan ini juga akan mendukung investor dan pelaku usaha semakin betah berinvestasi dan berusaha di Sumbar. Selain itu, hal ini akan meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang makin berkualitas.

Kenaikan tipe ini ada yang mengatakan terlambat. Karena, seharusnya Sumbar lebih dulu dibanding Provinsi Kepulauan Riau dan Riau, karena kedua provinsi tersebut dulunya di bawah Polda Sumbar. Tapi, faktanya Kepri dan Riau sudah lebih dulu dibanding Sumbar. Namun, tetap patut disyukuri akhirnya naik tipe.

Selain peresmian penaikan status Polda Sumbar, Kapolri juga hadir dalam rangka memenuhi undangan Pengukuhan Gelar Sangsako Adat dari Suku Sikumbang Kamangmudiak, Kabupaten Agam yaitu Sutan Rajo Paga Alam dan untuk istri beliau Siti Linduang Alam, pada 2 April 2017.

Gelar ini diberikan karena setidaknya ada dua hal yang menjadi momentum sejarah bagi masyarakat Sumbar, yaitu bangunan kantor Polda Sumbar yang megah yang merupakan peran Pak Tito ketika menjabat Asrena (Asisten Perencana dan Anggaran) Polri. Beliau yang mendatangi Bappenas dan Menteri Keuangan untuk minta dianggarkan pembangunan Mapolda Sumbar yang baru, sehingga wujudnya bisa kita lihat pada saat ini.

Selain itu, di masa kepemimpinan Pak Tito sebagai Kapolri, kenaikan tipe Polda Sumbar diputuskan. Maka, berdasar peran Pak Tito yang turut berjasa dalam mendorong kualitas pelayanan kepolisian di  Sumbar inilah beliau diberikan gelar kehormatan.

Saya mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh H Boy Lestari Datuk Palindih dan juga Kapolda Sumbar yang keduanya berasal dari Suku Sikumbang, serta kaum Suku Sikumbang Nagari Kamangmudiak. Semoga itikad baik dalam memberikan penghormatan kepada Kapolri atas peran sertanya membangun Mapolda Sumbar yang megah dan kenaikan Tipe Polda menjadi Tipe A merupakan bentuk apresiasi positif masyarakat dalam menghargai mereka yang telah berpartisipasi aktif ikut  membangun Sumbar.

Dan saya pun turut memberikan selamat kepada Polda Sumbar atas kenaikan tipe ini. Semoga Pemprov dan Polda bisa beriringan langkah dalam membangun Sumbar dengan lebih baik lagi ke depannya.

 

Padang Ekspres, 11 April 2017

212. 2017-04-20 [Singgalang] TB dan Aisyiyah

TB dan ‘Aisyiyah

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 10 April 2017 lalu saya menghadiri acara ‘Aisyiyah Sumbar yang diadakan dalam rangka TB Day di Auditorium Gubernuran, Padang. Hadir pada kesempatan itu di antaranya, Ketua Umum PP (Pengurus Pusat) ‘Aisyiyah Ibu Siti Noordjannah Djohantini, Ketua PP ‘Aisyiyah Ibu Siti Aisyah, Ketua PW ‘Aisyiyah Sumbar Ibu Meiliarni Rusli, dan Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Bpk. Shofwan Karim serta beberapa Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Sumbar. Selain itu juga hadir ratusan kader ‘Aisyiyah dari berbagai daerah di Sumbar.

Pada acara tersebut juga diserahkan reward kepada kader ‘Aisyiyah dan amal usaha Muhammadiyah yang telah melakukan kampanye dan sosialisasi penanggulangan dan pencegahan tuberkolosis di Sumbar.

TB Day yaitu hari tuberkolosis sedunia, yang jatuh pada tanggal 24 Maret setiap tahunnya. Pada tanggal 24 Maret 1882, seorang ilmuwan bernama Robert Kuch mengumumkan bahwa ia telah menemukan sebab penyakit tuberkolosis yang sedang mewabah di Eropa dan Amerika sehingga menyebabkan kematian 1 dari 7 orang pada saat itu. Untuk mengenang jasanya, maka setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai hari tuberkolosis sedunia atau TB Day.

Berdasarkan data WHO Global Tubercolosis Report tahun 2016, Indonesia berada pada posisi kedua beban TB tertinggi di dunia. Dan TB adalah penyebab kematian nomor empat di Indonesia. Dari survei yang sudah diadakan, diperkirakan 0,65 persen dari penduduk Indonesia menderita TB. Sedangkan kasus yang bisa dideteksi sekitar 33 persen dari perkiraan jumlah penderita TB. Selain itu, hanya 26 persen masyarakat yang dapat mengetahui mengidentifikasi tanda dan gejala umum TB. Dan hanya 19 persen saja orang yang mengetahui bahwa pengobatan TB adalah gratis.

Dari sisi pemerintah, sosialisasi, pencegahan dan penanggulangan TB sudah dilakukan secara optimal, yaitu melalui Puskesmas, Rumah Sakit dan Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru. Bahkan RS Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi masuk ke dalam Top 99 Inovasi Publik Tahun 2016 yang diadakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) karena menerapkan inovasi bagi pasien TB.

RSAM (Rumah Sakit Achmad Muchtar) yang juga merupakan rujukan pengobatan TB di Sumbar telah menerapkan inovasi tigo tungku sajarangan dalam upaya mengobati pasien TB. Tiga pihak yang dimaksud adalah tenaga kesehatan yang melakukan upaya pengobatan dan perawatan pasien TB. Kemudian tenaga bidang kerohanian yang memotivasi pasien agar kuat mentalnya, sabar dalam menjalankan pengobatan, dan yakin akan pertolongan Allah. Dan yang ketiga adalah keluarga, yang memberikan dukungan penuh kepada pasien dalam menjalankan pengobatan. Alhamdulillah inovasi ini mendapat penghargaan dari Mentri PAN RB.

Sementara dari sisi masyarakat, pihak yang telah melakukan upaya sosialisasi masalah TB ini di antaranya adalah organisasi ‘Aisyiyah. Pada acara 10 April 2017 tersebut, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah menyampaikan apresiasinya kepada 196 kader ‘Aisyiyah Sumbar yang telah melakukan aksi ketuk pintu kepada 12.096 orang di Padang, Payakumbuh, Pariaman dan Solok untuk mensosialisasikan tentang TB sekaligus mengajarkan cara mendeteksi TB. Dan mereka juga ikut membawa dan mendampingi pasien TB ke puskesmas dan rumah sakit.

Saya juga turut memberikan apresiasi kepada segenap jajaran ‘Aisyiyah Sumbar yang telah ikut membantu memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang TB dan sekaligus membantu mereka yang terkena TB. Berdasar data yang saya peroleh, hingga 31 Maret 2017 ‘Aisyiyah Sumbar telah dapat menjangkau 485 orang terduga TB, 45 orang yang didampingi pengobatan TB selama 6 bulan, 38 orang pasien TB kebal obat akan didampingi sampai sembuh selama 2 tahun.

Menteri Kesehatan, Ibu Nila Djuwita Farid Moeloek pada 17 April 2017 lalu di Hotel Grand Inna Muara Padang, saat acara Rakerkesda, memberi apresiasi dan penghargaan atas kerja dan perjuangan kader kader ‘Aisyiyah tersebut.

Untuk sosialisasi TB tersebut, ‘Aisyiyah Sumbar memiliki 21 pelaksana program, 192 kader komunitas yang akan menjangkau sekaligus mendampingi pasien TB selama 6 bulan, 10 orang pasien supporter yang akan mendampingi pasien TB kebal obat selama 2 tahun, 80 orang mubaligh pria dan wanita yang akan memberikan informasi tentang TB di masyarakat, dan kelompok masyarakat peduli TB.

Jika organisasi ‘Aisyiyah telah berperan serta membantu pemerintah dalam mensosialisasikan dan menangani TB, maka bagi diri kita sendiri, juga bisa melakukan seperti yang sudah dilakukan oleh kader ‘Aisyiyah, dengan melakukan deteksi terhadap diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar. Jika ternyata ada anggota keluarga, saudara atau teman terkena TB, maka kita juga bisa beri keyakinan kepada mereka bahwa TB bisa disembuhkan, asal pengobatan dilakukan secara tertib dan disiplin. Karena satu orang yang tidak terdeteksi terkena TB dan tidak menjalani pengobatan bisa menularkan kepada 10-15 orang  dalam satu tahun jika melakukan kontak dekat.

Semoga dengan upaya yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah Sumbar dan juga masyarakat lainnya dalam mensosialisasikan, deteksi dini, mencegah dan menanggulangi TB, bisa lebih mengurangi lagi jumlah penderita TB di Sumbar. Insya Allah jika dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat, hasilnya akan lebih maksimal. ***

 

Singgalang, 20 April 2017

 

213. 2017-04-26 [Padek] Penanganan Konflik Sosial

Penanganan Konflik Sosial

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 20 April 2017 lalu saya memimpin rapat tim terpadu penanganan konflik sosial tingkat provinsi. Tim terpadu ini terdiri dari unsur Pemprov Sumbar, Kepolisian, TNI, Kejaksaan, dan Intelijen.

Tim terpadu penanganan konflik sosial dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Sumbar No. 270-212-2017 tanggal 20 Februari 2017. Adapun tugasnya adalah 1. Menyusun rencana aksi terpadu penanganan konflik sosial tingkat provinsi. 2. Mengkoordinasikan, mengarahkan, mengendalikan, dan mengawasi penanganan konflik sosial dalam skala provinsi. 3. Memberikan informasi kepada publik tentang terjadinya konflik dan upaya penanganannya. 4. Melakukan upaya pencegahan melalui sistem peringatan dini. 5. Merespon secara cepat dan menyelesaikan secara damai semua permasalahan yang berpotensi menimbulkan konflik. 6. Membantu upaya penanganan pengungsi dan pemulihan pasca konflik yang meliputi rekonsiliasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Keberadaan tim terpadu penanganan konflik ini memang dirasakan penting. Meskipun di Sumbar belum ada konflik sosial besar terjadi, namun tetap memerlukan tim terpadu penanganan konflik. Konflik yang kecil pun tetap perlu penanganan agar situasi tetap  terkendali. Misalnya saja masalah tanah yang sering menimbulkan konflik, meskipun tidak besar perlu diantisipasi sehingga tidak melebar dan membesar. Gerak cepat dan antisipasi perlu dilakukan guna menjaga kestabilan dan keamanan.

Alhamdulillah, beberapa tokoh yang pernah menjabat Kapolda Sumbar menyampaikan kepada saya bahwa Sumbar termasuk daerah yang minim dengan konflik sosial besar dan relatif aman. Ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih menginginkan kedamaian dan persatuan.

Survey persepsi rakyat Sumbar yang dilakukan oleh  Lembaga SBLF Research pada tanggal 7-12 April 2017 juga menggambarkan bahwa Sumbar aman. Hasil Survey 97,4% menyatakan bahwa  Sumbar aman dan indah. Juga dinyatakan sebesar 95,9% bahwa Sumbar sebagai tempat hunian yang nyaman.

Konflik sosial bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Penyebabnya adalah adanya perbedaan kepentingan, keinginan, suku, agama, ras, dan perbedaan lainnya yang ada antar manusia.

Terkait konflik sosial ini, dalam beberapa ayat Al Quran sudah ada peringatannya. Dalam surat Al Baqarah ayat 30 Allah SWT berfirman yang artinya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Meskipun malaikat menganggap penciptaan manusia akan menimbulkan konflik sosial sehingga menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah ternyata Allah SWT memberikan jawaban bahwa malaikat tidak tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia. Sementara itu di ayat lain, penciptaan manusia yang berbeda suku, bangsa dan lainnya ternyata justru untuk saling mengenal (membangun sikap positif) sehingga yang paling mulia adalah mereka yang paling bertakwa.

Dalam surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Berdasarkan dua ayat di atas, maka setiap kita harus mampu mengendalikan diri agar tidak memunculkan konflik sosial. Perbedaan yang ada seperti  suku, bangsa, ras, agama, adat, budaya, dan lainnya bukan untuk berbangga diri di satu sisi dan menjelekkan pihak lain di sisi lain. Tapi perbedaan itu harus menjadi sarana untuk saling kenal, memperkuat persatuan dan menjalin persaudaraan.

Kita yang hidup di Indonesia, dengan beragam budaya, adat, agama, bahasa, dan lainnya memang rentan muncul konflik. Untuk itu perlu keinginan kuat untuk meredam konflik yang akan terjadi. Sejarah sudah memperlihatkan bahwa kita adalah bangsa yang lebih mengutamakan kesamaan dan persatuan. Semangat sumpah pemuda yang satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa adalah salah satu contoh semangat untuk mengedepankan kebersamaan guna bersatu dibanding mengedepankan perbedaan. Demikian pula mosi integral Natsir yang memunculkan kembali NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Jika konflik besar terjadi, maka semua pihak terkait akan menanggung akibat dan kerugian yang timbul. Dampak negatif dan kerusakan akan lebih dominan. Maka sudah seharusnya kita bersama-sama mencegah terjadinya konflik. Menahan diri adalah sikap yang sangat baik karena selain berdampak positif kepada diri dan lingkungan juga akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, insya Allah.

Menjaga persatuan dan kesatuan adalah sikap yang harus selalu ada dalam diri kita sebagai manusia yang hidup bermasyarakat. Karena dengan sikap demikian kita bisa nyaman dalam beribadah, mencari nafkah, sekolah, mengaktualisasikan potensi diri, bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara. Sehingga kemajuan insya Allah akan lebih cepat diraih.

Mari kita bersama-sama menjaga daerah kita agar terhindar dari konflik sosial yang hanya akan menyebabkan kehidupan kita mengalami kerugian dan kemunduran. ***

 

Padang Ekspres, 26 April 2017

 

214. 2017-05-03 [Singgalang] Rantau Peduli

Rantau Peduli

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 28 April 2017 lalu di Lapangan Banteng Jakarta, saya membuka acara Kampoeng Minangkabau Culinary and Craft Festival yang terdiri dari stand makanan, minuman, kerajinan tangan, oleh-oleh, produk UMKM, promosi wisata, serta acara seni dan budaya, talk show dan bedah buku. Acara ini dikelola oleh para anak muda Minang di Jabodetabek. Mereka membiayai sendiri acaranya tanpa bantuan dana APBD, saya sangat mengapresiasi hal ini. Pada tempat dan acara yang sama saya juga menghadiri pengukuhan Koperasi Saudagar Minang Raya oleh Menteri Koperasi dan UMKM. Pembentukan koperasi ini mentargetkan 1 juta anggota koperasi dengan tujuan untuk berkontribusi bagi kampung halaman.

Minggu sebelumnya, 22 April 2017 saya juga menghadiri acara Minangpreneur Festival yang diadakan di Padang, diselenggarakan oleh Yayasan Minang Bandung Indonesia. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI Bpk. Triawan Munaf. Minangpreneur Festival mengumpulkan pengusaha muda pemula (start up) untuk kemudian diseleksi, yang lolos seleksi akan mendapatkan pelatihan gratis dengan tentor yang berasal dari CEO yang memiliki reputasi di bidangnya. Diharapkan muncul pengusaha yang tangguh dari acara ini dan dapat menularkan pengetahuan dan ilmu yang sudah didapat.

Beberapa kegiatan tersebut adalah bagian dari wujud kepedulian orang rantau kepada ranah Minang. Mereka ingin berkontribusi kepada kampung halamannya dengan cara yang mereka bisa. Dan tidak hanya acara seminar, festival dan sejenisnya yang dilakukan. Merekapun peduli akan kesulitan kampungnya. Saya masih ingat beberapa waktu lalu ketika terjadi banjir bandang di Kab. 50 Kota, ibu Nurhayati perantau asal Minang yang merupakan pemilik Wardah Kosmetik memberikan bantuan sebagai wujud kepedulian kepada ranah Minang. Saya turut membagikan bingkisan dari Wardah tersebut yang jumlahnya ribuan paket kepada masyarakat yang terkena musibah.

Minangkabau Cup yang perhelatannya masih berlangsung dan termasuk sukses penyelenggaraannya di Sumbar salah satunya dimotori oleh Hardimen Koto, orang rantau yang sudah tak asing lagi bagi para penonton acara sepakbola di stasiun televisi swasta. Dan juga dikenal sebagai wartawan senior.

Selaku Gubernur, saya mengapresiasi berbagai kegiatan/kreativitas yang dilakukan oleh para perantau yang berkeinginan memajukan Sumbar. Pemprov mendukung dan memfasilitasi kegiatan tersebut. Selama ini sudah banyak kegiatan orang rantau yang didukung dan difasilitasi oleh Pemprov, sesuai dengan aturan dan alokasi dana APBD yang berlaku.

Selama ini perhatian orang rantau kepada kampungnya selalu berterusan, tak putus-putusnya. Hal ini nampak di kampung-kampung, di mana jalan-jalan semakin bagus, masjid dan mushola semakin indah bangunannya, rumah-rumah di kampung dengan arsitektur baru kian bermunculan, rumah gadang diperbaiki dan diperkokoh. Fasilitas umum seperti sekolah, penerangan jalan, dan lainnya satu persatu mendapatkan bantuan dari perantau sehingga semakin baik. Ada juga orang rantau yang meskipun tidak banyak memiliki dana, tapi tetap ada yang disisihkan untuk membangun kampungnya. Dan ini mungkin hanya dimiliki oleh orang Minang.

Keinginan orang rantau berkontribusi untuk kampungnya sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga. Oleh karena itu Pemprov Sumbar selalu berupaya agar aset ini tetap terus terjaga. Dan untuk itu dalam organisasi di Pemprov ditunjuk seorang pejabat eselon dua untuk menangani urusan dengan orang rantau ini yang memimpin organisasi perangkat daerah dengan nama Biro Kerjasama dan Rantau. Juga diperkuat dengan Badan Penghubung yang berkantor di Jakarta.

Saya mengajak agar kita senantiasa memupuk kebersamaan antara rantau dan ranah. Karena kebersamaan dan kesatuan rantau dan ranah adalah aset sekaligus potensi besar orang Minang dalam membangun Sumbar. Karena seperti kita ketahui bahwa nilai PAD (Pendapatan Asli Daerah) Sumbar tidaklah besar. Pendapatan terbesar berasal dari pajak kendaraan bermotor (PKB). Sementara kontribusi orang rantau selama ini jika dinilai mungkin jauh lebih besar nilainya.

Untuk itu, memang ada yang harus kita hindari dan hilangkan agar aset kita ini terus berkembang menghasilkan kebaikan. Yaitu, kita hindari kecurigaan atau kecemburuan terhadap orang rantau yang memiliki keinginan untuk membangun kampungnya. Dan sebaliknya kita jauhkan prasangka bahwa orang ranah kurang melayani atau kurang menghargai niat baik orang rantau. Karena sejarah hidup manusia telah memperlihatkan bahwa kecurigaan dan penyakit hati hanya akan melemahkan kekuatan suatu kaum, tidak membawa kebaikan sama sekali. Sebaliknya kebersamaan, berbaik sangka, silaturahim, dan persatuan akan semakin menguatkan dan membawa kebaikan bagi kaum tersebut. Jika ini sudah terjadi lebih dahulu di tempat lain dan menghasilkan kemajuan dan kemakmuran, maka saya yakin kita pun bisa melakukannya.

 

Singgalang, 03 Mei 2017

215. 2017-05-10 [Padek] Ramadhan dan Pangan

Ramadhan dan Pangan

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 3 Mei 2017 lalu saya bersama Kapolda, jajaran OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Prov. Sumbar melakukan videoconference dengan Kapolri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Kepala Bulog dalam rangka persiapan penanganan alur distribusi barang dan jasa serta stabilitas harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Kegiatan ini dilakukan dengan seluruh gubernur se Indonesia.

Dua hal yang dibicarakan yaitu, ketersediaan pangan dan pengendalian harga, untuk menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri. Oleh para menteri disampaikan, ketersediaaan pangan secara nasional masih mencukupi, seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur ayam, tepung terigu, kedelai, cabe dan bawang. Sedangkan harga relatif terkendali, meskipun ada dinamika di situ.

Sebelum ini, dalam lingkup Sumbar saya juga melakukan rapat koordinasi dengan pihak BI, Bupati/Wali Kota dan OPD terkait untuk memeriksa ketersediaan pangan dan harganya di Sumbar. Serta membicarakan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan di Sumbar. Dan juga antisipasi yang harus dilakukan jika terjadi kekurangan ketersediaan pangan dan kenaikan harga yang mungkin tidak terkendali.

Dua kegiatan ini, rakor lingkup Sumbar dan videoconference se Indonesia, adalah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan pemerintah agar ketersediaan pangan bagi masyarakat tetap mencukupi dan harganya bisa dikendalikan. Sehingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhan mereka secara memadai.

Seringkali terjadi, yang menyebabkan terjadinya lonjakan kenaikan harga adalah masalah distribusi dan penyimpangan yang dilakukan oleh para pedagang yaitu penumpukan guna menahan barang agar harganya naik, monopoli, dan tindakan lain yang menyebabkan terganggunya supply dan demand secara alami.

Terkait hal ini Kapolri meminta dilakukan tindakan tegas oleh polisi di daerah. Dan supaya dibentuk satuan tugas untuk menindak oknum-oknum yang menyebabkan terganggunya supply dan demand kebutuhan masyarakat di bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Jika gangguan-gangguan tersebut diantisipasi sejak awal, insya Allah bisa membantu masyarakat menjalani ibadah dan aktivitas Ramadhan lebih tenang karena gangguan sudah diminimalkan sejak awal. Dan di samping itu, jika pun terjadi maka masih bisa dilakukan operasi pasar atau pasar murah yang melibatkan pihak ketiga seperti BUMN, BUMD maupun swasta.

Adapun upaya antisipasi yang dilakukan pemerintah di antaranya adalah: 1. Mengadakan koordinasi (sosialisasi, perencanaan, dan lainnya), 2. Monitoring luas tanam, luas panen, dan produksi, 3. Mengamankan produksi pangan (hama/penyakit), 4. Pemasaran,  supervisi, dan sidak (menjajaki distribusi dan harga pangan, mengunjungi daerah sentra produksi, pusat industri, perdagangan dan pelabuhan, mengunjungi pasar-pasar utama dan pasar induk, pasar tradisional dan pasar lainnya), 5. Memperlancar distribusi antar wilayah, 6. Mengamankan jalur distribusi, 7. Antisipasi dan pengamanan terhadap spekulasi penimbunan pangan, 8. Melaksanakan operasi pasar (jika diperlukan).

Di luar hal yang dilakukan pemerintah, perilaku masyarakat juga turut membantu. Yaitu dengan belanja sesuai kebutuhan. Tidak belanja berlebihan agar tidak terjadi kenaikan harga. Hal ini sesungguhnya tidak kalah penting dengan tindakan dan antisipasi yang sudah dilakukan pemerintah.

Ramadhan adalah saat untuk menahan. Maka sudah sepantasnya umat Islam juga menahan dorongan konsumsi yang lebih dari biasanya di saat waktu makan hanya dua kali. Karena bagi yang mampu, dengan menahan konsumsi akan membantu bagi yang lemah untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan harga terjangkau.

Semoga dengan upaya pemerintah mengatasi masalah pangan dan dibantu oleh masyarakat, akan menjadikan Ramadhan kali ini bisa semakin lebih baik kita jalani dibanding waktu sebelumnya.  Sehingga kita bisa lebih fokus dan khusyuk dalam menghadapi dan menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Insya Allah kita bisa lebih baik lagi untuk menjadi hamba yang bertaqwa. Aamiin. *⁠**

 

Padang Ekspres, 10 Mei 2017

 

216. 2017-05-18 [Singgalang] Start Up dan Resiko Bisnis

Start Up dan Risiko Bisnis

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Belum lama ini di Padang diselenggarakan kegiatan Minangpreneur Festival oleh Yayasan Minang Bandung Indonesia di mana salah satu kegiatannya adalah meng-upgrade para pengusaha muda pemula (start up) agar bisnisnya mampu memunculkan lompatan yang signifikan.

Di mana untuk kegiatan seperti ini dilakukan seleksi sehingga peserta hasil seleksi itu kemudian dilatih oleh pelaku bisnis yang sudah berkiprah di bidangnya dengan mengikuti workshop. Mereka berasal dari berbagai perusahaan yang sudah dikenal oleh publik sebagai perusahaan yang memiliki reputasi. Dengan demikian para pebisnis start up ini mampu menerima transfer pengetahuan dan juga pola pikir serta aura dari para “pendekar bisnis” tersebut.

Senada dengan kegiatan Minangpreneur Festival yang berupaya meng-upgrade pebisnis start up, hal serupa sudah dilakukan oleh Minangkabau Business School and Entrepeneurship Center (MBS-EC) yang dikomandani oleh Prof. Helmi dari Unand. MBS-EC sudah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan di Minangpreneur Festival. Para pematerinya pun orang orang terpilih yang sudah memiliki reputasi dan juga menoreh prestasi di bidangnya.

Pada MBS-EC ini peserta tidak hanya dilatih dan diberikan pengetahuan, tetapi juga disambungkan dengan akses permodalan, jaringan, dan pemasaran yang memungkinkan bisnisnya mampu menghasilkan lompatan. Maka, kegiatan minangpreneur festival dan MBS-EC ini cocok dengan kebutuhan masyarakat di Sumbar.

Selama ini kita saksikan bersama bahwa orang Minang di manapun berada, mayoritas berprofesi sebagai pedagang. Para perantau yang tersebar di Jabodetabek, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan lainnya termasuk luar negeri kebanyakan berprofesi sebagai pedagang. Setidaknya hal ini saya dapati ketika melakukan kunjungan ke luar Sumbar dan bersilaturahmi dengan masyarakat di rantau, mereka yang datang mayoritas adalah pedagang, sisanya berprofesi sebagai tentara/polisi, pegawai negeri dan swasta.

Sementara di Sumbar sendiri, masyarakat banyak yang berpofesi sebagai pedagang. Di mana mayoritas adalah pengusaha mikro (sekitar 80 persen lebih), kemudian diikuti pengusaha kecil (sekitar 14 persen), dan yang lebih sedikit lagi pengusaha menengah (tidak sampai 1 persen). Namun bisa dibilang belum ditemukan pengusaha besar yang usahanya berjalan baik hingga kini. Sementara, mayoritas mereka yang merantau umumnya ada di usaha mikro dan kecil.

Salah satu sebab tidak munculnya pengusaha besar dari ranah Minang karena umumnya orang Minang masih lebih memilih usaha yang menghasilkan keuntungan yang pasti dibanding mengambil risiko untuk mendapatkan untung yang jauh lebih besar. Selain risiko, ada juga masalah permodalan yang menyebabkan usaha yang dijalankan tidak mampu ditingkatkan skala bisnisnya. Jikapun mendapatkan dana dari KUR dan sejenisnya, tetap masih belum bisa meningkatkan skala bisnisnya secara signifikan.

Memang tidak semua orang mampu dan mau berbisnis dengan risiko tinggi, meskipun risiko tinggi hasilnya pun akan tinggi juga (high risk high return). Usaha mikro kecil, risiko kecil, maka untungnya juga kecil namun pasti. Inilah yang lebih dipilih kebanyakan masyarakat. Usaha yang selama ini digeluti orang Minang adalah usaha yang relatif aman dan risiko minimal seperti bisnis kuliner, pakaian, perhiasan, properti, pendidikan dan lainnya. Untuk pendidikan, banyak perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta dikelola dan dimiliki oleh orang Minang.

MBS-EC adalah salah satu tempat untuk menghasilkan para pebisnis muda pemula (start up) yang dengan jiwa muda dan keahliannya mampu berusaha untuk mengambil risiko dalam berbisnis. Saya optimis dengan metode yang dilakukan  MBS-EC insya Allah akan memunculkan bibit-bibit pengusaha besar nantinya.

Mereka diharapkan bisa membuat perencanaan bisnis yang matang, dan mendisain cetak biru bisnis mereka. Dengan demikian mereka pun mampu mempersiapkan dengan baik jika terjadi risiko bisnis yang menghendaki antisipasi yang baik.

Perencanaan yang baik diikuti antisipasi yang baik, maka risiko bisnis pun insya Allah siap dihadapi. Inilah seharusnya cara yang ditempuh agar lahir pengusaha besar dari ranah Minang.

Saya mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak seperti Yayasan Minang Bandung Indonesia dan MBS-EC dan lainnya yang memfasilitasi para pengusaha muda pemula (start up) dari kalangan anak muda Minang yang memiliki kemampuan untuk melompat lebih tinggi dengan berbagai pendekatan pelatihan dan pengembangan.

Semoga bisa lahir pengusaha besar dari ranah Minang yang mampu mangkapitalisasi modal, berani mengambil risiko, mampu membangun jaringan dan kerjasama yang baik. Jika orang lain bisa, insya Allah kitapun bisa.

 

Singgalang, 18 Mei 2017

 

217. 2017-05-24 [Padek] Bendungan Besar

Bendungan Besar

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 16 Mei 2017 lalu di Padang, saya menghadiri Seminar Nasional Bendungan Besar yang dibuka oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bpk. Basuki Hadi Mulyono. Dalam sambutannya Menteri PUPR menyatakan bahwa ada sekitar 65 bendungan besar yang direncanakan dibangun di seluruh Indonesia. Tujuh bendungan sudah selesai dikerjakan di tahun 2015. Dua bendungan di tahun 2016. Dan sembilan bendungan tengah dikerjakan di tahun 2017. Dan pada tahun 2019 diharapkan selesai semua yang direncanakan.

Tema besar dari acara ini adalah “Bendungan sebagai Infrastruktur Pengendali Banjir dan Kekeringan”. Acara ini juga dihadiri oleh para Kepala Balai Bendungan se Indonesia dan juga dari Pejabat di Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Terkait pemanfaatan sumber daya air, terdapat 3,9 triliun meter kubik pertahun potensi sumber daya air di Indonesia, di mana yang dapat dimanfaatkan sebesar 691,3 miliar meter kubik per tahun. Yang sudah dimanfaatkan adalah sebesar 175,1 miliar meter kubik per tahun (25,3%). Sisanya 516,2 miliar meter kubik per tahun (74,7%) masih belum dimanfaatkan. Yang belum dimanfaatkan ini karena masih kurangnya tempat penampungan sumber daya air tersebut.

Dalam acara seminar tersebut saya melihat semangat dari pemerintah pusat untuk memperbanyak pembangunan bendungan agar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Berbicara bendung dan bendungan, ternyata merupakan dua hal yang berbeda. Bendung biasanya dibuat sebagai pembatas yang ada di sungai, sehingga mengubah karakteristik aliran sungai. Manfaat bendung adalah mencegah banjir, mengukur debit sungai, dan aliran sungai bisa diperlambat sehingga sungai bisa lebih mudah dilalui. Bendung dibuat untuk meninggikan permukaan air sungai sampai ketinggian tertentu, sehingga bisa dialirkan ke saluran irigasi.

Sedangkan bendungan dibuat dengan konstruksi tertentu untuk menahan laju air sehingga menjadi waduk atau danau serta tempat rekreasi. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mendefinisikan bendungan sebagai “bangunan yang berupa tanah, batu, beton, atau pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat juga dibangun untuk menampung limbah tambang atau lumpur.”

Kondisi alam Sumbar, ketika hujan volume air meningkat sehingga menaikkan permukaan sungai dan menggenangi lingkungan sekitar sungai. Maka terjadi banjir, baik banjir bandang yang memiliki daya rusak kuat maupun bukan banjir bandang. Keduanya menyebabkan terjadinya kerusakan sungai, jalan, jembatan, tempat ibadah, sekolah, puskesmas/rumah sakit, sawah, rumah penduduk, kantor pemerintah, dan sarana dan prasana umum lainnya, dan juga menyebabkan hilangnya nyawa manusia. Sementara ketika musim kemarau, volume air berkurang dan potensi muncul kekeringan menjadi besar.

Dengan adanya bendungan, dalam kondisi kekeringan masih bisa dialirkan air sehingga lahan yang kering bisa dialirkan air. Di Sumbar sudah ada enam bendungan besar yang selama ini manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Di samping itu Sumbar juga memiliki waduk kecil atau dikenal dengan embung.

Namun demikian, saya selaku Gubernur masih terus mengupayakan bantuan dari pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian PUPR untuk menambah bendungan lagi di Sumbar. Sehingga potensi sumber daya air yang besar di Sumbar bisa semakin dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Di samping itu, saya juga mengupayakan adanya tambahan anggaran untuk Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air untuk memaksimalkan pemeliharaan dan pengelolaan bendungan yang ada di Sumbar. Karena mengelola dan memelihara yang sudah ada jauh lebih penting agar manfaatnya bisa berkelanjutan bagi masyarakat.

Di luar yang diupayakan pemerintah, masyarakat juga bisa turut berperan serta untuk mengantisipasi banjir dan kekeringan. Untuk  mengantisipasi banjir, penduduk di sekitar aliran sungai maupun bukit yang rawan longsor harus selalu waspada ketika terjadi hujan deras. Bahkan bila perlu mengungsi untuk menghindari korban jiwa.

Sedangkan untuk antisipasi kekeringan, salah satu di antara upaya tersebut adalah masyarakat bisa membuat lubang biopori untuk menampung air hujan. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh masyarakat di berbagai tempat di Indonesia. Di Sumbar sendiri pernah dilakukan pembuatan lubang biopori oleh TNI secara massif, dalam hal ini dimotori oleh Korem 032/Wirabraja Sumbar, di mana tak kurang dari 186.000 lubang biopori telah dibuat.

Saya berharap, dengan upaya yang dilakukan pemerintah dengan membangun bendungan dan dibantu peran masyarakat mengantisipasi banjir dan kekeringan, kesejahteraan bersama bisa lebih cepat diraih, insya Allah

 

Padang Ekspres, 24 Mei 2017

218. 2017-05-27 [PosMetro Padang] Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, kita kembali diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Bulan yang sangat istimewa. Bahkan Rasulullah SAW pun menyampaikan betapa mulianya bulan ini bagi umat Islam karena banyaknya keistimewaan di bulan ini.

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan khutbah Rasulullah SAW, “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang penuh rahmat, berkah dan ampunan. Bulan paling utama di sisi Allah. Di bulan ini kalian digolongkan orang-orang yang dimuliakan Allah. Nafasmu tasbih, tidurmu ibadah, amalanmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah dengan hati yang tulus agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa.”

Seluruh kaum mukminin pada bulan ini diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya,  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Kewajiban puasa ini seperti halnya kewajiban shalat. Namun di balik kewajiban puasa, banyak kebaikan dari sisi Allah SWT yang dicurahkan kepada umat Islam pada bulan Ramadhan ini. Dan amalan puasa, Allah SWT sendiri yang langsung membalasnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman, “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Puasa juga mengajarkan kita untuk mengendalikan diri. Dan dari mengendalikan diri itu banyak kebaikan yang kita peroleh. Di antaranya adalah mengendalikan amarah.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan hawa nafsunya saat marah.” (Muttafaqun Alaih)

Kita dapati dalam sejarah bahwa di bulan Ramadhan, saat umat Islam melaksanakan puasa dilakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia (9 Ramadhan 1364 H), terjadi perang badar yang dimenangkan umat Islam (2 Ramadhan 2 H), ditaklukannya Mekah oleh umat Islam tanpa pertumpahan darah (10 Ramadhan 8H).

Maka dengan melihat hal demikian, puasa yang kita jalankan sesungguhnya justru menguatkan fisik, mental dan spiritual, seperti yang pernah terjadi dalam sejarah. Jika kita betul-betul menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka insya Allah akan kita rasakan betapa Allah SWT itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Untuk itu, dalam kesempatan ini saya mengajak diri sendiri dan kita semua untuk benar-benar memanfaatkan bulan yang mulia ini, mengisinya dengan berbagai bentuk ibadah dan amal saleh serta doa-doa yang menjadi kehendak diri kita masing-masing.

Marilah kita sambut datangnya bulan Ramadhan ini dengan penuh syukur. Karena peluang untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT terbuka lebar di hadapan.  Betapa bahagianya diri kita bila Allah SWT ampuni dosa-dosa kita, diberikan rahmatNya kepada kita, dan dikabulkanNya doa-doa kita sehingga kita merasakan bahwa hidup ini nikmat jika selalu dekat denganNya.

Oleh karena itu, marilah kita maksimalkan ibadah dan amal saleh di bulan Ramadhan ini sehingga ketika kelak di penghujung Ramadhan kita atas izin Allah meraih posisi sebagai orang-orang yang bertakwa. Marhaban ya Ramadhan. ***

 

Posmetro Padang, 27 Mei 2017

 

219. 2017-05-29 [Padek] Ramadhan Bulan Penuh Doa

Ramadhan Bulan Penuh Doa

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Jika kita sejenak membuka kembali sejarah hidup Rasulullah SAW dan para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, kita akan temui bahwa di akhir bulan Ramadhan mereka mengharap berjumpa kembali Ramadhan berikutnya. Begitu nikmatnya beribadah di bulan Ramadhan mereka rasakan.

Maka bagi kita umat setelahnya yang hidup saat ini, patut juga merenungi bahwa Ramadhan 1438 H yang baru saja kita jalani ini harus sangat disyukuri. Karena sebenarnya Ramadhan adalah waktu yang sangat berharga bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk memanjatkan ampunan, rahmat, dan juga menyampaikan keinginan kita yang selama ini belum terpenuhi.

Seringkali Ramadhan berlalu begitu saja dari kehidupan kita tanpa ada bekasnya sama sekali. Sehingga kehidupan kita berjalan biasa-biasa saja. Untuk itu, kita perlu membaca kembali kisah Rasulullah SAW dan para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta para ulama ketika menjalani ibadah Ramadhan.

Salah satu hal yang sepertinya luput dari kita adalah memperbanyak doa di bulan Ramadhan. Padahal justru di bulan Ramadhan ini doa-doa kita bisa langsung dikabulkan oleh Allah SWT. Karena puasa kita langsung dinilai olehNya, maka doa kita pun juga langsung didengar olehNya. Bukan berarti di waktu sebelum Ramadhan doa-doa kita tidak didengar. Namun karena keistimewaan bulan Ramadhan yang mulia ini maka banyak kelebihan dan keutamaannya.

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa, akan dikabulkan.” (HR Al Bazaar).

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak doa demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh  berdoa untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupa doa kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al Majmu’, 6:273).

Berdoa apa saja demi kebaikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara adalah keniscayaan bagi kita sebagai muslim. Bahkan berdoa agar terbebas dari jeratan hutang pun diajarkan dalam Islam.

Ini terjadi pada masa Rasulullah SAW, ketika suatu hari memasuki masjid mendapati seorang sahabat bernama Abu Umamah sedang duduk terdiam. Rasulullah SAW bertanya mengapa Abu Umamah duduk di luar waktu shalat.  Rupanya Abu Umamah sedang bingung memikirkan hutangnya.

Rasulullah SAW bertanya apakah Abu Umamah mau diajarkan sebuah doa yang apabila dibaca maka Allah SWT akan menghilangkan kebingungannya dan melunasi hutangnya. Abu Umamah menjawab mau.

Maka Rasulullah berkata, “Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari bacalah doa (yang artinya): “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”

Setelah beberapa lama Abu Umamah mengamalkan doa tersebut, lalu dia mengatakan, “Setelah membaca doa tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayar lunas hutangku.” (HR. Abu Dawud).

Demikianlah ajaran Islam yang mulia ini memberikan solusi kehidupan bagi umatnya. Maka marilah manfaatkan bulan Ramadhan yang mulia ini untuk memanjatkan doa. Mungkin di antara kita ada yang ingin disembuhkan dari suatu penyakit, ingin dapat pekerjaan, ingin lulus kuliah, ingin anak saleh dan saleha, ingin keluarga harmonis, ingin punya anak, ingin dagangan laris, dan lainnya, marilah kita panjatkan doa di bulan mulia ini.

Namun untuk terkabulnya doa, kita harus menjalankan perintah Allah, seperti Firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 186 yang artinya, “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Semoga kita bisa mengisi amaliyah Ramadhan 1438 H ini dengan memperbanyak doa kepada Allah SWT dan juga ibadah lainnya. Sehingga di akhir Ramadhan kita atas izin Allah SWT mendapat predikat sebagai orang-orang yang bertakwa. Dan semoga atas izin Allah SWT, doa-doa yang kita panjatkan terkabul sehingga menambah kecintaan dan kedekatan kita kepada Allah SWT, RasulNya, kaum muslimin dan juga kepada agama Islam sebagai pedoman hidup kita di dunia untuk mencapai akhirat. Aamiin. **

Padang Ekspres, 29 Mei 2017

 

220. 2017-05-31 [Singgalang] Investasi dan Transmart

Investasi dan Transmart

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sejak 24 Mei 2017, untuk beberapa hari, saya bersama tim investasi Sumbar melakukan kunjungan ke beberapa negara Eropa. Turut bersama adalah Bupati Agam, Solok Selatan dan Sijunjung. Kami menjajaki potensi kerja sama bidang pariwisata, energi dan perikanan. Dan juga bidang lain yang memiliki potensi untuk dikerjasamakan.

Dalam kesempatan ini atas nama tim saya menyampaikan terima kasih kepada beberapa Duta Besar RI yang telah memfasilitasi kami sehingga bisa bertemu dengan calon investor dan juga promosi budaya dan pariwisata. Harapan kami, semoga upaya kami ini akan mendatangkan hasil yang baik sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berbicara mengenai investasi, ingatan saya kembali ke akhir tahun 2010. Beberapa bulan setelah saya dilantik sebagai Gubernur Sumbar, Bpk Chairul Tanjung (CT) dan rombongan Grup Mega datang ke Padang dan sempat bersilaturahmi dengan saya. Pada kesempatan itu saya menawarkan sekaligus meminta agar Grup Mega berinvestasi di Sumbar. Setelah cukup lama berdiskusi, Bpk. CT menjawab akan mengadakan studi kelayakan terlebih dahulu mengenai investasi yang bisa masuk ke Sumbar. Setelah cukup lama, saya mendapat informasi bahwa hasil studi kelayakan yang dilakukan Grup Mega menerangkan bahwa pada saat itu mereka belum layak melakukan investasi di Sumbar.

Kemudian tiga tahun berikutnya, Grup Mega kembali melakukan studi kelayakan ulang dan hasilnya kali ini Grup Mega sudah layak berinvestasi di Sumbar. Di antaranya dengan menyiapkan rencana pembangunan Transmart. Dan akhirnya pada 19 Mei 2017 lalu Pak CT bersama Bpk Nasrul Abit (Wagub) serta Bpk Mahyeldi (Wako Padang) meresmikan pembukaan Transmart.

Pembukaan Transmart ini ternyata direspon positif oleh masyarakat. Dalam waktu tiga hari, Jumat-Minggu jumlah pengunjung yang datang sangat banyak. Demikian pula omset penjualan Transmart dalam tiga hari berbilang miliaran rupiah.

Dari pengalaman saya tersebut, bisa disimpulkan bahwa untuk mengajak investor
masuk ke Sumbar bukanlah pekerjaan mudah. Meskipun Bpk CT adalah sosok yang cukup saya kenal dekat, namun untuk masuk ke Sumbar beliau tetap harus berpikir panjang. Urusan investasi tetap perlu melakukan sebuah studi kelayakan. Dan studi kelayakan ini merupakan alat ukur objektif bagi investor untuk masuk ke Sumbar. Karena orang berinvestasi memikirkan bagaimana mendapat keuntungan.

Selain itu, untuk masalah investasi, Sumbar punya kekhasan tersendiri. Tidak semua bidang bisa dimasuki investor. Namun bukan berarti hal ini menjadikan kondisi Sumbar suram akan investasi. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya Transmart secara bersamaan waktunya di Padang dan Pekanbaru, omset Transmart Padang lebih tinggi dari Transmart Pekanbaru.

Dalam satu hari omset Transmart Padang mencapai Rp1,4 miliar, sedang di Transmart Pekanbaru Rp1,2 miliar. Pada hari pertama terjual enam buah mobil di Transmart Padang, sedang di Transmart Pekanbaru tidak ada mobil yang terjual. Di samping itu, jumlah pengunjung Transmart Padang hampir dua kali lipat pengunjung Transmart Pekanbaru.

Di Transmart Padang disediakan “Pojok Minangkabau” untuk memamerkan hasil produk UMKM asal Sumbar yang sudah melewati saringan. Tidak tertutup kemungkinan jika produk UMKM tersebut memiliki kualitas dan kemasan yang baik akan dijual di seluruh Transmart di Indonesia. Grafika selaku BUMD telah bekerjasama dengan Transmart Padang dalam menyalurkan produk-produk UMKM Sumbar yang telah memenuhi syarat tertentu.

Dengan hadirnya Transmart di Padang, berpengaruh terhadap membaiknya ekonomi masyarakat. Tenaga kerja daerah terserap, produk UMKM daerah terserap, penghasilan meningkat, dan masyarakat pun memiliki pilihan untuk belanja maupun wisata keluarga.

Maka saya mengajak kepada seluruh masyarakat agar memberikan respon positif kepada investor yang masuk ke Sumbar. Mereka masuk dengan pemikiran yang penuh dengan pertimbangan dan juga bersedia mematuhi aturan yang ada. Masalah parkir atau kemacetan yang timbul lebih baik dipikirkan dan dibicarakan bersama. Karena saya amati, ada peran beberapa orang yang menyebabkan munculnya parkir liar dan kemacetan.

Ini juga bisa dilihat di beberapa tempat di Padang yang sudah menyediakan area parkir, seperti sebuah toko buku dan sebuah rumah sakit. Kedua tempat ini sudah menyediakan area parkir untuk pengunjung. Namun karena ulah sekelompok orang menyebabkan kendaraan parkir bukan di tempat yang disediakan, sehingga sedikit banyaknya mengganggu arus masuk keluar orang dan kendaraan.

Bagi pihak Transmart sendiri, saya juga mengharapkan semaksimal mungkin memikirkan dan menyediakan area parkir untuk pengunjung dan mengatasi ketertiban lokasi sekitar Transmart sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan berarti. Meskipun sudah ada dua lantai area parkir, mungkin bisa dibuat alat penyedia informasi yang bisa menerangkan kepada pengunjung tentang penuh-tidaknya area parkir yang ada. Di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta, informasi semacam ini sudah disediakan sehingga pengunjung yang tidak kebagian parkir karena penuh terpaksa keluar.

Bagi masyarakat, marilah mensyukuri keberadaan Transmart di Sumbar ini dengan menikmati keberadaannya sambil berperilaku positif dengan parkir di tempat resmi. Sekaligus mengedepankan budaya antri sehingga bisa mengurangi kemacetan.

Transmart adalah bentuk investasi bidang perdagangan dan pariwisata yang bisa berjalan baik di Sumbar, seperti halnya hotel, pusat perbelanjaan, resort, dan restoran. Selain investasi di bidang pariwisata di Sumbar, terdapat pula bidang energi terbarukan seperti panas bumi (ada 16 titik di Sumbar, setara 1600 megawatt) dan pembangkit listrik baik PLTM maupun PLTMH (terdapat ratusan titik). Bidang perikanan pun bisa masuk Sumbar (perikanan tangkap dan budidaya ikan). Tiga bidang ini memang peluang investasinya bagus di Sumbar. Namun di luar bidang itu, saya tetap harus bekerja keras agar investasi masuk ke Sumbar dan efeknya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Saya meyakini bahwa investasi adalah jalan untuk menyiasati keterbatasan APBD maupun APBN untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan investasi yang sesuai dengan kekhasan Sumbar, insya Allah bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Maka dukungan masyarakat terhadap masuknya investor, juga dukungan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam masalah perizinan akan mengundang banyak investor. Sehingga dampaknya kepada masyarakat pun bisa meluas.

Singgalang, 31 Mei 2017

221. 2017-06-07 [Singgalang] WTP ke-5

WTP Ke-5

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 22 Mei 2017 lalu dalam acara Rapat Paripurna Istimewa DPRD Sumbar, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) RI Perwakilan Sumbar menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Sumbar Tahun Anggaran 2016. BPK RI kembali memberikan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dan ini merupakan WTP ke-5 yang diberikan kepada Sumbar secara berturut turut.

Jika melihat kondisi pada tahun 2010, sewaktu saya dilantik menjadi Gubernur, opini yang diberikan oleh BPK terhadap LKPD Prov. Sumbar adalah Disclaimer. Karena pada saat itu Sumbar baru saja dilanda gempa hebat yang menyebabkan kerusakan besar rumah penduduk, tempat ibadah, instansi pemerintah, dan infrastruktur. Sehingga situasi dan kondisi yang ada lebih diprioritaskan untuk melakukan pemulihan. Masalah aset dan dokumen akibat gempa pun jadi kendala utama.

Maka saya bersama jajaran pemprov bekerja keras agar laporan yang disajikan bisa lebih baik lagi. Alhamdulillah LKPD Prov. Sumbar tahun 2011 mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Dan ini artinya terjadi peningkatan kualitas penyajian laporan. Kami di jajaran Pemprov pun bekerja keras untuk lebih baik lagi sehingga LKPD Prov. Sumbar tahun 2012-2016 mendapat opini WTP dari BPK.

Opini BPK dapat didefinisikan sebagai pernyataan profesional pemeriksa tentang kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan, kepatuhan terhadap UU dan efektivitas sistem pengendalian intern.

Opini yang diberikan BPK dalam memeriksa laporan keuangan, dalam hal ini pemerintah daerah ada beberapa predikat, seperti Disclaimer, Wajar Dengan Pengecualian, Wajar Tanpa Pengecualian. BPK selaku pemeriksa akan melihat apakah laporan yang disajikan sudah lengkap, benar, dan sesuai aturan. Dengan laporan yang lengkap, benar dan sesuai aturan. Insya Allah hal ini akan mengurangi kesalahan dalam mengelola keuangan daerah sehingga penggunaannya bisa makin  baik, tepat sasaran dan bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.

Namun demikian, opini WTP yang didapat ini bukan berarti tidak ada penyimpangan (fraud). Dalam menyusun laporan keuangan pemerintah daerah, kami bekerja keras menyiapkan laporan sesuai standar yang ada. Satu persatu masalah kami selesaikan. BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) dan  Inspektorat Provinsi juga turut ikut membantu kami dalam memperbaiki dan menyempurnakan laporan.

Temuan dari BPK RI yang kemudian direkomendasikan kepada Pemprov Sumbar, terus kami tindaklanjuti dan perbaiki. Alhamdulillah, berkat kerja keras seluruh staf dan pimpinan, laporan yang kami sajikan semakin baik ke depannya.

Kami tidak menafikan jika terdapat kasus SPJ fiktif. Terkait hal ini, dalam laporan sudah kami sampaikan kepada BPK  bahwa ada penyimpangan yang terjadi. Jika kemudian temuan BPK adalah ranah pemeriksaan, maka dalam ranah hukum  orang yang melakukan penyelewengan sudah diperiksa oleh kepolisian. Jadi, laporan yang kami sajikan kepada BPK tidak ada yang disembunyikan. Jika ada penyimpangan, maka kami sajikan juga di situ.

Dengan kerja keras yang kami lakukan dalam menyajikan  laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi yang sudah ditetapkan, maka kami berharap bahwa penyajian laporan keuangan yang baik dan benar insya Allah akan berujung kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kami tidak ingin selepas pemberian opini WTP lalu tidak ada manfaat yang lebih besar dari sekedar WTP saja. Karena sesungguhnya dengan mendapatkan WTP maka ada perbaikan kualitas dalam pengelolaan keuangan daerah dari sejak perencanaan hingga eksekusi.

Salah satu bentuk kegiatan perencanaan tersebut adalah Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) yang merupakan bentuk perencanaan partisipatif, sehingga apa yang diusulkan menjadi anggaran yang berawal dari aspirasi masyarakat. Dengan demikian, jika perencanaanya baik, insya Allah dana yang dikeluarkan akan tepat sasaran. Dan BPK pun memeriksa laporan keuangan kami sejak perencanaan hingga eksekusi. Atau dari hulu hingga ke hilir.

Dengan demikian, semakin pengelolaan keuangan direncanakan dengan baik maka insya Allah hasilnya akan maksimal bermanfaat untuk rakyat.  Dana yang ada pun bisa dilihat secara transparan oleh BPK, termasuk apakah benar peruntukannya. Sehingga, dana-dana yang dialokasikan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat semakin kecil kemungkinannya untuk disalahgunakan karena akan mudah dideteksi jika ada penyimpangan. Dan ini bisa terjadi jika penyajian laporan keuangannya sesuai dengan teknik dan metode yang sudah ditetapkan sesuai peraturan yang berlaku.

Jika ada alokasi dana yang tidak efektif maka akan jadi temuan, sehingga harus kami koreksi agar menjadi efektif. Jika alokasi dananya efektif maka ia akan tepat guna dan tepat sasaran. Dengan demikian, sesungguhnya kerja keras kami dalam penyajian laporan keuangan yang mendapat opini WTP dalam rangka berkaitan dengan penggunaan anggaran yang efektif, tepat guna, tepat sasaran dan bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

Alhamdulillah, karena LKPD Sumbar sudah mendapat opini WTP beberapa kali maka pemerintah pusat memberikan apresiasi berupa dana insentif daerah (DID) sekitar Rp51 miliar pada tahun lalu kepada Sumbar. Dan DID tahun ini insya Allah jumlahnya akan lebih besar lagi. Dan ini semua akan kami kembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk program-program pembangunan.

Insya Allah, penyajian laporan keuangan yang sesuai dengan aturan akan berhubungan positif dengan  pelaksanaan program-program pembangunan yang tepat guna dan tepat sasaran sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dan ini bisa dilihat dari beberapa indikator makro Sumbar. Misalnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di 2011 67,81, meningkat menjadi 70,73 di 2016. PDRB perkapita Rp20,06 juta pada 2011 meningkat menjadi Rp34,41 juta pada 2016. Tingkat pengangguran 8,02 % pada 2011, menurun menjadi 5,09% di 2016. Kemiskinan pada 2011 sebesar 8,99% menurun pada 2016 menjadi 7,09%.

Investasi dalam negeri Rp1,7 triliun pada 2011 meningkat menjadi  Rp3,8 triliun di 2016. Investasi asing 65 juta dolar AS pada 2011 meningkat menjadi 79 juta dolar AS pada 2016. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Sumbar pada 2011 C, meningkat menjadi CC pada 2012, 2013, dan meningkat lagi menjadi BB di 2014, 2015.

Selain itu, pengeluaran perkapita, rata-rata lama sekolah, angka harapan hidup saat lahir, harapan lama sekolah, mengalami peningkatan sejak 2011 hingga 2016. Belum lagi indikator lain di bidang kesehatan, infrastruktur, pertanian, dan lainnya yang juga mengalami peningkatan sejak 2011 hingga 2016.

Oleh sebab itu, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran Pemprov dan juga seluruh stakeholders terkait atas kerja keras dan kerja samanya. Saya meyakini bahwa kerja keras kita dalam mengelola keuangan daerah selain berdampak positif kepada masyarakat juga akan kembali lagi kebaikannya kepada diri kita atas izin Allah SWT.

Singgalang, 07 Juni 2017

222. 2017-06-20 [Padek] Berpuasa di Luar Negri

Berpuasa di Luar Negri

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sumbar akhir Mei 2017 lalu mengunjungi beberapa negara Eropa, ternyata waktu Ramadhan sudah tiba. Maka kami pun berpuasa. Rasanya berpuasa di luar negeri tentu berbeda dengan puasa di Indonesia. Meskipun dalam perjalanan (safar) yang memiliki alasan (uzur) dibolehkan untuk tidak berpuasa, saya dan rombongan tetap berpuasa.

Berpuasa di luar negeri seperti Eropa memang berbeda dengan Indonesia. Kami harus menahan haus dan lapar selama lebih kurang sekitar 18 jam. Sedangkan jika membandingkan dengan kondisi Indonesia, waktu untuk menahan haus dan lapar adalah sekitar 13 jam.  Tentu saja tidak hanya menahan haus dan lapar saja, tetapi juga yang lainnya yang sudah digariskan dalam agama.

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim No. 1151)

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Alhamdulillah kami bisa berpuasa seperti biasanya, tidak sampai keletihan apalagi sakit, meskipun sedang melakukan perjalanan. Dengan rentang waktu yang lebih panjang sekitar 5 jam dari Indonesia, kami bisa melewati puasa dengan baik.

Dengan banyaknya kegiatan yang harus kami ikuti selama di Eropa, alhamdulillah kami ternyata bisa menjalani ibadah puasa di Eropa yang waktunya lebih lama. Saya sendiri sempat bertanya, apa yang menjadikan umat Islam di berbagai belahan dunia ikhlas menjalani puasa dengan perbedaan rentang waktu yang tidak sama. Terutama mereka yang mengalami rentang waktu cukup lama hingga yang paling sedikit waktu antara maghrib dengan subuh.

Dugaan saya, jawabannya adalah kerelaan dan keimanan yang ada pada diri umat Islam, sehingga mereka menjalani puasa tidak semata-mata karena menahan haus dan lapar serta hawa nafsu lainnya. Tetapi juga merupakan kewajiban sebagai orang yang beriman seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan  atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Karena jika ada orang yang tidak rela menerima perintah puasa, ia akan merasa kelaparan dan harus makan di saat orang lain berpuasa.

Oleh karena puasa merupakan kewajiban, maka mereka yang berpuasa lebih lama dari saudaranya yang lain tidak merasa iri, bahkan menjalaninya dengan ikhlas. Ini menandakan bahwa puasa itu bisa dilakukan oleh umat manusia di berbagai belahan dunia. Dan artinya, puasa itu tidak milik segolongan kaum saja, tetapi sesungguhnya berlaku universal.

Kita juga bisa melihat bahwa perintah puasa itu adalah untuk seluruh umat islam di seluruh dunia. Tidak terpaku hanya kepada satu dua wilayah saja. Tidak terpaku hanya kepada jazirah Arab atau Asia saja, tetapi juga berlaku di Eropa, Amerika, Australia dan lainnya.

Maka kita dapat melihat bahwa puasa itu bukan berapa lama waktu untuk menahan, tetapi bagaimana keikhlasan dalam menerima dan menjalankan perintah Allah SWT oleh seluruh umat Islam.  Ibarat anak yang mematuhi perintah orangtuanya, itulah pemisalan orang yang berpuasa. Menerima tanpa reserve apa yang diperintahkan Allah SWT.

Satu hal yang patut disyukuri, suasana puasa di Indonesia sangat terasa, baik kekhusyukan dalam beribadah maupun kegembiraan dalam berbuka dan beribadah malam hari. Masyarakat dimanjakan dengan informasi azan maghrib yang massif, baik dari televisi dan radio maupun dari masjid dan mushola, serta sirine. Sedangkan di luar negeri, tidak ada suasana demikian, terutama untuk negara-negara dengan penduduk mayoritas non muslim.

Di luar negeri, orang harus terus melihat jamnya untuk memastikan sudah masuk waktu  Maghrib dan Subuh. Dan jika sudah masuk waktu Maghrib, sudah harus bersiap untuk sahur karena rentang waktu yang pendek. Belum lagi mencari makanan yang halal seperti yang kami alami. Dan jangan ditanya ke masjid mana akan sholat wajib dan tarawih berjamaah, karena sangat sulit menjumpainya. Berbeda dengan kondisi Indonesia yang ramai orang berjualan pebukaan ketika sore. Sementara masjid dan mushola sudah siap dengan ibadah wajib dan tarawih.

Menjalani  langsung puasa di Eropa sekaligus melihat kondisi yang ada, maka tepat sekali firman Allah SWT dalam surat Al Hujurat ayat 13 yang menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, di mana yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang paling takwa.

Ternyata bukan berapa lamanya waktu berpuasa yang Allah lihat, tetapi seberapa patuh mereka kepada perintah Allah SWT. Dan semoga kitapun yang hidup di Indonesia dengan kondisi yang mendukung untuk itu, mampu meraih derajat takwa. Aamiin.

 

Padang Ekspres, 20 Juni 2017

223. 2017-06-22 [singgalang] Ramadhan di Masjidil Haram

Ramadhan di Masjidil Haram

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Awal Juni 2017 lalu atas izin Allah SWT saya berkesempatan menjalani ibadah amaliah Ramadhan di Masjidil Haram. Dalam kesempatan itu saya menemani orang tua saya melaksanakan ibadah umrah. Suasana Masjidil Haram penuh sesak oleh mereka yang melakukan ibadah. Penuhnya Masjidil Haram dengan manusia karena mereka semua kebanyakan menetap di Makkah Al Mukarramah selama bulan Ramadhan. Sehingga ada yang menyebut kondisinya lebih ramai dari ibadah haji.

Masjidil Haram berada di Makkah Al Mukarramah, yang dijelaskan oleh Rasulullah sebagai sebaik-baik bumi Allah seperti yang disabdakan yang artinya, “Demi Allah, sesungguhnya engkau  adalah  sebaik-baik bumi Allah, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan karena dipaksa ke luar,  maka aku tidak akan meninggalkan engkau.” (HR. At-Tirmidzi)

Masjidil Haram baru saja diperluas, namun ternyata tetap penuh sesak oleh orang yang beribadah di bulan Ramadhan ini. Karena mereka ingin mendapatkan pahala terbaik di sini. Di antaranya seperti sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti haji bersamaku,” (HR. Bukhari No. 1863). Dalam hadis lain, “Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim No. 1256)

Siapa yang tidak mau berhaji bersama Rasulullah? Karena jika kita melihat para sahabat yang berhaji bersama Rasululullah SAW, mereka mendapatkan berbagai keutamaan di akhirat yang kekal abadi, sehingga membuat iri kita yang hidup ribuan tahun setelah mereka.

