Haji dan Persatuan
Ibadah haji mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan berbagai perbedaan. Ada yang berkulit hitam, sawo matang, putih, kuning dan lain-lain. Demikian pula dengan rambut dan fisik (berbadan besar, sedang maupun kecil). Allah SWT ciptakan mereka agar saling kenal.
Dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT befirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Perbedaan suku, bangsa, bahasa, budaya, lingkungan dan lainnya akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam menjalankan ajaran Islam. Adanya perbedaan di antara umat Islam itu merupakan keniscayaan. Sehingga ketika terjadi pertikaian karena adanya perbedaan ini maka kita sandarkan kepada aturan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
Ketika menunaikan ibadah haji, penulis melihat beragam gerakan yang berbeda dari berbagai latar belakang jamaah ketika menunaikan sholat. Setelah takbir, tangan mereka ada yang bersedekap dan ada juga yang dibiarkan ke bawah.
Cara bersedekap pun beragam. Ada yang di dada, di perut, di pinggang maupun sedikit turun dari perut. Bersedekap di perut pun beragam. Ada yang kedua telapak tangannya di tengah, ada yang di pinggang sebelah kiri dan juga di sebelah kanan.
Demikian pula dengan gerakan-gerakan lain dalam pelaksanaan rukun dan wajib haji. Penulis melihat bahwasanya berbagai perbedaan itu masih berada pada tataran yang bukan prinsip. Perbedaan tersebut tidak perlu dipertajam, bahkan semestinya saling menghargai.
Ibadah haji telah mengajarkan dengan cepat kepada umat Islam yang menunaikannya bahwa perbedaan itu merupakan sebuah hal yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Dengan berbagai perbedaan tersebut, umat Islam diminta untuk mencari kesamaan dan menghargai perbedaan di antara mereka. Ibadah haji seolah ingin memberitahukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu, menghargai perbedaan dan jangan berpecah belah. Kemuliaan hanya bisa diperoleh dengan persatuan yang dibingkai dengan iman dan takwa. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 disebutkan bahwa yang paling mulia di antara kaum muslimin adalah yang paling takwa.
Di samping itu, ibadah haji juga mengajarkan bahwa Islam sudah disempurnakan sebagai agama bagi umat Nabi Muhammad SAW yaitu ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah sewaktu wukuf di Arafah. Di antaranya beliau membacakan surat Al Maidah ayat 3 yaitu, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”
Maka, haji bisa disebut sebagai puncak pelaksanaan rukun Islam yang mengajarkan persatuan karena jamaah haji akan menemui dan berinteraksi dengan manusia yang memiliki perbedaan. Di samping itu, puncak haji, wukuf di Arafah yang dihadiri oleh manusia yang berbeda suku bangsa adalah untuk mengingat akan khutbah Nabi Muhammad SAW tentang kesempurnaan Islam.
Umat Islam dengan beragam suku bangsa yang melakukan wukuf diajak untuk mensyukuri ajaran Islam yang sempurna. Ini merupakan pelajaran dari Allah SWT agar umat Islam bersatu ketika mendapati diri mereka ternyata terdiri dari beragam suku bangsa yang ada di dunia. Maka, bagi kita yang sudah melaksanakan ibadah haji, ajaklah umat Islam untuk bersatu dengan tetap menghargai perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya, itu adalah salah satu pesan yang tersirat sewaktu menunaikan ibadah haji. (Desember 2011)
