Gempa, Isyarat untuk Bertakwa
Tak terasa dua tahun sudah telah berlalu. Masyarakat Sumatera Barat dan semua stakeholders bersama-sama bekerja keras, mengerahkan segala daya dan upaya untuk membangun kembali puing-puing pasca gempa 30 September 2009. Triliunan dana dikucurkan untuk membangun kembali rumah masyarakat, rumah ibadah, sekolah, jalan dan berbagai fasilitas umum lainnya. Ribuan pekerja, juga pakar dikerahkan untuk membangun kembali Ranah Minang yang porak-poranda akibat gempa.
Namun, durasi selama dua tahun itu ternyata belum cukup. Dana triliunan rupiah yang digelontorkan ternyata juga belum memadai. Ribuan pekerja, tukang bahkan para pakar yang dikerahkan untuk membangun, terasa bergerak lamban. Kita sepertinya sudah tak sabar menunggu itu semua. Padahal, mereka sudah mengerahkan semua kemampuan dan tenaga, bahkan bekerja lembur siang-malam.
Mungkin di sinilah Allah SWT ingin memperlihatkan kekuasaannya dan menguji kita semua. Durasi gempa berkekuatan 7,9 skala Richter dan telah meluluhlantakkan Padang, Pariaman dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat, itu tak sampai dalam hitungan menit. Dalam sekejap mata, rrrrr…. gedung-gedung bertingkat yang terlihat megah dan kokoh, ambruk ke tanah. Ribuan rumah penduduk berbagai fasilitas umum, ikut ambruk dan rata dengan tanah. Tak hanya itu, ribuan nyawa juga jadi korban.
Secara ilmiah, gempa merupakan sebuah fenomena alam. Gempa terjadi akibat pergeseran lempeng bumi. Kawasan Sumatera Barat memang merupakan daerah rawan gempa, karena daerah ini terletak di patahan semangka antara dua lempengan bumi. Meski bisa dipahami secara ilmiah, namun kapan terjadi gempa, di mana terjadi gempa, seberapa besar kekuatannya, masih merupakan teka-teki tak terpecahkan hingga saat ini. Jepang yang memiliki teknologi dan pakar paling handal sekali pun tak mampu mengurainya.
Namun, dalam Al Quran cukup banyak ayat yang menerangkan peristiwa gempa/bencana. Dalam ayat tersebut diterangkan Allah menurunkan bencana untuk menghukum umat yang durhaka, munafik dan gemar berbuat maksiat, seperti firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 78, 91 dan 155, surat Al Haj ayat 1, dan surat Al Ankabut ayat 37. Apakah gempa/bencana di Sumbar hanya sekadar peristiwa alam atau peringatan Allah atas sikap dan perbuatan kita yang melampaui batas? Hanya kita dan Allah yang tahu jawabannya.
Namun di sisi lain, terlepas dari semua itu, semua peristiwa tersebut adalah musibah. Kematian adalah musibah. Kehilangan harta benda, kegagalan, juga musibah. Kita harus sabar dan ikhlas menghadapinya, karena di balik musibah ada hikmah dan kabar gembira. Dalam surat Al Baqarah ayat 156, yaitu orang-orang yang bila ditimpa musibah ia mengucapkan innalillahi wainnailaihirojiun.
Gempa tahun 2009 lalu merupakan pelajaran sangat penting dan mahal bagi kita. Meski peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam, namun kita tak boleh berputus asa. Secara global ada dua hal yang perlu dipersiapkan berdasarkan pengalaman tersebut. Pertama, mengevaluasi ketakwaan kita kepada Allah, sehingga gempa yang terjadi bukan karena kemurkaan Allah, tetapi hanya sebatas fenomena alam belaka. Kedua, adalah melakukan antisipasi kesiapsiagaan bencana.
Antisipasi tersebut bisa dilakukan secara horizontal, yaitu dengan menjauh dari daerah pantai untuk menghindari tsunami, serta memperkokoh konstruksi bangunan. Antisipasi vertikal bisa dilakukan dengan mendirikan shelter.
Insya Allah, jika kedua antisipasi itu dilakukan, baik secara agamis maupun secara ilmiah, niscaya kita bisa bekerja dan beribadah dengan tenang. Di balik duka mendalam yang ditimbulkan gempa 2009, juga ada harapan baru yang muncul di baliknya. Pasca gempa, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat justru melonjak di atas angka rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Di saat ekonomi nasional maupun global dalam keadaan kritis, Sumatera Barat justru mendapat kucuran dana pembangunan sangat besar. Memang masih ada masalah yang tersisa dan perlu diselesaikan. Namun, mari kita syukuri rahmat yang telah kita terima jumlahnya jauh lebih banyak daripada masalah yang tersisa. Allah berjanji akan melipat gandakan rahmatnya bagi manusia yang pandai mensyukuri nikmat. (Oktober 2011)