Di samping itu, pahala shalat di Masjidil Haram pun memiliki keutamaan yang tinggi. “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah No. 1406).

Jika shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya, maka shalat di Masjidil Haram di bulan Ramadhan tentu akan lebih besar lagi nilainya.

Kenikmatan beribadah di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan, tidak hanya shalat, tetapi juga umrah, membaca Al Quran, iktikaf, qiyamul lail, dan juga shalat tahajud, serta zikir lainnya.

Dan untuk mengunjungi Masjidil Haram, bagi kita yang di Indonesia pastilah membutuhkan dana dan menyediakan waktu. Namun sebenarnya tidak selalu masalah dana dan waktu, akan tetapi kemauan. Karena banyak orang yang memiliki uang cukup untuk pergi ke Tanah Suci dan bisa menyediakan waktu namun tidak memiliki kemauan.

Sebaliknya, orang yang memiliki kemauan namun dibatasi masalah dana biasanya akan menabung. Banyak kisah yang membuktikan bahwa jika ada kemauan insya Allah bisa pergi ke tanah suci.

Maka, beruntunglah orang-orang yang memiliki kemauan dan bisa shalat serta ibadah di Masjidil Haram. Karena telah melakukan apa yang disabdakan Rasulullah SAW sehingga mendapatkan keutamaan.

Jika kita perhatikan rukun Islam, maka ibadah utama seorang muslim adalah berhaji ke tanah suci jika memiliki kemampuan. Namun karena di Indonesia antrean haji sudah menembus angka belasan tahun, maka bagi muslim yang ingin merasakan nikmatnya beribadah di tanah suci yang bisa dilakukan adalah menunaikan ibadah umrah.

Karena kita sadari bahwa hidup di dunia adalah untuk menyiapkan bekal menuju akhirat, maka beribadah di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan adalah salah satu bagian yang bisa dilakukan oleh setiap muslim sebagai bekal mereka menuju akhirat.

Ibarat orang berdagang, untung besar pastilah diinginkan. Dan untung besar dalam beramal ibadah tersebut bisa didapatkan dengan mengikuti sabda Rasulullah SAW terkait keutamaan ibadah di Masjidil Haram, apalagi saat bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW dalam sabdanya banyak menyebut keutamaan-keutamaan beribadah di suatu tempat tertentu, dan di suatu waktu tertentu.  Dan banyak orang yang berusaha mendapatkan berbagai keutamaan ini agar mereka mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. Sebagai persiapan bekal untuk menghadapi akhirat.

Dalam urusan dunia saja, banyak orang melakukan lompatan-lompatan besar agar meraih prestasi dan mewujudkan obsesi. Maka demikian pula untuk urusan akhirat, banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan lompatan besar untuk dijadikan bekal kehidupan akhirat. Semoga kita bisa melakukan lompatan besar itu sehingga kita menjadi manusia yang mendapat rahmat Allah SWT dan semoga menjadi orang yang bertakwa. Aamiin. ***

 

Singgalang, 22 Juni 2017

224. 2017-07-03 [Padek] Zakat Fitrah dan Silaturahmi

Zakat Fitrah dan Silaturahmi

Oleh:    Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Umat Islam telah selesai melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1438 Hijriah. Di sepuluh hari terakhir Ramadhan banyak kaum muslimin yang melaksanakan sunnah Nabi SAW yaitu iktikaf. Pada sepuluh hari terakhir itu ada sebuah malam yang disebut Lailatul Qadar. Bagi yang mampu mendapatkan malam tersebut, maka pahalanya  lebih baik dari ibadah selama 1000 bulan.

Setelah selesai melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh, maka di awal bulan baru (Syawal) umat Islam merayakan Hari Idulfitri.  Pada hari ini umat Islam bersukacita. Takbir dan tahmid dikumandangkan. Dalam keceriaan itu, di bulan Ramadhan hingga menjelang shalat Id seluruh umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah berupa bahan pokok sejumlah 3,5 liter per orang. Baik kaya maupun miskin, baik yang baru lahir maupun yang sudah tua.

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (Id), maka itu adalah satu sedekah dari sedekah-sedekah.” (HR. Abu Daud)

Zakat fitrah memiliki dimensi sosial yang tinggi. Bagi yang mampu, selain menyucikan diri ini juga akan membentuk kepedulian sosial terhadap sesama. Bagi yang hidupnya sederhana, ia akan  mendapatkan kesucian diri dari zakatnya, dan bagi mereka yang diberikan zakat fitrah akan mendapatkan kegembiraan karena bisa membeli makanan dan baju untuk hari raya.

Zakat fitrah memang bukan zakat harta (maal). Jika zakat harta memiliki nasab (batas tertentu agar bisa dibayarkan zakatnya) dan tidak semua orang harus membayar karena belum mencapai nasab maka zakat fitrah diwajibkan kepada seluruh umat Islam tanpa kecuali. Umat Islam yang berpuasa tapi tidak membayar zakat fitrah, maka Allah SWT dan RasulNya akan murka.

“Barangsiapa yang tidak membayar zakat yang wajib atasnya, (kelak) di hari kiamat akan dimunculkan baginya ular jantan yang memiliki bisa sangat banyak. Ular tersebut akan menarik kedua tangan orang itu dan berkata kepadanya, ‘Saya ini adalah harta dan kekayaan yang telah kamu kumpulkan di dunia.” (HR. Al Bukhari)

Melihat bunyi hadis demikian, maka sesungguhnya inilah letak keadilan ajaran Islam. Pembelaan kepada kaum dhuafa sangat jelas dan kuat. Sebulan penuh berpuasa dalam rangka menahan haus, lapar dan nafsu serta mengajak berempati akan kehidupan kaum dhuafa, menjelang Idulfitri diwajibkan membayar zakat fitrah agar mereka yang dhuafa bergembira di Hari Idulfitri.

Selain itu, kegembiraan di Hari Idulfitri adalah silaturahim sesama saudara, tetangga, teman yang sudah membudaya di Indonesia.  Dan bahkan di antara negeri muslim, hanya ada di Indonesia, yaitu halal bihalal. Pada Hari Idulfitri, umat Islam saling mengunjungi satu sama lain, saling memaafkan. Sehingga hati mereka kembali bersih, selain telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.

Silaturahmi yang merupakan wujud kegembiraan di Hari Idul Fitri juga merupakan pembuka pintu rezeki. Ini seperti disabdakan oleh Rasulullah SAW.

Dari Anas bin Malik r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudahlah membuka pintu rezeki dan memanjangkan umur, silaturahmi saling bermaafan juga membersihkan hati. Andaikan saling bermaafan tidak hanya di Hari Idulfitri, mungkin pengaruh positifnya dalam kehidupan akan lebih banyak lagi, sehingga kesuksesan hidup lebih cepat dan lebih banyak diraih.

Rasulullah SAW pernah menceritakan kisah orang ahli surga yang amalan utamanya adalah memaafkan kesalahan orang lain setiap malam sebelum tidur, hingga ada sahabat yang mencari tahu. Dan ternyata memang benar, amalan utamanya adalah memaafkan kesalahan orang lain yang menzalimi dirinya. Tidak ada amalan lain yang terlihat menonjol oleh sahabat yang mencari tahu tersebut.

Semoga di momentum Idulfitri ini, kita dapat mengambil pelajaran dari silaturahmi saling bermaafan dan saling memaafkan, yang pengaruhnya dalam kehidupan kita ternyata sangat positif. Dan juga tak lupa kita sucikan diri kita setiap tahun dengan memastikan sudah membayar zakat fitrah. Aaamiin. ***

 

Padang Ekspres, 03 Juli 2017

225. 2017-07-13 [Singgalang] Dirgahayu Polri

Dirgahayu Polri

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 10 Juli 2017 lalu saya menghadiri upacara Peringatan Hari Bhayangkara atau HUT Polri (Kepolisian RI)  ke-71 yang berlokasi di Lapangan Imam Bonjol, Padang.  Pada kesempatan itu Kapolda Sumbar sebagai Irup membacakan amanat tertulis Presiden RI yang mengapresiasi kerja keras Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Saya turut mengamini apa yang disampaikan Presiden dalam amanat tertulisnya.

Tema peringatan HUT Polri tahun ini adalah “Dengan semangat profesionalitas dan modernisasi Polri berkomitmen untuk meraih kepercayaan masyarakat demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejahtera, mandiri, berkeadilan.” Tema perayaan HUT yang ke-71 ini jika dilihat lebih dalam lagi memang sedang dilakukan oleh Polri.

Selaku kepala daerah, saya merasakan peran besar kepolisian dalam membantu menciptakan suasana keamanan dan ketertiban yang baik bagi masyarakat.  Dalam hal ini bisa dilihat faktanya dalam ruang lingkup wilayah Sumbar.

Sebagai contoh, baru saja kita melewati bulan Ramadhan dan merayakan Hari Idulfitri 1438 H. Alhamdulillah dengan peran kepolisian yang sudah dilakukan, kita bisa merasakan kondisi keamanan yang baik. Ini patut disyukuri oleh kita semua. Karena dengan keamanan yang baik, seluruh masyarakat bisa beraktivitas dengan baik.

Operasi yang diberi nama Ramadniya pada bulan Ramadhan dan juga di momen Hari Idulfitri telah dilakukan oleh kepolisian dengan baik sehingga kondisi di Sumbar dalam keadaan aman, tertib dan terkendali. Dalam hal penanganan keamanan jalan raya pun, pihak kepolisian telah berperan besar dalam mengamankan lalulintas. Hal ini turut menyumbang akan minimnya kecelakaan lalulintas. Demikian pula dalam hal melayani para perantau yang mudik menuju kampungnya maupun orang ranah yang bepergian, peran kepolisian sejauh ini patut diapresiasi.

Selain itu, yang mungkin luput dari perhatian masyarakat banyak adalah peran kepolisian dalam mewujudkan stabilitas harga barang, terutama bahan pokok dan komoditas pangan patut diapresiasi. Seperti kita ketahui bahwa inflasi yang terjadi pada bulan Ramadhan 1348 H di Sumbar angkanya cukup kecil.

Jika biasanya harga bahan pokok naik cukup tinggi sehingga angka inflasi juga tinggi, maka pada Ramadhan kali ini angka inflasi justru di bawah dari tahun sebelumnya. Pada Ramadhan 2017 angkanya berada di 0,32 persen. Sementara pada Ramadhan 2016 angkanya 1,52 persen. Seperti disampaikan oleh Kepala Perwakilan BI Sumbar Bpk Puji Atmoko, inflasi bulanan Sumbar untuk bulan Juni 2017 adalah yang terendah ketiga dari 32 provinsi yang mengalami inflasi secara nasional.

Satgas ketahanan pangan yang dibentuk oleh kepolisian telah terbukti mampu meredam gejolak harga bahan pokok dan komoditi pangan sehingga inflasi bisa ditekan. Oknum pedagang tidak berani lagi menimbun, memonopoli dan menaikkan harga sesukanya karena demand meningkat. Polisi dengan satgasnya siap menindak.

Terkait masalah terorisme dan radikalisme, kita juga patut memberikan apresiasi kepada pihak kepolisian di Sumbar yang telah bekerja dengan baik sehingga Sumbar relatif lebih aman dibanding provinsi lain dalam mengantisipasi munculnya terorisme dan radikalisme yang bertentangan dengan nilai agama.

Dan yang juga patut diapresiasi oleh kita bersama adalah berhasilnya pihak kepolisian di Sumbar mengungkap banyak kasus narkoba. Banyaknya kasus narkoba yang terungkap ini bukan lantaran banyaknya jumlah pengguna atau pengedar narkoba. Karena boleh jadi di daerah lain jauh lebih banyak pengguna narkobanya tapi kasusnya tidak terungkap.

Namun dalam hal ini justru pihak kepolisian di Sumbar dengan kerja kerasnya berhasil mengungkap kasus narkoba dengan mendapatkan informasi dari orang-orang yang terkena narkoba dan para pasien kasus narkoba yang berada di rumah sakit yang ada di Sumbar.

Berbeda dengan data kemiskinan dan pengangguran yang bisa dilihat langsung dan dihitung ke masyarakat, maka data kasus narkoba bisa terungkap melalui kerja keras aparat kepolisian mengungkap dan mengumpulkan informasi serta menangkap pelaku Narkoba.

Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolda Sumbar dan jajarannya yang menindaklanjuti setiap laporan dari Pemprov maupun masyarakat,  seperti laporan kasus kemaksiatan atau penyakit masyarakat yang direspon cepat oleh Kapolda dan jajaran di bawahnya. Seperti penggerebekan di kawasan Taman Melati dan beberapa titik lain yang sudah sering disuarakan masyarakat.  Demikian pula masalah kelompok geng motor, Kapolda langsung turun menindaklanjuti. Belum lagi masalah lain seperti kemacetan lalulintas yang juga direspon segera oleh Kapolda.

Selain itu, dalam hal pelayanan yang ditangani kepolisian, perkembangannya semakin baik dirasakan pada saat ini.  Seperti pelayanan kepolisian bersama pemprov di Samsat, semakin menunjukkan perbaikan yang lebih bagus.

Dengan berbagai pencapaian dan prestasi yang telah ditunjukkan oleh kepolisian ini semoga dampaknya juga mampu meningkatkan investasi, lancarnya pembangunan, dan kegiatan masyarakat di Sumbar semakin baik.

Mengakhiri tulisan ini, saya ucapkan Dirgahayu Polri. Semoga Polri semakin maju dalam melakukan tugas-tugasnya yang kian kompleks di era modern ini. Sehingga NKRI yang adil, mandiri, dan sejahtera bisa terwujud. Dan dampaknya kembali ke masyarakat. Aamiin.

 

Singgalang, 13 Juli 2017

226. 2017-07-18 [Padek] Tiket Pesawat Mahal

Tiker Pesawat Mahal

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sudah menjadi “kelaziman” dari tahun ke tahun bahwa ketika momentum Ramadhan dan Idulfitri harga tiket pesawat dari Jakarta ke Padang menjadi mahal. Mahalnya harga tiket pesawat ini karena berlaku hukum ekonomi yaitu jika permintaan meningkat sedangkan penawaran tidak ikut meningkat maka harga naik, apalagi jika permintaan jauh melampaui penawaran, harganya bisa lebih tinggi lagi. Namun untuk tiket Jakarta Padang dirasakan sangat tinggi sekali. Sehingga menimbulkan protes dari konsumen.

Selaku gubernur saya sudah mengirimkan surat resmi beberapa kali kepada pihak maskapai Garuda yang merupakan “pemimpin pasar” dalam penentuan harga tiket pesawat, agar menerapkan keadilan dalam penentuan harga tiket. Dan keadilan yang dimaksud adalah misalnya melihat pula penerapan harga tiket dari Jakarta ke Pekanbaru, Jambi atau Batam yang waktu tempuhnya tidak jauh berbeda dengan jarak Jakarta Padang, namun harga tiketnya bisa lebih murah.

Namun jawaban dari pihak Garuda masih normatif dengan berpedoman kepada peraturan yang berlaku (Kemenhub) di mana tetap memperhatikan batas atas dalam menerapkan harga tiket. Meskipun masih di bawah batas atas, harganya tetap sangat mahal. Maka, maskapai lain pun akhirnya menerapkan harga yang sangat mahal kepada penumpang ketika momentum ramadhan dan saat Idulfitri ini karena mengacu kepada harga tiket Garuda.

Berdasarkan data BPS, kenaikan harga tiket pesawat di momentum Idulfitri menyumbang angka inflasi Sumbar cukup besar yaitu sebesar 0,10 persen. Saya masih berharap di tahun-tahun berikutnya harga tiket pesawat dari Jakarta ke Padang bisa lebih rasional pada saat Idulfitri di mana maskapai berlaku proporsional dan adil dengan rute lain yang sebanding waktu tempuhnya sehingga keuntungan tetap bisa didapat maskapai namun konsumen juga tidak diberatkan.

Memang jika kita melihat penyebab harga tiket pesawat mahal ini karena sangat banyak perantau yang pulang kampung dari Jakarta ke Padang dengan menggunakan pesawat. Sehingga lonjakan jumlah penumpang ini menyebabkan terjadinya lonjakan harga yang luar biasa. Meskipun sudah ada sedikitnya 12.000 kursi extra flight  dan minimal 5.000 kursi tambahan melalui pengunaan pesawat berbadan besar jenis Airbus oleh beberapa maskapai dengan rute Jakarta-Padang, penumpang tetap ramai dan harga tetap tinggi.

Para perantau sebenarnya juga banyak yang menggunakan mobil atau bus untuk pulang kampung. Ini terbukti dari penuhnya jalan-jalan di Sumbar ketika Idulfitri sehingga terjadi kemacetan di berbagai tempat. Beberapa perantau baik dari kesatuan wilayah tertentu maupun bukan, mengadakan pertemuan dengan orang sekampung mereka atau kesamaan sekolah dan lainnya seperti silaturahmi nasional, kongres, musyawarah perantau, dan reuni sekolah serta halal bihalal, di mana saya sempat menghadiri beberapa acara yang diadakan tersebut.

Kembali ke masalah harga tiket mahal, ternyata masa berlakunya tiket mahal ini terbilang memiliki rentang waktu panjang. Hal ini di sisi lain menandakan bahwa mungkin satu-satunya di Indonesia jika tiba masa Idulfitri banyak perantau asal Minang pulang kampung sehingga Sumbar selalu mengalami volume trafik pesawat yang meningkat pesat dan juga meningkatnya volume kendaraan di jalan raya. Dan panjangnya rentang waktu tiket mahal menunjukkan arus balik yang lama dari seharusnya dan juga menunjukkan masih ada perantau yang baru pulang kampung.

Kecintaan kepada kampung halaman memang sesuatu yang membanggakan bagi orang Minang, terutama ketika momentum Idulfitri.  Bisa dikatakan bahwa mahalnya harga tiket, lamanya rentang waktu tiket mahal, serta banyaknya perantau yang pulang kampung, adalah bukti juga masuknya aliran uang ke Sumbar dalam jumlah besar. Untuk hal ini saya sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih, karena sumbangsih perantau berupa dana bagi kemajuan kampungnya selama ini sungguh merupakan bentuk dukungan nyata terhadap kemajuan pembangunan di Sumbar.

Meskipun PAD Provinsi Sumbar dan kabupaten/kota mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun dana yang tersedia masih belum mencukupi untuk membangun Sumbar. Maka dengan peran perantau inilah turut berperan dalam pembangunan di Sumbar.

Pemprov Sumbar bekerjasama dengan Polda Sumbar telah berupaya memfasilitasi kedatangan perantau ini dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan para pengguna jalan raya. Meskipun terjadi kemacetan, namun alhamdulillah bisa diminimalkan terjadinya kecelakaan.

Semoga dengan perjuangan perantau bersusah payah datang ke kampungnya pada momentum Hari Idulfitri melalui transportasi udara maupun darat dalam rangka bersilaturahmi dan sekaligus berkontribusi bagi kemajuan pembangunan di Sumbar, mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT. Aamiin. ***

 

Padang Ekspres, 18 Juli 2017

227. 2017-07-26 [Singgalang] Musabaqah dan Multaqa Dai Internasional

Musabaqah dan Multaqa Dai Internasional

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 11-21 Juli lalu diselenggarakan acara skala internasional di Padang yaitu Musabaqah dan Multaqa Dai Se-Asia, Afrika dan Eropa. Di antara yang hadir adalah Imam Masjidil Haram Syaikh Hasan Al Bukhari, Syaikh Khalid Al Hamoudi, Syeikh Musyir Siwar Dzahab (mantan presiden Sudan), dan Duta Besar Arab Saudi Usamah Mohammaed Ash Shuibi. Sepuluh negara Asean juga ikut mengutus dai dan ulamanya di acara ini.

Saya berkesempatan menghadiri acara ini dan juga menutup acara tersebut. Sekitar 500 Dai dan Ulama yang hadir dalam acara ini mendapat respon positif dari masyarakat Kota Padang khususnya dan Sumbar secara umum. Para peserta yang datang dari luar negeri pun memberikan respon positif terhadap acara ini dan juga terhadap sambutan masyarakat.

Di akhir acara ini dihasilkan sebuah kesepakatan yang disebut “Deklarasi Padang”. Beberapa poin penting dari deklarasi ini adalah umat Islam adalah umat yang satu tanpa melupakan adanya perbedaan, di mana akhlak mulia dan akidah yang lurus adalah landasannya. Kemudian, persatuan, kesatuan dan persaudaraan umat Islam harus terus ditumbuhkan dengan mengedepankan cinta kasih sesama manusia, di mana ulama juga diharapkan berperan dan mampu menjadi teladan bagi umat.

Dan terakhir, solidaritas umat Islam harus terus dipelihara agar mampu berkontribusi terhadap penderitaan saudaranya di belahan dunia lain seperti Rohingnya dan Palestina dan tempat lainnya.

Poin-poin penting Deklarasi Padang menunjukkan betapa Islam adalah ajaran yang penuh rahmat dan menjunjung persatuan dan persaudaraan. Dai dan ulama yang berkumpul memberikan kesejukan kepada umat sehingga diharapkan memberi dampak positif kepada masyarakat. Dan yang saya saksikan sendiri, masyarakat begitu antusias dengan acara ini.

Alhamdulillah, momentum pelaksanaan acara ini memang pas waktunya. Yaitu setelah Sumbar dianugerahi sebagai destinasi wisata halal dunia  dan kuliner halal beberapa waktu lalu. Sehingga pelaksanaan acara Musabaqah dan Multaqa Dai ini turut mensukseskan Sumbar sebagai destinasi wisata halal yang layak dikunjungi.

Salah satu acara yang diselenggarakan dalam kaitan Musabaqah dan Multaqa Dai ini adalah festival memasak rendang. Rendang adalah kuliner asli Sumbar, dan baru saja kembali mendapatkan pengakuan di CNN Travel sebagai makanan paling enak di dunia.

Selain itu, pelaksanaan pembukaan acara Musabaqah dan Multaqa Dai ini dilakukan di Masjid Raya Sumbar. Masjid Raya Sumbar saat ini sudah menjadi ikon destinasi wisata di Kota Padang dan Sumbar. Dengan berlangsungnya acara berskala internasional tersebut semakin memperluas publikasi tentang Masjid Raya Sumbar ini di lingkup internasional.

Kementerian Pariwisata juga turut memberikan dukungan terhadap acara ini. Karena turut memperkokoh Sumbar sebagai destinasi wisata halal. Tak kurang dari Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan bahwa kegiatan Musabaqah dan Multaqa Dai di Sumbar membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia aman dan dapat dikunjungi oleh siapapun.

Wisata halal akan menarik datangnya para wisatawan dari negara-negara Islam, negara-negara Asean dan juga untuk menarik datangnya wisata keluarga.

Selain itu, dalam acara ini juga diselenggarakan forum bisnis yang mempertemukan para pengusaha dari Timur Tengah dengan pemerintah daerah yang ada di Sumbar, dan juga pelaku usaha yang ada di Sumbar.

Jika para pelaku usaha yang tergabung atau memiliki organisasi yang menaungi sudah makin cepat menyikapi datangnya para pengusaha luar maupun wisatawan ke Sumbar, maka saya berharap masyarakat pun bisa mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan secara positif dari dilaksanakannya berbagai kegiatan pertemuan di Padang maupun Sumbar.

Peluang bisnis oleh-oleh, kuliner, transportasi, penginapan adalah di antara jenis-jenis peluang yang bisa digarap oleh mayarakat, terutama pelaku UMKM. Pemerintah akan terus menjadikan pariwisata sebagai sarana memajukan Sumbar dan mensejahterakan masyarakat.

Semoga dengan berlangsungnya berbagai kegiatan skala lokal, nasional dan internasional di Sumbar, masyarakat semakin memiliki kesadaran untuk bersama-sama membangun suasana pariwisata yang baik. Sehingga ke depannya pemerintah dan masyarakat secara bersama satu persatu bisa memperbaiki berbagai kekurangan yang masih ada di depan mata, seperti masalah kebersihan lokasi pariwisata dan ketersediaan sarana penunjang yang memadai, tarif masuk dan tarif parkir yang sering dikeluhkan.

Insya Allah, dengan kesadaran semua pihak, potensi wisata halal ini akan menjadi berkah bagi masyarakat Sumbar. Untuk itu, perlakuan kepada wisatawan pun harus dengan cara yang “halal” sehingga memberikan kenyamanan yang baik. Jangan lagi ada pemaksaan yang justru jauh dari nilai Islam itu sendiri. ***

 

Singgalang, 26 Juli 2017

228. 2017-08-09 [Republika] Masalah Inflasi dan Pembangunan Daerah

Masalah Inflasi dan Pembangunan Daerah

Oleh:    Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Dengan adanya kewenangan daerah mengatur dirinya diharapkan pembangunan di daerah akan bisa lebih cepat menyejahterakan masyarakat dan mampu menyerap aspirasi masyarakat yang berkembang.

Namun, meskipun sudah ada otonomi daerah, beberapa kewenangan tetap masih dipegang pemerintah pusat atau instansi pusat. Di bidang ekonomi, hal yang sama terjadi. Misalnya, pengaturan harga komoditas strategis yang bisa memicu inflasi atau kenaikan harga secara umum.

Sebagai contoh, jika terjadi kenaikan harga BBM, otomatis harga barang dan jasa di seluruh provinsi akan naik. Karena kebijakan kenaikan harga BBM ini adalah otoritas pemerintah pusat, pemerintah daerah harus bisa melakukan antisipasi sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

Demikian pula, dengan pencabutan subsidi listrik karena dianggap tidak tepat sasaran. Meskipun ini adalah kewenangan pemerintah atau instansi pusat, masyarakat akan menuntut penurunan tarif kepada pemerintah daerah. Dan yang juga masih hangat untuk konteks Sumatera Barat (Sumbar) adalah harga tiket pesawat yang mahal di momen Idulfitri. Kenaikan harga tiket pesawat ini menyumbang angka inflasi cukup tinggi yaitu 0,66 persen pada Juli 2017.

Bagi pemerintah daerah, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, inflasi perlu dikendalikan. Hal ini dalam rangka mengurangi angka kemiskinan dan menjaga tingkat kesejahteraan masyarakat agar pendapatan mereka tidak tergerus inflasi.

Pendorong naiknya inflasi di Sumbar adalah tingginya permintaan komoditas yang khas. Di antaranya jengkol, beras, bawang merah dan cabai merah. Alhamdulillah harga-harga komoditas ini  tahun 2017 bisa dikendalikan sehingga harganya yang tinggi bisa diturunkan. Kontribusinya terhadap inflasi juga kecil.

Inflasi pada Juni 2017 (Ramadhan dan Idulfitri) di Sumbar 0,32 persen, turun cukup jauh dibanding momen yang sama pada 2016, yaitu 1,52 persen. Inflasi Juni 2017 ini berada di urutan ketiga terendah provinsi se-Indonesia setelah Sumatera Utara dan Riau. Inflasi di Sumbar untuk Juni 2017 angkanya juga lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 0,69 persen.

Untuk mengendalikan inflasi, pemerintah daerah  telah membentuk Tim Pengendali dan Pemantau Inflasi Daerah (TPID). Dengan adanya TPID ini, pengendalian inflasi semakin baik. Bahkan dibentuknya satgas pangan dari kepolisian juga membantu pengendalian harga, karena efektif mampu mencegah terjadinya penimbunan barang, pemonopolian, dan penaikkan harga sesukanya.

TPID juga melakukan berbagai usaha mengendalikan inflasi. Di antaranya melakukan operasi pasar jika teridentifikasi harga naik. Di samping itu, juga dilakukan pembagian bibit cabai kepada masyarakat, melalui pelajar dan ibu rumah tangga. Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) juga digencarkan pembentukannya. Pembangunan gedung pengendalian inflasi juga direncanakan untuk mengatur harga komoditas.

Dari sisi produksi atau di hulu, untuk meningkatkan pasokan beras banyak program yang dibuat pemerintah daerah, seperti cetak sawah, perbaikan irigasi, pemberian benih, penyuluhan, dan pemberian alat pertanian. Sementara di hilir, pemerintah daerah membuat program Toko Tani Indonesia, Lembaga Distribusi Pangan dan BUMD di bidang perdagangan untuk memperlancar distribusi barang kebutuhan pokok.

Untuk mengurangi permintaan yang tinggi terhadap beras, pemerintah daerah melakukan sosialisasi diversikasi pangan, dengan mengajak masyarakat mengganti atau mengurangi makan dengan jenis makan lain. Pengganti beras, antara lain, ubi dan pisang. Hal ini turut berperan mengurangi permintaan beras.

Dengan seringnya terjadi cuaca ekstrem, maka penanaman cabai diatur dengan pola tanam yang mengikuti cuaca sehingga cabai bisa dipanen. Bulog juga berperan dalam penyediaan cabai ini dengan menyediakan stok cabai. Sementara untuk jengkol, dilakukan pemberian benih kepada masyarakat untuk ditanam di hutan agar bisa tetap terpelihara ketersediaannya.

Selain itu, kami telah menyurati Garuda dan Kementerian Perhubungan terkait mahalnya tiket pesawat Garuda. Alhamdulillah, Menteri Perhubungan menyatakan akan menurunkan batas atas harga tiket pesawat.

Di samping mengendalikan inflasi agar ekonomi masyarakat secara umum juga stabil, pemerintah daerah juga memperhatikan masalah pertumbuhan ekonomi di Sumbar. Jika inflasi sudah bisa dikendalikan, harapannya pertumbuhan ekonomi yang terjadi akan bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Beberapa komponen yang cukup memengaruhi pertumbuhan ekonomi di Sumbar, yaitu konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah dan investasi serta ekspor. Dari sisi pemerintah daerah, kami selalu berusaha agar anggaran bisa terserap maksimal. Berdasarkan data BPS Sumbar, konsumsi pengeluaran pemerintah adalah salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Sumbar.

Sementara itu dari sisi konsumsi rumah tangga, naik turunnya dipengaruhi dari pekerjaan utama kebanyakan masyarakat. Di Sumbar, mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Sebagian bekerja sebagai petani sawit dan karet. Jika harga komoditas tersebut di pasar dunia tinggi maka pendapatan dan konsumsi rumah tangga mereka naik.

Sementara petani di sektor lain (petani padi dan juga hortikultura), selama ini senantiasa mendapat perhatian dari pemerintah karena hasilnya merupakan komoditas strategis dalam negeri. Sumbar mendapat target tertentu dari pemerintah pusat untuk penyediaan beras dalam rangka menjaga ketahanan pangan.

Dalam hal ini pemerintah daerah juga melakukan koordinasi (sosialisasi, perencanaan, dan lain-lain), memantau luas tanam, luas panen, dan produksi, juga mengamankan produksi pangan dari hama dan penyakit.  Di samping itu, turut memperlancar distribusi antarwilayah dan mengamankan jalur distribusi. Terganggunya hal tersebut akan berakibat pada penghasilan petani penaikkan inflasi. Dengan seringnya terjadi cuaca ekstrem di Sumbar memang menyebabkan beberapa komoditas sulit ditanam.

Bank Indonesia perwakilan Sumbar sudah turut berpartisipasi langsung di bidang pertanian ini, karena melihat perlunya mendukung sektor riil dengan memberdayakan SDM petani. Demikian pula dengan otoritas jasa keuangan (OJK) yang melihat pentingnya membantu meningkatkan produksinya serta pendapatannya.

Sementara dari sisi investasi, pemerintah daerah telah mempermudah investor untuk masuk ke Sumbar. Namun, investasi yang bisa masuk ke Sumbar juga sesuai dengan kondisi yang ada. Seperti investasi di bidang energi, khususnya energi terbarukan seperti panas bumi yang memiliki 16 titik setara 1.600 megawatt. Dan juga energi air (PLTM dan PLTMH, ratusan titik). Dan yang saat ini juga semakin gencar adalah investasi di bidang pariwisata. Bidang perikanan (perikanan tangkap dan budidaya ikan) pun memiliki peluang investasi yang bagus saat ini.

Investasi yang cenderung padat karya sulit berkembang di Sumbar karena secara umum, masyarakatnya tidak menyukai pekerjaan sebagai buruh pabrik dengan gaji setara upah minimum regional (UMR).

Pertumbuhan ekonomi Sumbar yang relatif baik juga didukung dengan indeks pembangunan manusia (IPM). Selama ini Sumbar berada di jajaran sembilan besar provinsi se-Indonesia. Porsi anggaran untuk bidang kependudukan ini, yang di antaranya meliputi pendidikan dan kesehatan juga menjadi perhatian pemprov.

Penutup

Sumbar berada wilayah pantai barat Sumatera. Lokasi yang kurang strategis secara ekonomi dibanding pantai timur Sumatera. Topografi wilayah terdiri dari pegunungan, bukit, lembah dan hutan serta rentan bencana. Dari sisi pendapatan asli daerah pun tidaklah besar. Namun, ini tidak menghalangi kami untuk bersungguh-sungguh menyejahterakan masyarakat, dengan menyesuaikan kebijakan dan program pembangunan berdasarkan situasi dan kondisi yang ada.

Secara umum, keberhasilan dan kerja keras dalam mengendalikan inflasi secara bersama, diiringi kesungguhan dan kekompakan semua elemen dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berdampak positif bagi masyarakat, adalah solusi riil yang bisa menyejahterakan masyarakat.

Dengan falsafah hidup masyarakat “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, pembangunan di Sumbar untuk menuju masyarakat Sumbar yang madani dan sejahtera senantiasa mengacu kepada pesan yang tertuang dalam ajaran Islam, dan memfokuskan kepada masyarakat selaku subjek sekaligus objek pembangunan. Sehingga kemajuan yang diperoleh tidak selalu berupa kemodernan semata, akan tetapi berupa kenyamanan masyarakat dalam menjalani hidupnya.

 

Republika, 09 Agustus 2017

229. 2017-08-10 [Republika] Alam, Hidup Manusia

Alam, Hidup Manusia

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 2 Agustus 2017 lalu, selaku kepala daerah saya kembali mendapat penghargaan Nirwasita Tantra. Ini adalah penghargaan di bidang lingkungan hidup. Presiden Jokowi menyaksikan langsung Menteri LHK yang memberikan penghargaan ini. Tahun 2016 lalu, penghargaan serupa sudah pula saya terima.

Selain Gubernur Sumbar, yang mendapat penghargaan Nirwasita Tantra ini adalah Bupati Dharmasraya dan Wali Kota Bukittinggi. Sementara tropi Adipura juga diterima oleh enam kota di Sumbar, sedangkan sertifikat Adipura diterima oleh 3 kota lainnya di Sumbar. Dan sebanyak 10 sekolah baik SD, SMP dan SMA di Sumbar mendapatkan penghargaan Adiwiyata.

Nirwasita Tantra diberikan kepada kepala daerah yang memiliki kepemimpinan untuk selalu meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Yaitu kepala daerah yang memiliki visi dan misi tentang lingkungan hidup. Dan ini dibuktikan dengan program serta kepemimpinan yang berwawasan lingkungan hidup.

Saya turut mengucapkan selamat atas penghargaan yang diraih oleh kabupaten dan kota serta sekolah tersebut. Ini adalah sebuah kebanggaan yang perlu disyukuri. Karena secara umum lingkungan hidup di Sumbar yaitu alamnya masih terjaga, sehingga kita masih bisa hidup nyaman dan aman dengan kondisi alam yang bagus ini.

Memang tidak dipungkiri bahwa Sumbar juga memiliki titik-titik rawan bencana. Namun sepanjang masih bisa diantisipasi, insya Allah bencana tersebut bisa kita hindari. Sedangkan bencana yang memang tidak bisa kita hindari datangnya, maka yang terbaik adalah tetap waspada dan melakukan antisipasi dan juga senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar negeri kita terhindar dari bencana.

Falsafah “alam takambang jadi guru” sebenarnya telah mengajarkan kita bahwa manusia sebagai “murid” harus banyak belajar dari alam yang telah diciptakan Allah SWT untuk mendukung kehidupan manusia. Pada satu titik kita memang harus mengakui bahwa semakin baik kita berinteraksi dengan alam secara positif maka akan semakin nyaman hidup kita.

Alam yang tidak dirusak, ia akan memberikan kita oksigen yang sangat berguna untuk hidup kita. Semakin sering manusia merusak alam, maka pasokan oksigen pun akan berkurang. Dan hidup manusia pun menjadi terganggu.

Alam juga menyediakan air bagi manusia. Manusia yang merusak sumber air, mata air maupun penahan air, akan mengalami kerugian. Kekeringan, banjir, longsor, adalah di antara contoh kerusakan yang diakibatkan ulah manusia.

Alam dengan segenap anggota ekosistemnya adalah sebuah kesatuan dan juga kepaduan. Jika ada elemennya yang dirusak maka akan mengganggu ekosistem yang berakibat kepada kerugian bagi manusia. Misalnya saja keberadaan binatang buas di alam bebas. Keberadaan mereka adalah untuk keseimbangan ekosistem. Jika mereka diburu hingga jumlahnya makin sedikit maka hewan-hewan yang menjadi makanannya akan berkembang jauh lebih pesat dan kemungkinan bisa mengganggu kehidupan manusia.

Dalam konteks ini saya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Bpk. Hashim Djojohadikusumo yang telah melepas harimau betina di Dharmasraya untuk kembali ke habitatnya di alam bebas. Saya bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya berkesempatan menghadiri acara pelepasan tersebut pada 29 Juli 2017 lalu yang bertepatan dengan Hari Harimau Internasional. Saya juga menyatakan kepada Ibu Menteri bahwa insya Allah Sumbar siap menjadi pusat satwa alam.

Alam yang sudah menjadikan manusia hidup semakin lebih baik memang tidak seharusnya semakin dirusak. Oleh karena itu, kami di pemprov turut berusaha agar lingkungan hidup yang ada di Sumbar tetap terjaga dengan baik.

Alhamdulillah semua target pencapaian terkait lingkungan hidup bisa dipenuhi, seperti indeks air, indeks udara, termasuk kondisi hutan dan sungai. Selain itu juga dalam hal pelaksanaan dan praktik ramah lingkungan di berbagai sektor, seperti pendidikan, industri, dan rumah sakit.

Maka penghargaan yang kami terima ini di satu sisi adalah apresiasi dari pemerintah pusat terhadap kesungguhan kami. Dan di sisi lain turut memotivasi kami untuk bekerja lebih baik lagi dalam menjaga lingkungan agar pembangunan berkelanjutan dapat berjalan baik. Karena kami sadar bahwa masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang memiliki lingkungan yang baik sehingga bisa hidup aman dan nyaman.

Dan semoga masyarakat pun berperan serta dalam menjaga kelestarian alam ini. Kita bersama-sama juga perlu ikut mencegah upaya perusakan alam yang dilakukan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Karena dengan kebersamaan tersebut insya Allah akan memunculkan tanggung jawab dan kesadaran bersama. Dan semoga upaya kita menjaga kelestarian alam mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin.

 

 

Republika, 10 Agustus 2017

230. 2017-08-23 [Singgalang] Rakor Kepala Daerah

Rakor Kepala Daerah

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Dalam beberapa hari berurutan sejak 3 Agustus 2017, kami di pemprov, gubernur, wakil gubernur, sekda, kepala organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan rapat koordinasi secara bergantian dengan bupati dan wali kota (atau wakilnya) se-Sumbar. Acara ini bertempat di auditorium gubernuran.

Masing-masing bupati dan wali kota beserta para kepala OPD mereka, selama lebih kurang satu setengah jam melakukan rapat kooordinasi (rakor) dengan pemprov. Rakor ini baru pertama kali dilakukan dan merupakan upaya tambahan dari berbagai kegiatan yang sudah berlangsung selama ini antara pemprov dengan bupati dan wali kota.

Dalam pasal 8 ayat 2 UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa pembinaan dan pengawasan oleh pemerintah pusat terhadap urusan penyelenggaraan pemerintahan oleh daerah kabupaten/kota dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Maka berdasar hal tersebut kami di pemprov melakukan koordinasi dengan bupati/wali kota.

Selama ini kami sedikitnya setiap tiga bulan sekali melakukan rakor dengan bupati/wali kota. Dari evaluasi kami, ada kelebihan dan kekurangan dalam rakor seperti ini. Rakor dengan bupati/wali kota ini didanai oleh APBN dalam rangka menjalankan peran gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah yang melakukan koordinasi dengan kota/kabupaten.

Dalam kegiatan rakor yang sudah ada, narasumber dari pusat pun diundang, termasuk dari kementerian dan lembaga terkait. Berbagai persoalan aktual dibahas dan didengarkan oleh gubernur, wakil gubernur, bupati, wali kota dan jajaran terkait. Setelah itu di tingkat kota dan kabupaten kembali dibahas bersama jajaran OPD.

Alhamdulillah, kegiatan tersebut telah berjalan baik selama ini. Selain melakukan pertemuan formal, gubernur, bupati, dan wali kota juga berkoordinasi melalui aplikasi whats app (WA) dengan membuat grup WA khusus. Dimana grup WA ini juga untuk menindaklanjuti rakor formal yang sudah dilakukan. Sementara komunikasi dan koordinasi melalui telepon maupun pesan singkat (SMS) dengan bupati dan wali kota juga sudah berjalan baik selama ini.

Selain itu dalam rangka memperkuat apa yang sudah dibicarakan, bupati maupun walikota beserta jajarannya secara khusus menemui gubernur, beraudiensi dan membahas hal-hal yang dianggap perlu guna menyelesaikan masalah.

Di luar itu, masih ada pula rakor tematik atau kontekstual yang berhubungan dengan isu-isu tertentu yang mengundang bupati dan wali kota. Dan ini juga sudah berjalan selama ini. Misalnya rapat terbatas dengan dua-tiga bupati terkait urusan pariwisata, lingkungan hidup, pertambangan, dan lainnya.

Namun ternyata, berbagai kegiatan rakor tersebut dirasa masih kurang. Karena rakor yang sudah berjalan pembahasannya dianggap tidak fokus. Selain itu tidak semua persoalan yang ada diangkat untuk dicarikan solusinya secara keseluruhan. Di mana nantinya seluruh peserta rakor, baik dari pemprov dan pemkab/kota bisa bekerjasama dan berkoordinasi. Oleh sebab itu maka diadakanlah rakor yang dihadiri oleh pemprov dan jajarannya (gubernur, wakil gubernur, sekda, kepala OPD) dan pemkab/kota dan jajarannya (bupati/wali kota dan kepala OPD).

Dalam rakor ini setiap pemkab/kota menyampaikan berbagai persoalan, seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian, dan hal lain yang dianggap perlu untuk dikoordinasikan dengan pemprov. Di mana bentuk koordinasinya nanti bisa berupa program, dukungan anggaran provinsi dan pusat, maupun penyelesaian persoalan yang perlu difasilitasi oleh gubernur dan persoalan di mana gubernur ikut langsung membantu. Dengan hal ini, seluruh persoalan yang ada di daerah yang kewenangannya terkait dengan pemprov maupun pemerintah pusat bisa diselesaikan.

Jika persoalan daerah yang kewenangannya ada di kabupaten/kota maka mereka sendirilah yang bisa menyelesaikan. Tapi ini tidak menutup kemungkinan gubernur bisa diajak ikut menyelesaikan persoalan. Seperti persoalan hubungan bupati dengan wakil bupati atau wali kota dengan wakil wali kota. Gubernur bisa diminta membantu ikut menyelesaikan persoalan yang ada tersebut sebagai pihak ketiga. Selain itu, untuk masalah daerah yang terkait dengan urusan pusat, gubernur bisa membantu menyurati pemerintah pusat.

Rakor kepala daerah dengan format baru ini akan dirutinkan. Rakor berikutnya akan dilakukan setelah ada tindak lanjut dari OPD provinsi yang diberi waktu satu bulan setelah mendengarkan paparan dari pemkab/kota.

Pada 4 september 2017 insya Allah akan diadakan rapat para kepala OPD provinsi yang telah mendengarkan dan mengikuti rakor, dengan gubernur tentang evaluasi tindak lanjut yang telah dilakukan. Setelah itu para kepada OPD provinsi akan mengadakan rapat terbatas dengan bupati/wali kota untuk secara teknis menyelesaikan persoalan yang belum selesai.

Jika persoalannya di anggaran, maka akan dimasukkan ke anggaran (APBD provinsi) perubahan 2017 atau anggaran 2018. Jika tidak terburu maka akan dimasukkan ke anggaran perubahan 2018 atau anggaran 2019. Persoalan daerah yang terkait anggaran ini, akan diadakan rapat kembali antara pemprov dengan bupati dan wali kota pada Januari atau Februari 2018 sekaligus untuk masuk ke pembahasan anggaran perubahan 2018 dan anggaran 2019.

Alhamdulillah banyak bupati dan wali kota merespon positif rakor format baru ini dan mendukung kegiatan ini sebagai media yang bisa memfasilitasi pertemuan dengan gubernur dan jajaran pemprov. Saya turut berharap berbagai persoalan yang ada di daerah tersebut bisa selesai. Karena ujung dari kegiatan ini adalah kesejahteraan rakyat.

Semoga rakor gubernur dengan kepala daerah (bupati/wali kota) dengan format baru ini mampu mempercepat pembangunan yang ada di Sumbar. Sehingga masyarakat semakin bisa menikmati hasil-hasil pembangunan yang dilaksanakan oleh pemkab/kota dan juga pemprov.

Singgalang, 10 Agustus 2017

231. 2017-08-24 [Padek] Mensyukuri Kemerdekaan

Mensyukuri Kemerdekaan

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, bulan Agustus 2017 ini kita kembali memperingati ulang tahun kemerdekaan RI ke-72. Para pendahulu kita yang menyiapkan undang-undang dasar (UUD 1945) tidak melupakan peran Allah SWT yang atas izinNya bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya. Sehingga dalam pembukaan undang-undang dasar tertulis “Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”.

Dan jika kita membaca lagi sejarah perjuangan para pahlawan serta menonton film dokumenter perjuangan maupun film kisah para pahlawan, betapa menjadi bangsa merdeka itu adalah anugerah dari Allah SWT yang harus selalu disyukuri.  Karena dengan kemerdekaan sebuah bangsa bisa meraih cita-citanya.

Pengorbanan nyawa demi mencapai kemerdekaan dari penjajah memang sudah tidak ada lagi di negeri kita. Justru saat ini kita harus mensyukuri dan mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kita bisa turut mendukung kemerdekaan bangsa lain yang masih dijajah secara fisik, seperti Palestina.

Dalam pidato Presiden Joko Widodo di Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI 16 Agustus 2017, Presiden menyebutkan dukungan pemerintah kepada perjuangan bangsa Palestina untuk mendapatkan kemerdekaannya.

Presiden menyatakan bahwa pemerintah memberi dukungan penuh untuk kemerdekaan Palestina. Pemerintah telah membuka konsulat kehormatan di Ramallah Palestina. Pemerintah juga turut mendorong Asean dan PBB untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

Presiden juga menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia pun turut mengecam keras pembatasan beribadah di Masjid Al Aqsha Palestina yang terjadi pada Juli 2017 lalu. Pemerintah mengusulkan proteksi internasional di komplek Masjid Al Aqsha Palestina. Saya mengapresiasi apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo ini, karena merupakan wujud solidaritas bangsa-bangsa yang pernah mengalami pahitnya penjajahan.

Dalam pembukaan undang-undang dasar, disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Oleh karena itu, manusia yang  memiliki hati nurani akan menentang penjajahan. Dan masalah Palestina pada saat ini bukanlah masalah umat Islam saja, karena yang berjuang di Palestina juga ada dari kalangan umat beragama kristen. Bahkan aktivis internasional yang memberi dukungan kepada kemerdekaan Palestina banyak yang berasal dari kalangan di luar muslim. Termasuk aksi boikot produk Israel yang dilakukan oleh masyarakat di Eropa.

Sementara itu, penjajahan adalah tindakan yang melawan fitrah manusia. Betapa banyak masyarakat di negara maju yang memprotes pemerintah mereka karena anak-anak mereka harus ikut berperang dan juga anggaran negara yang seharusnya untuk kesejahteraan masyarakat digunakan untuk tindakan menjajah negara lain dengan alasan yang dibuat-buat.

Dan di Israel sendiri, tidak sedikit warga negaranya yang menolak ikut wajib militer karena hati nurani mereka menolak tindakan pemerintahnya menjajah Palestina.

Saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh masyarakat di Sumbar beberapa waktu lalu dalam rangka solidaritas kepada bangsa Palestina sehingga bisa mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada saudaranya di Palestina.

Semoga solidaritas masyarakat terhadap Palestina turut menjadi bagian dari syukur kita atas nikmat kemerdekaan. Dan tentu saja, mengisi kemerdekaan dengan memaksimalkan peran masing-masing kita, adalah bentuk nyata syukur kita kepada Allah SWT.

Semoga dengan syukur kita kepada Allah SWT terhadap nikmat kemerdekaan ini, Allah SWT lindungi negeri kita dari segala gangguan dan ancaman baik dari dalam maupun luar. Aamiin.

 

Padang Ekspres, 24 Agustus 2017

232. 2017-08-30 [Singgalang] Pantun Warisan Budaya Dunia

Pantun Warisan Budaya Dunia

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 20 Agustus 2017 saya memenuhi undangan Final Festival Pantun Spontan Ala Irwan Prayitno. Acara bertempat di Tugu Merpati Perdamaian, Padang. Finalis yang terpilih dan diundang sebanyak 50 peserta dari berbagai kota dan kabupaten di Sumbar. Sementara jumlah peserta yang mengirim pantunnya ke email panitia sebanyak 871 orang.  Sedangkan jumlah pantun yang diterima panitia lebih dari 8000 pantun. Acara ini diadakan untuk pelajar SMA/MA/SMK.

Pantun yang sudah ada selama ini bisa dikategorikan ke dalam beberapa aliran atau mazhab. Seperti pantun Minang yang terdiri dari 9 suku kata. Pantun sastra Melayu, yang jumlah suku katanya 10, 11, dan 12. Pantun Minang klasik, di mana isi dari sampiran mendukung kepada pantun yang sesungguhnya, tentunya berbahasa Minang.

Pantun terdiri dari sampiran dan isi. Sampiran biasanya terdiri dari dua baris, dan isinya dua baris. Isi atau pesan pantun berada pada dua baris terakhir. Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang dikenal oleh berbagai etnis di Nusantara khususnya Melayu. Sehingga dikenal ada pantun Betawi, pantun Riau, pantun Sumatera Utara, pantun Kalimantan Selatan, dan lainnya. Dan sifat pantun biasanya sangat dinamis, mengikuti perkembangan zaman, karena pantun adalah hasil kreativitas manusia.

Salah satu bentuk puisi lama yang sudah dikenal adalah gurindam. Gurindam yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Sementara gurindam sendiri terpengaruh dari sastra Hindu. Namun demikian, pantun bisa dikatakan sebagai bagian dari budaya Melayu Nusantara. Dalam hal ini Melayu Islam.

Jika melihat jenis pantun, ternyata bermacam-macam. Ada pantun adat, pantun agama, pantun budi, pantun jenaka, pantun kepahlawanan, pantun kias, pantun nasihat, pantun percintaan, pantun perpisahan, pantun teka-teki, pantun lucu, dan lainnya.

Secara umum pantun terdiri dari empat baris. Dua baris pertama adalah sampiran, dan dua baris terakhir adalah isi atau pesan. Huruf kata terakhir biasanya berpola a-b-a-b atau a-a-a-a. Jika ada yang berpola a-b-b-a atau a-a-b-b, maka itu bukan pantun.

Terkait penggunaan suku kata atau huruf kata yang sama, kita juga bisa melihat di dalam Al Quran. Misalnya Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Suku kata terakhirnya berbunyi sama.  Al Quran memang berisi kesusasteraan tingkat tinggi. Tidak akan bosan orang mendengarkan bacaan Al Quran, apalagi yang membacanya memiliki suara bagus. Apakah ada hubungan antara bunyi suku kata terakhir dalam ayat Alquran dengan pantun yang dilahirkan oleh kaum melayu nusantara? Ini bisa menjadi diskusi menarik.

Jika melihat mazhab pantun, pantun yang saya buat secara spontan dalam memberi sambutan di acara resmi pemerintahan ini memang tidak termasuk ke dalamnya. Karena pantun yang saya sampaikan dimaksudkan untuk menyampaikan pesan dan sekaligus membiasakan pantun sebagai budaya yang sudah berkembang sejak lama di masyarakat.

Karena pantun yang saya sampaikan selama ini lebih banyak di acara formal terkait pemerintahan, maka bahasa yang digunakan kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa Minang. Pantun pun bersifat spontan, sesuai dengan tema, situasi, keadaan, kondisi dan tujuan acara.

Indonesia bersama Malaysia telah mengajukan pantun kepada UNESCO, yang merupakan Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan. Pantun dimasukkan sebagai daftar Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage.

Sebelumnya, Indonesia bersama Malaysia, Thailand, Singapura, dan Brunei Darussalam yang akan menjadikan pantun sebagai nominasi multinasional. Namun setelah melihat kesiapan, akhirnya hanya Indonesia dan Malaysia yang siap.

Hingga saat ini sudah ada warisan dunia dari Indonesia yang diakui UNESCO yaitu angklung, batik, keris, noken, tari saman, tari bali, dan wayang. Semoga pantun yang selama ini hidup di tengah masyarakat juga bisa masuk ke dalam warisan dunia yang diakui UNESCO.

Dan bagi kita, semoga bisa turut melestarikan budaya pantun dalam kehidupan sehari-hari. Karena di tengah penggunaan bahasa yang kadang cenderung kasar, terutama di media sosial, membudayakan pantun mampu menghaluskan bahasa sehingga lebih beradab namun tetap dinamis dan bersifat kekinian.

Singgalang, 30 Agustus 2017

233. 2017-09-08 [Singgalang] Kurban, Kepedulian Sosial

Kurban, Kepedulian Sosial

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, pada hari Jumat 1 September 2017 bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1438 H pelaksanaan sholat Idul adha berjalan baik di halaman Kantor Gubernur Sumbar, Padang. Saya bersama Bpk. Nasrul Abit dan jajaran Pemprov, Forkompimda, warga kota Padang, dan juga perantau menunaikan sholat id di sini.

Dalam salah satu poin sambutan saya sebelum pelaksanaan sholat id, saya mengajak diri sendiri dan masyarakat menjadikan kurban sebagai bagian dari gaya hidup positif. Yaitu menumbuhkan kepedulian sosial. Karena sesungguhnya menunaikan kurban ini bukanlah seperti zakat yang harus memenuhi syarat terpenuhinya nasab. Selain itu alokasi zakat terbatas pada delapan golongan yang disebut dalam Alquran.

Sedangkan kurban, bisa dilakukan oleh para penerima zakat sekalipun. Dan daging kurban bisa diberikan kepada kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Bahkan beberapa lembaga sosial kemanusiaan sudah menyalurkan daging kurban ke pelosok negeri yang sulit dijangkau termasuk ke negara-negara yang dilanda perang dan konflik sosial.

Entah sudah berapa kisah yang diberitakan oleh media tentang pemulung, tukang becak, tukang sapu, tukang cuci dan para kaum dhuafa lain yang melaksanakan kurban. Mereka mengumpulkan uang ada yang dalam waktu cukup lama, berbilang tahun. Padahal jika melihat golongan penerima zakat, mereka harus mendapatkan zakat tersebut. Namun justru meskipun mereka dalam kondisi tidak mampu mau bersusah payah untuk berkurban.

Di samping itu, kita juga perlu belajar dari keteladanan Nabi Ibrahim. Dalam surat Al Mumtahanah ayat 4 Allah SWT berfirman yang artinya, “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia …”. Teladan dari Nabi Ibrahim di antaranya adalah haji dan berkurban. Bagi Ibrahim, dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT ia akan korbankan apa saja yang dimilikinya.

Keteladanan Nabi Ibrahim yaitu mengorbankan hewan untuk meraih ridha Allah SWT. Tidak sampai di situ saja. Bahkan akhirnya mengorbankan anaknya Ismail untuk mematuhi perintah Allah SWT. Maka keteladanan Nabi Ibrahim ini perlu menjadi kebiasaan yang ada di setiap keluarga muslim. Banyak manfaat yang akan didapat ketika kurban sudah menjadi kebiasaan oleh setiap keluarga muslim.

Dengan berkurban, seorang muslim mengikhlaskan uang yang dimilikinya untuk dibelikan hewan kurban. Dan hewan kurban yang sudah disembelih kemudian dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Bukan lagi untuk yang berkurban. Dengan demikian ia telah berbagi kepada yang lebih membutuhkan, yang merupakan wujud kepedulian sosial.

Berkurban sama halnya dengan berinfak atau bersedekah yang bisa dilakukan oleh seluruh umat Islam baik miskin maupun kaya. Namun berkurban bagi yang tidak melaksanakan haji menurut jumhur ulama adalah sunnah muakad. Yaitu sunnah yang posisinya hampir mendekati wajib. Bagi keluarga yang mampu berkurban, sangat dianjurkan untuk melaksanakannya. Karena mereka yang tidak mampu pun banyak berusaha agar bisa berkurban.

Perintah berkurban juga Allah SWT firmankan dalam surat Al Kautsar ayat 2 yang artinya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” Jika shalat adalah dalam rangka kesalehan pribadi, maka kurban merupakan bentuk kesalehan sosial. Kesalehan sosial berupa kurban yang dilaksanakan dengan baik insya Allah akan berdampak positif. Di antaranya mengurangi kesenjangan di masyarakat dan meningkatkan kepedulian sosial.

Para penerima daging kurban tentu merasa senang bisa menikmati makan dengan menu daging. Karena sehari-hari mereka dan keluarganya mungkin jarang makan daging.  Sementara bagi yang berkurban, ada kepuasan rohani bisa berkurban dan membantu sesama.

Maka, jika semakin banyak keluarga muslim yang menunaikan kurban, akan semakin banyak orang yang terbantu. Mereka bisa menikmati daging kurban yang selama ini mungkin jarang menjadi menu harian atau mingguan mereka.

Di samping itu, semangat berkurban seharusnya bukan hanya ketika Idul adha, akan tetapi juga di waktu yang lain. Sehingga tumbuh hubungan positif antara yang miskin dengan yang kaya. Hal ini insya Allah akan mengurangi kesenjangan dan kemiskinan. Sehingga dengan kepedulian sosial yang sudah menjadi gaya hidup, sebuah masyarakat bisa menjadi kuat. Yaitu memiliki ketahanan sosial. Kejahatan dan kriminalitas pun berkurang.

Berkurban juga merupakan bentuk rasa syukur seorang muslim kepada Allah SWT.  Allah SWT berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7 yang artinya,  “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”  Semoga semakin banyak keluarga muslim yang mengaplikasikan rasa syukurnya dengan melaksanakan kurban dan berbagi. Sehingga kepedulian sosial makin tumbuh subur di negeri ini

Singgalang, 08 September 2017

234. 2017-09-14 [Padek] Pasar Tani di Kantor Gubernur

Pasar Tani di Kantor Gubernur

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 6 September 2017 lalu, saya membuka acara Bazar Pasar Tani di halaman Kantor Gubernur Sumbar, Padang. Acara ini merupakan ide dari Ketua TP PKK Sumbar Ibu Nevi Zuairina, yang tak lain adalah istri saya. Ketua TP PKK bekerjasama sekaligus meminta dukungan dari OPD terkait untuk menyiapkan produk-produk yang akan dijual.

Saya mengapresiasi ide ini. Karena merupakan salah satu cara yang praktis dan juga realistis untuk membantu sebagian dari banyak petani, pekebun, peternak, nelayan, dan industri rumahan. Karena kegiatan ini mempersingkat mata rantai jalur perdagangan sehingga mereka  bisa langsung menjual produk mereka dengan harga yang baik.

Acara ini direncanakan berlangsung setiap hari Rabu. Satu kali dalam seminggu, dan berkelanjutan. Ini berbeda dengan bazar-bazar yang sifatnya sementara. Kegiatan Pasar Tani ini, tentu tidak akan mengganggu keberadaan para pedagang atau produsen lainnya secara umum. Bahkan ini  merupakan  bagian dari upaya mengendalikan inflasi di satu sisi, dan di sisi lain tetap menguntungkan penjual/produsen sekaligus juga masyarakat sebagai konsumen.

Produk yang dijual di acara bazar pasar tani di antaranya adalah beras, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hortikultura, telur, susu, daging, ikan, serta produk industri rumahan.

Upaya kecil ini membantu para petani, pekebun, peternak, nelayan, pedagang menjual hasil kerja mereka langsung ke konsumen. Karena jika sebelumnya dijual dulu ke pedagang yang akan menjual dan harganya tidak bisa ditinggikan, maka dengan bertemu konsumen langsung bisa menaikkan harganya secara wajar. Sehingga harga yang dijual ke konsumen menguntungkan penjual, dan konsumen juga untung karena membeli langsung dari penghasilnya dengan harga wajar, bahkan mungkin sedikit lebih murah dari harga di pasar.

Para ASN golongan rendah yang berada di Kantor Gubernur dan juga pegawai golongan rendah dari sekitar Kantor Gubernur bisa memanfaatkan bazar pasar tani ini. Demikian pula masyarakat lainnya, bisa memanfaatkan bazar pasar tani ini. Semoga kunjungan masyarakat ke kegiatan ini bisa membantu mereka yang sudah menyiapkan barang jualannya. Dan mereka yang membutuhkan produk dengan harga yang baik juga bisa terbantu dengan acara ini.

