- Bulan Pembentukan Karakter
Pernahkah kita memperhatikan tingkah laku hewan ternak? Ayam, misalnya. Hanya butuh waktu beberapa hari saja melatihnya. Maka ia segera tahu dimana kandang yang harus dia tuju, dan segera setiap sore tanpa diperintah lagi dia akan pulang dan masuk ke kandangnya. Mereka juga tahu dimana tempat makannya. Mereka juga tahu memilih makanan yang baik dan bermanfaat bagi tubuh mereka dan menghindari makanan yang akan mencelakakan mereka.
Banyak contoh-contoh hewan yang memperlihatkan kepatuhannya dengan memberikan latihan pembiasaan terhadap mereka. Burung beo misalnya, setelah dilatih, ia segera bisa mengucapkan salam kepada setiap ada tamu yang datang. Beo juga senang dan tak lupa mengucapkan kata selamat pagi kepada tuannya saat memberinya makan setiap pagi.
Kucing juga demikian, ia tidak akan buang kotoran sembarangan setelah dilatih, dan selalu menimbun kotorannya dengan tanah. Hal itu selalu ia lakukan dengan teratur. Begitu juga anjing, kuda, burung merpati, gajah, ikan lumba-lumba dan banyak lagi contoh hewan lain yang bisa dilatih dengan cara pembiasaan dan kebiasaan itu selalu melekat dalam diri mereka dan takkan pernah mereka lupakan selamanya.
Mungkin itu pula yang diinginkan Allah kepada manusia di bulan Ramadhan. Puasa melatih dan membiasakan manusia menahan lapar dan dahaga di siang hari selama sebulan penuh. Seharusnya kebiasaan itu bisa melatih manusia agar tidak makan dan minum secara berlebihan, melatih manusia untuk mengendalikan nafsu makannya secara berlebihan. Kita tahu bahwa makan berlebihan dan tidak terkendali akan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, asam urat, jantung koroner dan lain-lainnya.
Puasa juga melatih manusia untuk menjaga sikap dan perbuatan dan perkataan mereka agar melakukan hal-hal yang baik. Sikap dan perbuatan yang baik tentu memberikan nilai tambah yang baik bagi orang lain. Menjaga ucapan dan perkataan yang baik tentu saja menyenangkan bagi orang lain tidak menimbulkan saki hati dan merugikan orang lain. Sebaliknya sikap tersebut menimbulkan simpati kepada mereka pelakunya. Subhanallah, sungguh mulia agama Islam. Allah sebagai Khaliq Maha Tahu dengan apa yang terbaik untuk umatnya.
Kesimpulannya, jika dalam bulan Ramadhan, selama sebulan penuh kita benar-benar berlatih untuk mengendalikan makan-minum, hawa nafsu, maka di akhir Ramadhan dan seterusnya seharusnya sudah terlihat hasil dan perubahannya. Jika selama sebulan penuh kita berlatih untuk melakukan shalat, termasuk shalat malam (qiyamulail), seharusnya di akhir Ramadhan seharusnya ada perubahan dan perbaikan. Bulan selanjutnya seharusnya ada perubahan, kita seharusnya sudah terbiasa melakukan shalat wajib, shalat sunat serta shalat malam. Jika hewan bisa dilatih dan dibiasakan seharusnya manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan dilengkapi dengan akal dan pikiran bisa melakukannya secara lebih baik.
Jika selama bulan Ramadhan kita melatih sikap dan perkataan yang baik secara serius dan sungguh-sungguh, maka setelah berlatih sebulan penuh seharusnya sikap tersebut terus tertanam dalam diri kita dan mejadi perilkaku sehari-hari. Selanjutnya jika terus dibina dan terus diperbaiki maka ia akan menjadi karakter kita seumur hidup.
Jika semua perubahan dan perbaikan itu tidak kita peroleh dan tidak kita upayakan selama bulan Ramdhan, maka benar apa yang dikhawatirkan Nabi Muhammadi SAW akan jadi kenyataan : “tidak ada yang dapat mereka peroleh setelah selama bulan penuh berpuasa kecuali sekedar merasakan haus dan lapar”. Sungguh sayang dan rugi jika kesempatan “berlatih” sekali setahun tersebut tidak kita manfaatkan sebaik mungkin. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi tersebut. Amin. (November 2013)
- Bulan Pembinaan SDM
Ramadhan merupakan bulan pembinaaan SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas. Saat ini menilai SDM berkualitas umumnya dilihat dari jejak rekam profesionalitas seseorang yang berwujud kerja fisik dan pemikiran semata. Padahal, jika melihat sejarah keNabian, SDM berkualitas dilahirkan dari orang-orang yang mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.
Apakah sunnah Rasulullah SAW tersebut? Di antaranya adalah sholat wajib berjamaah, sholat dhuha, sholat tahajud, puasa sunnah (dan juga yang wajib), membaca dan menghafal Al Quran, i’tikaf, dan bersedekah. Di bulan Ramadhan, amalan-amalan sunnah tersebut akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah SWT. Maka para sahabat pun berusaha untuk melipatgandakan amalan tersebut, seperti khatam Quran berkali-kali dalam bulan Ramadhan serta melipatgandakan sedekah mereka.
Kesuksesan pelaksanaan Ramadhan ini tidak akan serta merta berdiri sendiri, akan tetapi ada pengiringnya. Seseorang akan bisa sukses di bulan Ramadhan jika ia melaksanakan berbagai amalan jauh sebelum Ramadhan sehingga sudah mengalami pembiasaan. Seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunnah dan senantiasa membaca Al Quran dengan rutin, maka di bulan Ramadhan ia akan lebih mendapatkan hasil yang maksimal.
Rasulullah SAW sendiri ketika menjelang Ramadhan meningkatkan amalan puasanya. “Sesungguhnya A’isyah berkata: “Tidak ada bulan yang Rasulullah SAW banyak melakukan puasa sunnah selain Sya’ban, sungguh beliau telah melakukan seluruh puasa sunnah di bulan Sya’ban” (HR Bukhari). Adapun sebab Rasulullah SAW memperbanyak amalan puasanya adalah, “Itulah bulan yang dilalaikan manusia yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan yang padanya amal perbuatan diangkat kepada Rabbul-’Aalamiin. Dan aku senang seandainya amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa” (HR An-Nasa’i).
Sementara di bulan Ramadhan, Rasulullah SAW meningkatkan pula amalannya. Bahkan tadarus Al Quran pun ditemani oleh malaikat Jibril. Dari Ibnu Abbas ra. Berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan kedermawanannya lebih lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus Al Quran. Sungguh Rasulullah SAW lebih murah hati melakukan kebaikan daripada angin yang berhembus”. (Shahih Al Bukhari).
Para sahabat selalu berusaha mengikuti amalan dan sunnah Rasulullah SAW tersebut karena mereka meyakini hal itu merupakan hal terbaik yang harus dilaksanakan. Hasilnya, kita bisa melihat bahwa sahabat yang dibina oleh Rasulullah SAW kelak menjadi orang-orang yang amanah dalam jabatannya, peduli dengan ummat dan senantiasa mengajak kebaikan dan berdakwah hingga ke berbagai tempat. Padahal sebelumnya, para sahabat itu ketika di masa jahiliyahnya banyak bergelimang dosa dan tidak memiliki kecakapan.
Di bulan Ramadhan, Rasulullah juga membina fisik para sahabatnya karena banyak peperangan dilakukan di bulan Ramadhan. Dan dengan izin Allah, peperangan yang dilakukan di bulan Ramadhan selalu beraih kemenangan. Ini juga akibat usaha mereka untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT baik dalam menjaga rohani dan jasmani serta pikiran.
Kita yang hidup saat ini pun bisa mencontoh pembinaan SDM yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Insya Allah, kita bisa menjadi SDM yang berkualitas dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW tersebut tanpa mengurangi kepiawaian kita di suatu bidang, bahkan justru meningkatkan kepiawaian kita. Ramadhan adalah tempat untuk meningkatkan amalan. Namun di luar Ramadhan, amalan tersebut harus senantiasa dilakukan agar terjaga konsistensinya. Inilah yang juga kita bisa lihat di dalam diri Rasulullah SAW dan para sahabat. (Agustus 2011)
- Puasa dan Takwa
Kita mungkin pernah melakukan sebuah perjalanan. Baik itu perjalanan yang memakan waktu pendek, maupun perjalanan yang membutuhkan waktu panjang, di dalam atau ke luar negeri. Tentu saja yang paling penting dalam melakukan perjalanan tersebut adalah persiapan. Makin jauh dan makin lama perjalanan yang akan dilakukan, makin banyak persiapan yang perlu dilakukan, makin banyak bekal yang harus dibawa. Sukses atau tidaknya perjalanan tersebut tergantung dari kematangan persiapan yang dilakukan.
Sebenarnya perjalanan paling panjang dalam kehidupan manusia adalah perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia pada hakikatnya hanyalah persiapan untuk perjalanan menuju kampung akhirat. Hidup di dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi adalah di kampung akhirat kelak. Seperti firman Allah dalam QS. Al Ankabut: 64; “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”
Karena itu jangan terlena dengan kesenangan di dunia, sebaliknya lakukanlah persiapan sebaik mungkin dan persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk hidup di akhirat kelak. Banyak orang berjuang mati-matian, tak peduli siang dan malam, untuk mengejar kehidupan dunia, namun mereka lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.
Takwa adalah bekal terbaik untuk perjalanan ke kampung akhirat. Seperti firman Allah dalam QS. 2:197; “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada Ku hai orang-orang yang berakal”.
Secara sederhana mereka yang mematuhi semua perintah Allah dan Nabi Muhammad SAW dan menghentikan semua larangan beliau disebut sebagai orang yang bertakwa (muttaqin). Dalam Al Quran dan hadits Allah dan Nabi Muhammad SAW telah menuntun manusia tentang apa yang boleh dan harus mereka lakukan (perintah) dan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan (larangan).
Proses untuk menjadi muttaqin kita lakukan dan kita latih setiap hari sepanjang hidup dengan melakukan berbagai ibadah dan kebaikan. Puncak latihan tersebut adalah pada bulan Ramadhan. Allah memberikan keistimewaan selama bulan Ramadhan dan memberikan imbalan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan disebut juga sebagai penghulu sekalian bulan. Al Quran diturunkan pada bulan ini, dan cuma pada bulan Ramadhan adanya malam Lailatul Qadar.
Dalam QS. Al Baqarah: 183 Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kamu bertakwa.” Di sini jelas ditegaskan bahwa tujuan bulan Ramadhan yang utama adalah menggembleng manusia agar menjadi umat yang bertakwa. Maka dalam waktu selama sebulan tersebut kita dilatih beribadah, yaitu melakukan perintah dan menghentikan larangan Allah dan Nabi Muhammad SAW, agar menjadi umat yang bertakwa.
Takwa juga merupakan solusi dalam kehidupan di dunia. Seperti firman Allah dalam QS. 65: 2 dan 3; “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya”.
Pada ayat 4 dan 5 surat yang sama Allah menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.
Tingkat keberhasilan seseorang menjalankan puasa selama bulan Ramadhan bisa diukur dari tingkat ketakwaan seseorang atau sejauh mana terjadi perubahan ketakwaan seseorang sebelum dan sesudah berpuasa selama bulan Ramadhan.
