Aktualisasi SDM Minang
Umumnya tak banyak warga etnis Minang yang sukses sebagai pekerja. Jika ada proyek-proyek konstruksi besar misalnya, umumnya para pekerjanya didatangkan dari Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur. Begitu juga di pabrik-pabrik besar, warga etnis Minang tak banyak bekerja di sana, warga etnis jawa lebih dominan. Masyarakat etnis Jawa terkenal lebih tekun, ulet dan pekerja keras.
Namun sebagai pedagang atau pengusaha, masyarakat etnis Minang sudah terkenal kepiawaiannya sejak dulu. Di berbagai pelosok tanah air hampir bisa dipastikan, pelopor dalam dunia usaha dan perdagangan di sana adalah masyarakat etnis Minang. Sebut saja di Tanah Abang, Blok M, sejumlah pusat perdagangan lainnya Jakarta bahkan sampai Papua, sektor dunia usaha dan perdagangan didominasi oleh etnis Minang.
Dalam dunia usaha dan perdagangan warga etnis Minang terkenal ulet, gigih, pantang menyerah. Keberadaan mereka menonjol di berbagai pelosok dunia usaha dan perdagangan di tanah air. Kegigihan dan kepeloporan mereka menjadi inspirasi bagi warga lain di tanah air dalam berbisnis.
Di kampung halaman masing-masing, para pedagang dan pengusaha tersebut menjadi pahlawan. Tak sedikit sumbangan dan kontribusi mereka untuk membangun kampung halaman masing-masing. Mereka malu jika tak berhasil di rantau, mereka malu jika tak berkontribusi untuk membangun kampung halamannya.
Kenyataan ini adalah sebuah potensi yang sangat luar biasa untuk dicermati, terus diasah dan diaktualisasikan. Di saat masalah kemiskinan, pengangguran dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus melorot, potensi SDM (sumberdaya manusia) Minang yang luar biasa ini perlu segera diaktualisasikan lagi serta mendapat apresiasi masyarakat dan pemerintah daerah.
Apresiasi dan aktualisasi potensi SDM Minang bisa dimulai dari berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal sebagai tempat kaderisasi SDM. Tahap selanjutnya apresiasi dan dukungan bisa dilakukan terhadap lembaga-lembaga usaha yang telah mulai tumbuh.
Sebenarnya telah banyak lembaga-lembaga pendidikan tempat memproses dan mengaktualkan potensi SDM Minang yang telah terbukti keunggulannya selama ini. Lembaga pendidikan formal mulai dari TK sampai perguruan tinggi, bisa menjadi ajang penggemblengan SDM Minang yang unggul. Hanya saja selama ini belum disadari secara spesifik sebagai ajang pembentukan SDM Minang yang sesuai dengan tuntutan perkembangan kondisi dan masalah yang ada saat ini.
Umumnya lembaga pendidikan yang ada menetapkan tujuan masih dalam tatanan pendidikan umum. Masyarakatpun umumnya berapresiasi demikian, mereka umumnya memasuki jenjang pendidikan agar bisa menjadi karyawan atau pegawai di suatu perusahaan atau instansi pemerintah. Masih langka ada masyarakat yang secara sadar memasuki jenjang pendidikan agar nantinya mampu mandiri atau menjadi pengusaha. Akibatnya mereka yang terjun di dunia usaha cuma karena tak sengaja, bukan dipersiapkan sedini mungkin.
Dulu di saat negara kita masih dalam kondisi sedang mempersiapkan dan melengkapi sistem pemerintahannya memang banyak dibutuhkan tenaga untuk menempati berbagai posisi di instansi pemerintah. Karyawan, guru, tenaga medis dan sebagainya dibutuhkan saat itu. Tidak heran kalau orientasi pendidikan memang ditujukan untuk mempersiapkan orang-orang yang akan menempati posisi tersebut.
Beberapa tahun belakangan kondisi itu telah berubah. Posisi sebagai karyawan dan pegawai telah tercukupi, sementara angkatan kerja kita meningkat pesat dan tenaga kerja terdidik yang tersedia jauh melebihi kebutuhan. Lalu terjadilah fenomena yang menyolok di depan mata. Formasi penerimaan pegawai yang cuma tersedia beberapa ratus orang diperebutkan oleh puluhan ribu orang
Bererapa tahun kemudian di lembaga pendidikan juga terlihat fenomena baru. Jurusan dan Fakultas di perguruan tinggi yang dianggap tak lagi sesuai dengan kebutuhan mulai sepi karena kekurangan mahasiswa. Sekolah-sekolah kejuruan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan kerja mulai diminati.
Sudah saatnya kita menyadari bahwa lembaga pendidikan yang ada seharusnya secara sadar ditujukan untuk mempersiapkan dan mengaktualisasikan SDM Minang yang spesifik. Dengan demikian profesi pedagang dan pengusaha masyarakat etnis Minang tak lagi dilakoni bukan karena tak sengaja, tetapi memang karena pilihan dan dipersiapkan sejak dini. Dijalani karena tak sengaja pun, banyak di antara mereka yang sukses, apalagi kalau dipersiapkan secara baik sejak dini.
Lembaga-lembaga kursus keterampilan, baik milik pemerintah maupun swasta juga bisa dimanfaatkan sebagai media aktualisai SDM Minang yang spesifik. Jika selama ini out put dari lembaga ini tak terlalu terlihat prestasinya, mungkin perlu dievaluasi lagi dan dibenahi kelemahan-kelemahan yang ada dan dikelola secara serius.
Pemerintah daerah sebagai lembaga publik dan pelayan masyarakat tentu sangat penting perannya dalam hal ini. Dukungan perbankan tentu juga sangat besar artinya. SDM yang produktif akan menumbuhkan kegiatan usaha baru, baik dalam bentuk usaha mikro, kecil maupun menengah. Pertumbuhan ini akan mengeliminir keluhan banyaknya pengangguran, kemiskinan atau laju pertumbuhan ekonomi yang bergerak mundur.
Masyarakat seharusnya juga sudah mengubah imej mereka terhadap pengusaha mikro sekalipun. Masih banyak masyarakat yang menganggap menjadi karyawan atau pegawai lebih tinggi derajatnya. Sedangkan pedagang atau malah petani dianggap sebagai profesi yang kurang bergengsi.
Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang Ibu-ibu mengendarai sepeda membawa sejumlah bungkusan di Lubuk Sikaping Pasaman Timur. Ternyata ibu tersebut berjualan gulai ikan dan sejumlah masakan lainnya. Menurut si Ibu usaha itu dijalaninya dengan modal Rp 500.000, biasanya sore hari ia membawa pulang uang Rp 700.000. Ini berarti ia memperoleh keuntungan bersih Rp 200.000 per hari atau Rp 6.000.000 per bulan.
Usaha si Ibu tersebut bisa lebih ditingkatkan dengan memberikan tambahan pelatihan keterampilan jika dibutuhkan, serta tambahan modal. Beliau adalah salah satu cikal bakal pengusaha dari ribuan cikal bakal pengusaha yang sekarang mungkin masih terpendam di berbagai pelosok Sumatera Barat. Tentu saja beliau lebih terhormat dibanding seorang sarjana yang tidak melakukan apa-apa dan cuma menunggu lowongan kerja dibuka dari tahun ke tahun. (Maret 2012)
