67. Puasa dan Takwa

Puasa dan Takwa

Kita mungkin pernah melakukan sebuah perjalanan. Baik itu perjalanan yang memakan waktu pendek, maupun perjalanan yang membutuhkan waktu panjang, di dalam atau ke luar negeri. Tentu saja yang paling penting dalam melakukan perjalanan tersebut adalah persiapan. Makin jauh dan makin lama perjalanan yang akan dilakukan,  makin banyak persiapan yang perlu dilakukan, makin banyak bekal yang harus dibawa. Sukses atau tidaknya perjalanan tersebut tergantung dari kematangan persiapan yang dilakukan.

Sebenarnya perjalanan paling panjang dalam kehidupan manusia adalah perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia pada hakikatnya hanyalah persiapan untuk perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi adalah di kampung akhirat kelak.  Seperti firman Allah dalam QS. Al Ankabut: 64; “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Karena itu jangan terlena dengan kesenangan di dunia, sebaliknya lakukanlah persiapan sebaik mungkin dan persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk hidup di akhirat kelak. Banyak orang berjuang mati-matian, tak peduli siang dan malam, untuk mengejar kehidupan dunia,  namun mereka lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Takwa adalah bekal terbaik untuk perjalanan ke kampung akhirat. Seperti firman Allah dalam QS. 2:197; “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada Ku hai orang-orang yang berakal”.

Secara sederhana mereka yang mematuhi semua perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW dan menghentikan semua larangan beliau disebut sebagai orang yang bertakwa (muttaqin).  Dalam Al Quran dan hadits Allah dan Nabi Muhammad SAW telah menuntun manusia tentang apa yang boleh dan harus mereka lakukan (perintah) dan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan (larangan).

Proses untuk menjadi muttaqin kita lakukan dan kita latih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai ibadah dan kebaikan. Puncak latihan tersebut adalah pada bulan Ramadhan. Allah memberikan keistimewaan selama bulan Ramadhan dan memberikan imbalan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan disebut juga sebagai penghulu sekalian bulan. Al Quran diturunkan pada bulan ini, dan cuma pada bulan Ramadhan adanya malam Lailatul Qadar.

Dalam  QS. Al Baqarah: 183 Allah berfirman;  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kamu bertakwa.”  Di sini jelas ditegaskan bahwa tujuan bulan Ramadhan yang utama adalah menggembleng manusia agar menjadi umat yang bertakwa. Maka dalam waktu selama sebulan tersebut kita dilatih beribadah, yaitu melakukan perintah dan menghentikan larangan Allah dan Nabi Muhammad SAW, agar menjadi umat yang bertakwa.

Takwa juga merupakan solusi dalam kehidupan di dunia. Seperti firman Allah dalam QS. 65: 2 dan 3; “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”.

Pada ayat 4 dan 5 surat yang sama Allah menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Tingkat keberhasilan seseorang  menjalankan puasa selama bulan Ramadhan bisa diukur dari tingkat ketakwaan seseorang atau sejauh mana terjadi perubahan ketakwaan seseorang sebelum  dan sesudah berpuasa selama bulan Ramadhan.

Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan tahun ini untuk meningkatkan ketakwaan kita sebagai bekal perjalanan ke kampung akhirat kelak. Agar puasa tidak menjadi sia-sia, harus terlihat meningkatnya ketakwaan seseorang sebelum dan setelah berpuasa sebulan penuh. Semoga kita menjadi orang yang bertakwa,  bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat kelak. Amin. (Juli 2013)