Mari kita manfaatkan bulan Ramadhan tahun ini untuk meningkatkan ketakwaan kita sebagai bekal perjalanan ke kampung akhirat kelak. Agar puasa tidak menjadi sia-sia, harus terlihat meningkatnya ketakwaan seseorang sebelum dan setelah berpuasa sebulan penuh. Semoga kita menjadi orang yang bertakwa, bahagia di dunia, juga bahagia di akhirat kelak. Amin. (Juli 2013)
| 68. Puasa dan Kejujuran
Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidakjujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia. Nabi Muhammad SAW pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, di akhir zaman, manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram (HR Muslim). Berbeda dengan sifat ibadah yang lain, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT. Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah SWT. Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT. Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran. Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya. Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat diselesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain. Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya. Mari kita jadikan ibadah puasa dan bulan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk melatih kejujuran bersama. Selamat menunaikan ibadah puasa. (Juli 2011) Puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam, juga umat sebelumnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah: 183). Di balik kewajiban, terdapat berbagai hikmah yang besar bagi mereka yang berpuasa, di antaranya adalah untuk menyehatkan mental dan mengendalikan hawa nafsu. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al Jaatsiyah: 23) Allah SWT telah meminta kita mengambil pelajaran dari orang-orang yang sudah mencapai tingkat mempertuhankan hawa nafsunya. Dan kita ketahui, bahwa akhir dari hal tersebut adalah kerusakan dan kehancuran di muka bumi. Puasa melatih kita menahan hawa nafsu, baik makan, minum dan juga hubungan suami istri di siang hari. Upaya melatih menahan makan, minum dan berhubungan tersebut adalah dalam rangka menyehatkan mental. Di samping itu menahan emosi juga merupakan bagian dari ajaran puasa yang sangat berguna menyehatkan mental. Dengan mengendalikan emosi, lapar, dan haus, maka tubuh kita akan disehatkan sehingga menyebabkan munculnya ketenangan dan juga kebahagiaan. Sementara memperturutkan hawa nafsu akan memunculkan kesengsaraan. Ini karena puasa merupakan bagian dari zikir kepada Allah SWT. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS Ar Ra’d: 28). Sebagai contoh kecil, setiap hari kita diperlihatkan dengan perilaku pengendara yang memperturutkan hawa nafsunya serta tidak bisa mengendalikan emosi. Mereka ingin cepat, tak mau mengalah meskipun seharusnya berhenti sebentar, sehingga terjadilah kecelakaan. Ini adalah gambaran ketidaktenangan jiwa. Akibatnya, tidak hanya mereka yang akan resah, akan tetapi orang lain akan merasakan dampaknya. Jika perintah agama dalam berpuasa dijalankan dengan benar dan menjadi kebiasaan, maka akan memberikan dampak positif bagi pelakunya. Dari segi kejiwaan, ia akan memperkuat rohani. Kemudian dari segi perilaku, ia akan memperbaiki akhlak pelakunya. Dari segi perbuatan, ia akan memperkuat amalan-amalan para pelakunya. Dan dari segi fisik, ia akan memperkuat tubuh karena ilmu kedokteran telah membuktikan banyaknya manfaat yang didapat dari berpuasa dan juga mengendalikan emosi. Allah SWT menyatakan bahwa puasa akan lebih baik bagi kita jika kita mengetahuinya. “…dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Puasa dan upaya mengendalikan hawa nafsu serta menahan emosi selain menyehatkan mental kita, juga memberi ketenangan di lingkungan. Sebagai masyarakat agamis, kita meyakini bahwa banyaknya maksiat yang merupakan upaya memperturutkan hawa nafsu akan menimbulkan keresahan di masyarakat. Sehingga masyarakat akan memberantas kemaksiatan yang terjadi di tempat mereka. Masyarakat ingin lingkungannya tenang agar mental mereka dan keluarganya sehat. Momentum puasa merupakan saat yang tepat untuk menyehatkan mental kita jika dilakukan dengan benar sesuai ajaran agama. Selamat menunaikan ibadah puasa, 1433H. (Juli 2012)
70. Meninggalkan Ramadhan Ada doa yang sudah menjadi kebiasaaan umum bagi umat Islam ketika hendak memasuki bulan Ramadhan. Allahumma bariklana fii rajaban wa sya’ban wa ballighnaa Ramadhan yang artinya “Ya Allah berikanlah berkah kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.” Doa ini menggambarkan bagaimana harap dan rindu kaum muslimin terhadap Ramadhan sehingga berharap diberikan hidup dan merasakan Ramadhan. Semangat menyambut Ramadhan oleh Rasulullah SAW digambarkan dalam perintah kepada umat Islam untuk mengisi bulan Rajab dan Sya’ban untuk persiapan bulan Ramadhan. Rasulullah SAW dan sahabat sangat gembira ketika memasuki bulan Ramadhan dan sedih ketika meninggalkan Ramadhan. Ketika di sepuluh hari terakhir Rasulullah melakukan iktikaf di masjid yang merupakan kegiatan ibadah yang berisi zikir dan ibadah lainnya. I’tikaf hanya dilakukan di masjid dan pelakunya tidak melaksanakan kegiatan lain di luar i’tikaf kecuali ada keperluan mendesak. Kegiatan iktikaf ini ingin menggambarkan bahwa Rasulullah SAW dan sahabat ingin meraih pahala di bulan Ramadhan sehingga tidak ingin Ramadhan berlalu begitu saja dan karenanya i’tikaf ini dipenuhi dengan ibadah. Dan kita sudah mengetahuinya tentang ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah SWT, terutama di malam kemuliaan atau lailatul qadar. Maka, ketika Ramadhan mencapai hari terakhir, para sahabat menangis dan sedih, mereka tidak tahu apakah masih bisa menjumpai Ramadhan di tahun berikutnya. Dan di waktu berikutnya, ketika bulan Rajab hendak masuk, muncullah doa agar diberikan keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta disampaikan kepada bulan Ramadhan. Sementara itu, yang terjadi pada hari ini berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan sahabat. Ketika memasuki Ramadhan, justru bawaan menjadi susah. Mesti bangun sahur. Harga bahan makanan membumbung tinggi, padahal ingin makan dan minum enak. Namun ada juga yang bersenang-senang dengan Ramadhan ini, mereka sudah menjadwalkan acara berbuka dengan makanan dan minuman yang lezat dan menyenangkan. Momen Ramadhan hanya dijadikan pengalihan waktu makan dan sedikit nuansa pesta. Di samping itu, ada yang di bulan Ramadhan justru menyiapkan untuk menyambut lebaran. Bulan Ramadhan tidak terperhatikan sama sekali, yang dipersiapkan justru untuk menyambut lebaran yang cuma satu hari, sementara waktu 30 hari yang disediakan Allah SWT dengan banyak manfaat tidak dihiraukan. Selain itu, ada juga yang melakukan kegiatan begadang, untuk menunggu sahur. Kegiatan yang dilakukan tidak terkait dengan ibadah yang dilakukan untuk mengisi Ramadhan, lebih terfokus kepada kesenangan semata. Dan, ada juga ketika Ramadhan sudah mencapai penghujung, justru bergembira karena sudah lepas beban selama satu bulan. Berbagai fenomena di atas bukanlah sesuatu yang dilarang, akan tetapi kegiatan tersebut secara siginfikan bisa mengurangi bahkan menghilangkan keberkahan Ramadhan. Jika menunggu sahur dengan menonton acara lawak di televisi, maka hilanglah acara shalat malam, padahal momen shalat malam di bulan Ramadhan sangat bernilai tinggi di hadapan Allah SWT. Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan ini diberikan balasan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik balasan dan mampu meraih kemuliaan malam lailatul qadar yang selalu dikejar oleh para pencinta Ramadhan. “Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS Al Qadr: 2-3). Semoga bulan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan yang penuh berkah dan magfirah bagi kita semua. Jika waktu sebulan penuh yang telah berlalu kita manfaatkan dan kita isi dengan ibadah secara bersungguh-sungguh, seperti janji Allah, kita akan kembali fitrah, seperti kain putih yang belum ternoda dan insyaAllah akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allahuakbar…. Allahuakbar walillah ilhamd….Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, minal aidhin walfaidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2011)
71. Merayakan Kemenangan Idul Fitri merupakan hari kemenangan yang patut disyukuri. Kemenangan itu adalah kemenangan bagi mereka yang berhasil melaksanakan ibadah puasa (shaum) dengan baik serta berhasil melakukan ibadah-ibadah lain yang disunatkan melaksanakannya selama bulan Ramadhan. Shaum (puasa) dalam arti bahasa adalah menahan dari sesuatu. Menurut Qadhi Al-Baidhawi seperti dikutip Rasyid Ridha, shaum adalah menahan diri dari dorongan nafsu. Sedangkan menurut syara, shaum adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri dari terbit fajar hingga matahari terbenam, untuk mencari keridhaan Allah (ihtisaban) dan mempersiapkan jiwa untuk meraih ketakwaan dengan menanamkan akhlak muraqabatullah (pengawasan Allah) dan mendidik jiwa dalam mengekang dorongan syahwat sehingga mampu meninggalkan semua hal yang haram (Tafsir Al-Manar, vol.2/114-115). “Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS;al-Baqarah:183) Kata kunci ibadah puasa adalah menahan hawa hafsu. Seperti pernah diungkapkan Nabi Muhammad SAW; Meski perang badar merupakan perang terbesar dalam sejarah Islam, namun masih ada lagi perang yang lebih besar dan lebih dahsyat, yaitu perang melawan hawa nafsu. Maka mereka yang menang dan adalah mereka yang berhasil mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu. Sudahkah kita termasuk yang meraih kemenangan dan berhasil kembali fitrah? Selain itu, dalam perspektif Islam, kebangkitan umat tidak melulu selalu dikaitkan dengan kesuksesan jihad fisik dan capaian pembangunan fisik serta sumber daya umat baik alam maupun manusianya. Karena itu setiap tahun, Allah sediakan Ramadhan sebagai madrasah bagi kaum beriman untuk memusatkan dirinya mengisi ulang (recharge) keimanan dan takwa sebagai sarana pembangunan karakter