Lalu, dari manakah para produsen atau penjual di bazar pasar tani ini? Mereka adalah petani, peternak, nelayan dan UKM binaan dari OPD Provinsi. Dan pelaksanaan bazar pasar tani ini hanyalah bagian kecil dari upaya Pemprov menjaga ketahanan pangan. Dalam menjaga ketahanan pangan, petani dan produsen lainnya harus dilindungi agar bisa berproduksi dan produknya bisa terjual dengan harga yang baik.

Maka dalam jangka panjang dan dengan skala yang lebih besar lagi Pemprov membuat sebuah bangunan yang berada di kawasan jalan By Pass Padang. Bangunan ini kemungkinan akan dinamakan Rumah Ketahanan Pangan. Insya Allah pembangunannya selesai akhir tahun ini. Dan direncanakan tahun depan sudah bisa beroperasi.

Bangunan ini akan mempertemukan produsen dengan konsumen sehingga produsen bisa untung, demikian pula konsumen. Dengan demikian, bisa mencegah terjadinya permainan oleh pedagang yang menyebabkan kerugian bagi produsen dan konsumen. Di samping itu, pengendalian inflasi juga akan lebih terjaga dan semakin efektif. Perekonomian pun terbantu untuk berjalan baik dan memberi dampak positif kepada banyak orang.

Dan jika langkah kecil ini berupa bazar pasar tani juga diadakan oleh berbagai elemen masyarakat dan juga pemerintahan lainnya, insya Allah akan memberi dampak positif kepada petani dan konsumen, termasuk masyarakat atau pegawai golongan rendah. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada dasarnya akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Mengakhiri tulisan ini saya mengutip Alquran Surat Al A’raf ayat 7 yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.

Padang Ekspres, 14 September 2017

235. 2017-09-20 [Singgalang] Kesehatan Keluarga

Kesehatan Keluarga

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 13-16 September 2017 Persatuan Perawat Gigi Indonesia melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas)  VII di Padang. Saya berkesempatan membuka acara tersebut. Tema Munas kali ini adalah “Melalui Organisasi Kita Raih Kejayaan Profesi”. Pada Munas ini juga dilakukan pergantian nama dari Perawat Gigi menjadi Terapis Gigi dan Mulut.

Pergantian nama ini mudah-mudahan membawa dampak positif, baik bagi pelaku maupun konsumen. Dan penamaan terapis gigi dan mulut ini boleh jadi bisa memberi persepsi baru kepada publik tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Rasulullah SAW adalah termasuk orang yang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. Beliau menggunakan siwak untuk membersihkan gigi dan mulutnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, “Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Sahabat Rasulullah SAW, Hudzaifah r.a berkata, “Nabi SAW selalu menggosok giginya dengan siwak setiap bangun dari tidur malam hari.” (HR. Bukhari).  Dan secara ilmiah pun manfaat siwak sudah diteliti oleh ilmuwan barat, serta terbukti banyak manfaatnya.

Jika kita melihat kondisi hari ini, ternyata kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut di masyarakat bisa dibilang masih butuh sosialisasi yang berterusan. Saya melihat di sini peran organisasi perawat gigi  dibutuhkan untuk ikut serta mensosialisasikan pentingnya kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat yang merupakan bagian dari kesehatan keluarga.

Dan tidak hanya organisasi perawat gigi saja, akan tetapi seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan secara bersama-sama ikut mensukseskan pembangunan di bidang kesehatan, khususnya untuk masalah kesehatan keluarga. Adapun yang dimaksud dengan kesehatan keluarga adalah seluruh anggota keluarga, yaitu orangtua dan anak-anak memiliki budaya hidup sehat sehingga mampu berprestasi, berkreasi, berpenghasilan, berpendidikan, beribadah, bermasyarakat dengan baik karena kualitas kesehatan mereka.

Salah satu aksi kepedulian yang dilakukan di Sumbar belum lama ini oleh salah satu pemangku kepentingan bidang kesehatan, yaitu Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bekerjasama dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan  (BBPOM). Pengurus Daerah IAI bersama BBPOM melakukan Gerakan Nasional Peduli Obat Aman.

Sekitar 900 apoteker melakukan penyuluhan penggunaan obat aman di sepanjang 62 kilometer yang terbentang dari Kabupaten Padang Pariaman hingga Batusangkar. Mereka memberikan penyuluhan kepada sekitar 6.200 keluarga selama lebih kurang tiga jam. Para keluarga ini disosialisasikan bagaimana cara mendapatkan obat, menggunakan obat, menyimpan obat, dan membuang obat dengan baik.  Atas aksi kepeduliannya ini, kegiatan tersebut masuk ke dalam catatan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

Jika organisasi apoteker melakukan sosialisasi terkait masalah obat, maka organisasi perawat gigi saya harapkan melakukan sosialisasi tentang bagaimana merawat gigi dan mulut agar tetap sehat. Karena ada semacam anggapan umum bahwa jika gigi sudah sakit, sakitlah semua seluruh anggota tubuh. Sulit untuk beraktivitas, baik kerja, belajar, makan, minum, dan lainnya, termasuk berkosentrasi. Sementara jika anggota tubuh lain yang sakit, tidak seperti rasanya sakit gigi.

Untuk menjadikan sebagai budaya atau kebiasaan, merawat gigi dan mulut agar tetap sehat perlu disosialisasikan. Karena masyarakat pada dasarnya masih banyak yang belum tahu caranya. Bagaimana gosok gigi, kapan menggosok gigi, apa saja yang tidak boleh dilakukan untuk mencegah gigi rusak, makanan dan minuman apa saja yang bisa merusak gigi dan mulut.

Sementara itu, untuk menjadi sebuah bangsa yang maju, harus diawali dengan keluarga yang memiliki kualitas kesehatan yang baik. Sehat di semua lini tubuh, termasuk rohani dan pikiran. Sekecil apapun upaya yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan untuk mensosialisasikan hidup sehat kepada masyarakat, sangat berarti.

Untuk itu, saya mengapresiasi berbagai kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan di bidang kesehatan. Termasuk juga pengabdian masyarakat di Mentawai dalam rangka Hari Bhakti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 2017 yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Masyarakat Sumbar beberapa bulan lalu. Dan juga pengabdian masyarakat yang insya Allah akan dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia di Agam.

Dan bagi masyarakat yang melek dengan teknologi, untuk mencapai kualitas hidup sehat dalam keluarga bisa melakukan penelusuran melalui internet atau mendatangi perpustakaan dan toko buku untuk mendapatkan informasi, pengetahuan dan juga ilmu tentang kesehatan. Serta bisa melakukan konsultasi kepada tenaga medis terkait. Insya Allah, jika masing-masing keluarga sudah menyadari pentingnya kesehatan bagi diri dan keluarga mereka, akan berdampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan.

Singgalang, 20 September 2017

236. 2017-09-27 [Padek] Transaksi Non Tunai

Transaksi Non Tunai

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 22 September 2017 lalu saya menyampaikan sambutan di acara Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama antara Bank Nagari dengan Pemprov. Sumbar, di Padang. Ini merupakan bagian dari implementasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan oleh Bank Indonesia (BI).  BI mempelopori hal ini karena nantinya dengan transaksi non tunai akan lebih hemat, efektif, efisien, dan aman.

Insya Allah Pemprov Sumbar secara bertahap akan mengimplementasikan transaksi non tunai tersebut. Setelah itu diharapkan Pemkab dan Pemkot juga mengimplementasikan transaksi non tunai tersebut. Kementerian Dalam Negeri melalui Surat Edaran Nomor 910 Tahun 2017 telah mewajibkan seluruh Pemda menjalankan transaksi non tunai pada 2018.

Saya mengharapkan dengan adanya surat edaran tersebut, di lingkungan internal Pemprov Sumbar para bendahara bisa melaksanakan transaksi non tunai dalam kegiatan mereka. Sehingga pemberi dan penerima tidak direpotkan dengan uang tunai yang perlu penyimpanan yang aman. Karena transaksi  non tunai ini membawa hal positif. Di antaranya, pencatatan yang lebih baik karena tersimpan datanya di bank. Mengurangi atau menjauhi terjadinya penyimpangan yang bisa merugikan pihak terkait. Dan juga aman karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar yang berisiko dirampok atau tindakan kriminalitas lainnya.

Selain itu, dengan melakukan transaksi non tunai bisa mempercepat proses pembayaran dan penerimaan yang biasanya memakan waktu cukup lama. Hanya dengan menyiapkan rekening, baik pemberi dan penerima bisa mengirim dan menerima uang dengan lebih cepat dan aman.

Memang tetap perlu persiapan SDM dan juga teknologi pendukungnya. Terutama untuk transaksi di lingkungan Pemprov. Sumbar. Namun saya yakin, pekerjaan ini jika diangsur-angsur akan bisa diselesaikan dengan baik. Karena sudah menjadi kebutuhan dan juga keharusan. Kita tidak bisa lagi mengelak akan pengaruh teknologi yang disiapkan untuk memudahkan urusan pekerjaan kita sekaligus membuat nyaman dan aman.

Jika melihat perkembangan transaksi non tunai selama ini, sudah dibuktikan sangat membantu banyak pihak. Misalnya pembayaran pajak oleh masyarakat ke rekening pemerintah, sudah bisa melalui transaksi non tunai. Sangat membantu masyarakat dari antrean yang mungkin cukup menyita waktu dan juga tenaga.

Selain itu, transaksi non tunai di masyarakat juga perlu menjadi kebiasaan. Karena dampak positifnya akan kembali kepada masyarakat. Seperti tidak perlu membawa uang dalam jumlah banyak. Hanya dengan kartu ATM atau melalui saluran elektronik yang tersedia bisa melakukan pembayaran berbagai jenis tagihan seperti listrik, PDAM, telepon, ponsel pascabayar, televisi berbayar, angsuran pembelian kendaraan, dan lainnya. Berbelanja dengan transaksi non tunai juga tidak direpotkan dengan uang kembalian.

Saat ini sedikitnya sudah ada 1,2 juta orang di Indonesia yang melakukan transaksi  non tunai, baik melalui kartu ATM (debit) maupun kartu kredit, serta media elektronik lainnya. BI mengharapkan pada 2024 transaksi non tunai sudah dilakukan oleh 25 persen penduduk Indonesia. Dengan membiasakan diri melakukan transaksi non tunai maka kita juga sudah membantu pemerintah untuk mengurangi biaya cetak uang. Dan yang dicanangkan BI ini untuk seluruh lapisan masyarakat, baik masyarakat sendiri, pelaku bisnis, dan juga instansi pemerintah. Semuanya diharapkan berperan dalam pelaksanaan transaksi non tunai.

Bagi masyarakat Sumbar sendiri, terutama para pelaku di bidang pariwisata, karena Sumbar sebagai sebuah lokasi destinasi wisata halal dunia maka perlu menyiapkan diri jika para wisatawan yang datang ke sini lebih menyukai transaksi non tunai. Karena di luar negeri penggunaan transaksi non tunai sudah menjadi gaya hidup yang aman dan nyaman. Wisatawan menginginkan kemudahan, perlu difasilitasi. Dan tidak hanya wisatawan luar negeri, wisatawan dalam negeri yang berasal dari luar Sumbar juga sudah banyak yang terbiasa melakukan transaksi non tunai.

Sementara di Indonesia, jika dibandingkan dengan negara-negara Asean saja, masih tertinggal jauh. Untuk itu, apa yang dicanangkan oleh BI ini perlu terus didukung dan disosialisasikan kepada masyarakat. Karena jika sudah ada yang mudah, aman, dan nyaman mengapa mesti bersusah payah membawa uang tunai. Kemudahan, kenyamanan dan keamanan transaksi non tunai insya Allah membawa dampak positif bagi kehidupan ekonomi masyarakat. ***

 

Padang Ekspres, 27 September 2017

237. 2017-10-05 [Singgalang] Indonesia’s Attractiveness Award 2017

Indonesia’s Attractiveness Award 2017

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 29 September 2017 saya memenuhi undangan acara Indonesia’s Attractiveness Award (IAA) 2017. Acara ini dilaksanakan oleh Tempo Media Group bekerja sama dengan Frontier Consulting Group. Pada acara ini Sumbar mendapat penghargaan sebagai salah satu Provinsi Terbaik.  Yaitu provinsi terbaik dan menarik dalam kemudahan berinvestasi, pelayanan publik, kepariwisataan dan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Pelaksanaan IAA kali ini memasuki tahun ketiga. Acara yang diadakan tahunan ini menilai pemerintah daerah, yaitu kota, kabupaten, dan provinsi dalam mengembangkan potensi daerah dan mengelola pembangunan ekonomi serta manfaatnya bisa dinikmati secara merata.

Untuk menghasilkan pemeringkatan dalam IAA, panitia menggunakan metodologi yang bersifat kuantitatif. Data-data sekunder dan primer disisir termasuk melakukan mystery calling, analisis digital dan media sosial. Ini dilakukan kepada 508 kabupaten/kota dan 34 provinsi. Data primer dikumpulkan sejak Mei hingga Juni 2017. Sementara pada awal 2016 dilakukan pengumpulan data sekunder.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah indikator utama yang masuk dalam penilaian.  Karena dengan besaran PDRB ini dan juga persentase kenaikannya setiap tahun memiliki hubungan erat dengan masuknya investasi, peningkatan lapangan kerja, penurunan pengangguran dan kemiskinan, serta meningkatnya pendapatan masyarakat dan juga konsumsi masyarakat.

IAA memotret hal demikian. Bahwa pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia ditentukan oleh sejauh mana pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah.  Semakin banyak investasi masuk ke suatu daerah akan  berpengaruh kepada lapangan pekerjaan, pendapatan daerah dan konsumsi masyarakat.

Investasi yang masuk ke daerah juga merupakan akibat adanya infrastruktur yang memadai sehingga investor merasakan kenyamanan dengan adanya jalan yang baik, penyediaan listrik, sarana komunikasi yang memadai. Alhamdulillah, roadshow kami ke luar negeri yang difasilitasi oleh pihak KBRI juga mendapat respon positif dari para calon investor.

IAA juga memandang bahwa sektor pariwisata berperan besar dalam kemajuan daerah sehingga berpengaruh positif terhadap roda perekonomian di daerah tersebut. Dan juga turut disorot masalah pelayanan publik. Karena pelayanan publik yang baik akan tercermin kepada pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

Penghargaan dari IAA ini menurut catatan kami adalah yang ke-251 dari kumpulan penghargaan yang sempat kami rekapitulasi sejak tahun 2010 hingga 2017. Penghargaan ini melengkapi penghargaan lainnya yang pada dasarnya saling mendukung. Di antaranya adalah predikat WTP terhadap Laporan Keuangan Pemprov 5 tahun berturut-turut, Satyalencana Pembangunan Bidang Koperasi, Adhikarya Pangan Nusantara, Penghargaan Pelayanan Publik dari Ombudsman RI, Penghargaan Provinsi Pelaksana Program Infrastruktur Terpadu, Satyalencana Pembangunan Bidang Pangan, Nirwasita Tantra, Satyalencana Bidang Kependudukan, Satyalencana Bidang Pangan, World’s Best Halal Destination, World’s Best Halal Culinary Destination.

Seluruh penghargaan yang sudah dicapai ini pada dasarnya adalah untuk seluruh komponen masyarakat di Sumbar. Karena dengan partisipasi dan peran di bidang masing-masing telah membawa Sumbar kepada kemajuan yang bisa dinikmati bersama. Kerja keras aparat dan pemangku kepentingan terkait dalam mensukseskan program pembangunan yang tercermin dengan capaian kuantitatif maupun kualitatif telah berdampak kepada peningkatan taraf hidup masyarakat. Dan kemudian berdampak kepada peningkatan perekonomian, dan menjadi multiplier effect sehingga perlahan-lahan Sumbar yang madani dan sejahtera bisa diwujudkan.

Dan jika kita juga turut konsisten secara bersama-sama berperan di bidang masing-masing serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan serta menjaga dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bukan tidak mungkin akan semakin baik lagi kehidupan kita di Sumbar ke depannya.

Mengakhiri tulisan ini saya kutip sebuah ayat Alquran yang bisa menjadi bahan renungan bersama:  “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka bekah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raaf: 96). Semoga kita secara bersama-sama bisa mendapatkan apa yang dijanjikan Allah SWT ini. Aamiin.. ***

Singgalang, 5 Oktober 2017

 

238. 2017-10-13 [Padek] Pentingnya Modal bagi UMKM

Pentingnya Modal bagi UMKM

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 2 Oktober 2017 lalu, saya bersama para Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan,  Kelautan dan Perikanan, Industri dan Perdagangan, Koperasi dan UMKM provinsi, Dirut Grafika, Dirut PT Jamkrida Sumbar, bertemu dengan Direktur Utama (Dirut) Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM) yang baru, Bpk. Braman Setyo serta para Direksi LPDB yang lain. Beliau baru saja dilantik, dan kami sangat beruntung, sebagai tim provinsi pertama yang bertemu beliau untuk membicarakan tindak lanjut pinjaman bagi  pelaku UMKM binaan dinas-dinas terkait di Sumbar.

Seperti diketahui, sekitar 84 persen usaha yang ada di Sumbar adalah pelaku usaha mikro, dan sekitar 14 persen adalah usaha kecil. Dan hanya 0,8 persen pelaku usaha menengah. Maka dengan komposisi seperti ini pelaku usaha mikro dan kecil adalah mayoritas.  Mereka selama ini terkendala di faktor permodalan, yang merupakan faktor utama dan sering menjadi keluhan.

Karena jika melihat pengalaman, kebanyakan mereka sudah menjalankan usahanya bertahun-tahun. Mereka bisa tetap bertahan dan juga mampu menghidupi keluarganya. Ini membuktikan usaha mereka berkelanjutan dan memiliki skill serta bisa meraih keuntungan. Ini juga membuktikan bahwa usaha mereka layak dibantu. Karena jika usahanya tidak layak, mereka sudah berhenti berusaha.

Hal yang memang menjadi kendala utama bagi UMKM ini, khususnya yang bergerak di bidang perdagangan, adalah mereka masih menyewa tempat usaha, bahkan termasuk berjualan ala kaki lima. Kendala ini karena dengan modal usaha yang mereka miliki hanya mampu untuk kehidupan sehari-hari, dan belum sampai pada tahap memiliki tempat usaha. Jika mereka memiliki modal yang lebih besar maka kapasitas usahanya akan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Dan kemudian bisa mencicil dana untuk memiliki tempat usaha sendiri. Selain itu, mereka juga bisa mendanai untuk pemasarannya dan memperbaiki kualitas pemaketan (packaging).

Selama ini pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang perdagangan, modalnya tidak besar sehingga untung yang didapat tidak besar. Dan karena modal sedikit, pedagang hanya bisa membeli barang di tingkat agen dengan margin yang tidak besar. Jika modal bisa diperbesar, pedagang bisa beli ke tingkat yang lebih tinggi dengan margin yang lebih besar atau agen dengan jumlah besar sehingga margin keuntungannya lebih besar namun biaya yang dikeluarkan tidak bertambah sehingga bisa meningkatkan keuntungan. Di sini diperlukan penambahan modal dan juga jaminan. Untuk memfasilitasi jaminan di Sumbar sudah ada PT Jamkrida Sumbar.

Namun kami di Sumbar melihat pentingnya peran LPDB dalam membantu UMKM di Sumbar, terutama para binaan dinas terkait. Apalagi dengan bunga 4,5 persen setahun untuk sektor riil/perdagangan untuk jangka waktu 5-10 tahun yang disediakan LPDB, diharapkan bisa membantu UMKM untuk meningkatkan kapasitas usahanya. Dan menurut Direktur LPDB, bunga pinjaman ini adalah yang terkecil  saat ini. Sedangkan untuk koperasi dengan skim simpan pinjam bunganya sudah diturunkan dari 8 persen menjadi  7 persen.

Demikian pula dengan sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan yang bergerak di bidang produksi. Mereka memerlukan modal untuk memperbesar kapasitas produksinya. Mereka memerlukan berbagai alat untuk membantu proses produksi. Misalnya, untuk bawang diperlukan alat pengering. Untuk coklat, perlu alat fermentasi bagi industri rumahan (home industry).

Saya melihat, selain UMKM, sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan juga perlu bantuan permodalan. Karena kebanyakan mereka tidak layak di mata bank. Di sini perlu bantuan dari para pemangku kepentingan seperti kepala daerah dan instansi terkait, baik tingkat provinsi dan juga kabupaten/kota.  Terutama untuk membantu mereka yang sudah menjadi binaan. Karena para anggota binaan ini sudah diketahui rekam jejaknya dan tinggal menunggu uluran tangan dari pemerintah dan bank.

Dengan adanya LPDB di pusat dan Jamkrida Sumbar di daerah, maka insya Allah para anggota binaan dinas ini bisa mendapatkan bantuan yang layak sehingga usaha dan produksi mereka bisa berkembang dan meningkat.

Dan jika nanti sudah mendapat bantuan permodalan, maka para anggota binaan ini sudah seharusnya memperluas wilayah pemasaran dengan ‘packaging’ yang menarik. Seperti produk rendang dan kuliner lainnya, sudah saatnya tampil menjangkau wilayah nasional agar skala ekonominya membesar sehingga semakin memperbesar penghasilan. Pemprov dalam hal ini akan membantu pemasaran, pemaketan (packaging) dan proses lainnya yang masih bisa ditangani, agar modal yang sudah diberikan bisa diikuti dengan penjualan yang lebih besar lagi.

Semoga ikhtiar yang kami usahakan ini bisa berbuah pada waktunya sehingga turut membantu berkembangnya UMKM di Sumbar.***

Padang Ekspres, 13 Oktober 2017

 

 

239. 2017-10-17 [Singgalang] Investasi Energi Terbarukan

Investasi Energi Terbarukan

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 6-10 Oktober 2017 lalu saya bersama tim investasi Sumbar melakukan kunjungan kerja ke Jerman. Selama di Jerman, ada beberapa kegiatan yang kami lakukan dalam rangka promosi Sumbar dan juga presentasi di beberapa kementerian dan para pebisnis yang ada di Jerman.

Satu di antaranya adalah mengikuti  Allgemeine Nahrung Genussmittel Austellung (ANUGA ). ANUGA adalah salah satu ajang pameran makanan dan minuman (food and beverange) terbesar di dunia yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Acara ini diikuti oleh ribuan peserta dan pengusaha dari berbagai negara. Di antara ribuan peserta tersebut, puluhannya berasal dari Indonesia, dan berlangsung di Cologne, Jerman selama 7-11 Oktober 2017.

Sumbar adalah satu-satunya provinsi yang diminta oleh Kementerian Perindustrian RI untuk menampilkan keunggulan kulinernya di acara ini. Kesempatan ini kami manfaatkan dengan baik. Selama acara berlangsung tim Sumbar di culiner stage hall 7, telah beberapa kali melakukan demo masak rendang dan juga uji rasa (tester).  Selain menampilkan kuliner Sumbar, di acara tersebut juga ditampilkan pertunjukan seni dan budaya Minang.

Selain tampil di ANUGA, kami juga mendatangi beberapa kementerian yang ada di Jerman dan juga para pebisnis dan calon investor untuk mempresentasikan berbagai peluang yang akan kami tawarkan. Dari sekian presentasi yang kami lakukan, dari pihak Jerman ternyata sangat tertarik dengan investasi energi terbarukan. Jerman kini telah meninggalkan energi nuklir, kemudian secara bertahap juga meninggalkan energi batubara.  Dan berupaya maksimal menggunakan energi terbarukan seperti panas bumi (geothermal), minihidro dan mikrohidro, angin, matahari (solar), sampah (waste) dan juga yang lainnya.

Pada tahun 2010, kedatangan kami ke Jerman telah menghasilkan kesepakatan kerja sama yang positif. Jerman mengundang kami untuk mengirim sumber daya manusia (SDM) untuk dilatih dan diberi pengetahuan tentang energi terbarukan. Setelah kunjungan tahun 2010 tersebut Sumbar rutin mengirimkan SDM ke Jerman. Namun setelah adanya larangan dari Kementerian Dalam Negeri pengiriman SDM tersebut tidak dilanjutkan.

Dan setelah kunjungan kemarin ini, insya Allah akan kembali diadakan pengiriman SDM dari Sumbar, baik dari unsur Pemda, DPRD, Bupati/Wali Kota, tokoh masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Sehingga dengan demikian semakin terbentuk pemahaman yang baik terhadap pemanfaatan dan pengelolaan panas bumi dari berbagai pihak.

Pengiriman SDM ke Jerman sangat penting. Karena selama ini masih sangat sedikit orang yang paham tentang energi terbarukan.  Tidak sedikit yang menyamakan energi terbarukan itu seperti pertambangan batubara, emas, tembaga, dan lainnya. Di mana cara kerja tambang-tambang tersebut biasanya membuka lahan di lapisan atas dan kemudian dilakukan penggalian. Sehingga lingkungan menjadi rusak. Meskipun ada Amdal (Analisa mengendai dampak lingkungan) dan juga kebijakan pascatambang, lingkungan tetap dalam kondisi yang berbeda dengan sebelum dibuka.

Sedangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan, atau biasa juga disebut energi hijau justru tidak merusak lingkungan. Bahkan turut menjaga lingkungan. Contohnya adalah energi panas bumi atau geothermal. Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas bumi sebagai sumber energi listrik akan dikembalikan lagi ke bumi. Dan agar energi panas bumi tetap tersedia hutan dan lingkungan harus terjaga dengan baik dan lestari. Maka para pelaku usaha energi panas bumi sangat berkepentingan untuk tetap terjaganya lingkungan dan hutan. Jika lingkungan dan hutan rusak, maka sumber energi tersebut akan hilang.

Demikian pula dengan pembangkit listrik minihidro dan mikrohidro yang menjadikan bahan baku air sebagai sumber energi listrik. Pelaku usaha sektor ini akan tetap menjaga lingkungan sekitar agar air tetap mengalir terus. Jikapun ada alat-alat yang digunakan untuk pengoperasian energi terbarukan ini, maka tidak signifikan perannya terhadap kerusakan lingkungan.

Dengan perbedaan yang mencolok antara pengelolaan energi fosil (tak terbarukan) dengan energi terbarukan ini, pemberian pelatihan oleh pihak Jerman di Muenchen bagi seluruh pemangku kepentingan di Sumbar tentunya sangat penting.  Baik kepala daerah, tokoh masyarakat, akademisi, dan lainnya, mereka butuh dijelaskan mengenai pengelolaan energi terbarukan ini. Sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman, bahkan semakin menambah pemahaman baru yang salah.

Oleh karena itu, kerjasama ini perlu terus dilanjutkan agar semakin banyak para pemangku kepentingan bisa mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang memadai bagaimana sebenarnya energi terbarukan itu.

Kehadiran investasi energi terbarukan ini jelas berdampak positif, yaitu adanya penerimaan daerah, baik pajak maupun royalti. Di samping itu juga ada dana CSR untuk masyarakat, dan ada pula alokasi untuk pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan investasi energi terbarukan ini perlu didukung karena membawa dampak positif bagi masyarakat.

Selain itu, dengan APBD yang tidak besar dengan pendapatan asli berupa pajak kendaraan bermotor (provinsi) dan retribusi pajak (kota/kabupaten), keberadaan investasi energi terbarukan ini berperan dalam meningkatkan perekonomian, baik bagi masyarakat dalam perspektif mikroekonomi maupun bagi pemda dalam perspektif makroekonomi.

Dengan pasokan energi yang cukup besar, diikuti terjaganya hutan dan lingkungan, serta insya Allah berpengaruh positif bagi pemda dan masyarakat, maka kami tak bosan-bosannya mempromosikan investasi energi terbarukan ini ke berbagai pihak, termasuk ke luar negeri.  Karena ini adalah salah satu bentuk mensyukuri karunia Allah SWT yang ada di negeri ini.

Untuk itu, kami mohon dukungan segenap lapisan masyarakat di berbagai level agar investasi energi terbarukan ini bisa berjalan baik dan benar pelaksanaannya sehingga membawa kebaikan bagi kita semua.***

Singgalang, 17 Oktober 2017

240. 2017-10-27 [Padek] Kepedulian Sosial

Kepedulian Sosial

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 16 Oktober 2017 lalu saya memberi sambutan sekaligus melantik pengurus baru Karang Taruna Provinsi Sumatera Barat periode 2017-2022. SK Pelantikan ditandatangani oleh gubernur. Pelantikan ini turut dihadiri oleh Sekjen Karang Taruna Nasional dan juga Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumbar serta perwakilan karang taruna daerah yang ada di Sumbar. Pengurus karang taruna ini adalah para anak muda.  Mungkin belum banyak yang tahu, bahwa organisasi karang taruna bergerak di bidang sosial untuk membantu masyarakat mengatasi  masalah sosial yang ada di masyarakat.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Sosial tahun 2010, Karang Taruna adalah organisasi sosial yang berada di desa/kelurahan.  Karang taruna bersifat otonom, sosial, terbuka dan berskala lokal. Anggotanya berusia 13-45 tahun, sedangkan pengurus disyaratkan berusia 17-45 tahun. Dan tugas pokok karang taruna adalah, bersama-sama pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kota/kabupaten serta masyarakat lainnya menyelenggarakan pembinaan generasi muda dan kesejahteraan sosial.

Adapun fungsi karang taruna di antaranya adalah: mencegah timbulnya masalah kesejahteraan sosial; menyelenggarakan kesejahteraan sosial;  meningkatkan usaha ekonomi produktif; menumbuhkan, memperkuat dan memelihara kesadaran dan tanggung jawab sosial masyarakat; menumbuhkan, memperkuat, dan memelihara kearifan lokal.

Disadari bahwa tingkat kepedulian sosial yang ada di masyarakat tidak merata. Tidak semua orang mampu yang mau membantu meringankan, tidak semua orang yang terlihat kaya mau menyisihkan sebagian hartanya, tidak semua orang yang beruntung mau membagikan sedikit kebahagiaannya kepada orang lain. Sementara jika membicarakan anggaran yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk mengimplementasikan kepedulian sosial pun terbatas. SDM yang dimiliki pemerintah untuk mengimplementasikan kepedulian sosial pun jumlahnya terbatas.

Karang taruna hadir mengisi sedikitnya SDM  dan masalah yang tersebut di atas. Mereka dengan energi khas anak mudanya mampu menyelesaikan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.  Dengan kedudukan organisasi yang berada di tiap desa atau kelurahan, mereka mampu menelusuri tempat-tempat yang terpencil sekalipun.

Pemerintah membutuhkan berbagai elemen, di antaranya karang taruna untuk membantu dan berperan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Dengan posisi karang taruna yang netral, tidak berpolitik dan berafiliasi kepada aliran politik tertentu turut membantu gerak langkah karang taruna berkiprah di masyarakat.

Masalah sosial selalu ada dalam kehidupan masyarakat. Maka peran karang taruna menjadi penting. Jika kita melihat negara maju, yang sudah menerapkan jaminan sosial dan juga kepedulian sosial lebih baik, ternyata tetap muncul berbagai masalah sosial di sana. Seperti tuna wisma dan lainnya. Apalagi negara kita yang hingga saat ini masih dalam tahap pembangunan, banyaknya masalah sosial yang muncul perlu bantuan semua pihak.

Untuk itu, saya mengajak kita semua mari kita bantu berbagai pihak yang turut membantu menyelesaikan berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Mari kita dukung mereka yang telah menunjukkan kepedulian sosialnya kepada masyarakat. Dan jika mungkin bisa terlibat di dalamnya. Karang taruna sebagai salah satu unsur yang berfungsi melakukan kepedulian sosial mari kita dukung agar terus bisa berkiprah. Anak-anak muda yang menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat mari kita doakan agar mereka bisa tetap terus berkiprah dan jumlahnya kita harapkan bertambah.

Jika kepedulian sosial ini dikaitkan dengan ajaran agama, maka kita juga bisa lihat bahwa dalam Islam ada yang disebut dengan zakat, baik zakat harta maupun zakat fitrah. Yaitu bagian dari harta seorang muslim yang harus dikeluarkan untuk golongan tertentu yang membutuhkan, di antaranya kaum dhuafa. Juga ada infak dan sedekah yang jumlahnya bisa lebih besar dari zakat. Ada pula wakaf, baik wakaf tanah maupun wakaf tunai. Selain itu ada juga kurban, di Indonesia umumnya kambing dan sapi. Itu adalah bentuk kepedulian sosial yang bisa dinilai dengan uang.

Ada pula kepedulian sosial dalam Islam yang tidak semata dinilai dengan uang, seperti ukhuwah Islamiyah, yaitu sesama umat islam saling menjaga persatuan dan tidak mudah saling benci dan lainnya. Ada yang disebut dengan taawun, yaitu saling tolong menolong dalam kebaikan.

Maka, melaksanakan kepedulian sosial sesungguhnya manfaatnya akan kembali kepada yang melakukan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Isra ayat 7 yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri …”.

Semoga kepedulian sosial di negeri kita bisa tetap terus ada dan berkembang, dengan dukungan anak-anak muda yang tergabung dalam karang taruna dan juga seluruh elemen masyarakat. Karena yang harus peduli dengan lingkungan sosial kita adalah kita sendiri, bukan orang lain.***

Padang Ekspres, 27 Oktober 2017

 

 

241. 2017-11-01 [Singgalang] Pakaian Perempuan Minang

Pakaian Perempuan Minang

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 23 Oktober 2017 lalu di Bukittinggi saya menutup acara Pendokumentasian Warisan Budaya Tak Benda Pakaian Tradisi Perempuan Minang, yang diadakan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar. Acara ini berupaya mendokumentasikan beragam jenis pakaian perempuan Minang yang pernah dibuat sejak dulu hingga saat ini, hingga nantinya insya Allah akan menjadi buku.

Meskipun yang baru terkumpul sekitar 92 jenis pakaian dari 9 daerah, menurut informasi yang saya peroleh  bisa mencapai  400 jenis pakaian perempuan Minang.  Ini adalah bentuk warisan budaya tak benda yang perlu dilestarikan. Karena ternyata perempuan Minang memiliki kreativitas yang cukup baik dalam mendisain pakaian mereka.

Selain itu disain yang dibuat menunjukkan selera yang tinggi. Hal ini dilihat dari warna-warna yang digunakan dalam membuat pakaian, yaitu warna cerah dan juga pernak-pernik perhiasan yang dilekatkan di sekujur pakaian yang membuat pemakainya terlihat elegan dan terkesan meriah.

Berbagai jenis pakaian ini sudah selayaknya dijaga, dipelihara dan dilestarikan penggunaannya karena merupakan khasanah dan warisan dari para orang tua zaman dahulu. Karena hal ini memiliki nilai tambah tersendiri. Baik dalam rangka pelestarian budaya dan identitas kesukuan maupun dalam rangka bagian daya tarik pariwisata Sumbar. Dan selain itu, proses kreasi pakaian perempuan Minang ini berlangsung dalam jangka waktu lama, turun temurun, menghasilkan kreasi pakaian berbagai jenis.

Dalam beberapa kunjungan tim investasi Sumbar ke luar negeri, kami beberapa kali membawa tim kesenian tari Sumbar untuk tampil di ajang bergengsi. Pakaian adat yang dikenakan  para penari ini mampu menarik perhatian pengunjung, bahkan mendapat apresiasi dan juga sambutan meriah. Masyarakat luar negeri, khususnya Barat tidak mengenal pakaian yang dikenakan oleh tim tari tersebut. Sehingga mereka terkesima dengan pakaian yang dikenakan, karena warnanya yang cerah dan juga pernak pernik yang bersinar.

Selain sebagai warisan tak benda yang perlu dijaga, perlu juga dirancang pakaian perempuan Minang yang bisa digunakan untuk kondisi kekinian. Tentunya dengan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada. Sehingga pakaian tersebut juga bisa dipakai ke kantor, acara resmi, acara keagamaan, dan lainnya. Kerumitan yang ada di dalam pakaian perempuan Minang bisa disesuaikan sehingga bisa lebih praktis dan juga realistis dalam penerapannya. Namun tetap mencirikan nilai budaya Minang. Di sini butuh peran para disainer dan para pegiat kreatif.

Dan berbicara tentang disainer, pada 12-15 Oktober 2017 lalu dilangsungkan acara Minangkabau Fashion Heritage (MFH) di Jakarta Convention Center (JCC) yang diadakan oleh Dekranasda Sumbar dengan ketuanya Ibu Nevi Irwan Prayitno. MFH adalah bagian dari acara Indonesia Modes Festival Week (IMFW). Dekranasda Sumbar turut aktif memberikan ruang kepada disainer muda Sumbar untuk berkreasi dan memamerkan karyanya di tingkat nasional.

Bukan tidak mungkin berbagai jenis pakaian perempuan Minang ini jika dikembangkan oleh para disainer muda dan pegiat kreatif, akan menjadi daya tarik sendiri di bidang “halal fashion tourism”. Hal ini sejalan dengan world halal destination dan world halal culinary destination yang sudah disandang Sumbar.

Dan yang juga perlu diapresiasi oleh kita bersama adalah, pakaian perempuan Minang ini umumnya tertutup, atau menutup seluruh tubuh, sesuai dengan falsafah hidup masyarakat “adat basandi syarak syarak basandi kitabullah”. Meskipun dirancang dengan berbagai model dan gaya serta pernak pernik, secara umum tetap menutup tubuh.

Maka dengan ciri yang demikian, dengan penyesuaian yang bisa dilakukan di sana-sini, saya yakin suatu saat akan ada pakaian perempuan Minang yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, dengan konteks yang kekinian, realistis untuk dipakai, dan jauh dari kerumitan. Walaupun kemeriahan baju adat memang diperlukan saat acara adat dan acara tertentu. Namun kerumitan yang ada di pakaian tersebut bisa diminimalkan agar mampu digunakan sehari-hari untuk berbagai kebutuhan dan kegiatan. ***

Singgalang, 1 November 2017

 

 

 

242. 2017-11-08 [Singgalang] Alek Nagari

Alek Nagari

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, selama menjabat Gubernur Sumbar sudah banyak saya hadir memenuhi undangan Alek Nagari di berbagai pelosok Sumbar sehingga bisa bersilaturahmi dengan para Wali Nagari dan perangkatnya, juga dengan masyarakat dan perantau di nagari tersebut. Dan saya semakin mengenal budaya dan kearifan lokal yang ada di tiap nagari yang dikunjungi.  Dan yang baru-baru ini saya datangi pada 31 Oktober 2017 lalu adalah alek nagari Manggopoh yang terletak di Kabupaten Agam.

Nama nagari Manggopoh ini turut mengingatkan saya tentang kisah kepahlawanan Siti Manggopoh. Seorang wanita yang meskipun harus menyusui anaknya namun tak menyurutkan dirinya melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda pada waktu itu. Pada waktu itu penjajah Belanda menerapkan pajak tanah (belasting) kepada masyarakat, sementara tanah adalah milik kaum sehingga menimbulkan kemarahan masyarakat. Perlawanan Siti Manggopoh sempat membuat penjajah Belanda kewalahan dan meminta bantuan dari luar.

Kembali ke alek nagari Manggopoh, pada kunjungan saya tersebut selain menghadiri undangan alek nagari juga meresmikan Kantor Wali Nagari. Alek nagari yang bisa berlangsung hampir seminggu menunjukkan bahwa masyarakat di nagari tersebut memang sedang berpesta (helat, alek). Ramainya masyarakat yang hadir dalam alek tersebut tidak hanya berasal dari dalam nagari tersebut. Masyarakat yang di rantau pun turut hadir ke kampungnya.

Berbagai macam acara biasanya ditampilkan di alek tersebut, seperti pentas seni dan tari (adat budaya), perlombaan (silat dan lainnya), pidato adat, peragaan dan lomba busana Minang, dan lainnya. Selain itu, di saat berlangsungnya alek nagari ini juga terjadi peningkatan transaksi ekonomi dari penjualan produk usaha yang ada di nagari, termasuk juga badan usaha milik nagari, yang dibeli oleh masyarakat. Dan juga transaksi jual beli para pedagang yang meramaikan alek nagari tersebut.

Di samping itu, dalam alek nagari dilakukan musyawarah oleh seluruh elemen masyarakat tentang pembangunan nagari. Di sini dilakukan diskusi  mengenai pembangunan nagari sehingga dicapai kata sepakat dan juga dilakukan acara “badoncek” untuk membiayai kegiatan yang disepakati.

Kantor Wali Nagari Manggopoh adalah salah satu contoh tentang peran pembiayaan masyarakat dalam membangun nagari. Karena sebagian  pembangunannya berasal dari dana masyarakat baik ranah maupun rantau. Di samping juga ada bantuan dari pemda maupun pihak swasta.

Alek nagari yang dilakukan di berbagai tempat ini perlu dirutinkan pelaksanaannya dan perlu didukung oleh seluruh pihak. Karena banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini. Kebersamaan masyarakat dalam membangun nagarinya, pelestarian adat dan budaya yang dilakukan dalam kegiatan tersebut sehingga terjadi perpindahan pengetahuan dan ilmu dari orang tua kepada anak muda, munculnya berbagai kesepakatan untuk membangun nagari, silaturahmi yang tetap terjaga, hal yang sulit ternyata menjadi mudah karena kebersamaan, semakin kompaknya seluruh elemen masyarakat di nagari, adalah di antara dampak positif yang bisa dilihat dan dirasakan.

Nagari hanya ada di Sumbar. Dan bisa disetarakan dengan desa seperti yang ada di Jawa. Namun nagari sudah lama memiliki sistemnya sendiri, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan sistem dan budaya yang ada di nagari tersebut yang juga menopang kehidupan masyarakat di Sumbar secara umum.

Di dalam struktur pemerintahan nagari terdapat Wali Nagari sebagai pemimpin eksekutif, kemudian ada Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang berisi ninik mamak, kemudian Badan Musyawarah Nagari (BMN) yang berisi alim ulama, cadiak pandai dan para tokoh masyarakat ditambah dari unsur pemuda, perempuan, dan perwakilan suku.

Pengelolaan yang baik sebuah nagari, termasuk di dalam mengelola alek nagari insya Allah akan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat nagari. Dan bahkan bisa dikemas menjadi sebuah paket wisata yang menarik bagi wisatawan yang ingin mengetahui perihal nagari. Dan hal ini akan berdampak positif pula bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Semoga dengan adanya alek nagari, semakin menambah semangat masyarakat untuk maju dan membangun nagarinya dengan sebaik-baiknya. Baik pembangunan material maupun spiritual. ***

Singgalang, 8 November 2017

 

 

 

243. 2017-11-10 [Republika] Menguatkan Nilai Kepahlawanan

Menguatkan Nilai Kepahlawanan

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Sedangkan pahlawan menurut Peraturan Presiden RI No. 33 Tahun 1964 adalah: 1. Warga negara RI yang gugur, tewas, atau meninggal dunia karena akibat tindakan kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa. 2. Warga negara RI yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa dan yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan karenanya.

Hari Pahlawan dan Profil Pahlawan

Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Pada saat itu, 10 November 1945 Bung Tomo, KH. Hasyim Asy’ari,  KH Wahab Hasbullah, para Kiyai, para santri, para pejuang, dan rakyat di Surabaya bertekad pantang menyerah dalam menghadapi tentara sekutu. Dengan semangat membaja, keberanian luar biasa, kesungguhan, dan yakin akan nilai kebenaran yang diperjuangkan, aksi heroik masyarakat Surabaya menjadi catatan sejarah yang tak terlupakan.

Pahlawan yang dikenal kebanyakan orang, adalah pahlawan yang berjuang di masa penjajahan fisik. Mereka telah terbukti memberikan segala yang terbaik yang dimilikinya termasuk nyawanya untuk melawan penjajah agar bangsanya bisa menikmati kemerdekaan dan menjalani kehidupan sebagai bangsa merdeka. Dan bangsa yang telah merdeka, kemudian membentuk pemerintahan agar rakyat terpenuhi hak-haknya sesuai dengan konstitusinya.

Namun, semakin negara dan bangsa ini bertambah usianya maka profil pahlawan tanpa perlu penetapan dari pemerintah sudah selayaknya turut diberikan kepada siapa saja warga negara RI yang berjuang dengan sungguh-sungguh di bidangnya masing-masing sehingga kiprahnya turut mewarnai lingkungan tempat dia berada karena turut berkontribusi memajukan bangsa dan negara.

Karena pada dasarnya perjuangan para pahlawan untuk mendapatkan kemerdekaan harus dilanjutkan oleh mereka yang hidup di alam kemerdekaan. Berbagai nilai kepahlawanan yang muncul ketika melawan penjajah harus kembali dihidupkan di alam kemerdekaan. Jangan sampai justru ketika sudah merdeka, bangsa ini tidak bersungguh-sungguh untuk memajukan dirinya guna mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Karena sudah banyak bangsa yang merdeka dengan cepat mengungguli Indonesia di segala sektor.

Berbagai gangguan yang melemahkan kemampuan bangsa ini untuk maju harus dihadapi pula dengan nilai-nilai kepahlawanan. Gangguan tersebut di antaranya adalah tawuran, narkoba, pergaulan bebas, kemalasan, bully, dan penyakit masyarakat lainnya yang menyebabkan sebagian dari masyarakat menurun kualitas hidupnya.

Pada saat ini, di tengah gencarnya pembangunan dilakukan guna mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik, kiprah berbagai kelompok masyarakat sangat mempengaruhi kelancaran pembangunan. Maka dalam kehidupan bermasyarakat, sangat penting sekali penerapan nilai-nilai kepahlawanan dalam keseharian. Di mana pada saat penjajahan dulu semangat untuk mendapatkan hak-hak sebagai bangsa sangat sulit didapat. Misalnya perjuangan untuk mendapatkan hak akan pendidikan, di mana setelah merdeka hak akan pendidikan digariskan oleh konstitusi.

Di masa sudah merdeka seperti saat ini, seluruh rakyat berhak mendapatkan pendidikan dari pemerintah. Maka mereka yang berjuang di bidang pendidikan sesungguhnya telah menerapkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupannya. Dengan wilayah Indonesia yang luas, masih ada masyarakat yang belum mendapatkan hak pendidikan, meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai kebijakan untuk menjangkau hingga ke pelosok. Maka siapapun mereka yang membantu tercapainya hak-hak masyarakat akan pendidikan ini telah memperjuangkan kebenaran.

Pahlawan di bidang pendidikan di masa penjajahan di antaranya adalah Ki Hajar Dewantara, Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, dan Mohammad Syafe’i.  Maka kini di masa mengisi kemerdekaan, setiap insan yang berjuang di bidang pendidikan pada dasarnya telah mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan. Para guru, dosen, pengajar dan pendidik yang berdedikasi dalam dunianya sehingga mengubah banyak orang menjadi baik perilakunya dan bertambah ilmunya adalah pahlawan. Para siswa, pelajar, dan mahasiswa yang sungguh-sungguh dalam belajar, rajin, tekun, serius, adalah pahlawan. Karena mereka menjalankan nilai-nilai kebenaran yang merupakan dasar perjuangan dari seorang pahlawan. Kesungguhan mereka akan menjadi bagian dari kekuatan sebuah bangsa yang merdeka. Jutaan orang yang mengikuti proses belajar mengajar dengan kesungguhan akan memperkuat bangsa dan negaranya. Sebaliknya, orang yang mengikuti proses belajar mengajar namun malas, tidak serius, tidak sungguh-sungguh, melakukan kecurangan, sesungguhnya turut memperlemah bangsa dan negaranya.

Menguatkan Nilai Kepahlawanan

Belajar dari aksi heroik para pejuang di Surabaya pada 10 November 1945, menguatkan kembali nilai-nilai kepahlawanan pada masyarakat Indonesia sesungguhnya juga turut menguatkan kembali nilai-nilai keagamaan masyarakat. Karena pada pertempuran 10 November 1945 tersebut Bung Tomo dengan orasinya yang membakar semangat rakyat Surabaya tak lupa mengucapkan takbir yang menandakan bahwa perjuangan masyarakat tak lupa memohonkan pertolongan Allah SWT.  Demikian juga para ulama dan santri yang memiliki keberanian luar biasa dan semangat membara dalam melawan sekutu. Mereka tetap menyandarkan perjuangannya kepada Allah SWT.

Menguatkan kembali nilai-nilai kepahlawanan adalah kebutuhan bangsa ini agar terus menerus memperbaiki dirinya sehingga bisa menjadi bangsa yang besar dan maju. Karena sebagai bangsa merdeka kita tetap harus memperkuat ketahanan nasional, dan salah satunya adalah memperkuat nilai kepahlawanan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sangat banyak nilai-nilai kebaikan universal yang bisa dijadikan landasan untuk memperkuat nilai kepahlawanan dalam kehidupan. Seperti perilaku tertib antre, membuang sampah pada tempatnya, tidak kebut-kebutan di jalan, membantu orang lain yang kesulitan, belajar sungguh-sungguh, bekerja sungguh-sungguh, menjadi orang tua yang sayang kepada anak, menjadi suami/istri yang sayang kepada pasangannya.

Demikian pula di sektor pelayanan publik. Dari petugas kebersihan yang melakukan tugasnya dengan baik, petugas layanan masyarakat yang memberikan layanan prima tepat waktu, hingga pemimpin yang menjaga stafnya agar berlaku baik dalam bekerja. Mereka juga telah melakukan nilai-nilai kebaikan universal. Dan nilai-nilai kebaikan universal ini sudah membuat banyak bangsa lain mencapai kemajuan dan kejayaannya sehingga masyarakatnya menikmati kehidupan yang layak sebagai sebuah bangsa. Dan semoga bangsa kita pun bisa mencapai kemajuan dan kejayaan dengan memegang teguh dan mengamalkan nilai-nilai kepahlawanan pada diri setiap insan dalam kehidupannya sehari-hari.

Republika, 10 November 2017

 

 

 

244. 2017-11-16 [Singgalang] Sumbar Expo 2017

Sumbar Expo 2017

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 9-12 November 2017 telah dilaksanakan kegiatan Sumbar Expo di kota Batam. Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar. Kegiatan ini adalah kali keenam. Dan telah dilakukan sebelumnya di berbagai tempat, seperti Jakarta, Denpasar dan Bandung. Insya Allah untuk Sumbar Expo berikutnya akan diadakan di Makasar.

Atas nama Pemprov Sumbar tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kepri dan Wali Kota Batam yang telah mendukung kegiatan ini. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kota Batam dan para perantau di sana yang telah mendukung berjalannya Sumbar Expo 2017 dengan lancar.

Sumbar Expo adalah salah satu usaha dari Pemprov Sumbar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Hal ini dilakukan guna menyiasati terbatasnya anggaran yang ada, baik APBN dan APBD.  Di Sumbar Expo dilakukan pemasaran produk asal Sumbar ke luar dan sekaligus dilakukan acara presentasi kepada investor  untuk mengajak investasi di Sumbar. Alhamdulillah, dari tahun ke tahun pelaksanaannya berjalan baik dan telah memberikan dampak positif bagi kemajuan Sumbar.

Pada Sumbar Expo kali ini, Pemprov Sumbar mempromosikan produk UMKM Sumbar di Batam.  Mereka adalah UMKM binaan dari kota dan kabupaten di Sumbar. Produk-produk mereka dipamerkan di stand-stand yang ada di lokasi Sumbar Expo.

Selain itu, Pemprov juga mempromosikan Pariwisata Sumbar yang sedang giat melakukan pembenahan. Terdapat potensi lebih dari 1 juta orang wisatawan di Batam yang dapat diajak untuk berkunjung ke Sumbar. Ada beberapa tempat yang menarik bagi wisatawan tersebut untuk mengunjungi Sumbar, karena ada perbedaan topografi sehingga destinasi wisata alam Sumbar cukup menjanjikan dan menarik untuk dikunjungi serta melengkapi kunjungan wisatawan tersebut.

Selain itu Pemprov Sumbar juga mengajak pelaku bisnis di Batam termasuk para perantau di Batam dan juga pelaku bisnis di Singapura untuk berinvestasi di Sumbar. Dalam rangka temu bisnis, juga telah dilakukan one on one meeting untuk memfasilitasi pertemuan para pebisnis. Selain itu juga ada presentasi dari Gubernur Sumbar, Bupati Padang Pariaman, Bupati Sijunjung, Wali Kota Sawahlunto, dan Sekda Pasaman Barat.

Insya Allah pada tanggal 24 November 2017 akan dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bidang pangan dan pariwisata. Di bidang pangan, nantinya Sumbar akan memasok kebutuhan pangan seperti beras, cabe, bawang dan sayur-sayuran ke Batam. Hal ini akan menguntungkan kedua pihak, Sumbar dan Batam (Kepri).

Bagi Sumbar pengiriman komoditi ke Batam di saat ketersediaannya banyak akan menjaga harga komoditi tersebut dari kejatuhan harga sehingga petani terlindungi dari kejatuhan harga. Sedangkan bagi Batam sendiri, kiriman dari Sumbar akan turut mengamankan pasokan sehingga bisa mengurangi tingginya harga komoditi tersebut ketika dibeli masyarakat. Sedangkan di bidang pariwisata, nantinya Batam akan mempromosikan pariwisata Sumbar ke wisatawan yang datang ke Batam untuk menikmati destinasi wisata alam, seni dan budaya, serta kuliner Sumbar.

Pada Sumbar Expo 2017 ini, juga merupakan ajang silaturahmi. Baik antar pemerintah daerah maupun antar orang Minang, terutama mereka yang di rantau. Dengan silaturahmi ini turut mempererat hubungan antar pemerintah daerah dan juga pemerintah daerah yang ada di Sumbar dengan para perantau Minang.

Masih dalam rangka silaturahmi, pada Sumbar Expo 2017 ini juga dilakukan pertunjukan seni dan budaya Minang yang merupakan promosi seni dan budaya Minang kepada masyarakat di Batam. Hal ini disambut antusias oleh masyarakat di Batam dan juga para perantau. Pelaksanaan dilakukan selama Sumbar Expo 2017 berlangsung, 9-12 November 2017.

Semoga dengan pelaksanaan Sumbar Expo dari tahun ke tahun, turut memajukan UMKM di Sumbar dan juga semakin menarik investor datang ke Sumbar serta meningkatkan kunjungan wisatawan datang ke Sumbar. Khusus untuk pariwisata, harapan saya hal ini bisa berdampak langsung kepada masyarakat karena wisatawan datang ke lokasi wisata membawa uang.  Yang mereka butuhkan di antaranya adalah penginapan, transportasi, tempat belanja, oleh-oleh, cindera mata, kuliner. Dan semua itu bisa dilakukan oleh masyarakat, tentu dengan kemasan yang menarik dan pelayanan prima agar wisatawan yang bertransaksi semakin menikmati perjalanan di Sumbar.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemangku kepentingan atas terlaksananya Sumbar Expo ini. Semoga kebaikan yang telah dilakukan ini mendapat balasan yang jauh lebih dari Allah SWT. Sehingga kita termotivasi untuk memberikan pelayanan yang baik guna mensejahterakan masyarakat. Tentunya segala kekurangan yang ada di Sumbar Expo tahun ini, kita perbaiki di tahun depan.

Singgalang, 16 November 2017

245. 2017-11-27 [Padek] Pemuda Semangat Perubahan

Pemuda Semangat Perubahan

 Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 18 November 2017 malam lalu saya menyempatkan diri hadir di  acara Jambore Pemuda Indonesia (JPI) 2017 di Sawahlunto. Acara ini dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Bpk. Imam Nahrowi. Pesertanya berasal dari seluruh Indonesia, 544 pemuda terbaik mewakili 34 provinsi, ditambah peserta dari kabupaten/kota di Sumbar sehingga total kurang lebih  1.000 peserta.

Tema acara ini adalah Pemuda Indonesia Berani Bersatu. JPI merupakan agenda rutin dari Kemenpora RI, dan telah ada sejak 1998 dengan nama awalnya Kemah Kesatuan Pemuda (KKP) yang kemudian diganti menjadi JPI. Pada acara JPI 2017 ini saya turut memberikan motivasi kepada peserta dan bersama IPe Band turut memeriahkan suasana panggung hiburan JPI 2017.

Saya mengapresiasi Wali Kota Sawahlunto yang bersedia menyelenggarakan kegiatan Jambore Pemuda Indonesia 2017 ini di Sawahlunto sehingga terlaksana dengan baik. Karena secara tidak langsung hal ini telah mempromosikan Sawahlunto kepada publik melalui acara JPI 2017.

Dan dari provinsi pun turut mendukung pelaksanaan JPI 2017 ini dengan turut berbagi anggaran dengan Sawahlunto, di mana anggaran dari Pemprov Sumbar berjumlah lebih 1 miliar rupiah. Dan dari perhelatan JPI 2017 ini, banyak pimpinan rombongan mengucapkan terima kasihnya atas layanan yang diberikan oleh panitia. Tentunya ini sebuah apresiasi yang bisa berdampak positif baik bagi Sawahlunto maupun Sumbar.

Semoga kota/kabupaten lain juga bisa mencontoh Sawahlunto yang mampu menyelenggarakan iven nasional di wilayahnya sehingga turut mempromosikan wilayahnya. Insya Allah Pemprov Sumbar akan turut berbagi anggaran dengan kabupaten/kota yang menyelenggarkan iven nasional seperti ini sebagai bentuk dukungan nyata.

Kembali ke JPI 2017, ini adalah kegiatan positif bagi pemuda sehingga insya Allah hasilnya pun positif. Salah satu kegiatan di ajang JPI ini adalah membagikan warisan budaya tenun songket Silungkang. Peserta JPI diajarkan tenun songket Silungkang yang merupakan warisan 400 tahun yang lalu. Sementara kegiatan lainnya di JPI 2017 ini di antaranya adalah dialog kebangsaan dengan berbagai topik terkini, lomba senam poco-poco, lomba egrang, lomba terompah panjang, lomba tarik tambang,  kirab dan pawai budaya, juga pertunjukan seni, dan juga kegiatan yang meningkatkan silaturahmi antar peserta.  Kegiatan ini juga menjadi ajang transformasi budaya dari berbagai provinsi di Indonesia sehingga turut menguatkan persatuan Indonesia.

Seperti halnya kegiatan JPI,  pemuda memang perlu memiliki aktivitas atau banyak kegiatan. Karena pada fase usia ini mereka ditempa dengan berbagai persiapan untuk regenerasi kepemimpinan. Para pemuda adalah aset bangsa dan juga calon pemimpin bangsa. Mereka harus banyak memiliki bekal untuk memimpin, termasuk memimpin dirinya sendiri, memimpin keluarga, memimpin organisasi, memimpin masyarakat, dan yang lebih besar dari itu.

Jika masa muda tidak diisi dengan berbagai kegiatan positif, maka alangkah sayangnya. Bahkan ada yang menyebut sebagai kemubaziran. Karena waktu berjalan terus, dan masa muda terbuang tidak termanfaatkan, serta potensi yang ada tidak tergali dengan baik. Sulit untuk berkembang jika tidak mengisi berbagai kegiatan positif di masa muda. Dan ke depannya juga akan sulit menjalankan amanah kepemimpinan maupun tanggung jawab lainnya, baik dalam skala kecil apalagi skala besar.

Kegiatan seperti JPI ini sudah sepatutnya juga dilaksanakan di skala yang lebih kecil, baik provinsi maupun kota/kabupaten. Dan bila perlu organisasi pemuda juga melakukan hal serupa atau hal positif lainnya guna mempersiapkan bekal bagi generasi muda. Memang diperlukan kreatifitas tersendiri untuk melakukan hal semacam ini.

Jika kegiatan yang positif ini ternyata juga sesuai dengan minat, hobi, bakat, kecenderungan atau selera para generasi muda maka ini akan semakin meningkatkan aktualisasi dirinya. Memang tidak melulu harus sesuai bakat untuk berkegiatan positif atau aktualisasi bagi para pemuda. Karena aktualisasi diri lainnya bagi para pemuda adalah menjadi aktivis, baik aktivis sosial, keagamaan, ekonomi dan bidang-bidang lainnya.

Jika kita melihat berbagai sosok pemimpin yang ada di level nasional hingga daerah, politisi nasional hingga daerah, para pejabat baik di pusat maupun daerah, hampir sebagian besar mereka adalah aktivis ketika di masa muda. Demikian pula para pengusaha sukses yang ketika muda menjadi aktivis. Mereka sukses menjalani perannya saat ini karena telah banyak pengalaman menjadi aktivis di masa muda.
Ketika menjadi aktivis, telah terbiasa mengikuti rapat-rapat, menangani masalah dan konflik organisasi, melakukan perencanaan kegiatan, mengambil keputusan, tidak malu untuk menemui bermacam orang, mampu berbicara di hadapan banyak orang, yang semua ini bekal yang bermanfaat ketika mendapat amanah jabatan maupun tanggung jawab lainnya.

Maka, dengan JPI 2017 yang telah dilaksanakan dengan baik ini saya mengajak para pemuda untuk mengisi masa mudanya dengan berbagai kegiatan positif serta penuh kesungguhan dalam melaksanakannya. Termasuk di sini adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya terhadap banyak hal, yaitu dengan jalan memperbanyak bacaan, atau sering disebut dengan kesadaran literasi. Sehingga para pemuda tidak mudah terpancing untuk melakukan kritikan atau pernyataan yang salah akibat tidak lengkapnya informasi yang didapat.

