119. Uncle

Uncle

Awalnya ndak saya pedulikan, namun kemudian pikiran saya agak terusik ketika di forum-forum pertemuan pemuda internasional, aktivis organisasi pemuda Indonesia dipanggil dengan sebutan uncle (om).

Memang begitulah biasanya mereka memanggil kontingen Indonesia di setiap ada acara pertemuan pemuda internasional: uncle. Kontingen pemuda Indonesia terkenal dengan julukan uncle. Kenapa?

Menurut mereka, aktifis pemuda Indonesia memang lebih tepat disebut dengan uncle/om, karena usia mereka memang terpaut jauh. Rata-rata usia aktifis pemuda dari negara lain sekitar 16 sampai 22 tahun, sedangkan usia aktifis pemuda Indonesia berkisar antara 30 sampai 40 tahun, bahkan lebih. Karena itu mereka memanggilnya dengan sebutan om (uncle).

Organisasi pemuda, dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai youth organisation seharusnya memang ditujukan untuk mereka yang tegolong muda usianya (youth). Di korea misalnya, definisi pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai 22 tahun, di Amerika atau Eropa definisi pemuda adalah mereka yang berusia 16 sampai 24 tahun.

Jika dilihat dari fungsinya, organisasi pemuda memang merupakan wadah untuk aktualisasi diri bagi kelompok generasi muda yang dalam masa usia transisi. Mereka adalah kelompok yang telah melewati usia remaja, dalam peralihan menuju dewasa. Kelompok ini mempunyai karaktetistik khusus, yaitu penuh semangat dan idealisme. Jika diibaratkan dengan matahari, mereka adalah sinar matahari pada jam 12 siang, terang benderang dengan kekuatan penuh.

Dalam Islam seseorang dikatakan dewasa (aqil baligh) setelah ia mengalami haid bagi wanita dan mimpi basah bagi laki-laki. Usia mereka sekitar 12 sampai 14 tahun. Artinya pada usia ini mereka telah matang secara biologis. Seharusnya jika mendapat pendidikan yang baik, formal maupun non formal’ digembleng dengan baik, serta didukung oleh lingkungan yang baik, ia juga sudah matang secara psikis. Jika mereka diberi kesempatan untuk memimpin dan mengukir prestasi, maka mereka pun akan menunjukkan prestasinya.

Karena itu dalam sejarah, pemuda tercatat sebagai tokoh pembawa perubahan, tokoh reformasi, tokoh pembaharu, dan sebagainya. Sejarah di Indonesia juga membuktikan bahwa pemuda berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, yaitu terkenal dengan sejarah “Sumpah Pemuda.”

Di zaman Nabi Muhammad SAW banyak pemuda yang masih dalam usia belia telah diberi amanah yang besar oleh Nabi. Usamah Bin Tzaid misalnya, telah diberi tugas sebagai panglima perang pada usia 19 tahun. Nabi Muhammad sendiri telah menjadi saudagar sedari umur belasan tahun dan diangkat menjadi rasul pada usia 40 tahun.

Di Amerika Serikat pun hal serupa juga dilakukan. John F Kennedy diangkat menjadi presiden AS pada usia 43 tahun, Bill Clinton diangkat menjadi presiden saat berusia 47 tahun, Bush diangkat menjadi presiden saat berusia 55 tahun, Obama saat berusia 48 tahun. Di Indonesia Presiden Soekarno diangkat menjadi presiden  saat berusia 44 tahun, Presiden Soeharto diangkat pada usia 46 tahun. Di Oklahoma AS ada walikota terpilih yang baru berusia 19 tahun. Ia masih berstatus mahasiswa. Namun prestasi dan perjalanan karir, masyarakat setempat sepakat menyatakan bahwa ia layak jadi walikota.

Generasi muda Indonesia bukan tidak mungkin melakukan hal serupa, melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas di usia muda, pemimpin yang cerdas, energik dan kreatif. Untuk bisa menjadi pemimpin, mereka harus dididik, dibina dan diberi wadah untuk berkiprah saat masih berusia belasan atau 20 an tahun. Wadah itu di antaranya organisasi kepemudaan, organisasi kemahasiswaaan, organisasi sosial dan sebagainya. Jika mereka telah digembleng pada usia muda di berbagai organisasi tersebut, insya Allah mereka siap menjadi pemimpin dan tokoh saat berusia 30 atau 40 tahun.

Namun kekhawatiran itulah yang kini terjadi, kita mengalami kelangkaan pemimpin muda yang berkualitas yang nantinya akan membawa bangsa ini ke masa depan yang lebih baik, baik di daerah maupun di tingkat nasional. Sulit menemukan wajah-wajah baru, generasi baru, yang berprestasi dan berpotensi menjadi pemimpin di masa depan. Ada apa? (Juli 2012)