yang menjadi pusat kendali arah bagi pembangunan fisik dan sumber daya manusia muslim. Dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan umat muslim harus benar-benar fokus ke arah pencapaian tujuan ibadah tersebut yaitu “agar kamu bertakwa”. Kita tak boleh hanya berhenti sebatas menjaga aturan-aturan lahiriah puasa berupa larangan makan, minum dan berhubungan suami-istri dari pagi hingga sore hari. Namun, kita harus berupaya maksimal mewujudkan tujuan-tujuan disyariatkannya (maqasid syariah) ibadah puasa tersebut yang disimpulkan dalam kalimat “la’allakum tattaqun”. Karena itu jika ada orang yang melaksanakan puasa di siang hari, namun melampiaskan hawa nafsunya di saat berbuka, maka sikap itu tentu tidak sesuai dengan makna puasa, yaitu melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu. Begitu juga mereka yang telah melaksanakan puasa sebulan penuh, lalu berpesta pora dan pamer kemewahan saat Idul Fitri. Hikmah yang mereka peroleh hanya sekedar lapar dan dahaga. Karena itu Nabi dan para sahabat selalu bersedih saat berpisah dengan Ramadhan dan mereka berdoa agar diberikan lagi kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk melatih dan memperbaiki kualitas diri serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan juga merupakan kesempatan memperoleh ampunan dan pahala yang berlipat ganda. Selamat merayakan Idul Fitri 1432 H, moga kita termasuk orang-orang yang menang, kembali fitrah dan berhasil meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Jika tahun ini belum berhasil, insya Allah tahun-tahun berikutnya kita perbaiki dan kita tingkatkan lagi. Allahu Akbar … Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walilla Ilhamd… (Agustus 2012)
72. Indahnya Saling Memaafkan
Siapa yang berani mengaku bahwa dirinya tak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan? Pasti tak ada satupun. Jika ada yang berani mengaku bahwa tidak pernah khilaf dan tak pernah melakukan kesalahan, pasti ia keliru. Salah dan khilaf adalah sifat alamiah dasar manusia, tak ada manusia yang luput dari khilaf dan berbuat kesalahan. Atasan bisa saja melakukan kesalahan terhadap bawahannya atau sebaliknya. Yang tua suatu saat juga bisa melakukan kesalahan terhadap yang muda. Ayah terhadap anak, suami terhadap istri atau sebaliknya, semua berpeluang melakukan kesalahan. Kesalahan itu bisa jadi disengaja, maupun tidak disengaja. Peristiwa itu bisa menimbulkan kesalahpahaman, kesal, sakit hati bahkan dendam. Dendam dan sakit hati seperti yang sering saya sampaikan, bisa menghantui pikiran atau menjadi virus dalam pikiran. Makin lama makin banyak menumpuk bahkan berkembang biak di pikiran. Akhirnya seperti sebuah komputer yang terserang virus, suatu saat komputer tersebut hang (mogok bekerja), diam, tak dapat berbuat apa-apa. Pada manusia jika pikirannya hang, ia dikatakan mengalami gangguan jiwa. Karena itu jika seseorang melakukan kesalahan terhadap kita, cepat-cepat maafkan dia, jangan simpan di pikiran, apalagi dalam bentuk dendam dan sakit hati. Sebaliknya jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain, maka segeralah meminta maaf. Seperti firman Allah dan QS. An-Nur: 22, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Banyak orang mengatakan meminta maaf adalah pekerjaan yang paling mudah namun paling berat untuk dilakukan. Jika hal itu terjadi pada kita, maka Idul Fitri lah momennya. Idul Fitri merupakan kesempatan yang paling tepat untuk minta maaf dan saling memaafkan. Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meminta maaf atas semua kesalahannya dan saling memaafkan di saat Idul Fitri. Karena itu mari kita manfaatkan hari yang fitri ini untuk meminta maaf dan saling memaafkan atas semua salah dan khilaf yang kita lakukan, maupun yang dilakukan orang lain terhadap kita. Mari lupakan kesalahan-kesalahan di masa lalu, kita mulai hari baru dengan janji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu dan berbuat yang lebih baik dan lebih hati-hati di masa datang. Memaafkan terlebih dahulu adalah sikap terbaik. Sesungguhnya balasan bagi orang yang memaafkan dengan ikhlas adalah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman yg artinya “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syuuraa: 40) Mari saling bermaaf-maafan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H. Minal Aidhin wal faidhin, mohon maaf lahir dan bathin. (Agustus 2012)
73. 5 Koreksi Selama Berpuasa
Kita bersyukur kehadiran bulan Ramadhan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Indonesia umumnya dan Sumatera Barat pada khususnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu terlihat peningkatan aktifitas masyarakat dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Mesjid dan mushalla penuh sesak oleh jamaah, tak kalah pasar dan pusat-pusat perbelanjaan ramai diserbu pembeli. Disadari atau tidak, ada 5 kesalahan yang kita lakukan selama melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kesalahan tersebut dilakukan banyak orang dan anehnya kesalahan itu dianggap sebagai kebiasaan dan kesalahan yang wajar-wajar saja. Padahal kesalahan tersebut menyangkut hal yang prinsip dan cukup fatal. Kesalahan-kesalahan yang perlu di koreksi itu adalah; 1. Makan berlebihan. Karena berpuasa seharian di siang hari, sering kita seperti orang balas dendam di saat berbuka puasa. Bahkan kadang kala seperti orang kerasukan setan, makan cepat-cepat dan seperti ingin memakan semua makanan yang ada sekaligus. Akibatnya, sehabis makan sangat kekenyangan, bahkan untuk berdiri pun sudah susah, perut terasa sakit dan tidak nyaman akibat kekenyangan. Memang lumrah terjadi, di saat perut kosong semua makanan terlihat enak dan menggoda. Akibatnya keinginan untuk membeli menjadi sangat besar. Semua ingin dibeli dan semua ingin dimakan. Padahal ternyata makanan tersebut tidak seenak yang kita bayangkan di saat perut lapar. Seringkali makanan yang kita beli tersebut tidak termakan, mubazir dan bersisa saat berbuka puasa. Bukankah puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama menahan haus dan lapar? Kesalahan seperti ini banyak terjadi dan masih banyak terjadi hingga saat ini. 2. Berkurangnya intensitas kerja. Di saat berpuasa kita sering mengalami pengurangan semangat kerja. Bahkan ada yang betul-betul kehilangan semangat kerja, loyo, sehingga lebih banyak tidur sepanjang hari. Pada hal Nabi Muhammad SAW mencontohkan bahwa banyak peperangan di zaman Nabi dilakukan saat bulan Ramadhan. Aktifitas Nabi dan para sahabat tidak berkurang di bulan Ramadhan. Puasa seharusnya tidak menghalangi aktifitas pekerjaan. Bagi yang tidak terbiasa puasa, memang terasa berat. Namun bagi yang sudah terbiasa puasa, puasa tak terasa berat dan bukanlah penghalang untuk melakukan aktifitas kerja. Karena itu kita dianjurkan untuk melakukan berbagai puasa sunat sebagai latihan dan persiapan menjelang Ramadhan. Dengan demikian puasa di bulan Ramadhan tidak terasa berat dan tidak membuat semangat kerja menjadi hilang. 3. Nafsu belanja meningkat. Fenomena ini juga sangat terlihat menonjol di bulan Ramadhan. Seperti diuraikan di atas, dalam kedaan perut kosong (berpuasa), kita cenderung belanja makanan secara berlebihan, semua kelihatan serba enak dan ingin dibeli. Fenomena lainnya yang membuat nafsu belanja meningkat adalah kita ingin tampil serba baru dan wah. Perabotan rumah diganti dengan yang serba baru, rumah direnovasi agar tampil beda, kendaraan baru diupayakan, apalagi pakaian dan makanan, dicari yang serba enak dan mahal. Jika hal ini dilakukan dengan niat untuk memuliakan Ramadhan dan sesuai dengan kemampuan kita, tentu tidak jadi masalah. Namun jika dilakukan dengan niat untuk pamer (ria), sekedar jaga gengsi, tentu saja hal ini tidak benar dan perlu dikoreksi. Banyak peristiwa kriminalitas seperti pencurian, perampokan terjadi di bulan Ramadhan, terutama menjelang lebaran. Lucunya, alasan mereka adalah memenuhi kebutuhan (pamer?) di hari lebaran. 4. Kurang membaca Al Quran. Pada bulan Ramadhan kita dianjurkan memperbanyak membaca Quran. Karena itu bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan Syahrul Quran. Al Quran sendiri diturunkan pertama kali di bulan Ramadhan. Kita sering beranggapan bahwa aktifitas bulan Ramadhan selesai dengan berpuasa di siang hari. Padahal mengisi Ramadhan dengan membaca Al Quran (tadarus), termasuk qiyamullail (shalat malam) juga sangat penting dan besar nilainya. 5. Lalai di 10 hari terakhir. Kesalahan lainnya yang juga perlu dikoreksi adalah kebiasaan kita yang disibukkan dengan menyiapkan kue, pakaian, mengecat rumah, dll di 10 hari terakhir Ramadhan. Akibatnya mesjid umumnya sepi di 10 hari terakhir, kegiatan ibadah di mesjid seperti terbaikan. Pada hal Allah mengatakan malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, itu diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan. Bukankah kita rugi besar jika peristiwa itu terlewatkan begitu saja dengan alasan sibuk menyiapkan kue lebaran? Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melakukan 5 kesalahan utama di bulan Ramadhan tersebut. Jika iya, semoga tahun depan kita masih bertemu dengan bulan Ramadhan lagi tahun depan dan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. Amin. (Agustus 2013)
