Artikel

JUDUL RISET SEJAK 1987

Judul Riset yang ter-arsipkan sejak tahun 1987

Sejumlah Hasil Riset yang ter-arsipkan sejak tahun 1987

Riset

1 1987 Persepsi Dan Sikap Pembeli (sebagai asisten peneliti, di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia).
2 1988 Disonansi Kognitif Pada Mahasiswa Alumni Pesantren Terhadap Metode Pengajaran Di Perguruan Tinggi Umum (sebagai peneliti, di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia).
3 1991 Kiat Tepat & Siswa  Menembus UMPTN (sebagai peneliti di LPKK ADZKIA, Padang).
4 1993 Modifikasi Tes Minat Terhadap Pemilihan Jurusan di PTN  (sebagai peneliti di LPKK ADZKIA).
5 1994 Pola Hubungan Pasangan suami-istri Muda, (sebagai peneliti di Yayasan Al-Kahfi,  Padang).
6 1995 Malaysia:Suatu Studi Kasus di PORIM, mengenai :
– Perlaksanaan Sistem Kompensasi
– Perlaksanaan Analisa Jabatan
7 1996 Malaysia: Hubungan Personaliti Belia dengan Disiplin Ibu Bapa (sebagai peneliti dan pelajar)
8 1996 Malaysia: Perbezaan Personaliti Belia SMU Padang (sebagai peneliti dan pelajar)
9 1996 Malaysia: Kajian Kualitatif: Socially Sensitive Research To International Student in UPM (sebagai peneliti dan pelajar)
10 1998 Malaysia: Model Pengembangan Sumber Manusia di Industri. Suatu Kajian LiteraturKonsep Diri Pelajar Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
11 1998 Malaysia: Budaya Membaca di Kalangan Pelajar Sekolah Menengah Kajang (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
12 1998 Malaysia: Disiplin Ibu Bapa dan Hubungan Ibu Bapa dengan Anak (sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
13 1998 Malaysia: Peranan Pendidikan Prasekolah Islam di TADIKA ABIM sebagai peneliti dan dosen di Institut Pengajian Ilmu-Ilmu Islam/IPI)
14 1999 Malaysia: Pengukuran Psikologi dan Aplikasinya dalam Aktiviti Pembangunan Sumber Manusia
15 1999 Membangun Pengukuran Psikologi : Inteligensi, Minat dan Personaliti
16 1999 Aplikasi Pengukuran Psikologi di dalam Industri.
17 2000 Pembinaan dan Aplikasi Pengukuran Psikologi dalam Model Pembangunan Sumber Manusia bagi Sektor Industri di Indonesia.
18 2004 Mengkritisi Kebijakan Pemerintah tentang Subsidi kepada Rakyat, Jurnal Equilibrium STIE Ahmad Dahlan, ISSN 1693-0681, Volume 2, Nomor 1 Januari April 2004.
19 2005 Krisis BBM di antara Subsidi dan Dilema Anggaran, Jurnal Widya  Ekonomika, No. 2 Tahun VII Juli Desember 2005, Kopertis Wilayah III, Jakarta
20 2005 Mencari Kesesuaian Potensi Sumber Daya Manusia dalam Industri, Bussiness & Management Journal, Volume 002 No. 001, Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta, Mei 2005.
21 2005 Gambaran dan Hubungan antara Motivasi dengan Kepemimpinan di Kalangan Pegawai PT Semen Gresik, Bussiness & Management Journal, Volume 002 No. 002, Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta, November 2005.
22 2005 Diskursus Pengembangan Sumber Daya Manusia : Telaah Perspektif Psikologi Industri, Jurnal Equilibrium STIE Ahmad Dahlan, ISSN 1693-0681, Volume 3, Nomor 1 September-Desember 2005.
23 2006 Tenaga Kerja Efektif di Perusahaan, Jurnal Madani UMSU ISSN 5417 Terakreditasi SK 034/DIKTI KEP/2003 Vol. 7 No. 2 September 2006
24 2006 Hubungan Motivasi dengan Kepemimpinan, Keteraturan, Pengambilan Keputusan, Kerja Sama dan Kemandirian di Kalangan Pegawai Pemko Padang, Bussiness & Management Journal,Volume 003 No. 001, Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Jakarta, Mei 2006.

 

 

JUDUL PUBLIKASI SEJAK 1992

Judul Publikasi yang ter-arsipkan sejak tahun 1992

Sejumlah Publikasi yang ter-arsipkan sejak tahun 1992

Publikasi tentang Anak

25 1994 Irwan Prayitno, Masa Anak Mewarnai Masa Dewasa, YARSI, Bukit Tinggi, 22 Oktober 1994.
26 1994 Irwan Prayitno, Urgensi Pendidikan Masa Anak dan Pra Lahir dalam Mengantisipasi  Pendidikan Masa Berikutnya, S.M.F. Tarbiyah, IAIN Imam Bonjol, Padang, 12 November 1994.
27 1994 Irwan Prayitno, Kiat Sukses Mengakrabkan Anak dengan Islam, PT Indosat, Medan, 18 November 1994.

Publikasi Tentang Wanita

28 1992 Irwan Prayitno, Wanita Karir: Konflik dan Alternatif Pemecahannya, IBI dan Organisasi Wanita, Padang, 15 Desember 1992.
29 1994 Irwan Prayitno, Tentang Keputrian: Problematika, Pemecahan dan Pemfungsian,Wafi Coll, Padang, 6 Desember 1994.
30 1994 Irwan Prayitno, Revitalisasi Peranan Wanita S.M.F. MIPA Universitas Andalas,Padang, 27 Desember 1994.
31 1996 Irwan Prayitno, Problem Kehidupan Wanita Bekerja, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.

Publikasi tentang Pemuda dan Remaja

32 1992 Irwan Prayitno, Sebab Munculnya Gangguan Pada Diri Remaja dan Cara Mengatasinya , LPKK Adzkia, Padang, 25 Oktober 1992.
33 1993 Irwan Prayitno, Peranan dan Tanggung Jawab Mahasiswa, F.K.I Robbani, Universitas Andalas, 3 Februari 1993.
34 1993 Irwan Prayitno, Peranan Generasi Muda sebagai SDM dalam mengisi PJPTII,AKKES, DEPKES, Sumbar, 11 November 1993.
35 1993 Irwan Prayitno, Generasi Muda dan Kehidupan Berkeluarga, SMF Syariah, IAINImam Bonjol, Padang, 13 November 1993.
36 1993 Irwan Prayitno, Pengaruh Globalisasi Informasi Terhadap  Kehidupan Pemuda, IKIP Padang, 2 Desember 1993.
37 1994 Irwan Prayitno, Perang Intelektual di Tengah Kehidupan Kampus, IAIN Imam Bonjol Padang, 12  September 1994.
38 1994 Irwan Prayitno, Tantangan dan Tanggung Jawab Mahasiswa di Era Globalisasi, Fak.Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan, 19 November 1994.
39 2008 Irwan Prayitno, Refleksi Pembangunan Pemuda dan Olahraga di Indonesia, Diskusi Bappenas,  Jakarta, 30 Juni 2008.

Publikasi tentang Rumah Tangga

40 1992 Irwan Prayitno, Wanita Karir: Konflik dan Alternatif Pemecahannya, IBI dan Organisasi Wanita, Padang, 15 Desember 1992.
41 1993 Irwan Prayitno, Motif Berumahtangga dan Rumah Tangga Ideal, DPD KNPI, Sumatera  Barat, 16 Januari 1993.
42 1993 Irwan Prayitno, Generasi Muda dan Kehidupan Berkeluarga, SMF Syariah, IAINImam Bonjol, Padang, 13 November 1993.

Publikasi tentang Masyarakat

43 1992 Irwan Prayitno, Peranan Industri Makanan dan Perilaku Masyarakat dalam Memenuhi Gizi Keluarga, DEPKES, Padang, 25 November 1992.
44 1994 Irwan Prayitno, Sikap dan Usaha Peningkatan Kepedulian Masyarakat TerhadapPenyandang Cacat, YPAC, SUMBAR, 29 Januari 1994.

Publikasi tentang Training dan Psikologi

45 1994 Irwan Prayitno, Achievement Motivation Training, Darul Hikmah, Lampung, 5 Juni 1994.
46 1996 Irwan Prayitno, Program Latihan Pengembangan Sikap Positif di BRI, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
47 1996 Irwan Prayitno, Perbandingan Teori-Teori Perkembangan Kerjaya,  Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
48 1996 Irwan Prayitno, Penilaian Psikologi di Dalam Perkembangan Kerjaya, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
49 1996 Irwan Prayitno, Falsafah dan Konsep Pengujian dan Pengukuran dalam Bimbingan dan Kaunseling, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
50 1997 Irwan Prayitno, Kursus Kerjaya Bagi Pelajar-Pelajar Sekolah Menengah, Fakulti Pendidikan UPM, 1997.
51 1997 Irwan Prayitno, Profil Personaliti Belia SMU Padang, Fakulti Pendidikan UPM, 1997.
52 1997 Irwan Prayitno, Laporan Aktiviti Kaunselor di PT Semen Padang, Fakulti Pendidikan UPM, 1997.
53 2010 Irwan Prayitno, Peran Psikologi dalam Menjalankan Tugas DPR, Disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional dan Kongres XI Himpunan Psikologi Indonesia, Solo, 20 Maret 2010.

Publikasi tentang Pendidikan

54 1992 Irwan Prayitno, Strategi Menembus UMPTN,  LPKK Adzkia, Padang, 4 April 1992.
55 1993 Irwan Prayitno, Peran Guru BP di Tengah Era Kompetitif Pendidikan dan Era Globalisasi,  SKR-BKKBN, Sumbar, 12 Februari 1993.
56 1993 Irwan Prayitno, Kiat Menjatuhkan Pilihan yang Tepat di UMPTN LPKK Adzkia, Padang, 2 Juli 1993.
57 1993 Irwan Prayitno, Managemen TPA/MDA, BKPMI, Sumbar, 5 November 1993.
58 1994 Irwan Prayitno, Program Strategi Menembus UMPTN, LPKK Adzkia, Padang, 6 Agustus 1994.
59 1994 Irwan Prayitno, Urgensi Pendidikan Masa Anak dan Pra Lahir dalam Mengantisipasi  Pendidikan Masa Berikutnya, S.M.F. Tarbiyah, IAIN Imam Bonjol, Padang, 12 November 1994.
60 1994 Irwan Prayitno, Persiapan Dini Menghadapi Ujian, LPKK Adzkia, 7 Desember 1994.
61 1996 Irwan Prayitno, Prinsip dan Amal Pendidikan Pengembangan di dalam Sirah Nabawiyah, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
62 2003 Irwan Prayitno, Dialektika Pendidikan, Ekonomi dan Dakwah di Tengah Era Globalisasi, Seminar Nasional IAIN Imam Bonjol, Padang, 27 September 2003.
63 2004 Irwan Prayitno, Peran Lingkungan dalam Membangun SDM Unggul, Seminar Nasional, “Pendidikan Indonesia, Quo Vadis?”, Graha Sucofindo, Jakarta, 9 Maret 2004.
64 2004 Irwan Prayitno, Mencetak Sang Juara Sejak Usia Dini, Seminar Nasional Pendidikan, “Quo Vadis Pendidikan Indonesia?”, Jakarta, 22 Mei 2004.
65 2006 Irwan Prayitno, Idealisme Guru dan Pembangunan Peradaban Bangsa,Seminar Persaudaraan Guru Sejahtera Indonesia, Surabaya, 10 September 2006.
66 2006 Irwan Prayitno, Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Ciamis Melalui Pemberdayaan Potensi Masyarakat, Seminar Pendidikan Pemkab Ciamis, Ciamis, 13 September 2006.
67 2007 Irwan Prayitno, Pandangan Politik dan Harapan Parlemen terhadap RUU BHP, Seminar Nasional, Poros Pendidikan, Jakarta, 28 Februari 2007.
68 2007 Irwan Prayitno, Pesantren dalam Sistem Pendidikan Nasional, Seminar Pendidikan di Pesantren Al Urwatul Wutsqo, Indramayu, 27 Maret 2007.
69 2008 Irwan Prayitno, Putusan MK pada Pendidikan, Harian Republika, 26 Februari 2008.
70 2008 Irwan Prayitno,Komitmen untuk Pendidik Bangsa, Harian Media Indonesia, 19 Maret 2008.
71 2008 Irwan Prayitno, Menagih SPMB Gratis, Koran Sindo, 27 Maret 2008.
72 2008 Irwan Prayitno, Revitalisasi Pendidikan Pesantren, Harian Republika, 2 Mei 2008.
73 2008 Irwan Prayitno,Pendidikan dalam Perspektif Politik, Dies Natalis Universitas Tidar Magelang, 16 Mei 2008.
74 2008 Irwan Prayitno, Memerdekakan Politik Pendidikan, Media Indonesia, 14 Agustus 2008.
75 2008 Irwan Prayitno, Profesionalitas Guru di Era Global, Padang Ekspres, 28 November 2008.
76 2008 Irwan Prayitno, BHP untuk Komersialisasi Pendidikan? Republika, 21 Desember 2008.
77 2009 Irwan Prayitno, UU BHP: Menuju Pendidikan Nirlaba yang Profesional, www.fpks-dpr.or.id, 5 Januari 2009.

Publikasi tentang Politik

78 1999 Irwan Prayitno, Memberdayakan Anggota Legislatif: Mencegah Kemungkinan Korupsi, Desember 1999.
79 1999 Irwan Prayitno, DPR Lembaga Kontrol Bukan Oposisi, Republika, 3 Desember 1999.
80 1999 Irwan Prayitno, Isu Suap dan Korupsi Anggota DPR, Republika, 24 Desember 1999.
81 2000 Irwan Prayitno, Peranan LSM Sebagai Oposisi, Diskusi Panel Revitalisasi Istecs, Jakarta, 19 Februari 2000.
82 2000 Irwan Prayitno, Pemberdayaan Kader PK di Lembaga Legislatif, Nov. 2000.
83 2001 Irwan Prayitno, Peta Politik Nasional dan Keruntuhan Rejim Gus Dur, Makalah yang disampaikan dalam ceramah di depan Mahasiswa Melbourne, Australia, Januari 2001.
84 2001 Irwan Prayitno, Indonesia Today, Seminar Trends in Indonesia: Visions for Indonesia Future, ISEAS, Singapore, 4 Mei 2001.
85 2002 Irwan Prayitno, Catatan Perkembangan Ekonomi Orde Reformasi: Misteri Utang Indonesia dan IMF, Seminar Nasional Restropeksi Empat Tahun Usia Reformasi, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM, Yogyakarta, 27 April 2002.
86 2002 Irwan Prayitno, Trend Politik Ekonomi Mega, Seminar Nasional RestropeksiEmpat Tahun Usia Reformasi, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM, Yogyakarta.
87 2002 Irwan Prayitno, Peran Partai Politik Islam dalam Membangun Negara, Halal bi Halal Ikatan Alumni Yayasan Asrama Pelajar Islam, Masjid Sunan Giri YAPI Al Azhar Rawamangun (Kompleks Asrama Sunan Giri) Jakarta, 21 Desember 2002.
88 2003 Irwan Prayitno,Evaluasi Kebijakan Ekonomi 2002, Februari 2003.
89 2008 Irwan Prayitno,Pendidikan dalam Perspektif Politik, Dies Natalis Universitas Tidar Magelang, 16 Mei 2008.

Publikasi tentang Masalah Keislaman

90 1994 Irwan Prayitno, Pentingnya Managemen dalam Dakwah, Wafi Coll, Padang, 4 Desember 1994.
91 1995 Irwan Prayitno, Politik Zionis Terhadap Negara Berkembang, YPD Al-Madani,Padang, 2 Januari 1995.
92 1996 Irwan Prayitno, Jamaah Dakwah Islamiyah Sebagai Organisasi Pendidikan Pengembangan, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
93 1996 Irwan Prayitno, Akhlaq Da’i (pengembangan) pada diri Rasulullah SAW, Fakulti Pendidikan UPM, 1996.
94 1999 Irwan Prayitno, Kunci Mengatasi Krisis Bangsa, Khutbah Idul Adha 1420 H di Lapangan Parkir Kelapa Gading, Jakarta, 1999.
95 2001 Irwan Prayitno, Implementasi Fiqh Dakwah dalam Pergerakan Islam Masa Kini, Peluncuran dan Bedah Buku Nasional, Fiqh Dakwah, Jakarta, Oktober 2001, sebagai pembicara.
96 2001 Irwan Prayitno, Agenda Kepemimpinan Umat Islam dalam Era Reformasi, Studi Islam Eksekutif Badan Dakwah Islamiyah (BDI) Pertamina Balikpapan, Balikpapan, 2 Desember 2001.
97 2001 Irwan Prayitno, Membangkitkan Kesadaran Umat di Tengah Keprihatinan Mendalam Krisis Multidimensional, Khutbah ‘Idul Fitri 1 Syawal 1422 H/16 Desember Tahun 2001 di Lapangan Carrefour Cawang Jakarta Selatan.
98 2002 Irwan Prayitno, Urgensi dan Peran Teknologi Informasi dalam Pendidikan Islam, Seminar Nasional Musabaqoh Al-Qur’an Nasional Telkom 2002, Implementasi Ahlaq Qur’ani, Bukittinggi, 11 Maret 2002.
99 2002 Irwan Prayitno, Indonesia and the Future of Islam, Panel Dialogue, The Future of Indonesia’s Islam: The Quest for an Equilibrium, Institute of Defense and Strategic Studies, Singapura, 17 Juni 2002.
100 2002 Irwan Prayitno, Ramadhan dan Momentum Perbaikan Bangsa, Persiapan Ramadhan 1423 di KBRI Kualalumpur dan Konsulat Jenderal Johor Baru Malaysia, Oktober 2002.
101 2003 Irwan Prayitno, Dialektika Pendidikan, Ekonomi dan Dakwah di Tengah Era Globalisasi, Seminar Nasional IAIN Imam Bonjol, Padang, 27 September 2003.

Publikasi tentang Migas dan Pertambangan

102 2000 Irwan Prayitno, Subsidi, Penghematan Konsumsi dan Kenaikan Harga BBM, Kompas, 12 April 2000.
103 2000 Irwan Prayitno, Menghadapi Kenaikan Harga BBM. Republika, 16 September 2000.
104 2001 Irwan Prayitno, Masa Depan Industri Pertambangan dalam Era Otonomi Daerah, Diskusi Pertambangan Kongres Ikatan Alumni Tambang ITB 2001, Aula Barat ITB, Bandung, 29 Juni 2001.
105 2001 Irwan Prayitno, Legislative Role of the Indonesian House of Representatives in Indonesia’s Legal Reform – An Overview of the Energy Sector, Seminar Houston Energy Dialogue 2001, Bimasena dan Konsul Jenderal RI di Houston, Houston, USA, 24 September 2001.
106 2002 Irwan Prayitno, Sekilas Pandangan UU No. 22 Tahun 2001 terhadap Pengembangan Sumber Daya Manusia Nasional, Forum Komunikasi SDM XIV/2002 Pertamina Direktorat Manajemen Production Sharing (Pertamina Dit. MPS) – Kontraktor Production Sharing (KPS) dan Rapat Dewan Konsorsium Pendidikan Pertamina – KPS tahun 2002, Meningkatkan Kualitas Pengembangan SDM Nasional Menghadapi Industri Migas Dalam Era Globalisasi Serta UU Migas Yang Diperbaharui, Surabaya, 4 Juli 2002.
107 2002 Irwan Prayitno, Menelisik Benefit LNG Tangguh, Media Indonesia, 30 Oktober 2002.
108 2003 Irwan Prayitno, Penurunan Harga, Dapatkah Meredam Ketidakpuasan Masyarakat, Januari 2003.
109 2003 Irwan Prayitno, Kenaikan Harga dan Peran DPR, Republika, 16 Januari 2003.
110 2003 Irwan Prayitno, Penyelewengan Dana Kompensasi BBM, Republika, 11-12 Maret 2003.
111 2003 Irwan Prayitno, Prospek dan Tantangan Gas Bumi di Indonesia Pasca UU No.22 Tahun 2001, Artikel dalam buku Gas Energi Masa Depan, Diterbitkan Forum Wartawan Energi dan Sumber Daya Mineral, Juli 2003.

Publikasi tentang Listrik dan Energi

112 2000 Irwan Prayitno, Beban Rakyat di Balik Kontrak Listrik Swasta, Republika, 5 Januari 2000.
113 2000 Irwan Prayitno, Dilema Kenaikan Tarif Listrik, Republika., 19 Januari 2000
114 2000 Irwan Prayitno, Kenaikan Listrik dan BBM, Siapa yang Menjerit?, Tabloid Tekad No.17 /Tahun II 28 Februari – 5 Maret 2000.
115 2000 Irwan Prayitno, Pengelolaan Energi Nasional untuk Kemakmuran Rakyat Menuju Pasar Listrik Kompetisi, Seminar PLN PJB I, 28 September 2000.
116 2000 Irwan Prayitno, Dilema Pasar Listrik Kompetisi: Di Antara Realitas dan Tuntutan Global, Oktober 2000.
117 2003 Irwan Prayitno, Tuntutan Masyarakat terhadap Kenaikan TDL, Januari 2003.
118 2003 Irwan Prayitno, Kebijakan Legislatif terhadap Good Governance, Diskusi Interaktif I Good Governance Sektor Ketenagalistrikan, Bimasena, Jakarta, 27 Januari 2003.
119 2003 Irwan Prayitno, Obligasi PLN dan Dilema Masalah Pendanaan, April 2003.
120 2003 Irwan Prayitno, Panas Bumi, Alternatif Energi yang Harus Diseriuskan, Bisnis Indonesia, 17 April 2003.
121 2003 Irwan Prayitno, Urgensi Pemanfaatan Energi Terbarukan dalam Menghadapi Berkurangnya Energi Tak Terbarukan, Talk Show Forum Bisnis Ketenagalistrikan Indonesia ke IV, Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia, Jakarta, 25 September 2003.

Publikasi tentang Lingkungan Hidup

122 2000 Irwan Prayitno, Bagaimana Mengadopsi Ketentuan Protokol Keamanan Hayati dalam Peraturan/Perundang-undangan di Indonesia, Seminar Yayasan Kehati, Jakarta, 30 Agustus 2000.
123 2000 Irwan Prayitno, Kriteria Pengembangan Berkelanjutan dan Isu Prospek Karbon Credit di Indonesia, Oktober 2000.
124 2001 Irwan Prayitno, Tanggapan terhadap Pelaksanaan Propenas Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Rapat Kerja Teknis Renstra 2002 – 2004 Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pengendalian Dampak Lingkungan, Kantor Meneg LH, Jakarta, 5 Juni 2001.
125 2003 Irwan Prayitno, Pembangunan Pantai Utara Jakarta dan Dampaknya terhadap Lingkungan, Mei 2003.

Publikasi tentang Riset dan Teknologi

126 2001 Irwan Prayitno,Kasus Ajinomoto: Selamatkan Imtaq Umat, Januari 2001.
127 2002 Irwan Prayitno, Urgensi dan Peran Teknologi Informasi dalam Pendidikan Islam, Seminar Nasional Musabaqoh Al-Qur’an Nasional Telkom 2002, Implementasi Ahlaq Qur’ani, Bukittinggi, 11 Maret 2002.

 

 

BAB 1 INSPIRASI DI BIDANG POLITIK

1. Allah Itu Ada

  1. Allah Itu Ada

 

 

Pada bulan Rabi’ul Awal tahun 7 Hijriah, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan bersama pasukannya menuju daerah Najd dalam sebuah peperangan. Setelah dua hari perjalanan, beliau tiba dan beristirahat di Nakhl, tidak jauh dari Ghathafan. Kebanyakan anggota pasukan tersebut berjalan kaki sehingga banyak di antara mereka kakinya pecah-pecah  dan melepuh, ada juga yang kukunya terkelupas. Mereka membalut kaki-kaki mereka dengan kain-kain perca, karena itulah peperangan itu diberi nama Dzatur Riqa’ (yang ada tambalannya), dan tempat mereka singgah diberi nama yang sama, Dzatur Riqa’.

Saat itulah salah seorang musyrikin bernama Ghaurats bin Harits (Dutsur), berasal dari Bani Muharib (suku Badui), berniat untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Ia berhasil menyelinap di perkemahan kaum muslim, dan melihat Nabi sedang tertidur di bawah pohon, sedangkan pedang beliau tergantung di salah satu ranting pohon tersebut. Ghaurats mengambil pedang itu, lalu mengacungkan kepada beliau sambil menghardik, “Wahai Muhammad, tidakkah engkau takut kepadaku?” Nabi Muhammad SAW segera terbangun dan berkata dengan tenang, “Tidak!!”. “Siapakah yang akan menghalangiku untuk membunuhmu?” Tanya Ghaurats lagi. “Allah!!” Kata Nabi.

Mendengar  kata ‘Allah’ yang terlontar dari bibir Rasulullah SAW itu, tiba-tiba tubuhnya serasa lumpuh dan pedang itu terlepas dari tangannya, ia jatuh terduduk. Nabi segera mengambil pedang itu dan mengacungkannya kepada Ghaurats, dan balik bertanya, “Siapa yang bisa menghalangiku untuk membunuhmu?”

Dengan gugup dan wajah pucat, Dutsur berkata, “Tidak ada!! Jadilah engkau orang yang sebaik-baiknya menjatuhkan hukuman!!” ujarnya pasrah tak berdaya, siap menerima hukuman apapun yang akan dijatuhkan Nabi kepadanya.

Nabi Muhammad SAW tersenyum mendengar jawabannya itu, dan berkata, “Kalau begitu bersaksilah engkau bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah!!”. “Tidak,” kata Ghaurats masih membangkang, “Tetapi aku berjanji kepadamu untuk tidak memusuhimu, dan tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memusuhimu!!”

Memang tidak ada paksaan dalam memeluk Islam, hidayah adalah hak mutlak Allah, terserah Allah kepada siapa akan diberikan. Nabi tidak memaksa Ghaurats, beliau lalu memaafkan dan melepaskannya.

Ketika tiba kembali di antara kaumnya, Ghaurats berkata, “Aku baru saja kembali dari sebaik-baiknya orang di dunia ini!!” dan ia pun lalu memeluk agama Islam.

Teladan seperti contoh di atas telah sering diberikan Nabi. Kejahatan tidak perlu dibalas dengan kejahatan, fitnah tidak perlu dibalas fitnah, pengkhianatan tidak perlu dibalas dengan pengkhianatan. Karena dalam kenyataannya, hal itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah memperburuk suasana, memperkeruh keadaan dan memicu dendam tak berkesudahan. Apakah yang kita cari dan tujuan hidup di dunia ini, selain kebahagiaan? Bermanfaatkah harta yang banyak, pangkat dan jabatan yang tinggi, gelar selangit jika semua itu tidak membuat kita bahagia?

Firman Allah QS 28:77, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagia mu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Dalam QS 17:7 Allah juga berfirman, jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS 17:7)

Dalam Al Quran dengan tegas Allah mengatakan orang yang berbuat jahat, kejahatan itu, seperti bumerang, akan berbalik kepada pelakunya. Orang yang berbuat keburukan akan mengotori perasaan dan hatinya sendiri. Ia selalu merasa tak tenang, merasa tak puas, tak nyaman, wajahnya suram dan penuh kedengkian. Ia selalu dihantui oleh perasaan dan perbuatannya sendiri.

Dalam QS 55:60 secara singkat Allah lebih menegaskan,  “tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” Dalam pepatah Minang dikatakan, jiko lai padi nan ditanam ndak mungkin ilalang nan tumbuah (jika padi yang ditanam, tidak mungkin ilalang yang tumbuh). Siapa yang menyebar angin, akan menuai badai, begitu bunyi istilah yang sempat populer beberapa waktu lalu.

Allah itu ada dan selalu bersama kita. Ia Maha Tahu dan Maha Bijaksana menilai dan membalas  semua amal dan perbuatan yang kita lakukan, perbuatan yang baik maupun yang buruk. Tak ada satupun peristiwa yang di luar kendali dan pengamatan Allah.

Semoga kita menjadi hamba yang dicintai Allah, dalam ridho Allah serta bisa menikmati kebahagian dunia dalam arti sesungguhnya dan memperoleh pula kebahagiaan di akhirat kelak. Amiin. (Maret 2013)

2. Sabar

Sabar

Berkali-kali saya didesak untuk melakukan  “serangan balasan” atas berbagai black campaign maupun fitnah yang ditujukan kepada saya. Desakan itu datang dari berbagai kalangan, baik perguruan tinggi, swasta, politisi, wartawan, birokrat maupun dari masyarakat umum. “Ayo Pak, jangan diam saja dan sabar terus, sabar itu ada batasnya,” ujar mereka geram.

Berkali-kali mereka mendesak, namun berkali-kali pula saya menjelaskan dengan jawaban yang sama. Jangan balas kejahatan dengan kejahatan dan kesabaran adalah kekuatan, kesabaran adalah kemenangan, kesabaran adalah strategi, kesabaran adalah solusi dari berbagai masalah.

Hampir semua yang semula memberikan pendapat tersebut mengernyitkan kening, tidak paham dan tidak setuju dengan pendapat saya. Pendapat dan argumen saya dianggap aneh dan tidak masuk akal. Menurut mereka, di zaman keNabian dulu, hal itu bisa dilakukan oleh para Nabi. Bahkan banyak dicontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW membalas kejahatan dengan kebaikan. Apakah di zaman seperti saat ini, metode itu masih berlaku dan masih mangkus?

Saya mencontohkan dua orang sedang menunggu bis untuk melakukan sebuah perjalanan yang sangat penting dan waktunya sangat mendesak. Ternyata bis yang ditunggu-tunggu terlambat datang. Orang pertama tetap menunggu dengan sabar dan tenang. Karena  cukup lama menunggu, ia lalu membaca buku dan membolak balik catatan bahan rapat yang akan mereka hadiri.

Sebaliknya orang kedua langsung emosi, tidak terima dengan keadaan tersebut. Ia mengumpat dan menggerutu tak henti-henti karena kesal. Ketika mobil datang, sopirnya langsung ia damprat sambil terus mengomel. Akibatnya, ketika mengikuti rapat ia tidak konsentrasi karena amarah dan rasa kesal masih bersarang di dadanya, sementara sopir yang kena semprot tentulah merasa dendam dan sakit hati.

Beruntunglah orang pertama, meski terlambat hadir untuk rapat, tapi ia bisa hadir rapat dengan kepala dingin, materi rapat ia kuasai dengan baik dan tak ada orang yang tersakiti. Sedangkan orang kedua, terlambat hadir rapat, tak bisa konsentrasi karena hatinya tidak tenang, masih ada lagi tambahan orang dendam dan sakit hati kepadanya. Bukankah ini berarti kesabaran adalah sebuah strategi dan kesabaran adalah kemenangan?

Awalnya sikap dan logika seperti di atas susah dimengerti  dan susah diyakini sebagai sebuah strategi yang ampuh untuk mencapai sebuah kemenangan. Namun seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya mereka yang semula membantah argumen saya mulai paham dan percaya. Satu persatu Allah mulai memperlihatkan kekuasaanNya, satu persatu mulai terlihat nyata, perbuatan zalim itu tidak mempan seperti yang mereka rencanakan, bahkan malah berbalik arah menyerang pencetusnya.

Kian hari pelaku black campaign justru makin buruk reputasinya, masyarakat makin tahu keburukan mereka, masyarakat dan semua orang makin tahu siapa saja aktor dan sutradara di belakang semua itu. Semua makin terang dan makin nyata tampak di depan mata. Apakah saya harus membalas dan balik menyerang dan memfitnah serta berbuat kejahatan serupa? Tentu saja tidak, itu bukan sebuah strategi yang baik dan itu bukanlah sebuah jalan yang jitu untuk memperoleh kemenangan.

Saya tetap yakin bahwa kesabaran itu tidak ada batasnya, karena kesabaran itu adalah kemenangan, kesabaran itu adalah strategi, kesabaran itu adalah solusi.   Allah dalam surat Al Baqarah ayat 153 berfirman; Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  Untuk menegaskan pentingnya sabar dan jaminan Allah terhadap orang yang sabar, kata “Allah beserta (bersama) orang yang sabar” diulang-ulang dalam sejumlah ayat.

Dalam surat Ali Imran ayat 146 Allah berfirman; Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang (berjuang) bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Artinya dalam Al Quran ditegaskan bahwa orang yang sabar bukanlah orang yang lemah dan bukan pula orang yang gampang menyerah.

Jika dilindungi seorang bodyguard dan selalu bersama kita ke mana-mana saja kita pergi,  sudah merasa aman, apalagi dilindungi Allah yang selalu bersama kita? Apakah masih ada kekuatan dan perlindungan yang melebihi kekuatan dan perlindungan Allah? (Maret 2013)

3. Hikmah Memaafkan

  1. Hikmah Memaafkan

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah hendak membunuh Nabi Muhammad SAW. Segala sesuatu telah ia persiapkan secara matang, sebilah pedang tajam sudah disandangnya, dan ia pun masuk ke kota suci Madinah tempat Rasulullah bermukim.

Dengan semangat meluap-luap ia mendatangi majelis Rasulullah, untuk melaksanakan niatnya. Umar bin Khattab yang melihat gelagat buruk itu,  langsung menghadang Tsumamah. Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”

Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”. Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung meringkusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya, kemudian ia dibawa ke masjid.

Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah. Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik yang terlihat kelelahan dan ketakutan. Kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.

Para sahabat Rasul tentu saja kaget dengan pertanyaan Rasulullah. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang Anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!”

Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”. Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah.

Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illallah (Tiada ilah selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.”

Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!” Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada illah selain Allah dan Muhammad Rasul Allah.”

Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhaan Allah Robbil Alamin.”

Pada suatu kesempatan, Tsumamah berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, ”tiada seorang pun di muka bumi yang lebih ku cintai selain muhammad rasulullah”

***

Dulu, Umar Bin Khatab terkenal sebagai seorang jahiliyah yang kejam, ia tega membunuh anaknya sendiri. Bahkan ia pun pernah ingin membunuh Nabi.

Namun dengan arif dan bijaksana, Nabi melupakan semua masa lalu yang kelabu itu, lalu memaafkan semua kesalahan Umar. Sikap Nabi tersebut menimbulkan simpati yang mendalam bagi Umar. Dari sikap memusuhi, Umar berbalik menjadi bersimpati. Umar lalu menjadi pengikut Nabi, menjadi panglima perang dan menjadi khalifah yang terkenal bijaksana setelah Nabi wafat.

Khalid bin Walid sebelumnya juga terkenal bengis dan merupakan musuh utama Nabi dan para sahabat. Ia telah membunuh 70 orang sahabat-sahabat terbaik Nabi dalam peperangan.

Namun Nabi berhasil menaklukkan Khalid, tidak dengan kekerasan, tetapi dengan sikap bijaksana dan memaafkan semua kesalahan Khalid. Ia pun lalu berbalik menjadi pengikut Nabi dan tercatat sebagai panglima perang terbaik dan gagah berani sepanjang sejarah Islam.

Memang tidak selamanya kekerasan bisa diselesaikan dengan kekerasan, keburukan dibalas dengan keburukan, perbuatan jahat dibalas dengan kejahatan pula. Hal itu sering tidak menyelesaikan masalah, sebaliknya justru menimbulkan dendam dan sakit hati berkepanjangan. (Agustus 2012)

4. Takut

Takut

Semua manusia tentu pernah mengalami rasa takut. Alasannya bisa 1001 macam. Seorang pemuda atau pemudi takut tidak mendapatkan jodoh yang cocok untuknya.  Setelah menikah, takut tidak bisa mendapatkan keturunan. Setelah melahirkan, takut anaknya tidak tumbuh  normal dan sehat serta mendapat pendidikan yang baik. Setelah menyelesaikan  pendidikan, takut tidak mendapat pekerjaan. Begitu seterusnya, takut ini… takut itu… beraneka macam alasan dan latar belakangnya.

Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Karena itu pada prinsipnya rasa takut adalah wajar dan sangat manusiawi. Jika berada di tempat ketinggian, wajar jika manusia merasa takut akan terjatuh. Jika memegang benda tajam, wajar jika seseorang takut akan terluka. Seorang pedagang takut jika suatu saat usahanya merugi, karena itu ia menjalankan usahanya dengan serius dan hati-hati.  Seorang pejabat takut jika amanah yang diberikan kepadanya tidak bisa ia jalankan dengan baik dan tidak bisa dipertanggung jawabkan, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Karena itu ia bekerja dengan serius dan ekstra hati-hati.

Rasa takut bisa berimplikasi positif, namun bisa juga diterjemahkan secara negatif. Rasa takut membuat seseorang bersikap hati-hati, melakukan sesuatu dengan serius dan bersungguh-sungguh agar ia bisa terhindar dari resiko atau ancaman yang ia takutkan.  Namun ada orang menanggapi rasa takut secara negatif dan berlebihan. Sehingga rasa takut menjadi hantu dalam dirinya dan membuat ia terdorong untuk melakukan kesalahan.

Seorang ibu yang takut secara berlebihan terhadap kesalamatan anaknya melakukan perlindungan secara berlebihan (over protection) terhadap anaknya. Seorang pejabat yang takut akan kehilangan jabatannya berusaha mempertahankan jabatannya dengan jilat sana-jilat sini, atau memfitnah dan menekan orang lain agar jabatan tersebut terus bisa ia kuasai. Seorang pedagang berlaku curang agar ia terhindar dari resiko rugi.

Lebih parah lagi, ada yang meminta bantuan dukun agar jabatannya tetap langgeng. Seorang pedagang meminta jimat penglaris agar dagangannya tetap laku dan ia terhindar dari resiko kerugian.

Ada juga yang meminta bantuan pawang hujan, karena takut saat ia melakukan hajatan turun hujan lebat dan hajatan yang dilaksanakan tidak sukses. Saya sendiri dulu  juga pernah ditawarkan bantuan oleh “orang pintar”, agar bisa memenangkan Pilkada.

Tentu saja tindakan itu tidak benar dan bisa digolongkan sebagai perbuatan syirik.  Jika ingin meminta tolong kenapa tidak meminta tolong langsung kepada Allah? Mengapa harus meminta bantuan orang lain, jimat atau jin, bahkan setan yang berarti mempersekutukan Tuhan. Bukanlah Allah lebih berkuasa dari makhluk apapun? Kenapa kita tidak percaya akan kebesaran dan kekuasaanNya? Kenapa kita tidak minta tolong dan mengadu hanya kepadaNya?

Dalam suatu sidang paripurna di DPRD Sumbar, salah seorang anggota DPRD dari Fraksi PPP menyampaikan bahwa ia salut dengan sikap saya yang selalu tenang dan tidak terpengaruh dengan rumor yang berkembang belakangan ini. Banyak yang menyatakan isu tersebut adalah sebuah bola salju yang sedang menggelinding dan sangat berbahaya, sebagian lainnya menyebutnya sebagai kiamat besar. Namun saya tak bergeming dan tetap tegar. Isu tersebut kemudian terbukti bahwa tidak benar dan masalah itu bisa diselesaikan dengan baik. Setelah itu beliau mengatakan saya pantas dijadikan guru politik dan sebagai inspirator.

Padahal rahasianya mudah dan sederhana saja. Rahasia pertama adalah bekerja keras, bersungguh-sungguh dan bertindak sesuai dengan aturan, rahasia kedua adalah serahkan dan kembalikan kepada Allah hal-hal yang di luar kemampuan kita. Biarkan Allah memutuskan apa yang terbaik untuk kita, jangan ikut campur urusan yang merupakan wewenang Allah.

Rahasia ketiga adalah syukuri apapun ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk kita, manis atau segetir apapun ketetapan itu. Jika tiga prinsip di atas diamalkan, insya Allah tidak akan ada lagi rasa takut dan cemas berlebihan yang selalu menghantui kita. Tak ada rasa was-was yang membuat tidur kita tidak nyenyak dan makan tidak enak.  Karena itu saya bisa tetap tenang, sabar dan tetap melakukan kegiatan rutin sehari-hari seperti biasa.

Bukankah tidak perlu hidup yang indah ini kita rusak dengan hal-hal sepele yang tidak berguna? Takut boleh dan wajar-wajar saja. Namun ketakutan yang berlebihan, sekali lagi menjadi hantu dalam diri kita sendiri. Kalau kita sudah melakukan hal-hal yang benar, kenapa harus takut? Selain itu ada Allah tetap mengadu.

Mari kita hanya berserah diri dan hanya meminta tolong kepadaNya, semoga kita selalu menjadi orang-orang yang berada di jalan kebenaran dan diberikan petunjuk olehNya untuk selalu berada di jalan yang benar, tanpa rasa takut yang berlebihan dan selalu tenang menjalani hidup ini. Amin. (November 2013)

6. Amanah dan Profesional

Amanah dan Profesional

Salah satu perang besar dan paling bersejarah di zaman Nabi Muhammad SAW adalah perang Uhud. Pada perang  Uhud, Nabi Muhammad SAW menurunkan 700 orang pasukan,  sedangkan kaum musyrikin menurunkan 3000 orang pasukan. Dari segi jumlah pasukan, peperangan ini memang tak seimbang. Kaum muslimin saat itu masih terbatas jumlahnya.

Namun sebagai antisipasi, Nabi menempatkan 50 orang pemanah di atas bukit Uhud. Mereka bertugas melindungi pasukan kaum muslimin dari jarak jauh, sekaligus menahan serangan dari arah belakang (pintu masuk) medan pertempuran. Nabi lalu menunjuk Abdullah bin Zubair sebagai komandan pasukan berpanah ini. Beliau juga berpesan, apapun yang terjadi pasukan berpanah tidak boleh meninggalkan lokasi tersebut, kecuali jika mendapat aba-aba dari Nabi.

Singkat cerita, kedua pasukan telah berada di medan laga. Kaum musyrikin Quraisy pun bersiap untuk menyerang. Mereka datang dengan kekuatan 3.000 personil, seratus orang di antaranya adalah pasukan berkuda. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid yang ketika itu belum masuk Islam. Sedangkan di sebelah kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl yang juga belum masuk Islam pada saat itu.

Namun karena kaum muslimin berperang dengan alasan jihad dan strategi perang yang telah disusun oleh Nabi, kemenangan pada awalnya menjadi milik kaum muslimin. Perlahan tapi pasti pasukan musyrikin mulai kewalahan. Akhirnya mereka melarikan diri meninggalkan gelanggang pertempuran, termasuk meninggalkan harta dan barang-barang berharga milik mereka.

Melihat kejadian ini, pasukan berpanah dari pihak kaum muslimin, yang berada di atas bukit Uhud,  lupa dengan tugas yang diamanahkan Rasulullah. Lalu mereka berebutan turun bukit meninggalkan markas mereka. Mereka tergoda oleh harta yang ditinggalkan kaum musyrikin yang tunggang langgang melarikan diri.

Mereka berebut ingin mendapatkan harta rampasan perang yang ditinggalkan kaum musyrikin. Komandan pasukan berpanah Abdullah bin Zubair  berusaha mengingatkan mereka: “Apakah kamu lupa pesan Rasulullah?” ujarnya. Namun perintah Abdullah bin Zubair tak mereka hiraukan. Mata mereka telah silau oleh godaan harta.

Kaum musyrikin melihat peluang ini, bergerak cepat dan mengambil posisi yang ditinggalkan pasukan berpanah kaum muslimin. Kondisi semula menjadi terbalik,  kaum musyrikin berhasil mengepung barisan kaum muslimin. Beberapa orang sahabat Nabi yang masih bertahan di bukit Uhud berusaha bertahan dan melawan. Namun karena jumlah mereka hanya beberapa orang saja, perlawanan mereka bisa dipatahkan , merekapun gugur satu per satu.

Para shahabat dan pasukan kaum muslimin kocar-kacir. Kaum musyrikin terus merangsek maju mendekati posisi Rasulullah. Mereka berhasil memecahkan helm besi milik Nabi dan melukai kepala beliau. Bahkan beberapa kali beliau terperosok ke dalam lubang yang digali oleh Abu Amir Fasiq dan melempari beliau dengan batu-batuan. Nabi mengalami luka-luka dan cedera yang cukup parah, gigi seri Nabi juga patah dalam peristiwa itu, hampir saja beliau wafat di sana .

Peristiwa ini merupakan sebuah pelajaran dan penggalaman yang sangat pahit bagi umat Islam. Kata kunci dalam peristiwa itu adalah tidak amanah dan tidak profesional. Pasukan berpanah tidak amanah, karena mereka melalaikan amanah diberikan Nabi untuk tidak meninggalkan posisinya. Mereka juga tidak perofesional karena  tidak bekerja secara baik sesuai dengan profesinya dan mudah terpengaruh oleh godaan. Godaan dalam peristiwa ini adalah harta.

Dalam Al Quran dikatakan, Allah sengaja menguji umat Islam dalam peristiwa itu. Seperti firman Allah dalam Surat Ali Amran: 152, Allah menguji manusia dengan hal-hal yang disukainya dan mereka berpaling dari Rasulnya saat diuji. Dalam ayat tersebut Allah juga menegaskan bahwa sebagian manusia memikirkan kehidupan di akhirat kelak, namun sebagian manusia lainnya, hanya memikirkan dunia.

Kesukaan yang kuat menggoda manusia itu diantaranya adalah harta, belakangan ditambah lagi dengan wanita dan tahta. Masalah klasik itu sama sejak ribuan tahun lalu hingga sekarang. Karena penyebabnya sama, seharusnya dengan mudah kita bisa mengatasinya.  Harta, jabatan dan wanita (istri) adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, jaga dan jalankan dengan baik sehingga semua itu menjadi nikmat dan rahmat, bukan sebuah laknat yang akan menyengsarakan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Namun godaan selalu dengan mudah  memperdaya  manusia yang lemah imannya.

Tak peduli apapun jabatan atau pekerjaan seseorang, berlakulah amanah dan profesional. Jika ia seorang pejabat, berlakulah amanah dan pofesional sebagai seorang pejabat, agar sukses dalam melaksanakan pekerjaan dan bermanfaat bagi ummat. Jika hal itu dilakukan, insya Allah ia akan diberikan amanah yang lebih besar lagi, tidak perlu kasak-kusuk dan melakukan cara-cara yang tidak benar.

Begitu juga jika ia seorang sopir, jalankan pekerjaan itu secara profesional dan amanah.  Bisa kita bayangkan jika seorang sopir bis umum misalnya,  jika tidak menjalankan amanah dan profesional. Ia mabuk dan ugal-ugal membawa bis atau mengantuk  di jalan yang padat lalu lintas, tentu nyawa dan kerugiaan harta benda yang menjadi taruhannya akibat kecelakaan yang berpeluang besar terjadi.

Nabi juga berpesan agar suatu pekerjaan atau jabatan diberikan kepada ahlinya. “Berikanlah suatu pekerjaan kepada ahlinya, bila suatu pekerjaan diberikan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari dan Muslim). Maksudnya berikan jabatan atau pekerjaan itu kepada orang yang bersikap amanah dan mampu bekerja secara profesional.

Banyak contoh yang telah terjadi, akibat lalai, kesalahan kecil yang dianggap sepele dapat menimbulkan dampak yang besar bahkan dahsyat. Sopir yang mengantuk akibat malam sebelumnya begadang menonton pertandingan sepakbola misalnya, bisa menimbulkan kecelakaan beruntun yang menyebabkan  kehilangan puluhan nyawa. Atau bisa juga menimbulkan masalah nasional, keguncangan sebuah negara, jika ia seorang sopir presiden.

Atau kesalahan seorang staf mendisposisi surat misalnya, bisa berdampak dicopotnya seorang pejabat dan lalu merebak menjadi isu regional dan berkembang lagi menjadi isu nasional. Penyebabnya hanya masalah sepele, lalai dan tidak profesional.

Di lingkungan Pemprov Sumbar saya sudah berkali-kali mengingatkan agar kepala SKPD (satuan kerja perangkat daerah) berhati-hati dan tidak melakukan kesalahan, sekecil apapun. Peringatan itu dilanjutkan lagi dengan surat edaran. Berikutnya saya mengumumkan akan memberikan sangsi kepala SKPD yang melakukan maksimal 10 kali kesalahan kecil (terutama dalan adminitrasi surat-menyurat). Tentu saja tak ada ampun bagi yang melakukan besar dan fatal, sangsi menjadi keputusan tetap setelah diproses melalui Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Pangkat).

Alhamdulillah hal ini telah menimbulkan dampak yang positif, kepala SKPD menjadi ekstra hati-hati dan berupaya bekerja lebih profesional. Semoga proses itu terus  berjalan dan dipatuhi,  jajaran pemerintah Provinsi Sumatera Barat bisa menjalankan amanah dan bekerja secara profesional, mampu meniadakan kesalahan dan kelalaian sekecil apapun serta mampu memberikan pelayan yang maksimal untuk kejayaan dan kemajuan Sumatera Barat  di masa depan. Amin. (Maret 2013)

7. Politik Adu Domba

Politik Adu Domba

Politik adu domba telah terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Bangsa penjajah saat itu menamakannya sebagai devide et impera. Ini adalah sebuah strategi yang digunakan oleh pemerintah penjajahan Belanda untuk kepentingan politik, militer dan ekonomi. Politik adu domba digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh penjajahan Belanda di Indonesia.

Secara prinsip, praktek politik adu domba adalah memecah belah dengan saling membenturkan (mengadu domba) kelompok besar yang dianggap memiliki pengaruh dan kekuatan. Tujuannya adalah agar kekuatan tersebut terpecah belah menjadi kelompok-kelompok kecil yang tak berdaya. Dengan demikian kelompok-kelompok kecil tersebut dengan mudah dilumpuhkan dan dikuasai.

Unsur-unsur yang digunakan dalam praktek politik jenis ini adalah; 1. menciptakan atau mendorong perpecahan dalam masyarakat untuk mencegah terbentuknya sebuah aliansi yang memiliki kekuatan besar dan berpengaruh, 2. memunculkan banyak tokoh baru (tokoh boneka?) yang saling bersaing dan saling melemahkan, 3. mendorong ketidak percayaan dan permusuhan antar masyarakat, 4. mendorong konsumerisme yang pada akhirnya memicu timbulnya KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme).

Di negara asalnya Belanda, politik devide et impera sudah lama tak digunakan lagi. Belanda saat ini saat menjunjung tinggi hak azazi manusia (HAM). Namun justru di Indonesia politik itu nampaknya masih membekas dalam dan masih saja digunakan. Apalagi setelah era reformasi yang oleh banyak pihak dinilai salah kaprah. Legislatif seperti berlawanan dengan eksekutif, partai A saling melemahkan partai B, begitu sebaliknya dan seterusnya. Padahal justru seharusnya saling bekerjasama dan saling memperkuat dan melengkapi.

Siapa saja bisa dijadikan domba aduan, dari warga masyarakat biasa sampai warga kelas atas bisa jadi objek sasaran. Sesama pedagang bisa dipicu perpecahan, gara-gara masalah kecil bisa berkembang menjadi konflik yang besar. Perbedaan agama, suku dan sebagainya bisa memunculkan percikan api konflik yang bila diberi bensin segera berkobar menjadi konflik besar. Kita sudah banyak melihat buktinya terjadi sehari-hari. Media massa seperti bertepuk tangan dan seolah-olah ikut memberi semangat melihat kejadian ini. Inikah yang dimaksud dengan reformasi dan demokrasi?

Dalam politik adu domba, konflik sengaja diciptakan. Perpecahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah terwujudnya aliansi yang bisa menentang penjajah (imperialisme), entah itu kekuasaan di pemerintahan, di partai, kelompok di masyarakat, dan sebagainya. Pihak-pihak atau orang-orang yang bersedia bekerja sama dengan kekuasaan, dibantu atau dipromosikan, mereka yang tidak bersedia bekerjasama, segera disingkirkan.

Ketidakpercayaan terhadap pimpinan atau suatu kelompok sengaja diciptakan agar pemimpin atau kelompok tersebut tidak tumbuh besar dan solid. Adakalanya tidak hanya ketidakpercayaan, bahkan permusuhan pun sengaja disemai. Teknik yang digunakan adalah agitasi, propaganda, desas-desus, bahkan fitnah. Praktik seperti itu tumbuh subur saat ini.

Di zaman penjajahan Belanda, mereka menggandeng beberapa pribumi untuk menjadi karyawan mereka, diberi kehidupan yang layak, tapi sadar atau tidak, mereka dikondisikan untuk mengkhianati bangsanya sendiri. Raja di satu kerajaan diadu domba dengan raja lain yang pada akhirnya menimbulkan peperangan dan perpecahan. Alhasil saat itu tidak muncul sebuah kerajaan yang besar dan kuat.

Di tengah masyarakat kita dewasa ini, di tengah era informasi yang sangat liberal, praktik adu domba itu menjadi tontonan sehari-hari. Kita secara vulgar disuguhi berita-berita tentang perseteruan antar kelompok untuk memperebutkan kekuasaan, saling tuding, saling caci-maki, saling sikut dengan intrik-intrik politik yang sangat kasar dan kejam. Penggiringan isu, disadari atau tidak, dilakukan sedemikian rupa untuk saling menghancurkan.

Di era merdeka dan modern seperti saat ini, tentu kita tidak ingin dijadikan domba aduan oleh siapapun dan pihak manapun. Imperalisme maupun neo imperalisme, tidak boleh lagi menjadi raja di negeri yang kita cintai ini, apalagi di Sumatera Barat negeri asal penggagas berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Password untuk mengatasi masalah ini sama dengan yang kita gunakan saat mengusir penjajah Belanda dulu, yaitu persatuan dan kesatuan. Mari bersatu menghimpun kekuatan bersama, jangan mau dininabobokan dan lalu diadu domba. Indonesia adalah negara besar dan memiliki potensi yang besar. Dengan kesatuan dan persatuan, insya Allah kita capai kejayaan bersama dalam waktu singkat. Amiin. (Februari 2013)

 

8. Kabar Burung

. Kabar Burung

Menurut kamus bahasa Indonesia kata kabar burung setara dengan kata kabar angin atau berita selentingan, isu, gosip atau berita bohong. Kabar burung adalah informasi  yang belum jelas benar atau salahnya. Tak jarang kabar burung juga bisa berupa fitnah. Kabar burung dan informasi yang benar batas pemisahnya hanya setipis kulit ari.

Bagi yang pernah menyembelih ternak, saat membersihkan isi dalam rongga dadanya tentu pernah melihat sebuah kantong berwarna hijau. Kantong itu menempel  erat dan seperti menyatu dengan jantung, hati dan paru-paru. Kantong berwarna hijau lumut itu dinamakan kantong empedu.

Kantong itu terbuat dari selembar selaput tipis saja. Namun selama selaput itu tidak terganggu dan tidak bocor meski letaknya berdekatan, kita bisa menikmati lezatnya dendeng paru, kalio hati atau sate jantung. Tapi jika kantung empedu tersobek, cairannya terserak kemana-mana, maka hewan ternak yang disembelih jadi tak berguna. Dagingnya akan berubah jadi pahit dan tidak enak akibat terkena cairan empedu yang pahitnya bukan kepalang.

Cairan empedu yang pahit dengan daging yang lezat hanya dibatasi sebuah selaput tipis. Selama pembatasnya masih utuh, meski satu sama lain saling berdekatan dan seperti menyatu, dan kita tidak merusak pembatasnya, selamanya tak kan ada masalah. Namun jika pembatasnya dirusak dan setetes saja cairan empedu menempel di daging, maka daging yang enak berubah total menjadi tak enak. Kondisi ini hampir sama dengan yang digambarkan oleh pepatah “ gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”.

Batas pemisah kabar burung dan berita yang benar/sahih juga begitu, bedanya tipis sekali, setipis kulit ari. Sering keduanya tercampur aduk sehingga kita sulit membedakan mana yang benar atau mana yang hanya sekedar kabar burung, desas desus bahkan fitnah.  Dulu kita sulit mendapatkan informasi karena terbatasnya media komunikasi. Kini informasi datang melanda begitu deras, nyaris 24 jam sehari dari berbagai penjuru. Informasi bisa datang melalui media televisi, radio, media cetak, sms bahkan sosial media yang bisa wadahnya digenggam kemanapun kita pergi.

Jika dulu kita berusaha mencari informasi, maka saat ini tugas kita adalah menyaring informasi. Informasi apapun yang kita inginkan, nyaris tanpa batas, bisa kita peroleh dalam hitungan detik melalui search engine di internet. Sungguh luar biasa. Tinggal kita memilih dan memilah, informasi mana yang akan diambil dan dianggap bermanfaat.

Karena gelombang informasi yang luar biasa itu, para ahli menamakan abad ini sebagai era revolusi informasi. Mereka yang bernyali bisnis memanfaatkan peluang bisnis yang timbul akibat fenomena revolusi informasi, begitu juga ilmuwan, artis, politikus atau siapa saja yang bisa memanfaatkannya.

Namun sayangnya berita yang benar dan kabar burung seperti empedu dan daging tadi, keduanya seperti tercampur aduk, sulit membedakan satu sama lain. Informasi yang benar dan baik tercampur aduk dengan informasi yang tidak benar dan tidak baik.

Lebih parah lagi ada orang yang mengambil kesempatan memanfaatkan peluang revolusi informasi secara tidak baik dan salah. Maka muncullah berbagai macam bentuk penipuan melalui internet maupun telepon genggam. Ada juga yang memanfaatkan revolusi informasi untuk kepentingan politik baik secara benar maupun tidak benar. Ada juga yang secara sadar maupun tidak sadar menyebarkan kabar burung bahkan fitnah melalui sarana media yang sedang booming. Akibatnya kadang-kala menimbulkan dampak yang fatal.

Sekali lagi, tugas kita adalah menyaring mana informasi yang benar dan mana yang tidak benar. Silahkan pilih mana informasi yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Jangan pula ikut terpancing untuk ikut jadi penyebar atau komentator informasi yang kita sendiri belum tahu pasti duduk masalahnya dan juga tidak tahu persis benar atau salahnya.

Seperti firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 6; , “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Dalam QS: Al-Israa’ ayat 36 Allah juga berfirman; Dan janganlah Kami mengikuti  sesuatu yang  kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Maret 2013)

9. Memaafkan Meningkatkan Kinerja

Memaafkan Meningkatkan Kinerja

 

Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita pernah melakukan kesalahan. Tak ada manusia yang tak pernah berbuat kesalahan, tak ada manusia yang sempurna. Khilaf dan berbuat kesalahan adalah fitrah manusia.  Tak ada manusia yang luput dari khilaf dan berbuat kesalahan dalam kehidupannya.

Dalam keluarga, suami pasti pernah berbuat kesalahan terhadap istrinya, sebaliknya istri juga pernah berbuat salah kepada suami. Begitu juga anak tentu pernah melakukan kesalahan terhadap orang tua mereka dan sebaliknya orang tua juga pernah melakukan kesalahan terhadap anak, baik disengaja maupun yang tidak disengaja.

Namun kesalahan kecil, kadang-kadang tak disengaja bisa berdampak besar. Rumah tangga bisa hancur berantakan gara-gara suami tersinggung oleh perkataan istri yang mungkin tidak ia sengaja. Di media massa sering kita dengar terjadi perkelahian antar kampung atau suku secara besar-besaran. Pada hal pemicunya cuma masalah kecil dan sepele. Pernah terjadi peristiwa tragis yang berujung pembunuhan hanya gara-gara tersinggung oleh ucapan kata.

Di sinilah letak keagungan agama Islam. Dalam Islam kita diperintahkan untuk meminta maaf dan saling memaafkan, terutama pada Hari Raya Idul Fitri. Suami diperintahkan minta maaf kepada istri, begitu juga sebaliknya. Anak juga berkewajiban minta maaf kepada orang tua mereka dan sebaliknya. Selanjutnya bermaaf-maafan dengan seluruh keluarga, tetangga dan karib-kerabat. Semua persoalan sepele tadi bisa diselesaikan dengan meminta maaf dan memaafkan.

Dalam lingkungan kerja, saling memaafkan sangat ampuh untuk meningkatkan kinerja suatu satuan kerja/tim. Dalam lingkungan kerja, kesalahan, khilaf, salah paham, beda pendapat, sangat jamak terjadi.  Dalam suasana sibuk, kelelahan,                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               sering muncul salah dan khilaf. Yang melakukan kesalahan sering tidak menyadari kesalahan yang ia lakukan, tapi yang terkena dampaknya merasa sakit hati dan kadang kala dendam berkepanjangan. Karena sakit hati dan dendam, komunikasi berjalan mandeg, kinerja menjadi anjlok.

Di sinilah letak keampuhan sikap saling memaafkan. Dendam dan sakit hati ibarat virus dalam komputer. Jika komputer terkena virus, maka virus tersebut akan menyebar dan akan mengganggu sistem kerja komputer. Jika tidak pernah dibersihkan, sementara virus yang masuk terus bertambah dan bertambah, suatu saat komputer tersebut akan mogok bekerja (hang).

Demikian juga manusia, sakit hati dan dendam akan menjadi “virus” dalam hati. Makin lama makin banyak dan menumpuk. Dalam lingkungan kerja hal ini membuat prestasi kerja menurun, komunikasi tersendat. Secara pribadi, dendam dan sakit hati membebani pikiran bahkan bisa berbuntut menjadi stress.

Allah SWT. telah menyediakan obat penawar dari penyakit ini, yaitu saling minta maaf dan memaafkan. Ibarat virus dalam komputer tadi, minta maaf dan memaafkan adalah seperti mendelete (menghapus) virus dalam komputer. Hapus semua dendam dan sakit hati dalam hati dan pikiran kita, agar ia tidak menjadi beban yang terus bertambah dan menumpuk dari tahun ke tahun.

Suksesnya suatu kesatuan kerja/tim tergantung pada kekompakan dan soliditas tim tersebut. Tim yang solid dan kompak akan menghasilkan prestasi kerja yang baik. Agar tim kompak dan solid kuncinya adalah menjaga agar hubungan antar anggota tim tetap harmonis, tidak ada ganjalan, dendam maupun sakit hati dengan saling minta maaf dan memaafkan.

QS; Ali Imran: 134 mengatakan , salah satu ciri orang masuk surga adalah setiap malam sebelum tidur ia memaafkan orang lain.  Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan jika ada perselisihan di antara kamu maka selesaikanlah segera, paling lama dalam waktu tiga hari.  Dalam QS; 49 ayat 110 juga dikatakan, maka damaikanlah segera antara saudaramu yang berselisih.

Mari jadikan, ucapan mohon maaf lahir dan bathin tak sekedar  ucapan seremonial  dan rutinitas tahunan di saat Idul Fitri. Jadikan Idul Fitri dan halal bil halal menjadi sebuah momen untuk benar-benar saling memaafkan dan minta maaf atas kesalahan yang kita lakukan selama setahun yang telah berlalu.  Mari kita hapus semua “virus” sakit hati yang membebani pikiran kita, kita mulai lembaran kehidupan baru yang bersih, tanpa dendam dan sakit hati, lebih optimis dan lebih baik. (Agustus 2012)

 

10. Menghapus Virus di Pikiran

Banyak yang bertanya, kok saya kelihatan santai saja, seperti tanpa beban. Padahal beban kerja luar biasanya banyaknya. Masalah yang muncul hampir tak berhenti dari menit ke menit, datang silih berganti.  Masalah pekerjaan, masalah kampung, masalah organisasi, masalah keluarga, masalah terus, seperti tak habis-habis terus berdatangan yang harus dihadapi sejak fajar mulai menyingsing hingga larut tengah malam menjelang mata terlelap.

Jawabannya sederhana saja, yaitu pemaaf dan ikhlas. Jika ada masalah, diselesaikan dengan baik sampai tuntas secepatnya, jangan ditunda-tunda. Jika ada yang berbuat salah, segera maafkan dan jika berbuat salah segera minta maaf. Jika ada yang berbuat jahat terhadap kita, jangan balas dengan kejahatan. Karena jika hal itu kita lakukan, maka sama saja jahatnya kita dengan mereka. Biarlah Allah yang menunjukkan jalan yang terbaik.

Tentu akan timbul pentanyaan, bagaimana jika ada di antara masalah yang dihadapi tersebut tidak bisa diselesaikan dan menemui jalan buntu? Jawabannya, serahkan masalah tersebut kepada Allah SWT. Jika telah diupayakan dengan kerja keras dan segala upaya, namun masalah itu tetap tak ada jalan keluar, maka hanya Allah tempat kita mengadu.  Insya Allah, Allah akan menunjukkan jalan keluar yang terbaik.

Pada umumnya manusia memiliki tiga kelemahan yang merupakan sifat dasar manusia, yaitu khilaf, doif (lemah) dan nafsu. Ketiga sifat ini membuat manusia sering berbuat kesalahan.  Namun kadangkala kesalahan kecil, tanpa disadari bisa berdampak besar. Di lingkungan kerja, kesalahan bisa menyebabkan kekesalan yang pada akhirnya menyebabkan suasana tidak nyaman dan prestasi kerja menjadi menurun.

Siapapun  manusia di dunia ini, sehebat apapun dia, pasti pernah berbuat kesalahan.  Tak ada manusia yang sempurna.  Karena itu wajar manusia melakukan kesalahan. Tugas kita adalah memberi maaf dan meminta maaf.  Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadisnya mengatakan ciri-ciri orang masuk syurga adalah memaafkan kesalahan orang lain setiap malam menjelang tidur.

Jika semua persoalan telah diselesaikan dengan baik, bekerja dengan ikhlas dan semua kesalahan telah dimaafkan dan telah meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan, maka tak ada alasan masih banyak masalah yang membebani pikiran kita. Hidup terasa nyaman, beban pikiran terasa ringan, kita bisa bekerja dan berpikir dengan tenang. Benar apa yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, orang yang memaafkan kesalahan orang lain, akan memperoleh syurga.

Dalam kenyataannya,  tidak hanya syurga di akhirat kelak yang bisa kita peroleh tetapi, tetapi juga syurga di dunia. Mereka yang bersikap pemaaf dan bekerja dengan ikhlas mendapatkan ketentraman hidup di dunia. Makan enak, tidur nyenyak, tak ada dendam dan sakit hati,  tak ada beban pikiran menumpuk di kepala. Itulah syurga di dunia.

Kesalahan, baik disengaja maupun tidak disegaja bisa menimbulkan amarah, dendam dan sakit hati. Amarah, dendam dan sakit hati jika disimpan akan menjadi beban dalam pikiran. Makin lama makin banyak dan terus bertumpuk-tumpuk. Seperti virus dalam komputer,virus tersebut terus bertambah banyak dan bertambah. Akibatnya suatu saat kumputer tersebut error, tak mampu lagi berkerja.  Pada manusia hal yang hampir sama juga terjadi. Jika beban pikiran terus menumpuk, maka suatu saat bisa menimbulkan stress.

Untuk mengatasi hal tersebut, pada komputer diatasi dengan antivirus. Antivirus akan mendelete (menghapus) virus-virus yang mengganggu sistem kerja komputer. Pada manusia antivirusnya adalah memaafkan.  Memaafkan akan menghapus (mendelete) semua beban pikiran berupa amarah, dendam dan sakit hati.

Allah dalam QS; Ali Imran:133 berfirman,  Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. QS Ali Imran:134, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (September 2012)

11. Puasa Mencegah Korupsi

Puasa Mencegah Korupsi

Sungguh miris menyimak berita utama yang menghiasi berbagai media massa belakangan ini. Lebih dari seratus kepala daerah dan mantan kepala daerah (Gubernur, Walikota dan Bupati) tersandung kasus korupsi. Kita juga dikagetkan oleh sejumlah kasus korupsi besar di lembaga pajak. Nama Gayus Tambunan menjadi nama yang populer di seantero nusantara sebagai koruptor pajak yang spektakuler.

Lembaga politik juga  tak luput dari isu korupsi.  Sejumlah tokoh politik juga tercemar namanya karena diduga terlibat kasus korupsi. Korupsi telah menjadi penyakit akut, mewabah dan merajalela di mana-mana.

Seseorang dikatakan korupsi jika hak yang dia ambil melebihi dari hak yang seharusnya dia terima. Sedangkan korupsi timbul akibat keinginan (wants) seseorang jauh melebihi kebutuhannya (needs).

Kenapa seseorang terlibat korupsi, kenapa seseorang mengumbar hasrat keinginannya (wants) melebihi dari kebutuhannya? Jawabannya adalah karena mereka tak mampu mengendalikan diri dan hawa nafsunya. Gaya hidup yang berlebihan membuat orang tergoda untuk dengan cara apapun.

Jika demikian masalahnya, maka puasa (shaum) bisa dijadikan salah satu terapi pencegahan dini kasus korupsi. Misi utama puasa adalah mengendalikan hawa nafsu. Puasa mengajarkan umat Islam untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Godaan hawa nafsu memang merupakan godaan paling berat bagi manusia. Gaya hidup yang makin metropolis dan serba instan membuat manusia sering tergoda. Kebutuhan dan kemampuan mereka hanya untuk membeli mobil kijang, tetapi keinginan mereka adalah mobil merek Hummer. Karena tak mampu mengendalikan hawa nafsu, mereka lalu menghalalkan segala cara. Maka terjadilah korupsi.

Seperti diungkapkan Nabi Muhammad SAW banyak perang besar yang telah dilalui beliau bersama para sahabat, termasuk perang badar. Tapi sebenarnya perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu.

Puasa adalah salah satu wadah latihan untuk perang melawan hawa nafsu. Saat puasa kita dilatih untuk mengekang hawa nafsu, untuk tidak makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa dari imsak sampai waktu buka. Selain itu kita juga dianjurkan melakukan amal ibadah seperti shalat malam, tadarus, berzakat, dll. Untuk memperkokoh benteng keimanan.

Jika ibadah puasa dilakukan dengan baik dan benar insya Allah mampu mencegah kita dari tindakan korupsi.

Selamat melaksanakan ibadah puasa dan memasuki bulan Ramadhan 1433H, bulan penuh rahmat dan berkah.  Mohon maaf atas segala khilaf dan salah, semoga kita dapat melaksanakan ibadah puasa dengan baik dan kembali fitrah di bulan Syawal mendatang.  Mari kita jadikan bulan Ramadhan untuk introspeksi diri, serta bertekad untuk menjadi lebih baik di masa datang. (Juli 2013)

12. Puasa Kunci Kemajuan Bangsa

Puasa Kunci Kemajuan Bangsa

Apa yang menyebabkan sebuah negara menjelma menjadi sebuah negara maju, makmur  dan sejahtera? Negara-negara Eropa, misalnya. Semua serba ada di sana, income per capita (pendapatan rata-rata) penduduknya terpaut jauh dengan negara lain. Atau ambilah contoh negara di Asia seperti Jepang, Korea, atau Singapura, misalnya. Apakah karena sumberdaya alam negara mereka melimpah ruah yang membuat mereka sejahtera? Ternyata tidak.

Jepang misalnya, tidak satupun bahan tambang yang mereka miliki. Minyak, aspal, besi, semen dan seterusnya, semua mereka impor dari negara lain. Begitu juga Korea, sebuah negara kecil yang juga tidak memiliki kekayaan alam yang bisa diandalkan. Yang terjadi adalah konflik dan perang saudara berkepanjangan. Singapura apalagi, jangankan bahan tambang dan kekayaan alam, air, pasir dan hampir semua kebutuhan penduduknya didatangkan dari negara lain.

Lalu apa yang membuat mereka sukses dan sejahtera? Berdasarkan pengamatan dan tak terbantahkan,  yang membuat mereka berbeda adalah prilaku dan sikap mental mereka. Mereka pekerja keras dan sangat disiplin. Karena sumbedaya alam yang mereka miliki terbatas, maka mereka hemat dan penuh perhitungan. Berbagai inovasi terus digali agar pemanfaatan sumberdaya alam lebih efisien, lebih baik dan lebih baik lagi.  Kebersihan dan lingkungan dijaga agar masyarakatnya tidak mudah sakit dan selalu produktif. Sakit dalam kacamata mereka adalah pemborosan yang bisa dicegah sejak dini.

Islam telah lama mengajarkan sikap dan prilaku-prilaku teladan seperti yang dilakukan masyarakat di negara maju tersebut. Puasa misalnya, terutama puasa di bulan Ramadhan, merupakan sebuah isyarat bahwa manusia disuruh berhemat, mengendalikan hawa nafsu dan tidak menghambur-hamburkan sumberdaya alam secara berlebihan. Fakta yang cukup menyedihkan adalah kita terpaksa mengimpor gula, terigu, cabe, beras bahkan daging sapi dan berbagai kebutuhan pokok lainnya dari negara lain. Saya tulis “terpaksa” karena impor tersebut kita lakukan sebagai pilihan terburuk sebagai sebuah pemborosan devisa. Padahal sumberdaya alam kita tersedia berlimpah.

Lalu kalau kita lihat kenapa produk-produk Jepang bisa merajai pasaran, terutama elektronik dan kendaraan bermotor? Jawabannya adalah mereka memberikan kejujuran. Kejujuran akan berimplikasi kepada kepercayaan (trust). Kejujuran yang mereka tawarkan di sini adalah produk Jepang adalah yang terbaik, persis seperti apa yang mereka janjikan. Tidak ada kebohongan dan tipu daya di sana. Akibatnya timbullah kepercayaan (trust) terhadap produk-produk Jepang, terutama elektronik dan kendaraan bermotor, di seluruh dunia. Akibatnya Jepang menjelma menjadi negara kaya raya. Apapun bisa mereka beli.

Begitu juga barang-barang yang keluar dari Singapura, meski barang-barang tersebut bukan diproduksi di Singapura, tapi Singapura menambahkannya dengan jaminan trust, baik berupa kualitas,  ketersediaan barang, proses penjualan dan pasca penjualannya. Maka orang dari manca negara pun berduyun-duyun berbelanja ke Singapura, termasuk Indonesia.

Padahal Nabi Muhammad SAW telah sejak ribuan tahun lalu mengajarkan dan mengamanahkan kepada umat Islam aspek kejujuran dalam berniaga. Katakan barang tersebut baik jika barang dagangan itu memang baik dan katakan terus terang jika barang tersebut memiliki kelemahan jika memang memiliki kelemahan atau cacat. Dilarang pula mengurangi timbangan.

Puasa selama sebulan penuh melatih dan mengingatkan kembali agar umat Islam memiliki nilai-nilai yang dimiliki dan menjadi syarat pokok masyarakat sebuah negara maju tersebut. Bahkan lebih lengkap dari itu. Mereka di negara maju saat ini merasa timpang dan ada yang kurang, meski mereka kaya raya. Kekurangannya adalah mereka lemah dalam praktek ibadah dan hubungan dengan Tuhan.  Hubungan secara horizontal baik (hambluminannas), tapi tidak baik dalam hubungan vertikal dengan Tuhan (hambluminallah).

Dalam puasa selama bulan Ramadhan semua nilai-nilai itu lengkap diajarkan dan umat Islam disuruh melatihnya selama sebulan penuh. Tinggal kita mengamalkan dan mengahayatinya secara benar. Jika semua amalan selama bulan puasa itu dilakukan bangsa Indonesia secara benar dan terus diperbaiki dan disempurnakan dari tahun ke tahun, saya yakin bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju dan makmur. Malah lebih lebih baik dari bangsa lain, maju dan makmur di dunia, namun juga maju, makmur dan sejahtera di akhirat. Amiin. (Juli 2013)

13. Pemimpin Berkarakter

Pemimpin Berkarakter

 

Pesta demokrasi Pilkada yang gegap gempita kadangkala berakhir dengan kekecewaan. Pemimpin yang dipilih rakyat dengan susah payah ternyata tak seperti yang mereka bayangkan dan inginkan. Ternyata pemimpin yang dipilih tak seperti yang mereka kira, apa yang dijanjikan sang pemimpin saat kampanye tak pernah jadi kenyataan.

Masyarakat telah salah pilih? Kenapa salah pilih?

Menilai kualitas seseorang memang bukan perkara gampang, apalagi untuk menilai seseorang yang akan dipilih jadi pemimpin. Slogan atau foto rancak yang dipajang di berbagai pelosok untuk sosialisasi sang calon pemimpin tak cukup untuk memutuskan apakah ia cocok jadi pemimpin. Begitu juga visi dan misi yang ditawarkan juga tak ada jaminan akan jadi kenyataan.

Slogan bisa dibuat dengan sejuta kata yang manis-manis dan indah. Visi dan misi juga bisa dibuat berisi sejuta janji dan mimpi-mimpi.

Seperti sepasang calon pengantin yang dalam masa perkenalan (pacaran?). Calon yang akan dipilih akan selalu berusaha menampilkan yang baik-baik dan indah-indah. Tapi setelah beberapa lama berkeluarga baru diketahui watak asli masing-masing. Tentu saja masing-masing akan kecewa jika sifat jelek pasangan pilihannya baru diketahui belakangan.

Jika hal yang sama terjadi saat memilih pemimpin, tentu saja membuat masyarakat pemilih kecewa, sakit hati, lalu cuek atau memilih menjadi pengikut golongan putih (golput). Lalu apa yang harus dilakukan?

Pemimpin yang baik memang tak cukup dinilai dari slogan yang ia buat atau visi dan misi yang ia tawarkan. Pemimpin yang baik bisa dinilai dari sifat asli mereka. Sifat asli mereka bisa diketahui dari karakter mereka.

Karakter seseorang dengan mudah bisa diamati. Apakah dia seorang penyabar, tidak pendendam, jujur, ulet, rendah hati dan berbagai sifat dasar lainnya.

Dalam Islam seorang pemimpin (ra’i) harus memiliki sifat ri’ayah (peduli) terhadap rakyat (ra’iyyat). Pemimpin dalam Islam adalah pelayan, sedangkan rakyat adalah orang yang harus dilayani. Bukan sebaliknya, apalagi kalau pemimpin dikonotasikan sebagai penguasa.

Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan sikap dan karakter beliau sebagai pemimpin. Nabi telah mencontoh bagaimana sistem demokrasi ditegakkan saat meletakkan Hajarul Aswad. Keputusan diambil setelah melakukan musyawarah. Kemudian Nabi mengambil sorban beliau untuk mengangkat Hajarul Aswad, masing-masing utusan kaum ikut dilibatkan dengan ikut memegang setiap sudut sorban. Setelah itu barulah Hajarul Aswad ditempatkan bersama-sama. Semua pihak merasa puas, semua pihak merasa dihargai dan diberi peran.

Nabi juga memperlihatkan karakter bahwa beliau rendah hati saat melakukan shalat. Beliau selalu melakukan shalat berjamaah dengan masyarakat. Beliau tak pernah menuntut bahwa beliau harus diistimewakan.

Nabi juga memperlihatkan bahwa beliau sangat cinta dan peduli kepada rakyatnya, tak peduli mereka dari golongan manapun, Nasrani maupun Yahudi. Sehabis shalat berjamaah Nabi membuka kesempatan bagi siapa saja untuk berdiskudi. Nabi selalu siap mendengarkan keluh-kesah masyarakat.

Teladan Nabi juga dilanjutkan oleh Kalifah Umar bin Khatab. Beliau menangis ketika mengetahui ada rakyatnya yang tidak makan dan kelaparan. Ia lalu mengambil dan memanggul sendiri sekarung gandum yang ada di rumahnya, lalu memberikan gandum tersebut kepada rakyatnya yang kelaparan. Karena itu pemimpin menjadi orang yang dicintai oleh rakyatnya, bukan orang yang ditakuti.

Pemimpin diusulkan oleh rakyat, rakyat yang menilai apakah ia layak untuk dipilih sebagai pemimpin, bukan karena dia sendiri yang menonjolkan diri. Di zaman Nabi ada tokoh yang mencalonkan dirinya sendiri untuk jadi pemimpin. Nabi lalu langsung mengatakan agar orang tersebut tidak dipilih.

Motivasi jadi pemimpin adalah mengharapkan ridha Allah dan mengabdi untuk kepentingan umat, bukan untuk berkuasa. Karena itu ia menerima dengan ikhlas siapapun yang dipilih rakyat. Allah yang memutuskan apa yang terbaik bagi kita semua. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai oleh masyarakatnya, bukan pemimpin yang ditakuti.

Kesimpulannya, jika memilih seorang pemimpin telitilah apakah ia memiliki karakter terpuji seperti diatas. Apakah selama perjalanan karirnya ia memperlihatkan sikap dan teladan seperti yang dicontohkan pemimpin besar Nabi Muhammad SAW. Seseorang bisa dinilai dari track record dan perjalanan pengalaman dan karirnya selama ini.

Jika sifat-sifat itu telah ia miliki, insya Allah ia akan menjadi pemimpin yang baik dan amanah. Masyarakat yang baik, dipimpin oleh pemimpin yang baik pula, insya Allah akan menjadi negeri yang aman, damai, sejahtera dan bermartabat. Negeri yang toyyibatun warabun ghofur. Amin. Selamat melaksanakan Pilkada 2010. (Juli 2011)

14. Golput dan Calon Pemimpin

Golput dan Calon Pemimpin

Pagi hari Rabu (5/3/2014), persis di hari pelaksanaan pemungutan suara Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kota Padang, diam-diam menggunakan kendaraan pribadi dan menyetir sendiri, saya berkeliling kota Padang. Saya mengamati aktifitas masyarakat kota Padang pagi itu, terutama aktifitas pemilihan langsung Wali Kota Padang.

Ada dua kesan yang menonjol dari pengamatan saya. Pertama, Pilkada dilaksanakan secara sangat sederhana dan lebih hemat biaya. Teras-teras rumah penduduk, warung-warung yang tidak buka pagi hari atau berbagai tempat kosong dipakai sebagai tempat pelaksanaan Pilkada. Peralatan yang digunakan juga terlihat sangat sederhana, dengan konsep efisiensi dan penghematan.

Kesan kedua adalah, rata-rata TPS (Tempat Pemungutan Suara) masih terlihat sepi. Sekitar pukul 08.30 WIB, di salah satu TPS saya sempat mampir. Menurut petugas setempat dari 285 warga yang terdaftar sebagai pemilih, baru 35 orang yang telah melaksanakan hak pilihnya. Padahal berdasarkan undangan, TPS telah dibuka sejak jam 07.00. Hal serupa juga terjadi di TPS-TPS lain yang secara diam-diam saya kunjungi hingga pukul 09.30, terkesan sepi dan tak terlihat antusias warga.

Ternyata kekuatiran itu memang jadi kenyataan. Berdasarkan perhitungan akhir, dari 560.289 orang warga kota Padang, hanya 53,77 persen saja warga ibukota Sumatera Barat ini  yang melaksanakan hak pilihnya. Sisanya, hampir separuh warga kota tidak melaksanakan hak pilihnya alias golput (golongan  putih).

Kenapa? Alasannya bisa bermacam-macam. Bisa jadi karena Pilkada sudah beberapa kali terundur, bisa jadi pula masyarakat lebih berkosentrasi untuk Pemilu Legislatif yang juga akan segera digelar tanggal 9 April mendatang dan banyak alasan lainnya.

Tidak ikut memilih alias golput walaupun  merupakan keinginan masing-masing individu, tetapi sebagai warga negara yang baik, kita dilarang golput. Dalam sebuah sistem demokrasi, tentu saja golput bukanlah pilihan yang terbaik. Makin banyak masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya, tentu makin tak tersalurkan aspirasi (keinginan) masyarakat akan sosok pemimpin yang diinginkannya.

Ada juga yang beralasan calon pemimpin yang ditawarkan tidak sesuai dengan keinginan mereka dan mereka beralasan, berdasarkan pengalaman selama ini, memilih atau tidak sama saja, tidak akan membawa perubahan yang berarti.

Mengenai calon pemimpin, tentu saja tidak bisa sesuai dengan keinginan masing-masing individu, karena ada proses dan mekanisme yang harus dilalui. Namun memang perlu juga diingatkan dan masyarakat juga perlu mengawal sehingga calon pemimpin yang diapungkan namanya memang calon yang berkualitas dan aspiratif.

Memilih pemimpin memang tidak mudah, menjadi pemimpin jauh lebih sulit lagi. Seorang pemimpin haruslah amanah dan akan diminta pertanggungjawabannya dunia dan akhirat. Karena itu di zaman Nabi Muhammad SAW, seorang pemimpin dicalonkan oleh masyarakat. Masyarakatlah yang menilai, berdasarkan sikap, karakter dan prilakunya sehari-hari apakah ia sudah layak jadi pemimpin. Bukan dia sendiri yang menganggap dirinya mampu, punya uang banyak untuk kampanye, lalu maju mencalonkan diri. Lebih buruk lagi dia mencalonkan diri karena ambisi pribadi.

