Tahun 2016 – 2018

ARTIKEL 2016 – 2018

135. 2015-08-12 [Padek] Karakter dan Model Investasi Sumbar

  

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bahwa masyarakat Sumatera Barat perlu sejahtera, itu sudah pasti. Karena itu pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat harus meningkat, pendapatan masyarakat harus terus bertambah.

Lalu strategi manakah yang akan dipakai untuk mendongkrak (leverage) pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumatera Barat yang pada akhirnya mampu mensejahterakan masyarakat?

Untuk memilih pola mana yang akan digunakan, perlu mempertimbangkan dulu budaya, karakter wilayah Sumatera Barat serta karakter masyarakatnya. Hal ini penting dipertimbangkan agar upaya pengembangan ekonomi yang dilakukan tepat sasaran, mengena dan berkelanjutan (sustainable).

Sebut saja sejumlah perusahan besar seperti Sumatex Subur, Asia Biscuit, Rimba Sunkyong, Polyguna Nusantara dan lain-lain, tak lama beroperasi di Sumbar, lalu mati. Hanya PT. Semen Padang, satu-satunya perusahaan skala besar yang mampu bertahan di Sumbar hingga kini. Hingga saat ini, telah 10 kali pergantian Gubernur di Sumbar, sepanjang masa tersebut belum ada investasi besar yang sukses dan bertahan di Sumatera Barat, kecuali PT. Semen Padang yang didirikan sejak zaman Belanda tahun 1910.

Selama ini investasi di bidang industri besar memang tidak nampak menyolok di Sumbar, namun investasi di bidang lain dari tahun ke tahun semenjak 2010 hingga kini terus meningkat misalnya untuk bidang pariwisata (seperti perhotelan, restoran), home industri, UMKM, energi panas bumi dan lain-lain.
Kita tentu tidak ingin hal serupa terus terjadi. Untuk apa bersusah payah menarik investor ke Sumatera Barat, jika hanya jalan sebentar, lalu kolaps dan mati. Untuk itu akar persoalannya harus dicari agar didapat solusi yang tepat dan ditemukan model investasi dan pola pengembangan ekonomi yang cocok untuk Sumatera Barat.

Secara sederhana ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan jika melakukan investasi atau pengembangan ekonomi di Sumatera Barat. Pertama adalah faktor budaya kedua faktor wilayahnya dan ke tiga adalah faktor karakter masyarakatnya. Budaya masyarakat Sumatera Barat sangat spesifik, sangat religius, terkenal dengan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Produk industri yang bertentangan dengan agama/budaya pasti ditolak, begitu pula investor yang tidak memperhatikan budaya dan kearifan lokal juga tidak diterima masyarakat. Kenyataan lapangan sangat jauh berbeda dengan teori-teori yang ada dalam texbooks.

Dari aspek wilayah, Sumatera Barat didominasi oleh pergunungan dengan kemiringan rata-rata di atas 45 persen. Karena itu lebih dari 60 persen wilayah Sumatera Barat adalah Hutan Lindung yang jika salah dalam pengelolaannya justru akan menimbulkan bencana bagi masyarakatnya. Sumbar secara wilayah terletak jauh dari pasar dan raw material industri sehingga kurang efisien, biaya transportasi menjadi tinggi.

Ditinjau dari karakter masyarakat, masyarakat Sumatera Barat terkenal sebagai etnik yang egaliter. Mereka lebih suka bekerja mandiri dibandingkan sebagai buruh. Etnik Minang memiliki energi positif, tidak cepat puas dan selalu ingin lebih maju dan lebih baik. Mereka terkenal sebagai pedagang yang ulet dan sungguh-sungguh . Mereka juga lebih suka menjadi raja kecil di perusahaan kecil daripada menjadi buruh di perusahaan besar.

Karena itu banyak masyarakat Minang lebih memilih menjadi pengusaha UMKM dibandingkan menjadi buruh pabrik atau buruh bangunan. Data menunjukkan 84 persen pengusaha di Sumbar adalah usaha mikro dan 14 persen sebagai pengusaha skala kecil.
Hal ini juga bisa dilihat dari peluang-peluang kerja yang tersedia di Sumatera Barat setiap tahunnya. Setiap tahun sektor konstruksi dan bangunan membutuhkan ribuan tenaga kerja, namun peluang kerja yang terbuka ini umumnya tidak dilirik oleh masyarakat Sumatera Barat sendiri. Peluang kerja ini justru sebagian besar diisi oleh pekerja dari Jawa dan sekitarnya. Begitu juga pekerjaan sebagai buruh tani/perkebunan, pelayan rumah makan, misalnya, juga lebih banyak diisi oleh warga asal luar Sumatera Barat.

Padahal di Sumatera Barat sendiri masih banyak penduduk yang dalam usia kerja masih belum mendapatkan pekerjaan. Mereka umumnya berpendidikan tinggi dan menunda bekerja hingga menemukan pekerjaan yang sesuai dengan apa mereka inginkan.
Data dari Disnaker menyebutkan tidak ada tenaga kerja dari Sumatera Barat yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (TKW) dan tidak ada yang dikirim ke luar negeri sebagai pekerja sektor non formal. Sekitar 1400 pekerja asal Sumbar yang setiap tahunnya bekerja di luar negeri bekerja di sektor formal.

Uniknya di Sumatera Barat kemiskinan tidak berkorelasi dengan jumlah pengangguran, sebagaimana di provinsi lain. Kemiskinan di Sumatera Barat jauh di bawah rata-rata nasional, namun pengangguran di Sumatera Barat lebih tinggi, 0,1 persen di atas rata-rata nasional. Hal ini menggambarkan bahwa Masyarakat Sumatera Barat lebih selektif memilih tempat mereka bekerja dan jumlah pendapatan yang akan mereka terima.

Di sisi pemilik usaha, mereka cendrung memilih pekerja asal luar Sumatera Barat (terutama Jawa) dengan alasan pekerja asal Jawa tidak memilih-milih jenis pekerjaan, siap bekerja kasar di lapangan, tidak harus bekerja di kantoran dan upah lebih rendah. Hal ini bukan mitos, tetapi merupakan fakta yang telah terjadi sejak lama hingga sekarang.

Dari diskusi dengan sejumlah pengusaha dan ekonom, menurut mereka karakter masyarakat itulah yang membuat beberapa perusahaan dengan pola padat karya tidak bertahan lama di Sumatera Barat. Berbeda dengan di Jawa, perusahaan-perusahaan padat karya seperti pabrik sepatu, pabrik rokok, pabrik tekstil, dan sejenisnya bisa jalan dan bertahan lama.
Namun itu bukan berarti investasi tidak bisa dilakukan dan industri tidak bisa dibangun di Sumatera Barat. Nyatanya PT Semen Padang bisa bertahan, Rumah Makan Padang, indsutri kecil dan home industri juga terus tumbuh menjamur dimana-mana.

Ternyata industri yang cocok untuk orang Minang adalah industri yang menggunakan teknologi tinggi, butuh skil untuk bekerja di sana, bukan sebagai pekerja kasar seperti buruh pabrik, buruh bangunan dan sejenisnya. Mereka juga lebih menyukai usaha/pekerjaan yang bersifat mandiri.

Sedangkan untuk pertanyaan kenapa usaha Rumah Makan Minang juga bisa bertahan, jawabannya adalah sistem yang digunakan adalah sistem kerjasama, bukan pola buruh dan majikan. Umumnya sistem kerja di bidang pertanian juga dengan pola kerjasama dengan sistem bagi hasil seduaan atau sepertigaan. Di sini juga tidak berlaku pola hubungan kerja buruh dan majikan. Industri rumahan seperti sepatu, songket, bordiran, sulaman, konveksi, pengolahan hasil pertanian/perkebunan, makanan, juga dilakukan dengan sistem kerjasama.

Kenyataan ini bukanlah sebuah kelemahan yang harus kita nafikan. Menurut saya ini adalah sebuah energi positif etnis Minang yang selalu ingin lebih baik, lebih maju, tidak cepat puas dan ingin mandiri. Energi ini harus disalurkan pada tempatnya secara proporsional. Energi ini pula yang menyebabkan banyak warga etnis Minang menjadi orang-orang sukses dan menjadi tokoh di pentas nasional.

Karena itu tidak perlu dipaksakan untuk memasukkan investasi ke Sumatera Barat jika memang tidak sesuai dengan karakter dan keinginan masyarakat daerah ini, jika tidak ingin kegagalan-kegagalan seperti sebelumnya terulang lagi. Bahkan investasi yang investornya non muslim atau non pribumi juga menjadi persoalan prokontra di Sumbar. Selain itu investasi yang berpotensi merusak harga pasar pun bisa menimbulkan persoalan. Investasi seperti ini dikuatirkan akan mematikan pengusaha lokal mikro dan kecil.

Memilih investasi dan investor yang tepat memang sangat penting. Model pengembangan UMKM dan industri rumahan (home industri) nampaknya adalah di antara bentuk usaha yang cocok dikembangkan sebagai langkah awal pengembangan usaha di Sumatera Barat.

Jepang sendiri sebagai negara industri raksasa mengandalkan home industri untuk mendukung industrinya. Pabrik mobil, misalnya, hanya komponen-komponen utama yang butuh teknologi tinggi saja yang diproduksi di pabrik induk, sedangkan komponen-komponen lain diproduksi oleh industri rumah tangga. Begitu juga barang-barang elektronik, pembuatannya tidak hanya di satu pabrik terpusat, tetapi dibagi-bagi menjadi beberapa komponen terpisah, bahkan komponen-komponen tersebut juga ada yang diproduksi di negara lain. Belakangan tidak hanya Jepang, negara-negara maju lainnya di Eropa juga melakukan hal serupa.

Banyak bukti menunjukkan bahwa pengusaha-pengusaha besar memulai karirnya dari UMKM. UMKM terbukti bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang, UMKM juga cocok dengan sifat egaliter etnis Minang yang lebih suka menjadi raja kecil di perusahaan kecil, dibanding menjadi buruh di perusahaan besar. Namun suatu saat, seperti yang telah banyak terjadi, tentu ia juga ingin naik kelas dan tidak tertutup peluang bagi mereka untuk menjadi raja besar di perusahaan besar.

Model yang cocok untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Sumatera Barat adalah dengan metode pemberdayaan, bukan dengan membangun industri padat karya seperti di daerah lain. Tugas pemerintah adalah memberikan stimulan, pembinaan, pelatihan, membantu modal, sehingga bermunculan usaha-usaha kecil dan mikro lalu memfasilitasi dan membina usaha tersebut sehingga tumbuh dan berkembang menjadi usaha-usaha besar dan mapan. Pola seperti ini memang butuh waktu, butuh dukungan banyak pihak (multi stake holders), termasuk perguruan tinggi. Pola pendekatan seperi ini memang tidak langsung terlihat perkembangan dalam waktu singkat. Namun strategi ini lebih tepat dan dampaknya bertahan lama. Pola pemberdayaan cocok untuk Sumatera Barat karena masyarakat Sumatera Barat memiliki potensi dan kemampuan dasar yang bisa dikembangkan.

Jika kita benar-benar memperhatikan aspek budaya, kondisi wilayah dan karakter masyarakat Sumatera Barat yang spesifik seperti yang dibahas di atas, in-sya Allah, model investasi dan pola pengembangan ekonomi akan berjalan dengan baik dan bertahan lama. Model ini telah diterapkan pada enam Program Gerakan Pembangunan yang telah dilaksanakan di Sumatera Barat sejak tahun 2011. Hasilnya memang tidak langsung dan cepat terlihat seperti membalikkan telapak tangan. Namun program ini langsung menyentuh masyarakat di akar rumput, langsung mencapai titik-titik sumber permasalahan. ***

Padang Ekspres, 12 Agustus 2015

 

136. 2015-09-04 [Padek] Aksi Sejuta Lidi

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Ide yang dilontarkan Ibnu dan kawan-kawan, alumni  SMA 3 Padang tahun 2015 sebenarnya sederhana saja. Anak muda ini dan kawan-kawan ingin memberikan sesuatu sebagai tanda cintanya untuk Kota Padang. Ibnu dan kawan-kawan ingin membebaskan Pantai Muaro Sungai Lasak-Purus Kota Padang dan sekitarnya dari sampah yang merusak pemandangan.

Lalu sejumlah kawan-kawan alumni SMA 3 Padang ia kumpulkan, sejumlah pihak ia hubungi untuk bisa ikut mebantu. Agar kegiatan pembersihan pantai itu menjadi menarik dan tidak membosankan, di tempat dan saat yang sama juga diadakan pentas seni dan sejumlah lomba. Acara itu lalu diberi judul Pentas Sejuta Aksi, Aksi Sejuta Lidi, Kreasi Sejuta Aksi.

Pada awalnya saya agak miris melihat pemandangan di lokasi acara tersebut. Dimana-mana sampah berserakan, saya jadi bertanya,  apakah ini tempat wisata ataukah tempat pembuangan sampah? Padahal lokasi tersebut adalah salah satu destinasi wisata andalan Kota Padang. Sungguh seperti siang dan malam jika dibandingkan dengan destinasi wisata di daerah lain, apalagi jika dibandingkan  dengan objek wisata di negara lain seperti Malaysia, Singapura, atau Jepang.

Usai melantunkan beberapa buah lagu untuk memberi semangat, tanpa banyak komentar lagi, kami langsung memungut sampah-sampah yang bertebaran, lalu memasukkannya ke dalam tong sampah bantuan dari PT. Coca-cola. Sebagian kawan lainnya bertugas menyapu dengan sapu lidi yang juga sudah disediakan.

Melihat sejumlah kawan dan saya sendiri sudah turun tangan memungut sampah, yang lain juga tak tinggal diam, termasuk karyawan PT. Coca-cola, BNI  dan sponsor lainnya. Warga sekitar Muaro Lasak pun tak mau ketinggalan ikut berpartisipasi memungut sampah.

Ternyata dengan bergotong-royong tak butuh waktu lama untuk menyingkirkan sampah- sampah yang merusak keindahan panorama pantai tersebut. Hanya sekitar 1 jam bergotong-royong, lokasi yang sebelumnya penuh sampah berubah menjadi bersih dan membuat suasana berubah menjadi nyaman. Sampah yang sebelumnya berserakan telah dikumpulkan dan selusin tong sampah besar yang disediakan telah terisi penuh.

Melihat hasil kerja gotong royong massal yang cukup baik tersebut saya jadi berandai-andai. Andai saja masing-masing sekolah, perguruan tinggi yang ada Kota Padang yang ribuan jumlah murid, mahasiswa dan almamaternya turun bergotong royong membersihkan tempat-tempat umum yang ada di Kota Padang, pastilah dalam waktu singkat tempat-tempat tersebut bersih seketika. Kantor-kantor, instansi juga memiliki karyawan ratusan atau ribuan orang jumlahnya juga bisa ikut berpartisipasi.

Alangkah indahnya jika hal itu terwujud. Suatu saat Kota Padang, bahkan semua kota dan daerah di Sumatera Barat bersih, rapi dan indah sampai ke pelosok-pelosok sekalipun. Ditambah lagi dengan masyarakatnya ramah, rukun, bersahabat dan taat beribadah. Jika sudah demikian, tidak hanya investor yang datang mengantar rezeki, Tuhan pun lebih lagi ikut mencurahkan rezkinya.

Bercermin ke negara lain yang lebih maju dan daerahnya terkenal bersih, peran pemerintah untuk mengelola kebersihan kota memang sangat penting. Pemerintah perlu menyediakan sarana dan pra sarana kebersihan serta regulasi berupa aturan maupun
ajakan agar masyarakat ikut berpartisipasi menjaga kebersihan.

Namun pengalaman membuktikan bahwa justru  peran masyarakat jauh lebih penting. Kesadaran masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, jauh lebih besar dampaknya dibandingkan dengan memperbanyak petugas kebersihan.  Bisa kita bayangkan jumlah total penduduk kota Padang lebih dari 800.000 jiwa, sementara petugas kebersihan hanya puluhan orang saja. Tentu saja jumlah ini sangat tidak seimbang.

Karena itu di negara-negara maju justru kesadarannya masyarakatnya yang lebih berperan, jumlah petugas kebersihan malah lebih sedikit.  Di Singapura atau di Jepang misalnya, kita tidak menemukan selembar sampahpun berserakan. Karena memang tidak ada satu orangpun  masyarakat di sana yang membuang sampah sembarangan. Sampah bekas kemasan makanan masing-masing atau sisa makanan selalu mereka buang di tempat sampah, atau mereka simpan sementara dalam tas masing-masing  sampai menemukan tempat sampah.

Saya yakin, jika hal serupa juga kita lakukan, kita juga bisa memiliki kota dan daerah yang bersih, tak kalah dengan kota terbersih di dunia lainnya. Islam telah mengajarkan bahwa kebersihan itu penting malah dikatakan bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman.

Gerakan kebersihan juga seperti lidi, jika hanya sebatang lidi saja yang diandalkan untuk menggerakkan kebersihan, tak kan banyak  berarti. Tetapi jika dilakukan dengan banyak lidi bersama-sama membentuk sapu lidi, sapu lidi diperbanyak lagi menjadi jutaan sapu lidi, Insya negeri ini akan menjadi bersih dan nyaman.***

Padang Ekspres, 4 September 2015

 

137. 2015-09-10 [Singgalang] Kekerasan Seksual Pada Wanita dan Anak

KEKERASAN SEKSUAL PADA WANITA DAN ANAK

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Kita tentu masih ingat peristiwa heboh yang terjadi sekitar bulan April tahun lalu. Dunia pendidikan gempar akibat terungkapnya kasus pelecehan seksual terhadap sejumlah murid  di Jakarta International School (JIS) Jakarta. Diduga kasus ini sudah lama terjadi dan telah merenggut banyak korban, namun baru saat itu muncul ke permukaan.

Berikutnya pada bulan November di tahun yang sama kita juga dikagetkan oleh peristiwa pembunuhan atas sekretaris  Presiden Direktur sebuah perusahaan telekomunikasi terkenal di Indonesia. Wanita berparas cantik itu diduga dibekab lalu ditenggelamkan dalam bak mandi hingga menghembuskan nafas terakhir.

Bulan  Juni lalu kita juga dikagetkan oleh kasus pembunuhan Angeline. Bocah malang berwajah polos yang masih berusia 8 tahun juga menjadi korban kekerasan. Sebelum dibunuh menurut pemeriksaan polisi ia juga mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Setelah dibunuh ia  dikubur di bawah kandang ayam.

Dari waktu ke waktu berbagai peristiwa kriminal terus terjadi silih berganti seperti tak habis-habisnya. Peristiwa krimiminal dan kekerasan yang membuat kita bergidik tersebut ramai menghiasi berita-berita utama media massa.  Nyaris setiap hari ada saja peristiwa perkosaan, kekerasan, perampokan, penculikan, pembunuhan yang terjadi. Namun yang perlu digaris bawahi, umumnya yang menjadi korban peristiwa kriminal, kekerasan atau pelecehan seksual tersebut bisa dipastikan adalah perempuan dan anak-anak.

Hal serupa juga terjadi di  Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Sumbar dan cendrung terus meningkat jumlahnya. Tahun 2012 kekerasan terhadap perempuan berjumlah 225 kasus, namun tahun berikutnya meningkat menjadi 322 kasus. Kasus kekerasan terhadap anak juga meningkat dari 300 kasus pada tahun 2012 menjadi 327 kasus pada tahun 2013.

Perempuan dan anak-anak memang  sering menjadi sasaran kejahatan dan kekerasan, penyebabnya adalah, anak-anak dan perempuan merupakan kelompok yang lemah. Dari zaman Nabi Adam dulu hingga kini perempuan selalu menjadi sasaran kejahatan. Bahkan di zaman jahiliyah perempuan tidak ada harganya sama sekali, dan banyak bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup sesaat setelah dilahirkan.

Perempuan dan anak-anak sering menjadi korban kejahatan karena mereka memang ditakdirkan memiliki kondisi fisik yang lemah. Karena itulah mereka sering menjadi korban kejahatan. Karena fisiknya lemah dan selalu menjadi korban, agar kejadian tersebut terus berlarut-larut, maka mereka perlu dilindungi.

Negara telah mengamanatkan untuk melindungi korban dan saksi tersebut melalui Undang-undang No 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Berdasarkan Undang-undang tersebut maka dibentuklah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Pada hari Rabu tanggal 2 September lalu bertempat di Hotel Grand  Inna Muara Padang, LPSK mengadakan Focus Group Discussion dengan judul Penanganan Korban Tindak pidana Kekerasan Seks Pada Perempuan dan Anak. Kebetulan saya diminta menjadi keynote speaker pada acara tersebut.

Masalah ini perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, baik dari pihak keluaega sendiri, unsur penegak hukum, unsur pendidik dan semua lapisan masyarakat. Menurut saya ada 4 langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah Kekerasan Seks Pada Perempuan dan Anak tersebut, yaitu promote, preventif, protektif dan kuratif. Promote dalam arti memberikan pengetahuan terhadap perempuan dan anak tentang kekerasan seksual, preventif dalam arti mencegah agar tidak terjadinya kekerasan seksual. Protektif dalam dalam arti melindungi mereka dari kemungkinan terjadinya tidakan kekerasan seksual dan kuratif dalam arti merawat dan mengobati mereka yang menjadi korban kekerasan seksual, baik fisik maupun mental.

Namun pilihan terbaik  tentu adalah mencegah jangan sampai peristiwa tersebut terjadi, multistake holders harus bekerja keras dan saling bersinergi agar kejadian buruk itu tidak terjadi lagi. Lindungi keluarga kita, wanita dan anak-anak kita jangan sampai menjadi korban peristiwa mengerikan itu lagi.  ***

Singgalang, 10 September 2015

 

138. 2015-11-02 [Padek] Sumpah Pemersatu Bangsa

SUMPAH PEMERSATU BANGSA

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Fakta sejarah membuktikan bahwa Bangsa Belanda berhasil menjajah Indonesia selama 350 tahun (tiga setengah abad). Rentang waktu tersebut bukanlah masa yang pendek, malah terlalu lama. Strategi utama yang dilancarkan Belanda sehingga mereka bisa terus bercokol Indonesia terkenal dengan nama politik devide et impera.

Dalam bahasa Indonesia strategi politik devide et impera diterjemahkan sebagai politik adu domba atau politik pecah belah. Politik devide et impera pada dasarnya adalah mencegah terbentuknya suatu kelompok besar atau kekuatan besar yang solid (kompak). Jika terbangun kelompok yang besar, kuat dan solid di bumi Indonesia saat itu, tentulah dengan mudah penjajah Belanda bisa diusir dari bumi Indonesia.

Politik adu domba saat itu dilaksanakan dengan mengadu domba sejumlah kerajaan-kerajaan kecil yang banyak terdapat di Indonesia. Di Sumatera kala itu terdapat sejumlah kerajaan, di Jawa juga tumbuh sejumlah kerajaan. Begitu juga di Kalimantan, Sulawesi, Papua dan daerah lainnya. Raja yang satu diadu domba dengan raja lainnya, kelompok yang satu juga dibenturkan dengan kelompok lainnya. Demikian juga tokoh-tokoh yang dianggap berpengaruh saat itu tak ketinggalan jadi sasaran adu domba.

Strategi politik ini ternyata berhasil. Sepanjang 350 tahun Kolonial Belanda berkuasa memang tidak terjadi pemberontakan yang berarti. Letupan-letupan kecil yang muncul ke permukaan segera dapat diredakan, bangsa Indonesia yang di adu domba tidak berdaya, sibuk berbenturan dengan sesama bangsa sendiri.

Belakangan baru bangsa Indonesia menyadari kekeliruan mereka. Di sejumlah daerah kemudian muncul gerakan-gerakan yang lebih terkoordinir yang bersifat kedaerahan. Gerakan ini terutama diorganisir oleh pemuda dan pelajar Indonesia yang jumlah mulai banyak saat itu.

Puncak gerakan itu terjadi pada tahun 1928 yaitu saat dilaksanakannya Kongres Pemuda II tanggal 27-28 Oktober di Batavia. Semua organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. sepakat untuk bersatu-padu menghimpun kekuatan bersama untuk mengusir penjajah. Mereka sepakat untuk tidak mau lagi menjadi bulan-bulanan oleh politik adu domba Belanda.

Ketua panitia kongres saat itu Sugondo Djojopuspito didukung oleh tokoh lainnya sepakat untuk mengikrarkan Soempah Pemoeda (Sumpah Pemuda). Ikrar itu adalah sumpah untuk bersatu padu, menyatakan bahwa semua bangsa Indonesia adalah satu kesatuan, memiliki tanah tumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yaitu Indonesia.

Naskah Sumpah Pemuda disiapkan oleh sekretaris panitia yang juga putra Sumatera Barat Mr. Muhammad Yamin. Saat itu pula lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan WR Soepratman pertama kali dikumandangkan. Sejak saat itu semangat bersatu bangsa Indonesia mulai bergelora, mereka tak mau lagi dipecah belah oleh politik devide et Impera.

Melalui momen Sumpah Pemuda tahun ini kita berharap semangat persatuan dan kesatuan yang telah membara sejak tahun 1928 itu dan telah terbukti mampu mempersatukan kekuatan Bangsa Indonesia kembali berkobar. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku dan berbagai agama memang berpeluang untuk dipecah belah lagi dengan politik devide et impera. Perbedaan agama, perbedaan daerah, perbedaan suku, tanpa kita sadari memang sering dijadikan alat untuk mengadu domba. Belakangan perbedaan pilihan, perbedaan orientasi politik juga bisa dimanfaatkan pihak lain untuk memecah belah.

Mari kita nyalakan lagi semangat kesatuan dan persatuan yang dulu telah berhasil mempersatukan Indonesia serta mengenyahkan penjajah dari Bumi Indonesia tercinta ini. Meski kita berbeda pulau, etnis, agama, pilihan dan orientasi politik mari kita bersumpah dalam hati masing-masing bahwa kita adalah satu, kita semua bersaudara, berbangsa, bertanah air satu dan berbahasa satu: Indonesia. ***

Padang Ekspres, 2 November 2015

 

139. 2015-11-03 [Singgalang] Ayo Pemuda

AYO PEMUDA

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pemuda merupakan potensi yang luar biasa untuk membangun sebuah negara. Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno mengungkapkannnya dalam kata-kata bijak yang fenomenal dan masih populer hingga kini: “Berikan saya 1000 orang tua akan saya cabut Gunung Semeru sampai ke akar-akarnya. Berikan saya 10 pemuda, niscaya akan saya guncangkan dunia.”

Melalui ungkapan ini Bung Karno jelas ingin menggambarkan betapa penting dan luar biasanya potensi kekuatan dan semangat pemuda. Bersama 1000 orang tua ia mampu mencabut Gunung Semeru, tapi hanya 10 orang pemuda ia yakin mampu mengguncang dunia.

Tentu saja kata-kata Bung Karno tersebut bukan sekedar omongan kosong, sejarah telah membuktikan kebenarannya. Bung Karno bersama sejumlah tokoh pemuda Indonesia telah melakukan upaya pergerakan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai organisasi kepemudaan sejak berusia 26 tahun. Lalu beliau diangkat menjadi Presiden di saat berumur 44 tahun. Demikian juga dengan Bung Hatta. Beliau diangkat menjadi Wakil Presiden di saat berusia 43 tahun. Demikian juga tokoh-tokoh pelopor Sumpah Pemuda tahun 1928, rata-rata saat itu berusia di bawah 30 tahun.

Pada tahun 1965, di saat berusia 29 tahun, BJ Habibie mengguncang dunia dengan meraih gelar doktor di bidang aeronautika di Jerman. Putra Pare-pare Sulawesi Selatan ini meraih gelar doktor di Jerman dengan prediket summa cumlaude (nilai rata-rata 10). Tahun 1967 ia menemukan rumus yang di dinamai “Faktor Habibie” karena bisa menghitung keretakan atau crack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang. Penemuan rumus yang menggemparkan dunia ini dan masih dimanfaatkan sampai sekarang, membuat ia di juluki sebagai “Mr. Crack”. Semua prestasi itu beliau ukir saat berusia belia.

Jika kita tanya siapakah gerbong penggerak utama peristiwa bersejarah reformasi tahun 1998? Maka jawabannya pastilah pemuda. Ini berarti yang berperan besar dalam memutar balikkan sejarah Indonesia dari era penjajahan ke era kemerdekaan adalah pemuda dan yang memutar balikkan sejarah Indonesia dari era orde baru ke era reformasi juga pemuda.

Dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW mensyiarkan agama Islam, peran pemuda juga menjadi andalan. Tentu saja Nabi membutuhkan pemuda-pemuda tangguh yang memiliki fisik yang kuat dan semangat juang yang tinggi, terutama saat terjun di medan perang.

Para ahli sepakat berpendapat, jika ingin melihat masa depan suatu bangsa dan negara, maka lihatlah kualitas generasi mudanya. Jika suatu negara memiliki banyak generasi muda (pemuda) yang baik, ulet dan berfikiran maju, maka niscaya negara tersebut segera menjelma menjadi negara maju. Sebaliknya jika negara tersebut memiliki banyak generasi muda bermental bobrok, loyo dan pemalas, maka tunggulah kehancuran.

Bagaimana dengan Sumatera Barat? Daerah ini sejak dulu terkenal sebagai penghasil tokoh-tokoh nasional dan pejuang kemerdekaan. Sebut saja sederet nama seperti M. Yamin, Agus Salim, Natsir, Hamka, M. Hatta dan banyak lainnya. Masyarakat Minang (Sumatera Barat) dari dulu hingga kini terkenal memiliki energi positif selalu ingin maju dan lebih maju. Selalu ingin lebih baik dan lebih baik lagi.

Umumnya warga Sumatera Barat sangat menyadari pentingnya arti pendidikan, pendidikan dianggap prioritas nomor satu bagi anak-anak mereka karena persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak kian hari kian sulit. Karena itu tidak heran jika berbagai lembaga pendidikan cukup berkembang baik di Sumatera Barat dan jumlah lulusan SLTA yang diterima di berbagai Perguruan Tinggi Negeri juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

Jika semangat dan energi positif itu terus dinyalakan dan dipelihara, saya yakin generasi muda Sumatera Barat akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan yang luar biasa untuk membangun Sumatera Barat menjadi daerah yang sejahtera dan bermartabat. Saya yakin betul dengan kekuatan dan potensi yang dimiliki pemuda (generasi muda pada umumnya). Karena itu saya selalu berusaha dengan berbagai cara untuk bisa dekat dengan mereka, menjalin komunikasi yang baik dengan mereka guna menangkap aspirasi mereka.

Wahai pemuda mari kita persiapkan diri untuk meraih masa depan yang lebih baik. Mari kita himpun semua potensi kalian yang luar biasa itu, mari saling bahu membahu untuk membangun dan mempersiapkan masa depan Sumatera Barat yang lebih. Mari kita sinsingkan lengan untuk membangun Sumatera Barat yang lebih sejahtera, sukses di dunia, juga sukses di akhirat. ***

Singgalang, 3 November 2015

 

140. 2015-11-20 [Singgalang] Bencana, Ikhtiar dan Doa

BENCANA, IKHTIAR DAN DOA

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bencana kabut asap baru saja berlalu. Tak terhitung jumlah kerugian yang ditimbulkannya. Ribuan orang terifeksi penyakit saluran pernafasan atas (ISPA), terutama anak-anak. Belasan orang meninggal dunia terpapar racun yang terbawa kabut asap.

Kabut asap juga melumpuhkan ekonomi, sejumlah penerbangan terpaksa ditunda bahkan dibatalkan. Beberapa bandara di Sumatera terpaksa ditutup untuk sementara akibat asap pekat yang menutup jarak pandang yang pada akhirnya bisa membahayakan lalu-lintas penerbangan. Berbagai transaksi dan aktifitas ekonomi tak bisa terlaksana, yang menyebabkan pelaku ekonomi merugi.

Berapa kerugian yang ditimbulkan terhadap bidang pertanian? Jumlah ini lebih sulit lagi untuk diperhitungkan dan diprediksi (un predictable). Selama berbulan-bulan matahari tak muncul di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama Sumatera, padahal matahari sangat penting dalam proses fotosintesa pada tanaman.  Tanpa proses fotosintesa yang baik, pastilah tanaman (baik padi, buah-buahan, sayuran dan sebagainya) juga tidak mampu berproduksi dengan baik. Jumlah produksi berbagai produk pertanian tersebut pastilah jauh menurun.

Tak  mudah memadamkan api yang terlanjur berkobar melahap  jutaan hektar hutan dan lahan gambut Indonesia yang menjadi penyebab utama terjadinya kabut asap. Sejumlah pesawat khusus yang dilengkapi alat pemadam api dikerahkan, sejumlah pesawat sejenis dari negara sahabat juga ikut membantu memadamkan api melalui udara. Pasukan pemadam kebakaran dan sejumlah relawan juga dikerahkan melalui jalur darat.

Masyarakat umum dan pemuka agama juga tak tinggal diam, mereka menggelar  shalat istisqa, memohon agar Tuhan menurunkan hujan untuk memadamkan api yang terus berkobar seolah-olah tak bergeming dipadamkan dengan berbagai alat modern dan paling canggih sekalipun. Kebakaran yang terjadi sudah terlalu luas dan api sudah terlanjur membesar. Kebakaran yang  terjadi sudah di luar kemampuan manusia untuk mengatasinya.

Alhamdulillah ternyata Tuhan memang maha pengasih. Hujansegera turun mengguyur Bumi Nusantara, api  yang tengah berkobar berangsur mati hingga tak ada lagi. Kabut asap secara perlahan berangsur sirna, langit kembali terlihat biru dan matahari kembali bersinar terang.

Namun bencana yang terjadi nampaknya tak berhenti sampai di situ. Hujan yang sebelumnya sangat diharapkan kedatangannya menjadi pahlaman pembasmi kabut asap dan penjinak api yang tak terkalahkan, ternyata juga bisa menjelma menjadi bencana. Di sejumlah tempat yang biasanya memang terkenal sebagai daerah rawan banjir, rahmat hujan berubah menjadi bencana. Di sejumlah daerah terjadi bencana banjir dan longsor. Bencana kembali menelan korban harta, benda bahkan  nyawa.

Salahkah alam? Tidak adilkan Tuhan kepada manusia sehingga berbagai bencana ditimpakan kepada manusia seperti tak habis-habisnya?

Alam diciptakan Tuhan dalam keadaan seimbang dan sempurna, memiliki ekosistem yang teratur dan seimbang. Manusialah yang menimbulkan kerusakan terhadap alam yang pada akhir menimbulkan bencana terhadap mereka sendiri. Hal itu telah disebutkan dalam Al Quran sejak belasan abad lalu.

Tindakan merusak alam seperti meludah ke langit, pada akhirnya akan berlalik lagi dan akan mengotori pelakunya sendiri. Membabat dan membakar hutan, membuang sampah, mencemari lingkungan (tanah, air dan udara) dengan zat-zat kimia dampak buruknya akan diterima kembali oleh manusia sendiri.

Untuk itu sejak dini mari kita berusaha, berikhtiar untuk menjaga kelestarian, keteraturan alam yang telah diciptakan Tuhan ini sebaik mungkin. Jangan membuang sampah, mencemari lingkungan dan merusak lingkungan yang mengganggu keseimbangan alam. Hanya bumi satu-satunya planet tempat manusia bisa hidup dengan nyaman, dilengkapi segala kebutuhannya. Tempat tinggal manusia selanjutnya selain bumi adalah akhirat.

Jika kita sudah berusaha bersungguh-sungguh menyelamatkan alam, mengantisipasi kemungkinan bencana yang akan terjadi, tentu resiko terkena dampak bencana tersebut bisa diperkecil. Namun disaat  bencana yang terjadi di luar perhitungan dan kendali manusia, tidak jalan lain, kita berserah diri pada Tuhan. Saat itulah doa menjadi alat perlindungan paling ampuh. Allah berfiman, “Berdoalah kamu, niscaya akan Aku kabulkan.”  Mari kita berikhtiar dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar negeri kita terhindar dari segala bencana. Aamiin. ***

Singgalang, 20 November 2015

 

141. 2015-12-21 [Singgalang] Petahana Bertumbangan

PETAHANA BERTUMBANGAN

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sebuah hal yang cukup menarik terjadi pada pilkada serentak tahun 2015 di Sumatera Barat, banyak calon petahana yang bertumbangan. Padahal jika melihat kondisi di luar Sumbar¸ seperti di Jawa, calon petahana adalah calon kuat untuk kembali menang. Seperti yang terjadi di Kota Surabaya, Kabupaten Karawang, Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten Gresik.

Calon petahana sudah memiliki modal selama 5 tahun untuk memenangkan pilkada, karena telah melakukan sosalisasi, kunjungan kerja hingga ke pelosok, mengunjungi masyarakat, eksekusi program-program pembangunan yang pro rakyat, serta berbagai kegiatan lainnya selama masa kepemimpinannya. Sehingga masyarakat bisa diambil hatinya untuk memilih mereka kembali.

Popularitas (keterkenalan) dan akseptabilitas (penerimaan) untuk meraih suara di pilkada seharusnya sudah dimiliki oleh para calon petahana karena sudah bekerja memimpin wilayahnya. Namun ternyata ini tetap belum menjadi jaminan bagi calon petahana untuk memenangkan pilkada berikutnya. Hasil hitung cepat (quick count) maupun hasil penetapan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat memperlihatkan hal tersebut. Petahana bertumbangan juga terjadi pada pilkada 2010.

Beberapa calon petahana yang bertumbangan itu di antaranya calon di Kabupaten Dharmasraya, Kota Bukittinggi, Kota Solok, Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman, dan Kabupaten 50 Kota. Banyaknya petahana yang bertumbangan ini bisa dimaknai adanya keinginan masyarakat di Sumbar untuk mendapatkan kepuasan yang lebih baik dari sebelumnya dari calon-calon yang ada. Jika masyarakat menganggap pemimpin sebelumnya belum bisa memberikan kepuasan maka akan dipilih calon baru yang dianggap bisa memberikan kepuasan lebih baik.

Meskipun calon petahana memiliki prestasi yang bagus selama masa kepemimpinannya, belum menjadi jaminan akan dipilih kembali oleh masyarakat. Masyarakat belum bisa diyakinkan dengan pencapaian dan prestasi yang sudah didapat. Mereka akan mencari pemimpin baru yang dianggap bisa lebih baik lagi, meskipun belum memberi bukti, namun di mata masyarakat bisa melakukan berbagai perubahan yang lebih baik.

Masyarakat Sumbar memang memiliki keinginan untuk lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Selalu merasa belum puas dengan kondisi yang ada. Indeks kebahagiaan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik beberapa waktu lalu memperkuat hal ini. Masyarakat Sumbar memiliki energi positif untuk mendapatkan kepuasan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Inilah yang juga menjelaskan adanya budaya merantau masyarakat Sumbar selama ini. Dengan merantau, harapan akan kehidupan yang lebih baik lagi memiliki peluang yang besar.

Dengan adanya contoh kasus seperti ini, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk memenangkan hati masyarakat Sumbar tidaklah mudah. Masyarakat memiliki penilaian tersendiri. Masing-masing punya cara tersendiri dalam menilai pemimpin dan calon pemimpin mereka. Dan bagi masyarakat Sumbar, yang akan dipilih adalah yang mampu memberikan kepuasan lebih baik bagi mereka.

Dengan kata lain, masyarakat Sumbar adalah masyarakat yang cerdas. Memilih dengan menggunakan energi positif yang ada pada diri mereka. Informasi yang datang dan berseliweran disaring dan dipilah, sehingga mereka punya cara sendiri dalam menilai.

Hal ini bisa menjadi motivasi bagi para pemimpin dan calon pemimpin, bahwa dengan bersungguh-sungguh bekerja, melayani masyarakat, memperbaiki kondisi masyarakat, memiliki komunikasi yang baik, insya Allah nama mereka akan tersimpan di dalam pikiran masyarakat.

Pemimpin di Sumbar berbeda dengan di wilayah lain. Ia hanya ditinggikan seranting, didahulukan selangkah, maka masyarakatpun bisa menilai dengan jelas dan tak mempan diberi informasi keliru. Dengan budaya lisan (maota) yang berkembang sejak dulu, masyarakat bisa memilah dan mendapatkan informasi tentang pemimpinnya, dan kemudian memilih berdasarkan penilaian yang ada. ***

Singgalang, 21 Desember 2015

 

142. 2015-12-30 [Padek] Politik Uang

POLITIK UANG

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Politik uang (money politic) ternyata juga terjadi pada pilkada 2015. Setidaknya di wilayah Sumatera Barat. Ini bisa dilihat dari informasi yang beredar, baik di masyarakat, media maupun di kalangan pengamat politik yang kerap mengkritisi jalannya pilkada. Masih ada yang mencoba melakukannya dan kemudian diketahui masyarakat. Lalu masyarakat sendiri yang melaporkan bahwa mereka telah mendapat suatu pemberian dengan ajakan memilih pasangan calon tertentu.

Sebagian dari mereka merasa risih dengan pemberian tersebut, karena ternyata mereka sudah memiliki pilihan sendiri dan masih sulit mengubah pilihan hanya karena faktor pemberian sesuatu. Sehingga kerisauan mereka ini diceritakan kepada pihak lain. Masyarakat ternyata memiliki hati nurani dalam menentukan pilihannya. Semakin mendapat iming-iming maka mereka akan semakin bertanya-tanya, dan merasa terkungkung. Padahal sehari-hari mereka terbiasa merdeka untuk melakukan aktivitas, termasuk menentukan siapa yang akan jadi pilihannya di pilkada.

Dalam pilkada 2015 ini, sudah ada aturan yang menyebutkan tentang barang-barang yang bisa disiapkan oleh pasangan calon untuk diberikan kepada masyarakat. Misalnya mug (gelas), payung, pulpen, kaos, dan kalender yang memuat logo atau foto pasangan calon. Jika barang yang dibagi kepada masyarakat di luar ketentuan yang diatur, seperti magic jar dan beras, apalagi uang disertai ajakan untuk memilih calon tertentu maka sudah jelas melanggar aturan.

Di beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di mana daerah tersebut terjadi pembagian barang tertentu pun ternyata hasil penghitungan tidak menunjukkan hubungan positif antara pemberian barang dan pemilihan calon tertentu. Barang yang dibagikan diterima, tapi tidak menjamin untuk memilih sesuai permintaan pemberi barang. Dan juga tidak terjadi kemenangan di daerah tersebut bagi pelaku money politic.

Selain itu, memang ada juga yang berhasil dipengaruhi oleh politik uang ini. Namun karakter pemilih yang demikian bukan mencerminkan realita mayoritas. Mereka ini adalah orang yang kehidupannya sangat sederhana. Ketika menerima bantuan maka akan melakukan balas jasa. Pendidikannya pun masih tergolong rendah, tamatan SD dan SMP. Dan kurang terbuka dalam menerima informasi. Sehingga menyebabkan mudah dipengaruhi. Namun kelompok ini sangat kecil dan tidak signifikan.

Mereka kebanyakan tinggal di daerah pinggiran, jauh dari pusat kota, bahkan ada yang terpencil. Pergaulan dengan masyarakat maupun dunia luar masih tertutup, ditambah dengan tingkat pendidikan yang rendah dan kondisi ekonomi yang kurang baik.

Politik uang bisa dijelaskan seperti dalam UU No. 3 Tahun 1999 pasal 73 ayat 3, “Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu juga dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu.”

Hasil penelitian lembaga survei memang menunjukkan bahwa masyarakat di Sumbar tidak bisa dipengaruhi dengan politik uang. Jika pun ada yang menerima, maka penerimaan tidak berhubungan langsung dengan pilihan kepada calon tertentu.  Secara umum masyarakat masih memiliki hati nurani ketika memilih calon kepada daerah. Iming-iming pemberian berupa barang atau uang justru memunculkan penolakan oleh masyarakat. Sebagian masyarakat telah memiliki pilihan sebelum hari-H pemilihan, sehingga pemberian uang atau barang tidak berpengaruh.

Penolakan politik uang oleh masyarakat ini patut dicermati oleh setiap orang yang ingin berlaga pada pemilu maupun pilkada di Sumbar. Masyarakat lebih menginginkan kompetisi yang sehat di antara pasangan calon dan mendapatkan kepuasan yang lebih baik dengan memilih calonnya. Politik uang hanya menjadi belenggu yang mengikat masyarakat, padahal sehari-hari masyarakat terbiasa bebas untuk menentukan pilihannya dalam berbagai hal. ***

Padang Ekspres, 30 Desember 2015

 

143. 2016-01-05 [Singgalang] Independensi Pemilih

INDEPENDENSI PEMILIH

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Tahun 2013 lalu, pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Kota Padang diwarnai ramainya calon. Ada 10 pasang calon yang siap untuk dipilih oleh warga Kota Padang. Sesuai aturan yang berlaku saat itu, pemilukada bisa berjalan dua tahap. Pada tahap kedua, tinggal dua pasang calon yang akan dipilih, yaitu Desri Ayunda–James Hellyward dan Mahyeldi–Emzalmi.

Persaingan ketat, kemenangan yang diraih pun memiliki selisih suara yang tidak banyak pada tahap kedua. Pasangan Mahyeldi-Emzalmi memperoleh 148.864 suara. Sedangkan pasangan Desri-James memperoleh 147.166 suara. Selisih 1.698 suara. Pada putaran pertama pasangan Mahyeldi-Emzalmi meraih 92.218 suara, dan pasangan Desri-James 59.845 suara. Pasangan Mahyeldi-Emzalmi didukung oleh PKS dan PPP. Dan pasangan Desri-James didukung banyak partai pada putaran kedua.

Tidak cukup itu saja, para tokoh masyarakat Sumbar, terutama tingkat nasional juga ikut mendukung pasangan Desri–James. Para sesepuh ditampilkan secara jelas mendukung pasangan ini. Harapannya, dukungan para tokoh ini akan meningkatkan pengaruhnya kepada masyarakat pemilih untuk ikut memilih pasangan Desri-James.

Selain itu, belasan pucuk pimpinan yang ada di Kota dan Kabupaten di Sumbar pun ikut memberikan dukungan secara terbuka kepada pasangan Desri-James. Namun ternyata, setelah seluruh dukungan diberikan oleh para tokoh dan pucuk pimpinan, yang muncul sebagai pemenang adalah pasangan Mahyeldi-Emzalmi.

Pada pemilukada Sumbar 2015, pola serupa juga dilakukan oleh pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim-Fauzi Bahar (MK-Fauzi). Tokoh-tokoh masyarakat Minang diperlihatkan tampil memberi dukungan kepada pasangan MK-Fauzi. Berbeda dengan pemilukada Kota Padang, pada pemilukada Sumbar, sejak awal hanya ada dua pasang calon yang tampil berhadapan langsung (head to head). Maka dukungan tokoh-tokoh masyarakat ini sudah dimulai sejak awal proses pemilukada, dan waktu untuk bersosialisasi pun cukup lama.

Hasil penghitungan oleh KPUD Sumbar (19/12/2015) memperlihatkan, yang meraih suara terbanyak adalah pasangan Irwan Prayitno-Nasrul Abit (IP-NA) yang meraih 1.175.858 suara, dan pasangan Muslim Kasim-Fauzi Bahar (MK-Fauzi) 830.131 suara. Mengapa dukungan dari tokoh masyarakat, niniak mamak, tokoh adat, pucuk pemerintahan tidak berpengaruh di pemilukada yang ada di Sumbar? Jika melihat hasil penelitian lembaga survei setidaknya dari Lembaga Survei Median dan LSI Denny JA, pemilih di Sumbar memiliki independensi tinggi. Tidak bisa dipengaruhi oleh orang lain, seperti tokoh masyarakat, niniak mamak, tokoh adat, pucuk pemerintahan (kepala daerah) dan lainnya.

Budaya yang ada di masyarakat Sumbar adalah budaya egaliter, bebas untuk memilih dan mengkritisi pemimpin sesuai dengan kondisi dirinya tanpa bisa dipengaruhi orang lain. Pemimpin hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Ini berbeda dengan budaya patron-klien yang umumnya terjadi di daerah lain, seperti di pulau Jawa. Tokoh masyarakat, tokoh adat, pemimpin formal (elit) bisa mempengaruhi masyarakat untuk memilih calon yang didukung oleh para elit.

Patron adalah pihak yang memiliki kekuasaan, pengaruh, status dan wewenang. Klien adalah pihak yang diperintah atau disuruh, atau bisa diartikan sebagai bawahan. Budaya patron-klien adalah hubungan dua pihak yang tidak sederajat dimana posisi klien lebih rendah dan kedudukan patron lebih tinggi.

Budaya yang demikian dikuatkan oleh teori Patron-Klien James Scott yang menyatakan, “Sekelompok figur informal yang berkuasa (patron) dan memiliki posisi memberikan rasa aman, pengaruh atau keduanya. Sebagai imbalan, pengikutnya (klien) memberikan loyalitas dan bantuan pribadi kepada patronnya dalam kondisi apapun, baik patronnya dalam keadaan benar ataupun salah.”

Indepedensi pemilih di Sumbar sudah sepantasnya mendapatkan apresiasi dari para pemimpin yang ada di Sumbar dengan upaya kerja keras, sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyat. Pemilih yang memiliki independensi adalah pemilih yang berintegritas, tidak dapat terbujuk rayuan uang maupun mampu dipengaruhi elit atau tokoh (masyarakat, adat, lokal/nasional). Maka para pemimpin pun harus bisa menangkap sinyal ini untuk membangun wilayahnya dengan baik. Sedangkan tokoh masyarakat, tokoh adat, niniak mamak dan lainnya sudah seharusnya mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat, bukan informasi yang keliru apalagi menyesatkan. Walaupun masyarakat Sumbar memiliki independensi yang tinggi tetapi tetap masih memiliki primordialisme. ***

 

Singgalang, 5 Januari 2015

 

144. 2016-01-12 [Padek] Pilkada Badunsanak

PILKADA BADUNSANAK

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Di sebuah lapau beberapa bulan lalu, beberapa orang tengah asik memperbincangkan pemilihan kepada daerah (pilkada) serentak. Mereka terbagi ke dalam beberapa kubu sesuai calon yang didukungnya. Masing-masing asik memuji calon pilihannya dengan data dan informasi yang mereka punya. Sebelum musim pilkada, mereka pun sering terlibat pembicaraan berbagai isu yang tengah berkembang. Namun perbincangan itu hanya selesai setelah mereka keluar lapau. Tidak dibawa pulang ke rumah maupun masuk ke dalam perasaan yang dalam.

Di tempat lain, di sebuah keluarga, dalam pembicaraan yang akrab antara orang tua dan anak-anaknya yang sudah kuliah membahas calon-calon yang tampil di pilkada 2015. Orang tua (ayah PNS, dan ibu rumah tangga) membicarakan kelebihan yang dimiliki oleh calon yang akan dipilihnya. Sementara sang anak pun juga menyampaikan kelebihan yang dimiliki oleh calon yang akan dipilihnya. Pembicaraan tentang para calon kepala daerah itu tidak lebih dari sedang hangatnya momentum pilkada serentak tahun 2015. Sudut pandang seorang ayah yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil, seorang ibu rumah tangga, maupun anak-anaknya yang mahasiswa tentu berbeda. Namun beda pandangan dan pilihan ini tidak menimbulkan perpecahan dalam keluarga.

Setiap orang yang telah punya hak pilih, memiliki dinamika tersendiri dalam mengikuti momentum pilkada. Pilihan yang sudah ada dalam hati dan pikiran mereka adalah hasil interaksi dengan lingkungannya dan penyerapan informasi dari berbagai sumber. Selain pemilu kepala daerah, pemilu anggota legislatif dan pemilu presiden juga bagian dari dinamika politik kehidupan masyarakat yang sudah berjalan bertahun tahun.

Pilkada badunsanak dalam praktek di masyarakat, selama ini sudah berjalan baik. Bahkan mungkin bisa disebut sangat baik. Masyarakat tetap bisa hidup berdampingan, beriringan, saling silaturahim meski punya pilihan yang berbeda. Ketika pilkada selesai, maka kehidupan normal pun berjalan kembali. Perbedaan yang ada sebelumnya sudah selesai. Tidak dibawa berlarut-larut. Selain hal ini tidak produktif, juga bukan merupakan watak kebanyakan masyarakat yang mengedepankan harmoni dalam kehidupannya. Seperti disampaikan dalam pepatah Minang, “Biduak lalu, kiambang batauik”. Namun kadang, yang masih memanas-manasi atau memiliki ambisi tertentu justru berasal dari tim sukses atau elit.

Pemilihan kepala daerah memiliki landasan hukum yaitu UU No. 8 Tahun 2015 yang merupakan pengganti dari UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota. Sedangkan pilkada “badunsanak” adalah semangat untuk tidak melakukan perbuatan yang menyakiti orang atau kelompok yang berbeda pilihan.

Bagi kontestan pilkada sendiri, dengan selesai penghitungan suara oleh KPUD maka selesai pula pertarungan memperebutkan suara rakyat. Memang dalam Undang-Undang dibenarkan untuk mengajukan keberatan jika ada pasangan calon yang merasa dirugikan secara nyata. Mahkamah Konstitusi (MK) akan menyidangkan gugatan pilkada yang berkaitan dengan selisih suara. Oleh karenanya MK hadir setelah penetapan hasil suara oleh KPUD. Pemenangpun sudah diketahui dari hasil suara rakyat tersebut. Menurut UU, MK hanya melayani selisih suara yang mungkin bisa ‘dikejar’ oleh yang kalah sehingga ada aturan ambang batas. Tapi bukan mencederai pilihan rakyat yang mayoritas dengan selisih suara yang menganga besar. Sehingga terkesan tidak siap kalah.

Adapun gugatan di luar sengketa selisih suara setelah penetapan hasil oleh KPU sudah tidak relevan lagi. Undang-Undang telah memberikan waktu untuk menggugat sesuai dengan tahapannya, dan tempat untuk menggugat hal tersebut ada di Bawaslu/Panwaslu. Apalagi urusan pidana umum, tidak mungkin dibawa ke MK karena tempatnya di Gakkumdu.

Gugatan apapun dalam pilkada bisa saja melukai Pilkada Badunsanak apalagi gugatan yang tidak taat azas dan tidak etis.

Kini, sudah saatnya meningkatkan lagi kualitas persaudaraan, semangat kekeluargaan, dan bersatu untuk menghadapi hari depan. Kompetisi sudah selesai. Rakyat yang memilih sudah tahu kemana pimpinan yang dikehendakinya. Yang kita utamakan adalah persatuan, sebagai bekal untuk bersama-sama mengisi pembangunan di Sumbar. Masyarakat sudah memberi contoh yang baik dalam menjalankan pilkada badunsanak. Sudah seharusnya para elit maupun tim sukses juga kembali bersama masyarakat untuk bersama-sama mengisi pembangunan di Sumbar sesuai dengan porsi masing-masing.

Allah berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat:10). Semoga kita semua mendapat rahmat dari Allah SWT. Aamiin. ***

 

Padang Ekspres, 12 Januari 2015

 

145. 2016-01-18 [Singgalang] Jangan Balas Fitnah dengan Fitnah

JANGAN BALAS FITNAH DENGAN FITNAH

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Kita tentu sudah tahu, bahkan mungkin sudah pernah merasakan bahwa fitnah itu sangat fatal akibatnya. Gara-gara fitnah dunia bisa terbalik, yang baik bisa dianggap buruk, yang benar bisa dianggap salah, yang hitam bisa menjadi putih.

Yang dimaksud fitnah (arti umum) di sini adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang dan sejenisnya (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Fitnah juga bisa didefinisikan sebagai komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang.

Suatu ketika di zaman pemerintahan khalifah Usman bin Affan, masyarakat Mesir dan Irak (saat itu berada di bawah pemerintahan Islam) terkena fitnah dan akhirnya terprovokasi untuk menyampaikan ketidak puasannya terhadap kepemimpinan Usman. Sejumlah utusan dari Mesir dan Irak lalu mendatangi khalifah Usman di Madinah dan menyampaikan keluhannya. Usman lalu menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Keterangan Usman masuk akal dan dipahami oleh utusan tersebut, mereka puas lalu pulang kembali ke daerah masing-masing dengan hati lega.

Namun dalam perjalanan pulang tersebut mereka bertemu dengan seorang pengendara onta yang sedang tergesa-gesa dengan gerak-gerik mencurigakan. Rombongan lalu mencegat si pengendara onta, lalu menginterogasinya.

Ia mengaku sebagai utusan amirul mukminin Usman Bin Affan yang membawa sepucuk surat untuk disampaikan kepada Amir Mesir. Surat tersebut berisi perintah agar Amir Mesir menyalib, membunuh, dan memotong-motong tangan orang-orang Mesir yang baru saja kembali menghadap khalifah Usman di Madinah. Surat itu seperti asli, karena memakai atribut dan cap khalifah Usman.

Tentu saja hal ini kembali membakar kemarahan dan kebencian sejumlah masyarakat Mesir dan Irak yang imannya lemah dan mudah terprovokasi. Mereka tidak percaya bahwa surat itu palsu walaupun Usman bersumpah bahwa surat itu bukan berasal darinya. Kelompok pembenci Usman lalu meminta Usman untuk meletakkan jabatan bahkan mengancam akan membunuh Usman.

Menanggapi para pemberontak tersebut, khalifah Usman menyatakan siap mengundurkan diri dan melepaskan jabatannya. Namun para sahabat melarang dan mencegahnya. Lalu terjadilah peristiwa malam kelabu itu. Kota Madinah dikepung oleh kaum bughat. Dua orang pemberontak berhasil menyelinap memasuki rumah khalifah melalui rumah tetangganya. Khalifah Usman terbunuh malam itu, tangannya dipenggal.

Sungguh tragis peristiwa itu. Tangan dan jari Usman dipenggal, padahal tangan dan jari-jari itulah yang selalu setia menemani Nabi Muhammad SAW menuliskan setiap wahyu yang diterima Nabi. Ia adalah seorang tokoh kaya raya namun rendah hati, pemalu dan dermawan.

Tanpa fikir panjang beliau mengeluarkan pundi-pundi emasnya untuk membiayai 30.000 tentara yang diturunkan saat terjadi Perang Tabuk, lengkap dengan onta dan perlengkapannya. Beliau pula yang membeli sumur Ar-Rumah, sumber air utama kota Madinah dengan uang pribadinya dengan harga mahal untuk kemudian diserahkan bagi kepentingan umum.

Itulah bahaya fitnah, gara-gara fitnah dan provokasi, orang sebaik Usman bin Affan menjadi korban pembunuhan. Mungkin karena itulah Allah, sedari dini memperingatkan besarnya bahaya fitnah.

Nabi SAW mengatakan dosa besar yaitu syirik kepada Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh orang dan berkata bohong/fitnah.

Dalam QS 85: 10 Allah S.W.T. berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang sangat pedih”.

Menyimak ayat-ayat di atas dan memperhatikan realita banyaknya dampak buruk yang disebabkan oleh fitnah, tentulah sangat merugi dan sangat rendah derajat orang-orang yang melakukan fitnah, begitu juga mereka yang membalas fitnah dengan fitnah.

Karena itu jangan balas fitnah dengan fitnah. Biarlah Allah yang membalas dan menghukumnya. Tiada satupun yang terjadi di dunia ini tanpa sepengetahuan Allah dan hukum Allah adalah yang maha adil.

Mulailah segala sesuatu itu dengan cara-cara yang baik, maka ia akan berakhir dengan cara-cara dan hasil yang baik pula. Jika sesuatu dilakukan dengan cara yang salah dan tidak baik, pastilah ujungnya dan hasilnya tidak baik pula.

Pilkada adalah sebuah metode untuk mendapatkan pemimpin yang baik, sesuai dengan aspirasi rakyat yang diharapkan mampu membawa kebaikan bagi daerah ini di masa datang. Mari kita sikapi hasil Pilkada dengan cara-cara yang baik. Hindari fitnah, hindari perpecahan, hindari cara-cara kotor, terlarang dan melanggar aturan. Jika kita lakukan dengan cara yang baik, insya Allah Sumatera Barat menuju kebaikan di masa depan. Amin YRA. ***

 

Singgalang, 18 Januari 2016

 

146. 2016-01-22 [Padek] Kemenangan Rakyat

KEMENANGAN RAKYAT

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Tak lama setelah hasil penghitungan final oleh KPUD yang ada di Sumbar, dinamika masyarakat dalam menanggapi hasil akhir tersebut beragam. Di lapau, kampus, kantor, pasar, dan berbagai tempat kegiatan masyarakat terlibat dalam pembicaraan seputar hasil akhir penghitungan suara pilkada serentak 2015. Tidak hanya di dunia nyata, perbincangan seputar hasil penghitungan suara pilkada 2015 juga terjadi di dunia maya. Bagi pendukung pihak yang kalah suara, dukungan untuk menindaklanjuti ke Mahkamah Konstitusi (MK) cukup kuat disuarakan. Terutama bagi yang selisih suara calon yang didukungnya tidak terpaut jauh.

Namun demikian, ada yang berpendapat bahwa dengan hasil suara yang diperoleh tidak perlu dibawa ke MK karena secara kasat mata sudah terlihat tidak memenuhi syarat, seperti selisih suara yang jauh. Di samping itu, proses pemilihan berjalan tertib, lancar dan aman yang mencerminkan rakyat menyuarakan pilihannya dengan baik. Sehingga tidak cukup alasan untuk mengajukan ke MK. Meskipun demikian, ada juga yang berpendapat perlu dibawa ke MK untuk memperoleh keadilan.

Memperkarakan hasil perolehan suara ke MK dibenarkan secara hukum. Namun sebelum dibawa ke MK sebenarnya bisa dilihat proses yang terjadi sejak di Tempat Pemungutan Suara (TPS) hingga penghitungan akhir oleh KPUD. Untuk pilkada Sumbar, sekitar 11.000 saksi sudah menandatangani berita acara di TPS dan di form C1. Ini artinya, suara yang ada adalah sah, dan itu merupakan cerminan pilihan rakyat. Pemenangnya pun sudah ada, yang dipilih oleh mayoritas rakyat. Kalaupun ada pemilihan ulang, jumlahnya tidak lebih dari 10 TPS, seperti yang terjadi di Padang salah satunya.

Ketika KPUD Provinsi ingin mengesahkan hasil perhitungan suara untuk tingkat Sumbar, setiap KPUD dan Panwaslu kabupaten/kota ditanya terlebih dahulu apakah di wilayahnya ada sengketa suara, dan semua menjawab tidak ada. Maka KPUD Provinsi melakukan ketok palu sebagai tanda pengesahan hasil penghitungan suara. Rakyat sebagai subjek dalam pilkada serentak 2015 pun secara tidak langsung memberi dukungan. Tidak terlihat adanya kerusuhan yang massif sebagai bentuk kekecewaan. Mereka sudah memilih pemimpinnya.

Adanya gugatan terhadap hasil pemungutan suara rakyat ini di satu sisi memiliki alasan untuk mencari keadilan. Namun di sisi lain, yang nampak adalah gugatan terhadap rakyat yang telah memilih. Untuk mencari keadilan, maka penegak hukum berkewajiban memprosesnya dengan baik. Namun untuk menggugat para pemilih, tentu tidak mungkin. Karena siapa pun mereka, dengan beragam profesi, agama, pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan lainnya, tetap hanya memiliki 1 suara. Jika 1 suara saja dihargai sebagai bagian dari proses demokrasi, maka 1 juta lebih suara sangat layak mendapat apresiasi yang proporsional dalam proses demokrasi ini.

Dalam konteks pilkada Sumbar, gugatan yang pernah dilayangkan ke Bawaslu dan DKPP, alhamdulillah dinyatakan tidak ada pelanggaran. Demikian pula gugatan di PTTUN Medan, yang telah ditolak. Keadilan terhadap suara rakyat, tentunya akan sangat kuat. Maka yang akan muncul dari proses hukum yang adil adalah menangnya kebenaran yang sejalan dengan pilihan mayoritas rakyat.

Pilkada pada hakekatnya adalah bentuk partisipasi rakyat di berbagai waktu dan tempat sehingga menjadi semacam pesta rakyat. Ada yang menjadi petugas TPS, saksi, tim sukses, dan juga massa pendukung dan lainnya. Pesta rakyat ini sudah berjalan lancar yang menunjukkan kedewasaan rakyat dan juga kepada siapa pilihan mayoritas rakyat untuk memimpin mereka. Pesta yang berjalan baik ini menunjukkan kemenangan rakyat dalam berdemokrasi. Hasil kerja keras rakyat ini dalam berdemokrasi layak mendapat apresiasi dan penghormatan.

Tugas bagi pemimpin terpilih dari pesta rakyat ini adalah, menyadari bahwa mereka lahir dari pilihan rakyat. Maka rakyat mengharapkan pemimpinnya bisa meningkatkan kualitas kehidupan mereka, baik dari sisi pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, infrastruktur, pertanian, perikanan, perkebunan, UMKM, koperasi, pariwisata, perdagangan, kesenian, agama, adat, sosial budaya, dan lainnya. Untuk itu, pemimpin terpilih tidak boleh sombong dan jangan melupakan rakyat yang telah mengantarnya menjadi pemimpin.

Pemimpin yang terpilih wajib memenuhi kebutuhan rakyat, menjalankan amanah dengan bertanggung jawab serta senantiasa ikhlas dalam bekerja. Semoga kemenangan rakyat ini bisa menjadi inspirasi yang baik bagi pemimpin terpilih untuk senantiasa bekerja keras dan sungguh-sungguh membawa rakyatnya kepada kehidupan yang lebih baik. ***

Padang Ekspres, 22 Januari 2016

 

147. 2016-01-25 [Singgalang] Bersama Membangun

BERSAMA MEMBANGUN

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, pada hari Jumat, 22 Januari 2016 dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi (MK) telah menetapkan perolehan suara untuk pasangan terpilih (Irwan Prayitno dan Nasrul Abit) 1.175.858 suara, dan suara untuk pemohon (Muslim Kasim dan Fauzi Bahar 830.131 suara) dengan selisih 345.727 suara. MK menyatakan benar dan tetap berlaku Keputusan KPU Provinsi Sumbar No. 106 Tahun 2015 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Hasil Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Tahun 2015 tanggal 19 Desember 2015.

Di samping itu MK mengabulkan eksepsi termohon (KPU Sumbar) dan eksepsi pihak terkait (IP-NA), serta permohonan pemohon (MK-FB) tidak dapat diterima. Hasil ini tertuang dalam Putusan Nomor 26/PHP.GUB-XIV/2016. Kemudian KPUD Sumbar menindaklanjuti keputusan MK pada tanggal 23 Desember memutuskan pemenang pilkada Sumbar 2015. Ini tertuang dalam Berita Acara KPUD Sumbar No. 3/BA/I/2016 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Periode 2016-2021 pada Pemilihan Tahun 2015, yang ditandatangani oleh 5 Komisioner KPUD Sumbar pada tanggal 23 Januari 2016.

MK adalah tempat terakhir untuk mengadili sengketa pilkada. Maka jika putusan MK sudah keluar, bersifat final dan mengikat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota pada pasal 157 ayat 9 menyatakan bahwa putusan MK bersifat final dan mengikat. Dan di ayat 10 dinyatakan bahwa KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota wajib menindaklanjuti putusan MK.

Putusan MK ini memberi kepastian bagi pemenang pilkada untuk segera bersiap membangun wilayahnya sesuai amanah yang didapat dari rakyat. Perlu kesadaran yang tinggi dari semua pihak bahwa kemenangan yang didapat sesungguhnya amanah, maka amanah harus diperlakukan sesuai tempatnya.

Amanah dari rakyat Sumbar adalah agar pemimpin terpilih mampu menjaga integritasnya serta melaksanakan visi dan misi yang telah disampaikan ketika mencalonkan diri di arena pilkada. Pemimpin terpilih bukan lagi calon yang dipilih oleh pendukungnya. Pemimpin terpilih adalah pemimpin seluruh rakyat. Ia juga bukan pemimpin untuk tim suksesnya, karena ia harus mengutamakan kepentingan rakyat dan tetap amanah.

Untuk itu, pemimpin terpilih harus bersikap adil, tidak diskriminatif, serta mampu mengayomi seluruh pihak. Pihak yang menang harus mampu merangkul pihak yang kalah dan pihak yang kalah harus mendukung pihak yang menang dengan potensi yang dimilikinya. Hal ini dalam rangka kemajuan pembangunan yang tujuan akhirnya adalah meningkatnya kesejahteraan rakyat.

Jangan sampai setelah keluar keputusan MK yang bersifat final ini, masih terjadi cekcok antar pendukung maupun elit sehingga meluas, yang menyebabkan kemunduran. Seharusnya setelah keluar putusan MK, yang terbaik dilakukan oleh calon terpilih adalah segera mempersiapkan rencana, kebijakan, program untuk melaksanakan visi dan misi. Dan bagi calon yang kalah ikut mendukung pembangunan yang akan dijalankan oleh calon terpilih.

Bagi niniak mamak, kaum adat, tokoh masyarakat, PNS dan lainnya, setelah keluar putusan MK ini, sudah seharusnya kembali menjalankan peran masing-masing setelah sebelumnya ada yang menjadi pendukung calon tertentu. Dan secara positif ikut mensukseskan pembangunan sesuai porsinya, agar kesejahteraan rakyat secara keseluruhan bisa segera dicapai.

Demikian pula ormas-ormas dan parpol-parpol yang selama ini terbagi dalam beberapa kubu pendukung calon-calon yang ada, sudah saatnya kita bersatu untuk memajukan negeri ini. Begitu pula masyarakat yang berada di rantau maupun ranah, mari kita bersatu agar hasil pembangunan bisa segera dirasakan oleh rakyat. Pembangunan mesti dilakukan secara bersama-sama, sesuai porsinya. Kebersamaan akan mendatangkan keberkahan, meningkatkan persatuan, meningkatkan akselerasi kebaikan, dan manfaatnya kembali kepada rakyat.

Kita mesti berpikir kolektif bahwa setiap peran kita sesungguhnya memberi kontribusi positif kepada pembangunan yang ada dan berujung kepada kebahagiaan rakyat banyak. Mari saling mendoakan untuk kebaikan Sumbar. Semoga dengan kebersamaan kita, Allah turunkan keberkahan di negeri ini. Hanya kepada Allah sajalah kita bergantung. ***

 

Singgalang, 25 Januari 2016

 

148. 2016-02-02 [Padek] Primordialisme untuk Membangun

PRIMORDIALISME UNTUK MEMBANGUN

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Menjelang pertandingan final piala Sudirman antara Semen Padang FC dan Mitra Kukar tanggal 24 Januari 2016 lalu, hiruk pikuk pendukung klub kesayangan urang awak ini begitu luar biasa, baik di offline (dunia nyata) maupun online (dunia maya). Di dunia maya, banyak beredar gambar-gambar pelatih Semen Padang, Nil Maizar yang berbicara dengan pelatih Mitra Kukar, Jafri Sastra tentang “perang” antara kedua pelatih berdarah Minang ini. Di dunia nyata, diberitakan Wali Kota Padang ikut membantu memfasilitasi pendukung Semen Padang FC berupa bus untuk suporter ke Jakarta.

Bisa dikatakan, berbagai pihak yang ada di Sumbar bersatu mendukung kemenangan Semen Padang FC. Tidak hanya mereka yang ada di Sumbar, masyarakat Minang yang di rantau hingga luar negeri pun antusias memberi dukungan kepada Semen Padang FC. Para pedagang Minang yang ada di Jakarta dikabarkan cepat menutup tokonya supaya dapat memberi dukungan langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

Pada saat pertandingan berjalan di Stadion Utama GBK, pendukung Semen Padang FC dengan semangat memberikan dukungan, sekaligus mampu menjaga ketertiban. Ini terbukti hingga selesai pertandingan. Dukungan di luar stadion juga datang dari berbagai lapisan masyarakat. Tanpa sekat politik, sosial, ekonomi, seluruhnya bersatu memberikan dukungan kepada Semen Padang FC, seolah tiada konflik, padahal ajang pilkada serentak baru saja dilewati. Hingga pertandingan usai, esoknya sudah bermunculan beberapa video kreatif yang membicarakan hasil pertandingan. Di situ nampak ada kebanggaan orang Minang akan klub sepakbola mereka. Tidak hanya ketika mendukung, tetapi juga ketika ikut merasakan hal yang dirasakan oleh pemain dan pelatih saat menelan kekalahan. Dukungan dan empati banyak mengalir. Aura primordialisme di sini terlihat menguat.

Primordialisme menurut wikipedia adalah pandangan yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, seperti tradisi, adat istiadat, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia primordialisme diartikan sebagai perasaan kesukuan yang berlebihan.

Primordialisme dalam realitas kehidupan masyarakat bisa dilihat dari survey yang dilaksanakan menjelang pilkada serentak. Calon kepala daerah yang berasal dari daerah A akan didukung sebagian besar masyarakat dari daerah A, calon kepala daerah yang berasal dari daerah C didukung oleh sebagian besar masyarakat daerah C.

Primordialisme seperti ini dan juga dalam dunia olah raga tidak bisa dipandang negatif, karena terjadi di banyak daerah, di mana jika mampu dimanfaatkan sebaik mungkin potensi ini maka justru akan memacu akselerasi pembangunan sebuah daerah.

Contoh nyata yang berasal dari masyarakat Minang sendiri. Begitu banyak dana dari perantau yang dikirim ke kampung halamannya untuk membiayai pembangunan masjid, jalan, sekolah, pasar, air bersih dan fasilitas umum lainnya, selain membangun rumah gadangnya atau kemenakannya. Begitu pula mereka yang sudah berhasil di ranah, serta tokoh-tokoh masyarakat, antusias membangun kampungnya.

Mereka dengan kesadaran sendiri dan antusiasme memiliki kebanggaan bisa membangun kampung halamannya sebagai bukti kecintaan kepada kampung kelahiran. Namun untuk hal ini ada batasan tertentu, perantau dari daerah A biasanya hanya akan membangun daerah A saja. Perantau daerah A belum tentu mau diminta membangun daerah B, meskipun sama-sama masih di Sumbar. Demikian pula orang-orang di ranah yang sudah berhasil, hanya berkeinginan membangun kampung mereka saja. Maka jika dibentuk sebuah lembaga yang mewadahi perantau seluruh daerah untuk membantu membangun Sumbar, kemungkinan sulit berhasil, karena kecenderungan dari perantau sendiri dan juga masyarakat di Sumbar, hanya terfokus kepada kampungnya saja atau sekitar kampungnya.

Untuk itu, potensi primordialisme yang positif di masyarakat ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan memberi dukungan potensi tersebut sesuai dengan kecenderungan yang ada, tidak bisa disatukan untuk seluruh daerah dalam satu wadah atau dilembagakan. Masing-masing perantau daerah diberikan dukungan untuk membangun daerahnya.

Semakin banyak daerah-daerah pelosok dengan jalannya yang bagus serta bangunan masjid megah dan fasilitas umum lainnya yang tersedia, adalah bukti betapa hebatnya potensi primordialisme masyarakat ikut berkontribusi membangun Sumbar.

Begitu banyak potensi yang bisa dibangkitkan untuk membangun Sumbar, di antaranya potensi primordialisme yang bisa diarahkan kepada hal positif. Masih banyak lagi potensi yang ada di Sumbar bisa dimanfaatkan untuk membangun Sumbar. Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang mesti diperhatikan, agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Hal yang menurut pengertian bahasa negatif, jika dimanfaatkan potensi kebaikannya, ternyata banyak memberikan manfaat yang luar biasa. ***

 

Padang Ekspres, 2 Februari 2016

149. 2016-02-10 [Singgalang] Tangan Dingin Mahyeldi

TANGAN DINGIN MAHYELDI

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Ada perubahan yang cukup drastis di Pantai Padang dalam setahun terakhir. Pantai yang tadinya terlihat tidak terawat, kurang terjaga kebersihannya, penuh tenda ceper, perlahan-lahan berubah menjadi semakin cantik. Sebelumnya, kondisi pantai sudah menjadi pembicaraan orang karena dinilai berbagai pihak sudah tidak nyaman dan aman.

Momentum perubahan itu diawali dari iven Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Menteri Luar Negeri negara-negara Indian Ocean Rim Association (IORA) yang diselenggarakan di Padang. Pantai Padang dibersihkan, dipercantik dan diberi beberapa asesoris IORA seperti logo IORA dan penunjuk arah negara-negara peserta IORA. Hasilnya, tempat itu kini menjadi salah satu titik wisata yang sering dipakai untuk foto dan selfie oleh pengunjung pantai.

Keluhan masalah parkir dan keamanan oleh pengunjung yang menjadi viral di media sosial juga mendapat respon dari Pemko Padang. Netizen memberi apresiasi atas respon cepat Pemko Padang ini.

Para pedagang yang bangunannya berada di pinggir pantai atas komunikasi yang baik dengan Wali Kota Padang Mahyeldi dan dengan kesadaran membongkar bangunannya. Tanpa aksi kekerasan maupun paksaan, Pantai Padang menjadi semakin bersih dan indah dipandang.

Demikian pula tenda ceper yang sudah lama menjadi “pembicaraan panas” di masyarakat Sumbar, juga perantau, dan bahkan dunia maya. Perlahan-lahan sudah semakin berkurang keberadaannya.

Meskipun masih banyak keluhan maupun masalah yang perlu dibenahi, langkah yang sudah dilakukan Pemko Padang di bawah kepemimpinan Mahyeldi perlu mendapat apresiasi. Perubahan besar yang diidamkan masyarakat sudah bisa dirasakan jika kita berkunjung ke Pantai Padang. Beberapa tokoh masyarakat pun secara terbuka menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Padang terkait pembenahan Pantai Padang ini, baik melalui media cetak maupun media sosial.

Pemprov Sumbar pun turut berpartisipasi dalam rangka mempercantik Pantai Padang dengan menambah ruas jalur jalan yang ada di Pantai Padang. Sebelumnya Pemprov Sumbar sudah membangun jalan di Pantai Padang dan juga jembatan Purus sehingga di beberapa tempat terlihat ruas jalan yang lebih lebar sehingga menjadi 4 lajur untuk 2 arah, dan di tempat lain masih ada ruas jalan yang masih dua lajur untuk dua arah. Insya Allah ke depannya sinergi antara Pemko Padang dengan Pemprov Sumbar dalam menata dan membangun Pantai Padang akan semakin dirasakan oleh masyarakat.

Menurut Wikipedia, kota Padang adalah kota terbesar yang ada di pantai Barat Sumatera dan pintu gerbang barat Indonesia dari Samudra Hindia. Dengan Perda No. 21 Tahun 2012, kawasan Pantai Padang termasuk 10 kawasan bebas sampah yang dilindungi. Pantai Padang terbentang dari daerah Purus hingga muara Batang Arau.

Selain Pantai Padang, Pasar Raya Padang juga menjadi perhatian serius Mahyeldi. Kondisi pasar raya yang tadinya sangat semrawut dan padat oleh pedagang, perlahan-lahan mampu diselesaikan satu persatu. Kendaraan roda empat yang tadinya sulit untuk lewat, kini sudah bisa kembali melewati Pasar Raya Padang. Di samping itu, kebersihan di Pasar Raya Padang juga semakin baik. Dan kabarnya, rencana untuk pembangunan Pasar Raya Padang juga sudah dianggarkan.

Selain di Pasar Raya Padang, Mahyeldi juga terlihat membenahi Pasar Lubuk Buaya yang menjadi langganan kemacetan. Setelah dilakukan pembenahan, arus lalu lintas di pasar Lubuk Buaya semakin lancar, dan pedagang bersedia ditempatkan di atas, sehingga parkir kendaraan bisa diletakkan di bawah, tidak lagi di luar pasar. Mahyeldi langsung turun dan berkomunikasi dengan para pedagang, dan pedagang pun bersedia untuk menempati lokasi yang sudah ditetapkan. Kabarnya, setelah pasar Lubuk Buaya selesai dibenahi, akan dilanjutkan membenahi pasar Bandar Buat.

Mahyeldi juga berperan dalam pembebasan lahan untuk perluasan jalan By Pass Padang menjadi 6 lajur. Dan dalam hal pelayanan publik, Kota Padang menjadi yang terbaik dibanding kabupaten/kota lain di Sumbar.

Tangan dingin Mahyeldi juga didukung oleh Wakil Wali Kota Emzalmi, dan dukungan dari jajaran PNS Kota Padang. Ketulusan Mahyeldi yang tidak ada menekan maupun “meminta setoran” kepada bawahannya ini merupakan modal yang fundamental dalam membangun Kota Padang. Demikian pula ketika berkomunikasi kepada masyarakat, Mahyeldi terbukti tidak “meminta setoran” apapun. Hal seperti inilah yang menjadikan masyarakat menaruh kepercayaan kepada Mahyeldi.

Semoga ke depannya Kota Padang mampu lebih berbenah diri, karena orang akan melihat Sumbar dari kondisi yang ada di Kota Padang. Peran serta masyarakat dalam membangun dan menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan Kota Padang sangat penting untuk membantu Pemko Padang maupun Pemprov Sumbar menjalankan pembangunan yang bertujuan mensejahterakan masyarakat. ***

 

Singgalang, 10 Februari 2016

 

150. 2016-02-16 [Padek] Hujan dan Banjir

HUJAN DAN BANJIR

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Hujan deras dengan intensitas tinggi diiringi angin kencang tanggal 5-8 Februari 2016 lalu yang terjadi di berbagai wilayah di Sumbar telah memicu banjir bandang, banjir dan juga longsor. Sedikitnya 200 rumah dan 100 hektare sawah terendam air, dan terjadi pemadaman listrik. Wilayah yang terparah berada di Kab. 50 Kota, Solok Selatan dan Pasaman.