74. Haji dan Kemampuan Finansial Syarat jika mampu menghendaki adanya kemampuan fisik dan keuangan. Mengapa harus memiliki kemampuan fisik? Karena ibadah haji adalah ibadah fisik. Tawaf, sa’i, jumroh, shalat di masjid dan wukuf, semuanya membutuhkan kebugaran fisik agar bisa berjalan lancar dan tertib. Namun di samping kemampuan fisik, dibutuhkan kemampuan keuangan (finansial) untuk keperluan transportasi, penginapan, dan akomodasi selama menunaikan ibadah haji. Maka jika secara fisik sudah mampu, masalah keuangan juga harus dipenuhi. Ketika berada bersama jamaah haji asal Sumbar beberapa waktu lalu, penulis banyak berbincang dengan para jamaah. Mereka berasal dari beragam latar belakang pekerjaan dan profesi. Tentunya, mereka sudah memiliki kemampuan keuangan sehingga menunaikan ibadah haji. Di antara jemaah itu, ada yang bisa menunaikan ibadah haji setelah mengumpulkan uang dalam waktu yang cukup lama. Mereka umumnya adalah para pekerja dengan beragam profesi yang menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit. Ada juga jamaah haji yang tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk menunaikan ibadah haji. Yang termasuk kategori ini adalah para pengusaha. Namun ternyata ada juga para petani. Setelah berbicara lebih jauh, para petani ini rupanya tidak hanya mengolah sawah. Mereka juga melakukan pekerjaan lainnya seperti beternak ikan, menanam cokelat, kelapa sawit, berkebun dengan memanfaatkan lahan mereka serta ada juga yang memelihara sapi. Ternyata, para petani yang sumber pendapatannya tidak dari satu tempat saja terlihat lebih sejahtera sehingga untuk menunaikan ibadah haji mereka bisa lebih cepat mengumpulkan dana. Penulispun tidak menemukan petani yang hanya bersawah saja untuk kelompok jamaah yang dalam waktu tidak terlalu lama bisa menunaikan ibadah haji. Dengan melakukan bebeberapa usaha sekaligus, sumber pendapatan petani tersebut mampu menaikkan tingkat kesejahteraannya dengan lebih cepat dibanding hanya dengan bersawah saja. Hal ini juga menjelaskan, bagi para petani yang memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji, maka sebaiknya memiliki beberapa usaha agar sumber pendapatan mereka lebih dari satu sehingga bisa mempercepat naiknya tingkat kesejahteraan mereka. Kenaikan tingkat kesejahteraan petani ini mempercepat usaha mereka dalam mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji. Hal ini merupakan jawaban bagi para petani yang menginginkan menunaikan ibadah haji. Dengan mengikuti jejak para petani yang memiliki lebih dari satu usaha, insya Allah keinginan menunaikan ibadah haji akan lebih cepat terwujud. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Ar Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Kita doakan, semoga para petani yang ingin menunaikan ibadah haji dimampukan oleh Allah SWT dengan sebaik-baik kemampuan. (Desember 2011)
75. Haji dan Persatuan Ibadah haji mempertemukan umat Islam dari berbagai belahan dunia dengan berbagai perbedaan. Ada yang berkulit hitam, sawo matang, putih, kuning dan lain-lain. Demikian pula dengan rambut dan fisik (berbadan besar, sedang maupun kecil). Allah SWT ciptakan mereka agar saling kenal. Dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 Allah SWT befirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Perbedaan suku, bangsa, bahasa, budaya, lingkungan dan lainnya akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam menjalankan ajaran Islam. Adanya perbedaan di antara umat Islam itu merupakan keniscayaan. Sehingga ketika terjadi pertikaian karena adanya perbedaan ini maka kita sandarkan kepada aturan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” Ketika menunaikan ibadah haji, penulis melihat beragam gerakan yang berbeda dari berbagai latar belakang jamaah ketika menunaikan sholat. Setelah takbir, tangan mereka ada yang bersedekap dan ada juga yang dibiarkan ke bawah. Cara bersedekap pun beragam. Ada yang di dada, di perut, di pinggang maupun sedikit turun dari perut. Bersedekap di perut pun beragam. Ada yang kedua telapak tangannya di tengah, ada yang di pinggang sebelah kiri dan juga di sebelah kanan. Demikian pula dengan gerakan-gerakan lain dalam pelaksanaan rukun dan wajib haji. Penulis melihat bahwasanya berbagai perbedaan itu masih berada pada tataran yang bukan prinsip. Perbedaan tersebut tidak perlu dipertajam, bahkan semestinya saling menghargai. Ibadah haji telah mengajarkan dengan cepat kepada umat Islam yang menunaikannya bahwa perbedaan itu merupakan sebuah hal yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan. Dengan berbagai perbedaan tersebut, umat Islam diminta untuk mencari kesamaan dan menghargai perbedaan di antara mereka. Ibadah haji seolah ingin memberitahukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu, menghargai perbedaan dan jangan berpecah belah. Kemuliaan hanya bisa diperoleh dengan persatuan yang dibingkai dengan iman dan takwa. Dalam surat Al Hujurat ayat 13 disebutkan bahwa yang paling mulia di antara kaum muslimin adalah yang paling takwa. Di samping itu, ibadah haji juga mengajarkan bahwa Islam sudah disempurnakan sebagai agama bagi umat Nabi Muhammad SAW yaitu ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah sewaktu wukuf di Arafah. Di antaranya beliau membacakan surat Al Maidah ayat 3 yaitu, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” Maka, haji bisa disebut sebagai puncak pelaksanaan rukun Islam yang mengajarkan persatuan karena jamaah haji akan menemui dan berinteraksi dengan manusia yang memiliki perbedaan. Di samping itu, puncak haji, wukuf di Arafah yang dihadiri oleh manusia yang berbeda suku bangsa adalah untuk mengingat akan khutbah Nabi Muhammad SAW tentang kesempurnaan Islam. Umat Islam dengan beragam suku bangsa yang melakukan wukuf diajak untuk mensyukuri ajaran Islam yang sempurna. Ini merupakan pelajaran dari Allah SWT agar umat Islam bersatu ketika mendapati diri mereka ternyata terdiri dari beragam suku bangsa yang ada di dunia. Maka, bagi kita yang sudah melaksanakan ibadah haji, ajaklah umat Islam untuk bersatu dengan tetap menghargai perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya, itu adalah salah satu pesan yang tersirat sewaktu menunaikan ibadah haji. (Desember 2011)
76. Agar Hidup Bisa Nyaman Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang membuat kita merasa tidak nyaman. Di perkotaan misalnya, kian hari lalu-lintas makin padat. Akibatnya kemacetan terjadi di banyak tempat. Dulu, perjalanan Padang – Bukittinggi bisa di tempuh dalam waktu 2 jam, kini memakan waktu 3 bahkan sampai 5 jam. Tidak hanya itu, angka kecelakaan lalu lintas juga meningkat. Di musim hujan seperti saat ini kita segera menjadi was-was dan cemas. Curah hujan yang deras dan berdurasi panjang, biasanya akan diikuti dengan berbagai bencana. Bisa jadi berupa banjir, galodo, atau longsor seperti yang terjadi di Lembah Anai baru-baru ini atau sejumlah kejadian lainnya di masa lalu. Wilayah Sumatera Barat memang memiliki karakteristik yang unik. Daerah ini terdiri dari banyak gunung, bukit-bukit, lembah, sungai, dan laut. Sumbar juga memiliki lahan-lahan, daerah pertanian yang subur. Hal ini menyebabkan Sumatera Barat memiliki pemandangan alam dan panorama yang indah. Banyak orang terpesona dengan panorama alam Sumatera Barat dan menjuluki daerah ini sebagai jannah (surga). Namun dibalik keindahan panorama alam tersebut tersimpan potensi ancaman. Topografi wilayah Sumatera Barat yang terbentuk oleh gunung, bukit dan lembah tersebut memiliki kemiringan sedang hingga sangat ekstrim. Karena itu wilayah Sumatera Barat harus ditangani secara khusus dan ekstra hati-hati agar potensi alam yang berlimpah yang seharusnya memberi manfaat kepada masyarakatnya, tidak berbalik menimbulkan mudarat kepada masyarakat. Bentang alam wilayah Sumatera Barat yang berbukit-bukit, subur dan memiliki banyak sungai membuat masyarakat bisa melakukan berbagai kegiatan pertanian. Masyarakat membuat sawah berjenjang-jenjang mengikuti topografi lahan dan bentang alam. Hal ini membuat makin indahnya pemandangan, sekaligus efisiensi biaya. Dengan pola ini petani tidak perlu memompa air dari dalam tanah untuk menyiram tanaman, atau menyiram tanaman menggunakan mesin-mesin pompa air atau helikopter seperti yang dilakukan di negara lain. Cukup menggunakan grafitasi, mengikuti aliran air, biarkan alam yang menyiramnya secara gratis. Namun jika tidak berhati-hati dan ditata secara baik, potensi yang berlimpah tersebut bisa berubah menjadi bencana. Hal ini telah pernah kita alami dan telah terjadi di beberapa tempat. Galodo, banjir, longsor, telah pernah sama-sama kita rasakan. Kondisi cuaca yang ekstrim saat ini membuat kita makin waspada dan ekstra hati hati. Potensi alam dan sumberdaya manusia memang sering seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dia bisa membuat manusia menjadi senang dan sejahtera, namun jika tidak pandai mengelola dan memanfaatkannya justru berubah menjadi bencana. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat misalnya bisa membuat masyarakat lebih nyaman, bisa beli motor, mobil, membuat villa atau membuka usaha baru. Namun karena terlalu banyak mobil, jalan menjadi macet, menimbulkan kecelakaan yang pada akhirnya menyebabkan ketidak nyamanan. Pembukaan dan penggunaan lahan yang tidak benar justru bisa menimbulkan bencana. Begitu juga ekploitasi sumber daya alam secara tidak benar dapat menimbulkan kehancuran sumberdaya alam. Karena itu Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama DPRD dan masyarakat telah menyusun Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2013 tentang rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat tahun 2012 – 2032. Dalam peraturan setebal 179 halaman ini telah diatur tatacara penggunaan ruang dan wilayah propinsi Sumatera Barat serta sumber daya alamnya. Penggunaan ruang dan wilayah di Sumatera Barat yang benar dan baik bisa mengacu pada peraturan tersebut. Tentu saja sebanyak apapun aturan dibuat dan sebaik apapun aturan tersebut, tak kan ada gunanya jika masyarakat bersama aparat pemerintah tidak melaksanakannya. Mari kita tata lingkungan kita secara baik, kita manfaatkan potensi alam kita secara bijaksana agar kita bisa hidup nyaman dan alam kita yang elok dan kaya tetap terjaga kelestariannya sampai ke anak cucu kita kelak. (Desember 2013)
77. Jodoh
Air mata saya nyaris menetes saat Goval, ST berhasil mengucapkan lafaz ijab kabul pada acara pernikahannya dengan Febrianti, AMD di Lubuk Kilangan pekan lalu. Puluhan sanak- keluarga dan undangan yang hadir saat itu juga demikian, mata mereka terlihat berkaca-kaca. Kata-kata terakhir yang diucapkan Goval langsung disambut dengan ucapan “sah..!” oleh hadirin dan ditimpali dengan tepuk tangan dalam suasana gembira bercampur haru.
