96. Keramahan Orang Timur Ala Jepang

Keramahan Orang Timur Ala Jepang

 

Ada sesuatu yang terasa tergurat dalam dada, terasa sangat membekas, setelah bertolak meninggalkan Jepang. Oh… iya, itu dia, keramahan dan rasa persahabatan yang mereka unjukkan. Bertemu dengan Gubernur Kagawa, Wakil Gubernur, Sekda, Ketua Parlemen, pengusaha maupun petani  setempat, tak seperti bertemu orang yang baru dikenal, tapi seperti bertemu teman lama yang bertahun-tahun tak berjumpa.

Kemanapun kami berkunjung, mereka selalu menyambut hangat kedatangan kami. Mereka menanggapi dan menjawab semua pernyataan kami dengan penuh perhatian dan serius. Ramah, bersahabat dan bersahaja. Kadang kita merasa malu sendiri, mereka sangat menghargai kita, pada hal kita tertinggal sekitar 50 tahun di banding mereka, terutama di bidang ekonomi dan teknologi.

Ketika bertamu ke kantor Gubernur Kagawa, terlihat sekali mereka sangat serius menyambut kedatangan kami. Mulai di tempat parkir, kami sudah disambut petugas, ditentukan tempat parkir kendaraan, diantar dan dipandu sejumlah petugas hingga sampai di ruang pertemuan Gubernur Kagawa. Di sana sejumlah pajabat sudah menunggu dan tempat duduk masing-masing juga sudah diatur dan ditentukan. Sepasang bendera mungil, hinomaru dan merah putih terpajang di atas meja. Benar-benar membuat kita merasa tersanjung.

Malam pertama di Kagawa, kami diundang makan malam di restoran milik pengusaha setempat. Restoran ini cukup terkenal di Jepang, ia memiliki belasan restoran serupa di Jepang. Menu yang ingin disuguhkan adalah yakiniku, makanan khas Jepang. Yakiniku memang merupakan menu andalan rumah makan ini dan paling banyak digemari.

Yakiniku terdiri dari irisan daging kecil-kecil dan tipis seperti dendeng. Daging ini merupakan daging khusus dari sapi jenis wagio (wagyu). Daging ini diberi bumbu khusus, lalu dibakar sebentar (sekitar 2 menit), lalu dimakan bersama bumbu saos. Rasanya, bukan main enak dan empuk, berbeda dengan daging biasa. Tak terasa, seporsi daging seberat sekitar seperempat kilo itu habis  sekali santap.

Mungkin itulah sebabnya kenapa daging sapi wagio/wagyu, sapi asli Jepang ini berbeda dengan daging sapi lainnya.  Di pasar lelang kami melihat sendiri jika jenis sapi lain laku terjual sekitar Rp 100.000 per kilogram, maka sapi wagio lalu terjual sekitar Rp 800.000 sampai Rp 1 juta per kilogram.

Awalnya kami juga tak percaya dengan nilai transaksi yang terjadi di pasar lelang. Berkali-kali kami bertanya, apakah benar harga sapi yang baru terjual benar-benar sekitar Rp 100 juta per ekor? Berkali-kali pula ketua lelang setempat membenarkan sambil tersenyum.

Jadi tak perlu berat sapi mencapai 2 ton per ekor agar bisa terjual Rp 100 juta per ekor. Yang kami temui di pasar lelang saat itu beratnya sekitar 600 sampai 700 kilogram saja. Tapi begitu sapi itu muncul, langsung diserbu oleh peserta lelang, dengan harga sekitar Rp 100 juta per ekor. Jika memang tampak berkualitas, mereka tak ragu memasang harga. Harga beras juga begitu, beras berkualitas harganya bisa tiga sampai empat kali lipat beras biasa. Di Jepang saat ini memang tak lagi bicara kuantitas, tapi kualitas. Mereka berani bayar mahal jika memang berkualitas.

Sayangnya saya lupa nama pengusaha restoran tersebut karena ia memberi kartu nama dengan tulisan kanji. Tapi saya masih ingat keramahan dan kelezatan masakan restorannya. Ia berjanji akan segera berkunjung ke Sumatera Barat, bukan tak mungkin berinvestasi di Sumbar.

Esoknya Ketua DPRD Kagawa juga tak mau kalah, ia juga mengundang makan malam di restoran miliknya. Ia juga memiliki belasan restoran di Kagawa. “Saya akan sajikan makanan yang khusus saya sendiri membuat resepnya,” ujarnya.

Sang ketua DPRD ternyata tak sekedar omong kosong, di restoran miliknya kami disuguhi berbagai macam masakan, dan ternyata memang enak. Ia sedikit agak kecewa ketika kami menolak dengan halus minuman beralkohol yang disajikan. Namun ia tampak gembira dan bersemangat ketika kami makan dengan bersemangat ketika hidangan lain disajikan.

Nampaknya beliau sangat berpengaruh dan disegani di Kagawa. Namun meskipun sudah berusia lanjut, gayanya energik dan eksentrik. Beberapa kali ia berusaha membuat lelucon dalam bahasa Inggris terpatah-patah bercampur bahasa Jepang . Kami pun berusaha menimpali guyonannya dengan bahasa Inggris dan Bahasa Jepang seadanya. Suasanapun jadi hangat, seperti sahabat yang lama tak berjumpa.

Setiap malam kami diundang untuk makan malam, baik oleh ketua koperasi dan sejumlah pengusaha lainnya secara bergantian. Yang pasti, susana yang terbangun selalu hangat, dan bersahabat.

Hendri, staf KBRI Jepang di Kyoto yang ikut menemani sejumlah perjalanan, berkali-kali mengatakan bahwa kunjungan ini sangat luar biasa. Belum pernah ia mengikuti acara kunjungan yang lengkap seperi ini dan langsung ke objek persoalan. “Sungguh ini luar biasa Pak,” ujarnya terkesan. (Okober 2010)