102. Amran Nur dan Sawahlunto

Amran Nur dan Sawahlunto

 

Pertengahan tahun 2000, direktur PT. Bukit Asam (BA) mendatangi saya dengan wajah murung. Ia menyampaikan berita sedih, yaitu  PT. BA UPO (Unit Produksi Ombilin) terpaksa ditutup. PT. BA UPO terus menerus merugi. Biaya operasional kegiatan pertambangan ini terlalu mahal, jauh lebih tinggi dibanding penghasilan yang diperoleh.

Sebagai ketua komisi VIII DPR RI yang salah satu bidang tugasnya adalah energi dan sumberdaya mineral saat itu, saya cukup kaget dan terpukul dengan berita itu. Betapa tidak, Kota Sawah Lunto adalah kota yang denyut kehidupan ekonominya berasal dari tambang batubara Ombilin (PT. UPO). Tak kurang 55.000 jiwa penduduk Kota Sawahlunto baik secara langsung maupun tak langsung menggantungkan kehidupan ekonomi mereka pada kegiatan tambang “emas hitam” ini. Jika sumber ekonomi mereka itu dicabut, bagaimana mereka bisa mencari nafkah untuk bertahan hidup?

Kami lalu membahas masalah ini secara serius dengan stake holders terkait. Kami coba mencari solusi agar PT BA UPO tidak ditutup dan sekitar 55.000 jiwa masyarakat di daerah itu tetap memperoleh sumber mata pencarian.

Namun hasilnya nihil, tak ada pilihan lain, PT. BA UPO tetap harus ditutup. Alternatif yang ada cuma satu, PT. BA UPO ditutup secara bertahap, agar tidak terjadi kepanikan masyarakat Sawahlunto secara keseluruhan. Secara bertahap kegiatan PT. BA UPO dikurangi, dan secara bertahap dilakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) terhadap karyawan PT. BA UPO.

Saya ngeri membayangkan apa yang akan terjadi di Sawahlunto di kemudian hari. Ribuan karyawan di PHK dan kehilangan pekerjaan. Daerah-daerah kering dan tandus terhampar dimana-mana, bekas kegiatan tambang. Kawah-kawah raksasa juga menganga di sejumlah tempat, juga bekas aktfitas tambang. Lahan tersebut menjadi lahan mati, tak bisa lagi digunakan untuk bertani. Sudah terbayang di kepala,  bahwa Sawahlunto akan menjadi kota mati atau kota hantu yang ditinggal pergi oleh penduduknya.

Pada saat genting sepeti itulah Ir. Amran Nur “dipinang” oleh DPRD setempat untuk menjadi walikota.  Putra asli Talawi Sawahlunto lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berkarir di sektor swasta di Jakarta dan lama tak pulang ke kampung ini juga tersentak melihat kondisi Sawahlunto saat itu. Sawahlunto yang dulu mengalami kejayaan sejah zaman pemerintahan Belanda (1888), kini segera akan menjelma menjadi kota hantu.

Singkat cerita Ir. Amran Noer bersedia menjadi walikota Sawahlunto dan bertekad ingin berbakti untuk kampung halamannya tersebut, meski pada awalnya ditentang oleh pihak keluarganya sendiri. Ia resmi dilantik menjadi Walikota Sawahlunto tahun 2003.

Apa yang dikuatirkan itu, ternyata memang terjadi. Ribuan masyarakat mulai meninggalkan daerah ini, pindah ke daerah lain untuk memperbaiki  ekonomi mereka, mencari penghidupan baru. Penduduk Sawahlunto menurut data statistik berjumlah sekitar 55.000 jiwa pada tahun 1995, menyusut drastis menjadi sekitar 50.000 jiwa pada tahun 2000 dan terus menyusut di tahun-tahun berikutnya.

