MDGs
Teknologi terus berkembang pesat di abad millenium, ekonomi dunia juga telah bertumbuh baik. Namun semua itu belum merata menyentuh seluruh penduduk dunia. Berdasarkan data tahun 2008, sebanyak 22,4% penduduk dunia, yaitu 1,29 milyar penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan. Rata-rata pendapatan mereka kurang dari 1,25 dolar (kurang Rp11.000) per hari.
Kondisi ini akan berimplikasi kepada masalah lainnya, yaitu kondisi kesehatan yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah, masalah kesetaraan gender, penyakit menular dan berbagai masalah krusial lain yang umum terjadi berbagai pelosok dunia.
Karena itu bulan September tahun 2000 lalu sebanyak 189 anggota PBB menetapkan 8 tujuan pembangunan millenium (millenium development goals/MDGs). Delapan tujuan pembangunan itu ditargetkan bisa tercapai tahun 2015. Tujuan pembangunan millenium itu adalah : 1. Memberantas Kemiskinan dan Kelaparan (menurunkan angka kemiskinan), 2. Mencapai Pendidikan untuk Semua (setiap penduduk minimal mendapatkan pendidikan dasar), 3. Mendorong Kesetaraan Jender dan Pemberdayaan Perempuan, 4. Menurunkan Angka Kematian Anak (target tahun 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun), 5.Meningkatkan Kesehatan Ibu (mengurangi minimal dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan), 6.Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya, 7. Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup dan 8. Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan.
Masalah yang sama juga merupakan masalah yang krusial di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat. Berdasarkan catatan BPS penduduk miskin di Indonesia pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang (12,36% dari total penduduk Indonesia). Menurut data statistik Jumlah penduduk miskin Sumatera Barat pada Maret 2009 adalah sebanyak 429.250 jiwa, sedangkan acuan yang digunakan adalah pendapatan rata-rata Rp.217.649per kapita per bulan (setara dengan di bawah 1 USD per hari).
Karena itu program MDGs yang merupakan komitmen dunia untuk memperbaiki kualitas hidup ummat manusia tersebut perlu kita sambut dan kita laksanakan dengan baik. Dalam kacamata internasional, delapan tujuan pembangunan millenium tersebut merupakan hak hazasi manusia, sedangkan dalam kacamata pembangunan Sumatera Barat, hal tersebut senada dan sejalan dengan visi pembangunan Sumatera Barat 2010 -2015, yaitu Menuju Masyarakat Madani, Sejahtera dan Bermartabat.
Lalu bagaimana agar program yang bertujuan mulia itu bisa tercapai?
Pemerintah sebagai pihak yang telah berkomitmen untuk menjalankan program tersebut tentu berkewajiban memfasilitasi dan memberikan stimulus kepada masyarakat agar tujuan (goals) dari program MDGs bisa tercapai. Sedangkan masyarakat berkewajiban berusaha, bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Seperti hadits Nabi, nasib suatu kaum tidak akan berubah jika kaum itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya.
Di Sumatera Barat yang terkenal menganut filosofi Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, sangat besar peluang program MDGs yang ditargetkan tahun 2015 terlaksana itu bisa tercapai. Dalam konsep adat, tigo tali sapilin, yaitu alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tentu tidak akan membiarkan kaum kerabatnya tenggelam dalam kemiskinan, kebodohan dan kesengsaraan. Perantau, tokoh dan pemuka masyakat Minang tentu tak akan tega melihat orang kampung dan kaum kerabatnya sengsara.
Sedangkan dalam konsep syarak (agama), umat Islam adalah bersaudara. Kewajiban umat Islam untuk membantu saudaranya yang miskin, terkebelakang, apalagi yang sedang mengalami musibah (sakit). Semua itu senada dan seirama dengan cita-cita program MDGs.
Mari kita jadikan kemiskinan, kebodohan dan penyakit sebagai musuh bersama. Jadikan momentum MDGs sebagai momen untuk memperbaiki kualitas hidup, saling membantu dan peduli dengan masyarakat dan lingkungan sekeliling kita. (Mei 2012)
