Tak Ada Sampah di Takamatsu
Mungkin ini sebuah keajaiban, tak ada selembar sampah pun tercecer di seantero Kota Takamatsu, ibukota provinsi Kagawa Jepang. Nyaris tak bisa dipercaya. Padahal di sini, hampir semua barang dikemas dengan plastik atau kertas, atau kombinasi keduanya, kertas dan plastik.
Sebut saja sayur, buah-buahan, daging, berbagai kue dan makanan semua dikemas dengan plastik atau kertas, diberi merek, didisain semenarik mungkin dan dihiasi dengan berbagai warna-warni menarik.
Tapi ajaibnya, ya.. itu tadi, tak selembarpun ada sampah tercecer. Seluruh kota bersih, sampai ke pelosok-pelosok sekalipun, benar-benar bebas sampah. Pemerintah kota atau pemerintah provinsi nampaknya tak perlu lagi menggelar lomba kebersihan antar kelurahan agar masyarakat sadar akan kebersihan. Pemerintah pusat juga tak perlu menggelar lomba Adipura agar masing-masing kota menjaga kebersihan lingkungan mereka.
Di pelosok kampung apalagi, tak bakal ditemukan sampah di sana, semua sama bersihnya dari kampung sampai pusat kota. Tak ada puntung rokok tercecer di jalan, juga tak ada plastik atau kantong kresek yang berserakan seperti pemandangan umum di daerah kita.
Provinsi Kagawa terletak di Jepang Barat, merupakan provinsi terkecil, dengan luas wilayah 1.862 kilometer persegi dan jumlah penduduk 1.012.400 jiwa. Takamatsu adalah ibukota provinsi Kagawa berpenduduk 418.196 jiwa, hampir sama dengan jumlah penduduk kota Padang sekitar 5 tahun lalu.
Produk domestik bruto Kagawa adalah 3.660 triliun yen per tahun, sedangkan pendapatan per kapita penduduk adalah 2.616.000 yen per tahun. Nilai tukar yen saat ini adalah Rp 105 per yen. Ini berarti rata-rata pendapatan penduduk Kagawa adalah Rp 274.680.000 per tahun atau sekitar Rp 22.890.000 per bulan. Jadi tak heran jika tak ada gubug reot atau orang miskin di Kagawa.
Takamatsu memang bukan termasuk 10 kota megapolitan di Jepang. Tapi fasilitas sarana dan prasarana yang ada di sini serba lengkap dan luar biasa, Jakarta pun, masih tertinggal cukup jauh. Di pusat perkotaan Takamatsu bertebaran gedung-gedung bertingkat, jalan layang (fly over) berkualitas prima terpapar sepanjang ribuan kilometer menguhubungkan antar daerah di Kagawa.
Pemerintah Kagawa seperti tak pernah berpikir lagi apakah uang di kas mereka untuk membangun cukup tersedia atau tidak. Coba saja bandingkan dengan Kota Padang yang hanya mampu membangun fly over sepanjang 250 meter butuh waktu selama 6 tahun. Berapa puluh tahun waktu yang dibutuhkan untuk membangun ribuan kilometer jalan jalan dan fly over seperti yang ada di Kagawa?
Tak hanya itu, sungguh kita berdecak kagum melihat jembatan Seto Ohashi sepanjang 13 kilometer yang menghubungkan pulau Honshu dan Shikoku. Susah menghitung berapa angka uang rupiah (jika dikonversi ke rupiah) dana yang dibutuhkan untuk membangun jembatan tersebut. Tak hanya memiliki 6 jalur kendaraan, di bawah badan jalan jembatan Seto Ohasi juga terdapat jalur kereta api. Saat ini tak ada tandingan Seto Ohasi di dunia.
