70. Meninggalkan Ramadhan

Meninggalkan Ramadhan

Ada doa yang sudah menjadi kebiasaaan umum bagi umat Islam ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Allahumma bariklana fii rajaban wa sya’ban wa ballighnaa Ramadhan yang artinya “Ya Allah berikanlah berkah kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.” Doa ini menggambarkan bagaimana harap dan rindu kaum muslimin terhadap Ramadhan sehingga berharap diberikan hidup dan merasakan Ramadhan.

Semangat menyambut Ramadhan oleh Rasulullah SAW digambarkan dalam perintah kepada umat Islam untuk mengisi bulan Rajab dan Sya’ban untuk persiapan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dan sahabat sangat gembira ketika memasuki bulan Ramadhan dan sedih ketika meninggalkan Ramadhan.

Ketika di sepuluh hari terakhir Rasulullah melakukan iktikaf di masjid yang merupakan kegiatan ibadah yang berisi zikir dan ibadah lainnya. I’tikaf hanya dilakukan di masjid dan pelakunya tidak melaksanakan kegiatan lain di luar i’tikaf kecuali ada keperluan mendesak.

Kegiatan iktikaf ini ingin menggambarkan bahwa Rasulullah SAW dan sahabat ingin meraih pahala di bulan Ramadhan sehingga tidak ingin Ramadhan berlalu begitu saja dan karenanya i’tikaf ini dipenuhi dengan ibadah. Dan kita sudah mengetahuinya tentang ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah SWT, terutama di malam kemuliaan atau lailatul qadar.

Maka, ketika Ramadhan mencapai hari terakhir, para sahabat menangis dan sedih, mereka tidak tahu apakah masih bisa menjumpai Ramadhan di tahun berikutnya. Dan di waktu berikutnya, ketika bulan Rajab hendak masuk, muncullah doa agar diberikan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta disampaikan kepada bulan Ramadhan.

Sementara itu, yang terjadi pada hari ini berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Ketika memasuki Ramadhan, justru bawaan menjadi susah. Mesti bangun sahur. Harga bahan makanan membumbung tinggi, padahal ingin makan dan minum enak. Namun ada juga yang bersenang-senang dengan Ramadhan ini, mereka sudah menjadwalkan acara berbuka dengan makanan dan minuman yang lezat dan menyenangkan. Momen Ramadhan hanya dijadikan pengalihan waktu makan dan sedikit nuansa pesta.

Di samping itu, ada yang di bulan Ramadhan justru menyiapkan untuk menyambut lebaran. Bulan Ramadhan tidak terperhatikan sama sekali, yang dipersiapkan justru untuk menyambut lebaran yang cuma satu hari, sementara waktu 30 hari yang disediakan Allah SWT dengan banyak manfaat tidak dihiraukan.

Selain itu, ada juga yang melakukan kegiatan begadang, untuk menunggu sahur. Kegiatan yang dilakukan tidak terkait dengan ibadah yang dilakukan untuk mengisi Ramadhan, lebih terfokus kepada kesenangan semata. Dan, ada juga ketika Ramadhan sudah mencapai penghujung, justru bergembira karena sudah lepas beban selama satu bulan.

Berbagai fenomena di atas bukanlah sesuatu yang dilarang, akan tetapi kegiatan tersebut secara siginfikan bisa mengurangi bahkan menghilangkan keberkahan Ramadhan. Jika menunggu sahur dengan menonton acara lawak di televisi, maka hilanglah acara shalat malam, padahal momen shalat malam di bulan Ramadhan sangat bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan ini diberikan balasan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik balasan dan mampu meraih kemuliaan malam lailatul qadar yang selalu dikejar oleh para pencinta Ramadhan. “Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS Al Qadr: 2-3).

Semoga bulan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan yang penuh berkah dan  magfirah bagi kita semua. Jika waktu sebulan penuh yang telah berlalu kita manfaatkan dan kita isi dengan ibadah secara bersungguh-sungguh, seperti janji Allah, kita akan kembali fitrah, seperti kain putih yang belum ternoda dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allahuakbar…. Allahuakbar walillah ilhamd….Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, minal aidhin walfaidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2011)