Haji dan Kemampuan Fisik
Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim).
Bunyi hadits di atas, yaitu tentang pelaksanaan ibadah haji menerangkan pentingnya memiliki kemampuan. Ibadah haji ditekankan kepada orang yang mampu. Salah satu kemampuan tersebut adalah kemampuan keuangan. Menunaikan ibadah haji membutuhkan sejumlah dana yang mesti dipenuhi oleh calon jamaah haji untuk transportasi, penginapan, akomodasi, kesehatan dan lainnya.
Namun selain kemampuan keuangan, yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan fisik. Iklim di Arab Saudi berbeda dengan Indonesia, maka kekuatan fisik menjadi faktor yang mendukung kekhusyukan dan kelancaran ibadah haji.
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah bersengaja melakukan perjalanan dengan sengaja (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397). Dengan demikian, ketika kita menyengaja untuk ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka kondisi fisik harus disiapkan juga.
Dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah haji, maka beberapa area tempat melakukan rukun dan wajib haji menjadi sangat padat oleh para jamaah. Misalnya, tawaf. Pengalaman pribadi penulis, untuk menyelesaikan tawaf membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam dengan kondisi penuh sesak dengan jamaah yang melaksanakannya. Bisa dibayangkan, berjalan selama 5 jam dengan normal saja bisa membuat letih. Apalagi tawaf selama 5 jam dalam keadaan berdesakan dengan jamaah lain. Padahal dalam kondisi normal, tawaf bisa dilakukan dalam waktu kurang lebih 30 menit.
Demikian juga dengan sai dan jumroh yang membutuhkan kekuatan fisik. Sai tujuh kali sepanjang 5-6 km membutuhkan kemampuan fisik. Sementara ketika jumroh, semua jamaah fokus ke satu tempat. Dan sudah barang tentu akan berdesak-desakan. Tempat melempar jumroh sebelum dibuat bertingkat kerap dilanda musibah yaitu banyaknya jamaah yang meninggal karena terinjak. Ini akibat kondisi yang berdesak-desakan dan fisik jamaah pun kurang kuat menghadapi kondisi demikian.
Demikian pula halnya dengan shalat di masjid dan wukuf di Arafah. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146). Menunaikan shalat di masjid tersebut juga membutuhkan fisik yang baik. Sementara Wukuf di Padang Arafah di siang hari merupakan inti ibadah haji. Di panas terik antara waktu dzuhur dengan ashar, jamaah melakukan wukuf.
Melihat hal yang demikian, maka ibadah haji pada dasarnya adalah ibadah fisik. Oleh karena itu kemampuan berhaji selain masalah keuangan juga masalah fisik. Maka tidak heran jika Allah SWT menyukai hambaNya yang kuat fisiknya agar bisa melakukan ibadah dengan baik dan benar.
Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.” (HR. Muslim).
Semoga para jamaah haji asal Sumbar mendapatkan keberkahan dalam menunaikan ibadah haji beberapa waktu yang lalu. Dan bagi yang ingin berhaji, sebaiknya menyiapkan kemampuan fisik agar mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji dengan khusyuk dan tertib. (November 2011)