Kritikan atau pernyataan konstruktif dengan data yang benar insya Allah akan menyuguhkan jalan keluar. Sehingga akan membawa kebaikan yang luas serta terhindar dari keburukan yang akan menimbulkan musibah, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga masyarakat. Karena semangat pemuda sejatinya adalah semangat perubahan dan semangat membangun penuh kesungguhan, bukan merusak. ***

Padang Ekspres, 27 November 2017

246. 2017-11-29 [Singgalang] Tour de Singkarak dan Pariwisata Sumbar

Tour de Singkarak dan Pariwisata Sumbar

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 17 November 2017 malam di Istana Pagaruyung Tour de Singkarak (TdS) 2017 resmi dibuka. Dan keesokan paginya  (18/11) masih di tempat yang sama saya mengangkat bendera start etape pertama rute Batusangkar –  Padang. Pada etape kedua rute Pesisir Selatan – Sawahlunto saya juga turut mengangkat bendera finish di Sawahlunto. TdS 2017 berlangsung dari 18 hingga 26 November 2017 dengan 9 etape.

TdS yang sudah menginjak kali kesembilan ini semakin mengukuhkan perannya dalam “sport tourism” atau dengan kata lain promosi pariwisata melalui olahraga. Selain sudah masuk menjadi agenda perhelatan balap sepeda internasional, liputan TdS ini sudah dilakukan oleh banyak media, baik dalam maupun luar negeri. Dan jejak liputannya bisa dilihat di antaranya di Youtube di mana di situ bisa disaksikan bagaimana para videografer mampu membuat video yang berkualitas sehingga alam Sumbar yang indah mampu disorot sedemikian rupa ketika meliput acara TdS. Untuk itu saya turut menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mempromosikan kegiatan TdS ini melalui berbagai macam saluran.

Selain itu, keberhasilan TdS ini dalam mempromosikan pariwisata melalui kegiatan olahraga telah menginspirasi daerah lain untuk melakukan hal serupa. Di antaranya Tour de Banyuwangi  Ijen, dan  Tour de Flores.  Dengan melalui 18 kabupaten/Kota, TdS telah menjadi ajang promosi destinasi wisata yang ada di berbagai kabupaten/kota tersebut. Baik dari tempat start dan finish, maupun jalur yang dilalui. Para fotografer dan videografer juga turut mengabadikan momen-momen indah di semua destinasi tersebut.  TdS yang tadinya diikuti oleh beberapa kabupaten/kota di Sumbar kini telah diikuti oleh 18 kabupaten/kota di Sumbar. Ini adalah perkembangan positif, dan saya mengapresiasi pemerintah kabupaten/kota yang mempersiapkan wilayahnya dilewati TdS.

Saya juga turut mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat yang selama ini sudah memberikan bantuannya kepada Sumbar sehingga dari tahun ke tahun penyelenggaraan TdS semakin baik, baik dalam bentuk anggaran maupun kebijakan dan dukungan moral. Belajar dari negara lain yang sudah maju penanganan pariwisatanya, promosi adalah caranya, dengan melalui berbagai saluran. Dana yang dikeluarkan untuk promosi pun bisa dibilang sangat besar. Karena dengan promosi orang akan tahu, kemudian mencari tahu apa yang dipromosikan tersebut.

TdS adalah promosi pariwisata yang semakin dikenal banyak orang. Meskipun dari namanya hanya memperkenalkan danau Singkarak, namun kini TdS telah menjelma menjadi promosi berbagai destinasi wisata di Sumbar dengan didukung pemerintah kabupaten/kota. Orang pun semakin tahu bahwa selain danau Singkarak ada danau Maninjau, danau Di Atas dan Di Bawah, jembatan kelok sembilan yang menyatu dengan alam, pantai Padang, pantai Gandoriah, pantai Tiram dan pantai Carocok. Jam Gadang di Bukittinggi jangan lagi ditanya, karena ini sudah lama dikenal orang, dan tidak hanya di Indonesia tetapi juga luar negeri.

Meskipun Bukittinggi menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi orang, namun dengan promosi/pengenalan yang terus menerus kini jumlah wisatawan ke Mandeh telah menyaingi jumlah wisatawan ke Bukittinggi. Padahal kawasan Mandeh ini masih terus dalam pembenahan. Adanya promosi dan liputan media maupun perbincangan di media sosial, telah menjadikan Mandeh sebagai destinasi wisata yang makin banyak dinikmati. Keindahan Mandeh sebenarnya sudah sejak lama ada. Namun orang mau berkunjung ke sini karena promosi dan adanya liputan media.

Setelah makin banyak dipromosikan, Mandeh makin dikenal luas sehingga disebut-sebut sebagai Raja Ampat kawasan barat Indonesia. Seperti halnya Mandeh, Raja Ampat sebelumnya adalah kawasan yang indah yang tidak menjadi destinasi wisata, kemudian dipromosikan sehingga dikenal luas. Dan Mandeh yang masih terus dibenahi ini mendapatkan dampak ikutan yaitu masuknya investor yang akan mendukung kemajuan pariwisata di sana.

Ketika tulisan ini dibuat, saya mendapatkan informasi ada pengusaha asal Pessel yang mengutarakan niatnya ke kepala BKPM Sumbar untuk membangun hotel di Painan/Pesisir Selatan. Dan malamnya saya juga mendapat informasi adanya pengusaha dari Kuwait yang ingin membangun hotel dan resort di Mandeh. Dan sebelumnya saya juga mendapatkan informasi pengusaha Minang yang akan mengelola pulau ala Maldives. Sedikitnya lima investor dalam waktu dua minggu telah mendatangi BKPM Sumbar mengutarakan niatnya untuk investasi di Mandeh.

Dari beberapa peristiwa yang saya ikuti, terlihat bahwa setelah dilakukan promosi tentang destinasi wisata yang diikuti datangnya wisatawan, baru kemudian investor datang untuk berinvestasi di situ karena sudah melihat atau mengetahui potensi besar yang ada di situ. Dan juga diikuti pembenahan yang lain seperti kawasan parkir, pemeliharaan kebersihan, ketersedian toilet dan tempat shalat, dan lain-lain.

Sementara jika melihat jumlah hotel di Sumbar, terlihat adanya penambahan hotel baru dari tahun ke tahun. Demikian pula penerbangan ke Padang juga makin ramai. Ini menandakan bahwa promosi pariwisata yang dilakukan oleh berbagai pihak telah mendorong orang untuk berwisata ke Sumbar.

Membicarakan pembangunan sektor pariwisata memang seperti menebak apakah telur atau ayam yang lebih dulu. Maka yang realistis adalah melakukan apa yang bisa dan kemudian dari situ akan ada peristiwa ikutannya. Promosi adalah hal yang bisa dilakukan, kemudian diikuti pembenahan sarana dan prasarana, serta mengundang investor masuk. Semakin baik dan menunjukkan tren yang bagus maka investor datang untuk berpartisipasi. Sehingga dengah demikian semakin ke depannya akan didapati situasi dan kondisi yang makin baik.

Pemerintah pusat yang tengah gencar memajukan sektor pariwisata menyadari bahwa sektor ini pertumbuhannya tinggi  dan pengaruhnya besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka untuk konteks Sumbar, dengan peran serta seluruh komponen masyarakat dan pemangku kepentingan, secara bersama setiap kita melakukan apa yang bisa dilakukan maka insya Allah ini akan membawa dampak positif bagi dunia pariwisata Sumbar. ***

Singgalang, 29 November 2017

247. 2017-12-2 [Padek] Bambu dan Festival Budaya

Bambu dan Festival Budaya

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bambu adalah tanaman yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat. Kegunaan bambu bagi masyarakat juga sudah menjadi bagian dari kehidupan. Bahkan bagi sebagian masyarakat, bambu sudah dipakai untuk sumber nafkah. Karena dari bambu bisa dibuat peralatan rumah tangga seperti kursi, meja, tempat tidur, dinding pemisah ruangan, dan lainnya.

Keberadaan bambu di tengah-tengah masyarakat biasanya menandakan adanya lingkungan yang asri. Karena bambu tumbuh bersama-sama sehingga menjadikan lingkungan sekitar lebih asri dan rindang.

Seiring perkembangan zaman, ternyata bambu sudah bisa dimaksimalkan kegunaannya melalui bantuan teknologi dan juga seni. Kini sudah ada bangunan yang dibuat dengan bahan bambu dengan arsitektur modern dan dipadu dengan selera seni dan teknologi. Sehingga banyak orang tidak menyangka bahwa bambu ternyata bisa menjadi pendukung modernisasi dan juga memiliki nilai artistik luar biasa.

Perlu diakui bahwa pemasyarakatan bambu tidak sepesat penggunaan kayu atau mungkin besi untuk mendukung sebuah bangunan. Namun ketika sudah terlihat bagaimana artistiknya bambu pada sebuah bangunan mungkin orang baru sadar bahwa ternyata yang selama ini sudah ada di tengah masyarakat dan jumlahnya banyak bisa disulap sedemikian rupa menjadi sesuatu yang punya nilai tambah, nilai seni, dan nilai jual. Di beberapa tempat wisata, bambu sudah menjadi bahan dominan, bahkan penginapan di tempat wisata tersebut didominasi oleh bahan bambu. Ini menunjukkan bahwa bambu bernilai tinggi dan artistik sehingga digunakan di berbagai tempat wisata.

Saya mengapresiasi acara festival bambu atau Payakumbuh Botuang Festival (PBF) 2017 yang diselenggarakan di Payakumbuh, yang mencoba mengenalkan bambu kepada masyarakat dalam skala lebih luas melalui pentas seni dan budaya. Acara ini jika melihat dari namanya sangat unik dan khas, semoga bisa menjadi sebuah acara yang diminati masyarakat dan juga wisatawan dari luar Payakumbuh.

Acara PBF ini juga ternyata mendapat dukungan dari alumni UGM yang sudah meneliti konstruksi bambu, struktur bambu (perilaku sambungan bambu), dan juga metode pengawetan bambu, serta spesifikasi bambu.

Mudah-mudahan PBF 2017 bisa mengangkat citra bambu menjadi ikon acara ini sehingga untuk pelaksanaan di tahun-tahun berikutnya selain pagelaran seni, budaya, fashion, juga kuliner, turut mengangkat citra bambu sebagai bahan baku yang mendukung pembuatan berbagai kebutuhan peralatan atau bangunan zaman modern.

Selain itu, diadakannya pentas seni dan budaya adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Di mana dalam kehidupan rutinitas sehari-hari masyarakat baik mencari nafkah, belajar dan lainnya kemudian diangkatkan kegiatan pentas seni budaya yang bisa menjadi semacam hiburan positif bagi masyarakat.

Keberadaan pentas seni dan budaya adalah ibarat penyeimbang kehidupan. Tanpa seni dan budaya kehidupan akan terasa kaku, statis. Namun ketika seni dan budaya masuk menjadi bagian kehidupan masyarakat maka kehidupan akan lebih dinamis dan lentur.

Selaku Gubernur Sumbar saya mendukung diadakannya berbagai pentas seni dan budaya yang ada di Sumbar. Karena di satu sisi hal ini juga menjadi ajang bagi para seniman, budayawan dan pelaku seni budaya lainnya untuk berekspresi dan juga aktualisasi diri. Sementara di sisi lain adanya kegiatan pentas seni dan budaya merupakan hiburan yang positif bagi masyarakat. Karena di sini orang saling bertemu dan berkomunikasi. Bahkan di setiap pentas seni dan budaya juga biasanya diikuti dengan adanya para pedagang yang menjual berbagai produk sehingga berpengaruh positif bagi masyarakat.

Selain itu, adanya kegiatan pentas seni dan budaya jika dilakukan dengan pengelolaan yang baik dan terarah juga bisa menjadi daya tarik pariwisata yang bisa mengangkat nama suatu daerah sehingga bisa pula mengangkat kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Dan dengan adanya pentas seni dan budaya ini selain turut melestarikan seni dan budaya daerah juga turut memperkuat ketahanan masyarakat di bidang seni dan budaya. Karena saat ini dirasa semakin dibutuhkannya ketahanan seni dan budaya dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya ini.

Untuk mendukung ketahanan nasional dan juga melestarikan seni dan budaya maka pemerintah provinsi Sumatera Barat turut mendukung dan memfasilitasi berkembangnya seni dan budaya di masyarakat. Beberapa program dari pemprov sudah ada yang melibatkan kelompok seni atau sanggar seni untuk tampil di beberapa acara. Selain itu kegiatan promosi Sumatera Barat yang terkait investasi dan perdagangan juga sudah melibatkan sanggar seni atau kelompok seni untuk menampilkan diri. Namun demikian saya juga turut mengapresiasi berbagai kegiatan seni dan budaya yang dilakukan secara mandiri dengan kreativitas yang luar biasa.

Semoga PBF 2017 yang diselenggarakan berlangsung sukses, bisa menjadi ajang penyaluran kerativitas para seniman dan budayawan sekaligus aktualisasi potensi diri mereka, serta bisa memperkenalkan bambu sebagai sebuah ikon yang juga merupakan bahan baku yang tersedia di alam bebas sehingga bisa diangkat nilainya oleh masyarakat menjadi lebih berharga.

Padang Ekspres, 2 Desember 2017

248. 2017-12-11 [Padek] Mengantisipasi Banjir

Mengantisipasi Banjir

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Beberapa minggu terakhir ini hujan lebat dengan intensitas tinggi dan cukup lama terjadi di berbagai tempat di Sumbar. Ini terjadi baik pagi, siang maupun malam. Akibat hal ini juga menyebabkan kondisi yang kurang baik bagi pesawat untuk mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Hujan lebat yang terus-menerus berpotensi menimbulkan banjir dan longsor. Jika kita melihat sejenak ke belakang, pada Maret 2017 bencana banjir dan longsor melanda Kab. 50 Kota. Sedikitnya 8 kecamatan dan 13 nagari mengalami dampak langsung banjir dan longsor ini. Pada Mei 2017 banjir dan longsor terjadi di Kota Padang. Sedikitnya ada 18 titik banjir di 9 kecamatan yang terdeteksi. Kemudian pada September 2017 banjir dan longsor terjadi di Kab. Pesisir Selatan. Pada November 2017 banjir dan longsor juga kembali terjadi di Kab. Pesisir Selatan. Hampir di seluruh wilayah Sumbar terjadi banjir dan longsor.

BMKG (Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika) secara rutin mempublikasikan prakiraan cuaca di Sumbar untuk dijadikan sebagai pedoman dan antisipasi berbagai kegiatan masyarakat dan juga pemerintah.  Kondisi cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang tak henti adalah peristiwa yang rutin terjadi di Sumbar. Sumbar yang memiliki bentang pegunungan bukit barisan menjadikan daerah ini kerap turun hujan dengan intensitas tinggi.

Pemerintah Provinsi Sumbar senantiasa mengingatkan masyarakat agar selalu berjaga-jaga dalam menghadapi kondisi hujan yang terus-menerus turun dengan waktu cukup lama. Karena dari hujan lebat yang terus-menerus kemungkinan akan menimbulkan bencana, seperti banjir dan longsor maupun banjir bandang (galodo).

Seharusnya bencana yang seperti ini bisa diantisipasi. Karena peristiwanya sering berulang dan yang terjadi selalu banjir dan longsor. Pemerintah daerah secara terus-menerus berupaya untuk mencegah dan mengantisipasi berbagai bencana tersebut. Baik dalam bentuk surat edaran, informasi melalui media, tindakan pencegahan dan penanggulangan, perbaikan/pembangunan infrastruktur, dan juga bekerja sama dengan kelompok masyarakat maupun organisasi yang terkait langsung dengan antisipasi dan penanganan bencana.

Namun demikian, masyarakat pun perlu melakukan antisipasi menghadapi hal seperti ini. Misalnya tidak tinggal di sekitar sungai, terutama pinggir sungai. Jika sudah berkali-kali rumahnya terkena banjir maka harus direncanakan untuk mencari tempat tinggal yang jauh dari sungai. Atau kalau pun ternyata sangat sulit untuk pindah maka ketika hujan turun dengan lebat dan cukup lama harus segera bersiap-siap meninggalkan rumah menjauhi sungai.

Demikian pula masyarakat yang tinggal di daerah yang memiliki kemiringan tertentu atau di dekat daerah yang memiliki bukit dan lembah. Ketika hujan turun dengan lebatnya dan cukup lama maka harus melakukan antisipasi dengan menjauhi daerah tersebut. Hal yang paling ideal dan aman memang tidak lagi bertempat tinggal di daerah yang sudah jelas rawan akan bencana. Karena ini untuk kebaikan masyarakat yang bersangkutan.

Demikian pula dengan para petani, mereka harus mengatur lagi waktu beraktivitas mereka seperti menanam dan memanen. Perlu terus memantau informasi resmi dari BMKG terkait cuaca. Sehingga para petani bisa dihindarkan dari kerugian maupun musibah lainnya terkait cuaca ekstrem. Begitu pula nelayan, yang aktivitasnya membutuhkan cuaca yang bersahabat.

Sementara bagi pengguna jalan yang melalui wilayah Sumbar juga harus berhati-hati ketika melewati area yang berdekatan dengan sungai dan bukit di saat hujan lebat turun dan cukup lama. Bila perlu berhenti atau menunda perjalanan agar selamat. Karena bahaya longsor bisa terjadi tanpa diduga, dan tak hanya menimbun jalan juga bisa menimbun kendaraan.

Dengan melihat hal ini maka memang perlu dilakukan antisipasi yang baik, dan insya Allah antisipasi terhadap banjir dan longsor bisa menyelamatkan nyawa manusia. Berbeda dengan antisipasi bencana yang sangat mendadak datangnya seperti gempa bumi yang bisa memakan korban manusia dalam waktu sekejap.

Masyarakat yang tinggal atau bermata pencaharian di zona merah bencana harus sangat siap menghadapi cuaca ekstrem dan mengantisipasi terjadi bencana. Kejadian yang mungkin kerap berulang harus dijadikan bahan renungan dan pemikiran guna menyelamatkan diri.

Dalam Alquran surat 13 ayat 11 Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia jika ingin mengubah keadaan yang ada pada diri kita yaitu terhindar dari bencana maka kitalah yang harus melaksanakan aksinya. Maka hujan yang turun terus-menerus yang berpotensi menimbulkan bencana harus kita hadapi dengan melakukan antisipasi. Kemauan dan kesadaran adalah kuncinya.

Hujan sesungguhnya adalah rahmat Allah SWT. Namun manusia diberi akal untuk mengantisipasi terjadinya bencana ketika hujan lebat turun dan cukup lama. Semoga kita bisa mensyukuri turunnya hujan sebagai rahmat Allah SWT sekaligus bisa mengantisipasi terjadinya hujan lebat yang cukup lama. ***

Padang Ekspres, 11 Desember 2017

 

249. 2017-12-14 [Singgalang] Politik Cerdas dan Berintegritas

Politik Cerdas dan Berintegritas

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 4 Desember 2017 saya hadir sekaligus memberi sambutan dan arahan di acara yang diselenggarakan oleh KPK RI bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Sumbar, yaitu Politik Cerdas Berintegritas. Acara ini diselenggarkan di Bukittinggi dan pesertanya adalah generasi muda, baik yang berada di organisasi pemuda maupun organisasi sekolah serta pelajar dan mahasiswa. Dari provinsi yang ada di Indonesia, Sumbar termasuk yang awal menyelenggarakan acara ini  bersama dengan Riau. Saya mengapreiasi acara ini baik kepada KPK RI dan Dinas Pemuda dan Olahraga Sumbar.

Acara seperti ini sungguh sangat bagus, karena memberikan pencerahan dan pengetahuan kepada generasi muda untuk melakukan pencegahan sedari awal agar tidak melakukan tindakan korupsi. Selain itu, acara ini juga menunjukkan ke publik bahwa KPK RI juga melakukan kegiatan pencegahan. Karena opini yang berkembang di masyarakat melalui media, KPK RI lebih dikenal dengan penindakan, khususnya operasi tangkap tangan (OTT) yang kerap menjadi headline media.

Maka, dengan semakin giatnya KPK RI mengadakan kegiatan yang bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk pemda, dalam hal ini Pemprov Sumbar, perlu diapresiasi. Karena semakin masif melakukan kegiatan pencegahan. Belum lama ini, KPK RI juga melakukan kegiatan supervisi terkait kegiatan pencegahan kepada OPD (organisasi perangkat daerah) yang ada di Pemprov Sumbar bersama inspektorat provinsi. Dan sebelumnya lagi KPK RI juga sudah turun membantu dalam menyempurnakan sistem pelayanan publik.

Kembali kepada acara yang diselenggarakan di Bukittinggi dengan menghadirkan generasi muda, maka kegiatan seperti ini sangat tepat. Karena generasi muda umumnya memiliki idealisme, belum tersentuh dengan politik praktis dan juga belum masuk ke birokrasi dan kekuasaan. Mereka masih independen. Mampu menyuarakan kebenaran dan ketidakadilan dengan lantang yang merupakan karakter orang muda.

Generasi muda, belum masuk ke arena kekuasaan sehingga dalam kondisi yang masih baik dilatih dengan arahan yang baik dari lembaga seperti KPK RI, insya Allah mereka akan menjadi pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah untuk melayani masyarakat. Dan jauh dari kecenderungan untuk melakukan tindakan tidak terpuji seperti korupsi.

Di samping itu generasi muda adalah yang terdepan dalam menghadapi para penjajah di masa sebelum negara ini merdeka. Mereka tampil menyuarakan pembelaan terhadap nasib rakyat yang dijajah, mereka ingin menjadikan bangsanya bebas dari penindasan dan penjajahan. Dan di masa sesudah merdeka, generasi muda adalah motor perubahan. Tenaga, pikiran, semangat, integritas mereka akan mempercepat perubahan masyarakat menjadi lebih baik. Meskipun diakui juga, di masa sesudah merdeka inilah godaan bagi generasi muda sangat kuat sehingga menghancurkan diri mereka sendiri dan juga karakter positif yang ada pada mereka.

Sebuah ungkapan yang terkenal dari John Emerich Edward Dalberg Acton atau yang biasa dikenal Lord Acton, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”.  Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut menyebabkan korup absolut. Pengertian “corrupt” sebagai kata sifat ada beberapa, yaitu korup itu sendiri, rusak, jahat, buruk, kotor, tidak murni, tidak jujur. Sedangkan pengertian dalam kata kerja adalah merusak, mengubah, menyuap, dan memperburukkan.

Oleh karena itu, generasi muda yang memiliki idealisme dan semangat juang tinggi, juga harus memiliki karakter yang kuat. Karena sesungguhnya mereka meskipun sebelum memasuki birokrasi atau memegang kekuasaan, ketika masih di bangku sekolah atau kuliah juga menghadapi ujian terhadap karakter yang kuat tersebut.

Melatih diri untuk tidak korup itu sama halnya melatih diri untuk tidak mencontek ketika ujian. Demikian pula dengan melatih diri untuk tidak titip tanda tangan untuk mengisi daftar hadir kuliah agar bisa bolos kuliah.  Selain itu karakter kuat yang akan menjauhkan generasi muda dari perilaku korup adalah berkata benar, rajin, jujur, menepati janji, tidak berbohong, disiplin, bertanggung jawab, kerja keras, belajar serius dan sungguh-sungguh.

Sementara bagi generasi muda yang sudah menamatkan sekolah atau kuliah lalu bekerja maka karakter yang harus dimiliki agar tidak melakukan perbuatan korup adalah bekerja sungguh-sungguh, bertanggung jawab, menepati janji, tidak menipu, tidak berbohong, realistis terhadap pendapatan yang diterima sehingga sesuai antara penerimaan dengan pengeluaran. Karena jika seseorang sudah tidak realistis maka ia akan mengorbankan pekerjaannya dan kemudian menjadi pintu masuk untuk melakukan perbuatan korup atau tindakan korupsi.

Karakter seperti serakah, haus akan kekuasaan, berbuat curang, tak malu menipu, sering berbohong, merusak pekerjaan orang lain, tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sendiri, ringan berkata kasar, menjadikan generasi muda lebih cenderung korup, dan di situlah pintu masuk terjadinya tindakan korupsi kelak.

Karakter positif seperti jujur, menepati janji, bertanggung jawab, sungguh-sungguh, dan hidup ingin sederhana adalah fitrah manusia yang semestinya ada pada diri generasi muda. Dan merupakan nilai-nilai kebaikan yang berlaku universal dan berlaku di seluruh dunia. Negara maju yang dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab, jujur, menepati janji, sungguh-sungguh, dan karakter positif lainnya sudah terbukti mampu menjadikan masyarakatnya sejahtera dan minim korupsi.

Oleh karena itu, saya turut berharap agar KPK RI memperbanyak kegiatan terkait pencegahan seperti pendidikan dan pelatihan kepada generasi muda sehingga generasi muda semakin banyak yang terselamatkan dari pengaruh negatif dan memunculkan karakter positif ketika mereka berpolitik maupun masuk ke dalam birokrasi dan kekuasaan nantinya ke depan. ***

Singgalang, 14 Desember 2017

250. 2017-12-24 [Padek] Rendang Padang Mendunia

Rendang Padang Mendunia

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 14 Desember 2017 lalu saya menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Pemprov Sumbar dengan Batan (Batan Tenaga Nuklir Nasional) yang dihadiri langsung oleh Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto selaku Kepala Batan. Selain itu juga dilakukan penandatanganan MoU antara Pemko Payakumbuh dengan Batan. Kerjasama dengan Batan ini menitikberatkan pada bidang kesehatan, pangan, dan pertanian dengan menggunakan aplikasi yang dihasilkan Batan.

Dari beberapa poin yang akan ditindaklajuti kelak, ada satu hal menarik untuk diaplikasikan di bidang pangan yaitu pengawetan pangan. Di mana dengan teknologi yang dibuat Batan, pengawetan pangan bisa mencapai 18 bulan lamanya. Teknologi ini insya Allah akan digunakan untuk mengawetkan rendang. Dan aplikasi teknologi pengawetan ini aman serta tidak  menimbulkan dampak negatif. Batan sendiri telah menjamin hal ini.  Dan pada 18 Desember 2017 siang, saya bersama staf berkunjung ke kantor Batan di Jakarta, secara khusus melihat mesin iradiator untuk pengawetan rendang dan kripik yang siap untuk ekspor.

Teknologi pengawetan ini sangat bermanfaat bagi Sumbar, khususnya pelaku UMKM yang menyediakan rendang sebagai jualannya. Karena dengan adanya aplikasi teknologi pengawetan akan menjadikan rendang bisa dijual di luar negeri dan juga di wilayah Indonesia sehingga bisa masuk ke pasar swalayan dan mini market. Fasilitas teknologi pengawetan Batan ini baru saja diresmikan oleh Wapres Bpk. Jusuf Kalla pada 15 November 2017 lalu yaitu Iradiator Gamma Merah Putih. Dengan menggunakan iradiator, bakteri pembusuk pada makanan akan mati sehingga memperpanjang masa penyimpanan.

Sebelumnya kanal berita CNN dari hasil surveynya menjadikan rendang sebagai makanan terlezat di dunia. Survey yang diikuti oleh berbagai macam ragam orang ini adalah sebuah promosi gratis rendang ke seluruh dunia. Setidaknya bahasan tentang rendang sebagai makanan terlezat di dunia sudah dua kali diposting oleh CNN, yaitu pada tahun 2011 dan 2017. Namun “iklan gratis” tetang rendang yang dibuat CNN ini belum bisa dimanfaatkan untuk perluasan penjualan ke mancanegara karena daya tahan rendang yang hanya sekitar dua bulan paling lama sehingga belum memenuhi kecukupan waktu untuk melalui berbagai proses untuk dijual ke mancanegara.

Jika rendang ingin mendunia, dijual ke mancanegara, maka minimal harus punya daya tahan minimal selama satu tahun. Karena untuk bisa menembus mancanegara harus melewati berbagai proses dan tempat yang membutuhkan waktu tidak sebentar. Jika daya tahannya bisa minimal satu tahun maka rendang bisa dijual ke mancanegara.

Mengapa prospek rendang sangat bagus bila dijual di mancanegara? Karena bagi orang luar, seperti orang Barat, rendang dianggap sebagaimana halnya steak yang sudah biasa dimakan oleh orang Barat. Rendang tinggal  dicomot oleh mereka dan memiliki cita rasa berbeda dengan steak. Proses pemasakan rendang yang cukup lama menjadikan rasanya sampai ke dalam (seluruh) daging sehingga oleh orang Barat kelezatan rendang dirasakan ini jauh lebih nikmat dari steak yang menjadi nikmat karena ada saus yang ditaburi di daging steak. Dan rendang pun dibuat dari berbagai bumbu yang memang memiliki aroma yang memikat namun tetap sehat.

Dengan adanya teknologi pengawetan hingga 18 bulan untuk rendang ini maka peluang masyarakat Sumbar untuk berjualan rendang ke mancanegara terbuka lebar. Dan kita patut bersyukur bahwa kemampuan dan keunggulan komparatif maupun kompetitif dalam membuat rendang sangat besar kemungkinannya hanya dimiliki oleh masyarakat Sumbar atau orang Minang. Jikapun ada orang luar yang mampu membuat rendang dengan baik, jumlahnya tidak banyak.

Mengapa demikian? Karena memasak rendang butuh waktu berjam-jam. Orang Minang sudah terbiasa melakukannya secara turun-temurun hingga kini. Dan bumbunya, jauh lebih unggul dengan bahan-bahan yang tersedia di alam Sumbar sendiri. Dan konsumen tidak perlu khawatir akan masalah kesehatan seperti kolesterol dan lainnya. Karena penelitian dari seorang guru besar Fakultas Kedokteran Unand, Prof. Nur Indrawaty Liputo menyimpulkan bahwa rendang adalah makanan yang lezat juga sehat. Tinggal memperbaiki tampilan kemasan sehingga tampilannya menarik konsumen mancanegara untuk membeli.

Maka, dengan modal yang sudah ada di masyarakat atau pelaku UMKM dan juga didukung ketersediaan bahan yang baik insya Allah rendang bisa diproduksi oleh banyak UMKM di Padang. Pihak Kementerian Perdagangan RI telah menyatakan siap membantu produk rendang untuk dijual ke luar negeri dengan melalui mekanisme perdagangan internasional yang melewati beberapa tahap. Pada tahap awal mungkin pihak yang menjual rendang atau UMKM akan mengalami kendala atau merasakan beratnya mengurus prosedur untuk dijual ke luar negeri. Namun untuk berikutnya insya Allah akan terasa lebih mudah karena sudah memiliki pengalaman.

Sementara itu Kota Payakumbuh berencana mempersiapkan industri rendang atau sentra rendang. Saya pun berharap kota dan kabupaten lain akan mengikuti langkah Payakumbuh ini karena potensi besar yang ada di UMKM dan masyarakat Sumbar dalam membuat rendang nantinya akan bisa memenuhi permintaan konsumen mancanegara.

Ketika melakukan kunjungan kerja ke luar negeri saya kerap bertemu pihak-pihak yang menyatakan siap memasarkan rendang di negara tempat mereka tinggal. Salah satunya adalah bu Suli, demikian saya memanggilnya, yang berprofesi sebagai importir makanan asal Indonesia di Sydney, Australia. Bu Suli menyatakan bahwa permintaan rendang cukup tinggi di sana karena rasanya yang sangat enak di lidah orang Australia, namun belum ada yang bisa diimpor, karena salah satu syarat untuk mengimpor adalah produk tersebut tahan lama, minimal satu tahun. Jika rendang yang diimpor memiliki daya tahan selama minimal satu tahun, maka bu Suli siap memasarkan di Australia.

Maka, saya mengajak seluruh komponen di Sumbar dan juga rantau, untuk menyambut rendang sebagai makanan masyarakat dunia, di mana orang luar sering menyebutnya “Rendang Padang”. Insya Allah jika pelaku industri rendang serius, sungguh-sungguh, dan mampu meningkatkan serta menjaga kualitas rendang, baik rasa maupun tampilan kemasan, maka perlahan-lahan akan mengangkat harkat, martabat dan juga kesejahteraan masyarakat Sumbar yang memang diberikan rahmat oleh Allah SWT sebagai pemasak makanan terlezat di dunia. ***

Padang Ekspres, 20 Desember 2017

 

251. 2017-12-27 [Singgalang] Menatap Tahun 2018

Menatap Tahun 2018

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumbar memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Sumbar pada tahun 2018 berada di kisaran 5,1 – 5,5 persen dengan dukungan konsumsi rumah tangga yang semakin baik. BI Sumbar memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun 2018 relatif stabil.

Jika melihat asumsi pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar 5,4 persen pada tahun 2018, yang tidak jauh berbeda dengan kisaran pertumbuhan ekonomi Sumbar yang diprediksi BI, maka sedikit banyaknya ekonomi Sumbar akan memiliki kesamaan terhadap beberapa hal yang juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Di antaranya terkait belanja online yang nilainya semakin meningkat dan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah yang penghasilannya cukup baik.

BI memperkirakan investasi akan semakin baik berjalan di Sumbar dengan gencarnya pemda mengembangkan sektor pariwisata dan juga menarik investasi baru. Pembangunan berbagai sarana prasarana dan infrastruktur yang akan, sudah dan sedang jalan, mendorong investasi untuk masuk ke Sumbar. Salah satu yang nilainya sangat besar adalah investasi di bidang panas bumi.

BI juga menyarankan agar pemda mendorong investasi semakin terbuka agar dapat menciptakan lapangan kerja baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dan juga disarankan agar pemda memaksimalkan sektor pariwisata, menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Apa yang disampaikan BI ini adalah masukan yang sangat berharga. Dan alhamdulillah hampir semua yang disarankan itu sudah dilakukan oleh Pemprov Sumbar, bekerja sama dengan para pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat, kabupaten/kota, masyarakat, dan lainnya.

Untuk pengendalian inflasi, pemprov telah bekerja sama dengan kepolisian untuk menindak penimbun yang akan mempermainkan harga yang berpotensi meningkatkan inflasi. Alhamdulillah untuk tahun ini inflasi bisa terkendali dan masyarakat bisa terlindungi dari kenaikan harga yang irasional. Pemprov juga sedang membangun gedung inflasi yang nantinya berupaya melindungi dan membantu petani agar harga produknya tidak jatuh. Dan di sisi lain juga membantu konsumen agar tidak terjadi kenaikan harga tinggi.

Pemprov juga berupaya untuk membantu petani dan lainnya menjaga harga produk mereka agar tidak jatuh yaitu mengeluarkan program-program dan kebijakan yang membantu petani. Satu di antaranya yang baru-baru ini dilakukan adalah penandatanganan nota kesepahaman dengan pemko Batam untuk menjual produk pertanian ke Batam. Semoga di tahun 2018 pemprov, kepolisian, BI dan seluruh pihak terkait tetap mampu bekerja sama dalam mengendalikan inflasi sehingga hasilnya dirasakan oleh masyarakat.

Sementara di sektor pariwisata, pembenahan tetap berjalan terus. Karena pariwisata dijadikan sebagai gerakan, yang melibatkan seluruh OPD untuk berkontribusi di bidangnya masing-masing terhadap pariwisata dan hal yang masih terkait. Pariwisata Sumbar juga semakin dikenal masyarakat dalam dan luar negeri karena dinobatkan sebagai tujuan wisata halal dan kuliner halal dunia dalam ajang pariwisata halal dunia beberapa waktu lalu.

Seiring makin meningkatnya wisatawan datang ke Sumbar, maka makin bertambah pula investor yang ingin berinvestasi di Sumbar di sektor pariwisata, di antaranya untuk membangun hotel dan resort. Baik dari dalam negeri, termasuk perantau maupun dari luar negeri.

Demikian pula dengan investasi di bidang panas bumi, selain sudah ada investor yang menanamkan usahanya di Sumbar, calon investor pun berdatangan. Baik untuk meninjau terlebih dahulu, maupun langsung menyatakan ingin menanamkan usahanya di Sumbar. Untuk investasi di bidang panas bumi ini, sudah ada calon investor dari beberapa negara yang menyatakan minatnya. Mudah-mudahan keinginan mereka bisa diimplementasikan, dan pemprov berusaha memfasilitasi dan mempermudah para investor untuk menanamkan usahanya di Sumbar.

Selain itu, kunjungan ke beberapa negara untuk mengajak berinvestasi di Sumbar maupun bekerja sama dalam perdagangan juga sudah mulai menampakkan hasilnya. Beberapa calon investor maupun pebisnis sudah menjalin komunikasi dengan pemprov untuk meningkatkan kerja sama lebih dalam lagi. Semoga ini juga terwujud, karena memang butuh proses yang tidak sebentar.

Sementara itu, peran ABPD dan APBN tak kalah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, maka di sini selalu diupayakan agar dana APBD dan APBN bisa terserap dengan baik sehingga dana tersebut juga bisa menambah pergerakan ekonomi di masyarakat.

Dengan kerja keras dan sungguh-sungguh, utamanya di tahun 2017, insya Allah di tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Sumbar akan meningkat, dengan target 6,26 persen. Beberapa program pembangunan yang terkait infrastruktur insya Allah akan ada yang selesai seperti pembangunan jalan Bypass Padang dan jalur kereta bandara dan Stasiun Dukuh dan BIM, dan ini bisa semakin mempercepat jalannya roda perekonomian sehingga berdampak positif bagi masyarakat. Kemajuan di sektor pariwisata, investasi (terutama energi panas bumi dan juga tenaga air), serta perdagangan insya Allah akan lebih baik di tahun 2018, setelah di tahun 2017 pelaksanaanya cukup baik. Dan ini mudah-mudahan membuka lapangan kerja baru sehingga bisa menyerap tenaga kerja.

Berbagai kekurangan yang ada, menjadi evaluasi dan tetap menjadi perhatian dan catatan. Demikian pula kritikan konstruktif dari berbagai pihak, menjadi masukan yang berharga bagi kami. Semoga dengan modal sosial yang selama ini sudah ada, kebersamaan dalam membangun Sumbar ini insya Allah akan semakin baik lagi di tahun 2018. ***

Singgalang, 27 Desember 2017

252. 2018-01-3 [Padek] Memaknai Tahun Baru

Memaknai Tahun Baru

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Setiap tahun, kita di Indonesia dan juga negara lain di dunia melewati pergantian tahun Masehi. Tahun Masehi diawali 1 Januari diakhiri 31 Desember dan menjadi semacam standar penanggalan internasional untuk memudahkan komunikasi. Sedangkan tahun Hijriah lebih dikenal masyarakat umum awal tahunnya saja yaitu 1 Muharam. Kedua tahun ini akan terus kita lewati setiap tahun.

Dari 31 Desember 2017 ke 1 Januari 2018 memang akan terjadi perubahan angka tahun. Pernah pula terjadi perubahan tahun 1999 ke tahun 2000. Di mana sebagian orang melakukan persiapan di sistem komputer untuk antisipasi sistem penanggalan setelah melewati tahun 2000. Karena waktu itu sistem penanggalan di komputer dikabarkan hanya sampai 31 Desember 1999. Tapi aktivitas manusia di dunia termasuk Indonesia tetap seperti biasa, baik di akhir 1999 dan awal 2000.

Maka dengan demikian, tahun baru sesungguhnya hanyalah momentum pergantian hari seperti biasa. Bukan merupakan hal yang istimewa. Di kalender Indonesia, tahun baru Masehi dan Hijriah memang ditetapkan sebagai hari libur nasional, sehingga banyak orang yang ingin menikmati pergantian tahun dengan menunggu datangnya detik-detik tersebut di tengah malam. Lalu setelah tanggal berganti, balik kepada kondisi biasa. Bahkan mungkin banyak yang beristirahat karena lelah semalaman.

Bagi yang tidak menunggu datangnya tahun baru, ia akan tetap melewati tanggalnya. Demikian pula bagi yang tidak merayakan, tanggal baru tetap akan dilewati.

Perubahan hari atau tanggal yang menyebabkan usia kita semakin tua memang harus disikapi dan dipikirkan dengan baik. Karena ada sebuah ungkapan yang sering dipakai untuk mengingati manusia agar tidak lalai yaitu, “Barang siapa yang kondisinya hari ini lebih baik dari kemarin maka ia tergolong orang yang beruntung. Dan barang siapa yang kondisinya hari ini sama dengan kemarin maka ia tergolong orang yang merugi.”

Ada yang melakukan ibadah, pengajian, zikir ketika mengakhiri tahun yang dijalani. Ada pula yang menyalakan kembang api atau meniup terompet ketika menjelang pergantian tahun. Atau ada yang sekedar menonton pertunjukan yang sudah disiapkan di malam akhir tahun, maupun menyiapkan pesta. Tapi ada pula yang berkutat menyelesaikan pembukuan satu tahun.

Memanfaatkan momentum pergantian tahun dengan mengevaluasi hasil kerja di tahun sebelumnya agar lebih siap dan produktif lagi di tahun yang baru adalah sebuah hal positif yang dapat dilakukan. Atau memaknai tahun yang baru untuk melangkah lebih cepat lagi sehingga banyak kesuksesan yang bisa diraih adalah hal yang baik.

Bagi pemerintah, keinginannya adalah bagaimana di awal tahun, anggaran dan rencana yang sudah disepakati dan ditetapkan bisa segera dilakukan. Di mana untuk mencapainya, menjelang akhir tahun sebelumnya, apa yang harus dikerjakan dan anggarannya sudah ada kejelasan. Sehingga penyerapan anggaran bisa dimaksimalkan supaya perekonomian juga bisa bergerak agar dampaknya bisa sampai ke masyarakat.

Bagi seorang kepala keluarga, kepala kantor, pimpinan instansi, individu, mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, dan profesi lainnya, pasti memerlukan waktu untuk mengevaluasi maupun merenungi apa yang sudah dikerjakannya. Dan jika ingin menggapai keberhasilan perlu membuat rencana atau strategi baru yang bisa mencapai rencana tersebut. Jangan sampai kesalahan yang lalu terulang kembali.

Semoga di tahun yang baru kita sebagai manusia dan juga hamba Allah  SWT bisa mensyukuri apa yang sudah didapat dan berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang baru. Serta penting pula beristighfar karena selaku manusia pasti ada kesalahan yang dibuat, betapapun kecilnya.

Allah SWT akan menambah nikmatNya kepada kita jika kita mau bersyukur kepadaNya (QS. Ibrahim:7). Dan Allah SWT juga berfirman bahwa demi masa (waktu) manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yang nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (QS. Al ‘Asr: 1-3)

Semoga di awal tahun baru Masehi kita mampu menjadi orang yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang sudah didapat dan sekaligus menjadi orang yang tidak masuk kategori orang yang merugi. Kita manfaatkan setiap waktu di tahun ini sehingga wujud syukur kita insya Allah akan menjadi penambah nikmat di masa berikutnya.

Selamat memasuki tahun yang baru, 2018. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Padang Ekspres, 3 Januari 2018

253. 2018-01-09 [Singgalang] I-Ternak

I-Ternak

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 6 Januari 2018 lalu di Hotel Balairung Jakarta, saya meresmikan peluncuran aplikasi i-ternak. Sebuah aplikasi yang merupakan pengembangan dari konsep Tri Arga Model yang mengalami banyak perbaikan di sana-sini.

Konsep Tri Arga Model sendiri adalah sebuah inovasi yang mempertemukan pemilik kandang, pemasok pakan ternak, pemelihara sapi, dengan investor secara manual, dan pihak asuransi. Di mana nantinya investor mempercayakan sapi yang dibelinya dikelola untuk digemukkan oleh pemilik kandang, pemasok pakan ternak dan pemelihara sapi dengan menerapkan sistem bagi hasil. Jika sapi hilang atau mati maka pihak asuransi yang akan menggantinya.

Sedangkan i-ternak, memasukkan unsur teknologi informasi dan juga teknologi keuangan serta manajemen. Hal ini akan menjadikan setiap pihak lebih fokus. Bagi pihak manajemen bisa fokus dalam mengelola dan mendata sapi yang sudah diinvestasikan serta memeriksa jadwal jatuh tempo pemberian bagi hasil kepada investor. Selain itu pemilik kandang, pemasok pakan ternak, serta pemelihara sapi bisa lebih fokus untuk menggemukkan sapi.

Dengan pembagian kerja yang jelas ditambah penggunaan teknologi informasi dan teknologi keuangan maka diharapkan dan insya Allah i-ternak akan bisa menyerap investasi dari masyarakat. Di samping itu tidak tertutup kemungkinan jumlah kandang yang teregister akan bertambah terus. Dengan demikian akan bertambah lagi pemilik kandang baru yang dilatih agar bisa memenuhi standar yang sudah ditetapkan.

Aplikasi i-ternak bisa didownload melalui aplikasi android yang ada di dalam Play Store. Setelah didownload maka calon investor nanti akan melihat sapi jenis apa yang bisa diinvestasikan untuk penggemukan. Kemudian berapa harganya dan mekanisme transfer, konfirmasi dan pelaporan hasil investasi. Ada pula sapi yang bisa diinvestasikan dengan sistem patungan dengan jumlah perorang lebih terjangkau. Hal ini tentu saja makin memudahkan calon investor yang dananya belum banyak untuk berinvestasi. Pihak OJK pun sudah meloloskan aplikasi i-ternak  yang artinya ini bukan investasi bodong yang sering menipu masyarakat.

Pada tahap awal kapasitas atau jumlah sapi yang ditawarkan untuk investasi sudah cukup banyak, dan untuk sementara difokuskan di Sumbar. Tidak tertutup kemungkinan jika nanti permintaan dari investor tinggi maka ini akan menambah jumlah kandang yang teregister. Dengan demikian semakin banyak pelaku ternak lokal yang diberdayakan  sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan pelaku ternak lokal lebih baik lagi dan bisa bertambah jumlah pelakunya.

Di belakang kehadiran aplikasi i-ternak sesungguhnya banyak pihak yang terlibat, untuk melakukan fokus pekerjaan masing-masing sehingga insya Allah bisa semakin profesional. Karena ini merupakan tuntutan investor yang sudah menaruh dananya di i-ternak. Di samping itu dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari tingkat bunga deposito, dengan rentang 9-16 persen, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa mencapai 24 persen, berinvestasi di i-ternak memberikan peluang alternatif investasi. Karena tingkat bunga deposito saat ini  tergolong rendah sehingga orang kemungkinan mencari alternatif investasi selain deposito.

Selain itu, karena ada beberapa pihak di belakang aplikasi i-ternak maka ada pihak yang akan memberdayakan pelaku ternak lokal atau pemilik kandang dan juga pemasok pakan ternak. Karena jika investasi ini berkembang maka pasokan kandang harus diperbanyak. Dengan demikian pelaku ternak lokal juga akan mengalami perbaikan kesejahteraan dan juga mendapatkan pemberdayaan karena pengetahuan dan kemampuan mereka dilatih kembali agar bisa memenuhi standar tertentu.

Di samping hal di atas, adanya i-ternak yang prospektif akan meningkatkan investasi sehingga permintaan jumlah ternak juga meningkat. Meningkatnya jumlah ternak yang digemukkan untuk dipotong dan juga jumlah ternak yang dibibitkan merupakan upaya menjaga kedaulatan pangan. Selain itu juga akan menyerap tenaga kerja sehingga bisa mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

Momentum peluncuran aplikasi i-ternak ini juga berbarengan dengan akan dimanfaatkannya teknologi pengawetan rendang, yang bisa awet hingga 18 bulan. Teknologi pengawetan ini dibuat oleh Batan. Mudah-mudahan kedua hal ini bisa bersinergi di lapangan. Semoga berbagai inovasi dan kemajuan teknologi ini bisa memberi dampak positif bagi masyarakat sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka lebih baik lagi.

Mari kita dukung berbagai inovasi dan kemajuan teknologi yang insya Allah memberi dampak positif kepada masyarakat. Semoga i-ternak yang semakin membuat efektif dan efisien orang berinvestasi ini bisa berkembang lebih baik ke depannya, serta mampu menjaga kepercayaan masyarakat yang menaruh dananya di sana, dan juga bisa semakin memberdayakan pelaku ternak lokal. ***

Singgalang, 9 Januari 2018

254. 2018-01-18 [Padek] Batu Malin Kundang

Batu Malin Kundang

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 9 Januari 2018 lalu saya menyempatkan diri berkunjung ke kawasan wisata Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis. Saya menuju Pantai Air Manis melalui jalan baru dengan pemandangan indah yang baru saja selesai dibangun oleh Pemko Padang. Jalurnya melewati Jembatan Siti Nurbaya arah ke Gunung Padang kemudian menuju Pantai Air Manis. Saya mengapresiasi Pemko Padang atas usahanya dalam membangun jalan ini.

Jalan baru ini akan menambah jalur wisata yang bisa dinikmati pengendara sepanjang jalan yang berhadapan dengan pemandangan laut yang indah. Semoga jalan baru ini bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke Batu Malin Kundang dan Pantai Air Manis serta juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tiba di Pantai Air Manis saya langsung menggunakan kendaraan ATV untuk menyusuri Pantai Air Manis dan menuju Batu Malin Kundang. Terkait Pantai Air Manis dan Batu Malin Kundang ini, saya sudah sering menerima masukan dari berbagai elemen masyarakat agar bisa dilakukan pembenahan-pembenahan sehingga wisatawan bisa lebih menikmati suasana wisata di sana.

Untuk hal ini saya dalam berbagai kesempatan juga telah menyampaikan keluhan masyarakat tersebut kepada Pemko Padang yang memegang otoritas kawasan tersebut. Saya mengapresiasi berbagai usaha yang telah dilakukan Pemko Padang dalam membenahi kawasan wisata. Terutama pendekatan yang dialogis sehingga masyarakat pun lebih nyaman diajak berkomunikasi dengan pendekatan manusiawi. Semoga pendekatan tersebut membawa kebaikan bersama.

Batu Malin Kundang sebagai sebuah destinasi wisata jika dijadikan sebagai tempat rekreasi semata mungkin sudah biasa bagi banyak orang. Terutama sebagai tempat untuk berswafoto yang kini menjadi sebuah tren. Namun jika Batu Malin Kundang dijadikan sebagai wisata edukasi bagi keluarga, terutama anak-anak dan juga generasi muda mungkin akan lain ceritanya.

Di berbagai tempat wisata, ada cerita-cerita yang berkembang di masyarakat terkait tempat tersebut. Misalnya cerita Sangkuriang yang terkait dengan Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat, cerita Bandung Bondowoso yang terkait dengan cerita Candi Prambanan atau Candi Roro Jongrang di Jawa Tengah.

Cerita Malin Kundang adalah cerita tentang perilaku anak yang durhaka kepada ibunya sehingga ia menjadi batu. Cerita ini mengajak kita sebagai anak untuk menghormati orangtua, terutama ibu. Di Minangkabau, wanita sangat dihormati. Sistem matrilineal adalah sebuah bukti nyata. Dan ada bundo kanduang yang menjadi panutan bagi masyarakat.

Saat ini, di berbagai berita media kita bisa membaca berbagai kasus kejahatan terhadap kaum perempuan, di antaranya kejahatan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, bullying, dan lainnya. Berbagai kasus kejahatan yang dilakukan oleh para lelaki kepada kaum perempuan itu menjadi semacam pelajaran bahwasanya kemuliaan seorang lelaki justru ketika ia menghargai kaum perempuan. Baik kepada ibu, istri, anak, kerabat, tetangga, rekan kerja, dan lainnya.

Islam muncul di jazirah Arab dalam rangka memuliakan kaum perempuan. Maka, kita yang sudah berislam saat ini sudah seharusnya berusaha di lingkungan terdekatnya untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap kaum perempuan.

Dalam Alquran Allah SWT berfirman bahwa kaum lelaki adalah pemimpin untuk kaum perempuan. “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) di atas sebagian yang lain (kaum wanita) dan disebabkan kaum lelaki telah membelanjakan sebagian dari harta mereka. (QS. An Nisa: 34)

Maka sudah seharusnya kaum lelaki ini menyadari peran mereka tersebut. Kaum lelaki memang memiliki kelebihan dalam hal kekuatan tenaga. Namun kekuatan itu bukan untuk melakukan kejahatan terhadap kaum perempuan, tapi untuk melindungi kaum perempuan, baik ibunya, istrinya, anaknya, kerabatnya dan lain-lain. Serta menjadi teladan dan juga memberi pertolongan terhadap kesulitan yang dihadapi kaum perempuan.

Dalam sebuah hadis diperlihatkan bagaimana seorang anak mesti berlaku kepada ibunya. “Dari Abu Hurairah r.a beliau berkata “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi saw menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Semoga Keberadaan Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis bisa menjadi destinasi wisata edukasi yang juga menyenangkan bagi pengunjung, serta bisa menjadi pengingat bagi anak-anak di ranah Minang dan lainnya agar senantiasa menghormati ibunya dan kaum perempuan. Adat budaya Minang dan ajaran Islam, keduanya mengajarkan penghormatan kepada ibu, kaum perempuan.

Marilah kita sosialisasikan kembali di lingkungan terdekat kita tentang pentingnya menghormati ibu (orangtua) dan kaum perempuan. Seorang penulis buku bahkan menjelaskan bahwa dengan memuliakan ibu dan istri, seorang lelaki justru akan bertambah rezekinya dan sukses hidupya. *

Padang Ekspres, 18 Januari 2018

 

 

 

 

255. 2018-01-24 [Singgalang] Gedung Kebudayaan Sumbar

Gedung Kebudayaan Sumbar

Oleh : Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 19 Januari 2018 sore saya meresmikan pemakaian Gedung Kebudayaan Sumbar (GKS) Zona A. Dari 3 Zona, A-B-C baru Zona A yang sudah selesai pembangunannya. Peresmian dilakukan di lantai 5 GKS yang merupakan arena panggung terbuka dengan pemandangan yang sungguh indah.

GKS Zona A dibangun dengan gaya bangunan yang menjorok ke laut dan berbentuk seperti kapal atau perahu, sehingga bangunan tersebut berada di atas jalan yang ada di pantai Padang. Jika kita berada di lantai paling atas, maka kita akan bisa menikmati pemandangan laut yang indah serta pemandangan kota Padang yang juga tak kalah indahnya yang dikelilingi oleh pegunungan Bukit Barisan. Karena didesain seperti kapal, maka di pinggiran lantai 5 juga berbentuk seperti lantai kapal.

Selain zona A yang sudah selesai pembangunannya, masih ada yang akan dibangun yaitu zona B dan C. Gedung zona A terdiri dari lima lantai. Lantai 5 adalah panggung terbuka yang diperuntukkan untuk pentas seni, tari, musik, teater, juga tempat yang sangat bagus untuk berfoto dengan pemandangan yang indah. Kemudian lantai 4 dialokasikan untuk handicraft atau kerajinan.

Lantai 3 untuk galeri dan pameran, lantai 2 untuk kegiatan pertemuan dan lainnya, serta lantai 1 untuk akses masuk ke gedung Zona A. Sementara nanti di Zona B akan dibangun tempat pertunjukan utama. Dengan demikian, jika nanti sudah lengkap dibangun, GKS memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk memfasilitasi para budayawan dan seniman untuk berkreasi. Dan juga menjadi tempat bagi wisatawan dan masyarakat untuk menambah pengetahuan mereka terhadap budaya Minang.

Jika selama ini wisatawan yang berkunjung ke Sumbar lebih banyak menikmati keindahan alam dan kuliner, maka dengan adanya GKS wisatawan juga bisa mengetahui lebih banyak tentang budaya Minang. GKS insya Allah akan menyuguhkan budaya Minang yang dilakukan oleh para seniman dan budayawan melalui pertunjukan di arena yang sudah disediakan. Selain itu wisatawan juga akan bisa melihat galeri yang berisi berbagai ragam budaya Minang.  Dan GKS juga dilengkapi dengan bioskop mini yang akan memutar film atau dokumentasi tentang budaya Minang.

GKS insya Allah juga akan  memfasilitasi sanggar-sanggar tari yang memiliki kualitas penampilan yang baik untuk tampil dalam rangka mempromosikan budaya Minang secara terjadwal sehingga mereka bisa berekspresi dan ditonton oleh masyarakat maupun wisatawan. Sanggar tari di Sumbar banyak juga yang sudah bertaraf internasional.

Keberadaan GKS saya harapkan bisa meningkatkan semangat masyarakat Sumbar untuk mengapresiasi budaya mereka dan bagi para seniman dan budayawan juga bisa menjadi tempat yang mewakili harapan mereka akan tempat yang layak.

GKS berada di bawah tanggung jawab Dinas Kebudayaan. Dinas Kebudayaan adalah organsasi perangkat daerah (OPD) yang baru ada pada tahun 2017. Pemprov Sumbar membentuk Dinas Kebudayaan sebagai sebuah bentuk kepedulian akan aktualisasi dan pelestarian budaya Minang.

Berbagai program dari Dinas Kebudayaan insya Allah akan berupaya melestarikan dan mengumpulkan kekayaan budaya Minang. Yang sedang dilakukan saat ini adalah mengumpulkan lebih dari 200 jenis pakaian wanita Minang dari lebih 600 jenis yang pernah ada untuk dijadikan buku. Kemudian mengadakan lomba pantun dan upaya menjadikan silat sebagai warisan dunia. Selain itu juga menampilkan atraksi kesenian dan kebudayaan di setiap acara kedinasan, dalam provinsi, luar provinsi dan luar negeri. Dan insya Allah Dinas Kebudayaan akan mengangkat festival budaya internasional pada tahun ini.

Keberadaan Dinas Kebudayaan dalam rangka aktualisasi dan pelestarian budaya Minang adalah untuk memperkuat identitas masyarakat Minang yang memiliki budaya tersendiri. Karena setiap suku, bangsa memiliki budayanya masing-masing. Bahkan dalam Alquran surat al Hujurat ayat 13 Allah SWT menyebut manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Konstitusi negara pun dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 32 ayat 1 menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Dengan konsekuensi itu, maka budaya Minang yang mencerminkan jati diri orang Minang dengan falsafah adat basandi syarak syarak basandi kitabullah patut kita syukuri. Karena budaya Minang bersesuaian dengan ajaran agama dan dilindungi oleh konstitusi.

Dengan gencarnya promosi pariwisata yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah, maka keberadaan GKS telah menambah satu lagi tempat tujuan wisata. Dan ini adalah destinasi wisata budaya, yang melengkapi destinasi wisata alam dan kuliner.

Semoga keberadaan GKS Zona A dengan arsitektur modern ini bisa meningkatkan animo masyarakat mencintai budayanya. Dengan demikian budaya Minang juga bisa diketahui oleh generasi muda dan masyarakat sehingga mereka merasa memiliki dan bangga dengan identitas budayanya. ***

 

Singgalang, 24 Januari 2018

256. 2018-01-25 [Padek] Padek, Menginspirasi Pembangunan Daerah

Padek, Menginspirasi Pembangunan Daerah

Oleh : Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Memasuki usia ke-19 tahun saya melihat Padang Ekspres (Padek) sudah semakin banyak berubah. Di mana perubahan ini merupakan bagian dari tuntutan perkembangan zaman. Zaman now seperti yang disebut-sebut anak muda generasi milenial, perkembangan dunia digital sudah semakin pesat. Saya melihat Padek pun telah melakukan antisipasi terhadap dunia digital ini.

Saat ini aplikasi Padek sudah ada di sistem operasi ponsel pintar, yaitu Android yang dikeluarkan Google. Dengan demikian, pembaca Padek bisa semakin luas, tidak lagi hanya wilayah Sumbar semata. Dan dengan keberadaan di dunia digital ini juga memudahkan anak zaman now yang melek digital untuk mengakses berita Padek dari ponsel pintar mereka.

Saya melihat Padek juga sudah menyediakan koran digital atau e-paper, sehingga masyarakat Sumbar atau perantau di seluruh dunia bisa menikmati koran Padek dari tempat mereka. Dan harganyapun terjangkau, serta lebih murah dari harga koran edisi cetak. Faktor harga yang terjangkau tentunya akan memperluas segmen pembaca, sehingga hal ini sangat membantu bagi yang ingin mendapatkan koran Padek namun dalam versi digital.

Dengan dimotori oleh anak-anak muda, dan dengan regenerasi yang baik yang selama ini sudah berjalan di Padek, maka Padek bisa semakin mengukuhkan eksistensinya di masyarakat sebagai sumber informasi dan inspirasi.

Padek dalam penyajiannya tidak lupa menyisipkan kisah-kisah nyata yang humanis dan inspiratif. Sehingga tulisan semacam ini turut memberikan inspirasi kepada pembacanya dan juga motivasi untuk melakukan hal serupa dengan bentuk lain. Tulisan-tulisan yang demikian insya Allah akan menjadi salah satu bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa di samping berita maupun artikel.

Sementara itu, jika dikaitkan dengan maraknya penyebaran berita atau informasi hoaks, saya melihat peran Padek ada di sini, yaitu menyajikan berita yang berasal dari sumber terpercaya. Dengan penyajian berita yang objektif serta menjaga keberimbangan, maka Padek adalah salah satu pilihan bagi masyarakat untuk mengakses berita yang memiliki akurasi dan validitas baik. Salah satu kelebihan berita dari media cetak adalah, adanya wartawan atau reporter yang melaporkan dari tempat pengambilan berita, sehingga jauh dari hoaks.

Selain itu, selama ini Padek juga telah menyediakan ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan berbagai informasi pembangunan daerah. Dengan penyampaian informasi melalui media, maka diharapkan masyarakat mengetahui program-program pembangunan yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah.

Saya merasakan hal ini sangat membantu kami selaku pemerintah daerah dalam menginformasikan kepada publik berbagai capaian pembangunan yang ditujukan untuk masyarakat. Baik pembangunan infrastruktur, pertanian, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Adanya media seperti Padek insya Allah akan mempercepat masyarakat mengetahui program-program pembangunan pemerintah di satu sisi. Dan di sisi lain masyarakat pun dengan informasi yang sudah didapat bisa memberi masukan atau kritikan terhadap program pembangunan yang sedang dan sudah dilakukan.

