114. Setelah TdS Usai

Setelah TdS Usai

Iven internasional bertajuk Tour de Singkarak (TdS)  IV tahun ini, selesai digelar.  Fakta membuktikan bahwa masyarakat Sumatera Barat mampu menjadi tuan rumah alek gadang tersebut untuk ke empat kali. Acara yang menjadi sorotan masyarakat internasional tersebut berlangsung dengan sangat baik dan terus makin membaik dari tahun ke tahun.

Jika TdS pertama tahun 2009 diikuti oleh 14 negara yang menurunkan 150 pembalap, maka TdS tahun ini diikuti oleh 20 negara yang menurunkan 250 pembalap.  Jarak yang ditempuh juga makin bertambah panjang, jika tahun 2009 sepanjang 218 kilometer, tahun ini total jarak yang ditempuh pembalap adalah 856 kilometer. Kabupaten dan kota yang dilewati sebanyak 4 kabupaten dan kota pada tahun 2009, tahun ini menjadi  14 kabupaten dan kota. Durasi waktu lomba meningkat dari  5 hari pada tahun 2009 menjadi  7 hari pada tahun ini. Dan tentu saja jumlah hadiah yang disediakan juga meningkat dari Rp 700 juta tahun 2009 meningkat menjadi Rp 1 milyar pada tahun 2012.

Juga merupakan sebuah perhargaan bagi kita semua dan menandakan sebuah perhatian serius dari Pemerintah Pusat,  iven ini dibuka langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan ditutup oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng.

Tentu saja keberhasilan yang dicapai dalam tempo yang relatif singkat ini merupakan hasil kerja keras dari berbagai pihak terutama panitia dari jajaran Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Panitia Nasional maupun Internasional dari berbagai negara, media cetak maupun elektronik baik daerah, nasional maupun internasional, pemerintah kabupaten dan kota serta masyarakat Sumatera Barat.

Kita gembira dan bersyukur, sejauh ini semua berjalan lancar dan bisa dikatakan sukses. Namun timbul pertanyaan apa setelah ini, apa tindak lanjut dari TdS? Setelah Sumatera Barat dikenal dunia, keindahan alam Sumatera Barat yang eksotik mulai dikenal dunia dan berhasil menarik wisatawan, bagaimana sikap kita? Apa yang harus kita persiapkan?

Jika ditanya untuk apa TdS diadakan, menurut saya jawaban utamanya cuma satu : meningkatkan ekonomi masyarakat. Setelah TdS sukses dilaksanakan, setelah wisatawan datang berkunjung ke Sumatera Barat, sesuai dengan tujuan penyelenggaraan TdS, maka misi selanjutnya adalah bagaimana kunjungan wisatawan tersebut berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat.

Kita semua sudah tahu dan dunia pun telah mengakui bahwa Sumatera Barat memiliki potensi alam yang luar biasa. Sumatera Barat punya budaya dan seni yang spesifik, kita juga punya kekayaan kuliner yang diakui kelezatannya dimana-mana.

Peluang itu makin terbuka, karena Sumatera Barat bisa dijadikan tujuan wisata alternatif karena bagaimanapun, wisatawan selalu mencari sesuatu yang baru dan menarik untuk dikunjungi. Wisatawan pasti akan merasa monoton jika hanya mengunjungi lokasi wisata yang sama dari tahun ke tahun seperti Bali, Jogya, Malaysia atau Singapura. Bagaimanapun jika cuma itu ke itu saja pasti jenuh, harus ada destinasi alternatif.

Tujuan wisata alternatif itu adalah Sumatera Barat, daerah ini sangat potensial. Kota Bukittinggi atau Sawahlunto telah membuktikan bahwa pariwisata telah mampu membuat ekonomi daerah ini berdenyut. Efek berganda dari pertumbuhan wisata telah membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara nyata. Itulah keistimewaan industri pariwisata dibandingkan industri lain, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi berdampak langsung terhadap masyarakat secara luas.

Dengan demikian berarti tugas selanjutnya, adalah mempersiapkan Sumatera Barat menjadi tempat wisata yang layak. Kebersihan, keindahan dan kenyamanan menjadi kata-kata kunci agar wisatawan berkunjung dan betah membelanjakan uangnya di Sumatera Barat. Namun hampir di semua objek wisata kita bertebaran sampah di mana-mana. Kondisi ini harus segera diubah, kebiasaan membuang sampah  di sembarang tempat harus segera dihapus.

Saya menyaksikan sendiri, peserta atau panitia TdS dari negara lain selalu memasukkan dan menyimpan sampah mereka dalam kantong-kantong untuk kemudian dibuang di tempat sampah. Tapi justru masyarakat kita membuang sampah sembarangan dimana saja mereka suka. Tentu saja kebiasaan ini harus segera kita ubah. Banyak wisatawan yang memilih tinggal di rumah penduduk (home stay), bukan hotel berbintang asal rumah tersebut bersih dan nyaman. Hal ini tentu akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat.

Satu lagi yang perlu kita ubah adalah sikap melayani wisatawan. Kalau ditanya kenapa wisatawan memilih Bali, Jogyakarta atau Bandung, jawabannya adalah keramahan masyarakat setempat, sikap profesional mereka melayani wisatawan.  Di  bandara di daerah tersebut tidak akan kita temui pengemudi taksi rebut-rebutan penumpang, apalagi sambil menarik-narik tas mereka.  Premanisme di objek wisata juga paling banyak dikeluhkan wisatawan sehingga mereka kapok berkunjung ke daerah tersebut.

Usai TdS juga diharapkan berdampak terhadap animo masyarakat masyarakat Sumbar untuk berolahraga sepeda, bahkan diharapkan ke depan akan uncul pembalap sepeda yang bakal menjuarai Tour de Singkarak, sekaligus menjadi pembalap nasional.

Terakhir, tentu saja infrastuktur pendukung harus terus ditingkatkan. Biasanya jika peluang bisnis terbuka, kondisi dan masyarakat setempat mendukung, otomatis investor akan turun turun menanamkan modal untuk menyiapkan fasilitas. Pemerintah kota dan kabupaten tentu juga akan menfasilitasi agar semua itu bisa terwujud, tinggal menunggu komitmen kita bersama. (Juni 2012)