Banjir dan longsor juga menyebabkan terputusnya jalan dan jembatan di beberapa wilayah sehingga arus kendaraan dan orang terhambat dan di beberapa tempat ada penduduk yang terkurung akibat ketiadaan akses.

Banyaknya infrastruktur yang rusak selain rumah dan sawah penduduk, diakibatkan banjir bandang yang datang mendadak dengan kecepatan tinggi. Di Sumbar, orang juga menyebutnya “lidah air”.

Berbeda dengan banjir yang biasa terjadi di Jakarta atau kota lainnya tidak menyebabkan kerusakan infrastruktur maupun bangunan penduduk yang parah.

Munculnya banjir bandang diawali dengan hujan deras yang terus menerus di daerah hulu sungai. Selain itu, bendungan alami di hulu sungai yang terbentuk dari batu-batuan gunung, tanah dan pohon-pohon kayu sudah tak kuat lagi menampung air yang ada sehingga bobol dan muncul lidah air. Demikian pula longsor yang disebabkan hujan deras terus menerus. Wilayah Sumbar yang penuh dengan bukit, gunung dan sering terjadi gempa menyebabkan kondisi tanah di beberapa wilayah cenderung labil dan mudah longsor.

Jika kita melihat ke belakang sejenak, sebelum terjadinya bencana, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan siaran pers. Disebutkan bahwa puncak musim hujan terjadi pada akhir Januari dan Februari 2016. Kemudian diprediksi potensi kemunculan La Nina yang dapat berdampak pada meningkatnya curah hujan, terutama di selatan Khatulistiwa. BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi peningkatan curah hujan yang dapat disertai angin kencang yang berpotensi mengakibatkan terjadinya banjir, tanah longsor, dan banjir bandang.

Berdasarkan siaran pers BMKG ini, maka dampak dari munculnya bencana banjir (terutama banjir bandang) dan longsor bisa diminimalisir, terutama korban jiwa. Berbeda dengan gempa dan tsunami yang tidak bisa diduga kapan munculnya sehingga sulit untuk memprediksi dampaknya. Terkait antisipasi bencana, sebelumnya sudah ada surat edaran dari Gubernur Sumbar yang meminta para Bupati dan Wali Kota untuk melakukan sosialisasi kepada penduduk untuk menjauhi bukit, gunung dan sungai yang berpotensi terjadi longsor dan banjir. Dan juga untuk melakukan pemeriksaan dan pembersihan secara periodik di hulu sungai guna mencegah terjadinya banjir bandang.

Pemerintah daerah bisa melakukan hal-hal yang dianggap perlu untuk mencegah korban jika terjadi bencana banjir bandang dan longsor. Di antaranya melarang rumah penduduk berada di bukit maupun gunung yang berpotensi longsor, melarang rumah penduduk berada di pinggir sungai, mencegah terjadinya penebangan liar, mencegah illegal loging, dan membersihkan hulu sungai dari batu dan kayu yang menumpuk akibat gempa maupun fenomena alam lainnya sehingga membentuk bendungan alami yang bisa membahayakan jika bobol.

Untuk ke depannya, tentu kita berharap ada antisipasi terhadap sungai-sungai yang diprediksi akan memunculkan banjir bandang. Sehingga tidak ada lagi korban jiwa dan kerusakan infrastruktur maupun bangunan milik penduduk bisa diminimalkan.

Musibah banjir bandang dan longsor yang terjadi lalu sungguh sangat memprihatinkan. Selaku Gubernur Sumbar saya turut menyampaikan duka cita kepada para korban, terutama korban yang meninggal akibat longsor. Semoga kita semua dikuatkan oleh Allah SWT dalam menghadapi bencana ini dan bagi pihak terkait juga bisa memikirkan berbagai antisipasi terhadap bencana yang masih bisa diprediksi kedatangannya.

Datangnya musibah ini mari kita hadapi dengan sabar. Semoga Allah membalas kesabaran dan ikhtiar kita dengan hal yang lebih baik lagi untuk kehidupan kita ke depannya. Dan marilah kita senantiasa menjaga lingkungan hidup kita dengan mentaati aturan-aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah demi untuk keselamatan bersama.

Secara umum patut kita syukuri lingkungan hidup di Sumbar masih baik. Namun dengan banyaknya gunung, bukit dan sungai menghendaki kewaspadaan yang cukup tinggi jika cuaca ekstrim terjadi. ***

Padang Ekspres, 16 Februari 2016

 

151. 2016-02-24 [Singgalang] Minang dan Jokowi

MINANG DAN JOKOWI

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Tiba-tiba saja etnis Minang menjadi perbincangan skala nasional ketika sebuah lembaga survei (Burhanudin Muchtadi) menyampaikan siaran pers kepuasan orang Indonesia terhadap kinerja Presiden Joko Widodo atau biasa dipanggil Jokowi. Dalam siaran pers tersebut dinyatakan, tingkat kepuasan warga dari etnis Minang terhadap kinerja Jokowi adalah yang terendah dibanding warga dari etnis lain yang ada di Indonesia. Hal ini menjadi perbincangan hangat para netizen. Persepsi positif dan negatif bermunculan dan menjadi bahasan diskusi yang menarik.

Warga dari etnis Minang yang puas terhadap kepemimpinan Jokowi adalah sebesar 36,1% dan yang kurang puas sebesar 63,9%. Survei ini dilakukan tanggal 18-29 Januari 2016 oleh Indikator Politik Indonesia. Angka ini langsung mengingatkan kita kepada hasil pemilu presiden tahun 2014 di Sumbar di mana pasangan Jokowi-JK memperoleh suara 23,1% dan pasangan Prabowo-Hatta memperoleh 76,9% yang merupakan prosentase tertinggi di Indonesia.

Angka yang tak jauh beda antara kepuasan terhadap kinerja Jokowi dengan hasil perolehan suara pilpres 2014 ini mungkin memiliki korelasi atau relevansi yang layak didiskusikan oleh para pakar dan akademisi. Baik dari segi sosial, politik, budaya, maupun dari pelaku survei sendiri.

Jika melihat rekam jejak kepemimpinan Jokowi, maka baru ketika menjadi Presiden RI orang Minang merasakan kepemimpinan Jokowi. Sementara ketika menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta bisa dibilang bahwa orang Minang (khususnya warga Sumbar) belum merasakan kepemimpinan Jokowi. Oleh karena itu, ketidakpuasan orang Minang ini perlu penjabaran lebih detil. Apakah ketidakpuasan ini berarti Jokowi melakukan diskriminasi terhadap orang Minang? Mengapa etnis lain tingkat kepuasannya tinggi? Mengapa hanya etnis Minang yang tingkat kekurangpuasannya tinggi?

Jika hasil survey menyebut bahwa orang Indonesia puas dengan kinerja Jokowi, maka seharusnya ini merata di seluruh wilayah, dan tidak ada ketimpangan yang besar untuk satu wilayah. Demikian juga ketika berbicara masalah kepemimpinan, tidak ada diskriminasi yang dilakukan Jokowi selaku presiden kepada masyarakat Sumbar.

Salah satu hal yang bisa menjawab pertanyaan tadi adalah budaya yang ada pada orang Minang ketika melihat pemimpin yang biasa disingkat 3T. T pertama adalah ‘takah’, yaitu performance, postur tubuh yang bagus, rupawan, gagah, penampilan yang menarik dan nampak berwibawa. Orang Minang akan melihat apakah seseorang memiliki ke’takah’an yang memadai yang diperlihatkan dari sikap, perilaku, tampilan, cara bicaranya di depan publik atau cara menyampaikan pikiran melalui lisan dan tulisan, serta bagaimana gaya memimpinnya. Bagaimana bahasa tubuhnya dalam berkomunikasi di depan publik.

T kedua adalah ‘tageh’, yaitu tegas, berani, kuat, kokoh, berpendirian dan muda. Orang Minang akan melihat apakah seorang pemimpin itu mampu menjadi tumpuan harapan rakyatnya. T ketiga adalah ‘tokoh’. Orang Minang akan menilai apakah seorang pemimpin layak untuk menjadi tokoh bagi mereka, mampu memberikan keteladanan, layak didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Ketokohannya juga diakui dalam skala yang lebih luas lagi. Keilmuannya juga sudah terbukti dan diakui, baik ilmu agama, adat, dan akademik.

Sementara Jokowi sendiri tampil di publik dengan gaya “apa adanya” dan “dari sononya” dengan wajah yang “ndeso” serta cara bicara “rakyat kebanyakan” yang ternyata digemari oleh masyarakat Indonesia sehingga dalam pemilihan presiden 2014 lalu meraih suara terbanyak. Namun jika melihat 3T tadi, penampilan Jokowi rupanya kurang “matching” dengan budaya yang ada pada orang Minang. Sehingga mayoritas rakyat Sumbar cenderung memilih Prabowo. Figur Prabowo dianggap lebih sesuai dengan selera orang Minang. Begitu juga pada pilpres 2 kali sebelumnya, SBY menang telak di Sumbar. Kecenderungan ini pun terjadi pada Pilkada dan Pemilu.

Sedangkan jika melihat dari segi penerimaan, orang Minang sudah menerima Jokowi sebagai Presiden RI. Ini dibuktikan dengan kondisi di Sumbar yang aman dan tertib. Tidak ada demo besar-besaran menentang pemerintah misalnya. Bahkan dari sisi pemerintahan, seluruh pemerintahan kota dan kabupaten serta provinsi ikut mensukseskan program pemerintah pusat.

Selaku Gubernur Sumbar yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah, saya juga bisa memastikan bahwa loyalitas masyarakat maupun pemerintah daerah di Sumbar kepada pemerintah pusat tetap terjaga hingga kini. Ini bisa dibuktikan dengan tidak adanya organisasi atau kelompok separatis pengacau keamanan. Bahkan Sumbar adalah salah satu daerah teraman di Indonesia. Animo masyarakat Sumbar yang antusias terhadap pembangunan yang bertujuan kesejahteraan rakyat adalah realita yang ada di satu sisi.

Maka bisa disimpulkan, masyarakat Minang memiliki sikap realistis, rasional, dan logis di satu sisi, dan punya selera tersendiri (budaya) di sisi lain. Dan keduanya itu ternyata bisa berjalan masing-masing tanpa saling menjatuhkan. ***

Singgalang, 24 Februari 2016

 

152. 2016-03-01 [Padek] Kepala Daerah, Kuasa Allah

KEPALA DAERAH, KUASA ALLAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Selaku Gubernur Sumbar, pada 17 Februari 2016 lalu saya melantik 12 orang Bupati dan Wali Kota serta Wakil Bupati dan Wakil Wali Kota yang terpilih pada pilkada serentak 2015, yang bertempat di Auditorium Gubernuran, Padang. Para kepala daerah ini ternyata memiliki latar belakang beragam.

Seperti yang saya sampaikan dalam sambutan acara pelantikan, jika diibaratkan pemain olah raga, 12 orang kepala daerah ini bisa dibagi ke dalam 4 kategori. Yaitu ‘pemain lama’,  ‘pemain baru’, ‘pemain cadangan’, dan ‘pemain basket’.

Kategori ‘pemain lama’ adalah kepala daerah pada periode 2010-2015 yang kembali maju dan terpilih kembali atau petahana (incumbent). Mereka adalah Yuswir Arifin (Sijunjung), Indra Catri (Agam), dan Ali Mukhni (Padang Pariaman). Di Sumbar sendiri, banyak calon petahana bertumbangan pada pilkada 2015 yaitu di Dharmasraya, Bukittinggi, Kota Solok, Kabupaten Solok, Pesisir Selatan,  Pasaman, dan 50 Kota. Masyarakat punya cara sendiri dalam menilai pemimpinnya sehingga para petahana yang juga punya segudang prestasi pun ternyata ada yang tumbang.

Sedangkan kategori ‘pemain baru’ adalah mereka yang baru pertama kali menjabat kepala daerah. Ada yang berlatar pengusaha seperti M. Ramlan Nurmatias (Bukittinggi) dan Sutan Riska (Dharmasraya). Sutan Riska bisa dibilang beruntung. Baru pertama kali maju dan langsung terpilih. Sedangkan Ramlan sudah pernah mengikuti ajang pilkada sebelumnya namun kurang beruntung, dan baru sekarang terpilih. Serta ada pula yang berlatar polisi seperti Hendra Joni (Pesisir Selatan). Para pemimpin baru ini menjadi harapan baru masyarakat di wilayahnya. Karena jika tidak mampu memenuhi harapan masyarakat, pada pilkada berikutnya masyarakat besar kemungkinan akan memilih pemimpin baru. Hal ini bisa dikatakan sudah menjadi tradisi atau budaya masyarakat Sumbar yang selalu ingin lebih puas dalam mencari dan memilih pemimpin.

Sementara kategori ‘pemain cadangan’ adalah kepala daerah terpilih yang pernah menjadi wakil kepada daerah dan memiliki pengalaman di pemerintahan. Ada yang berlatar politisi seperti Irdinansyah Tarmizi (Tanah Datar). Dan ada pula yang berlatar pegawai negeri sipil (PNS) seperti Irfendi Arbi (50 Kota) dan Zul Elfian (Kota Solok).

Dan kategori ‘pemain basket’ adalah mereka yang pernah menjadi kepala daerah dan sempat tidak menjabat lagi dan kemudian maju kembali pada tahun 2015 dan menang. Mereka ini adalah Syahiran (Pasaman Barat), Gusmal (Kab. Solok), dan Yusuf Lubis (Pasaman).

Sebab-sebab kemenangan 12 kepala daerah ini juga beragam. Indra Catri hanya didukung sedikit partai namun bisa menang. Indra Catri sudah menjadi kepada daerah periode 2010-2015, ikut pilkada 2015 dan terpilih kembali. Sutan Riska dan Hendra Joni memiliki modal kuat dan mendapat dukungan banyak tokoh. Ali Mukhni didukung sedikit tokoh. Irfendi, sedikit modal dan kurang beruntung di pilkada sebelumnya dan menang di periode berikutnya. Ramlan sudah pernah ikut pilkada, dan baru terpilih sekarang. Syahiran, Gusmal dan Yusuf Lubis adalah kepala daerah yang kembali ikut pilkada untuk periode kedua namun belum menang, lalu ikut kembali dan mendapat kemenangan. Latar belakang pendidikan kepala daerah ini juga beragam, yaitu teknik, hukum, ekonomi, pendidikan, pertanian, ilmu pemerintahan, dan agama.

Selain itu, sebab-sebab kekalahan pun beragam. Ada yang baru ikut pilkada namun belum terpilih. Ada yang sudah menjadi kepala daerah periode 2010-2015, ikut pikada 2015 dan tidak terpilih lagi. Ada yang sudah menjadi wakil kepala daerah di periode 2010-2015, ikut pilkada 2015 dan belum terpilih. Ada pula yang modalnya kuat ikut pilkada 2015 namun belum terpilih.

Beragamnya sebab-sebab kemenangan dan kekalahan ini menyadarkan kita bahwa semuanya itu adalah kuasa Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Ali Imran 26-27)

Namun demikian, kemenangan itu sendiri juga diperoleh karena adanya sunatullah dalam berjuang yaitu memaksimalkan usaha dan cara untuk meraih kemenangan, serta diiringi dengan doa sehingga akhirnya pilihan rakyat terbanyak jatuh kepadanya. Ada yang menang karena faktor kepribadian, program yang diajukan, kompetensi dan lainnya. Namun setiap kemenangan pada akhirnya Allah SWT juga yang menentukan.

Oleh karena itu, ketetapan dari Allah SWT ini mari kita terima sehingga kita bisa menatap ke depan dengan lebih baik lagi. Tidak perlu melakukan penolakan melalui aksi-aksi kontraproduktif dan melanggar aturan serta mengganggu ketertiban karena akan merugikan diri sendiri dan masyarakat. Kuasa Allah SWT adalah hal yang tak dapat ditolak oleh siapapun. Siapa yang menjadi kepala daerah sudah Allah tetapkan di lauhul mahfudz. Insya Allah akan ada hikmah yang bisa diambil dari bebagai sebab kemenangan dan kekalahan ini. Dan alhamdulillah, mayoritas rakyat sudah bersikap dewasa dan bisa menerima hasil pilkada 2015 lalu. Yang utama adalah, mari kita bersatu dalam membangun Sumbar agar kesejahteraan yang kita inginkan bersama bisa lebih cepat terwujud.

Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, kaum muslimin dan masyarakat. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di manapun mereka berada. Aamiin Ya Rabbal Aalaamiin. ***

Padang Ekspres, 1 Maret 2016

 

153. 2016-03-08 [Singgalang] Kehidupan Ekonomi Masyarakat Sumbar

KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT SUMBAR

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Ketika memberikan sambutan di hadapan peserta acara pertemuan tahunan pelaku industri jasa keuangan 2016 di Hotel Pangeran, Padang, 24 Februari 2016 lalu, saya menyampaikan pentingnya lembaga keuangan mendukung ekonomi masyarakat Sumbar yang mayoritas bergerak di bidang usaha mikro (84%) kecil (14%) dan menengah (0,8%) (UMKM). Hal ini karena karakter masyarakat Minang punya kekhasan tersendiri dibanding masyarakat wilayah lain.

Karakter yang dimaksud di antaranya adalah mandiri, independen dan usaha secara kemitraan (seperti bagi hasil). Dengan karakter masyarakat yang seperti ini, maka struktur lapangan pekerjaan yang digeluti oleh mayoritas masyarakat Sumbar pun bisa dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis bulan Mei 2015.

Berdasarkan data BPS, struktur lapangan pekerjaan di Sumbar yang terbesar adalah sektor pertanian (39%), diikuti sektor perdagangan (23,38%), jasa kemasyarakatan (16,33%) dan industri pengolahan (7,60%).

Di sektor pertanian Sumbar, kebanyakan bukan buruh tani. Yang banyak muncul di masyarakat adalah kemitraan dengan menerapkan sistem bagi hasil, seperti ‘sapaduoan’ atau ‘sapatigoan’. Begitu juga di bidang peternakan. Sedangkan di sektor perdagangan,  ada kenaikan jumlah orang yang bekerja sebanyak 82 ribu orang dan di sektor industri pengolahan ada kenaikan jumlah orang yang bekerja sebanyak 20 ribu orang dalam setahun terakhir. Pertambahan ini menunjukkan kecocokan lapangan pekerjaan dengan karakter masyarakat Minang yang cenderung independen dan mandiri dalam bekerja serta memiliki “jam kerja produktif” masing-masing yang tidak seragam.

Industri pengolahan yang ada di Sumbar didominasi oleh industri skala kecil atau rumahan (home industry). Hanya ada satu industri pengolahan skala besar yaitu Semen Padang yang sudah sejak lama berdiri dibangun oleh Belanda pada tahun 1910. Belanda membangun Semen Padang karena sumber bahan mentahnya ada di Padang, dan dikirim ke Belanda melalui Pelabuhan Teluk Bayur yang terletak di pantai barat sumatera.

Sektor jasa kemasyarakatan juga termasuk yang tertinggi dalam struktur lapangan pekerjaan di Sumbar, di antaranya keuangan, hotel, restoran, dan agen perjalanan. Pascagempa 2009, hotel di Sumbar terus bertambah, hingga tahun 2014 tercatat penambahan lebih 2000 kamar. Dan ke depannya diramalkan akan terus bertambah karena dunia pariwisata Sumbar berpotensi untuk mengalami peningkatan dan juga bersentuhan langsung dengan pelaku UMKM, misalnya transportasi, kuliner, penginapan, ekonomi kreatif, dan sektor terkait lainnya yang memiliki efek multiplier cukup bagus.

Kehidupan ekonomi di Sumbar sulit ditopang oleh industri besar karena letak geografis Sumbar sendiri yang berada di pantai barat sumatera yang bukan merupakan jalur utama perdagangan nasional, apalagi internasional. Selain itu bahan mentah untuk industri besar pun akan didatangkan dari luar Sumbar yang akan menyebabkan kenaikan harga sehingga sulit bersaing. Sementara jika industri besar ada, maka tujuan pemasarannya pun akan keluar Sumbar karena jumlah penduduk Sumbar sedikit, dan ini akan menaikkan harga jual sehingga daya saing berkurang. Belum lagi dengan karakter masyarakat yang tidak cocok menjadi buruh industri karena akan terkungkung dengan “jam kerja yang diatur” yang tidak sesuai dengan karakater masyarakat Minang. Jikapun ada yang bersedia bekerja sesuai dengan jam kerja, biasanya merupakan hasil pilihan yang selektif, misalnya menjadi pegawai negeri sipil atau pegawai perusahaan yang sudah memiliki reputasi yang pendapatannya di atas upah minimum regional (UMR). Maka tidak heran jika angka kemiskinan di Sumbar terus menurun dan jauh di bawah angka kemiskinan nasional namun angka pengangguran walaupun turun setiap tahun tapi masih di atas angka nasional (0,1 % di atas nasional), salah satu sebabnya adalah sikap yang selektif dalam memilih pekerjaan. Dan sejauh ini belum ditemukan penduduk Sumbar yang menjadi tenaga kerja ‘unskilled’ seperti pembantu rumah tangga (TKW) di dalam maupun luar negeri. Tenaga kerja yang ada lebih didominasi oleh mereka yang memiliki ‘skill’.

Dengan melihat kondisi yang ada tersebut, maka kehidupan ekonomi masyarakat Sumbar mengarah kepada ekonomi kerakyatan yang membutuhkan peran lembaga keuangan untuk membantu, memberdayakan dan juga meningkatkan kapasitas usaha masyarakat.

Ekonomi rakyat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ekonomi yang mengacu kepada peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Dan selama ini Pemprov Sumbar sudah menelurkan berbagai kebijakan dan program pembangunan yang betujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Baik dengan memperjuangkan dari APBN, APBD maupun bantuan dari perantau.

Namun demikian, selaku Gubernur Sumbar saya tetap terus mengajak para pelaku industri keuangan di Sumbar, untuk memberikan bantuannya kepada masyarakat Sumbar yang banyak bergelut di bidang usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tersebut.

Mereka ini layak dibantu karena selama ini untuk mendapat tambahan modal masih banyak yang memakai jalur rentenir yang bunganya tinggi. Jika bunga tinggi saja sanggup dibayar, maka bunga yang berasal dari bank tentu bisa dibayar. Apalagi kredit usaha rakyat (KUR) yang bunganya hanya 9%. Di samping itu selama ini mereka memang sudah melakukan usaha tersebut cukup lama (usaha yang feasible) sehingga syarat dari lamanya usaha yang biasa diminta bank pun bisa dipenuhi. Dan juga sudah terbukti bahwa tingkat kredit macet dari pelaku UMKM ini kecil sehingga layak untuk dibantu.

Antusias masyarakat untuk mendapat bantuan bisa dilihat dari penyaluran KUR di Sumbar yang termasuk tertinggi di Indonesia jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Pada bulan Juli 2013 penyalurannya mencapai Rp3,6 triliun dan alhamdulillah pada Desember 2014 naik menjadi Rp5 triliun. Kenaikan ini membuktikan bahwa pelaku UMKM di Sumbar selain jumlahnya bertambah, juga membutuhkan bantuan dana.

Kehidupan ekonomi masyarakat Sumbar adalah ekonomi kerakyatan. Oleh karena itu setiap kebijakan dan program ekonomi pemerintah selalu diupayakan dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk bisa berkembang dan sejahtera. ***

Singgalang, 8 Maret 2016

 

154. 2016-03-17 [Padek] Basamo Mangko Manjadi

BASAMO MANGKO MANJADI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 5 Maret 2016 lalu, saya melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Tanah Datar. Salah satu agenda saya di sana adalah, bersama Ketua DPRD Sumbar, Bupati dan Wakil Bupati Tanah Datar meresmikan sebuah jembatan yang bernama Jembatan Rajo Mantari yang berlokasi di Jorong Koto Panjang Nagari Tigo Jangko Kecamatan Lintau Buo. Yang menurut saya unik dan patut diapresiasi dan juga bisa ditiru adalah, adanya dukungan masyarakat setempat dan rantau terhadap pembebasan dan pembiayaan tanah serta dukungan sosial lainnya.

Panjang jembatan tersebut 60 meter. Dibangun dengan anggaran multiyears pemerintah kabupaten selama 2011-2015. Anggarannya sebesar Rp13,5 miliar. Sementara pembebasan tanah memakan biaya Rp250 juta yang merupakan hasil usaha masyarakat dan perantau. Saya dan peserta yang hadir sempat makan bajamba setelah selesai acara peresmian jembatan, bertempat di kantor Kerapatan Adat Nagari yang ternyata biaya pembangunannya berasal dari masyarakat dan perantau.

Dalam sambutan peresmian jembatan, Ketua Kerapatan Adat Nagari Tigo Jangko menyatakan bahwa jembatan yang ada selama ini adalah jembatan gantung. Dengan adanya jembatan baru diharapkan perekonomian masyarakat akan meningkat. Dan pemberian nama jembatan tersebut sudah merupakan hasil kesepakatan pembicaraan para niniak mamak, alim ulama dan cadiak pandai.

Saya melihat dan merasakan, ada nuansa kebersamaan yang kental antara pemerintah daerah kabupaten, masyarakat dan perantau (basamo) dalam membangun daerahnya sehingga bisa terwujud (manjadi) sebuah jembatan yang pengaruhnya cukup besar bagi perekonomian masyarakat setempat. Kebersamaan memang sering menghasilkan berbagai solusi bagi permasalahan hidup. Bahkan masalah sulit sekalipun bisa dicari solusinya ketika dihadapi secara bersama.

Di berbagai tempat di Sumbar, banyak contoh hasil kebersamaan antara masyarakat, perantau dan pemda. Di Nagari Sungaipuar, saya juga pernah meresmikan bangunan asrama putri yang pembangunannya dilakukan secara bersama oleh masyarakat dan perantau. Demikian juga di Nagari Koto Gadang Agam, berkat kebersamaan masyarakat dan perantau berhasil diwujudkan jalan lintas yang lebih bagus yang juga menjadi destinasi wisata yaitu ‘Great Wall of Koto Gadang’ atau Janjang Koto Gadang.  Selain itu, rumah gadang yang bagus, masjid-masjid dan mushola-mushola megah yang banyak tersebar di pelosok Sumbar juga salah satu bukti adanya kebersamaan masyarakat dengan perantau dalam membangun kampungnya. Dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu persatu di sini.

Besarnya antusiasme perantau untuk membangun kampung halaman adalah salah satu karakter masyarakat Minang yang selain cinta juga tak lupa kampung halaman. ‘Satinggi-tinggi tabang bangau, baliaknyo ka kubangan juo’. Begitu bunyi pepatah Minang. Ini juga bisa dilihat ketika momen Hari Raya Idul Fitri, berbondong-bondong para perantau memenuhi serta mengunjungi kampung halaman mereka sehingga kemacetan terjadi di berbagai tempat di Sumbar.

Namun demikian, tanpa kebersamaan, hal yang sudah direncanakan belum tentu bisa dilakukan. Rencana yang disiapkan masyarakat tanpa dukungan perantau mungkin akan terkendala masalah pendanaan. Sebaliknya rencana perantau tanpa melibatkan masyarakat lokal mungkin bangunan yang sudah didirikan tidak terpakai.

Selain itu, ada fenomena lain yang juga perlu disikapi secara bijak. Bahwa masyarakat dan perantau punya kecenderungan untuk membangun kampung halamannya saja. Jarang didapati ada masyarakat atau perantau yang bersedia membantu pembangunan di luar kampungnya. Apalagi diarahkan untuk menyumbang ke tempat tertentu. Maka, yang perlu diapresiasi adalah antusiasme perantau dan masyarakat membangun kampung halamannya. Pemerintah tinggal memfasilitasi serta mendukung rencana-rencana pembangunan yang akan dilakukan oleh mereka.

Dalam Al Quran Allah SWT berfirman, “Bekerjasamalah kamu dalam hal kebaikan dan takwa, dan jangan sekali-kali bekerjasama dalam hal dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maidah:2). Saya optimis, dengan antusias masyarakat, perantau, dan juga pemerintah, kebersamaan akan menjadi salah satu kunci sukses pembangunan di Sumbar. Seperti diungkapkan dalam pepatah Minang, ‘Basamo Mangko Manjadi’. ***

Padang Ekspres, 17 Maret 2016

 

155. 2016-03-22 [Singgalang] Literasi Media

LITERASI MEDIA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan komentar ‘nyeleneh’ seorang artis di sebuah acara televisi tentang penyebutan lambang yang ada di dasar negara dan informasi seputar Proklamasi Kemerdekaan RI. Muncul pro dan kontra terhadap komentar yang dianggap tak pantas yang diucapkan oleh ‘public figure’ tersebut. Bagi yang pro menganggap hal itu bisa dimaafkan. Sedangkan bagi yang kontra menganggap, ucapan artis tersebut bisa ditiru oleh para penonton acara tersebut, terutama anak-anak dan remaja yang masih butuh pendampingan dalam menonton tayangan televisi. Selain itu, mempermainkan lambang negara adalah tindakan yang bertentangan dengan hukum.

Peristiwa ini mengingatkan saya pada tanggal 10 Maret 2016 lalu. Saya diundang untuk membuka sekaligus memberi sambutan di acara Seminar Literasi Media yang diselenggarakan oleh Komisi Penyiaran Informasi (KPI) Pusat yang dihadiri Ketua dan Komisioner KPI Pusat serta peserta dari kalangan pendidik. Poin penting sambutan saya di acara ini adalah pentingnya masyarakat (khususnya orang tua) melindungi anak-anak dan remaja dari dampak negatif konten media, terutama televisi dan radio. Dan KPI agar mengawasi dengan ketat acara televisi dan radio agar tidak berdampak negatif kepada anak-anak dan remaja.

Jika merujuk kepada Wikipedia, literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media, agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) bagaimana media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.

Berdasarkan pengertian ini, maka kita sebagai orang tua dituntut untuk memiliki peran besar mengatur dan mengawasi anak-anak dan remaja ketika mengakses tayangan media, terutama televisi.

Seorang psikolog, Albert Bandura melalui teori pembelajaran sosialnya menyatakan bahwa sebagian besar orang belajar melalui pengamatan dan mengingat tingkah laku orang lain. Lingkungan sekitarnya akan memberikan peneguhan dan ia akan melakukan pembelajaran peniruan. Bandura menyatakan bahwa proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model adalah tindakan belajar (Nuramin Saleh, 2012).

Demikian pula dengan anak-anak yang perilakunya berasal dari model yang mereka lihat. Bagi anak-anak, apa yang mereka katakan dan perbuat, merupakan cerminan dari model yang mereka lihat dalam lingkungan pergaulan mereka. Jika di lingkungannya ada model yang rajin berkata kasar dan kotor maka anak akan ikut berkata kasar dan kotor. Jika model yang dilihat anak adalah orang yang rajin berbohong, maka anak akan ikut berbohong. Apalagi jika model tersebut memperagakan aksi pukul-memukul yang kurang pantas dilihat anak-anak, maka bisa dibayangkan jika anak-anak meniru aksi pukul-memukul itu kepada saudara atau kawannya tanpa tahu baik atau buruk. Dan lingkungan maupun model yang mudah ditiru oleh anak-anak adalah tayangan media, seperti televisi.

Sedangkan bagi remaja, meniru model yang mereka lihat adalah bagian dari mencari identitas diri. Remaja akan meniru perilaku yang dipertontonkan para aktris, aktor, artis, selebriti maupun idolanya. Adegan romantis, percintaan, perkelahian maupun celaan dan ejekan yang dipertontonkan di media akan ditiru sebagai bagian mencari identitas diri. Sementara  bagi orang dewasa, informasi yang diserap melalui media akan mempengaruhi pola pikir dan tindakannya sehari-hari, yang banyak juga memicu perilaku negatif.

Menonton televisi bagi anak dan remaja banyak dilakukan di rumah. Untuk itu orang tua harus melakukan tindakan tegas kepada anak-anak dengan melarang menonton tayangan yang tidak baik. Biarkan anak menangis. Mereka belum mencapai masa akil baligh sehingga belum tahu baik dan buruk (abstrak), serta belum bisa diberi pemahaman. Di sini orang tua juga bisa melakukan puasa menonton televisi sehingga bisa ditiru oleh anaknya. Jika mengikuti teori perkembangan kognitif Jean Piaget, pada usia 11-15 tahun seseorang baru bisa berpikir abstrak dan lebih logis.

Sementara bagi remaja yang sudah masuk akil baligh, orang tua sudah bisa memberikan pemahaman mana yang bisa dan tidak bisa ditonton. Orang tua perlu mendampingi anaknya yang remaja ketika menonton televisi.

Tayangan media sebenarnya banyak yang bermanfaat, baik dalam penyebaran ilmu pengetahuan, kebudayaan, keagamaan, nasionalisme dan hal-hal lain yang positif. Namun sayangnya hingga saat ini masih banyak keluhan dari penonton televisi, terutama orang dewasa yang sudah memahami dampak negatif konten media. Sudah banyak acara dengan rating tinggi dikeluhkan oleh para orang tua maupun praktisi dan pakar. Ketika kepentingan bisnis terlalu dominan pada sebuah media yang diperlihatkan dengan rating, maka tanggung jawab sosialnya kepada publik dirasa kurang. Untuk itu, media perlu menyadari bahwa tayangan negatif berdampak kepada perkembangan generasi muda.

Selaku Gubernur Sumbar, saya mengharapkan KPI Pusat dan KPI Daerah  melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap tayangan televisi sehingga bisa meminimalisir dampak negatif yang merusak anak-anak dan remaja. Selain itu, saya juga mengharapkan partisipasi para pendidik terkait literasi media ini untuk menyampaikan kepada murid-muridnya. Dan kepada para orang tua sebagai pemegang otoritas di rumah tangga agar memperhatikan tontonan anak-anaknya di rumah. Insya Allah, jika para orang tua mampu mengontrol kondisi rumah, anak-anak dan remaja akan selamat dari dampak negatif media. ***

Singgalang, 22 Maret 2016

156. 2016-03-29 [Padek] Menatap Pariwisata Sumbar

MENATAP PARIWISATA SUMBAR

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Di depan stake holder pariwisata, baik pengelola hotel, pengelola kuliner, pemilik biro perjalanan, pramuwisata, dan pengelola jasa transportasi yang hadir di Musyawarah Daerah V Asita (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies) Sumbar 10 Maret 2016 lalu, saya menjelaskan bahwa penanganan pariwisata di Sumbar di masa kepemimpinan saya selaku Gubernur Sumbar periode 2016-2021 menjadi bagian dari visi-misi yang dituangkan dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) dan menjadi sebuah gerakan terpadu pengembangan pariwisata.

Yang dimaksud gerakan di sini adalah dilaksanakan secara berkelanjutan, tanpa henti, menjadi kepedulian bagi pemerintah, dan dipikirkan terus menerus. Sedangkan yang dimaksud terpadu adalah pelaksananya tidak hanya dinas pariwisata, tetapi dinas-dinas lain juga ikut mendukung dan mensukseskan sesuai dengan bidangnya, termasuk juga kabupaten/kota dan seluruh stake holder pariwisata.

Motivasi utama gerakan terpadu pengembangan pariwisata ini adalah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti kita ketahui, potensi pariwisata di Sumbar cukup besar. Adat dan budaya, kuliner, dan keindahan alam adalah karunia yang seharusnya bisa dimaksimalkan yang kemudian dituangkan dalam kebijakan pengembangan pariwisata dan memiliki manfaat bagi banyak orang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Allah SWT dalam Al Quran berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu…” (QS. Ibrahim: 14). Dalam rangka mensyukuri nikmat Allah kepada kita yang dikaruniai kekayaan adat dan budaya, keragaman kuliner, dan keindahan alam, maka gerakan terpadu pengembangan pariwisata adalah salah satu cara yang bisa dilakukan.

Lalu pertanyaannya, dari mana memulainya? Di sini kita tidak mesti memikirkan apakah ayam atau telur dahulu. Jika yang ada ayam, maka pelihara dengan baik agar ia bisa menghasilkan telur. Dan jika yang ada telur, dirawat dengan baik hingga ia menetas. Intinya, lakukan mana yang bisa, sambil dilakukan pengawasan maupun evaluasi serta koordinasi.

Kita bisa mulai dari berbagai hal yang sudah banyak dibicarakan orang, kemudian langsung dicari solusinya. Pertama, karakter yang kurang melayani, maka kita upayakan memberikan pelatihan kepada pelaku pariwisata. Kedua, masalah area wisata yang kotor, maka harus segera kita bersihkan. Ketiga, ketiadaan rest area, maka kita ajak bersama pihak kabupaten/kota untuk menyediakannya. Keempat, ketidaknyamanan akibat perilaku juru parkir dan pelaku pemalakan, segera kita turunkan Satpol PP dan juga dibantu aparat untuk menanganinya. Kelima, kurangnya sarana transportasi ke tempat wisata, maka kita ajak investor masuk atau menghubungi penyedia transportasi yang sudah ada untuk masuk ke tempat tersebut. Keenam, infrastruktur yang tidak menunjang, pemerintah segera memperbaiki agar lancar. Intinya, kita mulai dengan semua masalah yang ada di depan mata, lalu diselesaikan bersama. Di sini tidak hanya pemerintah yang aktif, tapi juga masyarakat dan swasta bisa ikut terlibat.

Saya mengambil contoh beberapa tokoh rantau yang sudah mengawali untuk mengembangkan pariwisata Sumbar. Andrinof Chaniago, mengajak pihak swasta pengelola kapal wisata untuk melayani rute Padang ke Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan. Fahmi Idris dan rekan membantu perbaikan rumah masyarakat untuk menjadi homestay agar bisa dijadikan penginapan. Dony Oskaria (Komisaris Garuda) bersama Forum Minang Maimbau akan membuat festival kuliner berskala nasional di Payakumbuh, insya Allah akhir tahun 2016 ini.

Saya sendiri, selama ini sudah banyak mendapatkan masukan dari berbagai unsur masyarakat agar mengembangkan pariwisata di Sumbar, baik dari berbagai pertemuan tatap muka (offline, dunia nyata) maupun dari media sosial (online, dunia maya). Berbagai masukan dan kritikan konstruktif yang selama ini saya terima dari berbagai sumber tersebut menjadi masukan yang berharga untuk pengembangan pariwisata Sumbar ke depannya.

Poin penting yang diharapkan dari gerakan terpadu pengembangan pariwisata ini adalah munculnya efek multiplier kepada masyarakat secara luas sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan sekaligus mengurangi angka kemiskinan. Semakin bertumbuh pariwisata maka efeknya kepada biro perjalanan, jasa transportasi, usaha kuliner, tenaga kerja kepariwisataan, ekonomi kreatif, penginapan yang semuanya dikelola oleh masyarakat ini bisa positif dan signifikan. Untuk itu perlu kebersamaan dan juga mengubah pola pikir masyarakat agar pariwisata ini milik bersama sehingga ada pemikiran kolektif untuk bersama-sama mengembangkan, memiliki, dan menjaganya.

Semoga antusiasme seluruh elemen masyarakat terhadap pengembangan pariwisata di Sumbar ini bisa mengarah kepada jalur yang baik sehingga tidak memunculkan euforia yang bisa kontraproduktif. Insya Allah dengan semangat kebersamaan, hal-hal yang sulit ditemui di jalan bisa didapatkan solusinya untuk kebaikan bersama. ***

Padang Ekspres, 29 Maret 2016

157. 2016-04-06 [Singgalang] Muliakan Anak

MULIAKAN ANAK

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 15 Maret 2016 lalu, saya menyampaikan sambutan di acara Workshop dan Advokasi Kota Layak Anak, di Komplek Universitas Negeri Padang (UNP), Air Tawar, Padang. Kota Layak Anak ini merupakan tindak lanjut dari komitmen dunia terhadap anak yaitu World Fit for Children yang diadopsi oleh Pemerintah Indonesia. Dan sejak tahun 2006 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengembangkan kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak. Tujuannya adalah untuk membangun sebuah sistem pembangunan anak yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan dalam dimensi kabupaten/kota dengan mensinergikan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha sehingga pemenuhan hak-hak anak di Indonesia dapat lebih dipastikan.

Pada tahun 2015, 6 Kota di Sumbar telah mendapat penilaian dan penghargaan Kota Layak Anak, baik Tingkat  Pratama maupun Tingkat Madya. Keenam kota tersebut adalah Padang, Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Sawahlunto. Ada 31 indikator yang dinilai bagi kota/kabupaten  untuk memenuhi kriteria layak anak. Indikator ini disarikan dari hak-hak anak yang ada di dalam UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990.

Di luar itu semua, poin penting sebuah kota dinyatakan layak anak adalah masyarakatnya yang layak anak. Yaitu masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap hak-hak anak. Dan unsur terkecil dari masyarakat adalah keluarga yaitu orangtua. Maka keluarga layak anak akan menciptakan masyarakat layak anak dan selanjutnya terwujudlah kota/kabupaten layak anak. Sementara dari sisi pemerintah, membantu mewujudkan kota/kabupaten layak anak dengan menyediakan infrastruktur maupun sarana/prasarana serta kebijakan terkait.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Akrimuu aulaadakum wa ahsinuu adabahum” yang artinya, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaiki adab-adab mereka.” (HR. Ibnu Majah).  Betapa Islam memperhatikan soal anak ini hingga yang diminta adalah memuliakan anak. Selama ini kita lebih sering mendengar tentang memuliakan orangtua. Namun ternyata anak pun harus dimuliakan.

Mengapa anak perlu dimuliakan? Karena mereka adalah makhluk yang lemah. Anak lemah secara fisik. Anak juga masih lemah intelektualitasnya karena belum bisa berpikir matang. Anak juga belum memiliki kematangan mental. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah kuat secara fisik, memiliki intelektualitas dalam berpikir dan kuat secara mental. Memuliakan anak lebih dari sekedar melindunginya ataupun mencegah terhadap bahaya yang akan timbul. Memuliakan anak adalah memenuhi hak-haknya dan mengaktualisasikan potensi dirinya.

Anak memang perlu mendapat perlindungan dari kekerasan karena mereka dalam posisi lemah. Sudah sering diberitakan banyaknya anak-anak yang mengalami kekerasan baik oleh orangtua atau kerabat, dan juga lingkungannya. Tidak sedikit anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain terpaksa harus bekerja membantu orangtuanya. Di samping itu, begitu mudahnya orangtua maupun orang dewasa memarahi anak, memperdayai anak dan memperlakukan anak semena-mena. Oleh karena itu, memuliakan anak lebih dari sekedar melindunginya atau mencegah dari kejahatan yang akan menimpanya, yaitu memenuhi haknya dan mengaktualisasikan potensinya.

Hak anak di antaranya adalah, bermain, memiliki waktu luang, tidur dan istirahat yang cukup, belajar (akses pendidikan), hidup sehat (akses kesehatan). Di samping itu mengaktualisasikan potensi anak adalah dengan menyalurkan bakatnya, mengembangkan minatnya serta mangasah kompetensinya. Dengan memuliakan anak, insya Allah mereka akan tumbuh kembang dengan baik dan meraih kesuksesan dalam hidupnya. Dan dampak dari memuliakan anak ini insya Allah akan kembali kepada orangtuanya.

Orangtua yang memuliakan anaknya, insya Allah anak-anak mereka kelak akan memuliakan orangtuanya. Baik ketika orangtuanya masih hidup di dunia maupun setelah orangtuanya meninggal. Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang soleh” (HR. Muslim no. 1631).

Semoga kita sebagai orangtua dan juga orang dewasa bisa menunaikan tugas yang mulia ini kepada anak, yaitu memuliakan anak. ***

Singgalang, 6 April 2016

 

158. 2016-04-12 [Padek] Ulama dan Umara

ULAMA DAN UMARA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Ketika memberikan sambutan di acara Muzakarah Ulama se-Sumbar yang diadakan di Padang Panjang, 11 Maret 2016 lalu, saya mengapresiasi kegiatan MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sumbar ini dan mengharapkan dukungan MUI (ulama) kepada pemerintah (umara) dalam menjalankan pembangunan di Sumbar untuk tercapainya masyarakat Sumbar yang madani dan sejahtera. Utamanya dalam hal yang bersentuhan langsung dengan permasalahan masyarakat yang perlu dicarikan solusinya, di antaranya seperti kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, penyakit sosial, mentalitas masyarakat, narkoba, HIV-AIDS, LGBT dan lainnya.

Ulama dan umara dalam budaya Minangkabau adalah dua peran yang tidak bisa dipisahkan. Falsafah ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ yang mencerminkan masyarakat religius membutuhkan peran ulama dan umara yang saling mendukung dan melengkapi dalam pembangunan untuk kesejahteraan rakyat.

Umara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pemimpin pemerintahan. Sedangkan ulama adalah orang yang ahli dalam pengetahuan agama Islam. Pengertian seperti ini yang juga ada di pikiran banyak orang, sehingga umara diidentikkan kepada urusan dunia dan ulama identik dengan urusan akhirat.

Inilah pengaruh paham sekulerisme yang memisahkan masalah dunia dan akhirat. Menurut Wikipedia, sekulerisme adalah paham yang menyatakan bahwa institusi terpisah dari agama atau kepercayaan, dan di dalam politik agama dan pemerintahan dipisahkan. Dalam konsep Islam, ulama itu mestinya juga bisa menjadi umara, dan umara juga memiliki kapasitas ulama.

Menyatunya peran umara dan ulama bisa dilihat di masa Khulafaur Rasyidin dan juga beberapa kekhalifahan setelah itu.  Pemilihan pemimpin dilihat dari kapasitasnya justru dengan menggabungkan kapasitas umara dan ulamanya. Ibnu Khaldun dalam Muqadimahnya bahkan menjelaskan imam sholat pada masa Khulafaur Rasyidin dipegang langsung oleh khalifah.

Dalam realita sistem bernegara di Indonesia saat ini, umara muncul dari proses politik. Pemilihan umara dilakukan sesuai undang-undang yang berlaku melalui mekanisme politik di mana salah satu unsur pentingnya adalah partai politik yang mengusung calon. Maka dilaksanakanlah pemilihan presiden, gubernur, dan bupati/wali kota. Sedangkan ulama muncul dari proses belajar hingga ke jenjang keilmuan tertentu. Maka peran dan posisi umara dan ulama menjadi terpisah sehingga masalah-masalah di masyarakat yang seharusnya bisa diselesaikan malah berlarut-larut dan muncul berbagai budaya yang merusak hingga sulit diatasi.

Umara yang lahir dari proses pemilu (politik) tidak otomatis memiliki kapabilitas ulama atau terpilih karena memiliki kapabilitas ulama. Bahkan sebagian besar umara dari proses politik ini (pemilu) bukan dari kalangan ulama. Sementara ulama yang ada (disimbolkan dengan MUI) melakukan pemilihan internal sendiri sehingga muncul Ketua MUI. Meskipun demikian, ulama tidak harus tergabung di dalam MUI.

Jika berbicara ideal, maka sesuai konsep Islam umara itu adalah ulama. Namun kondisi saat ini, konsep ideal itu tidak terwujud. Umara ada di satu sisi, ulama ada di sisi lain. Sementara tuntutan untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat menghendaki umara dan ulama sebagai sebuah kesatuan.

Masalah maraknya narkoba, penularan HIV-AIDS, LGBT, kriminalitas, kemiskinan, pengangguran, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, dan lainnya, insya Allah akan lebih efektif jika umara dan ulama bersatu menyelesaikan permasalahannya. Dan tidak hanya itu, akan tetapi bersatunya umara dan ulama juga dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tugas umara dan ulama adalah mengarahkan masyarakat agar kehidupan mereka lebih baik lagi, baik kehidupan jasmani maupun rohani. Allah SWT berfirman, “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raf: 96).

Insya Allah, dengan kompetensi yang dimiliki umara dan ulama, bersatu dalam menyelesaikan permasalahan di masyarakat, satu persatu permasalahan riil di masyarakat bisa diselesaikan dan kesejahteraan perlahan-lahan akan semakin meningkat. ***

Padang Ekspres, 12 April 2016

 

159. 2016-04-19 [Singgalang] Bela Negara

BELA NEGARA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Ketika memberi sambutan dalam pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Bela Negara (GBN) Sumbar, saya mengharapkan agar GBN mampu membangkitkan semangat dan nasionalisme bangsa dan negara, dan membimbing para generasi muda menjadi generasi yang menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bela negara adalah konsep yang universal, seluruh negara di dunia mempraktekannya dengan cara masing-masing. Bagi negara-negara yang masih dijajah secara fisik oleh negara lain hingga saat ini seperti Palestina yang dijajah oleh Israel, bela negara adalah kebutuhan untuk menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Ini juga sejalan dengan konstitusi negara kita.

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republika Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak seluruh bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Kemerdekaan adalah nilai universal bagi setiap bangsa dan negara untuk memenuhi hak asasinya. Karena dengan kemerdekaanlah sebuah bangsa dan negara bisa membangun dan mensejahterakan rakyatnya. Sebaliknya ketika dijajah, sebuah bangsa dan negara mengalami berbagai siksaan seperti perbudakan, kekerasan terhadap wanita dan anak-anak, pembunuhan, pemerkosaan, dan berbagai kejahatan lainnya.

Dalam Wikipedia, pengertian bela negara adalah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok, atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut. Secara fisik, dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang mengancam keberadaan negara tersebut. Sedangkan secara non fisik, dapat diartikan upaya berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara.

Konsep bela negara mengalami perbedaan wujud dari masa ke masa. Ketika masa penjajahan, bela negara diwujudkan dengan perang fisik mengangkat senjata. Ketika sudah merdeka, bela negara diwujudkan dengan membangun bagi pemerintah dan dengan mengaktualisasikan diri bagi masyarakat.

Pemerintah beserta aparaturnya melakukan pembangunan di berbagai bidang dengan tujuan mensejahterakan masyarakat. Menjadikan masyarakat sejahtera adalah wujud bela negara oleh pemerintah karena akan meningkatkan ketahanan nasional.

Demikian pula masyarakat atau individu yang mengaktualisaikan dirinya dengan bersungguh-sungguh dalam belajar, bekerja, berumahtangga, maupun bermasyarakat. Bagi pelajar, wujud bela negara adalah belajar sungguh-sungguh, patuh kepada orangtua serta hormat kepada orang yang lebih tua, menjauhi seks bebas, narkoba, HIV-AIDS, budaya merusak, dan penyakit sosial lainnya.

Bagi mereka yang sudah bekerja atau berwirausaha, wujud bela negara adalah bekerja sungguh-sungguh guna menghidupi diri dan keluarganya, mengarahkan keluarganya kepada hal-hal positif sesuai tuntunan agama, juga adat dan budaya. Pengusaha pun ikut membantu pemerintah mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Dan dalam bermasyarakat, ikut aktif gotong royong dan berpartisipasi dalam pembangunan. Para individu ini mewujudkan bela negara dengan berpegang pada adat dan budaya serta ajaran agama sehingga tercipta masyarakat yang kuat dan bersatu serta beradab.

Jika kita melihat kisah perjuangan para pahlawan dari Minangkabau seperti Mohamad Natsir, Buya Hamka, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta dan lainnya, pengaruh adat dan budaya Minangkabau serta ajaran Islam mewarnai perjalanan hidup mereka dalam perjuangan baik sebelum kemerdekaan maupun sesudah kemerdekaan.

Kita bisa melihat negara-negara yang sudah maju dan makmur untuk mengambil berbagai hal positif terkait dengan pelaksanaan bela negara sesuai dengan bidang masing-masing. Di samping itu, kita juga bisa melihat negara-negara yang belum maju, belum makmur, untuk mengambil pelajaran dari keadaan mereka agar termotivasi untuk mewujudkan bela negara sebaik mungkin sesuai bidang kehidupan kita.

Dengan melihat kondisi di berbagai negara kita juga bisa mengenal bagaimana mewujudkan bela negara yang baik sesuai dengan kondisi kehidupan kita. Allah SWT berfirman, “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat:13).

Ayat tersebut juga mengajak kita selain untuk mengenal manusia dengan beragam bangsa dan suku juga meningkatkan takwa. Peningkatan ketakwaan juga merupakan bagian dari bela negara itu sendiri seperti bisa kita lihat di masa sebelum merdeka, para syuhada yang telah berjuang mengorbankan dirinya untuk bangsa dan negara adalah wujud bela negara sekaligus wujud ketakwaan. Maka di saat kondisi sudah merdeka, meningkatkan ketakwaan juga merupakan wujud bela negara.

Semoga kita di bidang masing-masing bisa mewujudkan bela negara ini sekaligus menguatkan ketakwaan serta tetap menjaga identitas adat dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan seperti pernah dicontohkan oleh para pendahulu yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara. ***

Singgalang, 19 April 2016

 

160. 2016-04-26 [Padek] Stop Perceraian

STOP PERCERAIAN

Oleh:   IrwanPrayitno
Gubernur Sumbar

Beberapa waktu lalu sempat ramai dibicarakan orang tentang perceraian yang menjadi pemicu utama gangguan kejiwaan. Rumah tangga atau keluarga yang seharusnya menjadi ladang kebahagiaan ternyata berubah menjadi sumber ketidakbahagiaan yang menimbulkan keresahan bagi sebagian orang.

Terkait masalah serius ini, salah satu lembaga yang memiliki peran besar menjaga keutuhan rumah tangga adalah Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4). Dan pada hari Sabtu, 16 April 2016 lalu saya membuka Musyawarah Wilayah BP4 ini serta menyampaikan apresiasi kepada BP4 yang berperan besar dalam mengagalkan terjadinya perceraian dan juga membantu menyelesaikan konflik rumah tangga sehingga bisa membuat pasangan yang sempat berkonflik bisa kembali hidup harmonis.

Jika melihat data yang ada, angka perceraian di Sumbar termasuk tinggi. Bahkan angkanya di atas 10 persen dari peristiwa nikah, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang tidak sampai 10 persen. Dari 43.813 peristiwa nikah di Sumbar pada tahun 2014, ada 6.325 kasus perceraian atau sekitar 14,4 persen. Menurut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Salman K. Memed, faktor penyebab perceraian 40 persen lebih disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau rendah pendidikan dan pengetahuan, 32 persen disebabkan ketidakharmonisan, dan 23,8 persen karena masalah ekonomi (Padang Ekspres, 28 Januari 2016).

Dengan melihat data tadi, munculnya perceraian bisa dikatakan karena tidak adanya kesepahaman antara suami dan istri. Ketidaksepahaman ini kemudian berujung konflik yang kemudian terjadi perceraian. Ketidaksepahaman yang tidak berujung konflik mengarah kepada ketidakharmonisan, yang bisa tetap berjalan namun tidak bahagia atau rumah tangga tidak berjalan baik, atau pada suatu saat ketidakharmonisan itu juga menyebabkan perceraian.

Ketidaksepahaman yang dialami oleh pasangan suami istri ini, bagi yang berusaha mencari jalan keluar melalui BP4 alhamdulillah bisa dicarikan solusinya sehingga bisa dimunculkan kesepahaman antara suami dan istri. Maka pasangan yang seperti ini tidak jadi bercerai, mulai membangun keharmonisan dan berusaha menjauhkan diri dari konflik. Dengan fakta yang demikian, fungsi BP4 sangat positif dalam menjaga keutuhan keluarga.

Sementara itu di sisi lain, setiap pasangan suami istri sudah seharusnya meningkatkan pemahaman terhadap peranan masing-masing dan juga pemahaman terhadap pasangan masing-masing, guna mencegah terjadinya konflik rumah tangga. Al Quran dan terutama Hadits begitu banyak menyebut bagaimana peranan suami dan istri dalam berumah tangga. Bahkan ayat-ayat dan hadits tentang rumah tangga ini banyak terdapat dalam buku-buku yang membahas tentang rumah tangga. Tidak sulit untuk mencari buku-buku tentang rumah tangga ini, karena penulis buku tentang ini cukup banyak sehingga berbagai judul buku tentang rumah tangga pun mudah diperoleh.

Ketika suami dan istri semakin banyak paham tentang peranan masing-masing dalam rumah tangga dan keluarga dan juga mampu memahami karakter, prilaku, kepribadian, pemikiran dan perasaan pasangannya, maka konflik bisa dihindari atau diminimalisir. Sehingga perceraian pun bisa dihindari. Kepahaman seperti ini menekankan pentingnya berpikir.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya. Dan dijadikannya  di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar Rum:21).

Di ayat ini Allah SWT menyebut ‘kaum yang berpikir’ untuk urusan rumah tangga. Oleh karena itu, bagi suami istri dan kaum remaja yang kelak akan berumah tangga perlu meningkatkan pemahaman terhadap peran suami dan istri dalam rumah tangga agar terhindar dari konflik maupun perceraian. Allah mengajak kita berpikir, semakin jernih pikirian kita maka insya Allah akan semakin memahami bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga.

Suami perlu memahami latar belakang istrinya yang beda dengan dirinya. Demikian juga istri. Jika suami dari keluarga militer dan istri dari keluarga sipil, keduanya harus bisa saling memahami agar tidak terjadi benturan atau konflik karena karakter keduanya pasti beda. Suami dari keluarga yang hidup di kota, istri dari keluarga yang hidup di desa, maka perlu saling memahami karena karakternya pasti berbeda. Suami dari suku Jawa dan istri dari suku Minang, keduanya perlu saling pengertian karena banyak perbedaan yang harus dipahami satu sama lain. Suami istri pada awalnya saling mengenal (taaruf) kemudian berlanjut dengan saling memahami (tafahum), saling tolong menolong (taawun) dan saling menanggung (takaful).

Ayat 21 dari surat Ar Rum di atas juga menjelaskan bahwa Allah SWT takdirkan berpasangan (azwajan) seorang laki dengan perempuan untuk menjadi suami dan istri. Dengan takdir (ketetapan) ini mesti dipahami pula bahwa suami harus menerima lebih dan kurangnya istri. Demikian pula istri yang harus menerima lebih dan kurangnya suami. Setiap pasangan suami istri kelak akan mengetahui bahwa tidak ada lelaki yang sempurna atau wanita yang sempurna karena pasti punya kekurangan. Yang jadi keharusan justru saling memahami akan kondisi suami atau istrinya. Jika suami atau istri belum bisa memahami hal semacam ini maka di sinilah peran penasehat perkawinan (BP4) mengedukasi pasangan suami istri dan mungkin juga mereka yang akan menjadi suami istri seperti pelajar dan mahasiswa.

Rasulullah SAW menyebut ‘baitii jannatii’ yang mencerminkan bahwa kebahagiaan itu adanya di keluarga (rumah) yang dimulai sejak ijab kabul hingga ajal menjemput. Oleh karena itu, marilah kita ciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah (baitii jannatii) dengan meningkatkan pemahaman kita kepada pasangan dan dalam berumah tangga. Dan bagi yang belum berumah tangga, bisa dengan mudah mencari buku-buku panduan berumah tangga. Dan semoga ke depannya BP4 bisa semakin menanamkan kepahaman kepada pasangan suami istri maupun mereka yang belum menikah sehingga angka perceraian bisa semakin diperkecil. ***

Padang Ekspres, 26 April 2016

 

161. 2016-05-04 [Singgalang] Satpol PP Humanis

SATPOL PP HUMANIS

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 26 April 2016 lalu, di acara peringatan HUT Satpol PP ke-66 dan Satlinmas ke-54 di Payakumbuh, saya memberikan penghargaan kepada Pemko Padang, terutama jajaran Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) yang telah melakukan pekerjaan penegakan peraturan daerah (Perda) dan penertiban tanpa disertai kekerasan, terutama di kawasan pantai Padang yang kini sudah berubah.

Selama ini di mata sebagian masyarakat, Satpol PP identik dengan pembongkaran bangunan-bangunan liar, pengusiran dan penggusuran pedagang kecil, sehingga kesan yang didapat masyarakat bahwa keberadaan Satpol PP ini sebagai musuh masyarakat. Padahal, Satpol PP bertindak dengan berlandaskan aturan (seperti peraturan daerah) yang mana di satu sisi untuk menciptakan ketertiban yang merupakan hak masyarakat luas namun dengan terpaksa melakukan penertiban kepada masyarakat yang melanggar aturan tersebut. Dan tidak semuanya dilakukan dengan pemaksaan atau kekerasan. Misalnya saja penertiban kawasan Pantai Padang, di mana usaha melalui dialog dan tanpa kekerasan ini berhasil dan masyarakat luas mendapat manfaatnya. Demikian juga dengan pembebasan lahan pada proyek-proyek di Kabupaten Padang Pariaman dan Jalan By Pass Padang.

Pemerintah, khususnya Menteri Dalam Negeri telah menekankan bagaimana Satpol PP dan Linmas ini seharusnya bekerja ketika menjalankan tugasnya. Ada empat poin yang harus melekat pada diri Satpol PP ketika bertugas, yaitu Humanis, Dedikasi, Disiplin, dan Tegas.

Satpol PP ketika berinteraksi dengan masyarakat tentunya perlu mengedepankan rasa kemanusiaan (humanis) ketika melakukan pekerjaannya. Perlu menunjukkan sikap ramah dengan salam, senyum dan sapa kepada masyarakat.

Di samping itu Satpol PP sudah seharusnya bekerja secara totalitas (dedikasi) membaktikan dirinya kepada negara. Sementara itu, kedisplinan juga merupakan syarat mutlak seorang Satpol PP. Sebelum mendisiplinkan orang lain, maka ia harus mendisiplinkan dirinya terlebih dahulu. Dan ketegasan yang perlu dimiliki oleh Pol PP adalah yang berdasarkan ketentuan undang-undang dan aturan yang ada sehingga perlu kehati-hatian juga untuk bertindak agar tidak menimbulkan dampak buruk di kemudian hari.

Namun  demikian, dimungkinkan juga bagi Satpol PP membantu kelancaran kegiatan masyarakat yang terkait dengan keamanan dan ketertiban. Misalnya, membantu kelancaran, ketertiban dan keamanan para pembeli dan pedagang di Pasar Koto Baru arah ke Bukittinggi (Kab. Tanah Datar) untuk lebih tertib dan disiplin ketika naik-turun barang ke mobil sehingga kemacetan yang sudah menjadi momok setiap hari senin akan bisa dikurangi. Atau ketika momen hari raya, Satpol PP membantu pengamanan parkir di Bukittinggi mengantisipasi tarif parkir yang sangat mahal. Sudah saatnya Satpol PP tampil dengan menekankan kehumanisannya.

Demikian pula halnya dengan penanganan dan keberadaan Satpol PP di lokasi wisata. Saat ini Pemprov Sumbar sedang giat membenahi pariwisata yang tujuan utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran Satpol PP di lokasi wisata adalah dalam rangka membantu kenyamanan dan keamanan wisatawan yang datang serta menciptakan ketertiban. Di mana dampak dari hal ini pengunjung merasakan adanya kenyamanan dan keamanan sehingga makin banyak wisatawan yang datang dan masyarakat yang berdagang dengan tertib pun akan mendapatkan dampak positifnya berupa banyaknya pembeli.

Selaku Gubernur Sumbar, selain tugas yang sudah dijalankan selama ini saya juga mengarahkan Satpol PP untuk bertugas di tempat-tempat wisata. Membantu pengunjung lokasi wisata untuk memberikan rasa aman dan nyaman, terutama dari gangguan tukang palak atau preman yang mencoba memeras pengunjung. Satpol PP harus membantu para wisatawan ini dari berbagai gangguan seperti permintaan tarif parkir di luar kewajaran, premanisme dan gangguan lainnya. Dengan tampil humanis, Satpol PP insya Allah akan semakin dekat di hati masyarakat tanpa mengurangi ketegasan yang harus diambil ketika melakukan penertiban yang sudah jelas kesalahannya.

Dan bagi masyarakat yang berwisata ternyata masih merasakan adanya gangguan seperti tarif parkir di luar kewajaran, pemalakan, premanisme serta tarif makan dan minum di rumah makan di luar kewajaran, Pemprov. Sumbar menyediakan Hotline Pengaduan di nomor 0823-8742-8181 yang bisa dihubungi dengan menelpon, kirim pesan singkat (SMS, short message service) atau Whats App (WA). Mudah-mudahan dengan nomor pengaduan ini pariwisata Sumbar semakin baik dan juga keberadaan Satpol PP yang humanis di tempat wisata bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung dan juga lingkungan sekitar kawasan wisata. Peran aktif semua pihak dalam memajukan pariwisata Sumbar insya Allah akan membawa kebaikan untuk Ranah Minang yang kita cintai ini. ***

Singgalang, 4 Mei 2016

 

162. 2016-05-11 [Padek] Silaturahim Sepanjang Hayat

SILATURAHIM SEPANJANG HAYAT

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Beberapa waktu sebelum ini, dan menjadi salah satu agenda yang hampir menjadi rutinitas, saya sering diundang oleh berbagai komunitas yang berasal dari alumni berbagai sekolah. Baik alumni SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan juga ada alumni SD. Terakhir, saya memenuhi undangan alumni SMP Negeri 1 Padang. Kali ini saya datang sebagai sesama alumni SMP Negeri 1 Padang (25/3/2016) dengan agenda pembicaraan silaturahim akbar alumni SMPN 1 Padang.

Tak jauh waktunya setelah itu saya juga kedatangan tamu dari alumni SMA Negeri 3 Padang, dan sebagai sesama alumni SMA Negeri 3 Padang merencanakan silaturahim akbar juga. Kemudian, dalam waktu yang tak jauh pula, alumni SMP Negeri 2 Padang yang diketuai Bapak Hendra Irwan Rahim, yang juga Ketua DPRD Sumbar dan juga beberapa tokoh yang juga alumni SMP Negeri 2 Padang seperti Bapak Sukri Bei dan Jayadisman (Kepala BKD Sumbar), datang mengundang saya untuk memberikan sambutan di acara silaturahim alumni SMP Negeri 2 Padang tanggal 8 Mei 2016 lalu.

Jika melihat contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa sebagai manusia ternyata kita tidak bisa lepas dari silaturahim. Dan silaturahim itu berlaku sepanjang hayat. Ini dibuktikan dengan pertemuan atau silaturahim dengan teman-teman SMA, SMP, bahkan SD yang sudah berlalu puluhan tahun ternyata tetap hangat, dirindukan, dan tidak membosankan. Bahkan untuk menumpahkan kekangenan masa lalu dengan teman-teman sekolah dibuatlah grup alumni melalui aplikasi WhatsApp atau Telegram untuk tetap bisa menjalin silaturahim di dunia maya.

Pertemuan tersebut justru menambah keceriaan, tertawa lepas dan gembira bersama. Seluruh beban pekerjaan, beban pikiran, persoalan pribadi dan keluarga dan lainnya seolah-olah hilang dengan bertemunya para kawan lama ini. Kebahagiaan baru seolah-olah telah lahir di dalam diri mereka.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (HR. Bukhari Muslim). Betapa nikmat bersilaturahim ini sungguh luar biasa, bisa memperpanjang usia dan menambah rezeki.

Dalam acara silaturahim alumni sekolah, tak jarang banyak yang datang dari jauh menggunakan transportasi udara maupun darat untuk bertemu kawan lama. Meskipun hanya beberapa jam, namun ada kepuasan yang tak bisa diganti dengan hal lain. Uang jutaan rupiah yang dihabiskan untuk mendatangi acara tersebut, pengorbanan waktu dan tenaga seolah tiada artinya dibanding ketika bertemu dan bersilaturahim dengan kawan lama.

Dengan silaturahim, kita bisa bertemu kawan-kawan yang insya Allah akan menambah rezeki kita, tidak hanya berupa materi saja, tetapi juga non materi seperti kesehatan, ketenangan, persaudaraan dan lainnya. Saling bantu dan mendoakan di antara kawan insya Allah akan meningkatkan rezeki kita. Tumbuhnya rasa solidaritas di antara teman atau alumni, adalah salah satu dampak dari pertemanan yang terjalin dengan baik. Hubungan kesetiakawanan hingga hubungan bisnis yang saling bantu bisa terjadi di sini.

Sebagai salah satu contoh bentuk kesetiakawanan tersebut adalah beberapa waktu lalu ketika ada sebuah acara alumni sekolah di sebuah hotel yang dikomentari oleh seseorang dengan intonasi negatif dan disampaikan di media sosial tanpa mendalami apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa dikomandoi, serentak para alumni yang lain turun untuk membela adik-adiknya dan menyelamatkan nama sekolah yang mungkin belum pernah dikenalnya namun ada rasa solidaritas di situ. Oknum pelakunya kemudian meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya.

Selain komunitas alumni sekolah, saya juga mendapati jalinan silaturahim itu juga berjalan di komunitas lain di antaranya seperti komunitas pencinta olahraga motor, pencinta burung, penggemar musik dan klub sepeda. Silaturahim mereka bisa terjalin dikarenakan adanya kesamaan hobi. Saling berbagi  ilmu dan pengalaman di antara komunitas hobi ini saya dapati sebagai bentuk silaturahim yang membawa rezeki bagi anggotanya.

Allah SWT berpesan agar sebagai manusia kita diminta memperbaiki hubungan silaturahim sebagai salah satu bentuk ketakwaan, “Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu” (QS. Al Anfal: 1).

Allah SWT juga menyatakan bahwa sesama mukmin itu bersaudara, dan mendamaikan saudara sebagai bentuk menyambung tali silaturahim insya Allah akan mendapat rahmaNya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujurat:10).

Selain itu, karena nikmat dari Allah SWT sajalah silaturahim bisa terus terjaga, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran:103)

Manfaat dari silaturahim sungguh luar biasa, oleh karena itu dalam pergaulan kita sebaiknya tidak menyakiti orang lain, mempersulit orang lain, tidak dendam, iri, dengki, hasad, sombong, riya’ sehingga silaturahim rusak, rezeki tersumbat, hidup pun sulit. Sebaliknya, menjadi orang yang berpikiran positif, membuka diri, akan mempererat silaturahim, dan menambah rezeki. Semoga dengan menjaga tali silaturahim, Allah SWT senantiasa memberikan RahmatNya kepada kita. Aamiin. ***

Padang Ekspres, 11 Mei 2016

 

163. 2016-05-11 [Singgalang] Lagi, Indeks Kebahagiaan

LAGI, INDEKS KEBAHAGIAAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Ternyata indeks kebahagiaan kembali menjadi perbincangan hangat, setidaknya di kalangan ‘orang ekonomi’, melalui grup Whats App dan media sosial. Indeks kebahagiaan warga Sumbar Tahun 2014 yang disebut-sebut berada di urutan ketiga terbawah se Indonesia menjadi latar belakang munculnya kembali perbincangan tentang indeks kebahagiaan.

Masih teringat pula, tahun lalu Prof. Ahmad Syafii Maarif menulis di Kolom Resonansi Republika edisi 18 Agustus 2015, “dari sisi tingkat kesejahteraan masyarakat, Sumbar terjun bebas pada angka tiga dari bawah setelah Papua dan NTB.” Mungkin yang dimaksud Prof. Syafii dalam tulisan itu adalah indeks kebahagiaan yang bersifat subyektif (standar yang tidak sama) dan kualitatif. Karena jika melihat data kuantitatif, kondisi Sumbar jauh berbeda.

Misalnya angka kemiskinan, per September 2015 persentase jumlah penduduk miskin Sumbar 6,71%. Ada di urutan ke-11 terbaik/terendah dari 34 provinsi. Sedangkan Gini Ratio (tingkat ketimpangan pendapatan) Sumbar Tahun 2015 sebesar 0,39, ada di urutan ke-9 terbaik/terendah dari 34 provinsi. Demikian juga dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar atas dasar harga berlaku yang menerangkan besarnya kue ekonomi/kekayaan dari seluruh komponen di Sumbar, menunjukkan kenaikan dalam tiga tahun terakhir 2013-2015 (Rp146,90 triliun, Rp164,90 triliun, Rp178,81 triliun). PDRB Sumbar berada di urutan ke-13 terbaik dari 33 provinsi. Demikian juga dengan pertumbuhan ekonomi Sumbar, tiga tahun terakhir berada di atas angka nasional. Sedangkan jumlah penyandang buta aksara di tahun 2014 di urutan 8 terkecil nasional. Adapun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumbar berada di peringkat 9 nasional (2012-2014) dan angkanya terus meningkat. IPM dibentuk oleh tiga komponen yaitu indeks kesehatan, indeks pendidikan dan indeks pengeluaran riil perkapita.

Namun demikian, adanya data kuantitatif dengan indikator obyektif seperti yang disampaikan di atas tidak menyurutkan pihak-pihak tertentu di grup diskusi WA tadi menyebutkan bahwa kesejahteraan, pendapatan, kemiskinan, pendidikan dan lainnya di Sumbar berada di urutan tiga terbawah. Bahkan menyebut sumbernya berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Jika membaca lagi Indeks Kebahagiaan Sumbar tahun 2014 yang dirilis oleh BPS pada tahun 2015, yang dilakukan BPS sudah benar. Termasuk penjelasan yang mengawali rilis BPS, bahwa survei indeks kebahagiaan menggunakan indikator subyektif (standar yang tidak sama) dan data kualitatif yang dihasilkan berdasarkan persepsi masyarakat untuk melengkapi indikator obyektif (standar yang sama) yang menghasilkan data kuantitatif. Hanya saja memahaminya tentu perlu membaca dengan tenang sehingga mengerti apa yang dimaksud.

Hal penting yang saya terima langsung informasinya dari Kepala BPS Sumbar Bapak Dodi Herlando beserta tim lengkap yang bertemu di Gubernuran pada 9 Mei 2016 lalu, indeks kebahagiaan ini tidak pernah dan tidak bisa diranking antar provinsi se Indonesia karena mengukur kepuasan dari masing-masing orang di tiap provinsi di mana standarnya tidak sama (subyektif) di setiap provinsi dan menghasilkan persepsi kepuasan terhadap topik yang ditanyakan. Pihak BPS pun tidak melakukan perankingan terhadap indeks kebahagiaan ini. Dan komponen indeks kebahagiaan yang digunakan adalah kepuasan hidup dan emosi positif.

Jadi, kalau mau ditegaskan, sebenarnya lebih tepat disebut indeks kepuasan dibanding indeks kebahagiaan. Kepala BPS Sumbar menyebutkan bahwa BPS mengadopsi pengukuran indeks kebahagiaan yang dilakukan di dunia internasional di mana kepuasan sebagai proksi dari kebahagiaan. Maka di Indonesia pun disebut sebagai indeks kebahagiaan. Dan indeks kebahagiaan tahun 2014 adalah yang pertama kali untuk level provinsi dan berfungsi sebagai pelengkap data kuantitatif yang sudah ada. Dan survei indeks kebahagiaan ini pun baru sekali dilaksanakan karena sifatnya sebagai pelengkap dan bukan data utama.

Menurut Kepala Bidang Sosial BPS Sumbar, Bapak Satriono, survei indeks kebahagiaan yang menggambarkan kepuasan dilakukan dengan mengisi Skala Likert. Skala Likert ini sudah lazim digunakan untuk mengukur pendapat, sikap atau kepuasan terhadap hal yang ditanyakan. Untuk survei indeks kebahagiaan ini skala yang digunakan dimulai dari angka 1 hingga 10. Di mana angka 1 mencerminkan ‘sangat tidak puas’, dan angka 10 mencerminkan ‘sangat puas’.

Di daftar pertanyaan survei pengukuran tingkat kebahagiaan, setiap aspek ada beberapa pertanyaan terkait tentang aspek yang dimaksud, dan pertanyaan dari masing-masing aspek diakhiri dengan pertanyaan sebagai berikut: 1. seberapa puas dengan kesehatan? 2. seberapa puas dengan pendidikan? 3. seberapa puas dengan pekerjaan? 4. seberapa puas dengan pendapatan rumah tangga? 5. seberapa puas dengan keadaan lingkungan? 6. seberapa puas dengan keamanan? 7. seberapa puas dengan keharmonisan keluarga? 8. seberapa puas dengan hubungan sosial di lingkungan sekitar tempat tinggal? 9. seberapa puas dengan ketersediaan waktu luang? 10. seberapa puas dengan rumah dan fasilitas rumah?

Jika bicara kepuasan, standar kepuasan orang Minang memang tinggi. Hal ini telah dibuktikan di dua pilkada serentak tahun 2010 dan 2015. Banyak calon kepala daerah petahana bertumbangan. Padahal yang saya tahu, mereka telah banyak menorehkan prestasi ketika menjabat sebagai kepala daerah. Namun, karena masyarakat merasa kurang puas, maka mereka mencari pemimpin baru yang diharapkan bisa memuaskan pemilih. Selain itu, orang Minang dalam mengkritik pun sangat keras, kadang jatuh kepada cemooh (cime’eh), dengan tujuan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Orang berprestasi pun jarang diapresiasi karena dianggap masih ada yang kurang memuaskan. Pemimpin pun hanya didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Oleh karena dalam menilai orang lain pun dengan standar tinggi, maka dalam menilai dirinya sendiri pun orang Minang merasa belum puas dengan apa yang sudah ia capai. Maka muncullah budaya merantau sebagai upaya untuk mendapatkan hasil atau kepuasan yang lebih baik lagi. Banyak orang Minang yang merantau kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh nasional. Karakter orang Minang yang ingin selalu lebih maju, selalu menang dan tak ingin kalah serta tak cepat puas diperlihatkan dengan ungkapan, “taimpik ingin di ateh, takuruang ingin di lua.”

Demikian pula dengan kepuasan dalam pendapatan, pendidikan, pekerjaan dan aspek lain yang disurvei dalam indeks kebahagiaan. Misalnya aspek pendidikan, orang yang sudah tamat S2 dan S3 kepuasannya cukup tinggi. Sedangkan orang yang tidak/belum pernah sekolah kepuasannya rendah. Dalam aspek pendapatan, orang yang pendapatan perbulannya Rp7,2 juta ke atas kepuasannya cukup tinggi. Dan orang yang pendapatan perbulannya Rp1,8 juta ke bawah kepuasannya rendah.

Orang Minang memang antusias terhadap pendidikan dan tidak cepat puas. Banyak orangtua yang ingin anaknya menamatkan pendidikan sarjana (S1). Namun jika sudah S1, si anak ternyata masih belum puas dan ingin melanjutkan ke jenjang S2. Ini bisa dilihat dari jumlah perguruan tinggi (negeri dan swasta) yang ada di Kopertis X (Sumbar, Riau, Jambi, Kepulauan Riau), ternyata jumlah terbanyak ada di Sumbar. Dan dibuktikan pula dengan angka partisipasi kasar untuk usia 19-24 tahun pada 2013 di Sumbar sebesar 33,82. Lebih tinggi dari angka nasional sebesar 23,06. Selain itu, keinginan untuk mendapatkan kehidupan/pendapatan lebih baik ditunjukkan dengan berwirausaha maupun merantau.

Aspek pendidikan dalam indeks kebahagiaan hanya menerangkan kepuasan orang atas pendidikan yang ia dapat (subyektif dan kualitatif), bukan rata-rata lama sekolah penduduk yang menggambarkan kesejahteraan masyarakat (obyektif, kuantitatif). Sementara aspek pendapatan dalam indeks kebahagiaan hanya menerangkan kepuasan seseorang terhadap pendapatan yang ia peroleh (subyektif, kualitatif), bukan PDRB Sumbar maupun PDRB Perkapita Sumbar yang menggambarkan kesejahteraan masyarakat. Padahal PDRB perkapita Sumbar tiga tahun terakhir 2013-2015 meningkat (Rp28,99 juta, Rp32,13 juta, Rp34,41 juta). Di sini bisa dilihat bahwa indeks kebahagiaan yang subyektif  dan kualitatif menerangkan kepuasan terhadap pendapatan yang diperoleh individu, sedangkan data obyektif dan kuantitatif tentang PDRB perkapita menerangkan meningkatnya kesejahteraan penduduk Sumbar.

Kepala Bidang Sosial BPS Sumbar menyebutkan kepada saya bahwa masyarakat Sumbar seharusnya bersyukur dan bangga karena memiliki standar kepuasan yang tinggi sehingga terpacu untuk mendapatkan hal yang lebih baik/tinggi lagi di masa depan.

Dengan melihat indeks kebahagiaan dan data kuantitatif tentang kemiskinan, pendidikan, pendapatan dan kesejahteraan lainnya serta karakter masyarakat, selaku Gubernur saya mengajak para Bupati dan Wali Kota di Sumbar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara bersama-sama, memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, serta mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Dan juga melakukan pemberdayaan masyarakat di mana mayoritas bekerja sebagai petani. Di samping   itu potensi wisata yang ada di tiap-tiap daerah bisa ditingkatkan lagi  pengelolaannya sehingga pada akhirnya ini semua bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumbar. ***

Singgalang, 17 Mei 2016

 

164. 2016-06-01 [Padek] Pers Publik

PERS PUBLIK

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Tanggal 5 April 2016 lalu, di Auditorium Gubernuran saya memberikan sambutan di acara musyawarah cabang Serikat Perusahaan Pers. Salah satu poin yang saya sampaikan adalah pers sebagai media publik dalam pemberitaan harus benar dan obyektif. Sedangkan kepada pemilik perusahaan pers, agar tidak melakukan intervensi yang menyebabkan berita menjadi bias kepentingan sehingga publik mendapat berita yang tidak benar dan tidak obyektif.