Meskipun basis Padek adalah Padang atau Sumbar, namun dalam penyajiannya senantiasa mengetengahkan juga berita-berita nasional. Ini adalah salah satu gaya penyajian yang menarik masyarakat untuk membeli koran Padek. Namun demikian, berita-berita tentang Sumbar juga tak kalah banyak. Sehingga Padek mampu menjadi pilihan masyarakat untuk mendapatkan berita Sumbar dan nasional.

Dengan kemampuan Padek menyajikan berita yang berimbang, bukan fiktif dan juga tidak diskriminatif, akan membuat masyarakat menyukai Padek. Karena kecenderungan yang ada saat ini, masyarakat akan memilih media yang mampu menyampaikan berita atau informasi yang objektif dan berimbang.

Mengakhiri tulisan ini saya menyampaikan selamat memasuki usia ke-19 tahun kepada seluruh jajaran Padek. Semoga SDM Padek semakin profesional sehingga mampu memenuhi tuntutan masyarakat akan berita, informasi, tulisan yang objektif, konstruktif akurat, valid, inspiratif dan berimbang. Dan semoga Padek menjadi media yang senantiasa menginspirasi masyarakat untuk berbuat kebaikan pada sesama serta menjadi jembatan informasi pembangunan daerah sehingga bisa diketahui oleh masyarakat luas.

Padang Ekspres, 25 Januari 2018

257. 2018-01-31 [Padek] Mempercepat Kemudahan Berusaha

Mempercepat Kemudahan Berusaha

Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumatera Barat

 

Pada 23 Januari 2018 lalu, Gubernur dan Ketua DPRD Provinsi se Indonesia diundang mengikuti rapat kerja (raker) bersama Presiden Joko Widodo. Saya hadir di acara ini. Raker membahas percepatan kemudahan berusaha di daerah. Dan secara efektif dalam waktu kurang dari dua jam Presiden dengan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi bersama Wakil Presiden berhasil dengan tuntas memaparkan persoalan yang ada serta solusinya. Sehingga dalam waktu yang tidak begitu lama namun padat dengan materi dan pesan, kami yang hadir bisa mendapatkan informasi dan masukan yang berharga. Yaitu bagaimana agar investasi masuk ataupun para pengusaha bisa berusaha dengan baik di daerah.

Presiden membuka sambutannya dengan menyebutkan bahwa saat ini berbagai indikator ekonomi yang ada memperlihatkan hal positif. Di antaranya tingkat suku bunga yang ditetapkan BI sudah cukup rendah. Demikian pula dengan inflasi yang cukup rendah. Pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen termasuk yang lebih tinggi dibanding negara-negara lain. Cadangan devisa cukup tinggi. Indeks harga saham gabungan juga menunjukkan angka menggembirakan. Nilai ekspor CPO (minyak sawit) juga memperlihatkan angka yang bagus. Industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir menyerap lebih dari 21,2 juta orang tenaga kerja. Nilai ekspor batu bara juga memperlihatkan kenaikan akibat tingginya permintaan di kawasan Asia.

Ibarat kondisi seseorang, saat ini Indonesia dalam keadaan sehat, mengacu kepada indikator ekonomi yang positif. Tapi mengapa tidak bisa berlari. Jika kita tidak bisa berlari maka kita akan tertinggal oleh negara-negara lain, seperti Vietnam, Thailand, Filipina, Singapura, Malaysia. Bahkan bisa tertinggal dari Laos dan Myanmar. Presiden mempertanyakan hal demikian.

Presiden Joko Widodo juga memaparkan bahwa ekonomi bergerak dengan adanya aliran uang. Selama ini uang yang ada di APBN dan APBD baru bisa menggerakkan ekonomi hingga 20 persen. Sisanya sebesar 80 persen digerakkan oleh sektor swasta yaitu para pengusaha dan investor.

Para pengusaha dan investor banyak yang antre untuk masuk ke Indonesia. Tapi yang bisa terlayani baru 25 persen, sisanya 75 persen tidak terlayani. Namun demikian, yang 25 persen pun sudah tahunan baru dapat izin. Sehingga perlu waktu lama untuk berusaha di Indonesia akibat pengurusan izin di pusat dan daerah. Presiden membayangkan ratusan lembar surat yang harus didapat untuk mendapatkan izin dan memakan waktu tahunan. Sementara di Uni Emirat Arab hanya satu lembar surat  sudah mewakili semua izin kegiatan uzaha. Demikian pula di Jerman.

Inilah salah satu penyebab yang menghambat kita tidak bisa berlari, karena menghambat orang mau masuk. Maka Presiden menyatakan untuk ke depan aturan-aturan yang ada dipersingkat dan dipermudah. Sehingga hitungannya bukan lagi tahun atau bulan, tapi berbilang hari bahkan perjam. Dengan demikian banyak orang yang masuk untuk investasi dan berusaha, dan yang 80 persen untuk menggerakkan ekonomi bisa terpenuhi.

Jika itu terjadi, maka pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat akibat didorong masuknya investasi dan usaha, sehingga lapangan pekerjaan tercipta, semakin banyak orang yang tidak menganggur, pendapatan pun bertambah dan PDB perkapita juga meningkat.

Untuk hal itu, Presiden menekankan kepada kami yang hadir untuk mempermudah izin berusaha di daerah dan mempercepatnya. Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla menguatkan kembali apa yang sudah disampaikan Presiden Joko Widodo. Untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi, maka perlu fokus kepada investasi dan ekspor, sementara APBN dan APBD sudah berjalan otomatis. Karena kedua hal ini berdampak kepada penciptaan lapangan kerja, pengurangan pengangguran dan peningkatan pendapatan. Dan itu diawali dari kemudahan berusaha dan masuknya investasi. Investasi dan usaha akan mendorong produktivitas sehingga berpengaruh kepada peningkatan ekspor dan masuknya devisa. Selain itu investasi dan usaha yang berkembang pesat akan mempercepat dan meningkatkan peredaran uang di masyarakat. Jika pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen maka akan mampu mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

Wapres juga menekankan agar ekspor kita tidak hanya tergantung kepada CPO dan batu bara, tetapi produk yang sudah diproses penciptaan nilai tambahnya. Sementara itu daerah-daerah agar kreatif untuk meningkatkan investasi. Kondisi negara kepulauan menghendaki agar daerah mampu otonom dalam menghidupi wilayahnya. Dan tidak terlalu tergantung untuk mengharapkan orang Jakarta masuk ke daerah untuk investasi dan berusaha.

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution dalam pertemuan tersebut  menegaskan pentingnya peran satgas investasi dalam rangka percepatan berusaha. Alhamdulillah, Sumbar termasuk 10 provinsi (termasuk kabupaten/kota) pertama yang sudah membuat satgas tersebut. Untuk di Sumbar, satgas diketuai oleh Wakil Gubernur.

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha, pembentukan satgas dalam rangka meningkatkan pelayanan, pengawalan, penyelesaian hambatan, penyederhanaan, dan pengembangan sistem online dalam rangka percepatan penyelesaian perizinan berusaha. Atau ringkasnya untuk memudahkan pelaksanaan berusaha dan investasi di daerah. Maka, satgas akan melakukan inventarisasi dan penyisiran aturan-aturan di pusat dan daerah sehingga memungkinkan untuk dikurangi atau dihilangkan sekiranya aturan tersebut tidak mempermudah atau mempercepat kemudahan berusaha. Dengan demikian nantinya akan ada satu kesatuan garis aturan dari pusat hingga daerah yang memudahkan orang berusaha serta masuknya investasi.

Adanya kebijakan untuk mempercepat dan memudahkan orang berusaha dan masuknya investasi jelas akan menguntungkan masyarakat. Karena hal ini akan membuka peluang lapangan kerja yang luas. Termasuk membantu para petani untuk menambah penghasilan mereka. Karena disadari bahwa bergantung kepada satu sumber mata pencarian saat ini tidak lagi memadai. *

Harian Padang Ekspres, 01 Februari 2018.

 

258. 2018-02-07 [Singgalang] Rakor Gubernur

Rakor Gubernur

Oleh : Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 31 Januari 2018 lalu dilaksanakan rapat koordinasi (rakor) Gubernur dengan Bupati dan Wali Kota.  Rakor ini merupakan lanjutan dari rakor yang sudah dilaksanakan pada 22-25 Januari 2018. Rakor diikuti oleh 19 kepala daerah kabupaten dan kota, di mana masing-masing kepala daerah selama lebih kurang satu jam memaparkan programnya, dan kepala daerah diwajibkan hadir secara fisik. Mengingat pentingnya rakor maka jika kepala daerah tidak hadir rakor batal dilakukan. Karena rakor langsung terkait dengan kebijakan yang akan diputuskan kepala daerah.

Rakor dilaksanakan pada bulan Januari 2018 agar hasilnya bisa dimasukkan ke dalam RABPD 2019 dan RAPBDP 2018. Adapun program-program prioritas dari masing-masing kepala daerah kabupaten/kota diterima oleh provinsi melalui OPD terkait dan kemudian disinergikan dengan program provinsi. Lalu disesuaikan dengan program prioritas provinsi dan kewenangannya. Kemudian nantinya dituangkan ke dalam usulan di musrenbang dan dimasukkan ke dalam RKPD yang kemudian menjadi KUA-PPAS, lalu dimasukkan ke dan dibahas dengan DPRD Provinsi untuk disepakati program dan besaran anggarannya.

Rakor gubernur dengan bupati/wali kota menjadi penting dalam rangka menyukseskan program-program kepala daerah di kabupaten/kota dan perlu koordinasi dan sinergi dengan provinsi. Karena di sisi lain anggaran kabupaten/kota yang terbatas, sehingga butuh dana untuk menjalankan program pembangunan. Dan juga untuk membantu berbagai keterbatasan lainnya yang dialami oleh kabupaten/kota. Dengan sinergi bersama provinsi maka anggaran bisa dibantu, termasuk mengajukan anggaran dari APBN melalui gubernur kepada pemerintah pusat. Sehingga gubernur berperan melancarkan program pembangunan yang ada di kabupaten/kota.

Memang ada masalah yang timbul terkait hal ini, yaitu kewenangan. Maka dibuat nota kesepahaman (memorandum of understanding) untuk menjadi payung hukum terlaksananya program yang sudah disinergikan antara kabupaten/kota dengan provinsi. Dengan demikian program provinsi yang sudah sinergi dengan kabupaten/kota bisa jalan di kabupaten/kota melalui pembagian dana dari provinsi yang digabung dengan dana dari kabupaten/kota.

Sementara itu ada juga format bantuan keuangan khusus (BKK), yang diawali surat dari bupati/wali kota kepada gubernur untuk memberitahukan adanya program prioritas yang dibutuhkan untuk dijalankan tapi kekurangan dana. Dan gubernur diminta membantu masalah dana tersebut. Ini akan diformat dalam bentuk usulan yang nanti akan dibahas di DPRD Provinsi.

Yang cukup menarik dari pertemuan dengan bupati/wali kota se-Sumbar adalah ternyata dalam setiap rapat kebanyakan membicarakan 4 bidang yaitu infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata. Namun hal di luar itu tetap ada yang menyampaikan.  Seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan, perdagangan, koperasi dan UMKM, ekonomi, dan lainnya. Akan tetapi 4 bidang tersebut ternyata merupakan program prioritas dari hampir seluruh kepala daerah kabupaten/kota.

Pembahasan bidang infrastruktur di antaranya membicarakan tentang jalan, jembatan, dan irigasi. Sementara pembahasan bidang pendidikan membicarakan masalah kualitas pendidikan dan guru. Dan bidang kesehatan membicarakan masalah jaminan kesehatan untuk masyarakat seperti jamkesda. Sedangkan bidang pariwisata membicarakan tentang destinasi wisata dan yang terkait dengannya.

Alhamdulillah, rakor gubernur dengan bupati/wali kota di awal tahun telah memberikan semangat baru bagi kepala daerah untuk melaksanakan program-program prioritas mereka dengan mensinergikan program yang ada di provinsi dan juga pusat. Dan untuk berbagai kesepakatan yang telah dituangkan tersebut harapan saya agar bisa dilaksanakan dengan baik. Karena pernah ada juga kesepakatan yang telah disetujui bersama ternyata tidak dilakukan sehingga anggaran yang sudah disediakan provinsi menjadi SILPA (sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan). Yaitu kondisi ketika provinsi sudah menganggarkan dana untuk suatu program yang disepakati, ternyata kabupaten/kota tidak menganggarkan. Ada juga kasus di mana untuk masalah infrastruktur, provinsi sudah menyediakan anggaran, ternyata kabupaten/kota tidak melakukan pembebasan tanah.

Provinsi Sumbar yang terdiri dari 19 kabupaten/kota agar bisa maju secara bersama maka harus ada kontribusi dari setiap pemerintah kabupaten/kota, dan juga pemerintah provinsi. Yaitu kemajuan dalam hal kesejahteraan, pengurangan kemiskinan dan pengangguran, dan peningkatan pendapatan. Tanpa peran dari bupati/wali kota, gubernur tidak bisa menjalankan programnya. Dan sebaliknya tanpa peran gubernur, bupati/wali kota tidak bisa menjalankan program mereka. Sehingga penting bagi gubernur, bupati/wali kota bersinergi agar masyarakat diuntungkan dengan sinergi tersebut.

Kepada masyarakat, saya mengharapkan agar mendukung semua program pemerintah. Karena semuanya itu ditujukan untuk kepentingan mereka sendiri. Seperti pembangunan jalan yang bagus agar transportasi lancar, maka masyarakat perlu mendukung pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tersebut.

Dan kepada para kepala OPD terkait agar menindaklanjuti program-program yang sudah disinergikan dengan baik dan sungguh-sungguh sehingga bisa dilaksanakan dan selesai tepat waktu. Sehingga dampaknya kembali kepada masyarakat yaitu meningkatnya kesejahteraan mereka.  ***

Singgalang, 7 Februari 2018

259. 2018-02-14 [Padek] Pers Harus Mampu Bertranformasi

PERS HARUS MAMPU BERTANSFORMASI

Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 9 Februari 2018 lalu telah dilaksanakan puncak peringatan hari pers nasional (HPN) tahun 2018 di Kota Padang. Tema HPN 2018 adalah “Meminang Keindahan di Padang Kesejahteraan”. Tema tersebut menitikberatkan kepada sektor pariwisata yang besar perannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, para peserta yang datang ke Sumbar selain bisa menikmati destinasi wisata juga bisa menginformasikan pariwisata Sumbar kepada keluarga, kerabat, maupun temannya, terutama alam yang indah dan kuliner yang lezat.

Acara puncak peringatan HPN 2018 dihadiri oleh Presiden RI Bpk. Joko Widodo beserta istri, 18 menteri kabinet, 21 duta besar dan utusan negara sahabat, Ketua MPR, DPR, DPD, Ketua PWI Pusat Bpk. Margiono, Dewan Pers, tokoh-tokoh pers, redaksi media nasional, utusan wartawan se-Indonesia, wartawan senior dan tokoh pers, para kepala daerah se Indonesia, pimpinan BUMN, dan juga kepala OPD Sumbar.

HPN berbarengan dengan hari lahir persatuan wartawan Indonesia (PWI) yaitu 9 Februari 1946. Penetapan tanggal lahir PWI sebagai HPN didasarkan kepada Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Pada tahun 1978 di Kota Padang dalam kongres PWI ke-28 ternyata HPN sudah menjadi salah satu butir keputusan yang digodok di acara tersebut. Dan baru pada 1981 butir keputusan itu disetujui Dewan Pers yang kemudian disampaikan ke pemerintah.

Serangkaian kegiatan telah dilaksanakan dalam rangka meriahkan HPN 2018. Berbagai kegiatan itu di antaranya pameran seni rupa, pentas budaya, Minangkabau Summit, lomba pantun, lomba memasak rendang, jalan santai, lomba tulis jurnalistik lingkungan hidup, pentas seni yang mengundang grup band Kotak, pentas tari kolosal di pantai Padang, beberapa talk show dan sosialisasi di stasiun tv nasional dan TVRI, peluncuran calendar of events pariwisata Sumbar 2018 sekaligus peluncuran tagline pariwisata Sumbar, makan bajamba, kuliah umum, seminar literasi, forum investasi, lomba foto dan video destinasi wisata dan infrastruktur, pembacaan puisi, fun trip, pengobatan massal, lomba ayam kukuak balenggek, dan lainnya. Total ada 76 kegiatan, di mana 66 kegiatan dilakukan di Sumbar.

Pada peringatan HPN ke-34, pers dihadapkan pada era disrupsi di mana fenomena secara global media cetak satu persatu mulai tutup. Maka pers harus cepat mengantisipasi perubahan ini dengan menyesuaikan dirinya di era digital. Tidak hanya media cetak, media penyiaran pun harus menyesuaikan dirinya di era digital karena perubahan budaya di masyarakat yang semakin menjadikan internet sumber utama dalam memenuhi sebagian kebutuhan, keinginan maupun gaya hidup mereka. Termasuk dalam masalah informasi.

Di samping itu sumber daya manusia (SDM) pers di era digital dituntut untuk mampu mengubah gaya pemberitaan maupun meningkatkan kualitas diri mereka. Dengan maraknya berita hoaks dan penggunaan media sosial oleh masyarakat dalam menyebarkan dan membuat berita atau informasi sendiri, SDM pers harus memproduksi berita yang lebih baik dan lebih berkualitas agar keberimbangan, kevalidan, dan nilai berita mampu menjawab berbagai informasi yang beredar melalui media sosial. Dengan semakin kuatnya peran masyarakat di media sosial dalam melakukan kritik terhadap berita yang dianggap hoaks atau berita yang dianggap tidak imbang atau menyudutkan suatu kelompok, maka perlahan-lahan kecenderungan masyarakat mencari media yang tidak berat sebelah atau terlalu nampak berpihak. Mereka menginginkan media yang mengedepankan dan mengutamakan objektifitas karena saat ini kepungan berita dan informasi hoaks menyebabkan hidup tidak nyaman.

Di sisi lain, pers juga patut diapresiasi karena selain sebagai pilar demokrasi juga turut berperan penting menyebarkan informasi pembangunan, baik pembangunan nasional maupun pembangunan daerah. Penyebaran informasi melalui media terbukti mampu memperluas informasi untuk disampaikan kepada masyarakat tentang hasil-hasil pembangunan. Sehingga masyarakat dengan mendapatkan informasi tersebut menjadi termotivasi untuk turut mendukung program-program pembangunan pemerintah. Dan di sisi lain, adanya ketimpangan pembangunan yang diinformasikan oleh media turut membantu pemerintah untuk memperhatikan daerah yang dimaksud sehingga pemerataan pembangunan bisa lebih dipercepat dilaksanakan.

Menutup tulisan ini, saya atas nama Pemprov Sumbar mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan HPN tahun 2018 di Sumbar. Baik kepada Presiden RI, para menteri kabinet, duta besar negara sehabat, tokoh pers nasional, PWI Pusat dan daerah, seluruh wartawan, para kepala daerah, para OPD, TNI dan Polri, seluruh pihak terkait, dan tentunya panita HPN 2018 yang telah bekerja keras menyelenggarakan acara ini. Dan kepada Allah Swt saya bersyukur karena pada puncak peringatan HPN 2018 cuaca Kota Padang sungguh cerah sehingga acara bisa berjalan lancar.

Semoga pers nasional semakin kuat, berintegritas, dan mampu secara signifikan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan sebagai pilar demokrasi mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. ***

260. 2018-02-15 [Singgalang] Blusukan Presiden Jokowi

Blusukan Presiden Jokowi

Oleh : Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Sudah menjadi kekhasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan blusukan ke berbagai tempat di Indonesia. Termasuk di Sumbar. Blusukan yang berasal dari Bahasa Jawa ini ternyata ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V. Arti blusukan dalam kamus tersebut adalah masuk ke suatu tempat dengan tujuan untuk mengetahui sesuatu.

Ketika beliau menjadi Gubernur DKI Jakarta,  kegiatan blusukannya diikuti oleh para wartawan karena pada waktu itu dianggap sebagai sebuah hal yang baru dan unik sehingga kemudian dikenal masyarakat luas. Pada waktu itu terjadi pro kontra terkait blusukan ini. Bagi yang kontra menganggap apa yang dilakukan adalah pencitraan. Sedangkan bagi yang pro menganggap itu memang tugas seorang pemimpin. Namun dengan berjalannya waktu, pro kontra blusukan mulai mereda.

Setidaknya saya sudah dua kali menemani Presiden Jokowi blusukan di Sumbar. Yang pertama pada 2016, dan yang kedua pada 2018. Gaya Presiden Jokowi dalam blusukan adalah mendatangi masyarakat, bertanya, mendengar dan berdiskusi, sambil tak lupa menyalami masyarakat yang dijumpai. Di samping itu juga mendatangi berbagai tempat pelaksanaan proyek program pemerintah.

Satu hal yang masih saya ingat waktu blusukan Presiden Jokowi 2016 adalah ketika saya dan Presiden Jokowi satu mobil, waktu itu posisi kami di jalan A. Yani Padang. Kami dalam perjalanan menuju RM Lamun Ombak hendak makan siang setelah dari peresmian Tugu Merpati Perdamaian. Tiba-tiba Presiden bertanya di mana lokasi rumah sakit pemerintah. Maka saya jawab RS M. Jamil yang berlokasi di Jati. Dan tanpa diketahui oleh Paspampres Presiden Jokowi minta mobil diarahkan menuju RS M. Jamil. Mobil yang seharusnya belok kiri di simpang jalan Sudirman menjadi belok kanan menuju RS M. Jamil.

Setiba di RS M. Jamil, waktu itu Direktur Utama RS M. Jamil ada di sana dan sempat menyiapkan tempat untuk Presiden. Namun Presiden Jokowi minta ditunjukkan bangsal rawat inap, dan akhirnya kami bersama Dirut RS M. Jamil menuju bangsal rawat inap. Di sana Presiden Jokowi langsung bertanya kepada pasien tentang Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan mereka menjawab sudah punya, dan ada menjawab belum punya. Lalu Presiden menyimpulkan ada yang tidak cocok antara realita dengan data yang diterima. Presiden Jokowi langsung  menghubungi Kementerian Kesehatan, kemudian mengambil tindakan. Yaitu meminta Kementerian Kesehatan semaksimal mungkin menyerahkan KIS kepada masyarakat. Dan saya diberi waktu satu bulan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Alhamdulillah tugas bisa dilaksanakan dalam sebulan dan saya laporkan kepada Presiden Jokowi melalui Sekretaris Kabinet Bpk. Pramono Anung.

Ini adalah kisah blusukan Presiden Jokowi yang saya ikuti di mana beliau mendatangi masyarakat, menyalami mereka, bertanya dan mendengarkan yang mereka rasakan, menindaklanjuti kepada pihak terkait, sehingga satu persatu masalah bisa diselesaikan. Dengan blusukan ternyata bisa dilihat permasalahan yang ada sehingga data yang didapat dari staf mungkin saja tidak sesuai kondisi sebenarnya.

Pada blusukan 2018, Presiden Jokowi mendatangi proyek padat karya yang dikerjakan petani. Mereka langsung ditanya terkait luas sawah yang mereka punya dan lainnya. Setelah mendapat informasi dari petani maka Presiden memerintahkan untuk memperbanyak melakukan cetak sawah.

Kemudian ketika mendatangi proyek irigasi, didapati kenyataan bahwa sawah dalam wilayah kabupaten tidak teraliri irigasi, padahal irigasinya ada. Ternyata karena ada undang-undang yang mengatur bahwa irigasi pemerintah pusat luas areanya di atas 10.000 hektar, pemprov 3.000 – 10.000 hektar, kabupaten 3.000 hektar ke bawah. Ketika ditanya ke pemkab mengapa irigasi tidak sampai di sana, ternyata pemkab tidak ada dana untuk membangun irigasi yang bisa mengairi sawah 3.000 hektar ke bawah. Presiden meminta agar Kementrian PUPR dan Pemprov membantu masalah ini. Presiden juga menyatakan bahwa masalah ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

Demikian juga ketika penerima PKH (Program Keluarga Harapan), yang ternyata tidak sedikit keluarga yang menerima PKH tapi anaknya tidak mendapat Kartu Indonesia Pintar (KIP). Maka menteri terkait diminta untuk melakukan pendataan yang benar dan menyelesaikan permasalahannya dengan segera.

Dengan melihat langsung blusukan Presiden Jokowi saya bisa simpulkan bahwa ini bukan pencitraan tetapi merupakan kerja seorang pemimpin dalam mengayomi rakyatnya. Bahkan dalam berbagai blusukan Presiden Jokowi minta agar jangan difoto atau divideokan. Terutama ketika yang beliau lakukan dianggap sensitif untuk dipublikasikan. Bukan karena hal negatif tapi justru hal positif yang dilakukan seorang pemimpin kepada rakyatnya, tapi beliau memilih untuk tidak dipublikasikan agar tidak terjadi polemik atau pro kontra di tengah masyarakat.

Dari blusukan Presiden Jokowi tersebut saya memandang bahwa tidak hanya Presiden yang harus blusukan, tetapi juga gubernur, bupati/wali kota juga perlu. Karena pemimpin juga harus turun langsung memeriksa realita lapangan dengan data yang diberikan anak buah. Karena selain datanya belum tentu benar, program yang dijalankan belum tentu sesuai kebutuhan masyarakat dalam realitanya, dan belum tentu kita selaku pemimpin tahu apa yang diinginkan/dibutuhkan masyarakat jika tidak mendengar langsung dari mereka.

Bahkan mungkin masyarakat hanya butuh disapa langsung oleh pemimpinnya. Ini yang terjadi selama tiga hari di puluhan titik di Dharmasraya, Kab. Solok, Kota Solok, Sawahlunto, Tanah Datar, Padang Panjang, Padang, dan Kab. Padang Pariaman. Saya melihat wajah-wajah masyarakat yang sangat senang disalami dan disapa oleh Presiden Jokowi. Ada yang meluapkan kegembiraannya dengan sangat emosional berteriak histeris. Banyak pula yang menyebut baru kali ini Presiden datang ke tempat mereka. Hal seperti ini merupakan sebuah peristiwa yang tidak bisa dinilai dengan uang, karena kebahagiaan, ketulusan, keikhlasan hanya bisa dinikmati oleh hati.

Sebagai Gubernur, saya belajar banyak dari blusukan Presiden Jokowi. Bahwa pemimpin harus turun ke masyarakat/lapangan guna memeriksa data yang ada, melihat kemanfaatan dan kecocokan program yang dijalankan, dan mendengarkan aspirasi masyarakat. Dan juga tak lupa menyapa masyarakat. ***

Singgalang, 15 Februari 2018

261. 2018-02-21 [Padek] Pasar Raya Padang

Pasar Raya Padang

Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 13 Februari 2018 lalu saya bersama Wali Kota Padang Bpk. Mahyeldi meresmikan Blok I, II, III dan IV Pasar Raya Padang. Pasar yang porak-poranda terkena gempa 2009 lalu  kini sudah dibangun kembali dengan tampilan lebih megah dari sebelumnya. Bahkan bangunan baru Pasar Raya kini juga berfungsi sebagai shelter evakuasi tsunami seperti juga kantor-kantor pemerintahan lainnya yang dibangun kembali akibat gempa dan menjadi shelter evakuasi tsunami.

Selain pembangunan Blok I, II, III dan IV, Pasar Raya Padang juga mengalami pembenahan tempat parkir, tempat pejalan kaki, dan juga jalan yang dilalui kendaraan. Hasil pembenahan ini bertujuan agar konsumen yang datang, termasuk para wisatawan merasakan kenyamanan dalam berbelanja. Saya melihat konsep Pasar Raya saat ini juga diberikan berbagai sentuhan seni dan estetika sehingga pengunjung yang datang bisa betah berlama-lama dan di beberapa sudut bisa menjadi tempat berswafoto atau tempat yang “instagramable”.

Dari sisi anggaran, pembangunan Pasar Raya Padang Blok I, II, II dan IV menelan dana sekitar 247,2 miliar rupiah. Dari besaran dana tersebut, APBD Provinsi menyumbang 72 miliar rupiah. Selebihnya mayoritas merupakan APBD Kota Padang dan ada juga sedikit bantuan dari APBN.

Pasar Raya Padang zaman dulu merupakan pusat kehidupan masyarakat Kota Padang. Saya pernah turut merasakan peran sentral Pasar Raya Padang sebagai pusat pergerakan ekonomi masyarakat. Waktu itu, dengan keberadaan Terminal Lintas Andalas dan terminal angkot, sangat berperan dalam melancarkan pergerakan barang-barang dagangan dari dan ke Pasar Raya dan juga pergerakan orang. Hal ini menjadikan Pasar Raya sebagai pusat perdagangan bagi Sumbar sendiri dan Provinsi sekitar seperti Bengkulu, Riau dan Jambi.

Selain Pasar Raya Padang yang sudah dibenahi, beberapa pasar sudah terlebih dahulu dibenahi, seperti Pasar Bandar Buat, Pasar Lubuk Buaya, dan Pasar Nanggalo. Dan rencana berikutnya adalah Pasar Belimbing.

Berbicara pembenahan pasar ini, saya jadi teringat ketika tinggal di Indarung, semenjak selesai dari jabatan Gubernur pada Agustus 2015, kemudian dilantik pada Februari 2016 hingga akhirnya menempati rumah dinas pada Oktober 2016. Saya setiap hari melewati Pasar Bandar Buat yang selalu macet. Tapi saat ini berkat penataan dari Pemko Padang kemacetan tersebut sudah berkurang drastis. Demikian pula Pasar Lubuk Buaya yang merupakan jalur yang saya lewati untuk menuju Bandara, sebelumnya selalu diwarnai kemacetan. Tapi setelah Pemko Padang melakukan penataan maka lalu lintas di depan Pasar Lubuk Buaya telah lancar.  Begitu juga dengan pasar di Siteba.

Saya mengapresiasi kebijakan penataan pasar yang dilakukan Pemko Padang. Selain pasar yang ditata hingga menjadi tertib dan berperan positif dalam kelancaran lalu lintas, dalam hal komunikasi dengan pedagang juga saya apresiasi. Ini saya lihat ketika meresmikan Pasar Raya Padang. Tidak ada gejolak seperti demo dari para pedagang, karena hak dari pedagang lama yang menempati Pasar Raya dipenuhi oleh Pemko Padang. Sementara pedagang baru pun diatur sedemikian rupa sehingga haknya terpenuhi. Demikian pula dengan pasar lainnya, yang mengedepankan komunikasi yang baik dengan pedagang.

Saya mengajak seluruh masyarakat Kota Padang khususnya dan Sumbar umumnya, mari kita berbelanja di Pasar Raya Padang yang kini sudah berfungsi kembali. Mari kita jadikan Pasar Raya Padang kebanggaan masyarakat Padang dan Sumbar. Bagi pedagang semoga bisa berjualan dengan baik menempati tempat yang sudah ditentukan. Dan bagi konsumen semoga bisa tertib berkunjung, terutama dalam memarkir kendaraannya sehingga tidak mengganggu pengguna jalan yang lain. Sehingga dengan ketertiban tersebut mampu menjadikan Pasar Raya sebagai salah satu tempat yang selalu ingin dikunjungi oleh masyarakat.

Saya juga mendengar, terkait pembenahan Pasar Raya Padang ada rencana pembangunan untuk fase berikutnya yang tetap akan mengajak diskusi dan musyawarah dengan pedagang lama. Semoga rencana ini bisa terealisasi dengan baik sehingga membawa kebaikan bagi masyarakat. Semoga berbagai pembenahan yang dilakukan Pemko Padang di Pasar Raya Padang mampu menjadikan Pasar Raya Padang sebagai penggerak roda perekonomian masyarakat. *

 

Harian Padang Ekspres, Rabu 21 Feb 2018

262. 2018-03-02 [Singgalang] Perdagangan Antar daerah

Perdagangan Antar daerah

Oleh Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar
Pada 21-22 Februari 2018 lalu saya mengikuti pertemuan APPSI (Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia) yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat. Acara ini dihadiri oleh  33 Gubernur dari seluruh Indonesia. Dalam salah satu sesi dibahas penguatan peran pemerintah daerah untuk kemajuan dan stabilitas ekonomi nasional. Dan pada pertemuan APPSI kali ini dilakukan penandatanganan nota kesepahaman mengenai perdagangan antardaerah guna menjaga kesimbangan pasokan pangan dan mengendalikan inflasi serta memperhatikan kesejahteraan petani.

Selama ini sering terjadi kekurangan pasokan pangan di Sumbar dan berbagai daerah lainnya sehingga menyebabkan harga naik dan memicu kenaikan inflasi. Untuk itu, saya menyampaikan usulan untuk dilaksanakannya kerja sama perdagangan antardaerah khususnya pangan yang diatur secara tertulis. Karena berbagai manfaat ada di dalamnya.

Manfaat itu di antaranya adalah: lebih terkendalinya inflasi karena kekurangan maupun kelebihan pasokan lebih cepat terpenuhi dan terdistribusi, meningkatnya pendapatan petani karena produk mereka bisa dijual dengan harga yang baik, mengurangi biaya transportasi yang tidak perlu karena daerah tujuan sudah jelas (efektif dan efisien), mengurangi impor pangan karena surplus di daerah A sudah bisa memenuhi kekurangan di daerah B (penghematan devisa), meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena perdagangan bergerak lebih banyak di dalam negeri sehingga turut membantu pertumbuhan ekonomi daerah, dan menguatkan ekonomi nasional karena kebutuhan pangan masyarakat telah bisa dipenuhi oleh masing-masing daerah.

Alhamdulillah Sumbar sekitar tiga bulan lalu telah melakukannya terlebih dahulu sebelum penandatanganan nota kesepahaman kerja sama perdagangan antardaerah di acara APPSI dilakukan. Kerja sama perdagangan yang dilakukan Sumbar yaitu antara pemerintah daerah se-Sumatera, khususnya untuk pasokan pangan pada tahap awal. Dan Sumbar juga telah bekerja sama dengan pemerintah DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memenuhi kebutuhan pangan masing-masing daerah. APPSI melihat apa yang dilakukan ini sebuah hal yang baik sehingga diseraplah contoh kerja sama ini untuk seluruh Indonesia melalui APPSI.

Jadi, misalnya di Sumbar kekurangan pasokan cabai dan di Jawa Tengah surplus cabai, maka Sumbar tinggal meminta Jawa Tengah mengirimkan cabainya ke Sumbar. Demikian pula jika ketika prediksi cuaca dalam enam bulan di Sumbar tidak bersahabat untuk beberapa tanaman, maka Sumbar bisa meminta provinsi lain untuk mengirimkan pasokannya ke Sumbar. Dengan demikian ketersediaan pasokan pangan bisa tetap stabil.

Demikian pula sebaliknya ketika misalnya Sumbar surplus beras dan Riau kekurangan beras, Riau akan meminta Sumbar mengirimkan pasokan beras ke Riau. Dengan demikian kegiatan ini sudah bisa mengurangi terjadinya kenaikan harga yang akan merugikan konsumen dan memicu inflasi. Selain itu bisa mengurangi impor beras. Ada beberapa daerah surplus beras yang ternyata selama ini menjual berasnya ke negara tetangga seperti Filipina dan Thailand. Sementara di daerah lain terjadi kekurangan beras. Alangkah baiknya jika kebutuhan daerah/nasional dulu dipenuhi, karena ada juga beras yang diekspor kemudian menjadi beras impor setelah melewati sedikit pengolahan. Ini jelas merugikan Indonesia.

Agar perdagangan antardaerah ini bisa berlangsung baik maka kuncinya adalah tersedianya data yang baik dari masing-masing daerah dan kerja sama teknis yang baik. Karena dengan data dan kerja sama teknis tersebut setiap daerah bisa melakukan perencanaan antisipasi terjadinya kekurangan stok pangan sekaligus merancang pendistribusian pangan ketika stok berlebih.

Selain pangan, ada tanaman nonpangan yang bisa dilakukan kerja sama antardaerah. Seperti gambir, cokelat, dan tembakau. Dengan demikian, adanya kerja sama perdagangan antardaerah ini bisa membantu terciptanya kestabilan pasokan pangan dan nonpangan, sehingga mampu menguatkan ekonomi nasional. Semoga apa yang sudah diusahakan ini bisa berjalan baik ke depannya karena sangat berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. *

 

Harian Singgalang, 02 Maret 2018.

263. 2018-03-07 [Padek] Pentingnya Dai

Pentingnya Dai

Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 2 Maret 2018 lalu saya menghadiri acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) untuk bersilaturahmi, memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi acara tersebut. Saya ucapkan selamat datang dan terima kasih kepada pengurus Ikadi dari seluruh Indonesia yang berkenan mengadakan acara di Padang. Semoga kehadiran para dai ini turut membawa berkah bagi Kota Padang dan Sumbar. Karena dai adalah guru yang mengajak kepada kebaikan yaitu nilai-nilai Islam yang universal dan rahmatan lil’alamin.

Satu hal yang menarik bagi saya ketika mengikuti acara tersebut adalah sambutan dari Ketua Umum Ikadi Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail yang meminta para dai menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten kebaikan. Demikian juga dengan sambutan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Bpk. Hendri yang dalam sambutannya juga berpesan agar para dai bisa menjadi dai zaman now yang bisa menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada.

Mengapa para dai harus menyesuaikan diri mereka dengan situasi dan kondisi yang ada? Dan juga mengapa harus menggunakan media sosial? Karena sekarang di situlah kebanyakan masyarakat hidup sehari-hari. Maka tak heran jika dari media sosial dan dunia maya kini dikenal masyarakat luas dakwah seorang dai yang bernama Ustaz Abdul Somad (UAS). Salah satu dai yang mampu memenuhi dahaga umat di dunia maya. Bahkan kabarnya ceramah UAS ini juga ditonton oleh umat beragama lain karena penuh dengan pesan-pesan nilai Islam yang universal dan rahmatan lil’alamin. Dan tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun UAS dipenuhi undangan ceramah di berbagai tempat baik di dalam maupun luar negeri.

Demikian pula dengan Ustaz Yusuf Mansur (UYM) yang dikenal dengan ajakan sedekah sebagai sebuah pintu untuk membuka rezeki yang luas. UYM menggunakan media sosial untuk berdakwah. Dan pada 28 Februari 2018 lalu UYM mengajak seluruh masyarakat membuka tabungan di Bank Muamalat Indonesia (BMI) sebagai bentuk dukungan kepada bank tersebut yang didirikan oleh umat Islam. UYM menyiarkan kegiatan tersebut melalui akun media sosialnya. Dan ternyata media sosial cukup efektif dan efisien bagi para dai untuk menyampaikan ajaran Islam yang mulia sehingga bisa diterima oleh masyarakat sekaligus mengajak kepada kebaikan secara bersama-sama.

Fungsi para dai sesungguhnya sejajar dengan fungsi guru di sekolah. Jika guru berada di sekolah dari pagi hingga siang atau sore, maka dai banyak berada di luar sekolah memberikan pengajaran akan nilai-nilai Islam yang ada di dalam Alquran dan Hadis kepada masyarakat luas.

Tanpa guru, sulit rasanya terjadi transfer ilmu atau proses pendidikan. Keberadaan guru di sekolah adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengajaran kepada murid-muridnya. Demikian pula keberadaan dai. Tanpa dai yang selalu mengajak umat kepada pengamalan ajaran Islam berdasarkan Alquran dan Hadis, sulit rasanya terwujud masyarakat yang berperadaban sesuai dengan tuntunan nilai-nilai agama. Karena dai bertugas menyampaikan pesan-pesan yang ada dalam Alquran dan Hadis kepada masyarakat dengan bahasa yang dimengerti oleh masyarakat.

Seperti halnya Rasulullah Saw yang menyampaikan firman Allah Swt dari Alquran secara bertahap kepada para sahabat, keluarga, dan kaum muslimin pada waktu itu, begitu pula peran dai yang menyampaikan ayat-ayat Allah Swt kepada masyarakat dengan penuh hikmah.

Oleh karena itu, keberadaan dai adalah kebutuhan bagi umat Islam. Bahkan mungkin juga umat beragama lain. Karena dai tidak hanya berdakwah secara lisan, tetapi juga perbuatan. Dan pada saat seperti ini jutsru berperan penting sebagai perekat kesatuan bangsa.

Semoga dengan Silatnas Ikadi 2018 bisa memperkokoh eksistensi dai di seluruh Indonesia dan menghasilkan rumusan yang penting dan strategis untuk kegiatan dakwah ke depannya sehingga nilai-nilai Islam yang universal dan rahmatan lil’alamin bisa disampaikan dengan bahasa yang baik oleh para dai.

 

Padang Ekspres, Rabu 14 Maret 2018

264. 2018-03-14 [Singgalang] Promosi Budaya

Promosi Budaya

Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 7 Maret 2018 lalu di Auditorium UNP digelar Pertunjukan 3 Budaya 2 Benua, di mana pelaku utamanya dari acara ini adalah Symphony Theatre Music Box yang datang bersama rombongan misi ekonomi Malindo Business and Cultural Center (MBCC). Tiga budaya yang dimaksud adalah budaya Minang, Malaysia dan Australia. Dan dua benua adalah Asia dan Australia. Dari budaya Minang diwakili oleh Sanggar Mantagi.

Satu hari sebelumnya, 6 Maret 2018, rombongan MBCC yang berjumlah lebih kurang 70 orang termasuk para artis yang dipimpin oleh Dato Sri Dr. Alex Ong selaku Ketua Pengarah MMBC dijamu makan malam di Auditorium Gubernuran. Pada jamuan makan malam ini rombongan tamu tersebut disuguhkan ragam budaya Minang berupa tari dan lagu. Para tamu sangat tertarik dengan suguhan budaya tersebut, sehingga banyak dari mereka merekam suguhan budaya tersebut, bahkan juga mencoba alat musik tradisional seperti talempong. Pun berfoto bersama para penari dan penabuh talempong. Selama 2 hari tersebut para tamu menikmati suguhan tari piring, tari payung, tari pasambahan, tari indang, dan lagu-lagu Minang.

MBCC pada Desember 2016 lalu juga pernah membawa sekitar 200 pengusaha/investor ke Sumbar dg dipimpin Dato Sri Dr. Alex Ong untuk melakukan penjajakan investasi/hubungan dagang di sini. Dan kini beliau membawa rombongan yang berisi artis untuk promosi budaya.

Selain pertunjukan budaya, di acara tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang terdiri dari Pemprov. Sumbar, UNP, dan MBCC terkait investasi, pendidikan, dan budaya.

Satu hal positif yang dihasilkan dari acara ini adalah semakin berkembangnya pariwisata di Sumbar. Salah satunya berasal dari wisatawan Malaysia. Saya mendapat informasi bahwa penerbangan dari Kuala Lumpur ke Padang selalu penuh. Bahkan rombongan Dr. Alex Ong terpaksa dibagi dua penerbangan karena ternyata ketika mereka pesan tiket kursi sudah banyak terisi. Ini terjadi baik ketika pergi ke Padang dan balik ke Kuala Lumpur. Bahkan ada beberapa anggota rombongan yang tidak mendapat tiket. Untuk mengatasi lonjakan wisatawan dari Malaysia, maskapai terkait melakukan penambahan penerbangan (extra flight) khusus di akhir pekan (weekend).

Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Padang tidak sampai satu jam lamanya, sekitar 50 menit. Maka biaya penerbangannya pun lebih murah. Hal ini menyebabkan antusiasnya wisatawan dari Malaysia yang mengunjungi Padang, Sumbar semakin bertambah.

Kehadiran Dato Sri Dr. Alex Ong bersama 70 orang rombongan MBCC selain untuk promosi dan pentas budaya, kerja sama, juga untuk berwisata. Mereka mengunjungi beberapa destinasi wisata seperti Istana Pagaruyuang, Bukittinggi, dan juga keindahan alam Sumbar. Selain itu mereka juga menikmati wisata kuliner seperti mengunjungi Sate Mak Syukur di Padang Panjang, kemudian membeli kain di Pandai Sikek.  Tak kurang dana sebesar 1 miliar rupiah sudah mereka siapkan dari Malaysia untuk dibelanjakan di Sumbar.

Pemprov Sumbar juga sangat giat mengajak pihak luar untuk berkegiatan MICE (Meeting, Insentive, Convention, and Exhibition) atau pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran/pertunjukan yang terhubung dengan promosi budaya dan kegiatan pariwisata di Sumbar. Setidaknya dalam tiga bulan terakhir berlangsung beberapa kegiatan MICE. Di antaranya Kongres Nasional Perkeni (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) IX pada awal Maret 2018, yang pesertanya sangat antusias menikmati pertunjukan budaya di kegiatan tersebut. Demikian pula dengan Rakernas Bappeda se-Indonesia  pertengahan Februari 2018, lalu peringatan HPN 2018 di minggu kedua Februari 2018. Kemudian di Januari 2018 dari Fakultas Kedokteran Gigi UI melaksanakan bakti sosial di Sumbar.

Pemprov Sumbar aktif mempromosikan budaya Minang kepada para peserta MICE dalam rangka memperkenalkan budaya Minang yang dinamis dan menarik serta mengajak para peserta untuk berwisata menikmati keindahan alam Sumbar, kulinernya dan juga kerajinan tangan, cindera mata dan oleh-oleh.

Maka bagi pelaku ekonomi yang terkoneksi dengan sektor pariwisata, para tamu yang datang ini adalah konsumen potensial yang akan membelanjakan uangnya di Sumbar. Oleh karena itu saya mengharapkan kerja samanya untuk memberikan pelayanan terbaik dan keramah tamahan kepada mereka. Sehingga kelak mereka akan kembali lagi ke Sumbar bersama keluarga atau teman mereka. Semoga dengan pelayanan yang baik dan keramah-tamahan ini akan semakin banyak wisatawan yang datang sehingga ekonomi masyarakat kian bergerak dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. *

Harian Singgalang, Rabu 14 Maret 2018

265. 2018-03-20 [Singgalang] Tarok City

Tarok City

Oleh Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 10 Maret 2018 lalu saya bersama rekan-rekan Tim Trabas Sumbar 1 dan lainnya menyusuri wilayah Kab. Padang Pariaman dengan motor trabas menuju Tarok City. Sesampai di lokasi, saya bersama Bupati Padang Pariaman, Rektor UIN Imam Bonjol dan Kapolres Pariaman membuka selubung papan informasi rencana pembangunan kampus UIN Imam Bonjol.

Di tengah sulitnya mencari tanah lokasi pembangunan kampus, Tarok City hadir dengan luas wilayah sekitar 697 hektare. Di wilayah ini nantinya akan dibangun kampus Unand, UNP, UIN Imam Bonjol, Politeknik Negeri Padang, ISI, dan beberapa bangunan publik lainnya seperti rumah sakit.

Saya sempat menanyakan penamaan kawasan Tarok City kepada Bupati Padang Pariaman, Bpk. Ali Mukhni, beliau menjawab bahwa kawasan ini akan diperkenalkan ke dunia internasional, maka penamaannya pun menggunakan bahasa yang mudah dikenal atau diterima secara internasional.

Tarok City adalah kawasan strategis, terletak dekat dengan Bandara Internasional Minangkabau, jalan negara Padang – Bukittinggi dan juga jalan tol Padang Pariaman – Pekanbaru (insya Allah), serta lintasan kereta api.  Dan Tarok City  juga berdekatan dengan Kota Padang yang merupakan ibu kota Provinsi Sumbar. Tarok City adalah tanah negara yang tadinya disewakan dengan hak guna, yang dipakai untuk sektor perkebunan. Lalu setelah habis masa pakainya diputuskan oleh Bupati Padang Pariaman untuk digunakan bagi keperluan publik. Saya mengapresiasi kebijakan Bupati Padang Pariaman ini. Semoga penggunaan tanah negara ini bermanfaat untuk masyarakat luas.

Dengan adanya kawasan yang luas ini maka sangat membantu sekali bagi perguruan tinggi. Misalnya saja Politeknik Negeri Padang yang sebelumnya sangat sulit mencari tanah untuk dibangun kampus sehingga sekarang masih berada di komplek kampus Unand. Padahal anggaran dari kementerian terkait sudah ada untuk pembangunannya.

Demikian  pula ISI Padang Panjang yang sulit mencari tanah untuk pembangunan kampus. Dan akhirnya mendapatkan tanah di Tarok City. Maka keberadaan Tarok City sebagai sebuah kawasan pendidikan, terutama pendidikan tinggi merupakan sebuah anugerah. Dengan alokasi luas tanah yang cukup untuk masing-masing kampus, kelak Tarok City akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumbar dan juga pusat pendidikan. Sehingga berdampak kepada kemajuan masyarakat.

Jika bangunan kampus dari berbagai perguruan tinggi  selesai dibangun dan dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar, maka sudah bisa dibayangkan  berapa banyak mahasiswa, dosen dan pegawai serta pekerja lainnya yang ada di wilayah itu, yang mengeluarkan uangnya untuk berbagai keperluan, di antaranya untuk keperluan tempat tinggal bagi mahasiswa, perdagangan, ritel, kuliner, telekomunikasi, transportasi dan jasa yang lain. Uang berputar yang cukup besar akan menggerakkan wilayah Tarok City untuk semakin berkembang dan memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya.

Oleh karena itu, Tarok City yang masih butuh pembangunan lebih banyak lagi perlu dukungan dari semua pihak. Termasuk dari masyarakat yang tanahnya atau lingkungannya terkena dampak dari pembangunan Tarok City ini. Demikian pula peran tokoh masyarakat dalam mengantisipasi masalah sosial yang mungkin terjadi akibat pembangunan Tarok City. Dan juga para ninik mamak, tokoh adat, alim ulama, cadiak pandai yang punya peran penting dalam mendukung suksesnya pembangunan Tarok City. Dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan untuk terwujudnya pembangunan di Tarok City.

Pemprov Sumbar baik sebagai pemerintah daerah maupun perwakilan pemerintah pusat di daerah turut mendukung pembangunan di Tarok City. Karena Tarok City juga ikut mendukung harapan beberapa kementerian yang mencari tanah untuk lokasi pembangunan sekolah tinggi atau kampus yang terkait dengan kementerian tersebut. Sehingga pembangunan kampus sekolah tinggi di bawah kementerian ini akan bedampak positif bagi masyarakat Sumbar.

Bahkan Tarok City juga berdekatan dengan beberapa destinasi wisata, dan diharapkan nantinya terjadi sinergi antara destinasi wisata dengan Tarok City sehingga berdampak positif kepada ekonomi masyarakat. Mari kita dukung pembangunan di Tarok City. Semoga Allah Swt meridhai usaha yang mulia ini, dan berkahnya turun kepada kita. Aamiin. *

266. 2018-03-28 [Singgalang] SPT Tahunan

SPT Tahunan

 

Oleh Irwan Prayitno
Gubernur Sumatera Barat

Pada 20 Maret 2018 lalu saya bersama jajaran Forkopimda Sumbar melakukan pelaporan SPT Tahunan Pajak Orang Pribadi Tahun 2017. Pelaporan ini dilakukan melalui e-filling dan tanda terima pelaporan SPT yang dikirim ke email kami perlihatkan kepada wartawan yang meliput acara itu.

Kegiatan ini merupakan sarana sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya membayar pajak dan juga melaporkan pajak yang sudah dibayarkan. Acara ini difasilitasi oleh Kanwil Ditjen Pajak Sumbar Jambi, dan dihadiri Kepala Kanwil  beserta jajarannya.

Melalui acara ini ada pesan yang disampaikan kepada masyarakat bahwa para pejabat publik telah membayar pajak dan melaporkannya kepada Ditjen Pajak yang merupakan kewajiban warga negara yang memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Maka segenap staf pun harus melaporkan pajaknya seperti yang sudah dilakukan pemimpinnya.

Di samping itu, acara ini juga mengajak para warga negara yang memiliki NPWP selain membayar pajak juga melaporkannya. Dan waktu pelaporannya paling lambat 31 Maret 2018. Dengan adanya contoh dari pejabat publik yang melaporkan sebelum 31 Maret 2018 diharapkan masyarakat pun ikut melaporkan SPTnya sebelum batas akhir pelaporan.

Dan acara ini juga ingin menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa ikut membayar dan melaporkan pajak  adalah untuk kepentingan bersama. Bukan kepentingan pemerintah semata. Karena sekitar 78 persen penerimaan APBN berasal dari pajak. Dana pajak digunakan kembali untuk pembangunan infrastruktur (seperti jalan dan jembatan), program kesehatan, program pendidikan, program ekonomi, program sosial, dan lainnya. Ini berarti uang pajak kembali lagi kepada masyarakat.

Dengan besarnya peran pajak dalam pembiayaan pembangunan, maka ketiadaan pajak akan berdampak kepada ketiadaan pembangunan. Jika pun pembangunan berjalan, dananya kecil, tidak bisa mendukung berbagai program pembangunan yang dibutuhkan.

Tidak dipungkiri bahwa dari waktu ke waktu semakin banyak warga negara yang menikmati hasil pembangunan, seperti jalan, jembatan, puskesmas, rumah sakit, sekolah, telekomunikasi, pasar, perdagangan, dan lainnya. Maka konsekuensi dari hal ini adalah kewajiban warga negara untuk membayar pajak harus semakin lebih baik lagi. Keberadaan sarana dan prasarana tersebut juga turut mendorong keberhasilan mereka sehingga sudah sangat pantas bagi mereka untuk membayar pajaknya.

Membayar pajak dan melaporkan pajak tidak hanya dilakukan oleh para pegawai pekerja formal seperti ASN, pegawai swasta, dan lainnya. Tetapi juga dilakukan oleh mereka yang bekerja di sektor informal seperti UKM, termasuk usaha mikro. Karena selama ini ada kesan di masyarakat bahwa yang melaporkan SPT hanya para pekerja formal saja yang memang di instansinya sudah memiliki sistem pemotongan pajak. Mereka yang sudah berusaha dan mendapat keuntungan, sesungguhnya sudah banyak mendapat manfaat dari hasil pembangunan yang pembiayaannya berasal dari pajak (salah satunya). Dengan demikian, sudah sewajarnya pelaku usaha pun membayarkan pajaknya sesuai aturan berlaku, kemudian melaporkannya melalui SPT.

Ikut membayar pajak dan melaporkannya adalah salah satu cara bagi bangsa ini untuk membiayai sendiri pembangunannya. Semakin banyak warga negara yang sadar untuk membayar pajak maka akan semakin baik pembiayaan pembangunan. Dan pajak yang sudah dikumpulkan tersebut kembali lagi untuk membiayai pembangunan.

Allah Swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak ada kemauan untuk mengubahnya. Maka jika kemauan dan kesadaran warga negara semakin baik untuk membayar pajak, kelak perubahan positif juga akan semakin dirasakan bersama-sama.

Mudah-mudahan ke depannya pembiayaan pembangunan dari pajak semakin lebih besar porsinya dalam penerimaan di APBN, di mana jumlah wajib pajak dan pemilik NPWP semakin bertambah. Oleh karena itu, pelaporan SPT Tahunan yang terus disosialisasikan oleh Kanwil Ditjen Pajak bekerja sama dengan Pemda setiap tahun mudah-mudahan bisa mengajak seluruh masyarakat untuk membayar pajak dan melaporkannya melalui SPT Tahunan.

267. 2018-04-05 [Padek] Mencari Investor

Mencari Investor

Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumatera Barat

Setiap kepala daerah dalam visi misinya tercantum upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Meskipun redaksi bahasa yang digunakan berbeda-beda. Dan untuk meningkatkan kesejahteraan, instrumen yang ada adalah APBN dan APBD. Namun secara umum dana APBN dan APBD tidaklah cukup untuk secara maksimal meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai ilustrasi sederhana, untuk investasi infrastuktur pemerintah selama 2015-2019 secara presentase hanya bisa dipenuhi oleh APBN-APBD sebesar 41,3 persen, kemudian BUMN 22,2 persen, dan sisanya peran swasta sebesar 36,5 persen. Dari ilustrasi ini bisa dilihat bahwa pemerintah memerlukan pihak swasta untuk berinvestasi di bidang infrastruktur. Karena mengharapkan anggaran dari ABPN-APBD dan BUMN ternyata tidak cukup.

Gambaran di atas juga mewakili kondisi ekonomi di daerah. Meskipun sudah ada APBN dan APBD, serta kehadiran BUMN di daerah, tapi belum secara maksimal mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi dalam APBN-APBD sudah ada judul masing-masing dari setiap mata anggaran, sehingga sulit untuk mengutak-atik anggaran yang sudah ada. Oleh karena itu pemerintah daerah bisa meningkatkan peran swasta dengan mengajak mereka berinvestasi di daerah.

Untuk menjadikan pihak swasta berpartisipasi aktif adalah dengan mengundang mereka dan memudahkan segala urusan usahanya. Untuk itu dilakukan upaya jemput bola karena pemerintah tidak bisa berdiam diri saja. Jika APBN-APBD dan BUMN sudah bisa didapatkan dananya melalui mekanisme rutin, maka tidak demikian dengan swasta. Dibutuhkan usaha sungguh sungguh dan pengorbanan untuk mengajak swasta berinvestasi.

Masuknya investasi ke sebuah daerah, akan membantu peran APBN-APBD. Karena investasi yang masuk akan membuka peluang penyerapan tenaga kerja, dan pendapatan untuk daerah serta terjadi efek multiplier. Dan uang pun akan beredar di daerah, sehingga mendorong ekonomi semakin bergerak.

Investasi di bidang pariwisata, di antaranya adalah dengan pembangunan hotel-hotel baru. Bertambahnya hotel akan menambah penyerapan tenaga kerja, bertambahnya pendapatan untuk daerah, wisatawan semakin banyak datang karena bertambahnya jumlah kamar hotel. Dan efek multiplier yang lain di antaranya adalah terhadap bisnis kuliner, cendra mata, transportasi, ekonomi kreatif, dan UMKM. Meningkatkan efek multiplier yang lebih luas seperti ini bisa didapat dari peran swasta. Alhamdulillah beberapa investor asal Ranah Minang sudah ada yang membangun hotel, seperti di Batusangkar dan di Padang.

Sementara investasi di bidang energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga mikro dan mini hidro akan berkontribusi kepada pendapatan asli daerah, sedangkan untuk panas bumi pemasukan bagi daerah berupa dana royalti.

Untuk mendapatkan investor, bisa berasal dari dalam dan luar negeri. Dan untuk mengawali kerja sama bisa dimulai dengan menandatangani letter of intent (LoI), memorandum of understanding (MoU), serta komunikasi yang intensif. Untuk itu, maka mau tidak mau, kitalah yang harus menjemput investor agar mau menanamkan uangnya di daerah kita.

Peluang partisipasi swasta yang sekitar 35 persen memang membutuhkan kerja keras. Pemprov tidak bisa berdiam diri saja mengharapkan datangnya investor ke Sumbar. Seperti ayat Alquran yang menyatakan bahwa Allah Swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha mengubahnya, maka untuk mendatangkan investor menanamkan uangnya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemda harus berusaha semaksimal mungkin.

Peran APBN dan APBD dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak dipungkiri turut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Demikian pula peran BUMN. Namun baik APBN, ABPD dan BUMN sudah memiliki peran dan anggarannya tersendiri. Sedangkan mendatangkan investor tergantung seberapa gigih usaha dari pemda. Maka saya melihat bahwa hal ini harus sangat diseriuskan.

Saya melihat bahwa mencari investor untuk menanamkan uangnya di Sumbar maka berarti juga upaya untuk meningkatkan kesejahteraan. Bila jumlah uang masuk dan beredar di Sumbar makin banyak maka bisa menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Jika partisipasi swasta bisa semakin maksimal dalam perekonomian maka insya Allah kesejahteraan masyarakat pun bisa semakin baik, karena sumber penggerak ekonomi bertambah besar. Alhamdulillah, berdasarkan data BPS (Sumbar dalam Angka 2017), tingkat pengangguran terbuka semakin berkurang, jumlah penduduk miskin juga berkurang. Rata-rata pengeluaran perkapita sebulan untuk makanan dan non makanan  menunjukkan kenaikan. Dan PDRB per kapita pada tahun 2016 sudah berada di angka 37,21 juta rupiah. Di mana pada tahun 2010 nilainya sekitar 17 juta rupiah.

Sementara jumlah perusahaan dengan status PMDN dan PMA menunjukkan pertambahan, dan jumlah pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan mini hidro juga menunjukkan  pertambahan. Sedangkan jumlah penerbitan tanda daftar perusahaan (TDP) dan surat izin usaha perusahaan (SIUP) menunjukkan kenaikan. Demikian pula jumlah tamu hotel dan juga jumlah restoran/rumah makan menunjukkan kenaikan. Penerbangan dalam negeri baik yang berangkat dari BIM maupun datang ke BIM juga menunjukkan kenaikan.

Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil. Kesungguhan butuh kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan juga keikhlasan. ***

268. 2018-04-11 [Singgalang] Garuda Travel Fair

Garuda Travel Fair

Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumatera Barat

 

Pada 6 April 2018 lalu menjelang siang saya membuka secara resmi Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) di Transmart Padang. Dari Garuda hadir Bpk Helmi Imam Satriono Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Bpk. Dudy Iman Setiadi GM Garuda Padang, Bpk Aribowo CEO Regional Sumatera 2 Bank Mandiri, dan dihadiri juga masyarakat yang ingin mengunjungi GATF.