Pernikahan pasangan ini memang sangat istimewa. Mempelai pria, Goval, ST, lulusan Fakultas Teknik Unand adalah tuna rungu dan tuna wicara, begitu juga pengantin wanita Febrianti, AMD, lulusan jurusan Tata Busana Universitas Negeri Padang (UNP). Mereka sama-sama tuna rungu dan tuna wicara. Saya menghadiri acara tersebut sebagai saksi. Awalnya tak ada yang terlihat istimewa. Mempelai pria nampak normal bahkan bisa dikategorikan tampan, berkulit putih dan kalem. Begitu juga mempelai wanita, terlihat cantik dan anggun. Keduanya dibalut pakaian putih-putih plus beberapa pernik asesoris. Meski simpel, namun terlihat pas dan serasi sekali dengan wajah dan postur tubuh mereka. Konon busana keduanya Febrianti sendiri yang merancang dan menjahitnya. Tak percuma ia menekuni jurusan tata busana dan memperoleh indeks prestasi komulatif (IPK) 3,5 di UNP. Meski hanya terdiri dari beberapa penggal kalimat, namun sangat sulit bagi Goval untuk melafazkan kata-kata ijab kabul yang sakral di hari yang bersejarah tersebut. Dengan bersusah payah ia mencoba mengeja kata-kata tersebut. Meski terdengar sengau dan tidak jelas, tidak seperti orang normal berbicara, namun ucapan Goval bisa dipahami. Saksi dan hadirin lalu memvonis ucapan Goval dengan kata “sah!.” Alhamdulillah, akhirnya selesailah prosesi pernikahan yang istimewa tersebut. Goval dan Febrianti sudah saling mengenal sejak duduk di bangku Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun keduanya terpisah setelah memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK). Namun sejak awal keduanya telah menunjukkan prestasi di sekolah masing-masing, meski mereka memiliki keterbatasan, yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Mereka juga memperlihatkan kemauan dan semangat juang serta keseriusan yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan. Berhasil menyelesaikan studi mereka di tingkat SLTA dengan nilai memuaskan, Goval melanjutkan studi di Fakultas Teknik Unand, sedangkan Febrianti melanjutkan studi di Jurusan Tata Busana UNP. Kerja keras dan kegigihan mereka kembali berbuah manis. Pendidikan di tingkat perguruan tinggi pun akhirnya bisa mereka selesaikan, Goval berhak menyandang gelar ST dan Febrianti berhak menyandang gelar AMD. Mungkin itulah yang dinamakan jodoh. Goval dan Febrianti menemukan jodoh yang serasi dan terbaik untuk mereka, yang lelaki tampan, wanitanya cantik. Mereka sama-sama pintar dan pekerja keras, sekaligus mereka sama-sama memiliki kelemahan dan kekurangan. Subhanallah, hanya Allah yang tahu hikmah dan rahasia di balik peristiwa ini. Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing. Seseorang biasanya memiliki jodoh yang serasi untuknya. Seorang pangeran biasanya berjodoh dengan seorang putri , bangsawan berjodoh dengan bangsawan, pegawai dengan pegawai, pemulung dengan pemulung, pengemis dengan pengemis dan seterusnya. Tapi suatu saat bisa juga terjadi diluar pakem (kebiasaan) di atas. Kiita tidak tahu skrenario dan hikmah apa yang sedang dijalankan Tuhan di balik peristiwa itu. Namun yang pasti tentu kita harus meneliti terlebih dulu calon istri atau suami, apakah dia memang cocok untuk kita dan apakah ia memang jodoh yang cocok untuk kita. Jika sudah diputuskan, maka terimalah dia apa adanya. Di luar sana memang banyak lelaki yang tampan atau wanita yang cantik, tetapi jika bukan jodoh kita, apa mau dikata? Tidak ada manusia yang sempurna, masing-masing punya kelemahan dan kekurangan, masing-masing juga memiliki kelebihan dan keistimewaan. Jika sudah menjadi suami dan istri kita, maka terima dan pahami kekurangan dan kelemahannya tersebut, hargai semua kelebihan yang ia miliki. Saat dinikahi mungkin dia cantik, langsing dan terlihat segar. Namun setelah beberapa tahun menikah dan punya anak, istri mulai terlihat tak cantik lagi. Tubuhnya mulai tambun, wajahnya mulai keriput dan kurang menarik. Bagaimanapun ia tetap istri kita, pilihan dan jodoh kita yang harus kita terima apa adanya. Mungkin dia tak pandai berdandan misalnya, tetapi ia pintar memasak, pandai mengurus rumah tangga. Hargai kelebihannya tersebut, maklumi dan terima apa adanya semua kelemahannya. Jika kita selalu bersyukur, saling menghargai dalam rumah tangga, insya Allah akan tercipta keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Pengamalan Goval dan Febrianti juga membuktikan, jika mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh, insya Allah semua yang diinginkan bisa tercapai dan sukses, meski memiliki keterbatasan sekalipun. Allah akan memberikan jodoh yang terbaik bagi orang yang terbaik pula. Insya Allah. (Februari 2014)
78. Mengubah Mindset Berpuasa
Kita tentu pernah mendengar dialog sebagai berikut : “Kenapa telat masuk kantor Pak, Buk?”. Jawabannya: “Maklum Pak, ini kan bulan puasa.” Hal seperti ini lumrah dan sering kita dengar. Telat masuk kantor, telat ke sekolah, kesiangan dan berbagai aktifitas tertunda dengan alasan bulan puasa atau sedang berpuasa. Puasa dijadikan alasan (kambing hitam?) untuk menutup dan melegalkan berbagai kesalahan. Puasa seolah-olah menjadi sebuah alasan yang legal yang bisa diterima semua orang atas semua tindakan kontra produktif yang kita lakukan. Tindakan-tindakan itu di antaranya adalah, 1. Terlambat masuk kerja atau terlambat ke sekolah bagi pelajar dan mahasiswa, 2. Tidur berlebihan, sehingga sebagian besar waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif menjadi berkurang, 3. Tak bertenaga alias loyo, sehingga terkesan cenderung bermalas-malasan. Semua kondisi itu dilegalkan dengan alasan sedang berpuasa. Namun kalau kita lihat kisah perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat beliau, tidak ada alasan bahwa puasa membuat aktifitas beliau menjadi terhambat. Juga tidak ada keterangan bahwa waktu di bulan puasa digunakan untuk bersantai-santai. Keterangan yang ada adalah bahwa pada bulan Ramadhan Nabi dan para sahabat memperbanyak kegiatan ibadah, tadarus, shalat malam dan iktikaf. Kegiatan rutin sehari-hari berjalan seperti biasa. Malah banyak peristiwa-peristiwa penting dan bersejarah terjadi di bulan Ramadhan. Perang Badar misalnya, perang pertama di zaman Rasulullah ini terjadi pada hari Jumat tanggal 2 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang ini melibatkan tentara Islam sebanyak 313 orang berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin Makkah yang bersenjata lengkap. Namun, dengan izin Tuhan, perang ini berhasil dimenangkan oleh laskar Islam. Padahal saat itu Nabi beserta seluruh pasukan sedang berpuasa. Bisa kita bayangkan betapa beratnya perjuangan Nabi saat itu, dalam keadaan berpuasa, berperang di gurun pasir yang tandus di bawah terik matahari. Banyak peristiwa peristiwa-peristiwa bersejarah lainnya yang kadangkala sulit diterima akal, justru terjadi di bulan Ramadhan. Khalid Bin Walid menaklukkan kota Mekah dan menghancurkan patung Al Uzza yang saat itu dipuja sebagai Tuhan oleh masyarakat Jahiliah terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 H. Islam masuk ke Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 H, begitu juga masuknya Islam ke Spanyol, Andalusia, Portugal dan Mongol, semua terjadi di Bulan Ramadhan. Al Quran juga diturunkan di bulan Ramadhan. Lalu kenapa kita merasa lemas dan loyo di saat berpuasa di bulan Ramadhan? Jawabannya, kita tidak berusaha mengubah mind set. Rasa lapar itu berasal dari pikiran kita, dari kebiasaan kita, terbiasa makan setiap pagi dan siang. Padahal kalau ditinjau dari aspek kesehatan, masih tetap tersedia energi dalam tubuh kita untuk melakukan aktifitas sehari-hari, meski sedang berpuasa. Energi yang berasal dari makan (berbuka) malam bisa digunakan untuk melakukan aktifitas dari pagi sampai siang. Sedangkan energi yang berasal dari makan sahur bisa digunakan untuk beraktifitas dari siang hingga menjelang berbuka. Sudah banyak analisa ahli kesehatan menyatakan dan menemukan fakta, bahwa berpuasa itu adalah baik untuk kesehatan. Aspek pikiran bisa juga dibuktikan, jika kita asyik melakukan pekerjaan atau melakukan sesuatu di saat berpuasa siang hari, tanpa kita sadari, sore hari telah terlewati, tanpa merasa lapar dan lelah. Ini adalah bukti bahwa rasa lapar dan lelah itu berasal dari pikiran, jika pikiran bisa dialihkan dan puasa dilakukan karena ikhlas, maka rasa lelah, lapar dan loyo tidak akan muncul. Biasanya setelah melewati hari ke-10 Ramadhan, puasa tidak terasa berat lagi, kita sudah menjadi terbiasa. Apalagi bagi mereka yang terbiasa puasa Senin dan Kamis di bulan-bulan selain Ramadhan, lelah dan lapar saat berpuasa makin tak terasa. Niat dan keikhlasan juga penting dalam berpuasa. Ada yang berpuasa karena anak-anak, istri dan keluarga di rumah semua berpuasa, ia terpaksa ikut berpuasa karena malu ketahuan tidak puasa. Juga ada yang terpaksa berpuasa karena toh sulit mencari tempat makan siang, karena selama bulan puasa, warung makan tutup semua. Bagi mereka yang termasuk kelompok ini tentu berpuasa sangat sangat menyiksa baginya dan membuat ia sangat lelah, letih dan loyo. Karena itu mari kita ubah mind set dalam melaksanakan puasa tahun ini serta perbaiki niat dan keikhlasan berpuasa. Bulan puasa bukanlah alasan untuk mengurangi aktifitas, malah merupakan bulan rahmat dimana doa dan upaya kita diberkati oleh Allah. Bukankah Allah berjanji akan membukakan pintu berkahnya seluas-luasnya di bulan Ramadhan? Bukankah rahmat kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 juga diberikan disaat bulan Ramadhan? Jadi tidak ada alasan bermalas-malasan, memperbanyak tidur, lelah dan loyo karena berpuasa di bulan Ramadhan. Sekolah, bekerja, berusaha, mengurus rumah tangga, jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah, semuanya akan menjadi ibadah, diberkati dan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah selama bulan Ramadhan. Tentu akan sangat rugi kita jika kesempatan itu disia-siakan. Selamat menunaikan ibadah puasa tahun 1435 H, semoga kita semua bisa memanfaatkan momen puasa tahun ini sebaik-baiknya, kembali fitrah serta mendapat limpahan berkah yang sebesar-besarnya dari Allah SWT. Amin. (Juni 2014)