Pers dan perusahaan pers memang memiliki perbedaan. Pers menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Sedangkan perusahaan pers menurut undang-undang yang sama adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.  Sedangkan organisasi pers terdiri dari organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.

Undang-Undang Pers sudah mengatur bagaimana pers melaksanakan tugasnya, dan juga bagaimana masyarakat mengawasi dan mengkritisi pers. Dalam pasal 2 UU No. 40 Tahun 1999 disebutkan bahwa  kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum. Dalam pasal 5 ayat 1 disebutkan pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.

Pada pasal 6 poin C disebutkan bahwa pers nasional melaksanakan peranannya mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar.

Pada pasal 17 ayat 1 disebutkan bahwa masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan. Dan pada ayat 2 disebutkan bahwa kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: a. memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers; b. menyampaikan usulan dan saran kepada Dewan Pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional.

Undang-Undang Pers telah mengatur bagaimana pers seharusnya dijalankan, bahkan menyebut norma agama, rasa kesusilaan, dan praduga tak bersalah untuk membuat berita dan opini. Maka mau tak mau pers harus bekerja secara profesional untuk menghasilkan berita yang benar dan obyektif.

Adanya intervensi dari pemilik perusahaan pers pada akhirnya akan menyebabkan kerugian. Ini bisa dilihat dari beberapa media yang pemiliknya melakukan intervensi yang cenderung kebablasan karena ambisi tertentu, baik media elektronik maupun cetak. Masyarakat dan pihak-pihak yang peduli dengan pemberitaan pers pun sudah banyak melakukan kritik, baik melalui saluran resmi maupun melalui saluran tidak resmi seperti media sosial. Bahkan kritikan tersebut juga dilakukan dengan tidak membeli (media cetak), tidak mengunjungi situs online (media online), maupun tidak menonton (media elektronik). Menurut beberapa praktisi media, hal ini bisa berdampak kepada menurunnya jumlah pembaca, pengunjung maupun penonton.

Mengapa kritik kian gencar dari masyarakat? Karena pemberitaan pers menyebar ke seluruh penjuru tanah air, memasuki ruang-ruang pribadi di setiap keluarga, baik melalui media elektronik dan cetak. Isi yang tidak benar, tidak obyektif, dan sarat kepentingan, dan juga yang bertentangan dengan norma agama dan kesusilaan akan memberi pengaruh kepada masyarakat yang ‘menikmatinya’ dalam ruang-ruang pribadi. Meningkatnya jumlah kelas menengah dan kaum terdidik turut menambah ramainya kritik kepada pemberitaan dan opini pers yang tidak benar, tidak obyektif, sarat kepentingan, dan juga bertentangan dengan norma agama dan kesusilaan.

Pengelolaan pers yang profesional di era reformasi dan keterbukaan sudah menjadi tuntutan. Sebagian masyarakat yang akrab dengan internet maupun media sosial menjadi pengkritik keras pers yang dipandang tidak profesional dan bahkan sarat kepentingan tertentu ini. Masyarakat memang harus berperan aktif agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar dan obyektif terjamin.

Jasa pers dalam mencerdaskan masyarakat juga harus diapresiasi sebesar-besarnya karena berbagai lapisan masyarakat bisa mendapatkan informasi, menambah pengetahuan dan juga keterampilan, menyambung silaturahim, meningkatkan persatuan dan nasionalisme, serta manfaat positif lainnya. Oleh karena itu, juga sudah sepantasnya publik makin tercerdaskan oleh keberadaan pers ini sehingga energi positif yang disalurkan mampu memberi pengaruh seluas-luasnya. Dan insya Allah, pada akhirnya kebaikan tersebut akan kembali kepada pers tersebut. *

Padang Ekspres, 1 Juni 2016

165. 2016-06-01 [Singgalang] Wisata Sejarah

WISATA SEJARAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 18 Mei 2016 lalu, saya melakukan kunjungan kerja di Kabupaten 50 Kota. Ada beberapa agenda yang sudah disiapkan. Seperti menanam padi di lahan baru dan memberikan bantuan kepada petani, serta mengunjungi situs cagar budaya menhir di Jorong Koto Tinggi, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan.

Situs ini merupakan peninggalan zaman batu besar atau Megalithikum (1000 tahun sebelum Masehi) yang merupakan peninggalan manusia purba zaman prasejarah. Ada yang menyebut bahwa nenek moyang orang Minang berasal dari sini karena banyaknya benda-benda peninggalan mereka yang masih bisa dilihat hingga sekarang.

Pada zaman batu besar ini batu-batuan itu berubah fungsi di antaranya menjadi tempat pemujaan kepada ‘arwah nenek moyang’ maupun kegiatan sejenis, seperti tempat penyembelihan kepala kerbau sebagai persembahan untuk arwah di depan batu tersebut.

Ada yang menyebutkan bahwa bentuk rumah adat Minangkabau ini merupakan bentuk tanduk kerbau yang masih berkaitan dengan tradisi penyembelihan kepala kerbau di masa prasejarah. Tentu untuk membuktikannya perlu studi yang mendalam.

Mempelajari sejarah melalui benda-benda peninggalan di masa lalu, bahkan masa prasejarah, yang terhampar di alam, bagi sebagian orang bisa sangat menyenangkan dan tidak merasakan waktu berjalan. Dari banyaknya wisatawan yang datang, akan selalu ada wisatawan yang bermaksud serius mempelajari sejarah suatu tempat atau sesuai dengan ilmu yang ia miliki.

Sebagai contoh, saya pernah satu pesawat dengan wisatawan mancanegara yang datang dari pulau Jawa menuju Sumatera dengan maksud melakukan ecotourism yang dalam hal ini di maksudkan sebagai wisata geologi. Mereka ingin mengetahui bagaimana peristiwa terjadinya Ngarai Sianok dan Lembah Harau yang membuat bumi menjadi ‘terbelah’, serta Danau Singkarak dan Danau Maninjau yang diketahui terdapat kandungan sulfur di bawahnya dan diduga terdapat bekas gunung merapi di danau tersebut.

Sumatera Barat sebenarnya banyak memiliki peninggalan sejarah dari berbagai ideologi atau agama dan kepercayaan. Dari Animisme, Islam, Budha, Hindu dan Kristen, masih bisa dilihat benda-benda peninggalan tersebut. Oleh karena itu, berbagai peninggalan atau warisan sejarah ini sudah seharusnya dirawat dan dijauhkan dari pengrusakan maupun kerusakan. Masyarakat, instansi terkait, dan pemerintah setempat, sesuai wewenangnya perlu melakukan perawatan benda-benda maupun bukti sejarah, karena memiliki nilai jual untuk pengembangan wisata sejarah selain nilai edukasi dan nilai sejarahnya itu sendiri.

Pola pikir juga perlu diubah agar berbagai warisan sejarah itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat setempat melalui pemeliharaan dan perlindungan dari kerusakan. Semakin  tua usia warisan tersebut maka akan semakin tinggi nilai sejarahnya sehingga perlu dijaga sebaik-baiknya.

Wisata sejarah adalah juga bagian dari pengembangan pariwisata di Sumbar. Karena disadari tujuan wisatawan datang ke Sumbar sangat beragam. Wisata sejarah sesungguhnya memiliki potensi besar yang bisa dikembangkan. Para tokoh nasional yang telah dikenal luas perannya seperti Mohammad Hatta, Buya Hamka, Mohamad Natsir, M. Yamin dan banyak lagi yang lainnya, warisan peninggalan mereka yang masih ada, terutama di Sumbar, adalah salah satu potensi wisata sejarah yang bisa dikembangkan, baik untuk kesejahteraan masyarakat maupun untuk pelestarian nilai sejarah itu sendiri.

Selain itu, berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah di Sumbar seperti Nagari Pariangan dan Istano Basa Pagaruyung di Kab. Tanah Datar, ratusan rumah gadang di Solok Selatan, benteng-benteng, bangunan-bangunan warisan Belanda, adalah destinasi wisata sejarah yang tak kalah menarik dan sudah banyak dikunjungi wisatawan.

Pihak swasta, pemuda, masyarakat, bisa terlibat dalam menjaga, memelihara berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah ini sekaligus menjadi kegiatan yang mendatangkan profit. Tentunya dengan tidak melanggar aturan yang berlaku. Salah satu contoh adalah Rumah Puisi Taufiq Ismail yang berlokasi di Nagari Aie Angek Kab. Tanah Datar, berdekatan dengan Rumah Budaya Fadli Zon yang berisi koleksi sejarah terkait Minangkabau.

Saya juga mengapresiasi anak-anak muda yang peduli dengan wisata di Sumbar ini, dengan kreativitas mereka turut memajukan wisata Sumbar melalui saluran media sosial, media online, komunitas, dan beragam bentuk dan kegiatan lainnya. Semoga dengan bersama-sama memajukan wisata Sumbar ini, dampak baiknya berupa kesejahteraan bisa kembali kepada masyarakat Sumbar. ***

Singgalang, 1 Juni 2016

166. 2016-06-06 [PosMetro] Marhaban Ya Ramadhan

MARHABAN YA RAMADHAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah. Inilah yang patut kita ucapkan ketika mengawali puasa Ramadhan tahun ini. Mungkin masih ada dalam ingatan kita kisah orang-orang saleh maupun Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya ketika mengakhiri Ramadhan. Rasa ingin berjumpa kembali diwarnai kekhawatiran apakah usia yang ada masih bisa menikmati Ramadhan berikutnya.

Pada akhir Ramadhan, mereka yang sejak awal menikmati dan khusyuk dalam beribadah merasa masih kurang waktu yang disediakan Allah SWT. Betapa tidak, balasan langsung dari Allah SWT, baik rahmat, ampunan dan dibebaskan dari api neraka serta keberkahan adalah hal yang tidak ternilai. Harta yang paling bagus pun kelak akan kita tinggalkan. Hanya catatan amal yang akan menemani kita setelah meninggal kelak.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.” (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (HR. Muslim No. 1151)

Dengan ganjaran dari Allah langsung sudah saatnya kita memperbaiki dan meningkatkan amal ibadah Ramadhan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai manusia, tentu banyak keinginan kita yang belum terpenuhi. Dan salah satu cara untuk mendapatkan keinginan kita tersebut adalah semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan Ramadhan ini dengan melaksanakan berbagai amalan.

Apa saja amalan tersebut? Di antaranya adalah berinfak dan bersedekah, membaca Al Quran, shalat taraweh dan shalat malam, shalat dhuha, meningkatkan kualitas shalat wajib. Selain itu kita juga diminta menahan haus dan lapar, menahan dari berbicara yang menyebabkan dosa, menahan dari perilaku yang buruk.

Dalam hal hubungan dengan sesama manusia, Rasulullah SAW dalam khotbahnya menyambut Ramadhan berpesan agar umat Islam memuliakan orangtuanya, menyambung silaturahim, mengasihi anak yatim, bersedekah kepada fakir miskin.
Kita patut bersyukur bahwa di negeri kita, menjalankan ibadah Ramadhan dalam suasana dan kondisi aman. Di belahan dunia lain seperti Timur Tengah dan Afrika masih banyak saudara kita umat Islam yang menjalani ibadah Ramadhan dalam suasana kelaparan, kondisi yang tidak aman, dan penderitaan lainnya yang mungkin kita tidak ketahui karena keterbatasan informasi.

Tak lupa, kita juga turut peduli dengan saudara kita yang berada di tanah air di berbagai belahan bumi. Kita panjatkan doa terbaik untuk mereka semua, semoga Allah SWT memberikan pertolonganNya dan kasih sayangNya kepada mereka dan juga kepada kita.

Puasa adalah menahan diri, sehingga seharusnya tidak terjadi inflasi. Semoga Ramadhan kali ini, kita semua mampu mengikuti dengan baik, termasuk dalam mengendalikan konsumsi. Dan semoga kita semua mampu meraih takwa seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al Baqarah: 183, “Wahai orang-orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Marhaban ya Ramadhan. ***

Posmetro Padang, 6 Juni 2016

 

167. 2016-06-06 [Singgalang] Puasa dan Inflasi

PUASA DAN INFLASI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Apa lagi bagi umat Islam di Indonesia. Suasana Ramadhan begitu terasa. Berbeda dengan suasana Ramadhan di negara-negara yang jumlah umat Islamnya sedikit atau minoritas.

Di televisi, iklan-iklan bernuansa Ramadhan sudah mulai menyapa masyarakat menjelang datangnya bulan Ramadhan. Minuman dan makanan yang segar untuk berbuka yang disajikan dalam iklan televisi dikemas sedemikian rupa sehingga tak sabar rasanya untuk segera berpuasa. Memang demikianlah iklan, mampu memberikan imajinasi nikmatnya berbuka dengan makanan dan minuman yang ditawarkan dalam iklan tersebut.

Sebagai bulan yang istimewa, Allah SWT pun langsung menilai dan membalas amalan para hambaNya yang melakukan ibadah-ibadah yang sudah dicontohkan maupun disabdakan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya. Sebagai hambaNya yang menyimpan berbagai keinginan, tentunya momen Ramadhan ini sangat bagus untuk melaksanakan amalan-amalan terbaik.

Bagi yang ingin mendapatkan jodoh terbaik, bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk memanjatkan doa dengan penuh khusyuk. Demikian pula bagi yang ingin mendapatkan kelulusan yang baik di tahun depan dan diterima di perguruan tinggi negeri yang diidamkan. Perbanyaklah berdoa sekaligus beramal di bulan Ramadhan.

Jika saja, semakin banyak yang serius dan konsentrasi beramal di bulan Ramadhan, maka insya Allah kita akan merasakan kenikmatan yang tidak ada di bulan lain. Semakin serius, konsentrasi dan fokus menjalankan amal ibadah di bulan Ramadhan, maka insya Allah kita akan menjalani ibadah berbuka puasa dan sahur seperti layaknya rutinitas sehari-hari. Bahkan pengeluaran untuk konsumsi bisa dikurangi.

Namun apa yang terjadi? Seperti biasa di bulan Ramadhan, harga-harga barang cenderung naik karena meningkatnya konsumsi yang ditandai naiknya permintaan dengan cepat, sementara persediaan tidak bisa mengimbangi naiknya permintaan. Padahal kalau tidak ada lonjakan permintaan, persediaan masih cukup. Badan Pusat Statistik bahkan sudah menginformasikan bahwa tidak kurang satu persen kontribusi inflasi terjadi pada bulan Ramadhan. Sedangkan di bulan lain tidak sampai satu persen.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa suasana berbuka puasa dengan ditemani minuman dan makanan yang membangkitkan selera adalah karunia dan kenikmatan tersendiri yang hanya terjadi di bulan Ramadhan. Namun ketika ternyata yang terjadi adalah berlebih-lebihan dalam makan dan minum hingga akhirnya muncul  kemalasan akibat konsumsi berlebih dan kemubaziran juga bukan sesuatu yang diharapkan terjadi di bulan Ramadhan.

Setelah Subuh hingga Maghrib, kita mampu menahan. Namun antara Maghrib dan Subuh ternyata kebalikannya. Padahal, setelah berbuka pun tidak dicontohkan oleh Nabi untuk berlebih-lebihan, apalagi kemubaziran. Yang dicontohkan justru ibadah di malam hari hingga menjelang subuh, seperti shalat tarawih, witir, membaca Al Quran, dan shalat tahajud.

Sudah saatnya kita menikmati Ramadhan ini dengan memperbanyak amal ibadah. Tidak melakukan konsumsi yang berlebihan, namun justru meningkatkan infak dan sedekah. Kenaikan harga barang seperti beras yang menyebabkan meningkatnya inflasi sebenarnya juga menyebabkan saudara-saudara kita yang kurang beruntung makin sulit untuk sekedar makan dan minum untuk keluarganya. Bahkan yang masih beruntung pun juga banyak mengalami kesulitan menghadapi kenaikan harga barang. Ramadhan meminta kita untuk berempati dan menahan diri.

Kita juga mengetahui bahwa saat ini kejahatan seperti kasus-kasus pemerkosaan atau pencabulan makin membuat bulu kuduk kita berdiri. Dengan masuknya Ramadhan, kita harapkan tidak ada kejahatan yang seperti itu lagi. Orang-orang yang potensi melakukan kejahatan seperti itu, mudah-mudahan dengan menjalankan puasa bisa melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik lagi.

Doa-doa kita yang khusyuk semoga bisa menjadi sebab turunnya Rahmat Allah SWT di negeri ini. Dijauhkan dari berbagai marabahaya dan tindak kejahatan yang membuat kita ngeri. Dan dengan melatih diri untuk menahan dan mengendalikan konsumsi, semoga bisa berpengaruh terhadap menurunnya angka inflasi.

Mari kita sambut Ramadhan dengan gembira dan bersahabat. Semoga puasa yang kita jalani dan amal ibadah yang kita laksanakan mampu menjadikan kita sebagai pribadi yang bertakwa. ***

Singgalang, 6 Juni 2016

 

168. 2016-06-15 [Singgalang] Nikmatnya Bulan Ramadhan

NIKMATNYA BULAN RAMADHAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Secara kasat mata, nikmatnya bulan Ramadhan sudah bisa dijelaskan sebelum datangnya, melalui iklan televisi. Minuman sirup yang berwarna-warni menggugah selera, sangat nikmat diminum ketika berbuka puasa. Apalagi jika dilakukan bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Saat waktu berbuka adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh orang yang berpuasa. Dan menurut seorang praktisi branding, kontribusi penjualan sirup di bulan Ramadhan mencapai 90 persen dibanding bulan lainnya. Sebuah bentuk kenikmatan bagi produsen dan penjual sirup tentunya.

Apalagi yang bisa dilihat secara kasat mata tentang nikmatnya bulan Ramadhan secara umum? Salah satunya adalah acara buka puasa bersama. Selain menambah ikatan silaturahim, orang yang menyiapkan hidangan buka puasa untuk orang lain mendapat pahala.  Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memberi makan orang berbuka puasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, dari Zaid bin Kholid Al Juhani. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Mengapa berbuka puasa itu penuh kenikmatan? Karena Rasululullah SAW sendiri yang mengatakannya. Rasulullah SAW bersabda, “Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan, berbahagia pada saat dia berbuka, berbahagia dengan puasanya itu dan pada saat ia berjumpa Rabb-nya.” (Muttafaq Alaihi). Maka, sudah sepantasnya kita meyakini apa yang disampaikan Rasulullah SAW, baik yang bisa diterima oleh akal karena langsung bisa dirasakan maupun yang masih sulit dicerna oleh akal.

Masih banyak hal lain di bulan Ramadhan ini yang kita belum rasakan langsung dampak atau kenikmatannya tapi mesti diyakini terlebih dahulu. Karena yang mengatakannya adalah Allah SWT dan Rasulullah SAW. Namun karena kurang atau tidak bisa langsung dirasakan, memang bagi sebagian orang sulit untuk melaksanakannya. Misalnya saja tentang balasan dari Allah langsung terhadap amalan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Motivasi untuk meningkatkan amalan dan meningkatkan kualitas amalan perlu diperkuat sehingga bisa melebihi  motivasi untuk berbuka puasa ditemani makanan dan minuman enak.

Mengapa demikian? Karena dalam kehidupan, begitu banyak hal yang ingin kita raih. Seperti sukses dalam karir, sukses dalam membesarkan dan mendidik anak, sukses dalam ujian sekolah, sukses dalam berdagang, dan berbagai keinginan lainnya. Insya Allah, keinginan dan kesuksesan yang ingin kita capai itu bisa diraih dengan mencicipi kenikmatan membaca Al Quran, shalat malam, iktikaf, shalat Dhuha, dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan melebihi kenikmatan berbuka puasa. Karena di bulan Ramadhan ini Allah sudah permudah hambaNya untuk beramal. Bahkan kenikmatan terbesar yaitu dibebaskan dari neraka pun Allah sediakan di bulan Ramadhan ini. Semoga kita bisa meraihnya. ***

Singgalang, 15 Juni 2016

 

169. 2016-06-21 [Metro Andalas] Ramadhan Membentuk Karakter

RAMADHAN MEMBENTUK KARAKTER

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Lapar mengajarkanmu rendah hati selalu. Demikian sebuah lirik lagu yang menceritakan jawaban seorang ayah kepada anaknya perihal manfaat menahan lapar saat puasa. Lagu ini dipopulerkan oleh grup Bimbo, dan selalu muncul di saat Ramadhan.

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin sebagian kita tidak pernah menahan lapar, karena mampu untuk mencukupi kebutuhan. Namun jika tiba-tiba Allah menghendaki kita sulit memenuhi kebutuhan hingga harus hidup menahan lapar, kita akan bertemu dengan keadaan sebenarnya. Nasib berubah seperti ini pasti tidak dikehendaki. Namun bukan tidak mungkin.

Dalam kehidupan, orang yang mengalami perubahan nasib seperti itu di antaranya dialami oleh orang-orang sombong. Ketika berpunya, sehat, kuat, kesombongannya luar biasa. Seakan-akan akan seperti itu selamanya. Semua orang adalah kecil dalam pandangannya. Empati pun tak ada. Namun pada suatu titik, tiba-tiba ia jatuh. Barulah ia sadar bahwa kesombongannya tak berguna.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman: 18).

Berpuasa dengan menahan haus dan lapar adalah salah satu bagian dari membentuk karakter positif. Bagi yang hidupnya berkecukupan, dengan berpuasa bisa merasakan  kehidupan orang-orang yang menahan lapar sehari-hari sehingga ia bisa lebih bersyukur lagi dan menundukkan dirinya di hadapan Allah SWT. Sehingga muncul sikap rendah hati kepada sesama manusia.

Allah SWT mewajibkan orang-orang yang beriman berpuasa dengan tujuan menjadi orang yang bertakwa. Pengertian takwa adalah menjalankan perintah Allah SWT dengan mengharap rahmatNya dan meninggalkan maksiat karena takut siksaNya.

Pencapaian takwa bagi seorang muslim ditandai dengan munculnya karakter positif pada dirinya, di antaranya setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Seperti dicontohkan Rasulullah SAW, puasa di bulan Ramadhan akan membentuk karakter peduli sesama. Rasulullah SAW adalah orang yang gemar bersedekah, dan di bulan Ramadhan sedekah yang dilakukan Rasulullah SAW lebih hebat lagi dibanding bulan lain. Masjid, mushola, dan lembaga amil zakat biasanya di bulan Ramadhan mengalami kenaikan infak dan sedekah dibanding bulan lain. Ini sebagai pertanda banyak orang yang berinfak dan sedekah di bulan ini dibanding bulan lainnya sekaligus memperlihatkan kepedulian sesama yang masih ada.

Puasa di bulan Ramadhan, umat Islam dengan rela menahan haus, lapar dan hawa nafsu lainnya sejak subuh hingga maghrib. Tidak ada satupun yang memaksa, namun dilaksanakan dengan ikhlas. Mereka tidak membantah ketika harus menahan sejak subuh hingga maghrib. Tidak ada todongan senjata atau hukuman fisik yang dipaksakan. Ini juga salah satu bentuk karakter yang muncul ketika menjalani ibadah puasa, yaitu karakter taat. Ketaatan kepada perintah Allah SWT akan mendatangkan kebaikan bagi yang melaksanakannya.

Bagi yang mencoba melanggar dengan membatalkan puasa di siang hari namun mengaku puasa kepada orang lain, ia akan dihadapkan kepada penilaian Allah SWT. Bisa dipastikan hati nuraninya akan mengaku bersalah ketika mengaku puasa kepada orang lain padahal baru saja ia makan dan minum di siang hari. Maka puasa juga membentuk karakter jujur pada diri seorang muslim.

Masih banyak lagi karakter positif yang dibentuk melalui puasa dan ibadah di bulan Ramadhan. Menjalaninya dengan sepenuh hati disertai keimanan dan kecintaan kepada Allah SWT insya Allah akan memberikan dampak positif di kemudian hari. Segala sesuatu kebaikan tak akan luput dari catatanNya. Allah SWT berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS Al Zalzalah:7). Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan derajat ketakwaan di bulan Ramadhan ini. ***

Metro Andalas, 21 Juni 2016

 

170. 2016-06-29 [Singgalang] Ramadhan Bulan Al Quran

RAMADHAN BULAN AL QURAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al Quran. Sudah lazim di kalangan umat Islam memperingati turunnya Al Quran ini dengan mengadakan Peringatan Nuzulul Quran, dari level kelurahan hingga pemimpin negara. Peringatan Nuzulul Quran diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan. Sedangkan bagi yang ingin meraih malam lailatul qadar disebut jatuh pada malam-malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Ini seperti disampaikan oleh Aisyah r.a, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan dia bersabda: “Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Rasulullah SAW menerima wahyu pertama kali pada usia 40 tahun. Waktu itu Rasulullah SAW sedang berada di gua Hira yang terletak di atas Jabal Nur. Wahyu yang pertama kali diterima oleh Rasulullah SAW adalah Surat Al Alaq ayat 1-5 yang artinya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Saat ini, justru kebiasaan membaca di kalangan umat Islam melemah. Padahal salah satu jendela untuk mendapatkan hikmah atau ilmu pengetahuan adalah dengan membaca. Jika kita arahkan sedikit makna dari perintah membaca di wahyu pertama tersebut, maka ada pesan untuk membaca kalimat Allah yang tertulis yaitu Al Quran dan kalimat Allah yang terhampar yaitu penciptaan alam semesta.

Membaca Al Quran adalah salah satu sunnah Nabi. Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabat dan kaum muslimin bagaimana cara membaca Al Quran, yaitu membaca dengan tartil. Maksudnya adalah membaca Al Quran semaksimal mungkin dengan memperjelas bacaannya. Rasulullah juga berhenti membaca di setiap akhir ayat. Di samping itu, Rasulullah SAW senang mendengarkan bacaan Al Quran dari para sahabatnya.

Setiap bulan Ramadhan, Rasulullah SAW dibimbing Jibril dalam memahami Al Quran. Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah mengatakan, “Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al Quran kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam setiap tahun sekali (pada bulan Ramadhan). Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al Quran kepada beliau sebanyak dua kali (untuk mengokohkan dan memantapkannya)” (HR. Bukhari no. 4614).

Menurut penjelasan Ibnu Atsir rahimahullah atas hadits di atas bahwa Rasulullah dalam bulan Ramadhan mempelajari semua ayat Al Quran yang turun. Ini artinya, Rasulullah SAW tidak hanya membaca Al Quran saja, akan tetapi juga mempelajari Al Quran melalui Jibril.

Para ulama salaf ketika Ramadhan memperbanyak membaca Al Quran. Di antara mereka ada yang khatam setiap tiga malam. Selain itu, mereka pun banyak yang menangis dikarenakan memahami ayat-ayat yang mereka baca. Bahkan ada yang pingsan setelah membaca sebuah ayat karena mengerti akan maknanya, terutama ayat-ayat mengenai Hari Kiamat.

Bagi kita yang mungkin belum bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan ulama salaf, tidak perlu berkecil hati. Karena membaca Al Quran saja pun pahalanya sudah berlipat.

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469).

Semoga di bulan turunnya Al Quran ini kita bisa menyempatkan waktu untuk memperbanyak membaca Al Quran. Karena begitu banyak manfaat yang insya Allah akan didapat oleh orang yang membacanya. Apalagi jika disertai merenungi arti dari ayat Al Quran tersebut sehingga timbul karakter positif pada diri kita. Seperti semakin takut berbuat kejahatan kepada manusia atau semakin meningkatkan amal ibadah dan memperbaiki perilaku yang keliru. ***

Singgalang, 29 Juni 2016

 

171. 2016-07-04 [PosMetro] Zakat Fitrah dan Kegembiraan Lebaran

ZAKAT FITRAH DAN KEGEMBIRAAN LEBARAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Setelah melaksanakan shalat Id, Rasulullah SAW berjalan pulang dan menjumpai seorang anak perempuan yang tengah menangis. Rambutnya acak-acakan, alas kakinya usang, dan pakaiannya lusuh. Rasulullah bertanya gerangan apa yang membuat anak itu sedih, sementara di sekelilingnya anak-anak bergembira menyambut Hari Raya Idul Fitri. Maka anak itu menjawab bahwa ia sudah tidak punya lagi ayah untuk bersama bergembira di Hari Raya Idul Fitri. Pada Idul Fitri sebelumnya ayahnya sempat memberikan hadiah di hari raya. Namun ayahnya syahid ketika berperang bersama Rasulullah SAW sehingga ia menjadi yatim.

Maka Rasulullah SAW pun menggembirakan hati anak tersebut dengan menyebut bahwa sang anak kini memiliki orang tua yaitu Rasulullah SAW dan Aisyah r.a serta kakak yang bernama Fatimah r.a. Betapa gembira hati sang anak mendengarkan perkataan Rasulullah SAW tersebut.

Hari Raya Idul Fitri atau sering disebut dengan ‘Lebaran’ adalah momen menyatakan kegembiraan bagi kaum muslimin setelah melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Dalam syariat Islam, bagi orang yang melaksanakan puasa maka wajib untuk membayar zakat fitrah. Zakat fitrah juga berlaku kepada anggota keluarga, yaitu suami, istri, dan anak-anak dan orang yang menjadi tanggungan. Semuanya wajib dibayarkan zakatnya. Membayar zakat fitrah dilaksanakan pada bulan Ramadhan hingga sebelum pelaksanaan Shalat Id.

Mengenai kewajiban berzakat ini, Allah SWT dalam Surat At Taubah ayat 60 berfirman yang artinya, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Zakat tidak hanya berupa zakat harta (maal), tetapi ada juga zakat fitrah. Kriteria atau syarat dan ketentuannya pun berbeda.

Zakat harta diwajibkan bagi orang yang memiliki jumlah pendapatan tertentu untuk kurun waktu tertentu. Sedang zakat fitrah diwajibkan bagi orang yang mampu menafkahi dirinya dan keluarganya di hari raya dan pada malamnya. Maka di sini orang yang belum wajib zakat harta namun mampu menafkahi diri dan keluarganya juga wajib membayar zakat fitrah.   

Dari Jabir r.a Rasulullah SAW bersabda: “Mulailah dari dirimu. Maka nafkahilah dirimu. Apabila ada kelebihan, maka peruntukkanlah bagi keluargamu. Apabila masih ada sisa kelebihan (setelah memberikan nafkah) terhadap keluargamu, maka peruntukkanlah bagi kerabat dekatmu.”  (HR. Bukhari Muslim).

Dalam wikipedia, zakat fitrah ialah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu lelaki dan perempuan muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Kata ‘Fitrah’ yang ada merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan sehingga dengan mengeluarkan zakat ini manusia dengan izin Allah akan kembali fitrah.

Zakat fitrah tidak hanya diwajibkan bagi orang yang mampu. Tapi juga bagi hamba sahaya, dan yang membayarkan adalah majikannya. Dari Ibnu Umar ra: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadan kepada setiap orang muslim, laki laki atau perempuan, merdeka atau hamba sahaya (budak), yaitu satu sha’ kurma atau gandum.” (HR Bukhari Muslim)

Salah satu kegunaan zakat fitrah adalah untuk membersihkan diri. “Dari Ibnu Abbas r.a: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai satu pembersihan bagi orang-orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan perkataan kotor, dan sebagai makanan untuk orang miskin.” (HR Abu Daud dengan isnad baik)

Zakat fitrah bisa dibayarkan dalam bentuk makanan pokok maupun uang. Pembayaran dalam bentuk uang lebih memudahkan bagi yang menerima untuk membelanjakan kebutuhannya di hari raya, baik berupa makanan maupun baju yang layak pakai. Dan juga bisa membayar hutang jika ia memiliki hutang.

Zakat fitrah adalah salah satu cara dalam ajaran Islam untuk memberikan kegembiraan bagi para fakir miskin di Hari Raya Idul Fitri. Dan tentunya, tidak hanya zakat fitrah saja yang bisa menggembirakan para fakir miskin di hari raya, namun juga infak dan sedekah yang jumlahnya jauh bisa berlipat dibanding besaran jumlah zakat fitrah.

Islam telah memberikan ajaran kepada umatnya untuk selalu membangun kepedulian sosial kepada sesama. Semoga di Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriyah ini, kita yang mampu bisa ikut menggembirakan para fakir miskin, terutama yang berada di sekitar lingkungan kita, baik keluarga, kerabat maupun tetangga. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 Hijriyah. Taqobbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. ***

Posmetro Padang, 4 Juli 2016

172. 2016-07-11 [Singgalang] Idul Fitri dan Silaturahmi

IDUL FITRI DAN SILATURAHMI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, pada momen Hari Raya Idul Fitri (atau biasa disebut Lebaran) kali ini saya masih bisa luangkan waktu untuk silaturahmi sambil mengajak anak-anak, menantu dan cucu mengunjungi keluarga almarhum ibu saya di Kuranji Padang, keluarga ayah saya di Simabur Tanah Datar, keluarga ibu mertua di Lubuk Kilangan Padang, dan keluarga almarhum ayah mertua di Salido Painan. Open house selaku Gubernur tak lupa saya lakukan di rumah Lubuk Kilangan dan Auditorium Gubernuran.

Lebaran memang salah satu waktu yang baik untuk bersilaturahmi. Tidak hanya baik tapi juga sungguh indah dipandang mata dan menyejukkan hati. Apalagi sebelumnya kita melaksanakan puasa sebulan penuh dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Hati yang fitrah menyebabkan silaturahmi menjadi semakin indah.

Di berbagai tempat, nampak terlihat banyak orang saling mengunjungi. Tidak hanya sesama saudara, tetapi juga kepada handai tolan dan sesama rekan. Ketika saling bertemu tak lupa mengucapkan mohon maaf lahir batin. Begitulah aktifitas kita dan kaum muslimin lainnya di bulan Syawal ini yang sudah berlangsung lama. Menjadi budaya yang mengokohkan persatuan dan kesatuan kita sebagai umat dan bangsa.

Bentuk silaturahmi pun makin beragam. Ada yang saling mengunjungi, ada pula yang pulang ke kampung halaman, sedangkan bagi pejabat publik melakukan open house. Masih di bulan Syawal, bentuk silaturahmi dilakukan  melalui kegiatan halal bihalal maupun reuni. Sementara itu di dunia maya dan media sosial bentuk silaturahmi dilakukan dengan mengucapkan selamat hari raya dan mohon maaf lahir batin melalui pesan pendek (SMS, short message service), WhatsApp, Instagram, Line, dan lain-lain dengan berbagai kreatifitas.

Kegembiraan bersilaturahmi di waktu Lebaran memang berbeda dengan waktu lainnya. Kebahagiaan berkumpul bersama keluarga tercinta jauh lebih indah. Bahkan bagi yang pulang kampung dengan menggunakan pesawat, kendaraan pribadi maupun angkutan lainnya, kenikmatan berkumpul setelah perjalanan jauhpun bisa menghilangkan kepenatan dalam perjalanan.

Saling menemui, saling berkunjung, mengadakan halal bihalal, saling maaf memaafkan adalah bentuk-bentuk silaturahmi yang sudah dilakukan oleh umat Islam selama ini karena ia merupakan perintah agama. Disamping itu juga sudah menjadi budaya yang dilaksanakan turun temurun.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Hujurat 10 yang artinya, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mau dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturahmi” (HR. Bukhari).

Ayat Quran dan hadits di atas memberitahukan kepada kita bahwa silaturahmi itu membawa kebaikan bagi diri kita. Sehingga ini bisa memotivasi kita untuk tetap menjalin dan menjaga silaturahmi. Tentu silaturahmi yang dimaksud tidak hanya di saat lebaran tapi juga setiap saat dan di setiap tempat serta kepada setiap orang. Sehingga janji Allah SWT akan mendapatkan rahmat, dan janji Rasulullah SAW akan dipanjangkan umur dan dilapangkan rezeki, akan menjadi kenyataan bagi diri kita.

Seperti disabdakan dalam hadits, dengan silaturahmi akan panjang umur. Ketika saling bertemu, akan saling memaafkan. Sehingga beban pikiran dan beban perasaan semakin berkurang bahkan hilang. Sebagai manusia yang memiliki kelemahan pasti ada yang salah dan bisa memunculkan konflik. Konflik kemudian memunculkan beban pikiran dan perasaan sehingga bisa menimbulkan penyakit. Stres, depresi, pusing, hipertensi, bahkan stroke bisa terjadi karena terpeliharanya konflik dan putusnya tali silaturahmi. Setidaknya konflik akan membuat segalanya menjadi tidak enak. Makan, tidur, bekerja juga menjadi tidak enak.

Selain itu silaturahmi bisa jadi media katarsis, seperti curhat kepada teman yang akhirnya bisa mengurangi beban perasaan dan pikiran. Seperti anjuran agama, di mana kita diperintahkan menjaga silaturahmi serta saling memaafkan maka konflik akan hilang, beban pikiran dan perasaan juga ikut hilang, dan insya Allah penyakit pun jadi hilang serta insya Allah akan panjang umur.

Silaturahmi pun bisa menambah rezeki. Banyak bertemu orang, banyak memiliki kenalan dan terjaganya silaturahmi akan ada saling tolong menolong dalam hal apapun termasuk saling mendoakan. Apalagi profesi pedagang, pengusaha dan politisi, silaturahmi bisa menambah rezeki. Setidaknya rezeki karena banyak teman, maka tolong menolong antara sesama akan terjadi. Banyak teman, insya Allah memudahkan datangnya rezeki. Begitulah sabda Rasulullah SAW.

Silaturahmi dan persaudaraan akan mendapat rahmatNya. Begitu janji Allah SWT, dan ini pasti. Rahmat berupa kasih sayang dan kebaikan-kebaikan dari Allah SWT. Masya Allah. Kebaikan akan banyak kita terima dari Allah dengan silaturahim ini. Rahmat bertambah umur, bertambah rezeki bahkan peningkatan karir bagi ASN (aparatur sipil negara), atau mudahnya mendapat jabatan bagi kaum profesional.

Kita hidup bertetangga, dengan silaturahmi akan mendatangkan rahmat, di mana para tetangga membantu kita. Kita berteman di sekolah, rahmat pun banyak berdatangan, seperti ada kawan yang membantu buat tugas, dan saling membantu kegiatan-kegiatan di sekolah. Begitu juga berteman di kantor dan di organisasi serta di mana saja kita berada, pastilah rahmat akan mendatangi kita.

Mari kita di saat Lebaran dan di bulan Syawal ini untuk saling jaga silaturahmi dan saling memaafkan. Segeralah ishlah atau perbaiki segala konflik dan persoalan antar sesama, sekiranya masih ada. Insya Allah rahmat atau kebaikan Allah SWT akan mewarnai kehidupan kita. Hidup kita dilindungi Allah SWT, dibantu Allah SWT dan ketentraman hidup serta kebahagiaan akan kita rasakan. Bahkan hidup pun akan sukses tidak hanya di dunia tapi juga sukses di akhirat. Amin..***

Singgalang, 11 Juli 2016

 

173. 2016-07-20 [Padek] Kita Mau, Insya Allah Bisa

KITA MAU, INSYA ALLAH BISA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, kini kita berada di bulan Syawal. Suasana silaturahmi, saling memaafkan, ukhuwah, reuni, pertemuan keluarga, halal bihalal sangat kental sekali di bulan Syawal. Semangat baru untuk kehidupan lebih baik sangat terasa setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan lalu hampir 24 jam waktu kita diisi dengan berbagai amal ibadah yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Kita tentu masih ingat, ketika keesokan hari sudah masuk 1 Ramadhan maka di malam hari sudah datang ke masjid untuk melaksanakan shalat isya berjamaah dan kemudian mendengarkan ceramah dilanjutkan dengan shalat taraweh berjamaah.

Setelah usai shalat taraweh, dilanjutkan dengan membaca Al Quran, kemudian tidur dengan waktu yang lebih sedikit dari biasanya. Karena harus bersiap untuk bangun melaksanakan sahur.

Sebelum sahur, masih ada waktu untuk mengerjakan shalat tahajud. Setelah sahur, pergi ke masjid melaksanakan shalat subuh berjamaah. Usai shalat subuh maka bersiap untuk aktivitas harian. Kemudian menjelang matahari semakin meninggi melaksanakan shalat dhuha.

Aktivitas di pagi hingga sore hari dilakukan seperti biasa, padahal saat itu sedang dalam kondisi puasa menahan haus dan lapar. Iktikaf di masjid pun bisa diikuti saat 10 hari terakhir Ramadhan. Berbagai aktivitas amal ibadah tersebut rutin kita laksanakan setiap bulan Ramadhan dari tahun ke tahun.

Banyak kebaikan (amal ibadah) yang dilakukan di bulan Ramadhan yang semestinya bisa dikerjakan kembali di luar bulan Ramadhan. Namun tidak dilakukan. Padahal sudah tidak menahan lapar dan haus lagi serta situasinya lebih mendukung.

Sebagai satu contoh, di bulan Ramadhan terasa ringan berpuasa satu bulan penuh. Ketika masuk bulan Syawal, puasa sunnah 6 hari terasa berat. Bahkan untuk puasa sunnah Senin-Kamis pun terasa berat. Mengapa puasa sebulan penuh bisa, tapi puasa beberapa hari tidak bisa?

Demikian pula ketika puasa sebulan penuh mampu bangun pagi untuk shalat subuh. Tapi di luar bulan Ramadhan shalat subuh sering kesiangan. Mengapa ketika Ramadhan bisa dikerjakan tapi di luar Ramadhan tidak bisa dikerjakan?

Shalat taraweh di malam hari bisa dikerjakan selama sebulan penuh. Mengapa ketika di luar Ramadhan shalat witir satu rakaat pun tidak bisa dikerjakan? Membaca Al Quran bisa khatam 30 juz dalam sebulan, bahkan ada yang bisa 2 hingga 3 kali khatam di bulan Ramadhan atau setidaknya di bulan ramadhan biasa membaca Al Quran. Mengapa ketika di luar Ramadhan lama sekali mengkhatamkannya bahkan sudah tidak lagi membacanya?

Ternyata banyak kebaikan yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan tapi tidak dilakukan di luar Ramadhan. Sehingga tidak berlanjut dan seolah-olah khusus untuk bulan Ramadhan saja. Padahal sesungguhnya kita butuh mengerjakan kembali kebaikan itu agar rahmat Allah SWT tetap kita peroleh. Untuk mengerjakan berbagai kebaikan itu landasannya adalah kemauan. Banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan, tapi tidak mau dikerjakan. Maka jika dilandasi kemauan, segala perbuatan baik itu insya Allah akan bisa dikerjakan.

Membaca Al Quran, puasa sunnah, shalat malam, shalat dhuha, shalat berjamaah, dan amalan lainnya insya Allah akan melindungi kita, menenangkan diri kita, mensejahterakan kita, menyehatkan kita, memudahkan urusan hidup kita, meningkatkan kesuksesan hidup kita, dan berbagai kebaikan lainnya yang Allah SWT sediakan untuk hamba-hambaNya.

Semoga di bulan Syawal ini dan juga bulan berikutnya kita bisa memotivasi kembali diri kita untuk memiliki kemauan melakukan berbagai kebaikan yang sudah dilaksanakan di bulan Ramadhan. ***

Padang Ekspres, 20 Juli 2016

 

174. 2016-07-26 [Singgalang] Kembali ke Fitrah

KEMBALI KE FITRAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Kita patut bersyukur telah melewati ibadah puasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri. Kedua peristiwa ini menjadikan jiwa kita kembali terbentuk sesuai fitrah. Kembali ke fitrah, demikian kita sering mendengarnya. Allah SWT memang menjadikan manusia memiliki fitrah. Ini difirmankan Allah SWT dalam Al Quran surat Ar Ruum ayat 30 yang artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah, (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Islam adalah agama fitrah, yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Ajaran Islam banyak memberikan arahan kepada manusia bagaimana hidup sesuai fitrah tersebut. Ramadhan adalah salah satu ruang bagi umat Islam kembali ke fitrah mereka. Sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa dan mengerjakan berbagai amal ibadah, pada bulan berikutnya tanggal 1 Syawal umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Momen kembali ke fitrah dirayakan dengan penuh sukacita dan kebahagiaan.

Jiwa kita yang seharusnya sesuai fitrah sering makin tumpul karena dalam kegiatan sehari-hari menjauh dari fitrah sebagai manusia. Ini terjadi baik tanpa sadar maupun sadar. Rutinitas yang padat, banyaknya pekerjaan, sering menjauhkan kita dari fitrah kemanusiaan kita. Sehingga dalam pergaulan sehari-hari untuk memenuhi keinginan ataupun target, yang dikedepankan adalah berbuat curang, menipu, berbohong, menyerobot, memalsukan, memfitnah, menjelekkan orang lain, dan perbuatan buruk lainnya.

Allah SWT menempa hambaNya di bulan Ramadhan untuk kembali menjadi manusia yang fitrah. Puasa menahan haus, lapar dan hawa nafsu dari subuh hingga maghrib selama sebulan penuh dalam dunia kesehatan dianggap mampu menyehatkan tubuh dan menghindarkan datangnya penyakit serta sekaligus mengeluarkan racun di tubuh. Demikian pula halnya dengan kondisi jiwa, puasa diikuti dengan amal ibadah yang dilaksanakan dengan ikhlas mampu membentuk kembali jiwa manusia yang fitrah sesuai dengan kodrat penciptaan. Dengan fitrah yang utuh ini maka dicapailah derajat ketakwaan seorang hamba.

Fitrah pada manusia berarti memiliki sifat dan perilaku mulia yang Allah SWT jadikan kepada semua manusia tanpa kecuali. Maka manusia yang mampu menjaga fitrahnya akan muncul dari dalam dirinya kecerdasan (fathanah), berperilaku jujur (siddiq), tanggung jawab, amanah, disiplin, sunguh-sungguh, kerja keras, dan perilaku serta sifat baik lainnya.

Berbagai perilaku dan sifat baik itu sangat cocok dengan diri kita, sesuai dengan kebutuhan jiwa, dan mampu memenuhi keinginan jiwa, serta sesuai dengan kodrat penciptaan manusia. Jika perilaku itu dijalankan maka ia akan memberikan ketenangan, kenyamanan, dan juga menimbulkan kesuksesan dalam hidup. Baik sukses dalam berkeluarga, bekerja, berorganisasi, bermasyarakat, juga bernegara. Sukses sebagai pegawai, pelajar, ibu rumah tangga, wirausahawan, guru, dosen, mahasiswa, dan lainnya. Tidak hanya sukses hidup di dunia, tetapi juga di akhirat.

Bagaimana agar kondisi kita tetap dalam koridor fitrah manusia yang diberikan Allah SWT? Di antaranya adalah dengan menjaga pelaksanaan rutinitas amal ibadah yang sudah dilakukan di bulan Ramadhan untuk bisa dilaksanakan di luar Ramadhan. Karena tanpa menjaga kuantitas dan kualitas ibadah, diri kita akan mudah keluar dari fitrah yang sudah diberikan Allah SWT. Puasa dan amal ibadah yang sudah dikerjakan di bulan Ramadhan telah terbukti mengembalikan kita kepada fitrah. Maka meninggalkannya akan menyebabkan kita menjauh dari fitrah tersebut.

Tidak hanya itu, pengaruhnya juga kepada anak-anak yang kita besarkan bisa keluar dari fitrah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orangtuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita kembali ke kodrat penciptaan kita, sebagai manusia yang fitrah. Karena itu merupakan kebutuhan kita hidup di dunia dan juga bekal di akhirat. Semoga kita bisa melaksanakannya. ***

Singgalang, 26 Juli 2016

 

175. 2016-08-02 [Padek] Tour de Singkarak 2016

TOUR DE SINGKARAK 2016

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 25 Juli 2016 lalu saya menghadiri peluncuran Tour de Singkarak (TdS) tahun 2016 yang dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta. Saya memberi apresiasi kepada Menteri Arief yang antusias berbicara tentang pariwisata Sumbar. Bahkan di satu waktu beliau lengkap menyampaikan data pendapatan penduduk di sekitar sebuah kawasan wisata yang sudah mengalami kenaikan berkat adanya kawasan wisata tersebut yang makin ramai dikunjungi wisatawan. Ini membuktikan bahwa sektor pariwisata terbukti meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, apresiasi saya berikan kepada Kementerian Pariwisata RI, Pemerintahan Kota/Kabupaten, Aparat TNI dan Polri, Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI), dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan persepedaan yang telah menunjukkan kesiapannya berpartisipasi mensukseskan TdS 2016 ini yang merupakan kali ke delapan. Saya juga memberikan apresiasi kepada masyarakat Sumbar yang selama ini tertib dalam menonton TdS dan juga rekan-rekan media yang sudah melakukan liputan TdS.

Di tengah kemeriahan dan optimisme persiapan TdS 2016 ini, tetap ada yang bertanya apakah TdS berpengaruh terhadap pariwisata Sumbar. Untuk menjawab hal ini, maka beberapa informasi berikut bisa menjelaskannya.

Setelah tujuh kali digelar TdS, ternyata sudah bermunculan destinasi wisata baru yang makin dikenal masyarakat lebih luas lagi. Tidak lagi Danau Singkarak semata. Beberapa di antaranya, Pantai Carocok, Pantai Gandoriah, Pantai Padang, Lembah Harau, Kelok 9, Pantai Tiram, Istana Pagaruyuang, dan masih ada lagi yang lainnya. Di samping itu juga ada Masjid Raya Sumbar, Tugu Perdamaian dan Tugu IORA yang sudah dijadikan tempat berfoto bagi para wisatawan.

Destinasi wisata ini makin dikenal masyarakat karena Start dan Finish setiap etape berada di destinasi wisata. Dengan diliput media dalam dan luar negeri seperti Euro Sport, menjadikan berbagai destinasi wisata tersebut makin dikenal masyarakat dalam penyajian yang berbeda, yaitu iven balap sepeda. Bahkan tumpukan kliping pemberitaan TdS setiap kali diadakan yang dikumpulkan oleh Kementerian Pariwisata RI tingginya mencapai 1 meter. Ini menunjukkan massifnya pemberitaan TdS oleh banyak media.

Selain itu, lebih 1.000 kilometer jalan yang diperbaiki setiap tahun untuk jalur balap sepeda menyebabkan semakin lancarnya arus orang, barang dan jasa. Sehingga turut memudahkan wisatawan mengunjungi berbagai destinasi wisata yang ada di Sumbar.

TdS juga merupakan iven balap sepeda dengan jumlah penonton terbanyak peringkat ke-5 di dunia berdasarkan data Amouri Sport Organization (ASO) dan Union Cycliste Internationale (UCI). Dan diakui UCI sebagai iven dengan “very high level security.” Ini artinya, masyarakat mendukung dan menikmati iven TdS ini, karena juga sebagai hiburan bagi mereka.

Selain itu, dengan sudah berlangsungnya TdS selama 7 kali, semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa iven ini bermanfaat pula untuk meningkatkan pendapatan mereka. Masyarakat bisa menjual oleh-oleh, souvenir, ragam kuliner maupun menyediakan penginapan di sekitar kawasan wisata, baik selama berlangsungnya TdS maupun di luar TdS.

Hotel dan penginapan lainnya setiap kali penyelenggaraan TdS ini umumnya penuh. Bahkan di beberapa tempat yang masuk di etape tertentu tidak tersedia hotel dan penginapan yang cukup sehingga rombongan yang ingin menginap akhirnya kembali ke Padang. Pertambahan hotel dan homestay di Sumbar sebenarnya cukup signifikan. Tahun 2010 jumlahnya 263 unit, kemudian meningkat menjadi 388 unit pada 2015. Atau dari jumlah kamar, ada tambahan hampir 3.000 kamar baru.

Komitmen dan konsistensi penyelenggaraan TdS di satu sisi memperlihatkan adanya iklim yang kondusif bagi pariwisata dan juga investasi. Karena dari situ bisa dilihat adanya keamanan yang baik sehingga pembangunan dan investasi bisa berjalan. Selain itu TdS juga menjadi sebab munculnya iven serupa di Indonesia seperti Tour de Ijen (Banyuwangi) dan Tour de Flores yang juga berkonsep “sport tourism.” Ini artinya pemerintah daerah lain melihat bahwa iven olah raga seperti balap sepeda bisa menjadi ajang promosi efektif destinasi wisata yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

TdS merupakan ajang promosi pariwisata dan budaya Sumbar kepada publik di Indonesia dan luar negeri. Meskipun pernah diselenggarakan pada masa sulit seperti masa pemulihan akibat gempa 2009, TdS sekaligus memperlihatkan kebangkitan kembali sekaligus eksistensi pariwisata Sumbar. Dari 4 kota/kabupaten yang berpartisipasi pada awalnya, kini hampir seluruh kota/kabupaten berpartisipasi. Semoga dengan kebersamaan yang makin kokoh ini, pariwisata Sumbar semakin baik ke depannya, yang berujung kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. ***

Padang Ekspres, 2 Agustus 2016

176. 2016-08-09 [Singgalang] Gerakan Aisyiyah Cinta Anak

GERAKAN AISYIYAH CINTA ANAK

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 31 Juli 2016 lalu saya berkesempatan memberikan sambutan di acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Aisyiyah Sumbar yang diadakan di Auditorium Gubernuran Padang. Saya memberikan apresiasi kepada Pengurus Aisyiyah yang mengagas Gerakan Aisyiyah Cinta Anak yang merupakan program Aisyiyah secara nasional. Gerakan cinta anak ini juga selaras dengan program pemerintah  yang peduli terhadap anak.

Mencintai anak insya Allah akan berdampak kepada mencintai keluarga sehingga muncul ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga ini akan berdampak positif kepada ketahanan masyarakat, bangsa dan negara. Terutama dalam menyiapkan dan membentuk generasi masa depan dan dalam menghadapi arus informasi yang masuk secara bebas hingga ke dalam rumah-rumah keluarga Indonesia.

Saya berharap gerakan cinta anak yang digagas oleh Aisyiyah ini akan menyebar kepada banyak masyarakat terutama para orangtua sehingga mereka semakin menyadari pentingnya mencintai anak-anak mereka sepenuh hati.

Pemerintah memang memiliki tanggung jawab terhadap hak-hak anak sesuai yang digariskan oleh Undang-Undang seperti pendidikan dasar yang dianggarkan oleh APBN. Selain itu, lintas kementerian juga memiliki program-program yang memberi perhatian kepada anak-anak seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pemerintah Provinsi juga turut berpartisipasi mengikuti program yang sudah digariskan pemerintah pusat tersebut.

Lembaga-lembaga pendidikan pun, terutama pendidikan dasar dan pendidikan anak usia dini, baik intansi pemerintah dan swasta, telah menjalankan program-program mereka dalam rangka mencintai anak.

Namun, seberapapun perhatian kepada anak dari pemerintah maupun swasta, orangtua tetap menjadi faktor penentu. Kebijakan dan program pemerintah serta pejabat terkait akan berganti-ganti, maka orangtualah yang menjadi kunci utama keberhasilan dalam memberikan perhatian kepada anak. Orangtua tidak bisa mengandalkan pihak ketiga dalam mengurus anak mereka.

Ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini dengan jelas memberitahukan bahwa orangtualah yang bertanggung jawab penuh terhadap anaknya. Maka orangtua yang baik, akan mencintai anaknya.

Selain itu, Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat At Tahrim ayat 6 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” Maka sudah sepantasnyalah orangtua memperhatikan keluarga mereka agar tidak terjerumus ke neraka. Oleh sebab itu, orangtua bertanggung jawab penuh terhadap keluarganya, terutama anak-anaknya agar tidak menjerumuskan mereka kepada kehidupan yang salah. Karena anak akan menjadi pemimpin bangsa di berbagai level, sehingga ketika orangtua salah dalam membesarkan anak akan berpengaruh kepada diri orangtua  sendiri dan juga masyarakat. Apalagi jika orangtua lebih mempercayakan pengasuhan anak mereka kepada pihak ketiga dibanding diri mereka sendiri.

Orangtua yang mencintai anaknya insya Allah akan mendapatkan kebaikan dari perhatian mereka kepada anaknya. Anak mereka akan tumbuh lebih baik karena mendapatkan kasih sayang yang berlimpah sehingga meraih kesuksesan dalam hidupnya. Bahkan setelah orangtua meninggal dunia, kesalehan anak-anaknya akan menjadi pahala yang terus mengalir.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh” (HR. Muslim no. 1631).

Pemerintah memang tidak bisa berdiri sendiri dalam menjalankan program-programnya. Peran berbagai komponen masyarakat, termasuk ormas sangat membantu pemerintah dalam mewujudkan program tersebut. Karena ormas memiliki anggota hingga ke akar rumput (grass root) sehingga pengaruhnya bisa lebih meluas.

Semoga dengan gerakan cinta anak yang digagas Aisyiyah ini, semakin banyak masyarakat yang termotivasi untuk peduli dengan anak-anak mereka sehingga makin banyak anak yang berkesempatan meraih sukses di masa depan akibat kecintaan orangtua kepada mereka. ***

Singgalang, 9 Agustus 2016

 

177. 2016-08-16 [Padek] Memaknai Kembali Kemerdekaan

MEMAKNAI KEMBALI KEMERDEKAAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 17 Agustus 2016 kali ini kita memperingati Kemerdekaan RI yang ke-71. Proklamasi Kemerdekaan yang ditandatangani oleh Soekarno-Hatta mengatasnamakan Bangsa Indonesia ini adalah deklarasi pembebasan Bangsa Indonesia terhadap penjajahan yang telah berlangsung ratusan tahun.

Dalam kurun waktu rentang ratusan tahun yang amat panjang tersebut, perlawanan terhadap penjajah muncul dengan berbagai bentuk. Dari perlawanan fisik yang menggunakan senjata sederhana hingga perlawanan dari kaum terdidik.

Penjajahan secara fisik yang amat menyakitkan, dilawan oleh rakyat dengan menggunakan senjata tradisional maupun rampasan dari penjajah. Betapa tidak imbangnya sebuah bambu runcing dan senjata tradisional lainnya menghadapi senjata modern dan kendaraan tempur para penjajah. Namun dengan semangat yang sangat tinggi, pantang menyerah, berterusan melawan, akhirnya bangsa ini meraih kemerdekaannya dengan izin Allah SWT, seperti yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Memaknai kemerdekaan bisa diartikan dua hal. Pertama adalah memaknai perjuangan untuk mencapai kemerdekaan dengan melawan penjajah. Kedua adalah memaknai perjuangan untuk mengisi kemerdekaan. Keduanya seharusnya memiliki karakter yang sama dalam bentuk masing-masing, yaitu semangat tinggi, pantang menyerah, dan berterusan menjaga sikap positif tersebut.

Seorang pelajar, jika ia memiliki semangat tinggi, pantang menyerah, dan mampu menjaga secara berterusan sikap positifnya ini, maka sebenarnya ia telah berjuang mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.

Kita bisa melihat negara-negara maju yang telah merdeka terlebih dahulu, anak bangsanya secara kolektif memiliki semangat tinggi, pantang menyerah dan secara berterusan mampu menjaga sikap demikian, sehingga negaranya maju, berdaya saing tinggi, modern, dan makmur.

Sayangnya, masih banyak dari kita di sini yang justru mengikuti budaya luar yang bersifat konsumtif dan mengedepankan kesenangan. Bukan budaya luar yang mengajarkan semangat tinggi, pantang menyerah, dan berterusan menjaga sikap positif tadi. Sehingga kemerdekaan yang sudah berulang tahun ke-71 ini belum dimanfaatkan oleh para anak bangsa untuk mengejar ketertinggalan dengan negara lain.

Jika kita mampu merasakan betapa tersiksanya dijajah secara fisik, maka dengan kondisi kemerdekaan yang ada ini seharusnya memotivasi kita berjuang lebih keras lagi. Perjuangan yang dimaksud adalah mengaktualisasikan potensi yang ada pada diri kita secara maksimal. Para pelajar, mahasiswa, seniman, budayawan, profesional, birokrat, pejabat, olahragawan, petani, nelayan, pedagang, pengusaha, politisi, dan lainnya yang mengaktualisasikan potensinya, pada dasarnya mereka berjuang mengisi kemerdekaan.

Memaknai kembali kemerdekaan dengan mengaktualisasikan potensi, tetap dalam koridor hukum, atau sesuai aturan yang berlaku. Bukan bebas melakukan semaunya. Karena jika dilakukan bebas semaunya justru akan berdampak negatif bagi orang lain.

Semoga peran tiap kita dalam mengisi kemerdekaan ini bisa mengimbangi mereka yang dulu melawan para penjajah, yang memiliki semangat tinggi, pantang menyerah, dan berterusan. Sehingga hal ini akan berdampak positif kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Insya Allah hal demikian bisa mempercepat bangsa ini mencapai tujuannya seperti yang digariskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim:7). Semoga kita menjadi orang-orang yang mampu bersyukur atas nikmat kemerdekaan ini. ***

Padang Ekspres, 16 Agustus 2016

 

178. 2016-08-23 [Singgalang] Minang Pride

MINANG PRIDE

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan pemberhentian dengan hormat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. Pemberhentian itu diawali dengan isu di media sosial yang kemudian berkembang menjadi berita mengenai kewarganegaraan menteri yang bersangkutan. Terlepas dari pro-kontra masalah aturan tersebut, tiba-tiba rasa kesukuan orang Minang bangkit dan berusaha memberi dukungan kepada Arcandra.

Mereka melihat sosok Arcandra ini memiliki keistimewaan, seperti kepintarannya, kepakarannya, ketawadhuannya, dan juga kecintaannya kepada negerinya sendiri sehingga rela meninggalkan Amerika menuju Indonesia. Arcandra juga memiliki paten terkait bidang migas, dan sudah diakui reputasinya di Amerika.  Arcandra dianggap sebagai sosok individu Minang yang patut dibanggakan. Dia pun tahu agama (ustadz) dan sangat ‘medok’ minangnya.

Momen ini seperti menyadarkan kita bahwasanya selama ini banyak orang Minang yang memiliki reputasi bagus seperti mutiara yang masih terbungkus dan berada di dasar lautan. Namun mutiara ini seperti tertutup rapi tanpa ada yang mau membukanya agar diketahui banyak orang.

Jika kita kembali menengok sejarah ke belakang, dari 163 pahlawan nasional yang sudah ditetapkan pemerintah sejak tahun 1959, sekitar sepuluh persennya berasal dari Minang. Padahal persentase etnis Minang secara nasional hanya sekitar dua persen. Demikian pula orang Minang yang menjadi menteri (eksekutif) dan politisi (legislatif), kiprah mereka sudah diakui secara nasional maupun internasional. Orang Minang banyak yang sukses di berbagai profesi seperti sastrawan, budayawan, wartawan, akademisi, ustadz atau ulama, guru atau dosen, pedagang, pengusaha, politisi, diplomat, birokrat, dan profesi lainnya. Ini menandakan bahwa sejak dulu pun sudah banyak orang Minang yang menjadi mutiara bagi negeri ini, dengan memperlihatkan reputasi yang cemerlang.

Dan kinipun banyak anak muda Minang yang menunjukkan kecemerlangannya. Mereka tersebar di berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, ekonomi,  komunikasi, pariwisata, politik, hukum, sastra, budaya dan lainnya. Saya memberi apresiasi kepada para anak muda yang berusaha kembali menghidupkan kebanggaan sebagai orang Minang dengan sebutan Minang Pride atau tagar #minangpride.

Melalui media sosial (online) dan juga kopi darat (offline), para anak muda ini mencoba kembali menggugah kebanggaan sebagai orang Minang yang memang memiliki kompetensi mumpuni. Tidak hanya sekedar slogan semata, tetapi mereka banyak yang sudah eksis di bidang masing-masing.

Salah satu sebab kemunculan Minang Pride ini adalah, dalam melihat sesama orang Minang seolah-olah tiada yang bisa diharapkan dari orang Minang. Persepsi negatif secara berterusan dimunculkan untuk hal yang sebenarnya memiliki sisi positif. Aura negatif lebih dominan dibanding memunculkan energi positif.

Selama ini orang Minang diidentikan dengan tukang cemooh, padahal bagi sebagian orang yang dilakukan mereka adalah kritik yang konstruktif. Yang kadang-kadang memang keras. Namun itu sebenarnya bagian dari karakter yang ada di profesi mereka seperti penulis, dosen, ulama, sastrawan, budayawan, dan lainnya.

Demikian pula ketika ada yang menyebut orang Minang itu pelit. Namun bagi sebagian orang, mereka sangat berhitung dan hemat karena karakter yang ada pada profesi mereka seperti pedagang, pengusaha, dan lainnya.

Persepsi negatif lainnya adalah anggapan oleh sebagian orang bahwa orang Minang ini banyak bicara (tukang ota). Padahal dalam sisi positif, kemampuan bicara orang Minang sejak dulu bisa diandalkan dalam hal diplomasi, negosiasi, komunikasi, dan lainnya.

Orang Minang juga dianggap tidak bisa bekerjasama dalam persepsi negatif. Padahal karakter orang Minang yang dimaksud dalam sisi positif adalah independen. Oleh karena karakter independen inilah maka hal tersebut yang menjadi kekuatannya sehingga bisa maksimal berimprovisasi.

Demikian pula ketika ada orang Minang yang memiliki kecerdasan, kepintaran dan juga kecerdikan. Persepsi negatif yang dimunculkan menjadi seolah-olah orang Minang ini licik (galia). Tidak ada bagusnya sama sekali.

Upaya mendiskreditkan sesama orang Minang ini sudah saatnya dihentikan. Mari kita dukung berbagai potensi yang ada pada diri orang Minang ini agar muncul kepercayaan diri untuk berkiprah mengaktualisasikan potensinya. Anak-anak muda Minang sudah saatnya dimotivasi agar mereka memiliki kepercayaan diri. Persepsi negatif yang mendiskreditkan diri sendiri sudah harus dibuang jauh-jauh.

Minang Pride adalah media yang tepat bagi para anak muda Minang untuk memunculkan kepercayaan diri bahwa mereka bisa sukses dan mampu mencapai sukses seperti halnya selama ini yang sudah ditunjukkan oleh orang-orang sebelumnya. Dan dari #minangpride bergerak menjadi #minangbisa. Jika orang lain bisa, maka kitapun insya Allah pasti bisa.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’d: 11).

Maka, jika kita ingin sukses, harus diri kita sendiri yang mengubahnya. Segala persepsi negatif harus dihilangkan jauh-jauh agar muncul kepercayaan diri yang kuat. Semoga dengan kebersamaan, kita bisa memunculkan energi positif secara berterusan dan menghilangkan persepsi negatif yang selama ini muncul. ***

Singgalang, 23 Agustus 2016

 

179. 2016-08-31 [Padek] Nurani Anti Korupsi

NURANI ANTI KORUPSI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 24 Agustus 2016 lalu di Auditorium Gubernuran Padang saya berkesempatan memberikan sambutan dalam acara Koordinasi dan Supervisi Pencegahan Korupsi, Diseminasi Praktik Terbaik Tata Kelola Pemerintahan Daerah Berbasis Elektronik. Narasumber dalam acara tersebut di antaranya Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata, Badan Pengawasan Kebijakan dan Pembangunan (BPKP), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Gubernur Jawa Barat.

Selain itu, pada tanggal 29 Agustus 2016 di Padang saya juga turut hadir di acara Pelatihan Bersama Peningkatan Kapasitas Aparat Penegak Hukum dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana Korupsi. Hadir di sini Kapolri, Ketua KPK, Ketua PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), Jampidsus (Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus), BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan Kepala BPKP Pusat.

Saya memberikan apresiasi kepada KPK yang berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan, di mana selama ini pemberitaan yang diterima masyarakat lebih banyak membicarakan kegiatan penindakan. Dengan adanya forum ini, kita bisa berbagi informasi dan juga berdiskusi bagaimana melakukan praktek terbaik dalam pemerintahan agar tidak melanggar aturan yang ada yang kemudian berdampak kepada masalah hukum.

Di samping itu, dengan forum yang seperti ini, lembaga seperti KPK bisa mengetahui dan mendengarkan langsung dari pemerintah daerah terkait adanya benturan peraturan yang menyebabkan pemerintah daerah di satu sisi gamang menjalankan program pembangunan dengan anggaran yang sudah disediakan hanya karena persoalan administrasi yang kadang rumit dan tidak sinkron sehingga menimbulkan kebingungan.

Hal lain yang juga didapat dari forum ini adalah pentingnya penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam melaksanakan jalannya pembangunan terkait masalah integritas dan manajemen internal.

Oleh karena jabatan adalah amanah, maka pemangku amanah ini memang sudah seharusnya memiliki integritas. Amanah ini sesungguhnya sangat berat. Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia” (QS. Al Ahzab: 72).

Masih terkait dengan amanah, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Jika amanah telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan?‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu” (HR. Bukhari No. 6015).

Jika kita menelaah Firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah tersebut, maka bagi manusia yang masih memiliki hati nurani, ia akan berhati-hati memikul amanah tersebut. Tidak mungkin ia menyelewengkan amanah yang berat tersebut dengan melanggar integritas dirinya. Apalagi sampai melakukan korupsi. Karena pada dasarnya hati nurani manusia diciptakan Allah SWT dalam keadaan fitrah. Dan fitrah manusia adalah tidak melakukan (menolak) korupsi. Tidak hanya bagi muslim saja, tetapi ini berlaku universal. Kita bisa lihat, umat lain di negara-negara maju yang sudah menyadari sejak lama bahwa korupsi akan menghancurkan negara dan bangsa.

Masyarakat di manapun, menghendaki pemerintahnya bisa memberikan layanan terbaik untuk mereka. Untuk memberikan layanan terbaik adalah tidak adanya korupsi. Maka, sangat wajar bila masyarakat sangat mengutuk korupsi karena berpengaruh terhadap layanan publik yang dihasilkan.

UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mewajibkan Kepala Daerah untuk menyelenggarakan pelayanan publik dan perizinan dalam rangka mempercepat terwujudnya kesejahteraan mayarakat. Di mana di sini disertakan juga pemberdayaan dan peran serta masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan tersebut.

Demikian pula dengan Peraturan Presiden No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 yang mengatur arah kebijakan dan strategi peningkatan pelayanan publik. Di Sumbar sendiri telah diwujudkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang merupakan salah satu program pemerintah, dan sejauh ini berjalan cukup baik.

Mengakhiri tulisan ini,  saya juga ingin menyampaikan. Dalam hal rutinitas sehari-hari yang banyak menandatangani surat-surat, termasuk surat-surat penting, selaku manusia para pejabat bisa saja khilaf tidak mencerna kembali isi surat dengan baik. Meskipun pada waktu menandatangani surat, berbagai pertimbangan dan pemikiran sudah dikerjakan. Hal ini menyebabkan pada suatu saat bisa memicu persoalan hukum.

Maka, selaku manusia kita juga pantas berdoa kepada Allah SWT agar persoalan hukum tidak mengenai diri kita hanya karena kekhilafan tersebut. Saya turut mendoakan kepada seluruh pemangku amanah, agar terhindar dari masalah hukum di kemudian hari. Insya Allah dengan menjaga integritas dan berpegang pada hati nurani, Allah SWT akan melindungi kita. Aamiin. ***

Padang Ekspres, 31 Agustus 2016

 

180. 2016-09-08 [Singgalang] Bukik Cambai

BUKIK CAMBAI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 28 Agustus 2016 lalu, saya selaku Gubernur Sumbar bersama Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Solok meresmikan Destinasi Wisata Unggulan Bukik Cambai yang berada di Kabupaten Solok. Daya tarik yang luar biasa di Bukik Cambai ini adalah kita bisa menyaksikan empat danau dan empat gunung yang ada di Sumatera Barat (Sumbar).

Empat danau yang dimaksud adalah Danau Talang, Danau Diateh, Danau Dibawah, dan Danau Singkarak. Sedang empat gunung yang dimaksud adalah Gunung Talang, Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Kerinci. Mungkin destinasi seperti ini satu-satunya yang ada di Indonesia.

Dan sudah sepantasnya kita mensyukuri nikmat Allah SWT yang indah ini dengan menjadikannya tempat wisata yang mampu menarik wisatawan datang ke sini sekaligus memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dan pemasukan kepada pemerintah daerah. Dan insya Allah destinasi wisata ini perlahan-lahan jika digarap serius bisa menjadi destinasi wisata pegunungan kelas dunia. Posisi Bukik Cambai sendiri kurang lebih berada di ketinggian 1400-1600 meter di atas permukaan laut. Dengan hawa yang sejuk, akan menjadi pelengkap destinasi wisata yang ada di Sumbar seperti Mandeh yang merupakan destinasi wisata laut/bahari.

Kunjungan saya ke puncak Bukik Cambai kali ini menggunakan motor trail bersama Tim Trabas Sumbar 1 dan Komunitas Alpatrac. Saya bersama rombongan juga melakukan survei jalan tembus dengan menyusuri jalan tanah dari Alahan Panjang Kab. Solok menuju Pasar Baru, Kec. Bayang Kab. Pesisir Selatan. Selain itu saya dan rombongan juga mengunjungi Danau Diateh, Danau Dibawah dan Danau Talang.

Jalan ke Bukik Cambai memang masih seadanya, saya dan rombongan menaiki bukit dengan motor trail. Belum tersedia jalan yang memadai bagi wisatawan. Ke depannya, infrastruktur jalan akan dibenahi dengan menggunakan anggaran pemkab, pemprov dan juga kita harapkan pemerintah pusat mau turut serta berpartisipasi karena mengingat keindahannya yang hanya ada di Sumbar.

Saya memberikan apresiasi dan dukungan kepada daerah-daerah yang memberikan perhatian kepada daerahnya untuk membangun dan mengembangkan pariwisata. Saya juga mengapresiasi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Solok yang sangat antusias mengembangkan pariwisata di Kabupaten Solok. Saya pun turut semangat memberi dukungan atas kerja keras ini dan ke depannya insya Allah akan ada program bantuan dari provinsi untuk mengembangkan destinasi wisata di Kabupaten Solok ini.

Pada periode kedua saya menjabat Gubernur Sumbar, pariwisata saya jadikan sebagai gerakan terpadu yang terus menerus dipikirkan, direncanakan dan dieksekusi program-programnya, melalui lintas SKPD bersama-sama sesuai bidangnya mendukung pariwisata ini. Termasuk juga pemerintah kota dan kabupaten.

Mengutip pernyataan Menteri Pariwisata Arief Yahya di republika.co.id (1/9/16), pariwisata adalah penyumbang PDB (Produk Domestik Bruto), devisa dan lapangan kerja yang paling mudah, murah dan cepat. PDB Indonesia menyumbang 10 persen PDB nasional dengan nilai nominal tertinggi di ASEAN. Sektor pariwisata menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan. Dalam hal penciptaan lapangan kerja, dalam lima tahun sektor pariwisata tumbuh 30 persen. Dan devisa pariwisata sebesar 1 juta dolar AS menghasilkan PDB 1,7 juta dolar AS.

Senada dengan Menteri Arief, saya juga meyakini bahwa pariwisata mampu menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan. Ini karena kegiatan ekonomi kerakyatan bergerak. Home stay/penginapan, rumah makan, travel, guide, souvenir, oleh-oleh, penjualan makanan dan minuman, semuanya mendapatkan imbas dari datangnya wisatawan. Uang berputar dan ekonomi bergerak. Semakin banyak wisatawan datang, maka akan semakin banyak uang berputar dan menggerakkan ekonomi.

Jika melihat kondisi geografis Sumbar, alamnya banyak yang sudah menjadi destinasi wisata dan saya prediksi akan ada lagi destinasi baru yang muncul ke depannya. Sedangkan dari sisi demografis, karakter umum masyarakat kurang suka bekerja sebagai buruh yang terikat waktu, maka pariwisata sangat cocok menjadi sektor yang mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Pengembangan destinasi wisata, insya Allah akan menarik kesejahteraan masyarakat lebih baik lagi.

Salah satu destinasi wisata baru yang kini sedang dikembangkan adalah Mandeh. Saat ini sedang dalam tahap proses pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya, juga termasuk homestay atau penginapan. Dengan kondisi yang masih minim dukungan infrastruktur, ternyata sudah banyak wisatawan yang mendatangi Mandeh. Keindahan alamnya yang tersebar melalui media elektronik maupun media sosial dan juga promosi yang sudah dijalankan, telah mendorong wisatawan datang mengunjungi Mandeh.

Saya berharap Bukik Cambai kelak akan bisa seperti Mandeh. Dengan dimulainya pencanangan sekaligus promosi Bukik Cambai, pembangunan infrastruktur dan sarana pendukung lainnya semoga bisa segera dipercepat. Semoga ke depannya, pemerintah dan masyarakat mampu menjaga dan merawat destinasi wisata yang sudah banyak dikenal orang ini. Karena dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, efek multiplier sektor pariwisata insya Allah akan terasa dan mensejahterakan banyak orang. Semoga ikhtiar kita bersama ini mendapat ridho Allah SWT. Aamiin.***

Singgalang, 8 September 2016

 

181. 2016-09-16 [Singgalang] Kurban dan Kepedulian

KURBAN DAN KEPEDULIAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Ibu Sri pemulung di Padang mengumpulkan rupiah demi rupiah. Warga Kurao Pagang ini menyerahkan uang Rp 2 juta kepada petugas. Ia berkurban. Cerita itu sampai ke telinga saya. Lalu kisah Nenek Sahati (67) akhirnya bisa berkurban seekor kambing seharga Rp2 juta setelah menabung selama tujuh tahun. Nenek Sahati adalah pemulung yang tinggal di Kota Sukabumi Jawa Barat. Setiap hari ia berusaha menyisihkan uang yang ia peroleh guna memenuhi keinginannya untuk berkurban. Sedapatnya, ia sisihkan hasil memulung untuk berkurban. Kadang 5000 rupiah, kadang 6.000 rupiah.

Di tempat lain, Surabaya, nenek Rasma (61) setelah menabung lebih dari setahun berhasil mengumpulkan Rp2 juta untuk berkurban. Nenek Rasma juga seorang pemulung. Dan di Pasuruan, seorang tukang becak bernama Bambang (51) berkurban satu ekor sapi dengan menyerahkan sapi yang ia beli kepada pihak Masjid Al Ikhlas, Purworejo, Pasuruan. Demikian pula nenek Yati (60) di Tebet Jakarta, pemulung yang sehari-hari tinggal di gubuk triplek kecil di tempat sampah, berkurban dua ekor kambing dan menyerahkannya kepada pihak Masjid Al Ittihad Tebet Jakarta.

Kisah-kisah kaum dhuafa yang berkurban ini pernah mewarnai media elektronik, media online dan cetak beberapa waktu lalu. Masyarakat, pemerhati masalah sosial, media, hingga pihak pemerintah memberikan pujian kepada mereka yang sebenarnya pihak yang layak dibantu namun justru memperlihatkan kepedulian sosial yang tinggi.

Bagi kita yang Allah SWT berikan rezeki lebih dibanding kaum dhuafa yang berkurban tersebut, mungkin bertanya. Mengapa mereka bisa, sedangkan kita kadang agak sulit berkurban seolah-olah sudah tidak ada lagi dana untuk itu. Kaum dhuafa tersebut memang tidak memiliki kewajiban berzakat, bahkan mungkin masuk ke dalam golongan penerima zakat. Namun mereka mampu menginfakkan rezeki yang mereka peroleh untuk dialokasikan kepada kurban. Ini seperti yang difirmankan Allah SWT dalan surat Al Baqarah ayat 3, wamimmaa rozaqnaahum yunfiquun, yang artinya, “dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Berkurban memang berbeda dengan berzakat. Orang yang berzakat ada batasan atau nasab terhadap harta atau pendapatannya. Baru ia bisa berzakat. Atau dengan kata lain seseorang yang berzakat karena ia sudah dianggap cukup. Sedangkan berkurban tidak harus ketika kondisi cukup. Dalam keadaan sulit pun bisa berkurban, seperti diperlihatkan oleh kisah kaum dhuafa tadi.

Berzakat adalah kewajiban, dan jumlahnya sudah ditakar. Pada masa Khalifah Abu Bakar Siddiq r.a orang yang tidak membayar zakat pernah diperangi. Berbeda dengan berkurban yang merupakan hasil dari kemauan hati, dananya dikeluarkan dari rezeki yang diperoleh. Meskipun seseorang belum wajib zakat, namun karena berasal dari kemauan di hati, maka disisihkanlah dananya dari rezeki yang diperoleh.

Berkurban adalah menunjukkan kepedulian kepada sesama. Pemulung dan tukang becak yang berkurban, mereka telah memberikan keteladanan luar biasa kepada kita. Mungkin sabda Rasulullah SAW patut kita renungkan. Dari Abu Hurairah r.a Nabi SAW berkata, “Barangsiapa memiliki kelapangan dan tidak mau berkurban, maka janganlah sekali-sekali mendekati tempat sholat kami” (HR. Ahmad).

Selain sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, berkurban juga memberikan banyak manfaat bagi yang melakukannya. Dari Aisyah r.a, Nabi SAW berkata, “Tidak ada amalan yang paling dicintai oleh Allah pada Hari Raya Kurban yang dikerjakan oleh anak Adam kecuali berkurban, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah, maka berbahagialah kamu dengan berkurban” (HR. Tirmizi, Shohih).