Karena itu Walikota Amran Nur memberi motivasi kepada masyarakat agar tidak putus asa dan tidak meninggalkan Sawahlunto. Boleh saja  usaha tambang batubara tak lagi menghasilan uang, tapi bekas tambang batubara masih bisa menghasilkan uang. Caranya adalah dengan menjadikan bekas tambang yang penuh sejarah beserta semua komponen yang menyertainya itu menjadi objek wisata.

Lubang tambang Suro lalu dipoles dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas sehingga menarik untuk dikunjungi wisatawan. Begitu juga stasiun kereta api dimodifikasi menjadi museum kereta api terbaik kedua di Indonesia setelah Ambarawa. Bangunan-bangunan unik peninggalan Belanda yang  berumur lebih dari seratus tahun direnovasi sehingga menarik bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Bagi masyarakat yang lingkungannya berpotensi sebagai objek wisata, pemda memberikan stimulan berupa dana untuk memperbaiki lingkungan mereka tersebut secara mandiri. Sedangkan investor yang ingin menanamkan modal di daerah ini baik di bidang perdagangan, perhotelan dan pariwisata, diberikan berbagai kemudahan sebesar-besarnya.

Bagi masyarakat yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan diberikan bantuan stimulan berupa bibit coklat, pupuk atau bibit ternak.  Untuk memperlancar aktifitas pertanian juga dibangun jalan-jalan ke lokasi tani yang diberi nama jalan 10 menit. Petani diberikan julukan pengusaha tani, untuk meningkatkan semangat dan rasa percaya diri mereka.

Kawah yang menganga dijadikan danau buatan, lalu dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata. Sebagian lahan gersang itu juga disulap menjadi arena olehraga dan pacuan kuda.  Alhasil Sawahlunto telah memiliki sejumlah objek rekreasi yang terkenal dan menyedot ribuan pengunjung. Sebut saja Water Boom Muaro Kalaban, atau Kawasan Wisata Kandis yang dikunjungi oleh puluhan ribu sampai ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.

Kekuatiran Sawahlunto menjadi kota hantu hilang sudah. Kini kehidupan ekonomi di kota berdiri sejak tahun 1888 itu  kembali bergairah, baik di bidang pariwisata, perdagangan, maupun pertanian. Jumlah penduduk Sawahlunto yang sebelumnya sempat menurun drastis akibat eksodus, kembali  normal dan cendrung terus meningkat. Kemajuan juga dirasakan di bidang kesehatan, pendidikan, agama dan budaya.

Inovasi dan terobosan yang dilakukan Walikota Sawahlunto  beserta perangkat daerah setempat tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, baik swasta maupun pemerintah. Atas prestasinya, majalah TEMPO bulan Desember 2012 memberikan penghargaan kepada  Ir. Amran Nur sebagai 7 Walikota Pilihan di Indonesia (Bukan Walikota Biasa). Ia juga mendapat sejumlah penghargaan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kemiskinan dan pengangguran di Sawahlunto terendah dibandingkan kota/kab lain se Sumatera Barat.

Untuk memacu percepatan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kita memang butuh pimpinan daerah (bupati dan walikota) yang campin, inovatif dan penuh dedikasi  seperti Amran Nur. Melihat semangat dan fenomena yang ada, saya yakin umumnya bupati/walikota yang  memimpin  kota/kabupaten di Sumatera Barat saat ini adalah orang-orang pilihan, yang juga memiliki semangat dan daya juang yang tinggi. Buktinya, prestasi mereka telah banyak bermunculan ke permukaan. Masing-masing kota dan kabupaten berlomba-lomba menunjukkan prestasi. Kita berharap dan yakin prestasi itu terus berlanjut.

Bagi kota dan kabupaten yang segera akan melakukan pemilihan walikota/bupati. Sebaiknya  pilihlah pemimpin yang memang memiliki kemampuan untuk memimpin dan berinovasi. Seperti hadits Nabi, apabila jabatan disia-siakan dan suatu jabatan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah kehancuran.  Pemimpin yang baik akan membawa kemaslahatan bagi umatnya, sebaliknya pemimpinan yang tidak baik akan membawa kehancuran. (Juli 2012)