Karena itu partai-partai harus jeli mendengar aspirasi masyarakat untuk menentukan sosok tokoh mana yang diinginkan masyarakat untuk dijadikan calon pemimpin. Sebaliknya masyarakat juga harus menahan diri dan bersikap tegas. Memilih seorang calon pemimpin bukan karena besar atau kecilnya oleh-oleh yang mereka bawa (berupa baju kaos, sumbangan dalam bentuk materi atau uang). Hal ini sering menjadi dilema, calon yang berkualitas tersisihkan karena mereka tak punya uang untuk memberi “oleh-oleh”. Jadi pilihlah mereka karena kualitas dan kapasitasnya.

Pemilu legislatif sudah dekat, tak sampai sebulan lagi. Mari ikut peduli dan berpartisipasi. Teliti dan pelajari kualitas dan dedikasi masing-masing calon dan pilihlah mereka karena alasan kualitas dan integritasnya, bukan karena besar atau kecilnya “oleh-oleh” yang diberikan.

Ikut memilih secara benar berarti kita ikut menentukan masa depan kita secara benar pula untuk masa datang. Tidak ikut memilih, berarti kita membiarkan siapa saja yang akan memimpin, malah akan membuka peluang lebih besar tokoh-tokoh yang tidak kita inginkan terpilih sebagai pemimpin. Selamat melaksanakan pemilu, selamat berdemokrasi. (Maret 2014)

 

15. Mari Membangun Kota Padang

Mari Membangun Kota Padang
Pilkada Kota Padang merupakan Pemilu dengan rute panjang dan marathon. Prosesnya berlangsung hampir setahun. Bermula dari persiapan sejak pertengahan tahun 2013, setelah beberapa kali terundur, dilanjutkan dengan tahap pencoblosan pada bulan Oktober 2013. Lalu karena tidak diperoleh pemenang dengan jumlah perolehan suara 30 persen plus 1, proses pemilihan dilanjutkan lagi dengan Pilkada Putaran II pada bulan Maret 2014.
Ternyata prosesnya belum selesai sampai di situ, meski pasangan Mahem (Mahyeldi- Emzalmi) berhasil memenangkan prolehan suara terbanyak. Proses masih berlanjut lagi melalui sidang di Mahkamah Konstitusi (MK). Proses Pilkada Kota Padang berpindah sejenak ke Jakarta. Benar-benar sebuah perjalanan panjang dan melelahkan.
Kini, Walikota dan Wakil walikota Padang sudah terpilih dan telah selesai pula dilantik. Kita mengucapkan terimakasih tentunya kepada semua pihak, baik unsur KPU beserta perangkatnya, masyarakat umumnya, baik yang berperan aktif sebagai tim pemenangan dan pendukung masing-masing kandidat, maupun yang berperan pasif sebagai pemilih. Ucapan terima kasih dan penghargaan tentunya juga kita sampaikan kepada aparat keamanan yang telah bekerja keras menciptakan kondisi yang kondusif sehingga Pilkada kota Padang berlangsung lancar dan aman.
Selama perjalanan panjang pemilukada tersebut tentu wajar timbul beda pendapat di sana-sini, masing-masing kandidat berupaya keras meyakinkan pemilihnya bahwa calon mereka lah yang terbaik. Ada kelompok-kelompok masyarakat atau tokoh masyarakat yang mendukung satu kandidat dan berupaya mengalahkan kandidat lainnya dan sebaliknya. Masing-masing kelompok seperti berlomba-lomba untuk jadi pemenang.
Dalam keadaan demikian tentu tak jarang terjadi gesekan-gesekan atau friksi-friksi. Entah siapa yang memulai dan entah siapa yang menebarnya tak jarang muncul fitnah, hasutan atau kampanye hitam (black campaign). Tak jarang suasana panas pun tercipta, bagi yang tidak sabar bisa terpancing dan terbawa emosi.
Tapi syukurlah hal itu tidak terjadi dalam Pilkada Kota Padang, semua berlangsung aman dan damai. Jika muncul riak-riak kecil ke permukaan, itu merupakan dinamika sebuah Pemilu, dan bisa diselesaikan dengan baik dan cepat. Ini pertanda masyarakat kita makin dewasa dalam berpolitik. Demokrasi memang menuntut kita untuk berbeda pendapat, tapi bukan untuk berpecah-belah, apalagi sampai berlarut-larut dan melakukan tindakan anarkis. Kita patut acungkan jempol untuk masyarakat Sumatera Barat dalam hal ini, mampu berdemokrasi secara dewasa. Hal ini terlihat dari berkali-kali Pilkada atau Pileg dilaksanakan selalu berjalan lancar dan aman.
Kita semua tentu mendambakan Kota Padang menjadi kota yang bersih, nyaman, tertib, indah, asri dan kegiatan ekonominya berkembang dengan baik. Kota Padang adalah ibukota dan etalase Provinsi Sumatera Barat. Pepatah Inggris mengatakan, “ikan itu busuk mulai dari kepalanya.” Jika kota Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat semrawut dan tidak nyaman, pastilah orang menilai semua kota di Sumatera Barat sama seperti itu.
Walikota dan Wakil Walikota terpilih (Mahyeldi dan Emzalmi/Mahem) tentu harus bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Banyak masalah-masalah krusial yang perlu diselesaikan segera. Terobosan-terobosan baru harus dibuat agar terjadi percepatan pembangunan. Masyarakat tentu juga menanti diwujudkannya 10 program unggulan yang dulu dijanjikan saat kampanye. Karena itu diperlukan SDM PNS yang cakap dan berkualitas. Tentunya setiap melakukan promosi dan mutasi PNS agar tetap mempertimbangkan faktor kompetensi dan integritas.
Kepada Walikota Padang terdahulu kita mengucapkan terimakasih atas pembangunan dan prestasi-prestasi yang telah diperoleh. Wako dan Wawako yang baru berkewajiban melanjutkan program-program yang baik yang telah dimulai Walikota sebelumnya serta menyempurnakan jika ada program lama yang dianggap masih belum maksimal.
Kini Pilkada Kota Padang telah usai, saatnya untuk bekerja dan berbenah. Mari kita lupakan perbedaan pendapat yang pernah terjadi, mari kita hilangkan sekat-sekat kelompok, partai, kampung atau apapun namanya. Meski Walikota/Wakilwalikota terpilih hanya didukung oleh 2 partai politik dan hanya dipilih oleh 31 persen penduduk kota Padang, tapi kini mereka adalah 100 persen milik warga kota Padang. Mereka berkewajiban memenuhi aspirasi dan tuntutan warga kota Padang, tanpa kecuali dan tanpa diskriminasi.
Mari kita saling berjabat tangan dan merapatkan barisan, bersatu-padu untuk membangun Kota Padang seperti yang telah lama kita idam-idamkan bersama. Insya Allah cita-cita kita bersama bisa diwujudkan dengan kebersamaan pula. (Mei 2014)

16. Mari Memilih Presiden

Mari Memilih Presiden

Momen tanggal 9 Juli 2014 merupakan saat yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia dan masa depan bangsa ini. Berdasarkan data KPU sekitar 181 juta lebih penduduk Indonesia, yang telah memiliki hak pilih, pada hari tersebut akan melaksanakan haknya untuk memilih presiden yang akan memimpin Indonesia 5 tahun mendatang.

Sejumlah masyarakat bersikap skeptis dan menganggap peristiwa ini tidak penting. “Sia se nan jadi presiden, ndak ado pengaruhnyo ka awak doh. Awak juo ndak ka dipiliah jadi menteri kalau ikuik mamiliah,” ujar mereka memberi alasan. (Siapa saja yang akan jadi presiden tidak akan ada pengaruhnya kepada kita. Toh kita juga tidak akan dipilih jadi menteri).

Tentu saja pendapat dan alasan tersebut tidak tepat dan tidak benar.  Suara masyarakat melalui pemilu (pilpres) akan sangat menentukan siapa yang akan menjadi presiden dan memimpin negara ini 5 tahun mendatang. Dengan sistem pemilihan langsung (Pilsung) yang kita anut saat ini, masyarakatlah yang menentukan siapa yang akan jadi presiden. Berbeda dengan sistem pemilu 2 periode sebelumnya, presiden dipilih oleh DPR/MPR.

Presiden terpilih tahun inilah yang akan menentukan kebijakan apa yang akan diambil dan program-program apa yang akan dilaksanakannya selama 5 tahun mendatang. Kebijakan yang diambil dan program yang akan dibuat, tentu akan bersentuhan langsung kepada masyarakat. Sedangkan tentang siapa yang akan dipilih menjadi menteri, tentu ada persyaratan dan mekanisme tertentu yang harus dilalui.

Jadi sangat tidak bijaksana jika bersikap golput (golongan putih). Silahkan tentukan pilihan sesuai keinginan dan aspirasi masing-masing. Pilihan boleh berbeda, namun jangan sampai perbedaan pilihan itu menyebabkan rusaknya hubungan silaturahim di antara kita. Pilhan boleh beda, ukhuwah harus tetap dijaga.

Begitu juga setelah presiden terpilih nantinya, siapa pun presiden yang terpilih harus kita hormati, meski yang menang bukan capres pilihan kita. Menang atau kalah tak jadi masalah, masing-masing pihak harus siap menang, dan harus siap kalah. Siapapun yang menang, itulah presiden kita, itulah aspirasi masyarakat kita.

Lalu siapa presiden yang akan dipilih, apa pertimbangannya?

Dalam Islam minimal ada 4 syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin. Ciri seorang pemimpin yang baik dalam Islam adalah: 1. Shiddiq, 2. Amanah, 3. Fathonah  dan 4. Tabligh.

(1). Yang dimaksud dengan shiddiq, adalah kebenaran dan kesungguhan dalam bersikap, berucap dan bertindak dalam melaksanakan tugas. Pemimpin yang shidiq adalah pemimpin selalu melakukan hal-hal yang benar seperti apa adanya. Mengatakan apa adanya yang sebenarnya terjadi, mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Lawan shiddiq adalah bohong atau suka berbohong.

(2). Amanah, yaitu kepercayaan (bisa dipercaya) yang menjadikan dia memelihara dan menjaga sebaik-baiknya apa yang diamanahkan kepadanya, baik dari orang-orang yang dipimpinnya, terlebih lagi dari Allah SWT. Pemimpin yang amanah selalu menepati janji-janjinya. Lawan amanah adalah khianat.

(3) Fathonah, yaitu kecerdasan, cakap, dan handal. Pemimpin yang cerdas terlihat dari pikiran-pikiran yang disampaikannya, serta tindakannya yang tegas, arif dan bijaksana. Potensi ini melahirkan kemampuan yang tepat menghadapi dan menanggulangi persoalan yang muncul dan kebijakan yang akan dibuat dan diputuskan. Lawan fathonah adalah bodoh.

(4). Tabligh, yaitu jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya (akuntabilitas dan transparansi). Lawannya adalah menutup-nutupi (kekurangan) dan melindungi (kesalahan).

Masyarakat disilahkan memilih satu di antara dua calon presiden yang telah disyahkan KPU dan telah lolos seleksi dan memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan. Mari kita teliti calon-calon tersebut berdasarkan pedoman kriteria yang telah menjadi acuan dalam memilih pemimpin sejak zaman Nabi Muhammad SAW yang telah terbukti keampuhannya itu.

Jika masih ragu, berdoalah dan lakukan shalat istiqarah menjelang pemilihan. Semoga kita menemukan pilihan yang tepat dan Allah juga memberikan petunjuknya, agar kita dapatkan pemimpin yang terbaik  yang mampu membawa kebaikan bagi 250 juta rakyat Indonesia dan membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik. Amin. (Juli 2014)

17. Otonomi Daerah

Otonomi Daerah

 

Sistem otonomi daerah (desentralisasi) pada dasarnya telah mulai diberlakukan di Indonesia sejak zaman kemerdekaan.  Hal itu terlihat dengan adanya pembagian wilayah ke dalam kategori provinsi dan kewedanaan.  Lalu pada zaman pemerintahan berikutnya  dibagi lagi atas kewedanaan, kecamatan dan desa atau lurah atau nagari.

Tuntutan untuk melaksanakan otonomi daerah makin menguat setelah tahun 1966. Semua itu ditujukan untuk mengoptimalkan pembangunan di masing-masing daerah serta mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Otoda juga ditujukan agar terwujud pembagian wewenang yang proporsional antara pusat dan daerah, sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan daerah.

Menurut literatur Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Selanjutnya yang dimaksud dengan Daerah Otonom/Daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam bahasa Yunani, otonomi  berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga otonomi dapat dikatakan sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri  atau kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah.

Sejumlah peraturan dan undang-undang telah dibuat dan diundangkan untuk mengatur pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, mulai dari Undang-undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah hingga yang terbaru, Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Namun pelaksanaannya di lapangan tidaklah mudah. Kondisi masing-masing daerah yang berbeda, baik kondisi sumberdaya alam, budaya dan sumberdaya manusia yang berbeda menyebabkan pemahaman dan pola pelaksanaan otonomi daerah yang beragam pula. Begitu juga penafsiran yang berbeda dari unsur-unsur pimpinan daerah masing-masing. Aturan main pelaksanaan otonomi daerah terus dibenahi dan diperbarui agar bisa mengakomodir kebutuhan dan mengantisisipasi masalah-masalah yang terjadi di daerah

Pada acara peringatan Hari Otonomi Daerah ke XVIII tanggal 25 Desember 2014 lalu di Istana Negara Jakarta bersama Presiden dan Gubernur se Indonesia juga diingatkan bahwa pelaksanaan otonomi daerah perlu terus ditingkatkan dan diperbaiki. Tema yang diangkat adalah: “Dengan Semangat Otonomi Daerah Kita Sukseskan Pelaksanaan Pemilu Tahun 2014 Dalam Upaya Memperkuat Tata Kelola Pemerintahan Daerah” .

Di Sumatera Barat, kami telah berusaha melaksanakan pola otonomi daerah semaksimal mungkin. Sejumlah perizinan yang dulu kewenangannya berada di provinsi telah didelegasikan ke Kabupaten dan Kota, bahkan ke tingkat kecamatan. Begitu juga sejumlah kewenangan yang selama ini berada pada Gubernur, untuk efisiensi dan percepatan pelayanan kepada masyarakat, telah didelegasikan kepada kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).

Menyangkut izin-izin di pertambangan, kehutanan, perindag, pertanian, peternakan dan sejenisnya cukup sampai kepala SKPD/Kepala Dinas atau melalui pelayanan satu pintu.  Sebanyak 97 bentuk izin, pengurusannya telah didelegasikan kepada kepala SKPD.  Begitu juga di daerah, melalui PATEN (Pelayanan Terpadu Kecamatan), cukup sampai tingkat Camat. Aturannya telah ditetapkan melalui Pergub, SK Gubernur atau Surat Edaran. Semua itu dilakukan dalam rangka mempercepat pelayanan dan mengoptimalkan otonomi daerah.

Begitu juga dengan pengangkatan dan mutasi pejabat. Kewenangan pengangkatan, pemberhentian pejabat serta mutasi, diserahkan kepada kepala daerah masing-masing, sesuai dengan semangat otonomi daerah. Selama ini hanya pengangkatan pejabat eselon 2 saja yang dilaporkan ke Gubernur dan Gubernur tidak pernah turut campur menentukan si A atau si B yang akan dipilih. Begitu juga kepala sekolah, sepenuhnya wewenang Bupati atau Walikota, karena semua sekolah berada di bawah wewenang Bupati dan Walikota, bukan Gubernur.

Banyak dampak positif yang saya lihat sebagai dampak kebijakan ini. Pendelegasian wewenang menyebabkan penjabat yang diberikan wewenang beserta stafnya lebih bersemangat dan bergairah bekerja. Pegawai-pegawai terlihat sibuk, tak banyak waktu terbuang percuma. Di sisi lain tentu kita berharap pelayanan yang lebih baik, cepat dan tepat sasaran, bisa diperoleh masyarakat. Semoga! (Mei 2014)

18. Partai Boleh Beda, Ukhuwah Tetap Dijaga

Partai Boleh Beda, Ukhuwah Tetap Dijaga

 

Helat besar lima tahun sekali kembali digelar serentak di seluruh pelosok Indonesia. Hajatan berbingkai pelaksanaan demokrasi itu bertajuk Pemilu (Pemilihan Umum ) Legislatif tahun 2014. Tahun ini puncak pesta demokrasi itu akan dilaksanakan besok, 9 April 2014, yaitu dengan melakukan pemungutan suara di ratusan ribu tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut Kemendagri jumlah pemilih tahun ini meningkat dari 172 juta jiwa pada tahun 2009, menjadi 185 juta jiwa. Mereka tersebar di sekitar 7.000 kecamatan, dan akan melaksanakan hak pilihnya di 516.142 TPS di berbagai pelosok negara tercinta. Di Sumatera Barat sendiri penduduk yang memiliki hak pilih berjumlah sekitar 3,65 juta jiwa dan akan ditampung suaranya di 13.405 unit TPS. Sungguh sebuah pesta yang luar biasa besarnya.

Sejak dini sebanyak 15 partai peserta Pemililu telah mengambil ancang-ancang agar partainya mendapat tempat di hati masyarakat. Berbagai program disusun dan ditawarkan untuk menarik simpati. Berbagai metode dan cara juga diupayakan agar partai dan calon anggota legislatif yang telah mereka seleksi bisa terpilih.

Biasanya di sinilah titik kritis itu terjadi. Masing-masing partai saling bersaing dan berlomba agar partainya menjadi pemenang. Begitu juga para caleg, masing-masing mengerahkan segala daya dan upaya agar bisa terpilih dan meyakinkan masyarakat bahwa ialah yang terbaik.

Terkadang saking bersemangatnya berkampanye, entah disengaja atau tidak, masing-masing partai atau caleg bercerita melebihi kondisi sebenarnya. Lebay, istilah anak muda sekarang. Terkadang, mungkin juga tanpa disengaja, masing-masing saling menjelekkan, membukakan aib saingannya bahkan menfitnah. Prilaku ini dikenal dengan black campaign.  Meski semua orang tahu prilaku ini sangat tidak terpuji dan berdampak sangat merugikan kedua belah pihak, namun faktanya selalu saja sering terjadi di berbagai daerah. Sungguh sangat disayangkan, terjadinya persaingan yang tidak sehat.

Dengan suasana demokrasi yang terjadi saat ini kondisi tersebut bisa memicu friksi-friksi dalam masyarakat. Dalam suasana demokrasi saat ini, jamak terjadi dalam masyarakat kita, di satu desa/nagari masyarakatnya mendukung beberapa partai atau caleg yang berbeda. Bahkan sering kita temukan dalam satu keluarga pun menjagokan partai atau caleg yang berbeda, sesuai dengan argumen masing-masing.

Konon karena berbeda partai, kelompok A berselisih dengan kelompok B, misalnya. Akibatnya mereka saling tidak bertegur sapa, padahal mereka satu nagari, satu suku bahkan memiliki pertalian darah. Lebih lucu lagi ada suami-istri yang berselisih paham karena berbeda partai dan mempertahankan prinsip masing-masing. Lebih celaka lagi jika friksi-friksi itu dibumbui dengan fitnah dan hasutan, bukan tidak mungkin berkembang menjadi tindakan-tindakan anarkis. Siapa yang rugi?

Sistem demokrasi, termasuk Pemilu dikembangkan dan diterapkan di negara kita tentu bukan untuk memecah belah dan mengadu domba masyarakat. Tujuan sebenarnya adalah untuk menyalurkan aspirasi masyarakat serta memilih tokoh-tokoh terbaik dan layak diberi amanah  untuk mewakili masyarakat dalam sistem pemerintahan, dalam hal ini legislatif.

Karena itu berbeda-beda partai, berbeda-beda pikiran dan konsep, itu wajar-wajar saja dalam rangka mencari tokoh terbaik. Seperti pepatah Minang; “Basilang kayu di tunggu di situ api mako ka iduik”. Maksudnya dengan beraneka ragamnya ide dan pendapat, dari sanalah bisa diperoleh kesimpulan yang terbaik.

Silahkan memilih partai dan caleg yang menurut kita bisa memegang amanah dan aspirasi masyarakat, sesuai dengan penilaian masing-masing. Teliti reputasi partainya, teliti juga rekam jejak calegnya. Jika sudah, dengan membaca bismillah (bagi yang beragama Islam) silahkan pilih mereka di TPS masing-masing. Mari kita laksanakan Pemilu secara damai, tidak perlu bertikai dan terpecah belah. Partai boleh berbeda-beda, tapi ukhuwah (persaudaraan) perlu tetap dijaga. (April 2014)

19. Politik dan Uang

Politik dan Uang

 

Aktifis dan juga anggota Tim Pemenangan Pemilu sebuah Partai Politik dalam suatu acara evaluasi pelaksanaan Pileg (Pemilu Legislatif) tahun 2014 dengan nada kecewa menceritakan pengalamannya dalam penggalangan masyarakat.

“Sudah tiga tahun masyarakat suatu kompleks kami bina dan kami dampingi,” ujarnya.  Berbagai kebutuhan mereka telah difasilitasi. Keluhan mereka didengar dan dicarikan jalan keluarnya, berbagai metode pencerahan juga sudah dibeberkan untuk memberi motivasi.  Mereka sudah seperti keluarga sendiri. “Rasanya tak ada alasan lagi bagi mereka untuk tidak memilih kita dan partai kita saat pelaksanaan Pileg,” ujarnya.

Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan.  Setelah penghitungan suara, ternyata hasilnya jauh meleset. Masyarakat di komplek tersebut seperti telah sepakat, justru beramai-ramai beralih memilih partai lain. Konon penyebabnya adalah aksi “serangan fajar.” Ibarat kata pepatah; “Hilang paneh satahun dek hujan sadarok”. (Kemarau selama setahun, sirna gara-gara hujan sejenak). Upaya pembinaan yang dilakukan selama 3 tahun sirna begitu saja oleh aksi semalam.

Selidik punya selidik, konon di komplek itu sudah terjadi gerakan “serangan fajar”. Semua tutup mulut, tak ada bukti fisik yang terlihat, bersih seolah-olah tak terjadi apa-apa. Tapi, itulah kenyataan yang ditemukan saat perhitungan suara, pemenangnya adalah partai lain yang selama ini tak pernah muncul di sana. Perjuangan kami selama 3 tahun menjadi sia-sia. Hanya bisik-bisik dari mulut ke mulut yang bisa menjawab penyebab peristiwa luar biasa itu.

Nyatanya hal serupa juga terjadi di berbagai tempat dan di berbagai pelosok negeri. Kita bisa lihat beritanya muncul di berbagai media. Di beberapa tempat masyarakat menuntut agar dilakukan Pemilu ulang, sebagian lainnya terpaksa diam karena tidak menemukan bukti fisik yang bisa dijadikan bukti perkara. Sebagian lainnya terpaksa mengurut dada dan mengikhlaskan apapun yang terjadi. Tuhan pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi dan Beliau akan membalasnya dengan hukuman yang setimpal.

Namun ada juga tim lain yang menyatakan dan menemukan fakta bahwa uang bukanlah segalanya. Di daerah yang ia dampingi masyarakat tersebut tetap pada komitmennya. Pembinaan dan pendampingan yang dilakukan selama bertahun-tahun tak berujung sia-sia. Mereka memang menjadi sahabat, mereka memang menjadi saudara, sehati, seiya sekata. Mereka cendrung tak menayakan apa yang bisa mereka peroleh, tapi menanyakan apa yang bisa kita lakukan dan kerjakan bersama. Apa yang bisa dilakukan bersama untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Uang sepertinya adalah prioritas urutan nomor sekian.

Pada kenyataannya di lapangan, pemilu dan uang memang tak bisa dipisahkan. Untuk melakukan sosialisasi, butuh uang. Untuk beli gula dan kopi atau beli nasi bungkus saat sosialisasi juga butuh uang. Mencetak kartu nama, banner, spanduk atau baliho, dan berbagai atribut kampanye pasti juga butuh uang. Membantu perbaikan mesjid, sekolah, jalan atau saluran air dan lain-lain, juga pasti butuh uang. Tak jarang masyarakat minta ini, minta itu sebagai prasyarat sosialisasi. Apalagi jika ditambah pula dengan memasang iklan di media massa. Siap menjadi caleg, artinya harus siap pula dengan dana pendukung. Semua butuh modal, besar atau kecilnya tergantung pola mana yang akan dipakai.

Dalam kondisi wajar-wajar saja, tentu tak jadi masalah. Namun jika menggunakan metode serangan fajar atau membeli suara, tentu ini merupakan tindakan yang salah dan melanggar aturan. Begitu juga dengan cara-cara lain seperti penggelembungan suara, manipulasi suara dan sebagainya yang menghalalkan segala cara. Akibatnya dana yang dibutuhkan tentu menjadi makin membengkak dan niatnya pasti sudah tidak benar lagi.

Segala sesuatu yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar, tentu hasilnya akan baik dan benar pula. Namun jika sesuatu dilakukan dengan cara-cara yang salah, pastilah hasilnya juga salah dan tidak membawa kebaikan. Sesuatu yang dilakukan dengan cara-cara haram, apapun alasannya, pastilah hasilnya haram juga. Seseorang terpilih menjadi anggota legislatif atau kepala daerah (bupati/walikota) dengan cara-cara yang salah tentu tidak akan membawa berkah bagi dirinya, maupun bagi masyarakat sekitarnya.

Umumnya masyarakat kita jika ditanya pemimpin seperti apakah yang mereka inginkan, pastilah mereka menjawab pemimpin yang diinginkan adalah pemimpin yang jujur, amanah, berakhlak mulia, tidak korupsi, peduli kepada masyarakat, kreatif, inovatif dan seterusnya.

Apakah tidak aneh, jika kita berharap kebaikan, tetapi dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik dan benar? Apakah tindakan kita sudah betul, menerima hanya secuil uang dengan menggadaikan masa depan 5 tahun mendatang atau bahkan bisa jadi berdampak sepanjang masa? Apakah dengan cara-cara seperti itu kita bisa mendapatkan pemimpin yang jujur, amanah, peduli dan sebagainya? Cara-cara yang baik yang baik akan menghasilkan kebaikan, cara yang haram akan menghasilkan yang haram pula, jauh dari berkah.

Pemilu sebagai bagian dari perangkat demokrasi bertujuan untuk mengalang aspirasi dan peran serta masyarakat untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya yang nantinya bertugas dan bertanggung jawab memikirkan dan membawa dan memikirkan masa depan bangsa agar lebih maju, lebih baik, lebih sejahtera dan bermartabat.

Seharusnya kita semua peduli dengan hal itu, malah harus ikut bertanggung jawab memastikan bahwa pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang dipilih benar-benar yang terbaik, amanah, peduli, pekerja keras dan berakhlak mulia. Jika kita menginginkan masa depan dan kehidupan yang lebih baik seharusnya cara-cara yang tidak terpuji tersebut tidak terulang lagi.

Semoga apa yang telah berlalu menjadi pelajaran bagi kita bersama untuk dievaluasi dan diperbaiki di masa datang dan semoga Tuhan melindungi kita semua. Amin. (April 2014)

20. Stress

Stress

Peristiwa mengejutkan dan tak disangka-sangka terjadi Rabu, tanggal 22 Januari 2014 lalu, sekitar pukul 14.00 Wib. Seorang lelaki muda dengan postur tubuh sedikit tambun memasuki Kantor Gubernur Provinsi Sumatera Barat. Di tangannya terhunus sebilah pisau. Menurutnya ia akan membunuh dan menguliti kepala Gubernur. Lingkungan Kantor Gubernur pun gempar seketika.

Peristiwa itu memang tak disangka-sangka. Awalnya tak ada yang mencurigakan dari lelaki berkaCamata minus dan berpenampilan terdidik ini. Penampilannya malah cendrung parlente, mengendarai mobil jenis toyota rush berwarna hitam. Belasan petugas Satpol PP (pamong praja) yang bertugas di kantor Gubernur saat itu pun terkecoh dan tidak mengetahui kehadirannya.

Pengawalan di kantor Gubernur dan di rumah dinas Gubernur memang sengaja saya buat minimalis dan minim protokoler. Maksudnya adalah supaya saya bisa dekat dengan masyarakat dan tidak ada gap (jurang pemisah) yang jauh antara Gubernur dan masyarakat. Di setiap kesempatan hal serupa juga saya lakukan, minim protokoler, berbaur dengan masyarakat.

Tak berhasil menemukan Gubernur untuk melaksanakan niatnya, pria ini langsung pergi dan menghilang. Ia menghilang sebelum petugas keamanan dari Satpol PP yang bertugas saat itu berhasil meringkusnya.

Belakang baru diketahui bahwa pria ini mengalami stress. Ia adalah tamatan jurusan geologi Istitut Teknologi Bandung (ITB). Menurut dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (UNP), pria yang baru enam bulan berada di Sumbar ini adalah kandidat dosen pada fakultas teknik di universitas ttersebut, dan telah lulus seleksi kemampuan akademik. Belakangan baru diketahui bahwa pria yang tergolong cerdas ini mengalami gangguan psikologis (stress).

Stress dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang (Robbins, 2001).  Stress bisa juga diartikan sebagai  suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik dan psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Ringkasnya stress disebabkan oleh adanya penghalang/tekanan bagi seseorang untuk mencapai apa yang ia inginkan.

Ada banyak penyebab timbulnya stress. Masalah ekonomi, misalnya. Bahkan masalah ekonomi dicatat sebagai penyebab stress utama dalam masyarakat kita. Lingkungan yang tidak nyaman, kesulitan memperoleh pendidikan, birokrasi yang berbelit-belit, merupakan sejumlah pemicu stress pada masyarakat. Banyak faktor  lainnya yang membuat masyarakat tidak nyaman dan stress.

Pemerintah secara umum, atau pemimpin secara spesifik yang diamanahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkewajiban memperkecil penyebab stress dalam masyarakat. Caranya adalah dengan memfasilitasi dan membantu masyarakat untuk meningkatkan ekonominya, meningkatkan pelayanan dan mempermudah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang mendasar seperti kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

Jika semua itu berjalan lancar, tidak serba susah dan sulit, tentu masyarakat akan merasa nyaman dan tenang. Juga tentunya tingkat stress dalam masyarakat akan berkurang. Masyarakat bisa menjalankan aktifitas ekonominya dengan tenang dan nyaman, di bidang pendidikan mereka bisa memperoleh pendidikan yang baik dan berkualitas sedangkan  di lingkungan kerja, fasilitas umum dan pemukiman mereka terasa nyaman dan menyenangkan.

Dalam rapat-rapat dengan berbagai unsur pemerintah saya selalu mengingatkan bahwa tugas dan tanggung jawab pemerintah serta pemimpin sesuai amanat undang-undang adalah mensejahterakan masyarakat. Pemerintah dan pemimpin dianggap gagal dan tidak amanah jika tidak berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah ada untuk melayani masyarakat agar bisa mencapai sejahtera. Karena itu program pemerintah mengarah kepada upaya-upaya mensejahterakan masyarakat. Terlepasnya masyarakat dari masalah-masalah ekonomi tentu akan mengurangi tekanan dan beban hidup mereka yang sekaligus akan mengurangi kemungkinan mereka mengalami stress.

Mari kita berjabat tangan, bahu membahu, bersama-sama menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. Jangan menambah ketegangan masyarakat dengan menambah-nambah isu yang tidak benar. Jangan ikut menyebarkan informasi atau isu, baik dari mulut ke mulut, melalui sms atau jejaring sosial dan sebagainya jika belum benar-benar yakin kebenaran informasi tersebut.

Tahun ini merupakan tahun yang berat, negara kita akan menghadapi tiga tantangan yang berat, yaitu masalah ekonomi, cuaca yang ekstrim dan tahun politik. Mari kita hadapi tantangan tersebut secara arif dan bijaksana. Semoga kita dapat mengatasi tantangan ini dengan baik dan keluar sebagai pemenangnya (the champion), bukan sebagai kelompok yang kalah dan babak belur (the looser) akibat stress. Amin. (Februari 2014)

 

 

BAB 2  INSPIRASI DI BIDANG EKONOMI

21. Gerakan Pensejahteraan Petani

Gerakan Pensejahteraan Petani
Apakah pemerataan ekonomi bisa dilaksanakan dan ekonomi masyarakat bisa ditingkatkan? Pertanyaan itu sering mencuat ke permukaan. Bisakah ekonomi masyarakat Sumatera Barat meningkat beberapa tahun mendatang?

Pemerataan ekonomi bukan masalah gampang, melaksanakan ekonomi kerakyatan dan berkeadilan tak semudah mengucapkannya. Tapi di Sumatera Barat konsep tersebut tak sekedar slogan, tetapi telah dilaksanakan secara ril di lapangan dan ditetapkan secara rutin dalam Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Pekerjaan membangun Sumatera Barat cukup menantang. Kendala menggulirkan pembangunan di Sumatera Barat periode lima tahun ke depan (2010 – 2015) berawal dari kondisi yang sangat memprihatinkan pasca gempa 30 September 2009. Sumatera Barat saat itu baru saja dilanda gempa dahsyat berkekuatan 7,9 skala richter. Kota Padang, ibukota Sumatera Barat nyaris lumpuh total.  Hampir semua bangunan kantor pemerintah hancur dan rata dengan tanah, begitu juga sentra-sentra kegiatan ekonomi, sekolah, rumah ibadah dan rumah penduduk juga ikut porak-poranda. Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, serta Kabupaten Pasaman Barat mengalami kerusakan terparah akibat gempa.

Kendala lain adalah, Sumatera Barat bukanlah daerah kaya minyak seperti provinsi lain maupun kaya bahan tambang seperti batubara, emas dan sebagainya. Industri juga tak bertumbuh pesat di sini. Sekitar 60 persen penduduk Sumatera Barat mengandalkan mata pencaharian mereka di sektor pertanian, perikanan dan perdagangan (UMKM).

Lalu dengan segala keterbatasan yang ada, apa yang bisa dilakukan untuk membangun Sumatera Barat ?

Pekerjaan pertama yang harus dilakukan di awal periode tersebut adalah membangun kembali puing-puing yang tersisa akibat gempa. Alhamdulillah berkat keseriusan pemerintah pusat dan juga kerja keras pemerintah daerah bersama masyarakat, serta bantuan dari pihak ketiga, masalah ini bisa teratasi. Bangunan yang sebelumnya roboh dan datar dengan tanah kembali dibangun dan berdiri kokoh. Bangunan yang lama telah berganti dengan yang baru.

Masyarakat Sumatera Barat tak boleh putus asa, bencana bisa terjadi kapan saja dan  dimana saja, namun yang paling penting adalah bagaimana mengantisipasi dan menghindari resiko bencana tersebut. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Spirit masyarakat digenjot sehingga tidak larut dalam kesedihan, Sumbar harus bangkit. Kini, kurang dari tiga tahun setelah gempa, Sumatera Barat telah pulih kembali, baik secara fisik maupun mental. Dalam hal ini Sumbar mendapat apresiasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  sebagai daerah terbaik dalam penanggulangan bencana dan sejumlah pakar gempa asal Jepang juga mengacungkan jempol karena dalam waktu yang relatif singkat, Sumbar kembali normal pasca bencana gempa.

Upaya selanjutnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sesuai dengan visi pemerintah daerah (Pemda) tahun 2010 – 2015 yaitu : “mewujudkan masyarakat madani, sejahtera dan bermartabat.” Karena sekitar 60 persen masyarakat berada di sektor pertanian, perikanan dan UMKM, maka fokus pembangunan akan diarahkan ke kelompok mayoritas masyarakat tersebut.

Untuk mewujudkan cita-cita itu maka Pemda Sumbar melakukan percepatan pembangunan dengan membentuk enam tim gerakan terpadu, yaitu:

  1. Tim Gerakan Terpadu Gerakan Pensejahteraan Petani (GPP) diketuai oleh Kadis Pertanian Tanaman Pangan.
  2. Tim Gerakan Terpadu Pengembangan Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Perdagangan diketuai oleh Kadis Koperindag.
  3. Tim Gerakan Terpadu Pemberdayaan Fakir Miskin diketuai oleh Ka. Badan Pemberdayaan Masyarakat.
  4. Tim Gerakan Terpadu Pelestarian dan Aplikasi Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) diketuai Ka. Biro Binsos.
  5. Tim gerakan Terpadu Pengembangan SDM. diketuai oleh Ka. Disdikpora.
  • Tim Gerakan Terpadu Reformasi Birokrasi, diketuai oleh Ka. Biro Organisasi
  • Tim Gerakan Terpadu Pensejahteraan Masyarakat Pesisir dan Nelayan diketuai oleh Kadis Kelautan dan Perikanan

 

Gerakan Pesejahteraan Petani (GPP) memiliki dampak yang cukup besar, karena sekitar 50 persen penduduk Sumatera Barat bekerja di sektor pertanian. Program GPP dilaksanakan atas sinergi Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Peternakan dan Dinas Kehutanan.

Latar belakang pelaksanaan GPP adalah bahwa luas lahan pertanian milik masyarakat rata-rata hanya 0,3 hektar per KK dan rata-rata jam kerja petani adalah 3 jam per hari. Berdasarkan hasil analisa, jam kerja petani tersebut bisa ditingkatkan dan lahan pertanian milik petani yang terbatas bisa dioptimalkan dengan intensifikasi dan diversifikasi usaha (mix farming). Petani yang dulu hanya bertani padi sawah difasilitasi untuk melakukan pertanian campuran dengan tambahan kolam ikan, ternak itik, ayam, kambing atau sapi. Sedangkan lahan atau pekarangan yang kosong ditanami kakao, kelapa atau tanaman lain.

Dengan usaha mix farming lahan pertanian yang terbatas bisa dimanfaatkan lebih optimal dan jam kerja petani juga meningkat. Jika hal ini dikerjakan dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh, pasti akan membuahkan hasil dan pendapatan petani akan meningkat. Jika pendapatan petani, yang merupakan mayoritas penduduk Sumatera Barat meningkat, otomatis akan terjadi sinergi pertubuhan di sektor lain, seperti perdagangan, industri dan sebagainya juga akan meningkat.

Untuk tahun pertama, program GPP dilaksanakan di 64 desa/nagari, masing-masing 2 nagari di setiap kabupaten/kota. Tahun berikutnya jumlah nagari/desa yang dilibatkan dilipat gandakan dan seterusnya sehingga semua nagari/wilayah telah terjangkau oleh program.

Karena anggaran daerah yang terbatas, maka program GPP diselaraskan dengan program-program nasional. Program Satu Petani Satu Sapi yang merupakan bagian dari program GPP misalnya, diselaraskan dengan program nasional Program Swasembada Daging Sapi (PSDS). Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS),  Program nasional KUR, KKPE dan sejenisnya juga menjadi motor program tersebut. Yang tak kalah pentingnya adalah peran perantau, BUMN dan Perusahaan Swasta, juga ikut menjadi pendukung dana program ini.

Agar terus termonitor perkembangannya, program GPP dievaluasi setiap bulan, dipimpin langsung oleh gubernur. Sedangkan rapat koordinadasi dengan bupati dan walikota dilakukan setiap dua bulan sekali. Gubernur juga rajin berkunjung langsung ke desa/nagari lokasi program GPP. Kepada masyarakat terus diberikan motivasi agar tak membiarkan sejengkal pun tanah mereka terlantar. Juga terus diberikan semangat bahwa kunci sukses adalah bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Nasib suatu kaum tak kan berubah jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya.

Karena baru berjalan setahun, memang belum bisa dievaluasi program yang bertujuan meningkat ekonomi masyarakat dan bercita-cita menciptakan pertumbuhan berkeadilan ini apakah berhasil atau tidak. Namun yang terlihat nyata di lapangan adalah adanya semangat baru masyarakat untuk berubah dan memperbaiki dirinya. Suatu desa yang diberi bantuan satu kolam ikan, karena melihat contoh yang baik, secara swadaya membangun 6 kolam baru.  Begitu juga komoditi lain, dimulai oleh pemerintah sebagai stimulan lalu tumbuh dan berkembang secara swadaya.

Tentu, apa yang dilakukan di Sumatera Barat bukan program besar dan bisa langsung menyelesaikan semua persoalan. Namun saya rasa menyelesaikan persoalan besar juga bisa dimulai dari upaya-upaya kecil, asal dilakukan dengan serius, kerja keras dan terus menerus. Tetesan air jika diteteskan secara terus menerus kepada sebuah batu, niscaya suatu saat air tadi akan mampu menembus batu tersebut. Begitu juga upaya menyelesaikan masalah masyarakat, meski dimulai dari yang kecil, jika ditekuni secara serius, tentu akan membuahkan hasil.

Ada banyak teori, rencana atau konsep dan strategi perberdayaan ekonomi masyarakat yang sangat bagus dan canggih yang digagas oleh para pakar. Namun menurut saya strategi dan konsep pemberdayaan terbaik adalah konsep yang diterapkan di lapangan dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh. (Mei 2012)

22. Usahawan Minang

Usahawan Minang

Usahawan Minang terkenal ulet dan tangguh. Mereka juga terkenal sebagai pengusaha perintis. Nyaris tak ada pelosok negara ini tidak ditempati oleh pengusaha asal Minang (Sumatera Barat), dari kota sampai ke pelosok-pelosok daerah, dari Sabang sampai Merauke. Bahkan di manca negara sekalipun, tak susah untuk menemukan pengusaha Minang. Jumlahnya ada ribuan, bahkan mungkin sudah mencapai angka jutaan.  Jumlah perantau Minang nyaris setara dengan jumlah penduduk yang berdomisili di kampung asalnya.

Umumnya merekalah yang menyemarakkan kampung masing-masing dengan acara pulang basamo di saat Idul Fitri.  Di kampung tak segan-segan mereka merogoh kocek dalam-dalam untuk membantu anak kemenakan dan masyarakat kampungnya. Secara sukarela mereka menyingsingkan lengan membangun masjid, mushalla, jalan, jembatan, sekolah dan berbagai prasarana lainnya. Puluhan juta bahkan sampai miliaran rupiah disumbangkan untuk kemajuan kampung masing-masing.

Tentu saja sumbangan dan bantuan tersebut sangat besar artinya bagi kemajuan daerah masing-masing dan Sumatera Barat umumnya.  Kepada mereka patut kita acungkan jempol  dan menyampaikan ucapan terimakasih sedalam-dalamnya. Sumbangan dan kepedulian mereka sungguh tak terhingga nilainya.

Untuk menghargai semua itu, saya memberikan apresiasi. Di Sulit Air, saya bersama Bupati Solok hadir langsung pada acara Mubes Yayasan Sulit Air Sepakat (SAS) di Nagari Sulit Air Sabtu (10/8) lalu. Padahal saat itu baru hari ke 3 lebaran, masih suasana libur lebaran, macet dimana-mana, perjalanan ke Sulit Air juga cukup melelahkan dan banyak tantangan.

Besoknya Minggu, masih dalam suasana libur dan lebaran,  di Nagari Lolo-Surian, perbatasan Kabupaten Solok dan Solok Selatan, kami bersama Mendagri Gamawan Fauzi, Wamendiknas Musliar Kasim, dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya, ikut hadir pada peresmian masjid dan madrasah di sana. Sekali lagi, masjid dan madrasah megah yang bernilai milyaran rupiah itu adalah sumbangan perantau Minang setempat yang dimotori oleh pengusaha Minang rantau Azmin Aulia.

Dari dulu hingga kini, etnis Minang memang terkenal sebagai wirausahawan, atau pedagang secara umum. Karena itu potensi ini harus terus dipupuk dan dikembangkan. Dampaknya terlihat jelas bahwa wirausaha Minang mampu membuka lapangan kerja baru, menggerakkan pertumbuhan ekonomi di tempat ia berdomisili serta berkontribusi bagi pembangunan di kampung halaman.

Yang jadi fikiran saya adalah dari jutaan wirausahawan Minang tersebut, kenapa tak banyak yang muncul menjadi pengusaha besar? Memang ada yang muncul jadi pengusaha kelas kakap atau bahkan konglomerat, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Makin banyak pengusaha besar yang muncul, khususnya putra-putri Minang, tentu makin besar kontribusinya bagi pembangunan daerah juga secara nasional tentunya.

Menurut saya masalahnya terletak pada sistem dan manajemen  usaha yang digunakan. Salah satu manajemen yang diterapkan adalah manjemen keluarga. Pada sebuah rumah makan Minang misalnya, yang bertindak sebagai kasir adalah istri atau anak pemilik rumah makan. Kepala juru masak adalah sepupu atau masih saudara pemilik rumah makan. Dan seterusnya yang masih berhubungan keluarga dengan pemilik rumah makan.

Di satu sisi sistem ini memang memiliki keunggulan. Karena masih berhubungan keluarga, tim kerja merupakan tim yang solid dan kompak. Namun di sisi lain sistem ini memiliki kelemahan, usaha tidak bisa dikembangkan lebih besar karena terbatas jumlah SDM yang masih berhubungan kekerabatan. Kelemahan lain, jika pemilik usaha meninggal dunia misalnya, usaha tersebut juga ikut tenggelam dan hilang. Ada banyak contoh nyata yang bisa kita lihat, usaha yang semula berjaya, dalam waktu singkat menghilang akibat pemilik (tokoh sentral) usaha tersebut meninggal dunia atau tak mampu lagi menjalankan usahanya karena lanjut usia.

Kalau kita lihat perkembangan saat ini sejumlah pengusaha baik di tingkat nasional maupun manca negara telah melakukan modifikasi terhadap model-model dan pola manajemen usaha. Mereka telah merumuskan sistem dan pola-pola baru sehingga usaha mereka bisa dikembangkan nyaris tanpa batas dan menembus batas-batas wilayah dan negara. Mereka tak butuh tokoh sentral, karena tanpa kehadiran tokoh  sentral pun usaha tersebut tetap jalan. SDM yang digunakan juga tidak harus berhubungan keluarga dengan pemilik.

Bagaimana dengan pengusaha Minang ? Kaki lima atau rumah makan bisa jadi merupakan langkah awal dan pembentukan diri untuk memulai memasuki dunia usaha, namun setelah itu harus segera ditemukan model-model atau jalan usaha lain yang lebih mapan.  Pengusaha Minang terkenal sebagai pengusaha perintis, saya yakin dan berharap para pengusaha kita segera memaknai situasi yang terus berubah dan menemukan formula manajemen baru untuk mengantasipasi kondisi dan situasi yang terus berubah tersebut.

Semoga pengusaha Minang terus eksis dan ke depan banyak bermunculan pengusaha-pengusaha Minang baru yang  terdepan, besar, tangguh namun tetap peduli dengan kampung halaman. Amin. (Agustus 2014)

23. Merantau dan Pulang Kampung

Merantau dan Pulang Kampung

Merantau dan pulang kampung merupakan tradisi yang sudah melekat erat dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat (Minang). Merantau dan pulang kampung seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Seperti kata pepatah: “Karatau madang di hulu bangungo babuah balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.”

Tradisi merantau seperti sudah menjadi patron dalam siklus kehidupan masyarakat Minangkabau. Pada tahap awal, lelaki Minang umumnya diberi pendidikan dasar formal (setara dengan tingkat sekolah dasar sampai S1), tak lupa ditambahkan pendidikan non formal berupa pengetahuan agama dan bekal ilmu bela diri (pandai silek jo mangaji).

Seiring dengan usai  mendapat bekal dasar tersebut, pemuda Minang tadi biasanya sudah mulai beranjak dewasa. Maka saatnya ia menyempurnakan “ilmunya”, sekaligus menjalani proses pematangan diri tahap selanjutnya, yaitu dengan “merantau.”

Pada masa merantau inilah seorang lelaki Minang diuji ketangguhannya. Apakah ia akan muncul menjadi pemenang (winner) atau terdepak menjadi pecundang (looser). Namun disinilah letak keistimewaan masyarakat etnik Minangkabau. Di rantau mereka merupakan pekerja yang ulet dan tangguh. Jika merintis karir di sektor perdagangan, mereka muncul sebagai pedagang yang ulet dan sukses. Jika terjun ke dunia politik dan berbagai profesi, mereka menjelma menjadi politikus dan profesional yang tangguh dan berada di deretan papan atas.

Tentu saja tak mudah menjadi pemenang di medan perantauan tersebut. Berbagai tantangan, ujian dan cobaan harus mereka lalui. Sakit, pedih,  pilu, suka dan duka pasti mereka alami dan menjadi bumbu kehidupan sehari-hari di perantauan.  Namun kenyataannya banyak masyarakat Minang yang berhasil mengatasi semua cobaan dan ujian berat tersebut. Mereka lalu keluar sebagai pemenang (winner), mereka berhasil menjadi kelompok orang-orang sukses. Kisah suka dan duka yang selama ini mengiringi mereka justru menjadi bumbu pemanis untuk dikenang.

Bab berikutnya yang terjadi, setelah mereka sukses di rantau adalah seperti kata pepatah: “satinggi-tinggi tabang bangau, akhirnyo babaliak ka kubangan juo”.  Meski terpaut jarak dan rentang waktu yang panjang , namun hati, fikiran dan perasaan  orang Minang tetap dekat dengan kampung halamannya serta sanak kerabat dan keluarganya di kampung.

Maka  biasanya, momen Idul Fitri digunakan sebagai saat yang tepat bagi perantau Minang untuk melepaskan kerinduannya kepada kampung halaman, saudara dan karib-kerabatnya. Momen ini dipakai untuk melaksanakan prosesi pulang kampung, baik secara perorangan maupun dengan cara pulang basamo.

Dari tahun ke tahun hingga saat ini prosesi pulang kampung  terus berlangsung dan terlihat jelas di depan mata. Perantau Malalo, Perantau Sulit Aia, Perantau Silungkang, Perantau Kinari dan berbagai daerah lainnya yang terlalu panjang untuk diuraikan satu per satu, berlomba-lomba menggelar prosesi pulang basamo. Acara silaturahim tersebut berlangsung hangat dan meriah.

Tentu saja mereka pulang kampung tidak dengan tangan kosong. Mereka selalu membawa oleh-oleh untuk ditinggalkan dan dikenang di kampung. Ada yang meninggalkan kenangan berupa dana untuk memperbaiki rumah mereka di kampung yang sudah mulai menua, patungan membantu biaya sekolah kemenakan di kampung atau perantau pulang basamo berpatungan untuk memperbaiki masjid, sekolah atau jalan lingkungan di kampung mereka.

Tak jarang pula oleh-oleh itu berupa kerjasama bisnis seperti perantau membawa saudaranya untuk ikut bekerja di tempat usaha mereka. Atau perantau berinvestasi dengan membelikan kambing, sapi atau sawah untuk saudara dan kerabatnya. Investasi ini kelihatannya memang kecil dan tak berarti, tapi jika setiap nagari perantaunya membeli 10 ekor sapi, maka akan ada investasi lima ratus ekor sapi, jika dilakukan di 50 nagari saja.  Jika seekor sapi bernilai Rp 10 juta, maka akan ada investasi baru senilai Rp 5 miliar.  Investasi jenis ini menjadi istimewa dan tepat sasaran karena langsung diterima oleh masyarakat dan jika masyarakat setempat mengelolanya dengan serius, akan berdampak langsung untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Disadari atau tidak, tradisi merantau dan pulang kampung (mudik) merupakan sebuah kekayaan sosial (social capital) yang memiliki kekuatan  luar biasa. Terbatasnya sumberdaya dan lapangan kerja yang ada di kampung bisa diatasi dengan tradisi merantau. Sedangkan terbatasnya dana APBD dan APBN untuk membangun daerah dan meningkatkan ekonomi masyarakat selama ini telah terbukti bisa dilengkapi oleh perantau.

Kita tentu menerima  dengan tangan terbuka kontribusi dari perantau dimanapun mereka berada dan dalam bentuk apapun mereka ingin berinvestasi. Mari kita bahu membahu dan mengerahkan semua potensi untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat menuju hari esok yang lebih baik. Sekecil apapun kontribusi yang  kita lakukan, sedikit demi sedikit tentu lama-lama akan menjadi bukit dan menjadi amal di sisi Allah SWT. (Agustus 2012)

24. Baitul Maal Solusi Ekonomi Kerakyatan

Baitul Maal Solusi Ekonomi Kerakyatan

 

Aktifitas ekonomi sejalan dengan kegiatan keagamaan. Masuknya Islam di Indonesia sejalan dengan jalur perniagaan. Di Sumatera Barat, setiap pembangunan pasar selalu diiringi dengan pembangunan masjid sejak dulu. Sejalan dengan perkembangan ekonomi di pasar yang baru dibangun, berkembang pula kegiatan keagamaan di masjid.

Lalu di masjid tidak hanya masalah agama yang dibahas, tapi juga masalah perniagaan dan usaha. Masjid tidak hanya menjadi sentral pengembangan agama, tapi juga pusat pemikiran ekonomi umat. Sampai saat ini hampir di semua pasar di Sumatera Barat terdapat minimal sebuah masjid. Hanya saja belum termanfaatkan sebagai sentra kegiatan ekonomi secara optimal.

Kegiatan perdagangan di setiap pasar menarik untuk diamati dan berpeluang besar dikembangkan sebagai media untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Beberapa hari lalu saya berkunjung ke pasar nagari Cupak di Kabupaten Solok. Pasar Cupak hanya berlangsung setiap hari Sabtu, sekali sepekan.

Pasar Cupak dibangun oleh anak nagari masyarakat Cupak. Dulunya mulai dari kecil, kini pasar Cupak telah mampu menampung 500 pedagang. Jika setiap pedagang rata-rata mampu melakukan jual beli sebanyak Rp 500.000 per tiap kali hari pasar, maka di pasar ini terjadi transaksi sebesar Rp 250.000.000 sehari. Ini baru salah satu contoh pasar di desa di Sumatera Barat.

Di pasar Muaro Paneh misalnya, jumlah transaksi jauh lebih banyak. Jika rata-rata setiap minggu di pasar ini terjadi transaksi 2000 ekor sapi dengan harga rata-rata Rp 6 juta per ekor, maka jumlah transaksi hari itu adalah Rp 1,2 milyar. Jumlah itu masih ditambah dengan transaksi pasar kebutuhan harian Muaro Paneh, sekitar Rp 500 juta per hari pasar. Bisa kita bayangkan total jumlah transaksi yang terjadi di pasar yang ada di nagari-nagari Sumatera Barat yang puluhan bahkan ratusan jumlahnya. Bisa diperkirakan pula jumlah pedagang atau masyarakat yang mendapatkan manfaat ekonomis dari kegiatan ini.

Dalam kacamata ekonomi, kegiatan ini adalah sebuah wadah bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonominya. Dalam kacamata communty development dan pengembangan sumberdaya manusia, kegiatan ini adalah ajang untuk melatih kewirausahaan dan kemampuan enterpreneur masyarakat. Sejarah telah membuktikan bahwa banyak pengusaha-pengusaha besar merintis karirnya dari usaha kecil-kecilan. Masyarakat Sumatera Barat sudah lama terkenal sebagai pedagang dan pengusaha yang handal dan ulet.

Dari wawancara singkat dengan sejumlah pedagang dapat disimpulkan, ada dua masalah penting yang mereka hadapi saat ini. Pertama adalah lesunya daya beli masyarakat, kedua adalah kekurangan modal untuk memulai atau mengembangkan usaha.

Lesunya daya beli memang tergantung pada keadaan ekonomi masyarakat secara keseluruhan, termasuk akibat gempa bumi. Memang butuh waktu untuk memulihkan kondisi tersebut. Tapi waktu yang panjang untuk memulihkan ekonomi tersebut bisa diperpendek dengan kemauan dan kerja keras kita untuk memulihkannya.

Tentang masalah kekurangan modal mengingatkan kita pada apa yang dilakukan Prof. M Yunus di Bangladesh. Di negara yang tergolong termiskin di dunia ini hal serupa juga terjadi. Kemiskinan, pengangguran bahkan kelaparan terjadi dimana-mana. M Yunus lalu berfikir untuk menciptakan lapangan kerja untuk mereka, agar mereka tak lagi menganggur, miskin atau kelaparan.

Untuk mewujudkan imipian itu lalu didirikan Grameen Bank (Bank Desa/Nagari). Kepada penduduk miskin tersebut diberi pinjaman modal dan dilatih agar bisa melakukan kegiatan usaha. Mereka yang berminat membuat anyaman bambu diberi pelatihan dan modal untuk memulai usaha anyaman bambu. Yang berminat berusaha tani juga diberi pengetahuan pertani beserta modal untuk bertani.

Uniknya untuk bisa memperoleh pinjaman itu tidak memiliki persyaratan yang rumit, juga tidak menggunakan agunan. Jaminannya adalah rekomendasi dari pemuka masyarakat dan jaminan dari anggota kelompok dan petugas Grameen Bank supaya usaha yang dijalankan tidak gagal.

Ternyata apa yang dilakukan Yunus berhasil. Upaya Grameen Bank ternyata mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat serta menggerakkan ekonomi masyarakat. Kegiatan ini berhasil mengangkat harkat ribuan masyarakat miskin. Metode yang dikembangkan Yunus telah dikembangkan pula di sejumlah negara miskin lainnya. Atas terobosan yang dilakukan Yunus ini ia diberi anugerah hadiah Nobel.

Terobosan sejenis juga berpeluang dilaksanakan di nagari-nagari di Sumatera Barat. Seperti telah diungkap di awal tulisan ini, umumnya tumbuhnya pasar-pasar di Sumatera Barat seiring dengan tumbuhnya masjid yang berdekatan dengan pasar-pasar tersebut. Tak jarang disamping tempat beribadah, masjid juga berfungsi sebagai sentra pemikiran dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Sebenarnya konsep M Yunus bukan hal baru dalam Islam. Dalam Islam telah lama dikenal istilah Baitul Maal, lembaga keuangan yang berbasis masyarakat dan agama. Tinggal keseriusan kita sehingga konsep tersebut tidak hanya sekedar teori, tetapi sesuatu yang kongkrit yang mampu mengangkat harkat dan mensejahterakan masyarakat. (November 2013)

25. Koperasi

Koperasi

Tahun ini adalah tahun  bersejarah bagi koperasi. Lembaga dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah menetapkan tahun 2012 sebagai tahun koperasi se dunia, Presiden RI pada hari koperasi ke 64 tahun 2011 lalu juga  telah menetapkan tahun 2012 sebagai tahun “Kebangkitan Koperasi”.

Kenapa koperasi, apakah koperasi di Indonesia bisa bangkit kembali?

Gerakan koperasi digagas oleh Robert Owen (1771–1858), ia menerapkannya pada usaha pemintalan kapas di New Landmark, Skotlandia. Gerakan koperasi ini kemudian dikembangkan oleh William King (1786–1865) dengan mendirikan toko koperasi di Brighton, Inggris pada 1 Mei 1828. King menerbitkan publikasi bulanan yang bernama The Cooperator, berisi berbagai gagasan dan saran-saran praktis tentang mengelola toko dengan menggunakan prinsip koperasi.  Koperasi  kemudian berkembang di negara-negara lain. Di Jerman, berikutnya juga didirikan lembaga serupa.

Di Indonesia Koperasi diperkenalkan oleh Raden Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1896. Beliau mendirikan koperasi kredit dengan tujuan membantu rakyat yang terjerat hutang pada rentenir. Koperasi tersebut lalu berkembang pesat dan kemudian dikembangkan lagi oleh Boedi Oetomo .

Belanda yang khawatir koperasi akan dijadikan tempat pusat perlawanan, mengeluarkan UU no. 431 yang  mempersulit gerak koperasi. Akibatnya gerak langkah koperasi waktu itu menjadi terbatas dan terkekang, lalu meredup.

Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi (kumiyai). Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun  kemudian diselewengkan, fungsinya berubah drastis dan menjadi alat Jepang untuk mengeruk keuntungan sebagai pihak penguasa.

Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari bersejarah tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.

Di pentas dunia, koperasi dianggap berjasa karena  koperasi menyediakan lebih dari 100 juta pekerjaan di seluruh dunia.  Di Argentina, koperasi menyediakan tenaga kerja langsung untuk lebih dari 233.000 individu.  Di Kanada, koperasi kredit (Koperasi Simpan Pinjam) dan serikat pekerja mempekerjakan 155.000 orang.  Di Kolombia, gerakan koperasi menyediakan 111.951 lowongan pekerjaan langsung dan dan lowongan pekerjaan tambahan untuk sekitar 500.450 penduduk.  Di Prancis, 21.000 koperasi menyediakan lebih dari 4 juta lowongan pekerjaan. Begitu juga di Jerman, Italia, Kenya, Slovakia dan banyak negara lainnya di dunia, koperasi terbukti menyerap ribuan tenaga kerja.
Tentu, karena dampaknya yang luar biasa inilah, yaitu menyokong perekonomian dunia  yang menyebabkan  PBB memberikan perhatian khusus terhadap koperasi dan menjadikan tahun 2012 sebagai Hari Koperasi  se Dunia.

Koperasi memang mempunyai ciri yang khas, yaitu merupakan wadah berhimpun pengusaha kecil. Di manapun  di permukaan bumi ini, justru pengusaha kecillah yang terbanyak jumlahnya, termasuk Indonesia. Jumlah pengusaha besar hanya dalam persentase kecil sekali . Karena itu koperasi merupakan wadah tempat berhimpun yang sangat cocok sekali.

Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera Barat. Tipikal masyarakat  Sumatera Barat adalah pengusaha,  didominasi oleh pengusaha kecil dan menengah (UMKM).  Tak banyak masyarakat Sumatera Barat yang beprofesi sebagai buruh, mereka cendrung memilih menjadi pengusaha, meskipun dimulai dengan usaha kaki lima.

Karena itu koperasi sangat  cocok dikembangkan di Sumatera Barat. Tokoh Proklamator dan Bapak Koperasi Indonesia Bung Hatta sangat yakin bahwa koperasi bisa dijadikan soko guru dan tulang punggung ekonomi Indonesia.  Berbagai negara di dunia telah membuktikan bahwa koperasi merupakan  wadah ekonomi yang ampuh untuk mengatasi masalah ekonomi, tenaga kerja dan kemiskinan.

Di Jepang sendiri, sampai hari ini koperasi (kumiyai) merupakan instrumen penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakatnya. Kumiyai di Jepang menangani semua sektor dari hulu sampai hilir. Di sektor pertanian misalnya, kumiyai menyediakan bibit tanaman, pengolahan hasil, transportasi, pemasaran (supermarket) sampai menyediakan bank secara profesional.

Terinspirasi oleh kenyataan tersebut, pemerintah Sumatera Barat ingin menggerakkan kembali lembaga koperasi. Untuk itu sejak tahun lalu Dinas Koperasi, Perdagangan dan Industri (Koperindag) telah diperbarui. Dinas Koperasi dipisah tersendiri, khusus berkonsentrasi untuk urusan pengembangan koperasi di Sumatera Barat. Sejumlah program telah dirancang dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.  Kekeliruan-kekeliruan dan pengalaman pahit di masa lalu diambil sebagai pelajaran agar tidak terjadi lagi di masa datang.

Alhamdulillah, meski dalam tahap permulaan, upaya itu mulai menampakkan hasil. Pemerintah pusat melalui Menteri Koperasi dan UKM memberikan apresiasi terhadap upaya tersebut. Insya Allah  pada  hari ini, tanggal 12 Juli 2012, pada peringatan Hari Koperasi Nasional di Palangkaraya Presiden RI akan memberikan penghargaan Satyalencana Koperasi kepada pemerintah Sumatera Barat.

Semoga moment ini merupakan awal dari keberhasilan gerakan koperasi di Sumatera Barat. Hal tersebut tentu tak boleh berhenti sampai di situ. Kerja keras dan keseriusan kita semua, terutama  praktisi UMKM, dibutuhkan agar koperasi benar-benar tumbuh dengan baik dan mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat Sumatera Barat. Kesalahan di masa lalu harus dijadikan pelajaran dan tidak perlu diulang lagi. (Juli 2012)

26. Hijrah dan Perubahan

Hijrah dan Perubahan

Peristiwa hijrah merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Atas perintah Allah, Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah (pindah) dari Mekah ke Yasrib (kini Madinah). Nabi bersama Abu Bakar dan sejumlah sahabat meninggalkan kampung halamannya Mekah, untuk pindah dan bermukim di Madinah.

Alasannya, kota Mekah saat itu tak lagi kondusif. Upaya Nabi mengembangkan Islam mendapat tantangan kuat dari masyarakat setempat. Islam berkembang lambat di Mekah saat itu. Bahkan Nabi Muhammad SAW terancam akan dibunuh, kediaman beliau dikepung oleh sejumlah algojo dengan pedang terhunus, siap menghabisi nyawa beliau.

Namun beliau berhasil lolos dari peristiwa maut tersebut bersama Abu Bakar, dengan perlindungan Allah, beliau berhasil lolos lalu bersembunyi beberapa malam di Goa Tsur. Setelah aman, beliau melanjutkan perjalanan ke Yasrib dan bermukim di sana bersama sejumlah sahabat yang telah dulu sampai di sana. Peristiwa  itu terjadi tanggal 16 Juli 632 M, sekitar 1380 tahun lalu (berdasarkan kalender masehi) atau 1434 tahun lalu berdasarkan kalender Islam.

Di Madinah, kesedihan Nabi meninggalkan kampung halaman dan tanah kelahiran yang beliau cintai, terobati. Di Madinah beliau disambut meriah oleh masyarakat setempat. Karena kerjasama yang baik semua pihak, kota Madinah berkembang pesat di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Madinah lalu bisa hidup sejahtera, rukun dan damai yang hingga sekarang dikenal dengan sebutan masyarakat madani.

Salah satu hikmah yang terkandung dari peristiwa itu adalah: melakukan perubahan. Nabi melakukan perubahan, dari kehidupan beliau sebelumnya di Mekah ke kehidupan baru di Madinah. Nabi meninggalkan masyarakat kota Mekah yang saat itu sulit berubah ke masyarakat Madinah yang dengan cepat berubah dan bersedia menerima perubahan.

Karena itu momentum hijrah dicatat sebagai tonggak sejarah yang sangat penting dalam sejarah Islam. Islam mengalami kemajuan yang pesat setelah peristiwa hijrah Nabi, banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi saat itu.

Perubahan, itulah kata kuncinya. Ungkapan bahwa “tidak ada yang abadi di atas dunia, kecuali perubahan,” telah lama dikenal dan telah terbukti kebenarannya. Dunia selalu mengalami perubahan. Jika bulan ini musim mangga, mungkin bulan depan musim durian, rambutan dan seterusnya. Jika tahun lalu mode potongan rambut yang disukai model cepak, mungkin tahun depan lain lagi, tahun depan berganti lagi dan seterusnya. Musim dan zaman terus berubah.

Karena perubahan itu selalu terjadi, maka manusia juga harus berubah agar ia tidak tertinggal atau tergilas oleh perubahan.  Dulu tak banyak orang mempersoalkan penampilan sebuah rumah makan. Asal bisa makan enak dan perut kenyang, kontstruksi atau bentuk sebuah rumah makan tak dipersoalkan.

Kini tak lagi begitu, penampilan dan kenyamanan sebuah rumah makan menjadi penting saat ini. Rumah makan dengan penampilan mentereng, full AC, lantai keramik mengkilap, kadang dilengkapi fasilitas Wi Fi, menjadi tuntutan pasar saat ini. Mereka yang tak siap dengan perubahan ini akan tertinggal. Tak cukup sampai di situ, inovasi harus terus dilakukan agar tetap eksis.

Dalam pelaksanaan pemerintahan di Sumatera Barat juga demikian. Masyarakat Sumatera Barat harus selalu melakukan perubahan dengan cepat. Sejumlah program dan fasilitas telah disiapkan agar kehidupan dan kesejahteraan masyarakat bisa meningkat. Namun sejumlah daerah yang tidak merespon dan tidak memperlihatkan niat ingin berubah, maka mereka kami tinggalkan, program dipindahkan ke daerah lain yang lebih serius dan memang ingin berubah dan menjadi lebih baik.

Mari kita jadikan tahun baru hijriyah tahun ini sebagai momentum untuk berubah. Mereka yang sebelumnya suka melakukan korupsi berubah menjadi tak lagi korupsi, mereka yang sebelumnya malas berubah menjadi rajin, yang sebelumnya suka berbuat curang, berubah menjadi jujur. Banyak perubahan lainnya yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik. Jika hal itu kita lakukan, insya Allah tak butuh waktu lama, kita segera menjadi masyarakat Madani, seperti yang kita cita-citakan. (November 2013)

27. Satu Petani Satu Sapi

Satu Petani Satu Sapi

           

Jika ada kemauan, selalu ada jalan. Kata-kata bijak itu telah lama kita kenal dan  terbukti kebenarannya.

Namun ketika ide program Satu Petani Satu Sapi digulirkan, banyak sekali yang menanggapinya dengan pesimis. Banyak yang menanggapi bahwa program ini takkan berhasil, karena banyak program serupa telah dikucurkan namun selalu berakhir dengan kegagalan. Ada juga yang berkomentar, berbagai program peternakan telah diunjukkan pemerintah, mulai dari puyuh, ayam, itik, kambing  sampai sapi. Cuma program ternak gajah yang belum diberikan. Hasilnya, tetap saja nol besar !

Sejenak saya jadi ragu, apakah benar tak ada jalan lagi untuk sebuah kemauan, meskipun itu adalah sebuah niat baik dan dilakukan dengan sungguh-sungguh? Apakah kata-kata bijak “dimana ada kemauan selalu ada jalan” sudah kadaluarsa dan tak berlaku lagi?

Untunglah meski sangat banyak yang menanggapi secara pesimis, tapi masih ada sejumlah kecil orang menanggapi secara positif. Bersama sejumlah orang yang masih bersikap optimis tersebut, gagasan Program Satu Petani Satu Sapi disusun sehingga menjadi program yang kongkrit.

Alhamdulillah, Minggu (19/12), Program Satu Petani Satu Sapi secara resmi mulai diluncurkan di Kota Payakumbuh. Kota galamai ini dipilih sebagai tempat peluncuran perdana program tersebut karena walikota Payakumbuh merupakan orang pertama yang merespon positif ide tersebut. Pada lokasi dan saat yang sama juga diresmikan rumah potong hewan (RPH) termodern dan Pasar Ternak dengan fasiltitas terbaik dan terlengkap di Sumatera.

Ternyata ide kecil tersebut mendapat apresiasi dari Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian RI drh. Prabowo Respatiyo MM. PhD. yang sengaja hadir pada acara peluncuran program tersebut. Dengan bersemangat dirjen mengatakan ide program tersebut sangat luar biasa, orsinil dan satu-satunya di Indonesia.

Beliau sangat yakin program tersebut akan bermanfaat bagi masyarakat karena memiliki empat unsur yaitu profitable, simple, advertable dan duplicable. Profitable berarti menguntungkan, simple dalam arti program tersebut sederhana dan mudah dilaksanakan, duplicable dalam arti bisa diduplikasi sehingga bisa ditiru untuk diterapkan di tempat lain.

Dirjen mengatakan program tersebut tidak hanya akan menambah penghasilan petani, tetapi juga akan menjadi amal ibadah bagi petugas pelaksana program tersebut. Beliau berjanji akan mendukung dan membantu agar program tersebut terus berlanjut.

Ide program satu petani satu sapi muncul dari kenyataan bahwa 60,7 persen penduduk Sumatera Barat adalah petani. Namun sayangnya rata-rata pendapatan mereka per tahun masih rendah dan belum sejahtera. Penyebabnya adalah rata-rata petani kita hanya memiliki lahan 0,3 hektar lahan per KK.  Fakta ini menyebabkan jam kerja petani tidak optimal dan sudah tentu pendapatan yang diperoleh tidak juga maksimal.

Padahal kearifan tradisional masyarakat Minang telah lama menganut konsep padi masak jaguang maupiah, taranak bakambang biak, ikan mambangkik pulo. Dalam konsep modern yang belakangan kian populer konsep tersebut dikenal dengan istilah integrated farming (pertanian terpadu).

Dalam konsep pertanian terpadu, petani tidak hanya memiliki satu jenis usaha seperti sawah saja misalnya, tetapi juga dikombinasikan dengan ternak sapi, ikan atau kebun. Dengan demikian diperoleh nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Ternak sapi dipilih sebagai titik masuk program percepatan pensejahteraan petani karena setiap tahun negara kita selalu kekurangan daging sapi. Setiap tahun 182.000 ekor sapi (30 persen) dari kebutuhan daging negara kita diimpor dari Australia. Sumatera Barat memiliki tingkat konsumsi daging per kapita tertinggi di negara ini. Kebutuhan daging sapi di Sumbar cukup besar dan belum terpenuhi oleh produksi sapi Sumbar saat ini.

Populasi sapi Sumatera Barat saat ini hanya sekitar 500.000 ekor, dipelihara oleh sekitar 128.000 KK petani. Padahal petani Sumatera Barat berjumlah sekitar 1.200.000 KK. Jika saja setiap KK petani tersebut memelihara 1 ekor sapi, maka akan terjadi penambahan populasi sebanyak 2 kali lipat  jumlah sebelumnya. Ini berarti sejumlah masalah bisa teratasi sekaligus, yaitu meningkatkan pendapatan petani, mendukung program swasembada daging serta mendapatkan pupuk organik dari limbah peternakan.

Daya dukung lahan dan pakan tak perlu diragukan. Berdasarkan penelitian, daya dukung lahan dan pakan Sumatera Barat, cukup untuk menampung 3 juta ekor sapi. Dana juga tersedia, dana APBN tersedia cukup banyak dalam bentuk Program Swasembada Daging Sapi (PSDS), bank, pihak swasta dan perantau juga telah menawarkan diri untuk jadi investor.

Sejumlah pejabat SKPD dan DPRD juga masyarakat tak sabar lagi agar program ini segera digulirkan, meski dana APBD dan APBN tahun 2011 belum dicairkan. Mereka merogoh kantong masing-masing dan Program Satu Petani Satu Sapi pun mulai digulirkan. Dimulai dari kota Payakumbuh dan secara bertahap akan terus dikembangkan ke daerah lain melalui kelompok-kelompok tani. Program Satu Petani Satu Sapi akan menggelinding seperti bola salju, makin membesar dan terus membesar. Jika ada kemauan, pasti ada jalan.

Untuk tahap awal rencananya setiap kabupaten dan kota, program akan dilaksanakan di dua kelompok atau nagari. Petani yang akan ikut dalam program satu petani satu sapi harus tergabung dalam kelompok tani. Kelompok yang tepilih akan difasilitasi melalui lembaga keuangan mikro setempat.

Bagi kelompok atau daerah yang menunjukkan prestasi dan bekerja secara serius akan diberikan reward (penghargaan), sebaliknya yang tidak serius tentu akan diberikan sanksi.  (Januari 2011)

28. Janjang Koto Gadang

Janjang Koto Gadang

               

Menurut sejarah Nagari Koto Gadang Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam mulai didirikan pada akhir abad 17. Sekelompok kaum dari Pariangan Padang Panjang datang ke daerah ini membuka lahan baru untuk pemukiman, ladang dan sawah. Sebuah daerah yang dulu bernama Bukit Kepanasan dipilih sebagai lokasi baru itu. Karena daerah ini cepat berkembang, lalu daerah baru itu diberi nama Koto Gadang.

Nagari Koto Gadang termasuk pionir dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1856 di daerah ini telah berdiri Sekolah Desa dengan masa belajar 3 tahun. Pemerintah Penjajahan Belanda sejak dini telah menandai bahwa pelajar-pelajar dari Agam, adalah murid-murid yang rajin, ulet dan cerdas, terutama dari daerah Koto Gadang. Lalu didirikan sebuah badan tersendiri yang dinamakan studiefonds (dana pelajar). Yayasan ini didirikan untuk mengumpulkan dana dari warga kampung guna mengirim anak-anaknya melanjutkan studi ke Jawa, bahkan ke negeri Belanda.

Semangat belajar anak muda Koto Gadang yang tinggi serta dukungan kuat dari masyarakatnya,  tebukti membuahkan hasil. Menurut suatu laporan, pada tahun 1915, sebanyak 165 lelaki dari Koto Gadang telah bekerja sebagai pegawai pemerintahan Belanda. Hampir separuh (79 orang) bekerja di luar wilayah Minangkabau. Sebanyak 72 orang di antaranya lancar berbahasa Belanda. Ini merupakan suatu bukti bahwa mereka memperoleh pendidikan yang baik. Hingga kini masih banyak ditemukan masyarakat setempat, terutama generasi tua, yang fasih berbahasa Belanda.

Pada tahun 1926 lulusan sekolah kedokteran Stovia Jakarta asal Minang berjumlah 32 orang, kebanyakan mereka adalah warga Koto Gadang. Enam belas tahun kemudian, tahun 1942 terjadi lonjakan yang luar biasa, sebanyak 40 orang warga Koto Gadang lulus sekolah kedokteran Stovia.

Penelitian Mochtar Naim tahun 1967 menunjukkan, dari  2.666 orang penduduk  Koto Gadang, 467 orang atau 17,5% di antaranya adalah lulusan Universitas. Di antaranya 168 orang menjadi dokter, 100 orang jadi insinyur, 160 orang jadi sarjana hukum, dan sekitar  10 orang doktorandus ekonomi dan bidang-bidang ilmu kemasyarakatan lainnya. Berikutnya pada tahun 1970, sebanyak 58 orang lagi lulus universitas. Dengan prestasi 525 orang lulusan universitas (belum termasuk yang bergelar sarjana muda), Koto Gadang yang memiliki penduduk kurang dari 3.000 jiwa, mencatat rekor tak terkalahkan oleh nagari/desa mana saja, sebagai desa memiliki sarjana terbanyak bahkan di negara maju sekali pun saat itu.

Tak heran jika sejumlah tokoh nasional berasal dari Koto Gadang, sebut saja Agus Salim, Sutan Sjahril, Syahrir, Ed Zoelferdi dan banyak tokoh nasional/internasional lainnya. Hingga saat ini sudah lebih dari 30 orang putra/putri Koto Gadang yang menyandang titel profesor, diantaranya adalah Prof. Emil Salim,  Prof Dr. Nuzirwan Acang, Prof Fadil Oenzil, dll. Serta tak kurang sepuluh orang putra Koto Gadang juga telah menyandang pangkat jendral/perwira tinggi.

Sabtu tanggal 26 Januari lalu, Nagari Koto Gadang kembali mencatat sejarah. Menkominfo Ir. Tifatul Sembiring meresmikan pemakaian Janjang Koto Gadang. Janjang (tangga) sepanjang satu kilometer ini terinspirasi oleh Tembok Raksasa Cina yang terkenal sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Karena itu gaya arsitektur janjang ini agak mirip dengan Tembok Raksasa (great wall) Cina. Janjang Koto Gadang menghubungkan nagari Koto Gadang menuju Ngarai Sianok,  rute yang memiliki sejarah panjang sejak zaman penjajahan dulu.

Objek ini menambahkan lagi sebuah ikon bagi pariwisata di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Agam. Di sisi lain momentum ini memperlihatkan sebuah kepedulian dan kekompakan warga Sumatera Barat, baik yang berada di kampung halaman, maupun yang berada di perantauan.  Bangunan ini merupakan hasil kerjasama masyarakat Minang yang ada di kampung dan di rantau.

Saya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Menkominfo Ir. H. Tifatul Sembiring, kelahiran Bukittinggi 28 September 1961, dari ayah suku Karo Sumatera Utara dan Ibu suku Koto Agam Sumatera Barat yang telah memprakarsai dibangunnya bangunan yang sangat berharga ini. Penghargaan juga disampaikan kepada Ir. Azwar Anas yang memberi ide bangunan ini.

Kepedulian terhadap kampung halaman juga diperlihatkan oleh kehadiran Prof. Dr. Meutia Hatta, anggota Dewan Pertimbangan Presiden dan mantan Menteri Urusan Peranan Wanita, ketua DPD RI Irman Gusman,  Afrizal, Alirman Sori, Anggota DPR RI Refrizal, Taslim anggota/wakil DPRD Sumbar, bupati dan walikota, Brigjen Boy Rafli Amar dan banyak tokoh lainnya yang turut hadir, tetap bertahan pada acara tersebut, meski Koto Gadang malam itu guyur hujan deras.

Kita yakin, Janjang Koto Gadang akan berdampak positif terhadap Sumatera Barat pada umumnya dan Agam secara khusus. Janjang Koto Gadang juga akan memberikan multiplier efek terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Yang lebih penting lagi, kepedulian dan kekompakan warga Minang akan menghasilkan kejayaan Sumatera Barat di masa datang dan mampu menjemput kembali kejayaan Minang Kabau di masa lalu. (Januari 2013)

29. Tahun Baru

Tahun Baru

Waktu cepat berlalu. Rasanya belum terlalu lama kita berada di tahun 2012, kini kita segera menutup lembaran tahun 2012,  lalu memasuki tahun 2013. Seperti kata peribahasa; orang-orang yang lalai akan tergilas oleh waktu.

Yang sangat menyolok, hampir semua bank melakukan tutup buku, tidak melayani transaksi untuk sementara sampai awal tahun. Begitu juga sejumlah perusahaan-perusahaan dan sejumlah instansi. Tutup buku, merupakan langkah penting bagi sebuah perusahaan, terutama perbankan.  Saat itu mereka menghitung semua transaksi yang  dilakukan selama setahun, baik transaksi berupa uang masuk, maupun transaksi uang keluar. Dengan demikian bisa diketahui kinerja sebuah bank/perusahaan apakah mereka berhasil memperoleh keuntungan, atau malah merugi.

Dari hasil evaluasi ini bisa disimpulkan apa yang harus dilakukan tahun berikutnya. Jika perusahaan merugi, maka bisa diambil beberapa tindakan apakah perusahaan tersebut harus dibubarkan, atau masih bisa dipertahankan dengan sejumlah perbaikan. Jika perusahaan beruntung, tentu bisa dilakukan upaya-upaya di tahun berikutnya agar keuntungan yang diperoleh lebih besar lagi, serta mengembangkan dan memperbanyak kegiatan-kegiatan yang mendatangkan keuntungan.

Jika diamati, kegiatan akhir tahun yang dilakukan perusahaan-perusahaan profesional ini sangat menarik dan juga bisa dilakukan secara pribadi atau di masing-masing rumah tangga. Secara pribadi kita bisa melakukan “tutup buku” di setiap akhir tahun. Sediakan waktu sehari atau dua hari untuk melakukan evaluasi pribadi. Apakah selama setahun yang telah berlalu kita telah melakukan hal-hal  yang baik dan bermanfaat atau sebaliknya. Silahkan hitung juga manakah yang lebih banyak, melakukan hal-hal yang bermanfaat atau hal-hal yang menimbulkan mudarat.

Evaluasi pribadi bisa dilakukan seperti  yang dilakukan perbankan atau perusahaan profesional, sejauh mana keuntungan yang diperoleh tahun lalu? Seberapa banyak kita telah melakukan hal-hal  positif dan bermanfaat, mana yang lebih banyak dibandingkan dengan hal-hal yang menimbulkan mudarat? Jika anda seorang karyawan silahkan dievaluasi apakah anda telah melakukan pekerjaan dengan baik dan berprestasi? Jika  anda seorang kepala rumah tangga, apakah anda telah melaksanakan kewajiban terhadap istri dan anak-anak anda dengan baik? Jika ia seorang pejabat, apakah ia telah menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya dengan baik? Dan seterusnya sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing

Lalu lakukan evaluasi, lakukan perubahan dan perbaikan agar hal-hal bermanfaat bisa kita lakukan lebih optimal di tahun depan. Tentu jika evaluasi kita lakukan secara rutin, lalu melakukan perbaikan atas segala kesalahan dan kelemahan di tahun lalu maka tentu, kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya, lalu menjadi lebih baik lagi di tahun berikutnya dan seterusnya.

Waktu terus terus berlalu, dan cepat berlalu tanpa terasa. Seperti firman Allah dalam surat Al Ashr; “Demi masa. Sesungguhnya  manusia itu benar-benar dalam kerugian.”  Maksudnya orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang benar-benar merugi. Kita semua tentu faham dan bahkan telah merasakan kebenaran firman Allah tersebut. Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran ayat itu dari zaman dulu kala, hingga saat ini.

Sebuah koran terbitan Jakarta melaporkan diperkirakan ada puluhan triliun rupiah uang yang beredar saat ini, uang tersebut disediakan khusus oleh masyarakat untuk menyambut tahun baru.  Hal itu tidak mengherankan, karena jika rata-rata Rp 10.000 saja setiap  orang di Indonesia mengeluarkan uang ekstra untuk tahun baru, maka total jumlahnya mencapai  Rp 2,45 triliun, dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia di akhir 2012 berjumlah 245 juta jiwa. .