Dari Zaid bin Arqam berkata: “Saya bertanya wahai Rasulullah, untuk apakah hewan kurban ini? Rasulullah menjawab: ia merupakan sunnah Nabi Ibrahim sebelum kamu. Apakah yang kami dapatkan ya Rasulullah? Rasul menjawab setiap helai bulu kurban banyak membawa kebaikan”  (HR. Ahmad).

Berkurban memang bukan kewajiban layaknya zakat. Namun di situlah keindahannya. Justru banyak orang yang berkurban padahal ia belum wajib berzakat dan masih kekurangan. Mereka berkurban karena telah terbentuk karakter kepedulian pada diri mereka. Berkurban tidak perlu menunggu kaya atau cukup. Karena berkurban adalah membentuk karakter. Seperti halnya Nabi Ibrahim a.s yang merelakan anaknya Nabi Ismail a.s, mungkin  seperti itu pulalah kita merelakan harta yang ada di kita untuk berkurban membantu saudara-saudara kita yang masih sulit untuk menikmati protein hewani dalam kehidupan kesehariannya.

Semoga bagi yang berkurban tahun ini, Allah SWT berikan ganjaran terbaik. Dan bagi yang belum berkurban, semoga di tahun berikutnya bisa berkurban. Sesuatu yang baik dalam ajaran Islam, insya Allah sangat banyak manfaatnya dalam kehidupan kita. Berkurban adalah salah satunya. Wallahua’lam. ***

Singgalang, 16 September 2016

182. 2016-09-20 [Padek] Lustrum Unand

LUSTRUM UNAND

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 17 Agustus 2016 lalu, Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia merilis daftar perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Alhamdulillah, Universitas Andalas (Unand) berada di urutan ke-11. Untuk Sumatera, Unand berada di posisi pertama, sedangkan untuk luar Jawa Unand ada di posisi kedua. Informasi ini seakan menjadi salah satu kado yang membahagiakan Unand menjelang ulang tahunnya ke-60 tanggal 13 September 2016 lalu. Dan tentunya juga bagi masyarakat Sumbar.

Bagi masyarakat Sumbar sendiri, Unand adalah kebanggaan mereka. Unand berprestasi, merekapun turut merasakan menjadi bagian dari prestasi tersebut, meskipun belum tentu kuliah atau menjadi bagian langsung dari Unand. Dan tidak itu saja, Unand juga menjadi bagian dari dan identik dengan Sumbar. Unand baik, maka Sumbar pun baik. Unand terpuruk, maka Sumbar pun ikut terpuruk. Dan sebagai wilayah yang disebut sebagai ‘industri otak’, Unand dan juga perguruan tinggi lainnya turut berkontribusi dalam aktivitas pembangunan manusia di Sumbar.

Pada acara Lustrum Unand ke-12 dan Dies Natalis Unand ke-60 yang diadakan tanggal 13 September 2016 lalu, saya berkesempatan hadir dan memberikan sambutan. Pada usianya yang ke-60, Unand sudah memiliki banyak pencapaian. Jika merujuk kepada Wikipedia, pada tahun 2009 Majalah Tempo menempatkan Unand di peringkat 14 kapasitas alumni yang diserap dunia usaha. Tahun 2011 Unand di urutan ke-26 dalam 100 perguruan tinggi terbaik di ASEAN yang dinobatkan Webometrics. Dan masih banyak lagi pencapaian yang sudah diraih Unand.

Pada Lustrum kali ini, Unand juga memberikan anugerah doktor honoris causa kepada Wakil Presiden (Wapres) RI Bapak Jusuf Kalla (JK). Kunjungan Wapres JK ke Sumbar ini merupakan kali pertama sejak saya menjabat Gubernur periode kedua. Harapan saya, semoga kunjungan ini akan disusul dengan kunjungan berikutnya dalam rangka memberikan dukungan bagi pembangunan di Sumbar.

Penganugerahan doktor honoris causa di Unand merupakan perolehan Wapres JK  yang ke-8. Salah satu latar belakangnya adalah, JK dianggap berjasa di bidang hukum pemerintahan daerah, yaitu penyelenggaraan hubungan pusat-daerah, terutama pola pengelolaan pemerintah Aceh. Dan ini jika saya tidak salah catat, adalah doktor honoris causa pertama Wapres JK di bidang hukum dan pemerintahan daerah.

Di luar konteks penganugerahan doktor honoris causa, JK sewaktu menjadi penasehat tunggal Dewan Penyantun Unand juga berperan besar sehingga Unand bisa mendapat pembangunan rumah sakit yang berlokasi di Limau Manih dari posisi 12 menjadi 3. Mudah-mudahan dengan kerjasama yang baik dari Unand dengan berbagai pihak, akan mempercepat berbagai kemajuan dan pencapaian di Unand.

Untuk itu, Unand juga mesti proaktif dan mengambil inisiatif, bermitra dengan pemerintah untuk saling mensukseskan berbagai program pembangunan yang ada di Sumbar dan juga Unand sendiri.

Selain itu, di usia ke-60 dengan jumlah mahasiswa dan alumni yang sudah cukup banyak, kekuatan jaringan seharusnya sudah terbentuk dengan baik. Sudah banyak alumni Unand yang meraih kesuksesan di berbagai bidang. Saya juga mengucapkan selamat atas terpilihnya secara aklamasi Ketua Ikatan Alumni Unand periode 2016-2020, yang juga menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Bapak Asman Abnur. Dengan momentum Lustrum ke-12 di usia ke-60, semoga Alumni Unand mampu memberdayakan potensi jaringan alumni untuk bersama-sama membangun menuju kejayaan bangsa, terkhusus bagi Unand sendiri, dan juga bagi Sumbar.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip Al Quran surat Ar Ra’d ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Insya Allah Unand akan lebih maju lagi ke depannya jika dari civitas akademikanya senantiasa kompak bergerak untuk memajukan Unand. Termasuk para alumninya. Berbagai pencapaian maupun prestasi yang sudah diraih, semoga bisa tetap dipertahankan dan ditingkatkan lagi ke depannya. Selamat merayakan Lustrum ke-12. ***

Padang Ekspres, 20 September 2016

 

183. 2016-09-30 [Singgalang] PON XIX Jawa Barat

PON XIX JAWA BARAT

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) berada di urutan 11 dari 34 provinsi peserta Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX yang berlangsung di Jawa Barat 17-29 September 2016. Ini merupakan sebuah prestasi, terutama jika dilihat dari 14 medali emas yang diperoleh, 13 medali didapat dari beberapa cabang olahraga yang tidak diperoleh pada PON XVIII di Riau. Pada PON XIX Sumbar meraih 14 emas, 10 perak, dan 20 perunggu.

Selaku Gubernur Sumbar, saya mengucapkan terima kasih dan menyampaikan apresiasi kepada para atlet, official, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumbar beserta jajarannya, aparatur terkait, masyarakat, dan pemangku kepentingan yang telah memberikan dukungannya, baik moril maupun materil. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang terbaik. Aamiin.

Meskipun posisi Sumbar sama dengan PON XVIII yaitu urutan 11, namun dari segi jumlah medali emas, mengalami peningkatan. Dari 12 emas (PON XVIII) menjadi 14 emas (PON XIX). Di samping itu, pada PON XVIII, 11 medali emas di antaranya disumbang dari cabor renang (3 emas dari atlet bernama Yosi yang kemudian pindah mewakili Jatim),  2 emas tinju (yang atletnya tidak lolos Pra PON XIX) dan 1 emas disumbang oleh Iwan Samurai (cabor binaraga) yang juga mendapatkan medali emas pada PON XIX.

Pada PON XIX ini, untuk Sumatera, posisi Sumbar ada di nomor 3. Nomor 1 Riau, dan nomor 2 Sumatera Utara.

Salah satu persoalan yang sering mengemuka dalam setiap pelaksanaan PON adalah adanya upaya membajak atlet untuk pindah provinsi sehingga pada PON berikutnya atlet tersebut sudah mewakili provinsi yang membajaknya. Peristiwa ini seharusnya tidak terjadi jika setiap provinsi menghargai kerja keras yang telah dilakukan oleh pihak lain dalam membina para atletnya. Apalagi jika pembinaan tersebut dilakukan sejak dini dan kemudian provinsi lain tinggal memetik hasilnya.

Saya mengapresiasi atlet-atlet Sumbar yang memilih mengharumkan nama Sumbar dalam ajang PON. Semoga loyalitas seperti ini bisa menjadi teladan bagi kita, dan juga bagi para pemangku kepentingan bisa mencari jalan keluar yang baik dengan menyiapkan “reward” bagi mereka. Pemerintah provinsi pun selama ini juga telah berupaya agar para atlet yang berprestasi dan membanggakan nama Sumbar di pentas nasional mendapatkan “reward” yang baik.

Selain itu, ke depannya pihak-pihak terkait seperti KONI, pemprov, pemkab/kota perlu duduk bersama untuk membicarakan upaya-upaya untuk meningkatkan mutu atlet olahraga, misalnya dengan menyediakan fasilitas yang memadai. Karena dengan fasilitas yang memadai, pembinaan dan peningkatan kualitas atlet bisa diperoleh. Belajar dari provinsi yang pernah menjadi juara umum PON seperti Jawa Barat, Jawa Timur dan DKI, fasilitas yang tersedia untuk pembinaan atlet memang cukup memadai.

Ketersediaan sarana yang memadai ini juga akan berdampak kepada meningkatnya animo masyarakat berolahraga sehingga masyarakat makin sehat dan olahraga menjadi bagian dari gaya hidup positif. Efek multipliernya, kesadaran masyarakat berolahraga meningkat dan tingkat kesehatan masyarakat juga semakin lebih baik. Produktivitas pun juga akan mengalami peningkatan.

Masyarakat yang sadar dan gemar olahraga, maka akan banyak muncul bibit-bibit unggul sejak muda. Di sini peran orangtua penting untuk mengarahkan bakat anaknya terhadap suatu bidang olahraga yang diminatinya. Juara tidak muncul tiba-tiba. Ia datang dari proses yang panjang. Dan jika sejak usia dini sudah diketahui bakatnya di bidang olahraga, maka orangtua berperan untuk membantu pembinaan anaknya sehingga proses yang dimulai sejak dini akan mendapatkan hasil yang baik.

PON XIX yang baru saja usai, semoga banyak pelajaran yang bisa diambil untuk menghadapi PON XX.  Untuk itu, pembinaan atlet tetap harus jalan. Bahkan harus lebih fokus, agar pada PON XX bisa menampilkan prestasi terbaik. Insya Allah keseriusan, kesungguhan, komitmen yang kuat, dan fokus, akan menghasilkan yang terbaik bagi kemajuan dunia olahraga Sumbar. ***

Singgalang, 30 September 2016

 

184. 2016-10-06 [Padek] Juara dan Sebuah Proses

JUARA DAN SEBUAH PROSES

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 23 September 2016 lalu saya menerima atlet binaraga Sumbar yang meraih medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat, Iwan Samurai di Gubernuran Padang. Emas pertama kontingen Sumbar di PON XIX dipersembahkan oleh Iwan Samurai. Saya mengucapkan selamat dan menyampaikan apresiasi kepada Iwan yang telah mengharumkan nama Sumbar di pentas nasional. Terlebih lagi, Iwan tetap memilih bertahan bekiprah atas nama Sumbar meskipun ada tawaran kepada dirinya untuk pindah daerah dengan iming-iming bayaran yang lebih besar.

Pada PON XVIII 2012 lalu Iwan meraih medali emas binaraga pada kelas 70 kg. Dan pada PON XIX 2016 Iwan berkompetisi di kelas 75 kg dan meraih medali emas. Pada PON 2012 Iwan diprediksi tidak meraih emas, namun karena semangatnya yang tak mudah menyerah akhirnya ia meraih medali emas. Pada bulan Ramadhan 2012 Iwan bersama pelatihnya menjalani latihan di malam hari hingga jam 3.00 dinihari. Di saat orang tidur, Iwan justru berlatih. Latihan dengan disiplin tinggi yang dijalani Iwan selama sekitar satu bulan ini membuahkan hasil. Ia meraih medali emas binaraga kelas 70 kg di PON 2012.

Dan pada PON XIX 2016, Iwan tetap berlatih keras. Ia hanya akan menyelesaikan latihan jika sudah letih. Selama belum letih, ia tetap terus berlatih. Ia akan mengikuti kelas 75 kg. Di kelas ini ia menyadari ada lawan beratnya yang sudah dikenal luas, Syafrizaldi, yang memenangi medali emas di Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pra PON. Sedangkan Iwan memperoleh perunggu. Iwan sengaja mengikuti kelas yang lebih tinggi di PON XIX 2016 (75kg) dibanding PON XVIII 2012 (70kg). Dan akhirnya ia memperoleh medali emas. Saingan terberatnya, Syafrizaldi merupakan legenda kelas 75 kg dan juga dikenal sebagai “raja kelas 75 kg” dengan 7 kali medali emas PON dan juga peraih emas WBPF World Championship 2015 di Thailand.

Iwan memang berlatih keras hingga ia bisa menjadi juara. Setiap hari ia harus makan 30 butir telur, daging minimal 1 kg, nasi merah. Makan makanan yang direbus serta tidak makan makanan bersantan dan gorengan. Ini ia lakukan intesif selama enam bulan sebelum bertanding. Dan 1 bulan sebelum bertanding ia tidak minum air kecuali apel dan anggur. Sauna dan berjemur juga ia lakukan setiap hari agar air tubuh keluar. Latihan fisik dan nge-gym ia lakukan dari pagi hingga sore. Iwan Samurai menjalani latihan ketat, disiplin, sehingga ia berhasil mendapatkan emas. Proses menjadi juara ia lewati dengan baik.

Sementara itu Yaspi Boby, pelari yang juga turut mengharumkan nama Sumbar meraih medali emas 100 m dan 200 m pada PON XIX. Boby, begitu ia sering disapa, oleh sebuah media online disebut sebagai Usain Bolt Indonesia. Usain Bolt adalah pemegang rekor dunia lari 100 m dan 200 m. Dan Boby oleh sebuah media online lainnya dinobatkan sebagai manusia tercepat di Indonesia.

Juara yang diraih Boby tidak datang tiba-tiba. Ada proses yang harus dilaluinya sehingga ia bisa menjadi juara. Di antaranya adalah, semenjak kecil Boby harus jalan minimal 5 km karena jarak rumah dengan sekolahnya adalah 2,5 km. Kondisi rumahnya pun di atas bukit. Dengan kondisi demikian, kaki dan fisik Boby sudah terlatih setiap hari.  Pada waktu kuliah di Univesitas Negeri Padang (UNP) Boby mulai menekuni lari jarak pendek. Dan pada PON XIX Boby melakukan persiapan selama 3 tahun dengan latihan minimal 4-5 jam sehari pada pagi dan sore. Boby sangat disiplin. Makan dan istirahat pun diatur sedemikian rupa.

Setiap atlet memiliki peluang untuk berproses menjadi juara. Juara memang tidak datang tiba-tiba. Ia harus mengikuti proses yang ada. Kedisiplinan, keseriusan, kesungguhan, ketaatan, percaya diri, dan berbagai karakter positif lainnya adalah syarat agar proses yang dilalui bisa mencapai keberhasilan yaitu menjadi juara.

Bagi atlet yang belum berhasil meraih medali, semoga bisa melakukan evaluasi bersama pelatih dan official agar ke depannya bisa lebih mematangkan persiapan. Evaluasi juga penting dilakukan oleh atlet yang telah meraih medali. Karena tantangan ke depan akan semakin berat.

Saya juga mengapresiasi raihan medali dari cabang eksebisi pada PON XIX yaitu Barongsai (1 emas, 2 perak, 1 perunggu), Muaythai (1 perak, 1 perunggu), Soft Tenis (1 perak, 1 perunggu), Basket 3×3 (1 perak), dan Yong Moo Do (1 perunggu).

Saya turut mendoakan agar pada PON XX atlet Sumbar meraih prestasi yang lebih baik dari yang sudah didapat dengan tetap menjaga kekompakan, solidaritas dan soliditas, kesungguhan, disiplin, dan kepercayaan diri yang makin kokoh. ***

Padang Ekspres, 6 Oktober 2016

 

185. 2016-10-11 [Singgalang] Piala Wahana Tata Nugraha Wiratama

PIALA WAHANA TATA NUGRAHA WIRATAMA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kembali mendapat piala Wahana Tata Nugraha Wiratama yang diserahkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.  Piala ini diberikan dimana salah satu pertimbangannya adalah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Jalan dan Angkutan Jalan, pasal 208.

Dalam pasal 208 UU No. 22 Tahun 2009 membicarakan tentang budaya keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. Ayat (1) berbunyi, “Pembina lalu lintas dan angkutan jalan bertanggung jawab membangun dan mewujudkan budaya keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.” Sedangkan ayat (2)  butir c berbunyi, “Upaya membangun dan mewujudkan budaya keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui  pemberian penghargaan terhadap tindakan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.”

Pada waktu kali pertama Sumbar menerima Piala Wahana Tata Nugraha ini pada tahun 2013, saya mengamati respon masyarakat. Wajar bila ada yang bertanya apakah dengan cara berlalu lintas masyarakat yang tidak tertib Sumbar layak mendapat penghargaan. Kenyataan di lapangan, memang masih ada pengguna jalan yang tidak tertib berlalu lintas, hingga saat ini. Namun banyak pula pengguna jalan yang lebih memilih tertib berlalu lintas. Karena masih banyak yang menyadari bahwa tertib berlalu lintas akan berdampak positif kepada diri sendiri, terutama masalah keselamatan diri.

Tertib berlalu lintas jelas akan berdampak positif kepada pengguna jalan itu sendiri karena berarti ikut menyelamatkan nyawa pengguna jalan lain. Berbicara masalah tertib lalu lintas, saya pernah mengalami langsung ketika mengantar anak saya yang akan ikut masa orientasi di Universitas Indonesia kampus Salemba beberapa tahun lalu. Jam 4.00 dinihari di sebuah perempatan di saat lampu merah, saya berhentikan mobil saya karena lampu berwarna merah. Tak lama datang dari arah yang sama dengan saya sebuah angkutan umum melaju kencang tak menghiraukan lampu merah.

Tiba-tiba dari arah lain yang sedang dalam kondisi lampu hijau datang pula mobil dengan kecepatan kencang. Akhirnya angkutan umum itu jatuh terguling setelah bertabrakan dengan mobil dari arah lain. Kejadian tersebut sangat cepat sekali dan terjadi di hadapan saya. Mungkin sopir angkutan umum itu beranggapan bahwa pada jam 4.00 pagi tidak banyak kendaraan yang lewat sehingga mudah saja untuk menerobos lampu merah. Namun ternyata dugaannya keliru. Di samping itu ia telah mengambil hak pengguna jalan lain yang sudah mendapat lampu hijau sebagai tanda untuk melintas di persimpangan.

Pengalaman saya yang lain adalah ketika diundang oleh mahasiswa Indonesia di Amsterdam. Waktu itu saya masih menjadi Anggota DPR RI. Tempat acaranya berada di sebuah apartemen dekat perempatan jalan sehingga saya bisa melihat langsung kendaraan yang lalu lalang di situ. Ketika tengah malam dan kondisi sangat sepi, kendaraan yang lewat tetap berhenti ketika lampu merah menyala. Dan kemudian jalan kembali ketika lampu berwarna hijau.

Dari kedua kisah di atas bisa dilihat bahwa mentaati aturan lalu lintas harus dilaksanakan selama 24 jam. Tidak hanya di saat jam sibuk, tetapi juga jam sepi. Tidak hanya berdampak kepada keselamatan diri, tetapi juga orang lain.

Untuk menunjang kenyamanan pengguna jalan dalam berlalu lintas, Pemprov Sumbar telah berusaha semaksimal mungkin. Di antaranya berupa peningkatan dan pemeliharaan kualitas jalan negara dan jalan provinsi. Alhamdulillah, dalam hal ini kondisi di Sumbar melampaui target nasional.

Di samping itu, Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) terkait juga telah berupaya dalam hal membantu kenyamanan pengguna jalan. Di antaranya adalah pembangunan fasilitas keselamatan lalu lintas seperti pemasangan rambu, guardrail, deliniator, marka jalan, traffic light, warning light, cermin tikungan, dan paku marka.

Anggaran untuk infrastruktur jalan pun dari tahun ke tahun alhamdulillah mengalami peningkatan. Semoga dengan kualitas infrastruktur jalan yang makin baik, pembangunan fasilitas keselamatan lalu lintas yang kian bertambah, pengguna jalan selain mendapatkan kenyamanan juga semakin tertib dalam berlalu lintas.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. Al Isra:7). Jika kita tertib berlalu lintas dan mematuhi aturan yang ada, diri kita insya Allah akan selamat, dan orang lain pun akan terhindar dari bahaya. Sebaliknya jika kita tidak tertib berlalu lintas, ngebut, main serobot, melanggar aturan maka maut akan mengancam di depan mata. Dan nyawa orang lain pun ikut terancam.

Mengakhiri tulisan ini, saya turut mengapresiasi berbagai kota dan kabupaten di Sumbar yang mendapat penghargaan sejenis tahun ini yaitu, Solok Selatan, Payakumbuh, Kab. Solok, Kota Solok, Sijunjung, Sawahlunto, Padang Panjang, Tanah Datar, Painan, Pariaman, Agam, Pasaman Barat, Pasaman, Padang, dan Bukittinggi. Semoga dengan penghargaan yang diberikan oleh pemerintah pusat kita termotivasi untuk lebih baik lagi melayani masyarakat. Dan kepada masyarakat pengguna jalan, semoga dengan kenyamanan infrastruktur jalan dan fasilitas keamanan lalu lintas, bisa semakin tertib di jalan dan mematuhi aturan yang berlaku. ***

Singgalang, 11 Oktober 2016

 

186. 2016-10-19 [Padek] Nasi Padang dan Wisata Halal

NASI PADANG DAN WISATA HALAL

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Sebuah lagu dengan syair yang cukup unik tiba-tiba menjadi viral di media sosial pada bulan Oktober 2016 ini. Bahkan lagu ini masuk ke dalam “most viral track on Spotify” di urutan pertama menurut pencipta dan pembawa lagunya. Dan akunya lagi, di Youtube videonya sudah mencapai 1,2 juta tayang. Nasi Padang, begitulah judul lagu tersebut. Audun, begitu ia menyebut dirinya dalam lagu tersebut, ternyata jatuh hati dengan Nasi Padang. Pria yang bernama lengkap Audun Kvitland Røstad ini bisa dikatakan sangat mengagumi keindahan Indonesia dan kulinernya, di antaranya apa yang ia sebut Nasi Padang.

Audun berasal dari Norwegia. Ia menciptakan lagu yang fenomenal, yang menceritakan bagaimana nikmatnya kuliner asal Sumatera Barat (Sumbar) yang ia sebut sebagai Nasi Padang. Saking uniknya, ia menulis syair dalam lagunya, jika saja Nasi Padang itu seorang wanita maka akan ia jadikan istri.

Audun adalah satu di antara jutaan orang di Indonesia dan dunia yang sudah merasakan nikmatnya kuliner khas Sumatera Barat. Alhamdulillah, kenikmatan kuliner Sumatera Barat ini beberapa waktu lalu mendapat apresiasi sebagai Destinasi Kuliner Halal Terbaik yang diberikan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia pada 7 Oktober 2016 lalu.

Tidak salah kalau Sumbar mendapat penghargaan ini, karena sebenarnya kuliner halal tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang ada di Sumbar. Falsafah hidup masyarakat Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah gambaran bagaimana masyarakat mempedomani ajaran Islam dalam kehidupannya. Termasuk bagaimana menghasilkan masakan yang halal tentunya, sekaligus lezat. Seperti ungkapan, mato condong ka nan rancak, salero condong ka nan lamak (mata cenderung melihat yang indah, selera cenderung ingin yang enak). Fitrah manusia adalah menyukai keindahan pemandangan dan kelezatan makanan.

Selain penghargaan destinasi kuliner, Sumbar pun mendapat penghargaan sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Alam Sumbar yang luar biasa indah, dengan hutan yang masih terjaga, terdapat pantai, pulau, gunung, bukit, air terjun, lembah yang luar biasa indah. Selain itu, dengan kearifan lokal masyarakatnya yang memiliki falsafah ABS SBK ini, maka bisa dikatakan sangat pas menjadi destinasi wisata halal. Karena salah satu komponen yang harus ada dalam destinasi wisata halal ini adalah keberadaan tempat shalat yang memadai.

Harus diakui juga, meskipun di Sumbar ini sangat mudah menemukan masjid atau mushola untuk beribadah bagi wisatawan, namun keberadaan masjid atau mushola di lokasi wisata perlu diperbaiki sehingga mampu memberikan kenyamanan kepada wisatawan dalam beribadah.

Demikian pula dalam hal penyediaan kamar mandi umum atau toilet umum di lokasi wisata. Perlu perbaikan dan peningkatan kualitas agar wisatawan nyaman dan bisa berlama-lama di lokasi wisata. Dan tak lupa juga adalah pemeliharaan kawasan wisata agar selalu bersih sehingga memberikan kesan baik dan sesuai dengan ajaran Islam.

Keluhan mengenai toilet, tempat shalat dan kebersihan lokasi wisata ini sudah sering saya terima dari masyarakat. Untuk itu ke depannya, berkaitan dengan dimasukannya pariwisata ini dalam salah satu prioritas pembangunan di Sumbar, saya akan mengajak seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait dan Pemerintah Kab/Kota serta pemangku kepentingan pariwisata lainnya untuk bersama-sama satu persatu membenahi masalah ini.

Saya yakin jika kita lakukan bersama-sama dan terus menerus, insya Allah masalah-masalah tersebut akan dapat diselesaikan satu persatu. Dan di luar masalah di atas, masalah-masalah lain yang perlu segera diberikan solusinya dalam rangka wisata halal ini juga harus diperhatikan. Misalnya saja ketersediaan rest area di berbagai kota/kabupaten bagi wisatawan yang menggunakan jalur darat.

Saya pun berharap masyarakat, terutama yang bersentuhan langsung dengan kawasan wisata dan mencari nafkah dari situ untuk meningkatkan kualitas pelayanannya serta mampu memperbaiki sikap dan perilaku yang membuat wisatawan semakin nyaman dan merasakan suasana yang sesuai ajaran Islam. Sudah banyak dibuktikan bahwa pariwisata ini mampu menaikkan taraf hidup masyarakat. Maka dengan memberikan kenyamanan melalui keramahan dari masyarakat, insya Allah para wisatawan ini akan kembali lagi dan mengajak keluarga, saudara atau temannya berkunjung ke lokasi tersebut.

Mengakhiri tulisan ini, saya mengajak seluruh masyarakat Sumbar baik di ranah maupun rantau, dan juga masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungannya kepada Sumbar yang mewakili Indonesia, yang akan berlaga di Abu Dhabi. Sumbar dinominasikan sebagai World’s Best Halal Destination dan World’s Best Halal Cullinary Destination. Website terkait bisa mengunjungi www.itwabudhabi.com/halal-tourism. Harapan kita tentunya, Sumbar bisa mendapatkannya. Dan ujungnya membawa kebaikan kepada masyarakat Sumbar secara luas. ***

Padang Ekspres, 19 Oktober 2016

 

187. 2016-10-25 [Singgalang] Semangat Atlet Perpanas

SEMANGAT ATLET PERPANAS

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 11 Oktober 2016 lalu di Gubernuran saya melepas keberangkatan Kontingen Sumatera Barat (Sumbar) yang akan berlaga di Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XV di Kota Bandung, Jawa Barat. Peparnas ini sama halnya dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diselenggarakan empat tahun sekali. Namun Peparnas diperuntukkan bagi para penyandang disabilitas. Penyebutan “disabilitas” ini sejalan dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Jika di tingkat nasional ada Peparnas, maka di tingkat provinsi telah diselenggarakan Pekan Paralympic Daerah (Peparda).

Dan kontingen Sumbar ini merupakan para atlet terbaik di Peparda. Mereka berjumlah 44 orang, termasuk official. Mereka mengikuti 8 dari 13 cabang olahraga yang dipertandingkan. Dengan adanya seleksi bagi atlet Peparnas menandakan bahwa penyandang disabilitas pun memiliki hak dan semangat untuk berkompetisi dan berprestasi, di mana salah satu bidangnya adalah olahraga.  Dengan keterbatasan yang ada pada tubuh mereka, ternyata hak dan semangat untuk berprestasi terlihat kuat ada pada diri mereka. Seperti layaknya atlet PON yang juga memiliki semangat berprestasi.

Atlet Peparnas yang mewakili Sumbar ini di antaranya ada yang berkursi roda dan juga tuna netra. Namun semangat mereka bisa dikatakan sama dengan manusia lainnya, bahkan mungkin lebih bersemangat. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, namun berusaha berjuang mengharumkan dan membela nama Sumbar di pentas nasional. Ini patut diapresiasi. Bahkan juga menjadi bahan renungan.

Penyandang disabilitas sudah tidak masanya lagi direndahkan potensinya. Karena mereka justru yang mengajarkan bagaimana bersemangat menjalani kehidupan dengan kondisi yang ada yang merupakan takdir Allah SWT. Sebaliknya, banyak manusia justru mengharapkan belas kasihan orang lain, padahal dirinya malas belajar, malas bekerja, tidak bersemangat, dan tidak mau bersyukur dengan kesempurnaan fisik yang sudah diberikan oleh Allah SWT.

Jika penyandang disabilitas berusaha dan tidak ingin menjadi beban orang lain karena kekurangan yang dimilikinya, maka sebaliknya banyak manusia jutsru tidak malu lagi membebani orang lain bahkan terus menjadi beban orang lain.

Andaikan orang mampu mensyukuri kondisi mereka dibanding penyandang disabilitas, maka Allah SWT pun akan memberikan nikmatNya. Dalam Al Quran surat Ibrahim ayat 7 Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”.

Dengan kondisi fisik yang normal, seharusnya seseorang bisa lebih produktif di bidang masing-masing. Baik produktif dalam urusan dunia, dan juga produktif dalam urusan akhirat. Orang yang bersyukur, ia tidak akan menyiakan-nyiakan kesempurnaan fisik yang dimilikinya, bahkan selalu bersyukur jika ia bandingkan dengan orang lain yang kurang seberuntung dia. Ketidakbersyukuran seseorang dengan kondisi fisiknya yang normal seringkali memicu kesombongan diri. Sehingga kondisi fisik yang prima menjadi landasan untuk berperilaku arogan, merasa diri hebat, menipu dan membohongi orang lain, menakut-nakuti orang lain, dan perilaku negatif lainnya yang jauh dari implementasi bersyukur itu sendiri.

Semangat untuk maju, sukses, dan menang yang saya lihat pada atlet Peparnas Sumbar ketika melepas mereka apabila dimiliki oleh orang yang berfisik sempurna pastinya akan membawa kebaikan bagi orang banyak dan juga dirinya sendiri. Dan itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh orang-orang yang berfisik sempurna dan memiliki semangat dan motivasi tinggi meraih prestasi, meskipun tidak sedikit juga yang berperilaku sebaliknya. Betapa banyak orang-orang yang karena tidak mensyukuri fisik yang sempurna justru menjadi pelaku kekerasan di berbagai tempat, dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam keluarga, kekerasan di sekolah, hingga skala yang lebih besar. Ini bisa kita baca dan saksikan melalui media cetak maupun elektronik.

Bayangkan jika para pelaku kekerasan itu semua menjadi orang-orang baik, yang mampu mensyukuri nikmat Allah SWT. Betapa  istri dan anak-anak yang akan meningkat kebahagiaannya, betapa banyak pelajar dan orang banyak mendapat kebaikan dari mereka. Betapa banyak masyarakat menjadi aman dan tenteram hidupnya karena hal positif tersebut.

Semoga dengan karunia dari Allah SWT berupa fisik sempurna, menjadikan kita senantiasa bersyukur dan banyak berbuat baik serta berprestasi di bidang masing-masing. Dan bagi yang Allah SWT takdirkan memiliki fisik yang kurang sempurna, semoga senantiasa berpikiran positif. Akal kita kadang tidak mampu memikirkan ada apa di balik takdir yang diberikan kepada setiap manusia. Dengan selalu berbaik sangka kepada Allah SWT dan memiliki semangat maju, insya Allah kondisi fisik yang ada tidak menjadi penghalang. Karena ternyata sudah banyak dibuktikan bahwa kesuksesan sudah banyak diraih oleh para penyandang disabilitas ini. ***

Singgalang, 25 Oktober 2016

188. 2016-11-03 [Padek] Operasi Pemberantasan Pungli

OPERASI PEMBERANTASAN PUNGLI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Dalam suatu rangkaian kegiatan kerja di Padang, Presiden Joko Widodo di tengah perjalanan tiba-tiba mendadak meminta mobil yang ditumpanginya bergerak menuju ke Rumah Sakit M. Jamil. Saya yang menemani Presiden di dalam mobil pun terkejut, karena Presiden melakukan kunjungan ke tempat yang tidak ada di susunan acara protokoler kepresidenan.

Ketika tiba di RS M Jamil, Presiden Joko Widodo langsung mendatangi pasien rawat inap dan menanyakan pelayanan kesehatan pasien. Pasien yang dikunjungi Presiden rupanya sudah menggunakan kartu jaminan kesehatan, tetapi dengan berbagai jenis. Ada yang memakai BPJS, Jamkesda dan juga Kartu Indonesia Sehat. Masalah yang terjadi seputar pengiriman Kartu Indonesia Sehat di Sumbar langsung direspon Presiden dengan menghubungi langsung Kementerian Kesehatan.

Dari menemani Presiden mengunjungi pasien di RS M Jamil, saya makin bisa merasakan bahwa Presiden Joko Widodo sangat serius memperhatikan masalah pelayanan publik. Dan ini berlanjut ketika saya bersama gubernur se Indonesia menghadiri Rakor bersama Presiden di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2016 lalu. Salah satu hal yang dibahas adalah mengenai pemberantasan pungli (pungutan liar) di sektor pelayanan publik.

Saya mengapresiasi kebijakan Presiden Joko Widodo yang serius memerangi pungli di sektor pelayanan publik. Bahkan Presiden menekankan pungli 10.000 rupiah pun akan tetap menjadi urusannya. Karena memang jika dilihat, pungli itu bukan pada besar kecilnya nilai uang yang dipungli, tetapi karena kebiasaan pungli adalah karakter/sifat tidak baik dan juga karena kerusakan yang disebabkannya.

Pungli menyebabkan terjadinya ketidakadilan. Orang yang membayar akan didahulukan dibanding orang yang tidak membayar. Orang yang syaratnya lengkap tidak dilayani cepat, sedangkan orang yang syaratnya tidak lengkap tapi membayar bisa segera diurus. Orang miskin pun akan semakin sulit kehidupannya dengan adanya pungli. Uang senilai 5.000 atau 10.000 rupiah untuk membayar pungli bisa jadi sama nilainya dengan ongkos anak ke sekolah atau membeli kebutuhan makan harian yang sangat berharga. Dan bagi sebagian orang, mendapatkan 10.000 rupiah sehari bukanlah hal yang mudah.

Pungli juga menyebabkan sistem tidak berjalan baik sehingga efeknya merusak kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Dan masyarakat pun juga menjadi rusak mentalnya. Akibat pungli, korban akan bercerita dari mulut ke mulut sehingga akhirnya muncul informasi di masyarakat bahwa untuk mengurus “urusan A” harus mengeluarkan uang sejumlah tertentu kepada petugas.

Pungli telah menyebabkan hilangnya rasa kemanusiaan. Oknum pelaku pungli bahkan bisa tega tidak melayani orang yang tidak memberikan pungli sehingga berakibat fatal bagi orang yang tidak membayar pungli. Dari berbagai informasi di surat kabar kita bisa membaca banyak masyarakat yang mengalami penderitaan akibat harus membayar pungli, terutama masyarakat yang hidupnya pas-pasan.

Pungli juga membentuk karakter oknum yang melayani mayarakat menjadi kian buruk. Karakter penipu, pembohong, pemeras muncul dalam diri para oknum yang melakukan pungli. Hingga akhirnya tempat-tempat pelayanan publik menjadi rusak akibat oknum oknum yang berkarakter demikian.

Sejak awal saya menjabat Gubernur di periode pertama, masalah pungli sudah menjadi perhatian saya. Laporan dan aduan yang masuk dengan validitas yang baik saya pelajari dan dibantu dengan tim yang ada untuk mendapatkan second opinion. Sayangnya ternyata tidak semua laporan dan aduan yang masuk tersebut menjadi kewenangan pemerintah provinsi sehingga saya hanya sebatas bisa meneruskan informasi tersebut. Namun untuk aduan atau laporan yang menjadi wewenang pemerintah provinsi langsung ditindaklanjuti. Dari sanksi ringan hingga berat termasuk menonjobkan pelaku, telah saya lakukan. Namun tidak saya umumkan ke publik karena saya tetap harus menjaga perasaan pribadi dan keluarga yang bersangkutan.

Dan dengan adanya penekanan langsung dari Presiden, pemberantasan pungli ini seperti mendapatkan angin segar dan energi baru untuk bisa lebih baik lagi dilaksanakan di daerah. Apalagi sekarang pihak kepolisian pun turun ikut melakukan pemberantasan pungli. Hal ini sangat membantu sekali sehingga cakupannya bisa lebih luas lagi.

Pembangunan di daerah tidak saja dalam artian fisik, namun memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat tanpa pungli juga merupakan bagian dari pembangunan tersebut. Jika masyarakat senang dengan pelayanan yang baik dan tanpa pungli, insya Allah ini akan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin meningkat, dan pemerintah pun semakin percaya diri menjalankan roda pemerintahan. Semoga hal yang demikian bisa kita wujudkan bersama-sama.

Menutup tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan kembali komitmen Pemprov Sumbar dalam hal pelayanan publik. Alhamdulillah pada tahun 2014 berbagai unit SKPD di lingkungan Pemprov Sumbar telah mendapatkan sertifikat penghargaan Pelayanan Publik sesuai UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dari Ombudsman RI yang mengapresiasi pelayanan publik yang dilakukan oleh segenap jajaran Pemprov Sumbar. Hampir 40 sertifikat diberikan ke berbagai unit di jajaran Pemprov Sumbar. Untuk itu saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran SKPD atas pencapaian ini. Semoga dengan kondisi yang demikian, masyarakat senantiasa mendapatkan pelayanan terbaik. Dan pungli bisa dinihilkan. ***

Padang Ekspres, 3 November 2016

 

189. 2016-11-14 [Singgalang] Olahraga Itu Penting

OLAHRAGA ITU PENTING

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, di sela kesibukan saya sebagai Gubernur, rutinitas olahraga tetap masih bisa saya jalankan. Bermain bulu tangkis dan latihan karate rutin saya lakukan untuk menjaga agar badan ini tetap sehat. Saya juga bersyukur bahwa beberapa waktu lalu bisa mengikuti ujian karate sabuk hitam Dan VI, dan dinyatakan lulus. Ini memang konsekuensi dari latihan rutin, akan ada masa untuk ‘naik kelas’. Namun bagi saya, yang terpenting adalah menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup positif. Karena pada saat ini di tengah perkembangan kemajuan teknologi dan gaya hidup instan, justru semakin banyak orang yang mudah sakit, bahkan di usia muda banyak yang meninggal dunia. Salah satu penyebabnya jika dirunut adalah tidak menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup positif.

Sebagian anak muda jaman sekarang, banyak  yang hidup di tengah berbagai kemudahan dan juga kemapanan. Gaya hidup serba instan pun dipilih karena dianggap nyaman. Ditemani gadget bisa duduk berjam-jam. Untuk makan dan minum mereka tinggal membeli makanan cepat saji yang siap disantap. Kemudahan seperti ini menyebabkan mereka melupakan olahraga. Sehingga banyak orang muda yang tiba-tiba diserang penyakit, dari yang ringan hingga berbahaya.

Untuk itu, saya mengajak masyarakat, khususnya generasi muda untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidupnya. Silakan pilih mana olahraga yang diminati. Karena pada dasarnya olahraga merupakan bahasa universal, tidak menjadi bagian dari ideologi. Seperti karate atau bulutangkis yang saya rutin lakukan, tidak terkait dengan ideologi. Meskipun karate berasal dari Cina atau Jepang, dan bulutangkis berasal dari Yunani dan Mesir, bukan berarti saya menyetujui ideologi yang ada di bangsa tersebut. Karena olahraga tersebut sebatas saya gemari saja sejak kecil.

Demikian pula dengan sepeda dan trabas yang juga kadang saya lakukan sesekali. Sepeda berasal dari Prancis dan trabas (motocross) berasal dari Inggris. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan ideologi di negara asalnya. Sama halnya dengan sepak bola yang sudah menjadi olahraga rakyat, ternyata jika ditelisik berasal dari Cina. Saya yakin masyarakat penggemar sepak bola meminati olahraga ini karena kegemaran atau pilihan, bukan ideologi atau karena budaya.

Kesukaan orang terhadap suatu hal memang bagian dari fitrah manusia. Saya pun termasuk di dalamnya. Ketika ada yang bertanya mengapa saya tidak memilih bela diri yang berasal dari dalam negeri seperti silat, jawabannya karena memang sejak kecil saya menyukai karate. Namun bukan berarti saya abai terhadap olahraga silat. Ketika PON 2016 di Jawa Barat lalu saya langsung turun menyemangati para atlet silat Sumbar selama dua hari dalam final silat. Alhamdulillah atlet silat Sumbar berhasil menyumbangkan 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Dan dalam pertemuan berbagai aliran Silat Minang dan Pencak Sunda di Padang Panjang pada bulan November 2014 lalu saya pun menyempatkan hadir guna memberi dukungan moril kepada peserta. Begitu juga hadir di Padepokan tempat Ketua Umum PB IPSI, bapak Prabowo beberapa waktu lalu. Bahkan sering hadir pada acara silat di beberapa Sasaran di Kuranji. Dalam sebuah tulisan saya di surat kabar terkait acara silat tersebut, saya mengapresiasi kepala daerah dan sekolah yang menjadikan silat sebagai kegiatan ekstrakurikuler di wilayah dan sekolahnya, apalagi jika mampu mewajibkannya.

Kembali kepada pembicaraan tentang pentingnya olahraga, yang merupakan pemenuhan hak badan. Selama ini banyak yang melupakan hak badan tersebut seperti halnya makan dan minum yang juga merupakan hak badan yang mesti dipenuhi.

Olahraga semestinya dilakukan tidak hanya untuk prestasi saja. Tetapi jauh lebih penting olahraga untuk kesehatan, baik jiwa maupun raga. Olahraga adalah cara mudah menjaga kesehatan. Karena kesehatan akan terasa mahal ketika seseorang mengalami sakit. Dengan olahraga, tubuh senantiasa dijaga untuk selalu sehat. Dan dengan olahraga rutin, banyak manfaat positif bagi yang melakukannya. Badan sehat, jiwa sehat, dan pikiran pun sehat. Ini adalah manfaat yang bisa dirasakan dari berolahraga rutin.

Sebaliknya, jika kita malas berolaharaga meskipun merasa sehat, maka suatu saat daya tahan tubuh akan lemah dan mudah diserang penyakit. Penyakit yang disebabkan oleh virus umumnya disebabkan daya tahan tubuh yang melemah. Dan daya tahan tubuh yang melemah disebabkan karena kurang atau jarang olahraga rutin.

Jangan tunggu sampai datangnya sakit, baru sadar pentingnya olaharaga. Tapi tetaplah berolahraga rutin, sehingga tubuh tetap sehat dan aktivitas pun bisa berjalan baik. Banyak hal yang bisa dilakukan ketika badan sehat. Namun sebaliknya, banyak kerugian yang dialami ketika badan sakit. ***

Singgalang,  14 November 2016

 

190. 2016-11-17 [Padek] Menghidupkan Pantai

MENGHIDUPKAN PANTAI
Oleh: Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 5 November 2016 lalu saya menghadiri pembukaan Grasstrack Open Tournament yang diadakan di Pantai Padang. Hadir dalam kesempatan tersebut Bapak Raseno Arya selaku Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata RI, Wali Kota Padang dan Ketua Umum Klub Blaster.
Tema acara tersebut adalah, “Blaster Grasstrek Tournament Open Pesona Pantai Padang”. Dari temanya sudah terlihat bahwa Klub Blaster yang bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kota Padang ingin mengundang peminat grasstrack dan juga wisatawan menikmati olahraga grasstrack dan pesona Pantai Padang.
Saya mengapresiasi ide ini, menggabungkan tontonan motor dan pemandangan pantai yang indah. Pantai menjadi hidup, wisatawan semakin banyak yang datang. Wisatawan tidak hanya mengambil spot foto selfie di beberapa tempat seperti Monumen Perdamaian dan Tugu IORA, tetapi juga menikmati tontonan aktual seperti Grasstrek ini.
Kegiatan Grasstrek ini ditonton banyak orang, terutama anak muda. Saya melihat anak-anak muda butuh tempat penyaluran hobi mereka. Mereka ingin mengaktualisasikan potensi mereka. Mereka butuh tempat untuk menyalurkan hobi mereka. Jika arena yang ada di Pantai Padang masih berupa sirkuit sementara, ke depannya saya berharap akan ada sirkuit permanen yang disediakan oleh Pemerintah Kota Padang.
Hobi balap motor anak muda seringkali menggunakan jalan raya yang merupakan sarana publik, sehingga mengganggu pemakai jalan lainnya dan juga membahayakan diri sendiri. Dengan adanya tempat balap motor, sudah ada tempat yang lebih pas bagi anak muda untuk menyalurkan hobinya. Tidak itu saja, kegiatan balap motor ini bisa menjadi tontonan bagi masyarakat sehingga memberikan manfaat yang positif bagi banyak orang.
Selain itu, saya melihat anak muda yang ada di Kota Padang juga membutuhkan tempat untuk mengaktualisasikan potensi dan bakat mereka. Pantai Padang sudah banyak memberikan ruang bagi anak muda ini mengaktualisasikan potensi dan bakat mereka. Berbagai kegiatan banyak diselenggarakan di sini. Namun nampaknya butuh media permanen yang bisa memfasilitasi aktualisasi potensi dan bakat anak muda tersebut.
Misalkan saja, butuh semacam panggung permanen untuk memfasilitasi anak-anak muda untuk tampil. Baik di bidang musik (baik musik tradisional ataupun kontemporer), bidang seni seperti randai, rabab, saluang, tari. Juga bisa untuk tarik suara, dan berbagai bakat lainnya yang membutuhkan media panggung untuk memberikan ruang bagi mereka unjuk kebolehan dan berlatih.
Dengan adanya panggung ini, selain membantu dan memberikan anak muda tempat beraktualisasi juga memberikan hiburan kepada pengunjung pantai. Jika selama ini pantai lebih banyak dinikmati untuk foto selfie ataupun menikmati suasana pantai, maka dengan adanya panggung, masyarakat bisa menikmati tontonan dari berbagai komunitas yang unjuk kemampuan di sana. Dari pagi hingga malam, pantai hidup dengan kegiatan komunitas yang tampil unjuk kemampuan. Ada yang unjuk kemampuan musik band, tarik suara, tari tradisional dan modern, teater, puisi, dan lainnya.
Jika pantai hidup dari pagi hingga malam, semakin banyak wisatawan yang datang, dan semakin banyak transaksi jual beli di sana. Jika pagi dan siang pantai dihidupkan dengan atraksi panggung seni tari dan musik modern, maka malamnya dihibur dengan seni tradisional seperti randai dan rabab.
Selama ini Pantai Padang lebih banyak dikunjungi pada saat pagi hingga sore hari. Malam hari sudah kurang ramai dikunjungi, bahkan cenderung sepi. Dengan adanya media yang bisa untuk mengaktualisasikan potensi dan bakat, bukan tidak mungkin Pantai Padang akan tetap ramai pada malam hari. Kampus-kampus dan sekolah yang mempelajari secara khusus seni, budaya, teater, tari dan lainnya pun bisa memanfaatkan ini sebagai ladang unjuk kebolehan para mahasiswa dan pelajarnya.
Selama ini kawasan Pantai Padang sudah banyak digunakan untuk berbagai iven launching dan promosi, iven nasional dan internasional, senam pagi, rekreasi keluarga dan lainnya. Saya yakin bahwa ke depannya Pantai Padang akan bisa lebih hidup lagi jika semakin banyak fasilitas yang disediakan pemerintah untuk warganya. Bukan tidak mungkin iven olahraga triathlon yang menggabungkan renang, lari dan sepeda suatu saat diadakan di Pantai Padang. ***
Padang Ekspres, 17 November 2016

191. 2016-11-22 [Singgalang] Investasi, Sebuah Keniscayaan

INVESTASI, SEBUAH KENISCAYAAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 11 November 2016 lalu saya menyampaikan presentasi prospek investasi dan pariwisata Sumatera Barat dalam  acara Indonesia Business Summit sekaligus hadir di Indonesia Fair yang diadakan di Perth, Australia. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Luar Negeri RI, Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) RI, dan Kementerian Pariwisata RI. Para investor yang menghadiri acara ini adalah mereka yang sudah melakukan investasi, belum sama sekali dan juga sedang akan melakukan investasi di Indonesia, khususnya Sumatera Barat. Acara ini berlangsung hingga 14 November 2016. Kepala daerah dari beberapa provinsi dan kota/kabupaten di Indonesia juga turut hadir di acara ini.

Jemput bola mendatangi investor mengajak berinvestasi di daerah adalah sebuah keniscayaan saat ini. Di tengah keterbatasan anggaran, baik APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) maupun APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara), mengundang investor masuk adalah salah satu hal yang bisa dilakukan dalam rangka menjalankan program pembangunan.

Anggaran Pemerintah yang sudah ada secara umum sudah dipakai untuk hal-hal yang wajib dan prioritas dengan persentase tertentu yang disyaratkan oleh Undang-Undang maupun dari pemerintah pusat. Misalnya anggaran pendidikan minimal sebesar 20 persen, anggaran kesehatan minimal 10 persen, dan anggaran infrastruktur (jalan, jembatan, irigasi dll) yang harus di atas 23 persen. Sedangkan gaji pegawai sudah di atas 20 persen, bahkan ada pula yang mencapai 40 persen.

Dengan mengkalkulasi persentase anggaran tersebut, masih banyak sektor dan dinas yang belum mendapatkan dana yang cukup untuk membangun, yaitu di luar sektor pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Misalnya pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, koperasi dan UMKM, pemberdayaan perempuan, perpustakaan dan kearsipan, olahraga, pariwisata dan lainnya. Persentase untuk sektor-sektor ini umumnya di bawah 5 persen, bahkan ada yang di bawah 1 persen.

Mengandalkan sumber dana pembangunan dari daerah sendiri seperti PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang mayoritas disumbang oleh PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) belumlah memadai. Demikian pula peran sektor swasta, seperti para perantau yang fokus kepada kampung halamannya. Peran perantau dalam membangun kampung halamannya selama ini sangat saya apresiasi. Namun tetap masih banyak dibutuhkan dana untuk membiayai program-program pembangunan di banyak sektor seperti yang disebut di atas.

Dengan demikian bisa dilihat bahwa investasi menjadi alternatif yang bisa diandalkan untuk membantu berjalannya program pembangunan yang ujungnya adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Namun yang mesti dipahami oleh masyarakat, investasi yang masuk ke Sumbar adalah investasi yang cocok dengan kondisi Sumbar. Baik kondisi geografis, demografis, juga adat, budaya dan agama.

Saya pun turut memperhatikan aspirasi masyarakat yang berkembang dalam menyikapi masuknya investasi ke Sumbar. Memang tidak semua investasi bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, khususnya bila dirasa menyinggung suasana keagamaan, maupun adat dan budaya. Namun hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang mayoritas. Karena kenyataannya banyak investasi yang masuk dan bisa diterima oleh masyarakat.

Investasi yang cocok dengan kondisi geografis Sumbar adalah investasi sektor energi, yaitu panas bumi dan mikrohidro (energi kelistrikan). Demikian pula investasi di sektor pariwisata, di mana keberadaan pantai, gunung, ngarai, bukit, air terjun dan keindahan alam lainnya bisa ditingkatkan nilai tambahnya dengan pembangunan resort, hotel, kereta gantung, dan lainnya. Sehingga keberadaan sebuah kawasan wisata bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi wisatawan karena adanya berbagai sarana, prasarana dan fasilitas yang memuaskan.

Demikian pula dengan kondisi demografis, adat, budaya dan agama. Investasi yang masuk tidak mungkin investasi padat karya, namun bisa bermitra dengan masyarakat untuk beberapa sektor seperti energi, kelistrikan, kelautan dan pariwisata. Apalagi jika membangun pabrik dengan mendatangkan bahan baku dari luar pulau, tentu tidak akan berhasil karena harga yang dikeluarkan tidak bisa bersaing. Dan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan agamanya serta adat  budaya juga harus menjadi perhatian investor.

Berbagai kemudahan dan jaminan sudah diberikan kepada para investor untuk berinvestasi di Sumbar, dan alhamdulillah target investasi tahun 2016 sebesar Rp 3,8 triliun ini sudah terlampaui. Hingga kuartal ketiga nilainya sudah mencapai Rp 4,03 trilun. Selaku Gubernur saya mengajak masyarakat untuk mendukung masuknya investasi ke Sumbar. Insya Allah dengan dukungan dari masyarakat, pemerintah kota/kabupaten, kenyamanan dan keamanan berinvestasi akan memberikan dampak positif kepada masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung. ***

Singgalang, 22 November 2016

 

192. 2016-12-06 [Singgalang] Ketahanan Pangan Suatu Keniscayaan

KETAHANAN PANGAN SUATU KENISCAYAAN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 30 November 2016 siang bertempat di Istana Negara, saya selaku Gubernur Sumbar beserta Gubernur Aceh dan Jawa Tengah menerima Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara, kategori Pembina Ketahanan Pangan dari Presiden RI Bpk. Joko Widodo. Pemberian penghargaan ini disampaikan oleh Bpk Amran Sulaiman (Menteri Pertanian) telah melewati proses pengusulan dan penilaian secara berjenjang dengan memperhatikan keunggulan dan dampak dari kegiatan yang dilakukan terhadap peningkatan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya.

Selain itu disampaikan oleh Menteri Pertanian bahwa penghargaan untuk kategori Pembina Ketahanan Pangan diberikan kepada Gubernur, Bupati/Wali Kota, Kepala Desa/Lurah yang berhasil menggerakkan perangkat daerah dan masyarakat dalam mengurangi kemiskinan, kerawanan pangan, gizi buruk, dan meningkatkan produksi pangan serta mempercepat diversifikasi pangan dalam mewujudkan kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan pangan.

Indikator lainnya adalah kemampuan mengelola ketersediaan pangan, distribusi pangan, keamanan pangan. Selain itu, mengendalikan inflasi, memperkuat kelompok ekonomi kecil dan menengah, dan menarik investor berinvestasi. Alhamdulillah penghargaan ini adalah yang ketiga kalinya bagi Sumbar. Tahun 2013 dan 2014 adalah yang pertama dan kedua kali.

Tentunya penghargaan ini dengan berbagai indikator tersebut adalah hasil kerja keras seluruh komponen yang ada di Sumbar. Yaitu jajaran SKPD terkait,  pemkab/kota, masyarakat, serta para pemangku kepentingan lainnya. Dan juga tidak lupa saya menyampaikan apresiasi kepada DPRD Sumbar yang juga telah mendukung anggaran bidang pertanian ini sehingga kita di Sumbar mampu mewujudkan ketahanan pangan dan juga menjaga kedaulatan pangan.

Alhamdulillah, program-program yang sudah ditelurkan dalam APBD untuk sektor pertanian, setiap tahunnya berdasarkan data statistik memperlihatkan kenaikan rata-rata 5 persen, terutama produksi padi. Sehingga dengan kenaikan produksi tersebut Sumbar telah menjadi salah satu lumbung padi nasional yang berhasil melakukan swasembada.

Berbagai program yang telah dilakukan di bidang pertanian tersebut terdiri dari intensifikasi dan ekstensifikasi. Untuk program intensifikasi yang sudah dilakukan di antaranya adalah meningkatkan kualitas produksi beras. Sebagai contoh, padi non organik diubah menjadi padi organik. Harganya pun lebih mahal padi organik. Selain itu, kuantitas panen juga ditingkatkan. Jika 1 hektar sawah menghasilkan 5 ton maka bisa ditingkatkan menjadi 7 hingga bahkan 10 ton. Di samping itu juga dilakukan peningkatan kualitas padi dengan menghindari pestisida berbahan kimia, pupuk kimia, diganti menggunakan yang organik.

Sedangkan untuk program ekstensifikasi dilakukan dengan mencetak sawah baru, dan menambah irigasi sehingga indeks penanamannya bisa lebih dua kali dalam setahun karena tidak lagi mengandalkan hujan (tadah hujan). Kemudian juga menambah sawah baru dari rawa-rawa, ladang-ladang semak belukar. Dan juga menerapkan teknik-teknik menanam seperti pola jajar legowo. Dan di luar itu masih ada lagi program-program lainnya.

Di samping itu, mewujudkan ketahanan pangan juga dilakukan dengan diversifikasi pangan. Di antaranya menciptakan variasi makanan agar tidak terlalu bergantung kepada nasi (beras). Makanan selain nasi yang dimaksud adalah jagung, ubi, ketela, dan lainnya.

Kedaulatan dan ketahanan pangan adalah mutlak kita lakukan. Karena merupakan hajat hidup utama masyarakat. Kita pernah mengalami masa kekurangan pangan di awal negara ini baru merdeka sehingga terjadi penjarahan oleh masyarakat dan stabilitas terganggu. Peristiwa Arab Spring pun yang terjadi beberapa tahun lalu juga tak lepas dari masalah kekurangan pangan. Belajar dari sejarah demikian, maka kita harus bekerjasama bahu-membahu mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan.

Alhamdulillah, dengan ketersediaan pangan yang mencukupi bagi masyarakat, banyak hal lain yang bisa kita lakukan dengan tenang sehingga bisa meningkatkan produktivitas seluas-luasnya. Karena bisa dibayangkan jika urusan pangan kita sudah terganggu, akan menyebabkan urusan kita yang lain juga ikut terganggu. Untuk itu, saya mengajak seluruh komponen yang ada di Sumbar untuk tetap terus menjaga kebersamaan ini sehingga wilayah kita bisa terpenuhi kebutuhan pangannya. Dan juga, semoga kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas karunia ini. ***

Singgalang, 6 Desember 2016

 

193. 2016-12-16 [Padek] Festival Ekonomi dan Budaya Serumpun

FESTIVAL EKONOMI DAN BUDAYA SERUMPUN

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 3-5 Desember 2016 lalu di Padang diselenggarakan Festival Ekonomi dan Budaya Antarbangsa. Acara ini mempertemukan dua bangsa serumpun yaitu Indonesia dan Malaysia. Penggagas acara ini adalah Malindo Business Cultural Center (MBCC) Asia. Dari pihak penyelenggara, mereka membawa 200 orang pengusaha/investor dan 35 produk yang dipamerkan di ajang festival tersebut.

MBCC Asia ini menargetkan peluang transaksi sebesar lebih kurang 10 miliar dolar AS. Hal ini didasari masih rendahnya transaksi perdagangan antar kedua negara. Pada tahun 2015 transaksi yang terjadi baru sebesar 19 miliar dolar AS. Sedangkan target untuk tahun 2016 adalah 30 miliar dolar AS.

Kegiatan ini sangat positif. Pengusaha dan investor yang datang dari Malaysia diberikan informasi tentang potensi yang ada di berbagai daerah. Peluang kerjasama banyak tercipta. Pelaku usaha di daerah (Indonesia) pun bisa memanfaatkan kedatangan rombongan dari Malaysia ini untuk memperkenalkan produk mereka. Beberapa kisah keberhasilan dari kerjasama bangsa serumpun ini sudah mulai bermunculan satu persatu. Pertanda adanya manfaat positif dari kegiatan ini.

Tidak dipungkiri bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang dipatok oleh pemerintah pusat pada tahun 2016 di kisaran angka 5 persen, pemerintah daerah diharuskan aktif mencari sumber-sumber pendanaan pembangunan di daerahnya. Dan salah satu sumber yang nampak itu adalah investasi.

Sumbar membutuhkan investasi agar pembangunan bisa lebih ditingkatkan, di mana tujuan akhirnya adalah terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Para investor dan pengusaha yang berasal dari Malaysia ini yang tak lain masih serumpun, sesungguhnya bisa lebih mudah beradaptasi dan memahami investasi di bidang mana saja yang cocok untuk dijalani.

Selain karena faktor budaya, umumnya juga karena faktor seagama, sehingga lebih mudah untuk melakukan komunikasi dan penjajakan investasi maupun perdagangan. Karena sudah mengetahui rambu-rambu di masyarakat terkait masalah agama dan hubungannya dengan investasi dan perdagangan. Namun bukan berarti jika ada yang berbeda agama akan lebih susah, tetap masih lebih mudah karena adanya kesamaan budaya sehingga komunikasi dua arah tetap bisa berjalan baik.

Kendala budaya dan agama sesungguhnya sudah bisa diatasi dengan adanya investor dan pengusaha dari Malaysia ini. Sehingga akan lebih memudahkan penjajakan antara dua pihak yaitu Malaysia dan Indonesia. Jika pihak Malaysia menjajaki peluang investasi di Sumbar dan Indonesia, maka pihak Sumbar menjajaki peluang perdagangan yang bisa dipasarkan di Malaysia. Kerjasama saling menguntungkan ini insya Allah akan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Sumbar.

Di sisi lain, kerjasama serumpun ini juga turut mempererat rasa persaudaraan antar dua negara. Tidak dipungkiri beberapa waktu lalu sempat terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan rakyat dua negara ini mengutarakan saling ketidaksukaanya di media sosial. Hal ini memang dilatarbelakangi informasi yang masih sedikit tentang Malaysia.

Bagi kita orang Minang, sedikit banyaknya sudah mengetahui bahwa sebagian dari nenek moyang warga Malaysia saat ini berasal dari ranah Minang. Sehingga banyak wisatawan dari Malaysia yang berkunjung ke Sumatera Barat karena kecintaan mereka terhadap asal usul nenek moyang mereka.

Maka tidak heran jika ada orang Malaysia yang menganggap rendang adalah masakan asli mereka, karena nenek moyangnya yang orang Minang mampu membuat rendang. Bahkan penggunaan kata “surau” sebagai tempat shalat bisa dilihat di berbagai tempat pelayanan publik di Malaysia.

Kembali kepada kegiatan MBCC Asia, saya memberikan apresiasi atas iven yang diselenggarakan MBCC Asia di Padang. Semoga iven seperti ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para kepala daerah di Sumbar dan juga oleh para pelaku usaha di Sumbar. Kerjasama yang baik dengan bangsa serumpun ini saya harapkan juga akan semakin menguatkan hubungan ekonomi dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia. Di tengah kondisi ekonomi global yang penuh dinamika, kerjasama bangsa serumpun ini sangat memberikan manfaat positif, terutama kepada kedua bangsa dan juga kepada negara-negara ASEAN.

Festival yang juga mempertunjukkan seni dan budaya serumpun ini juga semoga menjadi jembatan kebudayaan antarbangsa untuk saling memahami satu sama lain. Kegiatan yang merupakan kali ketiga ini semoga semakin berdampak positif terhadap kedua pihak. Jalinan silaturahmi antar kedua pihak semoga semakin kokoh. Sehingga tidak hanya urusan bisnis yang saling menguntungkan, tali persaudaraan pun bisa makin dikuatkan dengan adanya festival ini. Seperti yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, persaudaraan (silaturahmi) insya Allah akan membuka pintu rezeki. ***

Padang Ekspres, 16 Desember 2016

194. 2016-12-22 [Singgalang] Rendang untuk Aceh

RENDANG UNTUK ACEH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Gempa bumi kembali terjadi di bumi Aceh, tepatnya di Kabupaten Pidie Jaya. Pada 7 Desember 2016 sekitar jam 5 pagi, warga dikagetkan dengan gempa yang berkekuatan cukup besar yaitu 6,5 skala Richter. Gempa ini dirasakan juga di wilayah lain seperti Pidie dan Bireuen. Rumah-rumah dan bangunan serta infrastruktur banyak yang rusak. Sedikitnya 101 orang meninggal dunia.  Masyarakat di sana diliputi trauma. Seluruh bangsa Indonesia berduka.

Semenjak peristiwa Tsunami di Aceh tahun 2006 lalu yang diawali gempa bumi, terjadinya gempa bumi menjadi perhatian serius oleh berbagai pihak. Baik pemerintah, peneliti, tim penanggulangan bencana, dan juga masyarakat. Masyarakat Sumbar juga tentu masih ingat gempa bumi yang terjadi pada tahun 2007 dan 2009 yang meluluhlantakkan bangunan-bangunan dan infrastruktur di Sumbar.

Demikian pula ketika terjadi gempa setelah tahun 2009, dari yang getarannya kuat hingga gempa yang meliuk-liuk dengan waktu cukup lama. Kita yang tinggal di Sumbar sudah pernah merasakannya. Tidak hanya di Sumatera, di pulau Jawa pun beberapa kali terjadi gempa, termasuk di Jogja yang menimbulkan kerusakan cukup parah.

Peristiwa gempa bumi yang terjadi di suatu daerah memang bisa menjadikan daerah tersebut kurang diminati untuk berinvestasi, berusaha, destinasi wisata, dan lainnya. Terlebih jika instansi terkait sudah menyatakan zona merah yang rawan terjadi gempa. Namun demikian, sebagai manusia yang meyakini bahwa di setiap kejadian ada hikmah yang bisa diambil, maka kita perlu bersikap positif atas ketentuan yang sudah Allah SWT takdirkan.

Gempa bumi yang terjadi sesungguhnya merupakan kehendak Allah SWT. Berbagai musibah dan bencana lain pun seperti banjir, gunung meletus, adalah sebagian dari tanda kekuasaan Allah SWT. Manusia diminta untuk mengambil hikmah dari berbagai peristiwa tersebut. Kesedihan yang muncul memang merupakan fitrah manusia. Namun tentunya ada hal positif yang kelak kita tahu belakangan setelah datangnya kehendak Allah SWT tersebut.

Misalnya saja, setelah tsunami Aceh hal yang tidak pernah disangka sama sekali adalah bersatunya seluruh elemen masyarakat Aceh. Di mana sebelumnya, berbagai perundingan dan upaya damai antara pemerintah dengan pihak-pihak tertentu di Aceh selalu mengalami kegagalan dan jalan buntu. Setelah Tsunami ternyata kedamaian di Aceh terwujud, tidak ada lagi pemberontakan, Aceh masuk ke dalam NKRI sepenuhnya. Inilah hikmah yang bisa kita ambil dari sebuah peristiwa yang kadang di mata manusia sungguh sangat menyedihkan, namun ternyata Allah SWT punya kehendak lain yang bisa jadi sangat bermanfaat untuk kehidupan kita selanjutnya.

Demikian pula gempa Sumbar tahun 2009. Setelah gempa, ekonomi Sumbar kembali bangkit dengan tampilan yang jauh lebih baik. Pertumbuhan ekonomi, pertambahan infrastruktur, bertambahnya jumlah penerbangan pesawat ke padang, munculnya gedung-gedung baru baik sekolah, instansi pemerintahan, tempat ibadah, bertambahnya hotel, adalah sebagian dari tanda-tanda positif yang bisa dijadikan sebagai salah satu hikmah terjadinya gempa Sumbar. Dan juga sangat mungkin bahwa masyarakat Sumbar semakin baik lagi memahami agamanya.

Musibah gempa juga menjadi penyatu solidaritas masyarakat di Indonesia. Satu ton rendang yang merupakan bantuan dari masyarakat Sumbar untuk Aceh adalah wujud kepedulian dan rasa persaudaraan antarsesama anak bangsa. Aksi kepedulian ini adalah salah satu hikmah yang bisa diambil setelah terjadinya gempa di Aceh. Bantuan dari berbagai daerah lainnya juga datang berbondong-bondong dengan sukarela. Setiap terjadi bencana di tanah air, ternyata tindakan kebaikan jauh meningkat dengan banyaknya bantuan yang datang.

Dalam surat Al Baqarah ayat 155 Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Dari arti ayat tersebut, ternyata Allah SWT memberikan cobaan agar manusia bersabar, dan setelah itu akan datang kabar gembira yang tidak pernah diketahui oleh manusia perihalnya. Termasuk juga di dalamnya adalah datangnya gempa yang silih berganti di tanah air. Kita sebagai manusia diminta bersabar menghadapinya. Karena bagi orang yang sabar akan ada kabar gembira bagi mereka.

Menutup tulisan ini, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa membangun dan memelihara kepedulian sesama. Terlebih kepada saudara-saudara kita yang ditimpa bencana dan musibah. Baik di dalam negeri dan juga luar negeri. Semoga kepedulian kita mendapat balasan terbaik dari Allah SWT. Aamiin. ***

Singgalang, 22 Desember 2016

195. 2017-01-04 [Singgalang] Tahun Baru Semangat Baru

TAHUN BARU SEMANGAT BARU

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, kita sudah berada di tahun 2017. Waktu begitu cepat berlalu. Jika kita melihat ayat-ayat Al Quran, Allah SWT sering menjadikan waktu sebagai sumpahNya, “Demi masa” (QS. Al Ashr: 1), “Demi waktu Dhuha” (QS. Ad Dhuha:1), dan masih banyak lagi jika kita telusuri ayat-ayat Al Quran. Ayat-ayat seperti ini mengajak manusia untuk lebih menyadari pentingya masalah waktu.

Awal tahun adalah saat yang tepat untuk mempersiapkan diri mengarungi waktu yang terus berjalan. Selain itu, juga saat yang tepat untuk mengevaluasi apa saja yang sudah dilakukan setahun belakangan. Hal apa saja yang perlu diperbaiki, dijauhi, ditinggalkan, ditingkatkan, dan lainnya.

Dalam shalat wajib 5 waktu, setelah shalat kita disunahkan membaca istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT atas perilaku kita yang punya potensi salah. Dan memang sebagai manusia kita pasti berbuat kesalahan, baik sengaja maupun tidak disengaja. Dengan selalu mengucap istighfar, insya Allah kita akan merasakan energi positif yang luar biasa, karena merupakan sunnah Rasulullah SAW. Kita tahu bahwa ada kekuatan yang lebih hebat dari diri kita yang mengatur hidup kita, yaitu Allah SWT. Sehingga kita akan merasakan bahwa di atas langit ada langit, kita bukanlah pribadi paling hebat, masih ada yang lebih hebat dari kita tapi justru perilakunya lebih mulia.

“Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan berikan untuknya solusi setiap menemui masalah, dan jalan keluar untuk setiap kali menemui kesempitan, dan Allah akan memberikannya rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga.”(Hadits sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (hadits no. 1297), Ibn Majah (hadits no. 3809) dan al-Hakim. Al-Hakim berkata: Hadits ini sanadnya sahih.)

Oleh karena itu, penting sekali bagi kita merenungi apa saja yang sudah kita lakukan. Adakah kesalahan yang kita perbuat berakibat fatal bagi orang lain dan juga diri sendiri? Jika ada, maka marilah ber-istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT.

Umar bin Khaththab r.a berkata, “Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal”.

“Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya seperti dia berada di bawah gunung, dia takut apabila gunung tersebut menimpanya, dan seorang fasiq melihat dosa-dosanya seperti lalat yang terbang di atas hidungnya, maka dia singkirkan seperti ini, yaitu diusir dengan telapak tangannya.” (HR. Bukhari).

Dengan selalu menghisab (koreksi) diri, insya Allah kita akan jauh dari sifat sombong, tinggi hati, merasa paling benar. Dan sebaliknya membuat kita untuk rendah hati, memiliki motivasi diri yang lebih kuat, meyakini mampu mencapai kesuksesan, dan optimis akan datangnya pertolongan Allah SWT.

Menatap masa depan dengan kerendahan hati, dikuatkan dengan usaha yang sungguh-sungguh, disertai tawakal kepada Allah SWT, insya Allah akan menjadikan hidup kita lebih semangat.

Setelah melakukan instropeksi diri dengan menghisab/koreksi diri, maka kita berhak menyambut tahun baru dengan semangat baru. Semangat untuk berbuat lebih baik lagi, beribadah lebih giat lagi, bermasyarakat lebih luas lagi, menolong orang lebih banyak lagi, bekerja lebih giat lagi, dan sebagainya. Semoga bertambahnya tahun dalam hidup kita juga membuat kita bertambah dewasa dan bertambah dekat dengan Sang Pemilik Hidup, Allah SWT agar hidup kita makin terarah sehingga hidup menjadi optimis dan kuat menerima karunia, rezeki, maupun ujian dan cobaan. ***

Singgalang, 4 Januari 2017

 

196. 2017-01-04 [Padek] Yang Siap Yang Menang

YANG SIAP YANG MENANG

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 14 Desember 2016 lalu pertandingan putaran final piala AFF (Asean Football Federation) yang diselenggarakan di Jakarta antara Indonesia dengan Thailand dimenangkan oleh Indonesia dengan skor 2-1 untuk Indonesia. Pendukung Indonesia yang sangat antusias memberikan dukungan kepada tim kesayangannya ini sangat membantu spirit para pemain tim Indonesia. Waktu itu saya turut mengadakan nonton bareng (nobar) dengan beberapa sahabat saya dan juga staf di rumah dinas untuk meramaikan dukungan kepada tim Indonesia.

Pada putaran final yang diselenggarakan di Thailand, kali ini saya ikut nobar di pantai Muaro Lasak. Kali ini suasananya lebih tegang, karena tim Indonesia bermain di kandang tim Thailand. Dan setelah mengikuti jalannya pertandingan, skor akhir 2-0 untuk Thailand atau skor agregat 3-2 untuk kemenangan Thailand.

Dengan hasil yang sudah dicapai tersebut, kita perlu memberikan apresiasi kepada tim Indonesia yang sudah berlaga di partai final. Tim Indonesia tercatat sudah beberapa kali menjadi calon juara piala AFF dengan berlaga di final. Namun kemenangan belum diraih. Tentu bisa dicari sebabnya, mengapa untuk piala AFF kali ini tim Indonesia belum bisa mendapatkannya.

Hal yang mungkin menjadi sebab utama adalah minimnya waktu persiapan tim Indonesia yang hanya sekitar 6 bulan. Dan dalam 6 bulan itu juga ada kendala seperti membentuk formula pemain yang tepat. Jika dibandingkan dengan tim Thailand, mereka sudah mempersiapkan jauh lebih lama dibanding Indonesia, kurang lebih sekitar enam tahunan. Bahkan Thailand menerjunkan pasukan terbaiknya di piala AFF 2016 ini. Di samping itu tim Thailand juga memiliki pengalaman bertanding di kancah yang lebih luas lagi, bertarung dengan berbagai tim tangguh di berbagai iven internasional.

Kita bisa mengatakan bahwa pihak yang lebih siap biasanya adalah pihak yang memenangkan pertandingan. Dan ini berlaku untuk seluruh cabang olahraga. Oleh sebab itu, persiapan untuk menang harus dilakukan sejak dini. Salah satu contoh yang bisa dilihat di Sumbar adalah “manusia tercepat di Indonesia” yang juga atlet PON Sumbar 2016, Yaspi Boby. Boby sejak kecil sudah melatih dirinya dengan jalan kaki dari rumah ke sekolah sepanjang 5 kilometer untuk pergi dan pulang. Dan rumahnya pun terletak di atas bukit.

Terkait dengan ungkapan “yang siap yang menang”, beberapa waktu lalu di Gubernuran saya melepas beberapa pemain sepakbola yang masih belia untuk mengikuti pertandingan di Yogyakarta. Mereka adalah hasil seleksi dari seluruh wilayah di Sumbar dan merupakan pemain belia potensial. Mereka tergabung di Forum Sekolah Sepak Bola Indonesia (FSSBI) Sumbar. Info terakhir yang saya dapatkan, mereka lolos ke 16 besar dan satu-satunya dari Sumatera yang lolos. Ini patut diapresiasi. Harapan saya, mereka memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menjadi pemain bola handal kelak.  Jika saat ini usia mereka sekitar 12 tahun, maka dengan persiapan yang cukup dan bertanding di berbagai kejuaraan kelak pada usia 18 tahun mereka sudah semakin matang dan berkualitas.

Sementara itu, selaku Ketua Umum Inkanas Sumbar saya juga berusaha menyiapkan atlet karateka sejak belia. Tiga orang dari Pengurus Pusat Inkanas pada akhir tahun 2016 saya minta datang ke untuk melakukan pencarian bakat muda di beberapa kota di Sumbar. Mereka, para bibit muda ini akan dilatih dan dibina serta dipersiapkan untuk menjadi atlet karate Inkanas yang potensial.

Saya yakin bahwa untuk menghasilkan atlet karateka yang berkualitas nasional maupun  internasional perlu persiapan sejak dini. Selain itu, para atlet yang sudah tidak belia lagi juga tetap harus sering mengikuti kejuaraan sehingga bisa lebih diasah lagi kemampuannya di lapangan. Dengan jam terbang yang memadai, insya Allah akan dihasilkan atlet-atlet yang potensial.

Kesuksesan akan diraih oleh orang-orang yang memiliki persiapan. Baik kesuksesan di dunia maupun di akhirat. Ini adalah sunatullah atau ketetapan Allah SWT dalam kehidupan manusia. Semakin lama persiapannya, maka insya Allah semakin baik. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga menyampaikan pentingnya persiapan, yaitu persiapan menghadapi kematian.

Seorang lelaki dari kalangan Anshar bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?” Rasulullah menjawab, “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah, Tabrani, dan Al Haitsamy).

Jika mempersiapkan kematian saja merupakan bagian dari kecerdasan, maka tentunya dalam kehidupan pun setiap kita harus memiliki persiapan agar tercapai tujuan yang diinginkan. Sehingga insya Allah kita bisa meraih kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat. Semoga masing-masing kita memiliki persiapan yang cukup untuk kesuksesan hidup di dunia dan juga di akhirat. Aamiin. ***

Padang Ekspres, 4 Januari 2016

197. 2017-01-11 [Singgalang] Jabatan, Amanah Allah

JABATAN, AMANAH ALLAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Akhir Desember 2016 lalu, pemerintahan daerah di Indonesia, termasuk di Sumbar diramaikan dengan pelantikan pejabat eselon 2, 3 dan 4 baru sebagai akibat adanya aturan baru tentang pembentukan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Pelantikan pejabat OPD baru adalah amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah No. 18  Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, Peraturan Daerah (Perda) No. 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah, dan Peraturan Gubernur (Pergub) Sumbar No. 68 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat dan juga Pergub tentang Dinas Daerah, Badan Daerah dan Inspektorat Daerah

Dengan OPD baru ini maka muncul konsekuensi yaitu adanya pengurangan sejumlah jabatan eselon 2 dibanding dengan kondisi sebelumnya.  Demikian pula untuk eselon 3, sedikitnya berkurang 56 orang. Serta untuk eselon 4, sedikitnya berkurang 106 orang. Belum lagi jika dimasukkan mereka yang berasal dari luar lingkungan Pemprov Sumbar yang melamar jabatan eselon 2 maupun memiliki potensi untuk masuk ke eselon 3 dan 4. Bisa juga terjadi promosi sehingga menambah deret pejabat yang nonjob.

Dengan kondisi yang demikian, maka banyak pejabat sebelumnya yang tidak lagi menjabat karena OPD baru ini. Saya bisa memahami berbagai rasa yang berkecamuk pada diri mereka, baik yang masih tetap menjabat, tidak lagi menjabat, maupun baru menjabat. Namun inilah sebuah konsekuensi dari aturan baru yang ada. Semoga peristiwa ini bisa dipahami sebagai sebuah ketentuan Allah SWT terhadap karir kerja kita. Dalam kehidupan manusia, kita tidak bisa melawan ketentuan Allah SWT.

Perubahan posisi jabatan pun bisa berubah cepat dengan berbagai pertimbangan. Sebagai contoh, ada tiba-tiba nama yang dihapus menjelang pelantikan padahal sudah tertulis namanya di Surat Keputusan (SK). Ada pula yang tidak ada namanya di SK tiba-tiba masuk ke dalam nama calon pejabat yang akan dilantik. Dinamika seperti ini sesungguhnya merupakan ketentuan Allah SWT. Apalagi jika kita menganggap jabatan itu adalah amanah Allah SWT.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26).

Oleh karena itu, syukuri dan jalani dengan baik amanah jabatan bagi yang sudah dilantik, dan terima dengan ikhlas bagi yang tidak lagi menjabat. Karena sesungguhya boleh jadi ada kebaikan yang tidak kita ketahui saat ini, kelak Allah SWT akan tunjukkan melalui hikmahNya.

Jabatan adalah amanah dari Allah. Namun demikian, dalam proses memberikan amanah kepada seseorang, telah dilakukan mekanisme profesional berupa seleksi seperti penilaian kompetensi, kecukupan jenjang kepangkatan, profesionalitas, kapabilitas dan kapasitas. Mekanisme seperti ini dalam rangka mengikuti sunnatullah bahwa hasil terbaik diperoleh dari pemilihan dengan proses yang baik pula. Karena jika tidak mengikuti sunatullah, amanah itu akan menjadi sia-sia.

Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat (kehancuran).” Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakan menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah hari kiamat (kehancuran).” (HR. Bukhari).