79. Puasa Kunci Mencapai Sukses Jika kita ajukan pertanyaan, “ Siapa yang ingin jadi orang sukses dan bahagia?” Tentulah semua orang akan mengacungkan tangan. Menjadi orang sukses, hidup bahagia, rukun dan damai tentulah merupakan keinginan dan cita-cita semua umat manusia. Siapa yang tak ingin sukses dan bahagia? Jika ada yang tidak ingin sukses dan bahagia, mungkin ada kelainan dalam diri orang tersebut. Namun dalam kenyataannya tak banyak orang yang berhasil mencapai sukses dalam hidupnya. Banyak orang hidup dalam kondisi biasa-biasa saja, tak banyak kemajuan yang dicapai dari waktu ke waktu. Meski sudah panjang perjalanan hidupnya dan sudah banyak umur yang sudah dihabiskan, hidupnya tetap tak berubah dari tahun ke tahun. Kata-kata bahagia pun sangat jauh dari kehidupannya. Segala cara dan upaya telah dilakukan untuk menggapai sukses. Kerja keras membanting tulang, tak kenal lelah siang dan malam pun telah dilakukan, namun tetap saja sukses itu tak mampu mereka capai, begitu juga bahagia. Apalagi bagi mereka yang tak sudi bekerja keras dan berupaya dengan sungguh-sungguh, tentu sukses dan bahagia itu makin jauh darinya. Namun ada juga sejumlah orang yang semua urusan dan pekerjaan bisa ia selesaikan dengan baik. Setiap kali ia menemukan hambatan dan jalan buntu, tiba-tiba saja muncul jalan keluar dan solusi dari persoalan yang sedang ia hadapi. Karirnya melejit dengan cepat, ia pun menjelma menjadi orang sukses. Selanjutnya karena sukses itu ia syukuri dan amanah ia jalankan sesuai perintah Allah, hidup bahagia, rukun dan damai pun menjadi miliknya. Allah juga telah menyiapkan surga baginya untuk kehidupan di akhirat kelak. Subhanallah… Hal seperti ini sudah merupakan sunnatullah. Pepatah Arab mengatakan man jad da wa jada, siapa yang sungguh-sungguh pasti berhasil. Dalam surat Ath Thaalaq ayat 2 Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” Selanjutnya dalam pada ayat 4 surat yang sama Allah lebih menegaskan lagi, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” Jadi bisa kita simpulkan bahwa hanya orang yang bekerja dengan bersungguh-sungguh yang bisa berhasil. Orang yang bersungguh-sungguh dan bertakwa akan menjadi orang sukses karena diberikan Allah berbabagi jalan keluar dari masalahnya serta kemudahan dalam semua urusannya, seperti janji Allah dalam surat Ath Thalaaq. Bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk menggembleng ummat menjadi orang-orang yang bertakwa. Seperti firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Jadi, jika ingin menjadi orang bertakwa, maka bulan Ramadhan lah momen yang paling tepat untuk melatihnya. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bisa kita ambil kesimpulan, jika ingin menjadi orang sukses maka ada dua kata kuncinya, yaitu bekerja dengan bersungguh-sungguh dan bertakwa. Untuk menjadi orang yang bertakwa, salan satu jalannya adalah dengan menjalankan ibadah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Mudah bukan? Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun 1435 H. Mari kita bulatkan tekad agar di akhir Ramadhan ini keluar sebagai pemenang, menjadi orang-orang yang bertakwa (muttaqin) dan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Insya Allah kita akan menjadi orang-orang yang sukses, sejahtera, bahagia dunia dan akhirat. Amin. (Juli 2014)
80. Rasul Sebagai Model
Setiap orang punya idola atau tokoh panutan masing-masing. Ada orang yang memilih Bung Hatta sebagai tokoh idolanya, ada pula yang menjadikan Michael Jackson sebagai tokoh idolanya. Ada beragam latar belakang profesi tokoh yang dijadikan idola. Bisa jadi ia seorang artis, tokoh politik atau olahragawan, seperti pesepakbola, petinju, dan lain-lain. Biasanya jika seseorang yang mengidolakan seorang tokoh, maka ia akan berusaha meniru gaya dan tingkah laku tokoh tersebut. Seseorang yang mengidolakan Michael Jackson akan meniru gaya tokoh tersebut. Baik cara ia berpakaian, cara ia bernyanyi dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Begitu juga jika mereka yang mengidolakan Messi atau Ronaldo, misalnya, akan meniru gaya dan tingkah laku Messi atau Ronaldo. Kebiasaan memiliki tokoh idola adalah lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang memilih tokoh idola, karena tokoh tersebut sesuai dengan karakternya atau sesuai dengan harapan dan cita-citanya. Seseorang yang bercita-cita jadi penyanyi akan mengidolakan penyanyi sebagai tokoh pujaanya. Begitu juga yang bercita-cita menjadi atlet, tokoh politik, negarawan, dan seterusnya. Akan memiliki tokoh idola sesuai fantasi masing-masing. Dalam lingkungan keluarga biasanya yang jadi contoh dan panutan terdekat adalah ayah atau ibu. Dalam keluarga, anak-anak biasanya akan mencontoh kebiasaan atau prilaku ayah dan ibunya. Jika ayah dan ibunya pemarah dan suka berkata kasar, maka anak-anaknya cenderung juga bersikap demikian. Sebaliknya jika kedua orang tua mereka bersikap baik, lembut tutur bahasanya, rajin ke masjid, maka anak-anak mereka juga cenderung bersikap demikian. Tokoh terdekat selanjutnya yang menjadi panutan adalah, kakak, paman atau bibi serta guru di sekolah. Tergantung dengan siapa mereka lebih banyak dan intens berinteraksi. Tokoh-tokoh tersebut biasanya diistilahkan sebagai model. Model adalah contoh atau panutan yang biasanya akan diikuti dan ditiru. Jika kita ingin membuat baju misalnya, maka kita butuh model, contoh atau patron sebagai acuan untuk mempermudah membuat baju tersebut. Jika sudah didapat model yang sesuai, maka tinggal meniru dan mengikuti model tersebut. Allah SWT paham betul dengan kebiasaan manusia tersebut. Karena itu Allah menurunkan Nabi dan Rasul untuk dijadikan contoh, panutan atau model bagi manusia. Banyak sekali sikap dan prilaku Nabi yang bisa dijadikan contoh bagi manusia. Mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW banyak sekali contoh dan pelajaran yang bisa kita petik. Khusus Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dan terlengkap yang paling tepat untuk dijadikan contoh. Dalam Al Quran surat 33 ayat 21 dijelaskan ; “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang bagimu bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah (suri tauladan yang baik), contoh paling tepat bagi manusia. Kehidupan beliau sehari-hari, baik dalam keluarga, dalam bermasyarakat maupun sebagai pemimpin, semuanya merupakan contoh yang terbaik bagi manusia. Muhammad adalah model terbaik yang pernah ada. Beliau disegani baik oleh kawan maupun lawan, apalagi dalam keluarga sendiri. Tentu saja menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai model jauh lebih baik dibandingkan menjadikan Michael Jackson atau tokoh lainnya. Karena biasanya, meski banyak sisi baik dari para tokoh tersebut, namun juga tak kurang banyaknya sisi buruk dan sisi gelap dari para tokoh tersebut. Silahkan tunjuk saja tokoh-tokoh yang pernah kita idolakan, pasti banyak juga sisi gelapnya, disamping sisi baiknya. Karena itu mari kita jadikan momentum maulid Nabi Muhammad SAW sebagai peringatan untuk kembali mempelajari dan mendalami kembali sifat-sifat dan karakter beliau untuk dijadikan contoh dan model untuk kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal itu kita lakukan, Insya Allah kita akan selamat dan nyaman hidup di dunia hingga di akhirat kelak. Amin. (Januari 2014)
81. Haji dan Kemampuan Fisik
Rasulullah bersabda, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.” (HR Muslim). Bunyi hadits di atas, yaitu tentang pelaksanaan ibadah haji menerangkan pentingnya memiliki kemampuan. Ibadah haji ditekankan kepada orang yang mampu. Salah satu kemampuan tersebut adalah kemampuan keuangan. Menunaikan ibadah haji membutuhkan sejumlah dana yang mesti dipenuhi oleh calon jamaah haji untuk transportasi, penginapan, akomodasi, kesehatan dan lainnya. Namun selain kemampuan keuangan, yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan fisik. Iklim di Arab Saudi berbeda dengan Indonesia, maka kekuatan fisik menjadi faktor yang mendukung kekhusyukan dan kelancaran ibadah haji. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah bersengaja melakukan perjalanan dengan sengaja (dalam rangka ibadah) kecuali ke tiga masjid: masjidku ini (masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho.” (HR. Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 1397). Dengan demikian, ketika kita menyengaja untuk ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi maka kondisi fisik harus disiapkan juga. Dengan semakin bertambahnya jumlah jamaah haji, maka beberapa area tempat melakukan rukun dan wajib haji menjadi sangat padat oleh para jamaah. Misalnya, tawaf. Pengalaman pribadi penulis, untuk menyelesaikan tawaf membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam dengan kondisi penuh sesak dengan jamaah yang melaksanakannya. Bisa dibayangkan, berjalan selama 5 jam dengan normal saja bisa membuat letih. Apalagi tawaf selama 5 jam dalam keadaan berdesakan dengan jamaah lain. Padahal dalam kondisi normal, tawaf bisa dilakukan dalam waktu kurang lebih 30 menit. Demikian juga dengan sai dan jumroh yang membutuhkan kekuatan fisik. Sai tujuh kali sepanjang 5-6 km membutuhkan kemampuan fisik. Sementara ketika jumroh, semua jamaah fokus ke satu tempat. Dan sudah barang tentu akan berdesak-desakan. Tempat melempar jumroh sebelum dibuat bertingkat kerap dilanda musibah yaitu banyaknya jamaah yang meninggal karena terinjak. Ini akibat kondisi yang berdesak-desakan dan fisik jamaah pun kurang kuat menghadapi kondisi demikian. Demikian pula halnya dengan shalat di masjid dan wukuf di Arafah. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (Hadits dishahihkan oleh Al-Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata: “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146). Menunaikan shalat di masjid tersebut juga membutuhkan fisik yang baik. Sementara Wukuf di Padang Arafah di siang hari merupakan inti ibadah haji. Di panas terik antara waktu dzuhur dengan ashar, jamaah melakukan wukuf. Melihat hal yang demikian, maka ibadah haji pada dasarnya adalah ibadah fisik. Oleh karena itu kemampuan berhaji selain masalah keuangan juga masalah fisik. Maka tidak heran jika Allah SWT menyukai hambaNya yang kuat fisiknya agar bisa melakukan ibadah dengan baik dan benar. Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan.” (HR. Muslim). Semoga para jamaah haji asal Sumbar mendapatkan keberkahan dalam menunaikan ibadah haji beberapa waktu yang lalu. Dan bagi yang ingin berhaji, sebaiknya menyiapkan kemampuan fisik agar mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji dengan khusyuk dan tertib. (November 2011)
82. Gempa, Isyarat untuk Bertakwa
Tak terasa dua tahun sudah telah berlalu. Masyarakat Sumatera Barat dan semua stakeholders bersama-sama bekerja keras, mengerahkan segala daya dan upaya untuk membangun kembali puing-puing pasca gempa 30 September 2009. Triliunan dana dikucurkan untuk membangun kembali rumah masyarakat, rumah ibadah, sekolah, jalan dan berbagai fasilitas umum lainnya. Ribuan pekerja, juga pakar dikerahkan untuk membangun kembali Ranah Minang yang porak-poranda akibat gempa. Namun, durasi selama dua tahun itu ternyata belum cukup. Dana triliunan rupiah yang digelontorkan ternyata juga belum memadai. Ribuan pekerja, tukang bahkan para pakar yang dikerahkan untuk membangun, terasa bergerak lamban. Kita sepertinya sudah tak sabar menunggu itu semua. Padahal, mereka sudah mengerahkan semua kemampuan dan tenaga, bahkan bekerja lembur siang-malam. Mungkin di sinilah Allah SWT ingin memperlihatkan kekuasaannya dan menguji kita semua. Durasi gempa berkekuatan 7,9 skala Richter dan telah meluluhlantakkan Padang, Pariaman dan sebagian daerah lainnya di Sumatera Barat, itu tak sampai dalam hitungan menit. Dalam sekejap mata, rrrrr…. gedung-gedung bertingkat yang terlihat megah dan kokoh, ambruk ke tanah. Ribuan rumah penduduk berbagai fasilitas umum, ikut ambruk dan rata dengan tanah. Tak hanya itu, ribuan nyawa juga jadi korban. Secara ilmiah, gempa merupakan sebuah fenomena alam. Gempa terjadi akibat pergeseran lempeng bumi. Kawasan Sumatera Barat memang merupakan daerah rawan gempa, karena daerah ini terletak di patahan semangka antara dua lempengan bumi. Meski bisa dipahami secara ilmiah, namun kapan terjadi gempa, di mana terjadi gempa, seberapa besar kekuatannya, masih merupakan teka-teki tak terpecahkan hingga saat ini. Jepang yang memiliki teknologi dan pakar paling handal sekali pun tak mampu mengurainya. Namun, dalam Al Quran cukup banyak ayat yang menerangkan peristiwa gempa/bencana. Dalam ayat tersebut diterangkan Allah menurunkan bencana untuk menghukum umat yang durhaka, munafik dan gemar berbuat maksiat, seperti firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 