B. PESAN LUQMAN TENTANG ANAK SALEH

PESAN LUQMAN TENTANG ANAK SALEH

 

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah” (QS Luqman: 12).

 

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Auf bin Abdillah, dia berkata: “Luqman berkata kepada putranya: “Wahai putraku, jika kamu mendatangi tempat pertemuan suatu kaum, lemparlah mereka dengan anak panah Islam yakni, ucapan salam. Kemudian duduklah di antara mereka dan janganlah kamu berbicara sehingga kamu menyaksikan mereka berbicara. Maka apabila mereka berbicara panjang lebar tentang dzikir Allah SWT, segerakanlah anak panahmu. Dan apabila mereka berbicara panjang lebar tentang selain itu, maka berpalinglah kepada selain mereka”.

 

Diriwayatkan dari Muhammad bin Wasi, berkata: “Luqman pernah berkata kepada putranya: “Wahai putraku, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu pamer (riya) terhadap manusia, bahwa kamu takut kepada Allah, agar mereka memuliakan kamu dengan hal itu, sedangkan hatimu penuh dengan dosa”.

 

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia berkata: “Luqman berkata kepada putranya: ”Wahai putraku, jadikanlah ketaatan kepada Allah sebagai perniagaan, niscaya akan datang kepadamu keuntungan yang banyak tanpa dengan sesuatu barangpun”.

 

Diriwayatkan dari Al Jad Abu Utsman, dia berkata: “Luqman berkata kepada putranya: “Janganlah kamu suka membantah ucapan orang bodoh, sehingga dia mengira kamu menyukai kelakuannya. Dan janganlah kamu memandang remeh kebencian orang bijak, karena kebenciannya itu akan menjauhkan dia dari kamu”.

 

Dan Luqman berkata: “Wahai putraku, kalau kamu tidak mampu berbicara, maka janganlah kamu tidak mampu untuk diam. Dan hendaklah kamu lebih menyukai untuk mendengarkan daripada kamu berbicara. Sesungguhnya aku terus menerus menyesali berbicara, dan sekalipun tidak pernah aku menyesali atas diam”.

 

Dan Luqman berkata kepada putranya: “Apabila orang-orang bangga dengan indahnya perkataan, maka berbanggalah kamu dengan indahnya diam”.

 

Dan Luqman berkata: “Wahai putraku, bersikaplah lemah lembut, senang akan kebaikan, banyak berpikir, sedikit berbicara kecuali dalam hal kebenaran, banyak menangis dan sedikit bersenang-senang. Janganlah kamu banyak bercanda, berteriak dan mencela. Apabila kamu diam, maka diamlah dalam berpikir, dan apabila kamu berbicara, maka berbicaralah dengan hikmah”.

 

Pesan Luqman, “Wahai putraku, tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama daripada akal. Dan tidaklah sempurna akal seseorang, sehingga di dalamnya terdapat sepuluh sifat; aman dari rasa sombong, berharap petunjuk kebenaran, mencari makan di dunia dengan benar, mengeluarkan kelebihan dari hartanya, lebih senang merendah diri daripada sombong, lebih senang berhina diri daripada berbangga diri (berarti rendah hati dan kasih sayang terhadap sesama kaum muslimin), tidak bosan menuntut pemahaman sepanjang masa, tidak jemu dalam memenuhi kebutuhan dengan kemampuannya, memandang banyak kebaikan orang lain dan memandang sedikit kebaikan pada dirinya. Dan sifat yang ke sepuluh –yang dengannya, kemuliaan seseorang akan terangkat dan kedudukannya akan tinggi- yaitu menganggap semua orang lebih baik dari dirinya, dan menganggap dirinya lebih buruk dari mereka.

 

Dan adapun manusia itu terbagi menjadi dua golongan: Golongan yang lebih baik dan lebih utama darinya; serta golongan yang lebih buruk dan rendah darinya. Dan dia bersikap rendah hati (tawadhu) terhadap kedua golongan itu. Apabila dia melihat orang yang lebih baik dan mulia darinya, dia berangan-angan untuk bertemu dengan orang itu. Dan apabila dia melihat orang yang lebih buruk dan rendah darinya, dia akan berkata: “Barangkali orang ini akan selamat dan aku akan binasa. Barangkali kebaikan orang ini tersembunyi dan hal itu lebih baik baginya, dan kebaikanku tampak dan hal itu lebih buruk bagiku. Maka dengan demikian, dia telah menyempurnakan akal dan bahagia orang-orang yang hidup pada zamannya”.