Meski topografi daerah Kagawa hampir mirip dengan Sumatera Barat berbukit dan lembah, namun tak akan ditemukan tanjakan atau tikungan tajam di jalan utama antar kota. Jika ada lembah, di sana dibangun jalan layang, jika ada bukit merintangi jalan, maka di sana dibangun terowongan. Jangan ditanya berapa dana yang mereka habiskan. Namun hasilnya perjalanan jauh pun bisa dilakukan dengan nyaman, juga tak ada jalan jelek dan berlobang. Di provinsi Kagawa saja ada puluhan terowongan.
Meski kepadatan penduduk Kagawa jauh lebih tinggi, namun di Ibukota Takamatsu sekalipun tak pernah dikenal istilah macet. Yang terlihat menonjol adalah disiplin yang membuat Kagawa bebas macet. Penduduk Kagawa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah atau di tempat mereka bekerja. Meski rata-rata mereka memiliki mobil, namun mereka mengutamakan menggunakan angkutan umum. Tak ada anak yang ke sekolah diantar mobil orang tuanya, mereka ke sekolah menggunakan sepeda.
Berbeda dengan di pusat kota di pinggiran kota mulai terlihat pemandangan lahan pertanian, sawah, lahan sayuran dan buah-buahan terawat secara baik dan tertata rapi di sela-sela gedung bertingkat dan rumah penduduk (bukan gubug). Meski jalan layang juga berseliweran dan sejumlah gedung bertingkat bertebaran, namun kegiatan pertanian tetap eksis. Sekitar 30 persen kebutuhan pangan masyarakat Jepang berasal dari Kagawa.
Petani, koperasi dan dinas pertanian/peternakan setempat saling bahu membahu untuk meningkatkan pendapatan petani. Bibit padi, sayuran dan buah-buahan terus diteliti sehingga mampu memberikan hasil yang terbaik, maksimal dan berkualitas prima. Petani juga bekerja keras merawat tanaman mereka sehingga mencapai hasil puncak. Sedangkan koperasi mengatur distribusi dan pemasaran produk mereka. Alhasil, keuntungan yang mereka peroleh mencapai titik optimal, harga jual produk pertanian juga terjamin dan selalu menguntungkan.
Meski termasuk daerah modern, udara di Kagawa juga terasa sejuk dan segar, hampir sama kesegaran udara lembah anai atau ladang padi. Tak ada tercium bau asap kendaraan yang menyengat seperti kota-kota di negara kita. Di sini emisi buangan kendaraan dijaga dengan ketat. Agaknya itulah yang membuat udara di Kagawa terasa lebih segar, polusi udara akibat kendaraan bermotor ditekan seminim mungkin.
Di Kagawa juga tak ditemukan saluran air kumuh berbau busuk buangan rumah tangga atau pabrik. Saluran buangan limbah rumah tangga dibangun di bawah tanah, semua rumah di Kagawa terhubung ke saluran ini, sehingga tak kan tercium bau got busuk di pinggir jalan. Limbah ini lalu diproses, setelah jernih baru dibuang ke laut.
Limbah pabrik juga begitu, malah diperlakukan lebih ketat. Sebelum dibuang limbah tersebut harus diolah, setelah bersih baru boleh disalurkan ke laut. Itulah kesan paling mendalam di Kagawa, tak ada sampah, tak ada got busuk, juga tak ada jalan berlobang, berliku dan mendaki.
Realitanya kita memang tertinggal jauh, tapi jika ada semangat dan kemauan yang kuat tentu semua itu bisa diatasi. Seperti Jepang mengejar ketinggalannya dulu. Mereka mengejarnya dengan disiplin dan kerja keras.
Disiplin dan kebersihan, dan kerja keras telah diajarkan Islam sejak ratusan tahun lalu. Nabi Muhammad SAW dalam hadistnya mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Banyak ayat-ayat dalam Al Quran yang memerintahkan umat untuk bekerja bersungguh-sungguh, tidak membuang-buang waktu. Jika masyarakat Jepang yang mengamalkan hadits tersebut, jangan heran kalau merekalah yang memperoleh manfaatnya. Jika kita yang mengamalkan tentu kita bisa mendapat manfaatnya. (Oktober 2010)