78, 91 dan 155, surat Al Haj ayat 1, dan surat Al Ankabut ayat 37. Apakah gempa/bencana di Sumbar hanya sekadar peristiwa alam atau peringatan Allah atas sikap dan perbuatan kita yang melampaui batas? Hanya kita dan Allah yang tahu jawabannya. Namun di sisi lain, terlepas dari semua itu, semua peristiwa tersebut adalah musibah. Kematian adalah musibah. Kehilangan harta benda, kegagalan, juga musibah. Kita harus sabar dan ikhlas menghadapinya, karena di balik musibah ada hikmah dan kabar gembira. Dalam surat Al Baqarah ayat 156, yaitu orang-orang yang bila ditimpa musibah ia mengucapkan innalillahi wainnailaihirojiun. Gempa tahun 2009 lalu merupakan pelajaran sangat penting dan mahal bagi kita. Meski peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam, namun kita tak boleh berputus asa. Secara global ada dua hal yang perlu dipersiapkan berdasarkan pengalaman tersebut. Pertama, mengevaluasi ketakwaan kita kepada Allah, sehingga gempa yang terjadi bukan karena kemurkaan Allah, tetapi hanya sebatas fenomena alam belaka. Kedua, adalah melakukan antisipasi kesiapsiagaan bencana. Antisipasi tersebut bisa dilakukan secara horizontal, yaitu dengan menjauh dari daerah pantai untuk menghindari tsunami, serta memperkokoh konstruksi bangunan. Antisipasi vertikal bisa dilakukan dengan mendirikan shelter. Insya Allah, jika kedua antisipasi itu dilakukan, baik secara agamis maupun secara ilmiah, niscaya kita bisa bekerja dan beribadah dengan tenang. Di balik duka mendalam yang ditimbulkan gempa 2009, juga ada harapan baru yang muncul di baliknya. Pasca gempa, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat justru melonjak di atas angka rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Di saat ekonomi nasional maupun global dalam keadaan kritis, Sumatera Barat justru mendapat kucuran dana pembangunan sangat besar. Memang masih ada masalah yang tersisa dan perlu diselesaikan. Namun, mari kita syukuri rahmat yang telah kita terima jumlahnya jauh lebih banyak daripada masalah yang tersisa. Allah berjanji akan melipat gandakan rahmatnya bagi manusia yang pandai mensyukuri nikmat. (Oktober 2011)
83. Memaknai Idul Fitri
Banyak orang, beragam pula cara mereka memaknai hari raya Idul Fitri. Ada yang memaknai Idul Fitri sebagai ajang untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Hari itu digunakan untuk mengencangkan tali silaturrahmi, saling memaafkan, membangun suasana baru dalam keluarga serta kaum kerabat dan lingkungan sosial. Sebagian muslim lainnya beranggapan Idul Fitri perlu disambut gembira karena telah mampu menundukkan hawa nafsu duniawi selama bulan Ramadhan, mengoptimalkan dan mengisi Ramadhan dengan beragam ibadah dengan penuh keikhlasan. Maka Idul Fitri adalah hari kemenangan sejati, hari yang selalu dinanti-nanti oleh siapapun, termasuk para Nabi dan orang-orang shaleh. Mereka berharap ridha dan magfirahNya, sebagai ganjaran atas amal yang telah dilakukan. Apakah puasa dan segala ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT, sehingga patut dirayakan? Atau yang kita lakukan ini hanya ritual-simbolik, sebatas menahan lapar dan haus, seperti disinyalir Nabi Muhamad SAW? Menurut para ulama, ada beberapa indikasi, seseorang dianggap berhasil menjalankan ibadah puasa. Indikator tersebut adalah; ketika kualitas kesalehan individu dan sosialnya meningkat, ketika jiwanya makin dipenuhi hawa keimanan, ketika hatinya sanggup berempati dan peka atas penderitaan dan musibah saudaranya di ujung sana. Penghayatan dan pengamalan yang baik terhadap bulan ini akan mendorong kita untuk kembali kepada fitrah sejati sebagai makhluk sosial, yang selain punya hak, juga punya kewajiban, individu dan sosial. Sudahkan kita merasakannya? Itulah rahasia kenapa Selamat Hari Raya Idul Fitri seringkali diakhiri dengan ucapan Minal Aidin wal Faizin (Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali pada fitrah sejati manusia dan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat). Selain sebagai doa dan harapan, ucapan ini juga bak pengingat, bahwa puncak prestasi tertinggi bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa paripurna, lahir dan bathin, adalah kembali kepada fitrahnya (suci tanpa dosa). Namun yang pasti Islam tak menghendaki perayaan simbolik, bermewah-mewah. Apalagi sambil memaksakan diri. Islam menganjurkan perayaan ini dengan kontemplasi dan tafakur tentang sikap dan perbuatan kita selama ini. Syeikh Abdul Qadir al-Jailany berpendapat, merayakan Idul Fitri tidak harus dengan baju baru, tapi jadikanlah Idul fitri sebagai ajang tasyakur, refleksi diri untuk kembali mendekatkan diri pada Alah SWT, momen mengasah kepekaan sosial. Islam tidak menginginkan ada pemandangan paradoks, betapa di saat kita berbahagia dan bergembira, apalagi berpesta pora, sementara saudara-saudara kita di tempat-tempat lain masih banyak menangis menahan lapar atau tersiksa dalam keadaan nestapa. Sungguh Maha Besar dan Maha Pengasih Allah Swt. Allahu akbar… Allahu akbar walillah ilhamd. Selamat merayakan Hari Raya idul Fitri 1432H. Minal ‘Aidin wal Faizin. Hanya Allah yang maha Sempurna, tak ada manusia yang terlepas dari khilaf dan salah, mohon maaf lahir dan bathin. (September 2011)
84. Bulan Prestasi
KITA bersyukur, salah satu anugerah dari Allah SWT kepada bangsa Indonesia adalah Kemerdekaan RI yang diproklamasikan 9 Ramadhan atau 17 Agustus. Bulan yang sangat istimewa kedudukannya dan juga berlimpah ampunan, rahmat dan berkah dari Allah SWT. Di saat menahan haus dan lapar, para pendiri bangsa ini justru menorehkan prestasi emas mereka. Di saat sepuluh hari pertama Ramadhan yang merupakan penuh Rahmat Allah SWT, kemerdekaan Republika Indonesia diproklamasikan. Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa banyak prestasi yang ditorehkan di bulan Ramadhan. Yang cukup fenomenal dalam sejarah keNabian adalah terjadinya perang Badar Kubro pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Pada malam menjelang perang keesokan hari, Rasulullah SAW lebih banyak mendirikan shalat. Dan ketika peperangan kian berkobar, Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini.” Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin melakukan mobilisasi ke Mekah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy. Mereka memasuki Mekah dengan aman. Kaum kafir Quraisy yang mengetahui bahwa setiap penaklukan terjadi pembantaian justru semakin terpesona oleh akhlak Rasulullah SAW karena pasukan Islam tersebut tidak melakukan apa yang mereka bayangkan. Hingga akhirnya banyak penduduk Mekah yang masuk Islam. Penaklukan kota Mekah ini jika ditarik ke belakang berawal dari pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kafir Quraisy. Dan pada awalnya perjanjian Hudaibiyah ini terlihat menguntungkan kaum kafir Quraisy, sampai Umar bin Khaththab ra pun mempertanyakan kepada Rasulullah SAW tentang disetujuinya perjanjian Hudaibiyah oleh Rasulullah SAW. Setelah turun wahyu Allah yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS Al Fath: 1). Maka umat Islam menjadi tenang. Dan setelah terjadinya pelanggaran, maka bergeraklah pasukan Muslim ke Mekah hingga akhirnya beroleh kemenangan tanpa pertumpahan darah. Prestasi lain yang juga tercatat sejarah adalah pada Ramadhan 92 Hijriah, Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia (Spanyol) yang diawali dengan membakar hampir semua kapal yang membawa pasukannya. Tindakan ini menyebabkan tegaknya Islam selama lebih kurang tujuh abad di Andalusia. Sementara itu, pada Ramadhan 658 Hijriah, Muzaffar Quthz berhasil memimpin kaum muslimin memperoleh kemenangan dari pasukan Tar Tar yang terkenal ganas dan juga tangguh setelah sebelumnya tidak dibayangkan kemenangan melawan pasukan ini. Dengan melihat sederetan prestasi tersebut, maka bulan Ramadhan bukanlah bulan yang menjadikan umat Islam bermalas-malasan. Justru sebaliknya, bulan yang seharusnya penuh dengan prestasi karena pertolongan Allah sangat dekat dibanding bulan yang lain. Maka merugilah orang yang bermalas-malasan atau bahkan yang menjadikan tidur sebagai ibadah favorit. Jika tidak mampu berprestasi untuk masyarakat, maka minimal kita bisa menorehkan prestasi untuk diri sendiri dan juga keluarga. Jika di bulan lain kita jarang sholat ke masjid, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan kunjungan ke masjid. Jika di bulan lain kita jarang membaca Al Quran, maka di bulan Ramadhan kita bisa meningkatkan intensitas membaca Al Quran dan kemudian membiasakannya setelah Ramadhan. (Agustus 2011) |
85. Syahrul Jihad
Setiap ibadah yang baik harus mengikuti cara, dan juga mencontoh Rasulullah SAW. Oleh karena itu puasa di bulan Ramadhan juga harus mengikuti apa yang telah diperintahkan dan dilakukan Rasulullah SAW.
Rasulullah adalah orang yang senantiasa meningkatkan kesungguhan dalam beramal dan beribadah, termasuk dalam melakukan peperangan. Kita bisa membayangkan kondisi berperang di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa di tengah terik matahari.
Pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, Rasulullah menjalani perang Badar Kubro. Pertempuran yang tidak imbang dari segi jumlah, 314 kaum muslimin melawan 1000 orang pasukan Quraisy. Dengan izin Allah SWT kaum muslimin meraih kemenangan.
Selain itu, penaklukan kota Mekah juga terjadi di bulan Ramadhan. Pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, terjadi penaklukan kota Mekah. Rasulullah SAW beserta 10.000 kaum muslimin mendatangi kota Mekkah karena perjanjian Hudaibiyah telah dilanggar oleh kaum kafir Quraisy.
Rasulullah SAW semasa hidupnya menjalani sekitar delapan kali Ramadhan. Rasulullah bahkan menjalani puasa di musim panas yang sangat terik.
Abu Darda berkata, “Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadan pada hari yang sangat panas, sehingga setiap kami meletakkan tangannya di atas kepalanya. Tidak ada di antara kami yang berpuasa selain Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah”. (Muttafaq alaih).
Para sahabat pun banyak yang mencontoh puasa Rasulullah SAW. Umar bin Khattab ra saat menjelang kematiannya berpesan kepada puteranya, Abdullah. “Hendaknya engkau mewujudkan sifat-sifat keimanan.” Lalu beliau menyebutkan yang paling pertama, “Berpuasa saat panas sangat terik di musim panas.”
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sejumlah wanita shalihat menunggu-nunggu datangnya musim panas untuk melakukan puasa. Ketika ditanyakan latar belakangnya, mereka berkata: “Sesungguhnya sebuah barang, jika harganya murah, semua orang dapat membelinya”.
Ini adalah contoh bagaimana orang-orang terdahulu bersungguh-sungguh atau berjihad dalam melaksanakan amal ibadah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Jihad dalam arti bahasa adalah bersungguh-sungguh dan dalam arti khusus adalah perang. Ramadhan adalah syahrul jihad, umat Islam diminta bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam beramal. Jika hari ini kita lihat orang yang berpuasa bermalas-malasan atau ada PNS yang memotong jam kerja (masuk lambat pulang cepat), jelas tidak mencontoh Rasulullah SAW.
Bersungguh-sungguh puasa tidak akan menyebabkan kematian karena tidak ada dalam sejarah orang mati karena berpuasa. Demikian pula dengan kemalasan yang hanya merupakan dorongan psikologis semata. Betapa banyak orang menjalankan puasa semisal Senin dan Kamis di luar Ramadhan tapi mampu mengimbangi kerja orang yang tidak berpuasa.