 

Dan Luqman berkata: “Wahai putraku, yang pertama kali aku peringatkan kepadamu adalah jiwamu. Sesungguhnya tiap-tiap jiwa mempunyai hawa nafsu dan keinginan. Maka apabila kamu menuruti keinginannya, ia akan terus menerus dan menuntut hal lain. Sesungguhnya nafsu syahwat itu tersembunyi di dalam hati, sebagaimana tersembunyinya api di dalam batu. Apabila batu itu digesek-gesek, akan mengobarkan api, namun apabila batu dibiarkan, api itu akan tetap tersembunyi”.

 

Diriwayatkan dari Abi Said, dia berkata; Berkata Luqman kepada putranya: “Wahai putraku, janganlah sampai makan makananmu kecuali orang-orang yang bertakwa, dan mintalah pertimbangan dalam urusanmu kepada orang-orang pandai”.

 

Luqman berkata, “Wahai putraku, aku telah memanggul batu besar dan besi dan segala beban berat yang lain, tapi tidak ada yang lebih berat daripada tetangga yang buruk. Dan akupun telah merasakan segala yang pahit, tapi tidak ada yang lebih pahit daripada kefakiran. Wahai putraku, janganlah kamu mengutus utusan yang bodoh. Maka apabila kamu tidak mendapatkan seorang bijak, jadilah kamu utusan untuk dirimu. Wahai putraku, lihatlah jenazah dan jangan lihat pengantin. Karena sesungguhnya jenazah mengingatkan kamu akan akhirat, dan pengantin membuatmu senang kepada dunia. Wahai putraku, janganlah kamu (terlalu) manis sehingga kamu ditelan dan jangan pula (terlalu) pahit, kamu akan dimuntahkan”.

 

Luqman berkata, “Wahai putraku, apabila kamu hendak bersaudara dengan seseorang, maka tunggulah sampai dia marah. Bila dalam keadaan marah itu dia tetap berlaku adil terhadapmu, maka bersaudaralah dengannya. Tapi kalau tidak, maka hati-hatilah kamu terhadapnya”.

 

Dan Luqman berkata: “Wahai putraku, apabila perut itu penuh dengan makanan, maka tidurlah pikiran, bisulah hikmah, sedang anggota-anggota tubuh enggan untuk beribadah”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, aku nasihatkan kepadamu beberapa hal yang bila kamu pegang teguh, maka kamu akan tetap menjadi orang yang terhormat: Luaskanlah akhlak (santun)mu terhadap orang dekat dan jauh, tahanlah kejahilanmu terhadap orang mulia maupun orang durjana, sambunglah silaturrahim dengan kerabat-kerabatmu, jagalah saudara-saudaramu dan selamatkanlah mereka dari pengadu domba yang senantiasa berusaha untuk merusak hubunganmu dan ingin memperdayamu. Hendaklah saudara-saudaramu itu merupakan orang-orang yang bila kamu berpisah dari mereka atau mereka berpisah darimu, maka kamu tidak mencela mereka dan merekapun tidak mencela kamu”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah kamu menghilangkan kemuraman wajahmu dengan masalah. Janganlah kamu mengobati kemarahanmu dengan kekejamanmu dan tahu dirilah, itu akan bermanfaat bagi hidupmu”.

 

Dari Ibnu Abdul Bar meriwayatkan, bahwa Luqman berkata kepada putranya: “Hendaklah kamu menggauli orang-orang pintar dan dengarkanlah perkataan orang-orang bijak. Sesungguhnya Allah SWT menghidupkan hati-hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana menghidupkan bumi dengan hujan deras. Dan jauhilah olehmu berbohong dan akhlak yang jelek. Karena sesungguhnya orang yang berdusta, hilang air mukanya (muram). Dan orang yang jelek akhlaknya akan banyak kegelisahannya. Dan memindahkan batu yang berat dari tempatnya lebih gampang daripada memahamkan orang yang tidak mau paham”.

 

Luqman berkata: “Kebakhilan, akhlak yang buruk dan banyak meminta-minta kepada orang lain merupakan di antara tanda-tanda orang bodoh/tolol”.

 

Luqman berkata: “Barangsiapa yang sabar untuk memikul beban sesama, maka dia akan memimpin mereka”.

 

Luqman berkata: “Letakkanlah urusan saudaramu pada sebaik-baiknya, sehingga (apabila kamu tidak melakukan sebaik-baiknya) akan datang kepadamu dari urusannya itu apa-apa yang dapat menguasaimu”.

 

Luqman berkata: “Jauhilah musuhmu, dan berhati-hatilah terhadap temanmu dan janganlah melakukan apa-apa yang tidak berguna bagimu”.