Mensyukuri rahmat yang telah kita peroleh selama tahun 2012 tentu boleh-boleh saja.  Namun tentu tidak dengan cara berpesta pora dan pemborosan disaat negara kita berada dalam masa-masa sulit seperti saat ini, serta  menyia-nyiakan waktu yang sangat bermanfaat. Mari melakukan evaluasi agar kita bisa menjadi lebih baik serta hidup bahagia, dunia dan akhirat. (Desember 2012)

30. Teknologi Tepat Guna

Teknologi Tepat Guna

 

TTG (Teknologi Tepat Guna) sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sumatera Barat sejak dulu. Buktinya terlihat nyata dan masih mampu bertahan hingga sekarang. Di daerah sekitar Batang Sinamar misalnya, banyak kita temukan kincir air yang berfungsi untuk menaikkan air sungai ke tempat yang lebih tinggi. Teknologi ini telah banyak membantu masyarakat mengubah lahan-lahan yang kering-kerontang menjadi lahan yang subur. Air tersebut selain digunakan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian, juga digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari.

Masyarakat di berbagai pelosok Sumatera Barat sejak dulu juga telah menggunakan teknologi kincir air untuk menumbuk padi. Sampai hari ini teknologi tersebut masih digunakan dan menjadi alternatif bagi mahal dan sulitnya BBM. Di daerah Lawang misalnya, juga telah lama digunakan teknologi sederhana menggunakan tenaga kerbau untuk mengilang tebu. Lalu air tebu ini diolah menjadi gula tebu.

Entah siapa penemunya untuk pertama kali, namun hingga hari ini teknologi sederhana tersebut di sejumlah tempat masih dimanfaatkan dan masih dirasakan manfaatnya. Berdasarkan definisinya Teknologi Tepat Guna adalah sebuah alat/teknologi sederhana yang diciptakan atau ditemukan oleh masyarakat secara swadaya, membutuhkan biaya yang relatif murah untuk membuatnya namun sangat bermanfaat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Dengan demikian sangat jelas bahwa kincir air atau kincir penggilingan padi adalah sebuah Teknologi Tepat Guna (TTG) dan termasuk yang tertua di Indonesia.

Disadari atau tidak, penemuan Teknologi Tepat Guna terus bermunculan di dunia, termasuk di negara kita. Untuk mempermudah dan memperlancar pekerjaannya, masyarakat berusaha berkreasi menciptakan alat dan berbagai teknologi sederhana. Meski pada awalnya hanyalah sebuah alat yang sederhana, namun sesuai dengan tingkat manfaatnya, tentu alat ini makin populer di masyarakat dan terus dikembangkan.

Misalkan saja pesawat udara. Dulunya pesawat udara hanyalah sebuah alat sederhana yang diciptakan Wright bersaudara yang bermimpi menjadi manusia pertama yang bisa terbang seperti burung. Namun kini, penemuan Wright tersebut terus berkembang menjadi berbagai teknologi penerbangan. Mulai dari pesawat penumpang yang tak terpisahkan lagi dari kehidupan manusia sampai pesawat ulang-alik ke ruang angkasa.

Begitu juga pesawat telepon yang ditemukan pertama kali oleh Graham Bell. Dulu telepon hasil penemuan Graham Bell hanyalah sebuah alat sederhana agar manusia bisa berkomunikasi dengan manusia lain meski mereka dipisahkan oleh jarak yang jauh. Kini, telepon telah berkembang pesat dan bermutasi menjadi smart phone seperti yang kita saksikan dan kita gunakan saat ini. Telepon kini telah menjadi kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari.

Listrik dan bola lampu ketika ditemukan Alfa Edison hanyalah sebuah alat sederhana yang mampu menghasilkan energi dan cahaya. Kini tentu kita tak bisa dipisahkan lagi dari listrik dan lampu. Begitu juga komputer, dulu hanyalah sebuah alat sederhana yang berfungsi untuk menghitung (berasal dari kata compute = menghitung). Kini perkembangan komputer sungguh luar biasa.

Kemarin, Kamis (26/09/2013) , merupakan hari bersejarah bagi perkembangan Teknologi Tepat Guna di Indonesia, khususnya Sumatera Barat.  Menko Kesra Agung Laksono,Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, dan Menristek Gusti Muhammad Hatta atas nama Presiden RI meresmikan acara Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ke XV di komplek Stadion Agus Salim Padang.

Acara yang berlangsung selama 5 hari di Kawasan Stadion Agus Salim ini diikuti oleh utusan dari semua provinsi di Indonesia ini. Masing-masing daerah akan memamerkan berbagai hasil temuan teknologi tepat guna dan inovasi masing-masing. Ada banyak temuan-temuan baru yang mereka peragakan dan bisa dilihat langsung kehandalannya.

Kita berharap semoga temuan tersebut juga mampu menjadi cikal-bakal teknologi yang bermanfaat besar di masa datang. Acara ini terbuka untuk umum. Bagi masyarakat Sumbar, terutama pelajar, mahasiswa , kalangan perguruan tinggi serta msyarakat umum semoga iven ini memberi inspirasi bagi masyarakat atau para ilmuwan daerah ini untuk menemukan ide-ide kreatif untuk melakukan penemuan-penemuan baru. Amin. (November 2013)

31. Restoran Minang di Amerika

Restoran Minang di Amerika

 

Gaya hidup manusia yang makin sibuk, selalu berpacu dengan waktu, menyebabkan restoran cepat saji (fast food) tumbuh menjamur dimana-mana. Restoran cepat saji seperti Kentucky Fried Chicken (KFC), Mc Donal, Dunkin Donats dan sejumlah nama restoran lainnya tumbuh menjamur di berbagai negara di seluruh pelosok dunia. Fast food telah menjadi gaya hidup warga dunia.

Di belakangnya ada satu jenis restoran yang juga bisa tumbuh dan diterima di berbagai daerah, yaitu Restoran Minang yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Makan Padang. Di Indonesia, boleh disebut bahwa Restoran Minang telah menjadi tuan rumah di belahan manapun di negeri ini. Di berbagai negara, restoran Minang juga mulai terlihat muncul.

Dilihat dari cara penyajiannya, Restoran Minang bisa digolongkan ke dalam restoran fast food. Di Rumah Makan Minang, pengunjung bisa langsung menikmati makanan yang diinginkan dalam waktu singkat. Siap saji, cepat dan lezat, tentunya. Faktor ini merupakan salah satu alasan kenapa restoran Minang bisa diterima dimana-mana, termasuk di manca negara.

Tentu, faktor inilah yang membuat Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Pati Djalal menggagas dan mengajak pengusaha Minang untuk mendirikan Restoran Minang di negara pusat perekonomian dunia tersebut. Memang sejumlah restoran Minang telah berdiri di sejumlah kota di AS. Namun menurut putra Minang ini, restoran Minang yang ada masih untuk kalangan menengah ke bawah, masih dibutuhkan dan terbuka peluang untuk mendirikan restotan Minang untuk kalangan  menengah ke atas.

Berdasarkan pengalaman, menurut Dino, kalangan menengah dan atas Amerika Serikat juga sangat menyukai cita rasa masakan Minang yang spesifik. Saat berkunjung ke Indonesia, umumnya mereka memilih menu masakan Minang untuk dinikmati.  Para ekspatriat (warga Amerika yang bekerja di Indonesia) juga sudah terbiasa dengan suguhan masakan Minang.

Memang diperlukan sejumlah modifikasi tentunya, agar restoran Minang bisa diterima oleh kalangan atas Amerika bahkan di negara-negara maju manapun nantinya. Pertama adalah masalah standar kebersihan, baik cara pengolahan makanan, maupun kebersihan restoran. Kedua adalah masalah cara penyajian.

Cara penyajian yang perlu dimodifikasi adalah cara penyajian gulai (lauk-pauk) dan sayuran. Konsumen kalangan atas menginginkan, gulai, lauk-pauk atau sayur-mayur yang sudah dihidangkan tidak ditarik lagi, kemudian dihidangkan lagi ke pengunjung lain. Dalam pandangan kita orang Minang, hal ini tidak menjadi masalah dan merupakan hal biasa. Namun dalam kacamata masyarakat di negara-negara maju hal ini tidak sesuai dengan estetika dan dianggap tidak higienis. Jika memang cocok, berapapun harga yang harus dibayar, tak masalah bagi mereka.

Namun nampaknya untuk mengubah kebiasaan ini bukanlah masalah yang berat. Di sejumlah kota di Pulau Jawa, beberapa rumah makan Minang telah memodifikasi cara penyajian tersebut. Di rumah makan Minang tersebut, pengunjung memilih sendiri/memesan dulu menu yang mereka inginkan, baru dihidangkan. Dengan demikian, tidak ada makanan yang disajikan bolak-balik.

Restoran KFC yang sekarang berdiri megah di seluruh belahan dunia dulunya juga begitu. KFC didirikan oleh seorang lelaki dari keluarga miskin bernama Harland D Sanders, kelahiran tahun 1890. Awalnya, sekitar tahun 1930 ia hanya berjualan ayam goreng seperti biasa. Semua kesulitan, pengalaman pahit ia jalani dengan sabar. Namun dengan tekad baja, kemauan dan kerja keras ia menemukan ide untuk mengubah cara memasak ayam, penampilan restoran serta manejemen restorannya. Ia melakukan modifikasi, ia melakukan pembaruan dari kebiasaan yang ada.

Kini, meski Sanders tak ada lagi, restoran KFC telah mendunia dan dan tak pernah sepi pengunjung dimana-mana. Tak terhitung berapa keuntungan yang berhasil dikantongi waralaba KFC di seluruh dunia. Juga bisa dibayangkan berapa jumlah tenaga kerja yang bisa diserap dan multiply effect yang ditimbulkan oleh kehadiran KFC.

Restoran Minang, jika ditemukan formulasi dan manajemennya yang tepat, bukan tak mungkin mengikuti sejarah perjalanan KFC, dari Ranah Minang merambah Dunia. Siapa berminat? (November 2013)

32. Puasa vs Laju Inflasi

Puasa vs Laju Inflasi

 

Kita tentu sedih dan sedikit tersentak dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok serta kebutuhan sehari-hari pasca kenaikan harga Bahan Bakar minyak (BBM).  Harga barang-barang tersebut  sontak meningkat tajam. Hal serupa sebenarnya selalu terjadi setiap tahun di saat menjelang memasuki bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Namun tahun ini porsinya lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya karena bersamaan dengan peristiwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Beban tersebut tentu makin dirasakan masyarakat karena juga bersamaan dengan datangnya tahun ajaran baru. Para orang tua harus mengeluarkan biaya ekstra untuk biaya anak masuk sekolah atau kuliah, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Para orang tua juga harus menyisihkan sejumlah uang untuk beli buku, peralatan dan seragam sekolah.

Fenomena anomali tersebut memang selalu terjadi setiap tahun selama bulan Ramadhan (puasa). Di saat Allah menganjurkan kita untuk berpuasa, di saat kita hanya diperbolehkan makan dan minum di malam hari, justru pengeluaran keluarga di bulan puasa malah meningkat. Kaum ibu makin mengeluh karena uang belanja sehari-hari tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan  sehari-hari selama bulan Ramadhan.

Apa yang terjadi? Berdasarkan pengamatan lapangan, memang biasa terjadi penurunan jumlah penjualan beras selama bulan Ramadhan, karena umumnya masyarakat berpuasa. Namun terjadi kenaikan untuk membeli bahan makanan lain. Anggaran lauk pauk justru meningkat, anggaran untuk membeli pabukoan yang di hari-hari biasa tidak ada, di bulan puasa justru tinggi secara signifikan.

Maka makin pusinglah para ibu-ibu mengatur uang belanja dapurnya. Di sisi lain, otomatis berlaku hukum ekonomi. Jika permintaan meningkat, sementara persediaan barang terbatas, maka harga otomatis juga akan meningkat. Kondisi ini seperti bak kata pepatah: sudah jatuh ditimpa tangga. Harga barang-barang naik mengikuti kenaikan harga BBM, ditambah lagi dengan meningkatnya permintaan konsumen menyambut bulan puasa. Maka laju inflasi makin meninggi.

Lalu apa solusinya? Solusi yang termudah yang bisa kita lakukan saat ini adalah kembali ke konsep dasar puasa. Puasa kunci dasarnya adalah mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan sikap dan prilaku serta meningkatkan ibadah. Dengan mengendalikan hawa nafsu, terutama makan dan minum, insya Allah kita bisa mengendalikan membengkaknya kebutuhan belanja di bulan puasa dan pada akhirnya mampu menekan gejolak harga pasar dan pada akhirnya mampu menekan laju inflasi.

Fenomena bulan puasa yang terjadi selama ini sebaiknya perlu dikoreksi, puasa tidak lagi sekedar mengurangi konsumsi beras, namun meningkatkan konsumsi bahan makanan lain yang harga jualnya justru jauh lebih tinggi. Kita bisa memilih bahan makanan yang lebih murah, namun tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi terutama energi yang dibutuhkan.

Kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki dan banyak serta mewahnya makanan yang kita makan. Banyak orang yang kaya raya dan hartanya berlimpah tapi mereka tidak bahagia. Banyak juga orang yang menderita berbagai penyakit karena makan makanan serba mewah dan berlebihan. Di situlah letak pentingnya pengendalian diri, memperbanyak ibadah (selama bulan puasa) yang membuat jiwa selalu merasa tenang dan tentram.  Itulah hikmah berpuasa.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah akan menunjukkan berbagai jalan (subula) bagi orang-orang yang sabar dan bertaqwa.  (Juli 2013)

33. Terobosan Pemko Solok

Terobosan Pemko Solok

 

Terobosan yang dilakukan pemerintah Kota Solok di bawah kepemimpinan Irzal Ilyas patut diapresiasi dan diacungkan jempol. Untuk menarik minat masyarakat untuk berusaha dan berinvestasi pihak pemko menggratiskan pengurusan sejumlah izin di daerah ini.

Pengurusan izin yang digratiskan tersebut merupakan izin yang paling banyak dibutuhkan masyarakat, terutama pengusaha. Diantaranya adalah Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Industri (TDI) dan Tanda Daftar Gudang (TDG), (lihat Harian Padang Ekspres, Senin, 9 April 2012 hal 15).

Selama ini memang masalah perizinan inilah yang sering menjadi sandungan yang menyebabkan pengusaha, baik internasional, nasional maupun lokal Sumatera Barat, batal melakukan investasi. “Kami sering dipersulit dan dipimpong dalam mengurus izin,” ujar calon investor. Ujung-ujungnya harus mengeluarkan uang cukup besar hanya untuk mendapat izin-izin tersebut. Merasa dirugikan dan diperlakukan tidak wajar, mereka mengalihkan investasi ke daerah lain.

Coba bayangkan, untuk mengurus izin-izin saja, mereka sudah harus mengeluarkan biaya yang cukup besar dan prosedurnya berbelit-belit. Belum lagi biaya operasional dan biaya tenaga kerja yang tinggi di Sumatera Barat. Keruwetan itu masih ditambah lagi dengan masalah lahan (tanah ulayat) yang tak kunjung selesai. Akhirnya di level nasional maupun internasional, Sumbar dianggap sebagai provinsi yang kurang layak untuk investasi

Calon investor tentu rugi karena tidak bisa memanfaatkan peluang investasi yang ada di Sumatera Barat. Namun yang lebih rugi lagi adalah masyarakat Sumatera Barat dan pemerintah Sumatera Barat secara kelembagaan. Pemerintah kehilangan Pendapatan Asli Daerah (PAD), sedangkan masyarakat kehilangan sumber mata pencarian dan lapangan kerja. Bagi masyarakat lokal yang ingin membuka usaha, pintu untuk memperbaiki kehidupan ekonominya menjadi tertutup karena dipersulit

Agar ekonomi suatu daerah tumbuh dengan baik, jawabannya adalah investasi. Lihat saja tetangga kita Provinsi Riau, ekonomi daerah ini tumbuh secara fantastis. Meski Riau kaya minyak, tanpa masuk investasi baru, baik dari nasional maupun internasional, potensi yang berlimpah itu hanya akan terkubur di perut bumi dan tak kan berarti apa-apa.

Lalu bagaimana dengan Sumbar? Tentu kita sadar bahwa Sumbar tidak punya emas hitam yang berlimpah di perut buminya seperti Riau. Sumbar terlanjur dianggap daerah yang payah karena selalu bermasalah dengan lahan. Masih ada lagi, sulit mencari tenaga kerja di Sumbar dan mahal. Lalu apa yang bisa kita banggakan? Apa yang bisa kita tawarkan agar investor berpaling ke Sumbar dan menanamkan modalnya di sini.

Ada banyak hal yang harus kita perbaiki. Caranya, mulai dibenahi satu per satu sederet masalah yang membuat investor membuang muka tadi. Apa yang dilakukan Pemko Solok adalah awal yang tepat yang patut dicontoh daerah lain. Jika ada yang selama ini mempersulit investor, apalagi membebani mereka dengan biaya yang tidak logis, jelas ini merupakan tindakan yang keliru. Mari kita berubah, mari kita memperbaiki niat.

Mendagri bahkan telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah untuk pengurusan izin ini, yaitu PP no 19 tahun 2008. Dalam pasal 15 ayat 1 ditegaskan bahwa camat melaksanakan kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan oleh walikota/bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah yang meliputi aspek: a. perizinan, b. rekomendasi, c. koordinasi, d.pembinaan, e. pengawasan, dst.

Artinya, izin-izin yang selama ini dirasakan sangat ruwet, bisa diselesaikan dan disederhanakan, cukup sampai tingkat camat. Kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit? (November 2013)

34. Koperasi Kagawa

Koperasi Kagawa

 

Sebuah mobil pick up mini, secara pelan namun pasti,  memasuki sebuah gedung.  Di bagian belakang, di bak truk tersebut terlihat sebuah kantong besar terisi penuh.

Dengan sebuah katrol, kantong besar itu diangkat dari bak truk, isinya lalu ditumpahkan ke sebuah lubang menganga di lantai gedung. Ternyata isi kantong tersebut adalah padi yang baru saja siap di panen. Padi tersebut disetor petani Kagawa ke koperasi untuk selanjutnya diolah dan disimpan.

Berikutnya sejumlah mobil sejenis juga melakukan hal yang sama.  Kantong besar yang ada di bak belakang mobil diangkat melalui sebuah katrol, otomatis di layar monitor terlihat total berat padi tersebut. Padi tersebut kembali ditumpahkan untuk selanjutnya masuk ke dalam mesin prosesing padi raksana milik koperasi Hounan Kagawa. Begitu selanjutnya. Dalam pembukuannya, petugas akan mencatat nama pemilik padi dan jumlah padi yang disetor.

Begitulah mekanisme penanganan pascapanen yang diterapkan di koperasi Hounan Kagawa, sebuah provinsi di wilayah barat Jepang. Jika panen padi sudah datang, sebuah mesin yang populer dengan sebutan combine di kirim le lahan sawah yang siap panen. Mesin ini bisa langsung mengarit padi dan merontok padi sekaligus. Mesin itu juga bertugas mencincang jerami padi sekaligus, lalu menebarnya secara merata di sawah. Sebuah mesin dengan hanya 1 orang operator ini bisa mengerjakan sekitar 5 hektar sawah per hari. Secara manual pekerjaan ini butuh 50 orang pekerja.

Padi yang sudah bersih inilah yang di salin ke kantong besar di bak truk mini tadi. Padi ini lalu disetor oleh petani ke gudang koperasi.

Tak sia-sia petani setempat menyetor hasil pertanian mereka ke koperasi. Di koperasi semua dikerjakan secara profesional, baik secara administratif, maupun teknologi.  Padi tadi sebelum disimpan dikeringkan dengan mesin pengering besar milik koperasi. Jadi takkan terlihat ada petani menjemur padi di tikar di pinggir jalan atau di lantai tembok di depan penggilingan padi seperti yang biasa kita lihat.

Tak sembarangan, kadar air, kelembapan dan suhu padi tersebut selalu dikontrol secara teliti. Operator penyimpanan padi bisa mengetahui semua itu melalui panel-panel kontrol yang terdapat di ruang kontrol. Lima silo raksasa milik Koperasi Hounan Kagawa mampu menampung 250 ton padi.

Sebagian padi tersebut lalu diseleksi dan dikemas untuk dijadikan bibit. Sebagian lainnya dijadikan beras dalam kemasan khusus  untuk disuplai ke sejumlah supermarket milik Hounan Kagawa atau restoran yang tergabung dalam grup Hounan.

Jadi, tak heran jika beras Jepang enak rasanya, konon paling enak di dunia. Penanganan padi secara serius telah dilakukan petani sejak dari pembibitan. Bibit yang ditanam adalah benar-benar bibit yang bermutu, telah teruji kualitas dan produktifitasnya.  Penanganan pascapanen juga dilakukan secara baik, terkontrol cara pengolahan dan penyimpanannya.

Peran koperasi di sini sangat menonjol. Koperasi di sini dimenej dengan baik dan profesional, berperan dalam usaha tani mulai dari hulu sampai hilir. Sebelum turun ke sawah, koperasi sudah menyiapkan kompos, pupuk dan bibit. Mesin-mesin pertanian juga lengkap tersedia, ini merupakan unit usaha jasa koperasi.

Setelah panen, koperasi juga menampung produk petani, baik berupa padi, sayur, buah, bunga, buah-buahan sampai telur, susu dan daging. Petani tak perlu pusing memikirkan masalah transpotasi, karena koperasi memiliki unit usaha transportasi. Ada ratusan tronton khusus berpendingin milik koperasi yang siap mengangkut dan mendistribusikan produk petani kemana saja.

Para peternak juga tak perlu kuatir untuk mengolah produknya. Ada rumah potong hewan, pegolahan susu, atau pengepakan telur milik grup koperasi. Produk mereka bisa disalurkan ke lembaga ini, diproses, dikemas, lalu didistribusikan.

Kekurangan modal? Jangan kuatir, koperasi juga memiliki lembaga keuangan, unit usaha simpan pinjam. Anggota koperasi bisa meminjam uang di sini dengan bunga yang sangat rendah. Di sejumlah tempat strategis di Kagawa telihat sejumlah ATM milik koperasi JA Kagawa. Hal ini tentu saja memperlihatkan bonafiditas mereka.

Karena bunga pinjaman di Jepang rendah, pihak koperasi sedang melirik negara lain untuk meminjamkan uang mereka. Tentu saja dengan bunga yang lebih tinggi dibanding yang berlaku di Jepang, namun masih lebih rendah dibanding yang berlaku di negara setempat.

Tak hanya itu, koperasi juga menjalankan fungsi sosial. Perkawinan, kelahiran anak, sakit sampai kematian, jika ia termasuk anggota koperasi, semua diurus oleh koperasi. Urusan A sampai Z semua diurus oleh koperasi.

Menurut sejarah Jepang, koperasi (kumiai) di Jepang pertama kali lahir pada tahun 1897. Tapi baru pada tahun 1920 an gerakan koperasi nampak menonjol dan membesar. Pada tahun 1921 koperasi Nada dan Koperasi Kobe didirikan dan dipimpin oleh Toyohiko Kagawa, pada tahun 1961 tergabung dalam koperasi Kobe.

Ada tujuh prinsip koperasi yang diterapkan Toyohiko Kagawa, yaitu 1. pembagian keuntungan yang saling menguntungkan, 2. perekonomian yang manusiawi, 3. pembagian modal, 4. pembatasan eksploitasi, 5. desentralisasi kekuasaan, 6. kenetralan politik dan 7. menekankan segi pendidikan.

Didukung oleh disiplin, semangat kerja keras,  koperasi di Jepang terus berkembang. Dengan koperasi, unit usaha raksasa dan strategis bukan milik pribadi atau sekelompok kecil orang, tapi milik bersama, dinikmati secara bersama pula.

Uniknya meski koperasi berkembang pesat, di Jepang tak ada Departemen Koperasi atau Dinas Koperasi. Sebagai penghargaan atas jasanya, Toyohiko Kagawa dikenang sebagai Bapak Gerakan Koperasi Jepang. (Oktober 2010)

35. Pentingnya Investasi

Pentingnya Investasi

 

Ketika acara Penganugerahan Regional Champion untuk Penanaman Modal, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyampaikan tentang pertumbuhan ekonomi yang dapat mengurangi kemiskinan, pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan. Beliau menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai melalui : 1. Konsumsi, 2. APBN dan APBD, 3. Selisih nilai ekspor dan impor, dan 4. Investasi.

Selama ini tingkat konsumsi yang berasal dari rumah tangga cukup tinggi sehingga turut menyumbang pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh membaiknya perekonomian, inflasi yang stabil, hingga daya beli masyarakat meningkat.

Adapun dana APBN dan APBD, penetapannya melalui mekanisme yang cukup panjang antara pihak eksekutif dengan legislatif.  Besarannya pun sudah dipatok, jika ditingkatkan tidak bisa berubah drastis. Namun alokasinya yang tepat akan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkualitas, yaitu mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Sementara selisih ekspor dengan impor, perlu kerja keras untuk mencapai selisih positif.

Banyak faktor yang mempengaruhi selisih ekspor dengan impor ini. Komoditi yang dieksporpun selama ini berasal  dari sumberdaya alam dan hasil pertanian/perkebunan. Untuk ekspor hasil pertanian/perkebunan, beberapa komoditi membutuhkan waktu dari sejak ditanam sampai bisa dipanen untuk diekspor.

Sementara investasi, sangat tergantung kepada daerah tempat investasi akan ditawarkan.  Investasi ini nilainya bisa diciptakan oleh Pemda, bisa tinggi atau rendah. Tergantung keseriusan Pemda untuk menciptakannya. Berbeda dengan konsumsi, APBN/APBD dan selisih ekspor dengan impor.

Sedikitnya ada 4 faktor yang berpengaruh dalam menarik investasi, yaitu : 1. Keamanan, 2. Kemudahan urusan, 3. Peraturan yang konsisten dan memudahkan, serta 4. Infrastruktur. Yang dimaksud dengan keamanan adalah masalah ketertiban sosial yang mendukung dan menjamin berjalannya investasi dengan aman. Sementara yang dimaksud dengan kemudahan urusan adalah tidak mempersulit investor dan memberikan kemudahan agar urusannya lancar sehingga ekonomi daerah bisa bergerak lebih baik setelah investasi masuk. Sedangkan yang dimaksud dengan peraturan yang konsisten adalah mendukung peraturan yang sudah ada di pusat, sekaligus mempermudah pelaksanaan aturan tersebut. Bukan sebaliknya, investor dibuat pusing dengan adanya peraturan pusat dan perturan daerah yang bertolak belakang. Sementara infrastruktur, termasuk jalan tetap mengacu kepada peraturan pusat.Tentunya masih dibutuhkan dana untuk menambah/memperbaiki infrastruktur di Sumbar dalam rangka menarik investor.

Investasi menjadi celah bagi Pemda untuk memaksimalkan pengelolaaan potensi ekonomi di daerahnya. Investasi akan berperan menunjang pertumbuhan ekonomi di daerah. Untuk meningkatkan investasi maka dibutuhkan beberapa hal, di antaranya promosi, data yang lengkap, aksi jemput bola kepada investor potensial baik di dalam dan luar negeri, dan pemberian kemudahan.

Untuk hai itu, maka peran Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di tingkat pusat dan daerah menjadi penting untuk mengatur dan mengkoordinasikan masalah investasi ini, serta memberikan pelayanan yang baik kepada investor. BKPM berperan penting memotivasi Pemda untuk menarik investasi. Daerah yang mampu berinovasi dan berprestasi akan mendapat penghargaan, salah satu yang diganjar penghargaan adalah PTSP (pelayanan terpadu satu pintu).

Untuk menyambut investasi maka daerah perlu membenahi organisasi, manajemen, pendataan dan informasi, menyiapkan kemudahan, melakukan sinergi provinsi dengan kabupaten/kota., dan juga mensiasati masalah krusial seperti tanah ulayat. Diperlukan terobosan agar keberadaan tanah ulayat tidak menjadi beban untuk menarik investasi.

Investasi menjadi penting bagi Pemda. Ini karena alokasi dari APBN dan APBD memiliki keterbatasan. Pemda dapat memanfaatkan investasi sebagai instrumen untuk mensejahterakan rakyat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jika terjadi masalah di lapangan, Insya Allah bisa dicarikan solusinya jika dilakukan dengan kesungguhan. Sebagai contoh, kasus tanah ulayat.

Investor Belanda yang masuk ke Sumbar mengajak pemilik tanah ulayat bekerjasama menggarap tanah mereka. Masyarakat pemilik tanah diajak menanam teh. Mereka disediakan bibit dan pupuk dan hasilnya akan dibeli oleh investor Belanda.  Dengan demikian terjadi simbiosis mutualisme (hubungan saling menguntungkan) dan biaya sosial pun bisa diperkecil bahkan tidak dikeluarkan oleh investor. Sistem sewa, bagi hasil, plasma inti adalah sebagian dari cara menyelesaikan masalah investor dengan pemilih tanah.

Sementara itu, karakter investasi di Sumbar memang tidak bisa seperti di pulau Jawa yang bisa dengan sistem padat karya dengan merekrut pekerja informal (buruh).  Ini bisa dilihat dari tidak adanya industri besar di Sumbar yang penuh dengan pekerja informal. Investasi di Sumbar diarahlan untuk sektor pertambangan, migas dan panas bumi. Adapun perkebunan diarahkan kepada perkebunan rakyat atau plasma. Sementara industri diarahkan kepada industri rumah tangga (home industry).

Dengan demikian, seluruh sektor yang menyumbang pertumbuhan ekonomi harus dimaksimalkan, yaitu konsumsi, APBN/APBD, selisih ekspor dengan impor dan investasi. Investasi menjadi tantangan karena sebenarnya ia tergantung Pemda untuk menciptakannya. Dan peluang menciptakan investasi ini nilainya bisa jauh melampaui nilai APBN/APBD provinsi. Diharapkan semakin besar nilai investasi maka akan semakin besar pula manfaat yang bisa dirasakan rakyat baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

36. Rendang Mendunia

Rendang Mendunia

 

Tiba-tiba saja rendang Padang menjadi makanan paling lezat di dunia. Hal ini dinyatakan dalam polling CNNgo.com. CNN sendiri adalah sebuah stasiun televisi yang berbasis di Amerika Serikat.

Sementara CNNgo.com adalah bagian dari CNN yang mengeksplorasi berbagai keunikan di dunia. Sebelumnya, kita mungkin tidak menyangka bahwa rendang Padang bakal menjadi makanan terlezat meskipun kelezatannya sudah diketahui sejak lama. Di balik itu, tentu ada hal yang melatarbelakanginya.

Di mancanegara, ternyata rendang Padang sudah tersebar kepopulerannya di berbagai belahan dunia. Misalnya saja di Belanda dan Eropa. Mereka yang mempopulerkan Rendang Padang di antaranya adalah para koki, termasuk ahli masak yang sudah dikenal di Indonesia yaitu William Wongso.

William Wongso termasuk orang yang giat mempromosikan rendang Padang baik disajikan bagi warga asing maupun ketika mengisi berbagai seminar, bahkan dirinya ketika melatih para koki dan juru masak luar negeri juga memperkenalkan rendang Padang sebagai makanan yang harus dicoba.

Kepada penulis William Wongso menceritakan bahwa baru-baru ini di Belanda, ia melatih koki restoran. Dia juga menceritakan bahwa dalam berbagai acara pertemuan kenegaraan, rendang Padang merupakan salah satu makanan yang tersaji untuk para tamu. Maka tak heran rendang Padang menjadi terkenal. Bahkan kabarnya banyak yang tergila-gila, makan batambuah-tambuah dek randang.

Demikian juga para koki yang dilatih itu, mereka makan batambuah dan bahkan makan rendang Padang tanpa nasi. Sementara tamu dalam suatu acara kenegaraan rela antre di kounter Rendang Padang meskipun ada kounter lain yang menyediakan menu lain.
Maskapai Garuda Indonesia juga termasuk yang giat mempromosikan rendang Padang, baik melalui pameran travel internasional maupun menjadi menu penumpangnya baik rute domestik maupun rute internasional. Ini merupakan bentuk promosi dan juga penghargaan kepada rendang Padang sebagai makanan yang bisa diterima oleh lidah berbagai macam orang.

Peristiwa ini (penobatan sebagai makanan terlezat di dunia) tentu saja bisa terjadi dan akan terjaga terus bila yang memasak Rendang Padang menjaga kualitas dan sesuai dengan tradisi turun temurun orang Minang.

Semoga polling CNNgo.com tersebut menjadi peluang bagi orang Minang untuk mengembangkan bisnis kuliner dengan tetap menjaga kualitas dan juga packaging yang menarik dan berkualitas.

Penamaan rendang Padang oleh para ahli kuliner dan juga masyarakat Indonesia yang sudah meluas ini semoga juga bisa diterima oleh masyarakat Minang sebagai bagian dari menjaga orisinalitas dan juga promosi pariwisata Sumbar. Dan sudah saatnya melakukan pembenahan bagi pelaku bisnis rendang sehingga makanan terlezat ini di tingkat wilayah dan nasional juga bisa bersaing dengan makanan luar negeri semisal fried chicken, pizza, masakan Jepang dan makanan luar negeri lainnya.

Menurut Hermawan Kertajaya sebuah produk itu akan selalu digemari dan dicari bila mampu melakukan positioning, differentiation dan branding. Dengan inilah insya Allah Rendang Padang mampu mendunia. Setidaknya ini bisa dilihat di Belanda yang telah menjual Rendang Padang buatan orang Indonesia. (September 2011)

37. Sekali Lagi Tentang Rendang

Sekali Lagi Tentang Rendang

 

Sekali tentang rendang, warisan ibunda kita. Salam hormat untuk beliau yang telah memberi kita masakan terlezat dan diakui dunia. Dari dapur para ibu kita itulah, Sumatera Barat mengguncang dunia. Luar biasa.

Adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat Minang karena Rendang Padang dijadikan sebagai makanan terlezat di dunia versi CNNgo.com. Harian Singgalang kemudian menurunkan liputan berseri soal rendang tersebut. Ini sebuah apresiasi atas kekayaan kuliner Ranah Minang. Tentu kebanggaan dan apresiasi tersebut harus ditindaklanjuti dalam bentuk berbagai kebijakan dan program agar kebanggaan tersebut tetap terasa bagi masyarakat Minang di seluruh dunia.

Rendang Padang merupakan warisan tradisi kuliner di Sumbar walaupun masing-masing daerah memiliki sentuhan serta cita rasa tersendiri jika diamati secara detil. Rendang Padang sudah menjadi makanan orang Indonesia sehingga tidak hanya orang Minang saja yang bisa membuatnya tapi juga orang di Malaysia atau Singapura.

Dengan nama Rendang yang telah dinilai sebagai makanan terlezat tentu kita selaku “produsen” mengharapkan tidak akan mengecewakan konsumen penikmat Rendang Padang.

Karena itu kami mengimbau kepada masyarakat yang membuat Rendang Padang untuk dijual ke publik melalui restoran/rumah makan di seluruh Indonesia dan dunia maupun dijual melalui catering dan juga yang dijual untuk kepentingan umum lainnya.

Seyogyanya mereka betul-betul komitmen dan konsisten dalam membuat Rendang Padang sehingga rasanya tidak mengecewakan konsumen sesuai harapan peserta polling dan pengunjung CNNgo.com, pemirsa CNN dan juga masyarakat dunia.

Sebagai contoh, memasak Rendang Padang memakan waktu lebih kurang 4 jam, lalu sebagian orang ingin praktis dan cepat maka dimasaklah dengan tidak mengikuti kaidah waktu dan ketentuan yang sudah ada. Akibatnya rasanya kurang enak dan bentuknya kurang bagus.

Rendang Padang menjadi terkenal di dunia karena memang kelezatan santan kelapa yang dimasak dari mulai warnanya putih kemudian berubah kuning kemudian coklat hingga kehitaman sehingga menimbulkan aroma yang lezat tiada bandingnya.
Rasa dan aroma inilah yang merupakan khas Rendang Padang.

Penulis menyebut Rendang Padang untuk membedakan dengan rendang yang lain, termasuk yang dari Malaysia. Penyebutan ini telah lazim di Indonesia. Untuk skala dunia penyebutan ini juga bermakna sebagai benteng kekayaan kuliner Indonesia. Rendang Padang inilah yang diakui pemirsa CNN sebagai makanan terlezat di dunia meskipun tertulis hanya “Rendang dari Indonesia.” Para ahli kuliner juga menyebut Rendang Padang sebagai cara untuk menjaga orisinalitasnya.

Rendang Padang juga bisa disebut sebagai makanan khas Indonesia karena Rendang Padang sudah dikenal oleh seluruh rakyat Indonesia. Sekaligus merupakan produk asli dari Indonesia yaitu Sumatra Barat. Tidak ada orang Indonesia yang tidak kenal dengan Rendang Padang, selain karena adanya restoran/rumah makan padang di berbagai wilayah yang menyebabkan kepopulerannya juga karena sudah dibuat oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Kami melihat peluang besar, khususnya bagi masyarakat Minang, untuk membuka peluang usaha dan juga masyarakat dunia.

Ini perlu dijadikan momentum besar agar Rendang Padang bisa menjadi produk industri besar yang siap diekspor karena mampu bertahan sekian bulan dibanding makanan negara lain di dunia. (Oktober 2011)

38. BUM Nagari

BUM Nagari

 

Ketika membaca judul tulisan Sutan Zaili Asril di Padang Ekspres edisi 2 Oktober 2011, Badan Usaha Milik Nagari, yang terlintas dalam pikiran penulis adalah bayangan sebuah nagari yang maju, terutama perekonomiannya. Mengapa demikian? Karena Badan Usaha Milik Nagari (selanjutnya disingkat BUM Nagari) tidak semudah yang dibayangkan untuk mendirikannya. Dibutuhkan sumber daya manusia profesional dan modal yang cukup.
Namun, setelah membaca tulisan beliau secara utuh, barulah diketahui maksud sebenarnya. Bahwa kemungkinan sulitnya BUM Nagari terealisasi ternyata justru menjadi sebuah hal yang mudah dan realistis, bahkan sangat dibutuhkan keberadaannya. Beliau secara pas menilai karakter orang Minang, jenis usaha orang Minang dan sekaligus kekurangan yang dimiliki pengusaha Minang.

Beliau mengenal betul karakter orang Minang yang tidak mudah menjadi bawahan, bahkan cenderung untuk menjadi pemimpin. Maka, menjadikan pengusaha Minang tetap sebagai pemimpin dalam usahanya akan mengoptimalkan usaha yang dijalankannya. BUM Nagari tidak menjadikan pengusaha Minang sebagai bawahan, akan tetapi sebagai mitra. Dengan demikian, BUM Nagari ini secara administrasi tidak memiliki karyawan (bawahan), namun faktanya memiliki karyawan (para pemimpin), yaitu pengusaha Minang itu sendiri. Dengan demikian, BUM Nagari mengapresiasi pengusaha Minang sebagai pemimpin di tempat usahanya sendiri.

Beliau pun tepat menilai usaha pengusaha Minang yang bergerak di sektor usaha mikro kecil menengah. Usaha mikro kecil menengah mayoritas digeluti oleh masyarakat Minang. Berbagai sektor usaha mikro kecil menengah seperti kripik balado, kripik jangek, nasi kapau, sala lauak, kripik teri, pandai besi, bordir, pandai emas, tekstil, anyaman, kerajinan dan lain-lain merupakan ciri khas yang ada di masing-masing nagari. Semua kegiatan tersebut tepat dilakukan dalam bentuk usaha mikro kecil menengah. Pengusaha Minang agak sulit bergerak di usaha besar, karena sulit memenuhi syarat permodalan, sumber daya manusia dan mekanisasi.

Beliau juga tepat menilai pengusaha Minang dalam hal kemampuan manajerial. Kurangnya kemampuan dalam hal manajemen perusahaan yaitu manajemen sumber daya manusia, keuangan dan pemasaran menyebabkan usaha yang dipegang pengusaha Minang tidak berkembang. BUM Nagari hadir untuk membantu mengatasi kekurangan tersebut melalui pelatihan, pembinaan dan pengarahan.

BUM Nagari dapat berperan menjadi fasilitator terhadap berbagai usaha yang dijalankan masyarakat nagari dan bisa mengisi kekosongan atau ketidakmampuan usaha masyarakat nagari dalam mengembangkan usahanya. Misalnya, BUM Nagari dapat membeli bahan baku dalam jumlah besar dengan harga murah dan didistribusikan kepada masyarakat mitranya, sehingga mampu menekan biaya input agar masyarakat mendapatkan keuntungan optimal. Dengan cara ini, BUM Nagari dapat membeli bahan baku yang murah dan berkualitas bagi mitranya. BUM Nagari juga dapat mengumpulkan pengusaha di nagari untuk dibina mengelola usaha, sehingga usaha mereka efektif dan efisien dan mampu menghasilkan keuntungan.

BUM Nagari juga memiliki kemampuan memasarkan produk mitranya ke berbagai tempat yang prospektif baik di luar nagari atau di luar negeri dengan membuat gerai atau toko baik fisik maupun di dunia maya. Dengan demikian, produk mitra berhasil dipasarkan dengan baik dan mendapat respons yang bagus dari konsumen yang ditunjukkan dengan meningkatnya omzet penjualan. Masyarakat nagari akan tumbuh produktifitasnya dengan dibantu BUM Nagari.

BUM Nagari pun dapat mencarikan modal atau memediasi mitranya untuk mendapatkan modal dari lembaga keuangan (bank), misalnya KUR, KUPS, KKPE, dan KPNRP. Tentunya sesuai dengan aturan yang ada. Bantuan modal via BMT (baitul mal wat tamwil) juga bisa didapatkan karena BUM Nagari dapat menjadi pemberi rekomendasi dan jaminan terhadap pinjaman mitra untuk dapat dipercaya oleh lembaga keuangan yang akan menyalurkan modal. BUM Nagari tentunya mengetahui dengan pasti kelayakan dan karakter mitranya yang akan mengajukan bantuan.

Dengan demikian, maka hendaknya BUM Nagari menjadi sebuah kebutuhan walaupun mengawalinya tidak harus dalam bentuk PT atau perusahaan, akan tetapi bisa berbentuk koperasi, BMT, LKMA dan organisasi yang sudah ada di nagari tersebut, seperti organisasi masjid.

Perlu proses pembelajaran untuk mengawali munculnya BUM Nagari ini dengan memulai dari hal kecil terlebih dahulu, sehingga akan membentuk jiwa profesional yang lebih matang. Untuk itu, wali nagari dan bamus nagari harus mulai merintis dan melakukan inisiatif untuk mengawali kemunculan BUM Nagari agar dapat memenuhi dan mengatasi kekurangan pengusaha di nagari.

Betul yang ditulis beliau, BUM Nagari tidak perlu pabrik dan karyawan, tapi bisa menghasilkan untung. Nagari akan maju, dan rakyatnya bisa sejahtera. Insya Allah hal ini akan menjadi kenyataan apabila semua pihak mendukung. (Oktober 2011)

39. Anggaran untuk Kesejahteraan Rakyat

Anggaran untuk Kesejahteraan Rakyat

                                                                                           

Tujuan adanya peme­rinta­han adalah untuk men­sejah­terakan rakyatnya. Ini ter­tuang baik dalam UUD Ne­gara Republik Indonesia tahun 1945 maupun undang-undang turunannya, bahkan merupakan semangat dari para pejuang kemerdekaan untuk mensejahterakan rak­yat ketika suatu saat kemerdekaan telah diraih.  Namun setelah 66 tahun usia kemerdekaan, harapan itu belum bisa maksimal dilaksanakan.

Untuk itu perlu usaha dan strategi yang tepat oleh pemerintah untuk mensejahterakan rakyat­nya. Jika merujuk kepada APBD provinsi/kabu­paten/kota, tampak jelas bahwa anggaran untuk mensejahterakan rakyat memiliki keterba­tasan. Bahkan APBD kabupaten/kota ada yang lebih dari 60 persen hingga 75 persen dialoka­sikan untuk pegawai dan bukan untuk kesejah­teraan rakyat.

Namun demikian APBD provinsi masih memiliki ruang yang besar untuk pense­jahteraan rakyat. Meskipun demikian, tetap masih terbatas karena penduduk Sumbar sekitar hampir 10 persen atau 400 ribu orang yang masih miskin. Tentu diperlukan program-program yang efektif dengan anggaran terbatas agar mampu mensejahterakan rakyat.

Oleh karena itu anggaran yang tidak efektif, mubazir, berbagai program yang tidak tepat sasaran dan juga anggaran infrastruktur yang tidak berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi sebaiknya ditiadakan.

Program pensejahteraan rakyat menjadi fokus yang langsung menge­na pada masyarakat miskin, petani, nelayan, pedagang dan pengusaha UMKM. Oleh karenanya, program yang langsung mensejahterakan tersebut perlu dipikirkan bagi daerah dengan kemampuan yang dimilikinya.

Dengan demikian, muncullah program gerakan pensejahteraan petani, gerakan pensejahteraan nelayan, gerakan peningkatan kese­jahteraan usaha mikro dan menengah dan beberapa program lain seperti Satu Petani Satu Sapi.

Program-program ini membutuh­kan anggaran yang cukup besar. Namun karena dana terbatas maka dialokasikan secara bertahap setiap tahun. Target yang diambil selektif dengan referensi dari nagari dan kabupaten sehingga program pense­jahteraan rakyat mendapatkan penerimaan yang tepat dan berhasil.

Agar tidak mengulang kegagalan di tingkat nasional dan daerah, untuk penyaluran bantuan ke masyarakat diperlukan pemilihan penerima program secara selektif dan profe­sional serta terlepas dari berbagai kepentingan termasuk politik, keluarga dan kelompok. Kedekatan kepentingan tersebut akan membe­narkan bahwa pemilihan penerima tidak tepat dan akan gagal.

Memang program pesenjahteraan rakyat ini tidak mungkin dapat dilihat hasilnya dalam satu-dua tahun ke depan, akan tetapi hasilnya bisa dilihat beberapa tahun ke depan. Program pensejahteraan rakyat bukan program pembangunan infra­struktur seperti jalan, irigasi yang bisa dilihat wujudnya dalam satu-dua tahun.

Dengan anggaran yang terbatas, maka pemerintah dituntut berpikir kreatif dan mencari sumber anggaran dari APBN, investor dan orang rantau. Dengan pendekatan kreatif ini maka anggaran pensejahteraan rakyat dapat mencakup masyarakat yang lebih luas sehingga target penerima program lebih banyak.

Untuk itu, agar berhasil, diper­lukan partisipasi rakyat, bupati, walikota, kepada dinas, wali nagari, masyarakat dan orang rantau. Kami melihat program pensejahteraan rakyat merupakan prioritas, mampu dilaksanakan, serta tepat langsung mengarah kepada rakyat miskin. Alhamdulillah, berdasarkan kajian Bank Indonesia Sumbar berhasil mengentaskan kemiskinan. (September 2011)

40. Pertumbuhan Berkeadilan

Pertumbuhan Berkeadilan

 

Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang telah umum digunakan untuk melihat kondisi ekonomi suatu wilayah. Semakin tinggi angka pertumbuhan (hingga batas tertentu) dipandang sebagai prestasi. Semakin tinggi investasi akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Demikian pendapat yang berkembang selama ini.

Dari segi pemerataan, dibutuhkan pertumbuhan ekonomi berkeadilan, yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Pertumbuhan ekonomi tinggi belum tentu terjadi pemerataan kesejahteraan.

Investasi tinggi yang menyumbang pertumbuhan ekonomi mungkin bisa saja memunculkan pemilik modal yang semakin kaya dan buruh yang hanya hidup sedikit di atas garis kemiskinan. Buruh tidak bisa mensejahterakan diri dan keluarganya dengan baik. Kue hasil pertumbuhan menjadi tidak terdistribusi merata.

Untuk itu, pendekatan yang diambil untuk terwujudnya pertumbuhan berkeadilan adalah memberdayakan masyarakat agar hidup mereka bisa lebih sejahtera.
Pemberdayaan ini dilakukan dengan memberikan bantuan modal berupa KUR, KUPS dan lainnya kepada masyarakat. Para perantau bisa juga memberikan bantuan modal bagi saudara mereka di kampungnya. Atau para investor memberikan bantuan modal kepada industri rumah tangga.

Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah jumlahnya 99 persen dari pelaku usaha di Indonesia. Mereka membutuhkan bantuan modal yang layak untuk usahanya.
Bukan pinjaman dari rentenir yang sering mencekik leher karena dikenakan bunga tinggi. Meskipun pelaku UMKM mampu membayar pinjaman dan bunga kepada rentenir, tapi keun-tungan mereka tergerus.

Bantuan KUR bunganya hanya sekitar 1 persen per bulan. Jauh lebih ringan dari rentenir. Hasil usaha pun bisa lebih banyak dirasakan manfaatnya baik untuk ditabung, diinvestasikan kembali atau untuk lainnya.

Dari hasil pengamatan penulis, para pelaku UMKM ini mengembalikan pinjaman mereka tepat waktu. Meskipun di mata bank mereka tidak layak, namun dengan bantuan dari KUR dan cara mereka mengembalikan pinjaman, sesungguhnya merekalah yang layak dapat pinjaman dari bank.

Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan, para pelaku UMKM ini pengembalian pinjamannya lancar dan tidak macet. Informasi dari Bank Nagari, jumlah kredit macet untuk debitur KUR ini hanya 0,8 persen.

Para pelaku UMKM yang mendapat bantuan dari pemerintah terbukti lebih berdaya tingkat ekonominya. Banyak dari mereka yang sebenarnya sudah memenuhi syarat pinjaman bank, namun mengalami kebuntuan.

Sudah saatnya pihak bank melakukan jemput bola untuk mendatangi para pelaku UMKM ini yang sudah terbukti mampu mengembalikan pinjaman, kredit macetnya rendah, dan memiliki rekam jejak sebagai pelaku UMKM bertahun-tahun. Insya Allah bank akan beruntung mendapatkan nasabah seperti ini.

Memberdayakan masyarakat dengan memberikan bantuan langsung kepada mereka adalah jalan menuju tercapainya pertumbuhan ekonomi berkeadilan. Karena mereka mendapatkan bantuan dan merasakan langsung hasil dari usaha mereka.

Daya beli masyarakatpun akan meningkat dan sektor riil akan bergerak. Pertumbuhan ekonomi berkeadilan bisa saja angkanya tidak tinggi, namun boleh jadi dari segi pemerataan masyarakat banyak mendapat manfaatnya langsung sehingga mampu menggerakkan perekonomian. (Oktober 2012)

 

BAB 3  INSPIRASI DI BIDANG PENDIDIKAN

41. Generasi Emas Indonesia

Generasi Emas Indonesia

Pernahkah anda menonton pertandingan sepakbola? Sebagian besar masyarakat dunia adalah penggemar sepakbola, termasuk Indonesia. Pekan ini layar televisi disemarakkan oleh kompetisi sepakbola Euro 2012. Sepakbola menjadi tema yang ramai dibicarakan.

Permainan sepakbola biasanya memiliki komponen-komponen sebagai berikut : pemain, wasit, pelatih, penonton dan aturan permainan.

Dinamika kehidupan di dunia bisa diumpamakan seperti sebuah permainan sepakbola. Ada komponen pemain, yaitu aktor atau pelaku dalam kehidupan ini. Peran wasit dalam tatanan kehidupan diperankan oleh aparat penegak hukum. Ia berfungsi mengawasi dan mengontrol dinamika dalam masyarakat sehingga berjalan baik.  Aturan permainan (role play) dalam kehidupan sehari-hari bisa diumpamakan sebagai hukum, undang-undang  serta aturan-aturan lainnya. Sedangkan komponen penonton bisa diumpamakan sebagai masyarakat umum yang dominan berfungsi sebagai penilai, evaluator  terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam pertandingan atau permainan tadi.

Pemain sepakbola yang mampu menampilkan prestasi yang baik dan karakter yang baik, biasanya akan mendapat tempat di hati penonton, bahkan jadi idola. Ia dipuja dan dielu-elukan di setiap pertandingan. Rezki tentu segera akan mengikutinya. Nilai kontraknya menjadi meningkat, tawaran pertandingan atau tampil sebagai bintang iklan datang bertubi-tubi.

Kenapa muncul pemain/aktor yang baik, kenapa pula ada pemain yang tidak baik? Kenapa di Indonesia muncul tokoh seperti Bung Hatta atau di India seperti Mahatma Gandhi? Atau sebaliknya kenapa muncul tokoh-tokoh jahat yang melakukan pembunuhan, pencurian, perkosaan, korupsi dan berbagai kasus lainnya?

Jika kita kembali kepada sepakbola tadi, seorang bintang sepakbola lahir karena ia dilatih secara profesional, baik fisik maupun mental, ia dilatih untuk terbiasa. Talenta yang dimiliki seseorang membuat ia cepat mencuat menjadi bintang. Namun hal sebaliknya akan terjadi jika ia tidak berlatih dengan dan tidak memiliki mentalitas/karakter yang baik.

Dulu para ahli berpendapat bahwa IQ (intelligence quotient) atau kecerdasan seseorang, adalah penentu utama kesuksesan seseorang dalam kehidupan. Namun kemudian terbukti bahwa banyak orang yang memiliki kecerdasan tinggi, namun tidak sukses dalam hidup atau karir.

Belakangan diakui bahwa justru EQ (emotional quotient ) atau SQ (spritual quotient) yang lebih menentukan keberhasilan seseorang. Para ahli sepakat bahwa keberhasilan seseorang sebanyak 80% dipengaruhi EQ/SQ,  hanya 20% saja dipengaruhi oleh IQ.

Fakta inilah yang menyebabkan pendidikan karakter sangat penting. Seperti pada sepakbola tadi, pada pendidikan karakter, siswa dilatih (dibiasakan)  melaksanakan ibadah. Mereka dilatih untuk melakukan shalat, puasa,  berbuat baik/membantu orang lain sehingga meningkat kualitas spiritual mereka.  Pendidikan tidak berhenti sampai pada proses kognitif, tapi juga harus terpadu dengan afektif dan psikomotorik. Seperti pada sepakbola, pelatih cuma sedikit mengajarkan teori bagaimana menendang bola agar bisa menghasilkan goal. Selebihnya, para pemain bola melakukan praktek, sehingga mereka bisa tampil prima saat pertandingan, tidak hanya menguasai teori, tetapi juga terlatih dan terbiasa bermain bola dengan baik.

Begitu pula proses pembentukan karakter dalam dunia pendidikan, perlu latihan dan pembiasaan. Agar seseorang bisa menjadi muslim yang baik, tak cukup sekedar menghafal rukun iman dan rukun Islam, tapi harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, harus dibiasakan. Pembiasaan jamak dipakai dalam ilmu psikologi, biasanya  dikenal dengan istilah conditioning.

Pendidikan karakter juga menjadi topik utama dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini yang bertema “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia.” Dalam acara tersebut Wakil Presiden Boediono mengatakan: “Mendidik bukan sekedar mengembangkan kemampuan nalar anak didik kita, tetapi sangat penting juga membangun karakternya. Pendidikan tidak hanya menyangkut membangun kemampuan otak, tapi juga menumbuhkan kemampuan hati mereka.”

Maka, lanjut Wapres, tepat rasanya untuk mempertanyakan sejauh ini apa yang telah kita lakukan pada anak-anak didik. Sudahkah kita melaksanakan pendidikan bagi anak-anak didik kita yang seimbang antara mendidik otak dan mendidik hati? Sudahkah kita menyediakan waktu dan tenaga yang cukup untuk mengajarkan kepada mereka untuk mengasihi manusia lain? Apabila tujuan kita adalah menyiapkan anak-anak didik kita agar menjadi warga negara dan bahkan pemimpin yang baik, sudahkah kita memberikan alokasi waktu dan tenaga kita untuk membangkitkan kecintaan mereka kepada tanah air?

Di Sumatera Barat, pendidikan karakter telah lama dimulai. Pendidikan adalah salah satu visi dan misi utama Pemerintah Sumatera Barat. Tanggal 13 Juni lalu, saat peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sumatera Barat mendapat penghargaan sebagai pelaksanaan penyaluran Biaya Operasional Sekolah (BOS) tercepat di Indonesia yang diserahkan oleh Wakil Presiden Boediono. Ini sebagai bukti keseriusan komitmen kita terhadap pendidikan.

Ini bukan berarti kita puas dan berhenti sampai di sini. Pekerjaan ini harus dilanjutkan, Sumatera Barat harus menjadi penghasil Generasi Emas Terbaik di Indonesia. Cita-cita itu bukanlah mimpi, sejarah membuktikan dan diakui bahwa Sumatera Barat dari dulu memang terkenal sebagai gudang Generasi Emas Indonesia. Insya Allah. (Juni 2013)

42. Sekolah dan Akhlak Mulia

Sekolah dan Akhlak Mulia

Banyak masyarakat mengeluh dan kuatir telah terjadi krisis moral, terutama pada generasi muda kita saat ini. Angka kemiskinan dan pengangguran terus meningkat. Kriminalitas dan kasus amoral ramai mencuat ke permukaan dalam taraf yang sangat mengkuatirkan. Ada apa, apa yang salah?

Salah satu faktor penting yang membentuk karakter manusia adalah pendidikan, baik formal di sekolah maupun informal di rumah dan lingkungan mereka. Seorang lulusan SLTA berarti telah melewati masa pendidikan di sekolah formal minimal selama 12 tahun. Tamatan Perguruan Tinggi (S1) telah melewati masa pendidikan formal sekitar 17 tahun. Apakah pendidikan selama 17 tahun tersebut bisa dikatakan berhasil?

Secara sederhana, ada dua kata kunci keberhasilan sebuah pendidikan, yaitu mampu menghasilkan lulusan yang cerdas dan berakhlak mulia. Kedua kata kunci tersebut harus selaras dan seimbang. Banyak lulusan pendidikan kita yang cerdas tapi tidak beraklak mulia. Maka lalu muncullah kasus korupsi, penipuan, penyalahgunaan wewenang, perkosaan dan berbagai kasus kriminalitas.

Ada juga kelompok yang memiliki akhlak mulia, tapi tidak cerdas. Akibatnya mereka tidak mampu bersaing di lapangan pekerjaan dan memanfaatkan peluang. Mereka lalu jadi penganggur, miskin dan tak punya masa depan. Kondisi ini pada akhirnya juga berujung pada kasus kriminalitas dan moral.

Agar sekolah mampu menghasilkan lulusan yang cerdas, maka guru harus melakukan proses belajar dan mengajar secara serius. Mutu dan fasilitas pendukung sekolah harus ditingkatkan sehingga proses belajar mengajar bisa dilakukan secara optimal. Pemerintah telah berupaya meningkatkan fasilitas pendidikan melalui sejumlah program dan juga berbagai upaya untuk meningkatkan mutu guru. Kesejahteraan guru juga telah ditingkatkan.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan di atas, insya Allah sekolah-sekolah akan mampu menghasilkan siswa-siswa yang cerdas. Sumbar sangat potensial sebagai penghasil siswa cerdas dan berprestasi di kancah nasional, tak perlu diragukan lagi.

Lalu bagaimana dengan aspek akhlak mulia? Aspek ini memang perlu perlakuan khusus. Karakter akhlak mulia tidak bisa dibangun dengan hanya metode kognitif (hafalan). Siswa bisa saja sangat hafal rukun Islam, tapi belum tentu ia bisa mengamalkannya, belum tentu ia telah melaksanakan shalat, puasa, dll.

Karakter akhlak mulia hanya bisa dibentuk melalui metode afektif dan psikomotorik. Pengetahuan yang diberikan tidak hanya sekedar hafalan, tetapi juga dengan praktek dan upaya perubahan sikap serta tingkah laku.

Selain itu yang paling penting adalah guru harus mampu menjadi model (contoh dan teladan) bagi siswa. Bagaimana mungkin siswa diajar disiplin jika guru sendiri tidak disiplin? Bagaimana mungkin guru mengajarkan kebersihan jika guru sendiri membuang sampah sembarangan? Akhlak mulia lebih mudah ditularkan melalui model (contoh teladan).

Sekolah unggul adalah salah satu solusi untuk mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Di sekolah unggul siswa yang memang  memiliki kecerdasan menonjol difasilitasi secara khusus sehingga kelebihan yang mereka miliki bisa diaktualisasikan secara optimal. Karena menggunakan metode boarding school/full day school, misi membangun karakter akhlak mulia juga bisa diwujudkan.

Idealnya minimal setiap kabupaten dan kota di Sumatera Barat memiliki satu sekolah unggulan. Keberhasilan sekolah unggulan sudah dibuktikan oleh SMA 1 Padang Panjang, mereka tidak hanya cerdas dengan menorehkan sejumlah prestasi, tapi juga berakhlak mulia yang terlihat dari sikap dan tingkah laku mereka. Dengan demikian diharapkan potensi generasi muda Sumatera Barat bisa teraktualisasikan, baik kecerdasan mereka, maupun akhlaknya. (Desember 2010)

43. Reformasi Pendidikan

Reformasi Pendidikan

Ternyata tak hanya birokrasi yang perlu direformasi, pendidikan juga butuh direformasi.

Banyak fakta membuktikan bahwa out put lembaga pendidikan kita cendrung menghasilkan lulusan yang hanya mahir menghafal, tetapi tidak mampu membentuk sikap mental dan prilaku peserta didik serta tidak menguasai skill (keahlian) yang seharusnya mereka miliki.  Akibatnya lulusan lembaga pendidikan tersebut kalah bersaing merebut kesempatan kerja, lalu menjadi pengangguran terdidik. Secara bercanda mereka dijuluki “glanter” (gelandangan terdidik).

Juga banyak lulusan lembaga pendidikan bahkan lulusan perguruan tinggi yang bekerja tidak pada tempatnya atau pada tempat yang layak. Banyak kasus kita temukan lulusan perguruan tinggi yang bekerja sebagai tukang ojek atau supir angkot, penjual sayur, buruh kasar dan berbagai jenis pekerjaan lainnya.

Fenomena bursa kerja di Jepang misalnya, juga bisa dijadikan salah satu bukti sederhana. Setiap tahun Jepang butuh sekitar 30.000 tenaga kerja. Mereka didatangkan dari berbagai negara di Asia seperti China, Filipina, Korea, termasuk Indonesia.

Dari peluang kerja di atas hanya 0,5 persen saja yang berasal dari Indonesia. Kuota terbanyak, sekitar 80 persen besasal dari China, lalu menyusul Filipina. Kesempatan kerja terbanyak diperoleh oleh China, alasannya etos kerja dan sikap mental bangsa China jauh lebih baik.  Etos kerja dan disiplin tersebut bisa dibentuk melalui pendidikan berkarakter.

Imbalan yang diperoleh dengan bekerja di Jepang cukup menarik.  Untuk lulusan SLTA dan lolos seleksi, mereka bisa memperoleh penghasilan 10 kali lipat dibandingkan penghasilan di dalam negeri untuk pekerjaan yang sama. Tentu saja pekerjaan ini jauh lebih nyaman dibandingkan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Kebijakan Menteri Pendidikan RI Muhammad Nuh mencanangkan Pendidikan Berkarakter sebagai program nasional saat peringatan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei lalu sungguh sangat tepat.

Pendidikan berkarakter adalah pola pendidikan yang tidak hanya mengajarkan aspek afektif (hafalan), tetapi juga mengajarkan aspek kognitif (perubahan sikap dan tingkah laku) peserta didik. Contohnya, murid tidak hanya diajarkan menghafalkan rukun Islam, tetapi juga dibimbing untuk memahami rukun Islam dan mempraktekkan rukun Islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Meski Pendidikan Berkarakter baru dicanangkan secara nasional awal bulan lalu, namun metoda Pendidikan Berkarakter telah lama diaplikasikan di Sumatera Barat. Lembaga Pendidikan Adzkia, misalnya,  telah menerapkan metoda ini sejak tahun 1988. SMAN 1 Padang Panjang, MAN Ar Risalah Padang dan sejumlah sekolah lainnya baik swasta maupun negeri di Sumatera Barat juga telah melakukan hal yang sama.

Alhamdulillah hasil (out put) dari sekolah tersebut sangat memuaskan. Lulusan sekolah tersebut terlihat menonjol dengan ciri khas yaitu generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Mereka diterima di berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, maupun di luar negeri. Namun mereka juga memperlihatkan sikap dan tingkah laku yang terpuji, disiplin, etos kerja tinggi serta berakhlak mulia. Tidak bisa dipungkiri, hal ini pula yang membuat sekolah-sekolah tersebut menjadi sekolah favorit, selalu kebanjiran peminat.

Berdasarkan pengalaman, syarat mutlak yang harus dimiliki sekolah berkarakter adalah guru-guru yang juga berkarakter, disiplin, cerdas dan berakhlak mulia. Bisa diakatakan mustahil guru bisa mengajarkan akhlak mulia kepada anak didiknya jika guru sendiri tidak berakhlak mulia. Juga tidak mungkin guru mendidik muridnya untuk taat shalat lima waktu jika guru tdak shalat.

Syarat selanjutnya alah melaksanakan sistem  full day school atau boarding school. Pada full day school adalah siswa belajar dari pagi sampai sore. Pagi hari mereka belajar sesuai standar kurikulum nasional, sore hari mereka belajar tambahan seperti materi agama, akhlak, disiplin dan sebagainya. Sistem boarding school lebih intensif lagi, siswa menginap di asrama, pendidikan formal maupun informal bisa dilakukan selama 24 jam.

Sesuai program nasional, Metode Pendidikan Berkarakter akan diterapkan secara bertahap di semua daerah di Sumatera Barat.  Keterlibatan guru, murid dan orang tua murid, serta dukungan Pemda setempat sangat menentukan keberhasilan  program ini. InsyaAllah program ini akan membawa perubahan dan kebaikan bagi generasi kita di masa datang. Mari kita bangun masa depan bangsa ini melalui pendidikan berkarakter mulai dari sekarang. (Mei 2011)

44. RSBI

RSBI

Rudi (bukan nama sebenarnya) adalah seorang siswa SMU. Bakat dan kecerdasannya sudah lama terlihat menonjol. Soal-soal matematika yang dianggap super sulit oleh siswa lain, dengan enteng bisa ia selesaikan. Begitu juga soal-soal pada mata pelajaran lain seperti fisika dan kimia. Bahkan, meski baru duduk di bangku kelas 1, pelajaran kelas 3 bisa ia urai dengan baik.

Karena prestasinya yang menonjol, Rudi lalu mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri di sebuah negara maju dan berkembang. Karena metode pendidikan di tempat baru, dimana ia menimba ilmu cukup baik, dan fasilitas yang tersedia juga serba lengkap, di sana ia makin memperlihatkan prestasinya. Di sana Rudi berhasil melakukan inovasi dan temuan-temuan baru yang mengejutkan dan sangat bermanfaat. Alhasil negara pemberi beasiswa menawarkan agar Rudi bekerja di sana dan menjadi warga negara daerah tersebut.

Kisah seperti di atas cukup sering ditemukan,  banyak putra/putri  Indonesia berbakat menyelesaikan studinya di luar negeri, berprestasi di sana, bekerja di sana, lalu menjadi warga negara setempat, atau memperoleh izin menetap (permanent residence) di sana, mereka tidak kembali lagi ke tanah air. Mereka menjadi aset negara tersebut, menciptakan inovasi dan penemuan-penemuan baru di sana.

Di berbagai pelosok Indonesia banyak sekali putra/putri cerdas dan berbakat yang bisa diibaratkan permata  terpendam yang belum diasah. Mereka cerdas, memiliki bakat, namun tidak memperoleh wadah agar potensi mereka tersebut teraktualisasi secara optimal.

Awalnya, karena latar belakang itulah gagasan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) diapungkan. Siswa/pelajar yang memiliki bakat dan kecerdasan lebih dibanding rata-rata, diberikan perlakuan khusus sehingga potensi mereka bisa dikembangkan secara optimal. Mereka ditempatkan dalam satu kelas khusus dan mendapat beban pelajaran yang berlebih dibanding kelas biasa. Tentu saja pelajar/siswa dengan kemampuan rata-rata, akan kewalahan jika hal yang sama juga dilakukan pada mereka.

Lalu dalam pelaksanaannya timbul  beberapa friksi yang menimbulkan protes masyarakat. Di beberapa tempat RSBI digugat menarik pungutan terlalu besar sehingga tidak membuka kesempatan bagi warga miskin namun juga cerdas dan berbakat untuk juga menimba ilmu di sekolah RSBI. Namun tidak semua RSBI melakukan hal serupa, banyak RSBI, termasuk yang berada di Sumatera Barat yang tidak melakukan pungutan macam-macam dan berlebihan sehingga tetap bisa diakses oleh masyarakat kurang mampu.

Selain itu RSBI dianggap melunturkan rasa nasionalisme karena mengajarkan bahasa Inggris dan menggunakan bahasa negeri pangeran Charles tersebut sebagai bahasa pengantar.   Penggunaan istilah internasional pada SBI/RSBI dikuatirkan dapat melahirkan out put pendidikan nasional yang lepas dari akar budaya dan jiwa bangsa Indonesia.

Karena alasan tersebut sejumlah masyakat melakukan judicial review pada tanggal 28 Desembes 2011. Lalu pada tanggal 8 Januari 2013 Mahkamah Konstitusi  mengabulkan permohonan para penggugat tersebut, lalu mencabut pasal 50 ayat 3 Undang-undang no 20 tahun 2003, yang bunyinya “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya  satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”

Dengan demikian SBI/RSBI berakhir sudah Kita tentu sangat menyayangkan jika niat baik untuk mengangkat potensi anak bangsa ini buyar begitu saja dan kita kehilangan wadah untuk menggembleng generasi  pilihan berbakat yang sangat dibutuhkan bangsa ini di masa datang. Seperti kata pepatah gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, gara-gara perbuatan segelintir oknum, buyar harapan seluruh bangsa.

Bagaimanapun, kita menghargai  keputusan Mahkamah Konstitusi, namun kita berharap masih ada wadah lain yang bisa mengakomodir putra/putri Indonesia yang cerdas dan berbakat.  Tentu kita juga berharap wadah tersebut dikelola dengan baik dan tidak terulang lagi ekses-ekses yang membuat masyarakat  murka dan kembali melakukan gugatan.

Tentu saja itu tidak berarti sekolah reguler tidak mendapat perhatian. Sekolah reguler tetap mendapat perhatian yang sama dari pemerintah, karena bukan tidak mungkin dari sekolah reguler juga muncul kader-kader bangsa  yang potensial dan cerdas yang karena sesuatu hal potensi mereka terlambat muncul ke permukaan. (Januari 2013)

45. Siswa Berkarakter

Siswa Berkarakter

Suatu hari, seorang guru agama di sebuah sekolah melaksanakan tugasnya dengan penuh dedikasi dan semangat yang cukup tinggi.

“Siswaku sekalian, hari ini kita akan membahas  dan mempelajari rukun Islam,” ujarnya mengawali pelajaran. Lalu beliau menerangkan apa yang dimaksud dengan rukun Islam, apa-apa saja rukun Islam, dan seterusnya. Usai menerangkan, sang guru bertanya pada siswanya.

“Anak-anak apakah kalian mengerti apa yang diterangkan tadi?” tanya guru usai memaparkan materi pelajaran.  Sejumlah murid terlihat diam sambil menganguk-angguk. Tetapi  sebagian lagi mengacungkan tangan sambil berujar, “Belum buk, kami belum mengerti,” ujar mereka. Lalu guru menerangkan sekali lagi, lebih pelan dan lebih rinci.

Setelah menerangkan beberapa kali dan sejumlah tanya jawab dilakukan, sang guru agama tadi bertanya lagi. “Anak-anak, apakah sekarang kalian sudah mengerti?” Kali ini nampaknya para siswa tersebut telah cukup paham. “Sudah buuuk….,” ujar mereka hampir serempak.

Sang guru tersenyum mendengar jawaban mereka. Ia puas karena siswanya telah memahami apa yang ia ajarkan.  “Baiklah anak-anak, minggu depan kita ujian,” ujarnya.

Seminggu kemudian, saat ujian dilaksanakan ternyata berlangsung lancar, nampaknya para siswa memang mengerti yang diterangkan guru tentang rukun Islam. Tentu saja sebelumnya  mereka telah berusaha keras menghafal  materi yang telah diajarkan sebelumnya.

Guru  pun telihat puas saat memeriksa hasil ujian para siswa, nilai mereka kebanyakan memperoleh angka 9 dan 10. “Alhamdulillah, saya telah selesai melaksanakan tugas mengajar, sesuai dengan kurikulum,” ujar sang guru dalam hati.

***

Tetapi, benarkah ia telah tuntas mengajarkan pendidikan agama kepada siswanya? Nilai ujian  siswa memang sangat memuaskan, rata-rata memperoleh nilai 9 dan 10. Tetapi apakah siswa telah melaksanakan shalat sesuai dengan yang dianjurkan rukun Islam. Apakah mereka melaksanakan kewajiban berpuasa?   Kenyataannya cukup banyak kita temui siswa yang sekedar hafal rukun Islam, tapi tak pernah mengamalkannya.

Dalam kasus ini proses belajar-mengajar hanya sebatas proses kognitif, sedangkan proses afektif dan psikomotorik sering  terlupakan, atau tak sempat dikawal oleh guru.  Akibatnya siswa hanya sekedar hafal mata pelajaran, tetapi  tidak diikuti oleh perubahan sikap dan tingkah laku serta perbuatan. Mereka  tak shalat atau puasa meski tahu bahwa shalat dan puasa wajib hukumnya bagi umat Islam.

Berdasarkan pengalaman praktek mengelola lembaga pendidikan, kata kunci dari persoalan ini adalah pembiasaan. Siswa merasa enteng melakukan shalat dan puasa karena dilatih dan terbiasa  melakukan shalat dan puasa.  Siswa terbiasa hidup bersih dan beretika karena dididik untuk terbiasa menjaga kebersihan  dan beretika dalam kehidupan sehari-hari.  Pengetahuan agama maupun etika,  tak kan bisa mengubah tingkah laku seseorang  jika hanya bersifat hafalan (kognitif).

Hal inilah yang ingin diwujudkan dalam pendidikan berkarakter. Secara ringkas tujuan pendidikan berkarakter adalah menghasilkan “Siswa Cerdas dan Berakhlak Mulia.” Akhlak mulia bukan sekedar hafalan, tetapi sebuah karakter. Pembiasaan adalah salah satu metode untuk membangun karater anak didik.

Karena itu dalam pelaksanaan pendidikan berkarakter biasanya  dilakukan pola full day school atau boarding school. Pada pola boarding school, siswa belajar sampai sore.  Pagi hari mereka belajar sesuai dengan kurikulum  biasa, sore mereka belajar pengetahuan dan praktek agama.  Shalat Zuhur dan Asyar dilakukan langsung secara berjamaah di sekolah.  Dengan sistem boarding school (siswa tinggal di asrama) lebih banyak lagi waktu yang bisa manfaatkan untuk  melatih kebiasaan yang posisif. Kebiasaan hidup bersih dan beretika dan anjuran agama lainnya dapat  dilatih dan dibiasakan di asrama.

Dalam budaya minang telah lama dikenal petitih sebagai berikut: ketek ta anja-anja, gadang tabao-bao, lah gaek tarubah tidak. Maksudnya sikap dan karakter seseorang terbentuk dari kebiasaannya sejak kecil.  Setelah ia dewasa, kebiasaan itu sulit untuk mengubahnya. Jika seseorang sejak kecil sudah terbiasa bicara kasar, sampai tua ia akan tetap demikian dan sulit mengbahnya. Begitu juga jika seseorang telah terbiasa shalat sejak kecil, maka sampai tua ia akan terbiasa.

Di Sumatera Barat yang menganut falsafah adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah perpaduan materi kurikulum pendidikan umum dan pendidikan agama Islam merupakn pasangan yang sangat cocok. Namun tentu juga cocok dengan agama lain sesuai kepercayaan yang dianut peserta didik.

Pendidikan berkarakter bukan sekedar teori, tetapi telah lama dipraktekkan di sejumlah sekolah di Sumatera Barat.  Di ITB misalnya, ada puluhan siswa asal Sumbar, yang diterima dan melakukan studi di sana. Ternyata tak hanya itu, mereka mendominasi sebagai aktifitis masjid Salman ITB. Begitu juga di UI, mereka mencuat sebagai aktifis masjid kampus UI. Mereka adalah lulusan sekolah yang menganut pola pendidikan berkarakter di Sumatera Barat. InsyaAllah mereka adalah asset SDM Sumatera Barat masa depan. (Juni 2011)

46. Adzkia dan Pendidikan Berkarakter

Adzkia dan Pendidikan Berkarakter

Sejarah telah banyak membuktikan, bahwa cita-cita besar bisa dimulai dari hal-hal kecil. Kami pun dulu tak pernah bermimpi bisa membangun Yayasan Adzkia seperti yang ada saat ini. Adzkia bermula dari sebuah kursus bimbingan belajar kecil di sebuah lokal kontrakan di Komplek PGAI Jati  Padang .

Saat itu tahun 1988, saya sendiri waktu itu baru saja menyelesaikan studi di fakultas psikologi Universitas Indonesia. Dari segi finansial, boleh dikatakan kami tak punya apa-apa. Namun bersama sejumlah kawan, bermodalkan tekad untuk maju, kami mendirikan Kursus Bimbingan Belajar (Bimbel) yang kami beri nama Adzkia.  Uang yang ada di kantong kami kumpulkan, ternyata hanya cukup untuk mencetak 1 rim brosur.  Dengan modal sebanyak itulah Adzkia kami mulai.

Awalnya tak banyak yang melirik pada bimbel yang kami adakan, saingan yang ada saat itu cukup banyak. Namun kami tetap melangkah.  Di tahun-tahun awal, penghasilan yang kami peroleh hanya cukup untuk menutup biaya kontrakan tempat kursus dan biaya operasional. Namun berkat kegigihan dan kerja keras kami,  peminat bimbel Adzkia makin banyak dan terus bertambah.  Selain karena rajin berpromosi, sistem belajar dan mengajar kami kembangkan secara serius sehingga alumnus Adzkia terkenal  banyak dan sukses diterima di berbagai perguruan tinggi favorit.

Alhamdulillah, kerja keras tersebut membuahkan hasil. Kursus bimbel Adzkia mendapat tempat di hati masyarakat, jumlah peminatnya terus bertambah dan bertambah.  Lokasi tempat kursus pun dilakukan di beberapa tempat, karena lokasi yang lama tidak mampu lagi menampung peminat yang terus bertambah. Jumlah peserta bimbel Adzkia mencpai puncak dengan jumlah murid  3000 orang. Sebuah prestasi yang sulit ditandingi hingga saat ini.

Kami yakin bahwa perubahan adalah hukum alam yang abadi. Dengan niat untuk berdakwah dan mensyiarkan Agama Islam, kami mulai mendirikan Play Group Adzkia pada tahun 1992. Pendidikan agama harus dimulai sejak dini. Saat itulah mulai terpikir konsep pendidikan berkarakter. Untuk menjawab tantangan ke depan, murid tidak cukup hanya memiliki ilmu, tapi juga harus memiliki karakter. Konsep inilah yang kemudian membedakan Adzkia dengan lembaga pendidikan lain.

Karena itu di Adzkia dikembangkan metoda-metoda dan materi-materi  pembelajaran khusus yang bertujuan untuk membangun karakter anak didik. Di Adzkia diajarkan hafalan ayat Al Qu’ran,  shalat, tata-tertib serta akhlak. Adzkia menerapkan sistem full day  school. Adzkia pula yang pertama kali mengajarkan anak didik wanitanya memakai jilbab. Ilmu psikologi yang saya timba di bangku kuliah, saya manfaatkan untuk membangun karakter anak didik Adzkia.

Pada awalnya konsep pendidikan dan terlihat berbeda dari biasanya ini mendapat tanggapan pro dan kontra dari masyarakat. Tapi setelah mereka melihat bahwa lulusan Adzkia memang berbeda akhlak, budi pekerti dan karakternya, mereka tidak mempersoalkan lagi perbedaan konsep pendidikan tadi.

Seperti fenomena yang terjadi pada bimbel, Play Group Adzkia juga mendapat tempat di hati masyarakat. Jumlah peserta Play Group/TK Adzkia juga mendapat tempat di hati masyarakat. Jumlah peserta  Play Group/TK  terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun. Lokasi tempat pendidikan Play Group/TK juga harus ditambah di beberapa tempat, karena fasilitas yang ada tak mampu lagi menampung peminat yang terus bertambah.

Sekali lagi, Alhamdulillah Adzkia terus mengembangkan sayap sesuai dengan tuntutan kebutuhan, termasuk keinginan masyarakat. Kini, bermula dari bimbel, Adzkia telah memiliki Play Group/TK, Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA/SMK dan Perguruan Tinggi. Pendidikan berkarakter yang ditanamkan  di Yayasan Adzkia memang tampak hasilnya dan membekas pada anak didik alumni Adzkia. Mereka tidak hanya unggul dalam mutu pelajaran, tapi juga berakhlak yang tercermin dalam sikap mereka sehari-hari.

Sampai saat ini Adzkia masih dipercaya masyarakat, tak peduli dari golongan mana pun mereka berasal. Juga tidak pernah dipermasalahkan dari partai manapun keluarga orang tua mereka berasal. Apakah keluarga mereka berasal dari Partai Golkar, Demokrat, PDIP, PAN atau PPP, semua ada di sini dan tidak ada perlakuan berbeda terhadap mereka. Hal inilah yang membuat Adzkia tetap diminati masyarakat , dari latar belakang apapun mereka, hingga saat ini. Kepedulian Adzkia adalah menyampaikan konsep pendidikan berkarakter, agar diperoleh alumni yang cerdas dan berakhlak mulia. Alhamdulillah sejak Adzkia lahir hingga saat ini tidak ada yang menggugat bahwa Adzkia mengarahkan peserta didiknya ke partai tertentu. Karena memang hal itu tidak pernah dilakukan.

Adzkia yang saya sebagai pendirinya, tidak ada upaya mempengaruhi murid Adzkia ke parpol tertentu, tetapi Adzkia mengarahkan muridnya agar berakhlak, hafal Qur’an, ibadah rajin, dll. Pendidikan harus objektif dan terpadu. Pendidikan karakter adalah suatu keniscayaan bagi dunia pendidikan. Pendekatan kognitif saja tidak cukup, tapi juga harus berdasarkan pengamalan dan kesadaran. Adzkia sudah memulainya semenjak awal tahun 90 an. Keberhasilan pendidikan karakter juga ditentukan oleh karakter gurunya. Tidak mungkin tercapai sebuah pendidikan karakter yang gurunya menghasut murid, menfitnah dan menjelek-jelekkan sesama.

Pendidikan karakter bukanlah hal baru, begitu banyak sekolah/madrasah yang telah mengamalkannya , termasuk pesantren.  Pendekatan pendidikan karakter di sekolah/madrasah/pesantren tersebut memiliki metode yang sama yaitu membiasakan murid dengan karakter baik, membiasakan murid melaksanakan ibadah bahkan dicatat ibadahnya dan ditargetkan agar semuanya terbiasa dan menjadi budaya bagi siswa. Metode ini bukan milik kelompok tertentu, tetapi milik kita semua. Apalagi metode pembiasaan ini bukanlah milik parpol tertentu.

Semoga pendidikan karakter di Sumbar tersebar di seluruh sekolah/madrasah dan guru senantiasa berupaya meningkatkan dirinya  untuk berkarakter baik selain tuntutan kita terhadap anak-anak murid agar berkarakter baik pula. Wallahu’alam. (Mei 2012)

47. UN, Mahalnya Harga Sebuah Kejujuran

UN, Mahalnya Harga Sebuah Kejujuran

 

Pelaksanaan UN (Ujian Nasional) adalah sebuah hajatan besar yang super mahal. Di tahap awal panitia UN bekerja keras untuk menyiapkan soal ujian. Tentu tak sembarangan soal itu dibuat, harus diperhatikan agar soal-soal tersebut tak sama dengan soal tahun-tahun sebelumnya. Soal juga dibuat lima versi, agar peserta ujian tak bisa mencontek satu sama lain.

Tak hanya sampai di situ, mulai dari pencetakan soal sampai dibagikan ke peserta ujian, dilakukan upaya ekstra pengamanan agar soal tidak bocor, terjaga keamanan dan kerahasiaannya. Tak tanggung-tanggung, soal tersebut dikawal langsung oleh petugas keamanan. Untuk memperlancar distribusi soal, sekaligus menjaga kemanannya, sehari sebelum pelaksanaan ujian soal-soal tersebut diinapkan di kantor Polsek lokasi ujian terdekat.Di sejumlah daerah yang tidak memiliki Mapolsek, soal ujian diinapkan di Markas Angkatan Laut, TNI AD atau kantor petugas keamanan lainnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa pelaksanaan UN membutuhkan biaya sangat besar dan mahal. Tahun ini dibutuhkan biaya sebesar Rp 600 miliar untuk pelaksanaan UN. Dana tersebut cukup untuk membangun 300 buah sekolah baru tahan gempa. Atau dana tersebut cukup untuk membeli 400 buah mobil mewah sekelas Alphard.