Hadits ini senada dengan Firman Allah SWT dalam surat Al Ahzab ayat 72 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Oleh karena itu ada dua sisi yang harus dilihat dalam memandang amanah (jabatan) ini. Pertama, bahwa jabatan adalah amanah dari Allah SWT yang kelak dipertanggung jawabkan baik di dunia dan akhirat. Kedua, jabatan adalah amanah yang harus ditunaikan dengan benar dan penuh tanggung jawab karena sudah melewati proses seleksi guna mendapatkan hasil terbaik sehingga diharapkan mampu memberikan kebaikan kepada masyarakat banyak.

Mengakhiri tulisan ini, sebagai manusia kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Namun kita harus optimis menjalani kehidupan karena di balik duka ada suka, di balik sedih ada senang, yang artinya hidup itu memiliki dinamika. Demikian pula jabatan. Mungkin hari ini seseorang diberikan jabatan, namun bulan depan atau tahun depan jabatan itu mungkin lepas. Atau hari ini seseorang tidak memiliki jabatan, namun beberapa bulan kemudian atau mungkin beberapa tahun kemudian di diberikan jabatan. Oleh karena itu, tidak perlu sombong ketika menjabat dan tidak perlu sedih ketika tidak menjabat. Sebaliknya, laksanakan amanah jabatan sebaik-baiknya agar ketika Allah SWT kehendaki jabatan itu lepas, maka kita sudah melaksanakan yang terbaik. Jalani hidup dengan ikhlas agar Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik bagi kehidupan kita. ***

Singgalang, 11 Januari 2017

 

198. 2017-01-18 [Padek] Bencana Banjir

BENCANA BANJIR

Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 9 Januari 2016 lalu, saya bersama Pak Nasrul Abit (Wakil Gubernur) mengunjungi daerah yang terkena bencana banjir bandang. Kami membagi daerah kunjungan, saya ke Kab. Solok dan Pak Nasrul Abit ke Kab. Agam. Daerah yang saya kunjungi di Kab. Solok di antaranya adalah Nagari Surian, Nagari Lolo, dan Nagari Air Dingin. Saya juga membawa para Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait dalam rangka melihat langsung lokasi bencana dan langsung bisa diambil keputusan di OPD terkait penanganannya.

Terkait bencana yang terjadi di daerah tersebut, tanggap darurat yang telah dilakukan adalah melakukan evakuasi penduduk dengan diungsikan ke tempat aman serta diberikan bantuan kebutuhan sehari-hari. Sementara untuk infrastruktur, bagi jembatan yang rusak dilakukan perencanaan kegiatan pembangunan jembatan darurat, baik dengan besi maupun bahan seperti bambu. Bersamaan dengan itu, status darurat yang dinyatakan oleh pemerintah daerah setempat bisa menjadi pijakan bagi datangnya bantuan dari pusat maupun provinsi. Setelah tanggap darurat, maka akan dilakukan rehab-rekon. Rehab rekon ini membutuhkan data yang detil terkait apa saja yang dibutuhkan serta survei teknis sehingga infrastruktur yang rusak bisa dibangun kembali dengan lebih baik dan bersifat permanen.

Penanggulangan banjir perlu dilakukan secara serius karena merupakan bencana yang terjadi setiap tahun. Banjir kali ini yang menimbulkan bencana bagi masyarakat disebabkan adanya curah hujan yang cukup tinggi sehingga menyebabkan volume air di sungai meningkat. Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah memberi peringatan bahwa curah hujan dengan volume yang cukup tinggi akan terus terjadi sejak Oktober 2016 hingga Februari 2017.

Terkait terjadinya banjir bandang, sejak seminggu sebelum terjadi bencana banjir, hujan tak henti-hentinya turun setiap hari sehingga menyebabkan permukaan sungai meninggi. Hal ini menimbulkan kerusakan berupa banjir, longsor dan lainnya. Peristiwa demikian terjadi berketerusan di Sumbar karena topografi Sumbar dengan alamnya yang terdiri dari pegunungan, bukit, hutan, jurang, berhadapan dengan samudera, berlokasi di ring of fire sehingga berbagai bencana akan terus terjadi di sini. Oleh karena itu, kita perlu memikirkan berbagai cara penanggulangannya.

Banjir bandang yang memunculkan lidah air adalah bahaya yang masih bisa ditanggulangi.  Penanggulangan yang bisa dilakukan adalah membersihkan hulu sungai dari tumpukan kayu-kayu dan batu-batu yang membentuk bendungan alami. Bendungan alami ini di saat hujan terus menerus kelak akan bobol sehingga menimbulkan lidah air dan terjadilah banjir bandang. Berbeda dengan banjir yang terjadi akibat luapan air sungai. Pada awalnya air akan melebar karena luapan, namun surut kembali. Bahaya yang ditimbulkan adalah terendamnya daerah sekitar sungai, baik bangunan rumah, sekolah, jalan, maupun sawah. Banjir seperti ini antisipasinya adalah tidak membuat bangunan di dekat sungai.

Jika pemerintah daerah terkait rutin melakukan pembersihan di hulu sungai, dan rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya membangun di sekitar sungai, insya Allah masyarakat akan terhindar dari bencana banjir. Pemerintah daerah bisa mengajak serta pihak yang berkompeten dalam hal ini, seperti pecinta alam maupun dari TNI/Polri. Di samping itu, pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan masyarakat juga bisa melakukan pemeriksaan ketika curah hujan mulai meninggi sehingga bisa mencegah terjadinya banjir bandang.

Untuk itu, saya tak bosan-bosannya memberitahukan kepada para kepala daerah kabupaten/kota dan intansi terkait untuk melakukan berbagai antisipasi menghadapi datangnya bencana yang akan timbul, terutama bencana yang masih bisa dihindari. Banjir bukanlah gempa atau tsunami yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya. Banjir bisa diprediksi terjadi ketika curah hujan terjadi sangat lebat, tanpa henti berhari-hari.

Selain usaha dari pemerintah, peran masyarakat juga sangat membantu mencegah dampak banjir. Masyarakat bisa membentuk komunitas peduli banjir sehingga bisa terbentuk jejaring komunitas yang lebih luas. Wali nagari juga perlu aktif menghimbau warganya agar lebih sensitif melihat tanda-tanda alam, yaitu jika hujan terjadi terus menerus harus melakukan antisipasi yang diperlukan.

Di samping itu sosialisasi tentang banjir ini melalui media seperti radio juga perlu digencarkan. Jika selama ini sosialisasi tentang gempa dan tsunami sudah cukup rutin dilakukan di radio, maka sosialisasi banjir pun perlu dilakukan, karena intensitasnya terjadi hampir setiap tahun.

Ungkapan “Alam takambang jadi guru” mengajak kita berpikir bagaimana alam mengajari kita untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada kehidupan kita. Allah berfirman dalam surat Ar Ra’d ayat 11 yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Sebagai manusia, kita diminta memaksimalkan kekuatan kita untuk memikirkan cara mengatasi berbagai masalah yang terjadi, termasuk menanggulangi banjir. Karena tanpa aksi yang nyata, bencana banjir itu akan terus terjadi. Semoga kita semua bersama-sama bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik dengan mencari berbagai solusi dan melakukan berbagai antisipasi menanggulangi banjir. ***

Padang Ekspres, 18 Januari 2017

 

199. 2017-01-25 [Padek] Spirit Bersama Membangun Daerah

SPIRIT BERSAMA MEMBANGUN DAERAH

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 25 Januari 2017 ini Padang Ekspres (Padek) genap berusia 18 tahun. Sebuah waktu yang cukup panjang dan penuh dengan sejarah dan dinamika bagi segenap jajaran kru Padek. Dan tentu juga bagi para pembacanya yaitu masyarakat Sumatera Barat khususnya, dan Indonesia umumnya. Tak terkecuali juga bagi para stake holders terkait, di antaranya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang telah bekerjasama dengan Padek selama ini. Saya turut mengucapkan selamat merayakan ulang tahun ke-18. Semoga Padek semakin lebih baik menampilkan jurnalisme yang profesional, konstruktif, kredibel, dan bertanggung jawab sehingga turut berpartisipasi aktif, terutama dalam hal mencerdaskan masyarakat.

Peran Padek dan juga media lainnya di Sumbar harus diakui sangat membantu Pemprov Sumbar dalam menginformasikan capaian-capaian pembangunan yang sudah, sedang dan akan dilaksanakan. Baik pembangunan fisik maupun non fisik. Tanpa adanya media, sulit bagi Pemprov untuk menyebarluaskan berbagai capaian pembangunan tersebut kepada masyarakat. Tanpa media, informasi pembangunan tidak diketahui masyarakat. Sehingga masyarakat menjadi apatis. Namun dengan berita-berita yang banyak beredar di media, menyebabkan masyarakat turut bepartisipasi aktif menyukseskan pembangunan di Sumbar.

Saya masih ingat ketika awal menjadi Gubernur di periode pertama, kerja keras membangun kembali Sumbar dibantu peran media, termasuk Padek. Dalam hal penyaluran bantuan rehab rekon rumah-rumah penduduk, infrastruktur, sekolah, rumah ibadah, kantor pemerintah, dengan peran media yang konstruktif dan informatif menjadikan masyarakat mengetahui informasinya sehingga andil masyarakat dalam rehab rekon Sumbar turut mempercepat pemulihan tersebut.

Berbagai pemikiran saya selaku Gubernur yang merupakan bentuk penyampaian kepada publik berupa informasi pembangunan, klarifikasi, maupun penjelasan sebuah kebijaksanaan, difasilitasi oleh beberapa media, di antaranya oleh Padek dengan dimuat di Teras Utama.  Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Media juga turut menjaga nilai-nilai budaya, adat, dan agama yang ada di Sumbar. Berbagai berita tentang penyakit masyarakat yang terjadi di Sumbar adalah bagian dari penyebaran informasi kepada masyarakat agar lebih meningkatkan kontrol sosial yang ada di lingkungan mereka. Tanpa adanya berita demikian, sulit bagi masyarakat untuk mengetahui apa yang terjadi di wilayah mereka.

Selain itu, dengan wilayah yang potensi bencananya berbagai macam, Padek dan media di Sumbar telah berperan aktif membantu masyarakat menyampaikan informasi seputar antisipasi bencana sehingga lambat laun dengan informasi yang semakin banyak ini masyarakat semakin mampu beradaptasi dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang terjadi. Sehingga hal ini semakin memudahkan pemerintah untuk menelurkan program penanggulangan bencana dan kebijakan terkait.

Berbagai hasil-hasil pembangunan fisik dan non fisik yang secara khusus ditampilkan di halaman Padek turut berperan memberikan informasi yang sejujurnya kepada masyarakat seperti infrastruktur, sumberdaya air, pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kelautan, pemberdayaan perempuan, kesehatan, pendidikan, sosial keagamaan, kerjasama rantau, seni dan budaya, dan bidang lainnya. Sehingga tanggapan positif dari masyarakat ini turut menyemangati kami untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Di samping, kami juga menerima masukan dan kritikan konstruktif dari masyarakat.

Selain itu, kritikan konstruktif yang disampaikan Padek juga turut membantu kami untuk mengoreksi dan memperbaiki berbagai hal yang dianggap kurang baik atau tidak pada tempatnya. Hal ini juga selaras dengan bunyi pasal 3 UU No. 40 Tahun 199 tentang Pers, “Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial”.

Dengan adanya kegiatan sertifikasi wartawan yang diadakan oleh instansi berwenang, semoga semakin meningkatkan kualitas dan profesionalisme Padek dan juga wartawan lainnya di Sumbar. Karena tidak dipungkiri, masih ada saja satu-dua oknum wartawan atau media yang menyalahi aturan yang ada dalam UU Pers, sehingga menyebarkan berita yang destruktif dan berbau fitnah. Dalam pasal 5 ayat 1 UU Pers disebutkan, “Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah”.

Mengakhiri tulisan ini, saya turut mendoakan Padek ke depannya semakin berjaya dan mampu beradaptasi di tengah iklim yang cepat berubah. Untuk itu dituntut manajemen perusahaan yang profesional dan juga jurnalisme yang sesuai dengan semangat UU Pers. Pemprov Sumbar siap bekerja sama dengan Padek untuk bersama-sama membangun Sumbar dalam rangka mewujudkan masyarakat Sumbar yang madani dan sejahtera.

Padang Ekspres, 25 Januari 2017

 

200. 2017-01-31 [Singgalang] Kunjungan Kerja ke Norwegia

KUNJUNGAN KERJA KE NORWEGIA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 11 Januari 2017 lalu saya bersama rombongan bertolak dari Padang menuju Jakarta untuk selanjutnya ke Norwegia. Kunjungan kerja saya ke Norwegia ini dalam rangka memenuhi undangan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Norwegia Bpk. Yuwono A. Putranto. Undangan yang dimaksud di antaranya adalah sebuah promosi terpadu travel fair Reisetivmessen di Oslo tanggal 13-15 Januari 2017 dan promosi mandiri di Wisma Duta pada 16 Januari 2017. Selain itu juga disebutkan adanya peluang investasi dan peluang kerjasama dengan Norwegia.

Travel fair ini dipenuhi 350 anjungan yang memamerkan destinasi wisata dari 120 negara. Anjungan Indonesia menempati area seluas 30 meter persegi dan terletak di jalan utama yang terletak dekat dengan panggung utama, tema utamanya adalah pariwisata, kuliner dan kesenian dari Provinsi Sumbar. Tak kurang dari 40.000 pengunjung yang berasal dari dunia usaha, media dan publik di Norwegia, juga negara-negara Nordik hadir di acara ini.

Dengan tema utama Provinsi Sumbar dan sesuai permintaan Dubes RI untuk Norwegia, kami juga mengirimkan tim kuliner dan tim tari ke Norwegia. Dan di antara peserta pameran, Indonesia mendapat peran paling besar dalam eksposisi promosi di panggung utama. Tidak kurang dari 6 sesi penampilan tarian (9 jenis tarian dan monolog/musik) dan juga diikuti promosi food testing untuk 7 jenis masakan dari Sumbar. Bumbu rendang dan ayam dari Sumbar yang diimpor oleh sebuah perusahaan Norwegia dikabarkan beredar di Norwegia pada akhir Januari 2017.

Penampilan tarian dari Sumbar tersebut ternyata membuat cemburu beberapa negara seperti Malaysia dan Thailand yang tidak menampilkan keseniannya. Selain pertunjukan tarian, kami juga melakukan promosi kuliner berupa pemberian makanan gratis, di antaranya rendang, dendeng dan ayam goreng. Makanan ini habis dinikmati oleh pengunjung yang datang. Ada pengunjung yang datang hingga 4 kali karena sangat suka dengan makanan yang kami tawarkan. Audun Kvitland yang populer dengan lagu Nasi Padang juga hadir bersama kami, selain menyanyikan lagu Nasi Padang juga membantu memandu pengunjung.

Tim kuliner bekerja keras, sejak jam 5 pagi hingga jam 11 malam mereka memasak menyiapkan makanan, padahal waktu subuh di sana sekitar jam 7.30 pagi dan waktu maghrib sekitar jam 3 sore. Demikian pula tim tari yang tampil 2 kali dalam sehari. Peragaan alat musik talempong juga turut menarik perhatian pengunjung yang datang. Bahkan di portal online setempat, promo wisata, kuliner dan budaya Sumbar sempat menjadi trending topic no. 2, dan juga radio dan TV Norwegia.

Di samping promosi pariwisata yang terdiri dari tim kuliner dan tim tari, kami juga ada tim investasi. Beberapa kegiatan tim tersebut di antaranya, rapat dengan Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia. Selama ini Norwegia sdh memberikan bantuan untuk Sumbar sejak tahun 2013 untuk tata kelola hutan. Lalu kami juga bertemu Vice President SN Power (BUMN Norwegia) terkait peluang investasi kelistrikan hidro power.

Kemudian kami bertemu dengan Kjersti Gravningen, membicarakan teknologi dan hasil riset untuk meningkatkan produktivitas ikan.  Kami juga mengadakan teleconference dengan Institute Marine Research, lembaga riset kelautan di bawah pemerintah Norwegia. Lima proposal kami masukan via Kementerian Luar Negeri RI ke Kedubes RI di Norwegia. Kami juga mengadakan sharing dengan Aqua Optima, berdiskusi mengatasi kematian ikan dan budidaya ikan kerapu dan kakap putih. Pembahasan vaksin terhadap bakteri dan virus pada ikan kami lakukan dengan Pharmaq, Zoetis Group.

Selain itu, kunjungan kami ke Wakil Menteri Pendidikan dan Riset Norwegia, membicarakan pendidikan karakter dan pendidikan vokasional bidang kelautan dan perikanan. Penjajakan kerjasama juga kami bicarakan dengan Aker Solutions dalam hal mengubah limbah industri dan karbon menjadi bernilai ekonomi bagi Sumbar. Kami juga bertemu dengan Direktur Norwegian Agency for Development Ooperation (NORAD), membahas proposal proteksi hutan, lingkungan hidup, carbon captured storage dan perikanan.

Upaya kami bersama rombongan dalam promosi pariwisata dan kuliner Sumbar dan juga mencari investor untuk berbagai sektor, kerjasama dengan LSM, Swasta dan BUMN Norwegia, tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya menyadari bahwa untuk membangun Sumbar dengan dana sendiri (APBN dan APBD) tidaklah cukup, perlu dana dari pihak ketiga (investor) untuk membiayai program-program pembangunan di berbagai bidang. Demikian pula untuk membangun Sumbar tidaklah bisa dengan orang yang ada di Sumbar, harus melibatkan orang luar yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan.

Demikian pula dengan pariwisata. Kita harus jemput bola ke luar memperkenalkan potensi pariwisata yang ada agar orang mau berkunjung ke tempat kita. Jika negara-negara yang sudah lebih maju tetap melakukan promosi pariwisata, maka tentunya Sumbar dan juga Indonesia harus melakukan upaya serupa guna menarik wisatawan datang kemari.

Semoga dengan ikhtiar ini, pembangunan di Sumbar bisa semakin pesat dan berdampak kepada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Dan berbagai kerjasama dan investasi yang sudah ada di Sumbar kita harapkan bisa tetap bertahan, meningkat dan memberikan multiplier effect bagi perekonomian Sumbar. ***

Singgalang, 31 Januari 2017

 

201. 2017-02-07 [Padek] Cabai dan Inflasi

CABAI DAN INFLASI

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 24 Januari 2017 lalu saya mengikuti High Level Meeting, rapat Tim Pemantauan dan Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumbar di Kantor BI Perwakilan Sumbar. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala BI Perwakilan Sumbar, Pemkab/Ko se-Sumbar, dan dinas terkait. Salah satu bahasan yang cukup hangat adalah kenaikan harga cabai. Kota Padang menduduki posisi keempat inflasi tertinggi secara nasional dan kedua di Sumatera.

Dari data BPS Sumbar dapat dilihat bahwa cabai adalah komoditi yang menyumbang inflasi cukup signifikan. Menurut data BPS, untuk inflasi bulan November 2016 di Padang sebesar 1,13%, cabai dan beras menyumbang angka terbesar. Cabai menyumbang 0,90% dan beras 0,15%.

Sedangkan jika melihat angka inflasi Sumbar tahun 2016 sebesar 4,89% (yoy), cabai merah dan beras menyumbang inflasi sebesar 44% dan 7%. Inflasi di Sumbar tahun 2016 lebih tinggi dari nasional yaitu 4,89% (yoy) dibanding 3,02% (yoy). Penyebab dominannya adalah gangguan produksi akibat cuaca dan kenaikan tarif angkutan udara pada saat perayaan hari besar keagamaan.

Dari sisi kebutuhan, cabai adalah termasuk yang permintaannya tinggi di Sumbar. Karena memang orang Minang menjadikan cabai sebagai komponen utama dalam menu wajib makanan sehari-hari mereka. Sehingga makan tanpa ada komponen cabai di menu rasanya ada yang tertinggal.

Upaya mengendalikan cabai dengan mengandalkan pasokan dari petani tidak bisa dilakukan seperti halnya memasok beras. Jika untuk beras, berbagai cara bisa dilakukan pemerintah untuk menanganinya. Di antaranya meningkatkan peran penyuluh, pembuatan sawah baru, pemberian benih dan pupuk, mekanisasi alat pertanian, dan perbaikan irigasi. Dan ini sudah terbukti mampu meningkatkan produksi beras. Dan tidak hanya beras, beberapa komoditas seperti bawang merah juga bisa dilakukan pendekatan semacam ini.

Sedangkan cabai, petani tidak bisa didesak menanam cabai untuk menyiapkan pasokan. Karena selain butuh kondisi cuaca tertentu, perawatannya juga rumit. Jika terjadi hujan lebat atau ketika musim hujan, cabai sulit tumbuh. Cabai akan busuk atau tidak berbuah, sehingga terjadi kegagalan panen.

Sedangkan ketika menanam cabai di musim  kemarau, bisa tumbuh lebih baik, namun terjadi panen serentak di berbagai tempat. Sehingga harga cabai pun turun, sesuai hukum permintaan. Yaitu jika barang sedikit tapi permintaan banyak, maka harga semakin mahal. Jika barang banyak dan permintaan tetap atau makin sedikit, maka harga semakin murah. Dengan kondisi seperti ini, Sumbar memenuhi kebutuhan cabai dari daerah lain seperti Rejang Lebong (Bengkulu) dan Jawa Tengah.

Cabai yang dihasilkan petani di Sumbar sebenarnya ada, yaitu cabai kualitas premium, dan harganya tinggi, namun lebih banyak dijual ke luar Sumbar. Sedangkan cabai yang biasa atau non premium, didatangkan dari luar Sumbar.

Secara umum, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan karakter petani di Sumbar yang cenderung pragmatis dalam menanam, maka sulit mendapatkan pasokan cabai dengan jumlah besar dari petani di Sumbar. Pemerintah melihat situasi dan kondisi yang demikian, kemudian mencari solusi yang bisa dilakukan. Karena pendekatan yang sudah dilakukan selama ini ternyata dipandang belum berhasil.

Salah satu pendekatan baru itu di antaranya adalah dengan menggerakkan masyarakat untuk menanam cabai. Benihnya dalam bentuk polybag yang sudah berisi  pupuk dan tanah yang sudah disediakan pemerintah, dan dibagikan secara gratis. Sehingga diharapkan masyarakat meletakkan sedikitnya 20 buah polybag di pekarangan rumah mereka.

Masyarakat tidak perlu merawat secara khusus karena di polybag tersebut sudah tersedia pupuknya. Jika kondisi kemarau, maka hanya perlu disiram. Dan jika kondisi hujan, tidak perlu lagi disiram. Cukup praktis. Dengan gerakan semacam ini, masyarakat diharapkan tidak perlu membeli cabai, cukup memetik dari pekarangan rumah mereka.

Pembagian bibit cabai dengan polybag beberapa waktu lalu dilakukan kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) bekerjasama dengan PKK Prov. Sumbar yaitu sebanyak 150.000 bibit cabai untuk masyarakat. Dengan pembagian ini, setidaknya puluhan ribu masyarakat akan bisa menikmati sendiri cabai di rumah mereka. Selain kepada masyarakat, direncanakan pula pembagian bibit cabai kepada pelajar SMA di Sumbar.

Ini baru dari satu pihak yang memberi bibit cabai, insya Allah akan ada lagi pemberian melalui dana APBN,  APBD Provinsi, dan juga keterlibatan swasta dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility).

Mudah-mudahan dengan adanya gerakan menanam cabai ini bisa membantu masyarakat memenuhi kebutuhan cabai di rumah tangga mereka. Selain itu, dengan adanya gerakan menanam cabai diharapkan harga cabai di pasaran kembali stabil sehingga inflasi pun berkurang. Insya Allah jika kita bersama-sama mendukung gerakan menanam cabai ini, akan menghilangkan cabai sebagai momok inflasi yang terjadi selama ini.***

Padang Ekspres, 7 Februari 2017

 

202. 2017-02-14 [Singgalang] Tekad Pemprov Membangun Pembinaan Umat Melalui Ulama

TEKAD PEMPROV MEMBANGUN PEMBINAAN UMAT MELALUI ULAMA

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Saya tidak menduga bahwa berita tutupnya Kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sumbar karena masalah anggaran sudah membuat heboh dan menimbulkan keributan serta menjadi bahan pembicaraan masyarakat banyak. Bahkan kehebohannya sudah sampai hingga ke pelosok negeri dan juga mancanegara. Di media sosial, bahkan sudah menjadi pembahasan pro kontra yang cukup hangat. Ada yang bertanya kepada Gubernur dan ada juga yang menyalahkan Gubernur/Pemprov melalui media sosial tersebut.

Saya mohon maaf jika tidak sempat untuk menjawab dan membalas satu persatu berbagai pertanyaan tersebut. Karena kesibukan saya di dunia nyata (offline), sehingga tidak bisa sering membuka ponsel untuk mengunjungi dunia maya (online). Selama ini saya menggunakan ponsel lebih difokuskan untuk komunikasi dengan  para pejabat organisasi perangkat daerah (OPD) yang menyangkut pekerjaan, juga untuk setoran bacaan Al Quran harian serta berbagai informasi dengan keluarga melalui aplikasi Whats App. Sehingga, jika ada pesan-pesan masuk dari media sosial, staf saya yang kadang menyampaikan.

Jawaban yang sudah disampaikan secara umum melalui akun facebook saya dan juga klarifikasi secara resmi dari OPD Pemprov, semuanya berkisar tentang aturan yang berlaku. Tidak adanya  anggaran untuk MUI, bukan karena ‘mau atau tidak mau’ membantu MUI atau ormas lainnya, tetapi ini adalah masalah aturan perundang-undangan yang mengatur tentang hibah kepada ormas.

Semenjak saya menjabat Gubernur di tahun 2010, dana untuk MUI Sumbar sudah dianggarkan melalui APBD yang sudah disetujui oleh DPRD Provinsi Sumbar. Dana untuk MUI Sumbar di tahun 2010, 2011, dan 2012 dianggarkan di APBD Provinsi. Tetapi karena ada Permendagri No. 32 Tahun 2011 dan Permendagri No. 39 Tahun 2012 yang di antara isinya adalah melarang hibah kepada ormas setiap tahun, maka di tahun 2013, MUI Sumbar tidak mendapat hibah. Tetapi Pemprov Sumbar tetap menganggarkan beberapa kegiatan MUI Sumbar melalui Biro Binsos (Bina Sosial) Pemprov. Bantuan kepada MUI Sumbar yang disalurkan melalui kegiatan di OPD, sesuai dengan aturan yang ada, mesti dianggarkan dan dikelola oleh OPD (Pemerintah) yang bersangkutan, bukan oleh Ormas.

Di tahun berikutnya (2014), MUI Sumbar dibolehkan mendapat hibah setelah tahun 2013 tidak mendapat hibah. Gubernur dan DPRD Provinsi menganggarkan di APBD 2014 sebesar Rp700 juta. Namun sekitar setengah dari uang tersebut dikembalikan ke kas daerah disebabkan tidak terlaksananya program oleh MUI Sumbar pada tahun berjalan. Tahun 2015, MUI tidak mendapat hibah, karena tahun 2014 sudah dapat dan tidak bisa setiap tahun. Semestinya pada tahun 2016, MUI kembali mendapat hibah. Tapi kenyataannya tidak ada. Untuk hal ini, saya tidak tahu persis apa yang terjadi, karena saya sudah tidak lagi menjabat Gubernur sejak 15 Agustus 2015 sampai 12 Februari 2016. Namun jika dilihat kemungkinan sebabnya bisa beberapa hal, karena aturan melarang atau tidak ada usulan kegiatan dari MUI Sumbar sendiri, atau juga masalah lainnya.

Di tahun 2017, berbeda dengan tahun sebelumnya, karena rujukan aturan hibah juga harus mempedomani UU No. 23 Tahun 2014 pasal 298, yang mengatur hibah/bansos dapat  diberikan setelah terpenuhinya urusan wajib dan urusan pilihan. Ternyata APBD Prov Sumbar tahun 2017 tidak memenuhi urusan wajib dimaksud. Sehingga melalui  Keputusan Mentri Dalam Negeri Nomor: 903-10297 Tahun 2016 tentang Evaluasi Rancangan Perda Prov Sumbar tentang APBD 2017, Pemprov Sumbar, dilarang memberikan hibah/bansos. Pelarangan pemberian hibah ini ditujukan kepada semua lembaga dan ormas. Anggaran yang telah disediakan untuk hibah tersebut disarankan agar dialihkan untuk belanja infrastruktur/belanja modal.

Melihat hal yang demikian, kami di pemerintahan akan selalu patuh dan taat dengan aturan yang berlaku. Selain aturan hibah, juga ada Surat Edaran Mendagri dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang mengingatkan Kepala Daerah untuk mendistribusikan hibah secara baik dan sesuai aturan. Sudah banyak Kepala Daerah dan masyarakat terjerat hukum terkait dana hibah/bansos ini. Bahkan salah seorang mantan Ketua MUI Sumbar pernah dihukum dan masuk penjara karena masalah hibah dari Pemprov kepada MUI Sumbar.

Sikap kehati-hatian ini tidak berarti kami menolak membantu MUI Sumbar atau tidak suka kepada Ulama. Ulama adalah manusia yang dilebihkan derajatnya oleh Allah SWT karena ilmunya. MUI Sumbar adalah lembaga milik umat Islam yang jelas kontribusinya kepada umat dan Islam. Hal ini tak bisa diperdebatkan. Ketiadaan anggaran  untuk MUI Sumbar,  tidak ada kaitannya dengan mendukung atau tidak mendukung MUI Sumbar, tetapi semata karena aturan. Bukan berarti Gubernur harus berani cari terobosan, karena dalam pemerintahan sudah ada aturan main. Juga bukan berarti Gubernur hanya main aman atau Gubernur kurang kreatif. Kita harus ikut aturan dalam mendistribusikan uang rakyat. Untuk itu saya mengajak kepada pihak non pemerintah (masyarakat) untuk turut berpartisipasi membantu MUI Sumbar tanpa terikat dengan aturan-aturan yang ada.

Aturan dan perundangan yang mengatur tentang hibah ini berlaku di seluruh Indonesia. Masing-masing daerah punya kemampuan keuangan yang berbeda. Kami tidak tahu persis jika di daerah lain bisa memberikan dana hibah kepada MUI, mungkin mereka dibolehkan oleh Mendagri (bagi Provinsi), karena telah memenuhi syarat. Tapi yang jelas untuk APBD Prov Sumbar 2017, Mendagri melarang memberikan hibah, karena dananya tidak cukup untuk alokasi pembangunan infrastruktur dan tidak memenuhi aturan yang ada.

Kami sebagai orang pemerintah, melihat seluruh aturan dan perundangan tentang hibah, sebagai upaya menertibkan dan mengatur secara baik tentang hibah agar kepentingan rakyat secara umum terperhatikan. Disinyalir, jika ada hibah tanpa aturan, akan ada oknum yang bisa menyelewengkan dananya sehingga akhirnya merugikan rakyat.

Kami melihat hikmah yang besar atas peristiwa ini. Begitu banyak masyarakat yang peduli dengan MUI Sumbar sehingga banyak yang tergerak untuk memberikan bantuan. Kami secara pribadi maupun atas nama pemerintah mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang tinggi atas simpati, perhatian dan dukungan masyarakat semua. MUI Sumbar milik kita bersama, tidak harus selalu pemerintah yang mendanai. Karena begitu banyak potensi umat yang bisa digalang untuk membantu MUI Sumbar. Para ulama di MUI Sumbar pastilah punya jamaah yang bisa memberi bantuan untuk membantu urusan dakwah para ulama seperti membangun masjid atau pesantren. Tentu juga mereka akan bisa membantu bila diarahkan untuk kebutuhan organisasi MUI.

Pemerintah memiliki banyak kendala karena aturan. Pemerintah tidak bisa meminta kepada perusahaan misalnya, membantu MUI Sumbar, walaupun melalui CSR (corporate social responsibility) nya. Karena CSR juga ada aturannya dan merupakan kewenangan perusahaan, bukan merupakan otoritas Gubernur. Meminta perusahaan membantu pun bisa dianggap gratifikasi. Apalagi jika diminta pemerintah untuk ‘mencari cari’, akan semakin melanggar aturan.

Insya Allah kami dari Pemerintah Daerah siap selalu dan tetap akan mendukung MUI Sumbar dan seluruh ormas yang mendukung kepentingan rakyat. Untuk kepentingan rakyat, Pemerintah bersedia untuk terlibat. Di dalam RPJMD Prov Sumbar, juga di Visi dan Misi No 1, sudah tertulis menjadikan agama sebagai program utama pemerintah Provinsi.  Begitu juga dengan program destinasi wisata dan kuliner halal. Ini menjadi komitmen kami di Pemprov tanpa ada keraguan sedikitpun. Dan selama ini saya pun sudah dikenal masyarakat sebagai dai dan aktifis dakwah.

Dengan keterbatasan dana yang ada pun, sejak tahun lalu kami telah pinjamkan MUI Sumbar sebuah mobil Toyota Inova untuk operasional. Namun minggu lalu dikembalikan ke Pemprov dengan alasan tidak ada dana operasional. Sekali lagi, pemerintah tetap mengikuti aturan, bahwa kami tidak bisa menyediakan dana operasional untuk mobil tersebut.

Sebetulnya kami bisa memberikan bantuan kepada MUI Sumbar berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 151 Tahun 2014, pada pasal 4 ayat (2) itu.  Sesuai Perpres tersebut, kegiatan lembaga atau ormas bisa diakomodir oleh kegiatan dinas atau OPD terkait, asalkan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Tapi anggaran tersebut, berada di SKPD/OPD, bukan berupa hibah tapi dalam bentuk kegiatan. Tidak bisa untuk gaji pegawai, biaya listrik dan air.

Mungkin yang dibutuhkan oleh MUI Sumbar adalah gaji pegawai di Sekretariat MUI Sumbar. Sedangkan kantor MUI  Sumbar sudah bertempat di Masjid Agung Nurul Iman. Masjid ini merupakan milik Pemerintah, yang dikelola oleh Pemko Padang. Rasanya tidak ada bayaran untuk sewa dan juga listrik atau air. Tapi membayar uang kontribusi Rp1 juta setiap bulan kepada pihak masjid seperti halnya lembaga lain yang berkantor di sana.

Alhamdulillah, seluruh pegawai kami yang ada di pemprov telah menyetorkan zakatnya ke Baznas Provinsi yang jumlah totalnya saat ini sudah milyaran rupiah. Kami bisa meminta Baznas Provinsi untuk membantu MUI Sumbar. Bahkan kami juga telah menawarkan dana Baznas kepada MUI Sumbar. Tapi kabarnya Komite Fatwa MUI Sumbar belum sepakat menerima zakat untuk asnaf fi sabillillah. Baru dalam waktu dekat ini, direncanakan pada 18 Februari 2017 di Padang Panjang,  MUI Sumbar akan membahas dan memutuskan menerima atau tidak bantuan zakat dari Baznas Prov untuk MUI Sumbar. Bila MUI Sumbar dan ormas masih berkenan ingin mendapatkan bantuan hibah dari pemerintah provinsi, dipersilahkan hingga akhir Februari 2017 ini untuk mengajukan proposal ke Biro Bintal Kesra Pemprov, walaupun keputusan boleh tidaknya penggunaan anggaran, tetap menunggu dari evaluasi Kemendagri.

Demikian tanggapan saya terkait masalah anggaran MUI Sumbar. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada seluruh elemen masyarakat yang telah membantu MUI Sumbar. Dan saya pun mohon maaf apabila harapan masyarakat belum bisa dipenuhi. Semoga tulisan ini bisa menjawab pertanyaan masyarakat tentang hibah dan sekaligus mohon maaf tidak bisa menjawab satu persatu berbagai pertanyaan masyarakat. Semoga Allah SWT selalu meridhoi usaha kita. Aamiin.

Wassalam
Irwan Prayitno

Singgalang, 14 Februari 2017

 

203. 2017-02-17 [Padek] Pasca kebakaran Pasar Senen

PASCA KEBAKARAN PASAR SENEN

Oleh :  Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Beberapa waktu lalu, tepatnya 19 Januari 2017 sekitar jam 4.20 pagi terjadi kebakaran besar di Pasar Senen, Jakarta, sehingga menghanguskan sekitar 500 kios tempat usaha para pedagang di sana.  Tidak kurang 56 armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan lokasi kebakaran yang berada di Blok I dan III. Kerugian yang ditimbulkan cukup besar.

Setiap terjadi kebakaran, memang selalu menyisakan kesedihan bagi yang terkena, dan juga keluarga mereka. Tidak hanya di Jakarta, tetapi kebakaran di berbagai pasar di berbagai daerah pun selalu menimbulkan kesedihan.

Pedagang Pasar Senen, kebanyakan berasal dari etnis Minang, dengan jumlah tidak kurang dari 1.661 pedagang yang merupakan orang Minang. Dan yang menjadi korban kebakaran kemarin ini juga banyak orang Minang. Di satu sisi, lokasi kejadian berada di Jakarta, namun di sisi lain korbannya adalah para perantau Minang. Tidak kurang dari 600 orang Minang yang merasakan dampak kebakaran tersebut.

Berangkat dari kenyataan ini, maka kami di Pemprov, Gubernur dan Wakil Gubernur serta  bersama para kepala organisasi perangkat daerah dan jajarannya tergerak untuk membantu meringankan beban para pedagang ini yang tengah mengalami musibah kebakaran. Alhamdulillah terkumpul kurang lebih 150 juta rupiah. Dan ditambah dana dari Baznas Provinsi sebesar 150 juta rupiah. Sehingga totalnya menjadi 300 juta rupiah.

Dana bantuan kepedulian tersebut dibawa oleh Wakil Gubernur Sumbar, Bapak Nasrul Abit, dan diserahkan langsung kepada pedagang yang menjadi korban kebakaran pada 1 Februari 2017. Jika melihat jumlahnya memang tidak seberapa. Namun ini merupakan bentuk kepedulian kami di ranah kepada saudaranya di rantau yang tengah mendapat musibah.  Semoga sedikit tanda kepedulian ini bisa menggerakkan juga kepedulian sanak saudara lain, baik yang ada di ranah dan di rantau.

Selama ini saudara-saudara kami di rantau yang berada di berbagai wilayah dan negara sudah berkontribusi besar kepada pembangunan di kampungnya, yang berarti juga ikut membangun Sumbar. Jalan-jalan, masjid, sekolah, balai pertemuan dan sarana-prasarana lainnya banyak dibangun di Sumbar dengan dana yang berasal dari saudara-saudara di rantau. Maka tak salah pula kiranya kami pun di ranah ketika mendengar musibah yang menimpa saudara kami di rantau mencoba ikut peduli akan kesulitan mereka.

Dana yang kami berikan sebagai bantuan kepedulian memang tidaklah besar. Namun semoga kepedulian kami ini mampu memberikan semangat kepada mereka yang tertimpa musibah. Kami juga turut mendoakan agar Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik atas kejadian ini, dan semoga  saudara kami bisa bersabar dan kuat dalam menghadapi musibah ini.

Sebagai makhluk sosial, kita memang saling membutuhkan. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, ia akan membutuhkan pertolongan orang lain. Maka, ketika ada saudara kami yang tertimpa musibah, kami coba meringankan beban mereka, peduli dengan kesulitan yang mereka alami. Hal ini juga sesuai dengan ajaran Islam yang menyerukan saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan juga merupakan fitrah manusia untuk saling menolong dan berbagi antar sesama.

Selain itu kami meyakini bahwa Pemda DKI segera merealisasikan janjinya untuk memperhatikan nasib para pedagang korban kebakaran di Pasar Senen yang merupakan pasar tertua di Jakarta, yang waktu itu disampaikan oleh Bpk Sumarsono selaku Plt Gubernur DKI. Dan jika ada rencana terkait pasar seperti peremajaan atau perbaikan semoga bisa dibicarakan bersama-sama dengan pedagang sehingga tidak terjadi penggusuran atau kerugian bagi pedagang.

Semoga dengan saling bantu dan peduli, kita bisa bersama-sama melangkah membangun masyarakat yang madani dan sejahtera. ***

Padang Ekspres, 17 Februari 2017

 

204. 2017-02-23 [Singgalang] Pengukuhan Nasrul Abit sebagai Datuk

PENGUKUHAN NASRUL ABIT SEBAGAI DATUK

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 11 Februari 2017 lalu saya menghadiri undangan pengukuhan gelar datuk untuk Bpk Nasrul Abit (Wakil Gubernur Sumbar) di Aie Haji, Pesisir Selatan. Gelar yang diberikan kepada beliau adalah Datuak Malintang Panai. Saya turut bergembira dan menyampaikan apresiasi kepada beliau atas penganugerahan gelar tersebut.

Selaku Gubernur, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat, khususnya para ninik mamak, karena semenjak saya menjabat Gubernur di periode pertama dan kemudian periode kedua, sudah banyak undangan pengukuhan datuk yang saya datangi. Masyarakat begitu antusias dan semangat menyelanggarakan acara pengukuhan gelar datuk tersebut.

Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena acara pengukuhan datuk ini juga merupakan bagian dari pelestarian adat dan budaya Minang di satu sisi. Dan di sisi lain, acara pengukuhan datuk juga merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan selaku putra Minang. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi berbagai kegiatan pengukuhan gelar datuk yang tetap terpelihara hingga saat ini. Dan semoga kegiatan demikian akan tetap terus dilakukan oleh masyarakat.

Gelar datuk tidak semata-mata gelar, karena gelar datuk justru sebuah bentuk kepercayaan sebuah kaum kepada seseorang yang dihormati dan dianggap mampu memberikan teladan dan juga memecahkan masalah yang dihadapi kaum tersebut.  Sehingga jika fungsi datuk ini bisa dilaksanakan secara maksimal oleh mereka yang mendapatkannya, maka akan berkuranglah tugas aparat yang menjaga ketertiban masyarakat, seperti polisi, dan juga fungsi lainnya.

Datuk juga bertugas melindungi kaumnya dari masuknya budaya negatif yang akan menjauhkan mereka dari identitas adat budaya dan agama. Datuk juga bertugas agar kaumnya hidup sejahtera dengan memotivasi dan juga mencari solusi.

Tugas seorang datuk memang sungguh banyak dan juga berat. Oleh karena itu, jika seluruh datuk yang ada mampu secara maksimal melaksanakan tugasnya, maka kondisi masyarakat akan semakin baik kualitasnya. Kriminalitas, pengangguran, tawuran, penyakit masyarakat, insya Allah akan semakin mudah ditekan jika setiap datuk mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan pemerintah pun akan semakin terbantu sehingga bisa mempercepat proses pembangunan daerah.

Maka seorang datuk harus pula menjaga integritasnya agar mampu berdiri di tengah dan berlaku adil. Sehingga bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat dukungan dari kaumnya.

Terkhusus untuk Bpk Nasrul Abit, pengukuhan gelar kepadanya ini menurut saya suatu hal yang istimewa. Karena sebetulnya sudah lama sekali beliau diminta untuk menjadi datuk tetapi beliau tidak penuhi permintaan itu. Namun setelah tidak ada lagi orang yang bisa diangkat menjadi datuk di kaumnya, maka Bpk Nasrul Abit memenuhi permintaan tersebut.

Sebelum memenuhi permintaan pengangkatan datuk tersebut, Bpk Nasrul Abit juga bertanya kepada saya dan meminta pendapat saya. Maka saya memberikan pendapat bahwa sebaiknya beliau menerima permintaan kaumnya ini. Saya menyampaikan pandangan demikian karena sejauh yang saya amati, beliau adalah sosok yang memang sudah patut menjadi datuk.

Rekam jejak beliau selama ini di pemerintahan dan juga cara berkomunikasi dengan masyarakat, menurut saya sudah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi datuk.

Bpk Nasrul Abit dalam pandangan saya, bukanlah tipe orang yang menjadikan gelar datuk sebagai pemanjang nama saja. Tetapi lebih dari itu, beliau akan menjadikan nama datuk yang disandangnya sebagai sebuah amanah untuk memberikan kebaikan kepada masyarakat di kaumnya.

Semoga dengan pengalaman hidup yang sudah dialami oleh Bpk Nasrul Abit selama ini, terutama pengalaman di pemerintahan, insya Allah beliau akan mampu menjadi datuk yang baik di mata kaumnya. Aamiin. ***

Singgalang, 23 Februari 2017

 

205. 2017-03-03 [Padek] Gerakan Sumbar Membaca

GERAKAN SUMBAR MEMBACA

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 24 Februari 2017 lalu saya menghadiri acara Minang Book Fair yang bertempat di Masjid Raya Sumbar. Acara ini juga turut dihadiri oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI M. Syarif Bando, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Rozanti Rosalina, Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, mantan Wakil Menteri Pendidikan Fasli Jalal dan Musliar Kasim, Bupati/Wali Kota di Sumbar, Rektor PTN dan PTS di Sumbar, kepala OPD Prov. Sumbar, perantau, Ketua Umum Yagemi (Yayasan Gemar Membaca Indonesia) Firdaus Umar serta para stakeholders terkait.

Pada acara ini saya selaku Gubernur Sumbar mendapat penghargaan dari Perpustakaan Nasional RI dan Ikapi yaitu Piagam Literasi, diberikan kepada saya atas sumbangsih terhadap pengembangan literasi di Sumbar. Saya ucapkan terima kasih atas penghargaan ini. Semoga bisa semakin memotivasi saya ke depannya untuk mengajak masyarakat di Sumbar giat dan gemar membaca sehingga mempercepat kemajuan daerah.

Acara Minang Book Fair ini merupakan kegiatan positif yang bisa menarik minat masyarakat untuk giat membaca. Saya melihat antusiasme pengunjung yang datang ke acara tersebut. Acara ini juga memberikan peluang para penerbit buku untuk memperluas penjualan produk mereka. Semoga acara Minang Book Fair ini bisa dilaksanakan secara rutin sebagai salah satu wadah para pecinta buku, masyarakat dan juga penerbit, toko buku, distributor, penulis dan stakeholders untuk bertemu sehingga terjadi aktivitas yang saling menguntungkan.

Acara Minang Book Fair juga didukung oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Sumbar yang merupakan wujud dukungan pemerintah terhadap kegiatan yang bisa menggalakkan orang mencintai buku dan semakin gemar membaca. Saya berharap acara ini sukses terselenggara sehingga bisa memotivasi segenap masyarakat dan juga pemerintah untuk terus menggalakkan cinta buku dan gemar membaca. Dengan berbagai acara yang digelar seperti bedah buku dan talk show serta tabligh akbar membuat acara ini semakin menarik untuk dikunjungi.

Pada acara Minang Book Fair ini juga dicanangkan deklarasi Gerakan Sumbar Membaca di mana Gubernur mengajak Bupati dan Wali Kota juga Wali Nagari, Lurah dan Kepala Desa untuk menggerakkan masyarakat untuk gemar membaca dengan membelikan buku dari anggaran yang tersedia. Misalnya dari alokasi dana desa, dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kota, Kabupaten, Provinsi maupun dari perusahaan berupa CSR (Corporate Social Responsibility) serta APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) maupun bantuan dari perantau.

Mekanismenya, di setiap nagari, lurah atau desa akan disediakan buku di tempat yang bisa diakses oleh publik seperti perpustakaan masjid,  kantor wali nagari, atau tempat lainnya yang bisa diakses oleh publik. Targetnya, setiap orang yang ada di masing-masingnya keluarga yang sudah cukup umur bisa membaca dua buah buku dalam satu bulan, sehingga dalam satu tahun bisa membaca 24 buah buku.

Gerakan Sumbar Membaca membutuhkan dukungan dari seluruh pihak dan lapisan masyarakat. Karena jika hanya mengandalkan Pemprov Sumbar saja, memiliki keterbatasan jangkauan dan kemampuan. Tapi jika gerakan ini didukung oleh pemda di kabupaten/kota, stakeholders pendidikan, segenap lapisan masyarakat, pihak swasta, perantau, maka insya Allah gerakan ini akan membuahkan hasil.

Insya Allah, jika gerakan membaca ini bisa berjalan dengan baik, maka akan mempercepat kemajuan yang bakal diraih. Kemajuan yang dimaksud adalah hasil dari intensitas masyarakat membaca buku. Data dan fakta menunjukkan bahwa sebuah wilayah yang penduduknya gemar membaca dan banyak membaca buku maka wilayah tersebut mengalami kemajuan pesat.

Maka, selain kepada masyarakat melalui keluarga, Pemprov Sumbar juga akan berupaya memasukkan gerakan membaca ini kepada pelajar SMA dengan menugaskan Dinas Pendidikan Provinsi. Para pelajar akan ditugaskan membaca buku sebanyak dua buah dalam sebulan dan membuat intisari, ringkasan, atau sinopsis. Dan ini akan menjadi syarat untuk keluarnya nilai di rapor.

Memang ada kesan ini “dipaksa”. Namun ini sesungguhnya sebuah motivasi atau pembelajaran agar mereka semakin giat dan banyak membaca. Di samping itu, perpustakaan daerah dan sekolah pun akan diusahakan untuk diperbanyak jumlah bukunya guna mendukung gerakan membaca ini.

Jika kita membaca lagi sejarah, kita tentu tidak lupa dengan para tokoh dan pahlawan yang berasal dari ranah Minang, yang semuanya bisa dikatakan memiliki budaya membaca yang sangat baik sehingga mampu menjadi ulama terkenal, politisi handal, diplomat, intelektual, pujangga kenamaan, wartawan yang disegani, penulis terkenal dan profesi lain yang dimulai dengan budaya membaca yang baik. Maha Benar Allah yang menjadikan wahyu pertama berupa perintah untuk membaca yang terdapat dalam surat Al Alaq ayat 1.

Semoga Gerakan Sumbar Membaca yang ditujukan khususnya kepada masyarakat dan pelajar ini didukung oleh semua pihak sehingga bisa mempercepat kemajuan masyarakat di Sumbar. Dan dampak positifnya pun insya Allah akan kembali kepada masyarakat. ***

Padang Ekspres 3 Maret 2017

 

206. 2017-03-09 [Singgalang] Sepak Bola Sebagai Pemersatu

Sepak Bola Sebagai Pemersatu

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 2 Maret 2017 lalu saya turut memberikan dukungan kepada Semen Padang FC yang bertanding melawan Arema FC di GOR H. Agus Salim, Padang. Turut hadir pula pada kesempatan itu Kapolda Sumbar, jajaran Forkompimda, Dirut PT Semen Padang, Dirut Bank Nagari, Bupati Padang Pariaman, Anggota DPR RI dan juga dari kalangan partai politik.

Alhamdulillah pada pertandingan tersebut Semen Padang FC berhasil meraih kemenangan yang diperoleh melalui tendangan penalti. Pencapaian 8 besar yang disusul ke 4 besar di Piala Presiden sesungguhnya sebuah kebanggaan bagi masyarakat Sumbar. Saya mengapresiasi pencapaian ini.

Dan pada pertandingan tandang Semen Padang FC di kandang Arema pada 5 Maret 2017 lalu, Semen Padang mampu terlebih dahulu mencetak skor 2-0, meskipun pada skor akhir menjadi 2-5. Kepada pelatih utama Nil Maizar beserta jajaran official saya sampaikan apresiasi atas pencapaian yang sudah didapat Semen Padang FC. Insya Allah banyak hal yang bisa dijadikan hikmah dari peristiwa yang sudah dialami.

Saat ini, sepak bola adalah salah satu media yang mampu membangkitkan semangat masyarakat. Semen Padang FC yang membawa nama Sumbar mendapat dukungan penuh masyarakat Sumbar maupun perantau. Segala perbedaan apa pun yang ada di masyarakat mampu dihilangkan ketika memberikan dukungan kepada tim kebanggaan daerah mereka.

Sepak bola juga bisa menjadi wadah pemersatu dan memelihara semangat kebersamaan. Para tokoh politik yang memiliki perbedaan pendapat, kepentingan, dan pandangan, bisa bersatu untuk memberikan dukungan kepada tim sepak bola yang mereka dukung. Perbedaan yang kerap ada mampu ditiadakan demi untuk mendukung tim kesayangan. Ini dibuktikan dengan kehadiran pada tanggal 2 Maret di GOR Agus Salim, beberapa orang dari partai politik yang bersama-sama turut memberikan dukungan kepada Semen Padang FC. Di antara mereka yang hadir adalah H. Wen dari Nasdem, Refrizal dari PKS, Andre Rosiade dari Gerindra, Ali Mukhni dari PAN, dan lainnya.

Sepak bola mengajarkan sportifitas, kerja sama, kerja keras, sehingga memberikan aura positif kepada para pendukung timnya masing-masing. Dan aura positif ini sepertinya mampu masuk ke dalam sanubari masyarakat pendukungnya. Maka tak heran bila dalam memberi dukungan kepada tim kesayangan, kebersamaan dan persatuan mampu ditonjolkan.

Hal semacam ini sesungguhnya juga turut membantu jalannya pembangunan daerah. Oleh karena itu, pada periode pertama saya menjabat Gubernur telah dilakukan persiapan pembangunan stadion utama yang berlokasi di Kab. Padang Pariaman. Mudah-mudahan pada periode kedua saya menjabat Gubernur stadion utama tersebut bisa diselesaikan pembangunannya.

Adanya stadion yang representatif ini sebagai upaya pemerintah memfasilitasi pembangunan di bidang keolahragaan. Olah raga yang mengajarkan sportifitas seperti sepak bola mampu menjadi wadah pemersatu masyarakat. Dan dengan stadion yang memenuhi syarat, insya Allah akan membantu dunia persepakbolaan di Sumbar untuk  lebih maju lagi dan masyarakat pun bisa terpenuhi kebutuhannya akan stadion yang baik.

Menang atau kalah yang diterima oleh Semen Padang FC, saya yakin tetap mendapat dukungan dari masyarakat Sumbar. Apalagi sudah bisa masuk ke empat besar Piala Presiden yang merupakan prestasi tersendiri dan baru pertama kali. Persatuan dan kebersamaan masyarakat dalam mendukung tim kesayangannya ini adalah bagian penting untuk membangun kehidupan yang bermartabat dan harmonis di Sumbar.

Semoga dengan persatuan dan kebersamaan, kita juga bisa merasakan kebangkitan kembali persepakbolaan di Sumbar. Tidak bisa dipungkiri bahwa prestasi yang sudah diperoleh Semen Padang FC juga turut menjadikan masyarakat Sumbar bangga karena turut mengharumkan nama Sumbar di pentas nasional.  Mari kita doakan yang terbaik untuk sepak bola Sumbar. ***

Singgalang, 9 Maret 2017

 

207. 2017-03-16 [Padek] Pemanfaatan Lahan Pertanian

Pemanfaatan Lahan Pertanian

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 13 Maret 2017 lalu saya menghadiri acara rakor para penyuluh pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas komoditas pertanian di Hotel Kyriad Bumiminang, Padang. Rakor ini juga dalam rangka mendukung program pemerintah pusat untuk mencapai target swasembada pangan dengan melakukan upaya khusus (upsus) yang dimotori oleh Kementerian Pertanian. Hal ini sudah menjadi perhatian khusus pemerintah pusat, provinsi dan juga kota/kabupaten se Indonesia. Dan juga sudah masuk dalam RPJM Nasional dan Daerah tentang ketahanan pangan. Serta tertuang dalam Nawacita (Pemerintah Pusat) serta visi misi dan program prioritas (Sumbar).

Swasembada pangan dan ketahanan pangan dilakukan karena merupakan kepentingan rakyat banyak agar tidak terjadi kekurangan pangan. Oleh karena itu, program ketahanan pangan ini perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah provinsi, kota/kabupaten, perbankan, masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya. Untuk itu, hal yang sangat penting sekali adalah tersedianya lahan pertanian yang memadai.

Lahan yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian di satu sisi sesungguhnya masih cukup banyak. Namun tidak sedikit yang belum digunakan secara maksimal.  Hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Penyebabnya juga beragam, seperti belum masuknya jalur irigasi, pemilik lahan tinggal di luar provinsi (perantau), atau ketiadaan modal untuk menggarap. Selain itu, ada pula lahan yang baru saja panen namun setelah itu cukup lama dibiarkan.

Dengan melihat berbagai sebab tersebut dan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, pemerintah menyediakan peluang bagi mereka yang ingin menggarap lahan pertanian. Di antaranya ada KUR (Kredit Usaha Rakyat) untuk sektor pertanian, dan bantuan dari Kementerian Pertanian untuk mempercepat proses penanaman seperti penggunaan traktor. Juga program cetak sawah, bantuan benih, pupuk, penyuluh dan irihasi. Selain itu pemerintah pusat juga telah menggandeng TNI (Tentara Nasional Indonesia) untuk membantu terlaksananya pemanfaatan lahan pertanian sekiranya lahan yang ada dengan berbagai sebab tidak digarap sehingga kurang produktif.

Dalam pelaksanaannya, petani dan pemilik lahan bisa bekerjasama dengan berbagai pihak. Jika pemilik lahan tidak mengerjakan sendiri lahannya, maka bisa meminta bantuan atau bekerja sama dengan pihak lain yang memiliki kemampuan, misalnya kepada TNI yang selama ini sudah banyak berperan dalam mensukseskan program pemerintah. Pemilik lahan akan mendapat bagian dari hasil pengolahan lahannya. Berapa nilai besarannya, tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Pemerintah memang berkepentingan terhadap pemanfaatan lahan-lahan kosong dalam rangka ketahanan pangan. Berbagai cara sudah banyak dilakukan. Bahkan termasuk melakukan cetak sawah baru.  Dengan pertambahan jumlah penduduk, lahan pertanian turut mengalami pengurangan. Karena sebagian lahan tersebut digunakan untuk pembangunan pemukiman penduduk. Sebagian lagi digunakan untuk kepentingan umum seperti pembangunan jalan dan jembatan. Belum lagi lahan pertanian yang tidak terpakai secara maksimal.

Untuk itu, antisipasi yang dilakukan oleh pemerintah ini dengan menawarkan pengelolaan lahan pertanian bertujuan menjaga ketersediaan pangan masyarakat dan bagi pemilik lahan bisa mendapatkan keuntungan dari pengelolaan lahannya. Beras tersedia berarti tidak terjadi inflasi dan tidak perlu impor. Petani diuntungkan, rakyat pun untung.

Kondisi alam Indonesia yang dikaruniai tanah yang subur sudah sepantasnya disyukuri dengan memaksimalkan pemanfaatannya. Rasanya kita kurang bersyukur jika alam yang subur ini tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Di saat negara lain kesulitan lahan untuk menanam tanaman pangan mereka, maka di Indonesia justru lahan yang ada melimpah dan subur. Bahkan syair lagu Koes Plus pun menyebut “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” untuk menggambarkan suburnya alam Indonesia. Untuk itu, jangan sampai Allah menghukum kita dengan kekurangan pangan padahal lahan yang bisa dimanfaatkan masih banyak untuk menyediakan kebutuhan pangan.

Oleh karena itu, semoga kesadaran akan pentingnya ketersediaan pangan dalam rangka ketahanan pangan ini dimiliki oleh seluruh pemangku kepentingan di sektor pertanian. Sehingga kita bisa bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan dengan memaksimalkan pemanfaatan lahan pertanian. Dan bagi masyarakat pemilik lahan, diharapkan bisa memaksimalkan lahan mereka dengan berbagai cara. ***

Padang Ekspres, 16 Maret 2017

 

208. 2017-03-23 [Singgalang] BI, Inflasi, dan Pangan

BI, Inflasi dan Pangan

Oleh :  Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

 

Pada 17 Maret 2017 lalu saya menghadiri  acara panen cabai di Payakumbuh. Saya agak terkejut  melihat sosok yang sehari-hari mengurusi masalah moneter juga turut hadir yaitu  Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan  Sumbar Bpk. Puji Atmoko. Di samping itu juga hadir jajaran Pemko Payakumbuh seperti Wali Kota Payakumbuh Bpk. Riza Falepi beserta staf, Pimpinan DPRD Payakumbuh  dan Forkompimda Payakumbuh.

Kehadiran Kepala Perwakilan BI bagi saya cukup menarik. Karena selama ini biasanya BI terkonsentrasi dalam urusan moneter yang lebih cenderung kepada sektor keuangan, seperti pengendalian inflasi. Sementara urusan sektor riil baru digawangi oleh pihak eksekutif yaitu jajaran pemerintah, dari pusat hingga daerah.

BI ternyata kini juga turut berperan aktif di sektor riil, di antaranya dengan memberdayakan sumberdaya manusia (SDM) petani dengan anggaran yang dimiliki BI. Salah satu yang bisa dilihat adalah seperti di Payakumbuh. Di sini telah dilakukan pembinaan beberapa kelompok tani untuk menghasilkan panen hortikultura yang berkualitas dengan jumlah yang memuaskan pula.

Kelompok tani ini difasilitasi oleh BI termasuk  melakukan studi banding ke Garut untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih baik lagi, seperti pengetahuan tentang benih yang bagus dan cara tanam yang baik. Selain di Payakumbuh, BI juga melakukan pembinaan kepada petani bawang di Sungai Nanam Kab. Solok dan juga merambah ke sektor peternakan di Kinali dan Padang Panjang. Apa yang dilakukan BI ini juga turut didukung oleh Dinas Pertanian Provinsi dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kementerian Pertanian.

BI bersama Dinas Pertanian dan BPTP bersama-sama membina petani di Payakumbuh untuk menghasilkan produk hortikultura berkualitas dan hasil panen yang memuaskan seperti cabai, timun dan bawang. Alhamdulillah, saya lihat dukungan BI ini memunculkan dampak positif bagi petani.

BI kini telah aktif berperan dalam mendukung ketahanan pangan. Hal yang tak kalah pentingnya dengan pengendalian inflasi. Selama ini dalam TPID (Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah), BI selalu berada di depan berusaha bersama-sama mengendalikan inflasi.

Masuknya BI ke sektor riil yang strategis yaitu ketahanan pangan juga langsung masuk ke jantung permasalahan, yaitu SDM petani. Masalah SDM petani ini juga sudah sering saya sampaikan di berbagai forum dan acara terkait. Penting disadari bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan petani tidak melulu dikaitkan dengan persoalan lahan, irigasi, benih, pupuk dan pascapanen. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah pola pikir atau mind set dari petani itu sendiri.

Para petani melakukan kerja mereka selama ini umumnya mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh orangtua mereka atau para pendahulunya. Karena hanya secara turun temurun maka hasil yang  diperoleh tidak maksimal untuk saat sekarang, meskipun pada waktu lampau mungkin dengan pengetahuan pada masa itu sudah bisa mendapatkan hasil yang baik. Hal ini lantaran belum diterimanya dengan baik berbagai teknologi pertanian yang sudah dihasilkan oleh lembaga terkait.

Jika pada masa lampau dengan pengetahuan yang ada bisa didapat 4 ton padi per hektar misalnya, maka pengetahuan yang turun ke petani saat ini tanpa diikuti dengan teknologi pertanian baru, hasilnya pun tetap 4 ton. Padahal sangat mungkin hari ini satu hektar bisa menghasilkan 8 ton padi.

BI mencoba melakukan perubahan pola pikir petani dengan memberikan pengetahuan yang terbaru agar dapat menghasilkan panen yang berkualitas dan juga berlimpah. Sehingga jika orangtuanya memberikan pengetahuan untuk panen 4 ton, maka dengan cara terbaik (best practice) bisa menghasilkan 8 hingga 10 ton.

BI juga mengadakan sekolah lapangan yang dibantu oleh para penyuluh untuk mengubah pola pikir petani menjadi lebih maju dalam hal cara menaman, memilih benih dan lainnya.

Sulitnya mengubah pola pikir petani karena mereka masih sulit menerima hal seperti berikut, bahwa ilmu pengetahuan dan hasil kajian menyimpulkan bahwa padi tanam sebatang bisa lebih banyak menghasilkan dibanding padi tanam serumpun. Mereka berpikir serumpun saja banyak apalagi sebatang. Padahal justru dengan hanya sebatang itu memberikan ruang gerak bagi padi untuk bertumbuh lebih pesat dibanding serumpun.

Demikian pula mengajak menjarakkan tanam padi 20-25 cm (jajar legowo) yang hasilnya bisa lebih banyak, masih dianggap kurang menguntungkan dibanding menanam dengan jarak 10 cm. Dalam pikiran petani, jika jarak 20 cm bisa mendapatkan hasil kurang (karena jadi sedikit benih yang ditanam) apalagi dibandingkan 10 cm. Padahal salah satu hasil kajian menunjukkan bahwa dengan jarak yang lebih lebar sinar matahari bisa menyinari padi lebih baik lagi. Tentu banyak cara pikir petani lainnya yang juga perlu diperbaiki.

Saya mengapresiasi langkah BI ini yang langsung masuk ke jantung masalah pertanian yaitu SDM petani. Mudah-mudahan langkah BI ini untuk mengubah pola pikir petani bisa berjalan baik sehingga petani bisa mengubah pola pikir mereka dan menerima berbagai hasil kajian baru yang sudah didapat melalui berbagai penelitian dan pengamatan para ahli pertanian.

Insya Allah, upaya BI ini akan memberikan dampak signifikan kepada ketahanan pangan, dan dalam jangka panjang juga berdampak kepada stabilitas inflasi yang lebih terkendali. *⁠**

Singgalang, 23 Maret 2017

 

209. 2017-03-29 [Padek] OJK dan Pangan

OJK dan Pangan

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 24 Maret 2017 bertempat di Lembah Harau Kab. 50 Kota, saya menghadiri acara yang digagas oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Pusat yang dinamai “Aksi Pangan”, singkatan dari Akselerasi, Sinergi, Inklusi Pangan. Acara ini rencananya dihadiri oleh Presiden RI Bpk Joko Widodo. Namun karena beliau berhalangan maka diwakili oleh Menteri Koordinator Perekonomian Bpk. Darmin Nasution.

Acara ini juga turut dihadiri oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Bpk. Muliaman D.  Hadad, Anggota Dewan Komisioner OJK Ibu Nurhaida, Anggota DPR RI Bpk. Refrizal, Bupati 50 Kota Bpk. Irfendi Arbi, pejabat Kementerian Pertanian, Perdagangan, dan Agraria, dan para pimpinan lembaga keuangan (bank dan asuransi) di bawah naungan OJK.

Saya memberikan apresiasi kepada OJK yang turut mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan agar ketersediaan pangan bisa tetap dijaga, terutama 11 komoditas utama pangan. Ketahanan pangan ini juga bagian dari Nawa Cita atau program prioritas Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla yang masuk dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Nasional. Dan masuk pula di dalam RPJM Sumbar.

Ketahanan pangan adalah hal yang sangat penting. Untuk itu kepedulian OJK insya Allah akan memberikan kontribusi positif kepada petani sehingga turut menjaga ketersediaan pangan. Seperti kita ketahui bersama, selama ini petani umumnya di posisi marginal atau sulit mendapatkan akses ke perbankan untuk permodalan mereka. Padahal mereka sangat membutuhkan peningkatan modal dan alat-alat pertanian yang bisa meningkatkan produktivitas mereka sehingga bisa meningkatkan hasil panen dan sekaligus meningkatkan pendapatan. Dengan masuknya perbankan ke sektor pertanian maka secara perlahan dan bertahap akan mengubah kehidupan petani lebih baik lagi.

Selain masalah permodalan, masuknya OJK ke sektor pertanian juga dalam rangka memberikan penjaminan kepada petani. Petani yang tidak memiliki jaminan ketika mengajukan pembiayaan akan dibantu. Memang di satu sisi sudah ada KUR (kredit usaha rakyat)  khusus pertanian yang tidak memerlukan jaminan untuk nilai tertentu. Namun OJK pun akan memberikan bantuan penjaminan jika petani mengajukan tidak melalui KUR atau pinjaman yang cukup besar.

Tidak cukup sampai di situ saja, OJK pun akan membantu petani dari hulu hingga ke hilir. Di hulu, petani akan dibantu masalah pengembangan diri (capacity building), penyiapan lahan, pemilihan benih, mekanisasi pertanian dan lainnya sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan hasil panen pun turut meningkat. Dan di hilir petani dibantu dengan dipertemukan pengusaha atau pihak yang akan membeli hasil pertanian. Petani dibantu pemasaran dan penjualan produknya sehingga makin terjamin pendapatannya. Sehingga mampu mengembalikan pinjaman mereka ke bank dan semakin meningkatkan daya aksesnya ke bank.

Sesuai dengan nama programnya, akselerasi, maka OJK memang menginginkan terjadinya akselerasi kehidupan para petani sehingga produktivitaspun turut mengalami akselerasi. Sinergi, OJK ingin perbankan, pemerintah, petani dan pengusaha melakukan sinergi agar petani semakin meningkat kesejahteraannya dan juga berkontribusi signifikan kepada ketahanan pangan. Inklusi, OJK ingin petani juga bagian dari inlusi keuangan yang tidak saja menabung tetapi juga mendapatkan pembiayaan dan menjadikan bank bagian tak terpisahkan dalam kehidupannya.

Dengan program Aksi Pangan tersebut, maka secara perlahan dan bertahap OJK telah berperan dalam peningkatan kesejahteraan petani, sekaligus peningkatan ketahanan pangan. OJK melalui Aksi Pangan telah memberikan sistem terpadu kepada petani sehingga petani bisa mendapatkan hasil dan kehidupan yang lebih baik lagi. Pembinaan, pendidikan, dan pendampingan kepada petani yang digagas oleh OJK juga memperlihatkan bahwa petani tidak dilepas begitu saja karena OJK memiliki target yang jelas. Untuk menjalankan program Aksi Pangan ini, OJK akan menggaet seluruh pemangku kepentingan agar program ini sukses.

Saya mengharapkan agar para petani semaksimal mungkin memanfaatkan peluang ini. Karena ini merupakan peluang yang sangat baik bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, meningkatkan kapasitas mereka, meningkatkan akses permodalan mereka, dan juga bekerja sama  atau sinergi dengan pihak-pihak yang bisa memberikan kebaikan bagi petani.

Semoga dukungan yang baik dari OJK ini bisa diterima dengan baik oleh masyarakat yang ujungnya adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Tak lupa, berbagai peluang meningkatkan pendapatan ini juga harus disyukuri, karena semakin disyukuri insya Allah akan bertambah lagi yang didapat.

Padang Ekspres, 29 Maret 2017

210. 2017-04-05 [Singgalang] Save Maninjau

Save Maninjau

Oleh :   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada tanggal 22 Maret 2017 lalu saya menghadiri peringatan Hari Air se Dunia ke-25 di kawasan Muko-Muko Danau Maninjau Kab. Agam. Acara ini turut dihadiri oleh Bupati dan Wabup Agam dan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, tim Revitalisasi Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, dan pemangku kepentingan terkait.

Tema Hari Air Dunia kali ini adalah “Air dan Air Limbah”. Tema ini sangat erat hubungannya dengan kondisi danau Maninjau saat ini. Danau Maninjau adalah salah satu sumber air di Sumbar. Dan kegunaannya pun beragam. Orang sudah mengenal Danau Maninjau sebagai salah satu destinasi pariwisata di Sumbar dilengkapi dengan kelok 44 yang sudah digunakan untuk acara berskala dunia yaitu Tour De Singkarak.

Namun Danau Maninjau juga merupakan sumber untuk pembangkit listrik tenaga air. Dan bagi warga sekitar Danau Maninjau, mereka selama ini mendapatkan air untuk irigasi dan air bersih dari situ. Dan yang kini menjadi perhatian utama adalah banyaknya keramba jala apung (KJA) di Danau Maninjau dengan jumlah yang tak terkendali. Hal ini menyebabkan Danau Maninjau mengalami pengendapan, di antaranya pengendapan racun dari keberadaan KJA tersebut.

Ketersediaan air bersih pun menjadi terkendala akibat munculnya racun yang berbahaya di Danau Maninjau ini. Air bersih dibutuhkan oleh makhluk hidup, baik manusia, tumbuhan dan hewan. Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air, hidup manusia akan terganggu. Untuk itu, bersama-sama kita harus menjaga ketersediaan air bersih ini.

Danau Maninjau adalah salah satu sumber air bersih. Namun justru ada yang kekurangan air bersih di sekitar danau, baik untuk minum maupun mengairi sawah. Danau Maninjau tidak lagi bisa menjadi sumber air bersih karena tingginya kandungan limbah di sana. Sehingga menyebabkan kematian ikan di sana, termasuk makhluk hidup lainnya yang ada di danau.

Permasalahan Danau Maninjau perlu pengkajian lebih dalam lagi untuk menyelamatkan keberadaannya. Yang saat ini cukup memprihatinkan adalah keberadaan keramba jala apung yang tidak terkendali. Di mana akibat dari kondisi tak terkendali ini menyebabkan kematian ikan. Belum lagi banyaknya makanan ikan yang kemudian juga menjadi penyebab kematian ikan dan tercemarnya air danau.

Untuk itu memang diperlukan zonasi yang jelas untuk menjadikan Danau Maninjau sehingga tetap mampu menjadi sumber air bersih untuk warga sekitarnya. Dan warga yang mencari nafkah dari Danau Maninjau tetap bisa berjalan.

Menyangkut masalah limbah dan racun yang muncul di Danau Maninjau memang perlu pengkajian yang lebih dalam lagi karena penyebabnya secara kasat mata bisa dilihat, namun tetap harus ada penjelasan ilmiah yang obyektif untuk hal ini. Sehingga keputusan yang nanti diambil sudah merupakan keputusan yang tepat dan adil untuk semua pihak yang berkepentingan.

Ada 7 program strategis yang sedang dijalankan terkait Danau Maninjau ini yaitu: pengelolaan ekosistem danau, pemanfaatan sumber daya air danau, mengembangkan sistem monitoring evaluasi dan informasi, langkah-langkah baik dari  informasi yang diperoleh, pengembangan kapasitas kelembagaan dan koordinasi, peningkatan peran masyarakat dalam bentuk pencegahan (preventif) atau penyelesaian masalah (solutif), dan pendanaan yang berkelanjutan.

Gerakan Save Maninjau dalam rangka menyelamatkan Danau Maninjau perlu didukung oleh kita bersama. Karena sesungguhnya gerakan ini juga mengajak diri kita memperhatikan dan untuk lebih peduli terhadap ketersediaan air bersih. Dan disamping itu kita juga harus peduli terhadap air limbah. Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak mengubah apa yang ada pada dirinya. ***

 

Singgalang, 5 April 2017

 

211. 2017-04-11 [Padek] Polda Sumbar Naik Tipe

Polda Sumbar Naik Tipe

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

 

Pada 3 April 2017 lalu saya menghadiri acara peresmian penaikan status Polda Sumbar dari tipe B menjadi tipe A. Acara ini langsung dihadiri oleh Kapolri Bapak Tito Karnavian dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Bapak Asman Abnur. Bersamaan dengan penaikan status Polda di NTT dan Maluku. Acara di NTT dihadiri Wakapolri dan Maluku dihadiri Irwasum.

Kenaikan tipe ini berpengaruh signifikan bagi jajaran internal Polda Sumbar. Dengan naiknya tipe, maka bertambah pula jumlah personel di jajaran Polda Sumbar. Di samping itu, pemimpin tertinggi (Kapolda) yang tadinya jenderal bintang satu berubah menjadi bintang dua. Dan Wakapolda menjadi bintang satu.

Dengan kenaikan tipe ini, maka semakin banyak tenaga kepolisian yang menjalankan perannya di masyarakat sesuai tugasnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Sumbar yang merupakan wilayah yang terdiri dari pegunungan, bukit, lembah, dataran tinggi dan rendah, selama ini sudah dikenal dengan munculnya berbagai bencana yang muncul akibat kondisi alam tersebut, seperti banjir, longsor, gempa, tsunami, gunung merapi dan lainnya.

Maka dengan bertambahnya personel kepolisian di Sumbar ini, akan memberikan dukungan yang lebih besar lagi dalam melakukan upaya-upaya penyelamatan korban dan masyarakat terhadap berbagai bencana yang terjadi di Sumbar. Bahkan jika terjadi bencana di beberapa wilayah, peran personel kepolisian yang lebih banyak terjun membantu akan bisa semakin dirasakan. Di samping itu, dengan jabatan jenderal bintang dua, Kapolda akan semakin mudah untuk melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk melakukan tindakan penyelamatan.

Selain membantu upaya penyelamatan terhadap korban bencana, peran polisi dalam memerangi peredaran narkoba di Sumbar akan semakin besar dengan kenaikan tipe ini. Dan tentu saja, penanggulangan kejahatan di wilayah Sumbar pun akan semakin meningkat dengan kenaikan tipe ini.

Dengan kenaikan tipe ini juga akan turut mendukung terciptanya keamanan yang lebih kondusif bagi masyarakat. Semakin masyarakat merasakan keamanan, maka produktivitas dan kebahagiaan pun akan mengalami peningkatan. Dan ini juga akan mendukung investor dan pelaku usaha semakin betah berinvestasi dan berusaha di Sumbar. Selain itu, hal ini akan meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang makin berkualitas.

Kenaikan tipe ini ada yang mengatakan terlambat. Karena, seharusnya Sumbar lebih dulu dibanding Provinsi Kepulauan Riau dan Riau, karena kedua provinsi tersebut dulunya di bawah Polda Sumbar. Tapi, faktanya Kepri dan Riau sudah lebih dulu dibanding Sumbar. Namun, tetap patut disyukuri akhirnya naik tipe.

Selain peresmian penaikan status Polda Sumbar, Kapolri juga hadir dalam rangka memenuhi undangan Pengukuhan Gelar Sangsako Adat dari Suku Sikumbang Kamangmudiak, Kabupaten Agam yaitu Sutan Rajo Paga Alam dan untuk istri beliau Siti Linduang Alam, pada 2 April 2017.

Gelar ini diberikan karena setidaknya ada dua hal yang menjadi momentum sejarah bagi masyarakat Sumbar, yaitu bangunan kantor Polda Sumbar yang megah yang merupakan peran Pak Tito ketika menjabat Asrena (Asisten Perencana dan Anggaran) Polri. Beliau yang mendatangi Bappenas dan Menteri Keuangan untuk minta dianggarkan pembangunan Mapolda Sumbar yang baru, sehingga wujudnya bisa kita lihat pada saat ini.

Selain itu, di masa kepemimpinan Pak Tito sebagai Kapolri, kenaikan tipe Polda Sumbar diputuskan. Maka, berdasar peran Pak Tito yang turut berjasa dalam mendorong kualitas pelayanan kepolisian di  Sumbar inilah beliau diberikan gelar kehormatan.

Saya mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh H Boy Lestari Datuk Palindih dan juga Kapolda Sumbar yang keduanya berasal dari Suku Sikumbang, serta kaum Suku Sikumbang Nagari Kamangmudiak. Semoga itikad baik dalam memberikan penghormatan kepada Kapolri atas peran sertanya membangun Mapolda Sumbar yang megah dan kenaikan Tipe Polda menjadi Tipe A merupakan bentuk apresiasi positif masyarakat dalam menghargai mereka yang telah berpartisipasi aktif ikut  membangun Sumbar.

Dan saya pun turut memberikan selamat kepada Polda Sumbar atas kenaikan tipe ini. Semoga Pemprov dan Polda bisa beriringan langkah dalam membangun Sumbar dengan lebih baik lagi ke depannya.

 

Padang Ekspres, 11 April 2017

212. 2017-04-20 [Singgalang] TB dan Aisyiyah

TB dan ‘Aisyiyah

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 10 April 2017 lalu saya menghadiri acara ‘Aisyiyah Sumbar yang diadakan dalam rangka TB Day di Auditorium Gubernuran, Padang. Hadir pada kesempatan itu di antaranya, Ketua Umum PP (Pengurus Pusat) ‘Aisyiyah Ibu Siti Noordjannah Djohantini, Ketua PP ‘Aisyiyah Ibu Siti Aisyah, Ketua PW ‘Aisyiyah Sumbar Ibu Meiliarni Rusli, dan Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Bpk. Shofwan Karim serta beberapa Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Sumbar. Selain itu juga hadir ratusan kader ‘Aisyiyah dari berbagai daerah di Sumbar.

Pada acara tersebut juga diserahkan reward kepada kader ‘Aisyiyah dan amal usaha Muhammadiyah yang telah melakukan kampanye dan sosialisasi penanggulangan dan pencegahan tuberkolosis di Sumbar.

TB Day yaitu hari tuberkolosis sedunia, yang jatuh pada tanggal 24 Maret setiap tahunnya. Pada tanggal 24 Maret 1882, seorang ilmuwan bernama Robert Kuch mengumumkan bahwa ia telah menemukan sebab penyakit tuberkolosis yang sedang mewabah di Eropa dan Amerika sehingga menyebabkan kematian 1 dari 7 orang pada saat itu. Untuk mengenang jasanya, maka setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai hari tuberkolosis sedunia atau TB Day.

Berdasarkan data WHO Global Tubercolosis Report tahun 2016, Indonesia berada pada posisi kedua beban TB tertinggi di dunia. Dan TB adalah penyebab kematian nomor empat di Indonesia. Dari survei yang sudah diadakan, diperkirakan 0,65 persen dari penduduk Indonesia menderita TB. Sedangkan kasus yang bisa dideteksi sekitar 33 persen dari perkiraan jumlah penderita TB. Selain itu, hanya 26 persen masyarakat yang dapat mengetahui mengidentifikasi tanda dan gejala umum TB. Dan hanya 19 persen saja orang yang mengetahui bahwa pengobatan TB adalah gratis.

