85. Syahrul Jihad

Syahrul Jihad

 

Setiap ibadah yang baik harus mengikuti cara, dan juga mencontoh Rasulullah SAW. Oleh karena itu puasa di bulan Ramadhan juga harus mengikuti apa yang telah diperintahkan dan dilakukan Rasulullah SAW.

Rasulullah adalah orang yang senantiasa meningkatkan kesungguhan dalam beramal dan beribadah, termasuk dalam melakukan peperangan. Kita bisa membayangkan kondisi berperang di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa di tengah terik matahari.

Pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah menjalani perang Badar Kubro. Pertempuran yang tidak imbang dari segi jumlah, 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy. Dengan izin Allah SWT kaum muslimin meraih kemenangan.

Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin mendatangi kota Mekkah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy.

Rasulullah SAW semasa hidupnya menjalani sekitar delapan kali Ramadhan. Rasulullah bahkan menjalani puasa di musim panas yang sangat terik.
Abu Darda berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah”. (Muttafaq alaih).

Para sahabat pun banyak yang mencontoh puasa Rasulullah SAW. Umar bin Khattab ra saat menjelang kematiannya berpesan kepada puteranya, Abdullah. “Hendaknya engkau mewujudkan sifat-sifat keimanan.” Lalu beliau menyebutkan yang paling pertama, “Berpuasa saat panas sangat terik di musim panas.”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata: “Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya”.

Ini adalah contoh bagaimana orang-orang terdahulu bersungguh-sungguh atau berjihad dalam melaksanakan amal ibadah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Jihad dalam arti bahasa adalah bersungguh-sungguh dan dalam arti khusus adalah perang. Ramadhan adalah syahrul jihad, umat Islam diminta bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam beramal. Jika hari ini kita lihat orang yang berpuasa bermalas-malasan atau ada PNS yang memotong jam kerja (masuk lambat pulang cepat), jelas tidak mencontoh Rasulullah SAW.

Bersungguh-sungguh puasa tidak akan menyebabkan kematian karena tidak ada dalam sejarah orang mati karena berpuasa. Demikian pula dengan kemalasan yang hanya merupakan dorongan psikologis semata. Betapa banyak orang menjalankan puasa semisal Senin dan Kamis di luar Ramadhan tapi mampu mengimbangi kerja orang yang tidak berpuasa.

Jika kita melakukan pemanasan menjelang Ramadhan, yaitu melaksanakan puasa di bulan Rajab dan Syakban, maka akan semakin ringan dan bersungguh-sungguh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Secara kesehatan, orang yang tidak makan setelah sahur masih memiliki energi untuk beraktivitas hingga Maghrib. Untuk itu, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan karena Ramadhan adalah bulan kesungguhan (syahrul jihad) bukan bulan kemalasan. Bagaimana mungkin mencapai derajat takwa jika yang dilakoni adalah kemalasan, bukan kesungguhan. (Agustus 2011)