Namun apa yang terjadi? Di satu sisi pemerintah berusaha sekuat tenaga agar UN terlaksana dengan baik, jujur, tanpa kecurangan. Di sisi lain, ada pihak-pihak yang juga berusaha sekuat tenaga, dengan segala cara agar bisa membobol  kerahasiaan soal ujian.  Soal tersebut, konon dapat mereka bocorkan, lalu jawaban dikirimkan ke peserta ujian melalui SMS, BB, email dan berbagai cara lainnya. Dalam hitungan detik, informasi tersebut bisa menyebar ke suluruh Indonesia.

Jika hal ini memang benar terjadi, betapa naifnya. Kerja keras yang dilakukan panitia serta aparat keamanan menjadi sia-sia. Dana ratusan miliar yang dikeluarkan tak ada artinya, pekerjaan besar yang dilakukan dengan susah payah menjadi tak bermakna. Ujian berlangsung secara tak jujur. Sebegitu mahalkah yang harus kita korbankan untuk mendapatkan sebuah kejujuran?

Karena itu menurut saya, lulus UN 100 persen bukan ukuran mutlak bahwa sekolah tersebut telah berhasil menyelenggarakan proses pendidikan. Jumlah lulusan suatu sekolah yang diterima di berbagai perguruan tinggi favorit, lebih cocok untuk dijadikan indikator keberhasilan sebuah sekolah.

Kejadian tahun lalu bisa dijadikan pelajaran, ada sekolah yang nilai UN nya sangat baik, seratus persen siswa lulus UN. Namun ternyata tidak satupun siswa lulusan sekolah tersebut diterima di perguruan tinggi. Ada apa? Tentu hal ini merupakan pukulan yang memalukan bagi sekolah tersebut.

Kejujuran siswa dalam UN dalam waktu dekat bisa diketahui. Kini sudah ada software yang mampu menganalisa apakah jawaban ujian siswa merupakan hasil mencontek atau dari bocoran kunci jawaban.  Kecurangan peserta ujian akan segera bisa dideteksi.

Karena itu, yang perlu dihargai adalah kerja keras siswa dan guru meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa menghadapi UN dan proses yang dilakukan untuk itu. Terbukti sekolah-sekolah yang proses belajar dan mengajarnya dilakukan dengan benar, mampu menyelesaikan soal-soal UN dengan baik pula, tanpa harus berbuat curang.

Mari berlomba-lomba meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa agar mampu mengikuti dan lulus UN secara benar dan jujur. Bukan berlomba-lomba sekuat tenaga dan pikiran untuk membocorkan soal UN. Lebih fatal lagi jika kecurangan itu dilakukan oleh guru yang seharusnya bertugas mendidik siswa dengan baik.

Kita berharap hal itu tidak terjadi lagi, tugas dan tanggung jawab menyiapkan generasi penerus yang akan menjadi pemimpim di masa depan. Tidak cukup hanya sekedar bisa lulus UN, tapi harus cerdas, jujur dan bermoral baik. (April 2012)

48. Ujian Nasional

Ujian Nasional

Hati Toni menjadi galau dan kacau. Betapa tidak, segala persiapan telah ia lakukan dengan baik. Sehabis shalat magrib dan usai shalat subuh, buku-buku cetak maupun berbagai catatan mata pelajaran seperti ia lahap tak bersisa. Semua pelajaran yang ia pelajari dan yang ada dalam buku-buku seolah-olah telah ia salin semua ke dalam kepala. Ia mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk menghadapi ujinan nasional (UN).

Tapi apa yang terjadi? Ternyata yang  ia tunggu-tunggu ingkar janji. Ujian nasional yang ia tunggu-tunggu ternyata tak sesuai dengan waktu yang direncanakan semula. Waktu pelaksanaan ujian diundur. Di sebagian daerah UN tetap dilaksanakan sesuai waktu yang direncanakan semula, meski masih terdapat masalah dan kekurangan di sana-sini, sementara di 11 provinsi lainnya diundur.

Bagaimana mungkin? Peristiwa seperti ini baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah pelaksanaan ujian nasional. Sungguh tak masuk akal. Toni jadi uring-uringan, kesal, serta ingin marah-marah melampiaskan semua kekesalannya. Hampir saja ia patah semangat.

Peristiwa ini memang sangat di luar dugaan. Pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tentu tidak menginginkan peristiwa itu terjadi. Paling tidak tentu mereka tidak ingin dipermalukan oleh peristiwa tersebut. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan tentu telah berusaha keras sebelumnya agar UN berjalan tepat waktu, sukses dan lancar. Namun itulah kenyataan yang terjadi. Karena berbagai hal, UN yang ditunggu-tunggu dan dipersiapkan sedemikian rupa terkendala pelaksanaannya.

Tak jelas  dimana letak kesalahannya. Tak perlu mencari kambing hitam agar masalah ini tak berlarut-larut. Yang paling penting adalah solusinya dan antisipasi masalah ini cepat ditemukan. Pihak Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pun telah meminta maaf atas kejadian ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah meminta keterangan dari Mendikbud dan Presiden telah memberikan pengarahan untuk mengantisipasi masalah ini

Peristiwa ini tentu tak boleh terulang lagi. Kejadian  ini merupakan sebuah pelajaran yang sangat mahal. Peristiwa ini menjadi pelajaran di masa datang, untuk dikaji dimana kekurangan sisi lemahnya,  agar tidak terulang lagi di masa datang.

Marah, kesal, caci maki, saling tuding tentu tak menyelesaikan masalah. Bagi pelajar, hadapi ujian ini dengan kepala dingin dan hati tenang. Jika diundur, manfaatkan peluang ini sebagai tambahan kesempatan untuk belajar. Jika dihadapi dengan kesal dan hati gelisah sudah pasti hasil ujian yang diperoleh tidak maksimal.

Demikian juga para orang tua, kita paham, biasanya orang tua lebih kuatir dan gelisah lagi dibanding anaknya yang ikut ujian.  Jangan menambah kegusaran anak dengan memperlihatkan kegelisahan orang tua. Sebaliknya orang tua yang harus mendorong anak supaya tenang dan sabar, jangan sebaliknya.

Tak ada masalah yang tanpa jalan keluar, ndak ado  kusuik nan indak salasai, begitu kata pepatah. Jika dihadapi dengan tenang dan kepala dingin, Insya Allah semua persoalan bisa diselesaikan dengan baik. Di balik ujian dan cobaan selalu ada hikmah dan pelajaran dariNya. Semoga kita Tuhan selalu melindungi kita dan selalu menunjukkan jalan terbaik bagi kita semua. Amiin. (April 2013)

49. Krisis Pemimpin

Krisis Pemimpin

Ratusan siswa dan mahasiswa kota Padang tertegun sesaat mendengar  jawaban spontan Wakil Presiden RI  Prof. DR. Budiono saat acara silaturahmi dengan beliau di gedung serbaguna SMA 1 Padang. Beliau mengisahkan kehidupannya masa kecilnya menjawab pertanyaan salah seorang siswa.

“Saya dulu sekolah di SD Muhammadiyah, sebuah sekolah sederhana, sekolah dasar satu-satunya yang ada di kota kecil Blitar, Jawa Timur saat itu”. Kondisi sekolah tersebut sagat bertolak belakang dengan keadaan sekolah saat ini, dindingnya terbuat dari bambu dan berlantai tanah. “Kami ke sekolah saat itu tidak memakai sepatu, karena sepatu saat itu masih merupakan barang langka dan mahal,” imbuh Wapres.

Namun kondisi tersebut tak menghalangi beliau untuk maju. Kelahiran Blitar, 23 Februari 1943 yang suka mandi di kali dan gembala kambing ini berhasil meraih Gelar Bachelor of Economics dari Universitas Western Australia, lalu gelar Master of Economics  dari Universitas Monash Australia dan  mendapatkan gelar S3 (PhD) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pensylvania, AS.

Perjalanan karir  “anak desa” ini juga cukup menonjol, yaitu  guru besar fakultas ekonomi UGM,  Gubernur Bank Indonesia, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas serta  Menteri Keuangan. Saat ini beliau menjabat Wakil Presiden RI.

Karena itu menurut Wapres pemimpin itu bisa lahir dan muncul dari mana saja dan dari golongan manapun. Sumatera Barat menurutnya sejak dulu terkenal sebagai penghasil intelektual dan cendikiawan, baik berkaliber nasional maupun internasional seperti Bung Hatta, Syahril, Hamka Agus Salim, Natsir dan sederet nama lainnya.

Kini menurut Wapres mulai langka muncul pemimpin-pemimpin yang berkualitas ke permukaan. Bisa dikatakan, kita mengalami krisis pemimpin, tidak hanya di Sumatera Barat, di daerah-daerah lain pun tak banyak muncul pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan fenomenal seperti dulu. Padahal Indonesia butuh banyak pemimpin yang diharapkan mampu membawa bangsa ini menuju kejayaan.

Menurut Wapres ada 4 syarat untuk jadi pemimpin: 1. Memiliki pengetahuan dan keterampilan, 2. Memiliki karakter, 3. Sikap mencintai Tanah Air (nasionalisme) dan 4. Bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan.

Syarat 1, yaitu memiliki pengetahuan dan ketrampilan, jelas mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Memiliki karakter berhubungan dengan kualitas sikap mental seorang pemimpin. Rasa nasionalisme penting bagi seorang pemimpin, karena semangat inilah yang akan menimbulkan rasa cinta terhadap tanah air dan ketulusan untuk membangun bangsa dan negara. Sedangkan sikap bersungguh-sungguh juga sangat penting karena pekerjaan apapun yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh, pasti hasilnya akan baik.

Saat bersamaan Wapres menantang para siswa dan mahasiswa Sumatera Barat untuk tampil sebagai pemimpin beberapa tahun ke depan. “Kami-kami ini segera akan lengser dimakan usia, giliran kalian-kalian lah yang harus tampil sebagai pemimpin yang baik berikutnya.” Ujar Wapres.

Sejarah telah membuktikan bahwa Sumatera Barat adalah daerah penghasil pemimpin dan tokoh-tokoh nasional. Jika kita serius dan bersungguh-sungguh, bukankah sejarah itu bisa terulang kembali? Dengan fasilitas minim, sekolah sederhana, bertelanjang kaki ke sekolah bisa melahirkan Wakil Presiden. Dengan fasilitas yang lengkap, sekolah mentereng,  bukankah seharusnya bisa melahirkan lebih dari Wakil Presiden?

Sumatera Barat harus menjawab kerisauan Wapres akan terjadinya krisis pemimpin di negara ini. Pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh terbaik harus terlahir lagi dari bumi Ranah Minang ini. (Juni 2013)

50. Aktifis Kampus

Aktifis Kampus                                 

Meski belum ada penelitian ilmiah yang menerangkan, namun kenyataan lapangan telah banyak membuktikan, yaitu mereka yang semasa kuliah adalah aktifis kampus menjadi pemimpin atau orang sukses disaat mereka  berada di dunia kerja.

Lihat saja  pejabat-pejabat di tingkat pusat maupun daerah, umumnya mereka mempunyai latar belakang dulunya adalah aktifis kampus. Mereka aktif di berbagai kegiatan kampus, baik saat di bangku SLTP, SLTA maupun semasa kuliah. Begitu juga sejumlah pengusaha sukses di tingkat nasional atau regional, kebanyakan mereka memiliki latar belakang aktifis kampus.

Banyak contoh teman yang semasa kuliah atau bahkan semasa SMA yang dulunya aktif dan rajin berorganisasi, saat ini menjadi orang sukses, baik sebagai pengusaha atau pejabat. Begitu juga sejumlah pejabat atau rekan-rekan di DPR dulu, kalau ditinjau latar belakang mereka, ternyata umumnya mereka adalah aktifis kampus.

Sebaliknya sejumlah teman yang semasa sekolah atau kuliah dulu yang tidak aktif bahkan tidak peduli dengan kegiatan-kegiatan organisasi (aktifitas ekstra kampus), tidak terlalu sukses dalam berkarir. Jika mereka menjadi pegawai atau karyawan, mereka hanya pegawai atau karyawan biasa saja. Karir mereka umumnya  mentok sampai di sana, meskipun dulu mereka sering mendapat prediket juara kelas atau bahkan juara umum.

Lalu, kenapa para aktifis tersebut berhasil jadi pemenang dalam persaingan meniti karir?  Yang pasti ada tiga hal yang mereka miliki sebagai modal untuk meniti karir.  Pertama karena terbiasa berdiskusi, berceramah, dan sejenisnya. Hal ini menyebabkan mereka menjadi terbiasa berbicara, campin menyampaikan gagasan di depan umum. Kedua, mereka memiliki kemampuan mengorganisir tim kerja atau memenej pekerjaan. Kemampuan ini ternyata tak semua orang memilikinya. Kemampuan tersebut ternyata lumayan bisa diandalkan sebagai modal untuk meniti karir.

Ketiga, karena di organisasi tak ada gaji, mereka bekerja secara ikhlas, tanpa pamrih. Bagi mereka, imbalan adalah soal kedua, yang penting kerja yang dilakukan banyak manfaatnya bagi orang lain atau kepentingan bersama. Imbalan akan datang menyusul. Bahkan kadangkala mereka berpikiran kepuasan batin adalah imbalan yang tak ternilai harganya. Mereka tak bertanya dulu apa yang bisa mereka peroleh, tapi bertanya apa yang bisa mereka lakukan dan berikan untuk orang lain.

Faktor ketiga inilah yang membuat mereka memiliki karakter sebagai pekerja yang ulet, pantang menyerah dan selalu mengejar pretasi terlebih dahulu. Mereka yakin, imbalan adalah  urusan belakangan. Man jadda wa jada,  siapa yang mau bersungguh-sungguh pasti berhasil. Allah adalah pembuka pintu rezki yang maha kaya, Allah yang menjamin rezki mereka.

Ketiga faktor itulah yang membuat mereka menjadi orang sukses. Mereka memiliki etos kerja tinggi serta selalu memperlihatkan prestasi kerja yang cemerlang.  Karena terbiasa berorganisasi, mereka juga mudah bergaul, cepat akrab dengan banyak orang Tentu saja ia disenangi bahkan dihargai di masyarakat

Tidak hanya itu, karena ia berbuat secara ikhlas, maka tentu saja Allah juga senang dengan mereka.  Allah lalu membukakan pintu rezeki  bagi mereka. Seperti janji Allah, Allah akan membukakan pintu rezeki dan memudahkan jalan  bagi mereka. Jadi, tak heran kalau di kemudian hari mereka menjadi orang sukses.

Tapi bukan pula berarti akif di berbagai organisasi menjadi alasan bagi mahasiswa atau pelajar untuk mendapat nilai rendah. Tetap aktif di berbagai kegiatan kampus, namun prestasi akademik tetap cemerlang, tentu itu adalah pilihan terbaik.

Organisasi seperti Osis, Senat, BEM, Pramuka, HMI dan berbagai organisasi lainnya telah terbukti mampu menghasilkan kader-kader yang siap jadi pemimpin  dan sukses dalam perjalanan karir mereka. Kini ada ribuan atau mungkin lebih, organisasi sosial dan keagamaan yang menunggu orang-orang kreatif dan ikhlas untuk mengabdi dan berprestasi, siap menampung  mereka yang ingin mempersiapkan diri untuk jadi orang sukses.

Selamat berjuang dan bekerja para aktifis. Bangsa dan negara ini menunggu kreatifitas dan uluran tangan anda. (Mei 2011)

51. Kuliah di Amerika

Kuliah di Amerika

 

Siapa yang tak kenal  Harvard, Stanford, Cornell, Berkeley University atau Massachusetts Institute of Technology (MIT)?  Itu adalah nama-nama perguruan tinggi yang hampir selalu menempati posisi 10 perguruan tinggi terbaik di dunia. Tokoh-tokoh penting dunia seperti  presiden AS Obama, Clinton dan sejumlah tokoh legendaris dunia lainnya ‘dilahirkan’ dari universitas ini.

Berbagai penemuan dan teknologi baru yang menggemparkan dunia juga berasal dari perguruan tinggi yang umumnya didirikan di abad 18 ini. Sistem pendidikan dan berbagai sarana pendukung yang tersedia  membuat universitas-universitas tersebut mampu menghasilkan lulusan  berkelas dunia.

Kita boleh bangga memiliki perguruan tinggi terbaik di negeri ini seperti  Institut  Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) atau Institut Pertanian Bogor (IPB). Perguruan tinggi ini juga terkenal telah melahirkan tokoh-tokoh berkaliber nasional di Indonesia. Namun dalam kacamata Internasional, perguruan tinggi tersebut belum termasuk rangking 200 terbaik di dunia. Universitas Indonesia berada pada dan berada di ranking 236 dunia (World Universities Ranking 2011) atau ranking 50 di Asia (Asian Ranking Universities 2011)

Perguruan tinggi Jepang, China dan Korea menempati ranking lebih baik. Ranking perguruan tinggi kita juga masih kalah dibandingkan perguruan tinggi India, Singapore, juga negeri jiran kita Malaysia.

Jika ingin menjadi lebih baik dan ingin menempatkan putra-putri negeri  ini di kancah dunia, tentu menimba ilmu di perguruan tinggi terbaik dunia tersebut adalah salah satu jalan yang bisa ditempuh. Melihat fakta yang ada, putra-putra Indonesia ternyata tak kalah cerdas dibanding bangsa-bangsa lain. Sejumlah mahasiswa kita telah berada di sana. Di perguruan tinggi terbaik dunia tersebut mereka juga bisa menyelesaikan kuliahnya secara baik dan kemudian mulai meniti karir yang baik pula. Bukan mustahil mereka akan tampil sebagai tokoh dunia suatu saat nanti. Tamatan perguruan tinggi terkemuka di AS, juga telah mengisi jabatan penting di Indonesia.

Lalu, bisakah putra-putri kita kuliah di perguruan tinggi kelas dunia tersebut? Apakah itu hanya sebuah mimpi di siang bolong?

Jawabannya adalah bisa !! Putra-putri kita bisa kuliah dan menimba ilmu di sana, dan itu bukan mimpi atau isapan jempol belaka. Siapa saja bisa kuliah di sana.  Syaratnya adalah mampu berbahasa Inggris sesuai standar TOEFL minimal yang ditentukan dan lulus seleksi.

Lalu bagaimana biaya kuliah dan biaya hidup di sana?

Tak perlu khawatir, ada cukup banyak beasiswa yang tersedia seperti beasiswa Full Bright, Ford Foundation, USA Aid, dll. Bahkan juga ada beasiswa khusus untuk Indonesia. Presiden Obama ketika berkunjung ke Indonesia telah meminta secara khusus agar beasiswa Indonesia ini jumlahnya dijadikan dua kali lipat dari sebelumnya.

Lalu bagaimana agar semua itu bisa menjadi konkret?

Pemerintah daerah (Pemda) bisa membantu membuat peluang itu menjadi kenyataan. Langkah awal adalah menyeleksi lulusan SLTA terbaik dan berpotensi untuk menyelesaikan kuliah di negeri Paman Sam tersebut. Tentu saja mereka harus memiliki kemampuan dasar bahasa Inggris yang baik dan prestasi akademik yang baik pula. Untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki, mereka diikutkan kursus TOEFL. Kelengkapan persyaratan teknis dan administratif lainnya juga dibantu oleh Pemda bekerjasama dengan kedutaan AS di Jakarta.

Bagi keluarga yang tidak mampu, namun lolos seleksi, biaya-biaya tersebut bisa disubsidi oleh Pemda. Ini sebuah peluang yang sangat baik, dengan biaya yang tidak terlalu besar, putra-putri Sumatera Barat bisa kuliah di perguruan tinggi terbaik di dunia.

Cara kedua adalah dengan menjalin kerjasama atau sejenis universitas kembar antara perguruan tinggi di Sumatera Barat dengan perguruan tinggi ternama tersebut. Dengan demikian bisa saling bertukar program atau mahasiswa. Juga bisa dengan program sister school  yang segera akan diawali dengan sebuah SMA di wilayah Texas.

Dari dulu orang Minang sudah terkenal sebagai tokoh yang disegani di tingkat nasional, maupun internasional. Kita harus menjemput lagi kejayaan itu. Sesuai dengan tantangan global yang makin ketat, bekal yang lebih baik harus dipersiapkan agar mampu berkiprah lagi di kancah internasional. Mari bersama-sama kita siapkan generasi muda kita untuk “go international.” (Juli 2013)

52. Penggemblengan Diri

Penggemblengan Diri

Banyak dari kita mungkin sudah melewati bulan Ramadhan berkali-kali. Namun mungkin pernah terlintas di pikiran kita, apakah yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini adalah penggemblengan diri atau sebagai penutup kewajiban?, terutama bagi kita yang sudah dewasa.

Bulan Ramadhan pada hakikatnya adalah waktu untuk menggembleng diri, bukan lagi latihan. Kenapa? Karena Allah yang menilai langsung dan membalasnya. Di samping itu, amaliyah yang dilakukan lebih banyak dari bulan di luar Ramadhan. Ini merujuk kepada perilaku dan aktivitas Rasulullah SAW ketika beribadah di bulan Ramadhan.

Jika kita merasakan bahwa amaliyah di bulan Ramadhan tidak dimaksimalkan, maka kita mungkin terjebak ke dalam seremonial saja. Sahur, berbuka, dan kemudian sholat tarawih. Kemudian meninggalkan Ramadhan tanpa bekas. Rasulullah SAW berkata, “Berapa banyak orang yang puasa, bagian (yang dipetik) dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)” (HR Ibnu Majah).

Di bulan Ramadhan, Rasulullah menggembleng para sahabat yang sedang puasa untuk menghadapi pasukan Qurays di perang Badar. Dengan izin Allah SWT, mereka memperoleh kemenangan. Rasulullah juga menggembleng sahabat dengan berpuasa di waktu panas sangat terik.

Abu Darda berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadhan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah”. (Muttafaq alaih).

Adapun Umar bin Khatab ketika hendak meninggal berwasiat kepada anaknya, Abdullah agar melakukan puasa di saat panas sangat terik di musim panas, karena ia merupakan ciri keimanan. Demikian pula dengan para wanita shalihat. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata: “Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya”.

Rasulullah SAW juga meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadhan. “Dari Ibnu Abbas RA. Berkata: Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al Quran. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus.” (Shahih Al Bukhari).

Maka dari itu, jika kita tidak menggembleng diri kita di bulan Ramadhan ini, maka apa yang kita impikan dan inginkan belum tentu mampu terwujud di bulan berikutnya. Jadilah kita sebagai orang yang hanya sekedar menahan haus dan lapar saja. Diri kita tidak mengalami kenaikan derajat di sisi Allah, dan mungkin juga manusia. Padahal, ganjaran yang akan didapatkan jika menggembleng diri sungguh luar biasa, setidaknya seperti bunyi hadits berikut ini.

“Puasa dan Al Quran akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, “Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya.” Al Quran berkata, Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafaat kepadanya (HR Ahmad). (Juli 2012)

53. Ramadhan dan Ketenangan Hati

Ramadhan dan Ketenangan Hati

 

Kita tentu sering melihat seseorang yang raut mukanya selalu keruh, bahkan nyaris kusut. Ia selalu terlihat seperti tertekan beban yang berat dipikirannya. Jiwanya selalu gelisah gundah gulana, selalu merasa tak puas dan selalu kekurangan.

Pada hal pangkat dan status sosialnya sudah berada pada level tertinggi. Harta kekayaan yang dimilikinya berlimpah ruah, tak banyak orang yang bisa menandingi. Tetapi tetap saja ia belum merasa puas, hidupnya selalu merasa gundah, hatinya galau, tidur tak nyenyak, makan tak enak.

Jika sudah demikian tentu kekayaan berlimpah, pangkat atau jabatan yang tinggi tidak bisa ia nikmati. Setiap hari ia terpaksa tersenyum di depan orang lain untuk menyatakan bahwa dirinya senang dan bahagia, tetapi jauh di lubuk hatinya ia merintih betapa bathinnya tersiksa setiap hari. Segenggam obat terpaksa ia telan setiap hari agar ia bisa tidur dan beban pikirannya berkurang, berbagai terapi terpaksa ia jalani untuk mengatasi berbagai penyakit yang ia derita.

Tentu sangat menyedihkan dan nestapa sekali kehidupan orang seperti diuraikan di atas. Sepanjang hari ia tertekan oleh beban berat, setiap hari ia bersandiwara menyembunyikan penderitaan hidupnya.

Kenapa hal itu terjadi? Besar kemungkinan harta yang dimilikinya tidak diperoleh dengan jalan yang benar, begitu juga pangkat dan jabatan yang didapat juga tidak diperoleh dengan jalan yang baik dan benar.

Hawa nafsu memang sering membuat manusia lupa diri dan tergoda. Hawa nafsu yang tak terkendali membuat manusia lupa diri dan menghalalkan segala cara untuk mengejar harta dan tahta. Mereka lupa bahwa harta dan tahta bisa membuat manusia bahagia, tapi juga membuat manusia hancur, hina dan menderita. Semua itu terjadi karena mereka tak mampu mengendalikan diri dan hawa nafsu.

Bulan Ramadhan adalah bulan untuk berlatih mengendalikan diri, berlatih mengendalikan hawa nafsu. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW; perang yang paling besar bukanlah perang badar, tetapi perang melawan hawa nafsu dan mengendalikan diri sendiri. Karena itu kita perlu persiapan dan bekal yang sangat banyak untuk menghadap perang yang paling besar itu, yaitu perang melawan hawa nafsu.

Islam tidak melarang umatnya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, tetapi kumpulkanlah harta yang halal dan toyyib. Kekayaan yang diperoleh secara tidak halal selamanya tidak mungkin akan membawa berkah dan kebahagiaan. Air yang jernih dan bening tidak mungkin akan tetap jernih dan bening  jika dicampurkan dengan air keruh.

Selain berlatih mengendalikan hawa nafsu, di bulan puasa, umat Islam umat Islam dianjurkan melaksanakan berbagai ibadah. Di antaranya adalah bersedekah, shalat malam dan bertadarus dan membayar zakat. Amalan itu mendapat imbalan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Namun selain itu yang tak kalah penting, semua amalan itu membuat hidup manusia menjadi tenang, nyaman hidup di dunia, selamat di akhirat nanti. Dengan demikian tak ada lagi hati yang selalu gelisah, gundah dan pikiran tak tentram.

Selamat menunaikan ibadah puasa 1433 H, mari kita isi bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan berbagai amalan-amalan yang membawa kita ke kehidupan yang nyaman, aman, selamat dunia dan akhirat.

Mohon maaf jika ada kesalahan dan khilaf, baik yang disengaja maupun yang tidak sengaja. Mari kita sama berdoa semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk melaksanakan puasa tahun ini sampai selesai. Semoga kita kembali fitrah, bahagia di dunia dan akhirat nanti. (Juli 2012)

54. Ujian dan Pengorbanan

Ujian dan Pengorbanan

 

Sudah lama Nabi Ibrahim AS mendambakan seorang anak. Barulah menjelang usia senja istri Nabi Ibrahim, Hajar terlihat mengandung dan menjanjikan keturunan. Maka Nabi Ibrahim makin sayang kepada Hajar.

Kemudian Hajar melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu dan diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim makin sayang kepada Hajar dan anaknya Ismail. Namun Allah menguji mereka. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Hajar ke suatu tempat yang jauh, yang Nabi Ibrahim sendiri tidak mengenal tempat itu.

Dari Palestina dengan mengendarai onta, Nabi Ibrahim membawa  Hajar dan Ismail ke arah yang dia sendiri tidak tahu tujuannya. Namun ia yakin ada Allah akan membimbingnya. Setelah selama berminggu-minggu berjalan sampailah Nabi Ibrahim di sebuah daerah yang bernama Mekah. Saat itu daerah tersebut tidak berpenghuni. Di mana-mana hanya terlihat gurun pasir dan gunung-gunung batu, tak ada tanaman untuk dimakan juga tak ada air untuk diminum. Nampaknya di sinilah  Hajar dan Ismail diperintahkan untuk ditinggalkan.

Nabi Ibrahim tentu saja sangat sedih, namun beliau berkata kepada  Hajar:  ”Bertawakallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke sini dan dialah yang akan melindungi kamu dan menyertai kamu di tempat yang sunyi ini. Sungguh kalau bukan perintah dan wahyu-Nya, tidak sekalipun aku tega meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat aku cintai ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah yang Maha kuasa tidak akan menelantarkan kamu berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun di atas kamu untuk selamanya. Insya-Allah”

Setelah ditinggal Ibrahim, keadaan  Hajar dan Ismail sangat mengenaskan. Segera saja  Hajar kelaparan dan dahaga di gurun tandus tersebut. Akibat kelaparan, air susunya juga tak lagi menetes untuk menyusui Ismail. Ismail menangis terus-menerus menyayat hati. Kelaparan, kecemasan ditambah tangisan Ismail karena tak ada lagi air susu yang akan ia minum, membuat  Hajar menjadik panik. Ia berlarian kesana-kemari untuk mencari sesuap makanan atau seteguk air pengobat lapar dan dahaga.

Lalu  Hajar pergi ke Bukit Safa, ia berharap bisa mendapatkan sesuatu yang bisa menolongnya, namun hanya batu dan pasir yang ditemuinya di sana. Dari Bukit Safa itu ia melihat bayangan air yang mengalir di atas Bukit Marwah, kemudian ia berlari lagi ke bukit Marwah, namun setelah sampai di sana yang dikiranya air, ternyata hanya bayangan fatamorgana belaka.

Diriwayatkan dalam keadaan yang tidak berdaya dan hampir putus asa, setelah 7 kali bolak balik antara Safa dan Marwah, datanglah malaikat jibril dan bertanya: “Siapakah sebenarnya engkau ini?” Kemudian  Hajar menjawab : “Aku adalah hamba sahaya Ibrahim”. Jibril bertanya lagi :” Kepada siapa engkau dititipkan di sini?”,  hajar menjawab : “Hanya kepada Allah.”

Lalu malaikat jibril berkata lagi : “Jika demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat yang Maha pemurah dan maha Pengasih, yang akan melindungimu, mencukupkan keperluan hidupmu dan tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya”

Lalu  Hajar diajak  ke suatu tempat dimana Malaikat Jibril menginjakkan telapak kakinya kuat kuat di atas tanah. Atas izin Allah keluarlah dari bekas telapak kaki itu air yang begitu jernih. Mata air itu kemudian dinamakan mata air zam-zam yang tak pernah kering hingga saat ini. Keberadaan ini pula yang membuat kota Mekah makin lama makin tumbuh dan berkembang luar biasa hingga saat ini.

Ketika Nabi Ismail AS mencapai usia remaja, Nabi Ibrahim mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih puteranya tersebut.  Lama Nabi termenung menafsirkan mimpi itu. Sungguh amat berat ujian yang harus dihadapinya.  Namun sesuai dengan firman Allah: “Allah lebih mengetahui dimana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalah-Nya”. Lalu Nabi Ibrahim menuju ke Mekah untuk menemui dan menyampaikan hal tersebut kepada putranya Ismail.

Seperti firman Allah dalam QS 2: 124,  Dan (ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ”Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: ”(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Tanpa ragu-ragu dan berpikir panjang Nabi Ismail pun menjawab perkataan ayahnya : “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu.”  Kemudian dipeluknya Nabi Ismail AS dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata : “Bahagialah aku mempunyai seorang putra yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua yang ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah”

Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Nabi Ismail AS, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia. Awalnya terjadi perang bathin di hati beliau, antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Namun akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan di leher Nabi Ismail AS dan penyembelihan pun dilakukan.

Akan tetapi, parang tajam itu ternyata menjadi tumpul di leher Nabi Ismail AS.  “Wahai ayahku, rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telungkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku”.  Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya walau  Ismail telah ditelungkupkan lehernya dipotong dari belakang.

Dalam keadaan bingung dan sedih, datanglah wahyu Allah : “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan qibas”.

Kemudian sebagai ganti nyawa Nabi Ismail AS, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyembelih seekor domba yang telah tersedia di sampingnya. Inilah asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada setiap hari raya Idhul Adha di seluruh dunia.

Dari kisah di atas bisa kita lihat betapa sebuah ujian, sebuah perjuangan, sebuah pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas selalu berujung dengan sesuatu yang indah, manis bahkan luar biasa. Mungkin  Hajar tidak pernah membayangkan kota Mekah yang dulu tak berpenghuni dan dimana ia dulu berurai air mata demi seteguk air, akan berkembang pesat menjadi kota modern seperti saat ini.

Di Idul Adha tahun ini mari kita renungkan kembali dan jadikan teladan kisah keluarga Nabi Ibrahim AS yang penuh ujian, perjuangan dan pengorbanan.  Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan daya juang, kesabaran menghadapi ujian dari Allah serta keihklasan untuk berkorban demi kemajuan bersama, dan tentu juga untuk diri dan keluarga kita sendiri. Semoga kita menjadi umat yang bertakwa. (Oktober 2013)

55. Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter

 

Dulu aksi kriminalitas umumnya dilakukan oleh preman (biasanya dilengkapi dengan tatoo). Mereka umumnya adalah kalangan tidak terdidik, putus sekolah atau pengangguran. Jika terjadi pencurian, perampokan, perkosaan dan sebagainya, kelompok inilah yang biasanya menjadi pelaku utama.

Belakangan peta kriminalitas itu bergeser, pelakunya tak lagi kalangan preman, tapi mereka kaum terdidik. Motif kriminalitas yang dilakukan juga makin canggih, membobol bank, penipuan pajak, korupsi  dan lain-lain. Jika maling atau rampok sasaran kejahatannya hanya sampai beberapa puluh juta rupiah, kriminal jenis ini sasarannya puluhan milyar sampai triliunan rupiah. Sungguh luar biasa. Kejahatan jenis ini populer dengan sebutan  kejahatan kerah putih.

Begitu juga kasus kriminalitas lain dan gangguan keamanan. Jika dulu yang jadi biang tawuran antar kampung adalah preman, maka kini yang jadi biang tawuran adalah pelajar atau mahasiswa. Sedangkan kasus asusila, perkosaan yang menjadi aktor pelakunya adalah pelajar, mahasiswa atau justru orang yang dianggap tokoh masyarakat.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah tentu karena kualitas moral dan keimanan mereka yang lemah.  Hal ini terjadi umum di semua pelosok negeri ini. Kenapa kualitas moral dan keimanan bangsa ini lemah, tentu kita harus mengevaluasi kembali proses pendidikan yang membentuk karakter mereka.

Tentu kita merasakan bahwa proses pendidikan kita, disengaja atau tidak, telah tergiring lebih mengutamakan proses  kognitif  terhadap bahan pelajar. Lebih celaka lagi karena sekedar untuk mengejar nilai dan bisa lulus ujian, proses belajar yang dilakukan siswa hanya sekedar menghafal. Sejumlah pelajar memplesetkan sistem SKS sebagai sistem kebut semalam. Artinya mereka menghafal semalam saja pelajaran yang akan diuji besok. Setelah ujian mereka lupa lagi apa materi pelajaran yang sudah dipelajari.

Proses pendidikan yang terpadu, yaitu memberikan pengetahuan serta perubahan perilaku kepada peserta didik. Dengan demikian mereka tidak hanya memiliki pengetahuan, tapi juga memiliki karakter yang baik.

Secara nasional pentingnya pendidikan karakter telah disepakati dan disadari.  Konsensus tersebut diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.”

Dari bunyi pasal tersebut terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter.

Di Sumatera Barat pendidikan karakter telah dilakukan di sejumlah sekolah, di antaranya SMA 1 Padang Panjang, Yayasan Pendidikan Adzkia, Pesantren Ar Risalah, sejumlah SDIT dan berbagai pesantren lainnya di daerah ini.

Kata kunci kurikulum yang dilaksanakan adalah keterpaduan antara kognitif, afektif dan psikomotirik. Siswa tidak hanya dilatih untuk sekedar menghafal, tapi mempraktekkan dan membiasakan siswanya untuk melakukan syariat Islam seperti shalat, puasa, berbuat baik, jujur, disiplin, memahami adat dan budaya, memiliki nasionalisme dan seterusnya.

Alhamdulillah banyak pihak yang memuji bahwa kurikulum yang diterapkan memang mampu membentuk karakter lulusan sekolah tersebut. Di lapangan memang terbukti, lulusan sekolah tersebut seperti Adzkia, berbeda dengan sekolah lain umumnya. Masyarakat dari berbagai kalangan, kelompok bahkan berbagai partai politik, mengamanahkan putra-putri mereka untuk dididik di sekolah tersebut.

Alhamdulillah selama ini tidak ada komplain dari pihak manapun bahwa di dalamnya ada kepentingan politik. Karena memang tidak ada kepentingan politik di sana, dan memang tidak akan bisa dicampur adukkan. Membiasakan siswa melakukan ibadah bukan muatan politik, tapi semata untuk membina karakter siswa agar mereka sukses dunia dan akhirat. Insya Allah membangun karakter bangsa bisa dilakukan dari sini dan dimulai dari sekarang! (Mei 2012)

56. Menata Masa Depan

Menata Masa Depan

Dalam sebuah acara pelatihan motivasi bagi siswa SLTA semester terakhir di kota Payakumbuh baru-baru ini saya bertanya. Siapa yang ingin jadi orang sukses? Ternyata tak banyak yang berani mengacungkan tangan. Setelah saya mengulangi lagi pertanyataan yang sama, barulah satu per satu dengan ragu-ragu ada yang berani mengacungkan tangan.

Begitu juga ketika saya ajukan pertanyaan,”Siapa yang ingin melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia?” Mereka melirik kiri-kanan. Setelah melihat banyak kawan-kawannya mengacungkan tangan, barulah mereka ramai-ramai ikut mengacungkan tangan bersemangat.

Sejumlah fakta dan hasil penelitian membuktikan mereka yang berhasil merumuskan cita-citanya, apalagi telah merancang masa depannya sejak dini, umumnya berhasil pula dalam karirnya. Jika seseorang bercita-cita sejak dini menjadi dokter, apalagi diikuti dengan kerja keras untuk mencapainya, umumnya mereka akan berhasil. Begitu juga dengan cita-cita di bidang profesi lainnya.

Jika kita punya tujuan (cita-cita) ingin ke Bukittinggi misalnya, maka tujuan kita sudah jelas, tinggal memilih bagaimana caranya untuk sampai ke Bukittinggi. Tapi jika kita tidak punya tujuan yang hendak dicapai, tidak tentu arah, tentu sulit untuk mencapainya.

Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya suka sekali menulis nama saya sebagai Prof. Dr. Irwan Prayitno. Sejak SMA saya sangat mendambakan memperoleh gelar profesor. Tentu saja saya tak sekedar berkhayal tanpa usaha. Saya belajar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai impian tersebut dan berhasil merebut gelar juara umum di SMA dan lalu diterima melanjutkan pendidikan di Universitas  Indonesia.

Alhamdulillah, mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan. Selanjutnya saya berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral bidang SDM di Malaysia dan berhak menyandang gelar Profesor setelah memenuhi sejumlah persyaratan yang dibutuhkan.

Tidak ada sebuah kesuksesan yang bisa diperoleh tanpa disengaja.  Tak ada orang sukses yang diperoleh secara cuma-cuma (gratis), tanpa dirancang dengan baik dan diperjuangkan secara serius. Jika ia seorang dokter yang sukses dan berprestasi, maka keberhasilan itu sudah ia perjuangkan sejak duduk di bangku SMA sehingga ia lolos ke fakultas kedokteran, lalu kuliah dengan serius dan kerja keras, merintis karir sebagai dokter. Jika prestasinya menonjol, barulah ia menjelma menjadi dokter yang sukses. Kisah sukses sebagai profesional di bidang lain apapun, juga karir di bidang apapun juga demikian.

Masa depan seseorang ditentukan sejak dini, makin cepat ia merancang masa depannya, makin baik dan makin besar peluangnya untuk menjadi orang sukses. Kesuksesan seseorang dalam karirnya tergantung pada kesungguhan dan kerja keras yang ia lakukan. Masa pendidikan SLTA, lebih baik lagi pada tingkat SLTP, adalah masa-masa penentuan sikap dan saat merancang masa depan.

Man jadda wa jada, begitu pepatah Arab mengatakan. Siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil. Tidak perlu malu bercita-cita setinggi langit, tidak ada yang tidak mungkin bisa diperloleh jika dilakukan dengan bersunguh-sungguh. Kunci terakhir sesudah bekerja keras tentu saja yang paling penting adalah berdoa. Ikhtiar dan doa adalah pasangan yang tak bisa dipisahkan.

Selamat mengikuti Ujian Nasional (UN) anak-anakku yang duduk di bangku kelas 3 SLTA.  Bekerja keras dan bersungguh-sungguhlah untuk mencapai hasil yang terbaik. Rancanglah masa depan kalian dari sekarang, jangan ragu dan malu untuk bercita-cita setinggi-tingginya. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang sukses, dunia dan akhirat. Amin. (Maret 2014)

57. Persiapkan Diri dari SLTP

Persiapkan Diri dari SLTP

Mengadakan reuni, bertemu dengan kawan-kawan lama yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa, tentu memberikan kesan tersendiri. Apalagi kawan-kawan tersebut termasuk teman dekat sama SMP atau SMA dulunya. Masa SMP atau SMA adalah masa remaja, banyak yang berpendapat masa-masa tersebut merupakan masa paling  indah dan berkesan sepanjang hidup.

Beberapa kali saya sempat mengikuti  reuni tempat saya dulu menimba ilmu, yaitu SMP 1 dan SMA 3 Padang.  Bagi saya, tentu juga bagi teman-teman lainnya, merupakan sebuah surprise bertemu kawan-kawan lama yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. Canda tawa pun segera bergemuruh memenuhi gedung pertemuan, ramai seperti pasar saja layaknya. Masing-masing saling berbagi cerita, baik pengalaman selama puluhan tahun tidak bertemu, maupun cerita tentang  masa lalu.

Lebih berkesan lagi saat bertemu dengan guru-guru yang dulu mengajar kami berbagai mata pelajaran, baik matematika, bahasa Inggris, IPA dan lainnya. Kami juga punya kisah tersendiri dengan masing-masing guru yang juga menarik untuk dijadikan bahan cerita dengan teman-teman lama. Guru-guru juga tampak bahagia dan haru bertemu dengan kami. Tentu beliau juga punya kesan tersendiri pula tentang kami. Di antara kami ada yang baik dan banyak juga yang usil dan agak bandel.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian dan menjadi catatan yang terlintas pikiran saya, yaitu saat kedatangan mereka tadi. Sebagian ada yang datang menggunakan angkot, sebagian ada juga yang datang menggunakan ojek atau jalan kaki. Namun sebagian lagi datang menggunakan kendaraan pribadi seperti kijang dan sejenisnya. Tapi ada juga yang diantar oleh sopir, menggunakan mobil yang lebih bagus sejenis camry dan lainnya.

Tentu saja bukan maksud saya untuk membeda-bedakan status sosial mereka, tetapi saya langsung teringat dan terhubung dengan latar belakang mereka. Oh… itu kan si Anu yang dulu sering juara kelas atau pernah juara umum. Ia dulu memang terkenal rajin dan ulet. Setelah tamat SMA dia diterima di ITB, lalu bekerja di perusahaan  yang cukup bonafid. Tak heran sekarang hidupnya terlihat mapan.

Atau sebaliknya, oh… itu kan si Anu, yang nakal, dan suka bolos. Ia terkenal malas, nilai rapornya hancur berantakan, ia terkenal langganan jadi juru kunci di kelas. Jangankan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi favorit, untuk bisa lulus SMA pun sangat sulit baginya. Jika sudah begitu, tentu sulit pula baginya untuk menata masa depan yang lebih baik dan wajar pula kehidupannya tak sebaik contoh alumnus di atas.

Peluang kerja  atau peluang untuk berkarir, memang semakin hari semakin sulit dan ketat. Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan makin sulit dan persaingan makin ketat. Begitu juga untuk mengembangkan karir, kualitas individu sangat menentukan agar bisa lolos dan berkembang. Boleh dikatakan seperti lolos dari lubang jarum.

Lihat saja fenomena yang terjadi saat penerimaan CPNS di Sumatera Barat tahun lalu. Para pelamar yang mendaftar ada puluhan ribu orang, namun yang dibutuhkan dan diterima hanya beberapa ratus orang saja. Begitu juga saat penerimaan pegawai di PT Semen Padang, jumlah pelamar juga puluhan ribu orang, namun yang dibutuhkan dan diterima hanya seper sepuluh ribunya saja.

Lalu bagaimana agar bisa lolos dalam persaingan yang ketat itu? Kuncinya adalah mempersiapkan diri sejak dini, sejak dari bangku sekolah, terutama SLTP dan SLTA . Jika basis sesesorang kuat saat duduk di bangku  SLTP dan SLTA, maka ia akan lolos untuk masuk perguruan tinggi favorit yang diinginkannya.  Jika lulus dari perguruan tinggi tersebut, apalagi jika prestasinya juga baik, maka tidak lagi ia yang mencari pekerjaan, sebaliknya pekerjaan yang mencarinya.

Karena itu saya berpesan kepada anak-anakku yang sedang duduk di bangku SLTP dan SLTA dan sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional (UN), persiapkan diri kalian untuk masa depan yang lebih baik dari sekarang. Masa remaja memang merupakan masa pancaroba yang penuh godaan, tantangan dan ujian.

Namun kita harus melalui semua itu agar jadi pemenang (the winner), bukan pecundang (the looser) di masa datang.  Strategi untuk memasuki lapangan kerja bukan dimulai saat menulis lamaran kerja, tapi dimulai saat kalian duduk di bangku SLTP dan SLTA. Tentu saja kewajiban orang tua adalah membimbing mereka dan memberi motivasi  agar mereka selalu di jalan yang benar (on the track). Selamat berjuang, semoga sukses. (April 2014)

58. Teaching With Love

Teaching With Love

                               

Saat masih duduk di bangku sekolah adalah masa indah yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Persahabatan yang terjalin indah dengan banyak teman, kompak, akrab, penuh canda tawa, melakukan kegiatan kesenian, olahraga dan berbagai kegiatan lainnya, memperkaya pengalaman bathin. Tentu saja yang paling berkesan adalah proses belajar mengajar dan guru-guru yang tulus ikhlas mendidik kami. Pengalaman itu terus membekas dan menjadi bekal yang sangat berharga untuk merintis masa depan.

Dulu, sekitar tahun 70-80 an, kami sangat merasakan betapa guru-guru saat itu mengajar dengan tulus dan sepenuh hati. Memang terkadang mereka terkesan galak,  pemarah dan tegas, tapi kami paham maksudnya, benar-benar agar murid-murid serius belajar, agar pelajaran yang diajarkan betul-betul terpatri di otak peserta didik.

Hingga kini, setelah 40 tahun berlalu, bekal ilmu yang diberikan guru-guru kami tersebut masih berbekas dalam hati dan pikiran, menjadi bekal yang tak ternilai dalam meniti karir sepanjang hidup. Hingga kini, kami selalu rindu untuk bisa berkumpul dengan guru-guru yang umumnya telah tua dan pensiun. Kami sangat menghormati mereka, betul-betul seperti orang tua sendiri. Beberapa di antaranya telah dipanggil menghadap Sang Khalik, doa selalu kami kirimkan untuk beliau.

Mungkin itulah yang dimaksud Prof. DR. Theodoro Llydon C Bautista dengan istilah “Teaching With Love”. Tema itu dibahas profesor dari University of Philipine ini atas prakarsa STKIP Adzkia di aula BI pekan lalu.

Lebih lanjut menurut profesor muda yang baru berusia 40 tahun ini, murid yang dididik dengan rasa cinta dan kasih sayang (Teaching With Love) juga akan memberikan cinta dan kasih sayang kepada lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Saat terjadi bencana besar gempa dan tsunami di Jepang tahun lalu ada belasan ribu warga yang meninggal, ratusan ribu warga menggungsi dan kehilangan tempat tinggal. Suasana waktu itu sungguh-sungguh kacau dan tak bisa dicerna oleh pikiran yang waras.

Namun untunglah ada sekitar 300.000 relawan dari berbagai perguruan tinggi di Jepang terjun langsung ke lokasi bencana. Mereka dengan sukarela ikut membantu dan dengan cinta dan kasih sayang merawat dan menangani para korban yang umumnya lansia dan anak-anak. Musibah itu akhirnya bisa diatasi dengan baik tanpa banyak masalah.  Cinta dan kasih sayang itu telah ditumbuhkan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.

Bautista juga mencontohkan beberapa pemukiman kumuh, daerah-daerah bronx dan miskin di Filipina berhasil ditata menjadi pemukiman asri dan nyaman. Semua itu berhasil dilakukan dengan kerjasama, kepedulian dan kasih sayang sesama manusia.

Kini, banyak orang tua murid yang mengeluhkan tak banyak lagi guru yang mengajar dengan cinta, kasih sayang dan ketulusan (Teaching With Love) seperti dulu. Guru seolah-olah mengajar hanya sekedar menjalan tugas. Siswa sering terlantar karena guru sangat sibuk, menyelesaikan kuliahnya, mengurus akreditasi, mengurus BOS, sampai mengurus pembangunan fisik sekolah dan urusan-urusan lain yang di luar kewajiban mereka.

Ada kekhawatiran fenomena inilah yang merupakan salah satu penyebab seringnya timbul tawuran bahkan yang sangat tragis, yaitu adanya pelajar yang sampai membunuh pelajar lain. Subhanallah…

Apakah apa yang dikeluhkan masyarakat itu benar terjadi? Guru tak lagi Teaching With Love seperti dulu?  Tentu perlu dievaluasi lagi. Jika memang terjadi, tentu harus segera diperbaiki. Tentu kita ingin mencegah dan memperbaiki agar hal-hal yang lebih buruk tidak terjadi lagi, sebelum terlanjur. Kita semua tentu tidak ingin kehilangan generasi masa depan (lost generation), itu disebabkan karena kesalahan dan dosa kita. Mari berubah dan lakukan yang terbaik. Tanggung jawab itu berada di pundak kita bersama. (November 2012)

 

 

BAB 4  INSPIRASI DI BIDANG AGAMA

59. Masjid

Masjid

Sebuah pertanyaan menarik dan menggelitik pikiran saya dilontarkan oleh mantan Wakil Presiden RI HM. Yusuf Kalla saat melantik Pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatera Barat di Auditorium Gubernuran tahun 2012 lalu. Pertanyaannya  adalah kenapa mall ramai setiap hari, sementara masjid sepi, atau kalau ramai paling di waktu-waktu tertentu saja?

Jawabannya sederhana saja, mall menawarkan jasa one stop service, satu tempat menawarkan berbagai fungsi dan kebutuhan. Survei membuktikan bahwa hanya 20 persen saja pengunjung mall datang khusus untuk belanja. Selebihnya mereka datang untuk kepentingan lain, seperti bertemu seseorang/relasi , makan dan ngopi atau sekedar rekreasi dan cuci mata (window shoping). Suasana mall juga diciptakan sedemikian rupa sehingga nyaman, menyenangkan dan bersih, sehingga pengunjungnya ramai, betah di sana dan akhirnya belanja juga.

Idealnya masjid juga memakai konsep demikian, tidak hanya untuk satu kebutuhan saja, tapi juga multi fungsi (one stop service) dan juga perlu diciptakan suasana  senyaman mungkin.  Jika di tempat lain, orang melakukan perjanjian atau perundingan bisnis di mall, seharusnya hal serupa juga bisa dilakukan di masjid. Jika selama ini masyarakat melakukan seminar dan diskusi di hotel, bukan tidak mungkin juga bisa dilakukan di masjid. Begitu juga dengan acara lain, seperti pernikahan, syukuran dan sebagainya,  bisa dilakukan di masjid. Masjid tidak hanya berfungsi tunggal sebagai tempat shalat, tetapi juga untuk kemaslahatan umat.

Di sejumlah tempat fungsi-fungsi tersebut telah diterapkan, sebagian kecil penduduk telah menjadikan masjid sebagai tempat acara pernikahan sehingga nuansa keagamaannya lebih terasa. Di sejumlah tempat, masjid juga telah dilengkapi dengan pustaka, tempat berdiskusi, bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat. Di sejumlah tempat, selain memiliki TPA dan MDA, masjid juga memiliki tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dengan demikian anak terbiasa dengan suasana masjid sejak usia dini.

Namun fungsi-fungsi tersebut belum optimal, masih dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat saja. Kegiatan ini masih bisa ditingkatkan lagi, sebagai salah satu cara memakmurkan masjid.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tentu saja fasilitas masjid perlu dilengkapi, manajemen masjid juga perlu dibenahi. Kebersihan juga menjadi hal yang sangat penting, karena dalam Islam sendiri jelas-jelas diajarkan bahwa kebersihan adalah sebagan dari iman. Tentu saja masalah kebersihan bukan tanggung jawab pengurus masjid saja, tetapi tanggung jawab bersama.

Satu hal lagi yang penting diperhatikan menurut Pak Yusuf Kalla (JK) adalah masjid bisa memberikan dampak ekonomis terhadap lingkungan sekitarnya. Masjid bisa menjadi makmur, bersih dan lengkap fasilitasnya karena didukung oleh masyarakat sekitarnya yang mempunyai kehidupan ekonomi yang cukup kuat pula. Masjid jika memiliki lembaga keuangan yang baik, tentu bisa membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitarnya. Pak JK telah mengajak sejumlah Bank Syariah untuk mendirikan kantornya di masjid. Sejumlah bank menyatakan setuju dan InsyaAllah dalam waktu dekat sejumlah Bank Syariah akan berkantor di masjid.

Saya sepakat dengan pendapat Pak JK, fungsi masjid memang harus dikembangkan dan dimaksimalkan. Apa yang dimaksud dengan Islamic Center harus bisa diwujudkan. Masjid harus dijadikan pusat kegiatan umat Islam, baik untuk kegiatan keagaman, sosial kemasyarakatan maupun kegiatan ekonomi. Saya sendiri sudah lama berniat dan mengumumkan akan juga berkantor di Masjid Raya Sumbar. Pendekatan keagamaan, baik dalam pemerintahan, kebudayaan maupun ekonomi kemasyarakatan adalah pilihan terbaik yang telah terbukti keampuhannya.

Mari kita makmurkan masjid kita dan kita benahi manajemennya, kedekatan masyarakat  dengan masjid (surau) telah menjadi jati diri masyarakat Minangkabau sejak dulu. (November 2012)

60. Mencintai Masjid

Mencintai Masjid

 

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mendorong umat Islam untuk lebih giat beribadah. Masjid kembali ramai setelah sebelas bulan sebelumnya tidak seramai di bulan Ramadhan. Karena lebih sering ramai di bulan Ramadhan, maka sering kali terjadi kegaduhan oleh anak kecil maupun remaja. Mereka gaduh mungkin karena senang dan nyaman di masjid.

Namun bagi orang tua maupun orang dewasa, kegaduhan di masjid bisa mengurangi ketenangan beribadah. Untuk itu, perlu ada pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak dan remaja agar mereka bisa tertib dan menjaga ketenangan beribadah.

Kegaduhan anak-anak dan remaja jika dilihat lagi bukanlah hal negatif, bahkan bisa dijadikan hal positif. Anak-anak dan remaja memang seharusnya sudah mengenal dan berinteraksi dengan masjid. Semakin mereka kenal dengan masjid, maka seharusnya mereka akan tenang dan khusyuk dalam beribadah, bukan membuat gaduh.

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (1)Pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabbnya, (3) Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, berkumpul dan berpisah karena Allah pula, (5) Seorang lelaki yang diajak zina oleh wanita yang kaya dan cantik tapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’, (6) Seseorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta (7) Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (Shohih Bukhari, Hadits no 620).

Berdasarkan hadits di atas, maka seharusnya remaja dan pemuda mencintai masjid karena balasannya yang luar biasa di akhirat nanti. Jangan sampai mereka mencintai masjid ketika sudah tua. Maka di sini peran orang tua juga penting untuk mendorong anak-anaknya mencintai masjid. Perlu inovasi dan kebijakan tertentu dari orang tua dan pengurus masjid agar menjadikan remaja dan anak-anak mencintai masjid.

Peran orang tua juga cukup besar. Ini sesuai dengan hadits Nabi tentang peran orang tua terhadap anaknya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanyalah yang menjadikan dia seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” Kemudian Abu Hurairah membacakan ayat-ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Hukum-hukum) ciptaan Allah tidak dapat diubah. Itulah agama yang benar. Tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS Ar Rum [30]:30) (HR Bukhari).

Semoga momentum Ramadhan ini, sebagai orang tua kita bisa menjadikan anak-anak kita sebagai pribadi yang mencintai masjid, dan bagi pemuda dan remaja bisa termotivasi untuk senantiasa mencintai masjid dalam arti yang luas. (Juli 2012)

61. MTQ

MTQ

Usai shalat subuh, jarum jam di tangan saya menunjukkan pukul 05.15. Kota Padang masih gelap dan sepi, namun cuaca nampaknya sangat bersahabat, tak ada mendung menggantung di langit, angin bertiup pelan, sepoi-sepoi.

Kami bersama  ketua DPRD Sumbar Ir. Yultekhnil, MM langsung meluncur menuju dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bungus, membelah kegelapan menjelang fajar. Di dermaga TPI ternyata sudah menunggu Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet, Kakanwil Kemenag Ismail Usman, Kabiro Binsos Jefrinal Arifin, Kabiro Humas Irwan serta sejumlah tamu lainnya.

Dua kapal motor sudah disiapkan, yaitu KM Rimata dan KM TV One (sumbangan dari donatur TV One). Tanpa banyak komentar lagi, kami segera angkat sauh menuju Muara Siberut, Kabupaten Mentawai, sekitar 100 mil dari pulau Sumatera.

Lebih dari 3 jam kami di kapal, perjalanan yang cukup melelahkan. Waktu tiga jam lebih tersebut saya manfaatkan untuk berdiskusi dengan bupati Mentawai tentang berbagai masalah di kabupaten lepas pantai barat Sumatera itu. Banyak hal yang bisa kami bahas dan kami simpulkan. Saat merapat di dermaga Muara Saibi ternyata Bupati Pesisir Selatan Nasrul Abit dan Bupati Tanah Datar M Shadiq Pasadigue telah duluan sampai di sana, mereka datang dengan kapal khusus milik Dinas Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan.

Hari itu memang merupakan hari istimewa bagi kabupaten seluas 6.011,35 km2, berpenduduk 68.097 jiwa ini. Senin, 3 Desember 2012 merupakan hari pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-4 Kabupaten Mentawai, yang kali ini dipusatkan di Muara Siberut, Ibu Kecamatan Siberut Selatan.  Karena itu, meski harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, saya sendiri, Ketua DPRD Sumbar, Bupati dan Kakanwil Kemenag, serta sejumlah pejabat lainnya hadir langsung pada acara tersebut.

Yang patut diapresiasi dalam peristiwa ini adalah tingginya toleransi beragama masyarakat Mentawai. Mayoritas penduduk Mentawai beragama Katolik dan Bupati Mentawai juga bukan seorang muslim, namun MTQ di Mentawai bisa terlaksana dengan baik. Hal ini tentu saja akibat terbangunnya toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang baik.

Ketentraman umat beragama bisa tercabik-cabik akibat hasutan pihak ketiga. Ambon misalnya, perpecahan bahkan pertumpahan darah yang memilukan terjadi di sana akibat hasutan pihak ketiga. Hal ini terjadi akibat lemahnya kekompakan umat beragama sehingga bisa dimasuki dan diadu domba oleh pihak ketiga.

Saat pelaksanaan MTQ nasional tahun lalu di Ambon, kerukunan umat beragama itu kembali dijalin. MTQ Nasional di Ambon berjalan sukses dan aman, persatuan antar umat beragama kembali digalang, bahkan sejumlah lagu yang ditampilkan saat acara pembukaan dibawakan oleh paduan suara gereja. Sungguh indah sebuah kebersamaan.

Semua agama bertujuan baik dan mengajarkan hal-hal yang baik kepada semua pemeluknya. Tidak satupun agama yang mengajarkan pemeluknya untuk berbuat kejahatan. Karena itu tidak ada alasan yang menyebabkan terjadinya perpecahan antar umat beragama. Di zaman Nabi Muhammad SAW, zaman kejayaan Islam adalah saat terbangunnya masyarakat Madani di Madinah. Masyarakat madani ditandai dengan terjadinya kerukunan dan toleransi yang tinggi antar umat beragama.

Peristiwa MTQ menjadi penting karena MTQ memotivasi masyarakat, khususnya umat Islam, untuk terbiasa dan dekat dengan Al Quran. Setelah terbiasa membaca Al Quran diharapkan mereka berangsur-angsur memahami isi Al Quran. Pada akhirnya setelah mereka paham dengan isi Al Quran, mereka lalu mengamalkan ajaran yang terkandung dalam Al Quran tersebut. Jadi, MTQ tidak selesai hanya sebatas lomba.

Tentu saja sangat aneh dan tidak masuk akal jika ada satu kontingen yang kasak-kusuk, menghalalkan segala cara agar bisa menjadi juara MTQ.  Berita seperti ini sudah sering terdengar terjadi di daerah lain. Nauzubillah bin zalik !!! Kita tentu tidak menginginkan hal memalukan itu juga terjadi di Sumatera Barat.

Alhamdulillah pembukaan MTQ Mentawai berjalan lancar, usai shalat Zuhur yang dijamak dengan Ashar kami bertolak kembali ke Padang. Menjelang magrib kami merapat di dermaga TPI Bungus. Dalam perjalanan pulang suara azan terdengar berkumandang, saya berbuka puasa di mobil dengan air putih. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah semoga perjalan kami hari ini bermanfaat bagi masyarakat Mentawai, Sumbar pada umumnya dan menjadi ibadah bagi kami semua. Amin.” (Desember 2012)

62. Bulan Al Quran

Bulan Al Quran

 

Bulan Ramadhan disebut juga sebagai Syahrul Quran, bulan turunnya Al Quran. Rasulullah SAW ketika di bulan Ramadhan melakukan tadarus Al Quran bersama Jibril. “Adalah Jibril menemui Rasulullah tiap malam dalam bulan Ramadhan dan bertadarus Al Quran” (HR Bukhori).

Al Quran juga menjelaskan tentang Syahrul Qur’an ini. “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS Al Baqarah: 185).

Sebagai petunjuk bagi manusia, maka Al Quran bisa menjadi rujukan bagi umat manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya. Mungkin kita pernah mengetahui atau membaca di media beberapa waktu lalu, mantan perdana menteri Inggris Tony Blair mengakui bahwa ia tiap hari membaca Al Quran. Ia membaca Al Quran bukan dalam kapasitas sebagai muslim, tetapi untuk memahami berbagai hal yang terjadi di dunia dan juga karena Al Quran sangat instruktif, serta dalam rangka tugas barunya sebagai utusan Timur Tengah bagi PBB, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Rusia.

Sebagai umat Islam, kita perlu mencontoh kebiasaan Tony Blair ini dikaitkan dengan tanggung jawab kita sebagai muslim. Sebagai muslim yang menjadikan Al Quran sebagai petunjuk hidup, agak aneh kalau tidak mengetahui isi Al Quran. Saat ini sudah banyak terjemahan Al Quran dengan berbagai bahasa. Ketidaktahuan kita tentang isi Al Quran ini akan menyebabkan sulitnya menyampaikan ajaran Islam yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan universal.

Di bulan Ramadhan ini, dengan balasan yang berlipat ganda, motivasi membaca Al Quran seharusnya sudah menjadi orientasi umat Islam. Kedekatan kita kepada Al Quran juga merupakan salah satu sebab turunnya pertolongan Allah SWT kepada kita. “Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).

Perlu kita sadari bahwa kewajiban membaca Al Quran itu bukanlah berada pada para ustadz, kiyai, ulama, dai, mahasiswa sekolah agama atau guru/dosen sekolah agama, akan tetapi merupakan kewajiban untuk seluruh umat Islam. Apa artinya beriman kepada Al Quran tetapi tidak pernah membacanya dan tidak mengetahui isinya.

Sebagai umat Islam yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, maka kebiasaan tadarus Al Quran Rasulullah SAW di bulan Ramadhan seharusnya memotivasi kita untuk mengamalkan sunnah tersebut. Membaca Al Quran justru membuat kita semakin modern, semakin maju. Dan membaca artinya/tafsirnya membuat hidup kita lebih terarah. Bukankah Rasulullah SAW dan sahabat telah membuktikan hal tersebut? ”Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW dan sahabat adalah orang-orang yang senantiasa membaca Al Quran setiap hari. Imam Abu Hanifah, di bulan Ramadhan mampu mengkhatamkan Al Quran 90 kali. Sementara Imam Syafi’i 60 kali. Di bulan Ramadhan, kita diperbolehkan untuk khatam Al Quran sebanyak mungkin. Sementara di luar Ramadhan, Rasulullah SAW membatasi mengkhatamkan Al Quran paling cepat 3 hari (10 kali dalam sebulan). Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu membaca, mempelajari, mentaati dan mengajarkan Al Quran. (Agustus 2011)

63. 7 Amalan di Bulan Ramadhan

7 Amalan di Bulan Ramadhan

 

Bulan Ramadhan sering juga disebut bulan penghulu dari sekalian bulan. Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa, karena Allah berjanji akan membersihkan dosa manusia yang benar-benar ingin bertaubat.

Karena itu Nabi Muhammad SAW selalu menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan suka cita, sebaliknya beliau menangis ketika Ramadhan cepat berlalu. Rugi jika bulan Ramadhan tidak dimanfaatkan sebaik mungkin, karena semua amal di bulan Ramadhan nilainya berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan lain.

Ada 7 amalan penting yang bisa dilakukan selama bulan Ramadhan agar manusia kembali fitrah di akhir Ramadhan nanti, yaitu;

  1. Membaca Al Quran. Bulan Ramadhan adalah bulan Al Quran sesuai dengan sunnah Nabi SAW, Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan di antara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan Al Quran di hadapan Jibril. Pada saat itu kedermawaan Nabi melebihi angin yang berhembus.”

Haditst tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus Al Quran, dan mengadakan ijtima`/berkumpul dalam majlis Al Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar Al Quran bisa dilakukan di di hadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal Al Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca Al Quran di malam hari.

  1. Menahan hawa nafsu dan kesenangan duniawi. Yaitu dengan mengurangi makan ketika berbuka serta tidak berlebih-lebihan. Dalam sebuah haditst dikatakan “Tidak ada perkara yang lebih buruk dari pada memenuhi isi perut dengan makanan secara berlebihan”. Ruh puasa terletak pada memperlemah syahwat, mengurangi keinginan dan mengekang nafsu.
  2. Berdoa ketika berbuka puasa. Abu Hurairah RA berkata: bersabda Rasulullah SAW: Ada tiga golongan yang tidak akan ditolak doanya, mereka itu adalah: orang puasa yang berdoa ketika berbuka, doa pemimpin yang adil dan doa orang yang teraniaya”.
  3. Qiyamullail (Tahajjud ). Sholat Tarawih hukumnya sunat menurut kesepakatan para ulama juga disunatkan untuk mengkhatamkan al-Qur’an selama shalat tarawih. Hadits-hadits yang menerangkan tentang qiyamullail adalah: Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa menghidupkan malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan mendapatkan ridho Allah SWT semata, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau”.
  4. Berlomba-lomba dalam bersedekah. Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi: “Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim).
  5. Iktikaf di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan. Iktikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan merupakan penyempurna ibadah puasa. Ini karena Iktikaf artinya mengkonsentrasikan diri menghadap Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya. Hingga kecintaannya semata hanya kepada Allah, mengalahkan kecintaannya kepada selain Allah
  6. Menjauhi Larangan Agama: Hal yang perlu diperhatikan oleh seorang mukmin adalah menjaga lisan dalam keadaan berpuasa sebagaimana yang dipesankan Rasulullah s.a.w: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan ghibah maka tiada artinya di sisi Allah baginya berpuasa dari makan dan minum” (HR: Bukhari). Berkata Ibnu Battal: Bukan berarti kemudian ia meninggalkan puasa, tapi ini merupakan peringatan agar meninggalkan perkataan dusta dan ghibah. (Juli 2011)

64. Agar Puasa Lebih Bermakna

Agar Puasa Lebih Bermakna

Dalam ajaran Islam telah sering dijelaskan bahwa puasa merupakan pilar agama Islam yang sarat dengan muatan-muatan hikmah. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu, banyak menguak hikmah dan muatan filosofis yang terkandung dalam ibadah yang satu ini. Ada yang meninjaunya dari perspektif kesehatan, manajemen, psikologi, ekonomi, sosiologi, etika sosial, dsb.

Dengan analisis itu, puasa disimpulkan dapat membuat orang menjadi sehat, baik jasmani maupun rohani, puasa dapat meningkatkan kedisiplinan, membentuk insan yang jujur, berkepribadian luhur, mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, dapat melahirkan pencerahan etika dan perilaku positif. Tidak cuma itu, puasa dapat meningkatkan etos kerja dan produktifitas, bahkan dapat mewujudkan pencerahan spiritual dan intelektual.

Namun, apakah hikmah puasa yang berlimpah itu tercapai di akhir Ramadhan nanti, sehingga puasa mempunyai dampak terhadap pencerahan perilaku, pembangunan manusia yang sehat fisik dan mental, jujur, berdisiplin, mempunyai kepekaan sosial, etos kerja tinggi, produktif, dan sebagainya?.

Anehnya, masih banyak orang yang berpuasa, kesehatannya justru semakin menurun. Pasca Ramadhan ia selalu ke rumah sakit karena gangguan kesehatan. Kejujuran tetap dikesampingkan, kolusi dan korupsi masih dipraktekkan, etos kerja melempem, produktifitas menurun, semangat mengamalkan ajaran agama menjadi luntur, pencerahan spritual dan intelektual menjadi gelap, jiwa kepekaan sosial menjadi pekak, bekerja tetap tidak disiplin, kurang menghargai waktu, dsb.

Jika demikian, benarlah apa yang pernah dituturkan oleh Nabi kita, “Betapa banyak orang puasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat di malam hari, tetapi tidak mendapat apapun kecuali sekedar mengantuk akibat bangun malam” (HR. Ad-Darimi).

Memang,  Islam selalu unggul dalam ajaran yang kaya hikmah atau makna filosofis. Namun sangat disayangkan, selalu saja terjadi kesenjangan antara muatan hikmat yang holistik itu dengan praktek yang ditemui di lapangan. Misalnya, Islam adalah agama yang sangat intens mengajarkan kebersihan, namun masih banyak ummat Islam yang akrab dengan lingkungan kotor. Islam adalah agama yang sangat menekankan kedisiplinan, tetapi ummat Islam lah yang banyak melanggar disiplin dan membuang-buang waktu. Islam adalah agama yang syarat mengajarkan urgensi membaca dan menuntut ilmu, tetapi ternyata ummat Islam lah yang malas membaca dan belajar, sehingga terbelenggu dalam bingkai keterbelakangan dan kebodohan. Islam mengajarkan etos kerja secara mengesankan, tetapi umat islam lah yang masih banyak bermalas-malasan. Puasa dalam Islam mengandung segudang hikmah, namun realitas selalu berbeda dengan tujuan hikmah tersebut.

Inilah kesenjangan-kesenjangan antar ideal (das sein) dan faktual (das solen). Upaya pelacakan faktor-faktor terjadinya kesenjangan itu disebut dengan evaluasi, yaitu penilaian kembali ibadah puasa yang telah dilaksanakan. Evaluasi maupun introspeksi, merupakan keniscayaan dilakukan, demi perbaikan dan peningkatan kualitas ibadah di masa depan dan pada gilirannya merefleksikan implikasi positif secara vertikal dan horizontal.

Selamat menunaikan ibadah puasa, mari kita melakukan introspeksi (muhasabah), semoga puasa dan segala amal ibadah kita tahun ini menjadi lebih bermakna dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin. (Juli 2011)

65. Bulan Pembentukan Karakter

Bulan Pembentukan Karakter

Pernahkah kita memperhatikan tingkah laku hewan ternak? Ayam, misalnya. Hanya butuh waktu beberapa hari saja melatihnya. Maka ia segera tahu dimana kandang yang harus dia tuju, dan  segera setiap sore tanpa diperintah lagi dia akan pulang dan masuk ke kandangnya. Mereka juga tahu dimana tempat makannya. Mereka juga tahu memilih makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh  mereka dan menghindari makanan yang akan mencelakakan mereka.

Banyak contoh-contoh hewan yang memperlihatkan kepatuhannya dengan memberikan latihan pembiasaan terhadap mereka. Burung beo misalnya, setelah dilatih, ia segera bisa mengucapkan salam kepada setiap ada tamu yang datang. Beo juga senang dan tak lupa mengucapkan kata selamat pagi kepada tuannya saat memberinya makan setiap pagi.

Kucing juga demikian, ia tidak akan buang kotoran sembarangan setelah dilatih, dan selalu menimbun kotorannya dengan tanah. Hal itu selalu ia lakukan dengan teratur. Begitu juga anjing, kuda, burung merpati, gajah, ikan lumba-lumba dan banyak lagi contoh hewan lain yang bisa dilatih dengan cara pembiasaan dan kebiasaan itu selalu melekat dalam diri mereka dan takkan pernah mereka lupakan selamanya.

Mungkin itu pula yang diinginkan Allah kepada manusia di bulan Ramadhan.  Puasa melatih dan membiasakan manusia menahan lapar dan dahaga di siang hari selama sebulan penuh. Seharusnya kebiasaan itu bisa melatih manusia agar tidak makan dan minum secara berlebihan, melatih manusia untuk mengendalikan nafsu makannya secara berlebihan. Kita tahu bahwa makan berlebihan dan tidak terkendali akan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, asam urat, jantung koroner dan lain-lainnya.

Puasa juga melatih manusia untuk menjaga sikap dan perbuatan dan perkataan mereka  agar melakukan hal-hal yang baik. Sikap dan perbuatan yang baik tentu memberikan nilai tambah yang baik bagi orang lain. Menjaga ucapan dan perkataan yang baik tentu saja menyenangkan bagi orang lain tidak menimbulkan saki hati dan merugikan orang lain. Sebaliknya sikap tersebut menimbulkan simpati kepada mereka pelakunya. Subhanallah, sungguh mulia agama Islam. Allah sebagai Khaliq Maha Tahu dengan apa yang terbaik untuk umatnya.

Kesimpulannya, jika dalam bulan Ramadhan, selama sebulan penuh kita benar-benar berlatih untuk mengendalikan makan-minum, hawa nafsu, maka di akhir Ramadhan dan seterusnya seharusnya sudah terlihat hasil dan perubahannya. Jika selama sebulan penuh kita berlatih untuk melakukan shalat, termasuk shalat malam (qiyamulail), seharusnya di akhir Ramadhan seharusnya ada perubahan dan perbaikan. Bulan selanjutnya seharusnya ada perubahan, kita seharusnya sudah terbiasa melakukan shalat wajib, shalat sunat serta shalat malam.  Jika hewan bisa dilatih dan dibiasakan seharusnya manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan dilengkapi dengan akal dan pikiran bisa melakukannya secara lebih baik.

Jika selama bulan Ramadhan kita melatih sikap dan perkataan yang baik secara serius dan sungguh-sungguh, maka setelah berlatih sebulan penuh seharusnya sikap tersebut terus tertanam dalam diri kita dan mejadi perilkaku sehari-hari. Selanjutnya jika terus dibina dan terus diperbaiki maka ia akan menjadi karakter kita seumur hidup.

Jika semua perubahan dan perbaikan itu tidak kita peroleh dan tidak kita upayakan selama bulan Ramdhan, maka benar apa yang dikhawatirkan Nabi Muhammadi SAW akan jadi kenyataan :  “tidak ada yang dapat mereka peroleh setelah selama bulan penuh berpuasa kecuali sekedar merasakan haus dan lapar”. Sungguh sayang dan rugi jika kesempatan “berlatih” sekali setahun tersebut tidak kita manfaatkan sebaik mungkin.  Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi tersebut. Amin. (November 2013)

66. Bulan Pembinaan SDM

Bulan Pembinaan SDM

 

Ramadhan merupakan bulan pembinaaan SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas. Saat ini menilai SDM berkualitas umumnya dilihat dari jejak rekam profesionalitas seseorang yang berwujud kerja fisik dan pemikiran semata. Padahal, jika melihat sejarah keNabian, SDM berkualitas dilahirkan dari orang-orang yang mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.

Apakah sunnah Rasulullah SAW tersebut? Di antaranya adalah sholat wajib berjamaah, sholat dhuha, sholat tahajud, puasa sunnah (dan juga yang wajib), membaca dan menghafal Al Quran, i’tikaf, dan bersedekah. Di bulan Ramadhan, amalan-amalan sunnah tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT. Maka para sahabat pun berusaha untuk melipatgandakan amalan tersebut, seperti khatam Quran berkali-kali dalam bulan Ramadhan serta melipatgandakan sedekah mereka.

Kesuksesan pelaksanaan Ramadhan ini tidak akan serta merta berdiri sendiri, akan tetapi ada pengiringnya. Seseorang akan bisa sukses di bulan Ramadhan jika ia melaksanakan berbagai amalan jauh sebelum Ramadhan sehingga sudah mengalami pembiasaan. Seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunnah dan senantiasa membaca Al Quran dengan rutin, maka di bulan Ramadhan ia akan lebih mendapatkan hasil yang maksimal.

Rasulullah SAW sendiri ketika menjelang Ramadhan meningkatkan amalan puasanya. “Sesungguhnya A’isyah berkata: “Tidak ada bulan yang Rasulullah SAW banyak melakukan puasa sunnah selain Sya’ban, sungguh beliau telah melakukan seluruh puasa sunnah di bulan Sya’ban” (HR Bukhari). Adapun sebab Rasulullah SAW memperbanyak amalan puasanya adalah, “Itulah bulan yang dilalaikan manusia yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan yang padanya amal perbuatan diangkat kepada Rabbul-’Aalamiin. Dan aku senang seandainya amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa”  (HR An-Nasa’i).

Sementara di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW meningkatkan pula amalannya. Bahkan tadarus Al Quran pun ditemani oleh malaikat Jibril. Dari Ibnu Abbas ra. Berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al Quran. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus”. (Shahih Al Bukhari).

Para sahabat selalu berusaha mengikuti amalan dan sunnah Rasulullah SAW tersebut karena mereka meyakini hal itu merupakan hal terbaik yang harus dilaksanakan. Hasilnya, kita bisa melihat bahwa sahabat yang dibina oleh Rasulullah SAW kelak menjadi orang-orang yang amanah dalam jabatannya, peduli dengan ummat dan senantiasa mengajak kebaikan dan berdakwah hingga ke berbagai tempat. Padahal sebelumnya, para sahabat itu ketika di masa jahiliyahnya banyak bergelimang dosa dan  tidak memiliki kecakapan.

Di bulan Ramadhan, Rasulullah juga membina fisik para sahabatnya karena banyak peperangan dilakukan di bulan Ramadhan. Dan dengan izin Allah, peperangan yang dilakukan di bulan Ramadhan selalu beraih kemenangan. Ini juga akibat usaha mereka untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT baik dalam menjaga rohani dan jasmani serta pikiran.

Kita yang hidup saat ini pun bisa mencontoh pembinaan SDM yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Insya Allah, kita bisa menjadi SDM yang berkualitas dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW tersebut tanpa mengurangi kepiawaian kita di suatu bidang, bahkan justru meningkatkan kepiawaian kita. Ramadhan adalah tempat untuk meningkatkan amalan. Namun di luar Ramadhan, amalan tersebut harus senantiasa dilakukan agar terjaga konsistensinya. Inilah yang juga kita bisa lihat di dalam diri Rasulullah SAW dan para sahabat. (Agustus 2011)

67. Puasa dan Takwa

Puasa dan Takwa

Kita mungkin pernah melakukan sebuah perjalanan. Baik itu perjalanan yang memakan waktu pendek, maupun perjalanan yang membutuhkan waktu panjang, di dalam atau ke luar negeri. Tentu saja yang paling penting dalam melakukan perjalanan tersebut adalah persiapan. Makin jauh dan makin lama perjalanan yang akan dilakukan,  makin banyak persiapan yang perlu dilakukan, makin banyak bekal yang harus dibawa. Sukses atau tidaknya perjalanan tersebut tergantung dari kematangan persiapan yang dilakukan.

Sebenarnya perjalanan paling panjang dalam kehidupan manusia adalah perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia pada hakikatnya hanyalah persiapan untuk perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi adalah di kampung akhirat kelak.  Seperti firman Allah dalam QS. Al Ankabut: 64; “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Karena itu jangan terlena dengan kesenangan di dunia, sebaliknya lakukanlah persiapan sebaik mungkin dan persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk hidup di akhirat kelak. Banyak orang berjuang mati-matian, tak peduli siang dan malam, untuk mengejar kehidupan dunia,  namun mereka lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Takwa adalah bekal terbaik untuk perjalanan ke kampung akhirat. Seperti firman Allah dalam QS. 2:197; “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada Ku hai orang-orang yang berakal”.

Secara sederhana mereka yang mematuhi semua perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW dan menghentikan semua larangan beliau disebut sebagai orang yang bertakwa (muttaqin).  Dalam Al Quran dan hadits Allah dan Nabi Muhammad SAW telah menuntun manusia tentang apa yang boleh dan harus mereka lakukan (perintah) dan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan (larangan).

Proses untuk menjadi muttaqin kita lakukan dan kita latih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai ibadah dan kebaikan. Puncak latihan tersebut adalah pada bulan Ramadhan. Allah memberikan keistimewaan selama bulan Ramadhan dan memberikan imbalan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan disebut juga sebagai penghulu sekalian bulan. Al Quran diturunkan pada bulan ini, dan cuma pada bulan Ramadhan adanya malam Lailatul Qadar.

Dalam  QS. Al Baqarah: 183 Allah berfirman;  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kamu bertakwa.”  Di sini jelas ditegaskan bahwa tujuan bulan Ramadhan yang utama adalah menggembleng manusia agar menjadi umat yang bertakwa. Maka dalam waktu selama sebulan tersebut kita dilatih beribadah, yaitu melakukan perintah dan menghentikan larangan Allah dan Nabi Muhammad SAW, agar menjadi umat yang bertakwa.

Takwa juga merupakan solusi dalam kehidupan di dunia. Seperti firman Allah dalam QS. 65: 2 dan 3; “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”.

Pada ayat 4 dan 5 surat yang sama Allah menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Tingkat keberhasilan seseorang  menjalankan puasa selama bulan Ramadhan bisa diukur dari tingkat ketakwaan seseorang atau sejauh mana terjadi perubahan ketakwaan seseorang sebelum  dan sesudah berpuasa selama bulan Ramadhan.

Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan tahun ini untuk meningkatkan ketakwaan kita sebagai bekal perjalanan ke kampung akhirat kelak. Agar puasa tidak menjadi sia-sia, harus terlihat meningkatnya ketakwaan seseorang sebelum dan setelah berpuasa sebulan penuh. Semoga kita menjadi orang yang bertakwa,  bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat kelak. Amin. (Juli 2013)

68. Puasa dan Kejujuran

Puasa dan Kejujuran

 

         Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidakjujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.

Nabi Muhammad SAW pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, di akhir zaman, manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram (HR Muslim).
Era reformasi telah berlangsung lebih sepuluh tahun, namun praktek kolusi, korupsi dan suap menyuap masih saja ramai terdengar. Untuk mengatasi dan mengurangi segala kebiasaan destruktif tersebut, puasa dan bulan Ramadhan merupakan merupakan ibadah dan momen yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah.

Berbeda dengan sifat ibadah yang lain, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah SWT.
Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT. Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran. Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.

Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat diselesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan

Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain. Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Mari kita jadikan ibadah puasa dan bulan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk melatih kejujuran bersama. Selamat menunaikan ibadah puasa. (Juli 2011)

69. Puasa Menyehatkan Mental

Puasa Menyehatkan Mental

Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam, juga umat sebelumnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah: 183). Di balik kewajiban, terdapat berbagai hikmah yang besar bagi mereka yang berpuasa, di antaranya adalah untuk menyehatkan mental dan mengendalikan hawa nafsu.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al Jaatsiyah: 23)

Allah SWT telah meminta kita mengambil pelajaran dari orang-orang yang sudah mencapai tingkat mempertuhankan hawa nafsunya. Dan kita ketahui, bahwa akhir dari hal tersebut adalah kerusakan dan kehancuran di muka bumi.

Puasa melatih kita menahan hawa nafsu, baik makan, minum dan juga hubungan suami istri di siang hari. Upaya melatih menahan makan, minum dan berhubungan tersebut adalah dalam rangka menyehatkan mental. Di samping itu menahan emosi juga merupakan bagian dari ajaran puasa yang sangat berguna menyehatkan mental.