Dari sisi pemerintah, sosialisasi, pencegahan dan penanggulangan TB sudah dilakukan secara optimal, yaitu melalui Puskesmas, Rumah Sakit dan Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru. Bahkan RS Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi masuk ke dalam Top 99 Inovasi Publik Tahun 2016 yang diadakan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) karena menerapkan inovasi bagi pasien TB.

RSAM (Rumah Sakit Achmad Muchtar) yang juga merupakan rujukan pengobatan TB di Sumbar telah menerapkan inovasi tigo tungku sajarangan dalam upaya mengobati pasien TB. Tiga pihak yang dimaksud adalah tenaga kesehatan yang melakukan upaya pengobatan dan perawatan pasien TB. Kemudian tenaga bidang kerohanian yang memotivasi pasien agar kuat mentalnya, sabar dalam menjalankan pengobatan, dan yakin akan pertolongan Allah. Dan yang ketiga adalah keluarga, yang memberikan dukungan penuh kepada pasien dalam menjalankan pengobatan. Alhamdulillah inovasi ini mendapat penghargaan dari Mentri PAN RB.

Sementara dari sisi masyarakat, pihak yang telah melakukan upaya sosialisasi masalah TB ini di antaranya adalah organisasi ‘Aisyiyah. Pada acara 10 April 2017 tersebut, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah menyampaikan apresiasinya kepada 196 kader ‘Aisyiyah Sumbar yang telah melakukan aksi ketuk pintu kepada 12.096 orang di Padang, Payakumbuh, Pariaman dan Solok untuk mensosialisasikan tentang TB sekaligus mengajarkan cara mendeteksi TB. Dan mereka juga ikut membawa dan mendampingi pasien TB ke puskesmas dan rumah sakit.

Saya juga turut memberikan apresiasi kepada segenap jajaran ‘Aisyiyah Sumbar yang telah ikut membantu memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang TB dan sekaligus membantu mereka yang terkena TB. Berdasar data yang saya peroleh, hingga 31 Maret 2017 ‘Aisyiyah Sumbar telah dapat menjangkau 485 orang terduga TB, 45 orang yang didampingi pengobatan TB selama 6 bulan, 38 orang pasien TB kebal obat akan didampingi sampai sembuh selama 2 tahun.

Menteri Kesehatan, Ibu Nila Djuwita Farid Moeloek pada 17 April 2017 lalu di Hotel Grand Inna Muara Padang, saat acara Rakerkesda, memberi apresiasi dan penghargaan atas kerja dan perjuangan kader kader ‘Aisyiyah tersebut.

Untuk sosialisasi TB tersebut, ‘Aisyiyah Sumbar memiliki 21 pelaksana program, 192 kader komunitas yang akan menjangkau sekaligus mendampingi pasien TB selama 6 bulan, 10 orang pasien supporter yang akan mendampingi pasien TB kebal obat selama 2 tahun, 80 orang mubaligh pria dan wanita yang akan memberikan informasi tentang TB di masyarakat, dan kelompok masyarakat peduli TB.

Jika organisasi ‘Aisyiyah telah berperan serta membantu pemerintah dalam mensosialisasikan dan menangani TB, maka bagi diri kita sendiri, juga bisa melakukan seperti yang sudah dilakukan oleh kader ‘Aisyiyah, dengan melakukan deteksi terhadap diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar. Jika ternyata ada anggota keluarga, saudara atau teman terkena TB, maka kita juga bisa beri keyakinan kepada mereka bahwa TB bisa disembuhkan, asal pengobatan dilakukan secara tertib dan disiplin. Karena satu orang yang tidak terdeteksi terkena TB dan tidak menjalani pengobatan bisa menularkan kepada 10-15 orang  dalam satu tahun jika melakukan kontak dekat.

Semoga dengan upaya yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah Sumbar dan juga masyarakat lainnya dalam mensosialisasikan, deteksi dini, mencegah dan menanggulangi TB, bisa lebih mengurangi lagi jumlah penderita TB di Sumbar. Insya Allah jika dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat, hasilnya akan lebih maksimal. ***

 

Singgalang, 20 April 2017

 

213. 2017-04-26 [Padek] Penanganan Konflik Sosial

Penanganan Konflik Sosial

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 20 April 2017 lalu saya memimpin rapat tim terpadu penanganan konflik sosial tingkat provinsi. Tim terpadu ini terdiri dari unsur Pemprov Sumbar, Kepolisian, TNI, Kejaksaan, dan Intelijen.

Tim terpadu penanganan konflik sosial dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Sumbar No. 270-212-2017 tanggal 20 Februari 2017. Adapun tugasnya adalah 1. Menyusun rencana aksi terpadu penanganan konflik sosial tingkat provinsi. 2. Mengkoordinasikan, mengarahkan, mengendalikan, dan mengawasi penanganan konflik sosial dalam skala provinsi. 3. Memberikan informasi kepada publik tentang terjadinya konflik dan upaya penanganannya. 4. Melakukan upaya pencegahan melalui sistem peringatan dini. 5. Merespon secara cepat dan menyelesaikan secara damai semua permasalahan yang berpotensi menimbulkan konflik. 6. Membantu upaya penanganan pengungsi dan pemulihan pasca konflik yang meliputi rekonsiliasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Keberadaan tim terpadu penanganan konflik ini memang dirasakan penting. Meskipun di Sumbar belum ada konflik sosial besar terjadi, namun tetap memerlukan tim terpadu penanganan konflik. Konflik yang kecil pun tetap perlu penanganan agar situasi tetap  terkendali. Misalnya saja masalah tanah yang sering menimbulkan konflik, meskipun tidak besar perlu diantisipasi sehingga tidak melebar dan membesar. Gerak cepat dan antisipasi perlu dilakukan guna menjaga kestabilan dan keamanan.

Alhamdulillah, beberapa tokoh yang pernah menjabat Kapolda Sumbar menyampaikan kepada saya bahwa Sumbar termasuk daerah yang minim dengan konflik sosial besar dan relatif aman. Ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih menginginkan kedamaian dan persatuan.

Survey persepsi rakyat Sumbar yang dilakukan oleh  Lembaga SBLF Research pada tanggal 7-12 April 2017 juga menggambarkan bahwa Sumbar aman. Hasil Survey 97,4% menyatakan bahwa  Sumbar aman dan indah. Juga dinyatakan sebesar 95,9% bahwa Sumbar sebagai tempat hunian yang nyaman.

Konflik sosial bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Penyebabnya adalah adanya perbedaan kepentingan, keinginan, suku, agama, ras, dan perbedaan lainnya yang ada antar manusia.

Terkait konflik sosial ini, dalam beberapa ayat Al Quran sudah ada peringatannya. Dalam surat Al Baqarah ayat 30 Allah SWT berfirman yang artinya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Meskipun malaikat menganggap penciptaan manusia akan menimbulkan konflik sosial sehingga menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah ternyata Allah SWT memberikan jawaban bahwa malaikat tidak tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia. Sementara itu di ayat lain, penciptaan manusia yang berbeda suku, bangsa dan lainnya ternyata justru untuk saling mengenal (membangun sikap positif) sehingga yang paling mulia adalah mereka yang paling bertakwa.

Dalam surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Berdasarkan dua ayat di atas, maka setiap kita harus mampu mengendalikan diri agar tidak memunculkan konflik sosial. Perbedaan yang ada seperti  suku, bangsa, ras, agama, adat, budaya, dan lainnya bukan untuk berbangga diri di satu sisi dan menjelekkan pihak lain di sisi lain. Tapi perbedaan itu harus menjadi sarana untuk saling kenal, memperkuat persatuan dan menjalin persaudaraan.

Kita yang hidup di Indonesia, dengan beragam budaya, adat, agama, bahasa, dan lainnya memang rentan muncul konflik. Untuk itu perlu keinginan kuat untuk meredam konflik yang akan terjadi. Sejarah sudah memperlihatkan bahwa kita adalah bangsa yang lebih mengutamakan kesamaan dan persatuan. Semangat sumpah pemuda yang satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa adalah salah satu contoh semangat untuk mengedepankan kebersamaan guna bersatu dibanding mengedepankan perbedaan. Demikian pula mosi integral Natsir yang memunculkan kembali NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Jika konflik besar terjadi, maka semua pihak terkait akan menanggung akibat dan kerugian yang timbul. Dampak negatif dan kerusakan akan lebih dominan. Maka sudah seharusnya kita bersama-sama mencegah terjadinya konflik. Menahan diri adalah sikap yang sangat baik karena selain berdampak positif kepada diri dan lingkungan juga akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, insya Allah.

Menjaga persatuan dan kesatuan adalah sikap yang harus selalu ada dalam diri kita sebagai manusia yang hidup bermasyarakat. Karena dengan sikap demikian kita bisa nyaman dalam beribadah, mencari nafkah, sekolah, mengaktualisasikan potensi diri, bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara. Sehingga kemajuan insya Allah akan lebih cepat diraih.

Mari kita bersama-sama menjaga daerah kita agar terhindar dari konflik sosial yang hanya akan menyebabkan kehidupan kita mengalami kerugian dan kemunduran. ***

 

Padang Ekspres, 26 April 2017

 

214. 2017-05-03 [Singgalang] Rantau Peduli

Rantau Peduli

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 28 April 2017 lalu di Lapangan Banteng Jakarta, saya membuka acara Kampoeng Minangkabau Culinary and Craft Festival yang terdiri dari stand makanan, minuman, kerajinan tangan, oleh-oleh, produk UMKM, promosi wisata, serta acara seni dan budaya, talk show dan bedah buku. Acara ini dikelola oleh para anak muda Minang di Jabodetabek. Mereka membiayai sendiri acaranya tanpa bantuan dana APBD, saya sangat mengapresiasi hal ini. Pada tempat dan acara yang sama saya juga menghadiri pengukuhan Koperasi Saudagar Minang Raya oleh Menteri Koperasi dan UMKM. Pembentukan koperasi ini mentargetkan 1 juta anggota koperasi dengan tujuan untuk berkontribusi bagi kampung halaman.

Minggu sebelumnya, 22 April 2017 saya juga menghadiri acara Minangpreneur Festival yang diadakan di Padang, diselenggarakan oleh Yayasan Minang Bandung Indonesia. Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI Bpk. Triawan Munaf. Minangpreneur Festival mengumpulkan pengusaha muda pemula (start up) untuk kemudian diseleksi, yang lolos seleksi akan mendapatkan pelatihan gratis dengan tentor yang berasal dari CEO yang memiliki reputasi di bidangnya. Diharapkan muncul pengusaha yang tangguh dari acara ini dan dapat menularkan pengetahuan dan ilmu yang sudah didapat.

Beberapa kegiatan tersebut adalah bagian dari wujud kepedulian orang rantau kepada ranah Minang. Mereka ingin berkontribusi kepada kampung halamannya dengan cara yang mereka bisa. Dan tidak hanya acara seminar, festival dan sejenisnya yang dilakukan. Merekapun peduli akan kesulitan kampungnya. Saya masih ingat beberapa waktu lalu ketika terjadi banjir bandang di Kab. 50 Kota, ibu Nurhayati perantau asal Minang yang merupakan pemilik Wardah Kosmetik memberikan bantuan sebagai wujud kepedulian kepada ranah Minang. Saya turut membagikan bingkisan dari Wardah tersebut yang jumlahnya ribuan paket kepada masyarakat yang terkena musibah.

Minangkabau Cup yang perhelatannya masih berlangsung dan termasuk sukses penyelenggaraannya di Sumbar salah satunya dimotori oleh Hardimen Koto, orang rantau yang sudah tak asing lagi bagi para penonton acara sepakbola di stasiun televisi swasta. Dan juga dikenal sebagai wartawan senior.

Selaku Gubernur, saya mengapresiasi berbagai kegiatan/kreativitas yang dilakukan oleh para perantau yang berkeinginan memajukan Sumbar. Pemprov mendukung dan memfasilitasi kegiatan tersebut. Selama ini sudah banyak kegiatan orang rantau yang didukung dan difasilitasi oleh Pemprov, sesuai dengan aturan dan alokasi dana APBD yang berlaku.

Selama ini perhatian orang rantau kepada kampungnya selalu berterusan, tak putus-putusnya. Hal ini nampak di kampung-kampung, di mana jalan-jalan semakin bagus, masjid dan mushola semakin indah bangunannya, rumah-rumah di kampung dengan arsitektur baru kian bermunculan, rumah gadang diperbaiki dan diperkokoh. Fasilitas umum seperti sekolah, penerangan jalan, dan lainnya satu persatu mendapatkan bantuan dari perantau sehingga semakin baik. Ada juga orang rantau yang meskipun tidak banyak memiliki dana, tapi tetap ada yang disisihkan untuk membangun kampungnya. Dan ini mungkin hanya dimiliki oleh orang Minang.

Keinginan orang rantau berkontribusi untuk kampungnya sesungguhnya adalah aset yang sangat berharga. Oleh karena itu Pemprov Sumbar selalu berupaya agar aset ini tetap terus terjaga. Dan untuk itu dalam organisasi di Pemprov ditunjuk seorang pejabat eselon dua untuk menangani urusan dengan orang rantau ini yang memimpin organisasi perangkat daerah dengan nama Biro Kerjasama dan Rantau. Juga diperkuat dengan Badan Penghubung yang berkantor di Jakarta.

Saya mengajak agar kita senantiasa memupuk kebersamaan antara rantau dan ranah. Karena kebersamaan dan kesatuan rantau dan ranah adalah aset sekaligus potensi besar orang Minang dalam membangun Sumbar. Karena seperti kita ketahui bahwa nilai PAD (Pendapatan Asli Daerah) Sumbar tidaklah besar. Pendapatan terbesar berasal dari pajak kendaraan bermotor (PKB). Sementara kontribusi orang rantau selama ini jika dinilai mungkin jauh lebih besar nilainya.

Untuk itu, memang ada yang harus kita hindari dan hilangkan agar aset kita ini terus berkembang menghasilkan kebaikan. Yaitu, kita hindari kecurigaan atau kecemburuan terhadap orang rantau yang memiliki keinginan untuk membangun kampungnya. Dan sebaliknya kita jauhkan prasangka bahwa orang ranah kurang melayani atau kurang menghargai niat baik orang rantau. Karena sejarah hidup manusia telah memperlihatkan bahwa kecurigaan dan penyakit hati hanya akan melemahkan kekuatan suatu kaum, tidak membawa kebaikan sama sekali. Sebaliknya kebersamaan, berbaik sangka, silaturahim, dan persatuan akan semakin menguatkan dan membawa kebaikan bagi kaum tersebut. Jika ini sudah terjadi lebih dahulu di tempat lain dan menghasilkan kemajuan dan kemakmuran, maka saya yakin kita pun bisa melakukannya.

 

Singgalang, 03 Mei 2017

215. 2017-05-10 [Padek] Ramadhan dan Pangan

Ramadhan dan Pangan

Oleh:   Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 3 Mei 2017 lalu saya bersama Kapolda, jajaran OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Prov. Sumbar melakukan videoconference dengan Kapolri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Kepala Bulog dalam rangka persiapan penanganan alur distribusi barang dan jasa serta stabilitas harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Kegiatan ini dilakukan dengan seluruh gubernur se Indonesia.

Dua hal yang dibicarakan yaitu, ketersediaan pangan dan pengendalian harga, untuk menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri. Oleh para menteri disampaikan, ketersediaaan pangan secara nasional masih mencukupi, seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur ayam, tepung terigu, kedelai, cabe dan bawang. Sedangkan harga relatif terkendali, meskipun ada dinamika di situ.

Sebelum ini, dalam lingkup Sumbar saya juga melakukan rapat koordinasi dengan pihak BI, Bupati/Wali Kota dan OPD terkait untuk memeriksa ketersediaan pangan dan harganya di Sumbar. Serta membicarakan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan di Sumbar. Dan juga antisipasi yang harus dilakukan jika terjadi kekurangan ketersediaan pangan dan kenaikan harga yang mungkin tidak terkendali.

Dua kegiatan ini, rakor lingkup Sumbar dan videoconference se Indonesia, adalah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan pemerintah agar ketersediaan pangan bagi masyarakat tetap mencukupi dan harganya bisa dikendalikan. Sehingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhan mereka secara memadai.

Seringkali terjadi, yang menyebabkan terjadinya lonjakan kenaikan harga adalah masalah distribusi dan penyimpangan yang dilakukan oleh para pedagang yaitu penumpukan guna menahan barang agar harganya naik, monopoli, dan tindakan lain yang menyebabkan terganggunya supply dan demand secara alami.

Terkait hal ini Kapolri meminta dilakukan tindakan tegas oleh polisi di daerah. Dan supaya dibentuk satuan tugas untuk menindak oknum-oknum yang menyebabkan terganggunya supply dan demand kebutuhan masyarakat di bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Jika gangguan-gangguan tersebut diantisipasi sejak awal, insya Allah bisa membantu masyarakat menjalani ibadah dan aktivitas Ramadhan lebih tenang karena gangguan sudah diminimalkan sejak awal. Dan di samping itu, jika pun terjadi maka masih bisa dilakukan operasi pasar atau pasar murah yang melibatkan pihak ketiga seperti BUMN, BUMD maupun swasta.

Adapun upaya antisipasi yang dilakukan pemerintah di antaranya adalah: 1. Mengadakan koordinasi (sosialisasi, perencanaan, dan lainnya), 2. Monitoring luas tanam, luas panen, dan produksi, 3. Mengamankan produksi pangan (hama/penyakit), 4. Pemasaran,  supervisi, dan sidak (menjajaki distribusi dan harga pangan, mengunjungi daerah sentra produksi, pusat industri, perdagangan dan pelabuhan, mengunjungi pasar-pasar utama dan pasar induk, pasar tradisional dan pasar lainnya), 5. Memperlancar distribusi antar wilayah, 6. Mengamankan jalur distribusi, 7. Antisipasi dan pengamanan terhadap spekulasi penimbunan pangan, 8. Melaksanakan operasi pasar (jika diperlukan).

Di luar hal yang dilakukan pemerintah, perilaku masyarakat juga turut membantu. Yaitu dengan belanja sesuai kebutuhan. Tidak belanja berlebihan agar tidak terjadi kenaikan harga. Hal ini sesungguhnya tidak kalah penting dengan tindakan dan antisipasi yang sudah dilakukan pemerintah.

Ramadhan adalah saat untuk menahan. Maka sudah sepantasnya umat Islam juga menahan dorongan konsumsi yang lebih dari biasanya di saat waktu makan hanya dua kali. Karena bagi yang mampu, dengan menahan konsumsi akan membantu bagi yang lemah untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan harga terjangkau.

Semoga dengan upaya pemerintah mengatasi masalah pangan dan dibantu oleh masyarakat, akan menjadikan Ramadhan kali ini bisa semakin lebih baik kita jalani dibanding waktu sebelumnya.  Sehingga kita bisa lebih fokus dan khusyuk dalam menghadapi dan menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Insya Allah kita bisa lebih baik lagi untuk menjadi hamba yang bertaqwa. Aamiin. *⁠**

 

Padang Ekspres, 10 Mei 2017

 

216. 2017-05-18 [Singgalang] Start Up dan Resiko Bisnis

Start Up dan Risiko Bisnis

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Belum lama ini di Padang diselenggarakan kegiatan Minangpreneur Festival oleh Yayasan Minang Bandung Indonesia di mana salah satu kegiatannya adalah meng-upgrade para pengusaha muda pemula (start up) agar bisnisnya mampu memunculkan lompatan yang signifikan.

Di mana untuk kegiatan seperti ini dilakukan seleksi sehingga peserta hasil seleksi itu kemudian dilatih oleh pelaku bisnis yang sudah berkiprah di bidangnya dengan mengikuti workshop. Mereka berasal dari berbagai perusahaan yang sudah dikenal oleh publik sebagai perusahaan yang memiliki reputasi. Dengan demikian para pebisnis start up ini mampu menerima transfer pengetahuan dan juga pola pikir serta aura dari para “pendekar bisnis” tersebut.

Senada dengan kegiatan Minangpreneur Festival yang berupaya meng-upgrade pebisnis start up, hal serupa sudah dilakukan oleh Minangkabau Business School and Entrepeneurship Center (MBS-EC) yang dikomandani oleh Prof. Helmi dari Unand. MBS-EC sudah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan di Minangpreneur Festival. Para pematerinya pun orang orang terpilih yang sudah memiliki reputasi dan juga menoreh prestasi di bidangnya.

Pada MBS-EC ini peserta tidak hanya dilatih dan diberikan pengetahuan, tetapi juga disambungkan dengan akses permodalan, jaringan, dan pemasaran yang memungkinkan bisnisnya mampu menghasilkan lompatan. Maka, kegiatan minangpreneur festival dan MBS-EC ini cocok dengan kebutuhan masyarakat di Sumbar.

Selama ini kita saksikan bersama bahwa orang Minang di manapun berada, mayoritas berprofesi sebagai pedagang. Para perantau yang tersebar di Jabodetabek, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan lainnya termasuk luar negeri kebanyakan berprofesi sebagai pedagang. Setidaknya hal ini saya dapati ketika melakukan kunjungan ke luar Sumbar dan bersilaturahmi dengan masyarakat di rantau, mereka yang datang mayoritas adalah pedagang, sisanya berprofesi sebagai tentara/polisi, pegawai negeri dan swasta.

Sementara di Sumbar sendiri, masyarakat banyak yang berpofesi sebagai pedagang. Di mana mayoritas adalah pengusaha mikro (sekitar 80 persen lebih), kemudian diikuti pengusaha kecil (sekitar 14 persen), dan yang lebih sedikit lagi pengusaha menengah (tidak sampai 1 persen). Namun bisa dibilang belum ditemukan pengusaha besar yang usahanya berjalan baik hingga kini. Sementara, mayoritas mereka yang merantau umumnya ada di usaha mikro dan kecil.

Salah satu sebab tidak munculnya pengusaha besar dari ranah Minang karena umumnya orang Minang masih lebih memilih usaha yang menghasilkan keuntungan yang pasti dibanding mengambil risiko untuk mendapatkan untung yang jauh lebih besar. Selain risiko, ada juga masalah permodalan yang menyebabkan usaha yang dijalankan tidak mampu ditingkatkan skala bisnisnya. Jikapun mendapatkan dana dari KUR dan sejenisnya, tetap masih belum bisa meningkatkan skala bisnisnya secara signifikan.

Memang tidak semua orang mampu dan mau berbisnis dengan risiko tinggi, meskipun risiko tinggi hasilnya pun akan tinggi juga (high risk high return). Usaha mikro kecil, risiko kecil, maka untungnya juga kecil namun pasti. Inilah yang lebih dipilih kebanyakan masyarakat. Usaha yang selama ini digeluti orang Minang adalah usaha yang relatif aman dan risiko minimal seperti bisnis kuliner, pakaian, perhiasan, properti, pendidikan dan lainnya. Untuk pendidikan, banyak perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta dikelola dan dimiliki oleh orang Minang.

MBS-EC adalah salah satu tempat untuk menghasilkan para pebisnis muda pemula (start up) yang dengan jiwa muda dan keahliannya mampu berusaha untuk mengambil risiko dalam berbisnis. Saya optimis dengan metode yang dilakukan  MBS-EC insya Allah akan memunculkan bibit-bibit pengusaha besar nantinya.

Mereka diharapkan bisa membuat perencanaan bisnis yang matang, dan mendisain cetak biru bisnis mereka. Dengan demikian mereka pun mampu mempersiapkan dengan baik jika terjadi risiko bisnis yang menghendaki antisipasi yang baik.

Perencanaan yang baik diikuti antisipasi yang baik, maka risiko bisnis pun insya Allah siap dihadapi. Inilah seharusnya cara yang ditempuh agar lahir pengusaha besar dari ranah Minang.

Saya mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak seperti Yayasan Minang Bandung Indonesia dan MBS-EC dan lainnya yang memfasilitasi para pengusaha muda pemula (start up) dari kalangan anak muda Minang yang memiliki kemampuan untuk melompat lebih tinggi dengan berbagai pendekatan pelatihan dan pengembangan.

Semoga bisa lahir pengusaha besar dari ranah Minang yang mampu mangkapitalisasi modal, berani mengambil risiko, mampu membangun jaringan dan kerjasama yang baik. Jika orang lain bisa, insya Allah kitapun bisa.

 

Singgalang, 18 Mei 2017

 

217. 2017-05-24 [Padek] Bendungan Besar

Bendungan Besar

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 16 Mei 2017 lalu di Padang, saya menghadiri Seminar Nasional Bendungan Besar yang dibuka oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bpk. Basuki Hadi Mulyono. Dalam sambutannya Menteri PUPR menyatakan bahwa ada sekitar 65 bendungan besar yang direncanakan dibangun di seluruh Indonesia. Tujuh bendungan sudah selesai dikerjakan di tahun 2015. Dua bendungan di tahun 2016. Dan sembilan bendungan tengah dikerjakan di tahun 2017. Dan pada tahun 2019 diharapkan selesai semua yang direncanakan.

Tema besar dari acara ini adalah “Bendungan sebagai Infrastruktur Pengendali Banjir dan Kekeringan”. Acara ini juga dihadiri oleh para Kepala Balai Bendungan se Indonesia dan juga dari Pejabat di Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Terkait pemanfaatan sumber daya air, terdapat 3,9 triliun meter kubik pertahun potensi sumber daya air di Indonesia, di mana yang dapat dimanfaatkan sebesar 691,3 miliar meter kubik per tahun. Yang sudah dimanfaatkan adalah sebesar 175,1 miliar meter kubik per tahun (25,3%). Sisanya 516,2 miliar meter kubik per tahun (74,7%) masih belum dimanfaatkan. Yang belum dimanfaatkan ini karena masih kurangnya tempat penampungan sumber daya air tersebut.

Dalam acara seminar tersebut saya melihat semangat dari pemerintah pusat untuk memperbanyak pembangunan bendungan agar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Berbicara bendung dan bendungan, ternyata merupakan dua hal yang berbeda. Bendung biasanya dibuat sebagai pembatas yang ada di sungai, sehingga mengubah karakteristik aliran sungai. Manfaat bendung adalah mencegah banjir, mengukur debit sungai, dan aliran sungai bisa diperlambat sehingga sungai bisa lebih mudah dilalui. Bendung dibuat untuk meninggikan permukaan air sungai sampai ketinggian tertentu, sehingga bisa dialirkan ke saluran irigasi.

Sedangkan bendungan dibuat dengan konstruksi tertentu untuk menahan laju air sehingga menjadi waduk atau danau serta tempat rekreasi. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mendefinisikan bendungan sebagai “bangunan yang berupa tanah, batu, beton, atau pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat juga dibangun untuk menampung limbah tambang atau lumpur.”

Kondisi alam Sumbar, ketika hujan volume air meningkat sehingga menaikkan permukaan sungai dan menggenangi lingkungan sekitar sungai. Maka terjadi banjir, baik banjir bandang yang memiliki daya rusak kuat maupun bukan banjir bandang. Keduanya menyebabkan terjadinya kerusakan sungai, jalan, jembatan, tempat ibadah, sekolah, puskesmas/rumah sakit, sawah, rumah penduduk, kantor pemerintah, dan sarana dan prasana umum lainnya, dan juga menyebabkan hilangnya nyawa manusia. Sementara ketika musim kemarau, volume air berkurang dan potensi muncul kekeringan menjadi besar.

Dengan adanya bendungan, dalam kondisi kekeringan masih bisa dialirkan air sehingga lahan yang kering bisa dialirkan air. Di Sumbar sudah ada enam bendungan besar yang selama ini manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Di samping itu Sumbar juga memiliki waduk kecil atau dikenal dengan embung.

Namun demikian, saya selaku Gubernur masih terus mengupayakan bantuan dari pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian PUPR untuk menambah bendungan lagi di Sumbar. Sehingga potensi sumber daya air yang besar di Sumbar bisa semakin dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Di samping itu, saya juga mengupayakan adanya tambahan anggaran untuk Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air untuk memaksimalkan pemeliharaan dan pengelolaan bendungan yang ada di Sumbar. Karena mengelola dan memelihara yang sudah ada jauh lebih penting agar manfaatnya bisa berkelanjutan bagi masyarakat.

Di luar yang diupayakan pemerintah, masyarakat juga bisa turut berperan serta untuk mengantisipasi banjir dan kekeringan. Untuk  mengantisipasi banjir, penduduk di sekitar aliran sungai maupun bukit yang rawan longsor harus selalu waspada ketika terjadi hujan deras. Bahkan bila perlu mengungsi untuk menghindari korban jiwa.

Sedangkan untuk antisipasi kekeringan, salah satu di antara upaya tersebut adalah masyarakat bisa membuat lubang biopori untuk menampung air hujan. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh masyarakat di berbagai tempat di Indonesia. Di Sumbar sendiri pernah dilakukan pembuatan lubang biopori oleh TNI secara massif, dalam hal ini dimotori oleh Korem 032/Wirabraja Sumbar, di mana tak kurang dari 186.000 lubang biopori telah dibuat.

Saya berharap, dengan upaya yang dilakukan pemerintah dengan membangun bendungan dan dibantu peran masyarakat mengantisipasi banjir dan kekeringan, kesejahteraan bersama bisa lebih cepat diraih, insya Allah

 

Padang Ekspres, 24 Mei 2017

218. 2017-05-27 [PosMetro Padang] Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, kita kembali diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan. Bulan yang sangat istimewa. Bahkan Rasulullah SAW pun menyampaikan betapa mulianya bulan ini bagi umat Islam karena banyaknya keistimewaan di bulan ini.

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan khutbah Rasulullah SAW, “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang penuh rahmat, berkah dan ampunan. Bulan paling utama di sisi Allah. Di bulan ini kalian digolongkan orang-orang yang dimuliakan Allah. Nafasmu tasbih, tidurmu ibadah, amalanmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah dengan hati yang tulus agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa.”

Seluruh kaum mukminin pada bulan ini diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya,  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Kewajiban puasa ini seperti halnya kewajiban shalat. Namun di balik kewajiban puasa, banyak kebaikan dari sisi Allah SWT yang dicurahkan kepada umat Islam pada bulan Ramadhan ini. Dan amalan puasa, Allah SWT sendiri yang langsung membalasnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman, “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Puasa juga mengajarkan kita untuk mengendalikan diri. Dan dari mengendalikan diri itu banyak kebaikan yang kita peroleh. Di antaranya adalah mengendalikan amarah.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan hawa nafsunya saat marah.” (Muttafaqun Alaih)

Kita dapati dalam sejarah bahwa di bulan Ramadhan, saat umat Islam melaksanakan puasa dilakukan proklamasi kemerdekaan Indonesia (9 Ramadhan 1364 H), terjadi perang badar yang dimenangkan umat Islam (2 Ramadhan 2 H), ditaklukannya Mekah oleh umat Islam tanpa pertumpahan darah (10 Ramadhan 8H).

Maka dengan melihat hal demikian, puasa yang kita jalankan sesungguhnya justru menguatkan fisik, mental dan spiritual, seperti yang pernah terjadi dalam sejarah. Jika kita betul-betul menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka insya Allah akan kita rasakan betapa Allah SWT itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Untuk itu, dalam kesempatan ini saya mengajak diri sendiri dan kita semua untuk benar-benar memanfaatkan bulan yang mulia ini, mengisinya dengan berbagai bentuk ibadah dan amal saleh serta doa-doa yang menjadi kehendak diri kita masing-masing.

Marilah kita sambut datangnya bulan Ramadhan ini dengan penuh syukur. Karena peluang untuk mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT terbuka lebar di hadapan.  Betapa bahagianya diri kita bila Allah SWT ampuni dosa-dosa kita, diberikan rahmatNya kepada kita, dan dikabulkanNya doa-doa kita sehingga kita merasakan bahwa hidup ini nikmat jika selalu dekat denganNya.

Oleh karena itu, marilah kita maksimalkan ibadah dan amal saleh di bulan Ramadhan ini sehingga ketika kelak di penghujung Ramadhan kita atas izin Allah meraih posisi sebagai orang-orang yang bertakwa. Marhaban ya Ramadhan. ***

 

Posmetro Padang, 27 Mei 2017

 

219. 2017-05-29 [Padek] Ramadhan Bulan Penuh Doa

Ramadhan Bulan Penuh Doa

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Jika kita sejenak membuka kembali sejarah hidup Rasulullah SAW dan para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, kita akan temui bahwa di akhir bulan Ramadhan mereka mengharap berjumpa kembali Ramadhan berikutnya. Begitu nikmatnya beribadah di bulan Ramadhan mereka rasakan.

Maka bagi kita umat setelahnya yang hidup saat ini, patut juga merenungi bahwa Ramadhan 1438 H yang baru saja kita jalani ini harus sangat disyukuri. Karena sebenarnya Ramadhan adalah waktu yang sangat berharga bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk memanjatkan ampunan, rahmat, dan juga menyampaikan keinginan kita yang selama ini belum terpenuhi.

Seringkali Ramadhan berlalu begitu saja dari kehidupan kita tanpa ada bekasnya sama sekali. Sehingga kehidupan kita berjalan biasa-biasa saja. Untuk itu, kita perlu membaca kembali kisah Rasulullah SAW dan para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, serta para ulama ketika menjalani ibadah Ramadhan.

Salah satu hal yang sepertinya luput dari kita adalah memperbanyak doa di bulan Ramadhan. Padahal justru di bulan Ramadhan ini doa-doa kita bisa langsung dikabulkan oleh Allah SWT. Karena puasa kita langsung dinilai olehNya, maka doa kita pun juga langsung didengar olehNya. Bukan berarti di waktu sebelum Ramadhan doa-doa kita tidak didengar. Namun karena keistimewaan bulan Ramadhan yang mulia ini maka banyak kelebihan dan keutamaannya.

“Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa, akan dikabulkan.” (HR Al Bazaar).

“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Ahmad)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Disunnahkan orang yang berpuasa untuk memperbanyak doa demi urusan akhirat dan dunianya, juga ia boleh  berdoa untuk hajat yang ia inginkan, begitu pula jangan lupa doa kebaikan untuk kaum muslimin secara umum.” (Al Majmu’, 6:273).

Berdoa apa saja demi kebaikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara adalah keniscayaan bagi kita sebagai muslim. Bahkan berdoa agar terbebas dari jeratan hutang pun diajarkan dalam Islam.

Ini terjadi pada masa Rasulullah SAW, ketika suatu hari memasuki masjid mendapati seorang sahabat bernama Abu Umamah sedang duduk terdiam. Rasulullah SAW bertanya mengapa Abu Umamah duduk di luar waktu shalat.  Rupanya Abu Umamah sedang bingung memikirkan hutangnya.

Rasulullah SAW bertanya apakah Abu Umamah mau diajarkan sebuah doa yang apabila dibaca maka Allah SWT akan menghilangkan kebingungannya dan melunasi hutangnya. Abu Umamah menjawab mau.

Maka Rasulullah berkata, “Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari bacalah doa (yang artinya): “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.”

Setelah beberapa lama Abu Umamah mengamalkan doa tersebut, lalu dia mengatakan, “Setelah membaca doa tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayar lunas hutangku.” (HR. Abu Dawud).

Demikianlah ajaran Islam yang mulia ini memberikan solusi kehidupan bagi umatnya. Maka marilah manfaatkan bulan Ramadhan yang mulia ini untuk memanjatkan doa. Mungkin di antara kita ada yang ingin disembuhkan dari suatu penyakit, ingin dapat pekerjaan, ingin lulus kuliah, ingin anak saleh dan saleha, ingin keluarga harmonis, ingin punya anak, ingin dagangan laris, dan lainnya, marilah kita panjatkan doa di bulan mulia ini.

Namun untuk terkabulnya doa, kita harus menjalankan perintah Allah, seperti Firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 186 yang artinya, “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Semoga kita bisa mengisi amaliyah Ramadhan 1438 H ini dengan memperbanyak doa kepada Allah SWT dan juga ibadah lainnya. Sehingga di akhir Ramadhan kita atas izin Allah SWT mendapat predikat sebagai orang-orang yang bertakwa. Dan semoga atas izin Allah SWT, doa-doa yang kita panjatkan terkabul sehingga menambah kecintaan dan kedekatan kita kepada Allah SWT, RasulNya, kaum muslimin dan juga kepada agama Islam sebagai pedoman hidup kita di dunia untuk mencapai akhirat. Aamiin. **

Padang Ekspres, 29 Mei 2017

 

220. 2017-05-31 [Singgalang] Investasi dan Transmart

Investasi dan Transmart

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sejak 24 Mei 2017, untuk beberapa hari, saya bersama tim investasi Sumbar melakukan kunjungan ke beberapa negara Eropa. Turut bersama adalah Bupati Agam, Solok Selatan dan Sijunjung. Kami menjajaki potensi kerja sama bidang pariwisata, energi dan perikanan. Dan juga bidang lain yang memiliki potensi untuk dikerjasamakan.

Dalam kesempatan ini atas nama tim saya menyampaikan terima kasih kepada beberapa Duta Besar RI yang telah memfasilitasi kami sehingga bisa bertemu dengan calon investor dan juga promosi budaya dan pariwisata. Harapan kami, semoga upaya kami ini akan mendatangkan hasil yang baik sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berbicara mengenai investasi, ingatan saya kembali ke akhir tahun 2010. Beberapa bulan setelah saya dilantik sebagai Gubernur Sumbar, Bpk Chairul Tanjung (CT) dan rombongan Grup Mega datang ke Padang dan sempat bersilaturahmi dengan saya. Pada kesempatan itu saya menawarkan sekaligus meminta agar Grup Mega berinvestasi di Sumbar. Setelah cukup lama berdiskusi, Bpk. CT menjawab akan mengadakan studi kelayakan terlebih dahulu mengenai investasi yang bisa masuk ke Sumbar. Setelah cukup lama, saya mendapat informasi bahwa hasil studi kelayakan yang dilakukan Grup Mega menerangkan bahwa pada saat itu mereka belum layak melakukan investasi di Sumbar.

Kemudian tiga tahun berikutnya, Grup Mega kembali melakukan studi kelayakan ulang dan hasilnya kali ini Grup Mega sudah layak berinvestasi di Sumbar. Di antaranya dengan menyiapkan rencana pembangunan Transmart. Dan akhirnya pada 19 Mei 2017 lalu Pak CT bersama Bpk Nasrul Abit (Wagub) serta Bpk Mahyeldi (Wako Padang) meresmikan pembukaan Transmart.

Pembukaan Transmart ini ternyata direspon positif oleh masyarakat. Dalam waktu tiga hari, Jumat-Minggu jumlah pengunjung yang datang sangat banyak. Demikian pula omset penjualan Transmart dalam tiga hari berbilang miliaran rupiah.

Dari pengalaman saya tersebut, bisa disimpulkan bahwa untuk mengajak investor
masuk ke Sumbar bukanlah pekerjaan mudah. Meskipun Bpk CT adalah sosok yang cukup saya kenal dekat, namun untuk masuk ke Sumbar beliau tetap harus berpikir panjang. Urusan investasi tetap perlu melakukan sebuah studi kelayakan. Dan studi kelayakan ini merupakan alat ukur objektif bagi investor untuk masuk ke Sumbar. Karena orang berinvestasi memikirkan bagaimana mendapat keuntungan.

Selain itu, untuk masalah investasi, Sumbar punya kekhasan tersendiri. Tidak semua bidang bisa dimasuki investor. Namun bukan berarti hal ini menjadikan kondisi Sumbar suram akan investasi. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya Transmart secara bersamaan waktunya di Padang dan Pekanbaru, omset Transmart Padang lebih tinggi dari Transmart Pekanbaru.

Dalam satu hari omset Transmart Padang mencapai Rp1,4 miliar, sedang di Transmart Pekanbaru Rp1,2 miliar. Pada hari pertama terjual enam buah mobil di Transmart Padang, sedang di Transmart Pekanbaru tidak ada mobil yang terjual. Di samping itu, jumlah pengunjung Transmart Padang hampir dua kali lipat pengunjung Transmart Pekanbaru.

Di Transmart Padang disediakan “Pojok Minangkabau” untuk memamerkan hasil produk UMKM asal Sumbar yang sudah melewati saringan. Tidak tertutup kemungkinan jika produk UMKM tersebut memiliki kualitas dan kemasan yang baik akan dijual di seluruh Transmart di Indonesia. Grafika selaku BUMD telah bekerjasama dengan Transmart Padang dalam menyalurkan produk-produk UMKM Sumbar yang telah memenuhi syarat tertentu.

Dengan hadirnya Transmart di Padang, berpengaruh terhadap membaiknya ekonomi masyarakat. Tenaga kerja daerah terserap, produk UMKM daerah terserap, penghasilan meningkat, dan masyarakat pun memiliki pilihan untuk belanja maupun wisata keluarga.

Maka saya mengajak kepada seluruh masyarakat agar memberikan respon positif kepada investor yang masuk ke Sumbar. Mereka masuk dengan pemikiran yang penuh dengan pertimbangan dan juga bersedia mematuhi aturan yang ada. Masalah parkir atau kemacetan yang timbul lebih baik dipikirkan dan dibicarakan bersama. Karena saya amati, ada peran beberapa orang yang menyebabkan munculnya parkir liar dan kemacetan.

Ini juga bisa dilihat di beberapa tempat di Padang yang sudah menyediakan area parkir, seperti sebuah toko buku dan sebuah rumah sakit. Kedua tempat ini sudah menyediakan area parkir untuk pengunjung. Namun karena ulah sekelompok orang menyebabkan kendaraan parkir bukan di tempat yang disediakan, sehingga sedikit banyaknya mengganggu arus masuk keluar orang dan kendaraan.

Bagi pihak Transmart sendiri, saya juga mengharapkan semaksimal mungkin memikirkan dan menyediakan area parkir untuk pengunjung dan mengatasi ketertiban lokasi sekitar Transmart sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan berarti. Meskipun sudah ada dua lantai area parkir, mungkin bisa dibuat alat penyedia informasi yang bisa menerangkan kepada pengunjung tentang penuh-tidaknya area parkir yang ada. Di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta, informasi semacam ini sudah disediakan sehingga pengunjung yang tidak kebagian parkir karena penuh terpaksa keluar.

Bagi masyarakat, marilah mensyukuri keberadaan Transmart di Sumbar ini dengan menikmati keberadaannya sambil berperilaku positif dengan parkir di tempat resmi. Sekaligus mengedepankan budaya antri sehingga bisa mengurangi kemacetan.

Transmart adalah bentuk investasi bidang perdagangan dan pariwisata yang bisa berjalan baik di Sumbar, seperti halnya hotel, pusat perbelanjaan, resort, dan restoran. Selain investasi di bidang pariwisata di Sumbar, terdapat pula bidang energi terbarukan seperti panas bumi (ada 16 titik di Sumbar, setara 1600 megawatt) dan pembangkit listrik baik PLTM maupun PLTMH (terdapat ratusan titik). Bidang perikanan pun bisa masuk Sumbar (perikanan tangkap dan budidaya ikan). Tiga bidang ini memang peluang investasinya bagus di Sumbar. Namun di luar bidang itu, saya tetap harus bekerja keras agar investasi masuk ke Sumbar dan efeknya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Saya meyakini bahwa investasi adalah jalan untuk menyiasati keterbatasan APBD maupun APBN untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan investasi yang sesuai dengan kekhasan Sumbar, insya Allah bisa menggerakkan ekonomi masyarakat. Maka dukungan masyarakat terhadap masuknya investor, juga dukungan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam masalah perizinan akan mengundang banyak investor. Sehingga dampaknya kepada masyarakat pun bisa meluas.

Singgalang, 31 Mei 2017

221. 2017-06-07 [Singgalang] WTP ke-5

WTP Ke-5

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 22 Mei 2017 lalu dalam acara Rapat Paripurna Istimewa DPRD Sumbar, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) RI Perwakilan Sumbar menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Sumbar Tahun Anggaran 2016. BPK RI kembali memberikan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dan ini merupakan WTP ke-5 yang diberikan kepada Sumbar secara berturut turut.

Jika melihat kondisi pada tahun 2010, sewaktu saya dilantik menjadi Gubernur, opini yang diberikan oleh BPK terhadap LKPD Prov. Sumbar adalah Disclaimer. Karena pada saat itu Sumbar baru saja dilanda gempa hebat yang menyebabkan kerusakan besar rumah penduduk, tempat ibadah, instansi pemerintah, dan infrastruktur. Sehingga situasi dan kondisi yang ada lebih diprioritaskan untuk melakukan pemulihan. Masalah aset dan dokumen akibat gempa pun jadi kendala utama.

Maka saya bersama jajaran pemprov bekerja keras agar laporan yang disajikan bisa lebih baik lagi. Alhamdulillah LKPD Prov. Sumbar tahun 2011 mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Dan ini artinya terjadi peningkatan kualitas penyajian laporan. Kami di jajaran Pemprov pun bekerja keras untuk lebih baik lagi sehingga LKPD Prov. Sumbar tahun 2012-2016 mendapat opini WTP dari BPK.

Opini BPK dapat didefinisikan sebagai pernyataan profesional pemeriksa tentang kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan, kepatuhan terhadap UU dan efektivitas sistem pengendalian intern.

Opini yang diberikan BPK dalam memeriksa laporan keuangan, dalam hal ini pemerintah daerah ada beberapa predikat, seperti Disclaimer, Wajar Dengan Pengecualian, Wajar Tanpa Pengecualian. BPK selaku pemeriksa akan melihat apakah laporan yang disajikan sudah lengkap, benar, dan sesuai aturan. Dengan laporan yang lengkap, benar dan sesuai aturan. Insya Allah hal ini akan mengurangi kesalahan dalam mengelola keuangan daerah sehingga penggunaannya bisa makin  baik, tepat sasaran dan bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.

Namun demikian, opini WTP yang didapat ini bukan berarti tidak ada penyimpangan (fraud). Dalam menyusun laporan keuangan pemerintah daerah, kami bekerja keras menyiapkan laporan sesuai standar yang ada. Satu persatu masalah kami selesaikan. BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) dan  Inspektorat Provinsi juga turut ikut membantu kami dalam memperbaiki dan menyempurnakan laporan.

Temuan dari BPK RI yang kemudian direkomendasikan kepada Pemprov Sumbar, terus kami tindaklanjuti dan perbaiki. Alhamdulillah, berkat kerja keras seluruh staf dan pimpinan, laporan yang kami sajikan semakin baik ke depannya.

Kami tidak menafikan jika terdapat kasus SPJ fiktif. Terkait hal ini, dalam laporan sudah kami sampaikan kepada BPK  bahwa ada penyimpangan yang terjadi. Jika kemudian temuan BPK adalah ranah pemeriksaan, maka dalam ranah hukum  orang yang melakukan penyelewengan sudah diperiksa oleh kepolisian. Jadi, laporan yang kami sajikan kepada BPK tidak ada yang disembunyikan. Jika ada penyimpangan, maka kami sajikan juga di situ.

Dengan kerja keras yang kami lakukan dalam menyajikan  laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi yang sudah ditetapkan, maka kami berharap bahwa penyajian laporan keuangan yang baik dan benar insya Allah akan berujung kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kami tidak ingin selepas pemberian opini WTP lalu tidak ada manfaat yang lebih besar dari sekedar WTP saja. Karena sesungguhnya dengan mendapatkan WTP maka ada perbaikan kualitas dalam pengelolaan keuangan daerah dari sejak perencanaan hingga eksekusi.

Salah satu bentuk kegiatan perencanaan tersebut adalah Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) yang merupakan bentuk perencanaan partisipatif, sehingga apa yang diusulkan menjadi anggaran yang berawal dari aspirasi masyarakat. Dengan demikian, jika perencanaanya baik, insya Allah dana yang dikeluarkan akan tepat sasaran. Dan BPK pun memeriksa laporan keuangan kami sejak perencanaan hingga eksekusi. Atau dari hulu hingga ke hilir.

Dengan demikian, semakin pengelolaan keuangan direncanakan dengan baik maka insya Allah hasilnya akan maksimal bermanfaat untuk rakyat.  Dana yang ada pun bisa dilihat secara transparan oleh BPK, termasuk apakah benar peruntukannya. Sehingga, dana-dana yang dialokasikan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat semakin kecil kemungkinannya untuk disalahgunakan karena akan mudah dideteksi jika ada penyimpangan. Dan ini bisa terjadi jika penyajian laporan keuangannya sesuai dengan teknik dan metode yang sudah ditetapkan sesuai peraturan yang berlaku.

Jika ada alokasi dana yang tidak efektif maka akan jadi temuan, sehingga harus kami koreksi agar menjadi efektif. Jika alokasi dananya efektif maka ia akan tepat guna dan tepat sasaran. Dengan demikian, sesungguhnya kerja keras kami dalam penyajian laporan keuangan yang mendapat opini WTP dalam rangka berkaitan dengan penggunaan anggaran yang efektif, tepat guna, tepat sasaran dan bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

Alhamdulillah, karena LKPD Sumbar sudah mendapat opini WTP beberapa kali maka pemerintah pusat memberikan apresiasi berupa dana insentif daerah (DID) sekitar Rp51 miliar pada tahun lalu kepada Sumbar. Dan DID tahun ini insya Allah jumlahnya akan lebih besar lagi. Dan ini semua akan kami kembalikan lagi kepada masyarakat dalam bentuk program-program pembangunan.

Insya Allah, penyajian laporan keuangan yang sesuai dengan aturan akan berhubungan positif dengan  pelaksanaan program-program pembangunan yang tepat guna dan tepat sasaran sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dan ini bisa dilihat dari beberapa indikator makro Sumbar. Misalnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di 2011 67,81, meningkat menjadi 70,73 di 2016. PDRB perkapita Rp20,06 juta pada 2011 meningkat menjadi Rp34,41 juta pada 2016. Tingkat pengangguran 8,02 % pada 2011, menurun menjadi 5,09% di 2016. Kemiskinan pada 2011 sebesar 8,99% menurun pada 2016 menjadi 7,09%.

Investasi dalam negeri Rp1,7 triliun pada 2011 meningkat menjadi  Rp3,8 triliun di 2016. Investasi asing 65 juta dolar AS pada 2011 meningkat menjadi 79 juta dolar AS pada 2016. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Sumbar pada 2011 C, meningkat menjadi CC pada 2012, 2013, dan meningkat lagi menjadi BB di 2014, 2015.

Selain itu, pengeluaran perkapita, rata-rata lama sekolah, angka harapan hidup saat lahir, harapan lama sekolah, mengalami peningkatan sejak 2011 hingga 2016. Belum lagi indikator lain di bidang kesehatan, infrastruktur, pertanian, dan lainnya yang juga mengalami peningkatan sejak 2011 hingga 2016.

Oleh sebab itu, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran Pemprov dan juga seluruh stakeholders terkait atas kerja keras dan kerja samanya. Saya meyakini bahwa kerja keras kita dalam mengelola keuangan daerah selain berdampak positif kepada masyarakat juga akan kembali lagi kebaikannya kepada diri kita atas izin Allah SWT.

Singgalang, 07 Juni 2017

222. 2017-06-20 [Padek] Berpuasa di Luar Negri

Berpuasa di Luar Negri

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sumbar akhir Mei 2017 lalu mengunjungi beberapa negara Eropa, ternyata waktu Ramadhan sudah tiba. Maka kami pun berpuasa. Rasanya berpuasa di luar negeri tentu berbeda dengan puasa di Indonesia. Meskipun dalam perjalanan (safar) yang memiliki alasan (uzur) dibolehkan untuk tidak berpuasa, saya dan rombongan tetap berpuasa.

Berpuasa di luar negeri seperti Eropa memang berbeda dengan Indonesia. Kami harus menahan haus dan lapar selama lebih kurang sekitar 18 jam. Sedangkan jika membandingkan dengan kondisi Indonesia, waktu untuk menahan haus dan lapar adalah sekitar 13 jam.  Tentu saja tidak hanya menahan haus dan lapar saja, tetapi juga yang lainnya yang sudah digariskan dalam agama.

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim No. 1151)

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Alhamdulillah kami bisa berpuasa seperti biasanya, tidak sampai keletihan apalagi sakit, meskipun sedang melakukan perjalanan. Dengan rentang waktu yang lebih panjang sekitar 5 jam dari Indonesia, kami bisa melewati puasa dengan baik.

Dengan banyaknya kegiatan yang harus kami ikuti selama di Eropa, alhamdulillah kami ternyata bisa menjalani ibadah puasa di Eropa yang waktunya lebih lama. Saya sendiri sempat bertanya, apa yang menjadikan umat Islam di berbagai belahan dunia ikhlas menjalani puasa dengan perbedaan rentang waktu yang tidak sama. Terutama mereka yang mengalami rentang waktu cukup lama hingga yang paling sedikit waktu antara maghrib dengan subuh.

Dugaan saya, jawabannya adalah kerelaan dan keimanan yang ada pada diri umat Islam, sehingga mereka menjalani puasa tidak semata-mata karena menahan haus dan lapar serta hawa nafsu lainnya. Tetapi juga merupakan kewajiban sebagai orang yang beriman seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan  atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Karena jika ada orang yang tidak rela menerima perintah puasa, ia akan merasa kelaparan dan harus makan di saat orang lain berpuasa.

Oleh karena puasa merupakan kewajiban, maka mereka yang berpuasa lebih lama dari saudaranya yang lain tidak merasa iri, bahkan menjalaninya dengan ikhlas. Ini menandakan bahwa puasa itu bisa dilakukan oleh umat manusia di berbagai belahan dunia. Dan artinya, puasa itu tidak milik segolongan kaum saja, tetapi sesungguhnya berlaku universal.

Kita juga bisa melihat bahwa perintah puasa itu adalah untuk seluruh umat islam di seluruh dunia. Tidak terpaku hanya kepada satu dua wilayah saja. Tidak terpaku hanya kepada jazirah Arab atau Asia saja, tetapi juga berlaku di Eropa, Amerika, Australia dan lainnya.

Maka kita dapat melihat bahwa puasa itu bukan berapa lama waktu untuk menahan, tetapi bagaimana keikhlasan dalam menerima dan menjalankan perintah Allah SWT oleh seluruh umat Islam.  Ibarat anak yang mematuhi perintah orangtuanya, itulah pemisalan orang yang berpuasa. Menerima tanpa reserve apa yang diperintahkan Allah SWT.

Satu hal yang patut disyukuri, suasana puasa di Indonesia sangat terasa, baik kekhusyukan dalam beribadah maupun kegembiraan dalam berbuka dan beribadah malam hari. Masyarakat dimanjakan dengan informasi azan maghrib yang massif, baik dari televisi dan radio maupun dari masjid dan mushola, serta sirine. Sedangkan di luar negeri, tidak ada suasana demikian, terutama untuk negara-negara dengan penduduk mayoritas non muslim.

Di luar negeri, orang harus terus melihat jamnya untuk memastikan sudah masuk waktu  Maghrib dan Subuh. Dan jika sudah masuk waktu Maghrib, sudah harus bersiap untuk sahur karena rentang waktu yang pendek. Belum lagi mencari makanan yang halal seperti yang kami alami. Dan jangan ditanya ke masjid mana akan sholat wajib dan tarawih berjamaah, karena sangat sulit menjumpainya. Berbeda dengan kondisi Indonesia yang ramai orang berjualan pebukaan ketika sore. Sementara masjid dan mushola sudah siap dengan ibadah wajib dan tarawih.

Menjalani  langsung puasa di Eropa sekaligus melihat kondisi yang ada, maka tepat sekali firman Allah SWT dalam surat Al Hujurat ayat 13 yang menerangkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, di mana yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah orang yang paling takwa.

Ternyata bukan berapa lamanya waktu berpuasa yang Allah lihat, tetapi seberapa patuh mereka kepada perintah Allah SWT. Dan semoga kitapun yang hidup di Indonesia dengan kondisi yang mendukung untuk itu, mampu meraih derajat takwa. Aamiin.

 

Padang Ekspres, 20 Juni 2017

223. 2017-06-22 [singgalang] Ramadhan di Masjidil Haram

Ramadhan di Masjidil Haram

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Awal Juni 2017 lalu atas izin Allah SWT saya berkesempatan menjalani ibadah amaliah Ramadhan di Masjidil Haram. Dalam kesempatan itu saya menemani orang tua saya melaksanakan ibadah umrah. Suasana Masjidil Haram penuh sesak oleh mereka yang melakukan ibadah. Penuhnya Masjidil Haram dengan manusia karena mereka semua kebanyakan menetap di Makkah Al Mukarramah selama bulan Ramadhan. Sehingga ada yang menyebut kondisinya lebih ramai dari ibadah haji.

Masjidil Haram berada di Makkah Al Mukarramah, yang dijelaskan oleh Rasulullah sebagai sebaik-baik bumi Allah seperti yang disabdakan yang artinya, “Demi Allah, sesungguhnya engkau  adalah  sebaik-baik bumi Allah, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan karena dipaksa ke luar,  maka aku tidak akan meninggalkan engkau.” (HR. At-Tirmidzi)

Masjidil Haram baru saja diperluas, namun ternyata tetap penuh sesak oleh orang yang beribadah di bulan Ramadhan ini. Karena mereka ingin mendapatkan pahala terbaik di sini. Di antaranya seperti sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti haji bersamaku,” (HR. Bukhari No. 1863). Dalam hadis lain, “Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim No. 1256)

Siapa yang tidak mau berhaji bersama Rasulullah? Karena jika kita melihat para sahabat yang berhaji bersama Rasululullah SAW, mereka mendapatkan berbagai keutamaan di akhirat yang kekal abadi, sehingga membuat iri kita yang hidup ribuan tahun setelah mereka.

Di samping itu, pahala shalat di Masjidil Haram pun memiliki keutamaan yang tinggi. “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah No. 1406).

Jika shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya, maka shalat di Masjidil Haram di bulan Ramadhan tentu akan lebih besar lagi nilainya.

Kenikmatan beribadah di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan, tidak hanya shalat, tetapi juga umrah, membaca Al Quran, iktikaf, qiyamul lail, dan juga shalat tahajud, serta zikir lainnya.

Dan untuk mengunjungi Masjidil Haram, bagi kita yang di Indonesia pastilah membutuhkan dana dan menyediakan waktu. Namun sebenarnya tidak selalu masalah dana dan waktu, akan tetapi kemauan. Karena banyak orang yang memiliki uang cukup untuk pergi ke Tanah Suci dan bisa menyediakan waktu namun tidak memiliki kemauan.

Sebaliknya, orang yang memiliki kemauan namun dibatasi masalah dana biasanya akan menabung. Banyak kisah yang membuktikan bahwa jika ada kemauan insya Allah bisa pergi ke tanah suci.

Maka, beruntunglah orang-orang yang memiliki kemauan dan bisa shalat serta ibadah di Masjidil Haram. Karena telah melakukan apa yang disabdakan Rasulullah SAW sehingga mendapatkan keutamaan.

Jika kita perhatikan rukun Islam, maka ibadah utama seorang muslim adalah berhaji ke tanah suci jika memiliki kemampuan. Namun karena di Indonesia antrean haji sudah menembus angka belasan tahun, maka bagi muslim yang ingin merasakan nikmatnya beribadah di tanah suci yang bisa dilakukan adalah menunaikan ibadah umrah.

Karena kita sadari bahwa hidup di dunia adalah untuk menyiapkan bekal menuju akhirat, maka beribadah di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan adalah salah satu bagian yang bisa dilakukan oleh setiap muslim sebagai bekal mereka menuju akhirat.

Ibarat orang berdagang, untung besar pastilah diinginkan. Dan untung besar dalam beramal ibadah tersebut bisa didapatkan dengan mengikuti sabda Rasulullah SAW terkait keutamaan ibadah di Masjidil Haram, apalagi saat bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW dalam sabdanya banyak menyebut keutamaan-keutamaan beribadah di suatu tempat tertentu, dan di suatu waktu tertentu.  Dan banyak orang yang berusaha mendapatkan berbagai keutamaan ini agar mereka mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. Sebagai persiapan bekal untuk menghadapi akhirat.

Dalam urusan dunia saja, banyak orang melakukan lompatan-lompatan besar agar meraih prestasi dan mewujudkan obsesi. Maka demikian pula untuk urusan akhirat, banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan lompatan besar untuk dijadikan bekal kehidupan akhirat. Semoga kita bisa melakukan lompatan besar itu sehingga kita menjadi manusia yang mendapat rahmat Allah SWT dan semoga menjadi orang yang bertakwa. Aamiin. ***

 

Singgalang, 22 Juni 2017

224. 2017-07-03 [Padek] Zakat Fitrah dan Silaturahmi

Zakat Fitrah dan Silaturahmi

Oleh:    Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Umat Islam telah selesai melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1438 Hijriah. Di sepuluh hari terakhir Ramadhan banyak kaum muslimin yang melaksanakan sunnah Nabi SAW yaitu iktikaf. Pada sepuluh hari terakhir itu ada sebuah malam yang disebut Lailatul Qadar. Bagi yang mampu mendapatkan malam tersebut, maka pahalanya  lebih baik dari ibadah selama 1000 bulan.

Setelah selesai melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh, maka di awal bulan baru (Syawal) umat Islam merayakan Hari Idulfitri.  Pada hari ini umat Islam bersukacita. Takbir dan tahmid dikumandangkan. Dalam keceriaan itu, di bulan Ramadhan hingga menjelang shalat Id seluruh umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah berupa bahan pokok sejumlah 3,5 liter per orang. Baik kaya maupun miskin, baik yang baru lahir maupun yang sudah tua.

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perbuatan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (Id), maka itu adalah satu sedekah dari sedekah-sedekah.” (HR. Abu Daud)

Zakat fitrah memiliki dimensi sosial yang tinggi. Bagi yang mampu, selain menyucikan diri ini juga akan membentuk kepedulian sosial terhadap sesama. Bagi yang hidupnya sederhana, ia akan  mendapatkan kesucian diri dari zakatnya, dan bagi mereka yang diberikan zakat fitrah akan mendapatkan kegembiraan karena bisa membeli makanan dan baju untuk hari raya.

Zakat fitrah memang bukan zakat harta (maal). Jika zakat harta memiliki nasab (batas tertentu agar bisa dibayarkan zakatnya) dan tidak semua orang harus membayar karena belum mencapai nasab maka zakat fitrah diwajibkan kepada seluruh umat Islam tanpa kecuali. Umat Islam yang berpuasa tapi tidak membayar zakat fitrah, maka Allah SWT dan RasulNya akan murka.

“Barangsiapa yang tidak membayar zakat yang wajib atasnya, (kelak) di hari kiamat akan dimunculkan baginya ular jantan yang memiliki bisa sangat banyak. Ular tersebut akan menarik kedua tangan orang itu dan berkata kepadanya, ‘Saya ini adalah harta dan kekayaan yang telah kamu kumpulkan di dunia.” (HR. Al Bukhari)

Melihat bunyi hadis demikian, maka sesungguhnya inilah letak keadilan ajaran Islam. Pembelaan kepada kaum dhuafa sangat jelas dan kuat. Sebulan penuh berpuasa dalam rangka menahan haus, lapar dan nafsu serta mengajak berempati akan kehidupan kaum dhuafa, menjelang Idulfitri diwajibkan membayar zakat fitrah agar mereka yang dhuafa bergembira di Hari Idulfitri.

Selain itu, kegembiraan di Hari Idulfitri adalah silaturahim sesama saudara, tetangga, teman yang sudah membudaya di Indonesia.  Dan bahkan di antara negeri muslim, hanya ada di Indonesia, yaitu halal bihalal. Pada Hari Idulfitri, umat Islam saling mengunjungi satu sama lain, saling memaafkan. Sehingga hati mereka kembali bersih, selain telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.

Silaturahmi yang merupakan wujud kegembiraan di Hari Idul Fitri juga merupakan pembuka pintu rezeki. Ini seperti disabdakan oleh Rasulullah SAW.

Dari Anas bin Malik r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa ingin dilapangkan baginya rezekinya dan dipanjangkan untuknya umurnya hendaknya ia melakukan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudahlah membuka pintu rezeki dan memanjangkan umur, silaturahmi saling bermaafan juga membersihkan hati. Andaikan saling bermaafan tidak hanya di Hari Idulfitri, mungkin pengaruh positifnya dalam kehidupan akan lebih banyak lagi, sehingga kesuksesan hidup lebih cepat dan lebih banyak diraih.

Rasulullah SAW pernah menceritakan kisah orang ahli surga yang amalan utamanya adalah memaafkan kesalahan orang lain setiap malam sebelum tidur, hingga ada sahabat yang mencari tahu. Dan ternyata memang benar, amalan utamanya adalah memaafkan kesalahan orang lain yang menzalimi dirinya. Tidak ada amalan lain yang terlihat menonjol oleh sahabat yang mencari tahu tersebut.

Semoga di momentum Idulfitri ini, kita dapat mengambil pelajaran dari silaturahmi saling bermaafan dan saling memaafkan, yang pengaruhnya dalam kehidupan kita ternyata sangat positif. Dan juga tak lupa kita sucikan diri kita setiap tahun dengan memastikan sudah membayar zakat fitrah. Aaamiin. ***

 

Padang Ekspres, 03 Juli 2017

225. 2017-07-13 [Singgalang] Dirgahayu Polri

Dirgahayu Polri

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 10 Juli 2017 lalu saya menghadiri upacara Peringatan Hari Bhayangkara atau HUT Polri (Kepolisian RI)  ke-71 yang berlokasi di Lapangan Imam Bonjol, Padang.  Pada kesempatan itu Kapolda Sumbar sebagai Irup membacakan amanat tertulis Presiden RI yang mengapresiasi kerja keras Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Saya turut mengamini apa yang disampaikan Presiden dalam amanat tertulisnya.

Tema peringatan HUT Polri tahun ini adalah “Dengan semangat profesionalitas dan modernisasi Polri berkomitmen untuk meraih kepercayaan masyarakat demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejahtera, mandiri, berkeadilan.” Tema perayaan HUT yang ke-71 ini jika dilihat lebih dalam lagi memang sedang dilakukan oleh Polri.

Selaku kepala daerah, saya merasakan peran besar kepolisian dalam membantu menciptakan suasana keamanan dan ketertiban yang baik bagi masyarakat.  Dalam hal ini bisa dilihat faktanya dalam ruang lingkup wilayah Sumbar.

Sebagai contoh, baru saja kita melewati bulan Ramadhan dan merayakan Hari Idulfitri 1438 H. Alhamdulillah dengan peran kepolisian yang sudah dilakukan, kita bisa merasakan kondisi keamanan yang baik. Ini patut disyukuri oleh kita semua. Karena dengan keamanan yang baik, seluruh masyarakat bisa beraktivitas dengan baik.

Operasi yang diberi nama Ramadniya pada bulan Ramadhan dan juga di momen Hari Idulfitri telah dilakukan oleh kepolisian dengan baik sehingga kondisi di Sumbar dalam keadaan aman, tertib dan terkendali. Dalam hal penanganan keamanan jalan raya pun, pihak kepolisian telah berperan besar dalam mengamankan lalulintas. Hal ini turut menyumbang akan minimnya kecelakaan lalulintas. Demikian pula dalam hal melayani para perantau yang mudik menuju kampungnya maupun orang ranah yang bepergian, peran kepolisian sejauh ini patut diapresiasi.

Selain itu, yang mungkin luput dari perhatian masyarakat banyak adalah peran kepolisian dalam mewujudkan stabilitas harga barang, terutama bahan pokok dan komoditas pangan patut diapresiasi. Seperti kita ketahui bahwa inflasi yang terjadi pada bulan Ramadhan 1348 H di Sumbar angkanya cukup kecil.

Jika biasanya harga bahan pokok naik cukup tinggi sehingga angka inflasi juga tinggi, maka pada Ramadhan kali ini angka inflasi justru di bawah dari tahun sebelumnya. Pada Ramadhan 2017 angkanya berada di 0,32 persen. Sementara pada Ramadhan 2016 angkanya 1,52 persen. Seperti disampaikan oleh Kepala Perwakilan BI Sumbar Bpk Puji Atmoko, inflasi bulanan Sumbar untuk bulan Juni 2017 adalah yang terendah ketiga dari 32 provinsi yang mengalami inflasi secara nasional.

Satgas ketahanan pangan yang dibentuk oleh kepolisian telah terbukti mampu meredam gejolak harga bahan pokok dan komoditi pangan sehingga inflasi bisa ditekan. Oknum pedagang tidak berani lagi menimbun, memonopoli dan menaikkan harga sesukanya karena demand meningkat. Polisi dengan satgasnya siap menindak.

Terkait masalah terorisme dan radikalisme, kita juga patut memberikan apresiasi kepada pihak kepolisian di Sumbar yang telah bekerja dengan baik sehingga Sumbar relatif lebih aman dibanding provinsi lain dalam mengantisipasi munculnya terorisme dan radikalisme yang bertentangan dengan nilai agama.

Dan yang juga patut diapresiasi oleh kita bersama adalah berhasilnya pihak kepolisian di Sumbar mengungkap banyak kasus narkoba. Banyaknya kasus narkoba yang terungkap ini bukan lantaran banyaknya jumlah pengguna atau pengedar narkoba. Karena boleh jadi di daerah lain jauh lebih banyak pengguna narkobanya tapi kasusnya tidak terungkap.

Namun dalam hal ini justru pihak kepolisian di Sumbar dengan kerja kerasnya berhasil mengungkap kasus narkoba dengan mendapatkan informasi dari orang-orang yang terkena narkoba dan para pasien kasus narkoba yang berada di rumah sakit yang ada di Sumbar.

Berbeda dengan data kemiskinan dan pengangguran yang bisa dilihat langsung dan dihitung ke masyarakat, maka data kasus narkoba bisa terungkap melalui kerja keras aparat kepolisian mengungkap dan mengumpulkan informasi serta menangkap pelaku Narkoba.

Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolda Sumbar dan jajarannya yang menindaklanjuti setiap laporan dari Pemprov maupun masyarakat,  seperti laporan kasus kemaksiatan atau penyakit masyarakat yang direspon cepat oleh Kapolda dan jajaran di bawahnya. Seperti penggerebekan di kawasan Taman Melati dan beberapa titik lain yang sudah sering disuarakan masyarakat.  Demikian pula masalah kelompok geng motor, Kapolda langsung turun menindaklanjuti. Belum lagi masalah lain seperti kemacetan lalulintas yang juga direspon segera oleh Kapolda.

Selain itu, dalam hal pelayanan yang ditangani kepolisian, perkembangannya semakin baik dirasakan pada saat ini.  Seperti pelayanan kepolisian bersama pemprov di Samsat, semakin menunjukkan perbaikan yang lebih bagus.

Dengan berbagai pencapaian dan prestasi yang telah ditunjukkan oleh kepolisian ini semoga dampaknya juga mampu meningkatkan investasi, lancarnya pembangunan, dan kegiatan masyarakat di Sumbar semakin baik.

Mengakhiri tulisan ini, saya ucapkan Dirgahayu Polri. Semoga Polri semakin maju dalam melakukan tugas-tugasnya yang kian kompleks di era modern ini. Sehingga NKRI yang adil, mandiri, dan sejahtera bisa terwujud. Dan dampaknya kembali ke masyarakat. Aamiin.

 

Singgalang, 13 Juli 2017

226. 2017-07-18 [Padek] Tiket Pesawat Mahal

Tiker Pesawat Mahal

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Sudah menjadi “kelaziman” dari tahun ke tahun bahwa ketika momentum Ramadhan dan Idulfitri harga tiket pesawat dari Jakarta ke Padang menjadi mahal. Mahalnya harga tiket pesawat ini karena berlaku hukum ekonomi yaitu jika permintaan meningkat sedangkan penawaran tidak ikut meningkat maka harga naik, apalagi jika permintaan jauh melampaui penawaran, harganya bisa lebih tinggi lagi. Namun untuk tiket Jakarta Padang dirasakan sangat tinggi sekali. Sehingga menimbulkan protes dari konsumen.

Selaku gubernur saya sudah mengirimkan surat resmi beberapa kali kepada pihak maskapai Garuda yang merupakan “pemimpin pasar” dalam penentuan harga tiket pesawat, agar menerapkan keadilan dalam penentuan harga tiket. Dan keadilan yang dimaksud adalah misalnya melihat pula penerapan harga tiket dari Jakarta ke Pekanbaru, Jambi atau Batam yang waktu tempuhnya tidak jauh berbeda dengan jarak Jakarta Padang, namun harga tiketnya bisa lebih murah.

Namun jawaban dari pihak Garuda masih normatif dengan berpedoman kepada peraturan yang berlaku (Kemenhub) di mana tetap memperhatikan batas atas dalam menerapkan harga tiket. Meskipun masih di bawah batas atas, harganya tetap sangat mahal. Maka, maskapai lain pun akhirnya menerapkan harga yang sangat mahal kepada penumpang ketika momentum ramadhan dan saat Idulfitri ini karena mengacu kepada harga tiket Garuda.

Berdasarkan data BPS, kenaikan harga tiket pesawat di momentum Idulfitri menyumbang angka inflasi Sumbar cukup besar yaitu sebesar 0,10 persen. Saya masih berharap di tahun-tahun berikutnya harga tiket pesawat dari Jakarta ke Padang bisa lebih rasional pada saat Idulfitri di mana maskapai berlaku proporsional dan adil dengan rute lain yang sebanding waktu tempuhnya sehingga keuntungan tetap bisa didapat maskapai namun konsumen juga tidak diberatkan.

Memang jika kita melihat penyebab harga tiket pesawat mahal ini karena sangat banyak perantau yang pulang kampung dari Jakarta ke Padang dengan menggunakan pesawat. Sehingga lonjakan jumlah penumpang ini menyebabkan terjadinya lonjakan harga yang luar biasa. Meskipun sudah ada sedikitnya 12.000 kursi extra flight  dan minimal 5.000 kursi tambahan melalui pengunaan pesawat berbadan besar jenis Airbus oleh beberapa maskapai dengan rute Jakarta-Padang, penumpang tetap ramai dan harga tetap tinggi.

Para perantau sebenarnya juga banyak yang menggunakan mobil atau bus untuk pulang kampung. Ini terbukti dari penuhnya jalan-jalan di Sumbar ketika Idulfitri sehingga terjadi kemacetan di berbagai tempat. Beberapa perantau baik dari kesatuan wilayah tertentu maupun bukan, mengadakan pertemuan dengan orang sekampung mereka atau kesamaan sekolah dan lainnya seperti silaturahmi nasional, kongres, musyawarah perantau, dan reuni sekolah serta halal bihalal, di mana saya sempat menghadiri beberapa acara yang diadakan tersebut.

Kembali ke masalah harga tiket mahal, ternyata masa berlakunya tiket mahal ini terbilang memiliki rentang waktu panjang. Hal ini di sisi lain menandakan bahwa mungkin satu-satunya di Indonesia jika tiba masa Idulfitri banyak perantau asal Minang pulang kampung sehingga Sumbar selalu mengalami volume trafik pesawat yang meningkat pesat dan juga meningkatnya volume kendaraan di jalan raya. Dan panjangnya rentang waktu tiket mahal menunjukkan arus balik yang lama dari seharusnya dan juga menunjukkan masih ada perantau yang baru pulang kampung.

Kecintaan kepada kampung halaman memang sesuatu yang membanggakan bagi orang Minang, terutama ketika momentum Idulfitri.  Bisa dikatakan bahwa mahalnya harga tiket, lamanya rentang waktu tiket mahal, serta banyaknya perantau yang pulang kampung, adalah bukti juga masuknya aliran uang ke Sumbar dalam jumlah besar. Untuk hal ini saya sangat mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih, karena sumbangsih perantau berupa dana bagi kemajuan kampungnya selama ini sungguh merupakan bentuk dukungan nyata terhadap kemajuan pembangunan di Sumbar.

Meskipun PAD Provinsi Sumbar dan kabupaten/kota mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun dana yang tersedia masih belum mencukupi untuk membangun Sumbar. Maka dengan peran perantau inilah turut berperan dalam pembangunan di Sumbar.

Pemprov Sumbar bekerjasama dengan Polda Sumbar telah berupaya memfasilitasi kedatangan perantau ini dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan para pengguna jalan raya. Meskipun terjadi kemacetan, namun alhamdulillah bisa diminimalkan terjadinya kecelakaan.

Semoga dengan perjuangan perantau bersusah payah datang ke kampungnya pada momentum Hari Idulfitri melalui transportasi udara maupun darat dalam rangka bersilaturahmi dan sekaligus berkontribusi bagi kemajuan pembangunan di Sumbar, mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT. Aamiin. ***

 

Padang Ekspres, 18 Juli 2017

227. 2017-07-26 [Singgalang] Musabaqah dan Multaqa Dai Internasional

Musabaqah dan Multaqa Dai Internasional

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 11-21 Juli lalu diselenggarakan acara skala internasional di Padang yaitu Musabaqah dan Multaqa Dai Se-Asia, Afrika dan Eropa. Di antara yang hadir adalah Imam Masjidil Haram Syaikh Hasan Al Bukhari, Syaikh Khalid Al Hamoudi, Syeikh Musyir Siwar Dzahab (mantan presiden Sudan), dan Duta Besar Arab Saudi Usamah Mohammaed Ash Shuibi. Sepuluh negara Asean juga ikut mengutus dai dan ulamanya di acara ini.

Saya berkesempatan menghadiri acara ini dan juga menutup acara tersebut. Sekitar 500 Dai dan Ulama yang hadir dalam acara ini mendapat respon positif dari masyarakat Kota Padang khususnya dan Sumbar secara umum. Para peserta yang datang dari luar negeri pun memberikan respon positif terhadap acara ini dan juga terhadap sambutan masyarakat.

Di akhir acara ini dihasilkan sebuah kesepakatan yang disebut “Deklarasi Padang”. Beberapa poin penting dari deklarasi ini adalah umat Islam adalah umat yang satu tanpa melupakan adanya perbedaan, di mana akhlak mulia dan akidah yang lurus adalah landasannya. Kemudian, persatuan, kesatuan dan persaudaraan umat Islam harus terus ditumbuhkan dengan mengedepankan cinta kasih sesama manusia, di mana ulama juga diharapkan berperan dan mampu menjadi teladan bagi umat.

Dan terakhir, solidaritas umat Islam harus terus dipelihara agar mampu berkontribusi terhadap penderitaan saudaranya di belahan dunia lain seperti Rohingnya dan Palestina dan tempat lainnya.

Poin-poin penting Deklarasi Padang menunjukkan betapa Islam adalah ajaran yang penuh rahmat dan menjunjung persatuan dan persaudaraan. Dai dan ulama yang berkumpul memberikan kesejukan kepada umat sehingga diharapkan memberi dampak positif kepada masyarakat. Dan yang saya saksikan sendiri, masyarakat begitu antusias dengan acara ini.

Alhamdulillah, momentum pelaksanaan acara ini memang pas waktunya. Yaitu setelah Sumbar dianugerahi sebagai destinasi wisata halal dunia  dan kuliner halal beberapa waktu lalu. Sehingga pelaksanaan acara Musabaqah dan Multaqa Dai ini turut mensukseskan Sumbar sebagai destinasi wisata halal yang layak dikunjungi.

Salah satu acara yang diselenggarakan dalam kaitan Musabaqah dan Multaqa Dai ini adalah festival memasak rendang. Rendang adalah kuliner asli Sumbar, dan baru saja kembali mendapatkan pengakuan di CNN Travel sebagai makanan paling enak di dunia.

Selain itu, pelaksanaan pembukaan acara Musabaqah dan Multaqa Dai ini dilakukan di Masjid Raya Sumbar. Masjid Raya Sumbar saat ini sudah menjadi ikon destinasi wisata di Kota Padang dan Sumbar. Dengan berlangsungnya acara berskala internasional tersebut semakin memperluas publikasi tentang Masjid Raya Sumbar ini di lingkup internasional.

Kementerian Pariwisata juga turut memberikan dukungan terhadap acara ini. Karena turut memperkokoh Sumbar sebagai destinasi wisata halal. Tak kurang dari Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan bahwa kegiatan Musabaqah dan Multaqa Dai di Sumbar membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia aman dan dapat dikunjungi oleh siapapun.

Wisata halal akan menarik datangnya para wisatawan dari negara-negara Islam, negara-negara Asean dan juga untuk menarik datangnya wisata keluarga.

Selain itu, dalam acara ini juga diselenggarakan forum bisnis yang mempertemukan para pengusaha dari Timur Tengah dengan pemerintah daerah yang ada di Sumbar, dan juga pelaku usaha yang ada di Sumbar.

Jika para pelaku usaha yang tergabung atau memiliki organisasi yang menaungi sudah makin cepat menyikapi datangnya para pengusaha luar maupun wisatawan ke Sumbar, maka saya berharap masyarakat pun bisa mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan secara positif dari dilaksanakannya berbagai kegiatan pertemuan di Padang maupun Sumbar.

Peluang bisnis oleh-oleh, kuliner, transportasi, penginapan adalah di antara jenis-jenis peluang yang bisa digarap oleh mayarakat, terutama pelaku UMKM. Pemerintah akan terus menjadikan pariwisata sebagai sarana memajukan Sumbar dan mensejahterakan masyarakat.

Semoga dengan berlangsungnya berbagai kegiatan skala lokal, nasional dan internasional di Sumbar, masyarakat semakin memiliki kesadaran untuk bersama-sama membangun suasana pariwisata yang baik. Sehingga ke depannya pemerintah dan masyarakat secara bersama satu persatu bisa memperbaiki berbagai kekurangan yang masih ada di depan mata, seperti masalah kebersihan lokasi pariwisata dan ketersediaan sarana penunjang yang memadai, tarif masuk dan tarif parkir yang sering dikeluhkan.