Setiap tahun Garuda melakukan kegiatan GATF di berbagai kota di Indonesia. Kegiatan ini merupakan promosi Garuda kepada publik untuk bepergian dengan harga tiket yang lebih murah karena konsumen mendapatkan diskon dan cashback serta mendapatkan kemudahan lainnya dalam pembayaran. Misalnya, tiket Padang-London 10 juta rupiah, Padang-Hongkong 4 juta rupiah, Padang-Korea 5 juta rupiah, Padang-Jakarta 650.000 rupiah, diskon 20 dan 15 persen untuk rute domestik dan internasional, kemudahan mencicil dan mendapatkan cashback, dan hadiah menarik.  Kegiatan GATF ini selain merupakan ajang promosi Garuda, juga turut mendukung kemajuan pariwisata Indonesia.

Berdasarkan data BPS “Provinsi Sumatera Barat dalam Angka 2017”, untuk penerbangan dalam negeri jumlah pesawat yang datang ke BIM 12.138 dan yang berangkat dari BIM 12.050 pada 2016. Meningkat pesat dibanding 2015 yaitu 10.082 yang datang ke BIM dan 9.982 yang berangkat dari BIM.

Sedangkan untuk penumpang pesawat yang datang ke BIM pada 2016 berjumlah 1.675.387, dan penumpang yang berangkat dari BIM berjumlah 1.665.431. Ini menunjukkan kenaikan dibanding 2015 di mana penumpang yang datang ke BIM berjumlah 1.481.045 dan penumpang yang berangkat dari BIM berjumlah 1.440.441.  Dan jika dibandingkan dengan tahun 2014 ke bawah maka akan terlihat ada peningkatan yang signifikan, baik jumlah pesawat maupun penumpang.

Meningkatnya jumlah penumpang pesawat ke Padang, Sumbar turut mendukung pariwisata Indonesia. Karena wisatawan yang datang juga turut meningkat dan membawa uang yang kemudian dibelanjakan untuk kuliner, transportasi, cendera mata dan oleh-oleh, penginapan, belanja dan lainnya. Maka tak heran jika sebuah daerah yang hidup sektor pariwisatanya maka turut berperan dalam meningkatkan kesejahteraan, mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Karena uang yang dibelanjakan oleh wisatawan diterima langsung oleh masyarakat pelaku usaha terkait pariwisata yang sebagian besar UMKM. Di beberapa daerah, angka kemiskinan turun hingga sebesar 2 persen akibat peran masyarakat dalam sektor pariwisata. Ini karena efek multipliernya signifikan.

Uang masuk yang dibawa wisatawan tak ubahnya seperti uang masuk yang dibawa investor. Dan untuk membawa investor dan wisatawan masuk ke Sumbar, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota telah melakukan berbagai promosi pariwisata, budaya, perdagangan dan investasi ke mancanegara, selain upaya promosi di dalam negeri. Dengan promosi pariwisata dan budaya di luar negeri maka orang luar negeri menjadi tahu dan kenal dengan pariwisata Sumbar dan budayanya. Sehingga hal ini membuat mereka tertarik untuk datang ke Sumbar. Berdasarkan pengamatan saya ketika bepergian rute Padang-Jakarta PP, semakin sering saya temukan penumpang warga negara asing. Di mana pada beberapa tahun lalu jarang saya temukan. Secara tak langsung ini menandakan bahwa frekuensi wisatawan asing yang datang ke Sumbar semakin meningkat.

Selain sektor pariwisata yang memiliki peran memasukkan uang ke Sumbar, investasi, perdagangan, ekspor, dana APBN-APBD juga merupakan sumber lain masuknya uang yang menggerakkan ekonomi daerah. Maka, semakin meningkat jumlah investasi, perdagangan, dan ekspor maka akan meningkat pula uang masuk ke Sumbar.  Sedangkan pariwisata merupakan salah satu program prioritas dalam RPJMD Prov. Sumbar yang dilaksanakan dalam sebuah gerakan. Berbagai upaya pembenahan sektor pariwisata juga semakin diseriuskan, seperti pembangunan jalan menuju lokasi pariwisata, pembangunan rest area, dan juga hal yang terkait pelayanan publik.

Jumlah wisatawan yang datang ke Sumbar pun mengalami peningkatan. Ini bisa dilihat dari penumpang maupun jumlah penerbangan yang datang dari Singapur ke Padang, dan Kuala Lumpur ke Padang. Maka, keberadaan GATF patut diapresiasi karena mendorong orang untuk berwisata, termasuk ke Sumbar.

Jika Garuda melakukan promosi di berbagai kota dengan mengadakan GATF, demikian pula Pemprov Sumbar dan pemkab/kota yang juga gencar melakukan promosi. Promosi ini baik dilakukan dengan iklan di media cetak dan elektronik maupun mendatangi lokasi promosi. Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki, seperti alam, budaya, kuliner, geopark, sejarah, kehidupan beragama, maka diperlukan promosi yang gencar agar semakin banyak orang yang mengetahui berbagai kelebihan pariwisata Sumbar. Semakin banyak orang yang mengetahui pariwisata Sumbar maka akan semakin banyak orang datang ke Sumbar. Semakin banyak wisatawan yang datang, maka banyak uang masuk sehingga ekonomi bergerak dan meningkatkan kesejahteraan serta mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

269. 2018-04-18 [Padek] Manajemen Internal Pemerintahan

Manajemen Internal Pemerintahan

Oleh Irwan Prayitno

Gubernur Sumatera Barat

Beberapa waktu terakhir ini, di internal pemprov sedang ada kesibukan yang membutuhkan konsentrasi khusus. Di antaranya, pemprov sedang mengikuti rapat pansus di DPRD Sumbar terkait LKPJ (Laporan Keterangan Pertanggungjawaban) Kepala Daerah. Selain itu pemprov juga sedang mendampingi BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) RI melakukan pemeriksaan keuangan reguler tahunan. Dan bersamaan itu pemprov juga sedang mengusahakan penguatan APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) sehingga bisa naik levelnya agar pengawasan internal semakin berkualitas. Dan juga saat ini pemprov sedang menyiapkan LPPD (Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah) dan LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah) untuk disampaikan ke Kementerian Dalam Negeri. Selain itu juga sibuk Musrenbang serta perencanaan kegiatan untuk tahun depan. Kegiatan membuat laporan atas kerja selama ini dan juga kegiatan merencanakan program selalu beriringan dikerjakan.

Beberapa kegiatan ini merupakan kegiatan yang setiap tahun rutin dilakukan oleh pemprov. Meskipun merupakan sebuah rutinitas tahunan, kegiatan ini membutuhkan keseriusan dan konsentrasi sebagai bentuk amanah dalam mengelola pemerintahan. Karena dengan melaksanakannya secara amanah akan dicapai Clean Government and Good Governance (CGGG).

Dengan menjalankan CGGG ada beberapa hal yang diharapkan semakin baik. Misalnya  pengelolaan anggaran semakin  baik dan berkualitas. Dan program-program pembangunan bisa semakin baik kualitasnya. Alhamdulillah, keseriusan pemprov dalam menjalankan CGGG telah dinilai oleh pemerintah pusat dan mendapat apresiasi penghargaan. Misalnya saja dalam masalah laporan keuangan dan laporan kinerja, mendapatkan penilaian yang semakin baik dari pemerintah pusat. Ini diperlihatkan dengan status WTP yang sudah didapat selama 5 kali, di mana sebelumnya status laporan tidak WTP (bahkan Disclaimer). Demikian juga dengan LAKIP yang mendapatkan nilai BB pada 2016 serta menjadikan Sumbar di posisi 8 nasional. Pada 2017 indikator penilaian LAKIP ditambah sehingga memacu pemprov untuk bisa mempertahankan nilai yang sudah diraih.

Jika dibagi lagi, pemeriksaan oleh BPK dan penguatan peran APIP merupakan upaya mewujudkan clean government. Sedangkan penyiapan LKPJ, LPPD, dan LAKIP merupakan upaya mewujudkan good governance. Dan upaya mewujudkan CGGG ini akan menghasilkan pelayanan  publik yang semakin baik. Dengan pelayanan publik yang semakin baik, maka masyarakat  akan semakin mendapatkan pelayanan yang lebih berkualitas.

Manajemen internal pemerintah yang semakin baik dengan outputnya pelayanan publik yang baik memang tidak serta merta mendorong perekonomian yang berujung peningkatan kesejahteraan. Namun hal ini sangat penting sebagai dasar dalam melaksanakan program-program pembangunan. Dengan semakin baiknya manajemen pemerintah, bisa mewujudkan Clean Government and Good Governance, program pembangunan yang dihasilkan dan ditujukan bisa lebih baik kualitasnya.

Sementara untuk menggerakkan ekonomi maka uang masuk yang memiliki efek multiplier bagus harus digalakkan. Di sini memang ada dana APBN, APBD, BUMN. Namun dengan berbagai keterbatasan, maka perlu dana tambahan yang di antaranya bisa berasal dari investasi dan pariwisata.  Maka kerapihan dalam manajemen internal pemerintahan perlu diikuti dengan daya dukung untuk mendatangkan uang masuk ke Sumbar, di antaranya berupa investasi yaitu mendatangkan investor maupun berupa pariwisata yang mendatangkan wisatawan. Dengan demikian investor yang masuk pun yakin bahwa pemprov siap mendukung mereka karena sudah ada kerapihan dalam manajemen internal termasuk pelayanan publik yang prima.

Saat ini sudah banyak negara yang berupaya mendatangkan wisatawan ke Negaranya, termasuk wisatawan muslim dengan menyiapkan sarana prasarana wisata halal. Sebut saja Jepang dan Thailand yang sangat serius menyediakan fasilitas wisata halal.

Sumbar dengan karunia wisata halal yang sudah ada sejak dulu kala, seperti kuliner, budaya, alam, dan sejarah juga sangat berpotensi mendatangkan wisatawan, baik dari negara berpenduduk muslim maupun bukan. Karena wisata halal bisa untuk siapa saja. Maka pemprov dan juga pemkab/kota sangat serius melakukan promosi pariwisata dan budaya ke luar negeri. Pengenalan kepada masyarakat luar negeri merupakan pembuka jalan datangnya wisatawan ke Sumbar. Demikian pula  dengan upaya pengenalan kepada masyarakat domestik. Keduanya beriringan karena masing-masing memiliki potensi yang harus diupayakan agar bisa mendatangkan uang ke Sumbar.

Menurut survei Mastercard-CrecentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018 terhadap 130 destinasi, Indonesia berada di urutan kedua destinasi muslim dunia setelah Malaysia untuk kelompok negara anggota OKI (Organisasi Kerja sama Islam). Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata menargetkan berada di urutan kesatu untuk 2019. Pada 2017 ada 131 juta wisatawan muslim global yang berwisata halal. Dan pada 2020 diperkirakan potensi wisata halal dunia mencapai 220 miliar dolar AS dengan 158 juta wisatawan. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mendatangkan wisatawan ke Sumbar, dan juga investor tentunya. *

270. 2018-04-25 [Singgalang] Mengekspor Rendang

Mengekspor Rendang
Oleh Irwan Prayitno

Salah satu makanan asal Indonesia yang namanya sudah mendunia adalah rendang. Rendang bahkan pernah menjadi juara dalam survei yang dilakukan oleh CNN Travel sebagai makanan terlezat di dunia pada 2011, dan kemudian dirilis kembali oleh CNN pada 2017. Rendang pernah pula ada di urutan 5 besar dan 10 besar makanan terlezat. Masakan khas orang Minang ini juga telah mengambil hati orang-orang mancanegara. Bagi orang di Malaysia, Singapura, dan juga Indonesia, rendang dikenal dari para perantau yang datang ke daerah itu.

Ada sebuah mimpi yang ingin diwujudkan dalam rangka menginternasionalisasikan rendang, yaitu mengekspor rendang ke mancanegara. Peluang rendang terjual di mancanegara cukup besar karena namanya sudah dikenal lebih dahulu dan rasanya sudah teruji oleh lidah orang-orang luar negeri. Kendala memang ada, seperti larangan mengekspor daging ke negara tertentu. Namun ini justru menjadi tantangan bagaimana rendang bisa masuk ke sana.

Untuk itu Pemprov Sumbar saat ini sedang serius berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan agar bisa membantu mengurus berbagai izin dan syarat yang diperlukan sehingga rendang bisa masuk ke suatu negara seperti halnya produk lain yang berbahan daging yang bisa masuk ke negara tersebut.

Dengan kelezatan rendang yang bisa mengalahkan steak, maka peluang rendang masuk ke sebuah negara cukup bagus. Steak yang sudah menjadi makanan pokok orang di negara-negara Barat seperti Eropa dan Amerika, kini juga sudah banyak dikenal di Indonesia. Masakan berbahan daging ini biasanya disajikan dalam keadaan panas di mana daging yang sudah dibakar diberikan sejenis saus yang menjadikannya nikmat disantap. Sementara rendang memiliki kelebihan rasa bumbu yang nikmat hingga ke dalam daging sehingga dikenal sebagai daging berbumbu. Berbeda dengan steak yang kelezatan dagingnya akan bisa dinikmati bersama dengan saus yang disiram ke daging, yang berarti jika hanya daging saja kurang terasa nikmat steak tersebut. Maka tak heran jika ada acara kuliner berupa promosi rendang di luar negeri langsung disantap oleh mereka yang hadir dan bahkan minta tambah karena merasakan kelezatannya. Rendang juga lebih praktis. Bisa langsung dimakan, dan juga bisa bersama dengan roti, serta mudah dipanaskan.

Dengan fenomena demikian, tidak salah jika mengekspor rendang ini adalah sebuah mimpi yang insya Allah bisa diwujudkan, karena rasanya yang lezat sudah diakui secara internasional. Jika pada saat ini rendang belum bisa diekspor secara masif, maka bumbu rendang sudah berhasil dijual di Sydney dan Eropa. Meskipun dengan bumbu yang dijual konsumen bisa membuat rendang, saya menduga masakan yang dihasilkan tidak selezat rendang yang dimasak dengan bumbu asli dengan proses pemasakan berjam-jam seperti yang dilakukan oleh orang Minang.

Dengan adanya teknologi baru mesin iradiator yaitu membebaskan rendang dari bakteri (iradiasi) maka upaya untuk menjual rendang di mancanegara akan semakin besar peluangnya. Karena teknologi ini bisa mengawetkan rendang selama 18 bulan sehingga rasanya tetap terjaga dan bisa dikonsumsi. Pemprov sudah menandatangani MoU dengan BATAN selaku pemilik mesin dan teknologinya dalam hal ini. Maka, rentang keawetan yang lama sudah bisa memenuhi syarat untuk diekspor jika melihat masa berlakunya. Dengan demikian rendang akan bisa dijual di pasar swalayan di luar negeri. Dengan kepraktisannya, rendang bisa disimpan di kulkas, atau dipanaskan untuk santapan makan orang-orang Barat.

Sambil menunggu untuk bisa menembus pasar ekspor, rendang pun bisa memasuki pasar Indonesia. Dengan teknologi pengawetan yang ada rendang bisa dijual di mini market, pasar swalayan, hypermarket dan juga mal-mal. Jika pada hari ini banyak orang yang datang ke Sumbar membawa rendang sebagai oleh-oleh untuk keluarga, teman dan kerabat bersama kripik balado, maka ke depannya mereka akan bisa membeli rendang di mini market, pasar swalayan atau hypermarket yang ada di kota tempat tinggal mereka.

Jika rendang telah bisa didapatkan di berbagai kota di Indonesia yaitu di mini market, pasar swalayan dan hypermarket, maka insya Allah hal ini akan mengangkat taraf kesejahteraan UMKM Sumbar yang bergerak di bidang pembuatan rendang.

Pada 9 April 2018 lalu telah dilaksanakan rakor penguatan sentra IKM rendang di Sumbar, bersama BPOM, BATAN, Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia, praktisi rendang, asosiasi IKM rendang Kota Padang, dan pelaku usaha rendang di Sumbar. Acara ini dalam rangka peningkatan daya saing rendang melalui penguatan sentra IKM rendang.

Semoga dengan berbagai upaya yang sudah dilakukan ini bisa menghasilkan suatu kebaikan bagi masyarakat, khususnya mereka yang terkait langsung dengan produksi dan penjualan rendang. Dan semoga mimpi untuk mengekspor rendang dengan dukungan serta kebersamaan berbagai pihak terkait, bisa diwujudkan atas izin Allah Swt. Amin. *

271. 2018-05-02 [Padek] Sekolah Berasrama

Harian Padang Ekpres, 02 Mei 2018

Sekolah Berasrama
Oleh Irwan Prayitno

Pada 16 April 2018 siang di Bukittinggi saya meresmikan asrama putri SMAN 1 Bukittinggi. Saya ucapkan selamat atas peresmian asrama putri ini. Semoga bisa meningkatkan prestasi siswi yang tinggal di asrama, baik akademik dan non akademik. Setelah meresmikan asrama tersebut, saya balik ke Padang. Di Padang saya menerima tamu dari SMAN Agam Cendekia, sekolah ini juga memiliki asrama.

Provinsi Sumbar hingga saat ini telah mengelola 15 SMA berasrama, di mana di setiap kota ada 1 SMA berasrama. Sekolah berasrama menjadi sekolah andalan untuk meningkatkan karakter dan potensi siswa yang tinggal di asrama. Karena dengan tinggal di asrama, pembentukan karakter siswa bisa dimaksimalkan, dan potensinya bisa diasah maksimal. Di sini mereka diajar, dilatih, dan ditempa, sehingga memunculkan kebiasaan, karakter, dan kemampuan serta keterampilan yang bagus.

Di asrama waktu yang tersedia lebih banyak, sejak selesai belajar di kelas hingga mau masuk kelas. Berbeda dengan waktu yang tersedia bagi siswa yang tidak menetap di asrama di mana mereka hanya mengikuti proses pendidikan pada jam belajar yang waktunya tidak sebanyak mereka yang tinggal di asrama.

Beberapa sekolah berasrama ada yang menargetkan siswa yang tinggal di asrama memiliki hafalan Alquran yang baik dan cukup banyak, bahkan hingga 30 juz. Di samping itu peningkatan kualitas ibadah pun bisa dilakukan seperti salat berjamaah dan shalat tahajud. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler juga bisa dimaksimalkan pelaksanaannya untuk memenuhi minat dan bakat siswa. Sehingga siswa yang tinggal di asrama mendapatkan banyak hal positif untuk diri mereka sebagai bekal untuk jenjang pendidikan selanjutnya.

Dari siswa yang tinggal di asrama ini, mereka banyak yang diterima di perguruan tinggi favorit dalam negeri dan juga luar negeri, termasuk perguruan tinggi kepolisian/militer dan kedinasan. Demikian pula dengan prestasi akademik dan non akademik yang dicapai oleh sekolah berasrama jauh lebih banyak. Seperti juara olimpiade sains dan juara di bidang lainnya.

Jadi, dari sekolah berasrama dihasilkan lulusan yang pintar secara akademis, berkarakter sehingga perilakunya pun membanggakan orangtua, hafal Alquran, ibadahnya pun bagus, dan memiliki keterampilan lainnya. Sehingga orangtua memiliki kepuasan batin melihat anaknya berhasil melalui proses pendidikan. Maka bisa dikatakan bahwa sekolah favorit itu adalah sekolah berasrama.

Namun pemprov juga menyadari bahwa untuk mengelola sekolah berasrama butuh biaya besar. Misalnya saja biaya untuk satu orang siswa dalam satu bulan bisa lebih dari satu juta rupiah. Dan ini tidak dibebankan semua biaya kepada orangtua siswa.

Itu baru biaya untuk siswa, belum bicara yang lainnya seperti pemeliharaan dan penyiapan sarana dan prasarana untuk siswa berasrama. Dan yang tak kalah beratnya adalah penyiapan dan penyediaan sumberdaya manusia (SDM) untuk sekolah berasrama yaitu tenaga pengajar yang bisa memenuhi waktu kegiatan di asrama, baik untuk akademis, keagamaan, keterampilan, dan lainnya.

Dengan keterbatasan dana dan juga tanggungan per siswa yang cukup besar, maka pemprov belum berani untuk menambah sekolah berasrama. Namun jika ternyata banyak orangtua siswa yang mau berkontribusi untuk anaknya, maka kemungkinan pemprov akan mempertimbangkan penambahan sekolah berasrama. Karena memang sekolah berasrama adalah sekolah yang ideal dan terbukti bisa memberikan yang terbaik kepada siswa.

Jika orangtua siswa bisa membiayai operasional bulanan anaknya di asrama, seperti yang sudah lazim terjadi di pondok pesantren, maka pemprov bisa lebih fokus menyiapkan dana untuk gaji guru dan penyiapan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Namun untuk hal seperti ini butuh proses dialog yang baik agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.

Semoga dengan adanya sekolah berasrama yang dikelola pemprov di berbagai kota bisa memberikan yang terbaik kepada siswa, orangtua, dan masyarakat sehingga kelak muncul pribadi-pribadi berkualitas yang menjadi pemimpin bangsa, negara dan agama. Dan dengan niat baik untuk menyiapkan generasi yang berkualitas mudah-mudahan pemprov bisa menambah lagi sekolah berasrama. Untuk itu kami mohon doa dan dukungan dari segenap elemen masyarakat guna mewujudkan niat yang mulia ini. *

272. 2018-05-11 [Singgalang] LGBT

Harian Umum Singgalang, 8 Mei 2018.

LGBT
Oleh Irwan Prayitno

Pada 23 April 2018 saya menghadiri Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Pemprov Sumbar dengan mengundang berbagai pemangku kepentingan terkait, baik dari provinsi maupun kota/kabupaten, termasuk LKAAM, MUI, dan tenaga medis. Topik bahasannya adalah tentang LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender).

Pembicaraan tentang LGBT ini mengingatkan saya tentang indeks demokrasi Sumbar yang sempat mendapat nilai rendah beberapa tahun lalu. Salah satu sebabnya karena adanya pejabat di Pemprov yang menyatakan penentangannya terhadap LGBT dan dimuat di media. Sumbar dinyatakan tidak demokratis karena dianggap menentang LGBT. Karena muncul anggapan bahwa menentang LGBT dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM).

Masyarakat Sumbar yang memiliki falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dalam kehidupan kesehariannya yang menjadikan Alquran dan Hadis sebagai rujukan. Termasuk dalam memandang keberadaan LGBT di lingkungan mereka. Ulama adalah pihak yang memiliki otoritas dalam menafsirkan Alquran dan Hadis. Seluruh ulama sunni dari berbagai mazhab memiliki pandangan yang sama bahwa LGBT bertentangan dengan ajaran Islam. Maka tidak heran jika masyarakat dan pemerintah di Sumbar tidak menginginkan hadirnya LGBT yang berdampak negatif, sebagai sebuah konsekuensi falsafah hidup masyarakat yang sudah ada sejak lama.

Menyikapi keberadaan LGBT di Sumbar maka perlu terlebih dahulu melihat data yang ada. Ada yang disebut estimasi, dan ada yang disebut data resmi. Data estimasi berasal dari penelitian dan kemudian dari temuan tersebut diperkirakan jumlah yang ada. Secara umum, jarang ada yang mau mengaku secara terbuka bahwa dia LGBT, maka angka estimasi dipakai untuk memperkirakan jumlah LGBT. Sedangkan data resmi di antaranya berasal dari pasien HIV/AIDS yang kemudian diketahui dia seorang LGBT, biasanya juga didapat dari data pasien di Rumah Sakit.

Untuk mengetahui seseorang adalah LGBT salah satu caranya adalah dengan melakukan pendekatan pribadi kepada orang yang diduga LGBT. Kemudian dari pendekatan tersebut ia mengakui dirinya LGBT, baik secara suka rela maupun terpaksa. Dari satu atau beberapa temuan tersebut kemudian dilakukan penghitungan berdasarkan indikator tertentu yang kemudian menghasilkan estimasi jumlah LGBT. Memang sangat memungkinkan ketika diwawancara atau mungkin menemui konselor dalam rangka konseling, seorang yang diduga LGBT menceritakan siapa saja “temannya” dan berapa jumlahnya. Namun hal seperti ini belum bisa dijadikan sebagai sebuah data valid karena lebih dominan bersifat kualitatif sehingga tidak bisa dijadikan basis data statistik yang bersifat kuantitatif. Tapi bisa menjadi peringatan akan dampak negatif yang akan muncul jika LGBT menular sehingga ditemukan orang-orang yang terkena HIV/AIDS dari perilaku seks menyimpang menyukai sejenis. Dari temuan orang yang terkena HIV/AIDS ini maka baru bisa direkap jumlah LGBT.

Oleh karena itu, dalam FGD tersebut, seorang konselor dari RS M.Jamil menjelaskan ada beberapa pendekatan dalam rangka menangkal LGBT ini, yaitu promotif, preventif dan kuratif. Promotif yaitu melakukan sosialisasi kepada publik, komunitas, masyarakat, pelajar, guru, remaja, orangtua, pedagang, swasta, awak angkutan, dan lainnya tentang apa itu LGBT , bahayanya bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, serta solusi mengatasinya.

Pendekatan preventif atau pencegahan. Di sini keluarga memegang peran penting upaya pencegahan. Dan konten atau muatan yang cocok untuk disampaikan dalam keluarga adalah ajaran agama, norma adat dan budaya. Jika sebuah keluarga memiliki orangtua yang memiliki pemahaman agama yang baik maka akan terhindar dari berbagai penyimpangan sosial dan nilai nilai agama juga budaya bisa ditanamkan kepada anak-anaknya. Maka keluarga itu akan sehat sehingga bisa mencegah masuknya paham sosial yang menyimpang seperti LGBT. Sebaliknya jika dalam sebuah keluarga, orangtuanya tidak memahami ajaran agama dan juga norma adat dan budaya, anak-anaknya pun akan terikut orangtuanya, dan ini rentan masuk pengaruh LGBT. Keluarga yang sehat juga akan memiliki imunitas terhadap LGBT ketika masing-masing anggota keluarga berinteraksi di lingkungan luar rumah seperti sekolah dan tempat kerja.

Pendekatan kuratif, yaitu pengobatan. Hal ini dilakukan ketika seseorang sudah terkena dampak negatif LGBT yaitu penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS. Di sini seorang LGBT diberikan pengobatan oleh dokter atau klinik yang berwenang, serta juga dilakukan konseling oleh konselor.

Dari orang yang sudah terkena HIV/AIDS, ternyata ada yang tidak merasa bersalah melakukan perilaku seks menyimpang tersebut, bahkan ketika sudah sakit pun tidak mau mengakui kesalahan yang sudah dilakukan. Sehingga tidak ada kemauan untuk berubah.

Dengan demikian, untuk menangkal LGBT perlu dilakukan bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat melalui tiga pendekatan tadi di bidang dan kewenangannya masing-masing. ***

273. 2018-05-16 [Padek] Ngutang, Kok Nantang?

Padang Ekspres, 16 Mei 2018

Ngutang, Kok Nantang?

Oleh Irwan Prayitno

Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, umat Islam senantiasa diingatkan oleh para penceramah agar menjadikan Ramadhan sebagai ajang peningkatan kualitas amal. Karena pada bulan Ramadhan segala amal dilipatgandakan balasannya. Dan khusus untuk puasa di bulan Ramadhan, Allah Swt sendiri yang memberikan balasannya.

Dengan meningkatkan amal dan juga puasa, serta menahan hawa nafsu diharapkan terjadi perubahan karakter seseorang menjadi lebih baik. Maka jika setiap tahun seseorang serius dan sungguh-sungguh menjalankan puasa dan amalannya, maka ia akan menjadi pribadi yang semakin baik.

Namun kadang di tengah kehidupan, kita juga mendapati bahwa puasa yang telah dilakukan seseorang dalam rentang waktu hidupnya ternyata tidak memberikan perubahan apa pun. Bahkan justru ketika puasa mungkin hanya sanggup untuk menahan haus dan lapar saja. Puasa tidak lagi dianggap sebagai sebuah momentum emas untuk memperbaiki kehidupan seseorang. Padahal berdoa di bulan puasa dengan sungguh-sungguh kepada Allah Swt insya Allah akan dibalas lebih baik kualitasnya dibanding bulan lain. Jika Allah Swt yang memberikan ia rezeki sudah tidak dianggap lagi, maka begitu pula terhadap manusia.

Misalnya saja, seseorang yang berutang kepada orang lain. Di satu sisi ia mesti bersyukur kepada Allah Swt karena masih ada orang yang dengan baik hati memberikan pinjaman uang kepadanya. Karena itu sesungguhnya terjadi atas izin Allah Swt. Sehingga ia patut bersyukur. Namun yang terjadi kemudian, ketika orang yang memberi pinjaman menanyakan pengembalian pinjaman kepada  si peminjam, yang meminjam justru menghindar, marah, seolah ia yang dipojokkan dan merasa terhina, sehingga ia tidak terima dan menantang si pemberi pinjaman karena dianggap menzalimi dirinya.

Hal seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Dan kasus demikian biasanya si pemberi pinjaman berperilaku baik dan memiliki itikad baik memberikan pinjaman, sedangkan peminjam di kemudian hari justru berperilaku buruk dan menunjukkan itikad tidak baik.

Bagi Allah Swt, sangat mudah membalikkan nasib seseorang dari baik menjadi buruk dan sebaliknya. Allah Swt mengubah nasib seseorang baik dalam rangka menguji maupun memberi balasan. Bagi orang yang merasa diuji, ia akan bersangka baik kepada Allah Swt. Sedangkan bagi yang diberi balasan, ia akan jauh dari Allah Swt. Ketika nasibnya baik, ia sudah jauh dari Allah Swt, maka ketika nasibnya buruk ia semakin jauh dari Allah Swt. Orang yang demikian ketika puasa, maka puasanya hanya sekedar menahan haus dan lapar saja. Ketika azan maghrib berkumandang, nafsunya tak terbendung, perilakunya yang lain pun kembali seperti semula seiring berkumandanganya azan maghrib. Sementara amal ibadahnya yang lain seperti salat, baik salat wajib berjamaah, salat tarawih, shalat tahajud, tidak memberikan bekas sama sekali kepada perbaikan perilakunya. Termasuk juga jika ia rajin membaca Alquran sekalipun.

Berbicara Alquran, maka saya pada 10 Mei 2018 membuka MTQ (Musabaqah Tilawatil Quran) Nasional tingkat Kota Payakumbuh. MTQ seperti ini juga dilaksanakan di berbagai kota/kabupaten dan juga kecamatan. Dengan MTQ yang rutin dilaksanakan di berbagai tempat tersebut maka harapannya akan terjadi perbaikan perilaku, baik bagi yang membaca atau ikut lomba maupun yang mendengar termasuk panitia dan juri. Maka, ketika ada oknum pada sebuah ajang MTQ di tempat lain di waktu lampau yang membuat keputusan memberikan kemenangan kepada seseorang atau kelompok padahal bukan dia pemenangnya, substansi MTQ menjadi kehilangan makna. Bahkan muncul karakter negatif dalam ajang MTQ tersebut. MTQ yang seharusnya ajang berlomba dalam kebaikan malah menjadi ajang mencari kemenangan dengan cara yang tidak patut. Membaca Alquran yang seharusnya memberi kebaikan berubah menjadi hal yang tidak baik, tanpa disadari.

Ada pula kasus lain, seseorang rajin salat, rajin ibadah, rajin baca Alquran, baik perilakunya, namun menelantarkan anak istri dengan alasan keagamaan. Ia ingin mencontoh Nabi Ibrahim as yang meninggalkan Hajar dan Ismail, namun sayangnya ia keliru dalam memahami sejarah. Anak istrinya hidup susah, sedangkan dirinya pergi untuk sebuah kegiatan yang menurutnya merupakan kebaikan dalam agama. Sesuatu yang baik dalam agama sesungguhnya tidak menjadikan orang lain terlantar atau terzalimi. Ini artinya ada kesalahan dalam memahami ajaran agama.

Oleh karena itu, di bulan Ramadhan yang penuh berkah, tahun ini kita beruntung masih bisa menjalani ibadah puasa dan lainnya, sudah sepantasnya memanfaatkannya kali ini untuk memperbaiki perilaku dan meningkatkan amal ibadah. Rajin beramal yang diiringi perilaku buruk menunjukkan betapa kerasnya hati seseorang. Sebaliknya rajin beramal diiringi perbaikan perilaku menunjukkan adanya hidayah dari Allah Swt. Hidayah memang hak Allah Swt, tapi manusia bisa berusaha mendapatkannya.

Dalam hubungan antarmanusia, perilaku mulia akan membawa kebaikan bagi sesama. Sedangkan keburukan kepada sesama akan menimbulkan ketidakharmonisan sosial. Sehingga perilaku mulia dalam hal ini menjadi suatu prioritas dibanding ibadah seseorang yang bersifat hubungan vertikal kepada Tuhan.

Rasulullah Saw adalah contoh manusia yang perilaku dan ibadahnya jalan seiringan, sehingga banyak orang masuk Islam bukan disebabkan karena ibadah Rasulullah Saw, tapi karena melihat dan merasakan perilaku mulia yang ditunjukkan Rasulullah Saw. Maka sudah sepantasnya puasa seseorang yang bertujuan mencapai derajat ketakwaan turut memperbaiki perilakunya terlebih dahulu sebagai makhluk sosial tanpa meremehkan urusan ibadahnya yang lebih bersifat individual dan vertikal.***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 16 Mei 2018

274. 2018-05-19 [Pos Metro] Sejahtera dengan Puasa

Pos Metro, 19 Mei 2018

Sejahtera dengan Puasa

Oleh Irwan Prayitno

Alhamdulillah, kita kembali bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Bulan yang di dalamnya turun Alquran, dan malam lailatul qadar menjadi malam yang dicari-cari oleh mereka yang ingin mendapatkan keutamaan puasa. Begitu banyak hal yang meningkat pahalanya di bulan Ramadhan, dan Allah Swt sendiri yang memberikan balasan ibadah puasa hambaNya.

Bagi orang yang jeli dalam memandang Ramadhan dan amalan yang bisa dilakukan di dalamnya, maka Ramadhan adalah bulan yang paling baik untuk beramal dan meningkatkan kesejahteraan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  V sejahtera artinya aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan).

Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata: “Nabi Saw adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan padanya Alquran. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Alquran. Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Saad bin Abi Waqash, Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Dermawan, cinta kepada kedermawanan, dan Maha Pemurah, cinta kepada kemurahan hati”. (HR. At Tirmidzi).

Kedermawanan Allah Swt kepada hambaNya di bulan Ramadhan ditunjukkan dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, di mana di bulan lain tidak ada hal yang demikian. Demikian pula dengan kedermawanan yang dicontohkan Rasulullah Saw, yang mengisyaratkan bahwa kebaikan atau kedermawanan yang dilakukan di bulan Ramadhan akan jauh lebih baik manfaatnya bagi yang melakukan.

Dari sisi ibadah, baik salat, puasa, tarawih, tahajud, membaca Alquran yang dilakukan di bulan Ramadhan, jika dilakukan dengan mengharap ridha Allah Swt maka insya Allah akan memberikan kebaikan bagi yang melakukannya. Demikian pula jika dilihat dari sisi amal perbuatan, seperti kedermawanan yang dilakukan dengan berbagai cara seperti sedekah maupun memberikan bantuan kepada orang lain, insya Allah akan memberikan kebaikan bagi pelakunya.

Selain itu puasa juga memberikan dampak positif bagi kesehatan, baik kesehatan mental dan kesehatan fisik. Dan ini sudah banyak dibahas oleh para ahli di bidang kedokteran dan kesehatan tentang dampak positif berpuasa.

Maka, jika kita melaksanakan berbagai amal ibadah di bulan Ramadhan, insya Allah akan menjadikan diri kita sejahtera, baik lahir maupun batin. Puasa yang kita jalankan akan membuat kita semakin sehat dan jauh dari penyakit. Sudah banyak orang yang menyebut bahwa sehat itu tak ternilai harganya. Maka sudah sepantasnya kita mensyukuri nikmat sehat yang diberikan Allah Swt kepada kita. Sedangkan salat, baik wajib maupun sunat, membaca Alquran, kelak akan kita rasakan pada diri kita ketenangan, kelapangan hati, yang diberikan Allah Swt kepada kita. Dan bagi banyak orang saat ini, ketenangan dan kelapangan hati sungguh sangat mahal harganya, bahkan bagi mereka yang memiliki uang banyak pun belum tentu bisa mendapatkan ketenangan dan kelapangan hati.

Selain itu, kedermawanan yang berupa sedekah, memberikan hidangan buka puasa, menolong orang yang kesulitan akan dilipatgandakan balasannya. Salah satu orang yang sering menyampaikan betapa hebatnya balasan dari bersedekah adalah ustad Yusuf Mansur. Berbagai cerita dan testimoni tentang balasan dari bersedekah bisa kita dapatkan dari saluran media sosialnya.

Islam adalah ajaran yang juga menjadikan umatnya sejahtera. Maka untuk sejahtera itu mereka harus mengikuti apa yang menjadi perintah dan larangan dalam Islam. Perintah dan larangan tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan umatnya sejahtera lahir dan batin. Sayangnya umat Islam sendiri yang kadang yang kurang serius dalam menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang sehingga kesejahteraan yang seharusnya mereka bisa capai menjadi hilang.

Seperti halnya puasa, bahwa jika hanya puasa sekedar menahan lapar, haus dan syahwat, tanpa diikuti dengan amal ibadah lainnya dan ketentuan yang berlaku, belum tentu bisa menjadikan seseorang sejahtera hidupnya. Namun jika puasa yang dilaksanakan juga diikuti menahan nafsu ketika berbuka agar tidak berlebihan (menjaga pola makan sehat), melaksanakan salat wajib dan  sunat (duha, tarawih, tahajud), membaca Alquran, bersedekah, maka insya Allah ia akan sejahtera lahir dan batin.

Semoga pada Ramadhan kali ini kita bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas amal ibadah sehingga bisa meraih derajat takwa. Dan dengan mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam beramal ibadah di bulan Ramadhan mudah-mudahan kita bisa sejahtera lahir dan batin. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa.***

275. 2018-05-22 [Singgalang] Inflasi dan Ramadhan

Padang Ekspres, 22 Mei 2018

Inflasi dan Ramadhan

Oleh Irwan Prayitno

Pada 15 Mei 2018 lalu, saya mengikuti High Level Meeting TPID dengan Kepala BI Perwakilan Sumbar, para Bupati dan Wali Kota, dan para Kepala OPD, yaitu rapat dalam menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri agar inflasi bisa terkendali. Hadir juga dalam acara tersebut para pemangku kepentingan lainnya dan pihak-pihak terkait seperti Bulog, Garuda Indonesia, dan Pertamina.

Setiap tahun, khususnya Ramadhan dan Idul Fitri selalu terjadi kenaikan harga yang mendorong kenaikan inflasi. Khususnya harga-harga makanan. Sesuai hukum permintaan, kenaikan permintaan di mana persediaan barang relatif tetap menyebabkan terjadinya kenaikan harga. Untuk menyikapi hal tersebut kami melakukan pendekatan dari sisi persediaan atau suplai.

Kami melakukan pendataan persediaan pangan di kota dan kabupaten, juga melakukan pendataan persediaan BBM. Dari pendataan tersebut disimpulkan bahwa persediaan yang ada mencukupi, baik pangan dan kebutuhan pokok lainnya serta BBM. Maka dari sisi persediaan kami anggap aman. Jika nanti terjadi kenaikan harga, maka kami pun sudah menyiapkan langkah antisipasi seperti operasi pasar dan pasar murah.

Namun kami tak menutup mata bahwa setiap bulan Ramadhan terjadi lonjakan kenaikan permintaan dibanding bulan-bulan lainnya. Meskipun persediaan bisa diantisipasi, di lapangan harga tetap naik akibat kenaikan permintaan yang melonjak. Karena pada waktu ini banyak orang melakukan pembelian lebih banyak dibanding bulan-bulan sebelumnya. Maka untuk mengantisipasi hal ini semakin membesar, kami juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai kanal agar tidak berbelanja berlebihan, tidak melakukan konsumsi dalam jumlah banyak dan  bersisa, dan tidak melakukan kemubaziran. Baik melalui OPD terkait, majelis taklim, para dai/penceramah, juga melalui media cetak, penyiaran, media sosial dan lainnya.

Hal semacam ini memang perlu diingatkan terus kepada masyarakat, bahwa kita berpuasa di bulan Ramadhan adalah untuk menahan dan mengendalikan diri, termasuk dalam konsumsi makanan dan juga berbelanja. Baik di waktu siang maupun malam. Makanan maupun minuman yang dikonsumsi berlebihan maupun yang terbuang pada waktu berbuka hingga sahur menjadikan puasa menjadi kehilangan maknanya yang hakiki.

Puasa yang mengajarkan kita untuk mengendalikan diri ternyata dimaknai justru sebaliknya, melemahnya kontrol diri dalam berbelanja dan berkonsumsi. Sehingga data statistik yang muncul hampir setiap tahun menunjukkan terjadinya pembelian yang lebih banyak. Selain melemahnya kontrol diri dalam berbelanja, kenaikan harga yang mendorong inflasi juga menyebabkan golongan masyarakat yang kurang mampu mengalami kesulitan dalam berbelanja kebutuhan hariannya. Maka puasa yang tadinya mengajak umat untuk berempati merasakan kesulitan kaum dhuafa justru menjadikan kaum dhuafa mengalami kesulitan dalam berbelanja kebutuhan hariannya akibat kenaikan harga.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mengajak diri saya sendiri dan juga para pembaca, serta seluruh masyarakat, marilah kita jadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai ajang untuk mengendalikan diri dalam berbelanja, berkonsumsi, sehingga puasa kita bisa lebih baik kualitasnya. Baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain atau masyarakat. Dengan mengendalikan diri dalam berbelanja dan berkonsumsi, tidak terjadi permintaan yang melonjak sehingga harga pun cenderung stabil dan tidak naik, sehingga hal ini membantu mereka yang kurang beruntung untuk bisa tetap memenuhi kebutuhannya serta membantu masyarakat lainnya yang juga sulit berbelanja jika harga naik. Selain itu, bagi masing-masing individu mengendalikan konsumsi akan menjadikan tubuh dan jiwa lebih sehat.

Jika kita bersama-sama berusaha mengendalikan keinginan berbelanja dan berkonsumsi sebagai bentuk pengendalian diri dan menahan hawa nafsu, insya Allah akan datang kebaikan kepada kita yang tidak kita sangka-sangka. Karena kalau bukan kita yang melakukannya, tak bisa kita harapkan dari pihak luar. Dan kebaikan bersama yang dilakukan insya Allah membawa lebih banyak dampak positif.

Hal ini seperti yang difirmankan Allah Swt dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Semoga puasa kita di bulan Ramadhan tahun ini lebih memberikan makna kepada diri dan juga membawa kebaikan kepada masyarakat. Karena Islam adalah agama yang ajarannya penuh dengan ajakan untuk melakukan kebaikan yang berdampak positif bagi masyarakat.  ***

276. 2018-05-30 [Singgalang] Ada Apa dengan Minang

Ada Apa dengan Minang

Sabtu, 26 Mei 2018 lalu di Grup Whats App (WAG) SKPD/OPD Pemprov yang saya termasuk anggotanya, masuk sebuah tulisan dengan judul “Di Sumbar Tak Mudah Jadi Pemimpin” yang ditulis oleh Emeraldy Chatra. Tulisan ini menjadi diskusi hangat di WAG tersebut. Saya juga mendapat informasi bahwa tulisan tersebut juga hangat dibicarakan di beberapa media sosial. Inti dari tulisan itu menyatakan bahwa sulit menjadi pemimpin di Sumbar karena adanya karakter orang Minangkabau (selanjutnya disebut Minang) yang disebut: teman banyak tapi kawan tak ada. Artinya, kenalan atau teman itu banyak, tapi yang susah adalah kawan sepenanggungan yang sulit dicari. Secara umum, orang Minang dalam memilih pemimpin adalah dengan mempertimbangkan takah, tokoh, dan tageh. Maka yang mampu memunculkan tiga hal tersebut ia bisa dipilih menjadi pemimpin.

Pada era 1980an, ketika saya kuliah di Fak. Psikologi UI, Dr. Sunarsih Warnaen seorang dosen Psikologi Sosial di Fak. Psikologi UI membuat disertasi yang cukup heboh terkait karakter orang Minang yang disebutnya licik. Hal ini sempat menimbulkan gelombang protes dan demonstrasi dari orang Minang rantau dan ranah. Karakter suatu masyarakat dapat dibentuk melalui lingkungan sosial, adat dan budayanya. Dan karakter suatu etnis bisa jadi berbeda dengan etnis lain. Sebagai contoh, ketika saya bersama rombongan pemprov mengunjungi suatu masjid untuk suatu kegiatan pemerintahan, yang menyambut kami adalah pejabat pemerintah dan pengurus masjid. Sedang jamaah masjid atau masyarakat tetap berada di tempat mereka duduk. Kami menyalami mereka satu persatu. Kami berdiri, mereka duduk.

Berbeda hal jika seorang gubernur di pulau Jawa mengunjungi suatu masjid, yang menyambutnya mungkin tidak hanya pejabat pemerintah dan pengurus masjid, tapi juga masyarakat dan jamaah berdiri ikut menyambut. Perbedaan ini mungkin timbul karena perbedaan adat, budaya dan lingkungan yang berdampak kepada karakter masyarakat.

Sulit menyebut mana yang positif dan negatif. Karena boleh jadi apa yang ada di Sumbar itu dianggap positif bagi masyarakat setempat. Demikian pula apa yang terjadi di pulau Jawa juga dianggap positif bagi masyarakat setempat. Di samping itu, bisa pula yang di Sumbar dinilai negatif, dan di pulau Jawa juga dinilai negatif. Sebuah perilaku yang muncul bisa dinilai positif atau negatif tergantung latar belakang, keinginan dan kepentingan, dan kemana ditujukan.

Misalnya saja, orang Minang dikenal sebagai pengkritik, yaitu kritis terhadap apa yang dirasakan dan dilihat, baik dalam menilai kebijakan pemerintah maupun lingkungan sekitar, serta hal lainnya. Kritik dilontarkan karena ada ide atau gagasan yang ingin disampaikan, di mana ide yang dimiliki orang lain dianggap memiliki kekurangan sehingga perlu dikoreksi. Ketika kritik menjadi cemeeh (cemooh) yang mengedepankan kemarahan dan nada merendahkan maka yang muncul bukan lagi hal positif, tapi negatif. Sehingga ada yang menyebut orang Minang sebagai pencemeeh (pencemooh) di satu sisi, dan pengkritik di sisi lain.

Orang Minang juga dipersepsikan sebagai orang pelit. Saya pernah mengalami hal tersebut ketika hidup di rantau di mana lingkungan sekitar ada yang menyebut orang Minang itu pelit. Mungkin saja anggapan itu muncul ketika seseorang bergaul dengan sebagian kecil orang Minang yang kedapatan pelit, seperti dalam masalah pemberian sumbangan untuk kegiatan sosial. Persepsi negatif ini mungkin saja benar, namun tidak seluruhnya benar. Karena orang Minang juga dikenal memiliki perhitungan angka yang matang dan berhemat. Ketika menjadi Ketua Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, teman-teman saya anggota dewan mempercayakan kepada saya bersama Bpk. Fasli Jalal dari Departemen Pendidikan untuk melakukan penghitungan anggaran (APBN) terkait bidang pendidikan yang dipimpin pak Fasli. Mereka menganggap bahwa kami berdua memiliki kemampuan yang baik dalam berhitung.

Ada pula orang yang menyebut  bahwa orang Minang banyak omong/bicara (banyak ota). Karakter orang Minang memang banyak bicara, banyak berkomunikasi. Karena untuk kasus tertentu, orang banyak omong ini disebut pembual. Tapi untuk kasus lain, orang Minang yang banyak omong adalah mereka para politisi, pelobi, guru, dosen, penceramah, seniman, budayawan, wartawan, sastrawan, pengamat, intelektual, diplomat, pedagang, dan lainnya.

Dari beberapa data statistik, tersebutlah bahwa orang Minang tidak cepat puas atau kepuasaannya rendah. Sebetulnya orang Minang itu cenderung dengan perubahan dan ingin sesuatu yang baru. Sehingga tidak cukup kalau pendidikan hanya tamat SMA, tapi ingin melanjutkan ke S1. Dan jika tamat S1 ingin melanjutkan ke S2, dan seterusnya.

Ada juga yang menyebut bahwa orang Minang ini, misalnya pedagang, tidak mau bekerja sama. Berbeda dengan pedagang yang berasal dari etnis lain yang bisa bekerja sama. Terkesan orang Minang egois. Boleh jadi itu benar. Tapi boleh jadi hal itu juga sebagai tanda bahwa mereka ingin mandiri dan independen.

Orang Minang dianggap sebagai orang licik. Boleh jadi ini benar, ditemui di segelintir orang minang. Tapi banyak pula mereka yang cerdik. Dua hal yang berbeda, tapi sering dianggap sama. Ini artinya, dari uraian uraian di atas karakter mana yang diambil merupakan pilihan masing-masing orang.

Jika melihat daftar orang Minang yang ditetapkan menjadi pahlawan nasional, jumlah mereka lebih dari 10 persen jumlah total pahlawan nasional se-Indonesia. Padahal etnis Minang hanya berjumlah sekitar 2,5 persen dari jumlah total penduduk Indonesia. Banyak orang luar justru mengapresiasi peran para pahlawan nasional dari ranah Minang ini. Termasuk di antaranya Wapres RI Bpk. Jusuf Kalla yang sering menyampaikan dalam berbagai forum, bahwa pahlawan nasional dari ranah Minang lebih banyak menggunakan otaknya dalam berjuang, dan juga mereka yang bukan pahlawan nasional tapi sukses di bidangnya masing-masing.

Dengan melihat apresiasi orang luar terhadap pahlawan nasional dari ranah Minang, ini menandakan bahwa orang Minang memiliki karakter positif sehingga bisa sukses dalam hidupnya. Tidak hanya pahlawan nasional, tetapi juga dalam kehidupan terkini.

Dalam bidang politik, di banyak daerah pemilihan di Indonesia, dari berbagai partai politik, terdapat orang Minang di dalamnya. Juga termasuk para pimpinan partai politik, ada orang Minang di dalamnya. Demikian pula para pedagang, juga banyak yang meraih keberhasilan, dan mereka ada di mana-mana. Dan juga dosen, guru, penceramah, intelektual, pengamat, sastrawan, budayawan, seniman, serta profesi lainnya.

Dengan melihat uraian tentang karakter orang Minang yang sering dipersepsikan negatif oleh orang lain, dan fakta lain yang juga muncul, maka orang Minang yang berhasil adalah mereka yang memiliki karakter positif seperti cerdik, mandiri, independen, pintar berkomunikasi, memiliki perhitungan yang matang, dan mampu memberikan kritik konstruktif, serta egaliter. Maka, jika ada orang yang mempersepsikan orang Minang dari sisi sebaliknya, boleh jadi karena karakter negatif yang memang menjadi pilihan dari orang yang diamati. Mereka memilih hidup dengan berbagai karakter negatif yang sebenarnya merugikan diri sendiri dan tidak bisa memunculkan kesuksesan. Maka ibarat sebuah koin mata uang, karakter positif dan negatif dari suatu perilaku itu memang hidup di kalangan orang Minang. Dan sebenarnya, karakter negatif pun terjadi di semua etnis, tidak hanya orang Minang. Di etnis lain pun ada orang yang suka mencemooh, licik, banyak omong, pelit, dan lainnya.

Dalam beberapa sambutan yang saya berikan tentang adat dan budaya, saya menyampaikan bahwa adat dan budaya itu suatu sistem yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Di Minang muncul dan tumbuh adat dan budaya. Kesuksesan orang Minang terjadi karena melaksanakan adat dan budaya yang kemudian memunculkan karakter positif. Maka saya memberanikan diri menyatakan bahwa mereka yang hidup dan tumbuh dengan budaya Minang, insya Allah akan bisa mengaktualisasikan dirinya seperti halnya para pahlawan Nasional dari ranah Minang yang sudah mencontohkannya. Oleh karena itu, mari arahkan kehidupan kita kepada hal yang positif agar mendapatkan kesuksesan.

Dalam surat As-Syams ayat 8-10 Allah Swt berfirman yang artinya, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 30 Mei 2018

277. 2018-06-07 [Singgalang] Puasa Menenteramkan Jiwa

Puasa Menenteramkan Jiwa

 

Seorang Youtuber asal Korea dengan nama akun Ujung Oppa pada 26 Mei 2018 melalui saluran videonya menceritakan bahwa setelah dirinya ikut berpuasa beberapa hari seperti yang dilakukan muslim di Indonesia dan mendengarkan salawat ratusan kali tanpa bosan, ia merasakan dirinya tenang, sejuk, tidak hampa. Ujung Oppa adalah seorang Youtuber Korea berbahasa Indonesia, dan penggemarnya kebanyakan orang Indonesia.

Apa yang dinyatakan Ujung Oppa adalah salah satu bukti bahwa dengan melakukan dzikrullah (mengingat Allah) hati menjadi tenteram. Jika seorang yang non muslim saja bisa merasakan kententeraman jiwa, maka sudah pasti seorang muslim yang melakukannya juga akan mendapatkan ketenteraman.

Dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 Allah berfirman yang artinya, “(yaitu) orang-orang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.

Perintah puasa yang bertujuan akhir menjadikan diri seorang muslim sebagai manusia yang bertakwa merupakan sebuah perbuatan mulia. Allah Swt yang menciptakan manusia, adalah Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk manusia.

Puasa secara umum bisa dilakukan oleh berbagai ragam manusia. Dan dengan beragam pola dan bentuk puasa yang dijalani, seperti puasa dari makanan tertentu, puasa hanya minum air putih saja, puasa untuk periksa kesehatan, dan lainnya. Adapun puasa yang diperintahkan Allah Swt adalah menahan makan, minum dan hawa nafsu sejak subuh hingga maghrib, serta mengisinya dengan amal ibadah.

Dengan berpuasa, tubuh yang biasanya menjalani proses pencernaan sepanjang hari mengalami penurunan kegiatan. Maka detoksifikasi mengalami peningkatan. Tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup, dan sel-sel tubuh melakukan regenerasi.

Tubuh yang makin baik kondisinya, akan menyebabkan kesehatan juga meningkat. Semakin baik kesehatan seseorang maka ia akan semakin nyaman, tenteram. Sebaliknya jika seseorang mengalami sakit maka ia akan merasakan ketidaknyamanan, tidak merasa tenteram.

Seorang yang menjalani puasa, emosinya akan berkurang dibanding jika ia tidak puasa. Maka, puasa juga bermanfaat untuk mengendalikan emosi sehingga akan bisa menahan amarah. Rasulullah Saw bersabda, “Jangan marah, maka bagimu surga” (HR. Thabrani). Ternyata dengan puasa, selain bisa mengendalikan emosi seseorang balasannya juga surga. Jika kita mampu dan sering mengendalikan emosi, ketenteraman akan muncul, dan insya Allah akan menjadi jalan menuju surga.

Dalam Hadis Nabi Saw yang diriwayatkan Ahmad disebutkan, “Tidaklah seseorang menahan amarah, karena Allah, kecuali rongganya akan dipenuhi keimanan”. Sementara dalam Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud disebutkan, “Allah akan memenuhi perutnya dengan ketenangan dan keimanan”.

Perintah puasa pada bulan Ramadan selama satu bulan penuh juga diiringi dengan pesan untuk meningkatkan sedekah dan amal ibadah. Maka dampak positif dari puasa itu seharusnya adalah ketenteraman yang berlipat. Jika dari tubuh akan memberikan kenyamanan dan ketenteraman karena semakin sehat, maka dari amal ibadah juga akan memberikan ketentraman hati, seperti yang dinyatakan pada surat Ar-Ra’d ayat 28 di atas.

Sedangkan dari sedekah, selain balasannya di dunia dan akhirat, juga memberikan ketenteraman hati. Sudah banyak orang yang memberikan kesaksian bahwa dengan berbagi (sharing) atau bersedekah akan memberikan kepuasan hati, yang tidak bisa diganti dengan yang lain, dan tak bisa dinilai harganya.

Maka, sangat pantaslah jika Allah Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 183 menyebut bahwa kewajiban berpuasa bagi orang beriman adalah menjadikan mereka sebagai orang bertakwa. Jika ketentraman sudah didapat, insya Allah takwa pun bisa diraih. Semoga kita bisa meraihnya. Aamiin.

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 7 Juni 2018

 

278. 2018-06-13 [Padek] Lebaran dan Pariwisata Sumbar

Lebaran dan Pariwisata Sumbar

Pemprov Sumbar bersama pemkab/kota saat ini sedang gencar-gencarnya menggerakkan dan menata sektor pariwisata, termasuk destinasi wisata potensial sebagai bagian dari pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan. Hal ini sejalan dengan program pemerintah pusat yang ingin memajukan pariwisata di Indonesia.

Sumbar telah mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat berupa Destinasi Wisata Halal Terbaik, Destinasi Kuliner Halal Terbaik, keduanya diberikan tahun 2016 oleh Kementerian Pariwisata RI.

Di samping itu, dalam ajang tingkat dunia The World Halal Tourism Award 2016, Sumbar juga mendapat apresiasi sebagai World’s Best Halal Destination dan World’s Best Halal Culinary Destination.

Dalam survei Indeks Pariwisata Muslim Global (Global Muslim Travel Index, GMTI) yang dikeluarkan pada 2018 dan meliputi 130 negara di dunia, Indonesia berada di urutan ke-2. Tentunya hal ini sangat membanggakan dan memotivasi kami di daerah untuk turut berperan aktif memajukan sektor pariwisata. Alhamdulillah sektor pariwisata masuk dalam RPJMD Sumbar dan dibentuk sebuah gerakan yang terus menerus memikirkan dan berkontribusi terhadap kemajuan pariwisata Sumbar.

Dengan gencarnya pemprov bersama pemkab/kota mengembangkan destinasi wisata potensial, kami mendapat berbagai testimoni dari wisatawan yang mengunjungi Sumbar bahwa Sumbar memiliki alam yang indah dan sangat layak untuk dikunjungi. Termasuk juga testimoni tentang kuliner yang sangat lezat dan sudah dikenal luas oleh orang Indonesia serta masyarakat global, seperti terkenalnya rendang di dunia dan sempat menjadi makanan terlezat di dunia versi CNN Travel.

Adat dan budaya juga sudah menjadi daya tarik bagi wisatawan selain daya tarik alam di Sumbar, baik danau, laut, gunung, bukit, lembah, sungai, air terjun dan lainnya.

Di momentum lebaran, para perantau banyak berdatangan, semakin menambah semaraknya lebaran di Sumbar. Dan bisa dipastikan mereka pun selain ke kampung halamannya juga mengunjungi berbagai destinasi wisata yang ada di Sumbar. Hal ini berdampak positif bagi masyarakat yang ada di sekitar destinasi wisata yang menjajakan dagangannya atau pun jasanya kepada wisatawan yang datang.

Dengan demikian, untuk memberikan kenyamanan kepada perantau maupun masyarakat dan wisatawan, kami berusaha maksimal mewujudkan hal tersebut. Di antaranya bekerjasama dengan kepolisian untuk memberikan rasa aman dan juga mengatur lalu lintas yang cenderung padat agar tetap bisa berjalan baik dan lancar.

Di samping itu kami telah mengimbau kepada pemilik/pengelola restoran/rumah makan untuk menginformasikan harga dagangannya, agar diketahui konsumen sehingga konsumen nyaman dan tidak terbohongi dalam berwisata kuliner. Alhamdulillah, semakin banyak pelaku usaha yang telah memasang daftar harga dagangannya. Kami apresiasi hal ini.

Selain itu kami memberikan apresiasi kepada pemkab/kota yang telah menata parkir di destinasi wisata dengan pendekatan persuasif. Mudah-mudahan pengunjung bisa semakin menikmati kegiatan wisatanya. Harapannya, para wisatawan termasuk perantau yang datang ke destinasi wisata tersebut ketika balik ke kampungnya bersemangat menceritakan kunjungan mereka.

Harapan kami, insya Allah pada lebaran tahun ini, dengan kebersamaan yang telah dibangun antara pemprov, pemkab/pemko serta masyarakat dan dukungan dari pemerintah pusat dalam mengembangkan sektor pariwisata, kondisi akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Insya Allah, jika kita semua mampu menciptakan kondisi yang baik di berbagai destinasi wisata, maka kesejahteraan pun akan semakin meningkat. Karena itu merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah Swt. Seperti janji Allah Swt bahwa jika kita bersyukur akan ditambah nikmatNya kepada kita. Selamat menikmati lebaran dan liburan di Sumbar bagi perantau, wisatawan dan masyarakat. Semoga kita bisa saling menjaga dan menghargai satu sama lain. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 13 Juni 2018

279. 2018-06-13 [Posmetro Padang] Lebaran, Saling Memaafkan

Lebaran, Saling Memaafkan

Alhamdulillah, kita telah sampai di penghujung bulan Ramadan. Bulan yang di dalamya ada ampunan dari Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa melakukan puasa Ramadan karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak hanya melakukan puasa, yang melakukan salat malam pun akan mendapatkan ampunan Allah Swt. “Barangsiapa melakukan salat malam Ramadan (tarawih dan witir) karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw bersabda, “Tiada seorang hamba pun yang melaksanakan salat lima waktu, melaksanakan puasa Ramadan dan menjauhi tujuh dosa besar, melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga pada hari kiamat, sampai suara pintu-pintu surga itu berderit-derit”. Kemudian Rasulullah Saw membacakan surat An-Nisa ayat 4 yang artinya, “JIka kalian menjauhi dosa-dosa besar yang kalian diperintahkan untuk menjauhinya, niscaya Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil) kalian” (HR. An-Nasai, Al-Hakim, Ibnu Hibban).

