97. Seto Ohashi, Sebuah Mimpi yang Jadi Kenyataan

Seto Ohashi, Sebuah Mimpi yang Jadi Kenyataan

 

Sama seperti Indonesia, Jepang adalah Negara Kepuluauan. Jepang terdiri dari lebih 3000 buah pulau, besar dan kecil.  Empat pulau terbesar dan utama di Jepang adalah Hokkaido, Honshu (pulau terluas), Shikoku, dan Kyushu. Sekitar 97 persen penduduk Jepang bermukim di empat pulau ini.

Dipisahkan oleh laut yang membentang membuat wilayah Jepang terasa makin sempit dan terisolir satu sama lain.  Dulu, perjalanan dari pulau Honshu ke Shikoku hanya bisa dilakukan menggunakan kapal laut. Perjalanan dengan kapal dirasakan tidak efektif dan memakan waktu lama.

Namun masyarakat Jepang tak menyerah begitu saja. Mereka tak mau menyerah pada keadaan. Mereka bermimpi untuk membangun jembatan antara Honshu dan Shikoku meskipun jarak yang terbentang puluhan kilometer dan pekerjaan itu seperti mustahil bisa dilakukan.  Adalah  Jinnojo  Okobu, seorang wakil masyarakat,  yang memprovokasi mimpi itu sejak tahun 1889.

Baru pada tahun 1950 ide pembuatan jembatan ini dibahas di tingkat nasional. Kejadian tragis yang terjadi pada tahun 1955 makin membuat keinginan masyarakat Jepang untuk membangun Jembatan itu makin kuat. Saat itu terjadi tabrakan antara dua kapal ferri yang menghubungkan Honshu dan Shikoku. Kedua kapal itu tenggelam, ratusan orang hilang, banyak anak-anak  yang jadi korban dalam pristiwa itu.

Membangun jembatan antara Honshu da Shikoku memang bukan perkara gampang, karena jembatan yang akan dibangun harus menyeberangi laut.  Setelah melakukan studi yang cukup panjang, baru pada tahun 1972 hasil akhir riset disetujui.  Bulan September 1973 Menteri Konstruksi dan Menteri Transportasi Jepang mengeluarkan master plan pembangunan jembatan tersebut. Tak tanggung-tanggung, direncanakan ada tiga jalur penghubung antara Honshu dan Shikoku.

Tiga rute jalur penghubung darat itu adalah Rute Timur, Rute Tengah dan Rute Barat. Rute Timur menghubungkan Kobe-Awaji-Naruto Ekspressway. Jalur ini berjarak tempuh 89 kilometer. Jembatan dan jalan raya ini selesai total pada taun 1998.

Rute tengah menghubungkan Seto – Chuo Ekspressway dan JR Seto Ohasi Line. Rote ini berjarak tempuh 39 kilometer, denngan lebar jembatan 35 meter, memiliki enam jalur kendaraan sekaligus, tiga di kiri, tiga di kanan. Lebih istimewa jembatan ini juga memiliki dua jalur kereta api di bagian bawah badan jalan. Rute ini memiliki enam jembatan panjang bersambungan, rangkaian jembatan inilah yang dinamakan Seto Ohashi. Rute ini dibuka pada tahun 1988.

Rute Timur Menghubungkan Nishi – Seto Expressway. Rute ini memiliki 9 rangkaian jembatan, selesai total pada tahun 1999.

Dengan selesainya ketiga jembatan ini, maka pulau Honshu dan Shikoku bisa dengan transportasi darat melalui tiga jalur, termasuk satu jalur kereta api dua arah. Ketiga jembatan ini membuat perjalanan antar pulau bisa ditempuh kapan saja, dengan nyaman dan waktu tempuh tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Hal ini membuat pergerakan ekonomi masyarakat makin pesat.

Teknologi yang digunakan dan rancang bangun yang digunakan memang sangat cemerlang.  Jembatan Seto Ohashi misalnya, jembatan ini ditopang oleh beberapa buah menara setinggi lebih 100 meter. Kaki menara terpancang kokoh di dasar laut. Badan jembatan digantung pada kabel-kabel yang direntang di atas menara.

Total kabel yang digunakan sebagai penyangga Seto Ohashi panjangnya mencapai 300.000 klometer, setara dengan 7,5 kali lingkaran bumi. Jembatan dirancang tahan sampai 200 tahun. Karena Jepang merupakan daerah rawan gempa, maka jebatan ini juga dirancang tahan gempa. Buktinya ketika terjadi gempa tahun 1995 di Kobe, jembatan ini tak bergeming.

Terlepas dari semua tekonologi   yang digunakan, yang paling menarik dari fenenomena ini adalah semangat dan keinginan yang kuat masyarakat dan pemerintah Jepang untuk berubah dan membangun, tak mau menyerah dengan keadaan. Meski pada awalnya pekerjaan itu mustahil bisa terjadi, namun jika dikerjakan serius dan sungguh-sungguh ternyata bisa terwujud.  (Oktober 2010)