Jika kita melakukan pemanasan menjelang Ramadhan, yaitu melaksanakan puasa di bulan Rajab dan Syakban, maka akan semakin ringan dan bersungguh-sungguh melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Secara kesehatan, orang yang tidak makan setelah sahur masih memiliki energi untuk beraktivitas hingga Maghrib. Untuk itu, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan karena Ramadhan adalah bulan kesungguhan (syahrul jihad) bukan bulan kemalasan. Bagaimana mungkin mencapai derajat takwa jika yang dilakoni adalah kemalasan, bukan kesungguhan. (Agustus 2011)
86. Hidup Bagaikan Cermin
Hidup itu bagaikan cermin. Jika anda tersenyum, maka cermin akan tersenyum pada anda. Sebalikya jika anda marah dan melotot, maka cermin juga akan marah dan melotot pada anda.
Begitu pula lah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan. Jika kita memperlihatkan wajah kecut dan cemberut kepada orang lain, maka orang tersebut akan membalasnya pula dengan wajah kecut dan cemberut. Jika kita memperlihatkan wajah yang menyenangkan, ramah dan bersahabat, maka orang akan membalasnya dengan wajah ramah dan bersahabat pula.
Buruk atau baik yang kita lakukan pasti akan dibalas pula dengan kebaikan atau keburukan. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, keburukan akan dibalas dengan keburukan pula. Seperti kata pepatah Minang, kalau lai padi nan ditanam, ndak mungkin lalang nan ka tumbuah. Atau ada juga ada ungkapan yang mengatakan: Siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Artinya, siapa yang berbuat kebaikan pasti akan memperoleh balasan berupa kebaikan dan siapa yang berbuat keburukan akan menerima balasan berupa keburukan.
Realita kehidupan ini dengan mudah dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga saja misalnya, anak-anak yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur pasti akan mendapat mendapat apresiasi yang baik pula dari para orang tua mereka. Ia menjadi anak kesayangan, umumnya apa yang dia minta, jarang yang tidak dikabulkan. Ia mendapat perlakukan istimewa.
Begitu juga fakta yang terjadi di dunia kerja. Pegawai atau karyawan yang selalu bersikap baik, rajin dan jujur dan kreatif akan mendapat apresiasi yang baik pula dari rekan kerja atau pimpinannya. Ia akan mendapat perlakuan khusus, seperti cermin, semua orang akan memberikan perlakukan yang baik pula padanya. Bukan hal mustahil jika ia diberi kenaikan pangkat atau jabatan yang baik.
Ini adalah salah satu contoh bukti nyata dalam organisasi Pemda Sumbar. Pegawai yang bersikap baik, rajin dan jujur, kemanapun ia akan dipindahkan semua orang dengan senang hati bersedia menerimanya. Sementara di lain pihak, pimpinannya berusaha mempertahankan agar pegawai tersebut tidak dipindahkan. Ondeh Pak, jan dipindahkan lo nyo lai, inyo paguno dek kami mah, (jangan pindahkan dia Pak, kami butuh dia), begitu pimpinan tempat ia bekerja berusaha mempertahankan.
Sebaliknya pegawai yang bermental jelek, malas, licik, tak akan mendapat tempat dan apresiasi yang baik. Ia selalu ditolak dimana-mana. Jan dipindahkan lo nyo kamari Pak, mambana kami, (mohon jangan dipindahkan dia ke sini Pak), begitu komentar pimpinan atau pegawai lain saat ia dimutasikan ke suatu tempat.
Di hadapan Allah, dalil serupa juga berlaku. Allah akan memperlakukan umat yang baik, dengan balasan yang baik pula. Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan, keburukan dengan keburukan pula, itu janji Allah. Seperti juga yang berlaku pada sesama manusia, manusia yang bermental dan berprilaku baik juga akan mendapat keistimewaan. Segala permintaannya sulit bagi Allah untuk menolaknya. Segala doa dan harapannya diijabah oleh Allah SWT.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan magfirah dan wa rahmah, bulan dimana terbuka peluang bagi manusia untuk menghapus semua dosa-dosanya, jika ia bersungguh-sungguh. Bulan ini juga merupakan bulan dimana kebaikan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Memperbanyak shalat sunat, shalat malam, membaca Al Quran adalah beberapa ibadah-ibadah yang bisa dilakukan untuk mendekat diri pada Allah. Bersedekah, berbuat baik dan menolong orang lain adalah beberapa contoh perilaku yang orang lain bersimpati pada kita dan juga mendapat pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan. Segala kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dibalas Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Mari jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbaiki diri, sekaligus memperbaiki masa depan kita, dunia dan akhirat. (Agustus 2011)
87. Menghindari Konsumerisme
Setiap tahun, angka inflasi yang tinggi justru terjadi di bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Harga beras naik, harga sembako naik. Kenaikan harga secara teori akibat terjadinya permintaan yang melebihi persediaan. Namun boleh jadi pada bulan Ramadhan ini kenaikan harga tersebut terjadi akibat permintaan yang didorong oleh aspek psikologis konsumen dibanding permintaan riil mereka.
Menjelang momen-momen tertentu, sebenarnya pemerintah telah menyiapkan stok bahan makanan yang dibutuhkan masyarakat, termasuk di bulan Ramadhan. Karena permintaan didorong aspek psikologis, maka hal ini dimanfaatkan penjual atau produsen untuk menaikkan harga.
Jika kita melihat konsepnya, pola makan di bulan Ramadhan justru berkurang dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari (berbuka dan sahur). Bahkan ajaran sebenarnya, di bulan Ramadhan umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Yang dimaksud mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu ini tidak terbatas sejak subuh hingga maghrib, tapi sejak maghrib hingga subuh pun umat Islam dituntut untuk mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu.
Di kala siang, menahan haus dan lapar, dan di kala malam mengendalikan diri untuk tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makan dan minum serta mengendalikan emosi diri. Jika pola makan saja sudah turun dari tiga kali menjadi dua kali, maka seharusnya kebutuhan akan makanan juga berkurang. Namun ternyata yang terjadi sebaliknya.
Kerap muncul perasaan ingin membeli makanan dan minuman yang lezat dan enak untuk berbuka puasa karena sanggup menghabiskan. Namun ternyata ketika waktu berbuka tiba, tidak semua yang dibeli itu bisa dimakan. Bahkan muncul makanan dan minuman sisa yang terbuang percuma. Maka terjadilah kemubaziran. Jikapun semua yang dibeli dihabiskan, maka dampak setelah itu muncul kemalasan untuk beribadah karena sudah kekenyangan.
Secara kesehatan makan terlampau kenyang membuat perut bekerja ekstra keras karena 12 jam sebelumnya dalam keadaan kosong. Alih-alih menimbulkan kesehatan, puasa seperti ini justru bisa mendatangkan penyakit.
Sementara kemubaziran itu sendiri merupakan hal yang tercela dalam ajaran Islam. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS Al Isra: 27). Di samping munculnya kemubaziran, di bulan Ramadhan yang seharusnya umat Islam meningkatkan amal ibadah justru harus menaklukkan diri sendiri ketika kekenyangan demi kekenyangan menemani mereka setiap berbuka yang menyebabkan munculnya kemalasan untuk beribadah. Maka benarlah apa yang disampaikan Rasulullah SAW, “Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar” (HR Bukhari-Muslim).
Kemubaziran adalah dorongan psikologis dimana keinginan lebih dominan dari kebutuhan. Kemubaziran merupakan implementasi kegagalan mengendalikan hawa nafsu yang seharusnya dilakukan di bulan Ramadhan ini. “Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa,” (HR. Ibnu Khuzaimah).
Imam Ghazali pernah mengatakan, jika seseorang mengalami kekenyangan maka ia akan menganggap orang di seluruh dunia juga mengalami kekenyangan. Hal seperti ini juga akan mengurangi makna puasa. Seharusnya puasa membuat kita bisa merasakan kehidupan saudara-saudara kita yang masih dalam kondisi kekurangan sehingga konsumsi yang kita lakukan tidak menimbulkan kemubaziran dan bahkan bisa menyisihkan uang kita untuk disedekahkan kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. (Agustus 2011)
88. Ramadhan dan Somalia
Di bulan Ramadhan ini, di saat umat Islam Indonesia relatif mampu mencukupi kebutuhan pangan mereka, di belahan dunia lain, Somalia, rakyatnya menghadapi kelaparan terburuk. Somalia mengalami kekeringan panjang akibat perubahan iklim. Umat Islam Somalia memasuki Ramadhan dengan kondisi kelaparan. Menurut data PBB 3,7 juta penduduk Somalia terancam kelaparan. Selain itu hampir 50 anak tewas setiap harinya akibat kelaparan.
Data lain menyebutkan, sedikitnya 300.000 anak-anak mengalami kelaparan. Salah satu hal yang terburuk yang disaksikan oleh media adalah ada ibu yang membiarkan bayinya di jalanan karena mereka memilih menolong anak yang kemungkinan hidupnya lebih besar. Di samping itu, penyakit infeksi saluran pernapasan merajalela. Air sulit didapat, dan banyak pengungsi yang tidak tinggal di tenda.
Sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan dan sangat menyedihkan. Ini juga merupakan bentuk pembinaan Allah SWT kepada kita yang hidup dengan kondisi lebih baik, agar bisa mensyukuri nikmatNya yang melimpah. Selama ini mungkin kita kurang bersyukur atau kurang berempati kepada orang-orang yang kondisinya lebih susah. Meskipun kita bisa empati dengan perasaan, belum tentu dengan pola makan kita. Apakah selama ini makanan yang terhidang selalu kita habiskan atau sebaliknya sering banyak tersisa?
Jika kita melihat pola konsumsi masyarakat dunia saat ini, termasuk Indonesia, masih terlihat banyak makanan yang terbuang. Sepertiga makanan yang diproduksi di dunia atau sekitar 1,3 miliar ton terbuang percuma menurut organisasi pangan dan pertanian PBB (FAO). Dalam momentum Ramadhan kali ini sudah saatnya kita bercermin dengan pola makan kita.
Satu hal yang jelas, umat Islam di Somalia tidak bisa khusyuk menjalani Ramadhan tahun ini. Untuk shalat dan bersuci mereka kesulitan air. Untuk berbuka dan sahur, mereka tidak memiliki apapun yang bisa dimakan dan minum. Bahkan untuk mendapatkan makan, mereka baru bisa mendapatkan hingga seminggu sekali.
Kita yang relatif diberi kecukupan makan dan minum dibanding umat Islam Somalia sudah seharusnya lebih fokus menjalankan amal ibadah Ramadhan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim: 7).
Tentunya kita tak ingin menjadi hamba yang tidak mensyukuri nikmat Allah sehingga mengingkari nikmatNya. Peristiwa di Somalia mudah-mudahan bisa menjadi alat instropeksi kita dalam melakukan aktivitas konsumsi dan juga menjadikan hati kita untuk murah bersedekah kepada mereka yang membutuhkan.
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al Hujurat:13).
Semoga kita menjadi insan yang bertakwa dengan mengenal saudara kita di belahan dunia lain dan bisa membantu kesulitan mereka, baik dengan doa maupun materi. (Agustus 2011)