 

Luqman berkata: “Janganlah kamu berbicara dengan hikmah terhadap orang-orang yang tolol, karena mereka akan mendustakan kamu. Dan jangan pula (kamu berbicara) dengan kebathilan terhadap orang-orang bijak, karena mereka akan membencimu”.

 

Luqman berkata: “Barangsiapa yang berbicara kepada orang yang tidak mendengarkan pembicaraannya, maka dia ibarat orang yang menyuguhkan makanannya kepada penghuni kubur”.

 

Dan Luqman berkata: “Wahai putraku, jauhilah olehmu kemalasan dan kegelisahan. Karena apabila kamu malas, kamu tidak akan menunaikan hak dan apabila kamu gelisah, kamu tidak akan sabar atas hak”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah kamu meninggalkan temanmu yang pertama. Karena temanmu yang kedua tidak akan tenang denganmu. Wahai putraku, carilah seribu teman, karena seribu teman itu (terasa) sedikit. Janganlah kamu mencari seorang musuh, karena seorang musuh itu (terasa) banyak”.

 

Luqman berkata “Jika kamu ingin buang hajat, maka jauhilah jalanan dan hendaklah kamu memakai penghalang (tabir)”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah kamu mencela orang yang tidak mempunyai makanan di saat dia mencari makanannya. Karena sesungguhnya barangsiapa yang tiada makanannya, tiada pula akalnya”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah kamu menghina sesuatu karena kecilnya. Sesungguhnya sesuatu yang kecil, pada hari esok akan menjadi besar”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah kamu menggantungkan dirimu pada kecemasan, janganlah kamu menyibukkan hatimu dengan kesedihan. Jauhilah sifat tamak, relalah dengan qadha, dan puaslah dengan apa yang telah diberikan Allah, niscaya hidupmu akan jernih, dirimu akan senang dan terasa nikmat kehidupanmu. Jika kamu menginginkan kekayaan dunia, maka janganlah kamu tamak dengan apa yang dimiliki orang lain. Karena sesungguhnya para nabi dan orang-orang yang benar tidak akan mendapatkan apa yang telah mereka dapatkan, kecuali dengan memangkas ketamakan mereka terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, orang yang dengki mempunyai tiga tanda; dia akan mengumpat temannya apabila dia tidak ada, dia akan mencari muka jika temannya ada dan dia akan merasa gembira jika temannya berbuat maksiat”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, barangsiapa yang memikul apa yang tidak dia mampui, maka akan lemah. Barangsiapa yang merasa bangga (ujub) pada diri sendiri, maka akan hancur. Barangsiapa yang sombong terhadap orang lain, maka akan hina. Barangsiapa yang enggan bermusyawarah, maka akan menyesal. Barangsiapa yang bergaul dengan orang-orang pintar, maka akan menjadi pintar. Dan barangsiapa yang sedikit perkataannya, maka akan panjang kesehatannya”.

 

Luqman berkata, “Wahai putraku, merendah dirilah kamu untuk suatu kebaikan, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling berakal”.

 

Luqman berkata, “Wahai putraku, barangsiapa yang lalai dalam perselisihan, maka dia akan dimusuhi. Barangsiapa yang melampaui batas di dalamnya, maka akan berdosa. Maka katakanlah yang benar walaupun pada dirimu sendiri dan janganlah beri kesempatan (bagi dirimu) untuk marah”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah sekali-kali kamu mencela orang bijak, dan jangan kamu mendebat orang yang keras kepala. Janganlah kamu menggauli orang yang zalim dan janganlah kamu berteman dengan orang yang selalu buruk sangka”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, jauhilah olehmu teman yang jahat. Karena teman jahat itu ibarat pedang yang terhunus. Bentuknya membuatmu kagum, namun bekas (luka yang disebabkannya) sangatlah buruk”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, kuasailah marahmu dengan kelembutanmu, ketergesa-gesaanmu dengan ketenanganmu, hawa nafsumu dengan takwamu, keraguanmu dengan keyakinanmu, kebatilanmu dengan kebaikanmu. Bersikaplah tenang pada saat genting, gembira di saat susah, bersyukur pada saat lapang, khusyu dalam salat dan bersegera dalam menunaikan shadaqah”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah kamu kalah cerdas dari ayam, apabila datang malam, ia mengepakkan sayapnya dan berseru Allah dengan tasbih. Janganlah kamu lalai. Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu umumkan hal itu pada orang lain. Jangan sampai orang-orang memperdayamu dengan apa yang tidak kamu ketahui dari dirimu. Janganlah kamu terpedaya dengan perkataan orang bodoh: “Sesungguhnya di tanganmu ada mutiara”, sedangkan kamu mengetahui bahwa itu adalah kotoran hewan”.