Insya Allah, dengan kesadaran semua pihak, potensi wisata halal ini akan menjadi berkah bagi masyarakat Sumbar. Untuk itu, perlakuan kepada wisatawan pun harus dengan cara yang “halal” sehingga memberikan kenyamanan yang baik. Jangan lagi ada pemaksaan yang justru jauh dari nilai Islam itu sendiri. ***

 

Singgalang, 26 Juli 2017

228. 2017-08-09 [Republika] Masalah Inflasi dan Pembangunan Daerah

Masalah Inflasi dan Pembangunan Daerah

Oleh:    Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Dengan adanya kewenangan daerah mengatur dirinya diharapkan pembangunan di daerah akan bisa lebih cepat menyejahterakan masyarakat dan mampu menyerap aspirasi masyarakat yang berkembang.

Namun, meskipun sudah ada otonomi daerah, beberapa kewenangan tetap masih dipegang pemerintah pusat atau instansi pusat. Di bidang ekonomi, hal yang sama terjadi. Misalnya, pengaturan harga komoditas strategis yang bisa memicu inflasi atau kenaikan harga secara umum.

Sebagai contoh, jika terjadi kenaikan harga BBM, otomatis harga barang dan jasa di seluruh provinsi akan naik. Karena kebijakan kenaikan harga BBM ini adalah otoritas pemerintah pusat, pemerintah daerah harus bisa melakukan antisipasi sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

Demikian pula, dengan pencabutan subsidi listrik karena dianggap tidak tepat sasaran. Meskipun ini adalah kewenangan pemerintah atau instansi pusat, masyarakat akan menuntut penurunan tarif kepada pemerintah daerah. Dan yang juga masih hangat untuk konteks Sumatera Barat (Sumbar) adalah harga tiket pesawat yang mahal di momen Idulfitri. Kenaikan harga tiket pesawat ini menyumbang angka inflasi cukup tinggi yaitu 0,66 persen pada Juli 2017.

Bagi pemerintah daerah, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, inflasi perlu dikendalikan. Hal ini dalam rangka mengurangi angka kemiskinan dan menjaga tingkat kesejahteraan masyarakat agar pendapatan mereka tidak tergerus inflasi.

Pendorong naiknya inflasi di Sumbar adalah tingginya permintaan komoditas yang khas. Di antaranya jengkol, beras, bawang merah dan cabai merah. Alhamdulillah harga-harga komoditas ini  tahun 2017 bisa dikendalikan sehingga harganya yang tinggi bisa diturunkan. Kontribusinya terhadap inflasi juga kecil.

Inflasi pada Juni 2017 (Ramadhan dan Idulfitri) di Sumbar 0,32 persen, turun cukup jauh dibanding momen yang sama pada 2016, yaitu 1,52 persen. Inflasi Juni 2017 ini berada di urutan ketiga terendah provinsi se-Indonesia setelah Sumatera Utara dan Riau. Inflasi di Sumbar untuk Juni 2017 angkanya juga lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 0,69 persen.

Untuk mengendalikan inflasi, pemerintah daerah  telah membentuk Tim Pengendali dan Pemantau Inflasi Daerah (TPID). Dengan adanya TPID ini, pengendalian inflasi semakin baik. Bahkan dibentuknya satgas pangan dari kepolisian juga membantu pengendalian harga, karena efektif mampu mencegah terjadinya penimbunan barang, pemonopolian, dan penaikkan harga sesukanya.

TPID juga melakukan berbagai usaha mengendalikan inflasi. Di antaranya melakukan operasi pasar jika teridentifikasi harga naik. Di samping itu, juga dilakukan pembagian bibit cabai kepada masyarakat, melalui pelajar dan ibu rumah tangga. Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) juga digencarkan pembentukannya. Pembangunan gedung pengendalian inflasi juga direncanakan untuk mengatur harga komoditas.

Dari sisi produksi atau di hulu, untuk meningkatkan pasokan beras banyak program yang dibuat pemerintah daerah, seperti cetak sawah, perbaikan irigasi, pemberian benih, penyuluhan, dan pemberian alat pertanian. Sementara di hilir, pemerintah daerah membuat program Toko Tani Indonesia, Lembaga Distribusi Pangan dan BUMD di bidang perdagangan untuk memperlancar distribusi barang kebutuhan pokok.

Untuk mengurangi permintaan yang tinggi terhadap beras, pemerintah daerah melakukan sosialisasi diversikasi pangan, dengan mengajak masyarakat mengganti atau mengurangi makan dengan jenis makan lain. Pengganti beras, antara lain, ubi dan pisang. Hal ini turut berperan mengurangi permintaan beras.

Dengan seringnya terjadi cuaca ekstrem, maka penanaman cabai diatur dengan pola tanam yang mengikuti cuaca sehingga cabai bisa dipanen. Bulog juga berperan dalam penyediaan cabai ini dengan menyediakan stok cabai. Sementara untuk jengkol, dilakukan pemberian benih kepada masyarakat untuk ditanam di hutan agar bisa tetap terpelihara ketersediaannya.

Selain itu, kami telah menyurati Garuda dan Kementerian Perhubungan terkait mahalnya tiket pesawat Garuda. Alhamdulillah, Menteri Perhubungan menyatakan akan menurunkan batas atas harga tiket pesawat.

Di samping mengendalikan inflasi agar ekonomi masyarakat secara umum juga stabil, pemerintah daerah juga memperhatikan masalah pertumbuhan ekonomi di Sumbar. Jika inflasi sudah bisa dikendalikan, harapannya pertumbuhan ekonomi yang terjadi akan bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Beberapa komponen yang cukup memengaruhi pertumbuhan ekonomi di Sumbar, yaitu konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah dan investasi serta ekspor. Dari sisi pemerintah daerah, kami selalu berusaha agar anggaran bisa terserap maksimal. Berdasarkan data BPS Sumbar, konsumsi pengeluaran pemerintah adalah salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Sumbar.

Sementara itu dari sisi konsumsi rumah tangga, naik turunnya dipengaruhi dari pekerjaan utama kebanyakan masyarakat. Di Sumbar, mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Sebagian bekerja sebagai petani sawit dan karet. Jika harga komoditas tersebut di pasar dunia tinggi maka pendapatan dan konsumsi rumah tangga mereka naik.

Sementara petani di sektor lain (petani padi dan juga hortikultura), selama ini senantiasa mendapat perhatian dari pemerintah karena hasilnya merupakan komoditas strategis dalam negeri. Sumbar mendapat target tertentu dari pemerintah pusat untuk penyediaan beras dalam rangka menjaga ketahanan pangan.

Dalam hal ini pemerintah daerah juga melakukan koordinasi (sosialisasi, perencanaan, dan lain-lain), memantau luas tanam, luas panen, dan produksi, juga mengamankan produksi pangan dari hama dan penyakit.  Di samping itu, turut memperlancar distribusi antarwilayah dan mengamankan jalur distribusi. Terganggunya hal tersebut akan berakibat pada penghasilan petani penaikkan inflasi. Dengan seringnya terjadi cuaca ekstrem di Sumbar memang menyebabkan beberapa komoditas sulit ditanam.

Bank Indonesia perwakilan Sumbar sudah turut berpartisipasi langsung di bidang pertanian ini, karena melihat perlunya mendukung sektor riil dengan memberdayakan SDM petani. Demikian pula dengan otoritas jasa keuangan (OJK) yang melihat pentingnya membantu meningkatkan produksinya serta pendapatannya.

Sementara dari sisi investasi, pemerintah daerah telah mempermudah investor untuk masuk ke Sumbar. Namun, investasi yang bisa masuk ke Sumbar juga sesuai dengan kondisi yang ada. Seperti investasi di bidang energi, khususnya energi terbarukan seperti panas bumi yang memiliki 16 titik setara 1.600 megawatt. Dan juga energi air (PLTM dan PLTMH, ratusan titik). Dan yang saat ini juga semakin gencar adalah investasi di bidang pariwisata. Bidang perikanan (perikanan tangkap dan budidaya ikan) pun memiliki peluang investasi yang bagus saat ini.

Investasi yang cenderung padat karya sulit berkembang di Sumbar karena secara umum, masyarakatnya tidak menyukai pekerjaan sebagai buruh pabrik dengan gaji setara upah minimum regional (UMR).

Pertumbuhan ekonomi Sumbar yang relatif baik juga didukung dengan indeks pembangunan manusia (IPM). Selama ini Sumbar berada di jajaran sembilan besar provinsi se-Indonesia. Porsi anggaran untuk bidang kependudukan ini, yang di antaranya meliputi pendidikan dan kesehatan juga menjadi perhatian pemprov.

Penutup

Sumbar berada wilayah pantai barat Sumatera. Lokasi yang kurang strategis secara ekonomi dibanding pantai timur Sumatera. Topografi wilayah terdiri dari pegunungan, bukit, lembah dan hutan serta rentan bencana. Dari sisi pendapatan asli daerah pun tidaklah besar. Namun, ini tidak menghalangi kami untuk bersungguh-sungguh menyejahterakan masyarakat, dengan menyesuaikan kebijakan dan program pembangunan berdasarkan situasi dan kondisi yang ada.

Secara umum, keberhasilan dan kerja keras dalam mengendalikan inflasi secara bersama, diiringi kesungguhan dan kekompakan semua elemen dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berdampak positif bagi masyarakat, adalah solusi riil yang bisa menyejahterakan masyarakat.

Dengan falsafah hidup masyarakat “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, pembangunan di Sumbar untuk menuju masyarakat Sumbar yang madani dan sejahtera senantiasa mengacu kepada pesan yang tertuang dalam ajaran Islam, dan memfokuskan kepada masyarakat selaku subjek sekaligus objek pembangunan. Sehingga kemajuan yang diperoleh tidak selalu berupa kemodernan semata, akan tetapi berupa kenyamanan masyarakat dalam menjalani hidupnya.

 

Republika, 09 Agustus 2017

229. 2017-08-10 [Republika] Alam, Hidup Manusia

Alam, Hidup Manusia

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 2 Agustus 2017 lalu, selaku kepala daerah saya kembali mendapat penghargaan Nirwasita Tantra. Ini adalah penghargaan di bidang lingkungan hidup. Presiden Jokowi menyaksikan langsung Menteri LHK yang memberikan penghargaan ini. Tahun 2016 lalu, penghargaan serupa sudah pula saya terima.

Selain Gubernur Sumbar, yang mendapat penghargaan Nirwasita Tantra ini adalah Bupati Dharmasraya dan Wali Kota Bukittinggi. Sementara tropi Adipura juga diterima oleh enam kota di Sumbar, sedangkan sertifikat Adipura diterima oleh 3 kota lainnya di Sumbar. Dan sebanyak 10 sekolah baik SD, SMP dan SMA di Sumbar mendapatkan penghargaan Adiwiyata.

Nirwasita Tantra diberikan kepada kepala daerah yang memiliki kepemimpinan untuk selalu meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Yaitu kepala daerah yang memiliki visi dan misi tentang lingkungan hidup. Dan ini dibuktikan dengan program serta kepemimpinan yang berwawasan lingkungan hidup.

Saya turut mengucapkan selamat atas penghargaan yang diraih oleh kabupaten dan kota serta sekolah tersebut. Ini adalah sebuah kebanggaan yang perlu disyukuri. Karena secara umum lingkungan hidup di Sumbar yaitu alamnya masih terjaga, sehingga kita masih bisa hidup nyaman dan aman dengan kondisi alam yang bagus ini.

Memang tidak dipungkiri bahwa Sumbar juga memiliki titik-titik rawan bencana. Namun sepanjang masih bisa diantisipasi, insya Allah bencana tersebut bisa kita hindari. Sedangkan bencana yang memang tidak bisa kita hindari datangnya, maka yang terbaik adalah tetap waspada dan melakukan antisipasi dan juga senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar negeri kita terhindar dari bencana.

Falsafah “alam takambang jadi guru” sebenarnya telah mengajarkan kita bahwa manusia sebagai “murid” harus banyak belajar dari alam yang telah diciptakan Allah SWT untuk mendukung kehidupan manusia. Pada satu titik kita memang harus mengakui bahwa semakin baik kita berinteraksi dengan alam secara positif maka akan semakin nyaman hidup kita.

Alam yang tidak dirusak, ia akan memberikan kita oksigen yang sangat berguna untuk hidup kita. Semakin sering manusia merusak alam, maka pasokan oksigen pun akan berkurang. Dan hidup manusia pun menjadi terganggu.

Alam juga menyediakan air bagi manusia. Manusia yang merusak sumber air, mata air maupun penahan air, akan mengalami kerugian. Kekeringan, banjir, longsor, adalah di antara contoh kerusakan yang diakibatkan ulah manusia.

Alam dengan segenap anggota ekosistemnya adalah sebuah kesatuan dan juga kepaduan. Jika ada elemennya yang dirusak maka akan mengganggu ekosistem yang berakibat kepada kerugian bagi manusia. Misalnya saja keberadaan binatang buas di alam bebas. Keberadaan mereka adalah untuk keseimbangan ekosistem. Jika mereka diburu hingga jumlahnya makin sedikit maka hewan-hewan yang menjadi makanannya akan berkembang jauh lebih pesat dan kemungkinan bisa mengganggu kehidupan manusia.

Dalam konteks ini saya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Bpk. Hashim Djojohadikusumo yang telah melepas harimau betina di Dharmasraya untuk kembali ke habitatnya di alam bebas. Saya bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Siti Nurbaya berkesempatan menghadiri acara pelepasan tersebut pada 29 Juli 2017 lalu yang bertepatan dengan Hari Harimau Internasional. Saya juga menyatakan kepada Ibu Menteri bahwa insya Allah Sumbar siap menjadi pusat satwa alam.

Alam yang sudah menjadikan manusia hidup semakin lebih baik memang tidak seharusnya semakin dirusak. Oleh karena itu, kami di pemprov turut berusaha agar lingkungan hidup yang ada di Sumbar tetap terjaga dengan baik.

Alhamdulillah semua target pencapaian terkait lingkungan hidup bisa dipenuhi, seperti indeks air, indeks udara, termasuk kondisi hutan dan sungai. Selain itu juga dalam hal pelaksanaan dan praktik ramah lingkungan di berbagai sektor, seperti pendidikan, industri, dan rumah sakit.

Maka penghargaan yang kami terima ini di satu sisi adalah apresiasi dari pemerintah pusat terhadap kesungguhan kami. Dan di sisi lain turut memotivasi kami untuk bekerja lebih baik lagi dalam menjaga lingkungan agar pembangunan berkelanjutan dapat berjalan baik. Karena kami sadar bahwa masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang memiliki lingkungan yang baik sehingga bisa hidup aman dan nyaman.

Dan semoga masyarakat pun berperan serta dalam menjaga kelestarian alam ini. Kita bersama-sama juga perlu ikut mencegah upaya perusakan alam yang dilakukan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Karena dengan kebersamaan tersebut insya Allah akan memunculkan tanggung jawab dan kesadaran bersama. Dan semoga upaya kita menjaga kelestarian alam mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Aamiin.

 

 

Republika, 10 Agustus 2017

230. 2017-08-23 [Singgalang] Rakor Kepala Daerah

Rakor Kepala Daerah

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Dalam beberapa hari berurutan sejak 3 Agustus 2017, kami di pemprov, gubernur, wakil gubernur, sekda, kepala organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan rapat koordinasi secara bergantian dengan bupati dan wali kota (atau wakilnya) se-Sumbar. Acara ini bertempat di auditorium gubernuran.

Masing-masing bupati dan wali kota beserta para kepala OPD mereka, selama lebih kurang satu setengah jam melakukan rapat kooordinasi (rakor) dengan pemprov. Rakor ini baru pertama kali dilakukan dan merupakan upaya tambahan dari berbagai kegiatan yang sudah berlangsung selama ini antara pemprov dengan bupati dan wali kota.

Dalam pasal 8 ayat 2 UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa pembinaan dan pengawasan oleh pemerintah pusat terhadap urusan penyelenggaraan pemerintahan oleh daerah kabupaten/kota dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah pusat. Maka berdasar hal tersebut kami di pemprov melakukan koordinasi dengan bupati/wali kota.

Selama ini kami sedikitnya setiap tiga bulan sekali melakukan rakor dengan bupati/wali kota. Dari evaluasi kami, ada kelebihan dan kekurangan dalam rakor seperti ini. Rakor dengan bupati/wali kota ini didanai oleh APBN dalam rangka menjalankan peran gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah yang melakukan koordinasi dengan kota/kabupaten.

Dalam kegiatan rakor yang sudah ada, narasumber dari pusat pun diundang, termasuk dari kementerian dan lembaga terkait. Berbagai persoalan aktual dibahas dan didengarkan oleh gubernur, wakil gubernur, bupati, wali kota dan jajaran terkait. Setelah itu di tingkat kota dan kabupaten kembali dibahas bersama jajaran OPD.

Alhamdulillah, kegiatan tersebut telah berjalan baik selama ini. Selain melakukan pertemuan formal, gubernur, bupati, dan wali kota juga berkoordinasi melalui aplikasi whats app (WA) dengan membuat grup WA khusus. Dimana grup WA ini juga untuk menindaklanjuti rakor formal yang sudah dilakukan. Sementara komunikasi dan koordinasi melalui telepon maupun pesan singkat (SMS) dengan bupati dan wali kota juga sudah berjalan baik selama ini.

Selain itu dalam rangka memperkuat apa yang sudah dibicarakan, bupati maupun walikota beserta jajarannya secara khusus menemui gubernur, beraudiensi dan membahas hal-hal yang dianggap perlu guna menyelesaikan masalah.

Di luar itu, masih ada pula rakor tematik atau kontekstual yang berhubungan dengan isu-isu tertentu yang mengundang bupati dan wali kota. Dan ini juga sudah berjalan selama ini. Misalnya rapat terbatas dengan dua-tiga bupati terkait urusan pariwisata, lingkungan hidup, pertambangan, dan lainnya.

Namun ternyata, berbagai kegiatan rakor tersebut dirasa masih kurang. Karena rakor yang sudah berjalan pembahasannya dianggap tidak fokus. Selain itu tidak semua persoalan yang ada diangkat untuk dicarikan solusinya secara keseluruhan. Di mana nantinya seluruh peserta rakor, baik dari pemprov dan pemkab/kota bisa bekerjasama dan berkoordinasi. Oleh sebab itu maka diadakanlah rakor yang dihadiri oleh pemprov dan jajarannya (gubernur, wakil gubernur, sekda, kepala OPD) dan pemkab/kota dan jajarannya (bupati/wali kota dan kepala OPD).

Dalam rakor ini setiap pemkab/kota menyampaikan berbagai persoalan, seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian, dan hal lain yang dianggap perlu untuk dikoordinasikan dengan pemprov. Di mana bentuk koordinasinya nanti bisa berupa program, dukungan anggaran provinsi dan pusat, maupun penyelesaian persoalan yang perlu difasilitasi oleh gubernur dan persoalan di mana gubernur ikut langsung membantu. Dengan hal ini, seluruh persoalan yang ada di daerah yang kewenangannya terkait dengan pemprov maupun pemerintah pusat bisa diselesaikan.

Jika persoalan daerah yang kewenangannya ada di kabupaten/kota maka mereka sendirilah yang bisa menyelesaikan. Tapi ini tidak menutup kemungkinan gubernur bisa diajak ikut menyelesaikan persoalan. Seperti persoalan hubungan bupati dengan wakil bupati atau wali kota dengan wakil wali kota. Gubernur bisa diminta membantu ikut menyelesaikan persoalan yang ada tersebut sebagai pihak ketiga. Selain itu, untuk masalah daerah yang terkait dengan urusan pusat, gubernur bisa membantu menyurati pemerintah pusat.

Rakor kepala daerah dengan format baru ini akan dirutinkan. Rakor berikutnya akan dilakukan setelah ada tindak lanjut dari OPD provinsi yang diberi waktu satu bulan setelah mendengarkan paparan dari pemkab/kota.

Pada 4 september 2017 insya Allah akan diadakan rapat para kepala OPD provinsi yang telah mendengarkan dan mengikuti rakor, dengan gubernur tentang evaluasi tindak lanjut yang telah dilakukan. Setelah itu para kepada OPD provinsi akan mengadakan rapat terbatas dengan bupati/wali kota untuk secara teknis menyelesaikan persoalan yang belum selesai.

Jika persoalannya di anggaran, maka akan dimasukkan ke anggaran (APBD provinsi) perubahan 2017 atau anggaran 2018. Jika tidak terburu maka akan dimasukkan ke anggaran perubahan 2018 atau anggaran 2019. Persoalan daerah yang terkait anggaran ini, akan diadakan rapat kembali antara pemprov dengan bupati dan wali kota pada Januari atau Februari 2018 sekaligus untuk masuk ke pembahasan anggaran perubahan 2018 dan anggaran 2019.

Alhamdulillah banyak bupati dan wali kota merespon positif rakor format baru ini dan mendukung kegiatan ini sebagai media yang bisa memfasilitasi pertemuan dengan gubernur dan jajaran pemprov. Saya turut berharap berbagai persoalan yang ada di daerah tersebut bisa selesai. Karena ujung dari kegiatan ini adalah kesejahteraan rakyat.

Semoga rakor gubernur dengan kepala daerah (bupati/wali kota) dengan format baru ini mampu mempercepat pembangunan yang ada di Sumbar. Sehingga masyarakat semakin bisa menikmati hasil-hasil pembangunan yang dilaksanakan oleh pemkab/kota dan juga pemprov.

Singgalang, 10 Agustus 2017

231. 2017-08-24 [Padek] Mensyukuri Kemerdekaan

Mensyukuri Kemerdekaan

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, bulan Agustus 2017 ini kita kembali memperingati ulang tahun kemerdekaan RI ke-72. Para pendahulu kita yang menyiapkan undang-undang dasar (UUD 1945) tidak melupakan peran Allah SWT yang atas izinNya bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya. Sehingga dalam pembukaan undang-undang dasar tertulis “Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”.

Dan jika kita membaca lagi sejarah perjuangan para pahlawan serta menonton film dokumenter perjuangan maupun film kisah para pahlawan, betapa menjadi bangsa merdeka itu adalah anugerah dari Allah SWT yang harus selalu disyukuri.  Karena dengan kemerdekaan sebuah bangsa bisa meraih cita-citanya.

Pengorbanan nyawa demi mencapai kemerdekaan dari penjajah memang sudah tidak ada lagi di negeri kita. Justru saat ini kita harus mensyukuri dan mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kita bisa turut mendukung kemerdekaan bangsa lain yang masih dijajah secara fisik, seperti Palestina.

Dalam pidato Presiden Joko Widodo di Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI 16 Agustus 2017, Presiden menyebutkan dukungan pemerintah kepada perjuangan bangsa Palestina untuk mendapatkan kemerdekaannya.

Presiden menyatakan bahwa pemerintah memberi dukungan penuh untuk kemerdekaan Palestina. Pemerintah telah membuka konsulat kehormatan di Ramallah Palestina. Pemerintah juga turut mendorong Asean dan PBB untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

Presiden juga menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia pun turut mengecam keras pembatasan beribadah di Masjid Al Aqsha Palestina yang terjadi pada Juli 2017 lalu. Pemerintah mengusulkan proteksi internasional di komplek Masjid Al Aqsha Palestina. Saya mengapresiasi apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo ini, karena merupakan wujud solidaritas bangsa-bangsa yang pernah mengalami pahitnya penjajahan.

Dalam pembukaan undang-undang dasar, disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Oleh karena itu, manusia yang  memiliki hati nurani akan menentang penjajahan. Dan masalah Palestina pada saat ini bukanlah masalah umat Islam saja, karena yang berjuang di Palestina juga ada dari kalangan umat beragama kristen. Bahkan aktivis internasional yang memberi dukungan kepada kemerdekaan Palestina banyak yang berasal dari kalangan di luar muslim. Termasuk aksi boikot produk Israel yang dilakukan oleh masyarakat di Eropa.

Sementara itu, penjajahan adalah tindakan yang melawan fitrah manusia. Betapa banyak masyarakat di negara maju yang memprotes pemerintah mereka karena anak-anak mereka harus ikut berperang dan juga anggaran negara yang seharusnya untuk kesejahteraan masyarakat digunakan untuk tindakan menjajah negara lain dengan alasan yang dibuat-buat.

Dan di Israel sendiri, tidak sedikit warga negaranya yang menolak ikut wajib militer karena hati nurani mereka menolak tindakan pemerintahnya menjajah Palestina.

Saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh masyarakat di Sumbar beberapa waktu lalu dalam rangka solidaritas kepada bangsa Palestina sehingga bisa mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada saudaranya di Palestina.

Semoga solidaritas masyarakat terhadap Palestina turut menjadi bagian dari syukur kita atas nikmat kemerdekaan. Dan tentu saja, mengisi kemerdekaan dengan memaksimalkan peran masing-masing kita, adalah bentuk nyata syukur kita kepada Allah SWT.

Semoga dengan syukur kita kepada Allah SWT terhadap nikmat kemerdekaan ini, Allah SWT lindungi negeri kita dari segala gangguan dan ancaman baik dari dalam maupun luar. Aamiin.

 

Padang Ekspres, 24 Agustus 2017

232. 2017-08-30 [Singgalang] Pantun Warisan Budaya Dunia

Pantun Warisan Budaya Dunia

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 20 Agustus 2017 saya memenuhi undangan Final Festival Pantun Spontan Ala Irwan Prayitno. Acara bertempat di Tugu Merpati Perdamaian, Padang. Finalis yang terpilih dan diundang sebanyak 50 peserta dari berbagai kota dan kabupaten di Sumbar. Sementara jumlah peserta yang mengirim pantunnya ke email panitia sebanyak 871 orang.  Sedangkan jumlah pantun yang diterima panitia lebih dari 8000 pantun. Acara ini diadakan untuk pelajar SMA/MA/SMK.

Pantun yang sudah ada selama ini bisa dikategorikan ke dalam beberapa aliran atau mazhab. Seperti pantun Minang yang terdiri dari 9 suku kata. Pantun sastra Melayu, yang jumlah suku katanya 10, 11, dan 12. Pantun Minang klasik, di mana isi dari sampiran mendukung kepada pantun yang sesungguhnya, tentunya berbahasa Minang.

Pantun terdiri dari sampiran dan isi. Sampiran biasanya terdiri dari dua baris, dan isinya dua baris. Isi atau pesan pantun berada pada dua baris terakhir. Pantun adalah salah satu jenis puisi lama yang dikenal oleh berbagai etnis di Nusantara khususnya Melayu. Sehingga dikenal ada pantun Betawi, pantun Riau, pantun Sumatera Utara, pantun Kalimantan Selatan, dan lainnya. Dan sifat pantun biasanya sangat dinamis, mengikuti perkembangan zaman, karena pantun adalah hasil kreativitas manusia.

Salah satu bentuk puisi lama yang sudah dikenal adalah gurindam. Gurindam yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji. Sementara gurindam sendiri terpengaruh dari sastra Hindu. Namun demikian, pantun bisa dikatakan sebagai bagian dari budaya Melayu Nusantara. Dalam hal ini Melayu Islam.

Jika melihat jenis pantun, ternyata bermacam-macam. Ada pantun adat, pantun agama, pantun budi, pantun jenaka, pantun kepahlawanan, pantun kias, pantun nasihat, pantun percintaan, pantun perpisahan, pantun teka-teki, pantun lucu, dan lainnya.

Secara umum pantun terdiri dari empat baris. Dua baris pertama adalah sampiran, dan dua baris terakhir adalah isi atau pesan. Huruf kata terakhir biasanya berpola a-b-a-b atau a-a-a-a. Jika ada yang berpola a-b-b-a atau a-a-b-b, maka itu bukan pantun.

Terkait penggunaan suku kata atau huruf kata yang sama, kita juga bisa melihat di dalam Al Quran. Misalnya Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Suku kata terakhirnya berbunyi sama.  Al Quran memang berisi kesusasteraan tingkat tinggi. Tidak akan bosan orang mendengarkan bacaan Al Quran, apalagi yang membacanya memiliki suara bagus. Apakah ada hubungan antara bunyi suku kata terakhir dalam ayat Alquran dengan pantun yang dilahirkan oleh kaum melayu nusantara? Ini bisa menjadi diskusi menarik.

Jika melihat mazhab pantun, pantun yang saya buat secara spontan dalam memberi sambutan di acara resmi pemerintahan ini memang tidak termasuk ke dalamnya. Karena pantun yang saya sampaikan dimaksudkan untuk menyampaikan pesan dan sekaligus membiasakan pantun sebagai budaya yang sudah berkembang sejak lama di masyarakat.

Karena pantun yang saya sampaikan selama ini lebih banyak di acara formal terkait pemerintahan, maka bahasa yang digunakan kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa Minang. Pantun pun bersifat spontan, sesuai dengan tema, situasi, keadaan, kondisi dan tujuan acara.

Indonesia bersama Malaysia telah mengajukan pantun kepada UNESCO, yang merupakan Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan. Pantun dimasukkan sebagai daftar Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage.

Sebelumnya, Indonesia bersama Malaysia, Thailand, Singapura, dan Brunei Darussalam yang akan menjadikan pantun sebagai nominasi multinasional. Namun setelah melihat kesiapan, akhirnya hanya Indonesia dan Malaysia yang siap.

Hingga saat ini sudah ada warisan dunia dari Indonesia yang diakui UNESCO yaitu angklung, batik, keris, noken, tari saman, tari bali, dan wayang. Semoga pantun yang selama ini hidup di tengah masyarakat juga bisa masuk ke dalam warisan dunia yang diakui UNESCO.

Dan bagi kita, semoga bisa turut melestarikan budaya pantun dalam kehidupan sehari-hari. Karena di tengah penggunaan bahasa yang kadang cenderung kasar, terutama di media sosial, membudayakan pantun mampu menghaluskan bahasa sehingga lebih beradab namun tetap dinamis dan bersifat kekinian.

Singgalang, 30 Agustus 2017

233. 2017-09-08 [Singgalang] Kurban, Kepedulian Sosial

Kurban, Kepedulian Sosial

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, pada hari Jumat 1 September 2017 bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1438 H pelaksanaan sholat Idul adha berjalan baik di halaman Kantor Gubernur Sumbar, Padang. Saya bersama Bpk. Nasrul Abit dan jajaran Pemprov, Forkompimda, warga kota Padang, dan juga perantau menunaikan sholat id di sini.

Dalam salah satu poin sambutan saya sebelum pelaksanaan sholat id, saya mengajak diri sendiri dan masyarakat menjadikan kurban sebagai bagian dari gaya hidup positif. Yaitu menumbuhkan kepedulian sosial. Karena sesungguhnya menunaikan kurban ini bukanlah seperti zakat yang harus memenuhi syarat terpenuhinya nasab. Selain itu alokasi zakat terbatas pada delapan golongan yang disebut dalam Alquran.

Sedangkan kurban, bisa dilakukan oleh para penerima zakat sekalipun. Dan daging kurban bisa diberikan kepada kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Bahkan beberapa lembaga sosial kemanusiaan sudah menyalurkan daging kurban ke pelosok negeri yang sulit dijangkau termasuk ke negara-negara yang dilanda perang dan konflik sosial.

Entah sudah berapa kisah yang diberitakan oleh media tentang pemulung, tukang becak, tukang sapu, tukang cuci dan para kaum dhuafa lain yang melaksanakan kurban. Mereka mengumpulkan uang ada yang dalam waktu cukup lama, berbilang tahun. Padahal jika melihat golongan penerima zakat, mereka harus mendapatkan zakat tersebut. Namun justru meskipun mereka dalam kondisi tidak mampu mau bersusah payah untuk berkurban.

Di samping itu, kita juga perlu belajar dari keteladanan Nabi Ibrahim. Dalam surat Al Mumtahanah ayat 4 Allah SWT berfirman yang artinya, “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia …”. Teladan dari Nabi Ibrahim di antaranya adalah haji dan berkurban. Bagi Ibrahim, dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT ia akan korbankan apa saja yang dimilikinya.

Keteladanan Nabi Ibrahim yaitu mengorbankan hewan untuk meraih ridha Allah SWT. Tidak sampai di situ saja. Bahkan akhirnya mengorbankan anaknya Ismail untuk mematuhi perintah Allah SWT. Maka keteladanan Nabi Ibrahim ini perlu menjadi kebiasaan yang ada di setiap keluarga muslim. Banyak manfaat yang akan didapat ketika kurban sudah menjadi kebiasaan oleh setiap keluarga muslim.

Dengan berkurban, seorang muslim mengikhlaskan uang yang dimilikinya untuk dibelikan hewan kurban. Dan hewan kurban yang sudah disembelih kemudian dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Bukan lagi untuk yang berkurban. Dengan demikian ia telah berbagi kepada yang lebih membutuhkan, yang merupakan wujud kepedulian sosial.

Berkurban sama halnya dengan berinfak atau bersedekah yang bisa dilakukan oleh seluruh umat Islam baik miskin maupun kaya. Namun berkurban bagi yang tidak melaksanakan haji menurut jumhur ulama adalah sunnah muakad. Yaitu sunnah yang posisinya hampir mendekati wajib. Bagi keluarga yang mampu berkurban, sangat dianjurkan untuk melaksanakannya. Karena mereka yang tidak mampu pun banyak berusaha agar bisa berkurban.

Perintah berkurban juga Allah SWT firmankan dalam surat Al Kautsar ayat 2 yang artinya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” Jika shalat adalah dalam rangka kesalehan pribadi, maka kurban merupakan bentuk kesalehan sosial. Kesalehan sosial berupa kurban yang dilaksanakan dengan baik insya Allah akan berdampak positif. Di antaranya mengurangi kesenjangan di masyarakat dan meningkatkan kepedulian sosial.

Para penerima daging kurban tentu merasa senang bisa menikmati makan dengan menu daging. Karena sehari-hari mereka dan keluarganya mungkin jarang makan daging.  Sementara bagi yang berkurban, ada kepuasan rohani bisa berkurban dan membantu sesama.

Maka, jika semakin banyak keluarga muslim yang menunaikan kurban, akan semakin banyak orang yang terbantu. Mereka bisa menikmati daging kurban yang selama ini mungkin jarang menjadi menu harian atau mingguan mereka.

Di samping itu, semangat berkurban seharusnya bukan hanya ketika Idul adha, akan tetapi juga di waktu yang lain. Sehingga tumbuh hubungan positif antara yang miskin dengan yang kaya. Hal ini insya Allah akan mengurangi kesenjangan dan kemiskinan. Sehingga dengan kepedulian sosial yang sudah menjadi gaya hidup, sebuah masyarakat bisa menjadi kuat. Yaitu memiliki ketahanan sosial. Kejahatan dan kriminalitas pun berkurang.

Berkurban juga merupakan bentuk rasa syukur seorang muslim kepada Allah SWT.  Allah SWT berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7 yang artinya,  “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.”  Semoga semakin banyak keluarga muslim yang mengaplikasikan rasa syukurnya dengan melaksanakan kurban dan berbagi. Sehingga kepedulian sosial makin tumbuh subur di negeri ini

Singgalang, 08 September 2017

234. 2017-09-14 [Padek] Pasar Tani di Kantor Gubernur

Pasar Tani di Kantor Gubernur

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 6 September 2017 lalu, saya membuka acara Bazar Pasar Tani di halaman Kantor Gubernur Sumbar, Padang. Acara ini merupakan ide dari Ketua TP PKK Sumbar Ibu Nevi Zuairina, yang tak lain adalah istri saya. Ketua TP PKK bekerjasama sekaligus meminta dukungan dari OPD terkait untuk menyiapkan produk-produk yang akan dijual.

Saya mengapresiasi ide ini. Karena merupakan salah satu cara yang praktis dan juga realistis untuk membantu sebagian dari banyak petani, pekebun, peternak, nelayan, dan industri rumahan. Karena kegiatan ini mempersingkat mata rantai jalur perdagangan sehingga mereka  bisa langsung menjual produk mereka dengan harga yang baik.

Acara ini direncanakan berlangsung setiap hari Rabu. Satu kali dalam seminggu, dan berkelanjutan. Ini berbeda dengan bazar-bazar yang sifatnya sementara. Kegiatan Pasar Tani ini, tentu tidak akan mengganggu keberadaan para pedagang atau produsen lainnya secara umum. Bahkan ini  merupakan  bagian dari upaya mengendalikan inflasi di satu sisi, dan di sisi lain tetap menguntungkan penjual/produsen sekaligus juga masyarakat sebagai konsumen.

Produk yang dijual di acara bazar pasar tani di antaranya adalah beras, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hortikultura, telur, susu, daging, ikan, serta produk industri rumahan.

Upaya kecil ini membantu para petani, pekebun, peternak, nelayan, pedagang menjual hasil kerja mereka langsung ke konsumen. Karena jika sebelumnya dijual dulu ke pedagang yang akan menjual dan harganya tidak bisa ditinggikan, maka dengan bertemu konsumen langsung bisa menaikkan harganya secara wajar. Sehingga harga yang dijual ke konsumen menguntungkan penjual, dan konsumen juga untung karena membeli langsung dari penghasilnya dengan harga wajar, bahkan mungkin sedikit lebih murah dari harga di pasar.

Para ASN golongan rendah yang berada di Kantor Gubernur dan juga pegawai golongan rendah dari sekitar Kantor Gubernur bisa memanfaatkan bazar pasar tani ini. Demikian pula masyarakat lainnya, bisa memanfaatkan bazar pasar tani ini. Semoga kunjungan masyarakat ke kegiatan ini bisa membantu mereka yang sudah menyiapkan barang jualannya. Dan mereka yang membutuhkan produk dengan harga yang baik juga bisa terbantu dengan acara ini.

Lalu, dari manakah para produsen atau penjual di bazar pasar tani ini? Mereka adalah petani, peternak, nelayan dan UKM binaan dari OPD Provinsi. Dan pelaksanaan bazar pasar tani ini hanyalah bagian kecil dari upaya Pemprov menjaga ketahanan pangan. Dalam menjaga ketahanan pangan, petani dan produsen lainnya harus dilindungi agar bisa berproduksi dan produknya bisa terjual dengan harga yang baik.

Maka dalam jangka panjang dan dengan skala yang lebih besar lagi Pemprov membuat sebuah bangunan yang berada di kawasan jalan By Pass Padang. Bangunan ini kemungkinan akan dinamakan Rumah Ketahanan Pangan. Insya Allah pembangunannya selesai akhir tahun ini. Dan direncanakan tahun depan sudah bisa beroperasi.

Bangunan ini akan mempertemukan produsen dengan konsumen sehingga produsen bisa untung, demikian pula konsumen. Dengan demikian, bisa mencegah terjadinya permainan oleh pedagang yang menyebabkan kerugian bagi produsen dan konsumen. Di samping itu, pengendalian inflasi juga akan lebih terjaga dan semakin efektif. Perekonomian pun terbantu untuk berjalan baik dan memberi dampak positif kepada banyak orang.

Dan jika langkah kecil ini berupa bazar pasar tani juga diadakan oleh berbagai elemen masyarakat dan juga pemerintahan lainnya, insya Allah akan memberi dampak positif kepada petani dan konsumen, termasuk masyarakat atau pegawai golongan rendah. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan pada dasarnya akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Mengakhiri tulisan ini saya mengutip Alquran Surat Al A’raf ayat 7 yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.

Padang Ekspres, 14 September 2017

235. 2017-09-20 [Singgalang] Kesehatan Keluarga

Kesehatan Keluarga

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 13-16 September 2017 Persatuan Perawat Gigi Indonesia melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas)  VII di Padang. Saya berkesempatan membuka acara tersebut. Tema Munas kali ini adalah “Melalui Organisasi Kita Raih Kejayaan Profesi”. Pada Munas ini juga dilakukan pergantian nama dari Perawat Gigi menjadi Terapis Gigi dan Mulut.

Pergantian nama ini mudah-mudahan membawa dampak positif, baik bagi pelaku maupun konsumen. Dan penamaan terapis gigi dan mulut ini boleh jadi bisa memberi persepsi baru kepada publik tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Rasulullah SAW adalah termasuk orang yang memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. Beliau menggunakan siwak untuk membersihkan gigi dan mulutnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, “Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Sahabat Rasulullah SAW, Hudzaifah r.a berkata, “Nabi SAW selalu menggosok giginya dengan siwak setiap bangun dari tidur malam hari.” (HR. Bukhari).  Dan secara ilmiah pun manfaat siwak sudah diteliti oleh ilmuwan barat, serta terbukti banyak manfaatnya.

Jika kita melihat kondisi hari ini, ternyata kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut di masyarakat bisa dibilang masih butuh sosialisasi yang berterusan. Saya melihat di sini peran organisasi perawat gigi  dibutuhkan untuk ikut serta mensosialisasikan pentingnya kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat yang merupakan bagian dari kesehatan keluarga.

Dan tidak hanya organisasi perawat gigi saja, akan tetapi seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan secara bersama-sama ikut mensukseskan pembangunan di bidang kesehatan, khususnya untuk masalah kesehatan keluarga. Adapun yang dimaksud dengan kesehatan keluarga adalah seluruh anggota keluarga, yaitu orangtua dan anak-anak memiliki budaya hidup sehat sehingga mampu berprestasi, berkreasi, berpenghasilan, berpendidikan, beribadah, bermasyarakat dengan baik karena kualitas kesehatan mereka.

Salah satu aksi kepedulian yang dilakukan di Sumbar belum lama ini oleh salah satu pemangku kepentingan bidang kesehatan, yaitu Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bekerjasama dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan  (BBPOM). Pengurus Daerah IAI bersama BBPOM melakukan Gerakan Nasional Peduli Obat Aman.

Sekitar 900 apoteker melakukan penyuluhan penggunaan obat aman di sepanjang 62 kilometer yang terbentang dari Kabupaten Padang Pariaman hingga Batusangkar. Mereka memberikan penyuluhan kepada sekitar 6.200 keluarga selama lebih kurang tiga jam. Para keluarga ini disosialisasikan bagaimana cara mendapatkan obat, menggunakan obat, menyimpan obat, dan membuang obat dengan baik.  Atas aksi kepeduliannya ini, kegiatan tersebut masuk ke dalam catatan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

Jika organisasi apoteker melakukan sosialisasi terkait masalah obat, maka organisasi perawat gigi saya harapkan melakukan sosialisasi tentang bagaimana merawat gigi dan mulut agar tetap sehat. Karena ada semacam anggapan umum bahwa jika gigi sudah sakit, sakitlah semua seluruh anggota tubuh. Sulit untuk beraktivitas, baik kerja, belajar, makan, minum, dan lainnya, termasuk berkosentrasi. Sementara jika anggota tubuh lain yang sakit, tidak seperti rasanya sakit gigi.

Untuk menjadikan sebagai budaya atau kebiasaan, merawat gigi dan mulut agar tetap sehat perlu disosialisasikan. Karena masyarakat pada dasarnya masih banyak yang belum tahu caranya. Bagaimana gosok gigi, kapan menggosok gigi, apa saja yang tidak boleh dilakukan untuk mencegah gigi rusak, makanan dan minuman apa saja yang bisa merusak gigi dan mulut.

Sementara itu, untuk menjadi sebuah bangsa yang maju, harus diawali dengan keluarga yang memiliki kualitas kesehatan yang baik. Sehat di semua lini tubuh, termasuk rohani dan pikiran. Sekecil apapun upaya yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan untuk mensosialisasikan hidup sehat kepada masyarakat, sangat berarti.

Untuk itu, saya mengapresiasi berbagai kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan di bidang kesehatan. Termasuk juga pengabdian masyarakat di Mentawai dalam rangka Hari Bhakti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 2017 yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Masyarakat Sumbar beberapa bulan lalu. Dan juga pengabdian masyarakat yang insya Allah akan dilakukan oleh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia di Agam.

Dan bagi masyarakat yang melek dengan teknologi, untuk mencapai kualitas hidup sehat dalam keluarga bisa melakukan penelusuran melalui internet atau mendatangi perpustakaan dan toko buku untuk mendapatkan informasi, pengetahuan dan juga ilmu tentang kesehatan. Serta bisa melakukan konsultasi kepada tenaga medis terkait. Insya Allah, jika masing-masing keluarga sudah menyadari pentingnya kesehatan bagi diri dan keluarga mereka, akan berdampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan.

Singgalang, 20 September 2017

236. 2017-09-27 [Padek] Transaksi Non Tunai

Transaksi Non Tunai

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 22 September 2017 lalu saya menyampaikan sambutan di acara Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama antara Bank Nagari dengan Pemprov. Sumbar, di Padang. Ini merupakan bagian dari implementasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan oleh Bank Indonesia (BI).  BI mempelopori hal ini karena nantinya dengan transaksi non tunai akan lebih hemat, efektif, efisien, dan aman.

Insya Allah Pemprov Sumbar secara bertahap akan mengimplementasikan transaksi non tunai tersebut. Setelah itu diharapkan Pemkab dan Pemkot juga mengimplementasikan transaksi non tunai tersebut. Kementerian Dalam Negeri melalui Surat Edaran Nomor 910 Tahun 2017 telah mewajibkan seluruh Pemda menjalankan transaksi non tunai pada 2018.

Saya mengharapkan dengan adanya surat edaran tersebut, di lingkungan internal Pemprov Sumbar para bendahara bisa melaksanakan transaksi non tunai dalam kegiatan mereka. Sehingga pemberi dan penerima tidak direpotkan dengan uang tunai yang perlu penyimpanan yang aman. Karena transaksi  non tunai ini membawa hal positif. Di antaranya, pencatatan yang lebih baik karena tersimpan datanya di bank. Mengurangi atau menjauhi terjadinya penyimpangan yang bisa merugikan pihak terkait. Dan juga aman karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar yang berisiko dirampok atau tindakan kriminalitas lainnya.

Selain itu, dengan melakukan transaksi non tunai bisa mempercepat proses pembayaran dan penerimaan yang biasanya memakan waktu cukup lama. Hanya dengan menyiapkan rekening, baik pemberi dan penerima bisa mengirim dan menerima uang dengan lebih cepat dan aman.

Memang tetap perlu persiapan SDM dan juga teknologi pendukungnya. Terutama untuk transaksi di lingkungan Pemprov. Sumbar. Namun saya yakin, pekerjaan ini jika diangsur-angsur akan bisa diselesaikan dengan baik. Karena sudah menjadi kebutuhan dan juga keharusan. Kita tidak bisa lagi mengelak akan pengaruh teknologi yang disiapkan untuk memudahkan urusan pekerjaan kita sekaligus membuat nyaman dan aman.

Jika melihat perkembangan transaksi non tunai selama ini, sudah dibuktikan sangat membantu banyak pihak. Misalnya pembayaran pajak oleh masyarakat ke rekening pemerintah, sudah bisa melalui transaksi non tunai. Sangat membantu masyarakat dari antrean yang mungkin cukup menyita waktu dan juga tenaga.

Selain itu, transaksi non tunai di masyarakat juga perlu menjadi kebiasaan. Karena dampak positifnya akan kembali kepada masyarakat. Seperti tidak perlu membawa uang dalam jumlah banyak. Hanya dengan kartu ATM atau melalui saluran elektronik yang tersedia bisa melakukan pembayaran berbagai jenis tagihan seperti listrik, PDAM, telepon, ponsel pascabayar, televisi berbayar, angsuran pembelian kendaraan, dan lainnya. Berbelanja dengan transaksi non tunai juga tidak direpotkan dengan uang kembalian.

Saat ini sedikitnya sudah ada 1,2 juta orang di Indonesia yang melakukan transaksi  non tunai, baik melalui kartu ATM (debit) maupun kartu kredit, serta media elektronik lainnya. BI mengharapkan pada 2024 transaksi non tunai sudah dilakukan oleh 25 persen penduduk Indonesia. Dengan membiasakan diri melakukan transaksi non tunai maka kita juga sudah membantu pemerintah untuk mengurangi biaya cetak uang. Dan yang dicanangkan BI ini untuk seluruh lapisan masyarakat, baik masyarakat sendiri, pelaku bisnis, dan juga instansi pemerintah. Semuanya diharapkan berperan dalam pelaksanaan transaksi non tunai.

Bagi masyarakat Sumbar sendiri, terutama para pelaku di bidang pariwisata, karena Sumbar sebagai sebuah lokasi destinasi wisata halal dunia maka perlu menyiapkan diri jika para wisatawan yang datang ke sini lebih menyukai transaksi non tunai. Karena di luar negeri penggunaan transaksi non tunai sudah menjadi gaya hidup yang aman dan nyaman. Wisatawan menginginkan kemudahan, perlu difasilitasi. Dan tidak hanya wisatawan luar negeri, wisatawan dalam negeri yang berasal dari luar Sumbar juga sudah banyak yang terbiasa melakukan transaksi non tunai.

Sementara di Indonesia, jika dibandingkan dengan negara-negara Asean saja, masih tertinggal jauh. Untuk itu, apa yang dicanangkan oleh BI ini perlu terus didukung dan disosialisasikan kepada masyarakat. Karena jika sudah ada yang mudah, aman, dan nyaman mengapa mesti bersusah payah membawa uang tunai. Kemudahan, kenyamanan dan keamanan transaksi non tunai insya Allah membawa dampak positif bagi kehidupan ekonomi masyarakat. ***

 

Padang Ekspres, 27 September 2017

237. 2017-10-05 [Singgalang] Indonesia’s Attractiveness Award 2017

Indonesia’s Attractiveness Award 2017

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 29 September 2017 saya memenuhi undangan acara Indonesia’s Attractiveness Award (IAA) 2017. Acara ini dilaksanakan oleh Tempo Media Group bekerja sama dengan Frontier Consulting Group. Pada acara ini Sumbar mendapat penghargaan sebagai salah satu Provinsi Terbaik.  Yaitu provinsi terbaik dan menarik dalam kemudahan berinvestasi, pelayanan publik, kepariwisataan dan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Pelaksanaan IAA kali ini memasuki tahun ketiga. Acara yang diadakan tahunan ini menilai pemerintah daerah, yaitu kota, kabupaten, dan provinsi dalam mengembangkan potensi daerah dan mengelola pembangunan ekonomi serta manfaatnya bisa dinikmati secara merata.

Untuk menghasilkan pemeringkatan dalam IAA, panitia menggunakan metodologi yang bersifat kuantitatif. Data-data sekunder dan primer disisir termasuk melakukan mystery calling, analisis digital dan media sosial. Ini dilakukan kepada 508 kabupaten/kota dan 34 provinsi. Data primer dikumpulkan sejak Mei hingga Juni 2017. Sementara pada awal 2016 dilakukan pengumpulan data sekunder.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah indikator utama yang masuk dalam penilaian.  Karena dengan besaran PDRB ini dan juga persentase kenaikannya setiap tahun memiliki hubungan erat dengan masuknya investasi, peningkatan lapangan kerja, penurunan pengangguran dan kemiskinan, serta meningkatnya pendapatan masyarakat dan juga konsumsi masyarakat.

IAA memotret hal demikian. Bahwa pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia ditentukan oleh sejauh mana pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah.  Semakin banyak investasi masuk ke suatu daerah akan  berpengaruh kepada lapangan pekerjaan, pendapatan daerah dan konsumsi masyarakat.

Investasi yang masuk ke daerah juga merupakan akibat adanya infrastruktur yang memadai sehingga investor merasakan kenyamanan dengan adanya jalan yang baik, penyediaan listrik, sarana komunikasi yang memadai. Alhamdulillah, roadshow kami ke luar negeri yang difasilitasi oleh pihak KBRI juga mendapat respon positif dari para calon investor.

IAA juga memandang bahwa sektor pariwisata berperan besar dalam kemajuan daerah sehingga berpengaruh positif terhadap roda perekonomian di daerah tersebut. Dan juga turut disorot masalah pelayanan publik. Karena pelayanan publik yang baik akan tercermin kepada pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

Penghargaan dari IAA ini menurut catatan kami adalah yang ke-251 dari kumpulan penghargaan yang sempat kami rekapitulasi sejak tahun 2010 hingga 2017. Penghargaan ini melengkapi penghargaan lainnya yang pada dasarnya saling mendukung. Di antaranya adalah predikat WTP terhadap Laporan Keuangan Pemprov 5 tahun berturut-turut, Satyalencana Pembangunan Bidang Koperasi, Adhikarya Pangan Nusantara, Penghargaan Pelayanan Publik dari Ombudsman RI, Penghargaan Provinsi Pelaksana Program Infrastruktur Terpadu, Satyalencana Pembangunan Bidang Pangan, Nirwasita Tantra, Satyalencana Bidang Kependudukan, Satyalencana Bidang Pangan, World’s Best Halal Destination, World’s Best Halal Culinary Destination.

Seluruh penghargaan yang sudah dicapai ini pada dasarnya adalah untuk seluruh komponen masyarakat di Sumbar. Karena dengan partisipasi dan peran di bidang masing-masing telah membawa Sumbar kepada kemajuan yang bisa dinikmati bersama. Kerja keras aparat dan pemangku kepentingan terkait dalam mensukseskan program pembangunan yang tercermin dengan capaian kuantitatif maupun kualitatif telah berdampak kepada peningkatan taraf hidup masyarakat. Dan kemudian berdampak kepada peningkatan perekonomian, dan menjadi multiplier effect sehingga perlahan-lahan Sumbar yang madani dan sejahtera bisa diwujudkan.

Dan jika kita juga turut konsisten secara bersama-sama berperan di bidang masing-masing serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan serta menjaga dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bukan tidak mungkin akan semakin baik lagi kehidupan kita di Sumbar ke depannya.

Mengakhiri tulisan ini saya kutip sebuah ayat Alquran yang bisa menjadi bahan renungan bersama:  “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka bekah dari langit dan bumi” (QS. Al A’raaf: 96). Semoga kita secara bersama-sama bisa mendapatkan apa yang dijanjikan Allah SWT ini. Aamiin.. ***

Singgalang, 5 Oktober 2017

 

238. 2017-10-13 [Padek] Pentingnya Modal bagi UMKM

Pentingnya Modal bagi UMKM

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 2 Oktober 2017 lalu, saya bersama para Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan,  Kelautan dan Perikanan, Industri dan Perdagangan, Koperasi dan UMKM provinsi, Dirut Grafika, Dirut PT Jamkrida Sumbar, bertemu dengan Direktur Utama (Dirut) Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM) yang baru, Bpk. Braman Setyo serta para Direksi LPDB yang lain. Beliau baru saja dilantik, dan kami sangat beruntung, sebagai tim provinsi pertama yang bertemu beliau untuk membicarakan tindak lanjut pinjaman bagi  pelaku UMKM binaan dinas-dinas terkait di Sumbar.

Seperti diketahui, sekitar 84 persen usaha yang ada di Sumbar adalah pelaku usaha mikro, dan sekitar 14 persen adalah usaha kecil. Dan hanya 0,8 persen pelaku usaha menengah. Maka dengan komposisi seperti ini pelaku usaha mikro dan kecil adalah mayoritas.  Mereka selama ini terkendala di faktor permodalan, yang merupakan faktor utama dan sering menjadi keluhan.

Karena jika melihat pengalaman, kebanyakan mereka sudah menjalankan usahanya bertahun-tahun. Mereka bisa tetap bertahan dan juga mampu menghidupi keluarganya. Ini membuktikan usaha mereka berkelanjutan dan memiliki skill serta bisa meraih keuntungan. Ini juga membuktikan bahwa usaha mereka layak dibantu. Karena jika usahanya tidak layak, mereka sudah berhenti berusaha.

Hal yang memang menjadi kendala utama bagi UMKM ini, khususnya yang bergerak di bidang perdagangan, adalah mereka masih menyewa tempat usaha, bahkan termasuk berjualan ala kaki lima. Kendala ini karena dengan modal usaha yang mereka miliki hanya mampu untuk kehidupan sehari-hari, dan belum sampai pada tahap memiliki tempat usaha. Jika mereka memiliki modal yang lebih besar maka kapasitas usahanya akan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Dan kemudian bisa mencicil dana untuk memiliki tempat usaha sendiri. Selain itu, mereka juga bisa mendanai untuk pemasarannya dan memperbaiki kualitas pemaketan (packaging).

Selama ini pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang perdagangan, modalnya tidak besar sehingga untung yang didapat tidak besar. Dan karena modal sedikit, pedagang hanya bisa membeli barang di tingkat agen dengan margin yang tidak besar. Jika modal bisa diperbesar, pedagang bisa beli ke tingkat yang lebih tinggi dengan margin yang lebih besar atau agen dengan jumlah besar sehingga margin keuntungannya lebih besar namun biaya yang dikeluarkan tidak bertambah sehingga bisa meningkatkan keuntungan. Di sini diperlukan penambahan modal dan juga jaminan. Untuk memfasilitasi jaminan di Sumbar sudah ada PT Jamkrida Sumbar.

Namun kami di Sumbar melihat pentingnya peran LPDB dalam membantu UMKM di Sumbar, terutama para binaan dinas terkait. Apalagi dengan bunga 4,5 persen setahun untuk sektor riil/perdagangan untuk jangka waktu 5-10 tahun yang disediakan LPDB, diharapkan bisa membantu UMKM untuk meningkatkan kapasitas usahanya. Dan menurut Direktur LPDB, bunga pinjaman ini adalah yang terkecil  saat ini. Sedangkan untuk koperasi dengan skim simpan pinjam bunganya sudah diturunkan dari 8 persen menjadi  7 persen.

Demikian pula dengan sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan yang bergerak di bidang produksi. Mereka memerlukan modal untuk memperbesar kapasitas produksinya. Mereka memerlukan berbagai alat untuk membantu proses produksi. Misalnya, untuk bawang diperlukan alat pengering. Untuk coklat, perlu alat fermentasi bagi industri rumahan (home industry).

Saya melihat, selain UMKM, sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan juga perlu bantuan permodalan. Karena kebanyakan mereka tidak layak di mata bank. Di sini perlu bantuan dari para pemangku kepentingan seperti kepala daerah dan instansi terkait, baik tingkat provinsi dan juga kabupaten/kota.  Terutama untuk membantu mereka yang sudah menjadi binaan. Karena para anggota binaan ini sudah diketahui rekam jejaknya dan tinggal menunggu uluran tangan dari pemerintah dan bank.

Dengan adanya LPDB di pusat dan Jamkrida Sumbar di daerah, maka insya Allah para anggota binaan dinas ini bisa mendapatkan bantuan yang layak sehingga usaha dan produksi mereka bisa berkembang dan meningkat.

Dan jika nanti sudah mendapat bantuan permodalan, maka para anggota binaan ini sudah seharusnya memperluas wilayah pemasaran dengan ‘packaging’ yang menarik. Seperti produk rendang dan kuliner lainnya, sudah saatnya tampil menjangkau wilayah nasional agar skala ekonominya membesar sehingga semakin memperbesar penghasilan. Pemprov dalam hal ini akan membantu pemasaran, pemaketan (packaging) dan proses lainnya yang masih bisa ditangani, agar modal yang sudah diberikan bisa diikuti dengan penjualan yang lebih besar lagi.

Semoga ikhtiar yang kami usahakan ini bisa berbuah pada waktunya sehingga turut membantu berkembangnya UMKM di Sumbar.***

Padang Ekspres, 13 Oktober 2017

 

 

239. 2017-10-17 [Singgalang] Investasi Energi Terbarukan

Investasi Energi Terbarukan

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 6-10 Oktober 2017 lalu saya bersama tim investasi Sumbar melakukan kunjungan kerja ke Jerman. Selama di Jerman, ada beberapa kegiatan yang kami lakukan dalam rangka promosi Sumbar dan juga presentasi di beberapa kementerian dan para pebisnis yang ada di Jerman.

Satu di antaranya adalah mengikuti  Allgemeine Nahrung Genussmittel Austellung (ANUGA ). ANUGA adalah salah satu ajang pameran makanan dan minuman (food and beverange) terbesar di dunia yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Acara ini diikuti oleh ribuan peserta dan pengusaha dari berbagai negara. Di antara ribuan peserta tersebut, puluhannya berasal dari Indonesia, dan berlangsung di Cologne, Jerman selama 7-11 Oktober 2017.

Sumbar adalah satu-satunya provinsi yang diminta oleh Kementerian Perindustrian RI untuk menampilkan keunggulan kulinernya di acara ini. Kesempatan ini kami manfaatkan dengan baik. Selama acara berlangsung tim Sumbar di culiner stage hall 7, telah beberapa kali melakukan demo masak rendang dan juga uji rasa (tester).  Selain menampilkan kuliner Sumbar, di acara tersebut juga ditampilkan pertunjukan seni dan budaya Minang.

Selain tampil di ANUGA, kami juga mendatangi beberapa kementerian yang ada di Jerman dan juga para pebisnis dan calon investor untuk mempresentasikan berbagai peluang yang akan kami tawarkan. Dari sekian presentasi yang kami lakukan, dari pihak Jerman ternyata sangat tertarik dengan investasi energi terbarukan. Jerman kini telah meninggalkan energi nuklir, kemudian secara bertahap juga meninggalkan energi batubara.  Dan berupaya maksimal menggunakan energi terbarukan seperti panas bumi (geothermal), minihidro dan mikrohidro, angin, matahari (solar), sampah (waste) dan juga yang lainnya.

Pada tahun 2010, kedatangan kami ke Jerman telah menghasilkan kesepakatan kerja sama yang positif. Jerman mengundang kami untuk mengirim sumber daya manusia (SDM) untuk dilatih dan diberi pengetahuan tentang energi terbarukan. Setelah kunjungan tahun 2010 tersebut Sumbar rutin mengirimkan SDM ke Jerman. Namun setelah adanya larangan dari Kementerian Dalam Negeri pengiriman SDM tersebut tidak dilanjutkan.

Dan setelah kunjungan kemarin ini, insya Allah akan kembali diadakan pengiriman SDM dari Sumbar, baik dari unsur Pemda, DPRD, Bupati/Wali Kota, tokoh masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Sehingga dengan demikian semakin terbentuk pemahaman yang baik terhadap pemanfaatan dan pengelolaan panas bumi dari berbagai pihak.

Pengiriman SDM ke Jerman sangat penting. Karena selama ini masih sangat sedikit orang yang paham tentang energi terbarukan.  Tidak sedikit yang menyamakan energi terbarukan itu seperti pertambangan batubara, emas, tembaga, dan lainnya. Di mana cara kerja tambang-tambang tersebut biasanya membuka lahan di lapisan atas dan kemudian dilakukan penggalian. Sehingga lingkungan menjadi rusak. Meskipun ada Amdal (Analisa mengendai dampak lingkungan) dan juga kebijakan pascatambang, lingkungan tetap dalam kondisi yang berbeda dengan sebelum dibuka.

Sedangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan, atau biasa juga disebut energi hijau justru tidak merusak lingkungan. Bahkan turut menjaga lingkungan. Contohnya adalah energi panas bumi atau geothermal. Air yang digunakan untuk menghasilkan uap panas bumi sebagai sumber energi listrik akan dikembalikan lagi ke bumi. Dan agar energi panas bumi tetap tersedia hutan dan lingkungan harus terjaga dengan baik dan lestari. Maka para pelaku usaha energi panas bumi sangat berkepentingan untuk tetap terjaganya lingkungan dan hutan. Jika lingkungan dan hutan rusak, maka sumber energi tersebut akan hilang.

Demikian pula dengan pembangkit listrik minihidro dan mikrohidro yang menjadikan bahan baku air sebagai sumber energi listrik. Pelaku usaha sektor ini akan tetap menjaga lingkungan sekitar agar air tetap mengalir terus. Jikapun ada alat-alat yang digunakan untuk pengoperasian energi terbarukan ini, maka tidak signifikan perannya terhadap kerusakan lingkungan.

Dengan perbedaan yang mencolok antara pengelolaan energi fosil (tak terbarukan) dengan energi terbarukan ini, pemberian pelatihan oleh pihak Jerman di Muenchen bagi seluruh pemangku kepentingan di Sumbar tentunya sangat penting.  Baik kepala daerah, tokoh masyarakat, akademisi, dan lainnya, mereka butuh dijelaskan mengenai pengelolaan energi terbarukan ini. Sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman, bahkan semakin menambah pemahaman baru yang salah.

Oleh karena itu, kerjasama ini perlu terus dilanjutkan agar semakin banyak para pemangku kepentingan bisa mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang memadai bagaimana sebenarnya energi terbarukan itu.

Kehadiran investasi energi terbarukan ini jelas berdampak positif, yaitu adanya penerimaan daerah, baik pajak maupun royalti. Di samping itu juga ada dana CSR untuk masyarakat, dan ada pula alokasi untuk pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan investasi energi terbarukan ini perlu didukung karena membawa dampak positif bagi masyarakat.

Selain itu, dengan APBD yang tidak besar dengan pendapatan asli berupa pajak kendaraan bermotor (provinsi) dan retribusi pajak (kota/kabupaten), keberadaan investasi energi terbarukan ini berperan dalam meningkatkan perekonomian, baik bagi masyarakat dalam perspektif mikroekonomi maupun bagi pemda dalam perspektif makroekonomi.

Dengan pasokan energi yang cukup besar, diikuti terjaganya hutan dan lingkungan, serta insya Allah berpengaruh positif bagi pemda dan masyarakat, maka kami tak bosan-bosannya mempromosikan investasi energi terbarukan ini ke berbagai pihak, termasuk ke luar negeri.  Karena ini adalah salah satu bentuk mensyukuri karunia Allah SWT yang ada di negeri ini.

Untuk itu, kami mohon dukungan segenap lapisan masyarakat di berbagai level agar investasi energi terbarukan ini bisa berjalan baik dan benar pelaksanaannya sehingga membawa kebaikan bagi kita semua.***

Singgalang, 17 Oktober 2017

240. 2017-10-27 [Padek] Kepedulian Sosial

Kepedulian Sosial

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 16 Oktober 2017 lalu saya memberi sambutan sekaligus melantik pengurus baru Karang Taruna Provinsi Sumatera Barat periode 2017-2022. SK Pelantikan ditandatangani oleh gubernur. Pelantikan ini turut dihadiri oleh Sekjen Karang Taruna Nasional dan juga Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumbar serta perwakilan karang taruna daerah yang ada di Sumbar. Pengurus karang taruna ini adalah para anak muda.  Mungkin belum banyak yang tahu, bahwa organisasi karang taruna bergerak di bidang sosial untuk membantu masyarakat mengatasi  masalah sosial yang ada di masyarakat.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Sosial tahun 2010, Karang Taruna adalah organisasi sosial yang berada di desa/kelurahan.  Karang taruna bersifat otonom, sosial, terbuka dan berskala lokal. Anggotanya berusia 13-45 tahun, sedangkan pengurus disyaratkan berusia 17-45 tahun. Dan tugas pokok karang taruna adalah, bersama-sama pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kota/kabupaten serta masyarakat lainnya menyelenggarakan pembinaan generasi muda dan kesejahteraan sosial.

Adapun fungsi karang taruna di antaranya adalah: mencegah timbulnya masalah kesejahteraan sosial; menyelenggarakan kesejahteraan sosial;  meningkatkan usaha ekonomi produktif; menumbuhkan, memperkuat dan memelihara kesadaran dan tanggung jawab sosial masyarakat; menumbuhkan, memperkuat, dan memelihara kearifan lokal.

Disadari bahwa tingkat kepedulian sosial yang ada di masyarakat tidak merata. Tidak semua orang mampu yang mau membantu meringankan, tidak semua orang yang terlihat kaya mau menyisihkan sebagian hartanya, tidak semua orang yang beruntung mau membagikan sedikit kebahagiaannya kepada orang lain. Sementara jika membicarakan anggaran yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk mengimplementasikan kepedulian sosial pun terbatas. SDM yang dimiliki pemerintah untuk mengimplementasikan kepedulian sosial pun jumlahnya terbatas.

Karang taruna hadir mengisi sedikitnya SDM  dan masalah yang tersebut di atas. Mereka dengan energi khas anak mudanya mampu menyelesaikan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.  Dengan kedudukan organisasi yang berada di tiap desa atau kelurahan, mereka mampu menelusuri tempat-tempat yang terpencil sekalipun.

Pemerintah membutuhkan berbagai elemen, di antaranya karang taruna untuk membantu dan berperan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Dengan posisi karang taruna yang netral, tidak berpolitik dan berafiliasi kepada aliran politik tertentu turut membantu gerak langkah karang taruna berkiprah di masyarakat.

Masalah sosial selalu ada dalam kehidupan masyarakat. Maka peran karang taruna menjadi penting. Jika kita melihat negara maju, yang sudah menerapkan jaminan sosial dan juga kepedulian sosial lebih baik, ternyata tetap muncul berbagai masalah sosial di sana. Seperti tuna wisma dan lainnya. Apalagi negara kita yang hingga saat ini masih dalam tahap pembangunan, banyaknya masalah sosial yang muncul perlu bantuan semua pihak.

Untuk itu, saya mengajak kita semua mari kita bantu berbagai pihak yang turut membantu menyelesaikan berbagai permasalahan sosial di masyarakat. Mari kita dukung mereka yang telah menunjukkan kepedulian sosialnya kepada masyarakat. Dan jika mungkin bisa terlibat di dalamnya. Karang taruna sebagai salah satu unsur yang berfungsi melakukan kepedulian sosial mari kita dukung agar terus bisa berkiprah. Anak-anak muda yang menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat mari kita doakan agar mereka bisa tetap terus berkiprah dan jumlahnya kita harapkan bertambah.

Jika kepedulian sosial ini dikaitkan dengan ajaran agama, maka kita juga bisa lihat bahwa dalam Islam ada yang disebut dengan zakat, baik zakat harta maupun zakat fitrah. Yaitu bagian dari harta seorang muslim yang harus dikeluarkan untuk golongan tertentu yang membutuhkan, di antaranya kaum dhuafa. Juga ada infak dan sedekah yang jumlahnya bisa lebih besar dari zakat. Ada pula wakaf, baik wakaf tanah maupun wakaf tunai. Selain itu ada juga kurban, di Indonesia umumnya kambing dan sapi. Itu adalah bentuk kepedulian sosial yang bisa dinilai dengan uang.

Ada pula kepedulian sosial dalam Islam yang tidak semata dinilai dengan uang, seperti ukhuwah Islamiyah, yaitu sesama umat islam saling menjaga persatuan dan tidak mudah saling benci dan lainnya. Ada yang disebut dengan taawun, yaitu saling tolong menolong dalam kebaikan.

Maka, melaksanakan kepedulian sosial sesungguhnya manfaatnya akan kembali kepada yang melakukan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Isra ayat 7 yang artinya, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri …”.

Semoga kepedulian sosial di negeri kita bisa tetap terus ada dan berkembang, dengan dukungan anak-anak muda yang tergabung dalam karang taruna dan juga seluruh elemen masyarakat. Karena yang harus peduli dengan lingkungan sosial kita adalah kita sendiri, bukan orang lain.***

Padang Ekspres, 27 Oktober 2017

 

 

241. 2017-11-01 [Singgalang] Pakaian Perempuan Minang

Pakaian Perempuan Minang

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 23 Oktober 2017 lalu di Bukittinggi saya menutup acara Pendokumentasian Warisan Budaya Tak Benda Pakaian Tradisi Perempuan Minang, yang diadakan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar. Acara ini berupaya mendokumentasikan beragam jenis pakaian perempuan Minang yang pernah dibuat sejak dulu hingga saat ini, hingga nantinya insya Allah akan menjadi buku.

Meskipun yang baru terkumpul sekitar 92 jenis pakaian dari 9 daerah, menurut informasi yang saya peroleh  bisa mencapai  400 jenis pakaian perempuan Minang.  Ini adalah bentuk warisan budaya tak benda yang perlu dilestarikan. Karena ternyata perempuan Minang memiliki kreativitas yang cukup baik dalam mendisain pakaian mereka.

Selain itu disain yang dibuat menunjukkan selera yang tinggi. Hal ini dilihat dari warna-warna yang digunakan dalam membuat pakaian, yaitu warna cerah dan juga pernak-pernik perhiasan yang dilekatkan di sekujur pakaian yang membuat pemakainya terlihat elegan dan terkesan meriah.

Berbagai jenis pakaian ini sudah selayaknya dijaga, dipelihara dan dilestarikan penggunaannya karena merupakan khasanah dan warisan dari para orang tua zaman dahulu. Karena hal ini memiliki nilai tambah tersendiri. Baik dalam rangka pelestarian budaya dan identitas kesukuan maupun dalam rangka bagian daya tarik pariwisata Sumbar. Dan selain itu, proses kreasi pakaian perempuan Minang ini berlangsung dalam jangka waktu lama, turun temurun, menghasilkan kreasi pakaian berbagai jenis.

Dalam beberapa kunjungan tim investasi Sumbar ke luar negeri, kami beberapa kali membawa tim kesenian tari Sumbar untuk tampil di ajang bergengsi. Pakaian adat yang dikenakan  para penari ini mampu menarik perhatian pengunjung, bahkan mendapat apresiasi dan juga sambutan meriah. Masyarakat luar negeri, khususnya Barat tidak mengenal pakaian yang dikenakan oleh tim tari tersebut. Sehingga mereka terkesima dengan pakaian yang dikenakan, karena warnanya yang cerah dan juga pernak pernik yang bersinar.

Selain sebagai warisan tak benda yang perlu dijaga, perlu juga dirancang pakaian perempuan Minang yang bisa digunakan untuk kondisi kekinian. Tentunya dengan menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada. Sehingga pakaian tersebut juga bisa dipakai ke kantor, acara resmi, acara keagamaan, dan lainnya. Kerumitan yang ada di dalam pakaian perempuan Minang bisa disesuaikan sehingga bisa lebih praktis dan juga realistis dalam penerapannya. Namun tetap mencirikan nilai budaya Minang. Di sini butuh peran para disainer dan para pegiat kreatif.

Dan berbicara tentang disainer, pada 12-15 Oktober 2017 lalu dilangsungkan acara Minangkabau Fashion Heritage (MFH) di Jakarta Convention Center (JCC) yang diadakan oleh Dekranasda Sumbar dengan ketuanya Ibu Nevi Irwan Prayitno. MFH adalah bagian dari acara Indonesia Modes Festival Week (IMFW). Dekranasda Sumbar turut aktif memberikan ruang kepada disainer muda Sumbar untuk berkreasi dan memamerkan karyanya di tingkat nasional.

Bukan tidak mungkin berbagai jenis pakaian perempuan Minang ini jika dikembangkan oleh para disainer muda dan pegiat kreatif, akan menjadi daya tarik sendiri di bidang “halal fashion tourism”. Hal ini sejalan dengan world halal destination dan world halal culinary destination yang sudah disandang Sumbar.

Dan yang juga perlu diapresiasi oleh kita bersama adalah, pakaian perempuan Minang ini umumnya tertutup, atau menutup seluruh tubuh, sesuai dengan falsafah hidup masyarakat “adat basandi syarak syarak basandi kitabullah”. Meskipun dirancang dengan berbagai model dan gaya serta pernak pernik, secara umum tetap menutup tubuh.

Maka dengan ciri yang demikian, dengan penyesuaian yang bisa dilakukan di sana-sini, saya yakin suatu saat akan ada pakaian perempuan Minang yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, dengan konteks yang kekinian, realistis untuk dipakai, dan jauh dari kerumitan. Walaupun kemeriahan baju adat memang diperlukan saat acara adat dan acara tertentu. Namun kerumitan yang ada di pakaian tersebut bisa diminimalkan agar mampu digunakan sehari-hari untuk berbagai kebutuhan dan kegiatan. ***

Singgalang, 1 November 2017

 

 

 

242. 2017-11-08 [Singgalang] Alek Nagari

Alek Nagari

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Alhamdulillah, selama menjabat Gubernur Sumbar sudah banyak saya hadir memenuhi undangan Alek Nagari di berbagai pelosok Sumbar sehingga bisa bersilaturahmi dengan para Wali Nagari dan perangkatnya, juga dengan masyarakat dan perantau di nagari tersebut. Dan saya semakin mengenal budaya dan kearifan lokal yang ada di tiap nagari yang dikunjungi.  Dan yang baru-baru ini saya datangi pada 31 Oktober 2017 lalu adalah alek nagari Manggopoh yang terletak di Kabupaten Agam.

Nama nagari Manggopoh ini turut mengingatkan saya tentang kisah kepahlawanan Siti Manggopoh. Seorang wanita yang meskipun harus menyusui anaknya namun tak menyurutkan dirinya melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda pada waktu itu. Pada waktu itu penjajah Belanda menerapkan pajak tanah (belasting) kepada masyarakat, sementara tanah adalah milik kaum sehingga menimbulkan kemarahan masyarakat. Perlawanan Siti Manggopoh sempat membuat penjajah Belanda kewalahan dan meminta bantuan dari luar.

Kembali ke alek nagari Manggopoh, pada kunjungan saya tersebut selain menghadiri undangan alek nagari juga meresmikan Kantor Wali Nagari. Alek nagari yang bisa berlangsung hampir seminggu menunjukkan bahwa masyarakat di nagari tersebut memang sedang berpesta (helat, alek). Ramainya masyarakat yang hadir dalam alek tersebut tidak hanya berasal dari dalam nagari tersebut. Masyarakat yang di rantau pun turut hadir ke kampungnya.

Berbagai macam acara biasanya ditampilkan di alek tersebut, seperti pentas seni dan tari (adat budaya), perlombaan (silat dan lainnya), pidato adat, peragaan dan lomba busana Minang, dan lainnya. Selain itu, di saat berlangsungnya alek nagari ini juga terjadi peningkatan transaksi ekonomi dari penjualan produk usaha yang ada di nagari, termasuk juga badan usaha milik nagari, yang dibeli oleh masyarakat. Dan juga transaksi jual beli para pedagang yang meramaikan alek nagari tersebut.

Di samping itu, dalam alek nagari dilakukan musyawarah oleh seluruh elemen masyarakat tentang pembangunan nagari. Di sini dilakukan diskusi  mengenai pembangunan nagari sehingga dicapai kata sepakat dan juga dilakukan acara “badoncek” untuk membiayai kegiatan yang disepakati.

Kantor Wali Nagari Manggopoh adalah salah satu contoh tentang peran pembiayaan masyarakat dalam membangun nagari. Karena sebagian  pembangunannya berasal dari dana masyarakat baik ranah maupun rantau. Di samping juga ada bantuan dari pemda maupun pihak swasta.

Alek nagari yang dilakukan di berbagai tempat ini perlu dirutinkan pelaksanaannya dan perlu didukung oleh seluruh pihak. Karena banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini. Kebersamaan masyarakat dalam membangun nagarinya, pelestarian adat dan budaya yang dilakukan dalam kegiatan tersebut sehingga terjadi perpindahan pengetahuan dan ilmu dari orang tua kepada anak muda, munculnya berbagai kesepakatan untuk membangun nagari, silaturahmi yang tetap terjaga, hal yang sulit ternyata menjadi mudah karena kebersamaan, semakin kompaknya seluruh elemen masyarakat di nagari, adalah di antara dampak positif yang bisa dilihat dan dirasakan.

Nagari hanya ada di Sumbar. Dan bisa disetarakan dengan desa seperti yang ada di Jawa. Namun nagari sudah lama memiliki sistemnya sendiri, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan sistem dan budaya yang ada di nagari tersebut yang juga menopang kehidupan masyarakat di Sumbar secara umum.

Di dalam struktur pemerintahan nagari terdapat Wali Nagari sebagai pemimpin eksekutif, kemudian ada Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang berisi ninik mamak, kemudian Badan Musyawarah Nagari (BMN) yang berisi alim ulama, cadiak pandai dan para tokoh masyarakat ditambah dari unsur pemuda, perempuan, dan perwakilan suku.

Pengelolaan yang baik sebuah nagari, termasuk di dalam mengelola alek nagari insya Allah akan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat nagari. Dan bahkan bisa dikemas menjadi sebuah paket wisata yang menarik bagi wisatawan yang ingin mengetahui perihal nagari. Dan hal ini akan berdampak positif pula bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Semoga dengan adanya alek nagari, semakin menambah semangat masyarakat untuk maju dan membangun nagarinya dengan sebaik-baiknya. Baik pembangunan material maupun spiritual. ***

Singgalang, 8 November 2017

 

 

 

243. 2017-11-10 [Republika] Menguatkan Nilai Kepahlawanan

Menguatkan Nilai Kepahlawanan

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.

Sedangkan pahlawan menurut Peraturan Presiden RI No. 33 Tahun 1964 adalah: 1. Warga negara RI yang gugur, tewas, atau meninggal dunia karena akibat tindakan kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa. 2. Warga negara RI yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindak kepahlawanannya yang cukup membuktikan jasa pengorbanan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa dan yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindak atau perbuatan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan karenanya.

Hari Pahlawan dan Profil Pahlawan

Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Pada saat itu, 10 November 1945 Bung Tomo, KH. Hasyim Asy’ari,  KH Wahab Hasbullah, para Kiyai, para santri, para pejuang, dan rakyat di Surabaya bertekad pantang menyerah dalam menghadapi tentara sekutu. Dengan semangat membaja, keberanian luar biasa, kesungguhan, dan yakin akan nilai kebenaran yang diperjuangkan, aksi heroik masyarakat Surabaya menjadi catatan sejarah yang tak terlupakan.

