Kembali Bersepeda
Saya tercenung ketika ketua koperasi Hounan Kagawa Jepang Ootsuka Masaihiro menyampaikan kesannya tentang Sumbar setelah ia berkunjung ke daerah ini untuk pertama kalinya.
“Di sini terlalu banyak sepeda motor dan mobil,” ujarnya spontan. Nampaknya ia memberikan kesan terhadap kendaraan bermotor yang ramai lalu-lalang berdesak-desakan memadati jalan-jalan di seantero Sumatera Barat. Jalan-jalan selalu padat, bahkan macet di sejumlah tempat. “Hal ini perlu diperhitungkan lagi, apakah merupakan sebuah pemborosan,” ujarnya.
“Tapi tahu ndak anda, hampir semua kendaraan itu adalah buatan Jepang, kan meguntungkan bagi negara anda,” ujar saya sambil berseloroh. Tawanya langung tersembur ketika hal itu disampaikan. “Di satu sisi memang meguntungkan Jepang, tapi kasihan juga jika merugikan masyarakat Sumatera Barat,” imbuhnya
Jika dicermati memang terlihat perbedaan menyolok antara Sumatera Barat dan Provinsi Kagawa, Jepang Barat, tempat koperasi Hounan Kagawa berada. Di Provinsi Kagawa , meski kepadatan penduduknya hampir dua kali lipat penduduk Sumatera Barat tapi tak terlihat antrian panjang kendaraan di jalanan. Lalu-lintas berjalan lancar bahkan jalanan terlihat lengang.
Setelah diamati, ada dua kata kunci yang membuat hal itu bisa terjadi, yaitu, berhemat dan disiplin. Masyarakat Kagawa, juga masyarakat Jepang umumnya, berhemat dalam melakukan perjalanan dan penggunaan kendaraan.
Bisa dipastikan setiap keluarga di Jepang memiliki minimal satu mobil. Tapi tak sembarangan dan tidak setiap saat mobil itu mereka gunakan. Umumnya hanya sekali seminggu saja atau untuk keperluan yang sangat mendesak saja mobil itu mereka pergunakan. Untuk perjalanan ke kantor, tempat kerja atau sekolah, mereka menggunakan angkutan umum atau sepeda.
Di Jepang tak ada anak ke sekolah diantar jemput oleh orang tuanya. Mereka dilatih mandiri, berangkat dan pulang sekolah secara mandiri menggunakan sepeda. Kakak kelas mereka bertugas membantu sampai mereka bisa mandiri. Begitu juga di kantor-kantor dan perusahaan. Halaman parkir dipenuhi oleh sepeda, hampir cuma dalam hitungan jari saja mobil terlihat parkir di halaman kantor, perusahaan maupun sekolah.
Di saat jam kerja berlangsung nyaris tak terlihat lagi kendaraan lalu-lalang di jalanan, mereka seperti tenggelam dalam pekerjaan dan aktifitas masing-masing. Mereka disiplin dalam berlalu lintas, juga disiplin dalam bekerja. Tidak heran jika mereka bisa memetik buah upaya berhemat dan disiplin itu, yaitu nyaman di jalanan, bisa bekerja dengan tenang dan mendapat hasil optimal. Jepang telah menjelma menjadi negara kaya dan maju.
Tanpa sadar kita ikut menyumbang untuk pembangunan negeri Jepang yang megah itu, melalui jutaan kendaraan bermotor atau produk elektronik lainnya yang kita beli kepada mereka. Kita atau mereka kah yang lebih kaya?
Di Jepang pengguna sepeda sangat dihargai, bahkan dianggap pahlawan. Mereka dianggap pahlawan karena telah berjasa terhadap negara. Pengguna sepeda berjasa kepada negara karena berkontribusi dalam mengurangi kepadatan lalu lintas. Pengguna sepeda juga juga berjasa kepada negara karena dapat mengurangi penggunaan BBM (bahan bakar minyak) yang makin mahal dan langka. Tak hanya itu, pengguna sepeda juga telah berjasa dalam upaya mengurangi pencemaran lingkungan.
Pada tahap awal, jika upaya kembali bersepeda ini dilakukan oleh satu orang saja, tentu belum berarti apa-apa. Namun jika gerakan ini dilakukan secara massal, oleh ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan orang, tentu gerakan ini akan menimbulkan dampak yang dahsyat! Suatu saat kita tak perlu lagi beteriak-teriak karena alasan BBM langka.
Di Sumatera Barat, gerakan kembali bersepeda adalah pilihan yang paling cocok, baik untuki kesehatan, maupun terhadap upaya penyelamatan lingkungan. Catatan kesehatan telah lama membuktikan bahwa masyarakat Sumate Barat sangat rentan terhadap penyakit stroke, hipertensi, diabetes, asam urat, jantung koroner dan sejenisnya. Solusi terbaik dan paling aman adalah bersepeda.
Gerakan bersepeda bisa dimulai dari siswa, pelajar, atau karyawan yang jarak tempuh perjalanannya tidak terlalu jauh. Jika hal ini bisa dilaksanakan, maka ini sebuah perubahan yang luar biasa, karena ada ratusan ribu bahkan jutaan siswa, pelajar dan karyawan di Sumatera Barat yang bisa ikut berkontribusi.
Mari kita jadikan momen Tour de Singkarak dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 6 Juni ini sebagai titik balik untuk Kembali Bersepeda. Selamat Bersepeda! (Juni 2011)