 

Abu Nuaim Al Ashfahani meriwayatkan dari Ibrahim bin Adham, dia berkata: “Luqman berkata kepada putranya: “Wahai putraku, sesungguhnya seseorang selalu banyak berbicara sehingga dia dianggap bodoh, padahal tidaklah dia bodoh. Dan sesungguhnya seseorang selalu diam sehingga dia dianggap orang sabar, padahal bukanlah dia sabar”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah kamu mempelajari ilmu karena tiga hal, dan jangan pula kamu meninggalkannya karena tiga hal: Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk mengolok-olok (orang lain) dengan ilmu itu, tidak pula untuk kamu berbangga-bangga dengannya dan tidak pula untuk pamer (riya) dengannya. Dan janganlah kamu meninggalkan ilmu karena benci terhadapnya, tidak pula karena malu pada manusia dan tidak pula karena pasrah dengan kebodohan”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, jangan sampai ejekan seseorang mempengaruhi kamu untuk tetap taat kepada Allah”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, bersabar ketika mengalami kehancuran adalah keyakinan yang teguh. Setiap perbuatan mempunyai kesempurnaan dan tujuan. Dan kesempurnaan ibadah adalah sifat wara dan keyakinan. Puncak kemuliaan dan kedudukan yang tinggi adalah bagusnya akal. Maka, barangsiapa yang bagus akalnya, tertutup aibnya, diperbaiki keburukan-keburukannya dan dia diridhai oleh Tuhannya”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, janganlah engkau mempercayai orang yang telah membohongimu untuk mendustakan atas kamu”.

 

Luqman berkata: “Wahai putraku, kurangilah makan dan perbanyaklah hikmah”.

 

Luqman berkata kepada putranya: “Wahai putraku, janganlah kamu makan apabila kamu sudah kenyang. Kamu melemparkan makananmu kepada anjing lebih baik daripada kamu memakannya (jika kamu sudah kenyang)”.

 

Luqman berkata “Sesungguhnya berlama-lamaan duduk di saat buang hajat, akan mendebarkan hati, menyebabkan penyakit wasir dan memicu panas ke kepala. Maka duduklah dengan perlahan dan berdirilah dengan perlahan pula”.

 

Luqman berkata “Pukulan seorang bapak terhadap anak, ibarat pupuk bagi tanaman”.

 

Luqman berkata: “Tiga orang yang tidak diketahui kecuali pada tiga hal; tidak diketahui orang yang sabar kecuali pada saat marah, orang yang pemberani di saat perang dan orang yang tetap menjadi saudara di saat kamu membutuhkannya”.

 

Luqman berkata: “Apabila kamu berbicara, maka persingkatlah (pembicaraanmu). Dan apabila kamu telah mencapai hajatmu, maka janganlah kamu berbicara”.

 

Luqman berkata: “Bohongnya hati akan tampak dari kata-kata yang diucapkan atau dari pandangan mata”

 

PENUTUP

Buku Anakku, Penyejuk Hatiku menggambarkan bagaimanapun tingkah laku anak dapat diatasi dan sekaligus dapat menyejukkan hati orang tua, bahkan siapapun. Tentunya mendidik anak merupakan kewajiban bagi orang tua agar anak betul-betul dapat menyejukkan hati kita.

 

Mendidik anak ibarat mendaki gunung yang tinggi yang kita tahu puncaknya tapi kita tidak pernah tahu kapan sampai di puncak itu. Setiap keluarga menginginkan anak saleh. Itulah puncak dari pendidikan anak. Untuk mencapai tujuan anak saleh tidak mudah. Berbagai rintangan datang menyapa. Rasanya tidak cukup membaca puluhan buku pendidikan yang ditulis oleh para pakar pendidikan anak. Tidak cukup pula mengikuti berbagai forum yang mengkaji pendidikan anak. Kadang tips yang tertulis di buku atau yang diperoleh dalam seminar, tidak bisa langsung diterapkan. Ada banyak kendala karena beda anak beda penanganan, beda suasana beda pula kiat yang mesti diterapkan.

 

Buku yang sedang di tangan anda ini dapat dijadikan satu alternatif panduan mendidik anak bagi orang tua dan guru. Di dalamnya selain disentuh dengan nilai-nilai keIslaman juga nilai-nilai praktis yang dapat langsung diamalkan.

 

Semoga buku ini dapat menjadi teman dialog bagi para orang tua, guru, pendidik dan siapa saja yang peduli terhadap perkembangan anak. Semoga Allah memberikan keikhlasan dalam mendidik anak.