Hidup Bagaikan Cermin
Hidup itu bagaikan cermin. Jika anda tersenyum, maka cermin akan tersenyum pada anda. Sebalikya jika anda marah dan melotot, maka cermin juga akan marah dan melotot pada anda.
Begitu pula lah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita memperlihatkan wajah kecut dan cemberut kepada orang lain, maka orang tersebut akan membalasnya pula dengan wajah kecut dan cemberut. Jika kita memperlihatkan wajah yang menyenangkan, ramah dan bersahabat, maka orang akan membalasnya dengan wajah ramah dan bersahabat pula.
Buruk atau baik yang kita lakukan pasti akan dibalas pula dengan kebaikan atau keburukan. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, keburukan akan dibalas dengan keburukan pula. Seperti kata pepatah Minang, kalau lai padi nan ditanam, ndak mungkin lalang nan ka tumbuah. Atau ada juga ada ungkapan yang mengatakan: Siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Artinya, siapa yang berbuat kebaikan pasti akan memperoleh balasan berupa kebaikan dan siapa yang berbuat keburukan akan menerima balasan berupa keburukan.
Realita kehidupan ini dengan mudah dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga saja misalnya, anak-anak yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur pasti akan mendapat mendapat apresiasi yang baik pula dari para orang tua mereka. Ia menjadi anak kesayangan, umumnya apa yang dia minta, jarang yang tidak dikabulkan. Ia mendapat perlakukan istimewa.
Begitu juga fakta yang terjadi di dunia kerja. Pegawai atau karyawan yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur dan kreatif akan mendapat apresiasi yang baik pula dari rekan kerja atau pimpinannya. Ia akan mendapat perlakuan khusus, seperti cermin, semua orang akan memberikan perlakukan yang baik pula padanya. Bukan hal mustahil jika ia diberi kenaikan pangkat atau jabatan yang baik.
Ini adalah salah satu contoh bukti nyata dalam organisasi Pemda Sumbar. Pegawai yang bersikap baik, rajin dan jujur, kemanapun ia akan dipindahkan semua orang dengan senang hati bersedia menerimanya. Sementara di lain pihak, pimpinannya berusaha mempertahankan agar pegawai tersebut tidak dipindahkan. Ondeh Pak, jan dipindahkan lo nyo lai, inyo paguno dek kami mah, (jangan pindahkan dia Pak, kami butuh dia), begitu pimpinan tempat ia bekerja berusaha mempertahankan.
Sebaliknya pegawai yang bermental jelek, malas, licik, tak akan mendapat tempat dan apresiasi yang baik. Ia selalu ditolak dimana-mana. Jan dipindahkan lo nyo kamari Pak, mambana kami, (mohon jangan dipindahkan dia ke sini Pak), begitu komentar pimpinan atau pegawai lain saat ia dimutasikan ke suatu tempat.
Di hadapan Allah, dalil serupa juga berlaku. Allah akan memperlakukan umat yang baik, dengan balasan yang baik pula. Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan, keburukan dengan keburukan pula, itu janji Allah. Seperti juga yang berlaku pada sesama manusia, manusia yang bermental dan berprilaku baik juga akan mendapat keistimewaan. Segala permintaannya sulit bagi Allah untuk menolaknya. Segala doa dan harapannya diijabah oleh Allah SWT.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan magfirah dan wa rahmah, bulan dimana terbuka peluang bagi manusia untuk menghapus semua dosa-dosanya, jika ia bersungguh-sungguh. Bulan ini juga merupakan bulan dimana kebaikan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Memperbanyak shalat sunat, shalat malam, membaca Al Quran adalah beberapa ibadah-ibadah yang bisa dilakukan untuk mendekat diri pada Allah. Bersedekah, berbuat baik dan menolong orang lain adalah beberapa contoh perilaku yang orang lain bersimpati pada kita dan juga mendapat pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Segala kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dibalas Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Mari jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, sekaligus memperbaiki masa depan kita, dunia dan akhirat. (Agustus 2011)