Berpuasa sebulan penuh dengan pola dan waktu makan yang berubah di satu sisi telah menjadikan tubuh memiliki istirahat yang cukup lama, dari subuh hingga maghrib. Tubuh diajak untuk mengurangi tenaga yang dihasilkan sehingga menyebabkan jiwa mampu mengendalikan amarah. Selain itu jiwa dan akal diajak untuk merasakan bagaimana menjadi kaum dhuafa, yang hidup kekurangan, termasuk kurang dalam memenuhi makannya. Dan di ujung bulan Ramadan, hingga sebelum salat Iedul Fitri, baik kaya maupun miskin diwajibkan membayar zakat fitrah, yang mencerminkan bahwa kepedulian dalam Islam bukan bagi yang mampu dan berada saja, tetapi juga bagi yang lemah dan kekurangan. Siapa saja tanpa kecuali mesti memberi dan peduli kepada sesama.

Selama sebulan, tubuh, jiwa dan akal mengikuti kegiatan ibadah puasa, diajak untuk berpikir, merasakan dan mengimani firman Allah Swt dan sabda Rasulullah Saw. Maka jika proses itu semua diikuti dengan baik insya Allah akan memunculkan ketundukan dan kepasrahan kepada Allah Swt yang jauh dari kesombongan, memunculkan perasaan yang empati kepada sesama sehingga amarah berganti dengan keinginan untuk memberi sekaligus meminta maaf, memunculkan jiwa yang sepertinya lahir kembali sehingga siap untuk menjadi pribadi yang takwa yaitu mematuhi segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Maka , betapa nikmatnya ketika kita usai melaksanakan puasa kemudian keesokan paginya melaksanakan salat ied dengan diawali mengumandangkan kebesaran Allah Swt. Ada kebahagiaan yang tak bisa dinilai dengan materi. Ada jiwa yang merasakan ketenangan, kenyamanan, dan nikmatnya bersaudara, bermasyarakat. Sehingga setelah salat ied dengan tulus ikhlas kita saling memberi maaf dan saling meminta maaf.

Suasana silaturahmi yang kental dengan keakraban, kehangatan, keikhlasan, merupakan dampak dari puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh. Sungguh suatu proses yang demikian baiknya yang diberikan Allah Swt kepada hambaNya. Di Indonesia, semangat silaturahmi ini ditradisikan dengan kegiatan open house maupun halal bihalal. Baik dalam lingkup sekolah, kantor, alumni, dan lainnya.

Kita merasakan suasana yang memberikan energi baru untuk melanjutkan kehidupan dengan bersilaturahmi. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung tali silaturahmi” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga puasa kita pada tahun ini diterima Allah Swt, demikian pula ibadah kita yang lainnya, termasuk zakat, infak dan sedekah. Dan dengan saling memberi dan meminta maaf, semoga kita menjadi manusia yang lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan sehingga bisa meraih kesuksesan yang diridai Allah Swt.

Di samping itu, semoga kita bisa membudayakan memberi maaf dan meminta maaf, tidak saja di saat lebaran, tetapi juga di waktu lain. Kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja, mari kita selalu budayakan minta maaf dan beri maaf.

Bagi para perantau yang berlebaran di kampungnya pada tahun ini, semoga suasana silaturahmi di kampung bisa menjadi penyemangat ketika kembali ke rantau, dan kembali ke rantau dengan selamat. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Mohon maaf lahir dan batin. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Posmetro Padang, Juni 2018

280. 2018-07-03 [Singgalang] Kereta Api Bandara

Kereta Api Bandara

Di kota-kota metropolitan dunia, terutama di negara maju sudah lazim didapati kereta api dalam berbagai bentuknya menjadi angkutan massal yang efektif mengantar orang ke berbagai tujuan dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. Dan dalam perkembangannya ada kereta api yang berubah menjadi kereta listrik. Karena lebih efektif dan efisien dalam hal waktu perjalanan dan biaya, jumlah orang yang menggunakan transportasi kereta api yang ada di bawah tanah lebih banyak dibanding pengguna transportasi lainnya yang berada di atas tanah.

Tanpa kereta api, kemacetan di kota-kota tersebut akan makin bertambah. Sedangkan sudah ada kereta api saja kemacetan tetap terjadi. Negara-negara maju memang sudah lama menjadikan kereta api sebagai alat transportasi massal yang efektif dan dapat diandalkan.

Akan halnya Indonesia, meskipun ada yang menganggap perkembangan pemanfaatan kereta api sebagai angkutan massal di kota-kota Indonesia terlambat tapi tetap lebih baik diwujudkan perlahan-lahan dibanding tidak menerapkannya sama sekali. Karena dengan perkembangan yang sudah ada, kereta api menjadi angkutan yang cukup nyaman dan bisa diandalkan.

Pada 21 Mei 2018 lalu Presiden Joko Widodo meresmikan pengoperasian kereta api bandara dengan rute BIM – Simpang Aru. Perencanaan jalur kereta yang sudah berbilang puluhan tahun ini dengan dukungan dari berbagai pihak akhirnya bisa diwujudkan. Dan ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sumbar. Karena ini merupakan kereta api bandara yang ketiga di Indonesia, setelah Bandara Kualanamu (Medan) dan Bandara Soekarno Hatta (Jakarta).

Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu di sini, yang telah turut berkontribusi kepada perkembangan transportasi berbasis kereta di Sumbar. Baik dari yang terkait langsung dengan dunia perkeretaapian (instansi pemerintah, pemerintah daerah, OPD, LSM), maupun tokoh-tokoh Minang di rantau dan ranah, serta perantau dan masyarakat Sumbar. Semoga perhatian yang cukup besar ini juga bisa memperlancar pembangunan perkeretaapian di Sumbar.

Pemikiran yang datang dari rantau maupun ranah tentang pentingnya pembangunan perkeretaapian di Sumbar menunjukkan bahwa sangat banyak orang yang sadar bahwa membangun kembali transportasi kereta api sebagai alat transportasi massal di Sumbar menjadi hal penting. Dari respon yang sangat antusias ini, kami di pemprov pun berusaha maksimal agar kereta api bisa menjadi alat transportasi massal yang mampu menghubungkan berbagai tempat di Sumbar.
Saat ini di Sumbar sedang berlangsung revitalisasi jalur kereta api Padang – Padang Panjang – Bukittinggi – Payakumbuh, dan Padang – Padang Panjang – Solok – Sawahlunto – Sijunjung. Rute ini sudah memiliki jalur yang sempat mati cukup lama. Dengan respon yang sangat antusias dari masyarakat di Sumbar dan para perantau, terutama terhadap kereta api bandara, maka kami pun mohon dukungan untuk revitalisasi jalur ini. Mudah-mudahan dua rute tersebut bisa diwujudkan dengan dukungan seluruh pihak.

Selain itu, kami juga sedang merevitalisasi jalur kereta ke Riau yang juga sudah diprogramkan oleh pemerintah pusat. Yaitu rute Sijunjung – Riau. Pembangunan kembali jalur kereta api di Sumbar sudah kami kemukakan langsung kepada Presiden Joko Widodo, baik saat kami memberikan sambutan pada peresmian kereta api bandara maupun saat menemani Presiden dalam kunjungan kerja di Sumbar.

Jika revitalisasi jalur kereta di Sumbar dan juga Sumbar – Riau terwujud, maka insya Allah akan memberikan dampak positif yang sangat banyak kepada masyarakat. Baik dalam mengurangi kemacetan, perpindahan orang antar kota yang lebih cepat, semakin meningkatnya pariwisata yang sangat potensial meningkatkan kesejahteraan masyarakat, semakin bergeraknya perekonomian, semakin rendahnya biaya logistik, dan juga dampak positif lainnya yang akan muncul setelah kereta api di jalur tersebut beroperasi. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 3 Juli 2018

281. 2018-07-11 [Padek] Mencari Peluang ke Maroko

Mencari Peluang ke Maroko

Berdasarkan data statistik BPS (Badan Pusat Statistik) Sumbar yang tertuang dalam “Provinsi Sumatera Barat dalam Angka 2017”, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Sumbar merupakan yang tertinggi yaitu 24,06%. Kemudian disusul kontribusi sektor perdagangan sebesar 14,90%.

Melihat besarnya kontribusi sektor pertanian ini, maka di dalamnya juga terkait dengan luas wilayah pertanian serta jumlah tenaga kerja. Tak salah jika Sumbar disebut sebagai provinsi pertanian. Di mana, pemerintah provinsi dan juga kabupaten/kota berkepentingan menyukseskan pembangunan bidang pertanian.

Untuk itu Pemprov Sumbar berkomitmen untuk mencapai swasembada pangan. Dan juga berkomitmen menjadi lumbung pangan nasional. Maka ketika berbicara tentang produktivitas, beberapa produk pertanian sudah ada yang surplus.Terkait pencapaian ini, beberapa penghargaan bidang pertanian telah diberikan oleh pemerintah sebagai apresiasi terhadap capaian tersebut.

Pemprov Sumbar bersama pemkab/kota dalam rangka mendukung pembangunan sektor pertanian, bergerak di dua titik. Yaitu di hulu dan hilir. Di hulu, dilakukan penambahan lahan pertanian diiringi peningkatan kualitas serta kuantitas produk. Seperti melakukan cetak sawah baru, meningkatkan kualitas produk melalui penyediaan benih unggul, pemberian pupuk dan perbaikan pola tanam.

Indeks pertanaman diharapkan bisa lebih dari dua kali setahun, dan hasil panen perhektare diharapkan bisa mencapai lebih dari 5 ton. Dengan hal ini, alhamdulillah kualitas dan kuantitas produk pertanian menjadi semakin baik. Dengan kegiatan tersebut, bisa dicapai surplus pangan, sehingga tercipta ketahanan pangan. Hal demikian juga turut menjadikan petani makin sejahtera.

Di hilir, kami pun berusaha meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan perkebunan pascapanen. Karena jika dijual sebagai bahan mentah, harga yang didapatkan petani tidak bisa diharapkan meningkat. Tapi jika ditingkatkan nilainya, akan meningkatkan pendapatan. Karena itu, dengan meningkatkan nilai tambah produk yang ada akan memberikan dampak positif berupa multiplier effect. Misalnya, fermentasi cokelat hingga pengemasan dan penyimpanan akan meningkatkan harganya hingga beberapa kali lipat. Kemudian, pendirian pabrik pengolahan cokelat akan menyediakan lapangan kerja dan pemasukan bagi daerah.

Selain cokelat, contoh lainnya adalah kelapa sawit. Produk ini terbukti bisa menyerap tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan. Dengan adanya pola kemitraan perusahaan inti dengan petani plasma bisa memperbaiki pendapatan petani lebih baik. Demikian pula halnya dengan karet.

Selain itu, kami juga berusaha meningkatkan nilai tambah gambir. Selama ini Indonesia merupakan eksportir gambir terbesar di dunia. Di mana nilai ekspor dari Sumbar merupakan yang terbesar. Maka bisa dikatakan bahwa Sumbar adalah pengekspor gambir terbesar di dunia.

Namun, selama ini terjadi pasang surut ekspor gambir, sehingga gambir tidak memberikan keuntungan kepada masyarakat. Apalagi selama ini gambir dijual atau diekspor dalam bentuk produk mentah. India merupakan pembeli terbesar atau yang mendominasi, sehingga terjadi semacam pembeli yang cenderung monopoli. Hal ini menyebabkan pembeli bisa mengatur harga, akibatnya harga gambir menjadi rendah. Petani pun tidak mendapatkan keuntungan. Maka, jika ingin meningkatkan harga gambir, perlu ditingkatkan nilai tambahnya, termasuk membangun industri, dan mencari pasar baru agar harga lebih baik.

Pada akhir Juni 2018 lalu, saya bersama tim Sumbar untuk investasi, perdagangan dan budaya melakukan kunjungan kerja ke Maroko. Salah satu agenda yang kami lakukan adalah menawarkan Maroko untuk membeli gambir, rempah-rempah dan produk perkebunan lainnya dari Sumbar. Hal ini diperlukan agar ada negara lain yang juga membeli gambir dan rempah-rempah dari Sumbar sehingga harganya bisa bersaing dan memberikan keuntungan kepada petani di Sumbar. Dengan demikian, tidak ada lagi yang menjadi pengatur harga semaunya.

Banyak hal yang kami tawarkan kepada Maroko, Yaitu: kayu manis, cengkeh, tangkai cengkeh, buah pala, bunga pala, merica hitam, merica putih, kopi arabika, kopi robusta, pinang, biji cokelat, damar mata kucing, damar batu, kacang mede. Kemudian produk lainnya yang ditawarkan adalah: minyak nilam, minyak sereh wangi, minyak cengkeh, minyak jerut purut, minyak pala.

Produk yang disebutkan di atas tersebut, selama ini ternyata dibeli oleh Maroko dari Belanda, Spanyol dan Italia (Eropa). Padahal produk tersebut bisa saja berasal dari Indonesia atau Sumbar. Dan kemudian dijual ke Maroko. Maka kami membuka peluang kepada Maroko untuk membeli langsung dari Sumbar. Karena harganya bisa lebih murah dari yang dibeli dari negara Eropa, dan petani pun bisa mendapat untung dengan menjual dengan harga bersaing. Jika ini bisa terealisasi, insya Allah para petani atau pekebun produk-produk tersebut bisa semakin baik kesejahteraannya.

Alhamdulillah, ketika kami di Maroko sudah terjadi transaksi jual beli antara pengusaha dari Indonesia dengan pengusaha Maroko. Dan ini akan ditingkatkan dengan peran Kadin (kamar dagang dan industri) Maroko untuk menggalang pengusaha Maroko agar bisa membeli langsung ke Sumbar. Harapannya, hal ini akan saling menguntungkan bagi masing-masing pihak. Salah satu harapannya juga, pihak Maroko membuka industrinya di Sumbar untuk melakukan pengolahan. Sehingga turut memberikan dampak positif kepada petani.

Semoga upaya yang kami lakukan ini bisa mengangkat harkat dan martabat petani gambir dan rempah-rempah di Sumbar, serta produk lainnya. Sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan lebih baik lagi. Hal ini membutuhkan kerja keras, kesungguhan, dan kebersamaan dari berbagai pihak terkait. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 11 Juli 2018

282. 2018-07-18 [Singgalang] Hari Anti Narkotika Internasional

Hari Anti Narkotika Internasional

Oleh Irwan Prayitno

 

Dampak negatif penyalahgunaan narkotika atau narkoba, semakin banyak masyarakat yang menjadi korbannya. Sedikitnya sekitar 6 juta orang di Indonesia sudah menjadi korban narkoba. Dan berpotensi meningkat jumlahnya jika tidak dilakukan upaya untuk memeranginya.

Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) jatuh pada 12 Juli 2018 lalu. HANI tingkat nasional diperingati di Lido, Bogor pada 13 Juli 2018. Dengan inspektur upacara Menkopolhukam Bpk. Wiranto. Dalam sambutan tertulis, beliau meminta agar seluruh pihak di pemerintahan (pusat hingga daerah) dan juga masyarakat memerangi penyalahgunaan narkoba.

Tema HANI 2018 adalah, “Mari bersama menyatukan dan menggerakkan seluruh komponen bangsa dalam perang melawan narkoba, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat tanpa narkoba”.

Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia menjadi sasaran penyelundupan narkoba. Apalagi akan terjadi bonus demografi pada 2020-2030. Bonus demografi adalah kondisi di mana melimpahnya penduduk usia produktif dan berpotensi memajukan pembangunan bangsa dan negara.

Jika mereka semua mampu mendayagunakan potensinya, akan bisa terjadi akselerasi pembangunan. Sehingga kemajuan bisa lebih cepat dicapai. Namun jika potensi tersebut dihancurkan oleh narkoba, maka akan memberi dampak negatif bagi bangsa dan negara. Untuk itu, saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memerangi penyalahgunaan narkoba.

Dalam rangka memerangi penyalahgunaan narkoba, hal yang bisa dilakukan oleh berbagai pihak, di antaranya: Pertama, di pihak orangtua. Mereka harus mengawasi anak mereka. Jangan biarkan anak berperilaku bebas semaunya. Anak perlu dikontrol dan diperhatikan dengan baik. Orangtua juga harus memberikan contoh dan pendidikan kepada anaknya. Sehingga anak bisa dihindarkan dari perilaku yang mengarah kepada penyalahgunaan narkoba. Semakin baik interaksi antara orangtua dengan anak, maka anak akan semakin terlindungi dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Tema HANI yang diangkat oleh United Nations Office Drugs and Crimes (UNODC) tahun 2018 adalah “Listen first, listening to children and youth is the first step to help  them grow healthy and safe”. Tema ini mengajak orangtua agar lebih dekat dengan anak, mendengarkan suara mereka. Selain itu penanaman nilai adat dan agama kepada anak juga turut membantu menjauhkan anak dari penyalahgunaan narkoba.

Kedua, di pihak sekolah dan perguruan tinggi. Kepala sekolah, guru, wali kelas, pegawai, perlu melakukan interaksi dengan siswa ketika berada di sekolah. Sehingga jika ada siswa pengguna narkoba, bisa cepat dideteksi dan ditanggulangi. Di samping itu, pihak sekolah juga perlu melakukan sosialisasi rutin kepada siswa tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Sehingga siswa memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk menjauhkan diri dari penyalahgunaan narkoba. Demikian pula dengan perguruan tinggi, perlu melakukan pengawasan terhadap mahasiswa dan civitas akademika dan juga sosialisasi bahaya narkoba.

Ketiga, di pihak masyarakat. Perlunya meningkatkan pengawasan keamanan lingkungan. Warga, pengurus RT, RW biasanya lebih mengetahui kondisi daerahnya. Jika warga memiliki pengawasan yang baik, maka jika ada pengguna narkoba atau pesta narkoba di wilayahnya, akan bisa cepat diatasi bersama.

Keempat, di pihak organisasi sosial kemasyarakatan dan komunitas. Organisasi sosial kemasyarakatan dan komunitas juga memiliki peran strategis untuk melakukan sosialisasi penyalahgunaan narkoba sekaligus melakukan kontrol sosial. Selama ini sudah banyak organisasi dan komunitas yang melakukan sosialisasi penyalahgunaan narkotika. Dan mudah-mudahan perannya bisa semakin ditingkatkan.

Kelima, di pihak pemerintah. Pemerintah pusat termasuk BNN (Badan Narkotika Nasional)  dan pemda selama ini telah ikut aktif bersama berbagai elemen melakukan sosialisasi penyalahgunaan narkoba dan juga melakukan tindakan lainnya dalam rangka memerangi penyalahgunaan narkoba.

Keenam, pihak kepolisian dan medis. Selama ini peran kepolisian dalam menumpas kejahatan penyalahgunaan narkoba sudah memperlihatkan kinerja yang semakin baik. Sementara di pihak medis, peran mereka dalam membantu penyembuhan orang yang melakukan penyalahgunaan narkoba juga sudah memperlihatkan kinerja yang baik.

Dalam memerangi penyalahgunaan narkoba, ada beberapa pendekatan yang dilakukan. Pendekatan promotif, mesti diutamakan. Yaitu melakukan sosialisasi untuk mengenal bahaya narkoba dan mengajak untuk jauh dari narkoba. Sehingga orang tahu dan sadar akan bahaya narkoba. Serta memiliki kemauan sendiri untuk jauh dari narkoba.

Berikutnya adalah pendekatan preventif, yaitu pencegahan. Ini dapat dilakukan di keluarga, lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah dan kampus, kantor, organisasi dan tempat lainnya.  Kemudian pendekatan kuratif atau pengobatan. Ini dilakukan kepada orang yang sudah terkena narkoba. Mereka diobati dan direhabilitasi. Dan terakhir adalah pendekatan penegakan hukum. Ini dilakukan oleh aparat terkait kepada pengguna, pengedar, bandar dan pabriknya.

Insya Allah, dengan peran serta seluruh pihak dan juga berbagai pendekatan dalam menghadapi penyalahgunaan narkoba, dapat meminimalkan jatuhnya korban. Sehingga kita sebagai bangsa bisa menjalani kehidupan dengan kualitas yang lebih baik.  *

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar
Singgalang, 18 Juli 2018

283. 2018-08-01 [Singgalang] Gerakan Sungai Bersih

Gerakan Sungai Bersih

Singgalang, 1 Agustus 2018
Oleh Irwan Prayitno

Pada 29 Juli 2018 lalu saya memenuhi undangan (via WA) dari Bpk. Andrinof Chaniago untuk hadir  di acara Gerakan Sungai Bersih yang berlokasi di Sungai Batang Arau, Kota Padang. Beliau mengkoordinasikan enam BUMN untuk menggerakkan sukarelawan serta masyarakat membersihkan sungai Batang Arau.

Saya mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Pak Andrinof, yang sangat peduli tentang masalah lingkungan hidup. Di antaranya kebersihan sungai dan kelangsungan hidup makhluk hidup yang ada di sungai. Dengan inisiatif yang dilakukan untuk membersihkan sungai Batang Arau ini, orang menjadi tergerak dan tersadarkan untuk lebih peduli dengan kebersihan lingkungan sekitarnya, termasuk membersihkan sungai.

Dalam ajaran Islam, kebersihan merupakan bagian dari pelaksanaan kehidupan muslim. Maka muslim yang bersih membuktikan ia telah mengamalkan ajaran agamanya. Sehingga memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitarnya. Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi).

Bersih dari segi kesehatan berarti jauh dari penyakit. Hidup lebih sehat. Produktivitas bisa meningkat, penghasilan pun juga bisa meningkat. Biaya berobat bisa diminimalkan, dan hidup lebih semangat. Bersih dari segi ekonomi, seperti tempat usaha yang bersih, akan menarik orang datang sehingga penghasilan meningkat. Atau bersihnya pantai dan sungai akan mendatangkan  banyak wisatawan sehingga uang masuk pun memberikan dampak kepada masyarakat atau pelaku usaha.

Maka sesungguhnya hidup bersih itu merupakan suatu kebutuhan yang bisa memberikan dampak positif, baik bagi kesehatan, ekonomi, spiritualitas, dan lainnya.

Jika melihat sungai-sungai di luar negeri, terutama negara maju, hampir semuanya bisa dikatakan bersih. Sungai yang bersih itu menjadi tempat mencari nafkah bagi masyarakat, seperti wisata perahu, wisata sungai, transportasi, penginapan di pinggir sungai, atau tempat makan-minum di pinggir sungai.

Sungai bersih memberikan energi positif kepada penduduk, lingkungan dan juga orang atau wisatawan yang datang. Sehingga bisa memunculkan efek multiplier bagi kesejahteraan.

Dalam Alquran surat Ibrahim ayat 32 Allah Swt berfirman yang artinya, “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

Jika sungai-sungai di negara lain, terutama negara maju bersih, maka seharusnya di negeri kita pun sungai bisa bersih. Kota Padang sebagai ibu kota Sumbar memang perlu menampilkan diri lebih baik, termasuk sungai-sungainya. Alhamdulillah, kebanyakan sungai di Padang masih dalam keadaan bersih. Kecuali sungai Batang Arau yang cukup padat penduduk tinggal di sekitarnya. Memang perlu perhatian lebih serius. Karena kawasan ini semakin terkait erat dengan pariwisata. Sehingga kebersihannya merupakan sebuah kebutuhan.

Dengan sungai yang bersih, lingkungan mejadi bersih, kesehatan akan semakin baik. Wisatawan pun berdatangan, dan uang pun berdatangan. Insya Allah ini akan membawa kebaikan bagi banyak orang.

Untuk menciptakan sungai bersih adalah mencegah adanya sampah di sungai. Dan untuk mencegah sampah ada di sungai adalah usaha dari masing-masing kita membuang sampah di tempat yang tepat. Pemerintah sudah memfasilitasi adanya tempat-tempat sampah. Maka masyarakat sudah seharusnya membuang sampah tidak lagi sembarangan.

Satu contoh menarik dari Jepang tentang peran individu menyikapi sampah, di mana dulu pernah ada kelompok yang meledakkan bom obat bius. Mereka meletakan bom di tempat sampah yang ada di stasiun atau fasilitas publik. Maka banyak jatuh korban. Setelah kejadian tersebut, tidak ada lagi tempat sampah di fasilitas publik.

Dan masyarakat Jepang membiasakan menyimpan sampah selama di perjalanan di dalam kantung baju, celana atau tas mereka. Setelah menuju ke rumah, menjelang rumah baru ada tempat sampah. Di situlah mereka membuang sampah yang mereka bawa di kantong baju, celana dan tas mereka. Ini menunjukkan, mereka tidak mau buang sampah sembarangan. Lebih baik disimpan di kantong baju, celana dan tas daripada harus dibuang sembarangan. Mereka akan membuangnya di tempat sampah.

Semoga kita pun bisa mencontoh perilaku masyarakat Jepang dalam membuang sampah. Jika mereka bisa, kita pun harusnya bisa. Apalagi bagi umat Islam, dengan kita bersih maka kita mendapat pahala dan kebaikan***

284. 2018-08-09 [Padek] Senam Pagi di Acara BPJS

Senam Pagi di Acara BPJS

Padang Ekspres, 9 Agustus 2018

Oleh :Irwan Prayitno
Pada 29 Juli 2018 lalu, di halaman Kantor Gubernur Sumbar, berlangsung acara senam yang mayoritas pesertanya diikuti oleh ibu-ibu. Jumlahnya saya perkirakan ratusan hingga ribuan. Senam ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT BPJS ke-50. Para peserta senam nampak antusias, gembira, ceria dan terlihat segar dan bugar.

Ini terlihat dari gerakan yang dilakukan para peserta senam, yang begitu aktif. Bahkan para peserta senam yang sudah berumur pun terlihat energik.  Dan jarang terlihat peserta yang memiliki berat badan berlebih. Yang banyak terlihat peserta dengan postur badan yang proporsional.

Dari cara mengikuti gerakan senam, terlihat bahwa para peserta senam ini sudah menjadikan senam sebagai kebiasaan mereka. Sehingga mereka pun hidup sehat. Acara ini diinisiasi oleh BPJS Sumbagteng-Jambi. Dan turut dihadiri oleh Deputi Direksi. Senam dilakukan serentak oleh Kantor BPJS se Indonesia, yang juga dilakukan dalam rangka menyambut Asian Games.

Bagi saya, BPJS mengadakan senam merupakan hal yang menarik. Secara tersirat, ada pesan yang ingin disampaikan. Yaitu mengajak masyarakat hidup sehat. Ini memang penting. Karena dengan hidup sehat, semakin sedikit masyarakat yang sakit dan berobat. Tentunya ini membantu BPJS yang selama ini  membayar klaim biaya berobat sangat besar dari rumah sakit dan instansi terkait. Terutama untuk biaya berobat pasien kanker, gagal ginjal, dan sejenisnya.

Saya mengapresiasi kegiatan BPJS ini. Apalagi jika senam tersebut bisa menjadi budaya rutin yang dilakukan masyarakat. Karena salah satu keistimewaan senam ini adalah adanya musik pengiring. Sehingga peserta tidak hanya melakukan gerakan yang dinamis, tetapi juga mendengarkan musik yang menyenangkan pikiran. Maka, dari senam tersebut, selain badan sehat, keceriaan pun terpancar.

Selain itu, senam yang dilakukan ini, mirip seperti sebuah komunitas. Sehingga di dalamnya ada perjumpaan antar anggota atau teman. Artinya, silaturahmi juga terjalin di sini. Tidak semata berolahraga.  Nabi Saw bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang senang diluaskan rezekinya dan ditangguhkan kematiannya,  hendaklah ia menyambung silaturahmi”. (HR. Al Bukhari).

Maka, dari pelaksanaan senam ternyata banyak hal yang bisa didapat oleh peserta. Badan yang sehat, juga ceria mendengarkan musik, serta silaturahmi yang memanjangkan umur dan menambah rezeki.

Dengan senam rutin, seseorang akan semakin baik fungsi jantungnya, serta bisa menurunkan berat badan. Senam juga meningkatkan fungsi otak, serta mengurangi stress dan meningkatkan mood. Di samping itu, senam rutin akan menjauhkan seseorang dari penyakit, dan juga meningkatkan stamina. Senam juga akan meningkatkan kelenturan dan kebugaran.

Andaikan senam sudah menjadi bagian dari kebiasaan dan gaya hidup sehat masyarakat, maka bisa dirutinkan pelaksanaannya oleh seluruh lapisan masyarakat. Disamping itu, dengan gaya hidup sehat, masyarakat diharapkan juga rutin periksa kesehatan di kala sehat, termasuk mengendalikan berat badan. Karena berat badan akan menjadi salah satu sebab munculnya penyakit. Dan senam bisa menjadi pendorong pengendalian berat badan.

Dengan kesehatan yang baik, maka seluruh lapisan masyarakat akan meningkat produktivitasnya. Seorang pelajar akan bisa belajar dengan baik. Seorang petani akan bisa bekerja dengan baik. Seorang ibu rumah tangga akan bisa mengurus pekerjaan rumah tangga dengan baik. Semakin sehat, maka akan semakin banyak yang bisa dihasilkan, dikerjakan, atau dijadikan prestasi. Sebaliknya, ketika kondisi sakit, sulit untuk mendapat atau mencapai yang terbaik.

Maka untuk menjaga agar masyarakat tetap sehat, salah satu caranya harus rutin melakukan kegiatan seperti senam. Mudah dilaksanakan, menyenangkan karena ada musiknya dan ajang silaturahmi, serta menyehatkan.

Senam adalah merupakan bentuk rasa syukur atas dianugerahkanNya badan yang sehat kepada kita. Maka jika kita rajin bersyukur, Allah Swt akan tambah nikmatNya kepada kita, seperti yang difirmankan dalam Alquran surat Ibrahim ayat 7 yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”.  *

286. 2018-08-23 [Padek] Moment Aktualisasi Potensi

Harian Padang Ekspres, 23 Agustus 2018

Moment Aktualisasi Potensi
Oleh Irwan Prayitno

Alhamdulillah, kita saat ini hidup di alam kemerdekaan. Orangtua atau kakek-nenek kita ada yang hidup di zaman penjajahan. Terutama penjajahan fisik. Di masa penjajahan fisik, melalui film dokumenter maupun film perjuangan bisa dilihat betapa tersiksanya hidup. Bahkan untuk ibadah saja, susah.

Dan pernah bangsa kita dijajah dengan kewajiban menyembah sembahan dari penjajajah tersebut. Sebuah film perjuangan seorang ulama besar dalam salah satu adegannya memperlihatkan betapa ia dan pengikutnya dipaksa menyembah dewa yang disembah oleh tentara penjajah. Jika tidak, maka akan disiksa.

Tahun ini kita memperingati ulang tahun kemerdekaan ke-73. Salah satu cara memperingati ulang tahun kemerdekaan adalah melaksanakan upacara bendera. Dan dilaksanakan oleh berbagai elemen masyarakat. Ada yang menyelenggarakannya di kantor, sekolah, di dalam air, di puncak gunung, di pantai, dan berbagai tempat lainnya. Di samping itu, juga memasang bendera selama satu bulan. Memperingati ulang tahun kemerdekaan merupakan salah satu wujud bangsa kita mensyukuri nikmat kemerdekaan dan menghormati perjuangan seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan.

Selain memperingati ulang tahun kemerdekaan, masyarakat pun turut memeriahkan momentum ini. Ada yang berupa pawai pembangunan, berbagai lomba di tingkat RT, RW, Kelurahan hingga Nasional, acara tasyakuran, panggung hiburan, bakti sosial, kejuaraan olahraga, dan berbagai kegiatan lainnya.

Kegiatan memperingati dan memeriahkan ulang tahun kemerdekaan adalah salah satu bentuk melestarikan semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, pada diri bangsa ini. Sehingga dari tahun ke tahun, dari satu generasi ke generasi lain masih ada semangat yang sama untuk selalu mensyukuri nikmat kemerdekaan.

Para pendiri negara pun tak lupa menyebut bahwa kemerdekaan yang diraih ini merupakan “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Sehingga kita pun tak lupa untuk selalu mensyukuri hidup di alam kemerdekaan.

Tapi selain memperingati dan memeriahkan ulang tahun kemerdekaan, satu hal yang tak kalah penting adalah memaknai kemerdekaan dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik sebagai kepala keluarga, orangtua, anak, karyawan, pimpinan, pelajar, guru, pemuda, dan lainnya. Jika di masa penjajahan, kemerdekaan dimaknai dengan berjuang sekuat tenaga mengusir penjajah, maka ketika sudah merdeka, memaknainya tidak lagi berupa perjuangan mengusir penjajah.

Dengan nikmat kemerdekaan ini, maka kita sebagai pribadi bisa memaknainya dengan mengaktualisasikan potensi yang ada pada diri kita untuk hal yang positif. Sehingga bisa memaksimalkan nikmat hidup di alam kemerdekaan ini dengan berbagai prestasi.

Para pelajar dan mahasiswa, mengaktualisasikan potensinya dengan belajar sungguh-sungguh, aktif di kegiatan yang bermanfaat atau organisasi, menjauhi narkoba, seks bebas, tawuran, dan kegiatan negatif lainnya. Jika seluruh pelajar melakukan hal ini, maka insya Allah bangsa ini akan lebih cepat lagi meraih kesejahteraan dan kemajuan.

Para karyawan, mengaktualisasikan potensinya dengan berkerja secara amanah, profesional, dan sungguh-sungguh. Sehingga tujuan organisasi atau perusahaan bisa tercapai dan berdampak positif bagi lingkungan sendiri maupun lingkungan luar.

Para orangtua, mengaktualisasikan potensi dengan memberikan pendidikan terbaik bagi anak dan memimpin keluarga sebaik mungkin. Sehingga tercipta suasana keluarga yang berkualitas. Orangtua makin sayang kepada anak, anak semakin berbakti kepada orangtua, suami semakin sayang kepada istri, dan istri pun semakin sayang kepada suami. Keluarga yang kuat, akan memunculkan bangsa yang kuat.

Masyarakat secara umum, mengaktualisasikan potensi yang ada pada diri mereka dengan mendukung berbagai program pembangunan, seperti pembangunan jalan, jembatan, investasi, dan lainnya. Sehingga kemajuan pembangunan dan investasi bisa semakin baik dan berdampak positif bagi masyarakat.

Berbagai profesi lainnya, seperti petani, nelayan, peternak, pekebun, pedagang, pengusaha, birokrat, guru, seniman, mengaktualisasikan potensi yang ada pada mereka dengan cara masing-masing. Sehingga berkontribusi positif kepada kemajuan bangsa dan pembangunan.

Jika di alam kemerdekaan, kita tidak bisa mengaktualisasikan potensi yang ada pada diri kita, maka sungguh kita merugi. Karena  bangsa lain bisa mengaktualisasikan potensinya sehingga lebih cepat maju dan sejahtera. Bila pembangunan di berbagai bidang yang seharusnya bisa mempercepat kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan, tapi mendapat penentangan dari masyarakat, maka kondisi kita mengalami perlambatan dan akan merugikan kita sendiri.

Dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 Allah Swt berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Maka dengan mengaktualisasikan potensi yang ada pada masing-masing kita untuk hal yang positif sesungguhnya merupakan bagian dari mengubah keadaan diri untuk menjadi lebih baik lagi. *

287. 2018-09-05 [Padek] Selalu Berbenah Sambut Wisatawan

Selalu Berbenah Sambut Wisatawan

 

Oleh Irwan Prayitno

Kota Padang khususnya dan Sumbar umumnya semakin diramaikan dengan kehadiran tamu maupun wisatawan dari luar. Para tamu dan wisatawan itu di antaranya adalah para peserta pertemuan, seminar atau konferensi tingkat nasional. Minggu lalu di Padang ramai dihadiri oleh peserta Pertemuan Ilmiah Tahunan Persatuan Dokter Mata se Indonesia yang berjumlah lebih dari 4.000 orang. Saya bersama  Menteri Kesehatan RI turut hadir dalam acara pembukaan di Hotel Grand Inna Muara pada 30 Agustus 2018 lalu. Kemudian pada 31 Agustus 2018 saya hadir kembali di Aula UNP yang dipadati para peserta yang berjumlah ribuan, masih dalam acara para dokter mata untuk sesi hiburan.

Dengan jumlah peserta yang cukup banyak ini menyebabkan ada peserta yang tidak kebagian kamar hotel. Sehingga ada yang menginap di losmen dan sejenisnya. Acara lain yang berdekatan atau berhimpitan dengan acara dokter mata terkena imbas sulitnya mendapatkan tempat menginap.

Acara skala nasional demikian dengan peserta yang cukup banyak, tidak hanya dari persatuan dokter mata. Karena dalam agenda kegiatan saya selaku Gubernur hingga akhir Desember 2018, sudah ada puluhan kegiatan pembukaan acara skala nasional yang akan diselenggarakan di Padang. Dan pesertanya cukup banyak jumlahnya. Saya sudah diminta untuk memberi sambutan di acara acara tersebut.

Satu di antaranya adalah acara IWAPI, di mana untuk IWAPI Sumbar diketuai oleh Ibu Emma Yohanna. Pada bulan Oktober 2018 nanti insya Allah akan ada hampir 15.000 anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) yang datang ke Padang. Pemprov Sumbar telah menyiapkan dukungan terkait acara besar ini, di antaranya menganggarkan dana untuk menyambut peserta dan jamuan makan malam.

Sumbar juga menerima kehormatan menjadi tempat berlangsungnya seminar nasional pariwisata (Bukittinggi) pada Oktober 2018 dalam rangka peringatan satu abad ITB yang akan dihadiri Menteri Pariwisata.

Selain itu untuk tahun depan kami juga menyiapkan anggaran untuk menyambut berbagai kegiatan skala nasional yang diadakan di Sumbar. Acara ini dilaksanakan oleh berbagai organisasi dan asosiasi, termasuk dari asosiasi profesi dokter.

Acara-acara skala nasional sebelumnya juga sudah banyak diselenggarakan di Padang. Satu di antaranya adalah kegiatan Studi Strategis Dalam Negeri Lemhannas ke Padang yang dipimpin Wakil Gubernur Lemhannas, pada minggu terakhir Agustus 2018 lalu.

Melihat banyaknya acara skala nasional dengan peserta yang besar, saya optimis pariwisata Sumbar akan semakin maju. Untuk itu saya tak bosan-bosannya mengimbau kepada para bupati dan wali kota yang memiliki destinasi wisata untuk membenahi kawasan wisata di wilayah mereka, mulai dari kebersihan, kamar mandi, tempat salat, keberadaan rumah makan, kelancaran lalu lintas, pemeliharaan dan pembangunan jalan, dan pelayanan lainnya.

Dan bagi masyarakat yang mendapatkan manfaat dari kedatangan wisatawan agar lebih baik lagi dalam melayani mereka. Semoga dengan demikian, ini merupakan bentuk dari rasa syukur atas kedatangan wisatawan yang akan membelanjakan uangnya di Sumbar.

Salah satu bukti pengaruh positif datangnya wisatawan adalah kekhawatiran turunnya persediaan kelapa dan daging. Untuk itu kami telah menyurati pemerintah pusat (dalam hal ini Balitbu dan BPTP) untuk menyediakan satu juta bibit kelapa di Sumbar. Bupati Agam sudah siap menyambut ini, dan insya Allah akan diikuti bupati/wako lainnya. Bibit kelapa ini akan ditanam di rumah-rumah dan tanah masyarakat. Daging pun kami upayakan agar bisa tersedia.

Karena banyaknya acara skala nasional yang diadakan di Padang maupun Sumbar, berdampak kepada mahalnya harga tiket pesawat. Di satu sisi mahalnya harga tiket ini bisa menghambat datangnya orang ke Padang. Tapi di sisi lain menunjukkan terjadinya kenaikan jumlah permintaan tiket ke Padang.

Kami sudah menyurati pihak Garuda untuk menambah jadwal penerbangan dari Jakarta ke Padang guna mengakomodasi lonjakan kenaikan penumpang pesawat ke Padang. Dengan adanya penambahan jadwal, diharapkan harga tiket bisa lebih terjangkau dan lebih banyak orang yang bisa terangkut.

Selain itu, kami turut menyambut gembira dibukanya rute penerbangan pesawat Garuda Padang – Palembang. Dengan demikian, rute baru ini semakin menambah kelancaran kunjungan para wisatawan maupun perantau ke Padang dari Palembang dan sekitarnya serta wilayah Selatan Sumatra.  Pembangunan wilayah Selatan Sumatra yang cukup gencar, termasuk jalan tol Lampung – Sumsel akan memberi dampak positif terhadap rute Padang -Palembang ini.

Kami juga telah menyurati Garuda dan Menteri Perhubungan beberapa waktu lalu untuk membuka penerbangan Padang – Kerinci. Beberapa rute baru yang diluncurkan maskapai lain juga telah berjalan seperti Padang – Bandung, Padang – Yogyakarta, Padang – Medan, Padang – Batam dan Padang – Pekanbaru. Untuk rute luar negeri, Padang – Kualalumpur semakin padat dan sudah bertambah jadwalnya. Namun untuk Padang – Singapura, masih belum seperti Padang – Kualalumpur. Mudah-mudahan akan ada solusi yang tepat.

Dengan semakin banyaknya  rute penerbangan dari berbagai provinsi ke Padang, maka akan semakin banyak wisatawan yang datang ke Padang.  Di samping itu, saya bersama bupati dan wali kota di Sumbar juga gencar mempromosikan potensi pariwisata Sumbar ke mancanegara. Dengan usaha ini, mudah-mudahan wisatawan asing pun akan semakin banyak yang datang ke Sumbar.

Banyaknya wisatawan dan tamu yang datang, berarti banyaknya uang masuk ke Sumbar. Sehingga meningkatkan kesejahteraan. Pemda, swasta, dan masyarakat, masing-masing mendapat manfaat dari kedatangan para tamu dan wisatawan tersebut. Mari kita semua selalu berbenah untuk menyambut para wisatawan***

288. 2018-09-11 [Singgalang] HUT RRI dan PAUD

HUT RRI dan PAUD

Oleh Irwan Prayitno

Pada 7 September 2018 saya memenuhi undangan Kepala RRI Bukittinggi Ibu Arnetti untuk menjadi narasumber seminar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)  dengan tema “Pembentukan Karakter Sejak Dini Menuju Indonesia Hebat”. Seminar PAUD ini diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT RRI (Radio Republik Indonesia) ke-73. Acara ini dihadiri lebih 300 orang guru PAUD.

Seminar PAUD sebenarnya sudah banyak dilaksanakan oleh berbagai lembaga atau yayasan, khususnya lembaga pendidikan. Dan saya juga sering diundang sebagai narasumber atau keynote speaker untuk acara ini. Namun ketika yang mengadakannya adalah RRI dan disiarkan langsung ke seluruh daerah di Sumbar, maka patut diberikan apresiasi. Karena sesungguhnya pendidikan karakter merupakan persoalan bagi  seluruh daerah di Indonesia, atau merupakan masalah nasional.

Pengaruh globalisasi, internet dan media sosial menyebabkan munculnya kekhawatiran orangtua atau orang dewasa terhadap perubahan karakter anak-anak Indonesia. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, karena sudah banyak anak yang menjadi korban narkoba, pornografi, seks bebas, LGBT, kebebasan berekspresi tanpa saringan, dan lainnya. Padahal orangtua menghendaki anaknya berperilaku baik atau berakhlak baik, disiplin, jujur, rajin, sopan, kerja keras, tertib, dan lainnya.

Dengan kondisi demikian, maka inisiatif RRI merupakan hal positif. Anggota Dewan Pengawas RRI Bpk Hasto yang hadir juga mengapresiasi kegiatan RRI Bukittinggi dan kegiatan ini akan dijadikan model untuk RRI di seluruh Indonesia.

Ketika menyampaikan bahasan tentang PAUD, saya menyebutkan bahwa pembentukan karakter telah dimulai ketika seseorang mencari pasangan hidupnya. Ajaran Islam memberikan arahan bahwa untuk mencari pasangan hidup yang sebaiknya diutamakan adalah yang memiliki karakter positif dan pemahaman agamanya baik. Sehingga kelak anaknya pun akan dididik dengan baik pula.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari-Muslim). Selain itu, sebagian ulama fikih juga mengarahkan umat untuk mencari pasangan hidup bukan dari kerabat dekat, karena nanti akan menimbulkan berbagai kelemahan. Atau munculnya keturunan yang tidak unggul.

Jadi, sebelum munculnya sebuah keluarga, Islam telah mengarahkan umatnya untuk mempersiapkan karakter positif dan kualitas unggul bagi laki-laki dan perempuan. Kemudian setelah menikah dan kemudian hamil, sang ibu diajarkan memberikan karakter positif bagi anak yang dikandungnya. Misalnya membaca Alquran, berbicara dengan anak di kandungan, sehingga sebelum lahir ke dunia sang anak telah mendapat pembentukan karakter dari ibunya.

Anak yang lahir ke dunia memiliki fitrah yang condong kepada kebaikan, dan peran orangtua sangat penting dalam membentuk karakter anak. Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani, maupun seorang Majusi”.

Orangtua yang merupakan lingkungan terdekat anak maupun lingkungan luar seperti sekolah anak, tempat bermain anak, atau lingkungan sekitar rumah anak, bisa membentuk karakter anak jauh dari fitrahnya. Maka orangtua harus cepat sadar akan pentingnya membentuk karakter anak sesuai fitrah.

Tujuh tahun pertama merupakan masa keemasan bagi orangtua untuk membentuk karakter anaknya. Jika anak telah lewat tujuh tahun, maka semakin sulit membentuk karakternya. Dan perkembangan otak seseorang 90 persen ada di 5 tahun pertama hidupnya. Di sinilah peran penting PAUD yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga dan juga para orangtua maupun orang dewasa.

Kita sebagai orang dewasa, perlu memberikan contoh yang baik kepada anak. Seperti berbicara yang baik, berperilaku yang baik, sehingga bisa dijadikan contoh oleh anak. Agar anak mau membaca Alquran, maka orangtua harus lebih dahulu membaca Alquran. Jika ingin anak rajin salat, maka orangtuanya harus rajin salat pula. Ibu yang memakai jilbab, maka anak perempuannya pun akan meniru ibunya.

Anak yang kecilnya sudah diajarkan berperilaku baik maka ketika besar ia akan menjadi baik. Sebaliknya, anak yang tidak diajarkan berperilaku baik maka ketika besar ia akan berperilaku buruk seperti, gemar berbohong, gemar menipu, ringan berkata kasar dan kotor, mudah marah. Orang dewasa yang perilakunya buruk akan sulit mengubah perilakunya itu, karena sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Teori Tabularasa John Locke menyatakan bahwa anak yang lahir ke dunia ibarat kertas kosong putih bersih. Maka orangtua, teman, guru maupun lingkungannya lah yang akan memberi warna atau coretan di kertas putih itu. Orangtua tentu saja ingin kertas tersebut berisi catatan yang baik atau coretan yang indah dipandang.

Oleh karena itu, peran serta dan kepedulian RRI Bukittinggi terhadap PAUD perlu diapresiasi. Dan juga lembaga-lembaga lain yang memiliki kepedulian terhadap PAUD perlu diapresiasi oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena berperan penting membentuk karakter anak.

Di samping itu, jika selama ini PAUD lebih identik dengan kaum ibu, maka sesungguhnya peran para ayah juga tak kalah penting terhadap PAUD. Karena walau bagaimanapun anak perlu kepedulian dari ayah dan ibunya, bukan hanya ibunya saja. Keikusertaan ayah dalam PAUD justru akan semakin membentuk karakter anaknya lebih baik lagi.

Jika ayah dan ibu punya kepedulian yang sama akan PAUD maka insya Allah anak akan memiliki masa depan yang lebih cerah. Dan selain itu peran para guru PAUD pun tak kalah pentingnya untuk membentuk karakter anak yang berkualitas. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak sehingga anak pun memiliki karakter unggul dan membahagiakan hati orangtuanya.

289. 2018-09-21 [Padek] Penghargaan Investasi dan Pariwisata

Penghargaan Investasi dan Pariwisata

Pada 14 September 2018 di Jakarta, Sumbar menerima dua penghargaan dari Indonesia’s Attractiveness Award 2018. Yaitu sebagai provinsi terbaik sektor investasi dan sebagai provinsi potensial sektor pariwisata. Keduanya dengan peringkat platinum. Pemberian penghargaan dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Bpk Tjahjo Kumolo. Acara ini diselenggarakan oleh Tempo Media Group bekerjasama dengan Frontier Group. Penilaian dilakukan dengan melakukan pengukuran dan observasi daya tarik setiap daerah.

Penghargaan dari pihak luar terhadap kinerja Pemprov Sumbar di satu sisi merupakan sebuah apresiasi yang patut disyukuri. Sedangkan di sisi lain, penghargaan ini sesungguhnya merupakan sebuah capaian dari segenap staf dan jajaran di Pemprov Sumbar, juga jajaran pemkab/kota dan seluruh pemangku kepentingan yang telah bekerja keras melaksanakan berbagai program pembangunan, khususnya di bidang investasi dan pariwisata. Dan juga dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Saya turut menyadari bahwa penghargaan ini bukan merupakan akhir dari kerja yang sudah dilakukan. Tetapi justru mendorong untuk semakin giat melakukan berbagai perbaikan di berbagai tingkatan.

Secara obyektif, memang terjadi peningkatan di bidang investasi dan pariwisata dari tahun ke tahun. Misalnya saja, terjadinya penambahan nilai investasi dan investor yang menanamkan modalnya di Sumbar. Terjadinya kenaikan jumlah wisatawan yang datang ke Sumbar, diiringi kenaikan pendapatan masyarakat. Juga terjadi penambahan jumlah hotel maupun penginapan seiring bertambahnya destinasi wisata yang juga dibenahi.

Namun demikian, diakui pula ada berbagai kekurangan yang menjadi bahan evaluasi sekaligus perlu perbaikan. Misalnya saja, pelayanan oleh masyarakat di kawasan wisata masih ada yang belum memuaskan di mata wisatawan, meskipun sudah ada berbagai peningkatan dan perbaikan. Pengaduan dari wisatawan terkait perilaku atau sikap yang kurang baik masih kami dengar. Demikian pula masalah parkir, toilet yang tidak bersih, masih kami terima pengaduan tersebut. Satu persatu kami telah lakukan perbaikan. Sementara untuk harga makanan dan minuman yang diminta dicantumkan, sejauh ini semakin menunjukan perbaikan dan sudah sedikit keluhan terhadap hal itu.

Maka, penghargaan yang diterima tersebut, justru menjadikan kami semakin semangat memperbaiki berbagai kekurangan. Baik yang berasal dari masukan masyarakat maupun yang merupakan hasil evaluasi dan temuan di lapangan. Hingga beberapa tahun ke depan, kemungkinan akan tetap ada ketidakpuasan tersebut, terutama di bidang pariwisata. Namun mudah-mudahan perbaikan yang sudah dilakukan semakin banyak dirasakan oleh masyarakat dan wisatawan. Dan ini merupakan risiko dari daerah wisata yang semakin berkembang. Semakin banyak wisatawan datang maka tantangannya adalah memberikan pelayanan yang bagus. Mau tidak mau, berbagai kekurangan tersebut harus diperbaiki.

Mengutip pendapat Bpk Sapta Nirwandar dalam tulisannya di Koran Sindo edisi 17 September 2018 yang berjudul, “Extraordinaire Pariwisata Prancis”, pariwisata merupakan penggerak ekonomi lokal yang memiliki dampak multiplier dan trickle down effect. Semakin berkembang pariwisata, akan mendorong tumbuhnya industri kreatif, hotel, dan restoran. Di samping itu menurut beliau, pencipta tenaga kerja yang cepat adalah pariwisata, 1 dari 10 tenaga kerja di dunia berasal dari industri pariwisata.

Sedangkan di bidang investasi, dengan upaya kami melakukan promosi investasi, pariwisata, seni budaya, perdagangan, perikanan ke berbagai tempat, baik dalam dan luar negeri telah menghasilkan respons yang positif. Satu persatu investor datang menanamkan  modalnya di Sumbar. Berbagai nota kesepahaman ditandatangani, untuk kemudian ditindaklanjuti sehingga terwujud kegiatan riilnya.

Calon investor yang datang ke Sumbar pun kami berikan informasi yang jelas dan kami fasilitasi, baik dari dalam negeri dan luar negeri. Sebagian di antaranya berasal dari negara yang pernah kami kunjungi untuk promosi investasi. Dengan semakin banyak investasi masuk, pembangunan semakin berkembang pesat. Dan ini sangat membantu menutupi kekurangan dana untuk membangun yang sebagiannya sudah ada di APBD dan APBN.

Semakin pesat pembangunan yang didukung oleh investasi dan juga APBD dan APBN, berdampak kepada peningkatan kesejahteraan.  Karena meningkatkan pendapatan daerah, mengurangi pengangguran, dan mengurangi kemiskinan. Di samping itu, berbagai kebijakan yang mendukung berkembangnya investasi dan pariwisata juga telah dilakukan guna memajukan perekonomian.

Harapan kami, berbagai usaha yang telah dilakukan tersebut kembali ke masyarakat dengan terjadinya peningkatan kesejahteraan seluas-luasnya. Dengan demikian, harapannya masyarakat ikut mendukung pembangunan di Sumbar, khususnya di bidang investasi dan pariwisata. Dengan kerja sama dan kebersamaan ini, insya Allah negeri kita bisa semakin sejahtera dan juga mendapat keberkahan dari Allah Swt. Amin. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 21 September 2018

 

290. 2018-09-21 [Pidato Pena Mas PWI] Minangkabau dalam Jati Diri Pers Nasional

Minangkabau dalam Jati Diri Pers Nasional

SUMATERA BARAT SELAYANG PANDANG

Provinsi Sumatera Barat yang juga dikenal dengan Ranah Alam Minangkabau adalah salah satu Provinsi yang terletak di Pulau Sumatera, tepatnya di bagian Tengah pesisir Barat Pulau Sumatera. Provinsi dengan singkatan SUMBAR ini berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara dibagian Utaranya serta Provinsi Bengkulu dan Provinsi Jambi di bagian Selatannya. Di sebelah Timur, Provinsi Sumatera Barat berbatasan dengan Provinsi Riau sedangkan di sebelah barat Provinsi Sumatera Barat merupakan Lautan luas yaitu Samudera Hindia. Provinsi Sumatera Barat berdiri pada tanggal 31 Juli 1958 berdasarkan Dasar Hukum UU No. 61 Tahun 1958. Ibukota Provinsi Sumatera Barat adalah Kota Padang.

Berdasarkan letak Geografis, Provinsi Sumatera Barat berada di  1° 54’ Lintang Utara dan 3° 30’ Lintang Selatan serta 98° 36’ dan – 101° 53’ Bujur Timur.  Luas wilayah Provinsi Sumatera Barat adalah 42.012,89 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 5.383.988 jiwa (sumber: BPS 2015).

Secara Administratif, Provinsi Sumatera Barat terdiri dari 12 Kabupaten dan 7 Kota. Dengan kondisi geografis dan topografisnya, wilayah Sumbar banyak mempunyai potensi yang luar biasa. Kepariwisataan, pertambangan, hasil laut dan berbagai ragam sumber daya renewable energy.

Sumatera Barat dari sisi budaya sangat unik. Kearifan lokal yang tinggi dengan adat istiadat yang berfalsafah “adat basandi syara’, syara’ bersendikan kitabullah”, membuat aroma adat dengan nafas ke-Islaman yang sangat kental pada kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal. Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Asal-usul sistem matrilineal dan merantau sampai saat ini belum dapat dijelaskan dengan bukti empiris dan hanya dapat dijawab oleh cerita-cerita mitos. Asal-usul  mengapa suku Minangkabau memegang sistem matrilineal menjadi menarik untuk diketahui karena tidak banyak suku di Indonesia, bahkan di dunia, yang mempraktikkan sistem ini. Sistem matrilineal, bersama dengan kebudayaan merantau, telah mengakar dalam kebudayaan Minangkabau sejak lama dan kedua hal ini termasuk faktor dominan yang membentuk masyarakat Sumatera Barat hingga sekarang.

Berdasarkan kebudayaan matrilineal ini pula kemudian masyarakat Minangkabau memiliki satu kebudayaan lainnya, yaitu merantau. Terkadang ada yang menyalahartikan merantau dengan migrasi. Merantau dianggap sama saja dengan migrasi. Dalam kebudayaan Minangkabau terdapat perbedaan antara merantau dan bermigrasi. Apakah perbedaan itu? Migrasi dari segi sosial-ekonomi berarti perpindahan orang atau golongan bangsa secara besar-besaran menuju daerah-daerah baru. Penyebabnya bermacam-macam, yakni karena kepadatan penduduk, bencana alam dan perubahan ilmiah, tekanan ekonomi, politik, atau keagamaan (Ensiklopedia Indonesia, 1984; 2241). Rantau, secara bahasa berarti daerah pesisir. Kato mendefinisikan kata kerja rantau yakni meninggalkan kampung halaman (Kato, 2005: 4). Maka merantau berarti pergi ke daerah rantau atau ke daerah pesisir, meninggalkan kampung halaman.

Egaliter, adalah sifat khas masyarakat Minangkabau. Itu tercermin dari falsafah adat, bahwa pemimpin itu hanya “ditinggian sarantiang, dan didahulukan salangkah” (ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah). Egalitarianisme inilah yang menjadikan orang Minangkabau sangat demokratis.

Juga ada budaya Ota Lapau, atau berdiskusi di Lapau (warung), menjadi ciri khas keseharian masyarakat. Ota lapau pulalah yang menyebabkan banyak orang Minangkabau dulunya jago berdiplomasi dimana-mana. Contohnya Agus Salim, Natsir, M Yamin dan lain-lain.

Masyarakat Minangkabau telah memiliki budaya literasi sejak abad ke-12. Hal ini ditandai dengan ditemukannya aksara Minangkabau. Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah merupakan salah satu literatur masyarakat Minangkabau yang pertama. Tambo Minangkabau yang ditulis dalam Bahasa Melayu, merupakan literatur Minangkabau berupa historiografi tradisional. Pada abad pertengahan, sastra Minangkabau banyak ditulis menggunakan huruf Jawi. Di masa ini, sastra Minangkabau banyak yang berupa dongeng-dongeng jenaka dan nasehat. Selain itu ada pula kitab-kitab keagamaan yang ditulis oleh ulama-ulama tarekat. Di akhir abad ke-19, cerita-cerita tradisional yang bersumber dari mulut ke mulut, seperti Cindua Mato, Anggun Nan Tongga, dan Malin Kundang mulai dibukukan.

Pada abad ke-20, sastrawan Minangkabau merupakan tokoh-tokoh utama dalam pembentukan bahasa dan sastra Indonesia. Lewat karya-karya mereka berupa novel, roman, dan puisi, sastra Indonesia mulai tumbuh dan berkembang. Sehingga novel yang beredar luas dan menjadi bahan pengajaran penting bagi pelajar di seluruh Indonesia dan Malaysia, adalah novel-novel berlatarbelakang budaya Minangkabau. Seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli dan Di Bawah LindunganKa’bah  karya Hamka, Salah Asuhan karya Abdul Muis, Sitti Nurbaya  karya Marah Rusli, dan Robohnya Surau Kami  karya Ali Akbar Navis. Budaya literasi Minangkabau juga melahirkan tokoh penyair seperti  Chairil Anwar,  Taufiq Ismail dan tokoh sastra lainnya Sutan Takdir Alisjahbana.

Sebenarnya banyak yang akan disampaikan dalam tulisan ini, namun karena keterbatasan dalam berbagai hal, saya rasa cukup itu saja.

SINERGI PERS DAN PEMERINTAH DAERAH

Propinsi Sumatra Barat banyak melahirkan tokoh-tokoh pers ditingkat nasional. Malah kalau boleh dikatakan secara subjektive, Pers itu memang lahir dari perutnya Minangkabau. Tokoh-tokoh besar pencetus, penggerak dan pionir pers awalnya bermula dari putra dan putri yang lahir dari rahimnya Ranah Minangkabau. Ada Jamaluddin Adinegoro, Rosihan Anwar, Ruhana Kuddus sebagai wartawati pertama di Indonesia yang mudah-mudahan diakui sebagai pahlawan nasional di bidang pers oleh pemerintah pusat nantinya serta banyak tokoh Minangkabau lainnya yang berperan besar terhadap tumbuh kembangnya pers di tanah air.

Sangat perlu dicatat, hampir semua pahlawan dan tokoh nasional pada zaman pergerakan kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Minangkabau adalah kaum jurnalis. Semua mereka penulis dan mereka berjuang melalui tulisan.

Peranan pers tidak bisa dipisahkan dalam pelaksanaan pembangunan. Dalam teori pembangunan, pers menjadi salah satu point penting selain pemerintah, pelaku/dunia usaha, akademisi, dan komunitas. Justru itu sebagai salah satu cabang kekuasaan, pers atau media tidak hanya berfungsi sebagai penyalur opini, tetapi ada berbagai fungsi negara yang dijalankan pers. (Bagir Manan)

Fungsi pers sebagai kekuasaan antar lain media komunikasi antar negara (penyelenggara negara dengan publik), sebagai sumber gagasan: baik sebagai pencipta maupun sebagai penyalur gagasan. Sebagai cermin tata kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Sarana kontrol (pengontrol maupun sebagai penyalur kontrol publik). Sebagai pendidik dan pengembangan tanggung jawab sosial serta sebagai komitmen sosial.