Dengan mengendalikan emosi, lapar, dan haus, maka tubuh kita akan disehatkan sehingga menyebabkan munculnya ketenangan dan juga kebahagiaan. Sementara memperturutkan hawa nafsu akan memunculkan kesengsaraan. Ini karena puasa merupakan bagian dari zikir kepada Allah SWT. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS Ar Ra’d: 28).

Sebagai contoh kecil, setiap hari kita diperlihatkan dengan perilaku pengendara yang memperturutkan hawa nafsunya serta tidak bisa mengendalikan emosi. Mereka ingin cepat, tak mau mengalah meskipun seharusnya berhenti sebentar, sehingga terjadilah kecelakaan. Ini adalah gambaran ketidaktenangan jiwa. Akibatnya, tidak hanya mereka yang akan resah, akan tetapi orang lain akan merasakan dampaknya.

Jika perintah agama dalam berpuasa dijalankan dengan benar dan menjadi kebiasaan, maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya. Dari segi kejiwaan, ia akan memperkuat rohani. Kemudian dari segi perilaku, ia akan memperbaiki akhlak pelakunya. Dari segi perbuatan, ia akan memperkuat amalan-amalan para pelakunya. Dan dari segi fisik, ia akan memperkuat tubuh karena ilmu kedokteran telah membuktikan banyaknya manfaat yang didapat dari berpuasa dan juga mengendalikan emosi.

Allah SWT menyatakan bahwa puasa akan lebih baik bagi kita jika kita mengetahuinya. “…dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Puasa dan upaya mengendalikan hawa nafsu serta menahan emosi selain menyehatkan mental kita, juga memberi ketenangan di lingkungan. Sebagai masyarakat agamis, kita meyakini bahwa banyaknya maksiat yang merupakan upaya memperturutkan hawa nafsu akan menimbulkan keresahan di masyarakat. Sehingga masyarakat akan memberantas kemaksiatan yang terjadi di tempat mereka. Masyarakat ingin lingkungannya tenang agar mental mereka dan keluarganya sehat. Momentum puasa merupakan saat yang tepat untuk menyehatkan mental kita jika dilakukan dengan benar sesuai ajaran agama. Selamat menunaikan ibadah puasa, 1433H. (Juli 2012)

70. Meninggalkan Ramadhan

Meninggalkan Ramadhan

Ada doa yang sudah menjadi kebiasaaan umum bagi umat Islam ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Allahumma bariklana fii rajaban wa sya’ban wa ballighnaa Ramadhan yang artinya “Ya Allah berikanlah berkah kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.” Doa ini menggambarkan bagaimana harap dan rindu kaum muslimin terhadap Ramadhan sehingga berharap diberikan hidup dan merasakan Ramadhan.

Semangat menyambut Ramadhan oleh Rasulullah SAW digambarkan dalam perintah kepada umat Islam untuk mengisi bulan Rajab dan Sya’ban untuk persiapan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dan sahabat sangat gembira ketika memasuki bulan Ramadhan dan sedih ketika meninggalkan Ramadhan.

Ketika di sepuluh hari terakhir Rasulullah melakukan iktikaf di masjid yang merupakan kegiatan ibadah yang berisi zikir dan ibadah lainnya. I’tikaf hanya dilakukan di masjid dan pelakunya tidak melaksanakan kegiatan lain di luar i’tikaf kecuali ada keperluan mendesak.

Kegiatan iktikaf ini ingin menggambarkan bahwa Rasulullah SAW dan sahabat ingin meraih pahala di bulan Ramadhan sehingga tidak ingin Ramadhan berlalu begitu saja dan karenanya i’tikaf ini dipenuhi dengan ibadah. Dan kita sudah mengetahuinya tentang ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah SWT, terutama di malam kemuliaan atau lailatul qadar.

Maka, ketika Ramadhan mencapai hari terakhir, para sahabat menangis dan sedih, mereka tidak tahu apakah masih bisa menjumpai Ramadhan di tahun berikutnya. Dan di waktu berikutnya, ketika bulan Rajab hendak masuk, muncullah doa agar diberikan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta disampaikan kepada bulan Ramadhan.

Sementara itu, yang terjadi pada hari ini berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Ketika memasuki Ramadhan, justru bawaan menjadi susah. Mesti bangun sahur. Harga bahan makanan membumbung tinggi, padahal ingin makan dan minum enak. Namun ada juga yang bersenang-senang dengan Ramadhan ini, mereka sudah menjadwalkan acara berbuka dengan makanan dan minuman yang lezat dan menyenangkan. Momen Ramadhan hanya dijadikan pengalihan waktu makan dan sedikit nuansa pesta.

Di samping itu, ada yang di bulan Ramadhan justru menyiapkan untuk menyambut lebaran. Bulan Ramadhan tidak terperhatikan sama sekali, yang dipersiapkan justru untuk menyambut lebaran yang cuma satu hari, sementara waktu 30 hari yang disediakan Allah SWT dengan banyak manfaat tidak dihiraukan.

Selain itu, ada juga yang melakukan kegiatan begadang, untuk menunggu sahur. Kegiatan yang dilakukan tidak terkait dengan ibadah yang dilakukan untuk mengisi Ramadhan, lebih terfokus kepada kesenangan semata. Dan, ada juga ketika Ramadhan sudah mencapai penghujung, justru bergembira karena sudah lepas beban selama satu bulan.

Berbagai fenomena di atas bukanlah sesuatu yang dilarang, akan tetapi kegiatan tersebut secara siginfikan bisa mengurangi bahkan menghilangkan keberkahan Ramadhan. Jika menunggu sahur dengan menonton acara lawak di televisi, maka hilanglah acara shalat malam, padahal momen shalat malam di bulan Ramadhan sangat bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan ini diberikan balasan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik balasan dan mampu meraih kemuliaan malam lailatul qadar yang selalu dikejar oleh para pencinta Ramadhan. “Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS Al Qadr: 2-3).

Semoga bulan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan yang penuh berkah dan  magfirah bagi kita semua. Jika waktu sebulan penuh yang telah berlalu kita manfaatkan dan kita isi dengan ibadah secara bersungguh-sungguh, seperti janji Allah, kita akan kembali fitrah, seperti kain putih yang belum ternoda dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allahuakbar…. Allahuakbar walillah ilhamd….Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, minal aidhin walfaidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2011)

71. Merayakan Kemenangan

Merayakan Kemenangan

Idul Fitri merupakan hari kemenangan yang patut disyukuri. Kemenangan itu adalah kemenangan  bagi mereka yang berhasil melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan baik serta berhasil melakukan ibadah-ibadah lain yang disunatkan melaksanakannya selama bulan Ramadhan.

Shaum (puasa) dalam arti bahasa adalah menahan dari sesuatu. Menurut Qadhi Al-Baidhawi seperti dikutip Rasyid Ridha, shaum adalah menahan diri dari dorongan nafsu. Sedangkan menurut syara, shaum adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri dari terbit fajar hingga matahari terbenam, untuk mencari keridhaan Allah (ihtisaban) dan mempersiapkan jiwa untuk meraih ketakwaan dengan menanamkan akhlak muraqabatullah (pengawasan Allah) dan mendidik jiwa dalam mengekang dorongan syahwat sehingga mampu meninggalkan semua hal yang haram (Tafsir Al-Manar, vol.2/114-115).

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS;al-Baqarah:183)

Kata kunci ibadah puasa adalah menahan hawa hafsu. Seperti pernah diungkapkan Nabi Muhammad SAW;  Meski perang badar merupakan perang terbesar dalam sejarah Islam, namun masih ada lagi perang yang lebih besar dan lebih dahsyat, yaitu perang melawan hawa nafsu. Maka mereka yang menang dan adalah mereka yang berhasil mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu. Sudahkah kita termasuk yang meraih kemenangan dan berhasil kembali fitrah?

Selain itu, dalam perspektif Islam, kebangkitan umat tidak melulu selalu dikaitkan dengan kesuksesan jihad fisik dan capaian pembangunan fisik serta sumber daya umat baik alam maupun manusianya. Karena itu  setiap tahun, Allah sediakan Ramadhan sebagai madrasah bagi kaum beriman untuk memusatkan dirinya mengisi ulang (recharge) keimanan dan takwa sebagai sarana pembangunan karakter yang menjadi pusat kendali arah bagi pembangunan fisik dan sumber daya manusia muslim.

Dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan umat muslim harus benar-benar fokus ke arah pencapaian tujuan ibadah tersebut yaitu “agar kamu bertakwa”. Kita tak boleh hanya berhenti sebatas menjaga aturan-aturan lahiriah puasa berupa larangan makan, minum dan berhubungan suami-istri dari pagi hingga sore hari. Namun, kita harus berupaya maksimal mewujudkan tujuan-tujuan disyariatkannya (maqasid syariah) ibadah puasa tersebut yang disimpulkan dalam kalimat “la’allakum tattaqun”.

Karena itu jika ada orang yang melaksanakan puasa di siang hari, namun melampiaskan hawa nafsunya di saat berbuka, maka sikap itu tentu tidak sesuai dengan makna puasa, yaitu melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu. Begitu juga mereka yang telah melaksanakan puasa  sebulan penuh, lalu berpesta pora dan pamer kemewahan saat Idul Fitri. Hikmah yang  mereka peroleh hanya sekedar lapar dan dahaga.

Karena itu Nabi dan para sahabat selalu bersedih saat berpisah  dengan Ramadhan dan mereka berdoa agar diberikan lagi kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.  Bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk melatih dan memperbaiki kualitas diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan juga merupakan kesempatan memperoleh ampunan dan pahala yang berlipat ganda.

Selamat merayakan Idul Fitri 1432 H,  moga kita termasuk orang-orang yang menang, kembali fitrah dan berhasil meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Jika tahun ini belum berhasil, insya Allah tahun-tahun berikutnya kita perbaiki dan kita tingkatkan lagi. Allahu Akbar … Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walilla Ilhamd… (Agustus 2012)

72. Indahnya Saling Memaafkan

Indahnya Saling Memaafkan

 

Siapa yang berani mengaku bahwa dirinya tak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan? Pasti tak ada satupun. Jika ada yang berani mengaku bahwa tidak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan, pasti ia keliru. Salah dan khilaf adalah sifat alamiah dasar manusia, tak ada manusia yang luput dari khilaf dan berbuat kesalahan.

Atasan bisa saja melakukan kesalahan terhadap bawahannya atau sebaliknya. Yang tua suatu saat juga bisa melakukan kesalahan terhadap yang muda. Ayah terhadap anak, suami terhadap istri atau sebaliknya, semua berpeluang melakukan kesalahan. Kesalahan itu bisa jadi disengaja, maupun tidak disengaja.  Peristiwa itu bisa menimbulkan kesalahpahaman, kesal, sakit hati bahkan dendam.

Dendam dan sakit hati seperti yang sering saya sampaikan, bisa menghantui pikiran atau menjadi virus dalam pikiran. Makin lama makin banyak menumpuk bahkan berkembang biak di pikiran. Akhirnya seperti sebuah komputer yang terserang virus, suatu saat komputer tersebut hang (mogok bekerja), diam, tak dapat berbuat apa-apa. Pada manusia jika pikirannya hang, ia dikatakan mengalami gangguan jiwa.

Karena itu jika seseorang melakukan kesalahan terhadap kita, cepat-cepat maafkan dia, jangan simpan di pikiran, apalagi dalam bentuk dendam dan sakit hati. Sebaliknya jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, maka segeralah meminta maaf. Seperti firman Allah dan QS. An-Nur: 22, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Banyak orang mengatakan meminta maaf adalah pekerjaan yang paling mudah namun paling berat untuk dilakukan. Jika hal itu terjadi pada kita, maka Idul Fitri lah momennya. Idul Fitri merupakan kesempatan yang paling tepat untuk minta maaf dan saling memaafkan. Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meminta maaf atas semua kesalahannya dan saling memaafkan di saat Idul Fitri.

Karena itu mari kita manfaatkan hari yang fitri ini untuk meminta maaf dan saling memaafkan atas semua salah dan khilaf yang kita lakukan, maupun yang dilakukan orang lain terhadap kita. Mari lupakan kesalahan-kesalahan di masa lalu, kita mulai hari baru dengan janji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu dan berbuat yang lebih baik dan lebih hati-hati di masa datang.

Memaafkan terlebih dahulu adalah sikap terbaik. Sesungguhnya balasan bagi orang yang memaafkan dengan ikhlas adalah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman yg artinya “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syuuraa: 40)

Mari saling bermaaf-maafan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Minal Aidhin wal faidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2012)

73. 5 Koreksi Selama Berpuasa

5 Koreksi Selama Berpuasa

 

Kita bersyukur kehadiran bulan Ramadhan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera Barat pada khususnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu terlihat peningkatan aktifitas masyarakat dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Mesjid dan mushalla penuh sesak oleh jamaah, tak kalah pasar dan pusat-pusat perbelanjaan ramai diserbu  pembeli.

Disadari atau tidak, ada 5 kesalahan yang kita lakukan selama melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kesalahan tersebut dilakukan banyak orang dan anehnya kesalahan itu dianggap sebagai kebiasaan dan kesalahan yang wajar-wajar saja. Padahal kesalahan tersebut menyangkut hal yang prinsip dan cukup fatal. Kesalahan-kesalahan yang perlu di koreksi itu adalah;

  1. Makan berlebihan. Karena berpuasa seharian di siang hari, sering kita seperti orang balas dendam di saat berbuka puasa.  Bahkan kadang kala seperti orang kerasukan setan, makan cepat-cepat dan seperti ingin memakan semua makanan yang ada sekaligus. Akibatnya, sehabis  makan sangat kekenyangan, bahkan untuk berdiri pun sudah susah, perut terasa sakit dan tidak nyaman akibat kekenyangan.

Memang lumrah terjadi, di saat perut kosong semua makanan terlihat enak dan menggoda. Akibatnya keinginan untuk membeli menjadi sangat besar. Semua ingin dibeli dan semua ingin dimakan. Padahal ternyata makanan tersebut tidak seenak yang kita bayangkan di saat perut lapar. Seringkali makanan yang kita beli tersebut tidak termakan, mubazir dan bersisa saat berbuka puasa.

Bukankah puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama menahan haus dan lapar? Kesalahan seperti ini banyak terjadi dan masih banyak terjadi hingga saat ini.

  1. Berkurangnya intensitas kerja. Di saat berpuasa kita sering mengalami pengurangan semangat kerja. Bahkan ada yang betul-betul kehilangan semangat kerja, loyo, sehingga lebih banyak tidur sepanjang hari. Pada hal Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa banyak peperangan di zaman Nabi dilakukan saat bulan Ramadhan. Aktifitas Nabi dan para sahabat tidak berkurang di bulan Ramadhan.

Puasa seharusnya tidak menghalangi aktifitas pekerjaan. Bagi yang tidak terbiasa puasa, memang terasa berat. Namun bagi yang sudah terbiasa puasa, puasa tak terasa berat dan bukanlah penghalang untuk melakukan aktifitas kerja. Karena itu kita dianjurkan untuk melakukan berbagai puasa sunat sebagai latihan dan persiapan menjelang Ramadhan. Dengan demikian puasa di bulan Ramadhan tidak terasa berat dan tidak membuat semangat kerja menjadi hilang.

  1. Nafsu belanja meningkat. Fenomena ini juga sangat terlihat menonjol di bulan Ramadhan. Seperti diuraikan di atas, dalam kedaan perut kosong (berpuasa), kita cenderung belanja makanan secara berlebihan, semua kelihatan serba enak dan ingin dibeli.

Fenomena lainnya yang membuat nafsu belanja meningkat adalah kita ingin tampil serba baru dan wah. Perabotan rumah diganti dengan yang serba baru, rumah direnovasi agar tampil beda, kendaraan baru diupayakan, apalagi pakaian dan makanan, dicari yang serba enak dan mahal. Jika hal ini dilakukan dengan niat untuk memuliakan Ramadhan dan sesuai dengan kemampuan kita, tentu tidak jadi masalah. Namun jika dilakukan dengan niat untuk pamer (ria), sekedar jaga gengsi, tentu saja hal ini tidak benar dan perlu dikoreksi. Banyak peristiwa kriminalitas seperti pencurian, perampokan terjadi di bulan Ramadhan, terutama menjelang lebaran. Lucunya, alasan mereka adalah memenuhi  kebutuhan (pamer?) di hari lebaran.

  1. Kurang membaca Al Quran. Pada bulan Ramadhan kita dianjurkan memperbanyak membaca Quran. Karena itu bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan Syahrul Quran. Al Quran sendiri diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan. Kita sering beranggapan bahwa aktifitas bulan Ramadhan selesai dengan berpuasa di siang hari. Padahal mengisi Ramadhan dengan membaca Al Quran (tadarus), termasuk qiyamullail (shalat malam) juga sangat penting dan besar nilainya.
  2. Lalai di 10 hari terakhir. Kesalahan lainnya yang juga perlu dikoreksi adalah kebiasaan kita yang disibukkan dengan menyiapkan kue, pakaian, mengecat rumah, dll di 10 hari terakhir Ramadhan. Akibatnya mesjid umumnya sepi di 10 hari terakhir, kegiatan ibadah di mesjid seperti terbaikan. Pada hal Allah mengatakan malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, itu diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan. Bukankah kita rugi besar jika peristiwa itu terlewatkan begitu saja dengan alasan sibuk menyiapkan kue lebaran?

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melakukan 5 kesalahan utama di bulan Ramadhan tersebut. Jika iya, semoga tahun depan kita masih bertemu dengan bulan Ramadhan lagi tahun depan dan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut.  Amin. (Agustus 2013)

74. Haji dan Kemampuan Finansial

Haji dan Kemampuan Finansial
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang pelaksanaannya mensyaratkan kemampuan. Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).

Syarat jika mampu menghendaki adanya kemampuan fisik dan keuangan. Mengapa harus memiliki kemampuan fisik? Karena ibadah haji adalah ibadah fisik. Tawaf, sa’i, jumroh, shalat di masjid dan wukuf, semuanya membutuhkan kebugaran fisik agar bisa berjalan lancar dan tertib.

Namun di samping kemampuan fisik, dibutuhkan kemampuan keuangan (finansial) untuk keperluan transportasi, penginapan, dan akomodasi selama menunaikan ibadah haji. Maka jika secara fisik sudah mampu, masalah keuangan juga harus dipenuhi.

Ketika berada bersama jamaah haji asal Sumbar beberapa waktu lalu, penulis banyak berbincang dengan para jamaah. Mereka berasal dari beragam latar belakang pekerjaan dan profesi. Tentunya, mereka sudah memiliki kemampuan keuangan sehingga menunaikan ibadah haji. Di antara jemaah itu, ada yang bisa menunaikan ibadah haji setelah mengumpulkan uang dalam waktu yang cukup lama. Mereka umumnya adalah para pekerja dengan beragam profesi yang menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit.

Ada juga jamaah haji yang tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunaikan ibadah haji. Yang termasuk kategori ini adalah para pengusaha. Namun ternyata ada juga para petani. Setelah berbicara lebih jauh, para petani ini rupanya tidak hanya mengolah sawah. Mereka juga melakukan pekerjaan lainnya seperti beternak ikan, menanam cokelat, kelapa sawit, berkebun dengan memanfaatkan lahan mereka serta ada juga yang memelihara sapi.

Ternyata, para petani yang sumber pendapatannya tidak dari satu tempat saja terlihat lebih sejahtera sehingga untuk menunaikan ibadah haji mereka bisa lebih cepat mengumpulkan dana. Penulispun tidak menemukan petani yang hanya bersawah saja untuk kelompok jamaah yang dalam waktu tidak terlalu lama bisa menunaikan ibadah haji.

Dengan melakukan bebeberapa usaha sekaligus, sumber pendapatan petani tersebut mampu menaikkan tingkat kesejahteraannya dengan lebih cepat dibanding hanya dengan bersawah saja. Hal ini juga menjelaskan, bagi para petani yang memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji, maka sebaiknya memiliki beberapa usaha agar sumber pendapatan mereka lebih dari satu sehingga bisa mempercepat naiknya tingkat kesejahteraan mereka.

Kenaikan tingkat kesejahteraan petani ini mempercepat usaha mereka dalam mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini merupakan jawaban bagi para petani yang menginginkan menunaikan ibadah haji. Dengan mengikuti jejak para petani yang memiliki lebih dari satu usaha, insya Allah keinginan menunaikan ibadah haji akan lebih cepat terwujud.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Ar Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Kita doakan, semoga para petani yang ingin menunaikan ibadah haji dimampukan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik kemampuan.  (Desember 2011)

75. Haji dan Persatuan

Haji dan Persatuan

Ibadah haji mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan berbagai perbedaan. Ada yang berkulit hitam, sawo matang, putih, kuning dan lain-lain. Demikian pula dengan rambut dan fisik (berbadan besar, sedang maupun kecil). Allah SWT ciptakan mereka agar saling kenal.

Dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT befirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Perbedaan suku, bangsa, bahasa, budaya, lingkungan dan lainnya akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam menjalankan ajaran Islam. Adanya perbedaan di antara umat Islam itu merupakan keniscayaan. Sehingga ketika terjadi pertikaian karena adanya perbedaan ini maka kita sandarkan kepada aturan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Ketika menunaikan ibadah haji, penulis melihat beragam gerakan yang berbeda dari berbagai latar belakang jamaah ketika menunaikan sholat. Setelah takbir, tangan mereka ada yang bersedekap dan ada juga yang dibiarkan ke bawah.

Cara bersedekap pun beragam. Ada yang di dada, di perut, di pinggang maupun sedikit turun dari perut. Bersedekap di perut pun beragam. Ada yang kedua telapak tangannya di tengah, ada yang di pinggang sebelah kiri dan juga di sebelah kanan.

Demikian pula dengan gerakan-gerakan lain dalam pelaksanaan rukun dan wajib haji. Penulis melihat bahwasanya berbagai perbedaan itu masih berada pada tataran yang bukan prinsip. Perbedaan tersebut tidak perlu dipertajam, bahkan semestinya saling menghargai.

Ibadah haji telah mengajarkan dengan cepat kepada umat Islam yang menunaikannya bahwa perbedaan itu merupakan sebuah hal yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Dengan berbagai perbedaan tersebut, umat Islam diminta untuk mencari kesamaan dan menghargai perbedaan di antara mereka. Ibadah haji seolah ingin memberitahukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu, menghargai perbedaan dan jangan berpecah belah. Kemuliaan hanya bisa diperoleh dengan persatuan yang dibingkai dengan iman dan takwa. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 disebutkan bahwa yang paling mulia di antara kaum muslimin adalah yang paling takwa.

Di samping itu, ibadah haji juga mengajarkan bahwa Islam sudah disempurnakan sebagai agama bagi umat Nabi Muhammad SAW yaitu ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah sewaktu wukuf di Arafah. Di antaranya beliau membacakan surat Al Maidah ayat 3 yaitu, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”

Maka, haji bisa disebut sebagai puncak pelaksanaan rukun Islam yang mengajarkan persatuan karena jamaah haji akan menemui dan berinteraksi dengan manusia yang memiliki perbedaan. Di samping itu, puncak haji, wukuf di Arafah yang dihadiri oleh manusia yang berbeda suku bangsa adalah untuk mengingat akan khutbah Nabi Muhammad SAW tentang kesempurnaan Islam.

Umat Islam dengan beragam suku bangsa yang melakukan wukuf diajak untuk mensyukuri ajaran Islam yang sempurna. Ini merupakan pelajaran dari Allah SWT agar umat Islam bersatu ketika mendapati diri mereka ternyata terdiri dari beragam suku bangsa yang ada di dunia. Maka, bagi kita yang sudah melaksanakan ibadah haji, ajaklah umat Islam untuk bersatu dengan tetap menghargai perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya, itu adalah salah satu pesan yang tersirat sewaktu menunaikan ibadah haji. (Desember 2011)

76. Agar Hidup Bisa Nyaman

Agar Hidup Bisa Nyaman

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal  yang membuat kita merasa tidak nyaman. Di perkotaan misalnya, kian hari lalu-lintas makin padat. Akibatnya  kemacetan terjadi di banyak tempat. Dulu, perjalanan Padang – Bukittinggi bisa di tempuh dalam waktu 2 jam, kini memakan waktu 3 bahkan sampai 5 jam.  Tidak hanya itu, angka kecelakaan lalu lintas juga meningkat.

Di musim hujan seperti saat ini kita segera menjadi was-was dan cemas. Curah hujan yang deras dan berdurasi panjang, biasanya akan diikuti dengan berbagai bencana. Bisa jadi berupa banjir, galodo, atau  longsor seperti yang terjadi di Lembah Anai baru-baru ini atau sejumlah kejadian lainnya di masa lalu.

Wilayah Sumatera Barat memang memiliki karakteristik yang unik. Daerah ini terdiri dari banyak gunung, bukit-bukit, lembah, sungai, dan laut. Sumbar juga memiliki lahan-lahan, daerah pertanian yang subur. Hal ini menyebabkan Sumatera Barat memiliki pemandangan alam dan panorama yang indah. Banyak orang terpesona dengan panorama alam  Sumatera Barat dan menjuluki daerah ini sebagai jannah (surga).

Namun dibalik keindahan panorama alam tersebut tersimpan potensi ancaman. Topografi wilayah Sumatera Barat yang terbentuk oleh gunung, bukit dan lembah tersebut memiliki kemiringan sedang hingga sangat ekstrim.  Karena itu wilayah Sumatera Barat harus ditangani secara khusus dan ekstra hati-hati agar potensi alam yang berlimpah yang seharusnya memberi manfaat kepada masyarakatnya, tidak berbalik menimbulkan mudarat kepada masyarakat.

Bentang alam wilayah Sumatera Barat yang berbukit-bukit, subur dan memiliki banyak sungai membuat masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan pertanian. Masyarakat membuat sawah berjenjang-jenjang mengikuti topografi lahan dan bentang alam. Hal ini membuat makin indahnya pemandangan, sekaligus efisiensi biaya. Dengan pola ini petani tidak perlu memompa air dari dalam tanah untuk menyiram tanaman, atau menyiram tanaman menggunakan mesin-mesin pompa air atau helikopter seperti yang dilakukan di negara lain. Cukup menggunakan grafitasi, mengikuti aliran air, biarkan alam yang menyiramnya secara gratis.

Namun jika tidak berhati-hati dan ditata secara baik, potensi yang berlimpah tersebut bisa berubah menjadi bencana.  Hal ini telah pernah kita alami dan telah terjadi di beberapa tempat.  Galodo, banjir, longsor, telah pernah sama-sama kita rasakan. Kondisi cuaca yang ekstrim saat ini membuat kita makin waspada dan ekstra hati hati.

Potensi alam dan sumberdaya manusia memang sering seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dia bisa membuat manusia menjadi senang dan sejahtera, namun jika tidak pandai mengelola dan memanfaatkannya  justru berubah menjadi bencana.

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat misalnya bisa membuat masyarakat lebih nyaman, bisa beli motor, mobil, membuat villa atau membuka usaha baru. Namun karena terlalu banyak mobil, jalan menjadi macet, menimbulkan kecelakaan  yang pada akhirnya menyebabkan ketidak nyamanan. Pembukaan dan penggunaan lahan yang tidak benar justru bisa menimbulkan bencana. Begitu juga ekploitasi sumber daya alam secara tidak benar dapat menimbulkan kehancuran sumberdaya alam.

Karena itu Pemerintah Provinsi Sumatera Barat  bersama DPRD dan  masyarakat telah  menyusun Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2013 tentang rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat tahun  2012 – 2032.  Dalam peraturan setebal 179 halaman ini telah diatur tatacara penggunaan ruang dan wilayah propinsi Sumatera Barat serta sumber daya alamnya.  Penggunaan ruang dan wilayah di Sumatera Barat yang benar dan baik bisa mengacu pada peraturan tersebut.

Tentu saja  sebanyak apapun aturan dibuat dan sebaik apapun aturan tersebut, tak kan ada gunanya jika masyarakat bersama aparat pemerintah tidak melaksanakannya. Mari kita tata lingkungan kita secara baik, kita manfaatkan potensi alam kita secara bijaksana agar kita bisa hidup nyaman dan alam kita yang elok dan kaya tetap terjaga kelestariannya  sampai ke anak cucu kita kelak. (Desember 2013)

77. Jodoh

Jodoh

 

Air mata saya nyaris menetes saat Goval, ST berhasil mengucapkan lafaz ijab kabul pada acara pernikahannya dengan Febrianti, AMD di Lubuk Kilangan pekan lalu. Puluhan sanak- keluarga dan undangan yang hadir saat itu juga demikian, mata mereka terlihat berkaca-kaca. Kata-kata terakhir yang diucapkan Goval langsung disambut dengan ucapan “sah..!” oleh hadirin dan ditimpali dengan tepuk tangan dalam suasana gembira bercampur haru.

 

Pernikahan pasangan ini memang sangat istimewa. Mempelai pria, Goval, ST,  lulusan Fakultas Teknik Unand adalah tuna rungu dan tuna wicara, begitu juga pengantin wanita Febrianti, AMD, lulusan jurusan Tata Busana Universitas Negeri Padang (UNP). Mereka sama-sama tuna rungu dan tuna wicara. Saya menghadiri acara tersebut sebagai saksi.

Awalnya tak ada yang terlihat istimewa. Mempelai pria nampak normal bahkan bisa dikategorikan tampan, berkulit putih dan kalem. Begitu juga mempelai wanita, terlihat cantik dan anggun. Keduanya dibalut pakaian putih-putih plus beberapa pernik asesoris. Meski simpel, namun terlihat pas dan serasi sekali dengan wajah dan postur tubuh mereka. Konon busana keduanya Febrianti sendiri yang merancang dan menjahitnya. Tak percuma ia menekuni jurusan tata busana dan memperoleh indeks prestasi komulatif (IPK) 3,5 di UNP.

Meski hanya terdiri dari beberapa penggal kalimat, namun sangat sulit bagi Goval untuk melafazkan kata-kata ijab kabul yang sakral di hari yang bersejarah tersebut. Dengan bersusah payah ia mencoba mengeja kata-kata tersebut. Meski terdengar sengau dan tidak jelas, tidak seperti orang normal berbicara, namun ucapan Goval bisa dipahami. Saksi dan hadirin lalu memvonis ucapan Goval dengan kata “sah!.” Alhamdulillah, akhirnya selesailah prosesi pernikahan yang istimewa tersebut.

Goval dan Febrianti sudah saling mengenal sejak duduk di bangku Sekolah Luar Biasa (SLB).  Namun  keduanya terpisah setelah memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK). Namun sejak awal keduanya telah menunjukkan prestasi di sekolah masing-masing, meski mereka memiliki keterbatasan, yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Mereka juga memperlihatkan kemauan dan semangat juang serta keseriusan yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan.

Berhasil menyelesaikan studi mereka di tingkat SLTA dengan nilai memuaskan, Goval melanjutkan studi di Fakultas Teknik Unand, sedangkan Febrianti melanjutkan studi di Jurusan Tata Busana UNP. Kerja keras dan kegigihan mereka kembali berbuah manis. Pendidikan di tingkat perguruan tinggi pun akhirnya bisa mereka selesaikan, Goval berhak menyandang gelar ST dan Febrianti berhak menyandang gelar AMD.

Mungkin itulah yang dinamakan jodoh. Goval dan Febrianti menemukan jodoh yang serasi dan terbaik untuk mereka, yang lelaki tampan, wanitanya cantik. Mereka sama-sama pintar dan pekerja keras, sekaligus mereka sama-sama memiliki kelemahan dan kekurangan. Subhanallah, hanya Allah yang tahu hikmah dan rahasia di balik peristiwa ini.

Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing. Seseorang biasanya memiliki jodoh yang serasi untuknya. Seorang pangeran biasanya berjodoh dengan seorang putri , bangsawan berjodoh dengan bangsawan, pegawai dengan pegawai, pemulung dengan pemulung, pengemis dengan pengemis dan seterusnya. Tapi suatu saat bisa juga terjadi diluar pakem (kebiasaan) di atas. Kiita tidak tahu skrenario dan hikmah apa yang sedang dijalankan Tuhan di balik peristiwa itu.

Namun yang pasti tentu kita harus meneliti terlebih dulu calon istri atau suami, apakah dia memang cocok untuk kita dan apakah ia memang jodoh yang cocok untuk kita. Jika sudah diputuskan, maka terimalah dia apa adanya. Di luar sana memang banyak lelaki yang tampan atau wanita yang cantik, tetapi jika bukan jodoh kita, apa mau dikata? Tidak ada manusia yang sempurna, masing-masing punya kelemahan dan kekurangan, masing-masing juga memiliki kelebihan dan keistimewaan. Jika sudah menjadi suami dan istri kita, maka terima dan pahami kekurangan dan kelemahannya tersebut, hargai semua kelebihan yang ia miliki.

Saat dinikahi mungkin dia cantik, langsing dan terlihat segar. Namun setelah beberapa tahun menikah dan punya anak, istri mulai terlihat tak cantik lagi. Tubuhnya mulai tambun, wajahnya mulai keriput dan kurang menarik. Bagaimanapun ia tetap istri kita, pilihan dan jodoh kita yang harus kita terima apa adanya. Mungkin dia tak pandai berdandan misalnya, tetapi ia pintar memasak, pandai mengurus rumah tangga. Hargai kelebihannya tersebut, maklumi dan terima apa adanya semua kelemahannya.

Jika kita selalu bersyukur, saling menghargai dalam rumah tangga, insya Allah akan tercipta keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Pengamalan Goval dan Febrianti juga membuktikan, jika mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh, insya Allah semua yang diinginkan bisa tercapai dan sukses, meski memiliki keterbatasan sekalipun.  Allah akan memberikan jodoh yang terbaik bagi orang yang terbaik pula. Insya Allah. (Februari 2014)

78. Mengubah Mindset Berpuasa

Mengubah Mindset Berpuasa

 

Kita tentu pernah mendengar dialog sebagai berikut :  “Kenapa telat masuk kantor Pak, Buk?”. Jawabannya: “Maklum Pak, ini kan bulan puasa.”

Hal seperti ini lumrah dan sering kita dengar. Telat masuk kantor,  telat ke sekolah, kesiangan dan berbagai aktifitas tertunda dengan alasan bulan puasa atau sedang berpuasa. Puasa dijadikan alasan (kambing hitam?) untuk menutup dan melegalkan berbagai kesalahan.

Puasa seolah-olah menjadi sebuah alasan yang legal yang bisa diterima semua orang atas semua  tindakan kontra produktif yang kita lakukan. Tindakan-tindakan itu di antaranya adalah, 1. Terlambat masuk kerja atau terlambat ke sekolah bagi pelajar dan mahasiswa, 2. Tidur berlebihan, sehingga sebagian besar waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi berkurang, 3.  Tak bertenaga alias loyo, sehingga terkesan cenderung bermalas-malasan. Semua kondisi itu dilegalkan dengan alasan sedang berpuasa.

Namun kalau kita lihat kisah perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat beliau, tidak ada alasan bahwa puasa membuat aktifitas  beliau menjadi terhambat. Juga tidak ada keterangan bahwa waktu di bulan puasa digunakan untuk bersantai-santai. Keterangan yang ada adalah bahwa pada bulan Ramadhan Nabi dan para sahabat memperbanyak kegiatan ibadah, tadarus, shalat malam dan iktikaf. Kegiatan rutin sehari-hari berjalan seperti biasa.

Malah banyak peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah terjadi di bulan Ramadhan. Perang Badar misalnya,   perang pertama di zaman Rasulullah ini terjadi pada hari Jumat tanggal 2 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang ini melibatkan tentara Islam sebanyak 313 orang berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin Makkah yang bersenjata lengkap. Namun, dengan izin Tuhan, perang ini berhasil dimenangkan oleh laskar Islam. Padahal saat itu Nabi beserta seluruh pasukan sedang berpuasa. Bisa kita bayangkan betapa beratnya perjuangan Nabi saat itu, dalam keadaan berpuasa, berperang di gurun pasir yang tandus di bawah terik matahari.

Banyak peristiwa peristiwa-peristiwa  bersejarah lainnya yang kadangkala sulit diterima akal, justru terjadi di bulan Ramadhan. Khalid Bin Walid menaklukkan kota Mekah dan menghancurkan patung Al Uzza yang saat itu dipuja sebagai Tuhan oleh masyarakat Jahiliah terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 H.  Islam masuk ke Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 H, begitu juga masuknya Islam ke Spanyol, Andalusia, Portugal dan Mongol, semua terjadi di Bulan Ramadhan. Al Quran juga diturunkan di bulan Ramadhan.

Lalu kenapa kita merasa lemas dan loyo di saat berpuasa di bulan Ramadhan? Jawabannya, kita tidak berusaha mengubah mind set. Rasa lapar itu berasal dari pikiran kita, dari kebiasaan kita, terbiasa makan setiap pagi dan siang. Padahal kalau ditinjau dari aspek kesehatan, masih tetap tersedia energi dalam tubuh kita untuk melakukan aktifitas sehari-hari, meski sedang berpuasa. Energi yang berasal dari makan (berbuka) malam bisa digunakan untuk melakukan aktifitas dari pagi sampai siang. Sedangkan energi yang berasal dari makan sahur bisa digunakan untuk beraktifitas dari siang hingga menjelang berbuka. Sudah banyak analisa ahli kesehatan menyatakan dan menemukan fakta, bahwa berpuasa itu adalah baik untuk kesehatan.

Aspek pikiran  bisa juga dibuktikan, jika kita asyik melakukan pekerjaan atau melakukan sesuatu di saat berpuasa siang hari, tanpa kita sadari, sore hari telah terlewati, tanpa merasa lapar dan lelah. Ini adalah bukti bahwa rasa lapar dan lelah itu berasal dari pikiran, jika pikiran bisa dialihkan dan puasa dilakukan karena ikhlas, maka rasa lelah, lapar dan loyo tidak akan muncul. Biasanya setelah melewati hari ke-10 Ramadhan, puasa tidak terasa berat lagi, kita sudah menjadi terbiasa. Apalagi bagi mereka yang terbiasa puasa Senin dan Kamis di bulan-bulan selain Ramadhan, lelah dan lapar saat berpuasa makin tak terasa.

Niat dan keikhlasan juga penting dalam berpuasa. Ada yang berpuasa karena anak-anak, istri dan keluarga di rumah semua berpuasa, ia terpaksa ikut berpuasa karena malu ketahuan tidak puasa. Juga ada yang terpaksa berpuasa karena toh sulit mencari tempat makan siang, karena selama bulan puasa, warung makan tutup semua.  Bagi mereka yang termasuk kelompok ini tentu berpuasa sangat sangat menyiksa baginya dan membuat ia sangat lelah, letih dan loyo.

Karena itu mari kita ubah mind set dalam melaksanakan puasa tahun ini serta perbaiki niat dan keikhlasan berpuasa. Bulan puasa bukanlah alasan untuk mengurangi aktifitas, malah merupakan bulan rahmat dimana doa dan upaya kita diberkati oleh Allah. Bukankah Allah berjanji akan membukakan pintu berkahnya seluas-luasnya di bulan Ramadhan? Bukankah rahmat kemerdekaan Indonesia tanggal  17 Agustus 1945 juga diberikan disaat bulan Ramadhan?

Jadi tidak ada alasan bermalas-malasan, memperbanyak tidur, lelah dan loyo  karena berpuasa di bulan Ramadhan. Sekolah, bekerja, berusaha, mengurus rumah tangga, jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, semuanya akan menjadi ibadah, diberkati dan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah selama bulan Ramadhan.  Tentu akan sangat rugi kita jika kesempatan itu disia-siakan.

Selamat menunaikan ibadah puasa tahun 1435 H, semoga kita semua bisa memanfaatkan momen puasa tahun ini sebaik-baiknya, kembali fitrah serta mendapat limpahan berkah yang sebesar-besarnya dari Allah SWT. Amin. (Juni 2014)

79. Puasa Kunci Mencapai Sukses

Puasa Kunci Mencapai Sukses

Jika kita ajukan pertanyaan, “ Siapa yang ingin jadi orang sukses dan bahagia?” Tentulah semua orang akan mengacungkan tangan. Menjadi orang sukses, hidup bahagia, rukun dan damai tentulah merupakan keinginan dan cita-cita semua umat manusia. Siapa yang tak ingin sukses dan bahagia? Jika ada yang tidak ingin sukses dan bahagia, mungkin ada kelainan dalam diri orang tersebut.

Namun dalam kenyataannya tak banyak orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya. Banyak orang hidup dalam kondisi biasa-biasa saja, tak banyak kemajuan yang dicapai dari waktu ke waktu. Meski sudah panjang perjalanan hidupnya dan sudah banyak umur yang sudah dihabiskan, hidupnya tetap tak berubah dari tahun ke tahun. Kata-kata bahagia pun sangat jauh dari kehidupannya.

Segala cara dan upaya telah dilakukan untuk menggapai sukses. Kerja keras membanting tulang, tak kenal lelah siang dan malam pun telah dilakukan, namun tetap saja sukses itu  tak mampu mereka capai, begitu juga bahagia. Apalagi bagi mereka yang tak sudi bekerja keras dan berupaya dengan sungguh-sungguh, tentu sukses dan bahagia itu makin jauh darinya.

Namun ada juga sejumlah orang yang semua urusan dan pekerjaan bisa ia selesaikan dengan baik. Setiap kali ia menemukan hambatan dan jalan buntu, tiba-tiba saja muncul jalan keluar dan solusi dari persoalan yang sedang ia hadapi. Karirnya melejit dengan cepat, ia pun menjelma menjadi orang sukses. Selanjutnya karena sukses itu ia syukuri dan amanah ia jalankan sesuai perintah Allah, hidup bahagia, rukun dan damai pun menjadi miliknya. Allah juga telah menyiapkan surga baginya untuk kehidupan di akhirat kelak. Subhanallah…

Hal seperti ini sudah merupakan sunnatullah. Pepatah Arab mengatakan man jad da wa jada, siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil. Dalam surat Ath Thaalaq ayat 2 Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” Selanjutnya dalam pada ayat 4 surat yang sama Allah lebih menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

Jadi bisa kita simpulkan bahwa hanya orang yang bekerja dengan bersungguh-sungguh yang bisa berhasil. Orang yang bersungguh-sungguh dan bertakwa akan menjadi orang sukses karena diberikan Allah berbabagi jalan keluar dari masalahnya serta kemudahan dalam semua urusannya, seperti janji Allah dalam surat Ath Thalaaq.

Bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk menggembleng ummat menjadi orang-orang yang bertakwa. Seperti firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Jadi, jika ingin menjadi orang bertakwa, maka bulan Ramadhan lah momen yang paling tepat untuk melatihnya.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bisa kita ambil kesimpulan, jika ingin menjadi orang sukses maka ada dua kata kuncinya, yaitu bekerja dengan bersungguh-sungguh dan bertakwa. Untuk menjadi orang yang bertakwa, salan satu jalannya adalah dengan menjalankan ibadah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Mudah bukan?

Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun 1435 H. Mari kita bulatkan tekad agar di akhir Ramadhan ini keluar sebagai pemenang, menjadi orang-orang yang bertakwa (muttaqin) dan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Insya Allah kita akan menjadi orang-orang yang sukses, sejahtera, bahagia dunia dan akhirat. Amin. (Juli 2014)

80. Rasul Sebagai Model

Rasul Sebagai Model

 

Setiap orang punya idola atau tokoh panutan masing-masing. Ada orang yang memilih Bung Hatta sebagai tokoh idolanya, ada pula yang menjadikan Michael Jackson sebagai tokoh idolanya. Ada beragam latar belakang profesi tokoh yang dijadikan idola. Bisa jadi ia seorang artis, tokoh politik atau olahragawan, seperti pesepakbola, petinju, dan lain-lain.

Biasanya jika seseorang yang mengidolakan seorang tokoh, maka ia akan berusaha meniru gaya dan tingkah laku tokoh tersebut. Seseorang yang mengidolakan Michael Jackson akan meniru gaya tokoh tersebut. Baik cara ia berpakaian, cara ia bernyanyi dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Begitu juga jika mereka yang mengidolakan Messi atau Ronaldo, misalnya, akan meniru gaya dan tingkah laku Messi atau Ronaldo.

Kebiasaan memiliki tokoh idola adalah lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang memilih tokoh idola, karena tokoh tersebut sesuai dengan karakternya atau sesuai dengan harapan dan cita-citanya. Seseorang yang bercita-cita jadi penyanyi akan mengidolakan penyanyi sebagai tokoh pujaanya. Begitu juga yang bercita-cita menjadi atlet, tokoh politik, negarawan, dan seterusnya. Akan memiliki tokoh idola sesuai fantasi masing-masing.

Dalam lingkungan keluarga biasanya yang jadi contoh dan panutan terdekat adalah ayah atau ibu. Dalam keluarga, anak-anak biasanya akan mencontoh kebiasaan atau prilaku ayah dan ibunya. Jika ayah dan ibunya pemarah dan suka berkata kasar, maka anak-anaknya cenderung juga bersikap demikian. Sebaliknya jika kedua orang tua mereka bersikap baik, lembut tutur bahasanya, rajin ke masjid, maka anak-anak mereka juga cenderung bersikap demikian. Tokoh terdekat selanjutnya yang menjadi panutan adalah, kakak, paman atau bibi serta guru di sekolah. Tergantung dengan siapa mereka lebih banyak dan intens berinteraksi.

Tokoh-tokoh tersebut biasanya diistilahkan sebagai model. Model adalah contoh atau panutan yang biasanya akan diikuti dan ditiru. Jika kita ingin membuat baju misalnya, maka kita butuh model, contoh atau patron sebagai acuan untuk mempermudah membuat baju tersebut. Jika sudah didapat model yang sesuai, maka tinggal meniru dan mengikuti model tersebut.

Allah SWT paham betul dengan kebiasaan manusia tersebut. Karena itu Allah menurunkan Nabi dan Rasul untuk dijadikan contoh, panutan atau model bagi manusia. Banyak sekali sikap dan prilaku Nabi yang bisa dijadikan contoh bagi manusia. Mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW banyak sekali contoh dan pelajaran yang bisa kita petik.

Khusus Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dan terlengkap yang paling tepat untuk dijadikan contoh. Dalam Al Quran surat 33 ayat 21 dijelaskan ; “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang bagimu bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), contoh paling tepat bagi manusia. Kehidupan beliau sehari-hari, baik dalam keluarga, dalam bermasyarakat maupun sebagai pemimpin, semuanya merupakan contoh yang terbaik bagi manusia. Muhammad adalah model terbaik yang pernah ada. Beliau disegani baik oleh kawan maupun lawan, apalagi dalam keluarga sendiri.

Tentu saja menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai model jauh lebih baik dibandingkan menjadikan Michael Jackson atau tokoh lainnya. Karena biasanya, meski banyak sisi baik dari para tokoh tersebut, namun juga tak kurang banyaknya sisi buruk dan sisi gelap dari para tokoh tersebut. Silahkan tunjuk saja tokoh-tokoh yang pernah kita idolakan, pasti banyak juga sisi gelapnya, disamping sisi baiknya.

Karena itu mari kita jadikan momentum maulid Nabi Muhammad SAW sebagai peringatan untuk kembali mempelajari dan mendalami kembali sifat-sifat dan karakter beliau untuk dijadikan contoh dan model untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal itu kita lakukan, Insya Allah kita akan selamat dan nyaman hidup di dunia hingga di akhirat kelak. Amin. (Januari 2014)

81. Haji dan Kemampuan Fisik

Haji dan Kemampuan Fisik

 

Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).

Bunyi hadits di atas, yaitu tentang pelaksanaan ibadah haji menerangkan pentingnya memiliki kemampuan. Ibadah haji ditekankan kepada orang yang mampu. Salah satu kemampuan tersebut adalah kemampuan keuangan. Menunaikan ibadah haji membutuhkan sejumlah dana yang mesti dipenuhi oleh calon jamaah haji untuk transportasi, penginapan, akomodasi, kesehatan dan lainnya.

Namun selain kemampuan keuangan, yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan fisik. Iklim di Arab Saudi berbeda dengan Indonesia, maka kekuatan fisik menjadi faktor yang mendukung kekhusyukan dan kelancaran ibadah haji.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah bersengaja melakukan perjalanan dengan sengaja (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397). Dengan demikian, ketika kita menyengaja untuk ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka kondisi fisik harus disiapkan juga.

Dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah haji, maka beberapa area tempat melakukan rukun dan wajib haji menjadi sangat padat oleh para jamaah. Misalnya, tawaf. Pengalaman pribadi penulis, untuk menyelesaikan tawaf membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam dengan kondisi penuh sesak dengan jamaah yang melaksanakannya. Bisa dibayangkan, berjalan selama 5 jam dengan normal saja bisa membuat letih. Apalagi tawaf selama 5 jam dalam keadaan berdesakan dengan jamaah lain. Padahal dalam kondisi normal, tawaf bisa dilakukan dalam waktu kurang lebih 30 menit.

Demikian juga dengan sai dan jumroh yang membutuhkan kekuatan fisik. Sai tujuh kali sepanjang 5-6 km membutuhkan kemampuan fisik. Sementara ketika jumroh, semua jamaah fokus ke satu tempat. Dan sudah barang tentu akan berdesak-desakan. Tempat melempar jumroh sebelum dibuat bertingkat kerap dilanda musibah yaitu banyaknya jamaah yang meninggal karena terinjak. Ini akibat kondisi yang berdesak-desakan dan fisik jamaah pun kurang kuat menghadapi kondisi demikian.

Demikian pula halnya dengan shalat di masjid dan wukuf di Arafah. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146). Menunaikan shalat di masjid tersebut juga membutuhkan fisik yang baik. Sementara Wukuf di Padang Arafah di siang hari merupakan inti ibadah haji. Di panas terik antara waktu dzuhur dengan ashar, jamaah melakukan wukuf.

Melihat hal yang demikian, maka ibadah haji pada dasarnya adalah ibadah fisik. Oleh karena itu kemampuan berhaji selain masalah keuangan juga masalah fisik. Maka tidak heran jika Allah SWT menyukai hambaNya yang kuat fisiknya agar bisa melakukan ibadah dengan baik dan benar.

Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.” (HR. Muslim).

Semoga para jamaah haji asal Sumbar mendapatkan keberkahan dalam menunaikan ibadah haji beberapa waktu yang lalu. Dan bagi yang ingin berhaji, sebaiknya menyiapkan kemampuan fisik agar mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji dengan khusyuk dan tertib. (November 2011)

82. Gempa, Isyarat untuk Bertakwa

Gempa, Isyarat untuk Bertakwa

 

Tak terasa dua tahun sudah telah berlalu. Masyarakat Sumatera Barat dan semua stakeholders bersama-sama bekerja keras, mengerahkan segala daya dan upaya untuk membangun kembali puing-puing pasca gempa 30 September 2009. Triliunan dana dikucurkan untuk membangun kembali rumah masyarakat, rumah ibadah, sekolah, jalan dan berbagai fasilitas umum lainnya. Ribuan pekerja, juga pakar dikerahkan untuk membangun kembali Ranah Minang yang porak-poranda akibat gempa.

Namun, durasi selama dua tahun itu ternyata belum cukup. Dana triliunan rupiah yang digelontorkan ternyata juga belum memadai. Ribuan pekerja, tukang bahkan para pakar yang dikerahkan untuk membangun, terasa bergerak lamban. Kita sepertinya sudah tak sabar menunggu itu semua. Padahal, mereka sudah mengerahkan semua kemampuan dan tenaga, bahkan bekerja lembur siang-malam.

Mungkin di sinilah Allah SWT ingin memperlihatkan kekuasaannya dan menguji kita semua. Durasi gempa berkekuatan 7,9 skala Richter dan telah meluluhlantakkan Padang, Pariaman dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat, itu tak sampai dalam hitungan menit. Dalam sekejap mata, rrrrr…. gedung-gedung bertingkat yang terlihat megah dan kokoh, ambruk ke tanah. Ribuan rumah penduduk berbagai fasilitas umum, ikut ambruk dan rata dengan tanah. Tak hanya itu, ribuan nyawa juga jadi korban.

Secara ilmiah, gempa merupakan sebuah fenomena alam. Gempa terjadi akibat pergeseran lempeng bumi. Kawasan Sumatera Barat memang merupakan daerah rawan gempa, karena daerah ini terletak di patahan semangka antara dua lempengan bumi. Meski bisa dipahami secara ilmiah, namun kapan terjadi gempa, di mana terjadi gempa, seberapa besar kekuatannya, masih merupakan teka-teki tak terpecahkan hingga saat ini. Jepang yang memiliki teknologi dan pakar paling handal sekali pun tak mampu mengurainya.

Namun, dalam Al Quran cukup banyak ayat yang menerangkan peristiwa gempa/bencana. Dalam ayat tersebut diterangkan Allah menurunkan bencana untuk menghukum umat yang durhaka, munafik dan gemar berbuat maksiat, seperti firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 78, 91 dan 155, surat Al Haj ayat 1, dan surat Al Ankabut ayat 37. Apakah gempa/bencana di Sumbar hanya sekadar peristiwa alam atau peringatan Allah atas sikap dan perbuatan kita yang melampaui batas? Hanya kita dan Allah yang tahu jawabannya.

Namun di sisi lain, terlepas dari semua itu, semua peristiwa tersebut adalah musibah. Kematian adalah musibah. Kehilangan harta benda, kegagalan, juga musibah. Kita harus sabar dan ikhlas menghadapinya, karena di balik musibah ada hikmah dan kabar gembira. Dalam surat Al Baqarah ayat 156, yaitu orang-orang yang bila ditimpa musibah ia mengucapkan innalillahi wainnailaihirojiun.

Gempa tahun 2009 lalu merupakan pelajaran sangat penting dan mahal bagi kita. Meski peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam, namun kita tak boleh berputus asa. Secara global ada dua hal yang perlu dipersiapkan berdasarkan pengalaman tersebut. Pertama, mengevaluasi ketakwaan kita kepada Allah, sehingga gempa yang terjadi bukan karena kemurkaan Allah, tetapi hanya sebatas fenomena alam belaka. Kedua, adalah melakukan antisipasi kesiapsiagaan bencana.

Antisipasi tersebut bisa dilakukan secara horizontal, yaitu dengan menjauh dari daerah pantai untuk menghindari tsunami, serta memperkokoh konstruksi bangunan. Antisipasi vertikal bisa dilakukan dengan mendirikan shelter.

Insya Allah, jika kedua antisipasi itu dilakukan, baik secara agamis maupun secara ilmiah, niscaya kita bisa bekerja dan beribadah dengan tenang. Di balik duka mendalam yang ditimbulkan gempa 2009, juga ada harapan baru yang muncul di baliknya. Pasca gempa, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat justru melonjak di atas angka rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Di saat ekonomi nasional maupun global dalam keadaan kritis, Sumatera Barat justru mendapat kucuran dana pembangunan sangat besar. Memang masih ada masalah yang tersisa dan perlu diselesaikan. Namun, mari kita syukuri rahmat yang telah kita terima jumlahnya jauh lebih banyak daripada masalah yang tersisa. Allah berjanji akan melipat gandakan rahmatnya bagi manusia yang pandai mensyukuri nikmat. (Oktober 2011)

83. Memaknai Idul Fitri

Memaknai Idul Fitri

 

Banyak orang, beragam pula cara mereka memaknai hari raya Idul Fitri. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai ajang untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Hari itu digunakan untuk mengencangkan tali silaturrahmi, saling memaafkan, membangun suasana baru dalam keluarga serta kaum kerabat dan lingkungan sosial.

Sebagian muslim lainnya beranggapan Idul Fitri perlu disambut gembira karena telah mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan, mengoptimalkan dan mengisi Ramadhan dengan beragam ibadah dengan penuh keikhlasan. Maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, hari yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para Nabi dan orang-orang shaleh. Mereka berharap ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal yang telah dilakukan.

Apakah puasa dan segala ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT, sehingga patut dirayakan? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti disinyalir Nabi Muhamad SAW? Menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil menjalankan ibadah puasa. Indikator tersebut adalah; ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat, ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan, ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana.

Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya?

Itulah rahasia kenapa Selamat Hari Raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal Aidin wal Faizin (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Namun yang pasti Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang sikap dan perbuatan kita selama ini.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri sebagai ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah SWT, momen mengasah kepekaan sosial. Islam tidak menginginkan ada pemandangan paradoks, betapa di saat kita berbahagia dan bergembira, apalagi berpesta pora, sementara saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar atau tersiksa dalam keadaan nestapa.

Sungguh Maha Besar dan Maha Pengasih Allah Swt. Allahu akbar… Allahu akbar walillah ilhamd. Selamat merayakan Hari Raya idul Fitri 1432H. Minal ‘Aidin wal Faizin. Hanya Allah yang maha Sempurna, tak ada manusia yang terlepas dari khilaf dan salah, mohon maaf lahir dan bathin. (September 2011)

84. Bulan Prestasi

Bulan Prestasi

 

KITA bersyukur, salah satu anugerah dari Allah SWT kepada bangsa Indonesia adalah Kemerdekaan RI yang diproklamasikan 9 Ramadhan atau 17 Agustus. Bulan yang sangat istimewa kedudukannya dan juga berlimpah ampunan, rahmat dan berkah dari Allah SWT.

Di saat menahan haus dan lapar, para pendiri bangsa ini justru menorehkan prestasi emas mereka. Di saat sepuluh hari pertama Ramadhan yang merupakan penuh Rahmat Allah SWT, kemerdekaan Republika Indonesia diproklamasikan.

Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa banyak prestasi yang ditorehkan di bulan Ramadhan. Yang cukup fenomenal dalam sejarah keNabian adalah terjadinya perang Badar Kubro pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Pada malam menjelang perang keesokan hari, Rasulullah SAW lebih banyak mendirikan shalat.

Dan ketika peperangan kian berkobar, Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini.”
Maka turunlah ayat: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal: 9). Pertempuran antara 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy ini, dimenangkan kaum muslimin dengan izin Allah SWT.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin melakukan mobilisasi ke Mekah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy. Mereka memasuki Mekah dengan aman. Kaum kafir Quraisy yang mengetahui bahwa setiap penaklukan terjadi pembantaian justru semakin terpesona oleh akhlak Rasulullah SAW karena pasukan Islam tersebut tidak melakukan apa yang mereka bayangkan. Hingga akhirnya banyak penduduk Mekah yang masuk Islam.

Penaklukan kota Mekah ini jika ditarik ke belakang berawal dari pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kafir Quraisy. Dan pada awalnya perjanjian Hudaibiyah ini terlihat menguntungkan kaum kafir Quraisy, sampai Umar bin Khaththab ra pun mempertanyakan kepada Rasulullah SAW tentang disetujuinya perjanjian Hudaibiyah oleh Rasulullah SAW. Setelah turun wahyu Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS Al Fath: 1). Maka umat Islam menjadi tenang. Dan setelah terjadinya pelanggaran, maka bergeraklah pasukan Muslim ke Mekah hingga akhirnya beroleh kemenangan tanpa pertumpahan darah.

Prestasi lain yang juga tercatat sejarah adalah pada Ramadhan 92 Hijriah, Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia (Spanyol) yang diawali dengan membakar hampir semua kapal yang membawa pasukannya. Tindakan ini menyebabkan tegaknya Islam selama lebih kurang tujuh abad di Andalusia.

Sementara itu, pada Ramadhan 658 Hijriah, Muzaffar Quthz berhasil memimpin kaum muslimin memperoleh kemenangan dari pasukan Tar Tar yang terkenal ganas dan juga tangguh setelah sebelumnya tidak dibayangkan kemenangan melawan pasukan ini.

Dengan melihat sederetan prestasi tersebut, maka bulan Ramadhan bukanlah bulan yang menjadikan umat Islam bermalas-malasan. Justru sebaliknya, bulan yang seharusnya penuh dengan prestasi karena pertolongan Allah sangat dekat dibanding bulan yang lain. Maka merugilah orang yang bermalas-malasan atau bahkan yang menjadikan tidur sebagai ibadah favorit.

Jika tidak mampu berprestasi untuk masyarakat, maka minimal kita bisa menorehkan prestasi untuk diri sendiri dan juga keluarga. Jika di bulan lain kita jarang sholat ke masjid, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan kunjungan ke masjid. Jika di bulan lain kita jarang membaca Al Quran, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan intensitas membaca Al Quran dan kemudian membiasakannya setelah Ramadhan. (Agustus 2011)

85. Syahrul Jihad

Syahrul Jihad

 

Setiap ibadah yang baik harus mengikuti cara, dan juga mencontoh Rasulullah SAW. Oleh karena itu puasa di bulan Ramadhan juga harus mengikuti apa yang telah diperintahkan dan dilakukan Rasulullah SAW.

Rasulullah adalah orang yang senantiasa meningkatkan kesungguhan dalam beramal dan beribadah, termasuk dalam melakukan peperangan. Kita bisa membayangkan kondisi berperang di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa di tengah terik matahari.

Pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah menjalani perang Badar Kubro. Pertempuran yang tidak imbang dari segi jumlah, 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy. Dengan izin Allah SWT kaum muslimin meraih kemenangan.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin mendatangi kota Mekkah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy.

Rasulullah SAW semasa hidupnya menjalani sekitar delapan kali Ramadhan. Rasulullah bahkan menjalani puasa di musim panas yang sangat terik.
Abu Darda berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah”. (Muttafaq alaih).

Para sahabat pun banyak yang mencontoh puasa Rasulullah SAW. Umar bin Khattab ra saat menjelang kematiannya berpesan kepada puteranya, Abdullah. “Hendaknya engkau mewujudkan sifat-sifat keimanan.” Lalu beliau menyebutkan yang paling pertama, “Berpuasa saat panas sangat terik di musim panas.”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata: “Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya”.

Ini adalah contoh bagaimana orang-orang terdahulu bersungguh-sungguh atau berjihad dalam melaksanakan amal ibadah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Jihad dalam arti bahasa adalah bersungguh-sungguh dan dalam arti khusus adalah perang. Ramadhan adalah syahrul jihad, umat Islam diminta bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam beramal. Jika hari ini kita lihat orang yang berpuasa bermalas-malasan atau ada PNS yang memotong jam kerja (masuk lambat pulang cepat), jelas tidak mencontoh Rasulullah SAW.

Bersungguh-sungguh puasa tidak akan menyebabkan kematian karena tidak ada dalam sejarah orang mati karena berpuasa. Demikian pula dengan kemalasan yang hanya merupakan dorongan psikologis semata. Betapa banyak orang menjalankan puasa semisal Senin dan Kamis di luar Ramadhan tapi mampu mengimbangi kerja orang yang tidak berpuasa.

Jika kita melakukan pemanasan menjelang Ramadhan, yaitu melaksanakan puasa di bulan Rajab dan Syakban, maka akan semakin ringan dan bersungguh-sungguh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Secara kesehatan, orang yang tidak makan setelah sahur masih memiliki energi untuk beraktivitas hingga Maghrib. Untuk itu, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan karena Ramadhan adalah bulan kesungguhan (syahrul jihad) bukan bulan kemalasan. Bagaimana mungkin mencapai derajat takwa jika yang dilakoni adalah kemalasan, bukan kesungguhan. (Agustus 2011)

 

86. Hidup Bagaikan Cermin

Hidup Bagaikan Cermin

 

Hidup itu bagaikan cermin. Jika anda tersenyum, maka cermin akan tersenyum pada anda. Sebalikya jika anda marah dan melotot, maka cermin juga akan marah dan melotot pada anda.

Begitu pula lah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita memperlihatkan wajah kecut dan cemberut kepada orang lain, maka orang tersebut akan membalasnya pula dengan wajah kecut dan cemberut. Jika kita memperlihatkan wajah yang menyenangkan, ramah dan bersahabat, maka orang akan membalasnya dengan wajah ramah dan bersahabat pula.

Buruk atau baik yang kita lakukan pasti akan dibalas pula dengan kebaikan atau keburukan. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, keburukan akan dibalas dengan keburukan pula. Seperti kata pepatah Minang, kalau lai padi nan ditanam, ndak mungkin lalang nan ka tumbuah.  Atau ada juga ada ungkapan yang mengatakan: Siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Artinya, siapa yang berbuat kebaikan pasti akan memperoleh balasan berupa kebaikan dan siapa yang berbuat keburukan akan menerima balasan berupa keburukan.

Realita kehidupan ini dengan mudah dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga saja misalnya, anak-anak yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur pasti akan mendapat mendapat apresiasi yang baik pula dari para orang tua mereka. Ia menjadi anak kesayangan, umumnya apa yang dia minta, jarang yang tidak dikabulkan. Ia mendapat perlakukan istimewa.

Begitu juga fakta yang terjadi di dunia kerja. Pegawai atau karyawan yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur dan kreatif akan mendapat apresiasi yang baik pula dari rekan kerja atau  pimpinannya. Ia akan mendapat perlakuan khusus, seperti cermin, semua orang akan memberikan perlakukan yang baik pula padanya. Bukan hal mustahil jika ia diberi kenaikan pangkat atau jabatan yang baik.

Ini adalah salah satu contoh bukti nyata dalam organisasi Pemda Sumbar. Pegawai yang bersikap baik, rajin dan jujur, kemanapun ia akan dipindahkan semua orang dengan senang hati bersedia menerimanya. Sementara di lain pihak, pimpinannya berusaha mempertahankan agar pegawai tersebut tidak dipindahkan. Ondeh Pak, jan dipindahkan lo nyo lai, inyo paguno dek kami mah,  (jangan pindahkan dia Pak, kami butuh dia), begitu pimpinan tempat ia bekerja berusaha mempertahankan.

Sebaliknya pegawai yang bermental jelek, malas, licik, tak akan mendapat tempat dan apresiasi yang baik. Ia selalu ditolak dimana-mana. Jan dipindahkan lo nyo kamari Pak, mambana kami, (mohon jangan dipindahkan dia ke sini Pak), begitu komentar pimpinan atau pegawai lain saat ia dimutasikan ke suatu tempat.

Di hadapan Allah, dalil serupa juga berlaku. Allah akan memperlakukan umat yang baik, dengan balasan yang baik pula. Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan, keburukan dengan keburukan pula, itu janji Allah. Seperti juga yang berlaku pada sesama manusia, manusia yang bermental dan berprilaku baik juga akan mendapat keistimewaan. Segala permintaannya sulit bagi Allah untuk menolaknya. Segala doa dan harapannya diijabah oleh Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan magfirah dan wa rahmah, bulan dimana terbuka peluang bagi manusia untuk menghapus semua dosa-dosanya, jika ia bersungguh-sungguh. Bulan ini juga merupakan bulan dimana kebaikan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Memperbanyak shalat sunat, shalat malam, membaca Al Quran adalah beberapa ibadah-ibadah yang bisa dilakukan untuk mendekat diri pada Allah. Bersedekah, berbuat baik dan menolong orang lain adalah beberapa contoh perilaku yang orang lain bersimpati pada kita dan juga mendapat pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Segala kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dibalas Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Mari jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, sekaligus memperbaiki masa depan kita, dunia dan akhirat. (Agustus 2011)

87. Menghindari Konsumerisme

Menghindari Konsumerisme

 

Setiap tahun, angka inflasi yang tinggi justru terjadi di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Harga beras naik, harga sembako naik. Kenaikan harga secara teori akibat terjadinya permintaan yang melebihi persediaan. Namun boleh jadi pada bulan Ramadhan ini kenaikan harga tersebut terjadi akibat permintaan yang didorong oleh aspek psikologis konsumen dibanding permintaan riil mereka.

Menjelang momen-momen tertentu, sebenarnya pemerintah telah menyiapkan stok bahan makanan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk di bulan Ramadhan. Karena permintaan didorong aspek psikologis, maka hal ini dimanfaatkan penjual atau produsen untuk menaikkan harga.

Jika kita melihat konsepnya, pola makan di bulan Ramadhan justru berkurang dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari (berbuka dan sahur). Bahkan ajaran sebenarnya, di bulan Ramadhan umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Yang dimaksud mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu ini tidak terbatas sejak subuh hingga maghrib, tapi sejak maghrib hingga subuh pun umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu.

Di kala siang, menahan haus dan lapar, dan di kala malam mengendalikan diri untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makan dan minum serta mengendalikan emosi diri. Jika pola makan saja sudah turun dari tiga kali menjadi dua kali, maka seharusnya kebutuhan akan makanan juga berkurang. Namun ternyata yang terjadi sebaliknya.

Kerap muncul perasaan ingin membeli makanan dan minuman yang lezat dan enak untuk berbuka puasa karena sanggup menghabiskan. Namun ternyata ketika waktu berbuka tiba, tidak semua yang dibeli itu bisa dimakan. Bahkan muncul makanan dan minuman sisa yang terbuang percuma. Maka terjadilah kemubaziran. Jikapun semua yang dibeli dihabiskan, maka dampak setelah itu muncul kemalasan untuk beribadah karena sudah kekenyangan.

Secara kesehatan makan terlampau kenyang membuat perut bekerja ekstra keras karena 12 jam sebelumnya dalam keadaan kosong. Alih-alih menimbulkan kesehatan, puasa seperti ini justru bisa mendatangkan penyakit.

Sementara kemubaziran itu sendiri merupakan hal yang tercela dalam ajaran Islam. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al Isra: 27). Di samping munculnya kemubaziran, di bulan Ramadhan yang seharusnya umat Islam meningkatkan amal ibadah justru harus menaklukkan diri sendiri ketika kekenyangan demi kekenyangan menemani mereka setiap berbuka yang menyebabkan munculnya kemalasan untuk beribadah. Maka benarlah apa yang disampaikan Rasulullah SAW, “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar” (HR Bukhari-Muslim).

Kemubaziran adalah dorongan psikologis dimana keinginan lebih dominan dari kebutuhan. Kemubaziran merupakan implementasi kegagalan mengendalikan hawa nafsu yang seharusnya dilakukan di bulan Ramadhan ini. “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa,” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Imam Ghazali pernah mengatakan, jika seseorang mengalami kekenyangan maka ia akan menganggap orang di seluruh dunia juga mengalami kekenyangan. Hal seperti ini juga akan mengurangi makna puasa. Seharusnya puasa membuat kita bisa merasakan kehidupan saudara-saudara kita yang masih dalam kondisi kekurangan sehingga konsumsi yang kita lakukan tidak menimbulkan kemubaziran dan bahkan bisa menyisihkan uang kita untuk disedekahkan kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. (Agustus 2011)

88. Ramadhan dan Somalia

  1. Bulan Pembentukan Karakter

Pernahkah kita memperhatikan tingkah laku hewan ternak? Ayam, misalnya. Hanya butuh waktu beberapa hari saja melatihnya. Maka ia segera tahu dimana kandang yang harus dia tuju, dan  segera setiap sore tanpa diperintah lagi dia akan pulang dan masuk ke kandangnya. Mereka juga tahu dimana tempat makannya. Mereka juga tahu memilih makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh  mereka dan menghindari makanan yang akan mencelakakan mereka.

Banyak contoh-contoh hewan yang memperlihatkan kepatuhannya dengan memberikan latihan pembiasaan terhadap mereka. Burung beo misalnya, setelah dilatih, ia segera bisa mengucapkan salam kepada setiap ada tamu yang datang. Beo juga senang dan tak lupa mengucapkan kata selamat pagi kepada tuannya saat memberinya makan setiap pagi.

Kucing juga demikian, ia tidak akan buang kotoran sembarangan setelah dilatih, dan selalu menimbun kotorannya dengan tanah. Hal itu selalu ia lakukan dengan teratur. Begitu juga anjing, kuda, burung merpati, gajah, ikan lumba-lumba dan banyak lagi contoh hewan lain yang bisa dilatih dengan cara pembiasaan dan kebiasaan itu selalu melekat dalam diri mereka dan takkan pernah mereka lupakan selamanya.

Mungkin itu pula yang diinginkan Allah kepada manusia di bulan Ramadhan.  Puasa melatih dan membiasakan manusia menahan lapar dan dahaga di siang hari selama sebulan penuh. Seharusnya kebiasaan itu bisa melatih manusia agar tidak makan dan minum secara berlebihan, melatih manusia untuk mengendalikan nafsu makannya secara berlebihan. Kita tahu bahwa makan berlebihan dan tidak terkendali akan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, asam urat, jantung koroner dan lain-lainnya.

Puasa juga melatih manusia untuk menjaga sikap dan perbuatan dan perkataan mereka  agar melakukan hal-hal yang baik. Sikap dan perbuatan yang baik tentu memberikan nilai tambah yang baik bagi orang lain. Menjaga ucapan dan perkataan yang baik tentu saja menyenangkan bagi orang lain tidak menimbulkan saki hati dan merugikan orang lain. Sebaliknya sikap tersebut menimbulkan simpati kepada mereka pelakunya. Subhanallah, sungguh mulia agama Islam. Allah sebagai Khaliq Maha Tahu dengan apa yang terbaik untuk umatnya.

Kesimpulannya, jika dalam bulan Ramadhan, selama sebulan penuh kita benar-benar berlatih untuk mengendalikan makan-minum, hawa nafsu, maka di akhir Ramadhan dan seterusnya seharusnya sudah terlihat hasil dan perubahannya. Jika selama sebulan penuh kita berlatih untuk melakukan shalat, termasuk shalat malam (qiyamulail), seharusnya di akhir Ramadhan seharusnya ada perubahan dan perbaikan. Bulan selanjutnya seharusnya ada perubahan, kita seharusnya sudah terbiasa melakukan shalat wajib, shalat sunat serta shalat malam.  Jika hewan bisa dilatih dan dibiasakan seharusnya manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan dilengkapi dengan akal dan pikiran bisa melakukannya secara lebih baik.

Jika selama bulan Ramadhan kita melatih sikap dan perkataan yang baik secara serius dan sungguh-sungguh, maka setelah berlatih sebulan penuh seharusnya sikap tersebut terus tertanam dalam diri kita dan mejadi perilkaku sehari-hari. Selanjutnya jika terus dibina dan terus diperbaiki maka ia akan menjadi karakter kita seumur hidup.

Jika semua perubahan dan perbaikan itu tidak kita peroleh dan tidak kita upayakan selama bulan Ramdhan, maka benar apa yang dikhawatirkan Nabi Muhammadi SAW akan jadi kenyataan :  “tidak ada yang dapat mereka peroleh setelah selama bulan penuh berpuasa kecuali sekedar merasakan haus dan lapar”. Sungguh sayang dan rugi jika kesempatan “berlatih” sekali setahun tersebut tidak kita manfaatkan sebaik mungkin.  Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi tersebut. Amin. (November 2013)

 

  1. Bulan Pembinaan SDM

 

Ramadhan merupakan bulan pembinaaan SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas. Saat ini menilai SDM berkualitas umumnya dilihat dari jejak rekam profesionalitas seseorang yang berwujud kerja fisik dan pemikiran semata. Padahal, jika melihat sejarah keNabian, SDM berkualitas dilahirkan dari orang-orang yang mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.

Apakah sunnah Rasulullah SAW tersebut? Di antaranya adalah sholat wajib berjamaah, sholat dhuha, sholat tahajud, puasa sunnah (dan juga yang wajib), membaca dan menghafal Al Quran, i’tikaf, dan bersedekah. Di bulan Ramadhan, amalan-amalan sunnah tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT. Maka para sahabat pun berusaha untuk melipatgandakan amalan tersebut, seperti khatam Quran berkali-kali dalam bulan Ramadhan serta melipatgandakan sedekah mereka.

Kesuksesan pelaksanaan Ramadhan ini tidak akan serta merta berdiri sendiri, akan tetapi ada pengiringnya. Seseorang akan bisa sukses di bulan Ramadhan jika ia melaksanakan berbagai amalan jauh sebelum Ramadhan sehingga sudah mengalami pembiasaan. Seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunnah dan senantiasa membaca Al Quran dengan rutin, maka di bulan Ramadhan ia akan lebih mendapatkan hasil yang maksimal.

Rasulullah SAW sendiri ketika menjelang Ramadhan meningkatkan amalan puasanya. “Sesungguhnya A’isyah berkata: “Tidak ada bulan yang Rasulullah SAW banyak melakukan puasa sunnah selain Sya’ban, sungguh beliau telah melakukan seluruh puasa sunnah di bulan Sya’ban” (HR Bukhari). Adapun sebab Rasulullah SAW memperbanyak amalan puasanya adalah, “Itulah bulan yang dilalaikan manusia yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan yang padanya amal perbuatan diangkat kepada Rabbul-’Aalamiin. Dan aku senang seandainya amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa”  (HR An-Nasa’i).

Sementara di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW meningkatkan pula amalannya. Bahkan tadarus Al Quran pun ditemani oleh malaikat Jibril. Dari Ibnu Abbas ra. Berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al Quran. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus”. (Shahih Al Bukhari).

Para sahabat selalu berusaha mengikuti amalan dan sunnah Rasulullah SAW tersebut karena mereka meyakini hal itu merupakan hal terbaik yang harus dilaksanakan. Hasilnya, kita bisa melihat bahwa sahabat yang dibina oleh Rasulullah SAW kelak menjadi orang-orang yang amanah dalam jabatannya, peduli dengan ummat dan senantiasa mengajak kebaikan dan berdakwah hingga ke berbagai tempat. Padahal sebelumnya, para sahabat itu ketika di masa jahiliyahnya banyak bergelimang dosa dan  tidak memiliki kecakapan.

Di bulan Ramadhan, Rasulullah juga membina fisik para sahabatnya karena banyak peperangan dilakukan di bulan Ramadhan. Dan dengan izin Allah, peperangan yang dilakukan di bulan Ramadhan selalu beraih kemenangan. Ini juga akibat usaha mereka untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT baik dalam menjaga rohani dan jasmani serta pikiran.

Kita yang hidup saat ini pun bisa mencontoh pembinaan SDM yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Insya Allah, kita bisa menjadi SDM yang berkualitas dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW tersebut tanpa mengurangi kepiawaian kita di suatu bidang, bahkan justru meningkatkan kepiawaian kita. Ramadhan adalah tempat untuk meningkatkan amalan. Namun di luar Ramadhan, amalan tersebut harus senantiasa dilakukan agar terjaga konsistensinya. Inilah yang juga kita bisa lihat di dalam diri Rasulullah SAW dan para sahabat. (Agustus 2011)

 

  1. Puasa dan Takwa

Kita mungkin pernah melakukan sebuah perjalanan. Baik itu perjalanan yang memakan waktu pendek, maupun perjalanan yang membutuhkan waktu panjang, di dalam atau ke luar negeri. Tentu saja yang paling penting dalam melakukan perjalanan tersebut adalah persiapan. Makin jauh dan makin lama perjalanan yang akan dilakukan,  makin banyak persiapan yang perlu dilakukan, makin banyak bekal yang harus dibawa. Sukses atau tidaknya perjalanan tersebut tergantung dari kematangan persiapan yang dilakukan.

Sebenarnya perjalanan paling panjang dalam kehidupan manusia adalah perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia pada hakikatnya hanyalah persiapan untuk perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi adalah di kampung akhirat kelak.  Seperti firman Allah dalam QS. Al Ankabut: 64; “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Karena itu jangan terlena dengan kesenangan di dunia, sebaliknya lakukanlah persiapan sebaik mungkin dan persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk hidup di akhirat kelak. Banyak orang berjuang mati-matian, tak peduli siang dan malam, untuk mengejar kehidupan dunia,  namun mereka lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.

Takwa adalah bekal terbaik untuk perjalanan ke kampung akhirat. Seperti firman Allah dalam QS. 2:197; “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada Ku hai orang-orang yang berakal”.

Secara sederhana mereka yang mematuhi semua perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW dan menghentikan semua larangan beliau disebut sebagai orang yang bertakwa (muttaqin).  Dalam Al Quran dan hadits Allah dan Nabi Muhammad SAW telah menuntun manusia tentang apa yang boleh dan harus mereka lakukan (perintah) dan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan (larangan).

Proses untuk menjadi muttaqin kita lakukan dan kita latih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai ibadah dan kebaikan. Puncak latihan tersebut adalah pada bulan Ramadhan. Allah memberikan keistimewaan selama bulan Ramadhan dan memberikan imbalan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan disebut juga sebagai penghulu sekalian bulan. Al Quran diturunkan pada bulan ini, dan cuma pada bulan Ramadhan adanya malam Lailatul Qadar.

Dalam  QS. Al Baqarah: 183 Allah berfirman;  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kamu bertakwa.”  Di sini jelas ditegaskan bahwa tujuan bulan Ramadhan yang utama adalah menggembleng manusia agar menjadi umat yang bertakwa. Maka dalam waktu selama sebulan tersebut kita dilatih beribadah, yaitu melakukan perintah dan menghentikan larangan Allah dan Nabi Muhammad SAW, agar menjadi umat yang bertakwa.

Takwa juga merupakan solusi dalam kehidupan di dunia. Seperti firman Allah dalam QS. 65: 2 dan 3; “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”.

Pada ayat 4 dan 5 surat yang sama Allah menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

Tingkat keberhasilan seseorang  menjalankan puasa selama bulan Ramadhan bisa diukur dari tingkat ketakwaan seseorang atau sejauh mana terjadi perubahan ketakwaan seseorang sebelum  dan sesudah berpuasa selama bulan Ramadhan.

Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan tahun ini untuk meningkatkan ketakwaan kita sebagai bekal perjalanan ke kampung akhirat kelak. Agar puasa tidak menjadi sia-sia, harus terlihat meningkatnya ketakwaan seseorang sebelum dan setelah berpuasa sebulan penuh. Semoga kita menjadi orang yang bertakwa,  bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat kelak. Amin. (Juli 2013)

 

68. Puasa dan Kejujuran

 

         Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidakjujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia.

Nabi Muhammad SAW pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, di akhir zaman, manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram (HR Muslim).
Era reformasi telah berlangsung lebih sepuluh tahun, namun praktek kolusi, korupsi dan suap menyuap masih saja ramai terdengar. Untuk mengatasi dan mengurangi segala kebiasaan destruktif tersebut, puasa dan bulan Ramadhan merupakan merupakan ibadah dan momen yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah.

Berbeda dengan sifat ibadah yang lain, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.

Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah SWT.
Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.

Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT. Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran. Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.

Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat diselesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan

Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain. Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.

Mari kita jadikan ibadah puasa dan bulan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk melatih kejujuran bersama. Selamat menunaikan ibadah puasa. (Juli 2011)
69. Puasa Menyehatkan Mental

Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam, juga umat sebelumnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah: 183). Di balik kewajiban, terdapat berbagai hikmah yang besar bagi mereka yang berpuasa, di antaranya adalah untuk menyehatkan mental dan mengendalikan hawa nafsu.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al Jaatsiyah: 23)

Allah SWT telah meminta kita mengambil pelajaran dari orang-orang yang sudah mencapai tingkat mempertuhankan hawa nafsunya. Dan kita ketahui, bahwa akhir dari hal tersebut adalah kerusakan dan kehancuran di muka bumi.

Puasa melatih kita menahan hawa nafsu, baik makan, minum dan juga hubungan suami istri di siang hari. Upaya melatih menahan makan, minum dan berhubungan tersebut adalah dalam rangka menyehatkan mental. Di samping itu menahan emosi juga merupakan bagian dari ajaran puasa yang sangat berguna menyehatkan mental.

Dengan mengendalikan emosi, lapar, dan haus, maka tubuh kita akan disehatkan sehingga menyebabkan munculnya ketenangan dan juga kebahagiaan. Sementara memperturutkan hawa nafsu akan memunculkan kesengsaraan. Ini karena puasa merupakan bagian dari zikir kepada Allah SWT. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS Ar Ra’d: 28).

Sebagai contoh kecil, setiap hari kita diperlihatkan dengan perilaku pengendara yang memperturutkan hawa nafsunya serta tidak bisa mengendalikan emosi. Mereka ingin cepat, tak mau mengalah meskipun seharusnya berhenti sebentar, sehingga terjadilah kecelakaan. Ini adalah gambaran ketidaktenangan jiwa. Akibatnya, tidak hanya mereka yang akan resah, akan tetapi orang lain akan merasakan dampaknya.

Jika perintah agama dalam berpuasa dijalankan dengan benar dan menjadi kebiasaan, maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya. Dari segi kejiwaan, ia akan memperkuat rohani. Kemudian dari segi perilaku, ia akan memperbaiki akhlak pelakunya. Dari segi perbuatan, ia akan memperkuat amalan-amalan para pelakunya. Dan dari segi fisik, ia akan memperkuat tubuh karena ilmu kedokteran telah membuktikan banyaknya manfaat yang didapat dari berpuasa dan juga mengendalikan emosi.

