Memaknai Idul Fitri
Banyak orang, beragam pula cara mereka memaknai hari raya Idul Fitri. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai ajang untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Hari itu digunakan untuk mengencangkan tali silaturrahmi, saling memaafkan, membangun suasana baru dalam keluarga serta kaum kerabat dan lingkungan sosial.
Sebagian muslim lainnya beranggapan Idul Fitri perlu disambut gembira karena telah mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan, mengoptimalkan dan mengisi Ramadhan dengan beragam ibadah dengan penuh keikhlasan. Maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, hari yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para Nabi dan orang-orang shaleh. Mereka berharap ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal yang telah dilakukan.
Apakah puasa dan segala ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT, sehingga patut dirayakan? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti disinyalir Nabi Muhamad SAW? Menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil menjalankan ibadah puasa. Indikator tersebut adalah; ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat, ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan, ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana.
Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya?
Itulah rahasia kenapa Selamat Hari Raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal Aidin wal Faizin (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa).
Namun yang pasti Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang sikap dan perbuatan kita selama ini.
Syeikh Abdul Qadir al-Jailany berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri sebagai ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah SWT, momen mengasah kepekaan sosial. Islam tidak menginginkan ada pemandangan paradoks, betapa di saat kita berbahagia dan bergembira, apalagi berpesta pora, sementara saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar atau tersiksa dalam keadaan nestapa.
Sungguh Maha Besar dan Maha Pengasih Allah Swt. Allahu akbar… Allahu akbar walillah ilhamd. Selamat merayakan Hari Raya idul Fitri 1432H. Minal ‘Aidin wal Faizin. Hanya Allah yang maha Sempurna, tak ada manusia yang terlepas dari khilaf dan salah, mohon maaf lahir dan bathin. (September 2011)