Sinergi pemerintah dengan pers dibangun dalam kemitraan yang sejajar. Di satu sisi pers berperan sebagai sosial kontrol pelaksanaan pembangunan, tetapi pers juga butuh informasi perkembangan pembangunan dari pemerintah, sekaligus memberikan harapan serta optimisme kepada masyarakat. Sementara di sisi pemerintah kita butuh sarana untuk menyampaikan pesan pesan pembangunan pada masyarakat luas. Kita sangat mengapresiasi kritikan yang konstruktif dari pers dan kita butuh itu. Tanpa kritik yang sehat dan membangun, rasanya ibarat membawa mobil tanpa rambu lalu lintas.

Kemitraan sejajar antara pemerintah daerah dengan pers selama ini menjadi salah satu kekuatan kami, sehingga hubungan pers dengan pemerintahan di Sumatera Barat dapat berjalan dengan baik. Satu sama yang lain sama sama menghormati fungsi dan tugas masing masing. Satu sama lainnya saling membutuhkan dalam pengertian positif. Kami mengibaratkan sinergi keduanya bagaikan aur dengan tebing. Aur semacam tanaman pelindung agar tebing tidak runtuh, namun aur akan tumbang bilamana tak ada tebing tempat ia tumbuh.

Dinamika perkembangan pembangunan daerah yang begitu pesat di tengah tingginya tuntutan pelayanan publik mendorong pemerintah semakin gencar melaksanakan pembangunan di segala bidang. Di sisi lain di tubuh pers, dinamika dan perkembangannya juga tidak kalah cepatnya. Kami menyadari dinamika dinamika tersebut memunculkan berbagai tantangan tantangan baru. Salah satu yang tak luput dari perhatian kami adalah upaya Dewan Pers berikut organisasi organisasi kewartawanan untuk mendorong terwujudnya pers yang sehat: baik insan pers itu sendiri meliputi para juralis, maupun perusahaan pers nya. Dalam pengamatan kami di pemerintahan, upaya peningkatan kapasitas dan profesionalitas insan pers sangat membantu jajaran pemerintahan.

Kami menyadari juga, bahwa salah satu buah reformasi adalah dengan bermunculannya media media alternatif baru,  baik cetak, elektronik maupun online. Bak cendawan tumbuh, keberadaan media media yang begitu banyak tentu memunculkan persoalan baru, terutama dari sisi bisnis. Berdasarkan UU 40 Tahun 1999 Tentang Pers, Pers merupakan lembaga bisnis selain sebagai sosial kontrol. Dengan peran tersebut, pers tentu membutuhkan biaya/anggaran untuk menghidupkan perusahaan pers tersebut. Pemerintah daerah sangat merasakan hal tersebut, sehingga dalam kebijakan anggaran di Kehumasan, pemerintah selalu menganggarkan dana kerjasama dengan media. Kita mendorong semua daerah Kabupaten/kota melakukan hal serupa. Nyatanya di daerah-daerah belanja Humas memang lebih banyak diserap untuk belanja media (langganan dan pariwara).

Keterbatasan anggaran pemerintah tak selaras dengan pertumbuhan perusahaan pers yang cukup pesat. Fakta ini memunculkan persoalan bahwa tidak semua media yang tertampung di anggaran pemerintah untuk bekerjasama. Maksud hati memeluk gunung tetapi apa daya tangan tak sampai. Kita ingin seluruhnya bisa tertampung dan terlayani, namun keterbatasan anggaran dan regulasi yang menyebabkan tidak semua bisa terlayani.

Selain kemitraan dengan insan pers dan perusahaan pers, jajaran pemerintahan daerah juga menganggap penting melakukan kemitraan dengan organisasi kewartawanan yang ada di Sumatera Barat seperti PWI, AJI, IJTI dan sebagainya. Organisasi kewartawanan perlu terus kita dorong agar semakin eksis dalam melakukan pembinaan terhadap anggotanya dan proaktif dalam merekrut anggota anggota baru. Harapan kita dengan eksisnya organisasi kewartawanan akan ikut mendorong terciptanya pers yang semakin sehat dan profesional.

Kami menyadari  bahwa Dewan Pers mendorong peningkatan kualitas SDM kewartawanan melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) misalnya, adalah sebuah keniscayaan bagi menuju pers yang profesional dan kompeten. Kami mendorong dan mendukung penuh Bupati dan Walikota yang memberikan dukungan moral kepada para wartawan di daerahnya masing-masing untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan. Semakin  banyak wartawan yang kompeten, semakin membuat pers jadi sehat dan masyarakat jadi tercerdaskan. Produk pers yang berkualitas tinggi tentu lahir dari tangan para wartawan yang kompeten dan profesional. Insya Allah, untuk peningkatan kapasitas seperti ini kami berada dalam posisi ikut mendorong.

Salah satu upaya kita dalam membina, mendorong pers dan wartawan yang profesional, adalah dengan melahirkan Peraturan Gubernur Nomor 30 tahun 2018 tentang Kerjasama Media Massa. Dalam Pergub tersebut, kita mengatur pola kerjasama dengan media dan kita tidak masuk kedalam ranahnya kebebasan pers. Contohnya saja, salah satu syarat kerjasama media dengan Pemprov Sumbar adalah; penanggungjawab atau Pimred media harus berkompetensi Wartawan Utama. Harus lolos seleksi minimal terverifikasi administratif, wartawan yang ditugaskan di Media Centre Humas harus telah UKW minimal wartawan muda. Dengan adanya aturan ini, walapun ada gejolak dari beberapa media, ternyata menjadi pecut bagi pers yang belum lengkap persyaratannya untuk segera mendaftarkan medianya ke dewan pers, akan ikut kompetensi dan bersegera mengurus badan hukum.

Mungkin ada yang menganggap bahwa Pergub Nomor 30 tahun 2018 merupakan upaya memberangus pers, padahal tidak ada sama sekali hubungannya dengan kebebasan pers. Tapi kami yakin mereka yang beranggapan seperti itu tidak memahami apa yang menjadi dasar tujuan dari lahirnya Pergub tersebut. Bahwa Pergub tersebut justru akan membuat perusahaan pers jadi terdorong untuk menatakelola perusahaannya dengan baik,  melengkapi diri dengan berbagai hal yang diamanatkan oleh UU No 40 tahun 1999 serta mempekerjakan wartawan yang kompeten. Jadi sekali lagi tidak ada maksud dari lahirnya Pergub tersebut untuk membuat industri pers menjadi mati dan gulung tikar.

Kemitraan dengan organisasi kewartawanan sama halnya dengan kemitraan yang dilakukan dengan mass media atau perusahaan pers yakni dengan prinsip kesetaraan dan saling memberikan dukungan positif. Hal ini kami lakukan secara terus menerus tanpa berpikir menerima imbalan pujian atau penghargaan. Sehingga saya begitu kaget antara percaya atau tidak atas penghargaan atau anugerah Pena Emas yang akan diberikan pada saya selaku gubernur Sumatera Barat. Jika ini diberikan, jelas bahwa Pena Emas itu didekasikan untuk seluruh masyarakat Sumatera Barat. Penghargaan ini tentu bukan sesuatu yang datang tiba tiba: ada proses dan indikator yang dibuat oleh panitia dalam hal ini jajaran PWI, mulai daerah hingga pusat.

Buat saya, penghargaan Pena Emas bukanlah akhir atau puncak sebuah proses kemitraan antara pemerintah daerah dengan insans pers. Tetapi ini mejadi cambuk bagi kita bersama, terutama di jajaran OPD untuk lebih meningkatkan kemitraan tersebut. Pers yang sehat adalah pers yang bisa berperan sebagaimana fungsinya dalam UU Pers, serta para wartawannya profesional dalam melaksanakan tugas tugas kewartawanan sesuai Kode Etik jurnalistik.

Pada kesempatan ini izinkan saya kembali menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya pada jajaran PWI pusat yang telah mempercayai Sumatera Barat sebagai tuan rumah HPN 2018 pada Februari lalu. Sebuah perhelatan besar yang tentunya memberikan nilai positif bagi Sumatra Barat dan menjadi kebanggaan insan insan pers Sumatra Barat setelah lama menunggu sebagai tuan rumah. Izinkan juga saya kembali menyampaikan permohonan maaf bila kami sebagai tuan rumah tidak dapat memberikan memberikan kepuasan pada tamu tamu kami yang jumlahnya ribuan orang tersebut.

PENINGKATAN KAPASITAS SDM PERS

Ke depan kita tentu sama sama bertekad kemitraan yang sudah terjalin baik dapat terus ditingkatkan. Tugas pemerintah daerah dalam pembinaan pers harus terus ditingkatan. Pemerintah akan terus mendorong insan insan pers serta perusahaan pers memenuhi standar standar yang telah disepakati dalam dunia pers dan patuh pada regulasi dan aturan yang berlaku di republik ini. Sebab pada akhirnya para wartawan yang profesional dan perusahaan pers yang sehat secara hukum dan bisnis yang mampu berkompetisi dalam persaingan media massa.

Teknologi mungkin tak tertahankan kemajuannya oleh kita, sehingga banyak infrastruktur media berubah luar biasa. Para pengelola media harus menyelaraskan dengan perkembangan teknologi terutama teknologi informasi. Dunia pers kertas secara perlahan mulai tergantikan oleh pers yang  paperless berbasis IT. Bahkan sejumlah pekerjaan produksi mungkin saja akan tergantikan oleh mesin atau robot di masa datang. Tetapi saya yakin kontens atau cara menyusun kontens media yang berbasis penulisan dan pikiran, tentu tidak akan pernah tergantikan oleh mesin atau robot. Pekerjan itu masih saja akan dilakukan oleh manusia yang bernama wartawan itu.

Yang jadi soal tentu bagaimana agar dari waktu ke waktu kualitas tetap menjadi keunggulan dari produk media.  Untuk itu para wartawan harus terus diasah dan tingkatkan kemampuan sumber daya manusia nya. Wartawan yang tidak profesional dikhawatirkan tidak hanya merugikan insan pers atau perusahaan tempat ia bekerja, tetapi juga merugikan daerah. Justru itu tugas kita bersama: organisasi kewartawanan, perusahaan pers dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas insan pers tersebut. Kegiatan atau proses jurnalistik sepertinya sederhana tetapi proses tersebut dapat dilakukan dengan baik apabila wartawannya memahami ilmu jurnalistik.

Menurut Haris Sumadiria (2005) jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas luasnya dengan secepat cepatnya. Saya menyadari benar, bahwa sejarah panjang pers nasional dimulai dari Ranah Minangkabau. Oleh karena itu, saya merasa bertanggung jawab untuk ikut memajukan pers daerah ini dan tentu saja pers nasional. Wartawan-wartawan hebat banyak lahir dari Ranah Minang, karena itu sebagai Gubernur saya merasa bahwa kehebatan itu hendaklah dapat bertahan selamanya dengan cara tetap mendorong pers daerah ini menempa dirinya terus menerus guna menjaga pers yang berkualitas itu.

Padang, 21 September 2018

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Tulisan ini dibacakan saat pidato  acara penerimaan penghargaan Pena Emas dari PWI Pusat di Padang, 21 September 2018

 

291. 2018-09-22 [Singgalang] Pena Emas dari PWI

Pena Emas dari PWI

Pada 21 September 2018 lalu, di hadapan 12 panelis yang juga pengurus inti PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat yang datang ke Padang saya menyampaikan pokok-pokok pikiran saya tentang pers yang berjudul “Minangkabau dalam Jati Diri Pers Nasional”.

Beberapa pokok pikiran saya tersebut menceritakan bagaimana orang Minang memiliki karakter yang mendukung mereka berprofesi di dunia pers, dan kemitraan antara pemerintah dengan pers. Jika melihat kembali sejarah, sebagian besar pahlawan nasional dari Sumbar adalah para wartawan atau penulis, dan juga ada yang memiliki koran atau media cetak lainnya. Sebut saja, Hamka, M. Natsir, Abdul Muis, M. Yamin, H. Agus Salim, M. Hatta, Rasuna Said. Selain pahlawan nasional, tokoh-tokoh Minang yang menasional juga banyak berasal dari kalangan wartawan atau sastrawan.

Dari dulu hingga kini, orang Minang memiliki lingkungan yang mendukung untuk melahirkan berbagai karya tulis. Lingkungan yang egaliter, menjadikan orang mudah melakukan kritik, menyebarkan ide dan pemikiran secara independen, memunculkan kecerdasan yang dimiliki, dan bebas berbicara. Hal ini menjadikan banyak orang Minang berprofesi sebagai penulis, wartawan, sastrawan, guru, ulama, politisi, dosen, pedagang, diplomat, dan lainnya.

Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Pena Emas PWI, tentang Aur dan Tebing” Bpk Teguh Santosa yang juga salah satu panelis mengutip isi orasi saya. Beliau menjadikan aur dan tebing sebagai salah satu cara pandang saya terhadap pemerintah dan pers. Keduanya adalah mitra sejajar. Keduanya saling membutuhkan, sehingga fungsi masing-masing harus dijaga dan dihormati.

Aur adalah tanaman yang melindungi tebing sehingga tidak mudah runtuh. Sebaliknya tebing yang kokoh merupakan tempat yang baik bagi aur untuk tetap tumbuh. Jika tebing tidak kokoh, ia pun akan tumbang.

Agar kemitraan antara pemerintah dengan pers bisa berjalan dengan baik, maka kedua pihak harus mengetahui hak dan kewajibannya. Serta satu sama lain saling memahami fungsi dan tugasnya. Jika pemerintah menyediakan fasilitas, program, anggaran, untuk kemitraan dengan pers, maka dari sisi pers sendiri juga harus mengikuti aturan yang ada, baik aturan terkait UU Pers, aturan dari Dewan Pers dan aturan yang berlaku lainnya. Demikian pula wartawannya, telah memiliki pengakuan resmi dari instansi terkait seperti sertifikat wartawan. Sehingga bisa bekerja secara profesional. Maka dengan demikian kemitraan bisa berjalan dengan baik.

Sebaliknya, jika ada di antara salah satu pihak tidak memenuhi apa yang seharusnya dijalankan, maka akan terjadi kepincangan sehingga kemitraan tidak berjalan. Misalnya saja, ada wartawan yang terkait kasus hukum, atau ada media yang diadukan ke dewan pers. Untuk itu ke depannya, dalam suasana demokrasi yang selain memberi kebebasan berpendapat juga dikeluarkan aturan agar tertib. Maka kemitraan pemerintah dengan pers pun perlu aturan yang bertujuan menciptakan suasana tertib.

Ibarat adanya jalan raya, di mana setiap pemilik kendaraan berhak melintasi jalan raya, dikeluarkan aturan dalam bentuk rambu lalu lintas, marka jalan, lampu lalu lintas, dan UU Lalu Lintas. Tujuannya agar tercipta ketertiban dan kelancaran arus kendaraan, dan bukan untuk menghambat. Sehingga semua pengendara bisa terpenuhi haknya sekaligus menjalankan kewajiban sebagai pengguna jalan raya. Dengan demikian, jalan raya bisa dilalui berbagai kendaraan dengan memperhatikan aturan yang berlaku. Maka aturan yang berlaku terhadap pers, di antaranya media dan wartawan adalah untuk menjadikan kondisi lebih tertib.

Setelah saya selesai menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang pers, maka panelis berdiskusi dan kemudian memberikan penilaian isi pokok-pokok pikiran saya tersebut dengan nilai “cumlaude”. Dan kemudian disusul pemberian penghargaan Pena Emas.

PWI Pusat memberikan penghargaan tertinggi mereka yaitu Pena Emas kepada saya selaku gubernur karena dianggap memiliki peran dalam pengembangan pers nasional dan mendukung suasana kebebasan pers di Sumbar serta berkontribusi besar memajukan pembangunan daerah. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada PWI Pusat atas penghargaan ini. Terus terang, penghargaan ini belum pernah terpikirkan oleh saya akan mendapatkannya. Dan sejauh ini dari Sumbar menurut Bpk Margiono (Ketua PWI Pusat) baru 2 orang yang mendapatkannya, yaitu Bpk. Rosihan Anwar (alm) dan saya sendiri. Maka penghargaan ini sesungguhnya merupakan kebanggaan bagi masyarakat Sumbar.

Penghargaan Pena Emas ini bagi saya, semakin memotivasi untuk menjalin hubungan dan komunikasi yang lebih baik lagi, serta berkontribusi dan bermitra dalam artian positif dengan pers. Kerja sama dan kemitraan pemda dengan pers ini jika berjalan baik, maka akan memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya bagi kalangan pers sendiri maupun pemerintah. Tetapi juga semakin meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan karena menerima informasi dari media yang kredibel. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 27 September 2018

 

292. 2018-10-04 [Padek] Sumbar Peduli Palu

Sumbar Peduli Palu

Bencana gempa kembali terjadi di tanah air. Belum lama rasanya kita ikut merasakan penderitaan saudara kita di Lombok akibat gempa, tiba-tiba kita dikejutkan dengan gempa yang menimbulkan kerusakan parah di Palu dan Donggala yang diikuti tsunami. Di media sosial, ketika terjadi gempa di Lombok beredar video amatir yang merekam terjadinya gempa dan kerusakan yang ditimbulkannya.

Demikian pula ketika terjadi gempa di Palu dan Donggala, beredar video amatir di media sosial yang menayangkan detik-detik datangnya tsunami, dan tanah yang berjalan membawa apa saja yang di atasnya hanyut seperti aliran sungai. Sementara itu, di media resmi juga sudah muncul video yang memperlihatkan dari udara area yang dilanda tsunami dan gempa. Tayangan ini memperlihatkan betapa kekuasaan Allah Swt tidak bisa kita lawan. Kita mesti terima sebagai sebuah takdir yang telah diputuskanNya. Yang bisa kita lakukan adalah mengevaluasi dan mengantisipasi jika bencana terjadi. Namun di sisi lain, menyikapi kondisi saudara kita yang terkena dampak gempa dan tsunami, dituntut kepedulian kita untuk membantu meringankan beban mereka

Untuk itu, sebagai wujud kepedulian sesama Pemprov Sumbar telah menganggarkan dana untuk membantu korban gempa dan tsunami di Palu, Donggala dan sekitarnya. Sebelumnya, Pemprov Sumbar juga telah menganggarkan dana untuk membantu korban gempa Lombok. OPD (Organisasi Perangkat Daerah) di lingkungan Pemprov Sumbar juga ikut berpartisipasi dalam aksi sosial ini.

Selain itu, kami juga tengah mengumpulkan 1 ton rendang untuk diberikan kepada korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Baik yang berasal dari OPD di lingkungan Pemprov Sumbar dan juga masyarakat.

Sebelumnya kami sudah melakukan upaya serupa, yaitu 1 ton rendang untuk Aceh, dan 1 ton rendang untuk Lombok/NTB. Dan kini 1 ton rendang akan kami kirimkan kepada saudara-saudara kami di Palu, Donggala dan sekitarnya yang terkena dampak gempa.

Jika kita kembali melihat bagaimana gempa 2009 terjadi di Sumbar, betapa setiap bantuan yang datang begitu berharga di tengah kondisi sulit. Sedikit demi sedikit bantuan datang, akhirnya banyak yang terbantu. Ada bantuan yang datang dari pemerintah melalui APBN/APBD, dan ada juga yang melalui swasta maupun asing. Dan kini, kondisi Sumbar tidak terlihat lagi bangunan yang rusak akibat gempa 2009.

Wilayah di Indonesia memang banyak yang merupakan daerah rawan gempa. Oleh karena itu, kita juga harus semakin siap jika suatu saat gempa terjadi. Di samping itu, kita juga harus melatih diri untuk semakin peduli dengan saudara-saudara kita di wilayah lain yang terkena bencana. Karena pada dasarnya bantuan yang kita berikan kepada saudara-saudara kita itu akan kembali lagi kepada kita.

Kita mesti mensyukuri apa yang ada pada hari ini di mana tanda-tanda bekas terjadi gempa besar tidak ada lagi terlihat. Sumbar sudah pulih, dan itu sebagiannya karena adanya bantuan yang datang kepada kita di kala kondisi sulit waktu itu.

Maka, ketika kita sudah keluar dari kondisi pascagempa, saatnya kita juga turut peduli kepada saudara-saudara kita di wilayah lain. Kita bantu mereka dengan kemampuan yang ada pada kita.

Datangnya gempa, kita memang tidak tahu kapan waktu pastinya. Oleh karena itu, sebagai umat beragama kita mesti menyikapi takdir yang terjadi dengan tetap berbaik sangka kepada Allah Swt. Sebaliknya, kita juga bisa menghindarkan diri dari datangnya musibah atau bencana dengan bersedekah. Rasulullah Saw bersabda yang artinya, “Bersegeralah sedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah”. (HR. Imam Baihaqi).

Tak lupa, saya mengapresiasi seluruh elemen masyarakat di Sumbar yang selama ini sudah memberikan sumbangannya untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana. Baik dari pemda, instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat. Semoga kepedulian kepada sesama ini bisa menjadi karakter yang terus melekat pada diri kita, maupun keluarga dan masyarakat.

Dan untuk mereka yang terkena bencana, marilah kita doakan agar mereka kuat dan sabar dalam menghadapinya. Serta diberikan pertolongan oleh Allah Swt untuk segera pulih kembali kehidupannya. Amin.

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 4 Oktober 2018

 

293. 2018-10-11 [Singgalang] Liam dan Laila

Liam dan Laila

Pada 4 Oktober 2018 lalu saya bersama keluarga, sahabat dan staf menghadiri acara nonton bareng pemutaran perdana film “Liam dan Laila”. Acara bertempat di Studio XXI Transmart, Padang. Film ini menceritakan potret kekinian wajah orang Minang yang masih berpijak kepada nilai-nilai agama yang bisa bersanding dengan adat budaya.

Sebagian film memperlihatkan latar wilayah Sumbar seperti Ngarai Sianok, Lembah Anai, dan Lembah Harau, serta Kota Bukittinggi. Film ini dilatarbelakangi kisah cinta antara Liam yang orang Prancis dengan Laila yang orang Bukittinggi. Liam awalnya mencari informasi tentang Islam di dunia maya. Ia ingin mengetahui apa itu Islam, dan tidak ingin terkecoh dengan berbagai pemberitaan media.

Di tengah pencariannya ia bertemu Laila di dunia maya dan bertanya banyak kepada Laila tentang Islam. Jawaban Laila memberikan informasi baru bagi Liam tentang Islam. Dan kemudian Liam jatuh cinta serta ingin menikahi Laila. Maka ia pun berangkat dari Prancis menuju Bukittinggi dengan visa selama 30 hari.

Ketika Liam berjumpa Laila dan orangtuanya di Kebun Binatang Bukittinggi, orangtua Laila terkejut dengan calon Laila. Paman Laila yang datang belakangan juga terkejut ketika melihat Liam. Karena tidak menyangka calon Laila adalah lelaki non muslim.

Kemudian dari pihak ibu Laila mengadakan musyawarah keluarga untuk memutuskan kelanjutan permintaan Liam yang menginginkan menikahi Laila. Di sini diperlihatkan tentang potret matrilineal di Minang yang juga bersanding dengan ajaran Islam. Yaitu Liam harus masuk Islam. Dan tidak cukup itu, Liam juga harus bersunat bahkan akhirnya harus salat dan bisa baca Alquran. Dan urusan pernikahan Laila ini diurus oleh pamannya (mamak) yang berasal dari keluarga ibu Laila.

Di sini diperlihatkan bahwa orang Minang adalah orang Islam. Maka jika ingin menikahi perempuan Minang sang lelaki yang bukan muslim harus masuk Islam terlebih dahulu. Jika melihat fenomena saat ini di berbagai wilayah di Indonesia, ada juga wanita yang muslim justru harus berpindah agama mengikuti agama calon suami. Film Liam dan Laila justru memperlihatkan prinsip orang Minang dalam pernikahan, yang harus berpegang kepada ajaran Islam.

Kehebohan keluarga Laila terhadap Liam yang berasal dari Prancis dan bukan muslim menjadi salah satu titik tekan dalam film ini yang juga mengundang gelak tawa penonton. Saya menilai sutradara atau penulis naskah mampu dengan baik memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh penonton mengenai pernikahan di Minangkabau.

Di film ini juga diperlihatkan bagaimana Liam yang ingin menikah telah menyiapkan surat-surat keterangan yang berlaku di negaranya. Namun ketika dihadapkan dengan kondisi Indonesia, ternyata ada aturan yang harus dipenuhi. Sehingga Liam, paman dan kakak Laila harus berjibaku mengurus surat-surat hingga ke Jakarta.

Akhirnya, syarat menikah Liam selesai dan waktu tersisa sesuai izin visa semakin dekat. Maka keluarga Laila yang juga sudah mengikuti perkembangan Liam akhirnya memutuskan bisa menerima Liam sebagai calon suami Laila. Dan Laila juga angkat bicara siapa calon suami yang akan dinikahinya, karena di waktu yang bersamaan ada juga laki-laki yang datang ke rumahnya untuk melamar.

Selain itu diperlihatkan adanya ketidaksetujuan dari beberapa keluarga dari pihak ibu Laila terhadap proses menuju pernikahan yang sedang dijalani sehingga menimbulkan ketidaksetujuan beberapa ninik mamak. Keluarga Laila yang sudah menjelaskan duduk masalahnya akhirnya memutuskan tetap jalan. Di sini diperlihatkan bahwa hal prinsip dan pokok yaitu ajaran Islam menjadi prioritas, dan diikuti adat budaya. Ada sedikit masalah dalam hal adat, namun ternyata bukan yang prinsip, dan sebenarnya bisa dicari solusinya jika dibicarakan dengan komunikasi yang baik.

Karena yang pokok sudah dipenuhi maka ada beberapa rangkaian adat yang tidak dilakukan dalam proses pernikahan Liam dan Laila. Mengingat Liam memiliki keterbatasan waktu terkait izin visa di Indonesia. Dan paman Laila yang akhirnya mengambil cuti untuk mengurus pernikahan Laila, setelah sebelumnya mendapat peringatan di kantornya akibat sering bolos mengurusi amanat keluarga Laila. Ini merupakan potret kondisi kekinian orang Minang yang harus berhadapan dengan perkembangan zaman. Dan bisa disesuaikan tanpa mengurangi nilai yang prinsip.

Film Liam dan Laila bisa disebut sebagai sebuah film yang ikut mempromosikan adat dan budaya Minang sekaligus promosi destinasi wisata Sumbar seperti Jam Gadang Bukittinggi, Ngarai Sianok, Lembah Anai dan Kota Bukittinggi. Selain itu juga ikut mengenalkan ajaran Islam dan kehidupan umat Islam Indonesia, khususnya Sumatra Barat.

Saya mengapresiasi film Liam dan Laila ini. Semoga masyarakat Sumbar dan juga Indonesia bisa menonton film ini karena penuh dengan pesan moral. Dan semoga akan ada lagi film yang memotret alam dan masyarakat Minangkabau dari berbagai sudut pandang sehingga orang Minang semakin bangga dengan keminangannya dan juga keislamannya, serta orang luar pun bisa semakin mengenal alam dan masyarakat Minangkabau dalam konteks kekinian. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 11 Oktober 2018

 

294. 2018-10-18 [Padek] Banjir Lagi

Banjir Lagi

Baru saja kita di Sumbar ikut berduka dan bersimpati kepada saudara-saudara kita di Palu, Donggala, dan sekitarnya, tiba-tiba kita dikejutkan dengan musibah yang terjadi di Sumbar. Banjir bandang dan longsor  yang terjadi di Tanah Datar dan Padang Pariaman telah menimbulkan korban jiwa dan juga korban luka-luka. Sementara di Pasaman Barat terjadi longsor dan banjir yang menyebabkan jembatan dan jalan menjadi rusak.

Selain Tanah Datar, Padang Pariaman dan Pasaman Barat, daerah lain yang terdampak banjir adalah Limapuluh Kota, Pesisir Selatan,  Pasaman, Agam, Sijunjung, Mentawai, Solok dan Sawahlunto. Banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 11 Oktober 2018 di Nagari Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar  menimbulkan jatuhnya korban manusia. Dan  juga telah menyebabkan beberapa rumah rusak berat, serta ada juga kedai dan ruko yang ikut rusak. Termasuk juga jembatan yang rusak akibat banjir bandang tersebut.

Untuk itu, atas nama Pemprov Sumbar kami turut berduka serta mendoakan bagi para korban semoga Allah Swt meninggikan derajat mereka yang meninggal dunia di sisiNya. Serta bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapinya. Dan bagi korban luka semoga Allah Swt segera pulihkan kondisinya. Amin.

Sementara itu terkait penanganan yang sudah dilakukan, saya turut mengapresiasi langkah berbagai pihak yang ikut membantu penanganan bencana tersebut. Baik kepada Pemda, BPBD, Basarnas, TNI, Polri, SKPD, relawan, dan masyarakat. Saat ini kita memang harus sangat sensitif terhadap berbagai kemungkinan datangnya berbagai bencana yang akan terjadi di wilayah kita. Karena selain sering terjadinya gempa di wilayah lain yang diikuti tsunami dan likuefaksi yang tidak bisa diprediksi sehingga kita pun harus waspada, di wilayah kita juga begitu banyak potensi bencana yang sebenarnya masih bisa diantisipasi.

Terjadinya banjir, banjir bandang, longsor, sebenarnya bisa diprediksi sehingga bisa diantisipasi agar tidak terjadi korban. Hal Ini bisa dilihat dari curah hujan dan lamanya hujan. Jika hujan yang turun cukup lama dan curah hujannya tinggi, maka bagi mereka yang tinggal di dekat sungai harus waspada akan kemungkinan datangnya banjir atau banjir bandang. Dan bagi mereka yang tinggal dekat dengan tanah atau dataran yang memiliki kemiringan tertentu sudah bisa melakukan antisipasi dengan menjauhi lokasi tersebut untuk sementara waktu. Datangnya banjir dan longsor tidaklah tiba-tiba, tetapi didahului proses turunnya hujan dengan waktu yang tidak sebentar. Sehingga korban bencana akibat hujan seharusnya bisa diantisipasi dan menghindarkan munculnya korban jiwa.

Kami tak bosan-bosannya mengimbau kepada masyarakat agar menjauhi sungai dan lokasi rawan longsor. Dan bila perlu bisa mencari tempat tinggal yang jauh dari sungai dan tempat rawan longsor. Selain itu, kami juga mengimbau masyarakat, terutama dalam lingkup keluarga agar memiliki rencana kesiapsiagaan mengantisipasi terjadinya bencana. Baik yang tidak bisa diprediksi maupun yang bisa diprediksi.

Dari sisi pemerintah sendiri, kami telah mengupayakan kesiapan instansi terkait dalam menghadapi datangnya bencana. Seperti kesiapan peralatan, sarana dan prasarana maupun perbaikan dan peningkatan standard operating procedure (SOP).

Terkait penanganan banjir bandang, maka yang bisa dilakukan  untuk mengatasinya adalah mencegah penumpukan di hulu sungai yang menimbulkan semacam bendungan alami. Biasanya penumpukan ranting-ranting dan dahan pohon maupun batu-batu yang jatuh akibat terjadinya gempa. Dan jika curah hujan tinggi, ia akan jebol sehingga menimbulkan banjir bandang. Juga upaya pengerukan sungai yang terjadi pendangkalan serta normalisasi sungai.

Untuk itu, kami juga mengajak relawan, masyarakat, aparat, dan para pemangku kepentingan agar bisa berkoordinasi mengatasi hal demikian. Terutama bagi mereka yang berada di wilayah tersebut. Karena mereka lebih mengenal wilayahnya.

Selain  itu, untuk mengantisipasi terjadinya banjir, para pihak terkait juga perlu memeriksa kondisi sungai. Apakah dari segi lebar masih sama dibanding sebelumnya. Apakah kedalamannya juga tidak berubah mengalami pendangkalan. Karena jika sungai mengalami penyempitan dan pendangkalan, akan berdampak kepada kelancaran arus air. Terutama ketika curah hujan tinggi dan lama. Untuk mengatasinya, maka sungai perlu dilebarkan kembali maupun dilakukan pengerukan.

Semoga masyarakat semakin memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengantisipasi datangnya banjir dan longsor sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Karena hal ini bisa diprediksi sehingga bisa diantisipasi. Selain itu, dengan seringnya banjir dan longsor, maka diharapkan masyarakat mematuhi tata ruang yang telah dibuat oleh pemda. Misalnya, jangan mendirikan bangunan baru di dekat sungai. Karena hal seperti ini sama saja ikut menantang datangnya banjir jika curah hujan tinggi dan lama.

Satu hal yang juga tak kalah penting setelah melakukan berbagai antisipasi menghadapi datangnya bencana, yaitu  menjauhkan kita dari segala bentuk maksiat dan berdoa kepadaNya. Sebagai umat beragama, berdoa adalah jalan untuk menghindari datangnya bencana. Sebagai muslim, di setiap salat wajib dan sunat yang kita lakukan selalu kita baca surat Alfatihah.  “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”, adalah arti dari ayat kelima surat Alfatihah tersebut.

Maka, kita harus senantiasa berdoa kepada Allah Swt agar wilayah kita dijauhkan dari bencana. Karena segala sesuatu yang terjadi di atas dunia ini adalah atas izinNya, atas kehendakNya. Dan dengan berdoa yang khusyuk seraya menundukkan diri dihadapanNya, insya Allah doa-doa kita bisa dikabulkanNya. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres, 18 Oktober 2018

 

295. 2018-10-26 [Singgalang] Belajar dari Anwar Ibrahim

Belajar dari Anwar Ibrahim

Pada 13 Oktober 2018 lalu, dalam sebuah urusan pribadi ke Malaysia, saya sempat menyaksikan perayaan kemenangan Anwar Ibrahim pada malam waktu setempat. Ia baru saja memenangkan pemilu sela di Kota Port Dickson pada 13 Oktober 2018. Anwar berhasil meraih 71  persen suara di wilayah tersebut.

Dengan kemenangan ini, Anwar terpilih sebagai anggota parlemen. Dan pada fase berikutnya dalam dua tahun ke depan ia akan menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia seperti yang dijanjikan Mahathir Mohamad yang saat ini menjabat Perdana Menteri Malaysia. Aturan di Malaysia, syarat untuk menjadi Perdana Menteri adalah berasal dari anggota parlemen.  Biasanya PM diangkat dari partai pemenang Pemilu. PKR (Partai Keadilan Rakyat), partainya Anwar Ibrahim memperoleh kursi terbanyak di Parlemen.

Anwar bisa mengikuti pemilu setelah dibebaskan oleh Raja Sultan Muhammad V dan merupakan permintaan dari Mahathir Mohamad sesuai dengan janjinya yang memenangi pemilu Malaysia (Pilihan Raya) ke-14.

Kemenangan Anwar dalam pemilu sela kali ini persentasenya lebih tinggi dari persentase kemenangan koalisi Pakatan Harapan (barisan oposisi) yang dipimpin Mahathir Mohamad sebesar 48%. Kali ini Anwar menang di daerah-daerah yang merupakan mayoritas muslim, mayoritas Cina dan mayoritas India.

Hal ini sangat menarik, karena sebagai politisi dan aktivis Islam ternyata Anwar mampu memunculkan nilai Islam yang universal dalam perjuangannya dan bisa diterima oleh masyarakat dari beragam kalangan, seperti Cina, India, yang juga berbeda agama maupun ideologi.  Anwar Ibrahim bagi publik Indonesia sesungguhnya bukan nama yang asing. Terutama bagi para politisi, elit, dan aktivis Islam.

Anwar sempat dipenjara pada pemerintahan Mahathir karena tuduhan korupsi dan sodomi dengan masa hukuman yang cukup lama. Dan pada masa pemerintahan Najib ia juga kembali dipenjara. Namun Anwar tidak dendam kepada Mahathir dan Najib. Meskipun konon kabarnya Anwar sempat mengalami “penyiksaan” ketika di penjara. Dan itu terlihat dari kondisi fisiknya.

Ada satu hal yang bisa kita pelajari bersama dari sosok Anwar Ibrahim. Yaitu keteguhan dan kegigihannya dalam memperjuangkan visi misinya menjadikan Malaysia sebagai negeri yang madani. Anwar yang mendirikan Partai Keadilan Rakyat sejak 1999 hingga kini tetap teguh berjuang melalui partainya.

Pada 2008 bersama beberapa partai, Anwar secara de facto mendirikan dan memimpin koalisi Pakatan Rakyat yang merupakan barisan oposisi. Dan pada 2018 koalisi oposisi memiliki nama baru Pakatan Harapan yang dipimpin Anwar dan Mahathir Mohamad. Pada pemilu ke-12 Pakatan Rakyat mampu mengalahkan dua pertiga UMNO-Barisan Nasional, dan pada pemilu ke-13 Pakatan Rakyat mampu memperoleh suara 51% sehingga menjadi partai komponen terbesar di parlemen.  Pada pemilu ke-14 Pakatan Harapan memenangi pemilu dengan kursi mayoritas di parlemen.

Pada 1998 di masa transisi Indonesia ingin mengubah diri menjadi negara yang demokratis dengan semangat reformasi, turut mempengaruhi Anwar menyuarakan reformasi di Malaysia. Anwar ingin memperjuangkan Malaysia yang madani dan bebas korupsi.

Anwar yang pada waktu itu menjabat Wakil Perdana Menteri Malaysia dianggap Mahathir melakukan penentangan sehingga Anwar dipecat sebagai Wakil PM. Dan kemudian dijebloskan ke penjara.

Ide-ide Anwar dalam mewujudukan Malaysia yang madani dan bebas korupsi bisa diterima oleh berbagai kalangan dari berbagai etnis dan agama. Anwar mampu menempatkan dirinya di tengah berbagai etnis dan agama yang ada di Malaysia. Anwar dipercaya oleh kalangan muslim, dan juga kalangan agama lain, serta oleh etnis Melayu, Cina, India dan lainnya.

Keteguhan sikap Anwar yang juga mampu menempatkan diri di tengah keragaman masyarakat Malaysia, serta kesabaran menjalani hidup di penjara, kini membuahkan hasil. Yaitu akan diangkatnya Anwar menjadi Perdana Menteri Malaysia. Kita masih menunggu detik-detik pengangkatan tersebut dalam beberapa waktu ke depan.

Selain sebagai politisi, Anwar adalah aktivis gerakan Islam ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia). Anwar adalah Presiden ABIM yang kedua, dilantik pada 1974. Jika di Malaysia ada ABIM, maka di Indonesia ada HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Maka tak heran, Anwar dikenal dekat dengan aktivis HMI seusianya seperti Fahmi Idris, Rahmat Ismail, serta banyak tokoh Islam lainnya di Indonesia.

Satu hal penting yang juga bisa dipelajari dari Anwar Ibrahim adalah konsistensi dan komitmen berjuang dengan integritas dan nilai-nilai universal. Serta tetap berada di partai yang sama dalam memperjuangkan visi misinya. Jika ia mau, mudah baginya untuk mendirikan partai baru atau pindah ke partai lain. Namun itu tidak dilakukan Anwar.

Melihat sosok Anwar Ibrahim yang perjuangannya penuh integritas, memiliki visi misi yang bisa diterima oleh berbagai kalangan, tetap berada di partai yang sama, dan melewati sebagian hidupnya di penjara dengan tetap kuat dan sabar berjuang, saya mengapresiasi Universitas Negeri Padang (UNP) yang akan menganugerahi Anwar gelar Doktor Honoris Causa pada minggu depan. UNP secara cermat telah melihat sosok Anwar patut mendapat sebuah kehormatan.

Insya Allah Saya beserta Fokompimda akan menyambut Anwar Ibrahim di BIM pada Sabtu sore tgl 27 Oktober dan malamnya diijamu makan malam di Aula Kantor Gubernur. Dan pada Minggu dilanjutkan dengan pemberian kuliah umum oleh Anwar Ibrahim di UNP. Malamnya diadakan pertemuan dengan seniman dan budayawan di Rumah Puisi Padang Panjang. Dan pada Senin insya Allah akan dianugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Dato’ Seri Anwar Ibrahim dari UNP.

Di tengah fenomena mudahnya orang berpindah partai, berpindah haluan dan ideologi demi kepentingan sesaat, politisi yang begitu pragmatis dan materialitis, Anwar Ibrahim justru memperlihatkan sosok politisi yang berbeda dari itu. Walau bujuk rayu dan ancaman setiap saat menghampiri. Beliau tetap menjadi oposisi dengan prinsipnya demi memperjuangkan visi misinya yang mampu diterima berbagai kalangan. Dan juga tetap menjaga integritas dirinya.  ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 26 Oktober 2018

 

296. 2018-11-01 [Padek] Lelang Jabatan

Lelang Jabatan

Tidak disangka, Pemerintah Pusat menganugerahi Pemprov Sumbar Penghargaan atas Kepatuhan dan Kualitas Tata Kelola Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi pada 2018. Penghargaan ini diberikan oleh Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).

Sebelumnya, beberapa kali saya diundang secara pribadi untuk menjadi narasumber oleh KASN terkait proses lelang jabatan di Pemprov Sumbar. Saya juga turut diminta Kemendagri sebagai narasumber dan menceritakan bagaimana lelang jabatan dilakukan di Sumbar di depan Kepala BKD (Badan Kepegawaian Daerah) se-Indonesia.

Mungkin dari kegiatan memaparkan lelang jabatan di Sumbar tersebut, menjadi perhatian Kemendagri dan KASN untuk memberikan penilaian kepada Pemprov Sumbar. Sehingga Kemendagri menilai apa yang dilakukan Pemprov Sumbar terkait promosi jabatan, rotasi pegawai, mutasi pegawai, sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. Dan kemudian diberikan penghargaan tersebut.

Sebelum adanya aturan tentang lelang jabatan, Pemprov Sumbar sejak 2010 sudah bekerja sama dengan UI (Universitas Indonesia) untuk melakukan pemetaan potensi pegawai dalam rangka memilih pegawai yang memiliki kemampuan untuk menduduki jabatan tertentu.

Lelang jabatan belum ada di 2010, namun Pemprov Sumbar telah melakukan promosi, rotasi dan mutasi berdasarkan hasil tes pemetaan potensi yang sejalan dengan semangat lelang jabatan. Di sini proses yang dilakukan diupayakan secara objektif, dan bukan subjektif.

Pada masa itu, atau sebelum lelang jabatan ada, tidak sedikit kepala daerah yang memilih kepala dinasnya secara subjektif, bukan objektif. Yaitu melakukan pemilihan bukan berdasar kaidah pemetaan potensi yang bisa menggambarkan apakah bakat intelektual dan kepribadian seseorang bisa mengantarkannya kepada sebuah jabatan.

Maka timbul kesan bahwa ada kepala daerah yang melakukan promosi pegawainya secara subjektif karena berasal dari tim sukses, satu kampung, teman dekat, dan subjektivitas lainnya. Jika kita mengikuti berita media, baru-baru ini ada kepala daerah yang tertangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) karena melakukan pemberian jabatan yang ditukar dengan sejumlah uang tertentu. Dan ini bukan lagi masalah subjektivitas, tetapi sudah berdasar kepentingan terhadap uang.

Hal demikian yang jauh dari objektivitas, bahkan lebih condong kepada subjektivitas dan kepentingan, yang akan berujung kepada tidak berjalannya pembangunan di daerah tersebut. Orang-orang yang diberi jabatan belum tentu memiliki kemampuan yang disyaratkan secara objektif. Hal ini bisa menyebabkan rendahnya kinerja, minimnya prestasi, pembangunan tidak berjalan baik, dan akhirnya masyarakat secara umum dan daerah tersebut yang dirugikan.

Jika lelang jabatan dilakukan dengan pendekatan objektif, maka akan didapat the right man on the right place. Dengan pendekatan ini, orang yang menduduki jabatan tertentu memang sudah memenuhi persyaratan. Namun demikian, meskipun pendekatan objektif sudah dilakukan tetap ada yang diperhatikan selain itu, yaitu kemampuan untuk bekerja sama agar bisa bersesuaian jalan. Meskipun secara objektif seseorang telah memenuhi syarat, baik rekam jejak, pengalaman, kinerja, hasil tes, akan tetapi tidak mau bekerja sama atau tidak mau menyesuaikan diri dalam berjalan akan menyebabkan terjadi kepincangan. Di sini memang masih ada subjektivitas, tetapi dalam rangka membangun kerjasama. Namun demikian, dengan adanya pendekatan objektif sudah bisa meminimalisir terjadinya ketidakmauan atau ketidaksesuaian tersebut.

Pendekatan objektif yang disyaratkan untuk lelang jabatan ini di antaranya adalah memiliki bakat atau kemampuan intelektual dan kepribadian tertentu. Di antaranya adalah kemampuan melihat dan memetakan masalah serta memberikan solusi atas masalah tersebut. Kemudian mampu mengarahkan staf di bawahnya untuk memenuhi target yang akan dicapai. Sehingga di sini dibutuhkan potensi diri dan bakat intelektual yang lebih dari yang lain.

Sedangkan dari sisi kepribadian, akan bisa terlihat dari beberapa aspek seperti motivasi kerja, cara komunikasi, pola kepemimpinan, kerja sama, keteraturan, disiplin, jujur, amanah, sikap positif, pengambilan keputusan, kemandirian, dan pertimbangan objektif. Jika aspek-aspek tersebut nilainya memenuhi syarat tertentu, dan juga memiliki potensi diri dan bakat intelektual yang disyaratkan maka seseorang bisa diberikan sebuah jabatan.

Dengan melakukan lelang jabatan ini, alhamdulillah terbangun tim dengan SDM andal. Prestasi dan kinerja Pemprov Sumbar mampu dicapai. Hingga kini lebih dari 300 pencapaian, prestasi, dan penghargaan dari pemerintah pusat dan lembaga non pemerintah sudah diraih oleh jajaran Pemprov Sumbar. Hasil-hasil yang bisa dilihat secara statistik pun telah berbicara, seperti kenaikan pendapatan perkapita, pertumbuhan ekonomi termasuk tinggi, turunnya kemiskinan dan pengangguran, kenaikan indeks pembangunan manusia (IPM), berkurangnya rasio gini (gini ratio), inflasi yang semakin terkendali, meningkatnya investasi, berhasilnya KB, kepatuhan terhadap layanan publik, penyediaan infrastruktur yang semakin baik, dan lainnya.

Di Sumbar sendiri masih ada kepala daerah yang melakukan lelang jabatan dengan pendekatan subjektif sehingga berdampak negatif kepada daerah yang dipimpinnya. Ada kepala daerah yang dalam 3 tahun telah mengangkat sekretaris daerah sebanyak 6 kali, tentu dengan cara subjektif. Pendekatan yang subjektif ini akhirnya menyebabkan ketidakmampuan memberikan prestasi terbaik bagi daerah dan masyarakatnya. Selain itu, ketika mengikuti pilkada kali kedua ia tidak dipilih lagi. Dan di beberapa pilkada yang lain, juga ada kepala daerah yang ikut kali kedua namun tidak terpilih, salah satu sebabnya karena melakukan pendekatan subjektif dalam lelang jabatan atau mengisikan personel di jabatan yang ada.

Saya meyakini, masyarakat berharap agar kepala daerahnya menempatkan personel dalam mengisi jabatan dengan pendekatan objektif. Karena ini jelas akan membawa dampak positif bagi masyarakat dan daerah. Dan tidak hanya itu, memberikan jabatan kepada orang yang tepat insya Allah merupakan bagian dari usaha mendapatkan rahmat dan rida dari Allah Swt.

Saya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada segenap jajaran Pemprov Sumbar sehingga penghargaan terkait lelang jabatan ini diberikan oleh KASN kepada Pemprov Sumbar. Karena sesungguhnya penghargaan ini adalah untuk seluruh jajaran yang ada di Pemprov Sumbar yang telah bekerja dan berkontribusi positif selama ini. Semoga Allah Swt meridai kerja kita sehingga negeri kita diberikan rahmat dan berkah dariNya. Amin. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres 1 November 2018

 

297. 2018-11-07 [Singgalang] Anwar Ibrahim Kagum dengan Minang

Anwar Ibrahim Kagum dengan Minang

Pada kunjungan Anwar Ibrahim di Sumbar selama beberapa hari pada Oktober 2018 lalu, saya sempat mencatat beberapa poin penting ketika bersama beliau. Di antaranya adalah kisah setelah dibebaskan dari penjara. Anwar Ibrahim mengikuti pemilu sela untuk menjadi anggota parlemen Malaysia, dan nantinya sebagai syarat untuk menjadi Perdana Menteri Malaysia. Ia memilih sebuah tempat atau dapil (daerah pemilihan) bernama Port Dickson Negeri Sembilan.

Anwar sebenarnya bisa memilih Penang, yang merupakan basis suara utamanya untuk mendapatkan kemenangan. Pihak lain bahkan ada yang menawarkan daerah tertentu agar bisa menang. Para kader Partai Keadilan Rakyat (PKR) juga menawarkan Anwar daerah mereka sebagai tempat pemilu. Tetapi Anwar memilih sebuah tempat yang tidak ada basis pemilih fanatik atau pemilih yang berbasis hubungan keluarga dan teman. Anwar melakukan hal ini untuk meyakinkan dirinya bahwa ia bisa diterima oleh berbagai komunitas ras maupun agama. Anwar ingin diterima di semua daerah sebagai pemimpin. Anwar tidak ingin menang di kandang sendiri.

Tidak diduga sama sekali ternyata Anwar meraih 71 persen dari total suara. Anwar menyebut bahwa kemenangannya di Port Dickson turut disumbangkan oleh orang Melayu di sana. Yaitu orang-orang Minang. Orang Minang yang merantau ke Malaysia. Sehingga ada “saham” orang Minang atas kemenangannya di Port Dickson.

Anwar yang datang ke berbagai tempat di Sumbar, menyampaikan kekagumannya terhadap Minang. Diawali dari kekaguman terhadap budaya Minang yang dilihatnya seperti pantun, tarian, pakaian, kuliner dan lainnya.

Kemudian Anwar juga menyampaikan kekagumannya kepada tokoh-tokoh Minang yang menjadi inspirator, motivator dan rujukan dirinya dalam berjuang. Anwar menyebut Bung Hatta dan judul-judul bukunya, yang banyak membicarakan ekonomi kerakyatan. Kemudian disebutnya M. Natsir, tokoh Islam yang sangat dikagumi dunia yang juga pemimpin parpol Islam terkenal. Buya Hamka juga ia sebut bersama buku-bukunya, termasuk Tafsir Al Azhar dan novel-novelnya. Anwar sewaktu orasi pengukuhan gelar Doktor Honoris Causa juga menyebut M. Yamin dan Sutan Syahrir.

Satu hal menarik dari Anwar Ibrahim, ia juga seorang sastrawan, sehingga ia tahu nama-nama sastrawan Minang. Maka disebutlah nama-nama para sastrawan tersebut beserta karyanya. Seperti Salah Asuhan karya Abdul Muis, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Buya Hamka, Robohnya Surau Kami karya AA Navis, Siti Nurbaya karya Marah Roesli, dan karya-karya lain disebut Anwar bersama pengarangnya yang ternyata dihafal Anwar. Beliau lancar menceritakan isi pikiran tokoh-tokoh Minang tersebut.

Karena banyaknya tokoh-tokoh Minang yang ia tahu, maka pada saat orasi pengukuhan gelar Doktor Honoris Causanya, Anwar bisa dibilang hampir hanya menyebut nama-nama tokoh Indonesia yang dari Minang di luar nama Bung Karno. Sehingga ketika ia ingin menyebut nama seorang tokoh dari Jawa yaitu Prawoto, sempat salah terucap menjadi Prabowo. Prawoto adalah Ketua Partai Masyumi terakhir. Mungkin orang lebih kenal M. Natsir sebagai Ketua Partai Masyumi dibanding Prawoto.

Di Sumbar, Anwar mengunjungi beberapa tempat bersejarah, seperti Perguruan Thawalib yang pernah menjadi tempat belajarnya Buya Hamka. Kemudian singgah di Diniyyah Putri, tempat tokoh-tokoh wanita Malaysia pernah belajar. Pimpinan Diniyyah Putri juga menjelaskan kepada Anwar bahwa Sutan Syahrir sempat belajar di situ. Rumah kelahiran Bung Hatta dan Istana Bung Hatta juga disinggahi Anwar.

Dalam menemani perjalanan Anwar Ibrahim di Sumbar, setidaknya saya bisa simpulkan bahwa Anwar banyak mengisi pengetahuannya untuk bekal perjuangan dari tokoh-tokoh Minang tersebut. Di samping itu, Anwar juga mengambil pemikiran dari Fazlur Rahman, pendiri atau tokoh International Institute of Islamic Thought (IIIT). Anwar juga berteman dekat dengan Syaikh Yusuf Qardawi dan Recep Tayip Erdogan dan mengambil pemikiran dari keduanya. Dan banyak lagi tokoh dari berbagai negara yang ia sebutkan pemikiran para tokoh tersebut turut mewarnai perjuangannya.

Anwar Ibrahim bisa menjadi contoh bagi generasi muda yang memiliki idealisme, cita-cita, untuk memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini. Sehingga tidak perlu memulai dari nol untuk mencoba-coba sesuatu yang mungkin saja gagal. Karena Anwar Ibrahim pun juga mencontoh dari tokoh-tokoh yang ia kenal, tahu dan kagumi.

Kita bisa mengikuti hal-hal positif yang sudah dilakukan Anwar Ibrahim. Karena kesuksesan Anwar Ibrahim adalah akibat mencontoh kesuksesan orang-orang yang dikagumi dan dikenalnya. Insya Allah kita pun akan sukses jika mencontoh hal-hal positif tersebut dari orang seperti Anwar Ibrahim. Mengikuti tokoh yang sudah terbukti sukses, lebih mudah untuk mengikutinya.

Semoga hadirnya Anwar Ibrahim di Sumbar dan dianugerahi Doktor Honoris Causa oleh UNP, bisa memberikan inspirasi bagi kaum muda Minang. Terutama dalam meneladani perjuangan beliau, prinsip yang dipegangnya, kesederhanaannya, semangat anti korupsi, dan keberpihakan kepada masyarakat. Dan semoga kelak bisa menjadi faktor yang memperkuat hubungan antara Malaysia dengan Indonesia, khususnya Sumbar. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Singgalang, 7 November 2018

 

298. 2018-11-15 [ Padek] TdS Promosi Pariwisata

TdS: Promosi Pariwisata

Alhamdulillah, perhelatan besar pariwisata Tour de Singkarak (TdS) 2018 telah berjalan dengan baik, dan ditutup secara resmi oleh Menteri Pariwisata Bpk Arief Yahya. Di hari penutupan, pembicaraan tentang TdS menjadi trending topic di media sosial. Ini memperlihatkan bahwa gema TdS telah menyebar ke berbagai penjuru sehingga menjadi salah satu pembicaraan terbanyak di media sosial.

Pada tahun 2018 ini, pelaksanaan TdS memasuki usia ke-10 sejak dimulai pada 2009, dan diikuti oleh 20 tim dari 26 negara. Setelah terjadi gempa 2009, gema TdS sempat meredup, meskipun tetap berjalan. Kemudian bangkit kembali pada 2011 bersamaan dengan pelaksanaan rehab-rekon akibat gempa di Sumbar.

Gempa 2009 yang banyak meluluhlantakan rumah penduduk, jalan dan jembatan, sekolah, rumah ibadah, kantor pemerintah, pasar, juga ikut meredupkan pariwisata dan ekonomi Sumbar. Wisatawan dari Malaysia dan Singapura pun jumlahnya turun drastis. Diikuti penurunan jumlah wisatawan nusantara. Namun dengan terus berjalannya kegiatan TdS, telah mendorong pulihnya ekonomi dan pariwisata Sumbar.

TdS merupakan kegiatan olahraga sekaligus promosi wisata. TdS dilaksanakan dengan mencontoh pelaksanaan Tour de France di Prancis dan Tour de Langkawi di Malaysia yang memadukan sport and tourism. TdS di Indonesia adalah pelopor penyelenggaraan kegiatan sport and tourism. Beberapa wilayah lain mengikuti pelaksanaan TdS seperti Banyuwangi dan Lombok.

Konsep olahraga dan promosi wisata ini adalah dengan memulai start dari kawasan wisata dan finish di kawasan wisata, di mana rutenya juga dipilih melintasi kawasan wisata. Dengan hal tersebut, peliputan yang dilakukan oleh media nasional maupun internasional akan menyorot kawasan wisata tersebut. Sehingga ketika dipublikasi di berbagai media tersebut, baik kegiatan olahraga maupun kawasan wisata muncul dan dilihat oleh publik.

Kamera media dengan berbagai macam sudut pandang dan gaya masing-masing telah menjadikan berbagai kawasan wisata yang disorot tersebut tampil semakin menawan di mata publik. Hal ini yang kemudian menjadikan kegiatan TdS sebagai kegiatan olahraga sekaligus promosi wisata.

Promosi wisata dari TdS bukan ketika perlombaan tersebut berjalan, karena memang tidak banyak wisatawan yang datang, kecuali bagi masyarakat Sumbar yang menjadikan TdS sebagai tontonan yang menyenangkan. Ini terlihat dari antusiasnya masyarakat Sumbar menonton TdS sehingga menurut Amouri Sport Organization (ASO) jumlah penonton TdS masuk ke urutan lima terbesar di dunia.

Sementara dari sisi pelaku olahraganya sendiri, sejauh ini para juara di setiap etape masih banyak dikuasai oleh pembalap mancanegara dibanding yang berasal dari Indonesia. Sehingga dari sisi olahraga belum memberikan dampak signifikan bagi Indonesia. Namun kegiatan TdS telah memberikan dampak bagi kemajuan pariwisata di Sumbar. Sumbar semakin dikenal di Indonesia dan dunia.

Selain itu, kliping pemberitaan TdS yang pernah dikumpulkan oleh Kementerian Pariwisata jika ditumpuk maka tingginya tidak kurang dari 1 meter. Jika tumpukan berita tersebut dianggap sebagai hasil pemasangan iklan, maka disebut oleh Bpk Sapta Nirwandar nilai pemasangan iklan tersebut bisa mencapai trilunan rupiah.

Promosi wisata adalah upaya memperkenalkan potensi wisata atau destinasi wisata kepada publik. Kawasan wisata yang bagus atau kuliner yang lezat tidak akan didatangi banyak orang jika tidak dipromosikan, baik promosi dari mulut ke mulut maupun promosi bentuk lainnya. Contohnya adalah Malaysia yang mempromosikan potensi wisatanya melalui iklan di media dengan slogan “Truly Asia”. Iklan tersebut mengeluarkan biaya setara triliunan rupiah. Hasil dari promosi Malaysia tersebut di antaranya adalah, selama delapan tahun berturut-turut Malaysia ada di peringkat teratas indeks wisata halal dunia dari 130 negara yang disurvei dalam Global Muslim Travel Index oleh Mastercard-CrescentRating.

Dengan melakukan promosi, berbagai potensi dan destinasi wisata bisa diinformasikan. Baik danau, gunung, bukit, air terjun, desa, lembah, ngarai, pulau, ombak yang besar untuk surfing, kuliner, budaya, sejarah, semuanya bisa diketahui publik jika sudah dilakukan promosi.

Bali yang sudah dikenal lebih dulu oleh wisatawan mancanegara, telah dipromosikan sejak 1930an. Promosi yang dilakukan pada waktu itu awalnya adalah dari mulut ke mulut oleh mereka yang sudah datang ke Bali. Terutama oleh para tokoh terkenal seperti para pelukis dunia. Sedangkan Sumbar untuk skala nasional dan internasional, mungkin baru melakukan promosi yang terorganisasi sejak adanya TdS. Sehingga dari segi waktu memang kalah lama dengan Bali. Dari segi keindahan alam, Sumbar bisa bersaing dengan Bali. Maka jika dilakukan promosi yang terus menerus, jumlah wisatawan yang datang akan semakin meningkat.

Dan sejak kemunculan TdS sebagai promosi wisata nasional dan internasional, juga bermunculan promosi wisata lainnya dari Sumbar dalam skala nasional dan internasional, seperti Sawahlunto International Music Festival yang turut memperkenalkan Heritage City dipadu dengan pagelaran musik.

Beberapa kegiatan di Sumbar sudah masuk ke dalam agenda nasional kementerian pariwisata. Sementara TdS sendiri sudah masuk ke dalam agenda internasional dari UCI. Amplifikasi dampak dari kegiatan TdS yang sudah memasuki usia ke-10 bisa dibilang cukup memiliki pengaruh yang signifikan. Misalnya dari segi bertambahnya hotel, bertambahnya wisatawan yang datang baik nusantara maupun mancanegara, bertambahnya destinasi wisata, peningkatan kualitas destinasi wisata, penyiapan infrastruktur menuju lokasi wisata, bertambahnya jadwal penerbangan dari dalam dan luar negeri ke Sumbar.

Kenaikan pendapatan perkapita dari 15 juta rupiah di 2010 menjadi 37 juta rupiah di 2017 salah satunya disumbangkan dari sektor pariwisata. Dan ini dibarengi dengan menurunnya angka kemiskinan dan pengangguran, yang juga disumbang oleh sektor pariwisata. Dan investasipun juga meningkat di sektor pariwisata, baik yang langsung terkait maupun yang mendukung.

Meskipun TdS 2018 lebih banyak dianggarkan dari APBD Sumbar dan kabupaten/kota, pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata tetap memberikan dukungan dan bantuan baik anggaran maupun lainnya kepada Sumbar. Untuk itu saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah pusat, terutama Kementerian Pariwisata.

Selain itu, saya juga turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para bupati dan wali kota di Sumbar atas kerja samanya dalam menyukseskan TdS 2018. Dan juga kepada para pemangku kepentingan lainnya, termasuk juga media, komunitas, dan masyarakat. Semoga di tahun berikutnya bisa lebih baik lagi dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Sumbar. ***

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Padang Ekspres 15 November 2018