Allah SWT menyatakan bahwa puasa akan lebih baik bagi kita jika kita mengetahuinya. “…dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Puasa dan upaya mengendalikan hawa nafsu serta menahan emosi selain menyehatkan mental kita, juga memberi ketenangan di lingkungan. Sebagai masyarakat agamis, kita meyakini bahwa banyaknya maksiat yang merupakan upaya memperturutkan hawa nafsu akan menimbulkan keresahan di masyarakat. Sehingga masyarakat akan memberantas kemaksiatan yang terjadi di tempat mereka. Masyarakat ingin lingkungannya tenang agar mental mereka dan keluarganya sehat. Momentum puasa merupakan saat yang tepat untuk menyehatkan mental kita jika dilakukan dengan benar sesuai ajaran agama. Selamat menunaikan ibadah puasa, 1433H. (Juli 2012)

 

70. Meninggalkan Ramadhan

Ada doa yang sudah menjadi kebiasaaan umum bagi umat Islam ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Allahumma bariklana fii rajaban wa sya’ban wa ballighnaa Ramadhan yang artinya “Ya Allah berikanlah berkah kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.” Doa ini menggambarkan bagaimana harap dan rindu kaum muslimin terhadap Ramadhan sehingga berharap diberikan hidup dan merasakan Ramadhan.

Semangat menyambut Ramadhan oleh Rasulullah SAW digambarkan dalam perintah kepada umat Islam untuk mengisi bulan Rajab dan Sya’ban untuk persiapan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dan sahabat sangat gembira ketika memasuki bulan Ramadhan dan sedih ketika meninggalkan Ramadhan.

Ketika di sepuluh hari terakhir Rasulullah melakukan iktikaf di masjid yang merupakan kegiatan ibadah yang berisi zikir dan ibadah lainnya. I’tikaf hanya dilakukan di masjid dan pelakunya tidak melaksanakan kegiatan lain di luar i’tikaf kecuali ada keperluan mendesak.

Kegiatan iktikaf ini ingin menggambarkan bahwa Rasulullah SAW dan sahabat ingin meraih pahala di bulan Ramadhan sehingga tidak ingin Ramadhan berlalu begitu saja dan karenanya i’tikaf ini dipenuhi dengan ibadah. Dan kita sudah mengetahuinya tentang ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah SWT, terutama di malam kemuliaan atau lailatul qadar.

Maka, ketika Ramadhan mencapai hari terakhir, para sahabat menangis dan sedih, mereka tidak tahu apakah masih bisa menjumpai Ramadhan di tahun berikutnya. Dan di waktu berikutnya, ketika bulan Rajab hendak masuk, muncullah doa agar diberikan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta disampaikan kepada bulan Ramadhan.

Sementara itu, yang terjadi pada hari ini berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Ketika memasuki Ramadhan, justru bawaan menjadi susah. Mesti bangun sahur. Harga bahan makanan membumbung tinggi, padahal ingin makan dan minum enak. Namun ada juga yang bersenang-senang dengan Ramadhan ini, mereka sudah menjadwalkan acara berbuka dengan makanan dan minuman yang lezat dan menyenangkan. Momen Ramadhan hanya dijadikan pengalihan waktu makan dan sedikit nuansa pesta.

Di samping itu, ada yang di bulan Ramadhan justru menyiapkan untuk menyambut lebaran. Bulan Ramadhan tidak terperhatikan sama sekali, yang dipersiapkan justru untuk menyambut lebaran yang cuma satu hari, sementara waktu 30 hari yang disediakan Allah SWT dengan banyak manfaat tidak dihiraukan.

Selain itu, ada juga yang melakukan kegiatan begadang, untuk menunggu sahur. Kegiatan yang dilakukan tidak terkait dengan ibadah yang dilakukan untuk mengisi Ramadhan, lebih terfokus kepada kesenangan semata. Dan, ada juga ketika Ramadhan sudah mencapai penghujung, justru bergembira karena sudah lepas beban selama satu bulan.

Berbagai fenomena di atas bukanlah sesuatu yang dilarang, akan tetapi kegiatan tersebut secara siginfikan bisa mengurangi bahkan menghilangkan keberkahan Ramadhan. Jika menunggu sahur dengan menonton acara lawak di televisi, maka hilanglah acara shalat malam, padahal momen shalat malam di bulan Ramadhan sangat bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan ini diberikan balasan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik balasan dan mampu meraih kemuliaan malam lailatul qadar yang selalu dikejar oleh para pencinta Ramadhan. “Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS Al Qadr: 2-3).

Semoga bulan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan yang penuh berkah dan  magfirah bagi kita semua. Jika waktu sebulan penuh yang telah berlalu kita manfaatkan dan kita isi dengan ibadah secara bersungguh-sungguh, seperti janji Allah, kita akan kembali fitrah, seperti kain putih yang belum ternoda dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allahuakbar…. Allahuakbar walillah ilhamd….Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, minal aidhin walfaidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2011)

 

71. Merayakan Kemenangan

Idul Fitri merupakan hari kemenangan yang patut disyukuri. Kemenangan itu adalah kemenangan  bagi mereka yang berhasil melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan baik serta berhasil melakukan ibadah-ibadah lain yang disunatkan melaksanakannya selama bulan Ramadhan.

Shaum (puasa) dalam arti bahasa adalah menahan dari sesuatu. Menurut Qadhi Al-Baidhawi seperti dikutip Rasyid Ridha, shaum adalah menahan diri dari dorongan nafsu. Sedangkan menurut syara, shaum adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri dari terbit fajar hingga matahari terbenam, untuk mencari keridhaan Allah (ihtisaban) dan mempersiapkan jiwa untuk meraih ketakwaan dengan menanamkan akhlak muraqabatullah (pengawasan Allah) dan mendidik jiwa dalam mengekang dorongan syahwat sehingga mampu meninggalkan semua hal yang haram (Tafsir Al-Manar, vol.2/114-115).

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS;al-Baqarah:183)

Kata kunci ibadah puasa adalah menahan hawa hafsu. Seperti pernah diungkapkan Nabi Muhammad SAW;  Meski perang badar merupakan perang terbesar dalam sejarah Islam, namun masih ada lagi perang yang lebih besar dan lebih dahsyat, yaitu perang melawan hawa nafsu. Maka mereka yang menang dan adalah mereka yang berhasil mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu. Sudahkah kita termasuk yang meraih kemenangan dan berhasil kembali fitrah?

Selain itu, dalam perspektif Islam, kebangkitan umat tidak melulu selalu dikaitkan dengan kesuksesan jihad fisik dan capaian pembangunan fisik serta sumber daya umat baik alam maupun manusianya. Karena itu  setiap tahun, Allah sediakan Ramadhan sebagai madrasah bagi kaum beriman untuk memusatkan dirinya mengisi ulang (recharge) keimanan dan takwa sebagai sarana pembangunan karakter yang menjadi pusat kendali arah bagi pembangunan fisik dan sumber daya manusia muslim.

Dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan umat muslim harus benar-benar fokus ke arah pencapaian tujuan ibadah tersebut yaitu “agar kamu bertakwa”. Kita tak boleh hanya berhenti sebatas menjaga aturan-aturan lahiriah puasa berupa larangan makan, minum dan berhubungan suami-istri dari pagi hingga sore hari. Namun, kita harus berupaya maksimal mewujudkan tujuan-tujuan disyariatkannya (maqasid syariah) ibadah puasa tersebut yang disimpulkan dalam kalimat “la’allakum tattaqun”.

Karena itu jika ada orang yang melaksanakan puasa di siang hari, namun melampiaskan hawa nafsunya di saat berbuka, maka sikap itu tentu tidak sesuai dengan makna puasa, yaitu melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu. Begitu juga mereka yang telah melaksanakan puasa  sebulan penuh, lalu berpesta pora dan pamer kemewahan saat Idul Fitri. Hikmah yang  mereka peroleh hanya sekedar lapar dan dahaga.

Karena itu Nabi dan para sahabat selalu bersedih saat berpisah  dengan Ramadhan dan mereka berdoa agar diberikan lagi kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan.  Bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk melatih dan memperbaiki kualitas diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan juga merupakan kesempatan memperoleh ampunan dan pahala yang berlipat ganda.

Selamat merayakan Idul Fitri 1432 H,  moga kita termasuk orang-orang yang menang, kembali fitrah dan berhasil meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Jika tahun ini belum berhasil, insya Allah tahun-tahun berikutnya kita perbaiki dan kita tingkatkan lagi. Allahu Akbar … Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walilla Ilhamd… (Agustus 2012)

 

72. Indahnya Saling Memaafkan

 

Siapa yang berani mengaku bahwa dirinya tak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan? Pasti tak ada satupun. Jika ada yang berani mengaku bahwa tidak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan, pasti ia keliru. Salah dan khilaf adalah sifat alamiah dasar manusia, tak ada manusia yang luput dari khilaf dan berbuat kesalahan.

Atasan bisa saja melakukan kesalahan terhadap bawahannya atau sebaliknya. Yang tua suatu saat juga bisa melakukan kesalahan terhadap yang muda. Ayah terhadap anak, suami terhadap istri atau sebaliknya, semua berpeluang melakukan kesalahan. Kesalahan itu bisa jadi disengaja, maupun tidak disengaja.  Peristiwa itu bisa menimbulkan kesalahpahaman, kesal, sakit hati bahkan dendam.

Dendam dan sakit hati seperti yang sering saya sampaikan, bisa menghantui pikiran atau menjadi virus dalam pikiran. Makin lama makin banyak menumpuk bahkan berkembang biak di pikiran. Akhirnya seperti sebuah komputer yang terserang virus, suatu saat komputer tersebut hang (mogok bekerja), diam, tak dapat berbuat apa-apa. Pada manusia jika pikirannya hang, ia dikatakan mengalami gangguan jiwa.

Karena itu jika seseorang melakukan kesalahan terhadap kita, cepat-cepat maafkan dia, jangan simpan di pikiran, apalagi dalam bentuk dendam dan sakit hati. Sebaliknya jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, maka segeralah meminta maaf. Seperti firman Allah dan QS. An-Nur: 22, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Banyak orang mengatakan meminta maaf adalah pekerjaan yang paling mudah namun paling berat untuk dilakukan. Jika hal itu terjadi pada kita, maka Idul Fitri lah momennya. Idul Fitri merupakan kesempatan yang paling tepat untuk minta maaf dan saling memaafkan. Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meminta maaf atas semua kesalahannya dan saling memaafkan di saat Idul Fitri.

Karena itu mari kita manfaatkan hari yang fitri ini untuk meminta maaf dan saling memaafkan atas semua salah dan khilaf yang kita lakukan, maupun yang dilakukan orang lain terhadap kita. Mari lupakan kesalahan-kesalahan di masa lalu, kita mulai hari baru dengan janji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu dan berbuat yang lebih baik dan lebih hati-hati di masa datang.

Memaafkan terlebih dahulu adalah sikap terbaik. Sesungguhnya balasan bagi orang yang memaafkan dengan ikhlas adalah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman yg artinya “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syuuraa: 40)

Mari saling bermaaf-maafan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Minal Aidhin wal faidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2012)

 

73. 5 Koreksi Selama Berpuasa

 

Kita bersyukur kehadiran bulan Ramadhan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera Barat pada khususnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu terlihat peningkatan aktifitas masyarakat dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Mesjid dan mushalla penuh sesak oleh jamaah, tak kalah pasar dan pusat-pusat perbelanjaan ramai diserbu  pembeli.

Disadari atau tidak, ada 5 kesalahan yang kita lakukan selama melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kesalahan tersebut dilakukan banyak orang dan anehnya kesalahan itu dianggap sebagai kebiasaan dan kesalahan yang wajar-wajar saja. Padahal kesalahan tersebut menyangkut hal yang prinsip dan cukup fatal. Kesalahan-kesalahan yang perlu di koreksi itu adalah;

1.            Makan berlebihan.  Karena berpuasa seharian di siang hari, sering kita seperti orang balas dendam di saat berbuka puasa.  Bahkan kadang kala seperti orang kerasukan setan, makan cepat-cepat dan seperti ingin memakan semua makanan yang ada sekaligus. Akibatnya, sehabis  makan sangat kekenyangan, bahkan untuk berdiri pun sudah susah, perut terasa sakit dan tidak nyaman akibat kekenyangan.

Memang lumrah terjadi, di saat perut kosong semua makanan terlihat enak dan menggoda. Akibatnya keinginan untuk membeli menjadi sangat besar. Semua ingin dibeli dan semua ingin dimakan. Padahal ternyata makanan tersebut tidak seenak yang kita bayangkan di saat perut lapar. Seringkali makanan yang kita beli tersebut tidak termakan, mubazir dan bersisa saat berbuka puasa.

Bukankah puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama menahan haus dan lapar? Kesalahan seperti ini banyak terjadi dan masih banyak terjadi hingga saat ini.

2.            Berkurangnya intensitas kerja. Di saat berpuasa kita sering mengalami  pengurangan semangat kerja. Bahkan ada yang betul-betul kehilangan semangat kerja, loyo, sehingga lebih banyak tidur sepanjang hari. Pada hal Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa banyak peperangan di zaman Nabi dilakukan saat bulan Ramadhan. Aktifitas Nabi dan para sahabat tidak berkurang di bulan Ramadhan.

Puasa seharusnya tidak menghalangi aktifitas pekerjaan. Bagi yang tidak terbiasa puasa, memang terasa berat. Namun bagi yang sudah terbiasa puasa, puasa tak terasa berat dan bukanlah penghalang untuk melakukan aktifitas kerja. Karena itu kita dianjurkan untuk melakukan berbagai puasa sunat sebagai latihan dan persiapan menjelang Ramadhan. Dengan demikian puasa di bulan Ramadhan tidak terasa berat dan tidak membuat semangat kerja menjadi hilang.

3.            Nafsu belanja meningkat. Fenomena ini juga sangat terlihat menonjol di bulan Ramadhan. Seperti diuraikan di atas, dalam kedaan perut kosong (berpuasa), kita cenderung belanja makanan secara berlebihan, semua kelihatan serba enak dan ingin dibeli.

Fenomena lainnya yang membuat nafsu belanja meningkat adalah kita ingin tampil serba baru dan wah. Perabotan rumah diganti dengan yang serba baru, rumah direnovasi agar tampil beda, kendaraan baru diupayakan, apalagi pakaian dan makanan, dicari yang serba enak dan mahal. Jika hal ini dilakukan dengan niat untuk memuliakan Ramadhan dan sesuai dengan kemampuan kita, tentu tidak jadi masalah. Namun jika dilakukan dengan niat untuk pamer (ria), sekedar jaga gengsi, tentu saja hal ini tidak benar dan perlu dikoreksi. Banyak peristiwa kriminalitas seperti pencurian, perampokan terjadi di bulan Ramadhan, terutama menjelang lebaran. Lucunya, alasan mereka adalah memenuhi  kebutuhan (pamer?) di hari lebaran.

4.            Kurang membaca Al Quran. Pada bulan Ramadhan kita dianjurkan memperbanyak membaca Quran. Karena itu bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan Syahrul Quran. Al Quran sendiri diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan. Kita sering beranggapan bahwa aktifitas bulan Ramadhan selesai dengan berpuasa di siang hari. Padahal mengisi Ramadhan dengan membaca Al Quran (tadarus), termasuk qiyamullail (shalat malam) juga sangat penting dan besar nilainya.

5.            Lalai di 10 hari terakhir. Kesalahan lainnya yang juga perlu dikoreksi adalah kebiasaan kita yang disibukkan dengan menyiapkan kue, pakaian, mengecat rumah, dll di 10 hari terakhir Ramadhan. Akibatnya mesjid umumnya sepi di 10 hari terakhir, kegiatan ibadah di mesjid seperti terbaikan. Pada hal Allah mengatakan malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, itu diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan. Bukankah kita rugi besar jika peristiwa itu terlewatkan begitu saja dengan alasan sibuk menyiapkan kue lebaran?

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melakukan 5 kesalahan utama di bulan Ramadhan tersebut. Jika iya, semoga tahun depan kita masih bertemu dengan bulan Ramadhan lagi tahun depan dan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut.  Amin. (Agustus 2013)

 

 

74. Haji dan Kemampuan Finansial
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang pelaksanaannya mensyaratkan kemampuan. Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).

Syarat jika mampu menghendaki adanya kemampuan fisik dan keuangan. Mengapa harus memiliki kemampuan fisik? Karena ibadah haji adalah ibadah fisik. Tawaf, sa’i, jumroh, shalat di masjid dan wukuf, semuanya membutuhkan kebugaran fisik agar bisa berjalan lancar dan tertib.

Namun di samping kemampuan fisik, dibutuhkan kemampuan keuangan (finansial) untuk keperluan transportasi, penginapan, dan akomodasi selama menunaikan ibadah haji. Maka jika secara fisik sudah mampu, masalah keuangan juga harus dipenuhi.

Ketika berada bersama jamaah haji asal Sumbar beberapa waktu lalu, penulis banyak berbincang dengan para jamaah. Mereka berasal dari beragam latar belakang pekerjaan dan profesi. Tentunya, mereka sudah memiliki kemampuan keuangan sehingga menunaikan ibadah haji. Di antara jemaah itu, ada yang bisa menunaikan ibadah haji setelah mengumpulkan uang dalam waktu yang cukup lama. Mereka umumnya adalah para pekerja dengan beragam profesi yang menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit.

Ada juga jamaah haji yang tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunaikan ibadah haji. Yang termasuk kategori ini adalah para pengusaha. Namun ternyata ada juga para petani. Setelah berbicara lebih jauh, para petani ini rupanya tidak hanya mengolah sawah. Mereka juga melakukan pekerjaan lainnya seperti beternak ikan, menanam cokelat, kelapa sawit, berkebun dengan memanfaatkan lahan mereka serta ada juga yang memelihara sapi.

Ternyata, para petani yang sumber pendapatannya tidak dari satu tempat saja terlihat lebih sejahtera sehingga untuk menunaikan ibadah haji mereka bisa lebih cepat mengumpulkan dana. Penulispun tidak menemukan petani yang hanya bersawah saja untuk kelompok jamaah yang dalam waktu tidak terlalu lama bisa menunaikan ibadah haji.

Dengan melakukan bebeberapa usaha sekaligus, sumber pendapatan petani tersebut mampu menaikkan tingkat kesejahteraannya dengan lebih cepat dibanding hanya dengan bersawah saja. Hal ini juga menjelaskan, bagi para petani yang memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji, maka sebaiknya memiliki beberapa usaha agar sumber pendapatan mereka lebih dari satu sehingga bisa mempercepat naiknya tingkat kesejahteraan mereka.

Kenaikan tingkat kesejahteraan petani ini mempercepat usaha mereka dalam mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini merupakan jawaban bagi para petani yang menginginkan menunaikan ibadah haji. Dengan mengikuti jejak para petani yang memiliki lebih dari satu usaha, insya Allah keinginan menunaikan ibadah haji akan lebih cepat terwujud.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Ar Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Kita doakan, semoga para petani yang ingin menunaikan ibadah haji dimampukan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik kemampuan.  (Desember 2011)

 

75. Haji dan Persatuan

Ibadah haji mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan berbagai perbedaan. Ada yang berkulit hitam, sawo matang, putih, kuning dan lain-lain. Demikian pula dengan rambut dan fisik (berbadan besar, sedang maupun kecil). Allah SWT ciptakan mereka agar saling kenal.

Dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT befirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Perbedaan suku, bangsa, bahasa, budaya, lingkungan dan lainnya akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam menjalankan ajaran Islam. Adanya perbedaan di antara umat Islam itu merupakan keniscayaan. Sehingga ketika terjadi pertikaian karena adanya perbedaan ini maka kita sandarkan kepada aturan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Ketika menunaikan ibadah haji, penulis melihat beragam gerakan yang berbeda dari berbagai latar belakang jamaah ketika menunaikan sholat. Setelah takbir, tangan mereka ada yang bersedekap dan ada juga yang dibiarkan ke bawah.

Cara bersedekap pun beragam. Ada yang di dada, di perut, di pinggang maupun sedikit turun dari perut. Bersedekap di perut pun beragam. Ada yang kedua telapak tangannya di tengah, ada yang di pinggang sebelah kiri dan juga di sebelah kanan.

Demikian pula dengan gerakan-gerakan lain dalam pelaksanaan rukun dan wajib haji. Penulis melihat bahwasanya berbagai perbedaan itu masih berada pada tataran yang bukan prinsip. Perbedaan tersebut tidak perlu dipertajam, bahkan semestinya saling menghargai.

Ibadah haji telah mengajarkan dengan cepat kepada umat Islam yang menunaikannya bahwa perbedaan itu merupakan sebuah hal yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Dengan berbagai perbedaan tersebut, umat Islam diminta untuk mencari kesamaan dan menghargai perbedaan di antara mereka. Ibadah haji seolah ingin memberitahukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu, menghargai perbedaan dan jangan berpecah belah. Kemuliaan hanya bisa diperoleh dengan persatuan yang dibingkai dengan iman dan takwa. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 disebutkan bahwa yang paling mulia di antara kaum muslimin adalah yang paling takwa.

Di samping itu, ibadah haji juga mengajarkan bahwa Islam sudah disempurnakan sebagai agama bagi umat Nabi Muhammad SAW yaitu ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah sewaktu wukuf di Arafah. Di antaranya beliau membacakan surat Al Maidah ayat 3 yaitu, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”

Maka, haji bisa disebut sebagai puncak pelaksanaan rukun Islam yang mengajarkan persatuan karena jamaah haji akan menemui dan berinteraksi dengan manusia yang memiliki perbedaan. Di samping itu, puncak haji, wukuf di Arafah yang dihadiri oleh manusia yang berbeda suku bangsa adalah untuk mengingat akan khutbah Nabi Muhammad SAW tentang kesempurnaan Islam.

Umat Islam dengan beragam suku bangsa yang melakukan wukuf diajak untuk mensyukuri ajaran Islam yang sempurna. Ini merupakan pelajaran dari Allah SWT agar umat Islam bersatu ketika mendapati diri mereka ternyata terdiri dari beragam suku bangsa yang ada di dunia. Maka, bagi kita yang sudah melaksanakan ibadah haji, ajaklah umat Islam untuk bersatu dengan tetap menghargai perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya, itu adalah salah satu pesan yang tersirat sewaktu menunaikan ibadah haji. (Desember 2011)

 

 

76. Agar Hidup Bisa Nyaman

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal  yang membuat kita merasa tidak nyaman. Di perkotaan misalnya, kian hari lalu-lintas makin padat. Akibatnya  kemacetan terjadi di banyak tempat. Dulu, perjalanan Padang – Bukittinggi bisa di tempuh dalam waktu 2 jam, kini memakan waktu 3 bahkan sampai 5 jam.  Tidak hanya itu, angka kecelakaan lalu lintas juga meningkat.

Di musim hujan seperti saat ini kita segera menjadi was-was dan cemas. Curah hujan yang deras dan berdurasi panjang, biasanya akan diikuti dengan berbagai bencana. Bisa jadi berupa banjir, galodo, atau  longsor seperti yang terjadi di Lembah Anai baru-baru ini atau sejumlah kejadian lainnya di masa lalu.

Wilayah Sumatera Barat memang memiliki karakteristik yang unik. Daerah ini terdiri dari banyak gunung, bukit-bukit, lembah, sungai, dan laut. Sumbar juga memiliki lahan-lahan, daerah pertanian yang subur. Hal ini menyebabkan Sumatera Barat memiliki pemandangan alam dan panorama yang indah. Banyak orang terpesona dengan panorama alam  Sumatera Barat dan menjuluki daerah ini sebagai jannah (surga).

Namun dibalik keindahan panorama alam tersebut tersimpan potensi ancaman. Topografi wilayah Sumatera Barat yang terbentuk oleh gunung, bukit dan lembah tersebut memiliki kemiringan sedang hingga sangat ekstrim.  Karena itu wilayah Sumatera Barat harus ditangani secara khusus dan ekstra hati-hati agar potensi alam yang berlimpah yang seharusnya memberi manfaat kepada masyarakatnya, tidak berbalik menimbulkan mudarat kepada masyarakat.

Bentang alam wilayah Sumatera Barat yang berbukit-bukit, subur dan memiliki banyak sungai membuat masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan pertanian. Masyarakat membuat sawah berjenjang-jenjang mengikuti topografi lahan dan bentang alam. Hal ini membuat makin indahnya pemandangan, sekaligus efisiensi biaya. Dengan pola ini petani tidak perlu memompa air dari dalam tanah untuk menyiram tanaman, atau menyiram tanaman menggunakan mesin-mesin pompa air atau helikopter seperti yang dilakukan di negara lain. Cukup menggunakan grafitasi, mengikuti aliran air, biarkan alam yang menyiramnya secara gratis.

Namun jika tidak berhati-hati dan ditata secara baik, potensi yang berlimpah tersebut bisa berubah menjadi bencana.  Hal ini telah pernah kita alami dan telah terjadi di beberapa tempat.  Galodo, banjir, longsor, telah pernah sama-sama kita rasakan. Kondisi cuaca yang ekstrim saat ini membuat kita makin waspada dan ekstra hati hati.

Potensi alam dan sumberdaya manusia memang sering seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dia bisa membuat manusia menjadi senang dan sejahtera, namun jika tidak pandai mengelola dan memanfaatkannya  justru berubah menjadi bencana.

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat misalnya bisa membuat masyarakat lebih nyaman, bisa beli motor, mobil, membuat villa atau membuka usaha baru. Namun karena terlalu banyak mobil, jalan menjadi macet, menimbulkan kecelakaan  yang pada akhirnya menyebabkan ketidak nyamanan. Pembukaan dan penggunaan lahan yang tidak benar justru bisa menimbulkan bencana. Begitu juga ekploitasi sumber daya alam secara tidak benar dapat menimbulkan kehancuran sumberdaya alam.

Karena itu Pemerintah Provinsi Sumatera Barat  bersama DPRD dan  masyarakat telah  menyusun Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2013 tentang rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat tahun  2012 – 2032.  Dalam peraturan setebal 179 halaman ini telah diatur tatacara penggunaan ruang dan wilayah propinsi Sumatera Barat serta sumber daya alamnya.  Penggunaan ruang dan wilayah di Sumatera Barat yang benar dan baik bisa mengacu pada peraturan tersebut.

Tentu saja  sebanyak apapun aturan dibuat dan sebaik apapun aturan tersebut, tak kan ada gunanya jika masyarakat bersama aparat pemerintah tidak melaksanakannya. Mari kita tata lingkungan kita secara baik, kita manfaatkan potensi alam kita secara bijaksana agar kita bisa hidup nyaman dan alam kita yang elok dan kaya tetap terjaga kelestariannya  sampai ke anak cucu kita kelak. (Desember 2013)

 

77. Jodoh

 

Air mata saya nyaris menetes saat Goval, ST berhasil mengucapkan lafaz ijab kabul pada acara pernikahannya dengan Febrianti, AMD di Lubuk Kilangan pekan lalu. Puluhan sanak- keluarga dan undangan yang hadir saat itu juga demikian, mata mereka terlihat berkaca-kaca. Kata-kata terakhir yang diucapkan Goval langsung disambut dengan ucapan “sah..!” oleh hadirin dan ditimpali dengan tepuk tangan dalam suasana gembira bercampur haru.

 

Pernikahan pasangan ini memang sangat istimewa. Mempelai pria, Goval, ST,  lulusan Fakultas Teknik Unand adalah tuna rungu dan tuna wicara, begitu juga pengantin wanita Febrianti, AMD, lulusan jurusan Tata Busana Universitas Negeri Padang (UNP). Mereka sama-sama tuna rungu dan tuna wicara. Saya menghadiri acara tersebut sebagai saksi.

Awalnya tak ada yang terlihat istimewa. Mempelai pria nampak normal bahkan bisa dikategorikan tampan, berkulit putih dan kalem. Begitu juga mempelai wanita, terlihat cantik dan anggun. Keduanya dibalut pakaian putih-putih plus beberapa pernik asesoris. Meski simpel, namun terlihat pas dan serasi sekali dengan wajah dan postur tubuh mereka. Konon busana keduanya Febrianti sendiri yang merancang dan menjahitnya. Tak percuma ia menekuni jurusan tata busana dan memperoleh indeks prestasi komulatif (IPK) 3,5 di UNP.

Meski hanya terdiri dari beberapa penggal kalimat, namun sangat sulit bagi Goval untuk melafazkan kata-kata ijab kabul yang sakral di hari yang bersejarah tersebut. Dengan bersusah payah ia mencoba mengeja kata-kata tersebut. Meski terdengar sengau dan tidak jelas, tidak seperti orang normal berbicara, namun ucapan Goval bisa dipahami. Saksi dan hadirin lalu memvonis ucapan Goval dengan kata “sah!.” Alhamdulillah, akhirnya selesailah prosesi pernikahan yang istimewa tersebut.

Goval dan Febrianti sudah saling mengenal sejak duduk di bangku Sekolah Luar Biasa (SLB).  Namun  keduanya terpisah setelah memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK). Namun sejak awal keduanya telah menunjukkan prestasi di sekolah masing-masing, meski mereka memiliki keterbatasan, yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Mereka juga memperlihatkan kemauan dan semangat juang serta keseriusan yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan.

Berhasil menyelesaikan studi mereka di tingkat SLTA dengan nilai memuaskan, Goval melanjutkan studi di Fakultas Teknik Unand, sedangkan Febrianti melanjutkan studi di Jurusan Tata Busana UNP. Kerja keras dan kegigihan mereka kembali berbuah manis. Pendidikan di tingkat perguruan tinggi pun akhirnya bisa mereka selesaikan, Goval berhak menyandang gelar ST dan Febrianti berhak menyandang gelar AMD.

Mungkin itulah yang dinamakan jodoh. Goval dan Febrianti menemukan jodoh yang serasi dan terbaik untuk mereka, yang lelaki tampan, wanitanya cantik. Mereka sama-sama pintar dan pekerja keras, sekaligus mereka sama-sama memiliki kelemahan dan kekurangan. Subhanallah, hanya Allah yang tahu hikmah dan rahasia di balik peristiwa ini.

Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing. Seseorang biasanya memiliki jodoh yang serasi untuknya. Seorang pangeran biasanya berjodoh dengan seorang putri , bangsawan berjodoh dengan bangsawan, pegawai dengan pegawai, pemulung dengan pemulung, pengemis dengan pengemis dan seterusnya. Tapi suatu saat bisa juga terjadi diluar pakem (kebiasaan) di atas. Kiita tidak tahu skrenario dan hikmah apa yang sedang dijalankan Tuhan di balik peristiwa itu.

Namun yang pasti tentu kita harus meneliti terlebih dulu calon istri atau suami, apakah dia memang cocok untuk kita dan apakah ia memang jodoh yang cocok untuk kita. Jika sudah diputuskan, maka terimalah dia apa adanya. Di luar sana memang banyak lelaki yang tampan atau wanita yang cantik, tetapi jika bukan jodoh kita, apa mau dikata? Tidak ada manusia yang sempurna, masing-masing punya kelemahan dan kekurangan, masing-masing juga memiliki kelebihan dan keistimewaan. Jika sudah menjadi suami dan istri kita, maka terima dan pahami kekurangan dan kelemahannya tersebut, hargai semua kelebihan yang ia miliki.

Saat dinikahi mungkin dia cantik, langsing dan terlihat segar. Namun setelah beberapa tahun menikah dan punya anak, istri mulai terlihat tak cantik lagi. Tubuhnya mulai tambun, wajahnya mulai keriput dan kurang menarik. Bagaimanapun ia tetap istri kita, pilihan dan jodoh kita yang harus kita terima apa adanya. Mungkin dia tak pandai berdandan misalnya, tetapi ia pintar memasak, pandai mengurus rumah tangga. Hargai kelebihannya tersebut, maklumi dan terima apa adanya semua kelemahannya.

Jika kita selalu bersyukur, saling menghargai dalam rumah tangga, insya Allah akan tercipta keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Pengamalan Goval dan Febrianti juga membuktikan, jika mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh, insya Allah semua yang diinginkan bisa tercapai dan sukses, meski memiliki keterbatasan sekalipun.  Allah akan memberikan jodoh yang terbaik bagi orang yang terbaik pula. Insya Allah. (Februari 2014)

 

 

78. Mengubah Mindset Berpuasa

 

Kita tentu pernah mendengar dialog sebagai berikut :  “Kenapa telat masuk kantor Pak, Buk?”. Jawabannya: “Maklum Pak, ini kan bulan puasa.”

Hal seperti ini lumrah dan sering kita dengar. Telat masuk kantor,  telat ke sekolah, kesiangan dan berbagai aktifitas tertunda dengan alasan bulan puasa atau sedang berpuasa. Puasa dijadikan alasan (kambing hitam?) untuk menutup dan melegalkan berbagai kesalahan.

Puasa seolah-olah menjadi sebuah alasan yang legal yang bisa diterima semua orang atas semua  tindakan kontra produktif yang kita lakukan. Tindakan-tindakan itu di antaranya adalah, 1. Terlambat masuk kerja atau terlambat ke sekolah bagi pelajar dan mahasiswa, 2. Tidur berlebihan, sehingga sebagian besar waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi berkurang, 3.  Tak bertenaga alias loyo, sehingga terkesan cenderung bermalas-malasan. Semua kondisi itu dilegalkan dengan alasan sedang berpuasa.

Namun kalau kita lihat kisah perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat beliau, tidak ada alasan bahwa puasa membuat aktifitas  beliau menjadi terhambat. Juga tidak ada keterangan bahwa waktu di bulan puasa digunakan untuk bersantai-santai. Keterangan yang ada adalah bahwa pada bulan Ramadhan Nabi dan para sahabat memperbanyak kegiatan ibadah, tadarus, shalat malam dan iktikaf. Kegiatan rutin sehari-hari berjalan seperti biasa.

Malah banyak peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah terjadi di bulan Ramadhan. Perang Badar misalnya,   perang pertama di zaman Rasulullah ini terjadi pada hari Jumat tanggal 2 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang ini melibatkan tentara Islam sebanyak 313 orang berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin Makkah yang bersenjata lengkap. Namun, dengan izin Tuhan, perang ini berhasil dimenangkan oleh laskar Islam. Padahal saat itu Nabi beserta seluruh pasukan sedang berpuasa. Bisa kita bayangkan betapa beratnya perjuangan Nabi saat itu, dalam keadaan berpuasa, berperang di gurun pasir yang tandus di bawah terik matahari.

Banyak peristiwa peristiwa-peristiwa  bersejarah lainnya yang kadangkala sulit diterima akal, justru terjadi di bulan Ramadhan. Khalid Bin Walid menaklukkan kota Mekah dan menghancurkan patung Al Uzza yang saat itu dipuja sebagai Tuhan oleh masyarakat Jahiliah terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 H.  Islam masuk ke Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 H, begitu juga masuknya Islam ke Spanyol, Andalusia, Portugal dan Mongol, semua terjadi di Bulan Ramadhan. Al Quran juga diturunkan di bulan Ramadhan.

Lalu kenapa kita merasa lemas dan loyo di saat berpuasa di bulan Ramadhan? Jawabannya, kita tidak berusaha mengubah mind set. Rasa lapar itu berasal dari pikiran kita, dari kebiasaan kita, terbiasa makan setiap pagi dan siang. Padahal kalau ditinjau dari aspek kesehatan, masih tetap tersedia energi dalam tubuh kita untuk melakukan aktifitas sehari-hari, meski sedang berpuasa. Energi yang berasal dari makan (berbuka) malam bisa digunakan untuk melakukan aktifitas dari pagi sampai siang. Sedangkan energi yang berasal dari makan sahur bisa digunakan untuk beraktifitas dari siang hingga menjelang berbuka. Sudah banyak analisa ahli kesehatan menyatakan dan menemukan fakta, bahwa berpuasa itu adalah baik untuk kesehatan.

Aspek pikiran  bisa juga dibuktikan, jika kita asyik melakukan pekerjaan atau melakukan sesuatu di saat berpuasa siang hari, tanpa kita sadari, sore hari telah terlewati, tanpa merasa lapar dan lelah. Ini adalah bukti bahwa rasa lapar dan lelah itu berasal dari pikiran, jika pikiran bisa dialihkan dan puasa dilakukan karena ikhlas, maka rasa lelah, lapar dan loyo tidak akan muncul. Biasanya setelah melewati hari ke-10 Ramadhan, puasa tidak terasa berat lagi, kita sudah menjadi terbiasa. Apalagi bagi mereka yang terbiasa puasa Senin dan Kamis di bulan-bulan selain Ramadhan, lelah dan lapar saat berpuasa makin tak terasa.

Niat dan keikhlasan juga penting dalam berpuasa. Ada yang berpuasa karena anak-anak, istri dan keluarga di rumah semua berpuasa, ia terpaksa ikut berpuasa karena malu ketahuan tidak puasa. Juga ada yang terpaksa berpuasa karena toh sulit mencari tempat makan siang, karena selama bulan puasa, warung makan tutup semua.  Bagi mereka yang termasuk kelompok ini tentu berpuasa sangat sangat menyiksa baginya dan membuat ia sangat lelah, letih dan loyo.

Karena itu mari kita ubah mind set dalam melaksanakan puasa tahun ini serta perbaiki niat dan keikhlasan berpuasa. Bulan puasa bukanlah alasan untuk mengurangi aktifitas, malah merupakan bulan rahmat dimana doa dan upaya kita diberkati oleh Allah. Bukankah Allah berjanji akan membukakan pintu berkahnya seluas-luasnya di bulan Ramadhan? Bukankah rahmat kemerdekaan Indonesia tanggal  17 Agustus 1945 juga diberikan disaat bulan Ramadhan?

Jadi tidak ada alasan bermalas-malasan, memperbanyak tidur, lelah dan loyo  karena berpuasa di bulan Ramadhan. Sekolah, bekerja, berusaha, mengurus rumah tangga, jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, semuanya akan menjadi ibadah, diberkati dan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah selama bulan Ramadhan.  Tentu akan sangat rugi kita jika kesempatan itu disia-siakan.

Selamat menunaikan ibadah puasa tahun 1435 H, semoga kita semua bisa memanfaatkan momen puasa tahun ini sebaik-baiknya, kembali fitrah serta mendapat limpahan berkah yang sebesar-besarnya dari Allah SWT. Amin. (Juni 2014)

 

79. Puasa Kunci Mencapai Sukses

Jika kita ajukan pertanyaan, “ Siapa yang ingin jadi orang sukses dan bahagia?” Tentulah semua orang akan mengacungkan tangan. Menjadi orang sukses, hidup bahagia, rukun dan damai tentulah merupakan keinginan dan cita-cita semua umat manusia. Siapa yang tak ingin sukses dan bahagia? Jika ada yang tidak ingin sukses dan bahagia, mungkin ada kelainan dalam diri orang tersebut.

Namun dalam kenyataannya tak banyak orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya. Banyak orang hidup dalam kondisi biasa-biasa saja, tak banyak kemajuan yang dicapai dari waktu ke waktu. Meski sudah panjang perjalanan hidupnya dan sudah banyak umur yang sudah dihabiskan, hidupnya tetap tak berubah dari tahun ke tahun. Kata-kata bahagia pun sangat jauh dari kehidupannya.

Segala cara dan upaya telah dilakukan untuk menggapai sukses. Kerja keras membanting tulang, tak kenal lelah siang dan malam pun telah dilakukan, namun tetap saja sukses itu  tak mampu mereka capai, begitu juga bahagia. Apalagi bagi mereka yang tak sudi bekerja keras dan berupaya dengan sungguh-sungguh, tentu sukses dan bahagia itu makin jauh darinya.

Namun ada juga sejumlah orang yang semua urusan dan pekerjaan bisa ia selesaikan dengan baik. Setiap kali ia menemukan hambatan dan jalan buntu, tiba-tiba saja muncul jalan keluar dan solusi dari persoalan yang sedang ia hadapi. Karirnya melejit dengan cepat, ia pun menjelma menjadi orang sukses. Selanjutnya karena sukses itu ia syukuri dan amanah ia jalankan sesuai perintah Allah, hidup bahagia, rukun dan damai pun menjadi miliknya. Allah juga telah menyiapkan surga baginya untuk kehidupan di akhirat kelak. Subhanallah…

Hal seperti ini sudah merupakan sunnatullah. Pepatah Arab mengatakan man jad da wa jada, siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil. Dalam surat Ath Thaalaq ayat 2 Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” Selanjutnya dalam pada ayat 4 surat yang sama Allah lebih menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

Jadi bisa kita simpulkan bahwa hanya orang yang bekerja dengan bersungguh-sungguh yang bisa berhasil. Orang yang bersungguh-sungguh dan bertakwa akan menjadi orang sukses karena diberikan Allah berbabagi jalan keluar dari masalahnya serta kemudahan dalam semua urusannya, seperti janji Allah dalam surat Ath Thalaaq.

Bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk menggembleng ummat menjadi orang-orang yang bertakwa. Seperti firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Jadi, jika ingin menjadi orang bertakwa, maka bulan Ramadhan lah momen yang paling tepat untuk melatihnya.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bisa kita ambil kesimpulan, jika ingin menjadi orang sukses maka ada dua kata kuncinya, yaitu bekerja dengan bersungguh-sungguh dan bertakwa. Untuk menjadi orang yang bertakwa, salan satu jalannya adalah dengan menjalankan ibadah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Mudah bukan?

Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun 1435 H. Mari kita bulatkan tekad agar di akhir Ramadhan ini keluar sebagai pemenang, menjadi orang-orang yang bertakwa (muttaqin) dan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Insya Allah kita akan menjadi orang-orang yang sukses, sejahtera, bahagia dunia dan akhirat. Amin. (Juli 2014)

 

 

80. Rasul Sebagai Model

 

Setiap orang punya idola atau tokoh panutan masing-masing. Ada orang yang memilih Bung Hatta sebagai tokoh idolanya, ada pula yang menjadikan Michael Jackson sebagai tokoh idolanya. Ada beragam latar belakang profesi tokoh yang dijadikan idola. Bisa jadi ia seorang artis, tokoh politik atau olahragawan, seperti pesepakbola, petinju, dan lain-lain.

Biasanya jika seseorang yang mengidolakan seorang tokoh, maka ia akan berusaha meniru gaya dan tingkah laku tokoh tersebut. Seseorang yang mengidolakan Michael Jackson akan meniru gaya tokoh tersebut. Baik cara ia berpakaian, cara ia bernyanyi dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Begitu juga jika mereka yang mengidolakan Messi atau Ronaldo, misalnya, akan meniru gaya dan tingkah laku Messi atau Ronaldo.

Kebiasaan memiliki tokoh idola adalah lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang memilih tokoh idola, karena tokoh tersebut sesuai dengan karakternya atau sesuai dengan harapan dan cita-citanya. Seseorang yang bercita-cita jadi penyanyi akan mengidolakan penyanyi sebagai tokoh pujaanya. Begitu juga yang bercita-cita menjadi atlet, tokoh politik, negarawan, dan seterusnya. Akan memiliki tokoh idola sesuai fantasi masing-masing.

Dalam lingkungan keluarga biasanya yang jadi contoh dan panutan terdekat adalah ayah atau ibu. Dalam keluarga, anak-anak biasanya akan mencontoh kebiasaan atau prilaku ayah dan ibunya. Jika ayah dan ibunya pemarah dan suka berkata kasar, maka anak-anaknya cenderung juga bersikap demikian. Sebaliknya jika kedua orang tua mereka bersikap baik, lembut tutur bahasanya, rajin ke masjid, maka anak-anak mereka juga cenderung bersikap demikian. Tokoh terdekat selanjutnya yang menjadi panutan adalah, kakak, paman atau bibi serta guru di sekolah. Tergantung dengan siapa mereka lebih banyak dan intens berinteraksi.

Tokoh-tokoh tersebut biasanya diistilahkan sebagai model. Model adalah contoh atau panutan yang biasanya akan diikuti dan ditiru. Jika kita ingin membuat baju misalnya, maka kita butuh model, contoh atau patron sebagai acuan untuk mempermudah membuat baju tersebut. Jika sudah didapat model yang sesuai, maka tinggal meniru dan mengikuti model tersebut.

Allah SWT paham betul dengan kebiasaan manusia tersebut. Karena itu Allah menurunkan Nabi dan Rasul untuk dijadikan contoh, panutan atau model bagi manusia. Banyak sekali sikap dan prilaku Nabi yang bisa dijadikan contoh bagi manusia. Mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW banyak sekali contoh dan pelajaran yang bisa kita petik.

Khusus Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dan terlengkap yang paling tepat untuk dijadikan contoh. Dalam Al Quran surat 33 ayat 21 dijelaskan ; “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang bagimu bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), contoh paling tepat bagi manusia. Kehidupan beliau sehari-hari, baik dalam keluarga, dalam bermasyarakat maupun sebagai pemimpin, semuanya merupakan contoh yang terbaik bagi manusia. Muhammad adalah model terbaik yang pernah ada. Beliau disegani baik oleh kawan maupun lawan, apalagi dalam keluarga sendiri.

Tentu saja menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai model jauh lebih baik dibandingkan menjadikan Michael Jackson atau tokoh lainnya. Karena biasanya, meski banyak sisi baik dari para tokoh tersebut, namun juga tak kurang banyaknya sisi buruk dan sisi gelap dari para tokoh tersebut. Silahkan tunjuk saja tokoh-tokoh yang pernah kita idolakan, pasti banyak juga sisi gelapnya, disamping sisi baiknya.

Karena itu mari kita jadikan momentum maulid Nabi Muhammad SAW sebagai peringatan untuk kembali mempelajari dan mendalami kembali sifat-sifat dan karakter beliau untuk dijadikan contoh dan model untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal itu kita lakukan, Insya Allah kita akan selamat dan nyaman hidup di dunia hingga di akhirat kelak. Amin. (Januari 2014)

 

 

81. Haji dan Kemampuan Fisik

 

Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).

Bunyi hadits di atas, yaitu tentang pelaksanaan ibadah haji menerangkan pentingnya memiliki kemampuan. Ibadah haji ditekankan kepada orang yang mampu. Salah satu kemampuan tersebut adalah kemampuan keuangan. Menunaikan ibadah haji membutuhkan sejumlah dana yang mesti dipenuhi oleh calon jamaah haji untuk transportasi, penginapan, akomodasi, kesehatan dan lainnya.

Namun selain kemampuan keuangan, yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan fisik. Iklim di Arab Saudi berbeda dengan Indonesia, maka kekuatan fisik menjadi faktor yang mendukung kekhusyukan dan kelancaran ibadah haji.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah bersengaja melakukan perjalanan dengan sengaja (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397). Dengan demikian, ketika kita menyengaja untuk ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka kondisi fisik harus disiapkan juga.

Dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah haji, maka beberapa area tempat melakukan rukun dan wajib haji menjadi sangat padat oleh para jamaah. Misalnya, tawaf. Pengalaman pribadi penulis, untuk menyelesaikan tawaf membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam dengan kondisi penuh sesak dengan jamaah yang melaksanakannya. Bisa dibayangkan, berjalan selama 5 jam dengan normal saja bisa membuat letih. Apalagi tawaf selama 5 jam dalam keadaan berdesakan dengan jamaah lain. Padahal dalam kondisi normal, tawaf bisa dilakukan dalam waktu kurang lebih 30 menit.

Demikian juga dengan sai dan jumroh yang membutuhkan kekuatan fisik. Sai tujuh kali sepanjang 5-6 km membutuhkan kemampuan fisik. Sementara ketika jumroh, semua jamaah fokus ke satu tempat. Dan sudah barang tentu akan berdesak-desakan. Tempat melempar jumroh sebelum dibuat bertingkat kerap dilanda musibah yaitu banyaknya jamaah yang meninggal karena terinjak. Ini akibat kondisi yang berdesak-desakan dan fisik jamaah pun kurang kuat menghadapi kondisi demikian.

Demikian pula halnya dengan shalat di masjid dan wukuf di Arafah. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146). Menunaikan shalat di masjid tersebut juga membutuhkan fisik yang baik. Sementara Wukuf di Padang Arafah di siang hari merupakan inti ibadah haji. Di panas terik antara waktu dzuhur dengan ashar, jamaah melakukan wukuf.

Melihat hal yang demikian, maka ibadah haji pada dasarnya adalah ibadah fisik. Oleh karena itu kemampuan berhaji selain masalah keuangan juga masalah fisik. Maka tidak heran jika Allah SWT menyukai hambaNya yang kuat fisiknya agar bisa melakukan ibadah dengan baik dan benar.

Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.” (HR. Muslim).

Semoga para jamaah haji asal Sumbar mendapatkan keberkahan dalam menunaikan ibadah haji beberapa waktu yang lalu. Dan bagi yang ingin berhaji, sebaiknya menyiapkan kemampuan fisik agar mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji dengan khusyuk dan tertib. (November 2011)

 

82. Gempa, Isyarat untuk Bertakwa

 

Tak terasa dua tahun sudah telah berlalu. Masyarakat Sumatera Barat dan semua stakeholders bersama-sama bekerja keras, mengerahkan segala daya dan upaya untuk membangun kembali puing-puing pasca gempa 30 September 2009. Triliunan dana dikucurkan untuk membangun kembali rumah masyarakat, rumah ibadah, sekolah, jalan dan berbagai fasilitas umum lainnya. Ribuan pekerja, juga pakar dikerahkan untuk membangun kembali Ranah Minang yang porak-poranda akibat gempa.

Namun, durasi selama dua tahun itu ternyata belum cukup. Dana triliunan rupiah yang digelontorkan ternyata juga belum memadai. Ribuan pekerja, tukang bahkan para pakar yang dikerahkan untuk membangun, terasa bergerak lamban. Kita sepertinya sudah tak sabar menunggu itu semua. Padahal, mereka sudah mengerahkan semua kemampuan dan tenaga, bahkan bekerja lembur siang-malam.

Mungkin di sinilah Allah SWT ingin memperlihatkan kekuasaannya dan menguji kita semua. Durasi gempa berkekuatan 7,9 skala Richter dan telah meluluhlantakkan Padang, Pariaman dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat, itu tak sampai dalam hitungan menit. Dalam sekejap mata, rrrrr…. gedung-gedung bertingkat yang terlihat megah dan kokoh, ambruk ke tanah. Ribuan rumah penduduk berbagai fasilitas umum, ikut ambruk dan rata dengan tanah. Tak hanya itu, ribuan nyawa juga jadi korban.

Secara ilmiah, gempa merupakan sebuah fenomena alam. Gempa terjadi akibat pergeseran lempeng bumi. Kawasan Sumatera Barat memang merupakan daerah rawan gempa, karena daerah ini terletak di patahan semangka antara dua lempengan bumi. Meski bisa dipahami secara ilmiah, namun kapan terjadi gempa, di mana terjadi gempa, seberapa besar kekuatannya, masih merupakan teka-teki tak terpecahkan hingga saat ini. Jepang yang memiliki teknologi dan pakar paling handal sekali pun tak mampu mengurainya.

Namun, dalam Al Quran cukup banyak ayat yang menerangkan peristiwa gempa/bencana. Dalam ayat tersebut diterangkan Allah menurunkan bencana untuk menghukum umat yang durhaka, munafik dan gemar berbuat maksiat, seperti firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 78, 91 dan 155, surat Al Haj ayat 1, dan surat Al Ankabut ayat 37. Apakah gempa/bencana di Sumbar hanya sekadar peristiwa alam atau peringatan Allah atas sikap dan perbuatan kita yang melampaui batas? Hanya kita dan Allah yang tahu jawabannya.

Namun di sisi lain, terlepas dari semua itu, semua peristiwa tersebut adalah musibah. Kematian adalah musibah. Kehilangan harta benda, kegagalan, juga musibah. Kita harus sabar dan ikhlas menghadapinya, karena di balik musibah ada hikmah dan kabar gembira. Dalam surat Al Baqarah ayat 156, yaitu orang-orang yang bila ditimpa musibah ia mengucapkan innalillahi wainnailaihirojiun.

Gempa tahun 2009 lalu merupakan pelajaran sangat penting dan mahal bagi kita. Meski peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam, namun kita tak boleh berputus asa. Secara global ada dua hal yang perlu dipersiapkan berdasarkan pengalaman tersebut. Pertama, mengevaluasi ketakwaan kita kepada Allah, sehingga gempa yang terjadi bukan karena kemurkaan Allah, tetapi hanya sebatas fenomena alam belaka. Kedua, adalah melakukan antisipasi kesiapsiagaan bencana.

Antisipasi tersebut bisa dilakukan secara horizontal, yaitu dengan menjauh dari daerah pantai untuk menghindari tsunami, serta memperkokoh konstruksi bangunan. Antisipasi vertikal bisa dilakukan dengan mendirikan shelter.

Insya Allah, jika kedua antisipasi itu dilakukan, baik secara agamis maupun secara ilmiah, niscaya kita bisa bekerja dan beribadah dengan tenang. Di balik duka mendalam yang ditimbulkan gempa 2009, juga ada harapan baru yang muncul di baliknya. Pasca gempa, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat justru melonjak di atas angka rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Di saat ekonomi nasional maupun global dalam keadaan kritis, Sumatera Barat justru mendapat kucuran dana pembangunan sangat besar. Memang masih ada masalah yang tersisa dan perlu diselesaikan. Namun, mari kita syukuri rahmat yang telah kita terima jumlahnya jauh lebih banyak daripada masalah yang tersisa. Allah berjanji akan melipat gandakan rahmatnya bagi manusia yang pandai mensyukuri nikmat. (Oktober 2011)

 

83. Memaknai Idul Fitri

 

Banyak orang, beragam pula cara mereka memaknai hari raya Idul Fitri. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai ajang untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Hari itu digunakan untuk mengencangkan tali silaturrahmi, saling memaafkan, membangun suasana baru dalam keluarga serta kaum kerabat dan lingkungan sosial.

Sebagian muslim lainnya beranggapan Idul Fitri perlu disambut gembira karena telah mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan, mengoptimalkan dan mengisi Ramadhan dengan beragam ibadah dengan penuh keikhlasan. Maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, hari yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para Nabi dan orang-orang shaleh. Mereka berharap ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal yang telah dilakukan.

Apakah puasa dan segala ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT, sehingga patut dirayakan? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti disinyalir Nabi Muhamad SAW? Menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil menjalankan ibadah puasa. Indikator tersebut adalah; ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat, ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan, ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana.

Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya?

Itulah rahasia kenapa Selamat Hari Raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal Aidin wal Faizin (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).

Namun yang pasti Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang sikap dan perbuatan kita selama ini.

Syeikh Abdul Qadir al-Jailany berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri sebagai ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah SWT, momen mengasah kepekaan sosial. Islam tidak menginginkan ada pemandangan paradoks, betapa di saat kita berbahagia dan bergembira, apalagi berpesta pora, sementara saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar atau tersiksa dalam keadaan nestapa.

Sungguh Maha Besar dan Maha Pengasih Allah Swt. Allahu akbar… Allahu akbar walillah ilhamd. Selamat merayakan Hari Raya idul Fitri 1432H. Minal ‘Aidin wal Faizin. Hanya Allah yang maha Sempurna, tak ada manusia yang terlepas dari khilaf dan salah, mohon maaf lahir dan bathin. (September 2011)

 

84. Bulan Prestasi

 

KITA bersyukur, salah satu anugerah dari Allah SWT kepada bangsa Indonesia adalah Kemerdekaan RI yang diproklamasikan 9 Ramadhan atau 17 Agustus. Bulan yang sangat istimewa kedudukannya dan juga berlimpah ampunan, rahmat dan berkah dari Allah SWT.

Di saat menahan haus dan lapar, para pendiri bangsa ini justru menorehkan prestasi emas mereka. Di saat sepuluh hari pertama Ramadhan yang merupakan penuh Rahmat Allah SWT, kemerdekaan Republika Indonesia diproklamasikan.

Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa banyak prestasi yang ditorehkan di bulan Ramadhan. Yang cukup fenomenal dalam sejarah keNabian adalah terjadinya perang Badar Kubro pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Pada malam menjelang perang keesokan hari, Rasulullah SAW lebih banyak mendirikan shalat.

Dan ketika peperangan kian berkobar, Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini.”
Maka turunlah ayat: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal: 9). Pertempuran antara 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy ini, dimenangkan kaum muslimin dengan izin Allah SWT.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin melakukan mobilisasi ke Mekah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy. Mereka memasuki Mekah dengan aman. Kaum kafir Quraisy yang mengetahui bahwa setiap penaklukan terjadi pembantaian justru semakin terpesona oleh akhlak Rasulullah SAW karena pasukan Islam tersebut tidak melakukan apa yang mereka bayangkan. Hingga akhirnya banyak penduduk Mekah yang masuk Islam.

Penaklukan kota Mekah ini jika ditarik ke belakang berawal dari pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kafir Quraisy. Dan pada awalnya perjanjian Hudaibiyah ini terlihat menguntungkan kaum kafir Quraisy, sampai Umar bin Khaththab ra pun mempertanyakan kepada Rasulullah SAW tentang disetujuinya perjanjian Hudaibiyah oleh Rasulullah SAW. Setelah turun wahyu Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS Al Fath: 1). Maka umat Islam menjadi tenang. Dan setelah terjadinya pelanggaran, maka bergeraklah pasukan Muslim ke Mekah hingga akhirnya beroleh kemenangan tanpa pertumpahan darah.

Prestasi lain yang juga tercatat sejarah adalah pada Ramadhan 92 Hijriah, Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia (Spanyol) yang diawali dengan membakar hampir semua kapal yang membawa pasukannya. Tindakan ini menyebabkan tegaknya Islam selama lebih kurang tujuh abad di Andalusia.

Sementara itu, pada Ramadhan 658 Hijriah, Muzaffar Quthz berhasil memimpin kaum muslimin memperoleh kemenangan dari pasukan Tar Tar yang terkenal ganas dan juga tangguh setelah sebelumnya tidak dibayangkan kemenangan melawan pasukan ini.

Dengan melihat sederetan prestasi tersebut, maka bulan Ramadhan bukanlah bulan yang menjadikan umat Islam bermalas-malasan. Justru sebaliknya, bulan yang seharusnya penuh dengan prestasi karena pertolongan Allah sangat dekat dibanding bulan yang lain. Maka merugilah orang yang bermalas-malasan atau bahkan yang menjadikan tidur sebagai ibadah favorit.

Jika tidak mampu berprestasi untuk masyarakat, maka minimal kita bisa menorehkan prestasi untuk diri sendiri dan juga keluarga. Jika di bulan lain kita jarang sholat ke masjid, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan kunjungan ke masjid. Jika di bulan lain kita jarang membaca Al Quran, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan intensitas membaca Al Quran dan kemudian membiasakannya setelah Ramadhan. (Agustus 2011)

85. Syahrul Jihad

 

Setiap ibadah yang baik harus mengikuti cara, dan juga mencontoh Rasulullah SAW. Oleh karena itu puasa di bulan Ramadhan juga harus mengikuti apa yang telah diperintahkan dan dilakukan Rasulullah SAW.

Rasulullah adalah orang yang senantiasa meningkatkan kesungguhan dalam beramal dan beribadah, termasuk dalam melakukan peperangan. Kita bisa membayangkan kondisi berperang di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa di tengah terik matahari.

Pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah menjalani perang Badar Kubro. Pertempuran yang tidak imbang dari segi jumlah, 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy. Dengan izin Allah SWT kaum muslimin meraih kemenangan.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin mendatangi kota Mekkah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy.

Rasulullah SAW semasa hidupnya menjalani sekitar delapan kali Ramadhan. Rasulullah bahkan menjalani puasa di musim panas yang sangat terik.
Abu Darda berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah”. (Muttafaq alaih).

Para sahabat pun banyak yang mencontoh puasa Rasulullah SAW. Umar bin Khattab ra saat menjelang kematiannya berpesan kepada puteranya, Abdullah. “Hendaknya engkau mewujudkan sifat-sifat keimanan.” Lalu beliau menyebutkan yang paling pertama, “Berpuasa saat panas sangat terik di musim panas.”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata: “Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya”.

Ini adalah contoh bagaimana orang-orang terdahulu bersungguh-sungguh atau berjihad dalam melaksanakan amal ibadah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Jihad dalam arti bahasa adalah bersungguh-sungguh dan dalam arti khusus adalah perang. Ramadhan adalah syahrul jihad, umat Islam diminta bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam beramal. Jika hari ini kita lihat orang yang berpuasa bermalas-malasan atau ada PNS yang memotong jam kerja (masuk lambat pulang cepat), jelas tidak mencontoh Rasulullah SAW.

Bersungguh-sungguh puasa tidak akan menyebabkan kematian karena tidak ada dalam sejarah orang mati karena berpuasa. Demikian pula dengan kemalasan yang hanya merupakan dorongan psikologis semata. Betapa banyak orang menjalankan puasa semisal Senin dan Kamis di luar Ramadhan tapi mampu mengimbangi kerja orang yang tidak berpuasa.

Jika kita melakukan pemanasan menjelang Ramadhan, yaitu melaksanakan puasa di bulan Rajab dan Syakban, maka akan semakin ringan dan bersungguh-sungguh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Secara kesehatan, orang yang tidak makan setelah sahur masih memiliki energi untuk beraktivitas hingga Maghrib. Untuk itu, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan karena Ramadhan adalah bulan kesungguhan (syahrul jihad) bukan bulan kemalasan. Bagaimana mungkin mencapai derajat takwa jika yang dilakoni adalah kemalasan, bukan kesungguhan. (Agustus 2011)

 

86. Hidup Bagaikan Cermin

 

Hidup itu bagaikan cermin. Jika anda tersenyum, maka cermin akan tersenyum pada anda. Sebalikya jika anda marah dan melotot, maka cermin juga akan marah dan melotot pada anda.

Begitu pula lah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita memperlihatkan wajah kecut dan cemberut kepada orang lain, maka orang tersebut akan membalasnya pula dengan wajah kecut dan cemberut. Jika kita memperlihatkan wajah yang menyenangkan, ramah dan bersahabat, maka orang akan membalasnya dengan wajah ramah dan bersahabat pula.

Buruk atau baik yang kita lakukan pasti akan dibalas pula dengan kebaikan atau keburukan. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, keburukan akan dibalas dengan keburukan pula. Seperti kata pepatah Minang, kalau lai padi nan ditanam, ndak mungkin lalang nan ka tumbuah.  Atau ada juga ada ungkapan yang mengatakan: Siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Artinya, siapa yang berbuat kebaikan pasti akan memperoleh balasan berupa kebaikan dan siapa yang berbuat keburukan akan menerima balasan berupa keburukan.

Realita kehidupan ini dengan mudah dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga saja misalnya, anak-anak yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur pasti akan mendapat mendapat apresiasi yang baik pula dari para orang tua mereka. Ia menjadi anak kesayangan, umumnya apa yang dia minta, jarang yang tidak dikabulkan. Ia mendapat perlakukan istimewa.

Begitu juga fakta yang terjadi di dunia kerja. Pegawai atau karyawan yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur dan kreatif akan mendapat apresiasi yang baik pula dari rekan kerja atau  pimpinannya. Ia akan mendapat perlakuan khusus, seperti cermin, semua orang akan memberikan perlakukan yang baik pula padanya. Bukan hal mustahil jika ia diberi kenaikan pangkat atau jabatan yang baik.

Ini adalah salah satu contoh bukti nyata dalam organisasi Pemda Sumbar. Pegawai yang bersikap baik, rajin dan jujur, kemanapun ia akan dipindahkan semua orang dengan senang hati bersedia menerimanya. Sementara di lain pihak, pimpinannya berusaha mempertahankan agar pegawai tersebut tidak dipindahkan. Ondeh Pak, jan dipindahkan lo nyo lai, inyo paguno dek kami mah,  (jangan pindahkan dia Pak, kami butuh dia), begitu pimpinan tempat ia bekerja berusaha mempertahankan.

Sebaliknya pegawai yang bermental jelek, malas, licik, tak akan mendapat tempat dan apresiasi yang baik. Ia selalu ditolak dimana-mana. Jan dipindahkan lo nyo kamari Pak, mambana kami, (mohon jangan dipindahkan dia ke sini Pak), begitu komentar pimpinan atau pegawai lain saat ia dimutasikan ke suatu tempat.

Di hadapan Allah, dalil serupa juga berlaku. Allah akan memperlakukan umat yang baik, dengan balasan yang baik pula. Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan, keburukan dengan keburukan pula, itu janji Allah. Seperti juga yang berlaku pada sesama manusia, manusia yang bermental dan berprilaku baik juga akan mendapat keistimewaan. Segala permintaannya sulit bagi Allah untuk menolaknya. Segala doa dan harapannya diijabah oleh Allah SWT.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan magfirah dan wa rahmah, bulan dimana terbuka peluang bagi manusia untuk menghapus semua dosa-dosanya, jika ia bersungguh-sungguh. Bulan ini juga merupakan bulan dimana kebaikan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Memperbanyak shalat sunat, shalat malam, membaca Al Quran adalah beberapa ibadah-ibadah yang bisa dilakukan untuk mendekat diri pada Allah. Bersedekah, berbuat baik dan menolong orang lain adalah beberapa contoh perilaku yang orang lain bersimpati pada kita dan juga mendapat pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Segala kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dibalas Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Mari jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, sekaligus memperbaiki masa depan kita, dunia dan akhirat. (Agustus 2011)

 

87. Menghindari Konsumerisme

 

Setiap tahun, angka inflasi yang tinggi justru terjadi di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Harga beras naik, harga sembako naik. Kenaikan harga secara teori akibat terjadinya permintaan yang melebihi persediaan. Namun boleh jadi pada bulan Ramadhan ini kenaikan harga tersebut terjadi akibat permintaan yang didorong oleh aspek psikologis konsumen dibanding permintaan riil mereka.

Menjelang momen-momen tertentu, sebenarnya pemerintah telah menyiapkan stok bahan makanan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk di bulan Ramadhan. Karena permintaan didorong aspek psikologis, maka hal ini dimanfaatkan penjual atau produsen untuk menaikkan harga.

Jika kita melihat konsepnya, pola makan di bulan Ramadhan justru berkurang dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari (berbuka dan sahur). Bahkan ajaran sebenarnya, di bulan Ramadhan umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Yang dimaksud mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu ini tidak terbatas sejak subuh hingga maghrib, tapi sejak maghrib hingga subuh pun umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu.

Di kala siang, menahan haus dan lapar, dan di kala malam mengendalikan diri untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makan dan minum serta mengendalikan emosi diri. Jika pola makan saja sudah turun dari tiga kali menjadi dua kali, maka seharusnya kebutuhan akan makanan juga berkurang. Namun ternyata yang terjadi sebaliknya.

Kerap muncul perasaan ingin membeli makanan dan minuman yang lezat dan enak untuk berbuka puasa karena sanggup menghabiskan. Namun ternyata ketika waktu berbuka tiba, tidak semua yang dibeli itu bisa dimakan. Bahkan muncul makanan dan minuman sisa yang terbuang percuma. Maka terjadilah kemubaziran. Jikapun semua yang dibeli dihabiskan, maka dampak setelah itu muncul kemalasan untuk beribadah karena sudah kekenyangan.

Secara kesehatan makan terlampau kenyang membuat perut bekerja ekstra keras karena 12 jam sebelumnya dalam keadaan kosong. Alih-alih menimbulkan kesehatan, puasa seperti ini justru bisa mendatangkan penyakit.

Sementara kemubaziran itu sendiri merupakan hal yang tercela dalam ajaran Islam. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al Isra: 27). Di samping munculnya kemubaziran, di bulan Ramadhan yang seharusnya umat Islam meningkatkan amal ibadah justru harus menaklukkan diri sendiri ketika kekenyangan demi kekenyangan menemani mereka setiap berbuka yang menyebabkan munculnya kemalasan untuk beribadah. Maka benarlah apa yang disampaikan Rasulullah SAW, “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar” (HR Bukhari-Muslim).

Kemubaziran adalah dorongan psikologis dimana keinginan lebih dominan dari kebutuhan. Kemubaziran merupakan implementasi kegagalan mengendalikan hawa nafsu yang seharusnya dilakukan di bulan Ramadhan ini. “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa,” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Imam Ghazali pernah mengatakan, jika seseorang mengalami kekenyangan maka ia akan menganggap orang di seluruh dunia juga mengalami kekenyangan. Hal seperti ini juga akan mengurangi makna puasa. Seharusnya puasa membuat kita bisa merasakan kehidupan saudara-saudara kita yang masih dalam kondisi kekurangan sehingga konsumsi yang kita lakukan tidak menimbulkan kemubaziran dan bahkan bisa menyisihkan uang kita untuk disedekahkan kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. (Agustus 2011)

88. Ramadhan dan Somalia

Di bulan Ramadhan ini, di saat umat Islam Indonesia relatif mampu mencukupi kebutuhan pangan mereka, di belahan dunia lain, Somalia, rakyatnya menghadapi kelaparan terburuk. Somalia mengalami kekeringan panjang akibat perubahan iklim. Umat Islam Somalia memasuki Ramadhan dengan kondisi kelaparan. Menurut data PBB 3,7 juta penduduk Somalia terancam kelaparan. Selain itu hampir 50 anak tewas setiap harinya akibat kelaparan.

Data lain menyebutkan, sedikitnya 300.000 anak-anak mengalami kelaparan. Salah satu hal yang terburuk yang disaksikan oleh media adalah ada ibu yang membiarkan bayinya di jalanan karena mereka memilih menolong anak yang kemungkinan hidupnya lebih besar. Di samping itu, penyakit infeksi saluran pernapasan merajalela. Air sulit didapat, dan banyak pengungsi yang tidak tinggal di tenda.

Sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan dan sangat menyedihkan. Ini juga merupakan bentuk pembinaan Allah SWT kepada kita yang hidup dengan kondisi lebih baik, agar bisa mensyukuri nikmatNya yang melimpah. Selama ini mungkin kita kurang bersyukur atau kurang berempati kepada orang-orang yang kondisinya lebih susah. Meskipun kita bisa empati dengan perasaan, belum tentu dengan pola makan kita. Apakah selama ini makanan yang terhidang selalu kita habiskan atau sebaliknya sering banyak tersisa?

Jika kita melihat pola konsumsi masyarakat dunia saat ini, termasuk Indonesia, masih terlihat banyak makanan yang terbuang. Sepertiga makanan yang diproduksi di dunia atau sekitar 1,3 miliar ton terbuang percuma menurut organisasi pangan dan pertanian PBB (FAO). Dalam momentum Ramadhan kali ini sudah saatnya kita bercermin dengan pola makan kita.

Satu hal yang jelas, umat Islam di Somalia tidak bisa khusyuk menjalani Ramadhan tahun ini. Untuk shalat dan bersuci mereka kesulitan air. Untuk berbuka dan sahur, mereka tidak memiliki apapun yang bisa dimakan dan minum. Bahkan untuk mendapatkan makan, mereka baru bisa mendapatkan hingga seminggu sekali.

Kita yang relatif diberi kecukupan makan dan minum dibanding umat Islam Somalia sudah seharusnya lebih fokus menjalankan amal ibadah Ramadhan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim: 7).
Tentunya kita tak ingin menjadi hamba yang tidak mensyukuri nikmat Allah sehingga mengingkari nikmatNya. Peristiwa di Somalia mudah-mudahan bisa menjadi alat instropeksi kita dalam melakukan aktivitas konsumsi dan juga menjadikan hati kita untuk murah bersedekah kepada mereka yang membutuhkan.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al Hujurat:13).

Semoga kita menjadi insan yang bertakwa dengan mengenal saudara kita di belahan dunia lain dan bisa membantu kesulitan mereka, baik dengan doa maupun materi. (Agustus 2011)

 

BAB 5  INSPIRASI DI BIDANG SOSIAL

89. Aktualisasi SDM Minang

Aktualisasi SDM Minang

 

Umumnya tak banyak warga etnis Minang yang sukses sebagai pekerja. Jika ada proyek-proyek konstruksi besar misalnya,  umumnya para pekerjanya didatangkan dari Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur. Begitu juga di pabrik-pabrik besar, warga etnis Minang tak banyak bekerja di sana, warga etnis jawa lebih dominan. Masyarakat etnis Jawa terkenal lebih tekun, ulet dan pekerja keras.

Namun sebagai pedagang atau pengusaha, masyarakat etnis Minang sudah terkenal kepiawaiannya sejak dulu. Di berbagai pelosok tanah air hampir bisa dipastikan, pelopor dalam dunia usaha dan perdagangan di sana adalah masyarakat etnis Minang. Sebut saja di Tanah Abang, Blok M, sejumlah pusat perdagangan lainnya Jakarta bahkan sampai Papua, sektor dunia usaha dan perdagangan didominasi oleh etnis Minang.

Dalam dunia usaha dan perdagangan warga etnis Minang terkenal ulet, gigih, pantang menyerah. Keberadaan mereka menonjol di berbagai pelosok dunia usaha dan perdagangan di tanah air. Kegigihan dan kepeloporan mereka menjadi inspirasi bagi warga lain di tanah air dalam berbisnis.

Di kampung halaman masing-masing, para pedagang dan pengusaha tersebut menjadi pahlawan. Tak sedikit sumbangan dan kontribusi mereka untuk membangun kampung halaman masing-masing. Mereka malu jika tak berhasil di rantau, mereka malu jika tak berkontribusi untuk membangun kampung halamannya.

Kenyataan ini adalah sebuah potensi yang sangat luar biasa untuk dicermati, terus diasah dan diaktualisasikan. Di saat masalah kemiskinan, pengangguran dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus melorot, potensi SDM (sumberdaya manusia) Minang yang luar biasa ini perlu segera diaktualisasikan lagi serta mendapat apresiasi masyarakat dan pemerintah daerah.

Apresiasi dan aktualisasi potensi SDM Minang bisa dimulai dari berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal sebagai tempat kaderisasi SDM. Tahap selanjutnya apresiasi dan dukungan bisa dilakukan terhadap lembaga-lembaga usaha yang telah mulai tumbuh.

Sebenarnya telah banyak lembaga-lembaga pendidikan tempat memproses dan mengaktualkan potensi SDM Minang yang telah terbukti keunggulannya selama ini. Lembaga pendidikan formal mulai dari TK sampai perguruan tinggi, bisa menjadi ajang penggemblengan SDM Minang yang unggul. Hanya saja selama ini belum disadari secara spesifik sebagai ajang pembentukan SDM Minang yang sesuai dengan tuntutan perkembangan kondisi dan masalah yang ada saat ini.

Umumnya lembaga pendidikan yang ada menetapkan tujuan masih dalam tatanan pendidikan umum. Masyarakatpun umumnya berapresiasi demikian, mereka umumnya memasuki jenjang pendidikan agar bisa menjadi karyawan atau pegawai di suatu perusahaan atau instansi pemerintah. Masih langka ada masyarakat yang secara sadar memasuki jenjang pendidikan agar nantinya mampu mandiri atau menjadi pengusaha. Akibatnya mereka yang terjun di dunia usaha cuma karena tak sengaja, bukan dipersiapkan sedini mungkin.

Dulu di saat negara kita masih dalam kondisi sedang mempersiapkan dan melengkapi sistem pemerintahannya memang banyak dibutuhkan tenaga untuk menempati berbagai posisi di instansi pemerintah. Karyawan, guru, tenaga medis dan sebagainya dibutuhkan saat itu.  Tidak heran kalau orientasi pendidikan memang ditujukan untuk mempersiapkan orang-orang yang akan menempati posisi tersebut.

Beberapa tahun belakangan kondisi itu telah berubah. Posisi sebagai karyawan dan pegawai telah tercukupi, sementara angkatan kerja kita meningkat pesat dan tenaga kerja terdidik yang tersedia jauh melebihi kebutuhan. Lalu terjadilah fenomena yang menyolok di depan mata. Formasi penerimaan pegawai yang cuma tersedia beberapa ratus orang diperebutkan oleh puluhan ribu orang

Bererapa tahun kemudian di lembaga pendidikan juga terlihat fenomena baru. Jurusan dan Fakultas di perguruan tinggi yang dianggap tak lagi sesuai dengan kebutuhan mulai sepi karena kekurangan mahasiswa. Sekolah-sekolah kejuruan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan kerja mulai diminati.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa lembaga pendidikan yang ada seharusnya secara sadar ditujukan untuk mempersiapkan dan mengaktualisasikan SDM Minang yang spesifik. Dengan demikian profesi pedagang dan pengusaha masyarakat etnis Minang tak lagi dilakoni bukan karena tak sengaja, tetapi memang karena pilihan dan dipersiapkan sejak dini. Dijalani karena tak sengaja pun, banyak di antara mereka yang sukses, apalagi kalau dipersiapkan secara baik sejak dini.

Lembaga-lembaga kursus keterampilan, baik milik pemerintah maupun swasta juga bisa dimanfaatkan sebagai media aktualisai SDM Minang yang spesifik. Jika selama ini out put dari lembaga ini tak terlalu terlihat prestasinya, mungkin perlu dievaluasi lagi dan dibenahi kelemahan-kelemahan yang ada dan dikelola secara serius.

Pemerintah daerah sebagai lembaga publik dan pelayan masyarakat tentu sangat penting perannya dalam hal ini. Dukungan perbankan tentu juga sangat besar artinya. SDM yang produktif akan menumbuhkan kegiatan usaha baru, baik dalam bentuk usaha mikro, kecil maupun menengah. Pertumbuhan ini akan mengeliminir keluhan banyaknya pengangguran, kemiskinan atau laju pertumbuhan ekonomi yang bergerak mundur.

Masyarakat seharusnya juga sudah mengubah imej mereka terhadap pengusaha mikro sekalipun. Masih banyak masyarakat yang menganggap menjadi karyawan atau pegawai lebih tinggi derajatnya. Sedangkan pedagang atau malah petani dianggap sebagai profesi yang kurang bergengsi.

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang Ibu-ibu mengendarai sepeda membawa sejumlah bungkusan di Lubuk Sikaping Pasaman Timur.  Ternyata ibu tersebut berjualan gulai ikan dan sejumlah masakan lainnya. Menurut si Ibu usaha itu dijalaninya dengan modal Rp 500.000, biasanya sore hari ia membawa pulang uang Rp 700.000. Ini berarti ia memperoleh keuntungan bersih Rp 200.000 per hari atau Rp 6.000.000 per bulan.

Usaha si Ibu tersebut bisa lebih ditingkatkan dengan memberikan tambahan pelatihan keterampilan jika dibutuhkan, serta tambahan modal. Beliau adalah salah satu cikal bakal pengusaha dari ribuan cikal bakal pengusaha yang sekarang mungkin masih terpendam di berbagai pelosok Sumatera Barat. Tentu saja beliau lebih terhormat dibanding seorang sarjana yang tidak melakukan apa-apa dan cuma menunggu lowongan kerja dibuka dari tahun ke tahun. (Maret 2012)

90. Bekerja Tapi Menganggur

Bekerja Tapi Menganggur

 

Judul di atas terdengar aneh dan kurang masuk akal. Namun dalam kenyataannya hal itu sering terjadi dan ditemukan di banyak tempat.

Contohnya, seorang staf di suatu unit kerja. Secara administrasi ia tercatat secara resmi sebagai pegawai, ia bekerja di sana. Ia pun memperoleh gaji, tunjangan dan fasilitas lainnya layaknya seorang pegawai. Tapi coba lihat, apa yang sehari-hari ia lakukan?

Setiap hari ia datang ke kantor, tandatangan absen, lalu baca koran. Kegiatan berlanjut dengan ngobrol sana sini dengan teman kerja, lalu beranjak ke warung. Di warung obrolannya makin seru, makin banyak topik yang dibicarakan.   Menjelang siang dia menyelonong pergi dengan alasan menjemput anak sekolah. Kalau sudah begitu jangan ditanya lagi kapan dia kembali ke kantor.

Orang seperti inilah yang bisa kita sebut dengan istilah “bekerja tapi menganggur”. Ia berstatus resmi sebagai pegawai, tapi ia tidak bekerja alias menganggur.  Kenapa hal itu terjadi, kenapa ia menganggur?

Fenomenanya secara umum nyaris sama. Hal itu terjadi karena orang tersebut tidak punya kemampuan untuk bekerja. Disuruh membuat surat ia tidak bisa. Disuruh membuat konsep, ia tak mampu. Disuruh ini-itu tak ada yang bisa diselesaikannya dengan baik. Akhirnya atasan di tempat ia bekerja bosan, ia tidak lagi memberikan tugas,karena toh akhirnya tak ada yang bisa dikerjakan si pegawai tadi. Maka, jadilah ia pekerja yang menganggur. Bekerja tapi menganggur.

Hal seperti ini banyak terjadi dimana-mana. Baik di lembaga pemerintah maupun di lembaga swasta. Banyak ditemukan orang-orang yang diangkat jadi pegawai, digaji, namun tidak berdaya guna.

Penyebabnya hampir bisa dipastikan, yaitu salah dalam melakukan seleksi penerimaan pegawai atau dipaksakan agar dia diterima di suatu unit kerja. Ia diterima karena titipan si anu, si ini, si itu, misalnya. Padahal ia tidak memenuhi syarat dan tidak mempunyai kemampuan, namun terpaksa diterima. Atau, salah dalam seleksi penerimaan pegawai.

Lalu terjadilah hal seperti di atas tadi. “Lah dicubo manyuruah macam-macam karajo, ndak ado nyo nan bisa. Akhirnyo ndak diagiahnyo karajo lai Pak,” begitu alasan atasan yang bersangkutan menerangkan kenapa ia dibiarkan menganggur tanpa pekerjaan.  “Panek awak,” imbuhnya.

Bukan tak ada upaya agar ia bisa berubah, berbagai pembinaan telah dilakukan. Ia sudah dikirim untuk mengikuti berbagai latihan di diklat, juga sudah dikirim pelatihan dan studi banding ke provinsi lain, namun hasilnya tetap nihil.

Orang seperti ini akan menjadi beban dan menjadi sumber masalah sepanjang masa. Oleh karena itu di lingkungan pemerintah provinsi Sumatera Barat menyediakan fasilitas pensiun muda/dini untuk mereka, karena sudah terlanjur diangkat jadi pegawai.

Untuk pegawai yang belum diangkat, pemrov Sumbar melakukan test CPNS secara sangat serius. Tidak ada toleransi bagi saudara, anak, kemenakan, atau titipan si ini atau si itu. Kalau memang hasil tes menyatakan tidak memenuhi syarat, maka ia tidak akan lulus. Mungkin banyak yang kecewa, namun keputusan ia harus diterapkan secara tegas.

Begitu juga bagi PNS yang akan mendapat promosi atau jabatan tertentu. Ia harus lulus seleksi fit dan proper test serta ujian pemetaan potensi. Selain itu persyaratan administrasi dan mengikuti jenjang karir sesuai aturan yang berlakujuga harus diikuti.

Untuk jabatan eselon III dan IV, banyak ditentukan oleh pejabat eselon II (kepala SKPD), karena ia yang paling tahu kondisi dan kemampuan staf di bawahnya. Jika ia memilih staf yang tidak tepat, maka ia sendiri yang akan kewalahan karena pekerjaan dan prestasi kerja satuan kerja kurang, karena staf dan pejabat di bawahnya tidak mampu bekerja sesuai dengan bidangnya.

Jadi, jika ada penerimaan pegawai atau promosi jabatan, tidak perlu kasak-kusuk. Semua dilakukan sesuai prosedur dan mekanisme jenjang karir berjalan secara alamiah dan wajar.

Bagi mereka yang diberi amanah sebagai pejabat eselon II, III atau IV juga jangan cepat puas dulu, karena ada penilaian kinerja bagi anda. Jika dalam waktu 6 bulan tidak menunjukkan prestasi kerja, jangan menyesal jika digantikan oleh yang lain.

Jika seleksi pegawai sudah dilakukan secara baik dan pejabat/pimpinan unit dan satuan kerja yang diangkat adalah orang yang tepat, insya Allah kerja dapat dilakukan secara optimal, PNS sebagai pelayan masyarakat bisa melayani masyarakat secara maksimal. Tidak ada lagi istilah karyawan yang menganggur, tidak ada lagi pejabat yang tidak paham dengan pekerjaan yang harus dia kerjakan.

Jika hal ini bisa tercapai, pegawai bekerja secara profesional, masyarakat bekerja bersungguh-sungguh bekerja sesuai dengan profesinya masing-masing, insya Allah dalam waktu yang tidak terlalu lama, masyarakat Sumatera Barat akan menjadi masyarakat madani, adil dan bermartabat. Amin YRA. (Maret 2013)

91. Bisakah Kita Amanah ?

Bisakah Kita Amanah ?

 

Dalam suatu majlis seorang pemuda Badui bertanya pada Rasul : “Ya Rasul, kapan kiamat itu datang?”.  Kemudian Rasul bersabda : “Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat.” Orang itu lalu bertanya lagi: “Bagaimana hilangnya amanah itu?” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (Hadits riwayat Buchari dan Muslim)

Ada dua poin penting yang terkandung dalam kisah di atas, pertama pemimpin haruslah amanah, kedua pemimpin haruslah orang tepat, sesuai keahlian dan kemampuannya. Jika hal itu tidak dipenuhi, maka kehancuran (kiamat) akan terjadi. Hal itu pula yang selalu merisaukan Nabi.