Pahlawan yang dikenal kebanyakan orang, adalah pahlawan yang berjuang di masa penjajahan fisik. Mereka telah terbukti memberikan segala yang terbaik yang dimilikinya termasuk nyawanya untuk melawan penjajah agar bangsanya bisa menikmati kemerdekaan dan menjalani kehidupan sebagai bangsa merdeka. Dan bangsa yang telah merdeka, kemudian membentuk pemerintahan agar rakyat terpenuhi hak-haknya sesuai dengan konstitusinya.

Namun, semakin negara dan bangsa ini bertambah usianya maka profil pahlawan tanpa perlu penetapan dari pemerintah sudah selayaknya turut diberikan kepada siapa saja warga negara RI yang berjuang dengan sungguh-sungguh di bidangnya masing-masing sehingga kiprahnya turut mewarnai lingkungan tempat dia berada karena turut berkontribusi memajukan bangsa dan negara.

Karena pada dasarnya perjuangan para pahlawan untuk mendapatkan kemerdekaan harus dilanjutkan oleh mereka yang hidup di alam kemerdekaan. Berbagai nilai kepahlawanan yang muncul ketika melawan penjajah harus kembali dihidupkan di alam kemerdekaan. Jangan sampai justru ketika sudah merdeka, bangsa ini tidak bersungguh-sungguh untuk memajukan dirinya guna mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Karena sudah banyak bangsa yang merdeka dengan cepat mengungguli Indonesia di segala sektor.

Berbagai gangguan yang melemahkan kemampuan bangsa ini untuk maju harus dihadapi pula dengan nilai-nilai kepahlawanan. Gangguan tersebut di antaranya adalah tawuran, narkoba, pergaulan bebas, kemalasan, bully, dan penyakit masyarakat lainnya yang menyebabkan sebagian dari masyarakat menurun kualitas hidupnya.

Pada saat ini, di tengah gencarnya pembangunan dilakukan guna mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik, kiprah berbagai kelompok masyarakat sangat mempengaruhi kelancaran pembangunan. Maka dalam kehidupan bermasyarakat, sangat penting sekali penerapan nilai-nilai kepahlawanan dalam keseharian. Di mana pada saat penjajahan dulu semangat untuk mendapatkan hak-hak sebagai bangsa sangat sulit didapat. Misalnya perjuangan untuk mendapatkan hak akan pendidikan, di mana setelah merdeka hak akan pendidikan digariskan oleh konstitusi.

Di masa sudah merdeka seperti saat ini, seluruh rakyat berhak mendapatkan pendidikan dari pemerintah. Maka mereka yang berjuang di bidang pendidikan sesungguhnya telah menerapkan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupannya. Dengan wilayah Indonesia yang luas, masih ada masyarakat yang belum mendapatkan hak pendidikan, meskipun pemerintah sudah melakukan berbagai kebijakan untuk menjangkau hingga ke pelosok. Maka siapapun mereka yang membantu tercapainya hak-hak masyarakat akan pendidikan ini telah memperjuangkan kebenaran.

Pahlawan di bidang pendidikan di masa penjajahan di antaranya adalah Ki Hajar Dewantara, Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, dan Mohammad Syafe’i.  Maka kini di masa mengisi kemerdekaan, setiap insan yang berjuang di bidang pendidikan pada dasarnya telah mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan. Para guru, dosen, pengajar dan pendidik yang berdedikasi dalam dunianya sehingga mengubah banyak orang menjadi baik perilakunya dan bertambah ilmunya adalah pahlawan. Para siswa, pelajar, dan mahasiswa yang sungguh-sungguh dalam belajar, rajin, tekun, serius, adalah pahlawan. Karena mereka menjalankan nilai-nilai kebenaran yang merupakan dasar perjuangan dari seorang pahlawan. Kesungguhan mereka akan menjadi bagian dari kekuatan sebuah bangsa yang merdeka. Jutaan orang yang mengikuti proses belajar mengajar dengan kesungguhan akan memperkuat bangsa dan negaranya. Sebaliknya, orang yang mengikuti proses belajar mengajar namun malas, tidak serius, tidak sungguh-sungguh, melakukan kecurangan, sesungguhnya turut memperlemah bangsa dan negaranya.

Menguatkan Nilai Kepahlawanan

Belajar dari aksi heroik para pejuang di Surabaya pada 10 November 1945, menguatkan kembali nilai-nilai kepahlawanan pada masyarakat Indonesia sesungguhnya juga turut menguatkan kembali nilai-nilai keagamaan masyarakat. Karena pada pertempuran 10 November 1945 tersebut Bung Tomo dengan orasinya yang membakar semangat rakyat Surabaya tak lupa mengucapkan takbir yang menandakan bahwa perjuangan masyarakat tak lupa memohonkan pertolongan Allah SWT.  Demikian juga para ulama dan santri yang memiliki keberanian luar biasa dan semangat membara dalam melawan sekutu. Mereka tetap menyandarkan perjuangannya kepada Allah SWT.

Menguatkan kembali nilai-nilai kepahlawanan adalah kebutuhan bangsa ini agar terus menerus memperbaiki dirinya sehingga bisa menjadi bangsa yang besar dan maju. Karena sebagai bangsa merdeka kita tetap harus memperkuat ketahanan nasional, dan salah satunya adalah memperkuat nilai kepahlawanan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sangat banyak nilai-nilai kebaikan universal yang bisa dijadikan landasan untuk memperkuat nilai kepahlawanan dalam kehidupan. Seperti perilaku tertib antre, membuang sampah pada tempatnya, tidak kebut-kebutan di jalan, membantu orang lain yang kesulitan, belajar sungguh-sungguh, bekerja sungguh-sungguh, menjadi orang tua yang sayang kepada anak, menjadi suami/istri yang sayang kepada pasangannya.

Demikian pula di sektor pelayanan publik. Dari petugas kebersihan yang melakukan tugasnya dengan baik, petugas layanan masyarakat yang memberikan layanan prima tepat waktu, hingga pemimpin yang menjaga stafnya agar berlaku baik dalam bekerja. Mereka juga telah melakukan nilai-nilai kebaikan universal. Dan nilai-nilai kebaikan universal ini sudah membuat banyak bangsa lain mencapai kemajuan dan kejayaannya sehingga masyarakatnya menikmati kehidupan yang layak sebagai sebuah bangsa. Dan semoga bangsa kita pun bisa mencapai kemajuan dan kejayaan dengan memegang teguh dan mengamalkan nilai-nilai kepahlawanan pada diri setiap insan dalam kehidupannya sehari-hari.

Republika, 10 November 2017

 

 

 

244. 2017-11-16 [Singgalang] Sumbar Expo 2017

Sumbar Expo 2017

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 9-12 November 2017 telah dilaksanakan kegiatan Sumbar Expo di kota Batam. Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar. Kegiatan ini adalah kali keenam. Dan telah dilakukan sebelumnya di berbagai tempat, seperti Jakarta, Denpasar dan Bandung. Insya Allah untuk Sumbar Expo berikutnya akan diadakan di Makasar.

Atas nama Pemprov Sumbar tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Kepri dan Wali Kota Batam yang telah mendukung kegiatan ini. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kota Batam dan para perantau di sana yang telah mendukung berjalannya Sumbar Expo 2017 dengan lancar.

Sumbar Expo adalah salah satu usaha dari Pemprov Sumbar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Hal ini dilakukan guna menyiasati terbatasnya anggaran yang ada, baik APBN dan APBD.  Di Sumbar Expo dilakukan pemasaran produk asal Sumbar ke luar dan sekaligus dilakukan acara presentasi kepada investor  untuk mengajak investasi di Sumbar. Alhamdulillah, dari tahun ke tahun pelaksanaannya berjalan baik dan telah memberikan dampak positif bagi kemajuan Sumbar.

Pada Sumbar Expo kali ini, Pemprov Sumbar mempromosikan produk UMKM Sumbar di Batam.  Mereka adalah UMKM binaan dari kota dan kabupaten di Sumbar. Produk-produk mereka dipamerkan di stand-stand yang ada di lokasi Sumbar Expo.

Selain itu, Pemprov juga mempromosikan Pariwisata Sumbar yang sedang giat melakukan pembenahan. Terdapat potensi lebih dari 1 juta orang wisatawan di Batam yang dapat diajak untuk berkunjung ke Sumbar. Ada beberapa tempat yang menarik bagi wisatawan tersebut untuk mengunjungi Sumbar, karena ada perbedaan topografi sehingga destinasi wisata alam Sumbar cukup menjanjikan dan menarik untuk dikunjungi serta melengkapi kunjungan wisatawan tersebut.

Selain itu Pemprov Sumbar juga mengajak pelaku bisnis di Batam termasuk para perantau di Batam dan juga pelaku bisnis di Singapura untuk berinvestasi di Sumbar. Dalam rangka temu bisnis, juga telah dilakukan one on one meeting untuk memfasilitasi pertemuan para pebisnis. Selain itu juga ada presentasi dari Gubernur Sumbar, Bupati Padang Pariaman, Bupati Sijunjung, Wali Kota Sawahlunto, dan Sekda Pasaman Barat.

Insya Allah pada tanggal 24 November 2017 akan dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bidang pangan dan pariwisata. Di bidang pangan, nantinya Sumbar akan memasok kebutuhan pangan seperti beras, cabe, bawang dan sayur-sayuran ke Batam. Hal ini akan menguntungkan kedua pihak, Sumbar dan Batam (Kepri).

Bagi Sumbar pengiriman komoditi ke Batam di saat ketersediaannya banyak akan menjaga harga komoditi tersebut dari kejatuhan harga sehingga petani terlindungi dari kejatuhan harga. Sedangkan bagi Batam sendiri, kiriman dari Sumbar akan turut mengamankan pasokan sehingga bisa mengurangi tingginya harga komoditi tersebut ketika dibeli masyarakat. Sedangkan di bidang pariwisata, nantinya Batam akan mempromosikan pariwisata Sumbar ke wisatawan yang datang ke Batam untuk menikmati destinasi wisata alam, seni dan budaya, serta kuliner Sumbar.

Pada Sumbar Expo 2017 ini, juga merupakan ajang silaturahmi. Baik antar pemerintah daerah maupun antar orang Minang, terutama mereka yang di rantau. Dengan silaturahmi ini turut mempererat hubungan antar pemerintah daerah dan juga pemerintah daerah yang ada di Sumbar dengan para perantau Minang.

Masih dalam rangka silaturahmi, pada Sumbar Expo 2017 ini juga dilakukan pertunjukan seni dan budaya Minang yang merupakan promosi seni dan budaya Minang kepada masyarakat di Batam. Hal ini disambut antusias oleh masyarakat di Batam dan juga para perantau. Pelaksanaan dilakukan selama Sumbar Expo 2017 berlangsung, 9-12 November 2017.

Semoga dengan pelaksanaan Sumbar Expo dari tahun ke tahun, turut memajukan UMKM di Sumbar dan juga semakin menarik investor datang ke Sumbar serta meningkatkan kunjungan wisatawan datang ke Sumbar. Khusus untuk pariwisata, harapan saya hal ini bisa berdampak langsung kepada masyarakat karena wisatawan datang ke lokasi wisata membawa uang.  Yang mereka butuhkan di antaranya adalah penginapan, transportasi, tempat belanja, oleh-oleh, cindera mata, kuliner. Dan semua itu bisa dilakukan oleh masyarakat, tentu dengan kemasan yang menarik dan pelayanan prima agar wisatawan yang bertransaksi semakin menikmati perjalanan di Sumbar.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemangku kepentingan atas terlaksananya Sumbar Expo ini. Semoga kebaikan yang telah dilakukan ini mendapat balasan yang jauh lebih dari Allah SWT. Sehingga kita termotivasi untuk memberikan pelayanan yang baik guna mensejahterakan masyarakat. Tentunya segala kekurangan yang ada di Sumbar Expo tahun ini, kita perbaiki di tahun depan.

Singgalang, 16 November 2017

245. 2017-11-27 [Padek] Pemuda Semangat Perubahan

Pemuda Semangat Perubahan

 Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 18 November 2017 malam lalu saya menyempatkan diri hadir di  acara Jambore Pemuda Indonesia (JPI) 2017 di Sawahlunto. Acara ini dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Bpk. Imam Nahrowi. Pesertanya berasal dari seluruh Indonesia, 544 pemuda terbaik mewakili 34 provinsi, ditambah peserta dari kabupaten/kota di Sumbar sehingga total kurang lebih  1.000 peserta.

Tema acara ini adalah Pemuda Indonesia Berani Bersatu. JPI merupakan agenda rutin dari Kemenpora RI, dan telah ada sejak 1998 dengan nama awalnya Kemah Kesatuan Pemuda (KKP) yang kemudian diganti menjadi JPI. Pada acara JPI 2017 ini saya turut memberikan motivasi kepada peserta dan bersama IPe Band turut memeriahkan suasana panggung hiburan JPI 2017.

Saya mengapresiasi Wali Kota Sawahlunto yang bersedia menyelenggarakan kegiatan Jambore Pemuda Indonesia 2017 ini di Sawahlunto sehingga terlaksana dengan baik. Karena secara tidak langsung hal ini telah mempromosikan Sawahlunto kepada publik melalui acara JPI 2017.

Dan dari provinsi pun turut mendukung pelaksanaan JPI 2017 ini dengan turut berbagi anggaran dengan Sawahlunto, di mana anggaran dari Pemprov Sumbar berjumlah lebih 1 miliar rupiah. Dan dari perhelatan JPI 2017 ini, banyak pimpinan rombongan mengucapkan terima kasihnya atas layanan yang diberikan oleh panitia. Tentunya ini sebuah apresiasi yang bisa berdampak positif baik bagi Sawahlunto maupun Sumbar.

Semoga kota/kabupaten lain juga bisa mencontoh Sawahlunto yang mampu menyelenggarakan iven nasional di wilayahnya sehingga turut mempromosikan wilayahnya. Insya Allah Pemprov Sumbar akan turut berbagi anggaran dengan kabupaten/kota yang menyelenggarkan iven nasional seperti ini sebagai bentuk dukungan nyata.

Kembali ke JPI 2017, ini adalah kegiatan positif bagi pemuda sehingga insya Allah hasilnya pun positif. Salah satu kegiatan di ajang JPI ini adalah membagikan warisan budaya tenun songket Silungkang. Peserta JPI diajarkan tenun songket Silungkang yang merupakan warisan 400 tahun yang lalu. Sementara kegiatan lainnya di JPI 2017 ini di antaranya adalah dialog kebangsaan dengan berbagai topik terkini, lomba senam poco-poco, lomba egrang, lomba terompah panjang, lomba tarik tambang,  kirab dan pawai budaya, juga pertunjukan seni, dan juga kegiatan yang meningkatkan silaturahmi antar peserta.  Kegiatan ini juga menjadi ajang transformasi budaya dari berbagai provinsi di Indonesia sehingga turut menguatkan persatuan Indonesia.

Seperti halnya kegiatan JPI,  pemuda memang perlu memiliki aktivitas atau banyak kegiatan. Karena pada fase usia ini mereka ditempa dengan berbagai persiapan untuk regenerasi kepemimpinan. Para pemuda adalah aset bangsa dan juga calon pemimpin bangsa. Mereka harus banyak memiliki bekal untuk memimpin, termasuk memimpin dirinya sendiri, memimpin keluarga, memimpin organisasi, memimpin masyarakat, dan yang lebih besar dari itu.

Jika masa muda tidak diisi dengan berbagai kegiatan positif, maka alangkah sayangnya. Bahkan ada yang menyebut sebagai kemubaziran. Karena waktu berjalan terus, dan masa muda terbuang tidak termanfaatkan, serta potensi yang ada tidak tergali dengan baik. Sulit untuk berkembang jika tidak mengisi berbagai kegiatan positif di masa muda. Dan ke depannya juga akan sulit menjalankan amanah kepemimpinan maupun tanggung jawab lainnya, baik dalam skala kecil apalagi skala besar.

Kegiatan seperti JPI ini sudah sepatutnya juga dilaksanakan di skala yang lebih kecil, baik provinsi maupun kota/kabupaten. Dan bila perlu organisasi pemuda juga melakukan hal serupa atau hal positif lainnya guna mempersiapkan bekal bagi generasi muda. Memang diperlukan kreatifitas tersendiri untuk melakukan hal semacam ini.

Jika kegiatan yang positif ini ternyata juga sesuai dengan minat, hobi, bakat, kecenderungan atau selera para generasi muda maka ini akan semakin meningkatkan aktualisasi dirinya. Memang tidak melulu harus sesuai bakat untuk berkegiatan positif atau aktualisasi bagi para pemuda. Karena aktualisasi diri lainnya bagi para pemuda adalah menjadi aktivis, baik aktivis sosial, keagamaan, ekonomi dan bidang-bidang lainnya.

Jika kita melihat berbagai sosok pemimpin yang ada di level nasional hingga daerah, politisi nasional hingga daerah, para pejabat baik di pusat maupun daerah, hampir sebagian besar mereka adalah aktivis ketika di masa muda. Demikian pula para pengusaha sukses yang ketika muda menjadi aktivis. Mereka sukses menjalani perannya saat ini karena telah banyak pengalaman menjadi aktivis di masa muda.
Ketika menjadi aktivis, telah terbiasa mengikuti rapat-rapat, menangani masalah dan konflik organisasi, melakukan perencanaan kegiatan, mengambil keputusan, tidak malu untuk menemui bermacam orang, mampu berbicara di hadapan banyak orang, yang semua ini bekal yang bermanfaat ketika mendapat amanah jabatan maupun tanggung jawab lainnya.

Maka, dengan JPI 2017 yang telah dilaksanakan dengan baik ini saya mengajak para pemuda untuk mengisi masa mudanya dengan berbagai kegiatan positif serta penuh kesungguhan dalam melaksanakannya. Termasuk di sini adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya terhadap banyak hal, yaitu dengan jalan memperbanyak bacaan, atau sering disebut dengan kesadaran literasi. Sehingga para pemuda tidak mudah terpancing untuk melakukan kritikan atau pernyataan yang salah akibat tidak lengkapnya informasi yang didapat.

Kritikan atau pernyataan konstruktif dengan data yang benar insya Allah akan menyuguhkan jalan keluar. Sehingga akan membawa kebaikan yang luas serta terhindar dari keburukan yang akan menimbulkan musibah, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga masyarakat. Karena semangat pemuda sejatinya adalah semangat perubahan dan semangat membangun penuh kesungguhan, bukan merusak. ***

Padang Ekspres, 27 November 2017

246. 2017-11-29 [Singgalang] Tour de Singkarak dan Pariwisata Sumbar

Tour de Singkarak dan Pariwisata Sumbar

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 17 November 2017 malam di Istana Pagaruyung Tour de Singkarak (TdS) 2017 resmi dibuka. Dan keesokan paginya  (18/11) masih di tempat yang sama saya mengangkat bendera start etape pertama rute Batusangkar –  Padang. Pada etape kedua rute Pesisir Selatan – Sawahlunto saya juga turut mengangkat bendera finish di Sawahlunto. TdS 2017 berlangsung dari 18 hingga 26 November 2017 dengan 9 etape.

TdS yang sudah menginjak kali kesembilan ini semakin mengukuhkan perannya dalam “sport tourism” atau dengan kata lain promosi pariwisata melalui olahraga. Selain sudah masuk menjadi agenda perhelatan balap sepeda internasional, liputan TdS ini sudah dilakukan oleh banyak media, baik dalam maupun luar negeri. Dan jejak liputannya bisa dilihat di antaranya di Youtube di mana di situ bisa disaksikan bagaimana para videografer mampu membuat video yang berkualitas sehingga alam Sumbar yang indah mampu disorot sedemikian rupa ketika meliput acara TdS. Untuk itu saya turut menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mempromosikan kegiatan TdS ini melalui berbagai macam saluran.

Selain itu, keberhasilan TdS ini dalam mempromosikan pariwisata melalui kegiatan olahraga telah menginspirasi daerah lain untuk melakukan hal serupa. Di antaranya Tour de Banyuwangi  Ijen, dan  Tour de Flores.  Dengan melalui 18 kabupaten/Kota, TdS telah menjadi ajang promosi destinasi wisata yang ada di berbagai kabupaten/kota tersebut. Baik dari tempat start dan finish, maupun jalur yang dilalui. Para fotografer dan videografer juga turut mengabadikan momen-momen indah di semua destinasi tersebut.  TdS yang tadinya diikuti oleh beberapa kabupaten/kota di Sumbar kini telah diikuti oleh 18 kabupaten/kota di Sumbar. Ini adalah perkembangan positif, dan saya mengapresiasi pemerintah kabupaten/kota yang mempersiapkan wilayahnya dilewati TdS.

Saya juga turut mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat yang selama ini sudah memberikan bantuannya kepada Sumbar sehingga dari tahun ke tahun penyelenggaraan TdS semakin baik, baik dalam bentuk anggaran maupun kebijakan dan dukungan moral. Belajar dari negara lain yang sudah maju penanganan pariwisatanya, promosi adalah caranya, dengan melalui berbagai saluran. Dana yang dikeluarkan untuk promosi pun bisa dibilang sangat besar. Karena dengan promosi orang akan tahu, kemudian mencari tahu apa yang dipromosikan tersebut.

TdS adalah promosi pariwisata yang semakin dikenal banyak orang. Meskipun dari namanya hanya memperkenalkan danau Singkarak, namun kini TdS telah menjelma menjadi promosi berbagai destinasi wisata di Sumbar dengan didukung pemerintah kabupaten/kota. Orang pun semakin tahu bahwa selain danau Singkarak ada danau Maninjau, danau Di Atas dan Di Bawah, jembatan kelok sembilan yang menyatu dengan alam, pantai Padang, pantai Gandoriah, pantai Tiram dan pantai Carocok. Jam Gadang di Bukittinggi jangan lagi ditanya, karena ini sudah lama dikenal orang, dan tidak hanya di Indonesia tetapi juga luar negeri.

Meskipun Bukittinggi menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi orang, namun dengan promosi/pengenalan yang terus menerus kini jumlah wisatawan ke Mandeh telah menyaingi jumlah wisatawan ke Bukittinggi. Padahal kawasan Mandeh ini masih terus dalam pembenahan. Adanya promosi dan liputan media maupun perbincangan di media sosial, telah menjadikan Mandeh sebagai destinasi wisata yang makin banyak dinikmati. Keindahan Mandeh sebenarnya sudah sejak lama ada. Namun orang mau berkunjung ke sini karena promosi dan adanya liputan media.

Setelah makin banyak dipromosikan, Mandeh makin dikenal luas sehingga disebut-sebut sebagai Raja Ampat kawasan barat Indonesia. Seperti halnya Mandeh, Raja Ampat sebelumnya adalah kawasan yang indah yang tidak menjadi destinasi wisata, kemudian dipromosikan sehingga dikenal luas. Dan Mandeh yang masih terus dibenahi ini mendapatkan dampak ikutan yaitu masuknya investor yang akan mendukung kemajuan pariwisata di sana.

Ketika tulisan ini dibuat, saya mendapatkan informasi ada pengusaha asal Pessel yang mengutarakan niatnya ke kepala BKPM Sumbar untuk membangun hotel di Painan/Pesisir Selatan. Dan malamnya saya juga mendapat informasi adanya pengusaha dari Kuwait yang ingin membangun hotel dan resort di Mandeh. Dan sebelumnya saya juga mendapatkan informasi pengusaha Minang yang akan mengelola pulau ala Maldives. Sedikitnya lima investor dalam waktu dua minggu telah mendatangi BKPM Sumbar mengutarakan niatnya untuk investasi di Mandeh.

Dari beberapa peristiwa yang saya ikuti, terlihat bahwa setelah dilakukan promosi tentang destinasi wisata yang diikuti datangnya wisatawan, baru kemudian investor datang untuk berinvestasi di situ karena sudah melihat atau mengetahui potensi besar yang ada di situ. Dan juga diikuti pembenahan yang lain seperti kawasan parkir, pemeliharaan kebersihan, ketersedian toilet dan tempat shalat, dan lain-lain.

Sementara jika melihat jumlah hotel di Sumbar, terlihat adanya penambahan hotel baru dari tahun ke tahun. Demikian pula penerbangan ke Padang juga makin ramai. Ini menandakan bahwa promosi pariwisata yang dilakukan oleh berbagai pihak telah mendorong orang untuk berwisata ke Sumbar.

Membicarakan pembangunan sektor pariwisata memang seperti menebak apakah telur atau ayam yang lebih dulu. Maka yang realistis adalah melakukan apa yang bisa dan kemudian dari situ akan ada peristiwa ikutannya. Promosi adalah hal yang bisa dilakukan, kemudian diikuti pembenahan sarana dan prasarana, serta mengundang investor masuk. Semakin baik dan menunjukkan tren yang bagus maka investor datang untuk berpartisipasi. Sehingga dengah demikian semakin ke depannya akan didapati situasi dan kondisi yang makin baik.

Pemerintah pusat yang tengah gencar memajukan sektor pariwisata menyadari bahwa sektor ini pertumbuhannya tinggi  dan pengaruhnya besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka untuk konteks Sumbar, dengan peran serta seluruh komponen masyarakat dan pemangku kepentingan, secara bersama setiap kita melakukan apa yang bisa dilakukan maka insya Allah ini akan membawa dampak positif bagi dunia pariwisata Sumbar. ***

Singgalang, 29 November 2017

247. 2017-12-2 [Padek] Bambu dan Festival Budaya

Bambu dan Festival Budaya

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bambu adalah tanaman yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat. Kegunaan bambu bagi masyarakat juga sudah menjadi bagian dari kehidupan. Bahkan bagi sebagian masyarakat, bambu sudah dipakai untuk sumber nafkah. Karena dari bambu bisa dibuat peralatan rumah tangga seperti kursi, meja, tempat tidur, dinding pemisah ruangan, dan lainnya.

Keberadaan bambu di tengah-tengah masyarakat biasanya menandakan adanya lingkungan yang asri. Karena bambu tumbuh bersama-sama sehingga menjadikan lingkungan sekitar lebih asri dan rindang.

Seiring perkembangan zaman, ternyata bambu sudah bisa dimaksimalkan kegunaannya melalui bantuan teknologi dan juga seni. Kini sudah ada bangunan yang dibuat dengan bahan bambu dengan arsitektur modern dan dipadu dengan selera seni dan teknologi. Sehingga banyak orang tidak menyangka bahwa bambu ternyata bisa menjadi pendukung modernisasi dan juga memiliki nilai artistik luar biasa.

Perlu diakui bahwa pemasyarakatan bambu tidak sepesat penggunaan kayu atau mungkin besi untuk mendukung sebuah bangunan. Namun ketika sudah terlihat bagaimana artistiknya bambu pada sebuah bangunan mungkin orang baru sadar bahwa ternyata yang selama ini sudah ada di tengah masyarakat dan jumlahnya banyak bisa disulap sedemikian rupa menjadi sesuatu yang punya nilai tambah, nilai seni, dan nilai jual. Di beberapa tempat wisata, bambu sudah menjadi bahan dominan, bahkan penginapan di tempat wisata tersebut didominasi oleh bahan bambu. Ini menunjukkan bahwa bambu bernilai tinggi dan artistik sehingga digunakan di berbagai tempat wisata.

Saya mengapresiasi acara festival bambu atau Payakumbuh Botuang Festival (PBF) 2017 yang diselenggarakan di Payakumbuh, yang mencoba mengenalkan bambu kepada masyarakat dalam skala lebih luas melalui pentas seni dan budaya. Acara ini jika melihat dari namanya sangat unik dan khas, semoga bisa menjadi sebuah acara yang diminati masyarakat dan juga wisatawan dari luar Payakumbuh.

Acara PBF ini juga ternyata mendapat dukungan dari alumni UGM yang sudah meneliti konstruksi bambu, struktur bambu (perilaku sambungan bambu), dan juga metode pengawetan bambu, serta spesifikasi bambu.

Mudah-mudahan PBF 2017 bisa mengangkat citra bambu menjadi ikon acara ini sehingga untuk pelaksanaan di tahun-tahun berikutnya selain pagelaran seni, budaya, fashion, juga kuliner, turut mengangkat citra bambu sebagai bahan baku yang mendukung pembuatan berbagai kebutuhan peralatan atau bangunan zaman modern.

Selain itu, diadakannya pentas seni dan budaya adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Di mana dalam kehidupan rutinitas sehari-hari masyarakat baik mencari nafkah, belajar dan lainnya kemudian diangkatkan kegiatan pentas seni budaya yang bisa menjadi semacam hiburan positif bagi masyarakat.

Keberadaan pentas seni dan budaya adalah ibarat penyeimbang kehidupan. Tanpa seni dan budaya kehidupan akan terasa kaku, statis. Namun ketika seni dan budaya masuk menjadi bagian kehidupan masyarakat maka kehidupan akan lebih dinamis dan lentur.

Selaku Gubernur Sumbar saya mendukung diadakannya berbagai pentas seni dan budaya yang ada di Sumbar. Karena di satu sisi hal ini juga menjadi ajang bagi para seniman, budayawan dan pelaku seni budaya lainnya untuk berekspresi dan juga aktualisasi diri. Sementara di sisi lain adanya kegiatan pentas seni dan budaya merupakan hiburan yang positif bagi masyarakat. Karena di sini orang saling bertemu dan berkomunikasi. Bahkan di setiap pentas seni dan budaya juga biasanya diikuti dengan adanya para pedagang yang menjual berbagai produk sehingga berpengaruh positif bagi masyarakat.

Selain itu, adanya kegiatan pentas seni dan budaya jika dilakukan dengan pengelolaan yang baik dan terarah juga bisa menjadi daya tarik pariwisata yang bisa mengangkat nama suatu daerah sehingga bisa pula mengangkat kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Dan dengan adanya pentas seni dan budaya ini selain turut melestarikan seni dan budaya daerah juga turut memperkuat ketahanan masyarakat di bidang seni dan budaya. Karena saat ini dirasa semakin dibutuhkannya ketahanan seni dan budaya dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya ini.

Untuk mendukung ketahanan nasional dan juga melestarikan seni dan budaya maka pemerintah provinsi Sumatera Barat turut mendukung dan memfasilitasi berkembangnya seni dan budaya di masyarakat. Beberapa program dari pemprov sudah ada yang melibatkan kelompok seni atau sanggar seni untuk tampil di beberapa acara. Selain itu kegiatan promosi Sumatera Barat yang terkait investasi dan perdagangan juga sudah melibatkan sanggar seni atau kelompok seni untuk menampilkan diri. Namun demikian saya juga turut mengapresiasi berbagai kegiatan seni dan budaya yang dilakukan secara mandiri dengan kreativitas yang luar biasa.

Semoga PBF 2017 yang diselenggarakan berlangsung sukses, bisa menjadi ajang penyaluran kerativitas para seniman dan budayawan sekaligus aktualisasi potensi diri mereka, serta bisa memperkenalkan bambu sebagai sebuah ikon yang juga merupakan bahan baku yang tersedia di alam bebas sehingga bisa diangkat nilainya oleh masyarakat menjadi lebih berharga.

Padang Ekspres, 2 Desember 2017

248. 2017-12-11 [Padek] Mengantisipasi Banjir

Mengantisipasi Banjir

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Beberapa minggu terakhir ini hujan lebat dengan intensitas tinggi dan cukup lama terjadi di berbagai tempat di Sumbar. Ini terjadi baik pagi, siang maupun malam. Akibat hal ini juga menyebabkan kondisi yang kurang baik bagi pesawat untuk mendarat dan lepas landas di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Hujan lebat yang terus-menerus berpotensi menimbulkan banjir dan longsor. Jika kita melihat sejenak ke belakang, pada Maret 2017 bencana banjir dan longsor melanda Kab. 50 Kota. Sedikitnya 8 kecamatan dan 13 nagari mengalami dampak langsung banjir dan longsor ini. Pada Mei 2017 banjir dan longsor terjadi di Kota Padang. Sedikitnya ada 18 titik banjir di 9 kecamatan yang terdeteksi. Kemudian pada September 2017 banjir dan longsor terjadi di Kab. Pesisir Selatan. Pada November 2017 banjir dan longsor juga kembali terjadi di Kab. Pesisir Selatan. Hampir di seluruh wilayah Sumbar terjadi banjir dan longsor.

BMKG (Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika) secara rutin mempublikasikan prakiraan cuaca di Sumbar untuk dijadikan sebagai pedoman dan antisipasi berbagai kegiatan masyarakat dan juga pemerintah.  Kondisi cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang tak henti adalah peristiwa yang rutin terjadi di Sumbar. Sumbar yang memiliki bentang pegunungan bukit barisan menjadikan daerah ini kerap turun hujan dengan intensitas tinggi.

Pemerintah Provinsi Sumbar senantiasa mengingatkan masyarakat agar selalu berjaga-jaga dalam menghadapi kondisi hujan yang terus-menerus turun dengan waktu cukup lama. Karena dari hujan lebat yang terus-menerus kemungkinan akan menimbulkan bencana, seperti banjir dan longsor maupun banjir bandang (galodo).

Seharusnya bencana yang seperti ini bisa diantisipasi. Karena peristiwanya sering berulang dan yang terjadi selalu banjir dan longsor. Pemerintah daerah secara terus-menerus berupaya untuk mencegah dan mengantisipasi berbagai bencana tersebut. Baik dalam bentuk surat edaran, informasi melalui media, tindakan pencegahan dan penanggulangan, perbaikan/pembangunan infrastruktur, dan juga bekerja sama dengan kelompok masyarakat maupun organisasi yang terkait langsung dengan antisipasi dan penanganan bencana.

Namun demikian, masyarakat pun perlu melakukan antisipasi menghadapi hal seperti ini. Misalnya tidak tinggal di sekitar sungai, terutama pinggir sungai. Jika sudah berkali-kali rumahnya terkena banjir maka harus direncanakan untuk mencari tempat tinggal yang jauh dari sungai. Atau kalau pun ternyata sangat sulit untuk pindah maka ketika hujan turun dengan lebat dan cukup lama harus segera bersiap-siap meninggalkan rumah menjauhi sungai.

Demikian pula masyarakat yang tinggal di daerah yang memiliki kemiringan tertentu atau di dekat daerah yang memiliki bukit dan lembah. Ketika hujan turun dengan lebatnya dan cukup lama maka harus melakukan antisipasi dengan menjauhi daerah tersebut. Hal yang paling ideal dan aman memang tidak lagi bertempat tinggal di daerah yang sudah jelas rawan akan bencana. Karena ini untuk kebaikan masyarakat yang bersangkutan.

Demikian pula dengan para petani, mereka harus mengatur lagi waktu beraktivitas mereka seperti menanam dan memanen. Perlu terus memantau informasi resmi dari BMKG terkait cuaca. Sehingga para petani bisa dihindarkan dari kerugian maupun musibah lainnya terkait cuaca ekstrem. Begitu pula nelayan, yang aktivitasnya membutuhkan cuaca yang bersahabat.

Sementara bagi pengguna jalan yang melalui wilayah Sumbar juga harus berhati-hati ketika melewati area yang berdekatan dengan sungai dan bukit di saat hujan lebat turun dan cukup lama. Bila perlu berhenti atau menunda perjalanan agar selamat. Karena bahaya longsor bisa terjadi tanpa diduga, dan tak hanya menimbun jalan juga bisa menimbun kendaraan.

Dengan melihat hal ini maka memang perlu dilakukan antisipasi yang baik, dan insya Allah antisipasi terhadap banjir dan longsor bisa menyelamatkan nyawa manusia. Berbeda dengan antisipasi bencana yang sangat mendadak datangnya seperti gempa bumi yang bisa memakan korban manusia dalam waktu sekejap.

Masyarakat yang tinggal atau bermata pencaharian di zona merah bencana harus sangat siap menghadapi cuaca ekstrem dan mengantisipasi terjadi bencana. Kejadian yang mungkin kerap berulang harus dijadikan bahan renungan dan pemikiran guna menyelamatkan diri.

Dalam Alquran surat 13 ayat 11 Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai manusia jika ingin mengubah keadaan yang ada pada diri kita yaitu terhindar dari bencana maka kitalah yang harus melaksanakan aksinya. Maka hujan yang turun terus-menerus yang berpotensi menimbulkan bencana harus kita hadapi dengan melakukan antisipasi. Kemauan dan kesadaran adalah kuncinya.

Hujan sesungguhnya adalah rahmat Allah SWT. Namun manusia diberi akal untuk mengantisipasi terjadinya bencana ketika hujan lebat turun dan cukup lama. Semoga kita bisa mensyukuri turunnya hujan sebagai rahmat Allah SWT sekaligus bisa mengantisipasi terjadinya hujan lebat yang cukup lama. ***

Padang Ekspres, 11 Desember 2017

 

249. 2017-12-14 [Singgalang] Politik Cerdas dan Berintegritas

Politik Cerdas dan Berintegritas

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 4 Desember 2017 saya hadir sekaligus memberi sambutan dan arahan di acara yang diselenggarakan oleh KPK RI bekerjasama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Sumbar, yaitu Politik Cerdas Berintegritas. Acara ini diselenggarkan di Bukittinggi dan pesertanya adalah generasi muda, baik yang berada di organisasi pemuda maupun organisasi sekolah serta pelajar dan mahasiswa. Dari provinsi yang ada di Indonesia, Sumbar termasuk yang awal menyelenggarakan acara ini  bersama dengan Riau. Saya mengapreiasi acara ini baik kepada KPK RI dan Dinas Pemuda dan Olahraga Sumbar.

Acara seperti ini sungguh sangat bagus, karena memberikan pencerahan dan pengetahuan kepada generasi muda untuk melakukan pencegahan sedari awal agar tidak melakukan tindakan korupsi. Selain itu, acara ini juga menunjukkan ke publik bahwa KPK RI juga melakukan kegiatan pencegahan. Karena opini yang berkembang di masyarakat melalui media, KPK RI lebih dikenal dengan penindakan, khususnya operasi tangkap tangan (OTT) yang kerap menjadi headline media.

Maka, dengan semakin giatnya KPK RI mengadakan kegiatan yang bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk pemda, dalam hal ini Pemprov Sumbar, perlu diapresiasi. Karena semakin masif melakukan kegiatan pencegahan. Belum lama ini, KPK RI juga melakukan kegiatan supervisi terkait kegiatan pencegahan kepada OPD (organisasi perangkat daerah) yang ada di Pemprov Sumbar bersama inspektorat provinsi. Dan sebelumnya lagi KPK RI juga sudah turun membantu dalam menyempurnakan sistem pelayanan publik.

Kembali kepada acara yang diselenggarakan di Bukittinggi dengan menghadirkan generasi muda, maka kegiatan seperti ini sangat tepat. Karena generasi muda umumnya memiliki idealisme, belum tersentuh dengan politik praktis dan juga belum masuk ke birokrasi dan kekuasaan. Mereka masih independen. Mampu menyuarakan kebenaran dan ketidakadilan dengan lantang yang merupakan karakter orang muda.

Generasi muda, belum masuk ke arena kekuasaan sehingga dalam kondisi yang masih baik dilatih dengan arahan yang baik dari lembaga seperti KPK RI, insya Allah mereka akan menjadi pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai amanah untuk melayani masyarakat. Dan jauh dari kecenderungan untuk melakukan tindakan tidak terpuji seperti korupsi.

Di samping itu generasi muda adalah yang terdepan dalam menghadapi para penjajah di masa sebelum negara ini merdeka. Mereka tampil menyuarakan pembelaan terhadap nasib rakyat yang dijajah, mereka ingin menjadikan bangsanya bebas dari penindasan dan penjajahan. Dan di masa sesudah merdeka, generasi muda adalah motor perubahan. Tenaga, pikiran, semangat, integritas mereka akan mempercepat perubahan masyarakat menjadi lebih baik. Meskipun diakui juga, di masa sesudah merdeka inilah godaan bagi generasi muda sangat kuat sehingga menghancurkan diri mereka sendiri dan juga karakter positif yang ada pada mereka.

Sebuah ungkapan yang terkenal dari John Emerich Edward Dalberg Acton atau yang biasa dikenal Lord Acton, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”.  Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut menyebabkan korup absolut. Pengertian “corrupt” sebagai kata sifat ada beberapa, yaitu korup itu sendiri, rusak, jahat, buruk, kotor, tidak murni, tidak jujur. Sedangkan pengertian dalam kata kerja adalah merusak, mengubah, menyuap, dan memperburukkan.

Oleh karena itu, generasi muda yang memiliki idealisme dan semangat juang tinggi, juga harus memiliki karakter yang kuat. Karena sesungguhnya mereka meskipun sebelum memasuki birokrasi atau memegang kekuasaan, ketika masih di bangku sekolah atau kuliah juga menghadapi ujian terhadap karakter yang kuat tersebut.

Melatih diri untuk tidak korup itu sama halnya melatih diri untuk tidak mencontek ketika ujian. Demikian pula dengan melatih diri untuk tidak titip tanda tangan untuk mengisi daftar hadir kuliah agar bisa bolos kuliah.  Selain itu karakter kuat yang akan menjauhkan generasi muda dari perilaku korup adalah berkata benar, rajin, jujur, menepati janji, tidak berbohong, disiplin, bertanggung jawab, kerja keras, belajar serius dan sungguh-sungguh.

Sementara bagi generasi muda yang sudah menamatkan sekolah atau kuliah lalu bekerja maka karakter yang harus dimiliki agar tidak melakukan perbuatan korup adalah bekerja sungguh-sungguh, bertanggung jawab, menepati janji, tidak menipu, tidak berbohong, realistis terhadap pendapatan yang diterima sehingga sesuai antara penerimaan dengan pengeluaran. Karena jika seseorang sudah tidak realistis maka ia akan mengorbankan pekerjaannya dan kemudian menjadi pintu masuk untuk melakukan perbuatan korup atau tindakan korupsi.

Karakter seperti serakah, haus akan kekuasaan, berbuat curang, tak malu menipu, sering berbohong, merusak pekerjaan orang lain, tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sendiri, ringan berkata kasar, menjadikan generasi muda lebih cenderung korup, dan di situlah pintu masuk terjadinya tindakan korupsi kelak.

Karakter positif seperti jujur, menepati janji, bertanggung jawab, sungguh-sungguh, dan hidup ingin sederhana adalah fitrah manusia yang semestinya ada pada diri generasi muda. Dan merupakan nilai-nilai kebaikan yang berlaku universal dan berlaku di seluruh dunia. Negara maju yang dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab, jujur, menepati janji, sungguh-sungguh, dan karakter positif lainnya sudah terbukti mampu menjadikan masyarakatnya sejahtera dan minim korupsi.

Oleh karena itu, saya turut berharap agar KPK RI memperbanyak kegiatan terkait pencegahan seperti pendidikan dan pelatihan kepada generasi muda sehingga generasi muda semakin banyak yang terselamatkan dari pengaruh negatif dan memunculkan karakter positif ketika mereka berpolitik maupun masuk ke dalam birokrasi dan kekuasaan nantinya ke depan. ***

Singgalang, 14 Desember 2017

250. 2017-12-24 [Padek] Rendang Padang Mendunia

Rendang Padang Mendunia

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 14 Desember 2017 lalu saya menandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Pemprov Sumbar dengan Batan (Batan Tenaga Nuklir Nasional) yang dihadiri langsung oleh Prof. Dr. Djarot S. Wisnubroto selaku Kepala Batan. Selain itu juga dilakukan penandatanganan MoU antara Pemko Payakumbuh dengan Batan. Kerjasama dengan Batan ini menitikberatkan pada bidang kesehatan, pangan, dan pertanian dengan menggunakan aplikasi yang dihasilkan Batan.

Dari beberapa poin yang akan ditindaklajuti kelak, ada satu hal menarik untuk diaplikasikan di bidang pangan yaitu pengawetan pangan. Di mana dengan teknologi yang dibuat Batan, pengawetan pangan bisa mencapai 18 bulan lamanya. Teknologi ini insya Allah akan digunakan untuk mengawetkan rendang. Dan aplikasi teknologi pengawetan ini aman serta tidak  menimbulkan dampak negatif. Batan sendiri telah menjamin hal ini.  Dan pada 18 Desember 2017 siang, saya bersama staf berkunjung ke kantor Batan di Jakarta, secara khusus melihat mesin iradiator untuk pengawetan rendang dan kripik yang siap untuk ekspor.

Teknologi pengawetan ini sangat bermanfaat bagi Sumbar, khususnya pelaku UMKM yang menyediakan rendang sebagai jualannya. Karena dengan adanya aplikasi teknologi pengawetan akan menjadikan rendang bisa dijual di luar negeri dan juga di wilayah Indonesia sehingga bisa masuk ke pasar swalayan dan mini market. Fasilitas teknologi pengawetan Batan ini baru saja diresmikan oleh Wapres Bpk. Jusuf Kalla pada 15 November 2017 lalu yaitu Iradiator Gamma Merah Putih. Dengan menggunakan iradiator, bakteri pembusuk pada makanan akan mati sehingga memperpanjang masa penyimpanan.

Sebelumnya kanal berita CNN dari hasil surveynya menjadikan rendang sebagai makanan terlezat di dunia. Survey yang diikuti oleh berbagai macam ragam orang ini adalah sebuah promosi gratis rendang ke seluruh dunia. Setidaknya bahasan tentang rendang sebagai makanan terlezat di dunia sudah dua kali diposting oleh CNN, yaitu pada tahun 2011 dan 2017. Namun “iklan gratis” tetang rendang yang dibuat CNN ini belum bisa dimanfaatkan untuk perluasan penjualan ke mancanegara karena daya tahan rendang yang hanya sekitar dua bulan paling lama sehingga belum memenuhi kecukupan waktu untuk melalui berbagai proses untuk dijual ke mancanegara.

Jika rendang ingin mendunia, dijual ke mancanegara, maka minimal harus punya daya tahan minimal selama satu tahun. Karena untuk bisa menembus mancanegara harus melewati berbagai proses dan tempat yang membutuhkan waktu tidak sebentar. Jika daya tahannya bisa minimal satu tahun maka rendang bisa dijual ke mancanegara.

Mengapa prospek rendang sangat bagus bila dijual di mancanegara? Karena bagi orang luar, seperti orang Barat, rendang dianggap sebagaimana halnya steak yang sudah biasa dimakan oleh orang Barat. Rendang tinggal  dicomot oleh mereka dan memiliki cita rasa berbeda dengan steak. Proses pemasakan rendang yang cukup lama menjadikan rasanya sampai ke dalam (seluruh) daging sehingga oleh orang Barat kelezatan rendang dirasakan ini jauh lebih nikmat dari steak yang menjadi nikmat karena ada saus yang ditaburi di daging steak. Dan rendang pun dibuat dari berbagai bumbu yang memang memiliki aroma yang memikat namun tetap sehat.

Dengan adanya teknologi pengawetan hingga 18 bulan untuk rendang ini maka peluang masyarakat Sumbar untuk berjualan rendang ke mancanegara terbuka lebar. Dan kita patut bersyukur bahwa kemampuan dan keunggulan komparatif maupun kompetitif dalam membuat rendang sangat besar kemungkinannya hanya dimiliki oleh masyarakat Sumbar atau orang Minang. Jikapun ada orang luar yang mampu membuat rendang dengan baik, jumlahnya tidak banyak.

Mengapa demikian? Karena memasak rendang butuh waktu berjam-jam. Orang Minang sudah terbiasa melakukannya secara turun-temurun hingga kini. Dan bumbunya, jauh lebih unggul dengan bahan-bahan yang tersedia di alam Sumbar sendiri. Dan konsumen tidak perlu khawatir akan masalah kesehatan seperti kolesterol dan lainnya. Karena penelitian dari seorang guru besar Fakultas Kedokteran Unand, Prof. Nur Indrawaty Liputo menyimpulkan bahwa rendang adalah makanan yang lezat juga sehat. Tinggal memperbaiki tampilan kemasan sehingga tampilannya menarik konsumen mancanegara untuk membeli.

Maka, dengan modal yang sudah ada di masyarakat atau pelaku UMKM dan juga didukung ketersediaan bahan yang baik insya Allah rendang bisa diproduksi oleh banyak UMKM di Padang. Pihak Kementerian Perdagangan RI telah menyatakan siap membantu produk rendang untuk dijual ke luar negeri dengan melalui mekanisme perdagangan internasional yang melewati beberapa tahap. Pada tahap awal mungkin pihak yang menjual rendang atau UMKM akan mengalami kendala atau merasakan beratnya mengurus prosedur untuk dijual ke luar negeri. Namun untuk berikutnya insya Allah akan terasa lebih mudah karena sudah memiliki pengalaman.

Sementara itu Kota Payakumbuh berencana mempersiapkan industri rendang atau sentra rendang. Saya pun berharap kota dan kabupaten lain akan mengikuti langkah Payakumbuh ini karena potensi besar yang ada di UMKM dan masyarakat Sumbar dalam membuat rendang nantinya akan bisa memenuhi permintaan konsumen mancanegara.

Ketika melakukan kunjungan kerja ke luar negeri saya kerap bertemu pihak-pihak yang menyatakan siap memasarkan rendang di negara tempat mereka tinggal. Salah satunya adalah bu Suli, demikian saya memanggilnya, yang berprofesi sebagai importir makanan asal Indonesia di Sydney, Australia. Bu Suli menyatakan bahwa permintaan rendang cukup tinggi di sana karena rasanya yang sangat enak di lidah orang Australia, namun belum ada yang bisa diimpor, karena salah satu syarat untuk mengimpor adalah produk tersebut tahan lama, minimal satu tahun. Jika rendang yang diimpor memiliki daya tahan selama minimal satu tahun, maka bu Suli siap memasarkan di Australia.

Maka, saya mengajak seluruh komponen di Sumbar dan juga rantau, untuk menyambut rendang sebagai makanan masyarakat dunia, di mana orang luar sering menyebutnya “Rendang Padang”. Insya Allah jika pelaku industri rendang serius, sungguh-sungguh, dan mampu meningkatkan serta menjaga kualitas rendang, baik rasa maupun tampilan kemasan, maka perlahan-lahan akan mengangkat harkat, martabat dan juga kesejahteraan masyarakat Sumbar yang memang diberikan rahmat oleh Allah SWT sebagai pemasak makanan terlezat di dunia. ***

Padang Ekspres, 20 Desember 2017

 

251. 2017-12-27 [Singgalang] Menatap Tahun 2018

Menatap Tahun 2018

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumbar memprediksi laju pertumbuhan ekonomi Sumbar pada tahun 2018 berada di kisaran 5,1 – 5,5 persen dengan dukungan konsumsi rumah tangga yang semakin baik. BI Sumbar memperkirakan pertumbuhan ekonomi Sumbar tahun 2018 relatif stabil.

Jika melihat asumsi pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar 5,4 persen pada tahun 2018, yang tidak jauh berbeda dengan kisaran pertumbuhan ekonomi Sumbar yang diprediksi BI, maka sedikit banyaknya ekonomi Sumbar akan memiliki kesamaan terhadap beberapa hal yang juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Di antaranya terkait belanja online yang nilainya semakin meningkat dan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah yang penghasilannya cukup baik.

BI memperkirakan investasi akan semakin baik berjalan di Sumbar dengan gencarnya pemda mengembangkan sektor pariwisata dan juga menarik investasi baru. Pembangunan berbagai sarana prasarana dan infrastruktur yang akan, sudah dan sedang jalan, mendorong investasi untuk masuk ke Sumbar. Salah satu yang nilainya sangat besar adalah investasi di bidang panas bumi.

BI juga menyarankan agar pemda mendorong investasi semakin terbuka agar dapat menciptakan lapangan kerja baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dan juga disarankan agar pemda memaksimalkan sektor pariwisata, menekan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Apa yang disampaikan BI ini adalah masukan yang sangat berharga. Dan alhamdulillah hampir semua yang disarankan itu sudah dilakukan oleh Pemprov Sumbar, bekerja sama dengan para pemangku kepentingan, baik di tingkat pusat, kabupaten/kota, masyarakat, dan lainnya.

Untuk pengendalian inflasi, pemprov telah bekerja sama dengan kepolisian untuk menindak penimbun yang akan mempermainkan harga yang berpotensi meningkatkan inflasi. Alhamdulillah untuk tahun ini inflasi bisa terkendali dan masyarakat bisa terlindungi dari kenaikan harga yang irasional. Pemprov juga sedang membangun gedung inflasi yang nantinya berupaya melindungi dan membantu petani agar harga produknya tidak jatuh. Dan di sisi lain juga membantu konsumen agar tidak terjadi kenaikan harga tinggi.

Pemprov juga berupaya untuk membantu petani dan lainnya menjaga harga produk mereka agar tidak jatuh yaitu mengeluarkan program-program dan kebijakan yang membantu petani. Satu di antaranya yang baru-baru ini dilakukan adalah penandatanganan nota kesepahaman dengan pemko Batam untuk menjual produk pertanian ke Batam. Semoga di tahun 2018 pemprov, kepolisian, BI dan seluruh pihak terkait tetap mampu bekerja sama dalam mengendalikan inflasi sehingga hasilnya dirasakan oleh masyarakat.

Sementara di sektor pariwisata, pembenahan tetap berjalan terus. Karena pariwisata dijadikan sebagai gerakan, yang melibatkan seluruh OPD untuk berkontribusi di bidangnya masing-masing terhadap pariwisata dan hal yang masih terkait. Pariwisata Sumbar juga semakin dikenal masyarakat dalam dan luar negeri karena dinobatkan sebagai tujuan wisata halal dan kuliner halal dunia dalam ajang pariwisata halal dunia beberapa waktu lalu.

Seiring makin meningkatnya wisatawan datang ke Sumbar, maka makin bertambah pula investor yang ingin berinvestasi di Sumbar di sektor pariwisata, di antaranya untuk membangun hotel dan resort. Baik dari dalam negeri, termasuk perantau maupun dari luar negeri.

Demikian pula dengan investasi di bidang panas bumi, selain sudah ada investor yang menanamkan usahanya di Sumbar, calon investor pun berdatangan. Baik untuk meninjau terlebih dahulu, maupun langsung menyatakan ingin menanamkan usahanya di Sumbar. Untuk investasi di bidang panas bumi ini, sudah ada calon investor dari beberapa negara yang menyatakan minatnya. Mudah-mudahan keinginan mereka bisa diimplementasikan, dan pemprov berusaha memfasilitasi dan mempermudah para investor untuk menanamkan usahanya di Sumbar.

Selain itu, kunjungan ke beberapa negara untuk mengajak berinvestasi di Sumbar maupun bekerja sama dalam perdagangan juga sudah mulai menampakkan hasilnya. Beberapa calon investor maupun pebisnis sudah menjalin komunikasi dengan pemprov untuk meningkatkan kerja sama lebih dalam lagi. Semoga ini juga terwujud, karena memang butuh proses yang tidak sebentar.

Sementara itu, peran ABPD dan APBN tak kalah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, maka di sini selalu diupayakan agar dana APBD dan APBN bisa terserap dengan baik sehingga dana tersebut juga bisa menambah pergerakan ekonomi di masyarakat.

Dengan kerja keras dan sungguh-sungguh, utamanya di tahun 2017, insya Allah di tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Sumbar akan meningkat, dengan target 6,26 persen. Beberapa program pembangunan yang terkait infrastruktur insya Allah akan ada yang selesai seperti pembangunan jalan Bypass Padang dan jalur kereta bandara dan Stasiun Dukuh dan BIM, dan ini bisa semakin mempercepat jalannya roda perekonomian sehingga berdampak positif bagi masyarakat. Kemajuan di sektor pariwisata, investasi (terutama energi panas bumi dan juga tenaga air), serta perdagangan insya Allah akan lebih baik di tahun 2018, setelah di tahun 2017 pelaksanaanya cukup baik. Dan ini mudah-mudahan membuka lapangan kerja baru sehingga bisa menyerap tenaga kerja.

Berbagai kekurangan yang ada, menjadi evaluasi dan tetap menjadi perhatian dan catatan. Demikian pula kritikan konstruktif dari berbagai pihak, menjadi masukan yang berharga bagi kami. Semoga dengan modal sosial yang selama ini sudah ada, kebersamaan dalam membangun Sumbar ini insya Allah akan semakin baik lagi di tahun 2018. ***

Singgalang, 27 Desember 2017

252. 2018-01-3 [Padek] Memaknai Tahun Baru

Memaknai Tahun Baru

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Setiap tahun, kita di Indonesia dan juga negara lain di dunia melewati pergantian tahun Masehi. Tahun Masehi diawali 1 Januari diakhiri 31 Desember dan menjadi semacam standar penanggalan internasional untuk memudahkan komunikasi. Sedangkan tahun Hijriah lebih dikenal masyarakat umum awal tahunnya saja yaitu 1 Muharam. Kedua tahun ini akan terus kita lewati setiap tahun.

Dari 31 Desember 2017 ke 1 Januari 2018 memang akan terjadi perubahan angka tahun. Pernah pula terjadi perubahan tahun 1999 ke tahun 2000. Di mana sebagian orang melakukan persiapan di sistem komputer untuk antisipasi sistem penanggalan setelah melewati tahun 2000. Karena waktu itu sistem penanggalan di komputer dikabarkan hanya sampai 31 Desember 1999. Tapi aktivitas manusia di dunia termasuk Indonesia tetap seperti biasa, baik di akhir 1999 dan awal 2000.

Maka dengan demikian, tahun baru sesungguhnya hanyalah momentum pergantian hari seperti biasa. Bukan merupakan hal yang istimewa. Di kalender Indonesia, tahun baru Masehi dan Hijriah memang ditetapkan sebagai hari libur nasional, sehingga banyak orang yang ingin menikmati pergantian tahun dengan menunggu datangnya detik-detik tersebut di tengah malam. Lalu setelah tanggal berganti, balik kepada kondisi biasa. Bahkan mungkin banyak yang beristirahat karena lelah semalaman.

Bagi yang tidak menunggu datangnya tahun baru, ia akan tetap melewati tanggalnya. Demikian pula bagi yang tidak merayakan, tanggal baru tetap akan dilewati.

Perubahan hari atau tanggal yang menyebabkan usia kita semakin tua memang harus disikapi dan dipikirkan dengan baik. Karena ada sebuah ungkapan yang sering dipakai untuk mengingati manusia agar tidak lalai yaitu, “Barang siapa yang kondisinya hari ini lebih baik dari kemarin maka ia tergolong orang yang beruntung. Dan barang siapa yang kondisinya hari ini sama dengan kemarin maka ia tergolong orang yang merugi.”

Ada yang melakukan ibadah, pengajian, zikir ketika mengakhiri tahun yang dijalani. Ada pula yang menyalakan kembang api atau meniup terompet ketika menjelang pergantian tahun. Atau ada yang sekedar menonton pertunjukan yang sudah disiapkan di malam akhir tahun, maupun menyiapkan pesta. Tapi ada pula yang berkutat menyelesaikan pembukuan satu tahun.

Memanfaatkan momentum pergantian tahun dengan mengevaluasi hasil kerja di tahun sebelumnya agar lebih siap dan produktif lagi di tahun yang baru adalah sebuah hal positif yang dapat dilakukan. Atau memaknai tahun yang baru untuk melangkah lebih cepat lagi sehingga banyak kesuksesan yang bisa diraih adalah hal yang baik.

Bagi pemerintah, keinginannya adalah bagaimana di awal tahun, anggaran dan rencana yang sudah disepakati dan ditetapkan bisa segera dilakukan. Di mana untuk mencapainya, menjelang akhir tahun sebelumnya, apa yang harus dikerjakan dan anggarannya sudah ada kejelasan. Sehingga penyerapan anggaran bisa dimaksimalkan supaya perekonomian juga bisa bergerak agar dampaknya bisa sampai ke masyarakat.

Bagi seorang kepala keluarga, kepala kantor, pimpinan instansi, individu, mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, dan profesi lainnya, pasti memerlukan waktu untuk mengevaluasi maupun merenungi apa yang sudah dikerjakannya. Dan jika ingin menggapai keberhasilan perlu membuat rencana atau strategi baru yang bisa mencapai rencana tersebut. Jangan sampai kesalahan yang lalu terulang kembali.

Semoga di tahun yang baru kita sebagai manusia dan juga hamba Allah  SWT bisa mensyukuri apa yang sudah didapat dan berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan yang baru. Serta penting pula beristighfar karena selaku manusia pasti ada kesalahan yang dibuat, betapapun kecilnya.

Allah SWT akan menambah nikmatNya kepada kita jika kita mau bersyukur kepadaNya (QS. Ibrahim:7). Dan Allah SWT juga berfirman bahwa demi masa (waktu) manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yang nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (QS. Al ‘Asr: 1-3)

Semoga di awal tahun baru Masehi kita mampu menjadi orang yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang sudah didapat dan sekaligus menjadi orang yang tidak masuk kategori orang yang merugi. Kita manfaatkan setiap waktu di tahun ini sehingga wujud syukur kita insya Allah akan menjadi penambah nikmat di masa berikutnya.

Selamat memasuki tahun yang baru, 2018. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Padang Ekspres, 3 Januari 2018

253. 2018-01-09 [Singgalang] I-Ternak

I-Ternak

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 6 Januari 2018 lalu di Hotel Balairung Jakarta, saya meresmikan peluncuran aplikasi i-ternak. Sebuah aplikasi yang merupakan pengembangan dari konsep Tri Arga Model yang mengalami banyak perbaikan di sana-sini.

Konsep Tri Arga Model sendiri adalah sebuah inovasi yang mempertemukan pemilik kandang, pemasok pakan ternak, pemelihara sapi, dengan investor secara manual, dan pihak asuransi. Di mana nantinya investor mempercayakan sapi yang dibelinya dikelola untuk digemukkan oleh pemilik kandang, pemasok pakan ternak dan pemelihara sapi dengan menerapkan sistem bagi hasil. Jika sapi hilang atau mati maka pihak asuransi yang akan menggantinya.

Sedangkan i-ternak, memasukkan unsur teknologi informasi dan juga teknologi keuangan serta manajemen. Hal ini akan menjadikan setiap pihak lebih fokus. Bagi pihak manajemen bisa fokus dalam mengelola dan mendata sapi yang sudah diinvestasikan serta memeriksa jadwal jatuh tempo pemberian bagi hasil kepada investor. Selain itu pemilik kandang, pemasok pakan ternak, serta pemelihara sapi bisa lebih fokus untuk menggemukkan sapi.

Dengan pembagian kerja yang jelas ditambah penggunaan teknologi informasi dan teknologi keuangan maka diharapkan dan insya Allah i-ternak akan bisa menyerap investasi dari masyarakat. Di samping itu tidak tertutup kemungkinan jumlah kandang yang teregister akan bertambah terus. Dengan demikian akan bertambah lagi pemilik kandang baru yang dilatih agar bisa memenuhi standar yang sudah ditetapkan.

Aplikasi i-ternak bisa didownload melalui aplikasi android yang ada di dalam Play Store. Setelah didownload maka calon investor nanti akan melihat sapi jenis apa yang bisa diinvestasikan untuk penggemukan. Kemudian berapa harganya dan mekanisme transfer, konfirmasi dan pelaporan hasil investasi. Ada pula sapi yang bisa diinvestasikan dengan sistem patungan dengan jumlah perorang lebih terjangkau. Hal ini tentu saja makin memudahkan calon investor yang dananya belum banyak untuk berinvestasi. Pihak OJK pun sudah meloloskan aplikasi i-ternak  yang artinya ini bukan investasi bodong yang sering menipu masyarakat.

Pada tahap awal kapasitas atau jumlah sapi yang ditawarkan untuk investasi sudah cukup banyak, dan untuk sementara difokuskan di Sumbar. Tidak tertutup kemungkinan jika nanti permintaan dari investor tinggi maka ini akan menambah jumlah kandang yang teregister. Dengan demikian semakin banyak pelaku ternak lokal yang diberdayakan  sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan pelaku ternak lokal lebih baik lagi dan bisa bertambah jumlah pelakunya.

Di belakang kehadiran aplikasi i-ternak sesungguhnya banyak pihak yang terlibat, untuk melakukan fokus pekerjaan masing-masing sehingga insya Allah bisa semakin profesional. Karena ini merupakan tuntutan investor yang sudah menaruh dananya di i-ternak. Di samping itu dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari tingkat bunga deposito, dengan rentang 9-16 persen, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa mencapai 24 persen, berinvestasi di i-ternak memberikan peluang alternatif investasi. Karena tingkat bunga deposito saat ini  tergolong rendah sehingga orang kemungkinan mencari alternatif investasi selain deposito.

Selain itu, karena ada beberapa pihak di belakang aplikasi i-ternak maka ada pihak yang akan memberdayakan pelaku ternak lokal atau pemilik kandang dan juga pemasok pakan ternak. Karena jika investasi ini berkembang maka pasokan kandang harus diperbanyak. Dengan demikian pelaku ternak lokal juga akan mengalami perbaikan kesejahteraan dan juga mendapatkan pemberdayaan karena pengetahuan dan kemampuan mereka dilatih kembali agar bisa memenuhi standar tertentu.

Di samping hal di atas, adanya i-ternak yang prospektif akan meningkatkan investasi sehingga permintaan jumlah ternak juga meningkat. Meningkatnya jumlah ternak yang digemukkan untuk dipotong dan juga jumlah ternak yang dibibitkan merupakan upaya menjaga kedaulatan pangan. Selain itu juga akan menyerap tenaga kerja sehingga bisa mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

Momentum peluncuran aplikasi i-ternak ini juga berbarengan dengan akan dimanfaatkannya teknologi pengawetan rendang, yang bisa awet hingga 18 bulan. Teknologi pengawetan ini dibuat oleh Batan. Mudah-mudahan kedua hal ini bisa bersinergi di lapangan. Semoga berbagai inovasi dan kemajuan teknologi ini bisa memberi dampak positif bagi masyarakat sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka lebih baik lagi.

Mari kita dukung berbagai inovasi dan kemajuan teknologi yang insya Allah memberi dampak positif kepada masyarakat. Semoga i-ternak yang semakin membuat efektif dan efisien orang berinvestasi ini bisa berkembang lebih baik ke depannya, serta mampu menjaga kepercayaan masyarakat yang menaruh dananya di sana, dan juga bisa semakin memberdayakan pelaku ternak lokal. ***

Singgalang, 9 Januari 2018

254. 2018-01-18 [Padek] Batu Malin Kundang

Batu Malin Kundang

 

Oleh:   Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Pada 9 Januari 2018 lalu saya menyempatkan diri berkunjung ke kawasan wisata Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis. Saya menuju Pantai Air Manis melalui jalan baru dengan pemandangan indah yang baru saja selesai dibangun oleh Pemko Padang. Jalurnya melewati Jembatan Siti Nurbaya arah ke Gunung Padang kemudian menuju Pantai Air Manis. Saya mengapresiasi Pemko Padang atas usahanya dalam membangun jalan ini.

Jalan baru ini akan menambah jalur wisata yang bisa dinikmati pengendara sepanjang jalan yang berhadapan dengan pemandangan laut yang indah. Semoga jalan baru ini bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke Batu Malin Kundang dan Pantai Air Manis serta juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tiba di Pantai Air Manis saya langsung menggunakan kendaraan ATV untuk menyusuri Pantai Air Manis dan menuju Batu Malin Kundang. Terkait Pantai Air Manis dan Batu Malin Kundang ini, saya sudah sering menerima masukan dari berbagai elemen masyarakat agar bisa dilakukan pembenahan-pembenahan sehingga wisatawan bisa lebih menikmati suasana wisata di sana.

Untuk hal ini saya dalam berbagai kesempatan juga telah menyampaikan keluhan masyarakat tersebut kepada Pemko Padang yang memegang otoritas kawasan tersebut. Saya mengapresiasi berbagai usaha yang telah dilakukan Pemko Padang dalam membenahi kawasan wisata. Terutama pendekatan yang dialogis sehingga masyarakat pun lebih nyaman diajak berkomunikasi dengan pendekatan manusiawi. Semoga pendekatan tersebut membawa kebaikan bersama.

Batu Malin Kundang sebagai sebuah destinasi wisata jika dijadikan sebagai tempat rekreasi semata mungkin sudah biasa bagi banyak orang. Terutama sebagai tempat untuk berswafoto yang kini menjadi sebuah tren. Namun jika Batu Malin Kundang dijadikan sebagai wisata edukasi bagi keluarga, terutama anak-anak dan juga generasi muda mungkin akan lain ceritanya.

Di berbagai tempat wisata, ada cerita-cerita yang berkembang di masyarakat terkait tempat tersebut. Misalnya cerita Sangkuriang yang terkait dengan Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat, cerita Bandung Bondowoso yang terkait dengan cerita Candi Prambanan atau Candi Roro Jongrang di Jawa Tengah.

Cerita Malin Kundang adalah cerita tentang perilaku anak yang durhaka kepada ibunya sehingga ia menjadi batu. Cerita ini mengajak kita sebagai anak untuk menghormati orangtua, terutama ibu. Di Minangkabau, wanita sangat dihormati. Sistem matrilineal adalah sebuah bukti nyata. Dan ada bundo kanduang yang menjadi panutan bagi masyarakat.

Saat ini, di berbagai berita media kita bisa membaca berbagai kasus kejahatan terhadap kaum perempuan, di antaranya kejahatan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, bullying, dan lainnya. Berbagai kasus kejahatan yang dilakukan oleh para lelaki kepada kaum perempuan itu menjadi semacam pelajaran bahwasanya kemuliaan seorang lelaki justru ketika ia menghargai kaum perempuan. Baik kepada ibu, istri, anak, kerabat, tetangga, rekan kerja, dan lainnya.

Islam muncul di jazirah Arab dalam rangka memuliakan kaum perempuan. Maka, kita yang sudah berislam saat ini sudah seharusnya berusaha di lingkungan terdekatnya untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap kaum perempuan.

Dalam Alquran Allah SWT berfirman bahwa kaum lelaki adalah pemimpin untuk kaum perempuan. “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum lelaki) di atas sebagian yang lain (kaum wanita) dan disebabkan kaum lelaki telah membelanjakan sebagian dari harta mereka. (QS. An Nisa: 34)

Maka sudah seharusnya kaum lelaki ini menyadari peran mereka tersebut. Kaum lelaki memang memiliki kelebihan dalam hal kekuatan tenaga. Namun kekuatan itu bukan untuk melakukan kejahatan terhadap kaum perempuan, tapi untuk melindungi kaum perempuan, baik ibunya, istrinya, anaknya, kerabatnya dan lain-lain. Serta menjadi teladan dan juga memberi pertolongan terhadap kesulitan yang dihadapi kaum perempuan.

Dalam sebuah hadis diperlihatkan bagaimana seorang anak mesti berlaku kepada ibunya. “Dari Abu Hurairah r.a beliau berkata “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi saw menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Semoga Keberadaan Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis bisa menjadi destinasi wisata edukasi yang juga menyenangkan bagi pengunjung, serta bisa menjadi pengingat bagi anak-anak di ranah Minang dan lainnya agar senantiasa menghormati ibunya dan kaum perempuan. Adat budaya Minang dan ajaran Islam, keduanya mengajarkan penghormatan kepada ibu, kaum perempuan.

Marilah kita sosialisasikan kembali di lingkungan terdekat kita tentang pentingnya menghormati ibu (orangtua) dan kaum perempuan. Seorang penulis buku bahkan menjelaskan bahwa dengan memuliakan ibu dan istri, seorang lelaki justru akan bertambah rezekinya dan sukses hidupya. *

Padang Ekspres, 18 Januari 2018

 

 

 

 

255. 2018-01-24 [Singgalang] Gedung Kebudayaan Sumbar

Gedung Kebudayaan Sumbar

Oleh : Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Pada 19 Januari 2018 sore saya meresmikan pemakaian Gedung Kebudayaan Sumbar (GKS) Zona A. Dari 3 Zona, A-B-C baru Zona A yang sudah selesai pembangunannya. Peresmian dilakukan di lantai 5 GKS yang merupakan arena panggung terbuka dengan pemandangan yang sungguh indah.

GKS Zona A dibangun dengan gaya bangunan yang menjorok ke laut dan berbentuk seperti kapal atau perahu, sehingga bangunan tersebut berada di atas jalan yang ada di pantai Padang. Jika kita berada di lantai paling atas, maka kita akan bisa menikmati pemandangan laut yang indah serta pemandangan kota Padang yang juga tak kalah indahnya yang dikelilingi oleh pegunungan Bukit Barisan. Karena didesain seperti kapal, maka di pinggiran lantai 5 juga berbentuk seperti lantai kapal.

Selain zona A yang sudah selesai pembangunannya, masih ada yang akan dibangun yaitu zona B dan C. Gedung zona A terdiri dari lima lantai. Lantai 5 adalah panggung terbuka yang diperuntukkan untuk pentas seni, tari, musik, teater, juga tempat yang sangat bagus untuk berfoto dengan pemandangan yang indah. Kemudian lantai 4 dialokasikan untuk handicraft atau kerajinan.

Lantai 3 untuk galeri dan pameran, lantai 2 untuk kegiatan pertemuan dan lainnya, serta lantai 1 untuk akses masuk ke gedung Zona A. Sementara nanti di Zona B akan dibangun tempat pertunjukan utama. Dengan demikian, jika nanti sudah lengkap dibangun, GKS memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk memfasilitasi para budayawan dan seniman untuk berkreasi. Dan juga menjadi tempat bagi wisatawan dan masyarakat untuk menambah pengetahuan mereka terhadap budaya Minang.

Jika selama ini wisatawan yang berkunjung ke Sumbar lebih banyak menikmati keindahan alam dan kuliner, maka dengan adanya GKS wisatawan juga bisa mengetahui lebih banyak tentang budaya Minang. GKS insya Allah akan menyuguhkan budaya Minang yang dilakukan oleh para seniman dan budayawan melalui pertunjukan di arena yang sudah disediakan. Selain itu wisatawan juga akan bisa melihat galeri yang berisi berbagai ragam budaya Minang.  Dan GKS juga dilengkapi dengan bioskop mini yang akan memutar film atau dokumentasi tentang budaya Minang.

GKS insya Allah juga akan  memfasilitasi sanggar-sanggar tari yang memiliki kualitas penampilan yang baik untuk tampil dalam rangka mempromosikan budaya Minang secara terjadwal sehingga mereka bisa berekspresi dan ditonton oleh masyarakat maupun wisatawan. Sanggar tari di Sumbar banyak juga yang sudah bertaraf internasional.

Keberadaan GKS saya harapkan bisa meningkatkan semangat masyarakat Sumbar untuk mengapresiasi budaya mereka dan bagi para seniman dan budayawan juga bisa menjadi tempat yang mewakili harapan mereka akan tempat yang layak.

GKS berada di bawah tanggung jawab Dinas Kebudayaan. Dinas Kebudayaan adalah organsasi perangkat daerah (OPD) yang baru ada pada tahun 2017. Pemprov Sumbar membentuk Dinas Kebudayaan sebagai sebuah bentuk kepedulian akan aktualisasi dan pelestarian budaya Minang.

Berbagai program dari Dinas Kebudayaan insya Allah akan berupaya melestarikan dan mengumpulkan kekayaan budaya Minang. Yang sedang dilakukan saat ini adalah mengumpulkan lebih dari 200 jenis pakaian wanita Minang dari lebih 600 jenis yang pernah ada untuk dijadikan buku. Kemudian mengadakan lomba pantun dan upaya menjadikan silat sebagai warisan dunia. Selain itu juga menampilkan atraksi kesenian dan kebudayaan di setiap acara kedinasan, dalam provinsi, luar provinsi dan luar negeri. Dan insya Allah Dinas Kebudayaan akan mengangkat festival budaya internasional pada tahun ini.

Keberadaan Dinas Kebudayaan dalam rangka aktualisasi dan pelestarian budaya Minang adalah untuk memperkuat identitas masyarakat Minang yang memiliki budaya tersendiri. Karena setiap suku, bangsa memiliki budayanya masing-masing. Bahkan dalam Alquran surat al Hujurat ayat 13 Allah SWT menyebut manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Konstitusi negara pun dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 32 ayat 1 menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Dengan konsekuensi itu, maka budaya Minang yang mencerminkan jati diri orang Minang dengan falsafah adat basandi syarak syarak basandi kitabullah patut kita syukuri. Karena budaya Minang bersesuaian dengan ajaran agama dan dilindungi oleh konstitusi.

Dengan gencarnya promosi pariwisata yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah, maka keberadaan GKS telah menambah satu lagi tempat tujuan wisata. Dan ini adalah destinasi wisata budaya, yang melengkapi destinasi wisata alam dan kuliner.

Semoga keberadaan GKS Zona A dengan arsitektur modern ini bisa meningkatkan animo masyarakat mencintai budayanya. Dengan demikian budaya Minang juga bisa diketahui oleh generasi muda dan masyarakat sehingga mereka merasa memiliki dan bangga dengan identitas budayanya. ***

 

Singgalang, 24 Januari 2018

256. 2018-01-25 [Padek] Padek, Menginspirasi Pembangunan Daerah

Padek, Menginspirasi Pembangunan Daerah

Oleh : Irwan Prayitno
Gubernur Sumbar

Memasuki usia ke-19 tahun saya melihat Padang Ekspres (Padek) sudah semakin banyak berubah. Di mana perubahan ini merupakan bagian dari tuntutan perkembangan zaman. Zaman now seperti yang disebut-sebut anak muda generasi milenial, perkembangan dunia digital sudah semakin pesat. Saya melihat Padek pun telah melakukan antisipasi terhadap dunia digital ini.

Saat ini aplikasi Padek sudah ada di sistem operasi ponsel pintar, yaitu Android yang dikeluarkan Google. Dengan demikian, pembaca Padek bisa semakin luas, tidak lagi hanya wilayah Sumbar semata. Dan dengan keberadaan di dunia digital ini juga memudahkan anak zaman now yang melek digital untuk mengakses berita Padek dari ponsel pintar mereka.

Saya melihat Padek juga sudah menyediakan koran digital atau e-paper, sehingga masyarakat Sumbar atau perantau di seluruh dunia bisa menikmati koran Padek dari tempat mereka. Dan harganyapun terjangkau, serta lebih murah dari harga koran edisi cetak. Faktor harga yang terjangkau tentunya akan memperluas segmen pembaca, sehingga hal ini sangat membantu bagi yang ingin mendapatkan koran Padek namun dalam versi digital.

Dengan dimotori oleh anak-anak muda, dan dengan regenerasi yang baik yang selama ini sudah berjalan di Padek, maka Padek bisa semakin mengukuhkan eksistensinya di masyarakat sebagai sumber informasi dan inspirasi.

Padek dalam penyajiannya tidak lupa menyisipkan kisah-kisah nyata yang humanis dan inspiratif. Sehingga tulisan semacam ini turut memberikan inspirasi kepada pembacanya dan juga motivasi untuk melakukan hal serupa dengan bentuk lain. Tulisan-tulisan yang demikian insya Allah akan menjadi salah satu bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa di samping berita maupun artikel.

Sementara itu, jika dikaitkan dengan maraknya penyebaran berita atau informasi hoaks, saya melihat peran Padek ada di sini, yaitu menyajikan berita yang berasal dari sumber terpercaya. Dengan penyajian berita yang objektif serta menjaga keberimbangan, maka Padek adalah salah satu pilihan bagi masyarakat untuk mengakses berita yang memiliki akurasi dan validitas baik. Salah satu kelebihan berita dari media cetak adalah, adanya wartawan atau reporter yang melaporkan dari tempat pengambilan berita, sehingga jauh dari hoaks.

Selain itu, selama ini Padek juga telah menyediakan ruang bagi pemerintah daerah untuk menyampaikan berbagai informasi pembangunan daerah. Dengan penyampaian informasi melalui media, maka diharapkan masyarakat mengetahui program-program pembangunan yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah.

Saya merasakan hal ini sangat membantu kami selaku pemerintah daerah dalam menginformasikan kepada publik berbagai capaian pembangunan yang ditujukan untuk masyarakat. Baik pembangunan infrastruktur, pertanian, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Adanya media seperti Padek insya Allah akan mempercepat masyarakat mengetahui program-program pembangunan pemerintah di satu sisi. Dan di sisi lain masyarakat pun dengan informasi yang sudah didapat bisa memberi masukan atau kritikan terhadap program pembangunan yang sedang dan sudah dilakukan.

Meskipun basis Padek adalah Padang atau Sumbar, namun dalam penyajiannya senantiasa mengetengahkan juga berita-berita nasional. Ini adalah salah satu gaya penyajian yang menarik masyarakat untuk membeli koran Padek. Namun demikian, berita-berita tentang Sumbar juga tak kalah banyak. Sehingga Padek mampu menjadi pilihan masyarakat untuk mendapatkan berita Sumbar dan nasional.

Dengan kemampuan Padek menyajikan berita yang berimbang, bukan fiktif dan juga tidak diskriminatif, akan membuat masyarakat menyukai Padek. Karena kecenderungan yang ada saat ini, masyarakat akan memilih media yang mampu menyampaikan berita atau informasi yang objektif dan berimbang.

Mengakhiri tulisan ini saya menyampaikan selamat memasuki usia ke-19 tahun kepada seluruh jajaran Padek. Semoga SDM Padek semakin profesional sehingga mampu memenuhi tuntutan masyarakat akan berita, informasi, tulisan yang objektif, konstruktif akurat, valid, inspiratif dan berimbang. Dan semoga Padek menjadi media yang senantiasa menginspirasi masyarakat untuk berbuat kebaikan pada sesama serta menjadi jembatan informasi pembangunan daerah sehingga bisa diketahui oleh masyarakat luas.

Padang Ekspres, 25 Januari 2018