Umar Bin Khatab saat diangkat menjadi khalifah, pahlawan perang yang terkenal gagah perkasa ini selalu mengevaluasi diri setelah shalat malam. Beliau menangis mohon ampun dan petunjuk Allah SWT agar ia mampu bersikap adil dan amanah dalam menjalankan tugas sebagai khalifah.

Suatu kali apa yang ia khawatirkan itu terjadi juga, beliau mendapat informasi bahwa beliau telah berlaku tidak adil,  ada satu keluarga rakyat beliau yang kelaparan. Umar langsung mendatangi keluarga itu dan setelah yakin kebenaran informasi itu beliau langsung memanggul sendiri sekarung gandum untuk diserahkan ke keluarga tersebut.

Umar sangat terkejut dengan kejadian itu, air matanya berurai. Ia sadar bahwa kepemimpinannya harus ia pertanggung jawabkan di dunia, juga akhirat.

Dari teladan yang dicontohkan Nabi dan Khalifah Umar di atas terlihat jelas betapa beratnya tanggung jawab seorang pemimpin. Pikiran ini ingin saya bagikan kepada hampir semua kepala SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar yang hadir saat pelantikan Kepala Dinas Tarkim Praswil Sumbar pekan lalu.

Nasihat itu tidak hanya ingin saya bagikan kepada seluruh SKPD, tapi juga terutama saya sendiri.  Saya juga sangat menyadari beratnya tanggung jawab itu, kerongkongan saya tercekat sesaat, suara saya menjadi pelan, nyaris hilang. Saya juga takut berbuat salah seperti apa yang ditakutkan Umar. Subhanallah….

Saya kemudian melanjutkan, bercermin dari pengalaman Umar dan sabda Nabi seharusnya kita justru takut jika ditunjuk jadi pejabat/pemimpin. Tidak hanya pertanggung jawaban dunia dan akhirat yang diminta, tapi juga pengorbanan. Pengorbanan waktu, perhatian terhadap keluarga dan lain-lain.

Anehnya justru banyak orang yang meminta-minta untuk diangkat jadi pejabat. Berbagai cara dilakukan, termasuk cara-cara yang tidak etis sebagai bangsa yang beradat.

Sayangnya peristiwa ini diterjemahkan dengan cara berbeda dan dengan informasi yang tidak tepat oleh sejumlah pihak. Saya dinilai cengeng, seolah-olah frustasi dan menyesal, karena kehilangan waktu untuk keluarga dan seterusnya.

Sedikitpun itu bukan tipe saya, sangat bertolak belakang. Kami berkeluarga mulai dari nol, bahkan minus malah.  Lalu kami berjuang sedikit-demi sedikit dengan kemampuan sendiri untuk menghidupi keluarga, tak ada fasilitas. Kami sekeluarga juga punya cara tersendiri dan sudah terbiasa mengatur waktu. Meski waktu terbatas namun intensitas keakraban tetap terjaga. Itu telah kami jalani selama puluhan tahun.

Saya bersedia mendatangi berbagai pelosok daerah di Sumbar, termasuk Mentawai, esoknya bekerja lagi seperti biasa tanpa menyerah dan berkata letih. Saya juga menghindari atribut yang membuat kita terkesan sombong karena saya sadar itu adalah bagian dari amanah. Dari dulu saya pantang menyerah, sederhana adalah keseharian saya.

Lebih parah lagi, saya dikatakan menyesal karena terpilih jadi Gubernur. Wajar saja seorang tokoh masyarakat yang ditanya wartawan emosi ketika hal itu ditanyakan kepadanya. Tapi semua itu tidak benar, kata-kata itu tak pernah terucap dari mulut saya. Ratusan orang yang hadir saat itu bisa menjadi saksi.

Kembali kepada sabda Nabi di atas, kita memang harus teliti memilih pemimpin dan jika telah dipilih menjadi pemimpin bersikaplah amanah dan bekerjalah bersungguh-sungguh. Jika tidak, yakinlah apa yang dikatakan Nabi akan terjadi, yaitu kiamat (kehancuran). Buktinya sudah kita lihat di berbagai, baik di dalam maupun luar negri.

Saya yakin, dengan kekuatan bersama kita mampu membangun Ranah Minang ini menjadi lebih baik. Mari kita katakan yang benar itu benar, jangan sampai kita terpecah belah, saling menyalahkan hanya akan menghabiskan energi kita untuk membangun. (Juli 2011)

92. Mari Kita Bersatu

Mari Kita Bersatu

 

“Dunia ko lah tabaliak,”  begitu ungkapan banyak masyarakat mengomentari situasi peradaban manusia saat ini. Yang benar bisa dianggap salah, yang salah bisa dianggap benar. Kebenaran seolah-olah tak berarti, dikalahkan  oleh alasan kepentingan.

Seseorang yang melakukan kebenaran bisa dianggap salah karena mengganggu kepentingan kelompok tertentu. Dengan menggunakan rekayasa informasi, orang tersebut bisa dijadikan musuh bersama, atau dibunuh karakternya yang dikenal dengan istilah character assasination.

Akibatnya, kebatilan merajalela, kebenaran terpuruk entah kemana. Sekuen selanjutnya, maksiat, korupsi, kriminalitas, kebodohan dan kemiskinan kian merajalela. Korupsi, perkosaan, perampokan, kenakalan remaja menjadi berita sehari-hari yang memekakkan telinga dan membuat hati miris.

Siapa yang peduli dengan masalah ini? Siapa yang mau tampil menjadi pahlawan menumpas segala persoalan tersebut? Tak ada yang berani, takut dianggap pahlawan kesiangan. Lagipula masing-masing orang sudah disibukkan dengan masalah dan urusan masing-masing.

Sebenarnya di sanalah fungsi pemimpin. Ialah yang harus bertugas membereskan semua masalah itu. Menyelesaikan masalah yang rumit, yang memekakkan telinga dan membuat hati miris yang tak seorang pun mampu, mau  atau peduli dengan masalah itu.

Sadar dengan beratnya tanggung jawab itu, saat ditugaskan menjadi calon gubernur oleh Partai Keadilan Sejahtera tahun lalu, saya langsung menolak. Saya sadar betul beratnya tanggung jawab yang harus saya pikul. Amanah itu harus saya pertanggung jawabkan dunia dan akhirat. Perdebatan itu berlangsung cukup lama.

Namun dengan sejumlah argumen yang diberikan kawan-kawan dan petinggi partai, dukungan masyarakat yang antusias dan ditutup dengan shalat istikharah, dengan mengucapkan bismillah, tawaran itu akhirnya saya terima.

Setelah bertugas sebagai gubernur, tantangan dan beban berat yang saya perkirakan semula memang jadi kenyataan bahkan jauh berlipat ganda. Tapi insyaAllah saya siap,  tantangan bagi saya justru menjadi energi yang luar biasa. Saya juga yakin masih banyak orang yang peduli dan ingin membangun Sumatera Barat menjadi lebih baik. Masih banyak orang yang menginginkan nama Ranah Minang dan tokoh-tokoh Minang kembali harum dan mencuat ke permukaan.

Lalu ketika acara pelantikan kepala SKPD pekan lalu sangat teringat lagi masalah amanah dan tanggung jawab itu. Aneh juga melihat sejumlah oknum yang kasak-kusuk dengan berbagai cara agar diberi jabatan tertentu. Ada juga yang mengerahkan massa untuk meminta jabatan. Namun banyak juga yang tenang-tenang saja,  tapi tetap terlihat intelektual dan pretasi kerja mereka.

Karena itu, pada kesempatan tersebut saya mengingatkan bahwa jabatan adalah tugas berat yang harus dipertanggung jawabkan dunia dan akhirat. Jabatan membuat kita kehilangan privasi, waktu dan berbagai pengorbanan lainnya. Jadi jabatan bukan diminta, tapi diamanahkan. Justru aneh kalau ada  orang yang meminta-minta jabatan.

Khalifah Umar Bin Khatab, pahlawan perang paling berani di zaman Nabi, menangis tersedu-sedu dalam shalat malamnya sampai subuh, karena beratnya tugas memimpin yang harus dipertanggung jawabkannya di hadapan Allah Swt. Umar juga menangis dan merasa berdosa ketika ia tahu ada rakyatnya kelaparan.

InsyaAllah saya juga siap mengorbankan waktu keluarga, karena kami sekeluarga sudah terbiasa berjuang hidup sejak masih kuliah dulu. Kami mulai hidup dari nol, tak ada fasilitas. Saya tak gentar ke Mentawai dan menginap di sana disaat Tsunami dan badai masih menjadi hantu menakutkan. Saya juga tak menyerah mendatangi pelosok-pelosok kampung di Sumbar, di saat staf dan SKPD tak sanggup lagi mengikuti perjalanan.

Yang saya takutkan adalah seperti yang ditakutkan Nabi Muhammad dan Khalifah Umar, yaitu pertanggung jawaban di hadapan allah SWT. Hal itulah yang membuat hati saya pilu.

Namun saya yakin, jika kita melakukan yang terbaik, pasti hasilnya baik pula. Kalau padi yang ditanaman, apalagi kalau dirawat dengan baik, tak mungkin ia akan menjadi ilalang.

Mari kita bersama membangun Sumatera Barat dengan saling bahu membahu. Saling menuding dan saling menyalahkan hanya akan membuat energi terbuang percuma.  Katakan yang benar itu benar, jangan memutar balikkan fakta. Jangan mengadu domba, mari kita bersatu menjadikan Sumatera Barat Provinsi terdepan. (November 2013)

93. Optimisme Meneg BUMN

Optimisme Meneg BUMN

 

Indonesia, menurut Meneg BUMN Dahlan Iskan, segera menjadi negara maju dan modern, seperti yang didambakan hampir oleh seluruh warga negara Indonesia, dalam tempo yang tak terlalu lama.

Hal itu bukan mimpi, tetapi sebuah fakta yang segera akan menjadi kenyataan. Sejumlah data telah mengindikasikan bahwa peristiwa itu akan terjadi. Tahun lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari pertumbuhan ekonomi Belanda, negara yang dulu menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Dua tahun mendatang, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan telah melebihi pertumbuhan ekonomi negara Spanyol.

Jangan sebut lagi bahwa Malaysia merupakan penghasil kelapa sawit dan karet terbesar, karena posisi itu telah diambil oleh Indonesia. Kini, lebih 50 persen produk kebutuhan masyarakat Asia Tenggara dipasok dari Indonesia. Semen asal Indonesia, segera akan diberi nama Semen Indonesia merupakan semen terbaik di Asia Tenggara. Maskapai penerbangan Garuda merupakan yang terbaik di Asia Tenggara. Dari dulu hingga kini Indonesia masih merupakan sebuah negara besar dan kaya.

Bukti lain bahwa Indonesia segera akan menjadi negara maju dan modern adalah bertumbuhnya kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas secara menakjubkan. Supermarket tumbuh menjamur di mana-mana, omset penjualan kendaraan bermotor, rumah,  apartemen mewah, dan maskapai penerbangan, terus melonjak drastis. Ini merupakan tanda bahwa kelompok masyarakat  dengan tingkat pendapatan menengah ke atas terus bertumbuh, Indonesia selangkah lagi menjadi negara maju dan modern.

Hal ini menurut Menteri Dahlan Iskan tidak terosialisasi secara baik di masyarakat. Informasi yang berkembang di masyarakat justru informasi negatif sehingga jika dikatakan bahwa maskapai Garuda adalah yang terbaik di Asia Tenggara maka mereka balik bertanya, “Apa iya?’ dengan nada pesimis.  Gelombang pesimis ini menjadi kendala besar untuk terus maju.

Perjalanan tumbuh menjadi negara maju dan modern, menurut meneg BUMN,  memang selain menimbulkan dampak positif juga selalu diiringi oleh dampak negatif. Dampak negatif dari peristiwa itu yang harus diwaspadai adalah middle ecomonic trap (perangkap ekonomi kelas menengah).  Misalnya, karena terjadi kenaikan pembelian kendaraan bermotor secara drastis, maka terjadi kemacetan dimana-mana. Ingin serba cepat dan serba instan telah menjadi gaya hidup mereka, dan sejumlah masalah lainnya.
Karena itu, agar Indonesia terus tumbuh dan mengalami percepatan menuju negara maju, semua kendala itu harus diminimalisir atau dihilangkan sama sekali. Efisiensi di berbagai sektor harus dilakukan agar tidak terjadi pemoborosan dan biaya tinggi dan kita bisa bersaing secara ekonomi dengan negara lain. Jika  pemborosan terjadi akibat kepadatan lalulintas dan sistem tranportasi tidak benar, maka hal itu harus segera dibenahi. Baik dengan memperlebar jalan, menciptakan sistem transportasi massal yang nyaman, juga termasuk meningkatkan disiplin pengendara bermotor bahkan pembatasan jumlah kendaraan, jika memang dirasa perlu.

Jika inefisiensi terjadi akibat hambatan birokrasi, maka birokrasi harus segera direformasi, sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan.  Jika selama ini kapal dari daerah lain tidak mau sandar di Teluk Bayur akibat hambatan birokrasi, misalnya, maka hal itu menurut menteri harus segera diperbaiki dan boleh lagi terjadi. Namun jika kendalanya terletak pada terbatasnya sarana dan  prasarana yang tersedia, ditargetkan dua tahun mendatang menurut beliau hambatan itu harus ditiadakan dan hal itu tidak boleh terjadi lagi.

Harus kita akui, bahwa Sumatera Barat juga mengalami hal yang sama. Kelompok menengah ke atas tumbuh secara signifikan, disadari atau tidak, daerah ini segera akan menjadi daerah maju dan modern. Kita tentu semua menginginkan menjadi daerah yang maju dan modern, menuju masyarakat yang sejahtera, adil dan bermartabat.

Saya juga sepakat dengan Pak Dahlan Iskan bahwa, jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh pasti kita mampu mengatasi segala masalah yang muncul tersebut. Semangat dan optimisme yang beliau perlihatkan, diiringi dengan kerja keras, kita juga pasti bisa. Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. (November 2013)

94. Pers dan Pembangunan Daerah

Pers dan Pembangunan Daerah

 

Siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia.  Teori yang digagas Alvin Toffler itu hingga kini nampaknya masih mangkus. Karena itu informasi menjadi materi yang sangat penting.  Dampaknya terlihat jelas, semua media penyampai infomasi berkembang dengan pesat. Media cetak terus tumbuh dan berkembang, stasiun televisi juga makin banyak, internet ada di mana-mana, telepon genggam dan pc tablet terus bermunculan dengan aneka merek dan model.

Media massa sebagai produk pers, baik cetak maupun elektronik, (ditambah lagi dengan media massa dan media sosial di dunia maya),  adalah media informasi yang penting dan berfungsi strategis. Perkembangan media massa suatu daerah, merupakan cerminan dari kondisi umum daerah tersebut.  Dulu tak semua provinsi memiliki media massa. Provinsi yang belum memiliki media massa merupakan cerminan bahwa daerah tersebut termasuk tertinggal dalam berbagai hal, baik secara ekonomi, maupun intelektual. Kini hampir semua provinsi memiliki media massa, kualitas media massa suatu daerah biasanya mencerminkan kondisi dan karakter masyarakat daerah setempat. Pers dan masyarakat suatu daerah memiliki hubungan timbal balik dan saling pengaruh mempengaruhi.

Di Sumatera Barat, kita sadari, media massa  sangat penting perannya dalam percepatan pembangunan daerah ini. Selain sebagai sumber informasi, mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat, fungsi penting dan strategis media massa di Sumatera Barat menurut saya adalah menggalang partisipasi masyarakat. Aspek ini menjadi penting karena kunci sukses pembangunan adalah partisipasi masyarakat.

Banyak proyek pembangunan seperti pembangunan jalan,  sekolah, rumah sakit dan berbagai fasilitas umum menjadi terbengkalai atau bahkan gagal dibangun gara-gara  minimnya partisipasi masyarakat.  Pembangunan itu misalnya terkendala oleh masalah pembebasan lahan.  Akibatnya  proyek tersebut  tertunda-tunda atau bahkan gagal dilaksanakan dan dana  yang telah dianggarkan  untuk itu terpaksa dikembalikan ke kas negara.

Namun ada juga yang terjadi sebaliknya,  proyek-proyek yang dilakukan melalui program PNPM misalnya. Karena besarnya partisipasi masyarakat,  meski dana yang disediakan hanya Rp 10 juta misalnya, namun bisa menyelesaikan  proyek pembangunan senilai  Rp 30 juta. Di Padang Pariaman misalnya, masyarakat setempat membangun jalan dengan bergotong royong dan swadaya.

Masih banyak lagi contoh partisipasi masyarakat yang tak terhitung nilainya. Dalam membangun masjid atau mushalla misalnya.  Umumnya mushalla dan masjid di Sumatera Barat dibangun dengan gotong royong dan swadaya masyarakat. Begitu juga sejumlah jalan lingkungan, jalan desa atau saluran irigasi, kebanyakan dibangun dengan swadaya masyarakat.

Partisipasi masyarakat itu bisa digalang melalui media massa. Informasi yang disampaikan melalui media massa membuat masyarakat tahu apa rencana pembangunan yang akan dilakukan, apa manfaat pembangunan tersebut, selanjutnya paham apa peran yang bisa mereka ambil, baik yang ada di Sumbar maupun yang di rantau. Kunci munculnya partisipasi masyarakat adalah mengetahui informasi yang benar, akurat, serta munculnya kepercayaan (truth).  Hal itu bisa terbangun setelah mendapat informasi dari media massa.

Karena menyangkut aspek akurasi  dan kepercayaan, tentu saja pengelola media massa (pers) harus bekerja secara profesional serta selalu mendahulukan akurasi  sebuah informasi, tidak tercampur antara fakta dengan opini, apalagi keinginan pribadi.  Pers boleh saja berfungsi sebagai kontrol dan mengkritik pemerintah dalam menjalankan pembangunan, namun tentu dengan mengemukakan fakta dan data yang akurat.

Akurasi sebuah berita adalah kunci kepercayaan masyarakat.  Kepercayaan masyarakat terhadap sebuah media massa adalah taruhan apakah media massa tersebut berhasil merebut hati pelanggan serta berumur panjang.

Saya yakin pers Sumatera Barat sepakat untuk menggalang kekuatan bersama memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Barat. Karena meningkatnya kesejahteraan masyarakat akan menaikkan daya beli masyarakat (termasuk daya beli terhadap media massa)  dan pada akhirnya akan menimbukan efek berganda menggerakkan roda ekonomi Sumatera Barat secara keseluruhan.

Selamat berulang Tahun Padang Ekspres, maju terus, semoga selalu menjadi media yang profesional, terpercaya, dicintai dan tetap berkomitmen kuat untuk bersama-sama memajukan Sumatera Barat. Amin. (Januari 2013)

95. Membangun dengan Pajak

Membangun dengan Pajak

 

Mungkin tak banyak orang yang suka diajak bicara soal pajak, apalagi jika ditagih kewajibannya untuk membayar pajak. Alasannya bisa bermacam-macam. Bisa karena menganggap dirinya masih belum layak membayar pajak karena masih memiliki banyak hutang, belum paham manfaat pajak sampai karena kecewa akibat pajak diselewenangkan oleh mafia pajak seperti kasus  Gayus Tambunan yang menghebohkan itu.

Namun disadari atau tidak, selama ini pajak telah menjadi nafas yang menggerakkan dan menghidupi pembangunan negara kita.  Jalan-jalan raya mulus berlapis hot mix telah dibangun dari kota sampai pelosok-pelosok desa.  Semua itu dibangun dengan dana yang diperoleh dari pajak. Jalan-jalan mulus itu bisa kita nikmati secara gratis. Bisa dibayangkan jika jalan tidak ada, atau jalan jelek dan berlubang di sana sini.

Demikian juga dengan berbagai fasilitas umum lainnya, pendidikan misalnya. Di perguruan tinggi negeri, mahasiswa cukup membayar uang kuliah Rp 1 juta per bulan atau Rp 6 juta  per semester. Pada hal seharusnya Rp 3 juta per bulan atau Rp 18 juta per semester. Selisih biaya itu disubsidi melalui dana yang diperoleh dari pajak. Begitu juga di tingkat SD, SLTP hingga SLTA.

Banyak fasilitas umum lain diselenggarakan oleh pemerintah dan dibiayai dari pendapatan pajak, misalnya kesehatan, listrik, BBM, transportasi, irigasi dan lain-lain yang pelaksanaannya dilakukan oleh pemerintah. Dana untuk menyediakan sarana dan prasarana umum tersebut diperoleh dari pajak.

Pajak dari perspektif ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya dari sektor privat kepada sektor publik.   Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH, pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin, dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.  Sedangkan menurut Sommerfeld Ray M., dkk. pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan pemerintahan.

Di satu sisi kita mungkin tercengang melihat betapa pesatnya pembangunan di negara-negara berkembang. Jepang misalnya, bisa membangun jalan layang beribu-ribu kilometer, seolah-olah mereka memiliki dana tak terhingga untuk membangun. Begitu juga sejumlah negara lain, pengangguran pun bisa mereka beri santunan sehingga dapat hidup layak.  Seolah-olah apapun bisa mereka lakukan agar masyarakatnya bisa hidup tentram dan nyaman.

Namun jika kita lihat tingkat pendapatan masyarakatnya dan tarif pajak yang belaku di sana, maka kita akan termanggut manggut melihat kenyataan yang terjadi. Jepang misalnya, memiliki rasio pajak penghasilan sebesar 50 persen, dengan penghasilan rata-rata per kapita pada tahun 2010 sebesar US$ 52.200 per tahun (sekitar Rp 468.800.000). Belanda menggunakan ratio pajak penghasilan 52 persen dengan rata-rata pendapatan pada tahun 2010  sebesar US$ 57.000 (Rp 513.000.000) dengan asumsi 1 US$ = Rp 9.000.

Menurut catatan BPS selama 2011, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia mencapai Rp30,8 juta per tahun atau sekitar US$3.542,9. Sedangkan ratio pajak penghasilan yang digunakan di Indonesia saat ini adalah 10 persen. Bisa dibayangkan betapa tidak sebandingnya pemasukan pajak antara negara berkembang tersebut dengan negara kita, seperti bumi dan langit. Pendapatan rata-rata masyarakat di negara-negara maju tersebut sekitar 14 sampai 15 kali lipat pendapatan masyarakat kita. Sedangkan pajak yang mereka bayarkan kepada negara 5 kali lipat dari jumlah pajak yang kita bayarkan. Jadi tidak aneh kalau mereka bisa membangun demikian pesat.

Karena itu ada 3 jalan yang harus kita lakukan agar pembangunan di Indonesia agar bisa melejit pesat seperti negara-negara tersebut.  Pertama; tingkatkan kesejahteraan masyarakat (tingkatkan pendapatan per kapita), kedua; efektifkan pengunaan pajak dan hindarkan kebocoran akibat penyimpangan pajak, ketiga; tingkatkan kesadaran membayar pajak.  Ketiga komponen ini akan saling terkait dan saling bersinergi untuk mencapai masyarakat yang sejahtera dan bermartabat seperti yang kita impikan bersama. (Novenber 2013)

96. Keramahan Orang Timur Ala Jepang

Keramahan Orang Timur Ala Jepang

 

Ada sesuatu yang terasa tergurat dalam dada, terasa sangat membekas, setelah bertolak meninggalkan Jepang. Oh… iya, itu dia, keramahan dan rasa persahabatan yang mereka unjukkan. Bertemu dengan Gubernur Kagawa, Wakil Gubernur, Sekda, Ketua Parlemen, pengusaha maupun petani  setempat, tak seperti bertemu orang yang baru dikenal, tapi seperti bertemu teman lama yang bertahun-tahun tak berjumpa.

Kemanapun kami berkunjung, mereka selalu menyambut hangat kedatangan kami. Mereka menanggapi dan menjawab semua pernyataan kami dengan penuh perhatian dan serius. Ramah, bersahabat dan bersahaja. Kadang kita merasa malu sendiri, mereka sangat menghargai kita, pada hal kita tertinggal sekitar 50 tahun di banding mereka, terutama di bidang ekonomi dan teknologi.

Ketika bertamu ke kantor Gubernur Kagawa, terlihat sekali mereka sangat serius menyambut kedatangan kami. Mulai di tempat parkir, kami sudah disambut petugas, ditentukan tempat parkir kendaraan, diantar dan dipandu sejumlah petugas hingga sampai di ruang pertemuan Gubernur Kagawa. Di sana sejumlah pajabat sudah menunggu dan tempat duduk masing-masing juga sudah diatur dan ditentukan. Sepasang bendera mungil, hinomaru dan merah putih terpajang di atas meja. Benar-benar membuat kita merasa tersanjung.

Malam pertama di Kagawa, kami diundang makan malam di restoran milik pengusaha setempat. Restoran ini cukup terkenal di Jepang, ia memiliki belasan restoran serupa di Jepang. Menu yang ingin disuguhkan adalah yakiniku, makanan khas Jepang. Yakiniku memang merupakan menu andalan rumah makan ini dan paling banyak digemari.

Yakiniku terdiri dari irisan daging kecil-kecil dan tipis seperti dendeng. Daging ini merupakan daging khusus dari sapi jenis wagio (wagyu). Daging ini diberi bumbu khusus, lalu dibakar sebentar (sekitar 2 menit), lalu dimakan bersama bumbu saos. Rasanya, bukan main enak dan empuk, berbeda dengan daging biasa. Tak terasa, seporsi daging seberat sekitar seperempat kilo itu habis  sekali santap.

Mungkin itulah sebabnya kenapa daging sapi wagio/wagyu, sapi asli Jepang ini berbeda dengan daging sapi lainnya.  Di pasar lelang kami melihat sendiri jika jenis sapi lain laku terjual sekitar Rp 100.000 per kilogram, maka sapi wagio lalu terjual sekitar Rp 800.000 sampai Rp 1 juta per kilogram.

Awalnya kami juga tak percaya dengan nilai transaksi yang terjadi di pasar lelang. Berkali-kali kami bertanya, apakah benar harga sapi yang baru terjual benar-benar sekitar Rp 100 juta per ekor? Berkali-kali pula ketua lelang setempat membenarkan sambil tersenyum.

Jadi tak perlu berat sapi mencapai 2 ton per ekor agar bisa terjual Rp 100 juta per ekor. Yang kami temui di pasar lelang saat itu beratnya sekitar 600 sampai 700 kilogram saja. Tapi begitu sapi itu muncul, langsung diserbu oleh peserta lelang, dengan harga sekitar Rp 100 juta per ekor. Jika memang tampak berkualitas, mereka tak ragu memasang harga. Harga beras juga begitu, beras berkualitas harganya bisa tiga sampai empat kali lipat beras biasa. Di Jepang saat ini memang tak lagi bicara kuantitas, tapi kualitas. Mereka berani bayar mahal jika memang berkualitas.

Sayangnya saya lupa nama pengusaha restoran tersebut karena ia memberi kartu nama dengan tulisan kanji. Tapi saya masih ingat keramahan dan kelezatan masakan restorannya. Ia berjanji akan segera berkunjung ke Sumatera Barat, bukan tak mungkin berinvestasi di Sumbar.

Esoknya Ketua DPRD Kagawa juga tak mau kalah, ia juga mengundang makan malam di restoran miliknya. Ia juga memiliki belasan restoran di Kagawa. “Saya akan sajikan makanan yang khusus saya sendiri membuat resepnya,” ujarnya.

Sang ketua DPRD ternyata tak sekedar omong kosong, di restoran miliknya kami disuguhi berbagai macam masakan, dan ternyata memang enak. Ia sedikit agak kecewa ketika kami menolak dengan halus minuman beralkohol yang disajikan. Namun ia tampak gembira dan bersemangat ketika kami makan dengan bersemangat ketika hidangan lain disajikan.

Nampaknya beliau sangat berpengaruh dan disegani di Kagawa. Namun meskipun sudah berusia lanjut, gayanya energik dan eksentrik. Beberapa kali ia berusaha membuat lelucon dalam bahasa Inggris terpatah-patah bercampur bahasa Jepang . Kami pun berusaha menimpali guyonannya dengan bahasa Inggris dan Bahasa Jepang seadanya. Suasanapun jadi hangat, seperti sahabat yang lama tak berjumpa.

Setiap malam kami diundang untuk makan malam, baik oleh ketua koperasi dan sejumlah pengusaha lainnya secara bergantian. Yang pasti, susana yang terbangun selalu hangat, dan bersahabat.

Hendri, staf KBRI Jepang di Kyoto yang ikut menemani sejumlah perjalanan, berkali-kali mengatakan bahwa kunjungan ini sangat luar biasa. Belum pernah ia mengikuti acara kunjungan yang lengkap seperi ini dan langsung ke objek persoalan. “Sungguh ini luar biasa Pak,” ujarnya terkesan. (Okober 2010)

97. Seto Ohashi, Sebuah Mimpi yang Jadi Kenyataan

Seto Ohashi, Sebuah Mimpi yang Jadi Kenyataan

 

Sama seperti Indonesia, Jepang adalah Negara Kepuluauan. Jepang terdiri dari lebih 3000 buah pulau, besar dan kecil.  Empat pulau terbesar dan utama di Jepang adalah Hokkaido, Honshu (pulau terluas), Shikoku, dan Kyushu. Sekitar 97 persen penduduk Jepang bermukim di empat pulau ini.

Dipisahkan oleh laut yang membentang membuat wilayah Jepang terasa makin sempit dan terisolir satu sama lain.  Dulu, perjalanan dari pulau Honshu ke Shikoku hanya bisa dilakukan menggunakan kapal laut. Perjalanan dengan kapal dirasakan tidak efektif dan memakan waktu lama.

Namun masyarakat Jepang tak menyerah begitu saja. Mereka tak mau menyerah pada keadaan. Mereka bermimpi untuk membangun jembatan antara Honshu dan Shikoku meskipun jarak yang terbentang puluhan kilometer dan pekerjaan itu seperti mustahil bisa dilakukan.  Adalah  Jinnojo  Okobu, seorang wakil masyarakat,  yang memprovokasi mimpi itu sejak tahun 1889.

Baru pada tahun 1950 ide pembuatan jembatan ini dibahas di tingkat nasional. Kejadian tragis yang terjadi pada tahun 1955 makin membuat keinginan masyarakat Jepang untuk membangun Jembatan itu makin kuat. Saat itu terjadi tabrakan antara dua kapal ferri yang menghubungkan Honshu dan Shikoku. Kedua kapal itu tenggelam, ratusan orang hilang, banyak anak-anak  yang jadi korban dalam pristiwa itu.

Membangun jembatan antara Honshu da Shikoku memang bukan perkara gampang, karena jembatan yang akan dibangun harus menyeberangi laut.  Setelah melakukan studi yang cukup panjang, baru pada tahun 1972 hasil akhir riset disetujui.  Bulan September 1973 Menteri Konstruksi dan Menteri Transportasi Jepang mengeluarkan master plan pembangunan jembatan tersebut. Tak tanggung-tanggung, direncanakan ada tiga jalur penghubung antara Honshu dan Shikoku.

Tiga rute jalur penghubung darat itu adalah Rute Timur, Rute Tengah dan Rute Barat. Rute Timur menghubungkan Kobe-Awaji-Naruto Ekspressway. Jalur ini berjarak tempuh 89 kilometer. Jembatan dan jalan raya ini selesai total pada taun 1998.

Rute tengah menghubungkan Seto – Chuo Ekspressway dan JR Seto Ohasi Line. Rote ini berjarak tempuh 39 kilometer, denngan lebar jembatan 35 meter, memiliki enam jalur kendaraan sekaligus, tiga di kiri, tiga di kanan. Lebih istimewa jembatan ini juga memiliki dua jalur kereta api di bagian bawah badan jalan. Rute ini memiliki enam jembatan panjang bersambungan, rangkaian jembatan inilah yang dinamakan Seto Ohashi. Rute ini dibuka pada tahun 1988.

Rute Timur Menghubungkan Nishi – Seto Expressway. Rute ini memiliki 9 rangkaian jembatan, selesai total pada tahun 1999.

Dengan selesainya ketiga jembatan ini, maka pulau Honshu dan Shikoku bisa dengan transportasi darat melalui tiga jalur, termasuk satu jalur kereta api dua arah. Ketiga jembatan ini membuat perjalanan antar pulau bisa ditempuh kapan saja, dengan nyaman dan waktu tempuh tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Hal ini membuat pergerakan ekonomi masyarakat makin pesat.

Teknologi yang digunakan dan rancang bangun yang digunakan memang sangat cemerlang.  Jembatan Seto Ohashi misalnya, jembatan ini ditopang oleh beberapa buah menara setinggi lebih 100 meter. Kaki menara terpancang kokoh di dasar laut. Badan jembatan digantung pada kabel-kabel yang direntang di atas menara.

Total kabel yang digunakan sebagai penyangga Seto Ohashi panjangnya mencapai 300.000 klometer, setara dengan 7,5 kali lingkaran bumi. Jembatan dirancang tahan sampai 200 tahun. Karena Jepang merupakan daerah rawan gempa, maka jebatan ini juga dirancang tahan gempa. Buktinya ketika terjadi gempa tahun 1995 di Kobe, jembatan ini tak bergeming.

Terlepas dari semua tekonologi   yang digunakan, yang paling menarik dari fenenomena ini adalah semangat dan keinginan yang kuat masyarakat dan pemerintah Jepang untuk berubah dan membangun, tak mau menyerah dengan keadaan. Meski pada awalnya pekerjaan itu mustahil bisa terjadi, namun jika dikerjakan serius dan sungguh-sungguh ternyata bisa terwujud.  (Oktober 2010)

98. Tak Ada Sampah di Takamatsu

Tak Ada Sampah di Takamatsu

 

Mungkin ini sebuah keajaiban, tak ada selembar sampah pun tercecer di seantero Kota Takamatsu, ibukota provinsi Kagawa Jepang. Nyaris tak bisa dipercaya. Padahal di sini, hampir semua barang dikemas dengan plastik atau kertas, atau kombinasi keduanya, kertas dan plastik.

Sebut saja sayur, buah-buahan, daging, berbagai kue dan makanan semua dikemas dengan plastik atau kertas, diberi merek, didisain semenarik mungkin dan dihiasi dengan berbagai warna-warni menarik.

Tapi ajaibnya, ya.. itu tadi, tak selembarpun ada sampah tercecer. Seluruh kota bersih, sampai ke pelosok-pelosok sekalipun, benar-benar bebas sampah. Pemerintah kota atau pemerintah provinsi nampaknya tak perlu lagi menggelar lomba kebersihan antar kelurahan agar masyarakat sadar akan kebersihan. Pemerintah pusat juga tak perlu menggelar lomba Adipura agar masing-masing kota menjaga kebersihan lingkungan mereka.

Di pelosok kampung apalagi, tak bakal ditemukan sampah di sana, semua sama bersihnya dari kampung sampai pusat kota. Tak ada puntung rokok tercecer di jalan, juga tak ada plastik atau kantong kresek yang berserakan seperti pemandangan umum di daerah kita.

Provinsi Kagawa terletak di Jepang Barat, merupakan provinsi terkecil, dengan luas wilayah 1.862 kilometer persegi dan jumlah penduduk 1.012.400 jiwa. Takamatsu adalah ibukota provinsi Kagawa berpenduduk 418.196 jiwa, hampir sama dengan jumlah penduduk kota Padang sekitar 5 tahun lalu.

Produk domestik bruto Kagawa adalah 3.660 triliun yen per tahun, sedangkan pendapatan per kapita penduduk adalah 2.616.000 yen per tahun. Nilai tukar yen saat ini adalah Rp 105 per yen. Ini berarti rata-rata pendapatan penduduk Kagawa adalah Rp 274.680.000 per tahun atau sekitar Rp 22.890.000 per bulan. Jadi tak heran jika tak ada gubug reot atau orang miskin di Kagawa.

Takamatsu memang bukan termasuk 10 kota megapolitan di Jepang. Tapi fasilitas sarana dan prasarana yang ada di sini serba lengkap dan luar biasa,  Jakarta pun, masih tertinggal cukup jauh. Di pusat perkotaan Takamatsu bertebaran gedung-gedung bertingkat, jalan layang  (fly over) berkualitas prima terpapar sepanjang ribuan kilometer menguhubungkan antar daerah di Kagawa.

Pemerintah Kagawa seperti tak pernah berpikir lagi apakah uang di kas mereka untuk membangun cukup tersedia atau tidak. Coba saja bandingkan dengan Kota Padang yang hanya mampu membangun fly over sepanjang 250 meter butuh waktu selama 6 tahun. Berapa puluh tahun waktu yang dibutuhkan untuk membangun ribuan kilometer jalan jalan dan fly over seperti yang ada di Kagawa?

Tak hanya itu, sungguh kita berdecak kagum melihat jembatan Seto Ohashi sepanjang 13 kilometer yang menghubungkan pulau Honshu dan Shikoku. Susah menghitung berapa angka uang rupiah (jika dikonversi ke rupiah) dana yang dibutuhkan untuk membangun jembatan tersebut. Tak hanya memiliki 6 jalur kendaraan, di bawah badan jalan jembatan Seto Ohasi juga terdapat jalur kereta api. Saat ini tak ada tandingan Seto Ohasi di dunia.

Meski topografi daerah Kagawa hampir mirip dengan Sumatera Barat berbukit dan lembah, namun tak akan ditemukan tanjakan atau tikungan tajam di jalan utama antar kota. Jika ada lembah, di sana dibangun jalan layang, jika ada bukit merintangi jalan, maka di sana dibangun terowongan. Jangan ditanya berapa dana yang mereka habiskan. Namun hasilnya perjalanan jauh pun bisa dilakukan dengan nyaman, juga tak ada jalan jelek dan berlobang. Di provinsi Kagawa saja ada puluhan terowongan.

Meski kepadatan penduduk Kagawa jauh lebih tinggi, namun di  Ibukota Takamatsu sekalipun tak pernah dikenal istilah macet. Yang terlihat menonjol adalah disiplin yang membuat Kagawa bebas macet. Penduduk Kagawa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah atau di tempat mereka bekerja. Meski rata-rata mereka memiliki mobil, namun mereka mengutamakan menggunakan angkutan umum. Tak ada anak yang ke sekolah diantar mobil orang tuanya, mereka ke sekolah menggunakan sepeda.

Berbeda dengan di pusat kota di pinggiran kota mulai terlihat pemandangan lahan pertanian, sawah, lahan sayuran dan buah-buahan terawat secara baik dan tertata rapi di sela-sela gedung bertingkat dan rumah penduduk (bukan gubug). Meski jalan layang juga berseliweran dan sejumlah gedung bertingkat bertebaran, namun kegiatan pertanian tetap eksis. Sekitar 30 persen kebutuhan pangan masyarakat Jepang berasal dari Kagawa.

Petani, koperasi dan dinas pertanian/peternakan setempat saling bahu membahu untuk meningkatkan pendapatan petani. Bibit padi, sayuran dan buah-buahan terus diteliti sehingga mampu memberikan hasil yang terbaik, maksimal dan berkualitas prima. Petani juga bekerja keras merawat tanaman mereka sehingga mencapai hasil puncak. Sedangkan koperasi mengatur distribusi dan pemasaran produk mereka. Alhasil, keuntungan yang mereka peroleh mencapai titik optimal, harga jual produk pertanian juga terjamin dan selalu menguntungkan.

Meski termasuk daerah modern, udara di Kagawa juga terasa sejuk dan segar, hampir sama kesegaran udara lembah anai atau ladang padi. Tak ada tercium bau asap kendaraan yang menyengat seperti kota-kota di negara kita. Di sini emisi buangan kendaraan dijaga dengan ketat. Agaknya itulah yang membuat udara di Kagawa terasa lebih segar, polusi udara akibat kendaraan bermotor ditekan seminim mungkin.

Di Kagawa juga tak ditemukan saluran air kumuh berbau busuk buangan rumah tangga atau pabrik. Saluran buangan limbah rumah tangga dibangun di bawah tanah, semua rumah di Kagawa terhubung ke saluran ini, sehingga tak kan tercium bau got busuk di pinggir jalan. Limbah ini lalu diproses, setelah jernih baru dibuang ke laut.

Limbah pabrik juga begitu, malah diperlakukan lebih ketat. Sebelum dibuang limbah tersebut harus diolah, setelah bersih baru boleh disalurkan ke laut. Itulah kesan paling mendalam di Kagawa, tak ada sampah, tak ada got busuk, juga tak ada jalan berlobang, berliku dan mendaki.

Realitanya kita memang tertinggal jauh, tapi jika ada semangat dan kemauan yang kuat tentu semua itu bisa diatasi. Seperti Jepang mengejar ketinggalannya dulu. Mereka mengejarnya dengan disiplin dan kerja keras.

Disiplin dan kebersihan, dan kerja keras telah diajarkan Islam sejak ratusan tahun lalu. Nabi Muhammad SAW dalam hadistnya mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Banyak ayat-ayat dalam Al Quran yang memerintahkan umat untuk bekerja bersungguh-sungguh, tidak membuang-buang waktu.  Jika masyarakat Jepang yang mengamalkan hadits tersebut, jangan heran kalau merekalah yang memperoleh manfaatnya. Jika kita yang mengamalkan tentu kita bisa mendapat manfaatnya. (Oktober 2010)

99. MDGs

MDGs

 

Teknologi terus berkembang pesat di abad millenium, ekonomi dunia juga telah bertumbuh baik. Namun semua itu belum merata menyentuh seluruh penduduk dunia.  Berdasarkan data tahun 2008, sebanyak  22,4% penduduk dunia, yaitu 1,29 milyar penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan. Rata-rata pendapatan mereka kurang dari 1,25 dolar  (kurang Rp11.000) per hari.

Kondisi ini akan berimplikasi kepada masalah lainnya, yaitu kondisi kesehatan yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah, masalah kesetaraan gender, penyakit menular dan berbagai masalah krusial lain yang umum terjadi berbagai pelosok dunia.

Karena itu bulan September tahun 2000 lalu sebanyak 189 anggota PBB menetapkan 8 tujuan pembangunan millenium (millenium development goals/MDGs).  Delapan tujuan pembangunan itu ditargetkan bisa  tercapai tahun 2015. Tujuan pembangunan millenium itu adalah : 1.  Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan (menurunkan angka kemiskinan), 2. Mencapai Pendidikan untuk Semua (setiap penduduk minimal mendapatkan pendidikan dasar), 3. Mendorong Kesetaraan Jender dan Pemberdayaan Perempuan, 4. Menurunkan Angka Kematian Anak (target tahun 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun), 5.Meningkatkan Kesehatan Ibu (mengurangi minimal dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan), 6.Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya, 7. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup dan 8. Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan.

Masalah yang sama juga merupakan masalah yang krusial di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat. Berdasarkan catatan BPS penduduk miskin di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36% dari total penduduk Indonesia).  Menurut data statistik Jumlah penduduk miskin Sumatera Barat pada Maret 2009 adalah sebanyak 429.250 jiwa, sedangkan acuan yang digunakan adalah pendapatan rata-rata Rp.217.649per kapita per bulan (setara dengan di bawah 1 USD per hari).

Karena itu program MDGs yang merupakan komitmen dunia untuk memperbaiki kualitas hidup ummat manusia tersebut perlu kita sambut dan kita laksanakan dengan baik.  Dalam kacamata internasional, delapan tujuan pembangunan millenium tersebut merupakan hak hazasi manusia, sedangkan dalam kacamata pembangunan Sumatera Barat, hal tersebut senada dan sejalan dengan visi pembangunan Sumatera Barat 2010 -2015, yaitu Menuju Masyarakat Madani, Sejahtera dan Bermartabat.

Lalu bagaimana agar program yang bertujuan mulia itu bisa tercapai?

Pemerintah sebagai pihak yang telah berkomitmen untuk menjalankan program tersebut tentu berkewajiban memfasilitasi dan memberikan stimulus kepada masyarakat agar tujuan (goals) dari program MDGs bisa tercapai. Sedangkan masyarakat berkewajiban berusaha, bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.  Seperti hadits Nabi, nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kaum itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya.

Di Sumatera Barat yang terkenal menganut filosofi Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, sangat besar peluang program MDGs yang ditargetkan tahun 2015 terlaksana itu bisa tercapai. Dalam konsep adat, tigo tali sapilin, yaitu alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tentu tidak akan membiarkan kaum kerabatnya tenggelam dalam kemiskinan, kebodohan dan kesengsaraan. Perantau, tokoh dan pemuka masyakat Minang tentu tak akan tega melihat orang kampung dan kaum kerabatnya sengsara.

Sedangkan dalam konsep syarak (agama), umat Islam adalah bersaudara. Kewajiban umat Islam untuk membantu saudaranya yang miskin, terkebelakang, apalagi yang sedang mengalami musibah (sakit). Semua itu senada dan seirama dengan cita-cita program MDGs.

Mari kita jadikan kemiskinan, kebodohan dan penyakit sebagai musuh bersama. Jadikan momentum MDGs sebagai momen untuk memperbaiki kualitas hidup, saling membantu dan peduli dengan masyarakat dan lingkungan sekeliling kita. (Mei 2012)

100. Listrik

Listrik

 

Hati bu Rina pagi ini sedih dan kecewa. Betapa tidak, tengah asyik menyeterika baju sekolah putri satu-satunya Santi, tiba-tiba listrik di rumahnya padam.  Baru baju Santi sebelah kiri saja yang selesai diseterika, bagian kanan baju itu kusut masai tak karuan. Padahal pagi ini Santi akan mengikuti upacara bendera, ia terpilih sebagai pembaca Teks Pembukaan UUD 1945. Apa komentar peserta upacara melihat pakaian Santi yang kusut sebelah? Mau digosok dengan seterika bara tempurung seperti dulu, sudah tak ada lagi ditemukan setrika seperti itu di zaman kini.

Pak Tino di pasar raya juga mengalami nasib serupa. Tengah asyik memangkas rambut pelanggan dengan mesin pangkas kesayangannya, tiba-tiba listrik padam. Baru bagian sebelah kanan saja rambut pelanggan selesai ia pangkas. Pak Tino tak dapat berbuat apa-apa dan kecewa, ingin beralih ke mesin potong rambut manual seperti dulu, sudah lama tak lagi tersedia.

Listrik saat ini memang sudah menjadi kebutuhan vital, kita sangat tergantung pada ketersediaan listrik. Mulai dari kebutuhan rumah tangga seperti memasak nasi, mencuci, penerangan, hand phone  sampai  kebutuhan usaha besar dan kecil, apalagi industri, semua membutuhkan dan tergantung pada ketersediaan listrik. Itulah sebabnya ketika terjadi pemadaman listrik, hampir sebagian besar kegiatan masyarakat terganggu. Wajar jika masyarakat sangat kecewa.

Menurut  General Manager (GM) PT PLN Wilayah Sumbar Warsito Adi pemadaman listrik yang sering terjadi belakangan ini adalah akibat rusaknya sejumlah pembangkit listrik di Sumatera Barat, baik akibat dalam perbaikan dan perawatan rutin, maupun akibat kurangnya debit air di sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berkebetulan waktu kejadiannya bersamaan.

PLTU Ombilin yang selama ini menjadi pemasok listrik terbesar, pembangkitnya mengalami kerusakan sejak beberapa bulan terakhir. Kapasitas terpasang PLTU Ombilin yang semula 2×100 MW, kemampuan produksi saat ini cuma 1 x 80 MW, bahkan terkadang nol sama sekali. Karena memang sudah jadwalnya untuk diperbaiki, pembangkit yang masih bisa berproduksi 1 x 80 MW ini pun juga dinonaktifkan  total, dalam rangka perbaikan total pada seluruh pembangkit PTLU Ombilin.

Tiga PLTA andalan yang menjadi tulang punggung pembangkit listrik Sumatera Barat yaitu PLTA Batang Agam, PLTA Maninjau dan PLTA Singkarak belakangan ini tak mampu berproduksi optimal. Hal ini disebabkan oleh musim kemarau yang cukup ekstrim dan di luar prediksi semula. Kurangnya debit air akibat musim kemarau pada akhirnya menyebabkan menurunnya produksi listrik di masing-masing pembangkit listrik tenaga air tersebut.  Padahal jika semua semua pembangkit itu berproduksi optimal, maka terjadi surplus listrik di Sumatera Barat. Namun akibat kemarau yang menyebabkan berkurangnya elevasi permukaan air danau Singkarak, Maninjau dan Batang Agam,  bersamaan pula dengan terjadinya kerusakan di PLTU Ombilin. Maka tak dapat dielakkan lagi, terjadi defisit listrik yang cukup besar di Sumatera Barat.

Masalah serupa tidak hanya dialami oleh Sumatera Barat. Semua provinsi di Sumatera mengalami hal serupa. Jika kita bicara secara global, maka ada dua krisis yang akan melanda dunia dalam waktu dekat bahkan telah mulai dirasakan keberadaannya, yaitu krisis pangan dan krisis energi. Krisis energi dirasakan akibat kebutuhan manusia akan energi yang terus meningkat, sementara sumber energi, terutama yang bersumber dari fosil (BBM dan batubara) makin menipis jumlahnya. Maka saat ini masyarakat dunia ramai-ramai melakukan percobaan dan penelitian untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan (non fosil) atau disebut juga dengan energi hijau.

Pemerintah Sumatera Barat tidak tinggal diam. Sejak dini kita juga sudah mencari sumber-sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat yang terus meningkat, namun juga ramah lingkungan. Sejak dua tahun lalu sudah dijalin kerjasama dengan Pemerintah Jerman untuk mengembangkan energi alternatif tersebut. Selain air yang sudah umum digunakan, tenaga matahari, angin, dan sampah (bio gas) juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik. Dengan memanfaatkan sumber-sumber tersebut sejumlah desa di Jerman misalnya, telah menjadi desa mandiri energi. SKPD terkait, sejumlah praktisi dan tokoh masyarakat Sumatera Barat sudah dikirim dan difasilitasi untuk belajar mengembangkan energi tersebut. Suatu saat, dengan dukungan masyarakat, di Sumbar diharapkan juga muncul desa-desa mandiri energi.

Selain itu Sumatera Barat merupakan provinsi pertama di luar Jawa yang telah membangun pembangkit listrik geothermal. Namun tentu saja membangunnya tidak dengan simsalabim, langsung jadi. Pekerjaan raksasa yang membutuhkan dana triliunan rupiah itu sedang berjalan, kini pekerjaannya sudah mencapai sekitar 60 persen. Pembangkit listrik tenaga panas bumi yang berlokasi di Kabupaten Solok Selatan ini direncanakan selesai tahun 2015 dengan kapasitas 400 MW s/d 600 MW. Satu pembangkit listrik yang ramah lingkungan ini saja idealnya sudah dapat memenuhi kebutuhan total Sumatera Barat yang hanya berjumlah sekitar 400 MW. Alternatif lain, meski tertunda cukup lama PLTU Teluk Sirih yang berlokasi di Bungus Insya Allah akan mulai beroperasi beberapa bulan ke depan.

Untuk segera mengatasi masalah ini maka kepada pihak PLN wilayah Sumbar, Pemprov meminta supaya : 1. Mempercepat upaya perbaikan mesin pembangkit yang rusak, 2. Membuat hujan buatan di lokasi-lokasi sekitar PLTA, 3. Memanfaatkan PLTD yang ada sebagai antisipasi, 4. Memanfaatkan pembangkit listrik yang ada di BUMN seperti PT Semen Padang, misalnya,  5. Mempercepat beroperasinya PLTU teluk Sirih, 5. Meningkatkan efisiensi listrik, 6. PLN bekerja lebih serius dan bersunggguh-sungguh.

Atas semua  ketidaknyamanan ini, kami atas nama Pemerintah Sumatera Barat dan semua pihak yang terkait meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat Sumatera Barat. Kami mohon masyarakat bersabar dan memberi dukungan agar masalah ini bisa segera kita atasi bersama secepatnya. (September 2013)

101. Pegawai Negeri Sipil

Pegawai Negeri Sipil

 

Banyak orang berpendapat bahwa profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan lagi profesi yang menarik. Alasannya,  gaji PNS (sesuai standar gaji secara nasional) relatif kecil dibandingkan penghasilan seorang pengusaha. Pengembangan karir di PNS lambat dan tantangan pekerjaan juga relatif kecil karena pekerjaan PNS cenderung rutin sepanjang tahun. Apalagi belakangan ini untuk jadi gubernur, bupati, walikota,  atau menteri, tidak harus meniti karir dari PNS seperti dulu.  Untuk jadi politisi, anggota DPRD atau DPR juga tidak harus dari PNS.

Namun faktanya ternyata banyak juga masyarakat kita yang masih memilih dan mengidamkan PNS sebagai profesi mereka. Buktinya berita pengumuman penerimaan CPNS (calon PNS) merupakan berita yang selalu dicari-cari dan ditunggu-tunggu. Setiap ada lowongan CPNS dibuka, belasan ribu atau bahkan puluhan ribu orang pelamar mendaftar. Padahal jumlah yang diterima cuma sebagian kecil saja.

Akibatnya persaingan untuk mendapatkan posisi  PNS semakin ketat. Untuk lolos diterima jadi CPNS seperti lolos dari lubang jarum. Berbagai upaya pun dilakukan, baik berupa upaya posisitif maupun upaya negatif.  Upaya positif dilakukan dengan mempersiapkan diri secara baik. Mulai dari menekuni kuliah sehingga memperoleh indeks prestasi yang tinggi, sesuai dengan syarat minimal calon PNS. Bisa juga dengan melakukan persiapan yang baik untuk mengikuti ujian CPNS, baik dengan mempelajari soal-soal ujian dan menggali informasi yang berhubungan dengan ujian.

Cara-cara negatif banyak juga yang berusaha menempuhnya. Misalnya kasak-kusuk mencari calo yang konon katanya bisa membantu agar bisa lulus CPNS, atau mencari “orang kuat” yang juga bisa menolong/membacking seseorang agar bisa diterima jadi CPNS. Sejumlah uang pelicin atau materi dalam berbagai bentuk mereka siapkan demi melaksanakan hajat untuk bisa menjadi PNS.

Dalam masa kepemimpinan kami sebagai Gubernur Sumatera Barat, tidak ada istilah calo atau uang pelicin. Semua tes dilakukan secara baik dan benar, test dilakukan mengunakan metode terbaru dan terbaik yang telah terbukti kehandalannya. Juga tidak ada istilah koneksi atau famili. Kalau memang tidak lulus dan tidak memenuhi syarat, siapapun dia, adik kandung sekalipun, tidak bisa menjadi CPNS.

Yang menarik, ada catatan oleh hampir semua kepala SKPD yang telah menerima dan mempekerjakan CPNS baru hasil test dan seleksi tersebut. “Iyo pueh dan sanang kami mamakai mereka, Pak,” ujar sejumlah kepala SKPD. Menurut kepala-kepala SKPD, CPNS-CPNS baru tersebut nyaris tak ada cacatnya, sikap, kinerja dan kualitas intelektual mereka benar-benar bisa diandalkan.

Dalam perjalanan waktu dan pekerjaan sehari-hari, CPNS/PNS yang berkualitas dengan yang tidak berkualitas juga akan terlihat berbeda nyata. Mereka yang berkualitas akan segera nampak kinerja dan prestasinya sedangkan yang tidak juga akan terlihat. Yang tidak berkualitas lebih banyak berleha-leha dan berusaha membuang-buang waktu, mereka akan tersisih dengan sendirinya.  Ada atau tidak mereka di kantor, sama saja.

Bukankah dengan memaksakan diri, apalagi dengan cara-cara yang tidak benar untuk menjadi PNS hanya akan membuang-buang waktu, kesempatan dan uang saja? Negara pun jadi sia-sia menggaji orang yang tidak berguna seumur hidup, bahkan sampai pensiun? Halalkah uang yang mereka terima dan mereka berikan kepada anak istrinya?

Karena itu menurut saya tidak adanya gunanya memaksakan diri menjadi PNS dengan berbagai cara, apalagi menggunakan uang pelicin dan cara-cara yang tidak terhormat lainnya. Lulus jadi CPNS, lalu jadi pecundang, karir tak pernah beranjak naik, jadi mentimun bungkuk istilahnya, untuk apa? Lapangan kerja lain masih terbuka luas.

Mari kita jaga bersama agar seleksi CPNS tahun ini berjalan baik dan benar, tanpa calo, tanpa uang pelicin, juga tanpa beking-membeking. Tentu saja menjadi kewajiban dan tanggung jawab bupati/walikota di daerah masing-masing mengawalnya. Insya Allah jika seleksi dilakukan dengan baik dan benar, akan dipeloreh PNS yang baik dan benar pula. Pada akhirnya mereka nantinya akan menjadi aparat negara yang baik dan mampu menyelesaikan masalah-masalah negara dan mengayomi masyarakat dengan baik pula. (November 2013)

Pegawai Negeri Sipil

 

Banyak orang berpendapat bahwa profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) bukan lagi profesi yang menarik. Alasannya,  gaji PNS (sesuai standar gaji secara nasional) relatif kecil dibandingkan penghasilan seorang pengusaha. Pengembangan karir di PNS lambat dan tantangan pekerjaan juga relatif kecil karena pekerjaan PNS cenderung rutin sepanjang tahun. Apalagi belakangan ini untuk jadi gubernur, bupati, walikota,  atau menteri, tidak harus meniti karir dari PNS seperti dulu.  Untuk jadi politisi, anggota DPRD atau DPR juga tidak harus dari PNS.

Namun faktanya ternyata banyak juga masyarakat kita yang masih memilih dan mengidamkan PNS sebagai profesi mereka. Buktinya berita pengumuman penerimaan CPNS (calon PNS) merupakan berita yang selalu dicari-cari dan ditunggu-tunggu. Setiap ada lowongan CPNS dibuka, belasan ribu atau bahkan puluhan ribu orang pelamar mendaftar. Padahal jumlah yang diterima cuma sebagian kecil saja.

Akibatnya persaingan untuk mendapatkan posisi  PNS semakin ketat. Untuk lolos diterima jadi CPNS seperti lolos dari lubang jarum. Berbagai upaya pun dilakukan, baik berupa upaya posisitif maupun upaya negatif.  Upaya positif dilakukan dengan mempersiapkan diri secara baik. Mulai dari menekuni kuliah sehingga memperoleh indeks prestasi yang tinggi, sesuai dengan syarat minimal calon PNS. Bisa juga dengan melakukan persiapan yang baik untuk mengikuti ujian CPNS, baik dengan mempelajari soal-soal ujian dan menggali informasi yang berhubungan dengan ujian.

Cara-cara negatif banyak juga yang berusaha menempuhnya. Misalnya kasak-kusuk mencari calo yang konon katanya bisa membantu agar bisa lulus CPNS, atau mencari “orang kuat” yang juga bisa menolong/membacking seseorang agar bisa diterima jadi CPNS. Sejumlah uang pelicin atau materi dalam berbagai bentuk mereka siapkan demi melaksanakan hajat untuk bisa menjadi PNS.

Dalam masa kepemimpinan kami sebagai Gubernur Sumatera Barat, tidak ada istilah calo atau uang pelicin. Semua tes dilakukan secara baik dan benar, test dilakukan mengunakan metode terbaru dan terbaik yang telah terbukti kehandalannya. Juga tidak ada istilah koneksi atau famili. Kalau memang tidak lulus dan tidak memenuhi syarat, siapapun dia, adik kandung sekalipun, tidak bisa menjadi CPNS.

Yang menarik, ada catatan oleh hampir semua kepala SKPD yang telah menerima dan mempekerjakan CPNS baru hasil test dan seleksi tersebut. “Iyo pueh dan sanang kami mamakai mereka, Pak,” ujar sejumlah kepala SKPD. Menurut kepala-kepala SKPD, CPNS-CPNS baru tersebut nyaris tak ada cacatnya, sikap, kinerja dan kualitas intelektual mereka benar-benar bisa diandalkan.

Dalam perjalanan waktu dan pekerjaan sehari-hari, CPNS/PNS yang berkualitas dengan yang tidak berkualitas juga akan terlihat berbeda nyata. Mereka yang berkualitas akan segera nampak kinerja dan prestasinya sedangkan yang tidak juga akan terlihat. Yang tidak berkualitas lebih banyak berleha-leha dan berusaha membuang-buang waktu, mereka akan tersisih dengan sendirinya.  Ada atau tidak mereka di kantor, sama saja.

Bukankah dengan memaksakan diri, apalagi dengan cara-cara yang tidak benar untuk menjadi PNS hanya akan membuang-buang waktu, kesempatan dan uang saja? Negara pun jadi sia-sia menggaji orang yang tidak berguna seumur hidup, bahkan sampai pensiun? Halalkah uang yang mereka terima dan mereka berikan kepada anak istrinya?

Karena itu menurut saya tidak adanya gunanya memaksakan diri menjadi PNS dengan berbagai cara, apalagi menggunakan uang pelicin dan cara-cara yang tidak terhormat lainnya. Lulus jadi CPNS, lalu jadi pecundang, karir tak pernah beranjak naik, jadi mentimun bungkuk istilahnya, untuk apa? Lapangan kerja lain masih terbuka luas.

Mari kita jaga bersama agar seleksi CPNS tahun ini berjalan baik dan benar, tanpa calo, tanpa uang pelicin, juga tanpa beking-membeking. Tentu saja menjadi kewajiban dan tanggung jawab bupati/walikota di daerah masing-masing mengawalnya. Insya Allah jika seleksi dilakukan dengan baik dan benar, akan dipeloreh PNS yang baik dan benar pula. Pada akhirnya mereka nantinya akan menjadi aparat negara yang baik dan mampu menyelesaikan masalah-masalah negara dan mengayomi masyarakat dengan baik pula. (November 2013)

102. Amran Nur dan Sawahlunto

Amran Nur dan Sawahlunto

 

Pertengahan tahun 2000, direktur PT. Bukit Asam (BA) mendatangi saya dengan wajah murung. Ia menyampaikan berita sedih, yaitu  PT. BA UPO (Unit Produksi Ombilin) terpaksa ditutup. PT. BA UPO terus menerus merugi. Biaya operasional kegiatan pertambangan ini terlalu mahal, jauh lebih tinggi dibanding penghasilan yang diperoleh.

Sebagai ketua komisi VIII DPR RI yang salah satu bidang tugasnya adalah energi dan sumberdaya mineral saat itu, saya cukup kaget dan terpukul dengan berita itu. Betapa tidak, Kota Sawah Lunto adalah kota yang denyut kehidupan ekonominya berasal dari tambang batubara Ombilin (PT. UPO). Tak kurang 55.000 jiwa penduduk Kota Sawahlunto baik secara langsung maupun tak langsung menggantungkan kehidupan ekonomi mereka pada kegiatan tambang “emas hitam” ini. Jika sumber ekonomi mereka itu dicabut, bagaimana mereka bisa mencari nafkah untuk bertahan hidup?

Kami lalu membahas masalah ini secara serius dengan stake holders terkait. Kami coba mencari solusi agar PT BA UPO tidak ditutup dan sekitar 55.000 jiwa masyarakat di daerah itu tetap memperoleh sumber mata pencarian.

Namun hasilnya nihil, tak ada pilihan lain, PT. BA UPO tetap harus ditutup. Alternatif yang ada cuma satu, PT. BA UPO ditutup secara bertahap, agar tidak terjadi kepanikan masyarakat Sawahlunto secara keseluruhan. Secara bertahap kegiatan PT. BA UPO dikurangi, dan secara bertahap dilakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) terhadap karyawan PT. BA UPO.

Saya ngeri membayangkan apa yang akan terjadi di Sawahlunto di kemudian hari. Ribuan karyawan di PHK dan kehilangan pekerjaan. Daerah-daerah kering dan tandus terhampar dimana-mana, bekas kegiatan tambang. Kawah-kawah raksasa juga menganga di sejumlah tempat, juga bekas aktfitas tambang. Lahan tersebut menjadi lahan mati, tak bisa lagi digunakan untuk bertani. Sudah terbayang di kepala,  bahwa Sawahlunto akan menjadi kota mati atau kota hantu yang ditinggal pergi oleh penduduknya.

Pada saat genting sepeti itulah Ir. Amran Nur “dipinang” oleh DPRD setempat untuk menjadi walikota.  Putra asli Talawi Sawahlunto lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berkarir di sektor swasta di Jakarta dan lama tak pulang ke kampung ini juga tersentak melihat kondisi Sawahlunto saat itu. Sawahlunto yang dulu mengalami kejayaan sejah zaman pemerintahan Belanda (1888), kini segera akan menjelma menjadi kota hantu.

Singkat cerita Ir. Amran Noer bersedia menjadi walikota Sawahlunto dan bertekad ingin berbakti untuk kampung halamannya tersebut, meski pada awalnya ditentang oleh pihak keluarganya sendiri. Ia resmi dilantik menjadi Walikota Sawahlunto tahun 2003.

Apa yang dikuatirkan itu, ternyata memang terjadi. Ribuan masyarakat mulai meninggalkan daerah ini, pindah ke daerah lain untuk memperbaiki  ekonomi mereka, mencari penghidupan baru. Penduduk Sawahlunto menurut data statistik berjumlah sekitar 55.000 jiwa pada tahun 1995, menyusut drastis menjadi sekitar 50.000 jiwa pada tahun 2000 dan terus menyusut di tahun-tahun berikutnya.

Karena itu Walikota Amran Nur memberi motivasi kepada masyarakat agar tidak putus asa dan tidak meninggalkan Sawahlunto. Boleh saja  usaha tambang batubara tak lagi menghasilan uang, tapi bekas tambang batubara masih bisa menghasilkan uang. Caranya adalah dengan menjadikan bekas tambang yang penuh sejarah beserta semua komponen yang menyertainya itu menjadi objek wisata.

Lubang tambang Suro lalu dipoles dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas sehingga menarik untuk dikunjungi wisatawan. Begitu juga stasiun kereta api dimodifikasi menjadi museum kereta api terbaik kedua di Indonesia setelah Ambarawa. Bangunan-bangunan unik peninggalan Belanda yang  berumur lebih dari seratus tahun direnovasi sehingga menarik bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Bagi masyarakat yang lingkungannya berpotensi sebagai objek wisata, pemda memberikan stimulan berupa dana untuk memperbaiki lingkungan mereka tersebut secara mandiri. Sedangkan investor yang ingin menanamkan modal di daerah ini baik di bidang perdagangan, perhotelan dan pariwisata, diberikan berbagai kemudahan sebesar-besarnya.

Bagi masyarakat yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan diberikan bantuan stimulan berupa bibit coklat, pupuk atau bibit ternak.  Untuk memperlancar aktifitas pertanian juga dibangun jalan-jalan ke lokasi tani yang diberi nama jalan 10 menit. Petani diberikan julukan pengusaha tani, untuk meningkatkan semangat dan rasa percaya diri mereka.

Kawah yang menganga dijadikan danau buatan, lalu dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata. Sebagian lahan gersang itu juga disulap menjadi arena olehraga dan pacuan kuda.  Alhasil Sawahlunto telah memiliki sejumlah objek rekreasi yang terkenal dan menyedot ribuan pengunjung. Sebut saja Water Boom Muaro Kalaban, atau Kawasan Wisata Kandis yang dikunjungi oleh puluhan ribu sampai ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.

Kekuatiran Sawahlunto menjadi kota hantu hilang sudah. Kini kehidupan ekonomi di kota berdiri sejak tahun 1888 itu  kembali bergairah, baik di bidang pariwisata, perdagangan, maupun pertanian. Jumlah penduduk Sawahlunto yang sebelumnya sempat menurun drastis akibat eksodus, kembali  normal dan cendrung terus meningkat. Kemajuan juga dirasakan di bidang kesehatan, pendidikan, agama dan budaya.

Inovasi dan terobosan yang dilakukan Walikota Sawahlunto  beserta perangkat daerah setempat tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, baik swasta maupun pemerintah. Atas prestasinya, majalah TEMPO bulan Desember 2012 memberikan penghargaan kepada  Ir. Amran Nur sebagai 7 Walikota Pilihan di Indonesia (Bukan Walikota Biasa). Ia juga mendapat sejumlah penghargaan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kemiskinan dan pengangguran di Sawahlunto terendah dibandingkan kota/kab lain se Sumatera Barat.

Untuk memacu percepatan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kita memang butuh pimpinan daerah (bupati dan walikota) yang campin, inovatif dan penuh dedikasi  seperti Amran Nur. Melihat semangat dan fenomena yang ada, saya yakin umumnya bupati/walikota yang  memimpin  kota/kabupaten di Sumatera Barat saat ini adalah orang-orang pilihan, yang juga memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Buktinya, prestasi mereka telah banyak bermunculan ke permukaan. Masing-masing kota dan kabupaten berlomba-lomba menunjukkan prestasi. Kita berharap dan yakin prestasi itu terus berlanjut.

Bagi kota dan kabupaten yang segera akan melakukan pemilihan walikota/bupati. Sebaiknya  pilihlah pemimpin yang memang memiliki kemampuan untuk memimpin dan berinovasi. Seperti hadits Nabi, apabila jabatan disia-siakan dan suatu jabatan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah kehancuran.  Pemimpin yang baik akan membawa kemaslahatan bagi umatnya, sebaliknya pemimpinan yang tidak baik akan membawa kehancuran. (Juli 2012)

103. Tahun Baru

Tahun Baru

 

Waktu cepat berlalu. Rasanya belum terlalu lama kita berada di tahun 2012, kini kita segera menutup lembaran tahun 2012,  lalu memasuki tahun 2013. Seperti kata peribahasa; orang-orang yang lalai akan tergilas oleh waktu.

Yang sangat menyolok, hampir semua bank melakukan tutup buku, tidak melayani transaksi untuk sementara sampai awal tahun. Begitu juga sejumlah perusahaan-perusahaan dan sejumlah instansi. Tutup buku, merupakan langkah penting bagi sebuah perusahaan, terutama perbankan.  Saat itu mereka menghitung semua transaksi yang  dilakukan selama setahun, baik transaksi berupa uang masuk, maupun transaksi uang keluar. Dengan demikian bisa diketahui kinerja sebuah bank/perusahaan apakah mereka berhasil memperoleh keuntungan, atau malah merugi.

Dari hasil evaluasi ini bisa disimpulkan apa yang harus dilakukan tahun berikutnya. Jika perusahaan merugi, maka bisa diambil beberapa tindakan apakah perusahaan tersebut harus dibubarkan, atau masih bisa dipertahankan dengan sejumlah perbaikan. Jika perusahaan beruntung, tentu bisa dilakukan upaya-upaya di tahun berikutnya agar keuntungan yang diperoleh lebih besar lagi, serta mengembangkan dan memperbanyak kegiatan-kegiatan yang mendatangkan keuntungan.

Jika diamati, kegiatan akhir tahun yang dilakukan perusahaan-perusahaan profesional ini sangat menarik dan juga bisa dilakukan secara pribadi atau di masing-masing rumah tangga. Secara pribadi kita bisa melakukan tutup buku di setiap akhir tahun. Sediakan waktu sehari atau dua hari untuk melakukan evaluasi pribadi. Apakah selama setahun yang telah berlalu kita telah melakukan hal-hal  yang baik dan bermanfaat atau sebaliknya. Silahkan hitung juga manakah yang lebih banyak, melakukan hal-hal yang bermanfaat atau hal-hal yang menimbulkan mudarat.

Evaluasi pribadi bisa dilakukan seperti  yang dilakukan perbankan atau perusahaan profesional, sejauh mana keuntungan yang diperoleh tahun lalu? Seberapa banyak kita telah melakukan hal-hal  positif dan bermanfaat, mana yang lebih banyak dibandingkan dengan hal-hal yang menimbulkan mudarat? Jika anda seorang karyawan, silahkan dievaluasi apakah anda telah melakukan pekerjaannya dengan baik dan berprestasi? Jika  anda seorang kepala rumah tangga, apakah anda telah melaksanakan kewajibannya terhadap istri dan anak-anak anda dengan baik? Jika ia seorang pejabat, apakah ia telah menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya dengan baik? Dan seterusnya sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing

Lalu lakukan evaluasi, lakukan perubahan dan perbaikan agar hal-hal bermanfaat bisa kita lakukan lebih optimal di tahun depan. Tentu jika evaluasi kita lakukan secara rutin, lalu melakukan perbaikan atas segala kesalahan dan kelemahan di tahun lalu maka tentu, kita menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya, lalu menjadi lebih baik lagi di tahun berikutnya dan seterusnya.

Waktu terus terus berlalu, dan cepat berlalu tanpa terasa. Seperti firman Allah dalm surat Al Ashr; “Demi masa. Sesungguhnya  manusia itu benar-benar dalam kerugian.”  Maksudnya orang yang menyia-nyiakan waktu adalah orang yang benar-benar merugi. Kita semua tentu paham dan bahkan telah merasakan kebenaran firman Allah tersebut. Banyak bukti yang menunjukkan kebenaran ayat itu dari zaman dulu kala, hingga saat ini.

Sebuah koran terbitan Jakarta melaporkan diperkirakan ada puluhan triliun rupiah uang yang beredar saat ini, uang tersebut disediakan khusus oleh masyarakat untuk menyambut tahun baru.  Hal itu tidak mengherankan, karena jika rata-rata Rp 10.000 saja setiap  orang di Indonesia mengeluarkan uang ekstra untuk tahun baru, maka total jumlahnya mencapai  Rp 2,45 triliun, dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia di akhir 2012 berjumlah 245 juta jiwa. .

Mensyukuri rahmat yang telah kita peroleh selama tahun 2012 tentu boleh-boleh saja.  Namun tentu tidak dengan cara berpesta pora dan pemborosan di saat negara kita berada dalam masa-masa sulit seperti saat ini, serta  menyia-nyiakan waktu yang sangat bermanfaat. Mari melakukan evaluasi agar kita bisa menjadi lebih baik serta hidup bahagia, dunia dan akhirat. (Desember 2012)

104. Yunnan

Yunnan

Baru-baru ini saya didatangi oleh reporter dan crew CCTV (China Central Television). Mereka ingin wawancara tentang adat dan budaya masyarakat Sumatera Barat (masyarakat Minang).  Salah satu topik yang sangat menarik bagi mereka adalah pola kekerabatan matrilineal (keturunan berdasarkan garis ibu) yang dianut oleh masyarakat Minang.

CCTV adalah salah satu stasiun TV terbesar di China. Selain memiliki stasiun pemancar yang cukup luas dan memiliki cukup banyak penggemar di China, perusahaan broadcasting ini juga memiliki saluran TV kabel. CCTV banyak membuat liputan profil keunikan berbagai suku bangsa dan traveling (liputan perjalanan) ke berbagai belahan dunia.

Lalu kenapa pola matrilineal menarik bagi mereka? Tak banyak suku bangsa di dunia yang menganut pola kekerabatan matrilineal, di antara sekian yang langka dan unik itu adalah Suku Minang. Umumnya etnik masyarakat di Indonesia menganut pola patrilineal (garis keturunan berdasarkan bapak), khusus etnik Minang menganut pola matrilineal (garis keturunan berdasarkan ibu).

Namun ternyata di China, persisnya di provinsi Yunnan terdapat kelompok masyarakat  yang juga menganut pola kekerabatan matrinial yang langka di dunia tersebut. Etnik tersebut memang termasuk etnik minoritas dan unik di Yunnan. Mereka juga memiliki arsitektur atap bangunan yang berbeda dengan bangunan lainnya di China. Konstruksi atap rumah mereka cendrung berbentuk melengkung-lengkung, juga dilengkapi dengan seni ukiran, berbeda dengan konstruksi atap rumah lainnya di China yang umumnya membentuk  garis lurus. Konstruksi ini agak mirip dengan konstruksi rumah gadang di Minang.

Selain itu menurut reporter CCTV tersebut, di Yunnan juga terdapat sebuat danau yang diberi nama Danau Minanga. Di sana juga terdapat masakan khas yang mirip rendang, meski  rasanya sedikit berbeda. Pola migrasi (merantau) dan kecendrungan masyarakat Minang yang suka berdagang juga makin membuat reporter CCTV tersebut masih bersemangat untuk menggali teka-teki yang tersembunyi. Dari manakah asal-usul masyarakat Minang sesungguhnya? Apakah ada hubungan antara Minang dan Yunnan?

Menurut para ahli berdasarkan sejumlah bukti fosil, di zaman prasejarah (sekitar 1 juta tahun lalu) telah hidup nenek moyang bangsa Indonesia yaitu Homo erectus di berbagai pelosok pulau di Indonesia, termasuk Sumatera Barat. Sesuai perjalanan waktu spesies ini berevolusi menjadi Homo sapiens (manusia modern). Menurut teori ini, spesies  inilah yang berkembang biak di Indonesia, dan berinteraksi dengan berbagai suku bangsa  yang datang ke Indonesia.

Prof. Muhammad Yamin berpendapat serupa, menurutnya itulah asal mula nenek moyang etnik Minangkabau. Maksudnya suku Minang asli berasal dari daerah Sumatera Barat sendiri, bukan dari daerah lain.

Namun sekelompok ahli lain berpendapat suku Minang berasal dari etnik Detro Malay (melayu muda) yang berimigrasi dari daratan Asia, China Selatan. Kelompok inilah yang kemudian berkembang di Malaysia, Filipina, dan sejumlah negara lain menjadi kelompok rumpun Melayu. Namun etnik Minang berbeda dan agak unik karena menganut pola matrilineal. Namun ada juga para ahli yang berpendapat etnik Detro Malay berimigrasi dari Taiwan.

Zaman dan waktu memang terus berputar dan berubah. Masuknya bangsa Arab dan India untuk tujuan berdagang membuat terjadi interaksi antara penduduk asli Indonesia dengan pendatang. Begitu juga dengan masuknya invasi bangsa Portugis, Inggris, Belanda dan sebagainya juga berpengaruh terhadap bangsa Indonesia, termasuk etnik Minang.  Karena itu tidak heran jika wajah orang Minang, ada yang putih seperti orang China, cendrung gelap seperti orang Arab atau India atau berwajah bule seperti orang Eropa.

Dari mana sesungguhnya asal-usul suku Minang dan bagaimana sejarah kehadiran dan perkembangannya, memang banyak pendapat para ahli dengan alasan dan bukti sejarah yang dikemukakan masing-masing. Hal ini selalu menarik untuk bahan diskusi.  Namun yang pasti semua khasanah itu menjadi kekayaan,  kekuatan serta pelajaran untuk kemajuan di masa datang.

Dalam surat Al Hujurat ayat 13 Allah berfirman : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.( April 2013)

105. Ketahanan Pangan

Ketahanan Pangan

 

Menyimak fenomena yang terjadi saat ini, nampaknya Perang Dunia tak lagi merupakan ancaman  paling utama di abad ini, maupun abad mendatang. Di abad sebelumnya, perang dunia memang merupakan ancaman paling menakutkan. Negara-negara maju berlomba-lomba  membuat senjata canggih pemusnah massal agar bisa menjadi negara super power penguasa dunia.

Negara-negara maju seperti unjuk gigi memiliki senjata nuklir yang sekali pencet tombol bisa menghancurkan sebuah pulau dan membunuh jutaan orang. Senjata itu mereka namakan  ICBM (intercontinental balastic missile), peluru kendali antar benua. Senjata kimia dan biologis pun ikut diriset dan dikembangkan agar bisa menjadi senjata pembunuh massal yang ampuh.  Blok Barat ingin memusnahkan blok Timur, demikian juga sebaliknya. Negara-negara non blok juga tak mau ketinggalan.

Namun kini topik tersebut seperti terlupakan, perang dingin antara Timur dan Barat telah mencair. Perlombaan senjata tak lagi menjadi topik utama. Topik beralih menjadi masalah ketersediaan pangan dunia. Ancaman terbesar penduduk dunia saat ini adalah ketersediaan pangan bagi penduduk dunia yang telah mencapai  5 miliar jiwa lebih. Penduduk dunia terus bertambah, sedangkan lahan pertanian terus berkurang. Apalagi perubahan iklim global yang ekstrim, ikut menyebabkan menurunnya kuantitas maupun kualitas produksi  pangan.

Ketersediaan pangan menjadi masalah krusial di negara manapun di dunia, masalah pangan telah dianggap menjadi masalah keamanan . Di Indonesia dikenal dengan istilah ketahanan pangan, di tingkat internasional gencar dibahas masalah food security. Gangguan terhadap ketersediaan pangan memang telah terbukti berdampak terhadap keamanan, ekonomi  bahkan politik suatu negara. Contohnya di negara kita, kurangnya pasokan kedelai saja misalnya, bisa menjadi topik hangat yang dibahas sampai ke tingkat nasional.

Menurut cacatan organisasi pangan dan pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa  (PBB), FAO (Food and Agriculture Organisation), hingga hari ini masih terdapat 826,6 juta penduduk dunia yang masih bertarung dengan kelaparan. Ini berarti, saat ini saja, hampir seperlima penduduk dunia masih dalam keadaan rawan pangan dan kelaparan. Jumlah ini diperkirakan terus akan bertambah secara pesat seiring dengan perjalanan waktu. Karena itu perlu dilakukan uapaya serius untuk mengatasi masalah tersebut.

Peduli dengan kenyataan ini, Organisasi Pangan dan Pertanian- Perserikatan Bangsa Bangsa (FAO – UN) menggagas untuk melaksanakan peringatan Hari Pangan Sedunia. Ide tersebut muncul pada konferensi  umum ke 20 FAO bulan November 1979. Lalu sejak tahun 1981 dilakukan peringatan Hari Pangan Sedunia dan hari lahir FAO tanggal 16 Oktober (1945) dipakai sebagai tanggal diperingatinya Hari Pangan Sedunia (HPS). Kini, HPS diperingati secara bersamaan di lebih dari 150 negara di dunia yang memiliki kepedulian yang sama.

Lalu apa yang harus kita lakukan, terutama di Sumatera Barat? Secara sederhana ada tiga langkah yang perlu dilakukan. Langkah tersebut adalah, serius mengembangkan usaha pertanian dan peternakan, terutama penghasil pangan. Kedua adalah penghematan dan efisiensi pangan. Langkah ke tiga adalah diversifikasi pangan.

Ke tiga langkah tersebut juga telah diprogram dan didukung oleh pemerintah secara nasional, tinggal keseriusan kita melaksanakan.  Tentu kita berharap program tersebut berjalan sukses di Sumatera Barat agar kebutuhan pangan bisa tercukupi, agar tidak ada kelaparan karena kekurangan pangan di ranah tercinta ini. Bahkan kita berharap Sumbar bisa berbuat lebih baik lagi, sebagai salah satu lumbung pangan di Indonesia.

Mari kita jadikan peringatan HPS di Sumatera Barat tahun ini sebagai momentum untuk menjadi lumbung pangan terbaik di Indonesia. Langkah tersebut selain berdampak positif terhadap keamanan dan kenyamanan kehidupan masyarakat Sumatera Barat, tentu saja juga berdampak meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat. Insya Allah jika kita serius, pasti kita bisa. (November 2013)

106. Keteladanan dari Pak Pandoe

Keteladanan dari Pak Pandoe

 

Mata H. Zuraida, istri mendiang H. Marthias D Pandoe terlihat masih merah ketika saya datang takziah ke rumah duka di Jalan Karet kawasan Purus Padang. Ia terharu dan matanya terlihat berkaca-kaca menyambut kedatangan kami, Minggu (11/05/2014) siang. “Barusan mantan Gubernur Sumbar Ir. Azwar Anas dan Drs. Hasan Basri Durin menelpon menyampaikan ucapan belasungkawa,” ujarnya.

Alm. H. Marthias Dusky Pandoe atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Pandoe memang terkenal dekat dan akrab dengan pimpinan-pimpinan daerah dan tokoh-tokoh Sumatera Barat. Beliau banyak memberi masukan dan nasehat-nasehat. Termasuk mencarikan solusi untuk sejumlah masalah yang dihadapi Sumatera Barat. Karena itu beliau sangat dekat dengan kepala-kepala daerah dan tokoh-tokoh Sumatera Barat.

“Bapak wataknya memang keras,” ujar Ny.Zuraida. Karena itu saat menelpon tadi, beliau mohon  Pak Azwar Anas, Pak Hasan Basri Durin atau siapapun yang pernah berkomunikasi dengan beliau berkenan memaafkan jika ada kata-kata almarhum yang tidak berkenan atau menyinggung perasaan.

Sebagian besar hidup Pak Pandoe dijalaninya dengan profesi sebagai wartawan. Beliau telah menjalani profesi wartawan di berbagai media di Jakarta dan terakhir, hampir tiga puluh tahun, berkarir sebagai wartawan Kompas, sejak tahun 1970 hingga pensiun tahun 1998. Karena itu tidak heran jika watak beliau keras dan kritis.

Namun uniknya, meski terkenal keras dan kristis dan suka blak-blakan, beliau tidak mengajak bermusuhan atau cendrung tidak bermusuhan dengan siapapun. Beliau malah selalu menjalin silaturahmi, memperbanyak persahabatan serta membangun jaringan. Karena itu beliau memiliki banyak teman dan jaringan, baik di daerah maupun di pusat.

Sifat-sifat beliau yang lain yang bisa diteladani adalah pekerja keras dan pantang menyerah.  Meski tak memiliki pendidikan tinggi dan juga tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik, namun mampu dan sukses berkarir di bidang jurnalistik. Lelaki yang lahir di LawangMaturAgam10 Mei 1930 ini menggali ilmu jurnalistik secara otodidak dan selalu haus membaca berbagai buku. Di penghujung usianya ia masih tetap rajin membaca dan menulis dan bahkan menerbitkan beberapa buah buku.

Keistimewaan Pak Pandoe lainnya menurut saya adalah panjang umur. Beliau meninggal dunia persis sehari menjelang ulang tahunnya ke 84. Usia 84 tahun adalah sebuah rahmat Tuhan yang luar biasa. Saat ini sangat jarang kita temukan masyarakat kita yang berumur panjang seperti beliau, malah sebaliknya sering kita terkaget-kaget karena banyak sekali masyarakat kita yang meninggal dunia di usia yang relatif muda.

Dalam memimpin keluarga pun beliau terbilang sukses. Perkawinan beliau langgeng sampai akhir hayatnya, melewati ulang tahun emas perkawinan. Putra-putri beliau tergolong sukses meniti karir, sesuai minat masing-masing.  Rata-rata mereka berhasil mencapai puncak karirnya. Putri kedua beliau Eva Pandoe berhasil menyandang gelar dokter spesialis paru-paru dan bekerja di RS. Pelni di Jakarta. Yudha Pandu bekerja sebagai konsultan Hukum di Jakarta dan Ferad Pandoe menjabat kepala cabang Astra Auto 2000 di Batam. Sedangkan Zola Pandoe dan Andre Pandoe berkarir sebagai pengusaha yang cukup sukses.

Setelah pensiun beliau tak mau berpangku tangan dan menyerah kepada keadaan, beliau tetap menulis dan membaca. Beliau juga mengisi kebutuhan rohaninya dengan memperbanyak aktifitas di mesjid. Oleh masyarakat di sekitar Jalan Karet beliau diangkat menjadi Ketua Pengurus Masjid Al Hidayah yang tak jauh dari kediamannya. Menurut beliau kebiasaan membaca dan menulis itulah yang membuat beliau tidak pikun dan ingatannya tetap tajam. Sedangkan kegiatan di masjid membuat beliau tetap bersemangat meski umur terus beranjak tua.

Banyak sisi baik dan kisah sukses Pak Pandu yang bisa menjadi teladan bagi kita yang ditinggalkan.  Selain menjadi teladan bagi kita yang ditinggalkan, semoga semua kebaikan itu menjadi amal ibadah dan bekal bagi beliau di akhirat kelak. Pak Pandu telah membuktikan integritas dirinya sebagai wartawan yang sukses, kehidupan diri dan keluarganya yang berkah, bermanfaat dan berdaya guna. Selamat jalan Pak Pandu, semoga hari Jum’at dan keteladanan yang anda tunjukkan menjadi pertanda bahwa anda kembali kepangkuanNya dalam keadaan husnul  khotimah. Amin YRA. (Mei 2014)

107. Pahlawan

Pahlawan

 

Dulu, di zaman sebelum Indonesia merdeka tak pernah terbayang kehidupan seperti saat ini. Pemandangan umum yang terlihat saat itu adalah wajah-wajah tirus, kurus, dengan pakaian kasar dan kumal. Tubuh kerempeng dan perut agak membuncit karena kekurangan gizi, adalah pemandangan umum yang jamak terlihat di mana-mana. Beras, makanan dan pakaian sulit didapat.

Jangankan bepergian dengan pesawat udara , sepeda pun menjadi barang langka yang dimiliki masyarakat kala itu. Bisa dihitung dengan jari jumlah masyarakat yang memiliki sepeda, apalagi sepeda motor atau mobil. Jalan antar kota dan kabupaten nyaris tak ada, jika ada itupun baru  berupa jalan tanah rintisan Belanda dengan lubang besar menganga seperti kawah gunung merapi dimana-mana.

Kini kita telah merdeka dan zaman sudah berubah. Jenis makanan atau pakaian apapun yang kita butuhkan, tersedia dan bisa diperoleh di banyak tempat. Jika ingin berpergian, tak perlu kuatir, antar kabupaten dan kota telah terhubung dengan jalan raya mulus beraspal hot mix. Bus umum juga tersedia setiap saat, bahkan bus umum dengan air conditioner (AC)  pun juga banyak tersedia.

Dulu, sebelum Indonesia  merdeka, perjalanan ke Jakarta hampir tak mungkin bisa dilakukan oleh masyarakat umum. Kini perjalanan ke mana saja bisa dilakukan dengan mudah dan masyarakat umum lumrah melakukannya, baik melalui darat, laut dan udara. Kini, banyak masyarakat kita yang pagi berangkat ke Jakarta, lalu belanja barang dagangan di Tanah Abang, sore balik lagi ke Padang. Bahkan perjalanan ke luar negeri pun bisa dilakukan dengan mudah, melalui penerbangan langsung (direct flight) yang juga sudah tersedia. Bandara selalu penuh sesak oleh masyarakat dari berbagai lapisan yang ingin bepergian. Alhamdulillah, sungguh luar biasa perubahan yang terjadi.

Pasca  tahun 1945 kita telah berada di alam kemerdekaan, di sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Masih ada negara di belahan bumi lain sana yang masih berjuang  mati-matian untuk bisa merebut kemerdekaan dan masih banyak masyarakat di belahan bumi lain yang masih berjuang agar tak mati sia-sia karena kemiskinan dan kelaparan.

Tentu rasa terimakasih dan hormat yang sedalam-dalamnya kita sampaikan kepada mereka yang telah rela berjuang dengan mengorbankan harta, benda bahkan nyawa sekalipun  agar Indonesia bisa merdeka, terlepas dari belenggu penjajahan, seperti saat ini.  Mereka adalah pahlawan yang jasanya akan selalu dikenang sepanjang masa dan pahala terus mengalir baginya tiada henti.  Rasa syukur kita persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa  yang merestui semua perjuangan dan doa masyarakat Indonesia untuk merdeka.

Jika dibandingkan dengan sejumlah negara yang tertinggal dan terbelakang, Indonesia saat ini memang sudah lebih baik. Namun jika dibandingkan negara-negara yang lebih maju, negara kita masih tertinggal jauh.  Sebagai manusia, tentu kita ingin lebih baik dan terus lebih baik. Indonesia masih perlu berbenah diri. Masih banyak masalah yang harus dibenahi dan diselesaikan. Kita masih sangat membutuhkan pahlawan dan pejuang.

Tentu saja konteks pejuang dan pahlawan zaman pra kemerdekaan dan masa kini berbeda meski pada prinsipnya sama. Pahlawan masa kini secara sederhana mungkin  bisa didefinisikan sebagai orang yang melakukan sesuatu kebaikan (berjasa) untuk kepentingan orang lain/orang banyak secara ikhlas. Sedangkan pejuang masa kini secara sederhana bisa didefinisikan sebagai orang yang melakukan inovasi/perubahan yang bermanfaat untuk orang banyak/ masyarakat luas.

Karena itu guru yang mengajar secara tulus dan ikhlas sehingga bermanfaat bagi masyarakat  banyak, ia sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Orang yang melakukan inovasi/perubahan melawan korupsi bisa dikatakan sebagai pejuang perlawanan terhadap korupsi. Orang yang melakukan inovasi menemukan listrik di suatu daerah terpencil yang belum memiliki listrik diagungkan oleh masyarakat setempat sebagai pejuang pembangunan. Bagi mereka ridho dari Tuhan lebih dari sekedar tanda jasa. Banyak hal lain yang bisa dijadikan contoh.

Kini, banyak hasil penelitian lembaga internasional yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki prospek masa depan yang cerah. Negara-negara maju di dunia saat ini  banyak menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang negatif, di Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.  Kini  Indonesia menempati peringkat 10 besar pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia, saat ini terdapat 50 juta keluarga  penduduk kelas ekononomi menengah di Indonesia dan dalam waktu yang tidak terlalu lama diperkirakan jumlahnya akan menjadi 150 juta keluarga. Indonesia menuju negara maju tinggal selangkah lagi.

Agaknya di sinilah letak perjuangan yang harus kita lakukan. Jika dulu di zaman perjuangan kemerdekaan ada semboyan merdeka atau mati, maka kini pilihannya adalah menjadi negara maju atau tertinggal? Menjadi pemenang atau pecundang. Kita butuh banyak pahlawan dan pejuang untuk melakukan langkah penting yang tinggal selangkah lagi. Apakah kita termasuk dalam barisan pahlawan dan pejuang masa depan itu? Ayo kita lakukan, jangan berpangku tangan, mari turut serta menjadi pahlawan-pejuang dan pembuat sejarah! (Agustus 2014)

108. S t r o k e

S t r o k e                         

Ia seorang tokoh yang sangat disegani di daerahnya. Ia seorang mantan walinagari yang sarat dengan prestasi.  Berkali-kali pemilihan walinagari, selalu saja dia yang terpiih dan mendapat amanah. Lebih dari separuh umurnya ia dedikasikan sebagai walinagari di sebuah nagari yang dulunya sangat tertinggal.

Jumat pagi, pertengahan bulan lalu saya mendapat kabar bahwa Pak Wali, begitu ia biasa dipanggil, telah dipanggil ke pangkuan Allah SWT. Ia meninggal dunia setelah mengalami koma dan dirawat secara intensif selama 27 hari di Rumah Sakit khusus stroke Bukittinggi.  Ia memang sebelumnya telah mengalami gejala stroke dan lalu mencapai puncaknya hari itu.

Padahal sehari sebelumnya kami juga berkunjung ke RS M Djamil Padang, membezuk suami seorang teman yang juga terkena penyakit stroke.  Dulunya ia adalah seorang wiraswasta yang sukses. Dari hasil usahanya ia bisa hidup dengan dengan layak dan nyaman. Namun sejak mengalami stroke beberapa tahun lalu, ekonomi keluarganya lumpuh, sepanjang hari ia hanya bisa berbaring tak berdaya  di tempat tidur.

Entah hanya kebetulan, atau memang sebuah fenomena, sore itu sebuah sms berisi berita mengejutkan masuk melalui hand phone. Isinya memberitahu bahwa seorang teman lagi,  juga masuk rumah sakit karena mengalami stroke! Ada apa dengan stroke?

Menurut catatan Dinas Kesehatan, jumlah kasus penyakit stroke memang cukup menyolok di Sumatera Barat. Beberapa tahun belakangan jumlah penderita stroke di Sumbar meningkat 4 kali lipat dari sebelumnya. Penyakit ini muncul akibat gaya hidup dan pola makan masyarakat yang tidak sehat.

Penyakit stroke adalah gangguan fungsi otak akibat aliran darah ke otak mengalami gangguan/berkurang. Akibatnya, nutrisi dan oksigen yang dbutuhkan otak tidak terpenuhi dengan baik. Stroke bisa disebabkan oleh adanya sumbatan di pembuluh darah, atau akibat adanya pembuluh darah yang pecah.

Pola makan, ternyata masalah inilah penyebab utama masalah tersebut, terutama di Sumatera Barat. Pola makan masyarakat Sumatera Barat yang banyak mengandung lemak menyebabkan sejumlah penyakit yang tergolong kelompok penyakit degeneratif tersebut cenderung banyak ditemukan.

Kelompok penyakit degeneratif lain yang banyak terjadi dan menjadi penyebab kematian terbanyak di Sumatera Barat diantaranya adalah stroke, diabetes melitus, dan jantung koroner.

Penyakit degeneratif adalah penyakit yang muncul seiring dengan pertambahan usia karena menurunnya fungsi-fungsi tubuh. Di saat memasuki usia lanjut (usia di atas 50 tahun), umumnya terjadi penurunan fungsi-fungsi tubuh manusia. Tubuh tak mampu lagi menetralisir atau memanfaatkan lemak atau gula yang masuk ke dalam tubuh sebagaimana mestinya. Akibatnya lemak atau gula tersebut tidak termanfaatkan, menumpuk dalam tubuh, lalu menjadi racun dan pemicu timbulnya sejumlah penyakit.

Lebih parah lagi, umumnya masyarakat mencapai kehidupan yang mapan pada usia tersebut (usia di atas 50 tahun). Karena ekonominya mulai mapan, ia bisa membeli apa saja yang ia inginkan, termasuk membeli makanan yang serba enak. Namun tanpa disadari jumlah yang ia makan telah melebihi kebutuhan dan kemampuan tubuhnya mengolah dan memanfaatkan makanan tersebut. Akibatnya, muncullah berbagai penyakit degeneratif tadi.

Meski baru sekarang sangat dirasakan dampaknya, namun sejak lebih dari 1400 tahun lalu Nabi Muhammad SAW  telah mengingatkan agar manusia mengendalikan pola makannya. Nabi mengingatkan agar Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.

Dalam konsep bernegara, pola makan juga menimbulkan masalah besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 jiwa, ketersedian pangan menjadi masalah besar, terutama ketersediaan beras yang berfungsi sebagai makanan pokok. Pemerintah bersama masyarakat petani harus pontang panting bekerja keras agar kebutuhan beras nasional bisa terpenuhi.

Sangat besar dana yang terkuras untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Pemerintah memberikan subsidi dan meluncurkan berbagai program agar produksi beras terus meningkat. Selain itu setiap tahun harus diimpor sekitar 136.000 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat. Tentu sangat miris jika kerja keras petani dan dana besar yang dihabiskan itu justru bukan untuk membuat masyarakat bisa hidup sehat dan produktif, tapi malah membuat mereka sengsara akibat  sakit stroke, diabetes, jantung dan sebagainya.

Karena itu mari kita kontrol pola makan kita agar devisa negara yang yang selama ini tersedot untuk memenuhi kebutuhan pangan bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih produktif. Secara pribadi, tentu saja hidup sehat dan mencegah sakit adalah pilihan terbaik.

Caranya cukup mudah, mengatur pola makan baik jenis makanan yang dimakan maupun jumlahnya, berolahraga, mengikuti anjuran Nabi atau berpuasa. Berpuasa Senin Kamis, berpuasa Nabi Daud, atau berpuasa sesuai anjuran agama masing-masing, adalah pilihan terbaik, karena selain bermanfaat untuk kesehatan juga sebagai ibadah. (Agustus 2014)

109. Peran Penghulu

Peran Penghulu

 

Sewaktu menghadiri acara malewakan/batagak gadang kaum suku panyalai kepada Dedy Edwar, SE, MM, Datuak Panduko Rajo di Padang Pariaman 16 Oktober 2011 lalu, ketua umum pucuk pimpinan LKAAM Sumbar, Drs. M. Sayuti Dt. Rajo Penghulu, MPd menyampaikan bahwa penghulu adalah andiko dari sebuah kaum. Andiko adalah raja bagi kemenakannya. Sebagai rajo pangulu fungsinya menjadi kepala pemerintahan dalam kaumnya. Penghulu berperan sebagai pemimpin bagi sukunya, sekaligus sebagai hakim, dan juga pendamai di dalam kaumnya.

Lebih lanjut ketua LKAAM Sumbar menyatakan bahwa seorang penghulu juga menjadi jaksa, dan menjadi pembela dalam setiap perkara yang dihadapi kaumnya. Seorang penghulu wajib mengurus segala yang berhubungan dengan kepentingan kesejahteraan dan keselamatan anak kemenakannya.

Penulis berpikir, jika saja faktanya seperti yang disampaikan ketua LKAAM Sumbar tersebut, maka berbagai persoalan yang ada di masyarakat Sumbar insya Allah bisa diselesaikan dengan baik. Peran penghulu menjadi sangat vital dan strategis. Penghulu yang mampu berperan maksimal bagi kaumnya akan mengurangi peran polisi dan aparat hukum, bahkan kepala daerah sekalipun. Penghulu adalah mamak bagi kemenakannya.

Mayoritas rakyat Sumbar bisa dipastikan memiliki mamak. Maka berbagai persoalan yang terjadi seharusnya bisa dituntaskan oleh mamak tersebut. Namun demikian, ada berbagai faktor yang mempengaruhi masalah seperti ini, di antaranya arus informasi global yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Anak kemenakan, beberapa di antaranya, sudah tidak mengakui keberadaan mamak, di antaranya karena mamaknya hanya berpendidikan rendah dibanding kemenakan atau kapasitas mamak yang tidak bisa mengimbangi posisinya sebagai penghulu.

Ada anak kemenakan yang berpikir untuk maju dan sukses di era modernisasi adalah dengan meninggalkan adat dan budaya. Namun hal ini jelas tidak benar. Karena ketika ia meninggalkan adat dan budayanya maka ia akan kehilangan identitas dirinya. Dan ia pun tidak bisa menempatkan dirinya ketika tidak jelas identitas dirinya. Oleh karena itu peran adat dan budaya diperlukan untuk menjelaskan identitas diri anak kemenakan.

Penghulu memiliki peran yang mulia yaitu memimpin di atas garis kebenaran. Di samping itu ia juga bertugas menjaga anak kemenakannya agar dalam kehidupan tidak melenceng dari ajaran agama dan adat. Penghulu juga bertugas menjaga harta pusaka atau ulayat. Peran dan tugas penghulu ini jika dijalankan dengan amanah akan menciptakan suasana yang membawa keadilan dan kesejahteraan bagi kaumnya.

Pemerintah membantu menguatkan peran penghulu ini di antaranya berupa penguatan kelembagaan KAN (kerapatan adat nagari) dan juga penguatan kualitas personal melalui pelatihan dan pembinaan. Di samping itu, pemberian pelajaran adat dan budaya di sekolah-sekolah sangat membantu anak kemenakan memahami adat dan budaya mereka. Dengan demikian akan muncul pemahaman dari anak dan kemenakan tentang adat dan budaya mereka.

Jika penghulu sudah memiliki kapasitas dan kapabilitas, dan anak kemenakan sudah memahami adat dan budaya, maka kepemimpinan penghulu terhadap anak dan kemenakannya akan berjalan efektif. Dan ini sangat membantu tercapainya masyarakat yang sejahtera baik lahir maupun batin.

Penulis meyakini bahwa baik anak kemenakan maupun penghulu menginginkan terciptanya kehidupan yang harmonis dan Islami di lingkungan mereka. Jauh dari perpecahan maupun keburukan lainnya. Ketidakharmonisan dan perpecahan justru membuat kualitas hidup kurang bagus dan merugikan semua pihak.

Oleh karena itu, semakin sadar penghulu dan mampu mengemban tugas dan tanggung jawabnya dengan baik maka akan semakin tercipta kehidupan yang harmoni di Sumbar. Demikian pula, semakin sadar anak kemenakan akan adat dan budaya yang melekat pada dirinya, maka ia akan memiliki jatidiri dan identitas diri sebagai orang Minang. (Oktober 2011)

 

BAB 6  INSPIRASI DI BIDANG OLAHRAGA

110. Sport Tourism

Sport Tourism

Menarik istilah yang digunakan Ibu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, saat membuka secara resmi Tour de Singkarak 2012, Senin (4/6) lalu. Beliau mengatakan tema utama Tour de Singkarak tahun ini adalah sport tourism.

Sport tourism jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia setara dengan kata wisata olahraga. Kira-kira sport tourism pengertiannya adalah kegiatan wisata yang dipadukan dengan kegiatan olahraga, atau berolahraga sambil berwisata atau sebaliknya.

Para ahli membagi sport tourism menjadi dua kategori, yaitu beriwisata sambil menonton pertandingan olahraga dan berwisata sambil mengikuti iven-iven olahraga.

Iven Tour de Singkarak tentu sangat cocok sekali dengan istilah sport tourism. Dengan iven Tour de Singkarak kita harapkan datang berkunjung dengan dua kategori wisatawan sekaligus. Yaitu mereka yang berwisata sambil mengikuti iven balap sepeda dan mereka yang datang berwisata sambil menonton balap sepeda Tour de Singkarak.

Meski Tour de Singkarak (TdS) baru berusia 4 tahun (Tour de France sudah berusia 99 tahun), namun gezah TdS sudah mulai dirasakan. Tahun ini iven TdS diikuti oleh 17 negara selain Indonesia. Ini berarti berita TdS, wajah Sumatera Barat, berikut destinasi wisata daerah ini telah menghiasi media cetak dan elektronik di 17 negara tersebut. Ini adalah sebuah promosi yang luar biasa bagi Sumatera Barat.

Otomatis, iven ini telah berhasil mendatangkan wisatawan ke Sumatera Barat, baik berupa atlet balap sepeda berserta timnya, maupun penonton dan suporter dari masing-masing tim. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan itu diharapkan terus terjadi dan berlipat ganda di tahun berikutnya.

Dari aspek olahraga (sport), juga terjadi peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya tidak satu pun atlet Indonesia yang mampu menempati urutan juara 1, 2 maupun 3. Namun tahun ini beberapa atlet Indonesia telah bermunculan menjadi juara di beberapa etape yang telah dilaksanakan.

Nampaknya atlet-atlet balap sepeda Indonesia tidak ingin membiarkan medali dan hadiah yang disediakan di iven TdS diboyong semua ke luar negeri. Mereka nampaknya telah mempersiapkan diri, berlatih dengan baik dan hasilnya, mereka pun bisa tampil menjadi juara.

Khusus untuk Sumatera Barat, mulai tahun ini sudah ada peserta asal Sumatera Barat yang ikut berlaga di ajang TdS melalui Tuah Sakato Cycling Team. Sebagai pendatang baru tentu kita paham kondisi mereka. Namun kehadiran pembalap Sumbar di ajang bergengsi sekelas TdS sudah merupakan sebuah upaya yang patut dihargai. Jika mereka tekun berlatih dan belajar dari pengalaman selama berlomba di ajang TdS, insya Allah suatu saat mereka juga akan tampil menjadi juara dan jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Selain itu, TdS juga telah memicu Gerakan Kembali Bersepeda di Sumatera Barat mulai menggeliat. Puluhan klub bersepeda mulai bermunculan di Sumatera Barat, baik berupa klub yang menekuni balap sepeda, fun bike maupun mountain bike.  Jumlah mereka terus bertambah dan bertambah. Seiring dengan itu, berbagai iven perlombaan bersepeda juga telah digelar di berbagai kabupaten dan kota. Berbagai lomba ini mendapat sambutan baik dari masyarakat, setiap lomba selalu kebanjiran peserta.

Rasanya, pilihan melaksanakan iven bersepeda di Sumatera Barat sudah sangat tepat. Seperti diungkapkan Ibu Menteri Mari Elka Pangestu, bersepeda bisa dijadikan ajang sport tourism, sambil berolahraga bisa berwisata. Tidak hanya itu, bersepeda juga bisa menghemat bahan bakar minyak yang makin mahal dan makin langka serta mengurangi  kemacetan lalulintas.

Selamat bersepeda! (November 2013)

111. Catatan TdS 2011

Catatan TdS 2011              

Helat besar berkaliber internasional yang  melibatkan 17 negara, Tour de Singkarak, usai sudah. Tak percuma tim utusan negara Timur Tengah Iran jauh-jauh datang ke Sumatera Barat. Kecepatan, ketahanan dan kekuatan fisik para atlet asal negara jazirah Arab ini  mendominasi perolehan medali di setiap etape. Pembalap Iran berhak menyandang  gelar juara umum TdS 2011 dan sejumlah gelar juara lainnya.

Ini untuk yang ketiga kalinya Iran menjadi juara umum. Sejak awal pelaksanaan TDS tahun 2009, 2010 dan terakhir 2011, Iran selalu juara umum.  Sebelumnya Gader Mizbani asal Tabriz Petrochemical Cycling Team, menjadi juara umum TdS 2009 dan 2010. Karena mengalami cedera Gader Mizbani absen di TdS 2011, ia digantikan  Amir Zargari. Amir Zargari dari tim Azad University,  tak menyiakan-nyiakan kesempatan ini, ia menyabet gelar juara umum TdS tahun ini.

Sayangnya pembalap asal Sumatera Barat, tuan rumah TdS, belum mencuat ke permukaan. Termasuk untuk kategori pembalap Indonesia atau peraih Red dan White Jersey. Juara umum untuk kategori ini diraih Agung Alisyahbana (Prima Utama) disusul Hari Fitrianto (Prima Utama) dan peringkat ketiga, oleh Tonton Susanto (Prima Utama).

Semoga tahun depan muncul nama juara dari Sumatera Barat. Hal itu bukan tak mungkin, di arena balap sepeda nama atlet Sumbar pernah mencuat ke tingkat internasional. Malah nama Sumbar mencuat melalui pembalap wanita, yaitu Nurhayati.

TDS 2011 diliput oleh 60 media, baik cetak maupun elektronik. Mereka berasal dari dalam negeri maupun mancanegara. Alhamdulillah hal ini membuat nama Sumatera Barat terangkat ke permukaan. Di berbagai media cetak dan elektronik, baik dalam maupun luar negeri berita TdS mendapat prioritas. Sesuai target, kegiatan TdS terekspos secara luas, termasuk keindahan alam Sumatera Barat. Kita berharap dampak ekspose ini segera menjadi nyata, peluang ekonomi Sumatera Barat menjadi terbuka.

Namun sebaliknya perlu dipersiapkan untuk menyambut peluang yang mulai terbuka. Dari pengamatan kasat mata jelas terlihat bahwa kita masih kekurangan fasilitas penginapan untuk menampung atlet, tim official, wartawan atau wisatawan yang ikut datang meramaikan iven TDS. Sejumlah kota batal dijadikan tempat finish atau atau start TDS karena minim fasilitas penginapan.

Bagi pengelola hotel hal ini merupakan tantangan untuk melengkapi fasilitas hotel mereka dan memperbaiki kualitas pelayanan hotel. Bagi masyarakat, hal ini juga bisa merupakan sebuah peluang untuk menyediakan home stay. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di daerah kita banyak rumah tak berpenghuni karena ditinggal merantau oleh pemiliknya. Rumah-rumah tak berpenghuni Ini berpeluang ditata dan dilengkapi fasilitasnya sehingga layak jadi home stay. Kenapa tidak?

Hal lain yang terasa kurang adalah souvenir. Di sejumlah ujung etape, sejumlah pembalap dan pengunjung tampak berputar-putar, melongok ke sana-sini. Ternyata mereka mencari souvenir khas daerah setempat yang akan mereka bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Padahal banyak sekali souvenir dan oleh-oleh khas Sumatera Barat yang bisa dipajang di ujung etape/tempat peristirahatan. Baik berupa kuliner, maupun berupa kerajinan tangan khas Sumatera Barat. Namun hal itu masih belum terlihat terkelola secara baik. Bagitu juga acara kesenian dan budaya daerah, bisa disinkronkan dengan acara TDS.

Hal lain yang mendapat perhatian adalah masalah kemacetan dan gangguan lalulintas. Hal ini memang tak bisa dihindari. Seperti kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, masalah ini adalah sedikit pengorbanan dari masyarakat untuk kebaikan di masa datang.

Untuk masa datang masalah kemacetan bisa diatasi dengan mengatur jalur-jalur alternatif, sehingga meski perjalanan agak terganggu, tetapi masyarakat masih punya pilihan alternatif untu menghindari kemacetan. Cara kedua adalah mensosialisakan rencana jalur dan waktu pelaksanaan TDS di daerah masing-masing daerah sehingga masyarakat bisa mengatur dan merencanakan waktu perjalanan mereka agar terhindar dari kemacetan.

Secara umum banyak pihak menilai TdS 2011 berlangsung sukses. Terimakasih atas dukungan semua lapisan masyarakat, jajaran Polda dan TNI, Dinas terkait dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya iven ini. Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, masih ada kelemahan di sana-sini. Mohon maaf atas semua itu, mari sama-sama kita perbaiki agar TdS yang akan berlangsung bulan Juni 2012 berlansung lebih baik, lebih meriah lagi dan makin banyak dampaknya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semoga! (November 2013)

112. Merah-Putih Untuk TdS

Merah-Putih Untuk TdS

Apa yang dilakukan masyarakat sepanjang rute Tour de Singkarak (TdS) etape Bukittinggi – Harau (50 Kota), sekilas terlihat sederhana. Namun nilainya sangat luar biasa.

Sepanjang  jalan Bukitinggi – Harau, di kiri-kanan jalan, masyarakat berbaris rapi menyambut dan menyaksikan lomba balap sepeda Tour de Singkarak (TdS). Dengan senyum dan wajah antusias mereka menyambut kedatangan ratusan atlet balap sepeda dari 17 negara tersebut. Mereka juga memberikan semangat dengan bertepuk tangan serta melambai-lambaikan bendera kecil  berwarna merah-putih.

Sekilas, aksi dan sambutan masyarakat itu terlihat sederhana saja, namun dampaknya luar biasa. Kita tentu sering melihat berbagai pertandingan sepakbola atau pertandingan olahraga lainnya. Telah banyak terbukti bahwa dukungan penonton/suporter itu menentukan kerhasilan pertandingan. Begitu juga dalam pementasan kesenian, sambutan penonton ikut menentukan keberhasilan pertunjukan.

Apapun bentuknya, sesederhana apapun wujudnya, inilah sebuah partisipasi dari masyarakat yang patut dihargai dan diacungkan jempol.  Apapun yang akan dilakukan untuk memajukan daerah ini butuh dukungan dan partisipasi masyarakat, termasuk iven Tour de Singkarak.  Makin banyak dan makin besar partisipasi masyarakat, bisa dipastikan makin meriah dan makin sukses sebuah iven.

TdS memang sangat butuh dukungan dan partisipasi masyarakat. TdS adalah helat untuk mempromosikan Sumatera Barat ke segala penjuru dunia. Melalui TdS ingin ditunjukkan kepada dunia bahwa Sumatera Barat adalah daerah yang indah, memiliki panorama alam  tropis yang elok, tak ada tandingnya di belahan bumi manapun. Kuliner Minang juga merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Melalui TdS juga ingin diinformasikan bahwa Minang Kabau memiliki budaya yang tinggi, masyarakatnya ramah, berbudi bahasa tinggi dan santun.

Pada saat yang sama tentu juga ingin ditunjukkan kepada dunia, bahwa Sumatera Barat memiliki pemerintah yang bersih dan profesional. Juga ingin dibuktikan bahwa Sumatera Barat memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Keberhasilan pelaksanaan TdS adalah bukti dari semua itu. Kepuasan para peserta lomba, kesan positif, kontingen serta tamu lainnya yang datang adalah parameter bahwa Sumbar memiliki SDM yang berkualitas dan berbudaya tinggi.

Lalu, apa manfaatnya bagi masyarakat? Seperti diungkapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik pada acara pembukaan TdS,  “TdS bisa dikatakan berhasil jika telah berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”  Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, itulah muara pelaksanaan TdS.

Melalui TdS diharapkan, Sumatera Barat dengan segala potensi dan keunikannya dikenal dan dikenang oleh masyarakat dunia. Iven ini, tentu saja didukung oleh partiisipasi, antusiasme dan keramahan masyarakat, diharapkan mampu membangun imej dunia bahwa Sumbar adalah daerah yang cocok untuk dikunjungi, juga berinvestasi.

Meski di sana-sini masih terlihat sejumlah kelemahan, namun kita bertekad kelemahan itu akan terus diperbaiki dan dibenahi.  Ke depan pelaksanaan TdS harus lebih baik dan lebih baik lagi. Jika tahun ini TdS dibuka oleh Menbudpar, tahun depan kita persiapan lebih baik sehingga bisa dibuka oleh Presiden RI. Jika tahun ini diikuti oleh 17 negara, tahun depan mestinya diikuti oleh lebih banyak negara.

Jika pelaksanaan TdS makin baik dan kesan yang diberikan  kepada masyarakat dunia makin baik,  InsyaAllah peluang masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan makin meningkat.  Jika kunjungan  wisatawan , baik domestik maupun mancanegara ke Sumatera Barat dalam rangka TdS meningkat, tentu peluang ekonomi masyarakat Sumatera Barat meningkat pula.  Apalagi jika diikuti pula oleh adanya investasi.

Selamat mengikuti acara TdS, mari kita tunjukkan bahwa kita bisa berbuat lebih baik. Terimakasih atas partisipasi semua  masyarakat serta semua pihak. (November 2013)

113. TdS Makin Semarak

TdS Makin Semarak

Iven bergengsi bertaraf Internasional dengan tajuk Tour de Singkarak (TdS) kembali digelar di Bumi Sumatera Barat. Tahun ini merupakan kali ke lima even yang menyedot perhatian dunia itu digelar di ranah nan rancak Sumatera Barat. Sejumlah jurnalis menggambarkannya sebagai sebuah “Lomba Balap Sepeda di Surga Khatulistiwa”.

Memang di situlah letak keistimewaan Sumatera Barat. Keindahan alam Sumatera Barat membentang luas hampir di semua pelosok, mulai dari dataran tinggi sampai lembah, ngarai dan pantai. Mata seakan-akan tak pernah puas memandang dan mengagumi rahmat dan karunia  Tuhan yang luar biasa itu. Semua keindahan itu seakan-akan membuat mata tak pernah puas memandang dan menikmati keindahannya. Para photografer sekan-akan tak pernah kekurangan bahan untuk mengangkatnya menjadi ribuan karya foto yang spektakuler.

Lima tahun waktu berjalan, ajang Tour de Singkarak membuat Sumatera Barat makin dikenal dan disayang. Seperti kata pepatah :”Tak tahu maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang.” Kini, setelah 5 tahun TdS berjalan, Sumatera Barat makin dikenal dan dicintai. Jika tahun lalu TdS diikuti oleh 16 negara, tahun ini diikuti oleh 27 negara.  Kita yakin jumlah tersebut terus bertambah dan bertambah dari tahun ke tahun.

Antusiasme masyarakat menyaksikan TdS juga meningkat luar biasa. Saat pembukaan Sabtu (1/6/2013) malam yang dihadiri Wamen  Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar di pelataran Jam Gadang kota Bukittinggi, masyarakat tumpah ruah memadati pelataran kawasan bersejarah di kota wisata itu. Diperkirakan jumlah masyarakat yang menyaksikan pembukaan TdS tahun ini, sekitar dua kali lipat tahun sebelumnya.  Ditambah dengan dentuman semarak cahaya kembang api  serta kehadiran group band kondang Purwacaraka Big Band membuat suasana Kota Bukittinggi saat itu makin meriah dan semarak.

Saat start yang ditunggu-tunggu juga tak kalah berkesan. Sejak pagi para pembalap yang mayoritas merupakan pembalap asing tampak antusias, seolah-olah tak sabar menunggu bendera start diangkat oleh Ibu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Masyarakat datang lebih banyak lagi memadati pelataran Jam Gadang menunggu detik-detik dimulainya lomba yang selain menyuguhkan keindahan alam juga menawarkan hadiah milyaran rupiah ini.

Seperti yang diharapkan, meningkatnya kedatangan pengunjung ke kota Bukittinggi diharapkan akan mendongkrak geliat ekonomi di kota sentral wisata Sumatera Barat itu. Secara kasat mata, apa yang diharapkan itu memang jadi kenyataan.  Boleh dikatakan, semua hotel  di Bukittinggi penuh, meski umumnya telah memanfaatkan extra bed. Pusat-pusat kuliner dan souvenir juga terlihat bergairah karena diserbu para pembeli. Hal itu tentu akan mendongkrak ekonomi masyarakat dan membuka peluang usaha bagi kita.

Masyarakat luas bahkan dunia telah tahu dan kenal Sumatera Barat, kita tentu ingin mereka cinta dan rajin berkunjung ke Sumatera Barat, agar peluang ekonomi itu makin terbuka.  Karena itu tugas kita adalah memberikan yang terbaik dan memberikan kesan yang baik kepada mereka. Jika kita menawarkan jasa kuliner, berikanlah kuliner yang terbaik. Begitu juga jika kita menawarkan souvenir, berikanlah souvenir terbaik dan berkualitas. Jangan kecewakan mereka, buktikan bahwa masyarakat Minang adalah masyarakat yang berbudaya tinggi,  jangan buat mereka kapok untuk datang  lagi, jangan berikan kesan yang jelek yang membuat mereka memberikan penilaian negatif tentang Sumatera Barat.

Mari kita bersama-sama menyukseskan Tour de Singkarak, mari kita saling bahu membahu untuk membuka peluang perbaikan ekonomi yang lebih baik bagi ranah yang indah dan kita cintai ini. (Juni 2013)

114. Setelah TdS Usai

Setelah TdS Usai

Iven internasional bertajuk Tour de Singkarak (TdS)  IV tahun ini, selesai digelar.  Fakta membuktikan bahwa masyarakat Sumatera Barat mampu menjadi tuan rumah alek gadang tersebut untuk ke empat kali. Acara yang menjadi sorotan masyarakat internasional tersebut berlangsung dengan sangat baik dan terus makin membaik dari tahun ke tahun.

Jika TdS pertama tahun 2009 diikuti oleh 14 negara yang menurunkan 150 pembalap, maka TdS tahun ini diikuti oleh 20 negara yang menurunkan 250 pembalap.  Jarak yang ditempuh juga makin bertambah panjang, jika tahun 2009 sepanjang 218 kilometer, tahun ini total jarak yang ditempuh pembalap adalah 856 kilometer. Kabupaten dan kota yang dilewati sebanyak 4 kabupaten dan kota pada tahun 2009, tahun ini menjadi  14 kabupaten dan kota. Durasi waktu lomba meningkat dari  5 hari pada tahun 2009 menjadi  7 hari pada tahun ini. Dan tentu saja jumlah hadiah yang disediakan juga meningkat dari Rp 700 juta tahun 2009 meningkat menjadi Rp 1 milyar pada tahun 2012.

Juga merupakan sebuah perhargaan bagi kita semua dan menandakan sebuah perhatian serius dari Pemerintah Pusat,  iven ini dibuka langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan ditutup oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng.

Tentu saja keberhasilan yang dicapai dalam tempo yang relatif singkat ini merupakan hasil kerja keras dari berbagai pihak terutama panitia dari jajaran Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Panitia Nasional maupun Internasional dari berbagai negara, media cetak maupun elektronik baik daerah, nasional maupun internasional, pemerintah kabupaten dan kota serta masyarakat Sumatera Barat.

Kita gembira dan bersyukur, sejauh ini semua berjalan lancar dan bisa dikatakan sukses. Namun timbul pertanyaan apa setelah ini, apa tindak lanjut dari TdS? Setelah Sumatera Barat dikenal dunia, keindahan alam Sumatera Barat yang eksotik mulai dikenal dunia dan berhasil menarik wisatawan, bagaimana sikap kita? Apa yang harus kita persiapkan?

Jika ditanya untuk apa TdS diadakan, menurut saya jawaban utamanya cuma satu : meningkatkan ekonomi masyarakat. Setelah TdS sukses dilaksanakan, setelah wisatawan datang berkunjung ke Sumatera Barat, sesuai dengan tujuan penyelenggaraan TdS, maka misi selanjutnya adalah bagaimana kunjungan wisatawan tersebut berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat.

Kita semua sudah tahu dan dunia pun telah mengakui bahwa Sumatera Barat memiliki potensi alam yang luar biasa. Sumatera Barat punya budaya dan seni yang spesifik, kita juga punya kekayaan kuliner yang diakui kelezatannya dimana-mana.

Peluang itu makin terbuka, karena Sumatera Barat bisa dijadikan tujuan wisata alternatif karena bagaimanapun, wisatawan selalu mencari sesuatu yang baru dan menarik untuk dikunjungi. Wisatawan pasti akan merasa monoton jika hanya mengunjungi lokasi wisata yang sama dari tahun ke tahun seperti Bali, Jogya, Malaysia atau Singapura. Bagaimanapun jika cuma itu ke itu saja pasti jenuh, harus ada destinasi alternatif.

Tujuan wisata alternatif itu adalah Sumatera Barat, daerah ini sangat potensial. Kota Bukittinggi atau Sawahlunto telah membuktikan bahwa pariwisata telah mampu membuat ekonomi daerah ini berdenyut. Efek berganda dari pertumbuhan wisata telah membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara nyata. Itulah keistimewaan industri pariwisata dibandingkan industri lain, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi berdampak langsung terhadap masyarakat secara luas.

Dengan demikian berarti tugas selanjutnya, adalah mempersiapkan Sumatera Barat menjadi tempat wisata yang layak. Kebersihan, keindahan dan kenyamanan menjadi kata-kata kunci agar wisatawan berkunjung dan betah membelanjakan uangnya di Sumatera Barat. Namun hampir di semua objek wisata kita bertebaran sampah di mana-mana. Kondisi ini harus segera diubah, kebiasaan membuang sampah  di sembarang tempat harus segera dihapus.

Saya menyaksikan sendiri, peserta atau panitia TdS dari negara lain selalu memasukkan dan menyimpan sampah mereka dalam kantong-kantong untuk kemudian dibuang di tempat sampah. Tapi justru masyarakat kita membuang sampah sembarangan dimana saja mereka suka. Tentu saja kebiasaan ini harus segera kita ubah. Banyak wisatawan yang memilih tinggal di rumah penduduk (home stay), bukan hotel berbintang asal rumah tersebut bersih dan nyaman. Hal ini tentu akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat.

Satu lagi yang perlu kita ubah adalah sikap melayani wisatawan. Kalau ditanya kenapa wisatawan memilih Bali, Jogyakarta atau Bandung, jawabannya adalah keramahan masyarakat setempat, sikap profesional mereka melayani wisatawan.  Di  bandara di daerah tersebut tidak akan kita temui pengemudi taksi rebut-rebutan penumpang, apalagi sambil menarik-narik tas mereka.  Premanisme di objek wisata juga paling banyak dikeluhkan wisatawan sehingga mereka kapok berkunjung ke daerah tersebut.

Usai TdS juga diharapkan berdampak terhadap animo masyarakat masyarakat Sumbar untuk berolahraga sepeda, bahkan diharapkan ke depan akan uncul pembalap sepeda yang bakal menjuarai Tour de Singkarak, sekaligus menjadi pembalap nasional.

Terakhir, tentu saja infrastuktur pendukung harus terus ditingkatkan. Biasanya jika peluang bisnis terbuka, kondisi dan masyarakat setempat mendukung, otomatis investor akan turun turun menanamkan modal untuk menyiapkan fasilitas. Pemerintah kota dan kabupaten tentu juga akan menfasilitasi agar semua itu bisa terwujud, tinggal menunggu komitmen kita bersama. (Juni 2012)

115. Kembali Bersepeda

Kembali Bersepeda

Saya tercenung ketika ketua koperasi Hounan Kagawa Jepang Ootsuka Masaihiro menyampaikan kesannya tentang Sumbar setelah ia berkunjung ke daerah ini untuk pertama kalinya.

“Di sini  terlalu banyak sepeda motor dan mobil,” ujarnya  spontan. Nampaknya ia memberikan kesan terhadap kendaraan bermotor yang ramai lalu-lalang berdesak-desakan memadati jalan-jalan di seantero Sumatera Barat. Jalan-jalan selalu padat, bahkan macet di sejumlah tempat.  “Hal ini perlu diperhitungkan lagi, apakah merupakan sebuah pemborosan,” ujarnya.

“Tapi tahu ndak anda, hampir semua kendaraan itu adalah buatan Jepang, kan meguntungkan bagi negara anda,” ujar saya sambil berseloroh. Tawanya langung tersembur ketika hal itu disampaikan. “Di satu sisi memang meguntungkan Jepang, tapi kasihan juga jika merugikan masyarakat Sumatera Barat,” imbuhnya

Jika  dicermati memang terlihat perbedaan menyolok antara Sumatera Barat dan Provinsi Kagawa, Jepang Barat, tempat koperasi Hounan Kagawa berada. Di Provinsi Kagawa , meski kepadatan penduduknya hampir dua kali lipat penduduk Sumatera Barat tapi tak terlihat antrian panjang kendaraan di jalanan. Lalu-lintas berjalan lancar bahkan jalanan terlihat lengang.

Setelah diamati, ada dua kata kunci yang membuat hal itu bisa terjadi, yaitu, berhemat dan disiplin. Masyarakat Kagawa, juga masyarakat Jepang umumnya, berhemat dalam melakukan perjalanan dan penggunaan kendaraan.

Bisa dipastikan setiap keluarga di Jepang memiliki minimal satu mobil. Tapi tak sembarangan dan tidak setiap saat mobil itu mereka gunakan. Umumnya hanya sekali seminggu saja atau untuk keperluan yang sangat mendesak saja mobil itu mereka pergunakan. Untuk perjalanan ke kantor, tempat kerja atau  sekolah, mereka menggunakan angkutan umum atau sepeda.

Di Jepang tak ada anak ke sekolah diantar jemput oleh orang tuanya.  Mereka dilatih mandiri, berangkat dan pulang sekolah  secara mandiri menggunakan sepeda.  Kakak kelas mereka bertugas membantu sampai mereka bisa mandiri. Begitu juga di kantor-kantor dan perusahaan. Halaman parkir dipenuhi oleh sepeda, hampir cuma dalam hitungan jari saja mobil terlihat parkir di halaman kantor, perusahaan maupun sekolah.

Di saat jam kerja  berlangsung nyaris tak terlihat lagi kendaraan lalu-lalang di jalanan, mereka seperti tenggelam dalam pekerjaan dan aktifitas masing-masing.  Mereka disiplin dalam berlalu lintas, juga disiplin dalam bekerja.  Tidak heran jika mereka bisa memetik buah upaya berhemat dan disiplin itu, yaitu nyaman di jalanan, bisa bekerja dengan tenang dan mendapat hasil optimal. Jepang telah menjelma menjadi negara kaya dan maju.

Tanpa sadar kita ikut menyumbang untuk  pembangunan negeri Jepang yang megah itu, melalui jutaan kendaraan bermotor atau produk elektronik lainnya yang kita beli kepada mereka.  Kita atau mereka kah yang lebih kaya?

Di Jepang pengguna sepeda sangat dihargai, bahkan dianggap pahlawan. Mereka dianggap  pahlawan karena telah berjasa terhadap negara.  Pengguna sepeda berjasa kepada negara karena berkontribusi dalam mengurangi  kepadatan lalu lintas. Pengguna sepeda juga  juga berjasa kepada negara karena  dapat mengurangi penggunaan BBM (bahan bakar minyak) yang makin mahal dan langka. Tak hanya itu, pengguna sepeda juga telah berjasa dalam upaya mengurangi pencemaran lingkungan.

Pada tahap awal, jika upaya kembali bersepeda ini dilakukan oleh satu orang  saja, tentu belum berarti apa-apa. Namun jika gerakan ini dilakukan secara massal, oleh ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan orang, tentu gerakan ini akan menimbulkan dampak yang dahsyat! Suatu saat kita tak perlu lagi beteriak-teriak karena alasan BBM langka.

Di Sumatera Barat, gerakan kembali bersepeda adalah pilihan yang  paling cocok, baik untuki kesehatan, maupun terhadap upaya penyelamatan lingkungan.  Catatan kesehatan telah lama membuktikan bahwa masyarakat Sumate Barat sangat rentan terhadap penyakit stroke, hipertensi, diabetes, asam urat, jantung koroner dan sejenisnya. Solusi terbaik dan paling aman adalah bersepeda.

Gerakan bersepeda bisa dimulai dari siswa, pelajar, atau karyawan yang jarak tempuh perjalanannya tidak terlalu jauh.  Jika  hal ini bisa dilaksanakan, maka ini sebuah perubahan yang luar biasa, karena ada  ratusan ribu bahkan jutaan siswa, pelajar dan karyawan di Sumatera Barat yang bisa ikut berkontribusi.

Mari kita jadikan momen Tour de Singkarak dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang  jatuh pada tanggal 6 Juni ini sebagai titik balik untuk Kembali Bersepeda. Selamat Bersepeda! (Juni 2011)

116. Porprov XII

Porprov XII

Jalan raya sekitar gelanggang olahraga Singa Harau Kabupaten 50 Kota nyaris macet total. Jejeran mobil dan sepeda motor sepanjang belasan kilometer seolah tak sabar ingin menembus kemacetan tersebut.  Sasaran utama yang ingin dituju adalah gelanggang olahraga Singa Harau. Hari itu adalah saat dimulainya pagelaran helat besar Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) XII Sumatera Barat.

Kami ikut terjebak dalam kemacetan itu. Meski  sudah dipandu oleh kendaraan fore rider di barisan depan, namun kendaraan rombongan, termasuk Bupati 50 Kota Alis Marajo, Walikota Payakumbuh Reza Pahlevi dan rombongan lainnya dari unsur Forkopimda, masih terperangkap macet. Kendaraan bergerak lambat, seperti beringsut.

Tak heran jika kawasan Sarilamak – Tanjung Pati tersebut menjadi sesak. Sebanyak 9000 atlet, official dan keluarga atlet, dari seantero Sumatera Barat berkumpul di sana untuk adu prestasi di 30 cabang olahraga (cabor). Tak kurang 585 medali emas, perak dan perunggu diperebutkan dalam iven provinsi sekali dua tahun ini. Masyarakat Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh juga  seperti tumpah ikut meramaikan suasana.

Sport (olahraga) berasal dari bahasa Latin disportare atau deportare,  artinya menyenangkan, menghibur,  bergembira, sekaligus memelihara kesehatan jasmaniah. Dapat dikatakan bahwa sport ialah aktifitas manusia untuk menghibur diri sambil memelihara kesehatan jasmaniah. Dengan kata lain, olahraga adalah kegiatan yang menyenangkan, bergembira, menghibur sambil meningkatkan kesehatan jasmaniah.

Banyak bukti sejarah menunjukkan bahwa kegiatan olahraga telah dilakukan manusia sejak 30.000 tahun lalu. Bukti zaman prasejarah tersebut berupa lukisan yang ditemukan di goa-goa batu yang menggambarkan atifitas olahraga yang dilakukan nenek moyang manusia tempo dulu. Olahraga yang digambarkan di antaranya renang dan memanah.

Di Cina olahraga telah dilakukan masyarakat setempat sejak 4000 tahun sebelum masehi. Olahraga yang terkenal di Cina saat itu adalah senam. Karena itu hingga kini olahraga senam, pertunjukan akrobatik, masih didominasi oleh Cina. Berikutnya, cabang olahraga makin banyak berkembang di  jaman Kerajaan Yunani Kuno. Diantaranya gulat, lari, tinju, lempar lembing, lempar cakram, dan balap kereta kuda. Dari sini pulalah lahirnya cikal bakal iven olahraga dunia Olympiade, berasal dari nama sebuah gunung di Yunani, yaitu Gunung Olympus.

Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW, juga menganjurkan umat Islam untuk berolahraga. Nabi menganjurkan ummat Islam untuk berolahraga berkuda, memanah dan berenang, karena olahraga itulah yang cocok saat itu. Olahraga dirasakan penting karena bermafaat untuk mempertahankan kesehatan jasmani, sedangkan kesehatan jasmani penting untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Olahraga penting bagi umat Islam, sejauh tidak menyalahi syariat Islam.

Tentu saja iven olahraga seperti Porprov di Sumatera Barat menjadi penting dan mendapat  perhatian besar dari masyarakat.  Seperti diuraikan di atas tadi, iven olahraga selalu menyedot perhatian karena memiliki unsur menghibur serta menciptakan suasana gembira. Sedangkan bagi atlet, kegiatan olahraga penting untuk meningkatkan kesehatan jasmani, sekaligus menjadi ajang untuk mengukir prestasi.

Atlet-atlet yang terseleksi mulai dari tingkat kelurahan, nagari lalu kecamatan, kabupaten, lalu berkompetisi di tingkat provinsi.  Juara di tingkat provinsi selanjut akan berkompetisi di tingkat nasional dan selanjutnya internasional bahkan tingkat dunia, jika mereka mampu.

Dalam pembinaan prestasi atlet inilah diminta keseriusan semua pihak, baik atlet, pelatih, official maupun pembina. Kaderisasi atlet, melahirkan juara, bukan perkara yang bisa selesai semalam atau dua malam. Melahirkan juara sejati butuh pembinaan sejak dini, mungkin butuh waktu yang cukup panjang. Namun hal itu takkan terasa jika dilakukan secara rutin dan terus menerus.

Catatan penting Porprov XII adalah munculnya komitmen sejumlah daerah bahwa; tak masalah tak juara, asal atlet yang diturunkan  asli produk daerah sendiri. Apa yang mereka lakukan sudah benar dan tepat sekali.  Seperti kata pribahasa, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Kita yakin, jika masing-masing daerah membina atletnya dengan serius dan sungguh-sungguh, pastilah mereka akan menjadi juara sejati yang nantinya tidak hanya menjadi juara porprov, tetapi juga juara nasional bahkan internasional, bukan juara dadakan atau sesaat.

Siapa yang tak akan senang dan bangga jika putra daerahnya menjadi juara nasional bahkan internasional? Yosita Hapsari, peraih 3 medali emas pada PON XVIII di Riau baru-baru ini adalah salah satu contoh. Ia memperoleh bonus lebih dari setengah miliar rupiah, ia juga mendapat beasiswa kuliah di Amerika Serikat dan sejumlah fasilitas lainnya. Siapa menyusul berikutnya…?. (Desember 2012)

117. Semangat Srikandi

Semangat Srikandi

 

Wajah mereka menunjukkan kelelahan yang amat sangat.  Kulit muka mereka terlihat menghitam dan melepuh akibat terbakar terik matahari. Namun tak ada kata mengeluh yang keluar dari mulut mereka.  Di balik semua keletihan itu tersimpan rasa bangga, haru  dan bahagia.

Mereka adalah 21 srikandi yang baru saja menaklukkan perjalanan panjang berjarak 1400 kilometer dengan bersepeda. Perjalanan bersepeda mereka mulai dari kota Banda Aceh, membelah Provinsi  Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat dan finish di Kota Padang. Perjalanan itu mereka tempuh dalam rentang waktu tiga minggu, mulai tanggal 5 April dari Banda Aceh dan finish tanggal 20 April lalu di Padang.

Ketua komunitas Bike to Work Toto Sugiarto, organisasi yang mengkoordinir kegiatan tersebut, sampai meneteskan air mata dan nyaris tak mampu mengeluarkan kata-kata karena haru saat menyampaikan sambutan. Semua yang hadir saat acara upacara penyambutan 21 “srikandi abad 21” di gubernuran sore itu juga ikut terharu.

Betapa tidak, iven ini merupakan kali ke-3 srikandi-srikandi Indonesia memberikan inspirasi dan semangat kepada wanita Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Kartini mereka ingin membuktikan bahwa wanita Indonesia bukan wanita yang lemah. Dalam rangka memperingati Hari Kartini mereka melakukan perjalanan jarak jauh bersepeda yang membutuhkan nyali yang kuat dan fisik yang tangguh.

Tahun sebelumnya mereka bersepeda menempuh perjalanan Jakarta – Bandung. Tahun berikutnya lagi mereka mengunjungi kota kelahiran Kartini, Jepara dan tahun ini menempuh jarah terjauh yaitu dari kota kelahiran Cut  Nyak Dhien dan Cut Muthia Banda Aceh menuju kota Padang, kota kelahiran tokoh inspirator wanita Rasuna Said, Siti Manggopoh, dll. Tahun ini merupakan jarak tempuh terjauh yang mereka lalui, yaitu 1400 km.

Tentu banyak halangan, rintangan serta suka duka yang mereka alami selama melakukan perjalanan. Namun terbukti bahwa semua itu tidak menjadi halangan untuk menyelesaikan perjalanan panjang itu. Mereka berhasil dan mereka memberikan inspirasi bagi semua bahwa wanita Indonesia adalah wanita yang tangguh, memiliki daya juang yang tinggi dan semangat baja. Kekuatan fisik saja tak cukup untuk bisa menyelesaikan misi tersebut. Karena umur peserta berkisar antara 20 sampai 40 tahun. Justru semangat dan mental yang kuat merupakan modal utama agar berhasil.

Selain menggelorakan kembali semangat Kartini, mereka juga membawa misi pelestarian lingkungan. Dengan menggalang gerakan bersepeda ke tempat bekerja (bike to work) berarti kita berupaya untuk menyelamatkan lingkungan dengan mengurangi pencemaran udara yang terjadi akibat pembakaran bahan bakar minyak (BBM) oleh kendaraan bermotor. Di Jepang, negara produsen kendaraan bermotor terbesar di dunia, justru telah menggunakan sepeda sebagai kendaraan pilihan utama dan terbaik. Sepeda mendominasi lokasi parkir berbagai perkantoran dan sekolah. Di beberapa kota yang mereka singgahi, mereka juga melakukan penanaman pohon yang nantinya akan berfungsi sebagai paru-paru dunia.

Prestasi yang diukir 21 Srikandi ini membuktikan bahwa wanita Indonesia juga bisa berbuat sesuatu yang luar biasa. Jika semangat tersebut dipakai oleh para wanita untuk membangun  keluarganya, lalu membangun lingkungan, seterusnya daerahnya, lalu negaranya tentu ini merupakan sebuah kekuatan nyata yang luar biasa.

Mari terus kita gelorakan semangat Kartini dan para pahlawan wanita Indonesia yang telah mengukir sejarah bangsa ini dengan tinta emas. Dengan semangat dan daya juangnya yang luar biasa, wanita Indonesia pasti bisa ikut membangun bangsa dan negara ini menjadi lebih baik. Selamat memperingati Hari Kartini. (April 2013)

 

118. Indra Syafri

Indra Syafri

Nama Indra Syafri, pelatih sepakbola Timnas U19, tentu sudah tak asing lagi. Namanya mencuat setelah anak asuhnya Timnas U19, mengalahkan Vietnam di final Kejuaraan Piala AFF (Asean Football Federation) U19 dan menjadi juara grup setelah mengalahkan Korea Selatan di kualifikasi piala AFC (Asian Football Confederation) U19. Dua kemenangan itu  mengukuhkan nama Indonesia sebagai juara dan raja sepakbola di Asia Tenggara, setelah 22 tahun prestasi sepak bola Indonesia seperti terkubur ke dasar bumi. Nama Indra Syafri dan Tim U19 dielu-elukan dan disambut meriah di mana-mana. Ia dijuluki pahlawan yang telah mengharumkan nama bangsa melalui cabang olahraga paling bergengsi, sepakbola.

Panjang cerita lika-liku, suka-duka perjalanan putra Nagari Lubuk Nyiur-Batang Kapas- Pesisir Selatan ini untuk menuju prestasi puncak seperti saat ini. Mulai dari kisah sedih jadi pelatih tanpa honor, sampai mencari bibit pemain ke berbagai pelosok tanah air.  Namun pengorbanan dan perjuangannya itu berbuah manis. In, begitu ia biasa dipanggil, berhasil mengantarkan Tim Garuda Muda U19 menjadi yang terbaik di Asean, juara AFF 2013. Perjuangan Garuda Muda U 19 tinggal selangkah lagi, “Jika Allah mengizinkan, insya Allah kita akan mewakili Asia di piala Dunia 2018,” ujar Indra.

Indra tentu saja tidak sekedar omong besar, persiapan untuk itu telah ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Hasil analis statistik berbagai paramater teknis sepakbola menujukkan bahwa Tim U19 memang yang terbaik di Asia. Personil U19 adalah orang-orang terpilih dan terseleksi dengan ketat, minus KKN. VO2 maks personil U 19 di atas rata-rata. Rata-rata VO2 maks kita adalah 50, sedangkan VO2 maks tim U19 rata-rata 60 sampai 70. Rata-rata HB mereka juga terpilih, semua  di atas 14. Begitu juga passing tim U19 di atas 600 sampai 700, padahal tim lain seperti Korea dan Vietnam cuma 400. Begitu juga indeks kesalahan mereka, jauh lebih rendah. Karena itu menurut mantan pemain PSP dan pemilik sertifikat pelatih internasional ini, jika semua berjalan normal, TIM U19 layak menjadi wakil Asia di Piala Dunia.

Ada yang menarik ketika Indra Syafri menghadiri jamuan makan malam di auditorium gubernuran pekan lalu. “Selain aspek teknis ada satu hal lagi yang membuat saya yakin dengan apa yang saya lakukan,” ujar Indra Syafri sambil mengeluarkan dompetnya. Dari dompet tersebut ia keluarkan selembar kertas lusuh berwarna kekuningan akibat dimakan usia, beberapa bagian malah sudah sobek. Di dalamnya tertulis dua petikan ayat Al Quran yaitu QS 17: 80 dan 81. “Ini adalah pemberian Bapak Azwar Anas dan saya simpan sejak tahun 1985,” ujar Indra. Sesepuh PSP dan PSSI ini memang banyak memberikan dorongan agar Indra Syafri terus maju.

Terjemahan ayat tersebut adalah; “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS17:80). Dan katakanlah: ”Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”.  Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS17:81). Dua ayat inilah menurut Indra Syafri yang membuat ia berani melakukan apapun yang ia anggap benar, meski banyak yang menentang dan ia yakin bahwa kebatilan itu pasti kalah dan lenyap.

Apa yang dilakukan Indra Syafri memang sesuai dengan ayat tersebut. Ia membangun Tim U19 dengan cara yang benar. Ia pilih personil tim U19 dengan benar, ia tentang mentah-mentah cara pemilihan anggota tim dengan cara KKN. Ia cari sampai pelosok-pelosok negeri bibit pemain sepakbola yang benar-benar unggul. Sungguh riskan dari 240 juta penduduk Indonesia yang mayoritas pecinta sepakbola tidak ditemukan 11 orang pemain bola berbakat.  Bibit unggul dan berbakat itu lalu ia didik dengan cara dan pola latihan yang terbaik dan terbaru.

Dan yang paling penting di samping aspek teknis menurut Indra Syafri adalah aspek mentalitas pemain. Tanpa kompromi mereka yang pakai tatoo, pakai anting atau rambut gondrong langsung dikeluarkan dari tim. Di Papua sebetulnya menurut Indra ada banyak bibit pemain sepakbola. Tapi begitu  ia lihat di rumahnya banyak bekas botol minuman beralkohol, calon tersebut langsung dibatalkan.

Nampaknya itulah hikmah dari dua ayat yang dijadikan pedoman oleh Indra Syafri. Karena ia masuk dengan cara yang benar (shidqi), maka ia keluar (memperoleh hasil) yang benar pula dan kebathilan selalu akan kalah dan lenyap oleh kebenaran.

Selamat buat Indra Syafri dan Tim U19 serta tim pendukungnya. Teruslah melangkah di jalan kebenaran, kemenangan pasti akan berada dalam  genggaman kita. Pujian memang perlu untuk memberi dorongan semangat untuk terus maju. Namun berhati-hatilah, karena tak jarang orang  larut, hanyut dan terpuruk akibat pujian dan sanjungan.  Semoga terus berjaya dan muncul Indra Syafri-Indra Syafri serta Evan Dimas-Evan Dimas lainnya di berbagai pelosok Indonesia. Indra Syafri beserta tim U19 membuktikan bahwa kita bisa berprestasi, bahwa kita adalah bangsa yang besar dan terhormat. (Oktober 2013)

 

119. Uncle

Uncle

Awalnya ndak saya pedulikan, namun kemudian pikiran saya agak terusik ketika di forum-forum pertemuan pemuda internasional, aktivis organisasi pemuda Indonesia dipanggil dengan sebutan uncle (om).

Memang begitulah biasanya mereka memanggil kontingen Indonesia di setiap ada acara pertemuan pemuda internasional: uncle. Kontingen pemuda Indonesia terkenal dengan julukan uncle. Kenapa?

Menurut mereka, aktifis pemuda Indonesia memang lebih tepat disebut dengan uncle/om, karena usia mereka memang terpaut jauh. Rata-rata usia aktifis pemuda dari negara lain sekitar 16 sampai 22 tahun, sedangkan usia aktifis pemuda Indonesia berkisar antara 30 sampai 40 tahun, bahkan lebih. Karena itu mereka memanggilnya dengan sebutan om (uncle).

Organisasi pemuda, dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai youth organisation seharusnya memang ditujukan untuk mereka yang tegolong muda usianya (youth). Di korea misalnya, definisi pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai 22 tahun, di Amerika atau Eropa definisi pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai 24 tahun.

Jika dilihat dari fungsinya, organisasi pemuda memang merupakan wadah untuk aktualisasi diri bagi kelompok generasi muda yang dalam masa usia transisi. Mereka adalah kelompok yang telah melewati usia remaja, dalam peralihan menuju dewasa. Kelompok ini mempunyai karaktetistik khusus, yaitu penuh semangat dan idealisme. Jika diibaratkan dengan matahari, mereka adalah sinar matahari pada jam 12 siang, terang benderang dengan kekuatan penuh.

Dalam Islam seseorang dikatakan dewasa (aqil baligh) setelah ia mengalami haid bagi wanita dan mimpi basah bagi laki-laki. Usia mereka sekitar 12 sampai 14 tahun. Artinya pada usia ini mereka telah matang secara biologis. Seharusnya jika mendapat pendidikan yang baik, formal maupun non formal’ digembleng dengan baik, serta didukung oleh lingkungan yang baik, ia juga sudah matang secara psikis. Jika mereka diberi kesempatan untuk memimpin dan mengukir prestasi, maka mereka pun akan menunjukkan prestasinya.

Karena itu dalam sejarah, pemuda tercatat sebagai tokoh pembawa perubahan, tokoh reformasi, tokoh pembaharu, dan sebagainya. Sejarah di Indonesia juga membuktikan bahwa pemuda berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, yaitu terkenal dengan sejarah “Sumpah Pemuda.”

Di zaman Nabi Muhammad SAW banyak pemuda yang masih dalam usia belia telah diberi amanah yang besar oleh Nabi. Usamah Bin Tzaid misalnya, telah diberi tugas sebagai panglima perang pada usia 19 tahun. Nabi Muhammad sendiri telah menjadi saudagar sedari umur belasan tahun dan diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun.

Di Amerika Serikat pun hal serupa juga dilakukan. John F Kennedy diangkat menjadi presiden AS pada usia 43 tahun, Bill Clinton diangkat menjadi presiden saat berusia 47 tahun, Bush diangkat menjadi presiden saat berusia 55 tahun, Obama saat berusia 48 tahun. Di Indonesia Presiden Soekarno diangkat menjadi presiden  saat berusia 44 tahun, Presiden Soeharto diangkat pada usia 46 tahun. Di Oklahoma AS ada walikota terpilih yang baru berusia 19 tahun. Ia masih berstatus mahasiswa. Namun prestasi dan perjalanan karir, masyarakat setempat sepakat menyatakan bahwa ia layak jadi walikota.

Generasi muda Indonesia bukan tidak mungkin melakukan hal serupa, melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas di usia muda, pemimpin yang cerdas, energik dan kreatif. Untuk bisa menjadi pemimpin, mereka harus dididik, dibina dan diberi wadah untuk berkiprah saat masih berusia belasan atau 20 an tahun. Wadah itu di antaranya organisasi kepemudaan, organisasi kemahasiswaaan, organisasi sosial dan sebagainya. Jika mereka telah digembleng pada usia muda di berbagai organisasi tersebut, insya Allah mereka siap menjadi pemimpin dan tokoh saat berusia 30 atau 40 tahun.

Namun kekhawatiran itulah yang kini terjadi, kita mengalami kelangkaan pemimpin muda yang berkualitas yang nantinya akan membawa bangsa ini ke masa depan yang lebih baik, baik di daerah maupun di tingkat nasional. Sulit menemukan wajah-wajah baru, generasi baru, yang berprestasi dan berpotensi menjadi pemimpin di masa depan. Ada apa? (Juli 2012)

120. Belajar dari Kemenangan Jerman

Belajar dari Kemenangan Jerman

Banyak yang meramalkan bahwa Brazil akan menjadi juara dunia pertandingan sepakbola paling bergengsi sejagad World Cup 2014 yang baru saja usai. Menjadi raja sepakbola dunia memang bukan hal baru bagi Brazil. Negara yang  terkenal memiliki hutan belantara yang luas ini telah 5 kali menjadi  kampiun sepakbola dunia,  yaitu tahun 1958, 1962, 1970, 1994, dan tahun 2002.

Tentu juga bukan tanpa rencana dan harapan, dalam situasi ekonomi yang serba sulit tahun ini, Brazil bersikukuh untuk menjadi tuan rumah World Cup 2014. Mereka telah mempersiapkan sejumlah stadion rancak untuk menyelenggarakan pesta olahraga yang dipelototi oleh ratusan juta pasang mata di dunia tersebut. Puluhan hotel, tempat rekreasi, dan berbagai fasilitas lainnya juga telah dipercantik untuk menyambut tamu dunia yang akan berkunjung ke Brazil.  Tim tangguh tentu juga tak lupa dipersiapkan dan diasah kemampuannya guna menghadapi tim-tim sepakbola kelas dunia yang akan bertandang ke Brazil.

Brazil memang berhasil melaju ke babak semi final. Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Di babak semi final tim Brazil dipermalukan oleh Jerman dengan skor telak 1 – 7. Di menit-menit awal babak pertama, Jerman berhasil mendikte permainan Brazil. Gol-gol beruntun dalam waktu relatif singkat disarangkan oleh tim squad Jerman. Dalam tempo 30 menit Jerman berhasil menyarangkan 5 gol ke gawang Brazil. Konon serangan Brazil menjadi tumpul setelah kehilangan goal getter handalnya Neymar akibat cidera, sementara itu pertahanan Brazil di barisan belakang juga rapuh setelah kehilangan back andalannyaThiago Silva. Brazil menjadi bulan-bulanan  dan skor tersebut bertahan hingga akhir babak pertama.

Babak kedua bukannya memperkecil kekalahan, malah tim der panzer berhasil menambah dua gol. Kemenangan telak berada di tangan Jerman, meskipun berhasil membukukan satu gol balasan (7 – 1).  Pendukung Brazil hanya terlongo melihat kenyataan yang di luar dugaan itu. Wajah mereka terlihat kuyu usai pertandingan, sebagian malah menangis terisak-isak. Jerman membuktikan keperkasaannya tanpa ampun, Brazil gagal maju ke babak final.

Di babak Final telah menunggu lawan tanding Jerman, yaitu Argentina. Argentina juga bukanlah lawan yang enteng, tim samba Argentina telah dua kali membawa pulang trophy emas piala dunia, yaitu tahun 1978 dan 1986. Argentina juga menjadi juara runner up piala dunia di tahun 1930 dan 1990. Apalagi di kubu Argentina saat ini bercokol pemain bintang dunia Lionel Messi.

Stadion Maracana Rio Jenairo Brazil, Minggu 14 Juli 2014, menjadi saksi duel dua raksasa sepakbola dunia Jerman dan Argentina.  Ketua tim saling menampilkan kemampuan terbaiknya. Pertandingan di babak kedua berakhir tanpa berbuah gol. Barulah di babak kedua di sessi perpanjangan waktu  gawang Argentina bergetar dibobol Jerman. Mario Goetze yang baru beberapa menit memasuki lapangan menggantikan Klose berhasil memecahkan kebuntuan serangan Jerman. Skor berubah menjadi 1 – 0, gol  spektakuler itu disambut dengan sorak-sorai meriah pendukung Jerman. Skor tak berubah sampai akhir pertandingan.

Gol semata wayang yang dipersembahkan anak asuh pelatih Joachim Loew ini sekaligus mengantarkan Jerman menjadi juara dunia World Cup 2014. Peristiwa ini merupakan sejarah pertama kalinya tim sepakbola Eropa mengalahkan tim sepakbola Amerika Latin di Amerika Latin. Debut tersebut juga tercatat sebagai ke empat kalinya Jerman menjadi juara dunia sepakbola, yaitu tahun 1954, 1974, 1990 dan 2014.

Lalu kenapa Jerman yang menjadi juara, bukan tim lain yang memiliki bintang-bintang top seperti Messi, Ronaldo atau Neymar yang jadi juara?

Di situlah keunggulan Jerman, Joachim Loew tahu betul bahwa sepakbola bukanlah pekerjaan individual, tetapi kerja tim. Jerman tidak mengandalkan individual, di tim Jerman tidak ada ketergantungan pada satu sosok bintang, tetapi mengandalkan kerjasama tim.

Di berbagai kesempatan, personal pemain Jerman tidak diinapkan di hotel yang secara individual memiliki kamar masing-masing, tetapi ditempatkan di bungalow yang memiliki ruang bersama untuk berkumpul dan berdiskusi. Dan banyak metode lain yang dilakukan untuk membangun kekompakan tim.

Nampaknya di situlah kunci kemenangan Jerman, kerjasama tim, bukan individual. Dalam manajemen, pola ini juga digunakan. Tim atau organisasi yang baik adalah tim yang mampu membangun team work. Banyak kita lihat sebuah organisasi, lembaga atau perusahaan, bubar atau berantakan disaat mereka kelihangan tokoh kunci. Hal itu juga terjadi pada  Argentina, di saat Messi tak bisa bermain optimal atau Brazil di saat Neymar tidak tampil di lapangan, permainan mereka menjadi tumpul. Namun tidak bagi sebuah tim atau organisasi yang mengandalkan team work. Ia tidak tergantung pada seseorang dan tidak terpengaruh atas keberadaan  tokoh kunci (bintang lapangan).  Meski sang bintang absen, namun team work tetap bekerja baik. (Juli 2014)

121. Juara Sejati

Juara Sejati

Ia  lahir di Brockton, Masachusett Amerika Serikat tanggal 1 September 1923 dengan nama Rocco Francis Marchegian. Lelaki ini  adalah anak dari pasangan imigran asal Italia Pierino Marchegiano dan Pasqualina Picciuto. Sejak kecil masyarakat sekitar memanggilnya dengan panggilan Rocco.

            Rocco terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang pekerja biasa di sebuah pabrik sepatu. Saat usianya menginjak 18 tahun Rocco dinyatakan terkena penyakit pneumonia (paru-paru) yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Ia kemudian drop-out saat duduk di bangku SMA.

Gagal di bangku sekolah, Rocco kemudian bekerja di perusahaan truk angkutan barang Brockton Ice and Coal Company sebagai kuli angkut. Bersamaan dengan itu ia juga bekerja sebagai penggali parit dan pembuat sepatu.

Tahun 1943 ia menjalani wajib militer dan ditempatkan di Swansea, Wales. Tugas militernya sebenarnya sudah selesai pada Maret 1946 seusai Perang Dunia kedua. Namun sambil menunggu akhir masa tugasnya sebagai tentara, ia ikut pertandingan tinju amatir antar tentara. Beberapa kali ia menang, namun perjalanan karirnya di jalur tinju amatir tak begitu mulus.

Rocco sadar bahwa segala seseatu tidak boleh dilakukan separuh hati. Ia kemudian bertekad bahwa tinju adalah jalan hidupnya dan harus ditekuni secara serius. Ia pun mulai berlatih secara total, bahkan kadang hampir seperti gila. Ia beralih ke jalur tinju kelas berat profesional.  Ia juga mengubah namanya menjadi “Rocky Marciano”. Lebih populer, ia dipanggil Rocky.

Sambil terus meningkatkan intensitas berlatih. ia lalu memulai karier sebagai petinju  profesional pada tahun 1947, saat berusia 24 tahun. Perjuangan dan kerja keras Rocky ternyata tak sia-sia. Ia memenangkan 16 pertandingan pertamanya dengan menang knock out. Gebrakan terbesarnya di arena tinju terjadi pada tanggal 12 Juli 1951 saat bertemu juara dunia kelas berat dunia legendaris Joe Louis, sekaligus petinju idolanya sejak kecil. Marciano berhasil menundukkan Joe Louis dengan menang KO di ronde ke-8.

Setahun berikutnya ia merebut gelar juara dunia dengan mengalahkan Jersey Joe Walcott juga dengan dalam sebuah pertarungan sengit dan mendebarkan. Namun akhirnya Rocky  berhasil menghentikan perlawanan Walcott dengan menang KO di ronde ke 13, meski Walcott sempat menjatuhkan Marciano pada ronde pertama.

Disiplin, kerja keras, berlatih dan terus berlatih bagi Rocky merupakan harga mati yang tak bisa ditawar-tawar. Motto itulah yang membuat prestasi demi prestasi berikutnya berhasil direnggutnya. Marciano memperoleh penghargaan Fighter of the Year dari Ring Magazine 3 kali berturut-turut. Hanya Muhammad Ali yang memenangkan penghargaan itu berkali-kali.  Ia mencatat statistik 49 menang sepanjang karirnya di tinju profesional, 43 kali dimenangkan dengan KO, tanpa terkalahkan, maupun seri.

Rocky Marciano (Rocco Francis Marchegian) tampil sebagai juara sejati dan menjadi legenda sepanjang masa. Kisah perjalanan hidupnya diangkat menjadi film yang sangat inspiratif dan box office dengan judul “Rocky” (seri  I sampai V), serta “Rocky Balboa”. Film yang dibintangi Sylvester “Rambo” Stallone ini juga meraih 3 penghargaan Oscar.

***

Awalnya ia tak tahu kalau dirinya punya bakat dalam olahraga renang. Namun ketika duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, Yosita didukung oleh kedua orang tuanya Yusuf Sudaryanto dan Nita Damiana mencoba untuk belajar berenang.

Hasilnya cukup mengagetkan. Yosita ternyata punya bakat terpendam, ia dengan cepat menguasai renang. Hanya berlatih selama tiga hari, kemampuan gadis cilik bernama lengkap Patricia Yosita Hapsari ini mampu menyamai kemampuan renang kawan-kawannya yang telah berlatih selama beberapa bulan.

Yosita, kelahiran Jakarta 30 Juli 1993, putri sulung dari tiga bersaudara ini terus mengasah bakatnya dengan terus meningkatkan intensitas latihan. Saat melanjutkan sekolah SMP di Padang ia bergabung dengan Club Renang Ambacang. Latihan terus dilakukan secara intensif.

Usai gempa 30 September 2009 Yosita pindah ke Jakarta dan berkesempatan ikut berlatih di pelatnas renang. Bulan Oktober 2009 ia mulai menjajal kemampuannya dengan mengikuti Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan di Jakarta.  Di kejuaran ini Yosita langsung meraup 9 medali emas.

Berikutnya tahun 2010 Yosita meraih 2 medali emas di Kejuaran Renang Kelompok Umur, tahun 2011 ia juga memperoleh medali emas di nomor 200 meter gaya bebas. Tahun 2012 pada PON XVIII Yosita menyabet 3 medali emas sekaligus. Yosita juga memecahkan rekor PON di nomor 50 meter gaya bebas atas nama Nancy Suryaatmadja yang diciptakan tahun 2008 lalu. Ia mencatat waktu 26.87 detik sementara rekor lama 27.03 detik

Kesimpulannya, untuk menjadi juara sejati, dari belahan bumi manapun ia berasal kata kuncinya adalah harus melalui proses. Butuh latihan serius, disiplin dan kerja keras. Tak ada jalan lain, agar prestasi Sumbar bisa terdongkrak pada PON mendatang, kata kuncinya berproses (mempersiapkan diri) sejak dini, latihan, disiplin dan kerja keras. Saya yakin, atlet Sumbar pasti bisa menjadi juara sejati, dan mari kita lakukan persiapan itu mulai dari sekarang. (Desember 2012)

 

BAB 7  INSPIRASI DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

122. Tahun 2013

Tahun 2013

Climate change (perubahan cuaca) yang beberapa tahun belakangan menjadi bahan perdebatan sengit para ahli telah menjadi kenyataan. Cuaca ekstrim terjadi di berbagai belahan dunia, musim panas menjadi sangat panas, musim dingin menjadi sangat dingin. Begitu juga musim hujan dan musim kemarau terjadi secara ekstrim. Cuaca menjadi kacau tak menentu, tak lagi bisa diprediksi.

Cuaca ekstrim dan tak menentu telah menimbulkan bencana di berbagai negara  seperti banjir, kekeringan, longsor maupun badai, tak peduli di benua Amerika, Eropa atau Asia.  Tak hanya itu, bencana juga muncul berupa gempa bumi , baik tektonik maupun vulkanik serta tsunami yang menelan korban ribuan jiwa manusia dan kerugian harta benda yang tak terhitung jumlahnya.

Mungkin karena kejadian-kejadian beruntun dan mencekam inilah yang membuat manusia berpikir bahwa dunia akan kolaps, dan berlanjut dengan kiamat.  Ditambah lagi dengan ramalan suku Indian Maya yang menduga bahwa kiamat terjadi pada tahun 2012 (tahun lalu). Mungkin karena mereka berpikir dunia telah berakhir pada tahun 2012, suku Maya hanya melakukan perhitungan kalender sampai tanun 2012.

Tahun 2012 bagi sebagian orang, merupakan tahun yang mencekam dan mendebarkan. Yang sangat fenomenal, gejala alam ini telah menyebabkan tercetusnya sebuah film layar lebar yang menyita perhatian hampir seluruh penduduk dunia dengan tajuk 2012. Film ini menceritakan tentang peristiwa kiamat, yaitu periswa kehancuran bumi dan berakhirnya kehidupan di bumi,  yang terjadi pada tahun 2012.

Film ini menggambarkan bagaimana letusan gunung berapi dan pergeseren lempengan bumi telah mencabik-cabik dan memporak-porandakan planet bumi. Planet-planet dan bintang-bintang di langit kehilangan keseimbangan, kacau balau, lalu saling bertabrakan. Gelombang laut setinggi ratusan meter menyapu daratan beserta bangunan  dan apa saja yang menghalanginya hingga rata dengan tanah. Mungkin itulah yang disebut kiamat.

Meski tidak sedahsyat yang digambarkan dalam film 2012, namun bencana serupa memang telah terjadi di dunia nyata. Gempa di Meksiko, gempa dan tsunami di Jepang, Gempa dan Tsunami di Aceh serta gempa dan tsunami yang terjadi di Sumatera Barat sendiri, telah nyata di depan mata. Dalam hitungan menit bumi berguncang, gedung-gedung beton yang berdiri kokoh, ambruk beserpihan ke tanah, ribuan nyawa hilang seketika. Subhanallah…

Namun apakah kiamat memang terjadi pada tahun 2012 seperti yang diramalkan banyak orang? Ternyata tidak. Kini kita malah telah memasuki tahun 2013. Kiamat adalah rahasia Allah, meski telah banyak dan berulang kali manusia berusaha meramalkannya, namun tak satupun yang terbukti. Tak satupun manusia bisa meramalkan kapan kiamat itu terjadi.

Hal serupa juga terjadi dengan prediksi para ahli bahwa gempa dan tsunami besar akan melanda Sumatera Barat tahun 2011 lalu, menyusul gempa dahsyat tahun 2009. Ramalan itu juga tidak terbukti. Kita bersyukur peristiwa itu tidak terjadi hingga hari ini dan berdoa serta  bermohon kepada Allah semoga peristiwa itu tidak pernah terjadi. Malah nyatanya gempa dan tsunami justru terjadi di Ibaraki Jepang bulan Maret tahun 2011, tanpa diduga.

Belajar dari pengalaman dan kenyataan tersebut kita harus yakin bahwa tidak satu pun manusia yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi esok hari dan juga tidak bisa mengetahui apakah besok ia akan masih hidup dan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kita bersyukur bahwa masyarakat Sumatera Barat adalah masyarakat yang ulet dan tidak cepat putus asa. Meski Sumatera Barat porak poranda akibat gempa tahun 2009, dan sejumlah ramalan buruk lainnya akan menimpa, namun masyarakat daerah ini ini tidak putus asa, justru segera bangkit dan berbenah. Terbukti pada awal tahun 2013 ini kondisi Sumatera Barat telah kembali pulih, gedung-gedung baru yang lebih kokoh dan megah bermunculan, bahkan ekonomi  justru tumbuh lebih baik dari sebelumnya.

Bisa kita bayangkan jika masyarakat Sumatera Barat pasca gempa 2009 putus asa, lalu hanya menunggu nasib, mungkin kota-kota di Sumatera Barat hanya tinggal puing dan menjadi kota mati hingga kini. Padahal waktu terus berjalan, banyak hal yang bisa kita lakukan. Tindakan yang benar adalah seperti seperti  seperti riwayat berikut; bekerjalah kamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan mati besok pagi.

Begitu juga dalam menghadapi tahun 2013. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, peluang rahmat dan bencana yang akan kita hadapi sama besarnya. Namun keberhasilan menjalani kehidupan tergantung dari ikhtiar yang diiringi dengan doa yang kita lakukan.  Jangan berpangku tangan, mari berikhtiar dan berdoa. (Januari 2013)